Jurnal Dermatosis Dwi Mustika

Oleh Dwi Mustika Trismariyani

296,5 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Dermatosis Dwi Mustika

Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember Risk Factors of Dermatosis on Garbage Officers at the Integrated Waste Managemen Site (IWMS) of Jember Regency Environment Office Dwi Mustika Trismariyani, Isa Ma’rufi, Reny Indrayani Bagian Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Keselamatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember Jalan Kalimantan No.37, Kampus Tegalboto, Sumbersari, Jember, Jawa Timur 68121 tdwimustika@gmail.com Abstract Dermatosis is a skin disease that arises because it is caused by a work relationship. Dermatosis can occur when a worker is working to do a job or is caused by factors in the work environment. Risk factors can cause dermatosis in garbage workers at the Environmental Service TPST in Jember Regency. The variables of this study are individual characteristics (age, history of skin disease, history of allergies, years of service), behavioral factors (personal hygiene, use of PPE, length of contact) and environmental factors (temperature and humidity). The purpose of this study was to analyze the risk factors for dermatosis in waste workers at the Environmental Service Agency TPST in Jember Regency. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The technique of collecting data is done by interviewing, observing, and measuring with a thermohygrometer measuring instrument. The results showed that the working period had a relationship with the incidence of dermatosis with a value of 0,000 <0,05, personal hygiene had a relationship with the incidence of dermatosis with a value of 0,012 <0,05, the behavior of using PPE was related to the incidence of dermatosis with a value of 0,000 <0,05 contact duration has a relationship with the incidence of dermatosis with a value of 0,000 <0,05. The conclusion of this study is that there is a relationship between tenure, personal hygiene, behavior of using PPE and length of contact with the incidence of dermatosis in waste workers at the Environmental Service Agency TPST in Jember Regency. Keywords: Dermatosis, Risk Factor, IWMS Abstrak Dermatosis adalah penyakit kulit yang timbul karena disebabkan oleh hubungan kerja. Dermatosis dapat terjadi saat pekerja sedang bekerja melakukan suatu pekerjaan atau disebabkan oleh faktor-faktor di lingkungan kerja. Faktor risiko dapat menimbulkan dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember. Variabel penelitian ini yaitu karakteristik individu (usia, riwayat penyakit kulit, riwayat alergi, masa kerja), faktor perilaku (hygiene perseorangan, penggunaan APD, lama kontak) dan faktor lingkungan (suhu dan kelembaban). Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan pengukuran dengan alat ukur thermohygrometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja memiliki hubungan dengan kejadian dermatosis dengan pvalue 0,000 < 0,05, hygiene perseorangan memiliki hubungan dengan kejadian dermatosis dengan pvalue 0,012 < 0,05, perilaku penggunaan APD memiliki hubungan dengan kejadian dermatosis dengan pvalue 0,000 < 0,05, lama kontak memiliki hubungan dengan kejadian dermatosis dengan pvalue 0,000 < 0,05. Kesimpulan penelitian ini terdapat hubungan antara masa kerja, hygiene perseorangan, perilaku penggunaan APD dan lama kontak dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Kata kunci : Dermatosis, faktor risiko, TPST Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Pendahuluan Melakukan suatu pekerjaan yang berada di manapun tempatnya selalu memiliki potensi risiko terhadap terjangkitnya dan atau timbulnya penyakit akibat kerja (PAK). Persentase pada dermatosis akibat kerja dari seluruh PAK menduduki pada porsi tertinggi yaitu sekitar 50%-60%, penyakit ini pada tempatnya mendapatkan perhatian yang cukup besar. Selain memiliki prevalensi yang tinggi, dermatosis akibat kerja yang biasanya terdapat pada lengan, tangan dan jari sangat mengganggu penderita untuk melakukan pekerjaannya sehingga sangat menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap produktivitas kerja [1]. Faktor-faktor penyebab PAK antara lain biologi, kimia, fisik, ergonomi dan psikologi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember tahun 2015, kejadian dermatitis kontak menduduki peringkat pertama dari semua penyakit kulit yang terjadi di Kabupaten Jember dengan persentase 50,69% dari total semua penyakit kulit yang terjadi pada tahun 2015 [2]. Gambaran klinisnya yaitu berupa infeksi atau peradangan kulit polimorfik yang memiliki ciri-ciri yang luas meliputi : rasa gatal, kemerahan, skuama, vesikel dan krusta papulovesikel. Manifestasi klinis yang muncul pada penderita bervariasi tergantung pada faktor eksternal (misalnya tekanan mekanik, suhu dan kelembaban) dan faktor predisposisi individu (misalnya jenis kelamin dan riwayat penyakit) [3]. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prognosis jangka panjang dermatitis kontak akibat kerja sangat buruk, meskipun usaha pengobatan yang terbaik dan mengganti jenis pekerjaan telah dilakukan. Sekitar 25% pekerja dapat sembuh total, 50% lainnya mengalami perbaikan tetapi masih mengalami dermatitis secara periodik, 25% sisanya mengalami dermatitis yang menetap atau bahkan mengalami perburukan. Faktor-faktor yang dapat memperbaiki prognosis bergantung pada pengobatan yang tepat, memberikan edukasi dan menghindarkan bahan-bahan yang menjadi penyebab dermatitis kontak akibat kerja [4]. Kabupaten Jember memiliki sarana tempat pembuangan sampah yakni Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari. Terdapat sebanyak 20 lokasi pengambilan sampah dalam kota oleh dump truck yang disebut dengan istilah tempat pengolahan sampah terpadu (TPST). Petugas sampah merupakan pekerja Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 yang bergerak di sektor informal yang setiap harinya senantiasa bergelut dengan sampah. Dermatosis dapat terjadi pada petugas sampah karena sikap mereka yang kurang memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) ketika beraktivitas dengan pekerjaannya. Keberadaan TPST sebagai lokasi pengumpulan sampah dari berbagai wilayah menimbulkan masalah kesehatan tersendiri bagi petugas sampah. Hal ini karena pekerjaan yang digeluti memiliki potensi yang cukup beresiko tinggi terhadap penyakit kulit. Dampaknya di masa mendatang akan lebih banyak menimbulkan risiko penyakit kulit yang membahayakan seperti yang ditemukan pada responden yang dicurigai menderita Morbus Hansen. Berdasarkan UU RI 2008 menjelaskan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Di sisi lain, pola konsumsi yang ada di masyarakat juga memberikan pengaruh terhadap beragamnya jenis sampah yaitu misalnya sampah kemasan yang sukar diuraikan dengan proses alami. Hal ini berpengaruh terhadap pengelolaan sampah yang dilakukan di Kabupaten Jember. Keluhan terkait penyakit kulit yang menyerang petugas sampah di Jember menunjukkan bahwa tingginya kejadian penyakit kulit akibat kerja yang saat ini banyak terjadi harus segera ditangani Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel bebas yaitu faktor karakteristik individu (usia, riwayat penyakit kulit, riwayat alergi, masa kerja), faktor perilaku (hygiene perseorangan, perilaku penggunaan APD dan lama kontak), faktor lingkungan pekerja (suhu dan kelembaban) dan variabel terikat (dermatosis). Penelitian ini dilakukan di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember yang terletak di beberapa lokasi di Kabupaten Jember, yaitu diantaranya TPST Perumnas Patrang, TPST Mastrip, TPST Karimata, TPST Manggar, TPST Kenanga, TPST Cendrawasih, TPTS Sukorejo, TPST Talangsari, TPST Muktisari, TPST Imam Bonjol, TPST Bumi Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Mangli Permai, TPST Kebonsari, dan TPST Wijaya Kusuma. Jumlah cluster yang dijadikan sampel sebanyak 13 TPST dan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sebanyak 60 orang. Seluruh data yang telah terkumpul akan diolah melalui tahap-tahap diantaranya yaitu data coding, data edit, scoring, data entry, dan data cleaning. Analisis univariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel dependen dan independen. Analisis bivariat yang dilakukan yaitu untuk mencari hubungan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent) dengan menggunakan uji stastistik yang sesuai dengan skala data yang digunakan. Penelitian ini menggunakan uji chi square dengan menggunakan derajat kepercayaan yaitu sebesar 95. Hasil Distribusi Frekuensi Karakteristik Individu Petugas Sampah Analisis univariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel dependen dan independen. Berikut tabel 1. yang menyajikan distribusi frekuensi karakteristik individu petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Individu Petugas Sampah No Variabel 1. Usia 2. 3. 4. Riwayat Penyakit Kulit Riwayat Alergi Masa Kerja Kategori Freku ensi 8 52 Perse ntase 13,3% 86,7% Total Ya Tidak 60 9 51 100% 15% 85% 0,135 Total Ya Tidak 60 5 55 100% 8,3% 91,7% 0,148 Total ≤ 14 tahun > 14 tahun Total 60 15 45 60 100% 25% 75% 100% ≤ 30 tahun > 30 tahun pvalue 0,129 Distribusi Frekuensi Faktor Perilaku Petugas Sampah a. Hygiene Perseorangan Analisis univariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel dependen dan independen. Berikut tabel 2. distribusi pengelompokan hygiene perseorangan petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Hygiene Perseorangan Petugas Sampah Hygiene Perseorangan Jumlah (Orang) Persentase (%) Tidak Baik Baik Total 49 11 60 81,7 18,3 100 Pvalue 0,012 Berdasarkan pada hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebesar 81,7% yang termasuk ke dalam kelompok hygiene perseorangan yang tidak baik atau sebanyak 49 responden dengan pvalue 0,012. Mayoritas responden memiliki hygiene perseorangan yang tidak baik hal ini disebabkan responden mengakui secara langsung bahwa dirinya jarang melakukan aktivitas menjaga kebersihan diri. b. Perilaku Penggunaan APD Untuk mencegah kontak langsung dengan sampah ada 3 jenis APD yang seharusnya digunakan ketika bekerja yaitu penggunaan sepatu, baju lengan panjang, dan sarung tangan. Berikut distribusi pengelompokan perilaku penggunaan APD petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember disajikan pada tabel 3. Tabel 3. Distribusi Frekuensi perilaku penggunaan APD Petugas Sampah 0,000 Berdasarkan pada tabel tersebut menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu 86,7% atau sebanyak 52 responden termasuk ke dalam kategori usia > 30 tahun dengan pvalue 0,129, 85% atau sebanyak 51 responden termasuk ke dalam kategori yang tidak memiliki riwayat penyakit kulit dengan pvalue 0,135, 91,7% atau sebanyak 55 responden termasuk ke dalam kategori yang tidak memiliki riwayat alergi, dengan pvalue 0,148 dan 75% atau Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 sebanyak 45 responden termasuk ke dalam kategori masa kerja >14 tahun dengan pvalue 0,000. Variabel Penggunaan APD a. Sepatu b. Baju Lengan Panjang c. Sarung Tangan Kateg ori Tidak Ya Total Tidak Ya Total Tidak Freku ensi 51 9 60 45 15 60 48 Persentas e 85% 15% 100% 75% 25% 100% 80% Ya Total Tidak Ya Total 12 60 59 1 60 20% 100% 98,3% 1,7% 100% pvalue 0,000 0,102 0,367 Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas responden yaitu 75% termasuk ke dalam kategori yang tidak menggunakan alat pelindung sepatu atau terdapat sebanyak 45 responden dengan pvalue 0,000, persentase terbesar responden yaitu 80% yang termasuk ke dalam kategori yang tidak menggunakan alat pelindung baju lengan panjang atau sebanyak 48 responden dengan pvalue 0,102, dan persentase terbesar responden yaitu 98,3% termasuk ke dalam kategori yang tidak menggunakan alat pelindung sarung tangan atau terdapat sebanyak 59 responden dengan pvalue 0,367. c. Lama Kontak Analisis univariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel dependen dan independen. Berikut tabel 4. distribusi pengelompokan lama kontak petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Lama Kontak Petugas Sampah Lama Kontak Jumlah (Orang) Persentas e (%) ≤ 4 jam / hari > 4 jam / hari Total 15 45 60 75 25 100 Pvalue 0,000 Berdasarkan pelaksanaan penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa persentase responden terbesar yaitu 75% termasuk ke dalam kategori lama kontak > 4 jam/hari atau terdapat sebanyak 45 responden dengan pvalue 0,000. Distribusi Frekuensi Faktor Lingkungan Petugas Sampah Analisis univariat yang dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dan presentase dari setiap variabel dependen dan independen. Berikut tabel 5. distribusi pengelompokan faktor lingkungan petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Faktor Lingkungan Petugas Sampah No 1. 2. Variab el Suhu Kelem baban Kategori 20 oC - 24 oC > 24 oC 0% - 75% Freku ensi 20 40 32 Persent ase 33,3% 66,7% 53,3% > 75% 28 46,7% pvalue 0,401 0,791 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas lokasi penelitian Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 yaitu sebesar 66,7% termasuk ke dalam kategori suhu > 24oC atau terdapat sebanyak 40 responden dengan pvalue 0,401 dan terdapat 53,3% yang termasuk ke dalam kategori kelembaban 0% - 75% atau terdapat sebanyak 32 responden dengan pvalue 0,791. Distribusi Dermatosis pada Petugas Sampah Dermatosis merupakan gangguan kulit yang banyak terjadi pada petugas sampah akibat kontak langsung dengan bahan-bahan atau benda-benda asing yang bersifat berbahaya bagi kesehatan. Hasil penelitian diperoleh sebanyak 38 responden atau sebesar 63,3% yang terdiagnosis menderita dermatosis oleh dokter dan sebanyak 22 responden atau sebesar 36,7% yang tidak terdiagnosis menderita dermatosis oleh dokter. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa distribusi dermatosis berdasarkan letaknya pada tubuh dibagi menjadi 2 area yaitu terjadi pada telapak tangan dan terjadi pada kaki. Kejadian dermatosis pada telapak tangan terdapat sebanyak 28 orang dan kejadian dermatosis pada kaki terdapat sebanyak 23 orang. Sesuai dengan kondisi di lapangan, responden yang menderita dermatosis tidak hanya terjadi pada salah satu bagian saja, namun terdapat beberapa responden yang menderita dermatosis pada kedua letak bagian tubuh sekaligus yaitu telapak tangan dan juga kaki yang terdapat sebanyak 13 responden. Pembahasan Hubungan Karakteristik Individu Petugas Sampah dengan Dermatosis a. Usia Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara usia dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,129 > 0,05. Kulit manusia mengalami degenerasi seiring bertambahnya usia, oleh karenanya kulit dapat kehilangan lapisan lemak di atasnya dan menjadi lebih kering [5]. Kekeringan yang terjadi pada kulit akan lebih mudah menimbulkan terjadinya dermatosis. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan kejadian dermatosis. Berdasarkan kondisi ini, teori penyebab kecelakaan dan PAK yaitu salh satunya unsafe Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. acts lebih memiliki kaitan dengan faktor usia karena membahas mengenai pekerjaan yang tidak aman misalnya penggunaan alat pelindung yang tidak sesuai atau tidak berfungsi, sikap dan cara kerja yang kurang baik, penggunaan peralatan yang tidak aman dan melakukan gerakan berbahaya [6]. Petugas sampah dengan usia tua lebih berpengalaman dalam bekerja sehingga memilih bekerja dengan aman dengan cara lebih berhati-hati dalam beraktivitas ketika bekerja sehingga secara tanpa sadar mereka menghindari unsafe acts dalam bekerja sehingga dapat mencegah terjadinya PAK. b. Riwayat Penyakit Kulit Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit kulit dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,135 > 0,05. Seorang pekerja yang sedang memiliki atau sebelumnya menderita gangguan kesehatan kulit akan lebih mudah menderita dermatosis [7]. Hal ini dapat terjadi dikarenakan fungsi perlindungan dari kulit sudah berkurang akibat dari penyakit kulit yang pernah diderita sebelumnya. Fungsi perlindungan dapat terjadi penurunan misalnya antara lain terjadinya penipisan atau hilangnya lapisan-lapisan kulit, rusaknya saluran kelenjar keringat dan juga saluran kelenjar minyak, serta terjadinya perubahan pH pada kulit. Hal tersebut tidak sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat penyakit kulit dengan kejadian dermatosis. Hal ini merujuk pada teori penyebab kecelakaan dan PAK, yaitu faktor kondisi fisik pekerja lebih erat kaitannya dengan faktor riwayat penyakit kulit karena membahas mengenai kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat [6]. Apabila kondisi fisik pekerja baik maka akan mempengaruhi terjadinya PAK dalam hal ini adalah dermatosis, sehingga responden yang tidak memiliki riwayat penyakit kulit memiliki potensi terhindar dari dermatosis. c. Riwayat Alergi Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat alergi dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,148 > 0,05. Riwayat alergi pada penelitian ini Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 diasumsikan sebagai riwayat gangguan kesehatan yang terjadi akibat konsumsi atau paparan benda, kondisi tertentu atau karena diakibatkan oleh kontaminasi bahan tertentu misalnya alergi terhadap makanan, alergi terhadap jenis obat tertentu, alergi terhadap suhu lingkungan tertentu misalnya terlalu dingin atau terlalu panas. Faktor keturunan atau riwayat alergi ikut memegang peranan terhadap gangguan kulit [8]. Namun hal tersebut tidak sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara riwayat alergi dengan kejadian dermatosis. Berdasarkan kondisi tersebut, faktor kondisi fisik pekerja lebih erat kaitannya dengan faktor riwayat alergi karena membahas mengenai kondisi kesehatan yang tidak memenuhi syarat [6]. Apabila kondisi fisik pekerja baik, maka akan mempengaruhi terjadinya PAK dalam hal ini adalah dermatosis, dalam hal ini jika petugas sampah tidak memiliki riwayat alergi maka akan mengurangi risiko kondisi fisik yang kurang baik sehingga memiliki potensi untuk terhindar dari dermatosis. d. Masa Kerja Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Continuity Correction sebesar 0,000 < 0,05. Semakin lama seseorang bekerja semakin banyak pula dia terpapar dengan bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut [1]. Berhubungan dengan teori tersebut, semakin lama masa kerja petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember, maka semakin lama pula mereka terpapar dengan berbagai jenis sampah yang berisiko menyebabkan dermatosis. Masa kerja tidak lepas dengan usia para petugas sampah, sehingga semakin lama masa kerja petugas sampah maka akan berbanding lurus dengan usia petugas sampah yang juga semakin tua. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan terhadap daya tahan maupun elastisitas yang ada pada kulit, sehingga petugas sampah yang telah lama bekerja dan kontak dengan berbagai bahan di lingkungan kerjanya dapat menyebabkan kerusakan sel kulit pada bagian luar kulit dan akan rentan terjadi gangguan kulit. Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. Hubungan Faktor Perilaku Petugas Sampah dengan Kejadian Dermatosis a. Hygiene Perseorangan Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara hygiene perseorangan dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,012 < 0,05. Upaya hygiene perseorangan dapat mengurangi kontaminasi bahan-bahan asing yang dapat mengganggu kesehatan kulit seseorang. Hal ini sesuai dengan hasil uji statistik yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara hygiene perseorangan dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah. Merujuk pada teori penyebab kecelakaan dan PAK, faktor kondisi mental pekerja lebih erat kaitannya dengan faktor hygiene perseorangan karena membahas mengenai kurangnya kesadaran tentang keselamatan kerja, tidak ada koordinasi, sikap yang buruk, bekerja lamban, perhatian terhadap keselamatan kurang, emosi tidak stabil, pemarah dan lain-lain [6]. Perilaku hygiene perseorangan yang tidak baik salah satunya dapat terjadi akibat kurangnya kesadaran kesemalatan kerja serta kurangya perhatian terhadap keselamatan. Dampak akibat kurangnya kesadaran keselamatan kerja membuat petugas sampah meremehkan kebersihan dirinya. Mayoritas responden memiliki hygiene perseorangan yang tidak baik hal ini disebabkan responden mengakui secara langsung bahwa dirinya jarang melakukan aktivitas menjaga kebersihan diri seperti jarang melakukan cuci tangan dan cuci kaki setelah bekerja terutama menggunakan sabun dan air mengalir, sebagian diantara mereka mengakui bahwa mereka jarang mengganti pakaian setelah bekerja dan justru menggunakan kembali pada keesokan harinya. b. Penggunaan APD Hubungan antara perilaku penggunaan APD dengan dermatosis dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Terdapat 3 jenis alat pelindung yang diteliti yaitu sepatu, baju lengan panjang dan sarung tangan. Hasil uji statistik untuk mengetahui hubungan antara antara perilaku penggunaan alat pelindung dengan dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 1) Sepatu Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku penggunaan sepatu dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Continuity Correction sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa terdapat sebanyak 23 responden yang menderita dermatosis pada bagian kaki. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan sepatu dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. 2) Baju lengan panjang Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku penggunaan baju lengan panjang dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,102 > 0,05. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat responden yang menderita dermatosis pada bagian lengan. 3) Sarung tangan Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara perilaku penggunaan sarung tangan dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dengan nilai sig. Continuity Correction sebesar 0,367 > 0,05. Hasil tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat 28 responden yang menderita dermatosis pada bagian telapak tangan. c. Lama Kontak Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara lama kontak dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Continuity Correction sebesar 0,000 < 0,05. Semakin lama seseorang bekerja semakin banyak pula dia terpapar dengan bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut [1]. Hal ini sejalan dengan masa kerja petugas sampah yang berhubungan langsung dengan waktu kerja petugas sampah di tempat kerja. Lama kontak pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember mayoritas Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. cenderung > 4 jam dalam sehari, sehingga menyebabkan terjadinya kontak langsung antara kulit dan sampah dalam jangka waktu yang berlangsung cukup lama bahkan ada yang mencapai lama kontak 11 jam dalam sehari. Paparan sampah ini akan menyentuh kulit sehingga terjadi penumpukan zat-zat atau bahan-bahan asing pada kulit sehingga dapat mengganggu kesehatan. Lama kerja yang berkaitan dengan lama kontak mempengaruhi kejadian dermatosis, hal ini dikarenakan semakin lama kulit kontak dengan bahan-bahan tertentu, maka akan menyebabkan kerusakan pada sel kulit luar, semakin sering kontak maka semakin menimbulkan kerusakan sel kulit yang lebih dalam. Berdasarkan hal tersebut dapat memungkinkan adanya hubungan antara lama kontak dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. lingkungan kerja petugas sampah saat bekerja berdasarkan hasil pengukuran yang tercatat pada alat thermohygrometer. Pada keadaan lingkungan kerja yang lembab seperti di lingkungan TPST akan memudahkan terjadinya perkembangan berbagai macam mikroorganisme dan jamur yang berada dalam tumpukan sampah yang cenderung basah sehingga dapat memicu terkumpulnya berbagai macam penyakit. Penyakit jamur kuku sering diderita para pekerja yang tempat kerjanya lembab dan basah [10]. Pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat adanya hubungan antara kelembaban dengan dermatosis. Hal ini mungkin terjadi karena mayoritas lokasi penelitian berada dalam suhu yang masih dapat diterima oleh tubuh yaitu berkisar antara 0% 75%. Dermatosis pada Petugas Sampah Hubungan Faktor Lingkungan Petugas Sampah dengan Kejadian Dermatosis a. Suhu Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara suhu dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Fisher Exact sebesar 0,401 > 0,05. Suhu didefinisikan sebagai derajat ukuran temperatur di sekitar lingkungan kerja petugas sampah pada saat bekerja berdasarkan hasil pengukuran yang tercatat pada alat thermohygrometer. Faktorfaktor yang mempengaruhi tingginya kejadian penyakit kulit adalah iklim yang panas dan lembab yang memungkinkan bertambah suburnya jamur, kebersihan perorangan yang kurang baik dan faktor ekonomi yang kurang memadai [9]. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat adanya hubungan antara suhu dengan dermatosis, karena mayoritas lokasi penelitian berada dalam suhu yang masih dapat diterima oleh tubuh yaitu berkisar antara 20oC – 24oC. b. Kelembaban Berdasarkan hasil uji statistik Chi-Square didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kelembaban dengan kejadian dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Kabupaten Jember dengan nilai sig. Continuity Correction sebesar 0,791 > 0,05. Kelembaban disini didefiniskan sebagai konsentrasi uap air yang berada di udara Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 Petugas sampah yang bekerja di lingkungan TPST memiliki potensi mengalami dermatosis dikarenakan banyak terdapat tumpukan sampah dari berbagai jenis sampah yang memiliki risiko memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan para petugas sampah. Dermatosis pada petugas sampah dapat disebabkan dari faktor yang berasal dari pekerjaannya. Dermatosis yang timbul dengan manifestasi klinis yang terjadi pada petugas sampah diantaranya yaitu keratoderma, keratoderma plantaris, distrophic nail, impetigo krustosa, tinea unguium. Tanda dan gejala yang terjadi pada petugas sampah diantaranya, kulit terasa gatal, menebal, kulit menghitam, kulit membentuk benjolan kecil dan timbul plenting pada area tertentu pada kulit tangan dan kaki. Gejalagejala yang timbul pada petugas sampah dimungkinkan timbul karena diakibatkan kontak langung sehari-hari dengan bahan yang memiliki sifat iritan misalnya detergen, serbuk kayu, plastik dan lain-lain. Selain bahan non-organik yang dapat mengkontaminasi kulit petugas sampah, jenis sampah organik juga memiliki peran penting terhadap terjadinya dermatosis. Bahan-bahan organik yang berada di dalam sampah dapat terurai oleh mikroba sehingga sampah dapat hancur karena mengalami degradibilitas, namun mikroba patologis yang berada pada sampah organik seperti bakteri, virus dan parasit dapat berpotensi tumbuh di dalam sampah tersebut dan bercambur dengan sisa sampah yang Trismariyani, et al., Faktor Risiko Dermatosis pada Petugas Sampah di Tempat Pengolahan.............. degradibilitasnya jauh lebih lama dibandingkan dengan sampah organik yang baru sehingga dapat menyebabkan penyakit kulit bila terjadi kontak dengan manusia sebagai inang yang baru [11]. Simpulan dan Saran Faktor risiko dermatosis pada petugas sampah di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember diantaranya berhubungan dengan masa kerja, hyigene perseorangan, penggunaan APD dan lama kontak. Saran dalam penelitian ini adalah diharapkan dinas terkait mengadakan arahan dan penyuluhan kepada para petugas sampah yang bekerja di TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember sehingga terbentuk kesadaran mengenai kebersihan diri dan senantiasa taat menggunakan APD, misalnya sarung tangan, sepatu dan baju lengan panjang ketika bekerja serta memperbaiki dan menambah sumber air semisal kran air dan sabun di lingkungan TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember. Selain itu, bagi petugas sampah lebih memperhatikan kebersihan diri selama bekerja di lingkungan TPST Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember, terutama aktivitas membersihkan tangan dan kaki dengan menggunakan sabun yang dilakukan segera setelah selesai melakukn pekerjaan. (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) Daftar Pustaka (1) (2) Suma’mur. 2013. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja Edisi 2. Jakartaz: Sagung Seto. Sistem Informasi dan Litbang Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. 2015. Laporan Kunjungan Penyakit Kulit. Artikel Penelitian Mahasiswa, 2018 (11) Jember : Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Wahyudi dan Utomo. 2006. Penyakit Kulit Akibat Kerja. Jurnal Berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Volume 10 No. 3 Desember 2005. Pramantara, I dan Brathiarta, I. 2009. Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Pekerja Garmen. Laporan Hasil Karya Tulis Ilmiah. Denpasar : Universitas Udayana. Cohen., D.E. 1999. Occupational Dermatoses In : DiBerardinis LJ, editors. Handbook of Occupational Safety and Health, 2th edition. Canada : John Wiley & Sons Inc. Sucipto, C.D. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yogyakarta : Gosyen Publishing. Djuanda, A. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi 5 Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : FK UI. Price, S.A. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC. Riyansari, S. 2015. Hubungan Pola Kebersihan Diri dengan Terjadinya Gangguan Kulit pada Petani Padi di Kelurahan Nanggulan Wilayah Kerja Puskesmas Cawas I Kabupaten Klaten. Naskah Publikasi. Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta. ILO. 2013. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Tempat Kerja Sarana untuk Produktvitas : Pedoman Pelatihan untuk Manajer dan Pekerja Modul Lima. Jakarta : ILO Publications. Pardiansyah, R. 2015. Association Between Personal Protective Equipment with Contact Dermatitis in Scavengers. Jurnal Majority, 4 : 80.

Judul: Jurnal Dermatosis Dwi Mustika

Oleh: Dwi Mustika Trismariyani


Ikuti kami