Kajian Jurnal Senyawa Alkaloid

Oleh Mia Sutadiharja

256,9 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Kajian Jurnal Senyawa Alkaloid

Tugas Portofolio Kimia Organik Bahan Alam(KOBA) (Analisis Tumbuhan “Ageratum conyzoides L”) [2014] [Pendidikan Kimia B] Mia Hentiana (1211208051) Bandotan Ageratum conyzoides L 1. Taksonomi Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) SuperDivisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Ageratum Spesies: Ageratum conyzoides L. 2. Morfologi Tumbuhan a. Akar Akar Bandotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan akar tunggang, perakarannya dangkal, sedikit dan tidak kuat sehingga mudah dicabut, akarnya berwarna putih kekuning-kuningan, terdapat sedikit bulu-bulu halus. b. Batang Batang Bandotan (Ageratum conyzoides L.) tumbuh tegak. Buku-bukunya dan bagian batang yang lebih muda ditumbuhi rambut halus. Tingginya berkisar dari 25cm 50cm, membentuk cabang. Pada ketiak daun tumbuh tunas yang membentuk cabang. c. Daun Daun Bandotan (Ageratum conyzoides L.) berbentuk bulat telur. Bagian pangkal helai daun berbentuk bundar atau sedikit meruncing. Ujung helai daun berbentuk runcing atau agak tumpul. Ukuran helai daun 2-10 cm. tepi helai daun bergerigi atau berombak. d. Bunga Bunga Bandotan (Ageratum conyzoides L.) merupakan kelompok kepala-bunga. Dalam satu kelopak terdiri dari tiga atau empat kepala-bunga. Masing-masing kepala bunga tumbuh pada tangkai sendiri. Terdiri dari 60-75 bunga yang tersusun Mia Hentiana [2014] (terbungkus) dalam daun pembalut (involocral-bract). Mahkota lima berwarna putih panjangnya 5-6 mm. e. Buah Buah Bandotan (Ageratum conyzoides L.) berukuran kecil, hampir tidak menyerupai buah karena bagian dinding buah bersatu dengan biji, berwarna putih kehitam-hitaman. f. Biji Biji Bandotan (Ageratum conyzoides L.) warnanya kehitam-hitaman..Kecil. Memiliki 5 papus (merupakan bulu) pada puncaknya. Ringan dan sangat banyak jumlahnya. 3. Aspek Bio (khasiat) Berdasarkan hasil wawancara dengan penduduk di sekitar rumah saya yang beralamatkan di desa Cikancra. Kec. Cikalong, Kab. Tasikmalaya, ternyata Bandotan banyak sekali manfaatnya dalam mengobaati berbagai macam penyakit, yaitu : 1. Sakit telinga tengah akibat radang 2. Luka berdarah, 3. Bisul , borok 4. Penyebaran di Dunia Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Tumbuhan ini menyebar luas di seluruh wilayah tropika, bahkan hingga subtropika. Didatangkan ke Jawa sebelum 1860, kini gulma ini telah menyebar luas di Indonesia. Di Amerika Selatan, tumbuhan ini malah dibudidayakan; menurut catatan sejarah, bandotan memang didatangkan dari Meksiko. Bandotan sering ditemukan sebagai tumbuhan pengganggu di sawah-sawah yang mengering, ladang, pekarangan, tepi jalan, tanggul, tepi air, dan wilayah bersemak belukar. Ditemukan hingga ketinggian 3.000 m, terna ini berbunga sepanjang tahun dan dapat menghasilkan hingga 40.000 biji per individu tumbuhan. Karenanya, gulma ini dirasakan cukup mengganggu di perkebunan. Di luar Indonesia, bandotan juga dikenal sebagai gulma yang menjengkelkan di Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta di Amerika Serikat. (sumber: Wikipedia) Mia Hentiana [2014] 5. Bentuk Sediaan 1. Sakit telinga tengah akibat radang Cuci bandotan segar secukupnya, lalu tumbuk sampai halus. Hasilnya, peras dan saring. Gunakan air perasan yang terkumpul untuk obat tetes telinga. Sehari 4 kali, setiap kali pengobatan sebanyak 2 tetes. (sumber:Masyarakat umum) 2. Luka berdarah, bisul, eksim Cuci herba bandotan segar secukupnya sampai bersih, lalu tumbuk sampai halus. Turapkan ramuan ke bagian tubuh yang sakit, lalu balut dengan perban. Dalam sehari, ganti balutan 3-4 kali. Lakukan pengobatan ini sampai sembuh. (sumber: tukang urut) 3. Bisul, borok Cuci satu helai bandotan segar sampai bersih. Tambahkan sekepal nasi basi dan seujung sendok teh garam, lalu giling sampai halus. Turapkan ke tempat yang sakit, lalu balut dengan perban. (sumber: masyarakat umum) Mia Hentiana [2014] Analisis Jurnal Berdasarkan hasil analisis dari berbagai jurnal, diperoleh data sebagai berikut: A. Penentuan Sifat Kimia Fisika Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi Dari Daun Bandotan (Ageratum Conyzoides Linn.) 1. Tempat penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi USU (2007) Indonesia. 2. Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan untuk mengetahui sifat kimia dan fisika alkaloid yang hasil isolasi dari daun bandotan 3. Cara Pemisahan Pemisahan dilakukan dengan cara ekstraksi. Daun bandotan yang baru dipetik dibersihkan dari pengotoran, dicuci dengan air sampai bersih, ditiriskan, dikeringkan di udara terbuka (diangin-anginkan) terhindar dari pengaruh cahaya matahari langsung, kemudian dikeringkan dalam lemari pengering pada temperatur ± 400 C kemudian diserbuk. Sebanyak 750 g serbuk bahan dimaserasi dengan pelarut metanol selama 24 jam, kemudian dipisahkan, sisa serbuk (residu) dimaserasi kembali dengan pelarut metanol sampai jernih. Maserat yang diperoleh diuapkan dengan alat rotary evaporator pada temperatur tidak lebih dari 400 C hingga diperoleh ekstrak kental. 4. Alat dan Bahan serta Tehnik analisis Alat: alat-alat gelas, neraca kasar (Ohaus), neraca listrik (Libror ED-200), oven listrik (Fisher scientifio), rotary evaporator (Buchi 461), lampu ultra violet (Dessaga), seperangkat alat kromatografi lapisan tipis dan kromatografi kolom. Spektrofotometer ultraviolet (Shimadzu 160) dan spektrofotometer (Shimadzu 420). Bahan: Bahan tumbuhan yang digunakan adalah daun bandotan (Ageratum conyzoides Linn.), bahan kimia berderajat proanalisis dan akuades. Teknik analisis  Isolasi alkaloid dari ekstrak metanol Ekstrak metanol dibasakan dengan amonium hidroksida (pH 9-10) kemudian diekstraksi dengan kloroform (diulangi 3 kali), dipekatkan dan ditambah asam klorida 1 N sampai pH 2-3, kocok kemudian sari asam dipisahkan (ulangi sebanyak 3 kali). Selanjutnya sari asam diuapkan dan dibasakan dengan larutan ammonia sampai alkalis (pH 9-10) lalu Mia Hentiana [2014] diekstraksi dengan kloroform sampai semua tersari sempurna. Lapisan kloroform dikumpulkan dan dipekatkan dengan bantuan rotary evaporator pada temperatur tidak lebih dari 400 C sehingga diperoleh ekstrak alkaloid kasar.  Pemisahan alkaloid secara kromatografi kolom Ekstrak alkaloid kasar dianalisis dengan KLT menggunaka fase diam silika gel F 254 dan fase gerak campuran kloroform-metanol-amonia (85-15-1) dan sebagai penampak noda Dragendorf. Hasilnya diamati dan catat harga Rf. Komponen alkaloid kasar dipisahkan dengan kromatografi kolom, sebagai fase diam digunakan silika gel 60 (mesh 70-230 ASTM), fase gerak adalah campuran kloroform-metanol-amonia (85-15-1). Fraksi-fraksi yang keluar masing-masing ditampung lebih kurang 5 ml kemudian hasilnya dipantau dengan KLT menggunakan fase gerak yang sama dan sebagai penampak bercak Dragendorf, untuk pola kromatogram yang sama digabung menjadi satu.  Uji kemurnian alkaloid dengan KLT dua dimensi Kristal yang diperoleh dari hasil isolasi dilakukan uji kemurnian secara KLT dua dimensi menggunakan fase gerak I: kloroform-metanolamonia (85-15-1) dan fase gerak II kloroform-etil asetat (60-40), sebagai fase diam adalah silika gel F254 dan penampak bercak Dragendorf.  Identifikasi alkaloid dengan spektrofotometer ultraungu Kristal hasil isolasi dilarutkan dalam pelarut metanol kemudian diukur absorbansi pada panjang gelombang 200-400 nm.  Identifikasi alkaloid dengan spektrofotometer inframerah Kristal hasil isolasi dilarutkan dalam kloroform, kemudian diteteskan diantara dua lempeng (disk) NaCl lalu diukur pada daerah frekuensi 4000-650 cm-1. 5. Hasil Hasil isolasi senyawa alkaloid dari ektrak metanol daun bandotan (Ageratum conyzoides Linn.), diperoleh kristal berbentuk jarum berwarna putih (Rf 0,62) dengan fase gerak kloroformmetanol-amonia (85-15-1), dan hasil spektrum ultraviolet mempunyai panjang gelombang 246,6; 276,4; dan 284,4 nm dan hasil spektrum inframerah menunjukkan adanya gugus OH, gugus C=O, ikatan C-H dari CH2 (metilen), ikatan C-H dari CH3 (meti) dan ikatan C=O. B. EFEKTIVITAS EKSTRAK BABADOTAN (Ageratum conyzoides L.)TERHADAP TINGKAT KEMATIAN LARVA Spodoptera litura F. Mia Hentiana [2014] 1. Tempat penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Kayu Fakultas Kehutanan untuk ekstrasi dan Laboratorium Biologi untuk pengenceran dan pengujian ekstrak.Samarinda (2010) 2. Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak babadotan (A. conyzoides) terhadap tingkat kematian larva S. litura instar IV. 3. Cara Pemisahan Dengan cara ekstraksi Babadotan dibersihkan kemudian dipotong dan dikeringkan dikeringkan selama lebih kurang 10 hari, kemudian ditumbuk dan ditimbang berat kering 0.5 kg. Bubuk babotan dilakukan maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 90% di dalam gelas kimia selama 3 hari sekali diaduk dengan menggunakan sendok kayu. Setelah 3 hari hasil rendaman tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring dan corong ke dalam gelas kimia. Dilakukan maserasi kembali dengan menggunakan larutan etanol 96% dari sisa ampas maserasi sebelumnya hingga ekstraksi yang dihasilkan jernih. Kemudian hasil ekstraksi tersebut dilakukan pemekatan larutan dengan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak yang pekat dimasukkan kembali ke dalam oven vakum hingga wujudnya menjadi agak kental seperti menyerupai pasta. 4. Alat dan Bahan serta Tehnik analisis Alat: lumpang+alu, timbangan, gelas kimia, sendok kayu, corong, rotary evaporatur, vakum Bahan: Bahan tumbuhan yang digunakan adalah daun bandotan (Ageratum conyzoides Linn.), dan larva. Teknik analisis menggunakan metode uji pendahuluan dan uji lanjutan. Uji pendahuluan digunakan untuk menentukan konsentrasi ambang atas dan konsentrasi ambang bawah, dimana pada uji pendahuluan ini menggunakan 6 perlakuan yaitu konsentrasi 0% (kontrol); 0,001%; 0,01%; 0,1%; 1% dan 10%. Masing-masing perlakuan diberi larva uji sebanyak 5 ekor, sehingga jumlah sampel larva uji adalah sebanyak 30 ekor. Larva uji diberi pakan berupa daun sawi yang telah disemprot dengan ekstrak larutan babadotan berdasarkan masing-masing konsentrasi, kemudian diamati selama 24 jam. Mia Hentiana [2014] Uji lanjutan dilakukan berdasarkan hasil uji pendahuluan untuk menetapkan ambang lethal konsentrasi yang akan digunakan. Larva instar IV sebanyak 10 ekor masing-masing dimasukkan ke dalam stoples berdiameter 25 cm. Daun sawi masing-masing disemprot dengan ekstrak babadotan berdasarkan tingkat perlakuan/konsentrasi yaitu 5%, 10%, dan 20% (2,5 gr dalam 50 ml aquades untuk konsentrasi 5%; 5 gr dalam 50 ml aquades untuk konsentrasi 10%; dan 10 gr dalam 50 ml aquades untuk konsentrasi 20%). Penyemprotan dilakukan masing-masing sebanyak 8 kali semprotan pada daun sawi sebagai makanan larva uji. Pengamatan dilakukan selama 24 jam dengan mencatat jumlah larva uji yang mati dan waktu kematian larva setelah aplikasi ekstrak babadotan. 5. Hasil Ekstrak babadotan bersifat sebagai insektisida botanis terhadap larva instar IV S. litura. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak babadotan yang diberikan maka ekstrak babadotan semakin tinggi tingkat mortalitas larva uji. C. Skrining Toksisitas Ekstrak Herba Bandotan (Ageratum Conyzoides L) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test 1. Tempat penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar 2. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian tersebut yaitu: untuk melakukan skrining toksisitas ekstrak herba bandotan (Ageratum conyzoides L) dengan metode Brine Shrimp Lethality Test. 3. Cara Pemisahan Dengan cara ekstraksi Sampel herba yang telah kering ditimbang sebanyak 300 g dimasukkan ke dalam wadah maserasi, kemudian dituangi dengan 1 liter pelarut n-heksan. Wadah maserasi ditutup dan disimpan selama 24 jam di tempat yang gelap sambil sesekali diaduk. Selanjutnya disaring, dipisahkan antara ampas dan filtrat. Ampas diekstraksi kem-bali dengan pelarut n-heksan. Hal ini dilakukan selama 3 x 24 jam. Filtrat yang diperoleh kemudian dikumpulkan dan diuapkan dengan menggunakan rotavapor hingga diperoleh ekstrak n-heksan yang kental. Ampas dikeringkan, kemudian dengan cara yang sama Mia Hentiana [2014] diekstraksi kembali dengan pelarut metanol sehingga diperoleh ekstrak metanol. Alat dan bahan serta teknik analisis Alat: aerator, cawan porselin, chamber, gelas erlenmeyer (Pyrex), gelas ukur, kompor listrik (Maspion), lampu UV 254/ 366 nm, mikropipet (Socorex), neraca analitik (Precisa), oven (Memmert), pipet ukur, Rotavapor (IKA), sentrifuge (K), seperangkat alat kromatografi cair vakum, seperangkat alat maserasi, timbangan kasar (O’Hauss), vial, vortex mixer (K). Bahan : AlCl3, air laut, air suling, H2SO4 P, FeCl3, kloroform, lempeng silika gel F254 (E.Merck), metanol, n-heksan, ragi, bandotan (Ageratum conyzoides L), silika gel 60 GF254 (E.Merck), vanilin (E.Merck) dan pereaksi semprot KLT. Teknik analisis Teknik analisis dilakukan dengan cara KLT dan diuji toksisitasnya dengan metode Brine Shrimp Lethality Test. Sebanyak 30 mg ekstrak metanol dan n-heksan herba bandotan dilarutkan dalam pelarut kloroform-metanol (1:1) dan ekstrak n-heksan di-larutkan dalam kloroform masingmasing sebanyak 3 ml sehingga diperoleh konsentrasi 10 mg/ml se-bagai larutan stok. Dari larutan stok tersebut di-pipet ke dalam vial masing-masing 5 μl, 50 μl dan 500 μl dengan menggunakan mikropipet. Karena volume akhir vial 5 ml maka diperoleh konsentrasi 10, 100 dan 1000 μg/ml. Pelarut dibiarkan meng-uap sampai kering dan tidak berbau pelarut lagi. Untuk kontrol negatif dilakukan dengan memasuk-kan pelarut saja dengan volume 500 μl. Masing-masing vial yang telah berisi larutan sampel dan kontrol negatif ditambah air laut sebanyak 2 ml. Sepuluh ekor larva Artemia dimasuk-kan secara acak ke dalam vial dan dicukupkan air laut sampai volume 5 ml. Masing-masing vial di-tambahkan 1 tetes suspensi ragi (3 mg/5 ml) seba-gai sumber makanan. Setelah 24 jam jumlah larva yang mati dihitung. Pengujian dengan cara yang sama dilakukan pula untuk hasil fraksinasi tetapi dengan menggunakan konsentrasi yang lebih rendah. Teknik KLT Fraksi dengan LC50 paling rendah (Fraksi B2) ditotolkan pada lempeng KLT, lalu dielusi de-ngan n-heksan-etilasetat (6:1), kromatogram dilihat pada sinar UV 254 nm dan 366 nm, kemudian di-semprot dengan beberapa jenis pereaksi KLT Teknik BST Ekstrak n-heksan dan metanol diuji toksis-itasnya terhadap Artemia salina L dengan meng-gunakan konsentrasi 10, 100 dan 1000 μg/ml. Hal ini dimaksudkan untuk melihat Mia Hentiana [2014] variasi respon yang diberikan. Bila LC50 di bawah 1000 μg/ml dinyata-kan toksik dan di atas 1000 μg/ml dinyatakan tidak toksik. Kontrol negatif dilakukan untuk melihat apakah respon kematian hewan uji benar-benar berasal dari sampel dan bukan disebabkan oleh pelarut yang digunakan. Hasil uji toksisitas ekstrak n-heksan dan metanol herba bandotan dengan metode BST 4. Hasil 1.Ekstrak n-heksan herba bandotan (Ageratum conyzoides L) memiliki efek toksik yang lebih besar terhadap Artemia salina Leach, dengan nilai LC50 89,33 μg/ml, dibandingkan dengan ekstrak metanol. 2.Nilai LC50 fraksi B2 = 19,906 μg/ml 3.Senyawa yang aktif terhadap Artemia salina Leach. adalah senyawa golongan triterpenoid dan flavonoid. D. Antioxidant and cytotoxic activities of Ageratum conyzoides stems 1. Tempat penelitian Bangladesh (2012) 2. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan dan sitotoksik ekstrak batang metanol A. conyzoides L. 3. Cara pemisahan Pemisahan dilakukan dengan teknik ekstraksi dari batang tumbuhan babadotan. Sebelumya batang tersebut di bersihkan dengan cara dicuci kemudian dikeringkan pada suhu 45 ° C selama 36 jam dalam oven listrik. Kemudian digiling dan diperoleh serbuknya sebanyak 1 kg. Lalu direndam dalam metanol selama 7 hari. Setelah itu disaring dengan kain katun Filtrat dipekatkan sampai kering , dalam vakum pada suhu 40°C untuk membuat ekstrak metanol ( 390g ) warna merah kecoklatan. 4. Alat dan bahan serta teknik analisis Alat: Oven listrik, penggiling mekanik, penyaringan, vakum Bahan: Batang tanaman Ageratum Conyzoides L., Metanol Teknik Analisis: Mia Hentiana [2014] Aktivitas antioksidan ekstrak dievaluasi dengan metode phosphomolybdenum. Uji ini didasarkan pada pengurangan Mo (VI) -Mo (V) dengan ekstrak dan pembentukan selanjutnya dari fosfat hijau / Mo (V) pada pH asam. 5. Hasil Dari penelitian ini dihasiklan ekstrak metanol Ageratum Conyzoides L. Sebagai antioksidan yang cukup baik dan memiliki potensi toksititas. E. ISOLATION AND STRUCTURAL ELUCIDATION OF TOXIC PYRROLIZIDINE ALKALOIDS FROM AGERATUM CONYZOIDES COLLECTED FROM VOD DISEASE AFFECTED COMMUNITIES 1. Tempat penelitian Penelitian dilakukan di Ethiopia 2. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi Pirrolizidine Alkaloid dari Ageratum conyzoides L. 3. Cara Pemisahan Cara pemisahan dilakukan dengan cara ekstraksi Soxhlet 12 kali untuk 24 jam dengan metanol (1000ml) untuk setiap Soxhlet ekstraksi. Setelah ekstraksi, metanol disingkirkan dengan rotarievaporator. Residu berminyak dipecah pada larutan asam klorida (2M, 100ml). Campuran ini dipisahkan dengan corong, dan lapisan organik dibuang. Larutan asam dicuci dengan kloroform 3x100ml untuk menghapus tambahan konstituen bukan alkaloid dan solut yang disesuaikan pada pH = 2, untuk mengurangi N-oksida dan menghasilkan alkaloid tersier menggunakan pH meter diikuti oleh pengadukan dengan seng berlebih (20g) pada suhu kamar dan kemudian disaring. Solut yang basified menggunakan 25% NH4OH sampai pH = 9,5. Basification diperoleh dengan pengadukan bertahap. Setelah proses basification, solut dihangatkan untuk setiap liter fraksi dasar yang diambil dengan 10x100ml kloroform. Lapisan organik digabung, dikeringkan dengan natrium anhidrat NaOH dan konsentrat untuk dikeringkan di bawah vakum menggunakan rotavapor (40oC) diperoleh campuran alkaloid fraksi coklat residu berminyak. Residu yang dilarutkan dalam kloroform anhidrat (2ml) untuk analisis lebih lanjut. 4. Alat dan bahan serta teknik analisis Alat: Mia Hentiana [2014] TLC dan GC-MS Bahan yang digunakan yaitu daun, batang, dan biji Ageratum conyzoides L. Teknik analisis Setelah mendapatka alkaloid selanjutnya diuji dengan GCMS, menggunakan gas pembawa Helium, lengkap dengan jaringan 6890N sistem GC, 5975 inert massa selektif detektor, 7683B seri autosampler injeksi (10 μl dalam ukuran), G1701DA GC/MSD ChemStationand HP5MS kolom (27m panjang x diameter dalam 0.25mm x ketebalan film μm 0,25) dan dilapisi dengan 5% fenil metil polysiloxane. Sampel (1 μl) disuntikkan melalui autosampler dan dianalisis dengan Kolom HP5MS. Suhu Oven diprogram sebagai berikut: 120 ° C untuk 3 menit. maka 6 ° C/menit sampai 280 ° C selama 10 menit dan 3 menit. Lambat dalam pelarut dengan elusi isokratik. Spektrum-massa transfer baris pada temperatur 280°C. Gas pembawa adalah helium (1 ml/menit); Splitless. Injector, quadruple dan detektor suhu masing-masing 120, 150 dan 250 ° C,. Spektrum massa tercatat dalam ionisasi elektron Mode (EI) di 70 eV dengan pemindaian dari 100 untuk 500 amu 0.5 menit dan sumber massa dimulai pada 230 hingga 250 ° C. Identifikasi senyawa didasarkan pada waktu retensi (Rt), MS Library dan dengan perbandingan dengan data spektral dalam literatur. Integrasi puncak ini dilakukan dengan menggunakan Hewlett Packard Chem Stasiun perangkat lunak (versi G1701BA B.01.00). 5. Hasil Keberadaan Pirrolizidine Alkaloid teridentifikasi dengan reaksi dihidrogenasi dengan pemberian warna magenta. 6. Mia Hentiana [2014] Senyawa hasil isolasi Senyawa yang terkandung dalam daun bandotan termasuk dalam senyawa alkaloid, yaitu Pirolizidin Alkaloida. Selain itu juga mengandung saponin, flavonoid, terpenoid dan polifenol. Biosintesis dan Biogenesis Pirolizidin Alkaloida Pirrolizidin dibiosintesis dari asam amino seperti ornitin. Dalam sintesis pirolizidin alkaloid pada tanaman, asam-asam amino di dekarboksilasi menjadi amina-amina yang kemudian diubah menjadi aldehid melalui oksidasi amina,kondensasi aldehid dan golongan amina menghasilkan rantai heterosiklik. Seperti pada gambar : Mia Hentiana [2014] Mia Hentiana [2014] Biogen76tesis Pirolizidine Alkaloida Mia Hentiana [2014] Bioaktivitas Pirolizidin Alkaloida  Antioksidan  Antibakteri  Antikanker  Antitumor Saran pemanfaatan Ageratum conyzoides L Berdasarkan studi literatur tentang khasiat dan senyawa yang terkandung dalam daun Ageratum conyzoides L. Menurut saya sebaiknya dari ekstraknya dibuat obat tetes. Mia Hentiana [2014] Referensi Abdelrahim Hussien,Taha et.al. A new natural pyrrolone from the Egyptian Ageratum species. Vol. 1 .2010. Desta,Tesfay et al. Isolation And Structural Elucidation Of Toxic Pyrrolizidine Alkaloids From Ageratum Conyzoides Collected From Vod Disease Affected Communities.03 Juni 2014. Estika,Citra.(2012).Presentasi Alkaloida.[Online].Tersedia: [Diakses 12 November 2014]. https://www.scribd.com. Hasibuan, Popy dkk.Efektivitas Ekstrak Babadotan (Ageratum Conyzoides L.)Terhadap Tingkat Kematian Larva Spodoptera litura F. Volume 1, Nomor 1 Desember 2007. Kagehisa Laboratories.(2014).Biosynthesis of alkaloids derived from ornithine, lysine and nicotinic acid. .[Online].Tersedia: https://www. KEGG PATHWAY Biosynthesis of alkaloids derived from ornithine, lysine and nicotinic acid - Reference pathway.html. [Diakses 04 Desember 2014]. Nasrin, Fatema. Antioxidant and cytotoxic activities of Ageratum conyzoides stems. Januari 2013. Novita, Andi. Potensi Daun Bandotan (Ageratum Conyzoides L.) Sebagai Bahan Curing Alamiah Telur Ayam Ras . Vol. 8 No. 1, Februari 2014. Rahim,Abdul,dkk. Skrining Toksisitas Ekstrak Herba Bandotan (Ageratum Conyzoides L) dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test. Vol. 16, No.2 – Juli 2012 . Tim BPOM RI.2008.Acuan Sediaan Herbal. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan. Mia Hentiana [2014] Klasifikasi Kingdom: Plantae (Tumbuhan) SuperDivisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas: Asteridae Ordo: Asterales Famili: Asteraceae Genus: Ageratum Spesies: Ageratum conyzoides L. Penyebaran di dunia meliputi Afrika, Asia Tenggara, Australia, serta Amerika. Diambil dari Tasikmalaya, pada 02 Oktober 2014. Pembuatan Herbarium pada 15 November 2014. Oleh: Mia Hentiana Daun Babadotan (Sunda) 1211208051 Mia Hentiana [2014]

Judul: Kajian Jurnal Senyawa Alkaloid

Oleh: Mia Sutadiharja


Ikuti kami