14-jurnal Ld Hasan.docx

Oleh Zubari Sulaiman

424,2 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip 14-jurnal Ld Hasan.docx

HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 PENINGKATAN PRETASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL KOOPERATIF STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DEVISION) DENGAN PERMAINAN KUIS MATERI POKOK LUAS BANGUN PADA KELAS VI SD NEGERI 4 MAROBO1 Oleh LA ODE HASAN2 Guru Sekolah Dasar Negeri 4 Marobo ABSTRAK Tujuan utama penelitian ini untuk meningkatkan kualitas dan hasil belajar sisiwa melalui peerapan model Kooperatif tipe STAD pada siswa SD Negeri 8 Katobu Kelas VI. Pengambilan data menggunakan metode observasi, angket, tes tulis dan perbuatan, serta dokumentasi. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus. Setiap siklus dilakukan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan secara berurutan berupa: pembelajaran klasikal, pembelajaran kelompok membuat soal dan jawaban model STAD, dan kuis. Hasil penelitian akhir dari penelitian ini menunjukan bahwa kualitas hasil belajar siswa meningkat dan telah memenuhi indikator kinerja penelitian, hal ini dapat dilihat pada hasil tes pada siklus akhir yaitu siklus III bahwa hasil proses Pembelajaran kelompok meningkat menjadi 97,61%, dan proses kegiatan kuis meningkat menjadi 92,77%. Sedangkan hasil belajar mencapai rerata 79,61% dengan 100% siswa mencapai nilai 60 - >60. Dengan demikian semua target yang ditetapkan telah tercapai. Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan Pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat, meningkatkan proses pembelajaran, dan hasil belajar. Kata Kunci: Kooperatif Tipe STAD, Model, Peningkatan Hasil Belajar PENDAHULUAN Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UURI No.20 Th. 2003). Tujuan ini dituangkan dalam tujuan pembelajaran matematika yaitu melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan aktifitas kreatif, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan menyampaikan infomasi atau mengkomunikasikan gagasan. Sehingga matematika merupakan bidang ilmu yang strategis untuk membentuk generasi yang siap menghadapi era global yang penuh dengan kompetitif tersebut. Matematika sebagai disiplin ilmu turut andil dalam pengembangan dunia teknologi yang kini telah mencapai puncak kecanggihan dalam mengisi berbagai dimensi kebutuhan hidup manusia. Era global yang ditandai dengan kemajuan teknologi informatika, industri otomotif, perbankan, dan dunia bisnis lainnya, menjadi bukti nyata adanya peran matematika dalam revolusi teknologi. 1 2 Disadur dari hasil penelitian 2013 Guru SD Negeri 4 Marobo Kab. Muna 98 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Melihat betapa besar peran matematika dalam kehidupan manusia,bahkan masa depan suatu bangsa, maka sebagai guru di Sekolah Dasar yang mengajarkan dasar-dasar matematika merasa terpanggil untuk senantiasa berusaha meningkatkan pembelajaran dan hasil belajar matematika. Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar matematika selalu berada di tingkat bawah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan harian matematika yang pertama pada kompetensi dasar operasi hitung hanya mencapai rerata 57,8 dan hanya 50% siswa mencapai nilai 60 atau >60 . Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 60 atau >60. Sedangkan operasi hitung merupakan dasar bagi kompetensi dasar berikutnya seperti menghitung luas bangun, volum bangun, dan sebagainya. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatannya jenuh mengikuti pelajaran matematika. Pembelajaran sehari-hari menggunakan metode ceramah dan latihan-latihan soal secara individual, dan tidak ada interaksi antar siswa yang pandai, sedang, dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar matematika. Sering jika diberi tugas tidak selesai tepat waktu, dan lebih suka bermain dan mengobrol,alasannya pelajaran matematika memusingkan dan lain-lain. Menyikapi kondisi tersebut penulis sebagai guru Kelas VI yang harus menyiapkan peserta didik menuju ujian akhir sekolah dan mampu bersaing dalam mengikuti tes masuk SMP Negeri, selalu berusaha memperbaiki pembelajaran dengan mengkondisikan pembelajaran yang memudahkan,mengasyikkan, dan menyenangkan bagi siswa. Usaha tersebut akan diwujudkan dalam suatu penelitian tindakan kelas yang akan menerapkan pembelajaran STAD dan bermain kuis. Model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Devision)adalah salah satu pembelajaran kooperatif yang dikembangkan berdasarkan teori belajar Kognitif-Konstruktivis yang diyakini oleh pencetusnya Vygotsky memiliki keunggulan yaitu fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu. (Depag RI, 2004). STAD juga memiliki keunggulan bahwa siswa yang dikelompokkan secara heterogen berdasarkan kemampuan siswa terhadap matematika akan terjadi interaksi yang positif dalam menyelesaikan masalah, seperti tutor sebaya dan lain-lain. Jika sebelumnya tidak ada interaksi antar individu, maka dalam STAD siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sampai semua anggota kelompok dapat menyelesaikan masalah. Kelompok dikatakan tidak selesai jika ada anggotanya belum selesai. Bermain kuis adalah permainan yang mengasyikkan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Untuk itu pembelajaran dilanjutkan dengan bermain kuis antar kelompok agar matematika yang dianggap membosankan akan berubah menjadi menyenangkan, mengasyikkan, dan akhirnya semangat belajar siswa meningkat dan hasil belajar juga meningkat. Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa siswa sepertinya jenuh mengikuti pelajaran matematika. Hal ini terbukti mereka selalu mengeluh apabila diajak belajar matematika. Alasannya matematika memusingkan kepala dan lain-lain. Tugas yang diberikan secara individu mengakibatkan siswa yang kurang tidak bisa bekerja sama dengan siswa yang pandai,akibatnya sebagian besar siswa tidak berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu. Kondisi tersebut menimbulkan hasil matematika selalu berada pada peringkat bawah dibanding pelajaran lainnya. Rata-rata hasil belajar hanya mencapai angka 5 sampai 6 saja. 99 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Permasalahan inilah yang mendorong penulis untuk memperbaiki pembelajaran melalui pembelajaran STAD (Student Teams-AchievementDivisions) dan bermain kuis dengan tujuan agar pembelajaran tidak membosankan tetapi sebaliknya dapat tercipta pembelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan. Di samping itu dengan pengelolaan kelas model STAD diharapkan terjadi interaksi positif antara siswa yang kemampuan matematikanya heterogen yang akhirnya nanti dapat dicapai hasil belajar yang lebih baik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani,2005). Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Yatim Riyanto, 2001) merupakan penelitian yang bersiklus, yang terdiri dari rencana, aksi, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar Tahapan Per Siklus Rencana Refleksi Refleksi Aksi Refleksi Observasi Observasi dst Penelitian tindakan kelas ini menerapkan model pembelajarankooperatif STAD (Student Team Achievement Devisions) dengan variasibermain kuis. Pembelajaran dengan kooperatif STAD memiliki keunggulan yang dapat mengatasi masalah yang ada. Karena dalam kooperatif STAD akan terjadi meningkatnya fungsi mental melalui percakapan dan interaksi lainnya, serta kerjasama antar siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen. Begitu pula bermain kuis diyakini memiliki keunggulan menciptakan suasana pembelajaran yang mengasyikkan, karena berupa permainan tanya jawab antar kelompok. Dalam situasi demikian diharapkan siswa tidak akan mengantuk dan bosan belajar matematika. Kegiatan bertanya dan menjawab adalah bentuk kegiatan berfikir, sedangkan belajar juga melalu proses berfikir. Penelitian berlangsung di Kelas VI SD Negeri 8 Katobu. Sedangkan waktu penelitian diadakan pada semester 2 tahun pelajaran 2012/2013. Jumlah murid SD Negeri 8 Katobu tahun pelajaran 2012/2013 adalah 168 siswa dan jumlah Kelas VI kelas, jumlah pengajar terdiri dari PNS dan guru Bantu/guru honorer, penjaga sekolah honorer 1 orang. Letak lokasi sekolah cukup strategis karena terletak ditepi jalan raya 100 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 yang mudah dijangkau oleh kendaraan. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dari 4 Januari 2013 sampai dengan 28 Februari 2013. Penelitian tindakan kelas ini mengangkat mata pelajaran matematikasebagai obyek penelitian. Peneliti mengangkat mata pelajaran matematikakarena matematika memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hariterutama dalam mendukung kemajuan teknologi dan segala aspekkehidupan yang menyangkut kehidupan di zaman modern sekarang ini. Cara pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapainstrument yaitu: (1) Tes, digunakan untuk mengumpulkan data hasil belajar. (2) Angket, digunakan untuk mengumpulkan kegiatan pembelajaran klasikal. (3) Angket, digunakan untuk mengumpulkan data kegiatan pembelajarankelompok. (4) Angket, untuk mengumpulkan data kegiatan pembelajaran kuis, baikpenjawab, penanya maupun pengamat. Kegiatan analisis data dilakukan untuk menganalisis data di atasseperti tes hasil belajar, hasil angket dalam berbagai kegiatan pembelajaranberdasarkan indikator keberhasilan yang ditetapkan. Sedangkan indikator keberhasilan proses pembelajaran ditetapkansebagai berikut : (1) Data aktifitas pembelajaran klasikal diharapkan dapat mencapai nilai rerata60% s.d 70%. (2) Tercapainya aktifitas belajar melalui kooperatif STAD dengan rerata 70-80%. (3) Tercapainya nilai aktifitas belajar melalui KUIS dengan rerata 7080%. (4) Tercapainya nilai hasil belajar 100% siswa memperoleh 60->60. HASIL PENELITIAN Pelaksanaan penelitian ini telah dilaksanakan dengan jumlah siklus sebanyak 3 siklus. Dilaksanakan dalam 3 siklus karena penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil dan kualitas belajar. Indikator keberhasilan tersebut telah ditetapkan jika siswa yang diajar telah mencapai KKM. Sehingga dari proses PTK yang telah dilakukan menunjukkan bahwa setelah memberikan perlakuan maka dari data yang diperoleh nantia setelah siklus ketiga baru mencapai indikator keberhasilan sebagai peneliti sekaligus guru yang memberikan perlakuan di kelas. Dari data yang diperoleh pada siklus I menunjukan hasil belajar belum mencapai ketuntasan. Berdasarkan perolehan nilai maka jumlah siswa yang hadir 24 siswa. 16 siswa telah mencapai ketuntasan belajar atau 66,66% telah mencapai nilai 60 - >60. Masih ada 8 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar atau 33,33% masih mendapat nilai < 60. Maka target hasil belajar pada siklus I belum dapat tercapai. Walaupun ada kenaikan rerata dari kondisi semula yaitu dari 57,80 dan hanya 50% siswayang mencapai ketuntasan belajar. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan perbaikan pada siklus berikutnya sesuai dengan masukan-masukan baik dari catatan observasi pengamat maupun dari peneliti sendiri. Dari catatan tersebutlah kemudian diputuskan untuk dilanjutkan pada siklus berikutnya. Pada siklus ke-2 hasilnya menunjukkan bahwa angka rerata dari belajar kelompok sebesar 92,85%. Sedangkan pada siklus I belajar kelompok telah menunjukkan rerata 91,66%. Maka terdapat peningkatan yang sangat tipis yaitu 2,19% dari siklus I. Hal positif yang perlu dijelaskan adalah bahwa semua siswa bekerja menyelesaikan tugas dengan senang tanpa ada gangguan teman-temannya yang biasanya suka mengganggu karena mereka yang suka mengganggu pun juga asyik bekerja dengan senang. Munculnya situasi positif tersebut karena adanya alat peraga potongan kertas dengan berbagai macam bangun. Namun demikian hasil 101 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 tersebut juga menunjukan belum mencapai target penelitian sebagaimana yang telah ditetapkan. Pada siklus ke-3 data hasil belajar siswa yang mencapai rerata79,61% dengan ketuntasan belajar 100%. Dengan demikian indicator keberhasilan telah dicapai yaitu 100% siswa mengalami ketuntasan belajar. Namun demikian masih ada dua soal yaitu soal nomor 7 dannomor 9 masih ada 15 siswa yang belum bisa menyelesaikan dengan benar. Karena ada >50% siswa yang belum menguasai maka perlu ditindaklanjuti dengan penjelasan ulang secara klasikal. Pembahasan Dalam rangka meningkatkan hasil belajar harus melalui peningkatan proses pembelajaran. Peningkatan proses pembelajaran dilakukan melalui tindakan kelas dan saat ini lebih dikenal dengan penelitian tindakan kelas.Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa (Suharsimi Arikunto,2006). Setiap guru tidak pernah lepas dari permasalahan pembelajaran dikelasnya. Untuk mengatasinya diperlukan ide-ide untuk mengatasinya.Namun dalam menentukan suatu strategi pembelajaran guru perlu ingatpendapat yang mengatakan bahwa, seseorang mampu mengingat 90% dariapa yang ia lakukan (De Porter Bobbi, 2006). Jadi dalam menyusun strategi pembelajaran guru harus berfikir apakah yang harus siswa lakukan agar mereka dapat menguasai kompetensi dasar yang dikehendaki. Dalam penelitian ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan siswa dan bagaimana pengaruh kegiatan tersebut terhadap peningkatan proses pembelajaran maupun hasil belajar siswa. Untuk lebih jelasnya dapat diikuti pembahasan berikut ini. Penelitian ini berangkat dari permasalahan di Kelas VI SD Negeri 8 Katobu, yaitu siswa tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran Matematika dan berakibat hasil belajar tidak mencapai ketuntasan belajar.Kondisi awal hasil belajar yang dicapai hanya 50% siswa yang tuntas mencapai nilai 60 - >60 dengan rerata 57,8. Setelah dilakukan tindakan olehguru yang dilakukan oleh siswa berupa belajar klasikal dan kelompok model kooperatif STAD yang dilakukan melalui tiga siklus dan hasil pengamatan menunjukkan peningkatan dari siklus ke siklus yang dapat ditunjukkan oleh gambar berikut ini : Siklus 100 80 Siklus 60 40 20 0 Siklus I Siklus II Siklus III 102 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Gambar 1 Peningkatan Pembelajaran Klasikal Siklus I,II dan III Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran klasikal dari siklus I mencapai 54,22%, siklus II mencapai 66,15%, dan siklusIII mencapai 84,61%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. Untuk mengetahui gambaran proses pembelajaran melalui kooperatif STAD dapat dilihat gambar berikut ini : Siklus 98 97 96 95 94 93 92 91 90 89 88 Siklus Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 2 Peningkatan Pembelajaran Kooperatif STAD siklus I,II dan III Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran kooperatif STAD dari siklus I mencapai 91,66%, siklus II mencapai 92,85%,dan siklus III mencapai 97,91%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika. Dari dua gambar tersebut membuktikan bahwa belajar klasikal dan Kooperatif STAD dapat meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika. Maka dari rumusan masalah pertama yang diajukan yaitu:Bagaimana pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat ? dapat terjawab dengandata di atas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan Model Kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangunlebih bersemangat. Kemudian bagaimana pengaruh kegiatan kuis terhadap peningkatan proses pembelajaran matematika tentang luas bangun, dapat dilihat melalui gambar berikut ini : 103 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Siklus 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Siklus Siklus I Siklus II Siklus III Gambar 3 Peningkatan Pembelajaran melalui KUIS siklus I,II dan III Gambar di atas menunjukkan data hasil pengamatan pembelajaran melalui kegiatan kuis dari siklus I mencapai 74,82%, siklus II mencapai86,16%, dan siklus III mencapai 92,77%. Peningkatan tersebut menunjukkan peningkatan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika melalui kuis. Dari gambar grafik tersebut membuktikan bahwabelajar melalui Kuis dapat meningkatkan proses pembelajaran dan meningkatkan semangat belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran Matematika. Maka dari rumusan masalah kedua yang diajukan yaitu:Bagaimanakah bermain Kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentangluas bangun lebih bersemangat ? dapat terjawab dengan data di atas. Sehinggadapat disimpulkan bahwa belajar matematika dengan Bermain Kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat. Dengan terjawabnya kedua rumusan masalah yang diajukan maka kedua hipotesis tindakan yang diajukan pun dapat diterima. Sehingga dapatdisimpulkan bahwa baik secara teori maupun pengalaman di lapangan belajar melalui Model Kooperatif STAD dan Permainan Kuis dapat membantu memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika. Masalahpembelajaran tersebut dapat berupa masalah hasil belajar menurun, motivasi maupun semangat belajar yang kurang. Sebagai dampak positif dari peningkatan proses pembelajaran, adalah meningkatnya hasil belajar hingga mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan. Peningkatan hasil belajar tersebut dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini : 104 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 100 90 80 70 60 Rerata Tuntas 50 40 30 20 10 0 Silus I Siklus II Siklus III Gambar 4 Peningkatan Rerata dan Peningkatan Hasil Belajar siklus I,II dan III Grafik tersebut menunjukkan peningkatan rerata hasil belajar yang diikuti oleh ketuntasan belajar. Siklus I dicapai rerata 65 dan siswa tuntasbelajar 66,66%, Siklus II dicapai rerata 72,3 dan siswa tuntas belajar 76,92%,Siklus III dicapai rerata 79,61 dan siswa tuntas belajar 100%, Karena ketuntasan belajar telah mencapai 100% mendapat nilai 60 - > 60 maka target yang ditentukan telah dicapai. Perkembangan kemajuan yang dicapai dalam proses pembelajaran dan hasil belajar dalam penelitian tindakan kelas ini mulai dari siklus I sampai dengan siklus III dapat disajikan dalam tabel berikut ini: Tabel Rekapitulasi Peningkatan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar No. Proses Pembelajaran/Hasil Belajar Kondisi Awal 1 Klasikal - 54,22% 66,15% 84,61% 11,93/18,46 2 Kooperatif STAD - 91,66% 92,85% 97,91% 1,19/5,06 3 Kuis - 74,82% 86,16% 92,77% 11,34/6,61 4 Hasil Belajar (R*) 57,80 65,00 72,30 79,61 7,2/7,3/7,31 5 Ketuntasan Belajar 50% 66,66% 76,92% 100% 16,66/10,26/23,0 8 Kemajuan Yang dicapai Siklus Siklus I II Siklus III Kenaikan SISII-SIII**) Rekapitulasi peningkatan proses pembelajaran dan hasil belajar padatabel tersebut dapat ditunjukkan kemajuan-kemajuan yang dicapai dari seluruhkegiatan mulai dari siklus I, siklus II, dan siklus III. Pada pembelajaranklasikal selain mengalami peningkatan dari siklus ke siklus, kenaikan itusendiri juga mengalami peningkatan yaitu dari 11,93 menjadi 18,46. Begitujuga pada kegiatan kelompok kooperatif STAD, dari kenaikan 1,19 menjadi5,06. 105 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Pembelajaran kuis mengalami peningkatan dari siklus ke siklus,namun kenaikannya turun dari 11,34 menjadi 6,61. Hasil belajar terjadi kenaikan dari siklus ke siklus dan terjadi peningkatan kemajuan dari kondisi semula ke siklus I adalah 7,2, dari siklus Ike siklus II, 7,3 dan dari siklus II ke siklus III, 7,31. Peningkatan kenaikan memang sangat tipis, namun karena kompetensi dasar yang harus dicapai juga semakin sulit maka terjadinya kenaikan tersebut juga cukup berarti. KESIMPULAN Hasil analisis data dan pembahasan dapat menunjukkan beberapa kemajuan yang dicapai selama pembelajaran baik melalui pembelajaran klasikal, model kooperatif STAD, bermain kuis, maupun hasil belajar. Maka hasil penelitian tindakan kelas ini dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: pertama, Pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat, meningkatkan proses pembelajaran, dan hasil belajar. Kedua, Bermain kuis dapat mendorong siswa Untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat, meningkatkan proses pembelajaran, dan hasil belajar. Ketiga, Beberapa temuan lain yang diperoleh adalah munculnya kreatifitas siswa dalam membuat soal dan jawabannya, banyaknya pertanyaan yang diajukan siswa, adanya tanggung jawab menyelesaikan tugas, hilangnya keluhan bosan, bahkan siswa lebih senang menyelesaikan tugas dari pada beristirahat. DAFTAR PUSTAKA Arikunto,Suharsimi & Suharjono & Supardi. 2006, Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Bumi Aksara. Departemen Agama RI. 2001. Bahan Penataran (Modul Metodologi PendidikanAgama Islam) Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan KelembagaanAgama Islam. Departemen Agama RI. 2004. Strategi Pembelajaran Matematika untuk TingkatMadrasah Aliyah. Jakarta: Badan Litbang Agama dan DiklatKeagamaan Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan. De Porter, Bobbi. 2001. Quantum Teaching, Bandung: Kaifa. Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis. 2005. Kurikulum 2004 Standar KompetensiKelas VI Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Dinas PendidikanKabupaten Ciamis Hasibuan & Mujiono. 2004. Prose.s Belajar Mengajar. Bandung: RemajaRosdakarya. Nur, Mohammad. 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: PPS IKIPSurabaya. Nur, Mohammad. 2003. Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pembelajaran sebagai Salah Satu Prasyarat Utama Pengimplementasian KebijakankebijakanInovatif Depdiknas dalam Merespon Tuntutan danTantangan Masa Depan. Makalah disajikan dalam Wisuda VII Pascasarjana Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi BuanaSurabaya, 20 Desember 2003.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional. 2003. Jakarta: Cemerlang. 106 HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 Wardani, I.G.A.K. 2005. Penelitian Tindakan terbukaDepartemen Pendidikan Nasional. Kelas. Jakarta: Universitas 107

Judul: 14-jurnal Ld Hasan.docx

Oleh: Zubari Sulaiman


Ikuti kami