Jurnal Tafsir (1).pdf

Oleh Hafniati Hafniati

796,2 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Tafsir (1).pdf

FAKTOR PENYEBAB PENYIMPANGAN DALAM TAFSIR (Faktor-Faktor Penyebab Kesalahan dan Penyimpangan dalam tafsir bi al-Ma’tsur, bi ar-Ra’yi dan dan bi al Isyari) Oleh: HAFNIATI NIM: 31181200000014 Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Program Doktor (S-3) Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta Email: hafzul74@gmail.com ABSTRAK Perbedaan menafsirkan al-Qur’an sudah muncul sejak awal perkembangan Islam (abad pertama, kedua dan ketiga). Hal ini disebabkan dengan semakin bertambah dan meluasnya interaksi umat Islam dengan non Muslim (dalam perluasan daerah). Ada beberapa penyebab terjadinya penyimpangan dalam penafsiran alQuran, sebagian besar disebabkan oleh mufassir yang mengabaikan kaidahkaidah penafsiran al-Quran. Seperti mengabaikan kaidah nahwu, asbabun nuzul, menggunakan hadits-hadits dhaif dan kisah-kisah israiliyat sebagai hujjah. Di samping para mufassir juga dalam menafsirkan ayat dilatarbelakangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dan fanatisme terhadap mazhab, sekte dan lain-lain. Kata Kunci: Penyimpangan, Tafsir dan Mufassir ABSTRACK The difference in interpreting the Qur'an has emerged since the beginning of the development of Islam (first, second and third centuries). This is due to the increasing and widespread interaction of Muslims with non-Muslims (in expanding regions). There are several causes of the occurrence of irregularities in the interpretation of the Koran, mostly due to the mufassir who ignored the rules of interpretation of the Koran. Such as ignoring the rules of nahwu, asbabun nuzul, using dhaif hadith and israiliyat stories as hujjah. In addition to the interpreters also interpreting the verses is motivated by certain interests and fanaticism towards schools, sects and others. Keywords: Deviation, Interpretation and Mufassir 1 A. Pendahuluan Al-Quran merupakan kitab suci terakhir yang memuat firman Allah SWT disampaikan oleh Malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab secara lisan. Al-Quran adalah kitab suci yang dijamin keotentikannya oleh Allah SWT sampai akhir zaman. Allah SWT berfirman: ُ ِ‫الذ ْك َر َوإِنَّا لَهُ لَ َحاف‬ )9( َ‫ظون‬ ِ ‫ِإنَّا نَحْ ُن ن ََّز ْلنَا‬ Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan Kami (pula) yang memeliharanya.1 Ayat-ayat mutasyabihat selalu dijadikan sasaran perdebatan sehingga memunculkan pertanyaan siapa sebenarnya yang memegang otoritas untuk menjelaskan makna ayat al-Quran. Sampai akhirnya muncul dua istilah: tafsir dan takwil. Tafsir secara harfiah berarti menyingkap, mengungkap, atau menjelaskan. Sedangkan takwil berarti mengembalikan (kepada makna asal).2 Tafsir adalah ilmu yang membahas ayat-ayat al-Quran sejauh kemampuan yang ada pada manusia sesuai dengan kandungan ayat. Adapun takwil adalah memalingkan makna kata dari makna asalnya (rajih) kepada makna lain (marjuh) yang sesuai karena adanya dalil atau alasan untuk memalingkannya.3 Periode awal perkembangan tafsir masih banyak berbentuk periwayatan (bi al-ma’sur) yang disampaikan lengkap dengan sanad-sanadnya. Hal demikian berjalan terus hingga tafsir bi al-ma’sur hampir lenyap dari peredarannya, yaitu di saat para mufasir sudah tidak mau lagi menyertakan sanad-sanadnya. Sudah dapat dipastikan bahwa dengan dihilangkannya isnad-isnad dalam tafsir bi al-ma’sur mengakibatkan terbukanya pintu kejahatan bagi kaum muslimin, karena kemungkinkan untuk melakukan manipulasi terhadap tafsir sangat besar. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberanian mereka memasukkan kisah-kisah legenda israiliyyat ke dalam penafsiran mereka, para pendukung aliran politik dan teologi juga berupaya mencari justifikasi dalam al-Qur’an demi kepentingan mazhab dan aliran politiknya. 4 B. Pengertian Penyimpangan dalam Tafsir Kamus besar KBBI menjelaskan kata simpang berarti sesuatu yang memisah dari yang lurus. Sedangkan menyimpang berarti menempuh jalan yang lain. Tafsir 1 QS. Al- Hijr:9 Munzir Hitami, Pengantar Studi Al-Quran, PT. LkiS Yogyakarta, 2012, h. 37 3 Muhammad Husain al-Dzahabi, al Tafsir wa al-Mufassirun, Dar al-Kutub alHaditsah, 1976, h. 13-18 4 Muhammad Husain az-Zahabi, al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an alKarim, Dawafi’uha wa Daf’uha, terj. Hamim Ilyas dan Makhnun Husein. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1993 , h. 8 2 2 menurut etimologi ialah al-idhoh yang berarti keterangan dan al-bayan yang artinya penjelasan. Tafsir adalah mashdar dari kata kerja fassara. Menurut Abu Hayyan yang dikutip oleh Manna Qathan dalam kitabnya, tafsir ialah, “ilmu yang membahas tentang cara pengucapan lafadz-lafadz al-Qur’an, indikator-indikatornya, masalah hukum baik yang independen maupun yang berkaitan dengan yang lain, serta tantang makna-maknanya yang berkatan dengan kondisi struktur lafadz yang melengkapinya. Dalam teori sosiologi, penyimpangan dapat didefinisikan sebagai tindakan yang tidak sesuai atau berlainan dari norma-norma sosial. Melalui norma-norma sosial masyarakat mendefinisikan penyimpangan, dan karenanya penyimpangan muncul dari perspektif masyarakat. Akan tetapi keliru pula untuk melihat penyimpangan semata-mata sebagai ketidakpatuhan terhadap norma-norma. Boleh jadi, orang yang dikatakan sebagai penyimpang adalah mereka yang memilih standar bagi dirinya sendiri yang berbeda dengan standar orang lain. 5 Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa penyimpangan dalam al-Qur’an ialah tafsir yang ditempuh dengan jalan lain yang keluar dari jalan utama. Jalan utama sebuah tafsir ialah kaidah-kaidah tafsir yang telah disepakati. Kaidah-kaidah tafsir banyak dan beragam, ada yang disepakati dan ada pula yang yang tidak disepaki. Hal ini lumrah dan berlaku pula dalam aneka disiplin ilmu.6 Perbedaan menafsirkan al-Qur’an sudah muncul sejak awal perkembangan Islam (abad pertama, kedua dan ketiga). Kitab-kitab tafsir yang muncul pada waktu itu mengacu pada inti kandungan al-Qur’an. Tidak ada perhatian khusus tentang ilmu Nahwu, I’rab dan tidak ada pula kajian mengenai lafazh, susunan kalimat, majaz, dll. Apa yang dilakukan para mufassir pada masa itu adalah tidak lepas dari perkembangan ilmiah tentang tafsir pada masa itu. Kemudian kondisi yang demikian berubah pada masa-masa berikutnya. Semakin bertambah dan meluasnya interaksi umat Islam dengan non Muslim (perluasan daerah), maka para mufassir memerlukan ilmu tentang bahasa yang telah dibukukan sebagai perangkat bantu dalam menafsirkan al-Qur’an7 C. Faktor- Faktor Penyebab Penyimpangan dalam Tafsir Dr. Abdurrahman bin Shalih bin Sulaiman al-Dahsy dalam karyanya alAqwal al- Syadzah fi al-Tafsir menjelaskan sebab-sebab penyimpangan dalam tafsir ada tujuh yaitu: 5 Dr. Yusran Razak, MA, Sosiologi Sebuah Pengantar, tinjauan pemikiran sosiologi perspektif Islam, (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Laboratorium Sosiologi Agama) h. 204 6 Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, , Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996) 7 Ali Hasan al-Aridl, Tarikh Ilm Tafsir wa Manahij al-Mufassirin, pent Ahmad Arkom, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994) h. 23 3 1. Penyimpangan disebabkan mengabaikan langkah-langkah tafsir yang diakui a. Mengabaikan penafsiran al-Qur’an sendiri, misal: )82( َ ‫َوأَ ْم‬ ‫ضو ٍد‬ ُ ‫ارةً ِم ْن ِس ِجي ٍل َم ْن‬ َ ‫ط ْرنَا َعلَ ْي َها ِح َج‬ Beberapa pendapat tentang arti ‫ سجيل‬yaitu Abdurrahman bin Zaid (w. 182) ‫ سجيل‬adalah langit dunia,8 golongan lain berpendapat ‫ سجيل‬maksudnya perkara yang sudah tertulis, golongan lain berpendapat bahwa ‫ سجيل‬maksudnya dari jahannam. Penafsiran ini walaupun sesuai dengan kaidah bahasa dari lafal ‫ سجل‬tetapi mengabaikan penafsiran al-Qur’an karena dalam ayat lain sebagaimana dijelaskan al-Alusi berkata: ‫ سجيل‬adalah tanah yang keras sesuai ayat: )33( ‫ين‬ َ ‫ِلنُ ْر ِس َل َعلَ ْي ِه ْم ِح َج‬ ٍ ‫ارةً ِم ْن ِط‬ Sedangkan al-Qur’an sebagian menafsirkan sebagian lain (wal Qur’an yufassiru ba’dluhu ba’dhan) hal ini sesuai qaul Ibnu Abbas, Mujahid, Said bin Jubair, Ikrimah dan al-Sudi. 9 b. Mengabaikan Penafsiran dari Sunnah yang Sahih, misal dalam surat al-Baqarah: 238 )238( ُ ِ‫َحاف‬ َ ‫ص ََلةِ ْال ُو ْس‬ َ‫ّلِل قَانِتِين‬ ِ ‫صلَ َوا‬ َّ ‫ت َوال‬ َّ ‫ظوا َعلَى ال‬ ِ َّ ِ ‫طى َوقُو ُموا‬ Para mufassir berbeda pendapat tentang maksud ‫ الصَلة الوسطى‬terdapat 18 pendapat, bahkan dikatakan bahwa ‫ الصَلة الوسطى‬adalah shalat khauf, shalat idul fitri, shalat idul Adha.10 Dikatakan ‫ الصَلة الوسطى‬maksudnya kumpulan shalat maktubah, Ibnu Katsir berkata: suatu keheranan, bahwa qaul ini dipilih oleh Abu Umar bin Abdul Bar al-Namiri (w. 463) salah satu ulama’ besar, walaupun hal itu tidak berdasarkan dalil dari Qur’an, Sunnah dan atsar, karena perbedaan ini ar-Rozi mengutip pendapat ulama’ bahwa ‫ الصَلة الوسطى‬itu dirahasiakan sebagaimana samarnya lailatul qadar dan lainya. 11 Penafsiran diatas mengabaikan penjelasan sunnah dari Ali berkata: :‫سمعت رسول هللا يقول يوم األحزاب‬ َ ‫كنا نراها الفجر حتى‬ َ ‫شغلونا عن الصَلة الوسطى‬ ‫صَلة العصر مَلَء هللا قبورهم وأجوافهم نَّارا‬ c. Berpegang pada hadis dhaif, misal: Abu Ja’far at-Thobari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an vol 12, Beirut: Dar alFikr, h.94 9 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim vol 12, Dar al-Thoibah, h. 93, Muharrar Wajiz vol 3, Op.Cit, h. 198 10 Muharrar Wajiz vol 1, Op.Cit, h. 223, Tafsir al-Qur’an al-Adhim vol 1, Op.Cit, h.645 11 Fakhruddin al-Rozi, Mafatih al-Ghoib vol 6, Beirut:Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , h. 146 8 4 َ ‫ير ْال ُمقَ ْن‬ َّ ‫اس ُحبُّ ال‬ َ‫ط َرةِ ِمن‬ ِ ‫ش َه َوا‬ ِ ‫اء َو ْالبَنِينَ َو ْالقَن‬ ِ ‫س‬ ِ َ‫ت ِمن‬ ِ ‫ُزيِنَ ِلل َّن‬ َ ‫الن‬ ِ ‫َاط‬ ‫ع ْال َح َيا ِة الدُّ ْن َيا‬ ُ ‫ث ذَلِكَ َمتَا‬ ِ ‫س َّو َم ِة َو ْاأل َ ْن َع ِام َو ْال َح ْر‬ َّ ‫ب َو ْال ِف‬ ِ ‫الذَّ َه‬ َ ‫ض ِة َو ْال َخ ْي ِل ْال ُم‬ َّ ‫َو‬ )14( ‫ب‬ ِ ‫ّللاُ ِع ْندَهُ ُح ْسنُ ْال َمآ‬ Ibnu Jauzi mengatakan bahwa ada sebelas pendapat tentang makna ‫قناطير‬ di antaranya adalah bermakna12.000 uqiyah berdasarkan riwayat Abu Hurairah dari Nabi bersabda: ‫القنطار اثنا عشر الف أوقية كل أوقية َير مما بي السماء‬ ‫واألرض‬ Namun hadits tersebut tidak sahih, kualitasnya mauquf karenanya yang rojih bahwa ‫ قناطير‬tidak diketahui maknanya, yang dimaksud hanyalah harta yang banyak sebagaimana dikatakan Rabi’ bin Anas 2. Penyimpangan yang berhubungan dengan Nadzm al-Qur’ani a. Menafsirkan tanpa memperhatikan kaidah bahasa, misal: ‫ي ُحقُ ًبا‬ ِ ‫سى ِلفَتَاهُ ََل أَب َْر ُح َحتَّى أَ ْبلُ َغ َم ْج َم َع ْالبَ ْح َري ِْن أَ ْو أَ ْم‬ َ ‫َوإِ ْذ قَا َل ُمو‬ َ ‫ض‬ Ar-Rozi menyebutkan tiga pendapat tentang maksud ‫ فتاه‬adalah budak )60( Nabi Musa. Al Qaffal berkata: yang tepat adalah pendapat ketiga karena sesuai dengan bahasa yang berlaku. Orang arab menyebut budak dengan istilah karena mayoritas budak masih berusia muda. Hal itu juga sesuai dengan hadis dari Nabi bersabda: ‫َل يقولن أحدكم عبدى و أمتي وليقل فتاي وفتاتي‬ Janganlah salah seorang di antara kamu berkata ‘abdi wa ammati, tetapi ucapkanlah fataya wa fatati b. Perkataan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa arab, misal: َ ‫فَا ْن ِك ُحوا َما‬ َ ‫اء َمثْنَى َوث ُ ََل‬ ‫ع‬ ِ ‫س‬ َ ‫ث َو ُربَا‬ َ ِ‫اب لَكُ ْم ِمنَ الن‬ َ ‫ط‬ Huruf waw pada ayat tersebut berfungsi lil ibahah: maksudnya boleh memilih bilangan mana yang dikehendaki. Dikatakan bahwa waw itu berfungsi littafriqah (pemisah) bukan jami’ah (penambahan), dikatakan waw itu berfungsi jami’ah maka berarti boleh menikah sembilan orang, mereka berdalih bahwa Nabi juga menikahi 9 istri, pendapat ini dinisbatkan kepada Syi’ah Rafidlah dan sebagian ahlu zahir.12 Abu ja’far al-Nuhas (w. 338) adapun orang yang berkata makna َ‫َمثْنَى َوث ُ ََلث‬ َ‫ َو ُربَاع‬adalah sembilan, maka hal itu tidak sesuai dengan bahasa, karena makna ‫َمثْنَى‬ 12 al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an vol 5,Riyadh: Dar Alam al-kutub, h. 17 5 maknanya dua dua, bukan dua saja. Begitu juga dalam karakteristik kalam arab adalah memilih kalam yang ringkas (ikhtisar), maka tidak boleh dimaknai sembilan, karena kalau maknanya sembilan tidak praktis bila menggunakan redaksi َ‫َمثْنَى َوث ُ ََلث‬ َ‫ َو ُربَاع‬karena redaksi angka 9 lebih ringkas dan hal itu sesuai karakteristik kalam arab. Adapun sunnah Nabi itu merupakan kekhususan bagi Nabi. Al-Syafi’i (w.204) berkata sebagaimana dikutip Abdurrahman bin Shalih bin Dahsy: Nabi melarang menikahi lebih dari empat orang berdasar hadits Ghailan bin Salmah, ketika masuk Islam masih mempunyai sepuluh istri, maka Nabi bersabda: Pilihlah empat saja di antara mereka. Bahkan sebagian ahlu zahir berpendapat bahwa berdasar ayat ini boleh menikahi delapan belas orang karena faidah takrir dan waw jami’ah, hal itu jelaslah penafsiran yang batil. c. Menafsirkan dengan kaidah bahasa yang lemah bukan dengan kaidah bahasa yang kuat dan fasih, seperti dalam surat thaha ayat 5 )5( ‫الر ْح َمنُ َعلَى ْال َع ْر ِش ا ْستَ َوى‬ َّ d. Menakdirkan pemaknaan yang tidak dibutuhkan ayat, seperti dalam QS. An-Nisa: 79 َ‫سيِئَ ٍة فَ ِم ْن نَ ْفسِك‬ ِ َّ َ‫سنَ ٍة فَ ِمن‬ َ ‫صابَكَ ِم ْن‬ َ ‫صابَكَ ِم ْن َح‬ َ َ‫ّللا َو َما أ‬ َ َ‫َما أ‬ ً ‫س‬ )79( ‫ش ِهيدًا‬ َ ‫اّلِل‬ ُ ‫اس َر‬ ِ َّ ِ‫وَل َو َكفَى ب‬ ِ ‫س ْلنَاكَ ِلل َّن‬ َ ‫َوأَ ْر‬ Sebagian ahli takwil menafsirkan bahwa ‫فمن نفسك‬ bukan khabar tetapi menakdirkan hamzah istifham ‫ أفمن نفسك‬Membawa ayat ini kepada pemaknaan seperti itu kontradiksi dengan ayat lain yang menjelaskan bahwa kebaikan dinisbatkan kepada Allah dan kejelekan dari diri manusia sendiri. e. Tidak menakdirkan pemaknaan pada ayat yang menurut susunan menuntut adanya pengiraan, firman Allah dalam QS. Yusuf: 83 : ‫َواسْأ َ ِل ْالقَ ْر َيةَ الَّ ِتي ُكنَّا ِفي َها‬ f. Menakwilkan ayat kepada majaz, seperti dalam QS. Ar-Ra’du:15 َ ‫ض‬ ‫ط ْو ًعا َو َك ْرهًا‬ ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫ّلِل يَ ْس ُجدُ َم ْن فِي ال‬ ِ ‫ت َو ْاأل َ ْر‬ ِ َّ ِ ‫َو‬ Para ahli takwil menakwilkan ayat tersebut dengan majaz karena sujud hanyalah untuk manusia dengan tujuh anggota sujud, sedang selain manusia maka maknanya tidak adanya kemampuan untuk menolak dan mencegah. 3. Penyimpangan yang berkaitan dengan Asbab an-Nuzul a. Mengabaikan asbab an-nuzul, misal QS. Al-Qamar:1 )1( 6 ‫ت السَّا َعةُ َوا ْنش ََّق ْالقَ َم ُر‬ ِ ‫ا ْقتَ َر َب‬ Sekelompok orang berkata: Bahwa bulan akan terbelah nnati pada hari kiamat, hal itu berlawanan dengan asbab an-nuzul ayat tersebut yang dinukil oleh segolongan sahabat diantaranya: Ibnu Umar, Hudzaifah, Jabir bin Muth’im, Ibnu Abbas, Anas bin Malik. Ibnu Katsir berkata: bahwa hal itu sudah terjadi pada zaman Rasul sebagaimana diriwayatkan oleh hadis Mutawatir .13 b. Menggunakan riwayat asbab nuzul yang lemah secara sanad dan matan, seperti dalam QS. Al-A’raf: 189-190 َّ َ‫احدَةٍ َو َجعَ َل ِم ْن َها زَ ْو َج َها ِليَ ْس ُكنَ إِلَ ْي َها فَلَ َّما تَغ‬ ‫شاهَا‬ ِ ‫ه َُو الَّذِي َخلَقَ ُك ْم ِم ْن نَ ْف ٍس َو‬ ْ َ‫ت ِب ِه فَلَ َّما أَثْقَل‬ ْ ‫ت َح ْم ًَل َخ ِفيفًا فَ َم َّر‬ ْ ‫َح َم َل‬ ‫صا ِل ًحا‬ َ َّ ‫ت دَ َع َوا‬ َ ‫ّللا َر َّب ُه َما لَئِ ْن آتَ ْيتَنَا‬ َّ ‫لَنَ ُكون ََّن ِمنَ ال‬ ‫صا ِل ًحا َجعَ ََل لَهُ شُ َر َكا َء فِي َما آتَاهُ َما‬ َ ‫) فَلَ َّما آتَاهُ َما‬189( َ‫شا ِك ِرين‬ ُ ‫ّللاُ َع َّما يُ ْش ِر‬ َّ ‫فَتَعَالَى‬ )190( َ‫كون‬ Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya kepada Ibnu Abbas berkata: Hawa melahirkan anak bagi Adam, lalu Ia beribadah kepada Allah dan memberi nama anaknya Abdullah, Ubaidillah dan lainya, lalu anaknya ditimpa kematian. Iblis mendatangi keduanya dan berkata: Sesungguhnya jika engkau tidak memberi nama selain itu maka ia akan hidup. Lalu lahirlah seorang anak dan diberi nama Abdul Harits lalu turunlah ayat ini. Ibnu Katsir berkata: Asal riwayat ini dari ahli kitab, Ibnu Abbas meriwayatkan dari Ubay bin Ka’b. Ad- Dzahabi berkata: hadisnya Munkar.14 4. Penyimpangan disebabkan fanatisme sekte akidah dan madzhab fiqih, misal QS. Al-Qiymah: 22 )22( ٌ ‫َاض َرة‬ ِ ‫ن‬ ‫ُو ُجوهٌ َي ْو َم ِئ ٍذ‬ Mu’tazilah berpendapat bahwa ayat yang muhkam adalah firman-Nya dalam QS. Al-An’am:103 )103( ‫ير‬ ُ ‫يف ْال َخ ِب‬ ُ ‫ص‬ ُ ‫ار َوه َُو اللَّ ِط‬ َ ‫ص‬ َ ‫ار َوه َُو يُد ِْركُ ْاأل َ ْب‬ َ ‫ََل تُد ِْر ُكهُ ْاأل َ ْب‬ Mu’tazilah mengembalikan ayat yang mutasyabih QS. al-Qiyamah:22 kepada QS. al-An’am:103. 5. Penyimpangan berkaitan dengan kaidah ushul secara umum a. Membawa pengertian ayat ‘am kepada khas tanpa dalil, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 109 ‫ارا‬ ٌ ِ‫َودَّ َكث‬ ً َّ‫ب لَ ْو يَ ُردُّونَ ُك ْم ِم ْن بَ ْع ِد ِإي َمانِ ُك ْم ُكف‬ ِ ‫ير ِم ْن أَ ْه ِل ْال ِكتَا‬ Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim vol 12, Dar al-Thoibah, h. 470 Tafsir al-Quran al-Adhim vol 2, Op.Cit, h.275, ad- Dzahabi, Mizan al-I’tidal vol 3, Maktabah Syamilah, h.179 13 14 7 Az-Zuhri (w. 124) dan Qatadah (w. 117 ) berkata yang dimaksud ayat itu adalah Ka’b bin al-Asyraf. Ibnu Jarir berkata: orang yang tunggal tidak disifati dengan kata ‫كثير‬ b. Membatasi ayat yang muthlaq tanpa dalil, seperti dalam QS. Al-Isra:1 َ ‫س ْب َح‬ ‫س ِج ِد‬ ْ ‫س ِج ِد ا ْل َح َر ِام ِإلَى ا ْل َم‬ ْ ‫س َرى ِبعَ ْب ِد ِه لَي اًْل ِم َن ا ْل َم‬ ْ َ ‫ان الَّذِي أ‬ ُ ‫ْاْلَ ْقصَى‬ Sekelompok orang membatasi lafal ‫بعبده‬ dengan hanya ruh saja, berdasarkan riwayat dari Aisyah, Muawiyah serta Hasan al-Bashry. Para ahli tahqiq telah menjelaskan kedlaifan riwayat tersebut sehingga tidak bisa membatasi kemutlakan lafal yang mencakup ruh dan jasad. Ibnu Jarir berkata: bahwa Allah ‫ بعبده‬dan tidak dengan ‫ بروح عبده‬maka tidak boleh membatasi ayat ini tanpa dalil yang menunjukkan ‫ بعبده‬bahwa maksud adalah ‫بروح عبده‬ memakai redaksi 6. Penyimpangan berkaitan dengan qarinah-qarinah a. Mengabaikan siyaq al-kalam, yaitu memperhatikan lafal sebelum dan sesudahnya, seperti dalam QS. An-Nahl: 69 ُ ُ‫ج ِم ْن ب‬ ‫اس‬ ٌ ‫طونِ َها ش ََر‬ ُ ‫يَ ْخ ُر‬ ِ َّ‫ف أَ ْل َوانُهُ فِي ِه ِشفَا ٌء ِللن‬ ٌ ‫اب ُم ْختَ ِل‬ Mujahid berkata ‫اس‬ ِ َّ‫فِي ِه ِشفَا ٌء ِللن‬ maksudnya didalam al-Qur’an terdapat obat. Walau hal itu secara naql sahih tetapi secara logika tidak benar, karena ayat tersebut kaitanya terhadap madu, sedang sebelumnya tidak disebutkan lafal alQur’an, bagaimana mengembalikannya kepada kalimat yang tidak disebut sebelumnya. b. Mengeluarkan ayat dari ayat yang serupa, seperti dalam QS. AnNahl:30 َ‫ار ْال ُمتَّقِين‬ ُ َ‫ار ْاْل ِخ َرةِ َخي ٌْر َولَنِ ْع َم د‬ ُ َ‫َولَد‬ ْ ‫ار‬ Diriwayatkan dari Hasan al-Bashry َ‫ال ُمتَّقِين‬ ُ َ‫ َولَنِ ْع َم د‬adalah dunia, ini )30( keluar dari ayat yang serupa yang menegaskan pujaan atas akhirat dan tidak ada yang memuja dunia. c. Menyangka bahwa suatu ayat serupa dengan ayat lain, seperti dalam QS. Shaad: 24 )24( َ ‫َو‬ ‫َاب‬ َ ‫ظ َّن دَ ُاوود ُ أَنَّ َما فَتَ َّناهُ فَا ْستَ ْغفَ َر َربَّهُ َوخ ََّر َرا ِك ًعا َوأَن‬ Para mufassir berbeda pendapat tentang makna ‫ خر‬apakah berarti sujud atau ruku’. Az-Zamakhsyari membawa pengertian ruku’ kepada sholat secara sempurna 8 karena ruku’ dijadikan ibarat dari sholat secara utuh100, seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 43 )43( َّ ‫ص ََلةَ َوآتُوا‬ َ‫الرا ِكعِين‬ َّ ‫ار َكعُوا َم َع‬ ْ ‫الز َكاةَ َو‬ َّ ‫َوأَقِي ُموا ال‬ Membawa pengertian ini bertentang dengan sunnah Nabi SAW, karena Nabi SAW ketika sujud pada ayat ini bersabda: Nabi Daud bersujud untuk bertaubat, sedang kita bersujud untuk bersyukur d. Berpedoman pada zahir tanpa memperhatikan maksud Syari’seperti firman Allah QS. An-Nisa: 102 َ ‫ص ََلةَ فَ ْلتَقُ ْم‬ َ‫طائِفَةٌ ِم ْن ُه ْم َم َعك‬ َّ ‫َو ِإذَا ُك ْنتَ فِي ِه ْم فَأَقَ ْمتَ لَ ُه ُم ال‬ Abu Yusuf berkata: ayat tentang shalat khauf ini hanya khusus untuk Nabi SAW, maka selain beliau tidak diperbolehkan. As-Syaukani berkata: dalam hal ini pendapat Abu Yusuf menyimpang. 7. Mementingkan masalah yang melalaikan dan tidak mungkin(ditafsiri) a. Menjelaskan perkara yang sama (mubhamat), firman Allah QS. AlBaqarah: 35 )35( َّ َ‫ش َج َرةَ فَتَ ُكونَا ِمن‬ َّ ‫َو ََل تَ ْق َربَا َه ِذ ِه ال‬ َ‫الظالِمِين‬ Allah merahasiakan pohon yang terlarang, dikatakan itu adalah pohon Sunbulah, al-Karmah, kurma, buah tin. As-Suyuthi menukil enam pendapat dalam hal ini. Yang paling selamat adalah pendapat Ibnu Jarir bahwa kita tidak tahu pohon apa itu secara detail karena tidak ada dalil dalam al-Qur’an dan sunnah yang sahih. Hal itu jika diketahui tidaklah bermanfaat dan jika kita tidak mengetahuinya pun tidak berbahaya. b. Menjelaskan pengecualian, seperti dalam QS. An-Naml: 87 َّ ‫ض ِإ ََّل َم ْن شَا َء‬ ِ ‫س َم َاوا‬ َّ ‫ع َم ْن ِفي ال‬ َ ‫ور فَفَ ِز‬ ُّ ‫َويَ ْو َم يُ ْنفَ ُخ فِي ال‬ ُ‫ّللاُ َوكُ ٌّل أَت َْوه‬ ِ ‫ت َو َم ْن فِي ْاأل َ ْر‬ ِ ‫ص‬ )87( َ‫اخ ِرين‬ ِ َ‫د‬ Tidak dijelaskan siapa yang dikecualikan dalam ayat tersebut, ada empat pendapat: dikatakan bahwa itu adalah Syuhada’, dikatakan malaikat, penghuni surga dan orang mukmin. Semua pendapat tidak kuat, pendapat pertama lebih baik jika hadisnya sahih, jika tidak maka semuanya hanyalah prasangka. c. Mendalami perkara ghaib, seperti dalam QS. An-Naml:82 ‫ض‬ ِ ‫َوإِذَا َوقَ َع ْالقَ ْو ُل َعلَ ْي ِه ْم أ َ ْخ َر ْجنَا لَ ُه ْم دَابَّةً ِمنَ ْاأل َ ْر‬ ً‫ دَابَّة‬yang merupakan tanda kiamat merupakan hal ghaib yang kita tidak mengetahuinya. 9 d. Terlalu longgar dalam israiliyyat, seperti dalam QS. Qaaf:1 )1( ‫آن ْال َم ِجي ِد‬ ِ ‫ق َو ْالقُ ْر‬ Diriwayatkan bahwa ‫ ق‬adalah gunung yang meliputi seluruh bumi, dikatakan bahwa adalah Jabal Qaf, sebagian menyibukkan dalam mensifati gunung ini. Ibnu Katsir berkata : Ini termasuk tipu daya Bani Israel yang dikutip sebagian orang. Sedangkan secara praktis, unsur-unsur yang seharusnya dihindari oleh seorang mufassir, namun unsur-unsur itulah yang justru menonjol dalam penafsiran mereka, di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Mereka memaksakan diri untuk mengetahui makna yang dikehendaki Allah pada suatu ayat, sementara mereka sendiri tidak memenuhi syarat untuk itu; hal ini terjadi pada penafsiran orang yang tidak menguasai bahasa Arab dan memaksakan diri untuk menafsirkan al-Qur’an. 2. Mereka berusaha menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an karena dorongan hawa nafsu dan sikap istihsan (penerapan hukum suatu perkara tidak berdasarkan alasan hukum yang tepat menurut nash); termasuk dalam kelompok ini adalah penafsiran kaum batiniyah dan kaum pembaharu yang menafsirkan al-Qur’an dengan menetapkan suatu hukum yang tidak berdasarkan alasan hukum yang tepat menurut nash. 3. Mereka menafsirkan ayat-ayat menurut makna yang tidak dikandungnya; kekeliruan penafsiran ini kebanyakan terjadi pada kaum sufi yang berupaya menyimpangkan makna al-Qur’an dari makna zahirnya, para ilmuwan yang berusaha menjelaskan kandungan al-Qur’an dari sudut ilmu pengetahuan secara panjang lebar dengan penafsiran yang tidak berkaitan dengan tafsir itu sendiri, dan kaum sejarawan yang berusaha menjelaskan kisah-kisah alQur’an dengan kisah-kisah Israiliyyat. 4. Mereka menafsirkan ayat untuk mendukung aliran atau mazhab tertentu, dengan cara menjadikan paham aliran atau mazhab bersangkutan sebagai dasar penafsirannya sementara penafsiran itu sendiri tunduk di bawah kepentingan paham aliran atau mazhab yang dianutnya. Penafsiran dengan corak ini sering dilakukan oleh para penganut setia suatu mazhab, sehingga mereka menggunakan tafsir sebagai lahan subur untuk menyebarluaskan 10 ajaran mazhabnya seperti halnya yang terjadi pada penafsiran rasional Mu’tazilah, penafsiran sesat kaum Syi’ah dan kaum Khawarij.15 Faktor-faktor penyimpangan tafsir dalam penelitian Muhammad Husain al- Dzahabi yaitu: 1. Mufassir yang bersangkutan meyakini kebenaran salah satu diantara banyak makna yang ada, kemudian menggunakan makna tersebut untuk menerangkan berbagai lafal al-Qur’an. Kesalahan ini disebabkan kecenderungan mufassir terhadap makna yang diyakini tanpa melihat petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam lafal-lafal al-Qur’an tersebut. Kesalahan yang ditimbulkan oleh faktor ini yaitu: a. Makna yang dinafikan atau diakui oleh penafsir itu benar tetapi pemakaianya terhadap lafal al Qur’an yang bersangkutan tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Kesalahan ini umumnya dilakukan oleh mufassir kalangan sufi. Seperti contoh yang dikemukakan Abu Abdurrahman as Salmi dalam Haqaiq al-Tafsir, yaitu ketika menafsirkan QS. an Nisa’ ayat 66 ْ ‫س ُك ْم أَ ِو‬ ‫ار ُك ْم‬ َ ُ‫َولَ ْو أَنَّا َكتَ ْبنَا َعلَ ْي ِه ْم أَ ِن ا ْقتُلُوا أَ ْنف‬ ِ َ‫اخ ُر ُجوا ِم ْن ِدي‬ Artinya: “Dan andaikata Kami(berkehendak)mewajibkan mereka(kami katakan): Bunuh dirilah atau keluarlah dari dalam rumah-rumahmu... Mereka menafsirkan ayat ini dengan” bunuh dirilah dengan melawan hawa nafsumu atau keluarlah dari dalam rumah-rumahmu” dengan membuang perasaan cintamu kepada kenikmatan duniawi dari dalam hatimu. b. Makna yang dinafikan atau diakui itu benar tetapi penggunaannya terhadap lafal yang bersangkutan tidak sesuai makna konotasi. Kesalahan dalam bentuk ini juga terdapat pada berbagai tafsir sufi yang cenderung menafsirkan dengan makna yang tersirat (isyari). seperti QS. al Baqarah: 35 )35( َّ ‫ش َج َرةَ فَتَ ُكونَا ِمنَ ا‬ َّ ‫َو ََل تَ ْق َربَا َه ِذ ِه ال‬ َ‫لظالِمِين‬ Ayat ini ditafsirkanya bahwa yang dimaksud disini bukan makan dalam arti yang sebenarnya melainkan kecenderungan untuk menuju suatu tujuan (lain) selain Allah. c. Makna yang dinafikan atau dibenarkan salah sehingga penggunaan makna tersebut berarti manipulasi terhadap makna lafal al-Quran. al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, Dawafi’uha wa Daf’uha. Op.Cit, h. 275. 15 11 Seperti penafsiran yang dimaksudkan untuk mendukung kebenaran faham wihdatul wujud yang diungkapkan oleh Ibnu al ‘Arabi ketika menafsirkan QS. al Muzammil: 8 )8( ‫َوا ْذ ُك ِر اس َْم َربِكَ َوتَبَتَّ ْل إِلَ ْي ِه تَ ْبتِي ًَل‬ Artinya:”Dan sebutlah nama tuhanmu dan beribadatlah kepada Nya dengan mantap. Mereka menafsirkan ayat ini dengan sebutlah nama Tuhanmu yaitu kamu sendiri, artinya kenalilah dirimu sendiri dan jangan melupakanya agar Allah tetap berada dalam dirimu. d. Makna yang akan dibuang atau akan dipegangi oleh mufassir itu salah sehingga penggunaan makna tersebut berarti melepaskan konteks dan konotasi lafal al-Qur’an yang bersangkutan, artinya menafsirkan berdasarkan makna yang salah dan dengan tidak memperhatikan makna lahiriahnya. Sebagai contoh penafsiran sekelompok orang Syi’ah yang ekstrim menafsirkan al-Jibti dan alThaghut sebagai Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Atau penafsiran orang Mu’tazilah terhadap QS. al Qiyamah: 22-23: )23( ٌ ‫َاظ َرة‬ ِ ‫ن‬ ‫) ِإلَى َر ِب َها‬22( ٌ ‫َاض َرة‬ ِ ‫ُو ُجوهٌ يَ ْو َم ِئ ٍذ ن‬ 2. Mufassir yang bersangkutan berusaha menafsirkan berdasarkan makna yang dimengerti oleh penutur bahasa arab semata-mata, tanpa memperhatikan siapa yang berbicara, kepada siapa diturunkan dan siapa pula yang dibicarakan oleh al-Quran itu. Dalam hal ini bisa jadi karena dua faktor yaitu : a. Boleh jadi suatu lafal dari segi kebahasaan mempunyai makna seperti yang dimaksud oleh mufassir, tetapi tidak kontekstual b. Boleh jadi suatu lafal mempunyai pengertian tertentu yang orisinil, tetapi makna yang orisinil itu tidak cocok, seperti QS. al Isra’: 59 ً ‫ْص َرة‬ ِ ‫َوآتَ ْينَا ثَ ُمودَ النَّاقَةَ ُمب‬ Artinya:”Dan telah kami berikan kepada Tsamud seekor unta betina sebagai mu’jizat. Jika kata mubshirah di sini diartikan dengan makna aslinya, yaitu melihat, maka penafsiran ini tidak sesuai, sebab dalam konteks ini yang dimaksud adalah mu’jizat.16 Berikut ini beberapa sebab kekeliruan dalam penafsiran Al-Qur’an, antara lain: 16 al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, Dawafi’uha wa Daf’uha. Op.Cit, h. 275. 12 1. Penghapusan atau penghilangan sanad-sanad secara lengkap pada periode pembukuan tahap ketiga. Tahap ini merupakan permulaan munculnya pemasukan dan pembebasan dongeng-dongeng israiliyat ke dalam tafsir.17 2. Munculnya berbagai madzhab keagamaan sekaligus pengaruh dari ambisi pribadi dan paham-paham dari suatu kelompok mufassir. Perbuatan itu berarti membuka peluang besar bagi musuh Islam untuk merusak aqidah yang benar serta menyusupkan paham-pahamnya yang sesat. Mereka mengkalim pahamnya bersumber dari Rasulullah SAW, maka akan cepat mendapat perhatian dari kalangan umat Islam. 18 Menurut Yusuf Qardlawi hal-hal yang harus dihindari dalam memahami dan menafsiri al-Quran yaitu: a. Mengikuti ayat-ayat mutasyabihat dan meninggalkan yang muhkamat b. Takwil yang buruk c. Meletakkan nash tidak sesuai tempatnya d. Mengklaim naskh suatu ayat tanpa dalil e. Tidak mengetahui hadis dan atsar f. Percaya kepada Israiliyyat secara bulat-bulat. g. Tidak memakai ijma’ umat h. Kelemahan kerangka ilmiah.19 Secara umum Faktor-faktor yang mengakibatkan kekeliruan dalam penafsiran adalah : a. Subjektivitas mufassir b. Kekeliruan dalam menerapkan metode atau kaidah c. Kedangkalan dalam ilmu-ilmu alat d. Kedangkalan pengetahuan tentang materi ayat e. Tidak memperhatikan konteks, baik asbab al-nuzul, hubungan antar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat f. Tidak memperhatikan siapa pembicara dan terhadap pembicaraan ditujukan. 20 D. Macam-macam penyimpangan dalam tafsir dan contohnya. 1. Penyimpangan dalam Tafsir Histori21 17 Muhammad Husein Adz-Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangan Dalam Penafsiran Al-Qur’an(Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 8 18 Ahmad Musthofa Hadna, Problematika Menafsirkan Al-Qur’an (Semarang: Dina Utama, 1993), h. 49. 19 Yusuf Qardlawi, Kaifa Nata’amalu Ma’a al-Qur’an,Kairo: Dar-Syuruq, h.50 20 Membumikan al Quran 2, Op.Cit,h. 119 13 Penyimpangan dalam tafsir historis lebih jelas lagi ketika tafsir itu dimasuki Israiliyat, yakni legenda–legenda Yahudi dan Nasruni yang masuk ke dalam tafsir. Lebih parah lagi ketika Israiliyat yang dimasukkan ke dalam tafsir masuk dalam kategori maudhu’ (palsu). Menurut Adz-Dzahabi, tafsir Al-Khazin banyak dipenuhi Israiliyat jenis itu, kitab tafsir lain semacam tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Muqatil bin Sulaiman, Ruh Al- Ma’ani, dan Al-Manar pun diduga kuat memuat pula riwayat-riwayat Israiliyat. Eksistensi Israiliyat dalam tafsir Historis tidak saja merupakan penyimpangan, lebih jauh lagi ia, menurut Muhammad Syaltut,telah menjauhkan umat islam dari mutiara-mutiara Al-Qur’an. Umpamanya, ketika menjelaskan kisah penyembelihan sapi (Baqarah) oleh Bani Israil, para sejarawan terlena dengan cerita-cerita Israiliyat sampai lupa akan pesan moral yang ada di balik kisah tersebut. 2. Penyimpangan dalam Tafsir Teologi22 Untuk mempertahankan doktrin “ketidakmungkinan” Allah dapat dilihat di akhirat kelak, Zamaksyari (tokoh besar Mu’tazilah) ”terpaksa” harus melakukan takwil terhadap ayat yang jelas-jelas bertentangan dengan doktrin Mu’tazilah. Hasan Al-Asykari, tokoh Syi’ah, mengarahkan penafsiran terhadap surat Al-Baqarah : 163 untuk menjustifikasikan doktrin “taqqiyah”. Aliran Khawarij pun tidak ketinggalan menjadikan Al-Qur’an surat Al-Maidah :44 untuk mempertahankan doktrinnya bahwa “orang yang fasik adalah kafir”. Ayat-ayat lain disimpangkan oleh kelompok Jabbariyah untuk mempertahankan doktrin “determinismenya”. Begitulah selanjutnya, masing-masing aliran teologi mempunyai andil dalam melakukan penyimpangan-penyimpangan. 3. Penyimpangan dalam Tafsir Sufi Para sufi terlalu “memaksakan” ayat-ayat Al-Qur’an untuk diseleraskan dengan doktrin-doktrin tasawuf. Ibnu Arabi, sebagaimana pula Abu Yazid AlBustami dan Al-Hallaj, cenderung menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk menjustifikasi doktrin “wihdatul wujud” (kesatuan eksistensi). Itulah sebabnya, ketiika menafsirkan ayat 67 dari surat Al-Baqarah , Ibnu Arabi mengatakan bahwa “anak sapi yang disembelih oleh Bani Israil merupakan salah satu manifestasi Allah dan sekaligus dijadikan sebagai tempat bagi-Nya”. Lebih parah lagi ketika menafsirkan ayat 163 surat Al-Baqarah, ia menjelaskan bahwa orang-orang yang menyembah benda selain Allah dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, sama dengan menyembah Allah juga. 21 Rosihon Anwar, Pengantar Ulumul Quran. Pustaka setia, Bandung, 2009. h, 196 22 Ibid, h, 196 14 4. Penyimpangan dalam Tafsir Linguistik Kenyataan yang tidak dapat dibantah adalah Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa arab. Akibatnya, memahami salah satu aspek-aspek bahasa Arab memegang peranan penting termasuk pemahaman tentang pola pembentukan kata dan konjungsi (tashrif) nya, untuk menafsirkan Al-Qur’an. Akan tetapi, pada kenyataannya, ada kelompok orang yang berbicara dan menulis tafsir tanpa berbekalkan pengetahuan bahasa yang memadai. Oleh karena itu, mereka cenderung melakukan penyimpangan dalam tafsir Linguistik yang disebabkan oleh ketidakfahaman terhadap konjungsi, sebagaimana dikutip dalam tafsir Al-Kasysyaf adalah penafsiran terhadap ayat 71 dan 17. Untuk itu, Zamaksyari berkata, “merupakan penyimpangan penafsiran yang paling besar ketika kata “imam” dianggap sebagai pembentuk dari kata “umm”yang berarti “ibu”. Padahal yang benar, bentuk jamak dari kata “umm” itu bukan “imam” melainkan “ummahat.” 5. Penyimpangan dalam Tafsir Ilmi Klaim penulis Tafsir Ilmi bahwa Al-Qur’an mencakup segala sesuatu, tidak dapat disalahkan. Setidak-tidaknya klaim mereka didukung oleh Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 38. Akan tetapi, mereka keliru ketika memperlakukan Al-Qur’an pada buku ilmu pengetahuan, sehingga setiap penemuan ilmu pengetahuan mereka cocok-cocokkan dengan istilah-istilah Al-Qur’an, kendatipun harus melakukan penyimpangan-penyimpangan makna. Dalam surat Al-An’am ayat 38 diyatakan bahwa tak sesuatu pun juga Allah tinggalkan dalam Al-Qur’an, tetapi yang dimaksud oleh ayat itu, adalah bahwa Al-Qur’an berisi prinsip-prinsip umum mengenai segala sesuatu. Dan mengenai perinciannya, manusia diberi otoritas untuk mengembangkankannya. 6. Penyimpangan dalam Tafsir Modern Modernisasi dalam Islam merupakan satu keharusan bila islam tidak ingin dikatakan sebagai agama yang out of date. Akan tetapi modernisasi itu harus dilakukan dengan prosedur yang tepat dan proporsional. Ketika Al-Qur’an hanya dijadikan justifikasi bagi isu-isu modern yang nota bene muncul dari luar Islam, di sana terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam tafsir modernisasi. Umpamanya, para para pembaharu “terpaksa meniadakan kewajiban hukum potong tangan bagi tindakan kriminal pencurian yang jelas-jelas ada ketentuannya dalam Al-Qur’an. Beberapa contoh penyimpangan dalam tafsir al-Qur’an: a. Penafsiran oleh Ibn ‘Arabi dalam surat Al-Muzammil 73: 8, sebagai berikut: ْ ‫َو‬ ‫س َم َر ِبكَ َوتَبَتَّ ْل إِلَ ْي ِه تَ ْبتِ ا‬ )8( ‫يًل‬ ْ ‫اذك ُِر ا‬ 15 Artinya: “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. QS. Al-Muzammil:8 Untuk mendukung faham “wahdah al-wujud”, Ibn ‘Arabi menafsirkan ayat tersebut demikian: “Sebutlah nama Tuhanmu, yaitu kamu sendiri, artinya kenalilah dirimu sendiri dan jangan melupakannya agar Allah tetap berada dalam dirimu”. 23 b. Penafsiran dari para Kaum Khawarij yang terdapat dalam beberapa surat, antara lain: Surat Al-Maidah: 44 َ ‫َّللاُ فَأُولَ ِئكَ هُ ُم ا ْلكَافِ ُر‬ )44( ‫ون‬ َّ ‫َو َم ْن َل ْم يَحْ ُك ْم ِب َما أَ ْن َز َل‬ Artinya: “Barangsiapa yang tidak menghukumi dengan hukuman yang diberikan Allah maka mereka adalah orang-orang kafir”. QS. Al-Maidah: 44 Berdasarkan ayat tersebut di atas mereka mengatakan bahwa setiap orang yang melakukan dosa berarti telah mengambil keputusan hukum dengan hukum selain daripada yang diturunkan Allah. Di samping itu mereka juga menggunakan firman Allah dalam surat atTaghabun: 2 sebagai landasan: َ ُ‫َّللاُ ِب َما تَ ْع َمل‬ ‫ون‬ َّ ‫هُ َو الَّذِي َخلَ َق ُك ْم َف ِم ْن ُك ْم كَافِ ٌر َو ِم ْن ُك ْم ُم ْؤ ِم ٌن َو‬ )2( ‫ير‬ ٌ ‫بَ ِص‬ Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan kamu semua; di antara kamu ada yang kafir (ingkar) dan ada yang mukmin (beriman)”. QS. at-Taghabun:2 Menurut mereka ayat ini merupakan ketetapan bahwa orang yang tidak beriman berarti kafir, sedangkan orang yang fasiq juga bukan mukmin karena itu dia pun kafir.24 PENUTUP Keotentikan al-Qur’an sudah Allah jamin hingga hari akhir. Ada beberapa sebab mengapa penyimpangan tersebut terjadi, di antaranya: Mufassir tidak teliti dalam memahami teks ayat dan dalalah-nya, menundukkan Nash al-Qur’an untuk kepentingan hawa nafsu, politik, fanatisme madzhab, dan bid’ah, mengabaikan sebagian syarat-syarat mufassir, mengabaikan maksud turunnya al-Qur’an dan tujuan asli. Ada beberapa macam penyimpangan dalam al-Quran: penyimpangan dalam tafsir historis, linguistik, sufi, tafsir ilmi, tafsir modern dan tafsir teologi. 23 Ahmad Musthofa Hadna, Problematika Menafsirkan Al-Qur’an Semarang: Dina Utama, 1993 , h. 51 24 Muhammad Husein Adz-Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangan Dalam Penafsiran Al-Qur’an(Jakarta: CV. Rajawali, 1986), h. 80 16 DAFTAR PUSTAKA Abu Ja’far at-Thobari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an vol 12, Beirut: Dar alFikr Ahmad Musthofa Hadna, Problematika Menafsirkan Al-Qur’an Semarang: Dina Utama, 1993 Ali Hasan al-Aridl, Tarikh Ilm Tafsir wa Manahij al-Mufassirin, pent Ahmad Arkom, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994 al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an vol 5,Riyadh: Dar Alam al-kutub Fakhruddin al-Rozi, Mafatih al-Ghoib vol 6, Beirut:Dar al-Kutub al-Ilmiyyah Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Adhim vol 12, Dar al-Thoibah Muhammad Husein Adz-Dzahabi, Penyimpangan-penyimpangan Dalam Penafsiran Al-Qur’an(Jakarta: CV. Rajawali, 1986 Muhammad Husain az-Zahabi, al-Ittijahat al-Munharifah fi Tafsir al-Qur’an alKarim, Dawafi’uha wa Daf’uha, terj. Hamim Ilyas dan Makhnun Husein. Jakarta: Rajagrafindo Persada, 1993 Muhammad Husain al-Dzahabi, al Tafsir wa al-Mufassirun, Dar al-Kutub alHaditsah, 1976 Munzir Hitami, Pengantar Studi Al-Quran, PT. LkiS Yogyakarta, 2012 Quraisy Shihab, Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, , Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996 Rosihon Anwar, Pengantar Ulumul Quran. Pustaka setia, Bandung, 2009 Yusuf Qardlawi, Kaifa Nata’amalu Ma’a al-Qur’an,Kairo: Dar-Syuruq Yusran Razak, Sosiologi Sebuah Pengantar, tinjauan pemikiran sosiologi perspektif Islam, (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: Laboratorium Sosiologi Agama 17

Judul: Jurnal Tafsir (1).pdf

Oleh: Hafniati Hafniati


Ikuti kami