Jurnal Riza Hans Jansen

Oleh Riza Muhammad

251,6 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Riza Hans Jansen

1 Nalar Kritis Tafsir Reformatif Muhammad Abduh Perspektif Johannes Juliaan Gijsbert Jansen “Hans Jansen” Riza Muhammad NIM 11150340000205 No 25 Abstrak Johannes Juliaan Gijsbert Jansen “Hans Jansen” salah satu diantara banyaknya orientalis yang mengkaji al Qur’an. Apresiasinya terhadap Tafsir al Manar karya Muhammad Abduh menimbulkan konotasi bahwa Islam memiliki nalar kritis –reformatif dalam bidang tafsir dan tidak terkungkung dalam dogmatisme belaka. Menurut Jansen, Muhammad Abduh menyuguhkan tafsir orisinil, baru, dan menyegarkan. Sehingga stigma Barat terhadap Timur muncul kaca mata berbeda, sebab apa yang dilihatnya hanya sebuah perspektif bukan kebenaran. Kata kunci : Hans Jansen, Muhammad Abduh. I. Pendahuluan A. Latar Belakang Penafsiran al Qur’an yang bersifat eisegesis (dari gagasan ke teks) menyebabkan pada penyimpangan akal “Nᾱḥiyatul al ‛Aqliyyah” karena setiap kelompok dari berbagai macam bidang keilmuan akan saling melegitimasi soal “Tafsῑr”. Sehingga muncul “Ghalaba al Jᾱnib al ‛Aqliy ‛ala al Naqly” akal akan mendistorsi teks sebab kelihaian mufassir pada satu bidang tersebut.1 Sebenarnya, ini soal tantangan dan kondisi yang berbeda dengan apa yang dilakukan para “‛Ulama’ Salaf”. Misalnya saja ketika al Suyūṭῑ (910 H) menulis kitab “al Itqᾱn fi ‛Ulumil al Qur’an” atau al Zarkashi menulis “al Burhᾱn fi ‛Ulumil al  Mahasiswa Ilmu al Qur’an – Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Muhammad Ḥ usain al Zahaby, al Ittijᾱḥᾱt al Munḥarifah fi al Tafsῑr Dawᾱfi‛uhᾱ wa Daf‛uha (Kairo:Mesir), hal. 15. 1 2 Qur’an” mereka semua dihadapkan dengan tantangan kultural, ideologisasi, peradaban, dan bahkan serbuan pasukan salib dari Barat.2 Jika masalah yang pertama tetap saja dijadikan paradigma berfikir, maka yang terjadi eksklusiftas dalam membaca teks. Sehingga yang muncul adalah hanya “sakralitas tafsir” dan itulah dianggap benar. Sebab jika teks terpisahkan dengan relitas, kebudayaan menjadi mandek begitu juga dengan horizon pembaca yang tidak berfungsi. Dan tafsir akan terus berputar dalam satu putaran saja, ideologisasi. Berbeda halnya dengan konsep yang kedua, karakternya yang dinamis membuat ruang-ruang baru dalam ranah tafsir. Kelenturannya terjadi karena lepas dari sifat ideologisasi-sektarian, kritis, ilmiah, dan dapat dipertanggung jawabkan, bukan berarti model pertama tidak dapat dipertanggung jawabkan, tetapi model yang kedua lebih dekat pada rasionalisasi dan konstruksi ilmiah objektif, sehingga realitas/konteks menjadi penting dalam model tafsir yang kedua. Sepanjang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tidak ada teks yang sakral. Sebab ilmu pengetahuan berkembang dengan cara mengkritik yang lama dan melahirkan yang baru. Sakralisasi teks mungkin diperlukan oleh orang awam supaya tidak bingung, sebagaimana mereka perlu pemimpin, apabila tidak ada pemimpin mungkin pemandu, yaitu teks-teks, tetapi ketika sudah dewasa, orang harus tahu bahwa sakralisasi bisa mempersempit Islam itu sendiri.3 Lewat sebuah “Tradisi” yang menurut Hasan Hanafi adalah semacam ekspresi sikap, aliran, berbagai macam pandangan, dan sosiologi yang bervarian. Tentu saja akan melahirkan pembaharuan – yang itu semua terjadi sebab tuntutan masa dan kebutuhankebutuhannya. Akibatnnya, masing-masing generasi akan memiliki iterpretasi yang berbeda sesuai tuntutan pada zamannya, sebab tradisi bukanlah akidah yang statis dan mati, namun berwujud kondisi sejarah tertentu dan dalam masyarakat tertentu yang padangan mereka mesti berbeda dengan yang lainnya.4 2 Nasr Hᾱ mid Abū Zaid, Tekstualitas al Qur’an (Lkis: Yogyakarta), terj. Mafhumun al Nash fi Dirᾱ sah fi ‛Ulū mil al Qur’an, hal. 4. 3 Sulaiman Ibrᾱ hῑb, “Hermeneutika Teks; Sebuah Wacana dalam Metode Tafsir al Qur’an” Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, No.1, Juni 2014, hal. 24. 4 Nasr Hᾱ mid Abū Zaid, Tekstualitas al Qur’an (Lkis: Yogyakarta), hal. 10. 3 Geneologi pembaharuan mulai terlihat pada abad ke XIX. Pemikiran ini timbul hasil dari kontak antara dunia Islam dan Barat. Dengan kontak tersebut, umat Islam sadar bahwa mereka telah mengalami kemunduran dengan Barat. Bukan hanya pada aspek militer saja, tetapi lambat laun mereka tertinggal dari segala bidang, maka pembaharuan lebih dikenal dengan “Modernisme Islam” yang berimplikasi di segala bidang; aspek-aspek teologi, hukum, politik, maupun kelembagaan.5 Objek kajian kita di sini “Tafsir di era Pembaharuan” problematikanya dititikberatkan pada teks al Qur’an - yang akan menempatkan teks dengan dialektika konteks dan kontekstualisasinya. Khususnya komentar Hans Jansen sebagai sarjana Barat yang mengapresiasi Muhammad Abduh sebagai pembaharu Islam. Bahwa misalnya, peradaban Barat tidak bertentangan dengan Islam. Peradaban Barat juga berasal dari peradaban Islam klasik, khususnya soal teks. Kesadaran kritis – ilmiah menjadi urgensitas, misalnya saja sebuah pertanyaan para orientalis; Apa yang dipertaruhkan dalam studi Al-Qur'an? Apakah itu mencari pemahaman teks seperti cara Nabi Muhammad memahaminya, atau bahkan yang lain? Atau untuk memahami Alquran, bagaimana pembaca kemudian menerimanya, apa yang disebut tanggapan pembaca? Atau masih tentang hal lain?6 Kesadaran ilmiah – krtis yang hilang dari kita justru menjadi titik balik Barat. Sedangkan kita masih saja mempermasalahkan identitas, sakralitas, sectarian, dan bahwa yang datang dari Barat itu “semua” salah, bahkan haram. Oleh karenanya, perlu dipahami “tafsir” dalam arti kebenaran adalah kebenaran yang relative, dalam arti kultural, yaitu kebenaran yang ada pada kebudayaan kita. Bukanlah “substansial”, yaitu kebenaran obsolut/mutlak. Apresiasi Johannes Juliaan Gijsbert Jansen “Hans Jansen” sebagai sarjana Barat terhadap Tafsir al-Manar bukanlah tanpa sebab. Tafsir al Manar yang idiktekan oleh Muhammad Abduh dan kemudian diterbitkan oleh Muhammad Rashid Riḍo di majalah berkala al-Manar, ternyata sangat berpengaruh di abad ke 20, bahkan “pengaruhnya” 5 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (UI-Press: Jakarta), 1985, hal. 92. Angelika Neuwirth, “Orientalism in Oriental Studies ? Qur’anic Studies as Case in t Point” Journal of Qur'anic Studies, Vol. 9, No. 2 (2007), hal. 115. 6 4 sampai di Kepulauan Melayu dan memiliki dampak luas dalam tradisi dan karya-karya tafsir yang diproduksi pada abad ke-20. Ini mengungkapkan metodologi penting tafsir Al-Qur'an yang merayakan kekuatan akal, melepaskan pemahaman rasional dan kritis dan ijtihad definitif (penalaran independen). Karya tersebut menggambarkan metode signifikansi komentar berdasarkan eksposisi sistematis prinsip rasional dan kerangka kerja ilmiah, yang membuatnya bebas dari belenggu dan beban ideologi klasik yang berakar pada tafsir, seperti yang dikomentari oleh Muhammad Asad dalam karyanya yang menggaungkan prinsip Abduh, Pesan Al-Qur'an: “Roh Al-Qur'an tidak dapat dipahami dengan benar jika kita membacanya hanya dalam terang perkembangan ideologis kemudian, kehilangan pandangan akan makna dan makna aslinya. Pada kenyataannya, kami bertekad untuk menjadi tahanan intelektual orang lain yang juga adalah tahanan masa lalu dan tidak banyak berkontribusi pada kebangkitan Islam di dunia modern ”. Penafsiran ini juga mengambil karya-karya klasik dari al-Tabari ke al-Alusi sebagai sumber utama sambil menggunakan ijtihad tingkat tinggi dan alasan kuat untuk memahami teks. Itu dipuji sebagai karya tafsir terbesar di abad ke-20 yang memiliki dampak signifikan dan pengaruh luas di kepulauan Melayu yang mewakili pendekatan modern penafsiran di benua itu, sebagaimana disebutkan oleh M Abdullah dalam analisisnya tentang pengaruh utama reformis Mesir dalam karya-karya naskah tafsir di kepulauan Melayu: “kecenderungan penulisan naskah tafsir di Kepulauan Melayu selama bagian pertama abad ke-20 sangat dipengaruhi oleh reformasi Islam di Mesir yang diprakarsai oleh Syaikh Muhammad 'Abduh (1849-1905), yang kemudian diperluas oleh murid-muridnya seperti Sayyid Muhammad Rasyid Rida (1865-1935), Syaikh Mustafa al-Maraghi (1881-1945) dan cendekiawan lain dengan orientasi yang sama.7 7 Ahmad N. Amir, Abdi O. Shuriye and Jamal I. Daoud, “Muhammad Abduh’s Influence in Southeast Asia” International Islamic University Malaysia, 2013, hal. 125. 5 B. Permasalahan Berbagai macam penemuan Barat terhadap Timur memunculkan prespektif baru soal al Qur’an dan Islam. Begitu juga yang ada pada diri Hans Jansen, menurutnya al Qur’an dalam wawancara Uitgeverij- De Arbeiderspers Amsterdam, ialah; “Menurut Islam, Al-Quran adalah firman Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad (570-632). Alquran memiliki 114 bab, yang disebut 'sura'. Orang-orang Muslim percaya bahwa beberapa surah di kota Mekah diwahyukan kepada Muhammad pada tahun-tahun 610-622, yang lain di oasis pertanian Madinah pada tahun 622-632. Al-Quran berisi lebih banyak tugas umum dan lebih sedikit kisah daripada Alkitab. Adalah tugas umum dari Alquran yang menyebabkan masalah dengan seluruh dunia. Sebagai contoh, apa yang disebut ayat pedang, Sura 9: 5, di mana kita membaca: "Bunuh orang-orang kafir di mana pun Anda menemukan mereka."8 Memang Jansen sering mengkritisi Islam Fundamentalis, Extrimis sampai kepada Teroris, terutama dia juga mengkritik term “perang” dalam Islam. Yang menurutnya juga mengakar pada proyek pembaharuan Islam, namun dalam disertasinya yang berjudul “The Interpretation of the Koran in Modern Egypt “ ada satu apresiasi terhadap karya Muhammad Abduh yang menurutnya “orisinil”, ilmiah, dan objektif. Bagaimana Apresiasi Johannes Juliaan Gijsbert Jansen terhadap Tafsir Muhammad Abduh di era Modernisasi ? C. Metodologi Deskripsi menjadi metdologi dasar, yaitu menggambarkan dan menuangkan komentar yang ditulis oleh Jansen terkait Muhammad Abduh. Di tambah bumbu-bumbu nuansa hermeneutis9 yang ekletik, sebab karakter penafsiran modern – kontemporer bernuansa hermeneutis, ilmiah, kritis. Terakhir, sebuah perbandingan untuk menunjukan relevansi terkait model tafsir Muhammad Abduh. D. Literature Review Karya J.G. Jansen berjudul The Interpretation of The Koran in Modern Egypt merupakan disertasi doktoralnya di Rijksuniversiteit Leiden tahun 1972. Kajiannya 8 Diakses tanggal 25 Mei 2019 dari http://hoeiboei.blogspot.com/2010/01/zelfkoranlezen.html. 9 Ilustrasi Immanuel Kant terkait hermeneutika, bahwa seseorang tidaklah mampu memproduksi kebenaran secara “otentik” namun yang terjadi adalah mengetahui sesuatu “menurut dia” sebagaimana yang di tangkap. Dengan begitu, teks menjadi “otonom” bebas dari segala kepentingan, baik ideologis atau politis. Baca: Edi Susanto, Studi Hermeneutika (Kajian Pengantar) (Kencana:Jakarta), 2016, hal. 12. 6 memusatkan pada keseluruhan karya tafsir di Mesir modern. Selain mengomentari Muhammad Abduh, di dalamnya memuat tentang al Qur’an dan sejarah alam, kajian filologi, dan tafsir al Qur’an praktis, yakni anggapan bahwa pesan-pesan Alquran harus disebarluaskan ke masyarakat Mesir melalui organisasi-organisasi keagamaan dan penerbitan –penerbitan periodik melalui khotbah-khotbah di masjid dan lewat pers umum.Tafsîr ini menekankan pada fungsi dan kedudukan alQur’ân, bahwa ia diturunkan kepada manusia tidak lain sebagai hidâyah.10 Kedua, De historische Mohammed.De Mekkaanse verhalen (Mohammed yang Bersejarah. Kisah-kisah Mekah) dan De historische Mohammed de verhalen uit Medina (Sejarah Muhammad, kisah-kisah di Madinah). Karya tersebut menggabarkan sosok Nabi Muhammad Saw , dia mencari siapa sebenarnya Muhamad. Di bagian pertama penelitiannya, Jansen berfokus pada periode di Mekah. Bagian kedua, yang akan muncul pada tahun 2006, akan fokus pada periode di Madinah. Sebagai contoh, "jaahiliyya," "periode ketidaktahuan," yang menurut Islam, mengakhiri tradisi. Bagi Jansen, 'jaahiliyya' - dengan perzinahannya, percabulan, kekerasan tak berujung, penyembahan berhala, keracunan, pembunuhan bayi perempuan yang baru lahir - tidak lebih atau kurang dari 'konstruksi teologis' yang dimaksudkan untuk menceritakan kisah-kisah tentang Muhammad dan kedatangan para mewujudkan Islam”.11 Ketiga, Zelf Koran lezen (2008), dalam buku ini penulis ingin memberikan bantuan kepada orang luar untuk membaca Alquran. Dalam delapan bab - dalam kesembilan istilah-istilah penting yang digunakan dicantumkan - ia membahas teks-teks Islam yang penting dengan tuntunan Al-Quran, bahasa dan gaya Al-Quran dan kesulitan-kesulitan teologis yang muncul selama membaca. Kemudian tema-tema penting Al-Quran dibahas diikuti oleh dua bab yang ditujukan untuk membaca suratsurat tertentu.12 10 Hans Jansen, The Interpretation of the Koran in Modern Egypt (Leiden: E.J. Brill, 1974). Di akses pada tanggal 25 Mei 2019 dari https://www.tijd.be/cultuur/algemeen-recensieboek/hans-jansen-de-historische-mohammed-de-mekkaanse-verhalen/. Baca: Hans Jansen, De historische Mohammed: de Mekkaanse verhalen (2005) dan De historische Mohammed: de verhalen uit Medina (2007). 12 Hans Jansen, Zelf Koran lezen (2008). 11 7 Kempat, karyanya yang berjudul The Dual Nature of Islamic Fundamentalism (London: Hurst & Company, 1997). Buku ini menggambarkan sisi Fundamentalisme Islam memiliki sepasang pencapaian negatif: ia menyesatkan pembaca pada pemikiran dan perkembangan Islam modern, menghapuskan semua perbedaan antara fundamentalisme dan reformasi, dan kemudian, yang lebih berbahaya, ia dengan sengaja mengaitkan kedua tren dengan kekerasan. ence. Buku ini bertujuan untuk membuktikan basa-basi umum bahwa 'fundamentalisme Islam adalah politik dan agama'. Ini menegaskan bahwa mentalisme fundamental Islam adalah 'campuran agama dan politik', dan bahwa, khususnya dan hanya untuk umat Islam, politik tidak dapat eksis tanpa kekerasan. Oleh karena itu: 'Mentalisme fundamental Islam memadukan politik, agama, dan kekerasan. Buku itu, menurut penulis, adalah upaya untuk memahami 'logika, agama, politik, dan kekerasan'; sebenarnya itu adalah upaya untuk menghubungkan fundamentalisme dan kekerasan dan untuk menunjukkan tidak hanya bahwa akar kekerasan muncul dari konteks kontemporer gerakan Islam tetapi juga bahwa akar ini kembali ke reformis seperti Jamaluddin al-Afgham, Muhammad 'Abduh , dan Muhammad Rashid Rida dan lebih jauh kembali ke Ibn Taymiyya — Singkatnya, ke inti Islam.13 Kelima, The Neglected Duty: The Creed of Sadat’s Assassins and Islamic Resurgence in the Middle East (New York: Macmillan, 1986). Masih tentang fundamentalis Islam, yang menurutnya sebagai faktor tumbuh dan signifikan dalam politik internal negara-negara Muslim serta di arena internasional. Tulisannya berfokus pada "Tugas yang Diabaikan," dokumen yang berfungsi sebagai pernyataan kelompok ekstremis di Mesir yang bertanggung jawab atas pembunuhan Presiden Anwar Sadat pada Oktober 1981. Dokumen tersebut mengacu pada ayat-ayat Alquran dan pemikiran Muslim klasik untuk mencapai kesimpulan bahwa kekuatan dapat dan harus digunakan untuk menciptakan negara Islam murni. Ini menyerukan penggulingan pemerintah yang ada dan panggilan bagi umat Islam untuk mengangkat senjata untuk memenuhi tugas agama mereka. Jansen juga menulis tentang dua pemimpin agama terkemuka di Mesir, Syekh Kishk dan Syekh Sharawi, yang melalui buku-buku dan khotbah-khotbah populer 13 Ahmad S. Moussalli, “The Dual Nature of Islamic Fundamentalism by Johannes J. G. Jansen” Journal of Islamic Studies, Vol. 10, No. 3, Islam in Andalusia (September 1999), Oxford University Press. 8 mereka, mendorong kembalinya hukum dan praktik Alquran. Jansen menyimpulkan, "Konsensus bahwa hukum Islam harus diterapkan secara universal dan berapa pun biayanya semakin kuat. Ini mungkin memiliki konsekuensi politik dan sosial yang tak terduga dan berjangkauan jauh."14 Keenam, berbentuk jurnal dengan judul “Ibn Taymiyyah and The Thirteenth CenturyA Formative Priod Of Modern Muslim Radicalism” Masih soal fundamental – Radicalisme, bahwa kaum radikal modern sendiri merasa berkewajiban untuk menyangkal dengan keras bahwa ada kesamaan antara gerakan mereka sendiri dan khawdrij kuno. Mereka mengutip Ibn Taimiyah secara luas tetapi dengan cara selektif yang buruk, dan sangat terkesan dengan kecaman Ibn Taimiyah terhadap bangsa Mongol. Meskipun kecaman orang-orang Mongol ini didikte oleh keadaan-keadaan khusus dari konflik Mamluk-Mongol pada abad ke-13, banyak Muslim modern lebih suka menganggap kecaman ini sebagai yang secara umum berlaku dan berlaku untuk semua tempat dan sepanjang waktu.15 E. Sekilas tentang Johhanes J.G.Jansen dan Muhammad Abduh Johannes Juliaan Gijsbert “Hans” Jansen adalah seorang seorang politikus dan sarjana Islam kontemporer Belanda. Ia lahir di Amsterdam, Belanda pada 17 November 1942. Orangtuanya adalah anggota gereja reformasi ortodoks. Pendidikan Jansen dimulai dengan mempelajari teologi. Akan tetapi beralih ke bahasa Arab dan Semiotik. Ia lulus di Universitas Amsterdam dan meraih gelar dokterandesnya dalam bidang bahasa Arab dari Universitas Leiden. Jansen lulus dalam sidang disertasi doktornya di Rijks Universitas Leiden tahun 1972. Setelah lulus, ia bekerja di Mesir sebagai Direktur Dutch Institute di Kairo. Sekembalinya ke Belanda, ia kemudian menjadi asisten profesor di Universitas Leiden dan Groningen. Dari tahun 2003 sampe 2008, ia telah diangkat sebagai profesor 14 George W. Braswell, Jr., “The Neglected Duty: The Creed of Sadat's Assassins and Islamic Resurgence in the Middle East by Johannes J. G. Jansen”, Journal of Church and State, Vol. 29, No. 3 (AUTUMN 1987), Oxford University Press. 15 Johhanes J.G.Jansen, “Ibn Taymiyyah and The Thirteenth CenturyA Formative Priod Of Modern Muslim Radicalism” Quaderni di Studi Arabi, Vol. 5/6, Gli Arabi nella Storia: Tanti Popoli una Sola Civiltà (1987-1988), Istituto per l'Oriente C. A. Nallino. 9 pemikiran Islam Kontemporer di Universitas Utrecht. Ia juga diangkat sebagai Dewan Penasehat Nasional untuk pembangunan dan aktif dalam kegiatan sosial bersama organisasi Palang Merah.16 Kemudian Jansen menikah dalam jangka pendek dengan putri dari seorang politikus Komunis, Joop van Santen. Ia bernama Eefje van Santen. Lalu dari istri keduanya, Jansen dikaruniai tiga orang anak. Putranya Ewout Jansen adalah seorang komedian. Pada 1988, Jansen berpindah ke agama Katolik Roma. Pada kehidupan kariernya, ia mengembangkan pandangan Islam yang sangat kritis. Kontak pertamanya dengan radikal Islam terjadi ketika ia terlibat sebagai seorang penerjemah saat sebuah peristiwa dalam sebuah penjara Belanda, ketika seorang pembajak pesawat Palestina bersama dengan tahanan lainnya, menyadera paduan suara yang tampil di tahanan tersebut. Jansen berteman dengan Theo van Gogh, Ayaan Hirshi Ali dan Geert Wilders. Ia merupakan seorang kolumnis surat kabar reguler dan komentator media. Pada 2008, ia menasehati Geert Wilders tentang film anti-Islamnya Fitna dan pada 2010 ia menjadi saksi penting dalam pengadilan Geert Wilders. Jansen meninggal dunia pada 5 Mei 2015 tepatnya pada usia 72 tahun karena gangguan pada jaringan otak.17 a) Karya-karya Hans Jansen Karya dalam Bahasa Belanda 1) Inleiding tot de Islam (1987) 2) De Koran uit het Arabisch Vertaald door Prof. dr. J.H. Kramers (1992) (disunting oleh Asad Jaber & Johannes J.G.Jansen) 3) Nieuwe Inleiding tot de Islam (1998) 4) Het Nut van God (2001) 5) God heeft gezegd: terreur, tolerantie en de onvoltooide modernisering van de islam (2003) 16 Di akses pada tanggal 25 Mei 2019 dari http://luckitz.blogspot.com/2013/07/jjgjansen.html. 17 Di akses pada tanggal 25 Mei 2019 dari https://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Jansen 10 6) De radicaal-islamitische ideologie: Van Ibn Taymiyya tot Osama ben Laden, Oratie Universiteit van Utrecht, 3 februari 2004 7) Islam: een hoorcollege over de islamitische godsdienst en cultuur (2005, audio-cd) 8) De historische Mohammed: de Mekkaanse verhalen (2005) 9) De historische Mohammed: de verhalen uit Medina (2007) 10) Bombrieven (2008, correspondence with Abdul-Jabbar van de Ven) 11) Islam voor varkens, apen, ezels en andere beesten (2008) 12) Zelf Koran lezen (2008) 13) Eindstrijd, disunting oleh Jansen & Snel (2009) Karya dalam Bahasa Inggris; 1) The Interpretation of the Koran in Modern Egypt (Leiden: E.J. Brill, 1974) 2) The Neglected Duty: The Creed of Sadat’s Assassins and Islamic Resurgence in the Middle East (New York: Macmillan, 1986) 3) The Dual Nature of Islamic Fundamentalism (London: Hurst & Company, 1997) Nama lengkap Muhammad ‘Abduh adalah Muhammad bin ‘Abduh bin Hasan Khairullah. Beliau lahir di Delta Sungai Nil pada tahun 1849. Masa awal pendidikan ‘Abduh dilalui di rumah dan beberapa sekolah yang pernah dijalaninya hingga pada akhirnya ‘Abduh menempuh pendidikan di al-Azhar. Selain pendidikan keagamaan, ‘Abduh juga memiliki wawasan yang luas dari peradaban Barat saat itu. Dengan bermodal bahasa Prancis, Jerman dan Inggris, ‘Abduh berusaha mempelajari ilmu-ilmu Sosial, ilmu Etika, Sejarah, ilmu alam (sains), Matematika, dan model pendidikan Barat. Aspek lain yang mendapat perhatian ‘Abduh dari kemajuan bangsa Eropa hingga abad ke-19 adalah aspek pemikiran kefilsafatan. Dimuatnya pemikiran Francis Bacon dan Ernenst Renan dalam salah satu karya ‘Abduh serta ajakan untuk memperhatikan filosof-filosof modern Eropa saat itu seperti Auguste Comte, Leibniz dan Spinoza menunjukkan keluasan wawasan ‘Abduh terhadap kefilsafatan Eropa. 11 ‘Abduh sering mengisi waktu-waktu liburnya untuk berkunjung ke Eropa guna mengikuti kuliah-kuliah ilmiah yang diadakan di berbagai perguruan tinggi, terutama di Prancis dan Swiss (seperti universitas Geneva) atau di Inggris seperti Universitas Oxford dan Universitas Cambridge. Bahkan pada tahun 1903, ‘Abduh sengaja pergi ke Inggris untuk bertukar pikiran dengan filosof Inggris ternama pada masa itu yaitu Herbert Spencer.18 Karya tafsir Abduh yang singkat tersebut cukup dapat dinikmati dengan sempurna oleh para peminat al-Qur’ân mulai dari timur sampai di barat. Keunikan dan keistimewaannya terus bergema di kalangan barat disebabkan penafsiran Abduh yang rasional. Sehingga ia dapat dikatakan sempurna dalam menyampaikan risalah Islam di mata pemikiran Barat. Dengan demikian keterangan ini dapat mencerminkan bahwa Abduh merupakan tokoh yang memiliki wawasan luas. Keistimewaan Abduh dalam merangkai suatu tafsiran yang berkualitas tersebut dilalui dengan usaha keras dan tekun. Ia larut dalam penelusuran karya ilmiyah dan mendalami pikiran-pikiran tokoh privat-nya. Tokoh-tokoh yang dijumpainya pun terdiri dari berbagai latar belakang jurusan dan orientasi. Misalnya bimbingan perjalanan sufi bersama Syaykh Darwisyi Khadr, ilmu mantîq, jurnalistik dan ilmu sains diterima dari Sayyid Jamâl al-Dîn alAfghânî. Sedangkan karya yang sangat dikagumi dan terkadang dijadikan referensi tafsir adalah essai-essai Imam al-Ghazâly, tafsir alZamakhsyâri dalam tafsîr al-Kasysyâf, tafsîr Jalâlain karya Jalâluddīn alSuyūtī dan Jalâluddīn al-Mahallī, tafsîr mafâtih al-Ghayb karya Fakhr al-Râzi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta'wîl karya al-Nasafī, Anwâr alTanzîl wa Asrâr al-Ta'wîl karya al-Baidhâwi dan lain-lain.19 F. Review The Interpretation of the Koran in Modern Egypt (Seputar Muhammad Abduh) 18 Fuad Syukri, “Bias Filsafat Barat dalam Tafsir Modern Muh{ammad ‘Abduh” Journal of Qur’an and Hadisc@th Studies – Vol. 3, No. 2, (2014), ha. 269. 19 Tamrin, “Tokoh dan penafsir Berpengaruh dalam Tafsir Muhammad Abduh” Jurnal al Ahkam, Vol.V No .2 Desember 2010, hal. 164. 12 Ada beberapa alasan yang dikemukakan Jansen dengan memilih penelitian yang dikonsentrasikan di wilayah Mesir.20 Pertama, modernisasi pemikiran Islam tidak bisa dipisahkan dari proposal pembaharuan "Abduh" yang sekaligus melakukan renovasi besar-besaran terhadap kajian al-Qur'an. Kedua, banyaknya koleksi tafsir di wilayah tersebut yang belum tersentuh peneliti Barat, termasuk di antaranya al-Tafsir al-Bqyani Ii al-Qur'an al-Karim, satu-satunya karya tafsir yang ditulis mufassir wanita, yakni 'Aisya Abdurrahman bint al-Syati. Ketiga, mulai akhir dekade enampuluhan, Leiden mempunyai J. Brugman, spesialis budaya dan sastra Timur Tengah yang melahirkan doktor-doktor muda untuk spesialisasi wilayah Mesir dan sekitarnya, di mana Jansen merupakan salah satu di antaranya. Muhammad Abduh memiliki corak berbeda dengan mufassir lainnya. Dia merupakan anak zamannya – lewat corak Adabῑ Ijtimᾱ‛ῑ. Corak/Lawn tersebut pendekatan terbaru di zamannya dan termasuk dalam kategori “istimewa”. Diantara terobosan yang dilakukan Abduh, bahwa kitab tafsirnya jauh dari pengaruh sekte-sekte keagamaan. Kedua, mendiamkan riwayat-riwayat Isrᾱiliyyat yang bersifat khurafat, ketiga, tidak memasukan hadis-hadis ḍoif dan mauḍu‛ ke dalam tafsirnya. Pada dasarnya penolakan Abduh tersebut dilatarbelakangi oleh sikap Abduh yang sangat rasional, sehingga ia mempunyai pendapat bahwa sanad belum tentu dapat dipertanggungjawabkan. Bahkan ia pernah menulis surat kepada salah seorang ulama India, dan menyatakan: "Apakah nilai satu sanad yang secara pribadi tidak saya kenal perawi-perawinya, tidak pula keadaan serta kedudukannya dari segi kepercayaan dan hafalan?"21 Bahkan dalam tafsir surat al-Fatihah Abduh menyatakan: "Al-Qur'an harus dijadikan sumber segala madzhab dan pendapat dalam agama" Hal ini sesuai dengan pandangan Abduh bahwa sumber ajaran agama adalah al-Qur'an dan sedikit dari Sunnah amaliah. Tetapi dalam masalah ini terkadang nampak ketidak konsistenan Abduh, dengan menerima Hadits dha'if, hanya karena memiliki pemahaman yang logis, seperti permasalahan tentang bahwa al-Qur'an adalah wahyu pertama.22 20 Lihat penjelasan Muhammad Nur Kholis dalam pengantar terjemahan karya J.G.Jansen, Diskursus Tafsir al-Qur’an Modern, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1997, hlm. Xii. 21 Muhammad Abduh, Fatihah al-Kitab, hal.5 22 Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, (Kairo, Dar al-Manar, Cet. III, 1367 H) Vol. I hal. 3324 13 Karena memiliki corak Adabῑ Ijtimᾱ‛ῑ maka terbuka (Kasyf) sendi-sendi kemukjizatan al Qur’an khususnya soal ilmu pengetahuan dan masalah kemasyarakatan. Segala permasalahan terkait sosial culture terjawab lewat pendekatan tersebut.23 Dari sini, Abduh mengecam ulama-ulama pada masanya yang mengharuskan masyarakat mereka mengikuti hasil pemahaman ulama-ulama terdahulu tanpa menghiraukan perbedaan kondisi sosial. Hal ini menurut Abduh mengakibatkan kesukaran bagi masyarakat bahkan mendorong mereka mengabaikan ajaran agama. Kaum muslimin telah menanggalkan agama mereka karena perhatian selama ini hanya tetuju kepada redaksi ayat-ayat tanpa memperhatikan ruh/jiwa ayat-ayat itu sendiri. Kata Abduh, itulah sebabnya mengapa dia mengusulkan kepada para ulama agar mereka menghimpun diri dalam wadah satu organisasi, yang didalamnya mereka dapat mendiskusikan soal-soal keagamaan dan mencari illat(motif) dari suatu ketetapan, sehingga suatu hukum yang ditetapkan berdasarkan suatu kondisi tertentu, hedaklah kondisi tersebut dijelaskan. Bila kondisinya berubah, maka ketetapan itu juga dapat berubah.Dalam memahami ayat-ayat al Qurân, terlebih yang menyangkut ayat-ayat hukum, landasan ini tidak pernah diabaikannya. Melalui kedua hal tersebut, Abduh berusaha untuk tujuannya, yakni menjadikan hakikat ajaran Islam yang murni menurut pandangannya serta menghubungkan ajaran tersebut dengan kehidupan masa kini. Satu titik awal dari perhatian Jansen kepada tafsir, yaitu dengan memusatkan objek penelitian kepada tafsir karya Muhammad Abduh untuk kemudian dibandingkan kepada tafsir-tafsir lain yang ia anggap memenuhi persyaratan untuk masuk kepada pembagian yang diberikannya. Alasan bahwa ia memfokuskan objek awal dari Abduh adalah pernyataannya: “To quote Abduh : On The Last Day God will not question us on the opinions of the commentators and on how the understood the Koran, but he will question its on his book wich he sent down to guide and instruct us. Abduh intended to explain the Koran in a pratical manner to a public wider than marely the professional theologians, an Egyptian public that-according to the modern Moslem apotagistts- lacked ccompetent religious lader; suffered from foreign (British) occupation, did not understand the technical sciences and among whom supersititions alike, relize the limited relevance of 23 Muhammad Husain al Zahabi, Al Tafsir wal Mufassirun (Daarul Fikr: Beirut), hal. 401. 14 the traditional commentaries that do not contribute to the solution of the urgent problems of the day. He wishes to convince them that they should allow the Koran to speak for itself, nobscured by subtle explanation and glosse”..24 “Mengutip Abduh: Pada Hari Terakhir Tuhan tidak akan menanyai kita tentang pendapat para komentator dan tentang bagaimana orang memahami Alquran, tetapi dia akan mempertanyakannya pada bukunya yang dia turunkan untuk membimbing dan mengajar kita. Abduh bermaksud menjelaskan Alquran dengan cara yang praktis kepada publik yang lebih luas daripada para teolog profesional, publik Mesir yang - menurut apotagist Muslim modern - tidak memiliki pemimpin agama yang kompeten; menderita dari pendudukan asing (Inggris), tidak memahami ilmu-ilmu teknis dan di antara yang supersisi sama-sama, mengaitkan relevansi terbatas dari komentar tradisional yang tidak berkontribusi pada solusi dari masalah mendesak saat itu. Dia ingin meyakinkan mereka bahwa mereka harus membiarkan Alquran berbicara sendiri, dihilangkan dengan penjelasan halus dan glosse”. Dalam penglihatan Jansen, tidak ada tafsir-tafsir al-Qur'an baru yang muncul di Mesir pada abad ke-19. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha', dengan karyanya telah meratakan jalan bagi kemunculan sejumlah bcsar tafsir abad ke-19. Dalam membangun kembali pentingnya penafsiran al-Qur'an mereka juga menetapkan suatu garis antara alQur'an dan masalah-masalah kehidupan manusia di dunia ini. Hal ini dilakukan Abduh dengan membuang bobot pengetahuan tafsir-tafsir klasik yang terlalu membebani para ulama dan juga pembacanya.25 Ia mengisi ruang ini dengan memberikan nasihat-nasihat pendek yang praktis, bijaksana, arif dan mencerahkan problem-problem masyarnkat Mesir pada zamannya. Terutama sekali, ia menekankan kebutuhan akan pendidikan, karena hanya dengan, pendidikan masyarakat Mesir bisa meletakkan posisi mereka untuk mengusir penjajah asing. Dalam pandangan Jansen, tafsir Abduh merupakan sesuatu yang baru dan orisinil. Selain menampakkan pikiran-pikiran baru, juga penekanannya yang baru dalam 24 J. J. G. Jansen., The Interpretation of The Koran in Modern Egypt, Leiden, E. J. Brill, 1980, hlm. 19 25 Muhammad Abduh menilai kitab-kitab tafsir pada masanya dan masa-masa sebelumnya tidak lain kecuali pemaparan berbagai pendapat ulama yang saling berbeda, dan pada akhimya menjauh dari tujuan diturunkannya al-Qur'an .. Lihat Muhammad Abduh, Fatthah al-Kitab, (Kairo: Kitab al-Tahrir, 1382 H) hal. 13 Hanya saja Muhammad Abduh tidak serta merta menilai seluruh tafsir pada masa sebelumnva sebagai sesuatu yang tidak berarti. Tafsir al-Zamakhsyari dinilainya sebagai kitab yang terbaik untuk para pelajar dan mahasiswa, karena ketelitian redaksi serta segisegi sastra bahasa yang diuraikannya. Hal tersebut disampaikan kepada Rasyid Ridha ketika ia menanyakan tentang tafsir yang terbaik. Lihat Ibrahim Muhammad al-‘Adawy, Rasyid Ridha: alImam al-Mujtahid, (kairo: Maktabah al-Mishr, 1964) hal. 91. 15 melihat al-Qur'an, yakni sebagai sumber hidayah, petunjuk keagamaan dan spiritual, bukan pada dogma Islam, atau suatu ajang kesempatan bagi para filolog untuk memamerkan kepintaran mereka. Abduh menilai al-Qur'an sebagai kitab yang seharusnya umat Islam bisa merumuskan pemikiran-pemikiran mengenai dunia ini dan dunia yang akan datang. Sistem penafsiran Abduh, dalam pandangan Jansen adalah keragu-raguannya dalam menerima materi dari luar al-Qur'an itu sendiri sebagai sesuatu yang bermakna bagi penafsiran al-Qur'an. Sedangkan kaidah penafsirannya adalah bahwa seseorang seharusnya tidak perlu menjelaskan sesuatu yang memang sengaja tidak dijelaskan oleh al-Quran, mubham. Dengan demikian, seorang mufassir diwajibkan menjelaskan teks sebagaimana adanya dan tidak menambah-nambah. Oleh sebab itu Abduh ketika dihadapkan pada penentuan makna ayat atau kata tertentu lebih banyak melihat konteksnya, tidak seperti ulama sebelumnya yang dibatasi pada penjelasan tradisional saja. Sebagai contoh adalah ketika Abduh dihadapkan dengan istilah-istilah "sapi", "kampung", "ashhab alkahfi", di mana mufassir lain sering terlena dengan menguraikan secara rinci dengan perincian yang pada umumnya tidak memiliki sumber yang dapat dipertaggungjawabkan, ia lebih memilih "diam" dengan tidak menjelaskan dengan alasan tidak adanya penjelasan dalam al-Qur'an. Oleh sebab itu Abduh selalu mengatakan dalam kontek ini: "Kita diam (tidak) membicarakan tentang ... sebagaimana al-Qur'an tidak membicarakannya”26 G. Analisa Sebenarnya tafsir Muhammad Abduh, bagi penulis bisa saja masuk dalam kategori kontemporer – yang dinilai banyak kalangan memberikan “angin segar” bagi perkembangan tafsir, meskipun yang lain memandangnya sinis. Paradigmanya yang kritis membuatnya terlepas dari otoritarianisme dan dogmatisme. Sebab, produk kontemporer meniscayakan kritisisme, objektivitas, “pandangan” tidak ada produk tafsir yang kebal kritik. 26 Muhammad Abduh, Fatihah al-Kitab, hal.12 dan keterbukaan dengan 16 Oleh karenanya, nalar kritis reformatif – yang menurut Abdullah Mustaqim dalam desertasinya memuat struktur epostimlogi baru, diantaranya; Pertama, sumber penafsiran – yang bertumpu pada Al Qur’an sekaligus akal (rasional) berdialektika secara fungsional. Sumber hadis sedikit digunakan dan posisi al Qur’an serta mufassir berdialog subjek dan objek. Kedua, metode dan pendekatan – bersifat interdisipliner mulai dari tematik, hermeneutik, sosiologis, antropologis, linguistik, historis, sains, tergantung keilmuan masing-masing mufassir. Ketiga, Validitas penafsiran, biasanya bersifat solutif dan sesuai kepentingan umat, keserasian dengan fakta empiris, dan kesesuaian dengan proposisis yang dibangun sebelumnya.Keempat, kritis, solutif, non sektarian, menangkap ruh al Qur’an, dan tujuan penafsiran untuk transformasi sosial serta mengungkap makna dan sekaligus maghza (significance).27 Para pemikir modern kontemporer melihat ada keterbatasan-keterbatasan yang menjadi sebab umat Islam tidak mampu menembus lautan makna “filosofis-substansial” yang terbentang dalam al Qur’an. Mereka terkungkung dalam pagar intelektual tafsir dengan batas-batsa yang sempit. Oleh karenanya diusahakanlah rekonstruksi atas metodologi interpretasi. Jika selama ini teks ditarik dalam horizon penafsir, kali ini teks harus diperlakukan sebagai entitas otonom yang dipandang berdasarkan kondisi objektif. Teks al Qur’an dibuat berbicara sendiri tanpa kepentingan. Jika metode tafsir selama ini menempatkan teks sebagai fokus kajian, maka sudah saatnya unsur psikologis, historis, empiris, dan kultural dalam hal ini “konteks” terlibat dalam eksplorasi pembentukan teks sehingga muncul alternatif baru yang lebih solutif.28 Dalam istilah Martin Heideger kita harus membiarkan Ada “menampakan diri pada dirinya sendiri.” Artinya kita tidak memaksakan penafsiran begitu saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan Ada terlihat (Sehenlassen). Sikap yang tepat biarkan Ada membuka diri, bukan menganalisis. Jadi, seseorang ketika mendekati fenomena 27 28 Abdullah Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer (Lkis: Jogyakarta), hal 85. Edi Susanto, Studi Hermeneutika; Kajian Pengantar, hal. 15. 17 Ada pertama-tama akan heran, mengapa sesuatu itu ada dan tiada, hal tersebut muncul karena sikapnya sebagai pemula dalam melihat ada. Pendekatan yang digunakan adalah ontology sebagai fenomena “Ada menampakan diri”Ini perbedaan antara Heidegger dan Huserl. Menurut Husserl, intensinonalitas/kesadaran adalah kesadaran akan sesuatu. Misalnya, sadar akan sepeda motor yang ingin menabrak. Heidegger melampaui itu, ia mengatakan kesadaran dalam/sebagai sesuatu, yakni kita tidak sekedar menyadari sesuatu, melainkan sesuatu itu turut membentuk kesadaran. Jadi, kita hidup di dunia dan dunia membentuk kesadaran kita, itulah kesadaran dalam sesuatu. Dengan kata lain, tidak ada kesadaran murni seperti yang di bayangkan Husserl, tapi kesadaran itu tidak pernah perawan, selalu dibastarisasi oleh keadaan.29 Teori relasi ontologis-eksistensial - bagi Heidegger adalah pemahaman merupakan suatu keterhubungan. Karena pemahaman itu adalah keterhubungan, maka secara pasti ia akan memunculkan kebermaknaan. Dengan hal ini maka Heodegger mengetengahkan kemungkinan ontologis bahwa “kata” dapat memiliki signifikasi yang bermakna merupakan basis bagi bahasa. Point yang dibuat Heidegger di sini adalah bahwa kebermaknaan merupakan sesuatu yang menjadi pokok bagi bahasa dan melekat dalam dunia keutuhan relasional. Inilah dimensi ontologis-eksistensial yang dimaksud Heidegger. Melalui teori ini, dia ingin mengatakan bahwa pemahaman harus dilihat sebagai sesuatu yang melekat dalam konteks, dan interpretasi hanya penterjemahan eksplisit dari pemahaman. Dengan kata lain, sesuatu di duna ini dilihat sebagai ini atau sebagai itu. Interpretasi menerjemahkan kata ini “sebagai”. Dengan demikian, interpretasi objektif, tanpa prasangka dapat dipastikan tidak akan tercapai. Setiap interpretasi selalu melibatkan “Sesuatu yang kita punya sebelumnya”, “Sesuatu yang kita lihat sebelumnya” dan “Sesuatu yang kita tangkap sebelumnya.”30 H. Kesimpulan 29 F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, 2003, hal. 27. 30 Muhammad Arif, “Hermeneutika Heidegger dan Relevansinya terhadap Kajian al Qur’an” Jurnal UIN Sunan Kalijaga, Vol. 16, No. 1 (Januari 2015), hal. 13. 18 Apresiasi Jansen terhadap Muhammad Abduh tidak terlepas dari proyek pembaharuannya (modernisme Islam). Orisinalitas terlihat dari bagaimana Abduh berusaha untuk mengaitkan al Qur’an dengan konteks sehingga menimbulkan solusi terhadap permasalahan umat. Sebab saat itu dia sadar, bahwa Islam masih terkungkung dengan sektarianisme dan dogmatisme Agama. Daftar Pustaka 19 Muhammad Ḥusain al Zahaby, al Ittijᾱḥᾱt al Munḥarifah fi al Tafsῑr Dawᾱfi‛uhᾱ wa Daf‛uha (Kairo:Mesir). Nasr Hᾱmid Abū Zaid, Tekstualitas al Qur’an (Lkis: Yogyakarta), terj. Mafhumun al Nash fi Dirᾱsah fi ‛Ulūmil al Qur’an. Sulaiman Ibrᾱhῑb, “Hermeneutika Teks; Sebuah Wacana dalam Metode Tafsir al Qur’an” Hunafa: Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, No.1, Juni 2014. Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (UI-Press: Jakarta), 1985. Angelika Neuwirth, “Orientalism in Oriental Studies ? Qur’anic Studies as Case in t Point” Journal of Qur'anic Studies, Vol. 9, No. 2 (2007). Ahmad N. Amir, Abdi O. Shuriye and Jamal I. Daoud, “Muhammad Abduh’s Influence in Southeast Asia” International Islamic University Malaysia, 2013. http://hoeiboei.blogspot.com/2010/01/zelf-koranlezen.html. Edi Susanto, Studi Hermeneutika (Kajian Pengantar) (Kencana:Jakarta), 2016. Hans Jansen, The Interpretation of the Koran in Modern Egypt (Leiden: E.J. Brill, 1974). https://www.tijd.be/cultuur/algemeen-recensie-boek/hans-jansen-de-historischemohammed-de-mekkaanse-verhalen/. Hans Jansen, De historische Mohammed: de Mekkaanse verhalen (2005) dan De historische Mohammed: de verhalen uit Medina (2007). Hans Jansen, Zelf Koran lezen (2008). Ahmad S. Moussalli, “The Dual Nature of Islamic Fundamentalism by Johannes J. G. Jansen” Journal of Islamic Studies, Vol. 10, No. 3, Islam in Andalusia (September 1999), Oxford University Press. George W. Braswell, Jr., “The Neglected Duty: The Creed of Sadat's Assassins and Islamic Resurgence in the Middle East by Johannes J. G. Jansen”, Journal of Church and State, Vol. 29, No. 3 (AUTUMN 1987), Oxford University Press. Johhanes J.G.Jansen, “Ibn Taymiyyah and The Thirteenth CenturyA Formative Priod Of Modern Muslim Radicalism” Quaderni di Studi Arabi, Vol. 5/6, Gli Arabi nella Storia: Tanti Popoli una Sola Civiltà (1987-1988), Istituto per l'Oriente C. A. Nallino. http://luckitz.blogspot.com/2013/07/jjg-jansen.html. https://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Jansen 20 Fuad Syukri, “Bias Filsafat Barat dalam Tafsir Modern Muh{ammad ‘Abduh” Journal of Qur’an and Hadisc@th Studies – Vol. 3, No. 2, (2014). Tamrin, “Tokoh dan penafsir Berpengaruh dalam Tafsir Muhammad Abduh” Jurnal al Ahkam, Vol.V No .2 Desember 2010. J.G.Jansen, Diskursus Tafsir al-Qur’an Modern, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1997, hlm. Xii. Muhammad Abduh, Fatihah al-Kitab. Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, (Kairo, Dar al-Manar, Cet. III, 1367 H) Vol. I. Muhammad Husain al Zahabi, Al Tafsir wal Mufassirun (Daarul Fikr: Beirut). J. G. Jansen., The Interpretation of The Koran in Modern Egypt, Leiden, E. J. Brill, 1980. Ibrahim Muhammad al-‘Adawy, Rasyid Ridha: al-Imam al-Mujtahid, (kairo: Maktabah al-Mishr, 1964) hal. 91. F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit, 2003. Muhammad Arif, “Hermeneutika Heidegger dan Relevansinya terhadap Kajian al Qur’an” Jurnal UIN Sunan Kalijaga, Vol. 16, No. 1 (Januari 2015).

Judul: Jurnal Riza Hans Jansen

Oleh: Riza Muhammad


Ikuti kami