Jurnal Manfaat Hutan Mangrove

Oleh Sukma Cumme

123,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Manfaat Hutan Mangrove

MANFAAT HUTAN MANGROVE YANG HANYA DIPANDANG SEBELAH MATA SEBAGIAN BESAR MASYARAKAT ABSTRAK Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang unik dan khas, terdapat di daerah pasang surut di wilayah pesisir, pantai atau pulau-pulau kecil dan merupakan sumber daya alam yang sangat potensial. Mangrove merupakan ekosistem yang menjadi “jembatan” antara ekosistem lautan dan daratan. Selain memberikan manfaat ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan; tempat memijah, tempat mencari makan, dan tempat asuhan berbagai biota, pengendali abrasi, intrusi air laut, dan angin kencang; penahan tsunami; memperluas daratan; dan lain sebagainya, hutan mangrove juga memberikan manfaat ekonomis antara lain sebagai penyedia berbagai hasil hutan kayu dan non kayu, serta jasa ekowisata. Manfaat - manfaat ekologis hutan mangrove yang seringkali tidak disadari oleh manusia karena tidak dapat dirasakan langsung, pada kenyataannya menjadi dikesampingkan dan manusia hanya fokus pada manfaat ekonomisnya. Hutan mangrove dieksploitasi secara berlebihan untuk memperoleh hasil hutan kayu dan non kayu serta dialihfungsikan / dikonversi untuk berbagai kepentingan seperti perkebunan, pemukiman, pertambangan, dan lain - lain. Saat ini, kondisi hutan mangrove di Indonesia sedang dalam upaya pembenahan untuk mengembalikan kondisinya menjadi lebih baik. Hutan - hutan mangrove yang tersisa, diupayakan untuk dilindungi, sedangkan hutan mangrove yang terdegradasi dan dalam kondisi memprihatinkan, diupayakan untuk direhabilitasi. Inisiatif untuk melindungi dan merehabilitasi hutan mangrove telah menyebar ke seluruh lapisan, baik dari pihak pemerintah, organisasi - organisasi peduli lingkungan, maupun masyarakat umum. Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Mempunyai fungsi ekonomi yang penting seperti, penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan lainlain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi hutan mangrove serta strategi pengelolaan hutan mangrove yang terbaik. Ekosistem mangrove memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. A. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan yang penting di wilayah pesisir dan lautan. Selain mempunyai fungsi ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan dan asuhan bagi berbagai macam biota, penahan abrasi, amukan angin taufan, dan tsunami, penyerap limbah pencegah intrusi air laut dan lain sebagainya, hutan mangrove juga mempunyai fungsi ekonomis penting seperti,penyedia kayu, daun-daunan sebagai bahan baku obat-obatan dan lain-lain (Dahuri, Rais, Ginting, & Sitepu 1996). Persebaran hutan mangrove di Indonesia terluas di Irian Jaya (95% atau seluas 2.382.000 ha), dan sisanya tersebar di daerahdaerah lain, salah satunya di Kecamatan Teluk Pakedai selama 5 (lima) tahun terakhir, secara umum lebih mengutamakan fungsi ekonomis dari pada fungsi ekologis. Jika hal ini tidak dikelola secepatnya, maka kerusakan hutan mangrove akan semakin luas. (KOMPAS, 2008; Dinas Kehutanan Kab. Kubu Raya, 2010). Bertolak dari masalah tersebut maka dilakukan penelitian tentang tanggapan masyarakat yang terwujud dalam persepsi dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan pemanfaatan hutan mangrove. Hal ini penting dilaksanakan dalam rangka mendukung usaha pengelolaan hutan mangrove dari aspek masyarakat, mengingat peranan masyarakat dalam pemanfaatan dapat merusak hutan mangrove. (KOMPAS, 2008; Dinas Kehutanan Kab. Kubu Raya, 2010). Keberadaan hutan mangrove sekarang ini cukup mengkhawatirkan karena ulah manusia untuk kepentingan konversi lahan sebagai tambak, pemukiman, perhotelan, ataupun tempat wisata. Oleh karena itu sepanjang pesisir utara Jawa hutan-hutan mangrove ditebang secara legal maupun illegal. Aktivitas ini mampu menurunkan populasi mangrove hingga lebih dari 50% dalam kurun waktu 30 tahun. Hutan mangrove yang tersisa sebagian besar hanyalah yang ada di kawasan konservasi seperti Taman Nasional atau Cagar Alam. (Sulistiyowati, 2009) Menurut Arief (2003) secara garis besar fungsi ekonomis mangrove merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat, industri maupun bagi negara. Perhitungan nilai ekonomi sumber daya mangrove adalah suatu upaya melihat manfaat dan biaya dari sumber daya dalam bentuk moneter yang mempertimbangkan lingkungan. Mangrove juga sangat penting bagi kesehatan dan kualitas air pada ekosistem di sekitar pantai seperti dasar rumput laut dan terumbu karang yang dapat berkembang baik di air yang bersih. Perairan pesisir, termasuk mangrove, berperan penting terhadap total budget karbon (Nasprianto dkk, 2016). Manfaat lain dari ekosistem mangrove ini adalah sebagai obyek daya tarik wisata alam dan atraksi ekowisata (Sudiarta, 2006; Wiharyanto dan Laga, 2010) dan sebagai sumber tanaman obat (Supriyanto dkk,2014). Konversi hutan mangrove terus meningkat untuk dijadikan lahan pertanian atau tambak ikan/udang, sehingga menyebabkan penurunan produktivitas ekosistem tersebut (Dave, 2006). Potensi tumbuhan obat di hutan mangrove cukup banyak, namun potensi obat-obatan tersebut sebagian besar belum tergali. Hal tersebut disebabkan masyarakat lebih tertarik untuk menggali potensi hutan mangrove dari sisi potensi kayu dibandingkan dengan nir-kayu. Pelestarian hutan mangrove sangat penting dilakukan dalam mitigasi perubahan iklim global (Kordi, 2012), karena tumbuhan mangrove menyerap karbon dioksida dan mengubahnya menjadi karbon organic yang disimpan dalam biomassa tubuhnya, seperti akar, batang, daun, dan bagian lainnya (Hairiah dan Rahayu, 2007). Usaha pelestarian hutan bukan hanya bergantung pada ada tidaknya partisipasi pemerintah dan masyarakat, tetapi sangat bergantung pada tinggi rendahnya tingkat partisipasi tersebut. Lalu apa sajakah manfaat lain hutan mangrove? Lalu apa saja yang bisa dilakukan agar hutan mangrove dapat berfungsi dengan semestinya? Lalu bagaimana peran masyarakat pesisir dalam membantu pemerintah untuk menjaga kelestarian hutan mangrove? Apakah sudah terealisasikan? B. PEMBAHASAN 1. Manfaat lain hutan mangrove Menurut Arief (2003) secara garis besar fungsi ekonomis mangrove merupakan sumber pendapatan bagi masyarakat, industri maupun bagi negara. Nilai penggunaan langsung adalah manfaat yang langsung diambil dari sumber daya alam (Ramdan,Yusran, & Darusman, 2003). Nilai ini dapat diperkirakan melalui kegiatan konsumsi atau produksi. Pada hutan mangrove yang dimasukkan sebagai penggunaan langsung adalah penyedia kayu mangrove, daun mangrove sebagai bahan baku obat atau makanan ternak, buah sebagai sumber benih dan lain-lain yang dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dari hutan mangrove yang akan berbeda pada setiap daerah. Tidak hanya itu saja, ternyata hutan mangrove ini bisa juga dijadikan destinasi wisata alam. Seperti pada penelitian Made Sudiarta, The Mangrove Information Center (MIC) yang terletak di dalam Kawasan Taman Hutan Raya di Desa Pemogan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar - Bali. memiliki beberapa potensi alam asli dan buatan yang bisa dijadikan sebagai daya tarik dan atraksi ekowisata. Potensi-potensi alam tersebut antara lain; beraneka ragam tumbuhan mangrove, burung, kepiting, ikan, biawak, gedung pusat informasi mangrove, kolam monitor, areal persemaian, kolam sentuh, jembatan kayu, pondok peristirahatan, geladak terapung, dan menara pandang. Jenis kegiatan ekowisata yang ditawarkan antara lain; lintas alam (mangrove educational tour and trekking), pengamatan burung (bird watcing), bermain kano (canoeing), bermain perahu (boating), dan penanaman atau pengadopsian pohon mangrove (mangrove tree plantation or adoption). Semua kegiatan ekowisata tersebut berbasiskan pendidikan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan keperdulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Dari hasil penelitian Supriyanto, dkk. 2014, hasil hutan mangrove lainnya dalam bidang kesehatan. Dari hasil penelitian di Dusun 12 Translok Desa Margasari Lampung Timur terdapat 7 jenis tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat antara lain api-api (Avicennia marina) untuk rematik, cacar, borok, dan sakit gigi; jeruju (Acanthus ilicifolius) untuk bisul, kanker, rematik, perangsang libido, asma, pembersih darah, kulit terbakar, gigitan ular, dan cacingan; nipa (Nypa fruticans) untuk asma, diabetes, kusta, rematik, dan dipatuk ular; bakau (Rhizophora apiculata) untuk anti diare, anti muntah, menghentikan pendarahan luka, dan anti septik; beluntas (Pluchea indica) untuk demam, borok, rematik, kudis, sinusitis, dan bau badan; jenu (Derris trifoliata) untuk pencuci perut dan dapat mengurangi pengaruh penyakit gizi pada anak-anak; dan tapak kuda (Ipomoea pescaprae) untuk luka, bisul, disengat ubur-ubur, rematik, nyeri persendian /pegal-pegal, wasir, korengan, gigitan, dan sengatan binatang. 2. Cara-cara yang dapat dilakukan agar hutan mangrove dapat berfungsi dengan semestinya Hutan mangrove mempunyai fungsi ganda dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan (Waas dan Nababan, 2010). Untuk itu, sebagai suatu ekosistem dan sumberdaya alam, pemanfaatan mangrove diarahkan untuk kesejahteraan ummat manusia dan untuk mewujudkan pemanfaatannya agar dapat berkelanjutan, maka ekosistem mangrove perlu dikelola dan dijaga ke-beradaannya. Kerangka pengelolaan hutan mangrove terdapat dua konsep utama. Pertama, perlindungan hutan mangrove yaitu suatu upaya perlindungan terhadap hutan mangrove menjadi kawasan hutan mang-rove konservasi. Kedua, rehabilitasi hutan mangrove yaitu kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap lahan-lahan yang dulu merupakan salah satu upaya rehabi-litasi yang bertujuan bukan saja untuk mengembalikan nilai estetika, tetapi yang paling utama adalah untuk mengembali-kan fungsi ekologis kawasan hutan mang-rove yang telah ditebang dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain. Pemanfaatan mangrove harus dilakukan secara dinamis dan berkesinambungan de-ngan mempertimbangkan dimensi ekologis, sosial ekonomi, sosial budaya, sosial politik, peraturan dan kelembagaan. Ada beberapa kemungkinan pemanfaatan hu-tan mangrove di Kabupaten Sinjai, di antaranya sebagai obyek wisata (ekotour-isme), sylvofishery, sumber benih ber-bagai komoditas, hutan pendidikan, pe-manfaatan kayu terbatas serta berbagai pemanfaatan lainnya. Menurut Onrizal (2010), perubahan luas hutan mangrove primer menjadi hutan mangrove sekunder terutama disebabkan oleh aktivitas. Penebangan, baik untuk industri kayu arang maupun kayu bakar dan perancah. Per-ubahan dari hutan mangrove primer dan sekunder menjadi areal non hutan mang-rove diakibatkan oleh konversi, terutama pembukaan areal untuk pertambakan dan pertanian (Onrizal, 2010). 3. Peran masyarakat dalam membantu pemerintah dalam pelestarian hutan mangrove Peran serta responden cenderung rendah pada tahap perencanaan, hal ini terjadi karena masyarakat hanya diperkenankan berpendapat tetapi tidak memiliki kemampuan bahwa saran mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang kekuasaan sehingga masyarakat tidak banyak yang datang pada tahap perencanaan tersebut. Peran serta masyarakat terhadap tahapan penanaman sepenuhnya tahapan-tahapan dalam pelestarian hutan mangrove.Masyarakat hanya terlibat dalam tahapan penanaman karena dari penanaman ini, masyarakat memperoleh insentif dari pemerintah. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak sepenuh hati untuk mengikuti kegiatan ini. Keterlibatan masyarakat hanya karena ingin memperoleh imbalan. Masyarakat yang melakukan penanaman, yang memanfaatkan dan masyarakat yang menanam dan memanfaatkan cenderung memiliki peran serta yang sedang, dan masyarakat yang tidak berinteraksi dengan hutan mangrove cenderung memiliki peran serta yang rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa kelompok masyarakat yang memiliki peran serta sedang mempunyai ketergantungan dengan hutan mangrove dan jarak pemukiman mereka dekat dengan hutan mangrove sehingga mereka mau tidak mau mereka harus memperhatikan keadaan hutan mangrove dan mengikuti kegiatan pelestarian hutan mangrove. Peran serta masyarakat yangcenderung sedang pada kelompok menanam, memanfaatkan dan yang menanam sekaligus memanfaatkan disebabkan karena kelompok masyarakat ini mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi terhadap hutan mangrove,Hal ini terlihat dari menurunnya pendapatan yang dialami nelayan dibandingkan pada waktu dimana hutan mangrove masih sangat bagus. Dari perbandingan peran serta antar kelompok masyarakat dapat di simpulkan bahwa yang lebih tinggi peran sertanya ada pada kelompok masyarakat yang menanam, memanfaatkan dan menanam sekaligus memanfaatkan, sehingga pelestarian hutan mangrove kedepannya perlu diadakan pendekatan yang berbasis masyarakat kepada ketiga kelompok masyarakat ini. Tidak hanya itu, (Syawaluddin, 2011) menyatakan dengan pengetahuan masyarakat menjadi tahu, mengerti, melakukan dan mau melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas hidup. Perubahan perilaku ini dipadukan dengan kualitas sumberdaya alam yang tersedia, akan melahirkan perilaku baru yang disebut dengan partisifasi. Logikanya semakin tinggi pengetahuan maka akan semakin tinggi partisifasi masyarakat dalam pelestarian hutan mangrove. C. KESIMPULAN Selain memberikan manfaat ekologis sebagai penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat memijah, tempat mencari makan, dan tempat asuhan berbagai biota, pengendali abrasi, intrusi air laut, dan angin kencang; penahan tsunami, memperluas daratan, dan lain sebagainya, hutan mangrove juga memberikan manfaat ekonomis antara lain sebagai penyedia berbagai hasil hutan kayu dan non kayu, serta jasa ekowisata yang berbasiskan pendidikan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan keperdulian masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Tidak hanya sampai di situ saja, , hasil hutan mangrove lainnya dalam bidang kesehatan. Terdapat 7 jenis tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat antara lain api-api (Avicennia marina), jeruju (Acanthus ilicifolius), nipa (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), beluntas (Pluchea indica), jenu (Derris trifoliate), dan tapak kuda (Ipomoea pescaprae). Untuk itu, ekosistem mangrove perlu dikelola dan dijaga keberadaannya. Poinpoin penting dalam pengelolaan hutan mangrove terdapat dua konsep utama. Pertama, perlindungan hutan mangrove yaitu suatu upaya perlindungan terhadap hutan mangrove menjadi kawasan hutan mang-rove konservasi. Kedua, rehabilitasi hutan mangrove yaitu kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap lahan-lahan, tetapi yang paling utama adalah untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove yang telah ditebang dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain. Maka dari itu, peranan masyarakat sangat diperlukan. Masyarakat yang melakukan penanaman dan memanfaatkan cenderung memiliki peran serta yang sedang memanfaatkan disebabkan karena kelompok masyarakat ini mempunyai ketergantungan yang cukup tinggi terhadap hutan mangrove, dan masyarakat yang tidak berinteraksi dengan hutan mangrove cenderung memiliki peran serta yang rendah. DAFTAR PUSTAKA Arief, A. (2003). Hutan mangrove fungsi dan manfaatnya. Yogyakarta: Kanisius. Dikutip dari Saprudin1 dan Halidah1 “POTENSI DAN NILAI MANFAAT JASA LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN”http://ejournal.forda-mof.org/ejournallitbang/index.php/JPHKA/article/view/1090/ Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S. P., & Sitepu, M. J. (1996). Pengelolaan sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu (cetakan pertama). Jakarta: PT. Pradnya Paramita. Dikutip dari Saprudin1 dan Halidah1 “POTENSI DAN NILAI MANFAAT JASA LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN”http://ejournal.forda-mof.org/ejournal- litbang/index.php/JPHKA/article/view/1090/ Dave, R., 2006. Mangrove ecosystem of south, west Madagascar: an ecolo-ical, human impact, and subsistence value assessment. Tropical Res. Bulletin 25: 7 – 13. Dikutip dari Patang. 2012. ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE (KASUS DI DESA TONGKE-TONGKE KABUPATEN SINJAI).http://digilib.unm.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=unm-digilibunm-drpatangsp-943/ Hairiah, K., dan Rahayu, S., 2007. Petunjuk Praktis Pengukuran Karbon Tersimpan di Bagian Macam Penggunaan Lahan. World Agroforestry Centre ICRAF Southeast Asia. Bogor. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ Kompas. 2008. ‘209.547 Hektar Hutan Mangrove di Kalimantan Barat Rusak’ dalam http://nasional.kompas.com/read//23121466/209.547.htm/ Diakses tanggal 24 Juli 2010. Dikutip dari Ritohardoyo. S dan Ardi. G. B “ARAHAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE: KASUS PESISIR KECAMATAN TELUK PAKEDAI, KABUPATEN KUBU RAYA, PROPINSI KALIMANTAN BARAT https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/JG/article/view/1659/ Kordi, M.G.H.K., 2012. Ekosistem Mangrove: Potensi, Fungsi, dan Pengelolaan. Rineka Cipta. Jakarta. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ Made Sudiarta. Ekowisata Hutan Mangrove : Wahana Pelestarian Alam Dan Pendidikan Lingkungan Nasprianto, Desy, M.H.M., Terry L.K., Restu,N.A.A., dan Andreas, H., 2016. Distribusi Karbon di Beberapa Perairan Sulawesi Utara. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 23(1):34-41. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ Onrizal, 2010. Perubahan tutupan hutan mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara Periode 1977-2006. J. Biologi Indonesia 6(2): 163 – 172. Dikutip dari jurnal ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE (KASUS DI DESA TONGKE-TONGKE KABUPATEN SINJAI) Patang. 2012. http://digilib.unm.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=unm-digilib-unmdrpatangsp-943/ Ramdan, H., Yusran, & Darusman, D.(2003). Pengelolaan sumberdaya alam dan otonomi daerah: perspektif kebijakan dan valuasi ekonomi (cetakan pertama). Bandung: Alqaprint Jatinangor Sumedang. Dikutip dari Saprudin1 dan Halidah1 “POTENSI DAN NILAI MANFAAT JASA LINGKUNGAN HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN SINJAI SULAWESI SELATAN”http://ejournal.forda-mof.org/ejournallitbang/index.php/JPHKA/article/view/1090/ Sudiarta, M., 2006. Ekowisata Hutan Mangrove : Wahana Pelestarian Alam dan Pendidikan Lingkungan. Jurnal Manajemen Pariwisata, 5(1):1-25. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ Sulistiyowati. H. 2009. BIODIVERSITAS MANGROVE DI CAGAR ALAM PULAU SEMPU https://www.researchgate.net/publication/225098812_BIODIVERSITAS_MANG ROVE_DI_CAGAR_ALAM_PULAU_SEMPU/ Supriyanto, Indriyanto, dan Bintoro, A., 2014. Inventarisasi Jenis Tumbuhan Obat di Hutan Mangrove Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur. Jurnal Sylva Lestari, 2(1):67-75. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ Syawaludin. 2007. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peran Serta Masyarakat Dalam Menjaga Kelestarian Kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) Di Kecamatan Tambangan Kabupaten Mandailing Natal. Medan. Program Pasca sarjana, Universitas Sumatra Utara. Dikutip dari jurnal Ilyas, dkk. PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN HUTAN MANGROVE DI DESA BATU GAJAH KABUPATEN https://ejournal.undip.ac.id/index.php/mmh/article/view/20964/ NATUNA. Waas dan Nababan, 2010. Dikutip dari jurnal ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE (KASUS DI DESA TONGKE TONGKE KABUPATEN SINJAI) Patang. 2012. http://digilib.unm.ac.id/gdl.php? mod=browse&op=read&id=unm-digilib-unm-drpatangsp-943/ Wiharyanto, D., dan Laga, A., 2010. Kajian Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Konservasi Desa Mamburungun Kota Tarakan Kalimantan Timur. Media Sains, 2(1):10-17. Dikutip dari Senoaji. G dan Hidayat. M . F.2016. PERANAN EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR KOTA BENGKULU DALAM MITIGASI PEMANASAN GLOBAL MELALUI PENYIMPANAN KARBON. https://jurnal.ugm.ac.id/JML/article/view/18806/ NAMA: SUKMAWATI AH NIM: M011191222 KELAS: KEHUTANAN C

Judul: Jurnal Manfaat Hutan Mangrove

Oleh: Sukma Cumme


Ikuti kami