Jurnal Ke 2 Rivai

Oleh Rivai Cawung

182,5 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Ke 2 Rivai

Masyarakat Bugis Bertindak dalam Berbagai Hal Berdasarkan pada Nilai-nilai Pangadereng di Kabupaten Soppeng Rivai Cawung (rivai.cawung@gmail.com) Abstrak Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi mendalam tentang bagaimana individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng di Kabupaten Soppeng. Jenis penelitiannya kualitatif yang menggunakan pendekatan konstruktivisme, yakni memahami proses makna dan efek dari objek yang diteliti. Peneliti mengumpulkan data melalui observasi, dokumentasi dan bertindak selaku instrumen. Datanya adalah tindakan masyarakat Bugis dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng yang diperoleh melalui dua sumber, yakni; dokumentasi dan informan. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui metode wawancara mendalam. Selanjutnya dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif, dimaksudkan untuk melihat proses, makna, dan efek objek yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagaimana tindakan masyarakat Bugis dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng. Hal tersebut terlihat melalui; hubungan pangadereng dalam tata perilaku masyarakat, fungsi pangadereng dalam interaksi sosial masyarakat, dan peran pangadereng sebagai simbol kearifan budaya dalam interaksi sosial masyarakat. Hubungannya berkaitan dengan setiap tindakan masyarakat selalu berdasarkan pada pranata adat. Fungsinya sebagai sistem etika dan sistem moral, serta sebagai nilai utama yang menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat. Perannya sebagai unsur simbolik untuk menegaskan perilaku yang benar dilaksanakan dan yang harus dihindarkan. Kata Kunci: 1. Individu - Kelompok Masyarakat - Bertindak - Nilai-nilai Pangadereng Pendahuluan Dalam proses interaksi sosial, manusia secara simbolik mengomunikasikan arti terhadap orang lain yang terlibat. Orang lain menafsirkan simbol komunikasi itu dan mengorientasikan tidakan balasan mereka berdasarkan penafsiran mereka. Dengan kata lain, dalam interaksi sosial, para aktor terlibat dalam proses saling memengaruhi (Ritzer G dan Goodman D.J, 2011:294). Sebagian karena kemampuan menggunakan arti simbol itulah maka manusia dapat membuat pilihan tindakan di mana mereka. Berdasarkan penafsiran mereka sendiri, “manusia mampu membentuk arti baru dan deretan arti baru” terhadap situasi (Manis dan Melzer, 1978:7). Jadi, menurut teoritis interaksionisme simbolik, aktor setidaknya mempunyai sedikit otonomi. Mereka tak semata-mata sekedar dibatasi atau ditentukan, mereka mampu membuat pilihan yang unik dan bebas. Begitu pula mereka mampu membangun kehidupan dengan gaya yang unik (Perinbanayagam, 1985: 53). Simbol memungkinkan aktor mendahului waktu, ruang, dan bahkan pribadi mereka sendiri. Melalui penggunaan simbol, aktor dapat membayangkan seperti apa kehidupan di masa lalu atau seperti apa kemungkinan hidup di masa depan. Lagi pula, aktor dapat secara simbolik mendahului pribadi mereka sendiri dan membayangkan seperti apa kehidupan ini dilihat dari sudut pandang orang lain. Inilah kosep toritisi interaksionisme simbolik yang terkenal: 1 mengambil peran orang lain (Miller, 1981). Kemampuan aktor untuk membuat perbedaan ini tercermin dalam esai Gary Fine dan Sherryl Kleinman (1983) di mana mereka melihat pada fenomena “jaringan sosial”. Ketimbang melihat jaringan sosial sebagai struktur sosial yang tidak disadari dan atau sebagai pemaksa, Fine dan Kleinman lebih melihat jaringan sosial sebagai sekumpulan antarhubungan sosial yang memberkahi individu dengan arti dan menggunakannya untuk tujuan pribadi dan atau kolektif. Hubungan pangadereng dengan tata perilaku masyarakat Bugis di Kabupaten Soppeng masih kuat. Hal ini dapat dilihat pada tindakan yang berdasarkan adat. Misalnya, merencanakan pernikahan, pertama-tama dilakukan adalah mengumpulkan keluarga bersama tokoh masyarakat setempat untuk membicarakan hal tersebut. Hal ini merupakan kearifan budaya lokal yang tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Hal yang sama terdapat pada penelitian terdahulu oleh Abidin, Zainal, 1969. “Tinjauan dalam Elong Ugi Sebagai Salah Satu Pencerminan Kepribadian Bugis di Kabupaten Wajo”. Hasilnya mengungkapkan; (1) Bentuk-bentuk interaksi sosial masyarakat Bugis pemakai elong, (2) Elong sebagai alat perekat antar individu dan antar kelompok masyarakat, dan (3) Elong sebagai alat komunikasi yang paling efektif dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pula Enre A, Fachruddin, 1992. “Sastra Lisan Bugis”. Hasilnya mengungkapkan bahwa sastra lisan merupakan bagian kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama. Ragamnya tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan dan penyalur perasaan bagi penutur dan pendengarnya, tetapi terpenting sebagai cerminan sikap, pandangan hidup, alat pendidikan, alat pengesahan pranata dan pemeliharaan norma masyarakat. Joas (2001) menyatakan bahwa George Harbert Mead adalah pemikir yang sangat penting dalam sejarah interaksionisme simbolik danbukunya yang berjudul “Mind, Self and Society” merupakan karya tunggal yang amat penting dalam tradisi itu. Ide bahwa kenyataan sosial muncul melalui proses interaksi. Mead memandang tindakan sebagai “unit primitive” dalam teorinya dan menganalisis tindakan. Pendekatannya hampir sama dengan pendekatan behavioris dan memusatkan perhatian pada ransangan (stimulus) dan tanggapan (response). Tetapi stimulus di sini tidak menghasilkan respons manusia secara otomatis dan tanpa dipikirkan. Mead menyatakan “kita membayangkan stimulus sebagai suatu kesempatan atau peluang untuk bertindak, bukan sebagai paksaan atau perintah. Dalam hal ini, teori interaksi simbolik sama dengan penekanan Simmel bahwa kenyataan sosial yang dialami kebanyakan orang dengan cara yang paling lansung adalah interaksi tatap-muka. Misalnya, mahasiswa mengalami lembaga pendidikan sebagai kenyataan, bukan sebagai struktur yang abstrak dengan jaringan hubungan yang kompleks dengan institusi-institusi lainnya, melainkan serangkaian pertemuan dan hubungan dengan professor, teman mahasiswa, sekretaris, pengurus perpustakaan, pegawai , dan mereka yang bekerja di bidang administrasi. Setiap pertemuan dapat dilukiskan menurut bentuk sosial yang mendasarinya atau pola yang dimanifestasikannya. Namun teori interaksi simbol lebih dalam dari pada bentuk-bentuk interaksi nyata menurut Simmel (1971). Filsafat Kantian yang dikemukakan Simmel mengenai bentuk-bentuk interaksi seperti pada konflik dan tipe-tipe orang yang berinteraksi seperti terhadap orang asing. Pada dasarnya, Simmel melihat bahwa memahami interaksi di antara manusia adalah salah satu tugas utama sosiologi. Namun mustahil untuk mempelajari jumlah interaksi yang sangat banyak jumlahnya dalam kehidupan sosial tanpa beberapa peralatan konseptual. Di sinilah masuknya bentuk-bentuk dan tipe-tipe orang yang berinteraksi. Simmel merasa dapat mengisolasi beberapa bentuk interaksi yang dapat ditentukan di dalam sejumlah latar sosial. Dengan peralatan demikian, orang dapat menganalisis dan memahami latar interaksi yang berbeda tersebut. Perkembangan sejumlah beberapa tipe-tipe orang yang berinteraksi dapat bermanfaat dengan cara yang sama dalam menjelaskan latar interaksi. Menurut Manford H. Kuhn, teori interaksionisme simbolik 2 bukanlah suatu teori yang sudah benar-benar dikembangkan atau merupakan satu teori yang terpadu. Dia menunjuk pada beberapa perspektif teoritis yang terbatas atau yang parsial, di mana interaksionisme simbolik merupakan semacam payung. Perspektif-perpektif teoritis itu adalah teori peran, teori kelompok referens, perspektif persepsi sosial dan persepsi pribadi, teori diri, dan teori dramaturgi. Catton (1966) menyatakan bahwa sosiologi humanistis tidak seperti naturalistis atau positivistis. Sosiologi humanistis bertolak dari tiga isu penting. Pertama, menerima pandangan “common-sense” tentang hakikatmanusia danmencoba menyesuaikan dan membangun dirinya di atas pandangan tersebut. Konsep “diri” (self), misalnya, menekankan bahasa dan pengertiannya (makna), mempertanyakan kebebasan manusia lawan determinisme. Kedua, sosiologi humanistis yakin bahwa pandangan “common-sense” tersebut dapat dan harus diperlakukan sebagai premis dari mana penyempurnaan perumusan sosiologis berasal. Jadi, pembangunan teori dalam sosiologi bermula dari hal-hal yang kelihatannya jelas, ada dalam kehidupan sehari-hari, dan umum. Ketiga, sosiologi humanis mengetengahkan lebih banyak masalah kemanusiaan ketimbang usaha untuk menggunakan preskripsi metodologis yang bersumber di dalam ilmu-ilmu alam untuk mempelajari masalahmasalah manusia (Wrong, 1976: 1) Sosiologi berbeda dengan ilmu-ilmu alam dan tersesat apabila di dalam usahanya untuk memperoleh watak ilmiah terlalu menyimpang jauh dari masalah kemanusiaan. Menurut pandangan Mead, dalam upaya menerangkan pengalaman sosial, psikologi sosial tradisional memulainya dengan psikologi individual; sebaliknya, Mead selalu memberikan prioritas pada kehidupan sosial dalam memahami pengalaman sosial. Mead menerangkan arah perhatiannya bahwa menurut psikologi sosial, kita tidak membangun perilaku kelompok dilihat dari sudut perilaku masing-masing individu yang membentuknya; kita bertolak dari keseluruhan sosial dari aktivitas kelompok-kelompok tertentu, dan di mana kita menganalisa perilaku masing-masing individu yang membentuknya. Yakni kita lebih berupaya untuk menerangkan perilaku kelompok sosial ketimbang menerangkan perilaku terorganisir kelompok sosial dilihat dari sudut perilaku masing-masing individu yang membentuknya. Menurut psikologi sosial, keseluruhan (masyarakat) adalah lebih dadulu daripada bagian (individu), bukannya bagian adalah lebih dadulu daripada keseluruhan yang diterangkan dari sudut pandang keseluruhan, bukan keseluruhan yang diterangkan dari sudut pandang bagian atau bagian-bagian (Mead, 1934/1962: 7). Blumer tetap berpegang dan mengembangkan penekanan Mead yang fundamental pada proses interaksi yang terus-menerus. Melalui proses ini, individu menginterpretasi lingkungannya, saling menginterpretasi, dan berembuk tentang arti-arti bersama atau definisi tentang situasi yang dimiliki bersama. Sebagaimana dalam artikelnya bahwa “Pada umumnya tentu para ahli sosiologi tidak mempelajari masyarakat manusia menurut satuan-satuan tindakannya (acting units). Sebaliknya, mereka cenderung melihat masyarakat manusia menurut struktur dan organisasi dan memperlakukan tindakan sosial sebagai suatu ungkapan struktur atau organisasi seperti itu. Jadi, kepercayaan diberikan kepada kategori-kategori sosial seperti sistem sosial, kebudayaan, norma-norma, nilai-nilai, stratifikasi sosial, posisi status, peran-peran sosial, dan organisasi internasional”.Singkatnya, bagi interaksionisme simbolik, organisasi sosial tidak menentukan pola-pola interaksi, organisasi sosial muncul dari proses interaksi. Blumer menyatakan bahwa “Orang tidak bertintak terhadap kebudayaan, struktur sosial atau semacamnya, mereka bertindak terhadap situasi. Organisasi sosial masuk dalam tindakan hanya dalam hal di mana dia membentuk situasi di mana orang itu bertindak” Dan lagi, “Organisasi sosial adalah suatu kerangka di dalam mana satuan-satuan yang bertindak itu mengembangkan tindakan-tindakannya. Segisegi struktur seperti kebudayaan, sistem-sistem sosial, stratifikasi sosial, atau peran-peran sosial membentuk kondisi-kondisi bagi tindakan mereka, akan tetapi tidak menentukan tindakan mereka”. 3 Max Weber mengklasifikasikan empat tindakan sosial yang memengaruhi sistem dan struktur sosial masyarakat yakni: Pertama, rasional instrumental merupakan tindakan sosial yang dilakukan didasarkan atas pertimbangan dan pilihan sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan dan ketersediaan alat yang dipergunakan untuk mencapainya; Kedua, rasionalitas yang berorientasi nilai bahwa alat-alat yang ada hanya merupakan pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada di dalam nilai-nilai yang bersifat absolut. Artinya, nilai itu merupakan nilai akhir bagi yang bersangkutan dan bersifat non rasional; Ketiga, tindakan tradisional merupakan kebiasaan individu yang diperoleh turun temurun tanpa refleksi yang sadar atau perencanaan; Keempat, tindakan afektif didominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual dan perencanaan sadar.Tindakan afektif sifatnya spontan, tidak rasional, dan merupakan ekspresi emosional dari individu (Narwako dan Suyanto, 2013). Interaksi sosial telah menjadi cara tersendiri untuk memahami masyarakat dalam hubungannya dengan fungsi adat. Berbagai daerah di Indonesia, seperti adat Minangkabau “Baralek Gadang”. Bercirikan megah, mewah, dan meriah bernuansa emas dan perak. Masyarakat Bugis juga memiliki tradisi dan adat yang mereka sebut “Pancanorma” atau “Pangadereng”, di dalamnya terdapat lima butir norma yang menjadi unsur pembeda dari yang lain. Nilai-nilai budaya dalam konteks pangadereng ini sangat berguna untuk menegaskan perilaku yang baik dilaksanakan dan yang harus dihindarkan, ia terorganisasi dan menjadikan pola pikir terarah pada pencegahan konflik seperti, konflik keluarga, konflik antar suku-etnis-agama dan kelompok-kelompok di masyarakat, konflik antar lembaga, konflik antar dan inter partai politik di dalam pelaksanaan sistem pemerintahan, bahkan konflik antar bangsa yang sampai saat ini belum menemukan solusi yang tepat. Selain itu juga merupakan sistem nilai budaya yang hidup dalam alam pikiran kebanyakan masyarakat yang telah terinternalisasi dalam suatu hubungan yang baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok yang terjalin dalam bentuk interaksi sosial dari individu atau kelompok yang melakukan tindakan terhadap yang lainnya. Salah satu contoh penerapan perilaku dan interaksi sosial idividu berdasarkan nilainilai pangadereng dapat terlihat dari tindakan masyarakat yang terjadi antar keluarga pada acara pernikahan yang dianggapnya sebagai kegiatan yang sakral, sehingga di dalam merencanakannya semua keluarga dan tokoh masyarakat setempat dihadirkan untuk membicarakan serta mengatur rencananya. Hal ini dilakukan guna menghindari hal-hal yang bertentangan dengan adat. Dari fenomena fakta sosial di atas, peneliti tidak membahas inti dan objek penelitian terdahulu, tetapi khusus meneliti Individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai pangadereng di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, Indonesia, sebagaimana judul penelitian. Dengan demikian, pertanyaan penelitiannya adalah bagaimana individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng di Kabupaten Soppeng? 2. Metode Penelitian Jenis penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme. Peneliti mengumpulkan data melalui media cetak dan bertindak selaku instrumen. Data yang dikumpulkan adalah tentang individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai pangadereng di Kabupaten Soppeng melalui dua sumber, yakni; dokumentasi dan informan. Teknik pengumpulan datanya dilakukan melalui metode wawancara mendalam, selanjutnya di analisis menggunakan teknik interaktif untuk melihat secara jelas objek yang diteliti. 4 Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa masyarakat di Kabupaten Soppeng yang masih mematuhi adatnya hingga saat ini. Informan sebanyak 4 orang yang dipilih dengan cara purposive random sampling. Data primernya berupa hasil wawancara dengan informan dan sekundernya peristiwa perilaku interaksi sosial yang terjadi. Tahapan pengumpulan dan analisis data mengikuti alur siklus, interaktif, dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga data menjadi jenuh. Konsep tersebut meliputi data reduction, data display, dan conclusion: drawing/verifying. 3. Hasil Penelitian dan Pembahasan Teori interaksinisme simbolik Blumer (1969: 2) bertumpu pada tiga premis: Pertama, manusia bertindak pada sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka, Kedua, makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan orang lain, Ketiga, makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlansung. Tidak ada yang inheren dalam suatu obyek sehingga ia menyediakan makna bagi manusia. Sebagai contoh makna yang dapat dikaitkan pada ular. Bagi orang tertentu ular merupakan binatang melata yang menjijikkan dan menakutkan, bagi ahli ilmu alam merupakan mata rantai dalam keseimbangan lingkungan. Apakah seseorang lansung membunuh ular yang tak berdosa itu atau malah memperhatikan dan terpesona atas kebesaran alam, bergantung pada makna yang diberikan pada obyek ini Ahli teori sosial interaksionisme simbolik Blumer (dalam Paul Johson, 1986), mempelajari masyarakat menurut satuan-satuan tindakannya. Sebaliknya mereka cenderung melihatnya menurut struktur dan organisasi memperlakukan tindakan sosial sebagai suatu ungkapan struktur atau organisasi seperti itu. Jadi, kepercayaan diberikan kepada kategori-kategori sosial seperti sistem sosial, kebudayaan, norma-norma, nilai-nilai, stratifikasi sosial, posisi status, peran-peran sosial, dan organisasi internasional. Tekanan pada faktor struktur yang menentukan ini mengabaikan proses interpretatif di mana individu secara aktif mengonstruksikan tindakan-tindakan dan proses interaksinya, individu menyesuaikan diri dalam berbagai macam tindakan dengan mengambil peran dan komunikasi simbol. Singkatnya teori ini, organisasi sosial muncul dari proses interaksi. Prose sosial di dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menjunjung aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menjunjung kehidupan kelompok (Blumer, 1969b: 19). Beberapa ide-idenya yang sudah didiskusikan terdahulu yang menjadi dasar masa kini meliputi; saling ketergantungan organis antara konsep-konsep “diri” dan organisasi sosial, gambaran tentang kenyataan sosial yang muncul dari komunikasi simbol, tekanan pada asal usul sosial dari konsep “diri” dan sikap-sikap seseorang, ide bahwa respons terhadap stimulus lingkungan yang bervariasi dan mencerminkan arti subyektif yang dimiliki bersama, dan penggunaan konsep-konsep secara meluas seperti mengambil peran dalam masyarakat. Jadi, interaksionisme simbolik merupakan payung komunikasi terhadap suatu nilai yang hendak dilaksanakan antara individu dan masyarakat (Jonson Paul, 1986). Blumer (1969: 5) menyatakan aktor memilih, memeriksa, berpikir, mengelompokkan, dan mentrasformir makna dalam hubungannya dengan situasi di mana dia ditempatkan dan arah tindakannya. Sebenarnya, interpretasi seharusnya tidak dianggap hanya sebagai penyerapan makna-makna yang telah ditetapkan, tetapi sebagai suatu proses pembentukan di mana makna yang dipakai dan disempurnakan sebagai instrument bagi pengarahan dan pembentukan tindakan. Blumer (1969: 80) menyanggah bukannya individu dikelilingi oleh lingkungan obyek-obyek potensial yang mempermainkannya dan membentuk perilakunya. Gambaran yang benar ialah dia (manusia) yang membentuk obyek-obyek itu. Misalnya, berpakaian atau mempersiapkan diri untuk karir professional, individu sebenarnya merancang obyek-obyek yang berbeda, dia memberi arti, menilai kesesuaiannya dengan 5 tindakan, dan mengambil keputusan berdasarkan penilaian tersebut. Inilah yang dimaksud dengan penafsiran atau bertindak berdasarkan simbol-simbol. Dalam konteks judul penelitian ini, tindakan masyarakat di wilayah penelitian dilakukan berdasarkan “adat” atau tradisi pangadereng. Jadi, dengan adat atau tradisi dalam kehidupan masyarakat dapat memperkuat hubungan interaksi, baik itu di antara individu dengan individu, individu dengan kelompok maupun kelompok dengan kelompok. Di dalam tata kehidupannya ada unsur sosial sebagai simbol yang memengaruhi perilaku untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan dalam interaksi sosialnya. Dengan demikian, pola hubungan antar individu dengan lingkungannya sangat dipengaruhi oleh perilaku individu. Oleh sebab itu, simbol merupakan bagian terkecil dari ritual yang menyimpan sesuatu makna dari tingkah-laku dalam ritual yang bersifat khas. Manusia mempelajari simbol dan makna di dalam interaksi sosial. Manusia menanggapi tanda-tanda dengan tanpa berpikir. Sebaliknya, mereka menanggapi simbol dengan cara berpikir. Tanda-tanda mempunyai artinya sendiri (misalnya, gerak isyarat anjing yang marah atau air bagi seseorang yang hampir mati kehausan). “Simbol adalah objek sosial yang dipakai untuk merepresentasikan (atau menggantikan) apa pun yang ditunjuk orang yang akan mereka representasikan”. Simbol adalah aspek penting yang memungkinkan orang bertindak menurut cara-cara yang khas dilakukan manusia. Karena simbol, manusia “tidak memberikan respon secara pasif terhadap realitas yang memaksakan dirinya sendiri, tetapi secara aktif menciptakan dan mencipta ulang dunia tempat mereka berperan” (Charon, 1998: 47). Gidden (1976) meringkas beberapa asumsi atau pandangan mazhab interpretatif; Pertama, dunia sosial berbeda dengan dunia alam, harus dimengerti sebagai suatu penyelesaian secara terlatih dari manusia sebagai subyek yang aktif, dan kedua, pembentukan dunia ini sebagai suatu yang mempunyai makna, dapat diperhitungkan, atau dimengerti dengan jelas di atas bahasa, haruslah dipandang bukan semata-mata sebagai sistem lambanglambang atau simbol-simbol, tetapi sebagai suatu medium kegiatan praktis. Spradley (dalam Suwardi, 1997: 121) simbol adalah objek atau peristiwa apa pun yang menunjuk pada sesuatu, simbol adalah suatu tanda yang memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang telah mendapatkan persetujuan umum dalam tingkah-laku ritual. Di sisi lain, seorang aktor memikirkan bagaimana dampaknya yang sesuai dengan tindakan. Tindakan yang dihasilkan dari pemaknaan simbol itu merupakan karakteristik khusus dalam tindakan sosial itu sendiri dan proses sosialisasinya. Dalam interaksionisme simbolik, seseorang memberikan informasi dari pemaknaan simbol perspektifnya kepada orang lain dan penerimanya akan memiliki perspektif lain dalam memaknai informasi aktor pertama. Artinya, aktor terlibat dalam proses saling memengaruhi sebuah tindakan sosial. Interaksi sosial dapat terlihat bila individu berkomunikasi dengan komunitasnya dan mengeluarkan bahasa-bahasa, kebiasaan atau simbol-simbol baru yang menjadi objek peneliti budaya. Interaksi tersebut terlihat bagaimana komunikasi komunitasnya, karena suatu komunitas terdapat pembaharuan sikap yang akan dipertahankan, dihilangkan, atau diperbaharui maknanya dan terus melekat pada suatu komunitas, interaksi simbolik juga dapat menjadi alat penafsiran menginterpretasikan suatu masalah atau kejadian (https://www.google.com/teori interaksionisme). Pola perilaku pergaulan orang Bugis dilandasi perinsip sipakatau, suatu sikap hidup yang menempatkan harkat manusia sebagai mahluk yang mulia dan harus saling memuliakan sebagai makna simbol. Sikap tersebut terjabarkan dalam pranata pangadereng sebagai sistem norma yang mengatur kegiatan dan pergaulan hidup masyarakatnya. Prinsip itu kemudian mengejawantah pada relasi antara pemimpin dengan yang dipimpin yang sifatnya saling melindungi dan menghidupi dan menjunjung tinggi harkat diri dan harkat orang lain serta setia kawan. Selain itu, mereka menempatkan prinsip kejujuran dan kepantasan sebagai orientasi tindakannya (Mattulada, 1975). Hal ini merupakan interaksi sosial idividu yang 6 berhubungan dengan pangadereng sebagai salah satu nilai budaya yang dilakukan dalam tata perilaku kehidupan masyarakat Bugis. Ralph Linton (1947) menyatakan kebudayaan adalah konfigurasi tingkah-laku yang dipelajari dan hasil tingkah-laku yang unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh masyarakat tertentu. C. Kluckhohn dan W.H.Kelly (1945:78-106) merumuskan hasil tanya jawab para ahli; antropologi, hukum, psikologi, psikiatri, ekonomi, sejarah, dan filsuf, bahwa kebudayaan adalah pola hidup yang tercipta dalam sejarah yang eksplisit, implisit, rasional, irrasional, dan non-rasional yang terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah-laku manusia. Begitu pula E.B.Taylor (dalam Harsojo,1988: 92) kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan-kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Beberapa kajian dalam temuan ini meliputi; Bentuk tindakan masyarakat berdasarkan pada nilai-nilai pangadereng dalam bertingkah laku sehari-hari dan hal-hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe‘ sambil berbungkuk jika lewat di depan orang lebih tua atau sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita. Begitu juga kalau ingin memotong pembicaraan lawan bicara, mengucapkan iyé baru menjawab pertanyaan dan sebelum mengutarakan pernyataan atau alasan, ramah, dan menghargai yang lebih tua serta menyayangi yang lebih muda. Inilah di antara ajaranajaran masyarakat sesungguhnya yang termuat dalam Lontara yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari–hari. Hal ini menunjukkan bahwa budaya dan adat istiadat ini harus selalu dipertahankan sebagai bentuk warisan nenek moyang orang-orang Bugis yang tentunya sarat dengan nilai-nilai positif. Untuk mengeksplorasi kajian tentang bagaimana bentuk tindakan yang berdasarkan pada nilai-nilai pangadereng beberapa kajian di antaranya; sikap seseorang yang lewat di depan seseorang atau sekelompok orang harus membungkuk sambil meluruskan tangan dan mengucapkan tabe, sikap masyarakat yang tidak suka bertengkar di depan orang banyak, sikap masyarakat terhadap warga yang terkena musibah, perlakuan adil di dalam masyarakat. Hal tersebut sudah merupakan tradisi turun temurun, bukan hanya pada masyarakat Soppeng akan tetapi sudah berlaku untuk masyarakat Bugis pada umumnya dan bahkan etnis lain juga sudah menjadi kebiasaan dalam perilaku setiap hari. Tradisi ini sebagai aplikasi adat sipakatau, artinya saling menghargai. Turner (dalam Suwardi 1982: 19) bahwa “the symbol is the small unit of ritual which still retains the specific propesties of ritual behavior. It is the ultimate unit of specific sturucture in a ritual context”. Juga “the ritual is an aggregation of symbols”. RadcliffeBrown (dalam Suwardi, 1979: 155-177) jika tindakan ritual banyak mengungkapkan simbol, analisis ritual juga harus diarahkan pada simbol-simbol ritual tersebut. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa simbol merupakan bagian terkecil dari ritual yang menyimpan sesuatu makna dari tingkah-laku atau kegiatan dalam upacara ritual yang bersifat khas dan merupakan nilai budaya yang perlu dipertahakan. Pangadereng sebagai simbol kearifan budaya lokal memiliki nilai-nilai yang dapat membawa kelangsungan hidup yang berperadaban. Kearifan yang dimiliki terdokumentasi dan tertuang dengan baik dalam karya sastra klasik lontara secara turun temurun dan memiliki kedudukan yang kuat. Kearifan yang terkandung di dalamnya masih sangat relevan dengan perkembangan zaman, sehingga sangat diperlukan untuk membangun eksistensi kehidupan kekinian. Wujudnya merupakan akulturasi ajaran agama Islam seperti; Bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik, demokrasi, penegakan hukum, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, dan kepatutan. Semuanya merupakan simbol kearifan budaya lokal yang memengaruhi tindakan masyarakat dalam perilakunya. Dalam Permendagri Nomor 39 Tahun 2007 pasal 1, mendefinisikan budaya daerah sebagai “suatu sistem nilai yang dianut oleh komunitas atau kelompok masyarakat tertentu di 7 daerah, yang diyakini dapat memenuhi harapan-harapan masyarakatnya dan di dalamnya terdapat nilai-nilai, tatacara masyarakat yang diyakini memenuhi kebutuhan dan kehidupan warganya”. Kearifan budaya lokal dalam tata perilaku dan interaksi sosial masyarakat berfungsi sebagai sistem etika dan moral dan nilai utama yang menjadi rujukan dalam berbagai aspek kehidupan. Namun bumi sepertinya tanpa sekat, hampir semua nilai esesial itu menjadi luntur dan mengalami degradasi yang sulit dihindari. Identifikasi “esensi” kearifan tersebut mestinya terlihat jelas dalam konsep ketahanan budaya lokal yang tetap terjaga dan menjadi nilai yang tetap ada untuk memperkokoh ketahanannya. Untuk itu perlu tetap diupayakan; (a) Memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan berlandaskan warisan kearifan budaya lokal, (b) memahami substansi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dikembangkan ke dimensi kekinian sejalan waktu dan kemajuan teknologi yang berorientasi ke masa depan, (c) untuk mempertahankan jati diri dan karakter etnis lokal di tengah deraan arus modernisasi dan kecenderungan universalisasi, (d) perlunya diperhitungkan pengembangan perubahan strategis etnis dan ketahanan budaya etnis lokal. Oleh karena itu, diperlukan campur tangan para cendekia bidang; antropologi, sosiologi, linguistik, psikologi, dan arsitektur tradisional untuk diadopsi pengetahuannya ke konsep ketahanan budaya, sehingga kita dapat merajut kembali kejayaan budaya etnis lokal untuk diwujudkan dalam bentuk tindakan interaksi antar individu dan kelompok, baik itu dikalangan internal maupun eksternal di kekinian. Dari definisi-definisi tersebut, kita dapat memahami bahwa kearifan lokal adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh para leluhur dalam menyiasati lingkungan hidup sekitarnya. Selanjutnya menjadikan pengetahuan tersebut sebagai bagian dari budaya dan memperkenalkannya serta meneruskan dari generasi ke generasi. Beberapa bentuk pengetahuan tradisional itu muncul lewat cerita-cerita rakyat, legenda-legenda, nyanyian-nyanyian, ritual-ritual, dan juga aturan-aturan atau hukum setempat. Kearifan lokal menjadi penting dan bermanfaat sebagai jiwa atau ruh-ruh dari budaya lokal. Dari uraian tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa pangadereng berfungsi sebagai unsur dan memiliki nilai-nilai simbolik yang memandu individu dalam berperilaku dan berinteraksi. Temuan lain tentang individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng dapat terlihat bahwa masyarakat di Kabupaten Soppeng memiliki konsep kearifan lokal sebagai instrumen keadaban, yaitu suatu keadaban yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakatnya. Olehnya itu, dalam falsafah dikenal budaya siri’ artinya malu. Masyarakat menempatkan rasa malu sebagai alas atau pijakan atau pedoman dalam menjalani kehidupan yang termanifestasi dalam berbagai tindakan seperti; malu mencuri, berbohong, berbuat zalim, jika bodoh, bertindak anarkis atau kekerasan, tidak punya penghasilan, tidak naik haji (bagi yang sudah mampu), bertengkar di depan orang, tidak mampu membantu orang lain, dan masih banyak lagi muatan malu lainnya. Hal ini telah tercermin dalam setiap tindakan individu dan kelompok dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng. Dengan kearifan sosial budaya lokal tersebut, mereka menunjukkan identitas dan karakternya dengan jelas dalam bingkai ketahanan sosial budaya lokal dan tetap terjaga dan menjadi nilai yang tetap ada. Untuk menuju ke arah ketahanan sosial budaya lokal dan pelestarian esensi di dalam pengembangan unsur-unsur budaya universal, harus tetap diupayakan memahami esensi masing-masing nilai kearifan lokal untuk dilestarikan berlandaskan warisan kearifan budaya lokal. Ia merupakan konsep keadaban yang paripurna, ia bertindak sebagai rambu di setiap sendi kehidupan. Koentjaraningrat (2006) kearifan lokal memiliki dimensi sosial dan budaya yang kuat, karena memang lahir dari aktivitas perlakuan berpola manusia dalam kehidupan masyarakat. Ia dapat menjelma dalam berbagai bentuk seperti ide, gagasan, nilai, norma, dan 8 peraturan dalam ranah kebudayaan, sedangkan dalam kehidupan sosial dapat berupa sistem religius, organisasi, kemasyarakatan, pengetahuan, mata pencaharian hidup, dan sistem teknologi dan peralatan. Keraf (2006) kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan komunitasnya serta bagian dari etika dan moralitas yang membantu manusia untuk menjawab pertanyaan moral apa yang harus dilakukan, bagaimana harus bertindak, khususnya di bidang pengelolaan lingkungan dan sumber daya. Ia muncul melalui proses evolusi yang panjang dan melekat pada masyarakat menjadi sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Ia juga mampu mendinamisasi kehidupan yang penuh keadaban. Jadi secara substansial, ia adalah nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan bertingkah-laku sehari-hari. Hasil temuan tentang individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng terlihat malalui sikap masyarakat terhadap warga yang terkena musibah, maka dengan segera datang untuk menolong, hal ini sudah merupakan tradisi secara turun temurun sebagai bentuk dari sifat tolong menolong terhadap sesama. Realitas sosio-kultural merupakan kenyataan dan dapat dilihat secara riil dalam kondisi kehidupan kelompok manusia yang disebut masyarakat. Mereka menjalin hubungan antara satu dengan lainnya, sehingga hubungan sosial menimbulkan tata aturan kehidupan bersama yang menjadi kesepakatan sosial yang berisi tata aturan atau perilaku yang diperbolehkan, dianjurkan, dan dilarang. Inilah menjadi panduan perilaku manusia di dalam kelompok sosial di mana mereka berada. Tata kelakuan yang merupakan hasil hubungan antar manusia di dalam kelompok sosial ini lalu ditaati bersama, dan menjadi kebiasaan dalam berperilaku yang lasim disebut kultur sosial (Setiadi dan Kolip, 2011: 31) Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill (Zamroni,1992) mengembangkan asumsi-asumsi mengenai perilaku dalam teori sosial yaitu; (1) Manusia pada dasarnya tidak mencari keuntungan maksimum, tetapi senantiasa ingin mendapatkan keuntungan dari interaksinya dengan manusia lain, (2) Manusia tidak bertindak secara rasional sepenuhnya, tetapi setiap hubungan dengan manusia lain, mereka berfikir untung dan rugi, (3) Manusia tidak memiliki informasi semua hal untuk mengembangkan alternatif, tetapi paling tidak memiliki informasi terbatas yang bisa mengembangkan alternatif guna memperhitungkan untung rugi, (4) Manusia senatiasa berada serba keterbatasan, tetapi tetap berkompetisi untuk mendapatkan keuntungan dalam transaksinya, (5) Meski manusia senantiasa berusaha mendapatkan keuntungan dari hasil interaksinya, tetapi mereka dibatasi oleh sumber-sumber yang tersedia, dan (6) Manusia berusaha memperoleh hasil wujud material, tetapi juga melibatkan dan menghasilkan sesuatu yang non material, misalnya: emosi, perasaan suka, sentimen, dan lain-lain. Weber (Soekanto, 2010) menyatakan bentuk perilaku sosial yang paling penting adalah timbal balik atau resiprokal. Gejala itu kemudian tercermin dalam pengertian hubungan sosial yang menjadi tema sentral sosiologi. Hubungan ada apabila para individu secara mutual berdasarkan perilaku yang diharapkan oleh pihak lain. Beberapa tipe hubungan sosial yang penting adalah perjuangan, komunalisasi, agregasi dan kelompok korporasi. Perjuangan merupakan bentuk hubungan sosial yang menyangkut perilaku individual, sehingga salah satu pihak memaksakan kehendaknya terhadap perlawanan pihak lain. Komunalisasi merupakan hubungan sosial yang didasarkan pada perasaan subjektif yang bersifat emosional atau tradisional atau kedua-duanya. Agregasi merupakan hubungan sosial yang didasarkan pada keserasian motivasi rasional atau keseimbangan berbagai kepentingan. Ketiga tipe tersebut mungkin terbuka atau tertutup, tergantung pada dasar peran sertanya, yaitu kesukarelaan ataukah paksaan. Jadi eksisnya nilai sosio-kultural dalam pangadereng 9 tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup orang Bugis disebabkan oleh dua faktor; (1) bagi yang telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosialnya, konsisten atau percaya bahwa hanya dengan berpedoman pada adat, ketentraman dan kebahagiaan anggota dapat terjamin; (2) implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup bermasyarakat. Temuan lain dalam penelitian ini berkaitan dengan perlakuan adil di dalam masyarakat. Keadilan merupakan suatu tindakan memberi kepada seseorang sesuai dengan apa yang menjadi haknya. Maksud dari berlaku adil kepada orang lain adalah meletakkan orang tersebut pada tempat yang seharusnya dia tempati. Berperilaku adil kepada orang lain harus dilakukan kepada semua orang tanpa kecuali, bahkan kepada musuh atau orang yang dibenci sekali pun. Pada masyarakat Bugis lebih cenderung berbuat dan diperlakukan adil karena mereka menganggap semua orang itu sama. Mereka sangat menjunjung tinggi keadilan, karena keadilan itu bersumber dari kejujuran. Bourdieu (1989:18) konsep habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakannya dan menilainya. Secara dialektika habitus adalah “produk internalisasi struktur” dunia sosial. Bourdieu (dalam Harker, dan Chris Wilkes, 1990: 13) habitus adalah suatu sistem disposisi yang berlangsung lama dan berubah-ubah yang berfungsi sebagai basis generatif dan praktikpraktik yang terstruktur dan terpadu secara objektif. Tindakan sosial menekankan pada orientasi subjektif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu dan secara normatif dikendalikan oleh nilai atau standar normatif yang dipahami bersama (Johnson, 1986: 113). Dalam hal ini, pangadereng sebagai kearifan lokal memiliki nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang berperadaban. Kearifan yang terkandung di dalamnya sangat relevan dengan perkembangan zaman. Sehingga, ia sangat diperlukan untuk membangun eksistensi masyarakat hingga saat ini. Wujudnya merupakan akulturasi Islam dengan budaya lokal yaitu; Bawaan hati yang baik, konsep pemerintahan yang baik, sistem demokrasi, penegakan hukum, motivasi berprestasi, kesetiakawanan sosial, dan kepatutan, semuanya sangat memengaruhi perilaku kehidupan masyarakat. Hasil temuan tentang individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng terlihat malalui sikap masyarakat ketika bertemu saling menyapa dan berjabat tangan. Berjabat tangan merupakan ritual pendek dimana dua orang saling menggenggam tangan dan seringkali disertai sentakan kecil pada tangan yang tergenggam. Umumnya jabat tangan dilakukan saat orang memberi salam dalam suatu pertemuan tertentu, baik di awal maupun akhir pertemuan dan mengucapkan selamat, memberi aspirasi, serta membuat persetujuan. Dengan jabat tangan, niat baik ditunjukkan kepada pihak yang tangannya dijabat. Secara implisit, mengirimkan isyarat keterbukaan. Kebiasaan itu menjadi bentuk komunikasi nonverbal. Oleh karena itu, orang yang menolak jabat tangan tanpa alasan dapat dikatakan kurang sopan.Tradisi ini perlambang cara komunikasi tertua yang telah ada dalam berbagai tradisi kebudayaan dunia berabad-abad silam. Pada masyarakat di daerah Soppeng, tindakan saling menyapa dan berjabat tangan itu dianggapnya sebagai suatu tindakan yang terpuji dan memiliki nilai pahala, artinya keterkaitan dengan keyakinan masyarakat bahwa makin banyak pahala itu kehidupan kelak akan semakin baik dan bernilai. Kearifan lokal yang terdapat di berbagai daerah di nusantara ini seharusnya diangkat dan dijadikan salah satu acuan nilai dan norma di dalam mengatasi berbagai persoalan. Dengan kearifan tersebut dapat menciptakan energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup di atas nilai-nilai yang mengantar kelansungan hidup yang berperadaban, yaitu hidup dengan penuh kedamaian dan kerukunan berlandaskan moral, 10 penuh maaf dan pengertian, penuh toleransi, saling asih-asah-dan asuh, harmoni dengan lingkungan, dan hidup dengan orientasi nilai-nilai yang membawa pencerahan. Kearifan seperti itulah yang tumbuh dari dalam lubuk hati masyarakat sendiri. 4. Kesimpulan Individu dan kelompok masyarakat Bugis bertindak dalam berbagai hal berdasarkan pada nilai-nilai Pangadereng. Hal tersebut terlihat pada; sikap seseorang yang lewat di depan orang atau sekelompok orang harus membungkuk sambil meluruskan tangan dan mengucapkan tabe, sikap masyarakat yang tidak suka bertengkar di depan orang banyak, sikap masyarakat terhadap warga yang terkena musibah, perlakuan adil di dalam masyarakat, dan sikap masyarakat ketika bertemu saling menyapa dan berjabat tangan. Hubungannya dalam tata perilaku masyarakat bahwa setiap tindakan masyarakat berdasarkan adat yang tercermin pada nilai-nilai Pangadereng. Masyarakat pada dasarnya telah memiliki sistem nilai kearifan budaya atau cultural value system. Itu merupakan konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat mengenai hal-hal yang harus mereka anggap bernilai dalam kehidupan. Nilai kearifan budaya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku manusia. Sistem nilai kearifan budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Apa yang dianggap penting, tidak penting, berharga, tidak berharga dalam kehidupan, maka sistem tersebut berfungsi sebagai pedoman dan pendorong perilaku manusia dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Sistem nilai budaya ini termasuk norma dan sikap dalam bentuk abstrak. Hal tersebut tercermin dalam cara berpikir seseorang, begitu pula dalam bentuk konkrit terlihat dalam pola perilaku dan cara bertindak. Dengan sistem nilai kearifan budaya yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat yang telah terbentuk dalam suatu hubungan yang baik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok, terjalin dalam bentuk interaksi sosial yang bersumber dari adanya individu melakukan tindakan terhadap orang lain sehingga nilai-nilai budaya tersebut berperan sebagai pedoman yang paling utama dalam perilaku kehidupan bermasyarakat. . 11 Daftar Pustaka Ambo Enre, Fachruddin. 1992. Beberapa Nilai Sosial Budaya dalam Ungkapan dan Sastra Lisan Bugis. Pidato pengukuhan Guru Besar, (dalam Jurnal Vinisi,Vol.1.FPBS IKIP 1992). Blumer, Herbert, “Society as Symbolic Interaction”, dalam Arnold M. Rose, ed., Human Behavior and Social Processes – An Interactionist Approach (Boston: Houghton and Mifflin, 1962), Hal. 188-189-190. ---------, 1969. Symbolic Interactionism: Perspective and Method. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, Inc. ----------, 1969b, “The Methodological Position of Symbolic Interactionism”. Dalam H. Blumer, Simbolic Interaction. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall: 1-60. Bourdieu, P. 1989. Language and Symbolic Power. Cambridge: Polity Press. Catton, William R. Jr. 1966. From Animistic to Naturalistic Sociology, dalam Margaret M. Poloma (ed) Sosiologi Kontemporer, hal. 10. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Charon, Joel M, 1998, Symbolic Interactionism: An Introduction, an Interprtation, an Integration. 5th ed. Englewood Cliffs, N.J.,: Prentice-Hall. dalam George Ritzer dan Douglas J. Goodman (eds) Teori Sosiologi Modern, dialihbahasakan oleh Alimandan, Editor: Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. Doyle P. Johnson. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jilid 11 (diterjemahkan oleh Robert M.Z. Lawang) Jakarta: Gramedia. E.B. Tylor. 1971. Primitive Culture. Dalam Harsojo, 1988. Pengantar Antropologi, Binacipta: Bandung. Fine, Gary Alan and Kleinman Sherryl, 1983, “Network and Meaning: An Interactionist Approach to Social Structure”, Symbolic Interaction 6: 97-110. Giddens, Anthony. 1976. New Rules of Sociological Method: A Positive Critique of Interpretative Sociologies, dalam Margaret M. Poloma, (eds) Sosiologi Kontemporer, Hlm. 11-12. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Harker, Cheelen Mahar, dan Chris Wilkes. 1990. An Introduction to the Work of Pierre Bourdieu: The Practice Theory. (The Macmillan Press Ltd: London). Edisi Indonesia diterbitkan oleh Jalasutra IKAPI Yogyakarta. Joas, Hans, 2001, “The Emergence of the New: Mead’s Theory and Its Contemporary Potential”. In George Ritzer and Barry Smart (eds.) Handbook of Social Theory. London: Sage: 89-99. Koentjaraningrat, 1985. “Pengantar Ilmu Antropologi”, Jakarta: Aksara Baru. 12 Koentjaraningrat dan Keraf. 2013. (Online) fkai.org/koentjaraningrat-memorial-lecturex2013/ (Seminar sehari Forum Kajian Antropologi Indonesia tgl. 15 Mei 2013 di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP Kampus UI Depok) Kluckhohn, C. and Kelly W.H. The Concept of Culture, dengan karangan lain dari berbagai ahli antropologi yang dihimpun di bawah editor Ralph Linton dengan nama: The Science of Man in the World Crisis, 1952, dalam Harsojo, Pengantar Antropologi, 1988. Binacipta: Bandung. Kuhn, Manford. ‘Major Trends in Symbolic Interaction Theory in the Past Twenty-Five Years,’ the Sociological Quarterly, Vol. 5, Winter 1964, pp. 61-84. Linton, R. 1947. The Cultural Background of Personality, 1947, dalam Harsojo, Pengantar Antropologi, 1988. Binacipta: Bandung. Mattulada. 1975. Latoa: Satu Lukisan Analisis Terhadap Antropologi Politik. Ujung Pandang Hasanudin Univercity Press. Manis, Jerome and Meltzer, Bernand (Eds.), 1978, Symbolic Interaction: A Reader in Social Psychology. 3rd ed. Boston: Allyn and Bacon. Mead, Gorge Harbert, 1934/1962, Mind, Self and Society: From the Standpoint of a Social Behaviorist. Chicago: University of Chicago Press, dalam George Ritzer dan Douglas J. Goodman (eds) Teori Sosiologi Modern, dialihbahasakan oleh Alimandan, Editor: Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. --------------------------, 1982, The Individual and the Social Self: Unpublished Work of George Harbert. Chicago: University of Chicago Press, dalam George Ritzer dan Douglas J. Goodman (eds) Teori Sosiologi Modern. Judul asli “Modern Sociological Theory”, 6th Edition, dialihbahasakan oleh Alimandan, Editor: Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. Miller, David, 1981. “The Meaning of Role-Taking”, Symbolic Interaction 4: 167-175. Perinbanayagam, Robert S., 1985, Signifying Acts: Structure and Meaning in Everyday Life. Carbondale: Southern Illinois University Press. Ritzer, G, and and Douglas J. G, 2011. Teori Sosiologi Modern, Judul asli “Modern Sociological Theory”, 6th Edition. Dialibahasakan oleh Alimandan, Editor: Tri Wibowo Budi Santoso. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011. Setiadi Elly.M dan Kolip Usman. 2011. Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta: Prenada Media Group. Simmel, Georg, Georg Simmel on Individuality and Social Forms, editet by Donald N. Levine, Chicago: University of Chicago Press, 1971. Simmel, Georg. 1978. The Philosophy of Money. Terjemahan dan suntingan Tom Bottomore dan David Frisby. London: Roudledge & Kegan Paul. 13 Soekanto. 2010. Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet.2. Suwardi, 1997. Makna Simbol dalam Tradisi Pernikahan. (Online) besseherdiana.blogspot.co.id/2013/03/makna-simbol-dalam-tradisi-pernikahan.html. Turner, Weber, Max, 1958, From Max Weber: Essay in Sociology, New York: Galaxy Book, Nanang, Martono, 2014, Sosiologi Perubahan Sosial: Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan poskolonial. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Wrong, Dennis, 1976. Sceptical Sociology, dalam Margaret M. Poloma (ed) Sosiologi Kontemporer, hal. 10-11. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 14

Judul: Jurnal Ke 2 Rivai

Oleh: Rivai Cawung


Ikuti kami