Pengenalan Kesehatan

Oleh Siti Zubaidah

96 tayangan
Bagikan artikel

Transkrip Pengenalan Kesehatan

PENGENALAN KESEHATAN & KESELAMATAN KERJA KONSTRUKSI

Sejarah K3
Ramses II (Mesir) 1500 SM, terusan dari mediterania ke laut merah dan disediakan tabib
untuk menjaga kesehatan para pekerjanya. Abad 16, Paracelsus pada jaman renaissance
memperkenalkan penyakit yang menimpa para pekerja tambang dan Agricola telah
menganjurkan penggunaan ventilasi dan tutup muka yang longgar. Paracelus dianggap
sebagai bapak toksikologi modern.
Bernardine Ramazzini (1633-1714) dari Universitas Modena,Italia, dianggap sebagai bapak
kesehatan kerja, menguraikan hubungan berbagai macam penyakit dengan jenis
pekerjaannya, dan menganjurkan agar seorang dokter dalam memeriksa pasien, selain
menanyakan riwayat penyakitnya, juga harus menanyakan pekerjaan pasien dimaksud.

Sejarah K3 di Indonesia
1852 untuk melindungi tenaga kerja yang memakai pesawat uap, ditetapkan peraturan
perundang-undangan tentang pesawat uap. Pemerintah Hindia Belanda menerbitkan
Veilegheids Reglement (Undang-undang Keselamatan) tahun 1905 Stbl. No.251
(diperbaharui pada tahun 1910), sampai kemudian dicabut oleh Undang-Undang No. 1 Tahun
1970 tentang Keselamatan Kerja.
Undang-Undang No.13 Tahun 2003, yang memperbaharui pengaturan pokok tentang
perlindungan keselamatan kerja.

PRINSIP K3
 Semua Cedera dapat dicegah.
 Lingkungan Dapat Dilindungi.
 Keterlibatan setiap pekerja adalah sangat Penting
 Bekerja secara Aman adalah syarat yang dituntut dalam melaksanakan pekerjaan.
 Setiap supervisor bertanggung jawab untuk mencegah terjadinya cedera dan menjaga
lingkungan.
 Semua paparan akibat dari kegiatan pekerjaan harus dapat diberi perlindungan atau
tindakan pengamanan.
 Pelatihan karyawan untuk dapat bekerja dengan aman dan peduli lingkungan adalah
penting dalam satu kegiatan usaha yang baik.
 Semua Resiko bahaya dari kegiatan pekerjaan harus dapat diberi perlindungan atau
tindakan pengamanan.

Tujuan Dasar K3
Untuk meniadakan / mengeliminasi cedera dan kondisi buruk bagi kesehatan karyawan
dengan terus menerus meningkatkan kondisi tempat kerja dan praktek kerja karyawan.
Kecelakaan (Accident) adalah Suatu kejadian yang tidak diinginkan dan berakibat
penderitaan bagi manusia, kerusakan harta benda, atau kehilangan suatu proses.
-

Cedera serius
Cedera minor
Kerusakan barang
Insiden tanpa cedera dan kerusakan

AKIBAT KECELAKAAN
A. MANUSIA :

- Penderitaan, Cacat, Kematian
- Tekanan Kejiwaan
- Penderitaan Keluarga
- Beban masa depan
- Faktor Sosial

B. PERUSAHAAN:

- Biaya Pengobatan dan Ganti Rugi
- Sanksi Pemerintah
- Beralihnya Penanam Modal
- Hilangnya Kepercayaan Bank dan Konsumen
- Turunnya Produktivitas, Moral Kerja dan Mutu
- Hilangnya Waktu Kerja dan Produksi

C. PEMERINTAH:

- Kehilangan warga negara
- Biaya terhadap instansi terkait
- Masalah sosial kerkembang

Teori Gunung Es yakni Suatu permasalahan kecil yang dapat menimbulkan accident dan
incident yang besar

Hirarki Pengendalian Bahaya
1. Alat Pelindung Diri
2. Administratif
3. Engineering (Rekayasa)

ASPEK HUKUM K3 DI INDONESIA

UUD. 1945 Pasal 27 ayat (2)
“ Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan “

UU. No. 14 Tahun 1969 Pasal 9
“ Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan,
pemeliharaan moril kerja serta perlakuan sesuai dengan harkat dan martabat manusia dan
moral agama “
U.U no.1 - 1970
DASAR PERTIMBANGAN;
a. Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya
dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan
produktivitas serta produktivitas Nasional;
b. Bahwa setiap orang lainnya yang berada ditempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya
c. Bahwa setiap sumber produksiperlu dipakai dan digunakan secara aman dan efisien
d. Bahwa berhubung dengan itu perlu diadakan segala daya upaya untuk membina
norma-norma perlingdungan kerja
e. Bahwa pembinaan norma-norma itu perlu di wujudkan dala undang-undang yang
memuat ketentuan-ketentuanumum tentang keselamatan kerja yang sesuai dengan
perkembangan masyarakat, industrialisasi, teknik, dan teknologi

U.U No.1 - Tahun 1970 pasal 8
1.

Pengurus diwajibkan memeriksakan kesehatan badan, kondisi mental dan kemampuan
fisik dari tenaga kerja yang akan diterimanya maupun akan dipindahkan sesuai
dengan sifat-sifat pekerjaan yang akan diberikan padanya.

2.

Pengurus diwajibkan memeriksakan semua tenaga kerja yang berada dibawah
pimpinannya secara berkala pada dokter yang di tunjuk oleh pengusaha dan di berikan
pada direktur.

3.
Norma-norma mengenai pengujian kesehatan ditetapkan dengan peraturan
perundangan.

U.U No.1 - Tahun 1970 BAB VII. Tentang KECELAKAAN Pasal 11
1. Pengurus diwajibkan melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja
yang dipimpinnya, pada pejabat yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja.
2. Tata-cara pelaporan dan pemeriksaan kecelakaan oleh pegawai termaksud dalam ayat
(1) diatur dengan peraturan perundangan.

U.U No.1 - Tahun 1970 BAB VIII tentang KEWAJIBAN DAN HAK TENAGA KERJA
Pasal 12.
a. Memberi keterangan yang benar
b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan.
c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat Keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan
d. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat Keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan;
e. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat keselamatan dan kesehatan
kerja serta alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali
dalam hal-hal khusus ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang
masih dapat dipertanggung jawabkan.

Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Latar Belakang
-

Industri konstruksi mengandung unsur yang berbahaya

-

Kecelakaan kerja dalam pelaksanaan proyek sering terjadi

-

Kompensasi biaya terjadinya kecelakaan kerja

-

K 3 adalah bagian dari perencanaan dan pengendalian proyek

Sistem Manajemen K 3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang
meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan
SD yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan
pemeliharaan kebijakan K 3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Perlunya K 3
-

Sisi kemanusiaan

-

Sisi ekonomi

-

Hukum dan aturan yang berlaku

-

Pertanggungjawaban

-

Citra Organisasi/perusahaan

Permasalahan K 3
1. Keselamatan Kerja
2. Kesehatan Kerja

Faktor Penentu
1. Faktor perilaku :

- Pekerja
-Lingkungan pekerjaan

2. Faktor fisik

:

-Kondisi pekerjaan
-Penyingkitan bahaya mekanis

Dampak Kecelakaan Kerja
1.Biaya langsung
- Kompensasi
- Kesehatan (medical)
- Dampak hukum (legal)
2.Biaya tidak langsung
- Penurunan kemampuan mesin/peralatan
- Biaya training dan biaya penggantian
- Kerusakan peralatan
- Material waste
- Penurunan tingkat produksi

Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
1. Tindakan tidak aman :
- Tidak mengindahkan peraturan
- Bekerja tanpa kewenangan
- Tidak memakai peralatan pengaman
- Tidak

aman dalam

menarik atau mendorong
2. Kondisi tidak aman :
- Layout pekerjaan

mengangkat,

- Penggunaan peralatan
- Kebisingan
- Kondisi atmosfir kerja
3. Force majeure

K3 pada Konstruksi
“Business is Behavior”* (Sebuah bisnis itu akan sukses atau gagal tergantung dari performa
pekerjanya)

Apa yang pekerja inginkan?
-

Lingkungan kerja yang aman
Lingkungan kerja yang positif
Peduli satu sama yang lain
Tidak ada pekerja yang terluka

Apa yang manajemen inginkan?
-

Lingkungan pekerjaan yang bebas kecelakaan
Pekerja yang produktif
Proses kerja proaktif
Meminimalisir biaya langsung dan tidak langsung dari kecelakaan yang terjadi

Mengapa program K3 tidak bekerja?
-

Keselamatan adalah prioritas, bukan nilai

-

Keselamatan tidak dikelola dengan cara yang sama seperti masalah produksi, kualitas,
dan biaya

-

Keselamatan tidak didorong melalui perbaikan terus-menerus

Hierarki intervensi keselamatan:
1. Upaya untuk menghilangkan bahaya setelah karyawan bekerja di sekitar bahaya
2. Menjaga atau peringatan karyawan tentang bahay
3. Pelatihan karyawan untuk menangani secara aman dengan bahaya

Jika Intervensi keselamatan bekerja efektif, maka:
1.
2.
3.
4.

% Dari perilaku yang aman dan meningkat dan % pada perilaku berisiko menurun
Kedua jumlah pengamatan dan tingkat partisipasi meningkat
Frekuensi & keparahan cedera menurun
Peningkatan penerimaan tanggung jawab dan akuntabilitas untuk perilaku pribadi

Mengapa pelatihan keselamatan sangat diperlukan?
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Klaim kompensasi pekerja dan premi
Waktu yang hilang dari pekerjaan
Waktu Pengawas & mgmt: pelaporan, menyelidiki, menanggapi kecelakaan
Perbaikan peralatan
Denda karena gagal mematuhi peraturan keselamatan
Biaya hukum akibat kecelakaan / insiden
Sanksi Penjara

Mengidentifikasi Kebutuhan Pelatihan (7-Langkah)
1. Tentukan APA pelatihan diperlukan
2. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan
3. Identifikasi Sasaran & Tujuan
4. Kegiatan belajar
5. Melakukan Pelatihan
6. Evaluasi Efektivitas Program
7. Meningkatkan Program

Judul: Pengenalan Kesehatan

Oleh: Siti Zubaidah


Ikuti kami