Tugas Artikel Jurnal Lannidar

Oleh Syamsul Bahri

138 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Tugas Artikel Jurnal Lannidar

Pelaksanaan Komitmen dan Budaya Penjamin Mutu Pendidikan Mutu Pendidikan DI SMK NEGRI 1 SOSA Oleh LANNIDAR SAHRONI HASIBUAN ABSTRAK LANNIDAR SAHRONI HASIBUAN, 172006000, Pelaksanaan Komitmen dan Budaya Penjamin Mutu Pendidikan Penjamin Mutu Pendidikan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan strategi peningkatan penjaminan mutu di SMK N2 Sosa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Pengambilan data dengan menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi serta terjun kelapangan. Dalam penelitian ini membahas penjaminan mutu yang terkait dengan pengertian, indicator dan pelaksanaan. Penjamin mutu pendidikan merupakan sederetan proses dan sistem yang saling berkaitan untuk mengumpulkan menganalisis dan melaporkan data tentang kinerja mutu pendidikan dan tenaga kependidikan, serta program dan lembaga pendidikan. Proses penjaminan mutu mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, penyediaan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Selama pelaksanaan startegi untuk mencapai mutu pendidikan di SMK N 1 Sosa tidak banyak mengalami kendala. Dari pencapaian delapan standar yang di tetapkan oleh pemerintah ada beberapa satandar yang tidak berjalan dengan baik diantaranya standar proses, standar isis dan standar sarana prasarana. Namun kepala sekolah dan guru memiliki solusi untuk menciptakan stategi untuk mengatasi permasalah tersebut. Terlihat dari peningkatan mutu lulusan dapat dilihat banyaknya siswa yang berhasil kerja di perusahaan internasional di Sosa. Abstract I. PENDAHULUAN Dewasa ini Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni dalam upaya menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk setiap manusia, karena melalui pendidikan usaha peningkatan kesejahteraan dapat diwujudkan. Dengan adanya Pendidikan akan memberikan pengaruh secara penuh untuh pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini peran pendidikan bukan berpengaruh kepada produktivitas saja namun juga akan berpengaruh padakemampuan masyarakat. Pendidikan akan mampu menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan dan pembangunansuatu negara. Pendidikan memberikan besar dalamkemajuan bangsa, melainkan juga berkaitan denganpasar bebas yang semakin kompetitif, pendidikanhendaknya dipandang sebagai jalan untuk memberikan peluang besar dalam menghadapi tantangan. Melalui pendidikan dapatmenciptakan tenaga kerja yang tidak hanya kaya akanpengetahuan teoritis melainkan juga praktis,penguasaan teknologi, dan memiliki keahlian khusus.Hal inilah yang kemudian menjadi dasar evaluasi danpeningkatan pendidikan di setiap negara secaraberkesinambungan. Peningkatan mutu di SMK N 1 Sosa merupakan bentuk usaha untuk mensukses tujuan pemerintah yaitu kemampuan siswa SKM setelah selesai menyelesaikan pendidikan mampu bersaing baik di perindustrian, perdangaanan, pemerintahan maupun swasta. SMK N 1 Sosa adalah salah satu sekolah memiliki beragam kegiatan yang mendukung pperkembangan pengetahuan siswa. Dengan menciptakan kegiatan yang positif yang mampu mereka pergunakan di kemudian hari. Skill yang di bangun sejak dini akan memberikan nilai positif bagi sekolah karena mampu meningkatkan penjaminan mutu. Kebijakan kepala sekolah dalam membentuk lulusan SMK melalui perogram unggulan berdasarkan keahlian masing-masing bidang membuat siswa mudah mendapatkan perkerjaan. Evaluasi yang dilaksanakan setiap semester membut SMK N 1 Sosa semakin percaya diri dengan kemampuan mereka. Ini sesuai dengan penelitin sebelumnya yang di tulis oleh dedi amrizal yang berjudul The development model of evaluation and audit internal quality in university of Sumatra utara.Ynag berisikan bahwa penerapan di bidang pemeblajaran dan adinistrasi akademik membutuhkan evaluasi dan audit internal yang mamu mengukur prestasi yang diperoleh. Untuk itu pada pemabahasan ini tertarik untuk menguraikan bagaimmana pelaksanaan pelaksanaan strategi Adapun fokus masalah 1. Starategi mutu pendidikan di SMK N 1 Sosa Batasan masalah 1. Bagaimana strategi mutu pendidikan di SMK N 1 Sosa? Tujuan Menambah pengetahuan tentang strategi penjaminan mutu di SMK N 1 Sosa Manfaat penelitian Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi pendidikan mutu pendidikan di SMK N 1 Sosa. PEMBAHASAN 1.PENGERTIAN MUTU PENDIDIKAN Pengertian mengenai mutu pendidikan mengandung makna yang berlainan. Namun, perlu ada suatu pengertian yang operasional sebagi suatu pedoman dalam pengelolaan pendidikan untuk sampai pada pengertian mutu pendidikan, kita lihat terlebih dahulu pengertian mutu pendidikan.Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Mutu adalah ukuran baik buruk suatu benda, keadaan, taraf atau derajad (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa bicara pendidikan bukanlah upaya sederhana, melainkan suatu kegiatan dinamis dan penuh tantangan. Pendidikan selalu berubah seiring dengan perubahan jaman. Oleh karena itu pendidikan senantiasa memerlukan upaya perbaikan dan peningkatan mutu sejalan dengan semakin tingginya kebutuhan dan tuntunan kehidupan masyarakat. 2. INDIKATOR MUTU PENDIDIKAN Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada konteks hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu setiap catur wulan, semester, setahun, 5 tahun dan sebagainya). Prestasi yang dicapai dapat berupa hasil test kemampuan akademis (misalnya ulangan umum, UN, dan lain-lain), dapat pula prestasi di bidang lain misalnya dalam cabang olah raga atau seni. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang intangible seperti suasana disiplin. Keakraban, saling menghormati dan sebagainya. Dalam proses pendidikan yang bermutu terlibat berbagai input. Seperti: bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah dukungan administrasi dan sarana prasarana, dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Manajemen sekolah, dukungan kelas mensinkronkan berbagai input tersebut atau mensinergikan semua komponen dalam interaksi (proses) belajar mengajar baik antara guru, siswa dan sarana pendukung di kelas maupun di luar kelas, baik konteks kurikuler maupun ekstra kurikuler, baik dalam lingkup substansi yang akademis maupun yang non akademis dalam suasana yang mendukung proses pembelajaran. Antara proses dan pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi agar proses itu tidak salah arah, maka mutu dalam arti hasil output harus dirumuskan terlebih dahulu oleh sekolah, dan jelas target yang akan dicapai untuk setiap tahun kurun waktu tertentu. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu pada mutu hasil output yang ingin dicapai.Adapun instrumental input, yaitu alat berinteraksi dengan raw input (siswa) seperti guru yang harus memiliki komitmen yang tinggi dan total serta kesadaran untuk berubah dan mau berubah untuk maju, menguasai ajar dan metode mengajar yang tepat, kreatif, dengan ide dan gagasan baru tentang cara mengajar maupun materi ajar, membangun kenerja dan disiplin diri yang baik dan mempunyai sikap positif dan antusias terhadap siswa, bahwa mereka mau diajar dan mau belajar. Kemudian sarana dan prasarana belajar harus tersedia dalam kondisi layak pakai, bervariasi sesuai kebutuhan, alat peraga sesuai dengan kebutuhan, media belajar disiapkan sesuai kebutuhan. Biaya pendidikan dengan sumber dana, budgeting, kontrol dengan pembukuan yang jelas. Kurikulum yang memuat pokok-pokok materi ajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, realistik, sesuai dengan fenomena kehidupan yang sedang dihadapi. Tidak kalah penting metode mengajar pun harus dipilih secara variatif, disesuaikan dengan keadaan, artinya guru harus menguasai berbagai metode. yang terjadi. Saat ini, memang telah dilakukan upaya-upaya untuk semakin meningkatkan relevansi kurikulum dengan melakukan revisi dan uji coba kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kurikulum uji coba tersebut didasarkan pada pendekatan yaitu: (1) (2) (3) Pengasaan aspek kognitif dalam bentuk kemampuan, penguasaan aspek afektif yang lebih komprehensif, dan penguasaan aspek keterampilan dalam bentuk kapasitas profesional. Begitu pula dengan raw input dan lingkungan, yaitu siswa itu sendiri. Dukungan orang tua dalam hal ini memiliki kepedulian terhadap penyelenggaraan pendidikan, selalu mengingatkan dan peduli pada proses belajar anak di rumah maupun di sekolah. Kompetensi itu hendaknya dapat membentuk suatu kapasitas yang utuh dan komprehensif sehingga tidak diredusir menjadi keterampilan siap pakai. Michael, (2002), Charles quengly (2000) mengemukakan kompetensi yang berada dalam suatu keutuhan dan komprehensif dengan kapasitas lainnya. Kompetensi mensyaratkan tiga elemen dasar yaitu basic, knowledge, skill ( intellectual skill, participation skill), and disposition. Melalui proses pembelajaran yang efektif, dari tiga elemen dasar ini dapat dibentuk kompetensi dan komitmen untuk setiap keputusan yang diambil. Kapasitas ini harus menjadi muatan utama kurikulum dan menjadi landasan bagi pengembangan proses pembelajaran dalam rangka pembentukan kompetensi. 3. LANGKAH-LANGKAH PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN 2. Memperkuat Sekolah Upaya perbaikan pada lembaga pendidikan tidak sederhana yang dipikirkan karena butuh perbaikan yang berkelanjutan, berikut ini langkah-langkah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dewasa ini telah banyak digunakan modelmodel dan prinsip-prinsip manajemen modern terutama dalam dunia bisnis untuk kemudian diadopsi dalam dunia pendidikan. Salah satu model yang diadopsi dalam dunia pendidikan. Salah satu model yang diadopsi adalah School Based Management. Dalam rangka desentralisasi di bidang pendidikan, model ini mulai dikembangkan untuk diterapkan. Diproposisikan bahwa manajemen berbasis sekolah (MBS) : (1) akan memperkuat rujukan referensi nilai yang dianggap strategis dalam arti memperkuat relevansi, (2) memperkuat partisipasi masyarakat dalam keseluruhan Kegiatan pendidikan, (3) memperkuat preferensi 1. Memperkuat Kurikulum Kurikulum adalah instrumen pendidikan yang sangat penting dan strategis dalam menata pengalaman belajar siswa, dalam meletakkan landasan-landasan pengetahuan, nilai, keterampilan,dankeahlian, dan dalam membentuk atribut kapasitas yang diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan sosial Kapasitas Manajemen nilai pada kemandirian dan kreativitas baik individu maupun kelembagaan, dan (4) memperkuat dan mempertinggi kebermaknaan fungsi kelembagaan sekolah. 3. Memperkuat Kependidikan a. Sumber Daya Tenaga Memperkuat Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Dalam jangka panjang, agenda utama upaya memperkuat sumber daya tenaga kependidikan ialah dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. Keahlian baru itu adalah modal manusia (human investmen), dan memerlukan perubahan dalam sistem pembelajarannya. Menurut Thurow (Sularso:2002) di abad ke-21 perolehan keahlian itu memerlukan perubahan dalam sistem pembelajaran karena alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat, (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru, maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan, dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. b. Memperkuat Kepemimpinan Dalam fondasi berbagai karakteristik pribadi, pimpinan lembaga pendidikan perlu menciptakan visi untuk mengarahkan lembaga pendidikan dan karyawannya. Dalam konteks ini, penciptaan visi yang jelas akan menumbuhkan komitmen karyawan terhadap kwalitas, memfokuskan semua upaya lembaga pendidikan pada rumusan kebutuhan pengguna jasa pendidikan, menumbuhkan sense of team work dalam pekerjaan, menumbuhkan standard of excellence, dan menjebatani keadaan lembaga pendidikan sekarang dan masa yang akan datang. c. Meningkatkan Mutu Mengajar Program Inovatif Berbasis Kompetensi Melaui Selama ini sekolah terutama guru masih sangat terbatas dalam melakukan inovasi-inovasi pembelajaran. Disisi lain, upaya untuk memperkuat kemampuan mengajar telah diupayakan melalui berbagai jenis penataran, pendidikan, ataupun pelatihan-pelatihan. Melalui berbagai kegiatan tersebut dikenalkan pada inovasi-inovasi pembelajaran. Tetapi dari pengalaman empirik tampaknya upaya-upaya itu belum secara signifikan membawa perubahan dalam arti peningkatan mutu hasil belajar. Pengembangan bahan ajar, pengembangan strategi dan metode pembelajaran, pengembangan sistem evaluasi, dan pengembangan MBS. Kebutuhan akan inovasi itu dapat dilihat dalam dua hal yaitu untuk kepentingan inventions dan untuk kepentingan perubahan kultural sekolah, sehingga terbangun suatu kultur yang (1) berorientasi inovasi, (2) menumbuhkan kebutuhan untuk terus maju dan meningkat, (3) kebutuhan untuk berprestasi, (4) inovasi adalah sebagai suatu kebutuhan. d. Mengoptimalkan Kependidikan. Fungsi-Fungsi Tenaga Di sekolah-sekolah selama ini yang berperan utama adalah guru. Seorang guru melaksanakan berbagai fungsi baik fungsi mengajar, konselor, teknisi, maupun pustakawan. Bahkan, dalam kasus-kasus tertentu terdapat guru mengajar bukan berdasarkan keahliannya. Kondisi ini jelas kurang menguntungkan bagi terselenggaranya suatu proses pendidikan yang baik diperlukan fungsi-fungsi kependidikan yang saling mendukung, sehingga dapat dicapai suatu hasil yang maksimal. 4. Perbaikan yang berkesinambungan Perbaikan yang berkesinambungan berkaitan dengan komitmen (Continuos quality Improvement atau CQI) dan proses Continuous pross Improvement. Lewis dan Smith (1994)Komitmen terhadap kualitas dimulai dengan pernyataan dedikasi pada misi dan visi bersama, serta pembedayaan semua persiapan untuk secara inkrimental mewujudkan visi tersebut. Perbaikan yang berkesinambungan tergantung kepada dua unsur. Pertama, mempelajari proses, alat, dan keterampilan yang tepat. Kedua, menerapkan keterampilan baru small achieveable project. Proses perbaian berkesinambungan yang dapat dilakukan berdasarkan siklus PDCA Plan, Do, Check, Action. Siklus ini merupakan siklus perbaikan yang never ending, dan berlaku pada semua fase organisasi/lembaga. 5. Manajemen berdasarkan fakta Pengambilan keputusan harus didasarkan pada fakta yang nyata tentang kualitas yang didapatkan dari berbagai sumber diseluruh jajaran organisasi. Jadi, tidak semata-mata atas dasar intuisi, praduga, atau organizational politik. Berbagai alat telah dirancang dan dikembangkan untuk mendukung pengumpulan dan analisis data, serta pengambilan keputusan berdasarkan fakta. Sebenarnya banyak sekali aspek yang turut menentukan mutu pendidikan di sekolah. Edward sallis (1993:2) mengemukakan bahwa yang menentuan mutu pendidikan mencakup aspek-aspek berikut: pembinaan yang berkelanjutan, guru yang profesional, nilai-nilai moral yang luhur, hasil ujian ynag gemilang, dukungan orang tua, komunitas bisnis dan komunitas lokal, kepemimpinan yang tangguh dan berarah tujuan, kepedulian dan pehatian pada anak didik, kurikulum yang seimbang, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Dari sejumlah aspek yang dikemukakan diatas, satu hal yang paling menentukan adalah bagaimana menjalankan manajemen mutu pendidikan itu sendiri Menurut W. Edward deming 80% dari masalah mutu lebih disebabkan oleh manajemen, dan sisanya 20% oleh SDM. Hal ini berarti bahwa mutu yang kurang optimal berawal dari manajemen yang tidak profesional dan manajemen yang tidak profsional artinya mencerminkan kepemimpinan dan kebijakan yang tidak profesional pula. Sejalan dengan konsep itu, dirjen dikdasmen Depdiknas (1991:11) menetapkan bahwa ukuran mutu pendidikan disekolah mengacu pada derajad keunggulan setiap komponennya, bersifat relatif, dan selalu ada dalam perbandingan. Ukuran sekolah yang baik bukan semata-mata dilihat dari kesempurnaan komponennya dan kekuatan yang di milikinya, melainkan diukur dari Skemampuan sekolah dalam mengantsipasi perubahan, konfik, serta kekurangan atau kelemahan yang ada dalam sekolah tersebut (dengan menggunakan analisis SWOT). METEODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SMK N 1 Sosa dan Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Dengan menggunakan Penelitian ini Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawaancara dna dokumentasi. Setelah data yang diperlukan maka ditarik kesimpulan. Keabsahan data yang digunakan dalah triangulasi dimana fungsiny adalah untuk melihat apakah data sudah akurat untuk hasil penelitian. Hasil penelitian dan pembahasan Penjaminan mutu di SMK N 1 Sosa telah melalui delapan standar pada proses pembelajarannya yaitu standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian. SMK N 1 Sosa mampu melaksanaan kedelapan standar tersebut dengan baik. Meskipun masih terdapat kekurang dari beberapa standar, yakni standar sarana prasarana, standar isi dimana standar sarana prasarana membutuhkan budget yang besar untuk mendukung segala aktivitas yang dilakukan di SMK N 1 Sosa. Sarana prasana meupakan kebutuhan inti dari praktek skill siswa. Untuk kepala sekolah dengan bijak memberikan wewenang kepada guru yang bersangkutan untuk mengadakan pembelajaran diluar kelas seperti kerja kelas lapangan, kunjungan ke beberapa perusahaan kepala sawit di Sosa. Guru jugabanyak mengeluh dengan standar isi pembelajaran yang membutuhkan banyak penilaian pada masing-masing siswa. Adapun hambatan lainnya adalah standar proses yakni setiap guru dituntut memberikan perhatian kepada masing-masing siswa dan memberikan penilaian yang berbeda pula, karena kurikulum 13 saat ini yang digunakan membutuh hal tersebut. Dari kesekian hambatan tersebut kepala sekolah dan guru memiliki solusi yang handal untuk mencapai mutu lulusan yang baik suatu saat. Dimana guru dan kepala sekolah memebrikan les tambahan bagi siswa setiap hari yang berbeda sesuai dengan jurusan masingmasing. Dengan demikian siswa akan lebih faham dengan standar pencapaian kompetensinya, sedangakan standar proses guru membagi kelas menjada beberapa kelompok yang membantu mengatur dan memberikan pengamatan bulanan mengenai pemahaman siswa. Evaluasi yang dilakukan dengan menambah kelas diluar jam pelajaran seperti konsultasi akademik kerumah guru memberikan leluasa kepada siswa untuk berinteraksi. Dengan kerja sama yang baik antara gurud na kepala sekolah lulusan output dari SMK N 1 Sosa banyak bekerja di perusahan perusahan internasional dan nasional di padang lawas. Dengan demikian peningkatan penjaminan mutu di SMK N 1 Sosa akan semakin baik. PENUTUP KESIMPULAN Penjaminan mutu pendidikan merupakan kegiatan mandiri oleh lembaga pendidikan tertentu, oleh karena itu harus disusun, di rancang dilaksanakan dan di evaluasi secara kontinu sepanjang masa. Salah satu dalam upaya merealisasikan penjaminan mutu tersebut dapat dilaksanakan secara bertahap oleh pihak sekolah, yakni dengan melakukan evaluasi diri, kemudian ditindak lanjuti dengan monitoring sekolah oleh pihak pemerintah daerah, sehingga penjaminan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan baik. Penjaminan kuwalitas merupakan bagian yang menyatu dan memebentuk kualitas produk dan jasa dalam satuan pendidikan itu sendri. Mekanisme penjaminan kualitas yang di gunakan juga harus dapat menghentikan perubahan bila mana dinilai perubahan tersebut menuju kearah penurunan atau kemunduran SARAN Dengan strategi peningkatan mutu pendidikan di sekolah mudah mudahan dapat di laksnakan di berbagai sekolah wsemua jenjang pendidikan dengan berbagai variasi dan penyesuaian materi yang diberikan. Dam mudah mudahan dapat diterapkan di sekolah langkah langkah peningkatan mutu pendidikan bdi sekolah, hususnya di SMK N 1 Sosa. DAFTAR PUSTAKA Achmad, Sanusi, Beberapa Dimensi Mutu Pendidikan; 1990.Edward Sallis: Total Quality Management in Education; 1993 PEMA-HAMANIDEMMTMENGEM-BANGKANMOTIFMEYA-KINKANADOPSIMENJALANKANMMTTINDAKLANJUT* ADOPSI* DISONANSI* REJEKSI* KONTINYU* STOPKarakteristikMMT1.Kesesuaian2.Keuntungan3.Kemudahan4.Keteramatian5.Bukti HasilKarakteristik Unit, Desisi. 1.Tersedia Forum2.Publikasi KONTINYUVISI&MISIINSTITUSIINSENTIF MMT3.Kategori Klien* LATE* Everett Rogers: Diffusion of Innovations; 1983.Feigenbaum, A.V.: Total Quality Control; 1983. Haidar Bagir: Era Baru Manajemen Etis, 1995. James A.F. Stoner: Management of Change and Organizational Developmentdalam Management; 1982. Lawrence M. Miller: American Spirit: Visions of a New Corporate Culture; 1984. Ditjen Dikti: Rumusan Lokakarya Pengelolaan Mutu Total Pendidikan Tinggi,1993.Ralp Barra: Putting Quality Circles To Work; 1983. Kaoru Ishikawa dan David J. Lu, What Is Total Quality Control? (The JapaneseWay); 1985 Margono Slamet: Pengantar Penerapan Manajemen Mutu Terpadu di PerguruanTinggi, 1993 Dedi Amrizal, 2017 The development Model Of evaluation and Audit Internal quality in Uviversity of Sumatrra Utara. Google scholar

Judul: Tugas Artikel Jurnal Lannidar

Oleh: Syamsul Bahri


Ikuti kami