Review Jurnal Geografi Perkotaan

Oleh Muthi'a Hasna Thifaltanti

127,9 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Geografi Perkotaan

TUGAS GEOGRAFI PERKOTAAN TELAAH KRITIS JURNAL Dibuat Oleh: Nama : Muthi’a Hasna Thifaltanti NIM : 15/377524/GE/07965 FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2016 Telaah Kritis Jurnal “Studi Tentang Struktur Kota Sistem Transportasi dan Mobilitas Penduduk di Kota Purwokerto” Judul Jurnal : STUDI TENTANG STRUKTUR KOTA SISTEM TRANSPORTASI DAN MOBILITAS PENDUDUK DI KOTA PURWOKWERTO Penulis/Peneliti : Awal Wibowo, Chatarina Muryani, dan Suwarto Jurnal : Jurnal GeoEco Vol. 1, No. 2 (Juli 2015) Hal. 222-233 Penelaah : Muthi’a Hasna Thifaltanti Jurnal ini membahas tentang penelitian dengan survey dan analisis deskriptif kualitatif. Peneliti juga menggunakan teknik purposive sampling dalam mengambil jumlah sampel. Sedangkan teknik analisa datanya dilakukan melalui metode analisa interaktif. Data disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif, statistik deskriptif dan analisa GIS. Daldjoeni (1987) mendefinisikan kota menjadi beberapa aspek yaitu morfologi, jumlah penduduk, sosial, ekonomi dan hukum. Beberapa aspek tersebut saling terkait satu sama lain. Morfologi kota yang merupakan genesis dan karakteristik fisik kota akan mempengaruhi jumlah penduduk, sosial, dan ekonomi penduduk. Sedangkan karakteristik penduduk akan membentuk suatu budaya yang juga terdapat hukum didalamnya. Yunus (2012) juga berpendapat bahwa struktur kota pada dasarnya terbentuk dari hasil interaksi antar manusia dan manusia dengan lingkungannya membentuk fenomena geografi baik bentuk fisikal, morfologikal dan ekologikal dalam sebuah kota sebagai ruang. Metode Penelitian Struktur kota sebagai susunan pembentuk kota memiliki banyak indikator yaitu menurut Handajani (2010), struktur kota mencakup luas, jumlah penduduk, kepadatan penduduk dan Produk Domestik Regional Bruto. Sedangkan menurut Setiawan (2004), struktur kota terdiri dari kependudukan, guna lahan, dan jaringan jalan. Berry (1965) dalam Daldjoeni (1987) berpendapat bahwa struktur kota terdiri dari tiga unsur yaitu kerangka (jaringan jalan), daging (kompleks perumahan penduduk), dan darah (manusia dengan gerakgerik kegiatannya). Kesimpulannya, struktur kota adalah sistem yang berhubungan satu sama lain dan dapat menonjolkan karakteristik kota terebut. Adisasmita (2011) berpendapat bahwa sistem transportasi adalah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman yang terdiri dari jaringan transportasi, jaringan pelayanan, jaringan prasarana, ruang lalu lintas, simpul transportasi dan moda transportasi dengan tujuan terwujudnya trasnportasi yang efektif dan efisiesn dalam menunjang sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan, meningkatkan mobilitas manusia, barang dan jasa serta mendukung pengenmbangan wilayah. Sedangkan Munawar (2011) mengatakan bahwa sistem transportasi adalah bentuk keterkaitan yang integral antara berbagai variabel dalam suatu kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan mengatur dan mengkoordinasikan pergerakan penumpang dan barang yang bertujuan memberikan optimalisasi proses pergerakan tersebut. Mobilitas penduduk menurut Dirjen Monilitas Penduduk (2003) dibagi menjadi dua yaitu mobilitas horizontal yang merupakan perpindahan atau pergerakan penduduk secara fisik untuk memperoleh peluang dan kesempatan yang lebih luas di tempat lain dan mobilitas vertikal yang dalam arti sosial, ekonomi, dan budaya yaitu upaya peningkatan status melalui peningkatan kesejahteraan. Hartshom dalam Budiman (2009), berpendapat pergerakan penduduk juga dapat didasarkan terhadap tipe perjalanan, yaitu : perjalanan kota menuju kota, daerah pinggiran menuju kota, daerah pinggiran menuju daerah pinggiran dan commuting. Hasil dan Pembahasan Bentuk struktur kota Purwokerto dilihat dari penggunaan lahan, kependudukan, dan persebaran fasilitas perkotaan. Kawasan pertumbuhan belum ada di Kota Purwokerto karena pusat pertumbuhan masih menyebar dan belum terlihat jelas kebijakan pemngembangan kawasannya. Penggunaan lahan di Kota Purwokerto dibagi menjadi dua yaitu lahan pertanian atau sawah dan lahan bukan sawah yang meliputi permukiman, gedung pemerintahan, gedung fasilitas dan lain-lain. Luas lahan sawah di Kota Purwokerto adalah 8,89 km 2 atau 23% dari luas wilayah Kota Purwokerto. Hal ini membuktikan bahwa secara fisik morfologi Kota Purwokerto merupakan kota karena penggunaan lahan non pertaniannya lebih luas daripada lahan pertanian. Luas lahan non pertanian di Kota Purwokerto adalah 29,65 km 2 atau 77% dari luas wilayah Kota Purwokerto. Kepadatan penduduk di Kota Purwokerto pada pertengahan tahun 2011 adalah 237.490 jiwa. Sedangkan jumlah penduduknya sekitar 1.583.267 jiwa. Hal ini membuktikan bahwa Kota Purwokerto merupakan kota besar dengan klasifikasi penduduk 500.0002.000.000 jiwa. Persebaran penduduk di Kota Purwokerto cenderung merata di setiap kecamatan. Hal ini disebabkan oleh sarana prasarana perkotaan, lapangan pekerjaan, dan aksesibilitas terhadap pusat kota cenderung sama. Persebaran fasilitas di Kota Purwokerto dibagi menjadi fasilitas pendidikan, perdagangan atau perbelanjaan, kesehatan, dan gedung pemerintahan. Fasilitas pendidikan baik berupa SD, SMP, dan SMA semuanya telah tersebar dengan baik di setiap kecamatan dengan minimal 25 fasilitas pendidikan. Sedangkan fasilutas perbelanjaan yang meliputi pasar tradisional, swalayan dan kawasan perbelanjaan grosir dan rital juga telah menyebar di setiap kecamatan minimal 5 fasilitas perbelanjaan. Fasilitas kesehatan yang terdiri dari Rumah Sakit, Rumah Sakit Bersalin, Rumah Bersalin dan Puskesmas telah tersebar merata di setiap kecamatan dengan minimal 3 fasilitas kesehatan. Persebaran gedung dan pusat pemerintahan terlihat pada fasiliras perkotaan pada Jalan Jendral Soedirman sebagai inti pusat perkotaan atau disebut dengan CBD (Central Bussines District). Persebaran fasilitas di Kota Purwokerto dapan dibagi menjadi empat zona berdasarkan karaketrisik wilayahnya yaitu : Zona A, Zona B, Zona C, dan Zona D. Zona A memiliki aktivitas penduduk yang tinggi karena bersinggungan dengan CBD, hal ini juga didukung oleh adanya UNSOED yang memicu banyak aktivitas perekonomian karena kebutuhan penduduknya yang tinggi yaitu mahasiswa. Sehingga zona A merupakan zona paling berkembang dibandingkan zona yang lain. Zona B merupakan kawasan pusat kegiatan yang didukung dengan banyaknya fasilitas perkantoran pemerintahan, restoran, bank, pasar, perhotelan dan GOR. Zona C yaitu wilayah peralihan dari aktivitas kota ke aktivitas perdesaan karena aktivitas penduduk didominasi sektor perdagangan kecil. Zona D didominasi oleh permukiman penduduk kelas menengah ke bawah, meskipun terdapat fasilitas pelayanan transportasi seperti terminal induk Purwokerto, perkantoran, fasilitas kesehatan, perdagangan, pergudangan, dan perhotelan. Oleh karena itu, kawasan ini akan dikembangkan sebagai kawasan perluasan kota untuk mengurangi beban CBD. Berdasarkan temuan tersebut, bentuk struktur kota Purwokerto dikaji berdasarkan sudut pandang ekologikal dan morfologikal struktur Kota Purwokerto dapat dikategorikan dalam gabungan dua model struktur kota, yaitu: Pertama model strukutur kota Purwokerto secara ekologikal dapat dikategorikan dalam model struktur kota kegiatan banyak (Multi nuclei theory), yaitu pertumbuhan kota tidak hanya memiliki ekspresi keruangan yang sederhana, namun terbentuk dari integrasi sejumlah pusat (nuclei) kegiatan yang terpisah satu sama lain dalam sistem perkotaan (Yunus, 2012:45). Kedua Model Square yang ditunjukan dengan pertumbuhan kota Purwokerto yang seimbang dan setiap wilayah memiliki potensi yang sama dalam perkembangan kotanya, selain itu munculnya blok-blok bangunan dengan fungsi kekotaan di jalur – jalur transportasi. Sistem transportasi Kota Purwokerto adalah sisem transportasi perkotaan yang berfungsi sebagai chain of transportation yang menghubungkan anatara satu kegiatan ke kegiatan lain. Sistem ini terdiri dari jalan arteri, jalan kolektor, jalan poros, dan jalan lingkar. Jalan arteri berfungsi menghubungkan Kota Purwokerta dengan Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Cilacap. Jalan kolektor berfungsi menghubungkan antar pusat kegiatan wilayah di Kota Purwokerto seperti pusat pendidikan, kesehatan, perbelanjaan, pemerintahan, jasa dan rekreasi antar kecamatan. Jalan poros membelah Kota Purwokerto menjadi dua bagian yang ditujukan untuk pemerataan pergerakan penduduk dan mengurangi beban di salah satu ruas jalan. Jalan lingkar berfungsi menghubungkan kawasan pinggiran dengan pusat koyta atau kawasan CBD, sehingga aksesibiltasnya tinggi. Kota Purwokerto juga memiliki terminal induk dan sub terminal yang berfungsi sebagai pusat pergerakan angkutan kota. Sistem transportasi Kota Purwokerto juga terdiri dari jaringan sarana yang merupakan layanan luar kota dan dalam kota. Layanan transportasi luar kota berpusat di terminal induk Purwokerto dengan layanan antarkota provinsi dan layanan antarkota dalam provinsi. Layanan dalam kota yang merupakan angkutan kota, becak, taxi, dan ojek. Hasil analisis spasial dan hasil observasi, bahwa jaringan jalan di kota Purwokerto membentuk “Grid” dengan karakteristik lintasan rute yang secara paralel mengikuti ruasruas jalan dari pinggiran kota yang satu ke pinggir kota lainnya dengan melewati pusat kota (CBD). Selanjutnya pola pergerakan transportasi Kota Purwokerto berbentuk “Pola Orbital”, yaitu pola yang berbasiskan pada zona atau kawasan layanan, sehingga tidak semua pergerakan angkutan kota dapat menuju pusat kota yang ditunjukan dengan trayek dan rute angkutan kota Purwokerto. Gerak mobilitas penduduk di Kota Purwokerto setelah dianalisis dengan beberapa sampel, menyimpulkan bahwa terdapat lima tahap pergerakan. Tujuan pergerakan penduduk didasarkan atas kepentingan penduduk dalam menuju pusat kota dan kembali dalam waktu satu hari. Lima tahap pergerakan tersebut yaitu: 1. Tahap I : Pukul 06.30 WIB – 07.00 WIB dengan mayoritas penumpang adalah pelajar. 2. Tahap II : Pukul 07.00 WIB – 07.30 WIB dengan mayoritas penumpang adalah pekerja buruh. 3. Tahap III : Pukul 10.30 WIB – 12.00 WIB dengan mayoritas penumpang adalah masyarakat umum bukan pelajar dan buruh. 4. Tahap IV : Pukul 13.00 WIB – 15.00 WIB dengan mayoritas penumpang adalah pelajar. 5. Tahap V : Pukul 15.00 WIB – 17.00 WIB dengan mayoritas penumpang adalah pekerja buruh dan masyarakat umum. Pergerakan penduduk Kota Purwokerto melintasi batas wilayah kecamatan dengan waktu tinggal di wilayah tujuan yaitu enam jam atau lebih dan pulang di hari yang sama. Pekerja buruh cenderung menggunakan transportasi umum sedangkan selainnya menggunakan transportasi pribadi. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa penduduk Kota Purwokerto memiliki sifat commuting dengan pola menyebar ke seluruh wilayah kota. Kritikan untuk Jurnal Jurnal ini sudah cukup bagus dengan analisis yang kompleks dan menghubungkan satu faktor dengan faktor lain. Peneliti sudah sangat memperhatikan faktor di setiap kecamatan yang ada. Data yang digunakan peneliti pun sudah cukup banyak untuk membuktikan teori. Kekurangan dari jurnal ini adalah peta yang dibuat peneliti kurang jelas dan menarik. Peneliti juga tidak mencantumkan sumber dari beberapa data yang dipaparkan seperti jumlah fasilitas tiap kecamatan. Peneliti juga kurang menjelaskan mengenai pembangunan kota atau perkembangan kota dari tahun ke tahun. Peneliti hanya membicarakan struktur kota pada satu waktu. Sebaiknya peneliti menjelaskan struktur kota dari tahun ke tahun. Sehingga terlihat perubahan struktur kotanya, karena belum tentu struktur Kota Purwokerto dari dahulu hingga sekarang sama. Selain itu juga dapat dijelaskan penyebab perkembangan atau kurang berkembangnya Kota Purwokerto yang dapat dilihat dari aspek spasial. Metode penelitian yang dijelaskan peneliti pun kurang jelas. Peneliti hanya menjelaskan teori tanpa menjelaskan metodenya yang telah disebutkan pada asbstrak jurnal. DAFTAR PUSTAKA Alfana, M. A. F., Giyarsih, S. R., Aryekti, K., & Rahmaningtias, A. (2016). FERTILITAS DAN MIGRASI: KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN UNTUK MIGRAN DI KABUPATEN SLEMAN. NATAPRAJA, 3(1). ANGGLENI, A., Rini Rachmawati, M. T., & Giyarsih, S. R. (2015). KINERJA PELAYANAN PENGURUSAN KARTU TANDA PENDUDUK ELEKTRONIK (KTP-el) DI KECAMATAN RAMBANG DANGKU KABUPATEN MUARA ENIM (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). DWIHATMOJO, R., Luthfi Muta'ali, M. T., & Giyarsih, S. R. (2015). Kajian Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Febriyanti, A. D., & Ariastita, P. G. (2013). Optimasi Penggunaan Lahan Perkotaan di Kawasan Perkotaan Mejayan Kabupaten Madiun. Jurnal Teknik ITS, 2(2), C123C128. Giyarsih, S. R. (1999). Mobilitas Penduduk Daerah Pinggiran Kota. Majalah Geografi Indonesia, 13(1999). Giyarsih, S. R. (2010). URBAN SPRAWL OF THE CITY OF YOGYAKARTA, SPECIAL REFERENCE TO THE STAGEOF SPATIAL TRANSFORMATION (Case Study at Maguwoharjo Village, Sleman District). Indonesian Journal of Geography, 42(1), 4960. Giyarsih, S.R. 2010a. Pola Spasial Transformasi Wilayah di Koridor Yogyakarta-Surakarta dimuat dalam Jurnal Forum Geografi, Fakultas Geografi UMS, 24(1) : 28-38. Giyarsih, S. R. (2011). Gejala Urban Sprawl sebagai Pemicu Proses Densifikasi Permukiman di Daerah Pinggiran Kota (Urban Fringe Area) Kasus Pinggiran Kota Yogyakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 12(1), 39-45. Giyarsih, S. R. (2015). Pemetaan Kelembagaan dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis DAS Bengawan Solo Hulu. Jurnal Sains&Teknologi Lingkungan, 2(2). Giyarsih, S. R. (2015). DAMPAK TRANSMIGRASI TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN WARGA TRANSMIGRAN DI DESA TANJUNG KUKUH KECAMATAN SEMENDAWAI BARAT KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR PROVINSI SUMATERA SELATAN (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Giyarsih, S. R. (2016). Koridor Antar Kota Sebagai Penentu Sinergisme Spasial: Kajian Geografi Yang Semakin Penting. TATALOKA, 14(2), 90-97. Giyarsih, S. R., & Kurniawan, A. (2015). PERSEPSI DAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT MISKIN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN 3-4 ULU KOTA PALEMBANG (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Giyarsih, Sri Rum, and Muhammad Arif Fahrudin Alfana. (2013). "The Role of Urban Area as the Determinant Factor of Population Growth." Indonesian Journal of Geography 45.1. Harini, R., Giyarsih, S. R., & Budiani, S. R. (2005). Analisis Sektor Unggulan dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta. Majalah Geografi Indonesia, 19(2005). Hidayat, O., & Giyarsih, S. R. (2012). Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tentang Bahaya Penyakit AIDS. Jurnal Bumi Indonesia, 1(2). Pristiani, Y. D., & Giyarsih, S. R. (2014). Evaluasi Pelaksanaan Program Business Coaching Bagi Pemuda Wirausaha Baru Bank Indonesia Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Ekonomi Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (Studi di Bank Indonesia Cabang Yogyakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Setyono, J. S., Yunus, H. S., & Giyarsih, S. R. (2016). THE SPATIAL PATTERN OF URBANIZATION AND SMALL CITIES DEVELOPMENT IN CENTRAL JAVA: A CASE STUDY OF SEMARANG-YOGYAKARTA-SURAKARTA REGION. Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning, 3(1), 53-66. Sriartha, I. Putu, and Sri Rum Giyarsih. (2015). "Spatial Zonation Model of Local Irrigation System Sustainability (A Case of Subak System in Bali)." The Indonesian Journal of Geography 47.2: 142. Sriartha, I. Putu, Suratman Suratman, and Sri Rum Giyarsih. 2015. "The Effect of Regional Development on The Sustainability of Local Irrigation System (A Case of Subak System in Badung Regency, Bali Province)." Forum Geografi. Vol. 29. No. 1. SUSANTI, S., M Baiquni, M. A., Giyarsih, S. R., & Si, M. (2015). STRATEGI PENGHIDUPAN MASYARAKAT KORBAN LUMPUR PANAS SIDOARJO SETELAH RELOKASI PERMUKIMAN DI DESA KEPATIHAN KECAMATAN TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Tajuddin, L., Rijanta, R., Yunus, H. S., & Giyarsih, S. R. (2015). MIGRASI INTERNASIONAL PERILAKU PEKERJA MIGRAN DI MALAYSIA DAN PEREMPUAN DITINGGAL MIGRASI DI LOMBOK TIMUR. Jurnal Kawistara, 5(3). Wibowo, A., Muryani, C dan Suwarto (2015). STUDI TENTANG STRUKTUR KOTA SISTEM TRANSPORTASI DAN MOBILITAS PENDUDUK DI KOTA PURWOKWERTO. Jurnal GeoEco Vol. 1, No. 2 (Juli 2015) Hal. 222-233

Judul: Review Jurnal Geografi Perkotaan

Oleh: Muthi'a Hasna Thifaltanti


Ikuti kami