Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akutansi

Oleh Edi Sumarno S.hut

129,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akutansi

. JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI VOL1, NO. 4, JULI 2012 PENGARUH MASA PENUGASAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK, KEPEMILIKAN MANAJERIAL, DAN UKURAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK TERHADAP KUALITAS LABA Yustina Yonatan PENENTUAN KUALITAS AUDIT BERDASARKAN UKURAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DAN BIAYA AUDIT Berty Wahyu Putri KONTRIBUSI NILAI TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KINERJA PROSES BISNIS DAN DINAMIKA BERSAING Eunike Karunia Sentosa PENERAPAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM SISTEM INFORMASI AKUNTANSI BERBASIS KOMPUTER Putu Mega Selvya Aviana RESPON AUDITOR TERHADAP KEBERADAAN TRANSAKSI E-COMMERCE Sally Bernadetha Vincentia FENOMENA MANAJEMEN LABA DAN UNDERPRICING PADA PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING Andre Nata Indra STRATEGI PEMBERIAN INFORMASI AKUNTANSI UNTUK MENGURANGI ESKALASI KOMITMEN Rizkiano Tanjung PERANAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN DAN KEPERCAYAAN INVESTOR Theresia Adelia Simadibrata PENGARUH KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN TERHADAP ASIMETRI INFORMASI DENGAN UKURAN PERUSAHAAN SEBAGAI PEMODERASI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI Ari Budi Santoso FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRAKTEK PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI Lusi Christiana PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL AUDITOR TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI SURABAYA Christina Gunaeka Notoprasetio FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREDIKSI PERINGKAT OBLIGASI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR Arvian Pandutama PENGARUH LARGE BOOK-TAX DIFFERENCES TERHADAP PERSISTENSI LABA, AKRUAL, DAN ARUS KAS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI Melita Noviana Sin DAMPAK PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN Nathalia Gozali PENGARUH INTELLECTUAL CAPITAL DAN PENGUNGKAPANNYA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN FARMASI DI BEI) Jessika Oktavia S. Jacub PENGARUH TINGKAT INDEPENDENSI, KOMPETENSI, OBYEKTIFITAS, DAN INTEGRITAS AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT YANG DIHASILKAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI SURABAYA Lie David Gunawan PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, DAN LEVERAGE OPERASI TERHADAP PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEI Cecilia PERANAN PENGGUNAAN INFORMASI AKUNTANSI PADA KINERJA UNIT BISNIS DALAM BERBAGAI TINGKATAN KOMPETISI PASAR Linda Christiani Sudarrnadji PENGGUNAAN TARGET COSTING DALAM PENGEMBANGAN PRODUK Putri Zanufa Sari PENGARUH INDEPENDENSI, KOMPETENSI, DAN PROFESIONALISME TERHADAP KUALITAS AUDIT Mikhail Edwin Nugraha PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN DI INDONESIA Ferry Danu Prasetya JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA Editorial Staff JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI FAKULTAS BISNIS UNIKA WIDYA MANDALA Ketua Redaksi Jesica Handoko, SE, MSi, Ak (Sekretaris Jurusan Akuntansi) Mitra Bestari Dr Lodovicus Lasdi, MM Bernadetta Diana N., SE, MSi, QIA Tineke Wehartaty, SE, MM Ronny Irawan, SE, MSi, Ak, QIA Ariston Oki A. E., SE, MSi, Ak, BAP Rr Puruwita Wardani, SE, MA, Ak Staf Tata Usaha Karin Andreas Tuwo Agus Purwanto Alamat Redaksi Fakultas Bisnis - Jurusan Akuntansi Gedung Benediktus, Unika Widya Mandala Jl. Dinoyo no. 42-44, Surabaya Telp. (031) 5678478, ext. 122 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL AUDITOR TERHADAP KINERJA AUDITOR PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI SURABAYA CHRISTINA GUNAEKA NOTOPRASETIO Christina_gunaeka@yahoo.com ABSTRACT This research was aimed to investigate the influence of emotional intelligence and spiritual auditor on the performance of auditors in public accounting office in Surabaya. The analysis was based on respondents' answers obtained through a questionnaire distributed in Surabaya. The population of this research is a public accountant who was in Surabaya. This study uses a Multiple Linear Regression, F test used to determine the effect of intelligence and spiritual emosional auditor, and the t test used to determine the effect of emotional intelligence and spiritual auditor separately to the performance of auditors. The analysis showed that emotional and spiritual intelligence auditor significant effect on the performance of auditors. Keywords: Emotional Intelligence, Spiritual Intelligenc, Performance PENDAHULUAN Auditor adalah seseorang yang memiliki kualifikasi tertentu dalam melakukan audit atas laporan keuangan dalam suatu kegiatan dalam perusahaan atau organisasi. Audit juga dapat diartikan sebagai proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Menurut undang-undang Akuntan Publik no 5 tahun 2011 pasal 1 bahwa, akuntan publik dapat diartikan adalah seseorang yang telah memperoleh izin untuk memberikan jasa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Auditor itu berhubungan dengan kinerja sumber daya manusia, apabila kinerjanya bagus maka auditor tersebut dapat dikatakan berkompeten dalam memeriksa laporan keuangan, kompetensi itu berhubungan dengan kualitas audit yang baik. Menurut Mayangsari (2003) dalam Alim, Hapsari, dan Purwanti (2007), kompetensi juga merupakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan non-rutin. Definisi kompetensi dalam bidang auditing pun sering diukur dengan pengalaman. Tidak semua auditor yang berkompeten itu dapat memeriksa laporan keuangan, sebab harus seorang auditor bersertifikat yang dapat memeriksa laporan keuangan. Seorang auditor yang bersertifikat dianggap mempunyai banyak pengalaman sehingga dalam memeriksa laporan keuangan tidak banyak melakukan kesalahan dibandingkan dengan auditor yang belum berpengalaman. Dalam mengukur kinerja sumber daya manusia terdapat 3 hal yang penting yaitu: kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Paradigma lama beranggapan bahwa IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolok ukur kecerdasan, yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan dan kesuksesan kinerja sumber daya manusia. Seorang akuntan yang memiliki pemahaman atau kecerdasan emosi dan tingkat religiusitas yang tinggi akan mampu bertindak atau berperilaku dengan etis dalam profesi dan organisasi (Maryani dan Ludigdo, 2001). Apabila seorang akuntan tidak mempunyai religius yang tinggi maka seorang akuntan bisa saja melakukan hal yang menyimpang misalnya saja tidak jujur, padahal dalam kode etik IAPI, diharuskan seorang auditor itu berkewajiban jujur. Dalam profesi akuntan, seorang akuntan dituntut integritas, dan kejujuran agar obyektif. Seorang akuntan bisa saja tidak jujur/obyektif sebab mendapat honor dari klien. Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan, maka pokok bahasan adalah pengaruh EQ dan SQ terhadap kinerja auditor yang bekerja di KAP. Tujuan pembahasan adalah menguji pengaruh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap kinerja auditor pada Kantor Akuntan Publik di Surabaya. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Profesi Akuntan Publik Menurut International Federation of Accountant profesi akuntan adalah semua bidang pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi, termasuk bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik. Akuntan di Indonesia dapat digolongkan menjadi 4 tipe yaitu Akuntan Publik (Public Accountants), Akuntan Intern (Internal Accountant), Akuntan Pemerintah (Government Accountants) dan Akuntan Pendidik. Akuntan Publik adalah seorang praktisi dan gelar profesional yang diberikan kepada akuntan di Indonesia yang telah mendapatkan izin dari Menteri Keuangan RI untuk memberikan jasa audit umum dan review atas laporan keuangan, audit kinerja dan audit khusus serta jasa dalam bidang non-atestasi lainnya seperti jasa konsultasi, jasa 76 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 kompilasi, dan jasa-jasa lainnya yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan.Ketentuan mengenai praktek Akuntan di Indonesia diatur dengan UU No.34 Tahun 1954 yang mensyaratkan bahwa gelar akuntan hanya dapat dipakai oleh mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dari perguruan tinggi dan telah terdaftar pada Departemen Keuangan R.I. Untuk dapat menjalankan profesinya sebagai akuntan publik di Indonesia, seorang akuntan harus lulus dalam ujian profesi yang dinamakan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) dan kepada lulusannya berhak memperoleh sebutan “Bersertifikat Akuntan Publik”. Sertifikat akan dikeluarkan oleh IAI, dan merupakan salah satu persyaratan utama untuk mendapatkan izin praktik sebagai Akuntan Publik dari Departemen Keuangan. Tujuan profesi akuntan adalah untuk memenuhi tanggung jawab dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi dengan orientasi kepada kepentingan publik. Menurut Maryani dan Ludigdo (2001) untuk mencapai tujuan tersebut terdapat 4 kebutuhan dasar yang harus terpenuhi, antara lain: 1. Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi. 2. Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasi oleh pemakai jasa akuntan sebagai profesionalisme di bidang akuntansi. 3. Kualitas jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh dari kauntan diberikan dengan standart kinerja yang tinggi. 4. Kepercayaan. Pemakai jasa akuntan harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasa oleh akuntan. Kecerdasan Emosional Kamus Bahasa Indonesia kontemporer mendefinisikan emosi sebagai keadaan kuat yang timbul dari hati, perasaan jiwa yang kuat seperti sedih, luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu cepat. Emosi menurut Robbins (2003:137) emosi adalah reaksi terhadap satu objek bukan pada satu sifat atau perasaan yang hebat terhadap seseorang atau sesuatu. Jadi dapat disimpulkan bahwa emosi merupakan bentuk keinginan yang kuat yang dialami seseorang yang ditimbulkan oleh keadaan atau peristiwa yang terjadi di sekelingnya. Adapun kecerdasan emosional, menurut Wibowo (2001) dalam Rissyo dan Aziza (2006) adalah kecerdasan untuk menggunakan emosi sesuai dengan keinginan, kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak yang positif. Didalam kecerdasan emosional terdapat beberapa komponen yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional itu seperti apa. Menurut Goleman (2003, dalam Carrolline, 2008) terdapat beberapa komponen kecerdasan emosional dengan lebih spesifik lagi yaitu terdiri dari 2 (dua) jenis kecakapan, diantaranya: Intrapersonal intelligence dan interpersonal intelligence. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan bagaimana cara mengenali dan mengendalikan perasaan kita sendiri yang terdiri dari: a. Kesadaran diri meliputi: Keadaan emosi diri, penilaian pribadi dan percaya diri. b. Pengaturan diri meliputi: Pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif, dan inovatif. c. Motivasi meliputi: dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis. Sedangkan interpersonal intelligence (kecakapan berhubungan dengan orang lain) yang terdiri dari: 1. Empati meliputi: Memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis. 2. Keterampilan sosial meliputi: Pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja tim. Kecerdasan Spiritual SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar dan Marshall, 2002; dalam Tikollah, Triyuwono, dan Ludigdo, 2006) otak kecerdasan spiritual bekerja dan berfikir unitif, yaitu kemampuan untuk menangkap seluruh konteks yang mengaitkan antar unsur yang terlibat. Pada pedoman kode etik akuntan publik 2010 yang diterbitkan oleh IAPI (Ikatan Akuntan Publik Indonesia), menegaskan prinsip dasar etika profesi akuntan adalah bahwa setiap anggota harus mempertahankan integritas dan obyektifitas yang tinggi dalam menjalankan setiap tugasnya. Dengan mempertahankan integritas, setiap anggota akan tetap mempunyai kejujuran, komitmen, tegas, dan tanpa pretensi. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam tingkat Spirital Quotient yang tinggi dan berkembang baik mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Hal tersebut ditegaskan oleh Zahar dan Marshal (2000) dalam Eliyawati (2002), tanda dari Kecerdasan spiritual yang berkembang dengan baik antara lain sebagai berikut: Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif), tingkat kesadaran diri yang tinggi, kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaa, kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit. kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, kengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (holistik). 77 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 Kinerja Auditor Kinerja auditor merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah diselesaikan oleh auditor dalam waktu tertentu. Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja. Sebagaimana dikemukakan oleh Mangkunegara (2005:67) dalam Trisnaningsih (2007) bahwa istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya Pengertian kinerja auditor menurut Mulyadi (2001) dalam Trisnaningsih (2007) adalah akuntan publik yang melaksanakan penugasan pemeriksaan secara obyektif atas laporan keuangan perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan. Handayani (2001) dalam Surya dan Santoso (2004) menyatakan bahwa dimensi kerja adalah ukuran dan penilaian dari perilaku aktual di tempat kerja, meliputi: Quality of output, Quantity output, Time of work, dan Cooperation with Other work. Pengembangan Hipotesis 1. Pengaruh kecerdasan emosional terhadap kinerja auditor Seorang auditor pasti membutuhkan Emotional Quotient yang tinggi karena dalam lingkungan kerja, auditor berinteraksi dengan banyak orang baik di dalam maupun di lingkungan kerja yang berperan penting dalam membentuk moral dan disiplin kerja. Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional yang baik akan mampu mengetahui serta menangani perasaannya dengan baik, dan mampu menangani perasaan orang lain dengan efektif. Seorang akuntan yang memiliki pemahaman atau kecerdasan emosional yang tinggi akan mampu bertindak dan berperilaku etis dalam profesi (Maryani dan Ludigdo, 2001). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disusun hipotesis: H1 : Kecerdasan emosional (Emotional Quotient) auditor berpengaruh terhadap kinerja auditor 2. Pengaruh kecerdasan spiritual terhadap kinerja auditor SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (Zohar dan Marshall, 2002:4 dalam Tikollah, Triyuwono, dan Ludigdo, 2006). Misalnya saja, seorang klien menginginkan pajak dari perusahaannya kecil dengan imbalan klien tersebut memberikan uang yang lebih besar daripada yang yang harus diterima kepada auditor. Dalam hal ini auditor mengalami kebingungan antara harus mengerjakan sesuai dengan kode etik auditor, yaitu jujur atau menerima honorarium yang lebih besar. Dalam hal ini tingkat spiritualitasnya diuji, seorang yang mempunyai spiritualitas yang tinggi belum tentu memiliki religius yang baik, begitu pula sebaliknya. Seorang auditor yang bekerja dengan SQ pasti tidak akan menerima uang yang diberikan klien meskipun besar jumlahnya, dalam hal ini seorang auditor akan bekerja sesuai dengan Kode Etik Akuntan, sebaliknya hal tersebut tidak akan ditemukan pada seorang auditor yang bekerja tidak menggunakan SQ. Berdasar penjelasan tersebut, maka dapat disusun hipotesis: H2: Kecerdasan spiritual berpengaruh terhadap kinerja auditor METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini bertujuan menguji hipotesis pengaruh antar variabel. Jenis penelitian yaitu deskriptif kualitatif dan penelitian survei yaitu peneliti mengajukan pertanyaan kepada subjek dan mengumpulkan jawaban secara personal atau non personal. Dalam penelitian survei, informasi dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuesoner. Dalam penelitian ini, pengaruh yang diteliti meliputi kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yang diproksikan menjadi menjadi lima sub variabel yakni keterampilan emosi, kecakapan emosi, dan nilai keyakinan. Selain itu Kecerdasan spiritual diproksikan menjadi Relasi spiritual – keagamaan, Relasi sosial – keagamaan, dan etika sosial. Sedangkan kinerja auditor dikembangkan proksi antara lain tingkat kualitas, tingkat kuantitas, dan tingkat kooperatif. Identifikasi Variabel, Definisi Operasional, dan Pengukuran Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu: (1) Variabel Bebas, meliputi: Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spiritual (SQ), dan (2) Variabel Terikat yaitu kinerja auditor. a. Kecerdasan Emosional (EQ) Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang dalam mengakui perasaan diri sendiri, mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan, serta menanggapi dan menerapkannya dengan tepat akan keberadaan energi emosi yang dimilikinya, sehingga dapat bertindak secara efektif dan rasional. Kecerdasan emosional diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Gooleman (2003) dalam Carroline (2008) yaitu: Pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. b. Kecerdasan spiritual (SQ) Kecerdasan spiritual adalah kemampuan dalam memberikan makna dan nilai kehidupan dengan nilai-nilai kebajikan yang bersumber pada agama (ketuhanan) yang diaplikasikan dalam setiap aktivitas dan perilaku, menuju menjadi manusia yang sempurna. Kecerdasan spiritual diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Khavari (2000) dalam Sukidi (2002) yaitu: relasi spiritual keagamaan, relasi sosial keagamaan, dan etika-sosial. 78 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 c. Kinerja auditor Kinerja auditor adalah hasil kerja secara kualitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Kinerja auditor merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang telah diselesaikan oleh auditor dalam kurun waktu tertentu. Kinerja auditor diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh Trisnaningsih (2007) yaitu: kemampuan, komitmen profesi, motivasi, dan kepuasan kerja. Jenis Data dan Sumber Data Jenis data yang digunakan adalah data kualitatif, yaitu hasil kuesioner yang didapat dari survei kepada auditor independen di Surabaya. Sumber data adalah primer berupa opini objek penelitian secara individual dengan metode survei, yaitu dengan mengajukan pertanyaan tertulis melalui kuesioner yang dibagikan secara langsung kepada responden. Alat dan Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data adalah survei. Penelitian mengambil lokasi di Surabaya karena kota ini berada dalam urutan kedua setelah Jakarta sebagai kota terpadat di Indonesia dan memiliki industri yang cukup berkembang yang membutuhkan jasa auditor independen. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu : 1. Tahap persiapan a. Menetapkan rumusan masalah dan tujuan yang akan dicapai melalui kuesioner. b. Menetapkan variabel-variabel yang akan diangkat dalam penelitian. c. Mengumpulkan dan mempelajari literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian. d. Mencari dan menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan dalam kuesioner. e. Melakukan pencarian tentang KAP yang ada di Surabaya 2. Tahap pelaksanaan dilakukan penyebaran kuesioner ke seluruh KAP di Surabaya. Kuesioner dititipkan terlebih dahulu di KAP untuk kemudian diisi oleh auditor independen yang sedang tidak menjalankan tugas di luar kantor. Kemudian dilakukan pengambilan kuesioner yang telah diisi ke setiap KAP di Surabaya. 3. Tahap analisa data Pada tahap ini hasil kuesioner atau data penelitian dianalisa untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Kemudian dengan analisis regresi, data diuji untuk mencari hubungan variabel bebas dengan variabel terikat. Populasi, Sampel, dan Pengambilan Sampel Populasi penelitian adalah auditor independen yang bekerja pada KAP di Surabaya. KAP di Surabaya yang terdaftar dalam IAPI berjumlah 46 KAP. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Tabel 1 Model Statistik Variabel Kecerdasan Emosional Kecerdasan Spiritual F Statistics = 596.954 T statistics 2.121 28.210 Sig .005 .000 Kesimpulan Signifikan Signifikan Adjusted R Square = 0.969 Dari tabel 1, Persamaan regresi yang terbentuk pada uji regresi adalah: Y = 0, 553 + 0,266 KE + 1.098 KS + e Model tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut: 1. Koefisien regresi KE (kecerdasan emosional) sebesar 0.266 dengan arah koefisien positif, yang berarti apabila Kecerdasan Emosional meningkat maka tingkat kinerja yang dihasilkan oleh auditor akan meningkat. 2. Koefisien regresi KS (kecerdasan emosional) sebesar 1,098 dengan arah koefisien positif, yang berarti kecerdasan emosional yang lebih tinggi dapat meningkatkan kinerja yang dihasilkan auditor. Pilot test Pilot test dilakukan dengan mengumpulkan beberapa orang misal dosen atau teman yang memiliki kualifikasi untuk membaca kuesioner yang digunakan. Tujuan pilot test adalah sebagai masukan mengenai instrumen-instrumen dalam kuesioner yang akan dibagikan mengandung pertanyaan yang jelas dan tidak bias. 79 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 Uji Validitas Suatu variabel dikategorikan valid apabila memenuhi factor loading lebih besar dari 0,5. Dalam hal ini loading factors yang dihasilkan dengan indikator KePD, KePeDe, KeM, KeE, KeKS, KsRSp, KsRSo, KsE, dan Ka adalah antara 0,512 – 0,922. Uji Reliabilitas Jika nilai koefisien alpha lebih besar dari 0,60 maka disimpulkan bahwa instrumen penelitian tersebut handal atau reliabel (Nunnaly dalam Ghozali, 2005:46). Dalam hal ini Cronbach’s Alpha yang dihasilkan dengan indikator KePD, KePeDe, KeM, KeE, KeKS, KsRSp, KsRSo, KsE, dan Ka adalah antara 0,799– 0,964. Pengujian Hipotesis 1. Nilai koefesien determinasi R2 Hasil analisis regresi berganda pada tabel 4.7 didapatkan koefisien korelasi berganda (R) sebesar 0.985 dengan koefisien determinasinya (R2) sebesar 0.971 atau 97.1%, artinya 97.1% variasi dari variabel bebas seperti kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dapat menerangkan variabel terikat bebas yaitu kinerja auditor. Sedangkan sisanya sebesar 2,9 % dipengaruhi variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model. 2. Nilai F Hasil pengujian model keseluruhan diperoleh nilai F sebesar 596.954 dengan probabilitas signifikansi sebesar 0,000. Dalam hal ini berarti bahwa nilai F berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditor. Pembahasan Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kinerja Auditor Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja auditor. Dapat dikatakan bahwa semakin baik kecerdasan emosional yang dipunyai oleh seorang akuntan, dapat berpengaruh signifikan dan dapat menghasilkan kinerja yang baik pula, begitupula sebaliknya. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Darufitri Kartikandari (2002), Suryaningrum dan Trisniwati (2003), Fanani, Hanif, dan Subroto (2007), dan Ludigdo, Triyuwono, dan Trikollah (2006), bahwa kecerdasan emosional itu berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Pengaruh Kecerdasan Spiritual terhadap kinerja Auditor Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) berpengaruh signifikan dan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor. Berdasarkan penelitian ini SQ sangat berpengaruh terhadap kinerja yang dihasilkan oleh seorang karyawan. Oleh karena itu semakin baik kecerdasan spiritual yang dimiliki seorang akuntan maka akan baik pula hasil yang akan diberikan karyawan, begitu pula sebaliknya. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Darufitri (2002) bahwa kecerdasan spiritual ini berpengaruh terhadap kinerja. Selain itu dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa peranan kecerdasan spiritual adalah lebih besar terhadap kinerja optimal, di mana hal ini sesuai dengan pernyataan Marhal dan Zahar (2000) dan Sukidi (2002) yang menyatakan bahwa kecerdasan spiritual lebih penting dan berpengaruh dibandingkan dengan 2 (dua) kecerdasan lainnya (IQ dan EQ). SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN Berdasarkan dari hasil analisis, maka dapat disimpulkan bahwa bahwa kecerdasan emosional (EQ) berpengaruh signifikan dan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, hal ini dapat dikarenakan semakin baik kecerdasan emosional yang dipunyai oleh seorang akuntan, maka akan berpengaruh signifikan dan dapat menghasilkan kinerja yang baik pula, begitupula sebaliknya. Sedangkan kecerdasan spiritual (SQ) juga berpengaruh signifikan dan berpengaruh positif terhadap kinerja auditor, hal ini berarti semakin baik kecerdasan spiritual yang dimiliki seorang akuntan maka akan baik pula hasil yang akan diberikan, begitu pula sebaliknya. Keterbatasan dalam penelitian ini antara lain: 1. Kinerja auditor pada penelitian ini hanya ditinjau dari pengaruh aspek kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual semata, padahal dalam lingkungan kerja (Kantor Akuntan Publik) masih banyak aspek lain yang berpengaruh terhadap kinerja yang tidak terwakili antara lain: kecerdasan intelektual. 2. Responden penelitian yang terbatas hanya di daerah Surabaya. Di mana hasil penelitian ini kemungkinan akan berubah jika diterapkan pada daerah lain. Selain dari pada itu jumlah sampel responden yang digunakan kecil juga tidak dapat sepenuhnya diandalkan untuk generalisasi penelitian yang lebih luas. 3 Pada penelitian ini, responden yang mengisi kuesioner sebagian besar merupakan staf auditor yang bekerja lebih dari 1 tahun. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diajukan saran, antara lain: a. Bagi kalangan akademisi untuk mulai mendefinisikan kembali tentang pentingnya arti kecerdasan emosional dan spiritual (ESQ) disamping kecerdasan intelektual dalam metode, manajemen dan kurikulum pendidikan di perguruan tinggi, dalam mendidik calon auditor (mahasiswa) di masa depan. 80 JURNAL ILMIAH MAHASISWA AKUNTANSI – VOL. 1, NO. 4, JULI 2012 b. c. Bagi Kantor Akuntan Publik dan auditor sendiri diharapkan secara mandiri mulai melatih kecerdasan emosional dan spiritualnya, mengingat keduanya merupakan salah satu syarat penting untuk dapat berhasil dalam dunia kerja dan dapat menghasilkan kualitas kinerja yang lebih baik. Memperluas ruang lingkup daerah pengujian penelitian, yang disertai dengan pengunaan responden atau sampel yang lebih banyak. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih ditujukan kepada Drs Mbue Ginting, Ak, dan Yohanes Harimurti, SE, MSi, Ak selaku pembimbing 1 dan 2 dari tugas akhir skripsi ini. REFERENSI Alim, M.N., T. Hapsari, dan L. Purwanti, 2007, Pengaruh Kompetensi dan Independensi terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi, Simposium Nasional Akuntansi X, Makassar: AUEP-08. Afuwah, A., 2004, Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi terhadap Kecerdasan Emosional, Simposium Nasional Akuntansi VII, Hal: 351-369. Carroline, G.E., 2008, Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi dengan Kepercayaan diri sebagai variabel moderasi pada Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mandala. Carruso, D.R., 1999, Applying The Ability Model Of Emotional Intelligence To The World Of Work, (http://cjwolfe.com/article.doc, diunduh 11 September 2011). Cooper, R.K., dan A. Sawaf, 1998, Executive EQ: Kecerdasan Emosional dalam kepemimpinan dan Organisasi, Terjemahan oleh T. Hermaya, Jakarta: PT Garamedia Pustaka Utama. Deeter, D.R., Schmelz, dan J.Z. Sojka, 2003, Developing Effective Salespeople: Exploring The Link Between Emotional Intelligence And Sales Performance, The International Journal of Organizational Analysis, Vol.11, No.3, p: 211 -220. Eliyawati, R., 2002, Kecerdasan Spiritual (SQ), (http://www. humas @ untag-sby.ac.id, diunduh 16 September 2011). Elyawati, dan N.A. Lismawati, 2010, Pengaruh Independensi, gaya kepemimpinan, komitmen organisasi, dan pemahaman Good Governance terhadap kinerja auditor pemerintah (Studi pada auditor pemerintah di BPKP Perwakilan Bengkulu), Simposium Nasional Akuntansi XIII, Purwokerto. Fanani, Z., R.A. Hanif, dan B. Subroto, 2007, Pengaruh struktur audit, konflik peran, dan ketidakjelasan peran terhadap kinerja auditor, The 1st Accounting Conference, Depok, November. Ghozali, I., 2005, Aplikasi analisis multivariat dengan program SPSS, BP Undip. ________, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Goleman, D., 1995, Kecerdasan Emosional, Terjemahan oleh T. Hermayana, 1997, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. , 2000, Working With Emotional Intelegence: Mencapai puncak prestasi kerja dengan kecerdasan emosional, Terjemahan Alex Tri kantjono W., Jakarta: PT Gramedia Pustaka. Gujarati, D., 1999, Ekonometrika, Terjemahan oleh Sumarno Zein, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. Harsono, M., dan U. Wisnu, 2004, Pengujian Kerangka Kerja Dimensi-Dimensi Kecerdasan Emosional Dan Perbandingannya Berdasarkan Karakteristik Demografis Responden, Perspektif, Vol.IX, No.1, p: 53-66. Iman, E., 2004, Paradigma Baru Kecerdasan Manusia, (http://groups plnkalbar.co.id /mailman/listinfo/formiskat, diunduh 6 Oktober 2011). Indriantoro, N., dan S. Bambang, 2002, Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen, Yogyakarta: BPFE. Kartikandari, D., 2002, Pengaruh Motivasi, Iklim Organisasi, EQ dan IQ Terhadap Kinerja Karyawan: Studi Kasus DPU dan Setda Kabupaten Bantul, SINERGI, Vol.4, No.2. Maryani, T., dan U. Ludigdo, 2001, Survei atas faktor-faktor yang mempengaruhi Sikap dan Perilaku Etis Akuntan, TEMA, Vol.II, No.1, Hal: 1-19. Rissyo, M.R.M., dan N. Aziza, 2006, Pengaruh kecerdasan emosional terhadap tingkat pemahaman akuntansi, kepercayaan diri sebagai variabel moderasi, Simposium Nasional Akuntansi XI, Padang, Agustus. Robins, S., 2003, Perilaku Organisasi, Edisi Kesembilan, Jakarta: PT.Indeks Kelompok Gramedia. Sukidi, 2002, Rahasia Hidup Sukses Bahagia. Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ lebih Penting dari IQ dan EQ, Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama. Surya, R., dan T.H. Santoso, 2004, Pengaruh Emotional Quotient Auditor terhadap Kinerja, Perspektif, Vol. IX, No.1, Hal: 33-40. 81

Judul: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akutansi

Oleh: Edi Sumarno S.hut


Ikuti kami