Jurnal Praktikum Zingiber Officinale

Oleh Dwi Budiarto

167,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Praktikum Zingiber Officinale

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA KELOMPOK : 3 : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Dwi Budiarto Sentikhe Nurul Aisiyah Prita Laura Maura Zettira.S Syifa Nafisa.M Agvina Felicia.E SOAL : SHIFT : Reguler B (I1022181028) (I1022181029) (I1022181036) (I1022181037) (I1022181047) (I1022181049) (I1022181050) Infusa Zingiber Officinale I. Latar Belakang Tanaman obat berkhasiat telah dikenal dan digunakan oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu sebagai warisan nenek moyang yang dikenal dengan obat tradisional, karena penggunaannya masih sangat sederhana. Peranan obat tradisional masih terasa kuat sebagai pendamping serta pengisi kekosongan obat modern dalam perkembangan kedokteran modern sekarang ini. Sampai sekarang masih banyak obat tradisional yang belum pernah dinilai secara ilmiah baik mengenai efektifitasnya maupun keamanannya, oleh karena itu pengembangan budidaya produksi tanaman obat, serta penggalian, penelitian, pengkajian perlu ditingkatkan, sehingga pemakaian obat tradisional dapat dipertanggungjawabkan secara medis bila dimanfaatkan dalam upaya kesehatan (Nurdianti.L,2015). Salah satu tanaman obat berkhasiat yang sering digunakan adalah jahe. Jahe berbau aromatik,memiliki rasa pedas, rimpang agak pipih, bagian ujungnya bercabang, dalam bentuk potongan panjangnya 5-15 cm, tebalnya 1-6,5 cm, bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur memanjang. Bentuk infusum diperkirakan sebagai bentuk sediaan yang paling bisa merepresentasikan gambaran tentang jahe (dari bau dan rasa) kepada masyarakat Indonesia dan dikonsumsi dibandingkan dengan bentuk sediaan lain (Nurdianti.L,2015). Alasan mengapa jahe dibuat dalam bentuk sediaan infusum adalah agar lebih mudah dikonsumsi.Bentuk sirop bisa langsung diminum, proporsi cairan dan serbuk jahe sudah ada sehingga tidak seperti pada sediaan serbuk dimana bisa saja saat pelarutan serbuk tersebut (sebelum dikonsumsi) air yang ditambahkan terlalu banyak/sedikit. Pertimbangan lain mengapa tidak serbuk adalah, serbuk jahe terkadang merangsang bersin dan menjadi iritan saat menempel di membran mukosa nostril. Mengapa tidak tablet adalah disebabkan karna pada jahe (dan juga bahanbahan alam tertentu) ada bau khas yang memiliki efek farmakologis.Bau jahe dapat berfungsi sebagai stimulan, dan inilah yang ingin dipertahankan (Nurdianti.L,2015). Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit (Depkes RI, 1979). Metode infusum biasanya digunakan untuk bahan alam yang berisi bahan berkhasiat yang larut air dan mudah diekstraksi. Infusum tidak stabil dari kontaminasi mikroba dan jamur sehingga dalam pembuatan infusum yang baik, perlu ditambahkan bahan pengawet. Sediaan infusum umumnya hanya bertahan untuk waktu 12 jam (Nurdianti.L,2015). II. Preformulasi a. Zat aktif Jahe (Zingiber officinale) Struktur kimia Rumus molekul Nama kimia Sinonim Berat molekul Pemerian Bau aromatik, rasa pedas, rimpang agak pipih, bagian ujungnya bercabang, dalam bentuk potongan panjangnya 5-15cm, tebalnya 1-6,5 cm, bagian luar berwarna coklat kekuningan, beralur memanjang (Nurdianti.L, 2015). Kelarutan pH larutan pKa Kadar sari yang larut dalam air tidak kurang dari 15,6%, kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 4,3% (Dinkes,1978). - Titik lebur - Stabilitas  Panas  Hidrolisis/oksidasi  Cahaya Semakin tinggi suhu dan semakin lama waktu ekstraksi maka nilai pH yang dihasilkan akan cenderung menurun. Kecenderungan semakin menurunnya pH seiring dengan naiknya suhu pemanasan. Hal disebabkan oleh naiknya energi panas yang terdapat pada pelarut (air) semakin banyak melarutkan komponen kimia pada rimpang jahe yang bersifat asam. Semakin tinggi suhu, proses ekstraksi akan semakin cepat dan hasil ekstraksi akan semakin banyak, Banyaknya kandungan asam yang tereskstrak menyebabkan kondisi pH pada ekstrak jahe semakin menurun (Ibrahim, 2015 ) rimpang jahe berkhasiat untuk menambah nafsu makan, meningkatkan kinerja enzim yang dapat membantu proses pencernaan ( Stepu dkk, 2019 ) Dalam wadah tertutup (Dinkes,1978). Kegunaan Wadah dan penyimpanan Kesimpulan : rimpang jahe berkhasiat untuk menambah nafsu makan, meningkatkan kinerja enzim yang dapat membantu proses pencernaan Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) : asam Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : Larutan (krim/salep) : larutan Kemasan : Botol kaca gelap b. Eksipien (Aquades) Struktur kimia ( Rowe et.al, 2006) Rumus molekul H2O (Rowe et.al, 2009) Nama kimia Air [7732-18-5] (Rowe et.al., 2009) Sinonim Aqua; Aqua purificata; hidrogen oksida (Rowe et al., 2009) Berat molekul 18,02 g/mol (Rowe et.al., 2009) Pemerian Cairan jernih, tidak berwarna,tidak berbau, tidak berasa (Rowe et.al., 2009) Kelarutan Larut dengan sebagian besar pelarut polar (Rowe et.al., 2009) pH larutan 5,0 – 7,0. (Depkes RI, 1995) pKa - Titik lebur 00 C (Rowe et.al., 2009) Konstanta Dielektrik D25 = 78,54 (Rowe et.al., 2009) Bobot jenis 0,9971(Rowe et.al., 2009) Inkompatibilitas air dapat bereaksi dengan obat-obatan dan penerima lainnya yang rentan terhadap hidrolisis (dekomposisi dalam keberadaan air atau uap air) pada suhu sekitar dan tinggi. Air dapat bereaksi dengan keras dengan logam alkali dan dengan cepat dengan logam alkali dan oksida mereka, seperti kalsium oksida dan magnesium oksida. Air juga bereaksi dengan garam anhidrat untuk membentuk hidrat dari berbagai komposisi, dan dengan bahan organik dan kalsium karbida tertentu (Rowe et.al., 2009 ) Air secara kimiawi stabil di semua keadaan fisik (es, cairan, dan uap) (Rowe et.al., 2009). Stabilitas  Panas  Hidrolisis/oksidasi  Cahaya Kegunaan Pelarut (Depkes RI, 1979). Wadah dan penyimpanan Secara khusus, sistem penyimpanan dan distribusi harus memastikan bahwa air dilindungi terhadap kontaminasi ion dan organik, yang masing-masing akan mengarah pada peningkatan konduktivitas dan total karbon organik. Sistem juga harus dilindungi terhadap masuknya partikel asing dan mikroorganisme secara fisik sehingga pertumbuhan mikroba dicegah atau diminimalkan. Air untuk tujuan tertentu harus disimpan dalam wadah yang sesuai(Rowe et.al., 2009) c. Eksipien (Propylene Glycol) Strukturkimia pH larutan Pka (Rowe et.al., 2009) C3H8O2 (Haley S., 2009). 1,2-Propanediol [57-55-6] (Rowe et.al., 2009). Dihydroxypropane; E1520; 2-hidroksipropanol; metil etilena glikol; metil glikol; propana-1,2-diol; propylenglycolum (Rowe et.al., 2009). 76,09 g/mol (Rowe et.al., 2009). tidak berwarna, kental, praktis tidak berbau cair, dengan rasa manis, agak tajam menyerupai gliserin (Rowe et.al., 2009). Kelarutan Larut dengan aseton, kloroform, etanol (95%), gliserin, dan air; larut pada 1 dalam 6 bagian eter; tidak larut dengan minyak mineral ringan atau minyak tetap, tetapi akan larut beberapa minyak esensial (Rowe et.al., 2009). - Titiklebur -59°C (Rowe et.al., 2009). Konstanta Dielektrik - Bobot jenis 1.038 g/cm3 (Rowe et.al S., 2009). Inkompatibilitas Propilen glikol tidak sesuai dengan pereaksi pengoksidasi Rumus molekul Nama kimia Sinonim Berat molekul Pemerian Kelarutan seperti kalium permanganat (Rowe et.al., 2009). Stabilitas  Panas  Hidrolisis/oksidasi  Cahaya Pada suhu dingin, propilen glikol stabil dalam kondisi tertutup rapat wadah, tetapi pada suhu tinggi, di tempat terbuka, cenderung teroksidasi,menimbulkan produk seperti propionaldehyde, asam laktat, piruvat asam, dan asam asetat. Propilen glikol secara kimiawi stabil bila dicampur dengan etanol (95%), gliserin, atau air; solusi berair dapat disterilkan dengan autoklaf (Rowe et.al.,2009). Kegunaan Wadah dan penyimpanan Pelarut metilparaben, pengental, mencegah caplocking (Rowe et.al., 2009) disimpan dalam tertutup rapat wadah, terlindung dari cahaya, di tempat yang sejuk dan kering (Rowe et.al., 2009) d. Eksipien (Sukrosa) (Rowe et.al.,2009) Struktur kimia Rumus molekul Nama kimia Sinonim Berat molekul Pemerian Kelarutan C12H22O11 b-D-fructofuranosyl-a-D-glucopyranoside Gula bit; gula tebu; a-D-glucopyranosyl-b-D-fructofuranoside; gula halus; sakarosa; sakarum; Gula. 342.30 Sukrosa muncul sebagai kristal tidak berwarna, seperti kristal massa atau balok, atau sebagai bubuk kristal putih; tidak berbau dan memiliki rasa yang manis. pH larutan pKa Praktis tidak larut dalam Chloroform Etanol larut 1 dalam 400 bagian Etanol (95%) larut 1 dalam 170 bagian Propan-2-ol larut 1 dalam 400 bagian Air larut 1 dalam 0,5 bagian, larut 1 dalam 0,2 bagian pada 100oC 12.62 Titik lebur 160–186oC Konstanta Dielektrik - Bobot jenis 1.6 g/cm3 Stabilitas  Panas  Hidrolisis/oksidasi  Cahaya Sukrosa memiliki stabilitas yang baik pada suhu kamar dan sedang kelembaban relatif. Ini menyerap kelembaban hingga 1%, yang dilepaskan saat dipanaskan pada 908C. Sukrosa dikaramelisasi saat dipanaskan suhu di atas 1608C. Larutan sukrosa encer dapat dikenakan fermentasi oleh mikroorganisme tetapi tahan dekomposisi pada tingkat yang lebih tinggi konsentrasi, mis. di atas 60% konsentrasi b / b. Encer solusi dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi. Kegunaan Basis gula-gula; agen pelapis; bantuan granulasi; menangguhkan agen; zat pemanis; pengikat tablet; tablet dan pengencer kapsul; pengisi tablet; agen terapi; agen penambah viskositas. Wadah dan Dalam wadah tertutup baik. penyimpanan e. Eksipien (Metil Paraben) Struktur kimia (Rowe et.al., 2006) Rumus molekul Nama kimia Sinonim Berat molekul Pemerian Kelarutan pH larutan pKa C8H8O3 (Rowe et.al., 2009) Methyl-4-hydroxybenzoate [99-76-3] (Rowe et.al., 2009) Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid methyl ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis parahydroxybenzoas; methyl p-hydroxybenzoate; Methyl Parasept; Nipagin M; Solbrol M; Tegosept M; Uniphen P-23 (Rowe et.al., 2009). 152.15g/mol (Rowe et.al., 2009) Methylparaben muncul sebagai kristal tidak berwarna atau bubuk kristal putih. Tidak berbau atau hampir tidak berbau dan memiliki rasa sedikit terbakar (Haley S., 2009) larut dalam air; sangat larut dalam etanol, eter, aseton; larut dalam asam trfluoroacetic; bebas larut dalam alkohol, metanol, aseton, eter (Rowe et.al., 2009) pH 4–8 (Rowe et.al., 2009) pKa = 8.4 at 2280C (Rowe et.al., 2009) Titik lebur 125–12880C (Rowe et.al., 2009) Konstanta Dielektrik - Bobot jenis 1.352g/cm3 (Rowe et.al., 2009) Inkompatibilitas Ketidakcocokan dengan zat lain, seperti bentonite, magnesium trisilikat, talk, tragakan, natrium alginat, minyak esensial, sorbitol, andatropin, Metilparaben berubah warna dengan adanya zat besi dan mengalami hidrolisis oleh alkali lemah dan asam kuat (Rowe et.al Rowe et.al., 2009). Stabilitas Larutan encer dari etil parabenat pH 3–6 dapat disunisasi dengan autoklaf pada 1208C selama 20 menit, tanpa dekomposisi. Larutan  Panas  Hidrolisis/oksidasi berair pada pH 3–6 stabil (kurang dari 10% dekomposisi) hingga sekitar 4 tahun pada suhu kamar, sedangkan larutan air pada pH 8  Cahaya atau lebih di atas. dikenakan hidrolisis cepat (10% atau lebih setelah sekitar 60 hari penyimpanan suhu kamar) (Rowe et.al., 2009). Kegunaan Pengawet antimikroba (Rowe et.al., 2009). Wadah dan Methylparaben harus disimpan dalam wadah tertutup di tempat yang sejuk dan kering (Rowe et.al., 2009). penyimpanan III. Permasalahan Farmasetika 1. Jahe memiliki rasa yang pahit 2. Sediaan multiple dose rentan terhadap kontaminasi mikroba 3. Ditambahnya sukrosa menyebabkan kemungkinan terjadinya cap locking akibat pengkristalan. IV. Penyelesaian Masalah 1. ditambahkan sirupus simpleks 2. metil paraben 3. ditambahkan propilenglikol V. Pendekatan Formula NO. Bahan 1 Serbuk Zingiber officinale 2 Propilen glikol 3 Metil paraben 4 5 Sirupus simplex Aquades Jumlah 15% (b/v) Untuk mengurangi rasa pahit Untuk menghindar mikroba ditambahkan Untuk menghindari caplocking Fungsi Bahan Zat aktif Alasan Penambahan Zat aktif 10% (v/v) Anti caplocking 0,02% (b/v) pengawet 30% (v/v) Ad 70ml pemanis pelarut Pelarut metilparaben, pengental, mencegah caplocking (Rowe et.al., 2009) Pengawet antimikroba. (Rowe et.al., 2009) Pemanis (Rowe et.al., 2009) Pelarut (Depkes RI, 1979) VI. Penimbangan NO Bahan . 1 Serbuk Zingiber officinale 2 Propilen glikol VII. 3 Metil paraben 4 Sirupus simplex 5 Aquades Jumlah dalam Jumlah penimbangan formula 15 15% (b/v) x 70 = 10,5 gram 100 10 10% (v/v) x 70 = 7 ml 100 0,02 0,02% (b/v) x 70 = 0,014 gram 100 30 30% (v/v) x 70 = 21 ml 100 Ad 70 ml Ad 70 ml Prosedur Pembuatan 1. Pembuatan Sirupus Simpleks -Ditimbang 65 g sukrosa dan metil paraben -Diukur air sebanyak 100 ml -Dilarutkan metil paraben ke dalam air panas -Ditambahkan sukrosa -Diaduk sampai homogen 2. Pembuatan Infusa Jahe - Didihkan 70 ml akuades lalu didinginkan pada suhu kamar sambil ditutup agar tidak tercemar lagi dengan CO2. Kalibrasi gelas kimia dengan Aquades untuk volume 70 ml, beri tanda. Kalibrasi botol produk dengan Aquades untuk volume 61,2 ml (2% volume terpindahkan) beri tanda. Timbang 10,5 g serbuk rimpang jahe. Masukkan serbuk rimpang jahe ke dalam gelas kimia berisi akuades sampai semuanya terendam, tunggu sampai suhunya 90oC lalu didihkan selama 15 menit. Jika larutan terlalu kental, tambahkan lagi sedikit air. Selagi panas saring melalui beberapa lapis kain batis ke dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi. Bilas ampas yang tersisa dari penyaringan dengan 10 ml akuades panas. Timbang 0,014 g metilparaben. Larutkan dalam 7 ml propilenglikol, masukkan ke dalam gelas kimia. terkalibrasi, bilas wadah yang digunakan dengan akuades 2 ml dua kali. Ukur 21 ml sirupus simpleks, masukkan ke dalam gelas kimia terkalibrasi, bilas wadah yang digunakan dengan 2 ml akuades 2 kali. Aduk semua bahan dalam gelas kimia sampai tercampur homogeny. Genapkan volume wadah dengan akuades sampai tanda kalibrasi. Tuang ke dalam botol produk yang telah dikalibrasi. Hapus tanda kalibrasi, bersihkan bagian permukaan luar botol, gojok botol. Beri etiket, lalu kemas produk dalam wadah. VIII. Analisis titik kritis pembuatan sediaan 1. Botol sediaan dikalibrasi agar takaran hasil sediaan yang diperoleh akurat 2. Serbuk rimpang jahe dengan aquades dicampur dan dididihkan sampai suhu 90oC selama 15 menit agar senyawa yang ada pada zat aktif keluar 3. Larutan serbuk rimpang jahe disaring agar tidak terdapat endapan pada sediaan nantinya. 4. Metil paraben dilarutkan dengan propilenglikol terlebih dahulu agar mudah dihomogenkan. IX. No 1 2 Evluasi a. Larutan Jenis evaluasi Uji organoleptis (warna, bau, rasa dan kejernihan) Uji pH larutan 3 Penentuan densitas larutan (FI IV, 1030) 4 Penentuan viskositas larutan dengan alat Hoppler Uji stabilitas sediaan 5 Prinsip evaluasi Pengamatan secara visual. Berdasarkan perubahan warna pada kertas pH indikator yang kemudian dibandingkan dengan warna standar pada berbagai pH. Menentukan densitas larutan dengan menimbang massa larutan sebanyak volume tertentu (10 mL) dengan piknometer yang kemudian dibandingkan dengan cairan yang telah diketahui densitasnya (aquadest) pada suhu tertentu Mengukur waktu yang dibutuhkan oleh bola yang digunakan untuk jatuh sejauh jarak tertentu. Sediaan disimpan pada temperatur kamar untuk Jumlah sampel 1 1 Hasil pengamatan Syarat Bau, rasa dan warna sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan (Depkes RI, 1995). pH sesuai dengan spesifikasi formulasi sediaan (Depkes RI, 1995 ). 1 Bobot per liter.air g 20 997,18 25 996,02 30 994,62 (Depkes RI, 1995). 1 Nilai viskositas sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan (Depkes RI, 1995). 1 Suhu 6 7 Uji volume terpindahka n Penetapan kadar zat aktif mengamati lamanya stabilitas sediaan. uang isi perlahanlahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukan gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selam tidak lebih dari 30 menit. Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran. (FI IV hal 1089) Penetapan kadar zat aktif dengan metode analisis yang sesuai 1 1 Volume rata-rata campuran larutan atau sirup yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100%,dan tidak satupun volume wadah kurang dari 95% dari volume pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100% dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak satuwadah pun volumenya kurang dari 95% atau B adalah tidak lebih dari 1 wadah, volume kurang dari95% tetapi tidak kurang dari 90% volume tertera pada etiket, untuk dilakukan uji tambahan terhadap 20 wadah tambahan. Persyaratan: Volume rata-rata larutan atau sirup yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari100% dari yang tertera di etiket, dan tidak lebih dari 1 dari 30 wadah volume kurang dari 95% tetapitidak kurang dari 90% dari yang tertera di etiket (Depkes RI, 1995). Sediaan infusa memiliki sediaan dengan zat aktif 10%. (Depkes RI, 1995) X. Hasil Percobaan X.1. Pendekatan Formula NO. Bahan 1 Serbuk Zingiber officinale 2 Propilen glikol Jumlah 15% (b/v) Fungsi Bahan Zat aktif Alasan Penambahan Zat aktif 10% (v/v) Anti caplocking 3 Metil paraben 0,02% (b/v) pengawet 4 5 Sirupus simplex Aquades 20% (v/v) Ad 70ml pemanis pelarut Pelarut metil paraben, pengental, mencegah caplocking (Rowe et.al., 2009) Pengawet antimikroba. (Rowe et.al., 2009) Pemanis (Rowe et.al, 2009) Pelarut (Depkes RI, 1979) X.2. Penimbangan NO . 1 Bahan 2 Serbuk Zingiber officinale Propilen glikol 3 Metil paraben 4 Sirupus simplex 5 Aquades Jumlah dalam Jumlah penimbangan formula 15 15% (b/v) x 70 = 10,5 gram 100 10 10% (v/v) x 70 = 7 ml 100 0,02 0,02% (b/v) x 70 = 0,014 100 gram 20 20% (v/v) x 70 = 14 ml 100 Ad 70 ml Ad 70 ml X.3. Hasil Percobaan No. 1. Perlakuan Dibuat larutan sirupus simplex. 2. Dikalibrasi botol sediaan yang akan digunakan agar takaran hasil sediaan yang diperoleh akurat. 3. 4. Ditimbang rimpang jahe, lalu kupas, cuci dan potong menjadi ukuran yang lebih kecil. Dicampurkan potongan rimpang pengamatan sukrosa (2/3 gula) : ditimbang 66,7 g , air (1/3 air) : ditimbang sebanyak 33,3 g Dikalibraasi hingga 63 ml Berat rimpang jahe 10,5 gram, ukuran menjadi lebih kecil jahe dengan aquades 70 ml dan dididihkan sampai suhu 90oC selama 15 menit. Larutan berwarna coklat kream Filtrat tersaring 6. Disaring air rebusan rimpang jahe dengan kertas saring. 7. Ditimbang metil paraben 0,014 gram kemudian larutkan metil paraben dengan propilen glikol sebanyak 7 ml di gelas beaker. 5. 8. 9. Dimasukkan sirupus simplex sebanyak 14 ml ke dalam campuran metil paraben dan propilen glikol. Diampurkan rebusan rimpang jahe kedalam campuran tadi, Add hingga 63 ml, lalu gojok secara perlahan. Dilakukan uji evaluasi. XI. Larutan homogen Larutan menjadi lebih kental Sediaan Homogen Uji Organoleptis Warna : Coklat cream Bau : Jahe khas Rasa : Pahit pedas : Uji pH meter : 6,7 Pembahasan (untuk Laporan) Praktikum kali ini kami membuat sediaan infusa jahe ( Zingiber Officinale). Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air pada suhu 90oC selama 15 menit (Anonim, 1979). Prinsip kerjanya sama dengan maserasi yaitu pelarut terpenetrasi ke dalam struktur sel sehingga bagian yang terpenetrasi melunak dan zat aktif dapat larut dalam pembawa. Dalam proses ini suhu dinaikkan untuk meningkatkan kelarutan bahan aktif dalam air. Dari berbagai hasil penelitian, Leach (2017) menyimpulkan bahwa jahe sangat efektif untuk mencegah atau menyembuhkan berbagai penyakit karena mengandung gingerol yang bersifat antiinflamasi dan antioksidan yang sangat kuat. Lebih lanjut dinyatakan bahwa jahe berkhasiat untuk mengatasi berbagai penyakit, seperti mualmual pada saat wanita sedang hamil, mengurangi rasa sakit dan nyeri otot, membantu menyembuhkan penyakit osteoarthritis, menurunkan kadar gula darah pada pasien yang menderita diabetes tipe 2 yang sekaligus menurunkan risiko penyakit jantung, membantu mengatasi gangguan pencernaan kronis, mengurangi rasa sakit saat wanita sedang menstruasi, menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah, membantu mencegah penyakit kanker (karena aktivitas 6-gingerol) terutama kanker pancreas, payudara dan kanker ovarium, meningkatkan fungsi otak dan mengatasi penyakit Alzheimer, dan membantu mengatasi risiko serangan berbagai penyakit infeksi (Aryanta I.W.R, 2019) . Bahan – bahan yang kami gunakan yaitu dengan formula ; Jahe ( Zingiber Officinale) 15% , Propilen glikol 10%, Metil Paraben 0,02% , Sirupus simplex 20%, Aquades Add 100%. Sediaan infusa yang kami buat yaitu 60 ml. Fungsi dari bahan – bahan tersebut yaitu; Jahe befungsi sebagai zat aktif, bahan alam ini juga mengandung konstituen lain berupa nutrisi untuk pertumbuhan mikroorganisme terutama jamur dan sediaan yang akan di buat adalah sediaan multidose dengan pembawa air maka di butuhkan pengawet seperti metil paraben. Metil paraben digunakan sebagai pengawet efektif bekerja pada pH 4-8 dan aktif dalam menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri gram positif. Komposisi dengan etil-, propil-, dan butil- akan meningkatkan aktivitas dari metilparaben atau bisa juga dengan penambahan propilen glikol. Tetapi aktivitasnya dapat menurun jika dicampur dengan surfaktan anionik, bentonit, sodium alginat, sorbitol, dan atropin. , propilen glikol selain berfungi sebagai konsolven, dapat berfungsi sebagai pengental, dan mencegah caplocking. Peristiwa cap locking (“mengunci tutup”) merupakan manifestasi kristalisasi dari sukrosa sehingga semakin banyak persentase sukrosa dalam suatu sediaan (dalam hal ini pada sediaan cairan yang dikemas dalam botol bertutup) akan semakin berat/parah peristiwa caplocking-nya (semakin banyak kristal pada benang-benang tutup botol yang akan semakin mengganggu tutup botol bila dibuka). Sirupus simpleks ini digunakan karena ekstrak jahe yang dihasilkan mempunyai rasa pahit. Aquades berfungsi sebagai pelarut. Tidak diberikan penambahan zat eksipien pewarna dan pemberi rasa/perisa sebagaimana sediaan larutan sejati umumnya. Hal ini disebabkan karna bahan alam memiliki kandungan dengan spesifikasi warna dan rasa yang khas, seperti Zingiber officinale Rhizoma yang berwarna coklat sehingga tidak diperlukan lagi penambahan pewarna dan memiliki rasa, aroma seperti jamu pada umumnya. Inipun salah satu keuntungan mengapa orang - orang lebih menyenangi produk bahan alam karena obat yang berasal dari bahan alam dinilai memiliki efek samping yang lebih kecil dari pada obat sintetik. Sediaan yang ingin kami buat yaitu 60 ml. Langkah pertama yang dilakukan pada praktikum ini yaitu membuat larutan sirupus simplex dengan cara yaitu; ditimbang 66,7 g sukrosa (2/3 gula), selanjutnya ditimbang air sebanyak 33,3 g (1/3 air), setelah itu dilarutkan sukrosa kedalam air hangat ( untuk mempercepat pelarutan ), kemudian diaduk sampai homogen. Cara pembuatan infusa Jahe ( Zingiber Officinale) yaitu langkah pertama yaitu botol sediaan yang akan digunakan dikalibrasi agar takaran hasil sediaan yang diperoleh akurat, sediaan yang kami yang ingin kami buat yaitu 60 ml dilebihkan 5% atau 3 ml untuk antisipasi terjadinya bias sehingga botol sediaan dikalibrasi hingga 63 ml. Langkah selanjutnya yaitu ditimbang rimpang jahe seberat 10,5 gram, lalu cuci dan potong – potong rimpang jahe menjadi bagian yang lebih kecil, selanjutnya campurkan potongan rimpang jahe dengan aquades 70 ml dicampur dan dididihkan sampai suhu 90oC selama 15 menit agar senyawa yang ada pada zat aktif keluar. Langkah selanjutnya yaitu saring air rebusan rimpang jahe dengan kertas saring. Langkah berikutnya yaitu ditimbang metil paraben 0,014 gram kemudian larutkan metil paraben dengan propilen glikol sebanyak 7 ml hingga homogen. Langkah selanjutnya yaitu; masukkan sirupus simplex sebanyak 14 ml ke dalam campuran metil paraben dan propilen glikol masukkan kedalam botol sediaan yang akan digunakan. Langkah berikutnya yaitu campurkan rebusan rimpang jahe kedalam campuran tadi Add hingga 63 ml, lalu gojok secara perlahan, sediaan homogen . Sediaan yang sudah jadi dilakukan uji evaluasi. Sediaan infusa yang telah jadi selanjutnya dievaluasi. Evaluasi yang kami lakukan yaitu uji organoleptis, uji ph larutan dan uji volume terpindahan. Hasil evaluasi organoleptis sediaan kami yaitu memiliki warna coklat kream, bau khas jahe, rasa sedikit pahit. Sirupus simpleks 20% yang digunakan tidak cukup untuk membuat sediaan mempunyai rasa manis sebaiknya dilebihkan hingga 30% . Hasil evaluasi untuk uji ph sediaan infusa kami yaitu memiliki Ph 6,7, sehingga memenuhi syarat yaitu sesuai dengan pH usus yaitu pH 6-7. XII. Kesimpulan : Kesimpulan dari praktikum ini yaitu; 1. Prinsip pembuatan infusa sama dengan maserasi yaitu pelarut terpenetrasi ke dalam struktur sel sehingga bagian yang terpenetrasi melunak dan zat aktif dapat larut dalam pembawa. 2. Penggunaan sirupus simpleks 20% tidak dapat menutupi rasa pahit dari infusum jahe ini, maka sebaiknya kadar sirupus simpleks ditingkatkan menjadi 30%. 3. Uji evaluasi Ph sediaan, dan organoleptis warna dan bau memenuhi syarat. XIII. DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia; Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia; Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Materia Medika Jilid I-IV. Penerbit Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan; Jakarta. Ibrahim,A.M., Yunianta, Feronika H.S. April 2015. Pengaruh Temperatur dan Waktu Ekstraksi terhadap Sifat Fisiko kimia Ekstrak Jahe Merah (Zingiber officinale var. Rubrum) dengan Tambahan Kombinasi Madu sebagai Pemanis untuk Minuman Fungsional. Jurnal Pangan dan Agroindustri; 3(2): 530-541. I Wayan Redi Aryanta. 2019. MANFAAT JAHE UNTUK KESEHATAN; 1(2): 41 Nurdianti, L. 2015. Pengembangan Formulasi Sediaan Infusum Jahe (Zingiber officinale); 13(1) :71 – 75 Rowe, Raymond C , Sheshy. Paul , Quin Marian E. 2009. Handbook Of Pharmaceutical Excipient. Edisi Keenam. London: Pharmaceutical Press. Rowe, Raymond C , Sheshy. Paul , Quin Marian E. 2006. Handbook Of Pharmaceutical Excipient. Edisi Kelima. London: Pharmaceutical Press. Stepu E.M, Sunti N.W, Singarsa IDP. 2019. Uji Efektifitas Beberapa Jenis Rimpang Jahe (Zingiber Officinale Rosc.) terhadap Patogen Phytophthora palmivora Butl. Penyebab Busuk Buah Kakao; 8(3).

Judul: Jurnal Praktikum Zingiber Officinale

Oleh: Dwi Budiarto


Ikuti kami