Jurnal Opersional Riset Eoq

Oleh Novita Rahmasari

413,2 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Opersional Riset Eoq

ANALISIS PENGENDALIAN PERSEDIAAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE (ECONOMIC ORDER QUANTITY) EOQ PADA UKM KEJU “MOZZAREALLY” GALUH MAS, KARAWANG Novita Rahmasari¹, Gusti Pratama², Ahmad Ridho Nurrohman³ ¹Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer, Universitas Buana Perjuangan Karawang e-mail : novitarahma99@gmail.com¹, gustipratama88@gmail.com², ridhonurohman6@gmail.com³ ABSTRAK Persediaan merupakan hal yang pokok sebagai fungsi yang tepat dari suatu unit usaha, selain itu pengendalian persedian juga memiliki peranan penting agar unit usaha dapat berjalan dengan baik. Persediaan dalam suatu unit usaha dapat dikategorikan sebagai modal kerja yang berbentuk barang. Keberadaan persediaan barang ini dapat dikatakan sebagai pemborosan karena dapat menimbulkan besarnya biaya penyimpanan tetapi di sisi lain dapat juga dikatakan suatu asset yang sangat diperlukan untuk dapat memenuhi permintaan yang tidak tetap. Maka dari itu perlu dilakukan pengendalian persediaan produk dan menentukan total persedian produk. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan model pengendalian persediaan produk yang tepat bagi unit usaha, agar total biaya persediaan dan jumlah persediaan produk yang disediakan unit usaha dapat di minimasi. Model dasar yang akan digunakan adalah model Economic Order Quantity (EOQ), dengan menggunakan model ini maka biaya persediaan dan jumlah persediaan pengaman atau safety stock dapat dioptimalkan sehingga ketika ada re order point penjualan akan tetap berlangsung. Kata kunci : Persediaan, biaya penyimpanan, EOQ, safety stock, re-order point 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Outlet Mozzareally merupakan unit usaha yang bergerak dalam bidang usaha penjualan makanan. Jenis makanan yang dijual oleh unit usaha ini yaitu keju Mozzarella. Outlet Mozzareally ini sudah berdiri sejak tahun 1 2014. Adanya permintaan produk yang tidak tetap membuat unit usaha ini harus memperhitungkan pengendalian persediaan produk secara baik dan benar, agar unit usaha dapat melakukan persedian yang tepat. Hal ini dikarenakan unit usaha harus berusaha memenuhi permintaan konsumen yang bersifat tidak tetap dalam menggunakan produk. Karena, jika tidak dilakukan dengan baik dan benar maka akan terjadi penumpukan produk pada gudang unit usaha. Penumpukan produk pada gudang dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain yaitu adanya biaya penyimpanan yang cukup besar dan akan menimbulkan produk menjadi kadaluarsa apabila sudah lama tidak dikonsumsi. Namun apabila unit usaha tidak melakukan persediaan produk akan menimbulkan kehilangan pelanggan. Dengan data permintaan pada periode sebelumnya, safety stock, dan biaya penyimpanan, maka dapat dilakukan pengendalian persediaan bahan baku untuk mengurangi overload maupun kekurangan produk menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). 1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana meneuntukan pemesanan produk yang aktual menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). 2. Bagaimana menentukan produk pengaman (safety stock) untuk mengatasi ketidakpastian permintaan. 1.3. Batasan Masalah Batasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. Produk yang diteliti adalah keju Mozzarella. 2. Metode yang digunakan untuk perhitungan pengendalian persediaan adalah Economic Order Quantity (EOQ). 3. Data yang digunakan hanyalah data 1 tahun penjualan. 4. Perhitungan yang dilakukan hanya sampai pada perhitungan reorder point. 2 1.4. Tujuan Masalah 1. Untuk mengendalikan pembelian persediaan produk dan menentukan jumlah produk yang harus dibeli agar optimal. 2. Untuk dapat menentukan jumlah persediaan. 3. Untuk menentukan safety stock. 2. Landasan Teori 2.1. Konsep Dasar Persediaan Pada dasarnya persediaan dibuat untuk memperlancar penjualan dan operasi unit usaha. Persediaan juga merupakan hal yang pokok sebagai fungsi yang tepat dari suatu unit usaha, selain itu persediaan juga memegang peranan penting agar suatu unit usaha dapat berjalan dengan baik. Maka dapat disimpulkan bahwa arti dari persediaan sejumlah barang yang tersedia untuk dapat digunakan sewaktu-waktu dimasa yang akan datang. Jika persediaan produk terlalu banyak dan tidak seimbang dengan permintaan pembeli, maka modal yang tertanam didalam inventory akan menanggung atas bunga modal yang digunakan untuk membeli produk tersebut. 2.2. Biaya-Biaya Persediaan Dalam biaya persediaan juga terdapat beberapa komponen didalamnya, antara lain: 1. Biaya Pemesanan 2. Biaya Penyimpanan 3. Economic Order Quantity (EOQ) 4. Safety stock 5. Reorder point 2.3. Model Economic Order Quantity (EOQ) Model dasar Economic Order Quantity (EOQ) merupakan model yang digunakan untuk menentukan jumlah pemesanan secara ekonomis sehingga dapat meminimumkan total biaya persediaan. Dalam model dasar Economic Order Quantity (EOQ) diasumsikan bahwa setiap pembelian harga produk sama atau tetap. Tujuan dari pengembangan model ini adalah untuk menentukan jumlah pemesanan produk untuk meminimasi biaya penyimpanan. 3 Notasi yang digunakan dalam formulasi model Economic Order Quantity (EOQ), antara lain: 1. EOQ : Jumlah optimal barang per pemesanan (EOQ) 2. S : Biaya pemasangan atau pemesanan setiap pesanan 3. D : Permintaan tahunan barang persediaan dalam unit 4. H : Biaya penahan atau penyimpanan per unit per tahun 5. L : Waktu antara penempatan dan penerimaan sebuah pesanan 6. d : Demand pertahun atau jumlah hari kerja dalam satu tahun 7. ROP : Reorder point 8. TOC : Biaya pemesanan tahunan 9. THC : Biaya penyimpanan tahunan 10. TC : Biaya Total Maka dari notasi diatas, maka penentuan rumus (EOQ) adalah: a. Biaya Pemesanan Tahunan (TOC) = ( 𝐷⁄𝑄 ) S b. Biaya Penyimpanan Tahunan (THC) = ( 𝑄 ⁄2 ) H c. Biaya Total Tahunan (TC) = TOC + THC Model Economic Order Quantity (EOQ), antara lain: Economic Order Quantity (EOQ) = √ 𝐸𝑂𝑄 Safety stock = ( 𝑛 2 . 𝐷. 𝑆 𝐻 ) 𝑙𝑒𝑎𝑑 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑥 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑎𝑟𝑖 Reorder point = safety stock + (𝑟𝑒𝑜𝑟𝑑𝑒𝑟 𝑝𝑜𝑖𝑛𝑡 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡𝑛𝑦𝑎) Maximum inventory = safety stock + EOQ 3. Metodologi Penelitian 3.1. Sejarah Singkat Unit Usaha Unit usaha keju Mozzareally merupakan salah satu supplier keju mozzarella di Karawang, Jawa Barat. Unit usaha ini didirikan oleh sepasang suami istri Bapak Pius dan Ibu Indra Rani pada tahun 2014 yang beralamat di Perumahan Primrose blok U-26, Galuh Mas, Karawang, Jawa Barat. Pada awalnya unit usaha ini hanya menjadi reseller dan usaha yang dijalaninya masih berskala kecil dengan pemesanan kepada pabrik produksi yang bertempat di Bandung hanya 3 (tiga) minggu sekali. Seiring berjalannya 4 waktu dengan berkembangnya permintaan produk dari konsumen, maka pemilik unit usaha memutuskan untuk menjadi supplier dan memperbanyak persediaan produk untuk dapat memenuhi permintaan dari konsumen. Bahan baku yang digunakan oleh pabrik keju adalah susu cair, ragi dan garam. Untuk mesin yang digunakan adalah mesin pengaduk, timbangan, dan cetakan. 3.2. Rancangan Penelitian Gambar 1. Rancangan Penelitian Studi Pendahuluan Pengumpulan data Pengolahan data dengan model EOQ Pembahasan Kesimpulan dan Saran 4. Pengumpulan Dan Pengolahan Data 4.1. Pengumpulan Data Tabel 1. Data Pembelian Produk Tahun 2018-2019 Bulan April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret Total Jumlah pembelian produk/pcs 650 600 550 500 525 450 475 500 550 600 650 550 6600 a. Harga beli per produk yaitu sebesar Rp 20.000,00 b. Harga jual per produk yaitu sebesar Rp 29.000,00 c. Biaya antar per satu kali pemesanan yaitu sebesar Rp 350.000,00 5 d. Biaya penyimpanan per unit yaitu sebesar Rp 1.636,00 e. Biaya penyimpanan per unit per tahun yaitu sebesar Rp 19.632,00 4.2. Pengolahan Data Berdasarkan data yang telah diproleh makan dapat dilakukan pengolahan data seperti berikut : Rata-rata permintaan per bulan = = EOQ = √ 2𝑥𝐷𝑥𝑆 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 2018−2019 𝐵𝑢𝑙𝑎𝑛 6600 12 2 𝑥 6.600 𝑥 350.000 = √ 𝐻 19.632 = 550pcs 4.620.000.000 = √ 19.632 = √235.330 = 474,68 = 475 Jadi, 𝐷 6.600 TOC = (𝑄 ) S = ( 550 ) 350.000 = 12 x 350.000 = 4.200.000 Jadi, biaya pemesanan per tahunan sebesar Rp 4.200.000,𝑄 550 THC = ( 2 ) H = ( 2 ) 19.363 = 275 x 19.636 = 5.398.000 Jadi, biaya penyimpanan per tahunan sebesar Rp 5.398.000,TC = TOC + THC = 4.200.000 + 5.398.000 = 9.598.800 Jadi, biaya total per tahun sebesar Rp 9.598.800,𝐸𝑂𝑄 Safety stock = ( 𝑛 475 ) = ( 12 ) = 39,58 = 40 Jadi, safety stock yang harus disiapkan sebanyak 40pcs 𝑙𝑒𝑎𝑑 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑥 𝑘𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑎𝑟𝑖 Reorder point = safety stock + (𝑟𝑒𝑜𝑟𝑑𝑒𝑟 𝑝𝑜𝑖𝑛𝑡 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡𝑛𝑦𝑎) 1 𝑥 6.600 = 40 + ( 360 ) = 40 + 18,33 = 58,33 = 58 Persediaan maksimum Maximum inventory = safety stock + EOQ Sehingga maximum inventory tahun berikutnya Maximum inventory = 40 + 475 = 515pcs 6 5. Pembahasan Permintaan produk rata-rata pada bulannya sebesar 550pcs. Dalam hal ini unit usaha menggunakan perhitungan dengan model EOQ yang didasarkan pada permintaan rata-rata walaupun unit usaha harus menanggung biaya yang sangat besar, tetapi untuk mengurangi besarnya biaya persediaan unit usaha melakukan pemesanan kembali (reorder point). Selain itu unit usaha juga harus menetapkan jumlah tetap disetiap pemesanan produk untuk memenuhi kebutuhan permintaan konsumen, tetapi unit usaha juga harus dapat menetapkan kapan titik pemesanan kembali produk sesuai dengan waktu tunggu selama 1hari untuk menghindari habisnya persediaan produk. Dari perhitungan safety stock, dapat diketahui jumlah persediaan yang dapat dicadangkan sebagai pengaman kelangsungan proses jual beli dari resiko kehabisan produk. Metode yang digunakan pada analisis ini adalah EOQ dengan kebutuhan yang tidak tetap, jika salah memperhitungkannya maka akan menimbulkan biaya yang sangat besar dan akan menyebabkan kerugian pada unit usaha. Saat melakukan reorder point adalah saat dimana unit usaha harus melakukan kembali pembelian produk sehingga pemesanan produk yang dipesan dapat datang tepat waktu. Karena seteleah proses pemesanan selesai, produk tidak dapat datang pada hari yang sama. Produk yang akan dipesan ini harus sesuai dengan reorder point yang dihitung. Untuk mengetahui persediaan produk yang masih tersisa, unit usaha juga dapat menghitungnya dengan menggunakan rumus maximum inventory. Persediaan maksimum ini juga sangat dibutuhkan oleh unit usaha agar tidak terjadi penumpukan produk yang berlebihan sehingga tidak terjadi pemborosan modal kerja. Agar tidak melebihi kapasitas produk maka jumlah pembelian sebanyak 475pcs dengan kapasitas maximum inventory sebanyak 515pcs 6. Kesimpulan Dan Saran 6.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka didapati kesimpulan, bahwa hampir setiap tahunnya unit usaha keju Mozzareally ini selalu mengalami peningkatan pembelian produk. Untuk menghindari kelebihan 7 produk yang akan membuat biaya penyimpanan menjadi besar maka jumlah yang harus dibeli sebanyak 475pcs. Untuk mengurangi kemungkinan konsumen batal membeli produk karena persediaan tidak ada maka unit usaha harus melakukan pemesanan kembali produk untuk proses jual beli kembali pada saat persediaan yang tersisa sebanyak 58pcs. 6.2. Saran Saran yang dapat disampaikan untuk analisis yakni hendaknya unit usaha tersebut dapat secara rutin mengontrol persediaan produk agar para konsumen tidak merasa kecewa jika persediaan habis. Unit usaha pun harus menentukan reorder point untuk menghindari besarnya biaya persediaan. Daftar Pustaka 1. Arman Hakim Nasution, Yudha Prasetyawan, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Yogyakarta, Penerbit: Graha Ilmu, 2008. 2. Teguh Baroto, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Jakarta, Penerbit: Galia Indonesia, 2002. 8 Lampiran 9

Judul: Jurnal Opersional Riset Eoq

Oleh: Novita Rahmasari


Ikuti kami