Makalah Sharing Jurnal Gastritis

Oleh Trirezika Dianingrum

1,2 MB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Makalah Sharing Jurnal Gastritis

MAKALAH KRITISI JURNAL GASTRITIS Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah NURSING CARE OF DIGESTIVE SYSTEM Yang dibimbingoleh Ns. Heni Dwi Windarwati M.Kep., Sp.Kep J Disusun oleh : Kelompok II Haris Fadjar Setiawan 125070218113056 Innani Widania Husna 125070218113028 Nyoman Annisa Abdullah 125070218113016 Rissa Devi Putri K. 125070218113038 Trirezika Dianingrum 125070218113026 JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2015 KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin. Segala puji bagi Allah yang dengan kemurahan NYA, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan.Shalawat serta salam kami curahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah NURSING CARE OF DIGESTIVE SYSTEM. Dengan judul “Kritisi Jurnal Gastritis” tepat pada waktunya. Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penulisan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi mencapai kesempurnaan makalah berikutnya. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita Aamiin. Kediri, 28 Pebruari 2014 Penyusun 2|Page DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................................................................................i KATA PENGANTAR..............................................................................................................................ii DAFTAR ISI..........................................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................................4 1.2 Judul ;Tema..............................................................................................................................4 1.2 Pengarang.................................................................................................................................4 1.1 Latar Belakang..........................................................................................................................5 1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................................7 1.3 Tujuan.......................................................................................................................................7 BAB II PEMBAHASAN......................................................................................................................8 2.1 Metode.....................................................................................................................................8 2.2 Hasil penelitian.........................................................................................................................11 2.3 Diskusi......................................................................................................................................17 BAB III PENUTUP.............................................................................................................................22 3.1 Kesimpulan...............................................................................................................................22 3|Page BAB I PENDAHULUAN 1.1 JUDUL JURNAL ; TEMA/TOPIK 1.1.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis ; Gastritis Refluk Empedu Pada Anak-Anak 1.1.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum ; Gastritis Pada Wanita Hamil 1.1.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly ; Nodular Gastritis Pada Lansia. 1.2 PENGARANG 1.2.1. Anak Yanyi Zhang, Xi Yang, Weizhong Gu, Xiaoli Shu, Ting Zhang and Mizu Jiang 1.2.2. Wanita Hamil Ghada M. Mansour , Ehab H. Nashaat 1.2.3. Lansia / Geriatrik Shinji Kitamura, Mitsugi Yasuda, Naoki Muguruma, Koichi Okamoto, Hisashi Takeuchi, Yoshimi Bando,Hiroshi Miyamoto, Toshiya Okahisa, Mitsuyasu Yano, Ryusuke Torisu and Tetsuji Takayama. 4|Page 1.3 LATAR BELAKANG 1.3.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis Selain asam lambung dan Helicobacter pylori (HP), refluks empedu adalah salah satu faktor utama yang terlibat dalam proses patofisiologi yang menyebabkan lesi mukosa lambung pada pasien dengan gastritis kronis. Namun, sedikit yang diketahui tentang fitur histologis tepat refluks empedu dan kontribusi terhadap lesi mukosa lambung pada penyakit ini. Ketika kandungan refluks duodenum ke dalam perut untuk jangka waktu yang singkat selama terjadinya fisiologis, hal itu menyebabkan beberapa gejala. Namun, refluks duodenogastric (DGR) menjadi patologis bila berlebihan atau berlangsung selama jangka waktu panjang. Gastritis reflux empedu (BGR) adalah disebabkan oleh refluks empedu pankreas yang berlebihan dan sekresi usus ke dalam perut. Peningkatan refluks empedu dapat menyebabkan peningkatan cedera mukosa lambung. BRG primer didefinisikan sebagai refluks empedu diinduksi gastritis tanpa operasi perut sebelumnya. Kelebihan DGR sangat umum pada orang dewasa setelah operasi lambung, pyloroplasty dan kolesistektomi. Dixon et al pertama melaporkan temuan histologis refluks empedu gastritis disebabkan oleh DGR setelah gastrektomi parsial. Mereka mengusulkan sistem penilaian berdasarkan lima fitur histologis karakteristik, termasuk hiperplasia antral foveolar, kemacetan vaskular, edema dan serat otot polos di lamina propria dan kekurangan sel-sel inflamasi. Para penulis mengungkapkan hubungan yang signifikan antara temuan histologis dan hypochlorhydria dan peningkatan konsentrasi asam empedu lambung. 1.3.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum Secara umum pada wanita hamil sering mengalami keluhanmual dan muntah. Keluhan mual dan muntah yang berlebihan (hiperemesis gravidarum) dapat menyebabkan menurunnya berat badan, ketonemia, ketidakseimbangan elektrolit (0.3-2% semua kehamilan). Hal tersebut tidak diketahui penyebabnya, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan dapat dikaitkan dengan mekanisme hormonal, faktor emosional, dan infeksi 5|Page Helicobacter pylori yang menjadi penyebab gastritis kronis (tipe B) sehingga dapat muncul komplikasi seperti timbul luka/ulcer pada lambung atau usus. Kemungkinan transmisi penyebaran bakteri H. pylori adalah melalui oral-oral, transmisi feco-oral iatrogenik, dan penyebaran secara vektor. Dari penyebaran bakteri tersebut dapat menyebabkan peran dari sitokin dan patogenesis dari H. pylori yang dapat dihubungkan dengan gastritis dan peptic ulcer disease yang mengakibatkan meningkatknya asam duodenal pada infeksi bakteri H. pylori. Pada wanita hami terjadi peningkatan level serum steroid dan level HCG yang merubah pH dari saluran lambung (gastrointestinal) sehingga terjadi perubahan pada humoral dan imunitas sel dalam kehamilan dapat mendukung terjadinya infeksi bakteri H. pylori. Tujuan dari penelitian adalah mengevaluasi keterkaitan infeksi bakteri H. pylori dengan terjadinya hiperemesis gravidarum dan serta pengobatan yang dapat diberikan pada wanita hamil dengan gastritis. 1.3.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly NG (Nodular Gastitis) didefinisikan sebagai gastritis antral biasanya ditemukan pada pemeriksaan endoskopi ditandai dengan pola “goose flesh”. Histopatologi dari nodul granular pada mukosa, folikel limfois dan hipertrofi epitel lakunar juga termasuk Nodular Gastritis. Ada hubungan yang erat antara Infeksi Helicobacter pylori ( H. pylori), gastritis kronis aktif pada usia anak-anak, remaja perempuan, dan Nodular Gastritis. Laporan terbaru menunjukan bahwa ada hubungan yang mungkin antara Nodular Gastritis dan penyebaran/pertumbuhan kanker lambung. Di jepang angka kematian akibat kanker lambung memang menurun, namun kanker lambung masih menjadi penyakit ganas yang umum di jepang. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki terkait beberapa perbedaan insiden dan karakteristic dari Nodular Gastritis pada dewasa dan lansia, dan untuk memperkirakan faktor resiko potensial kanker lambung pada dewasa dengan Nodular Gatritis 6|Page 1.4 RUMUSAN MASALAH 1. Apa latar belakang terbuatnya jurnal gastritis terkait anak, wanita hamil dan lanisa? 2. Bagaimana metode yang diterapkan untuk penelitian di jurnal gastritis terkait anak, wanita hamil dan lanisa? 3. Bagaimana diskusi terkait dengan penelitian di jurnal gastritis terkait anak, wanita hamil dan lanisa? 4. Apa hasil penelitian yang ada di jurnal gastritis terkait anak, wanita hamil dan lanisa? 5. Bagaimana kesimpulan terkait hasil penelitian pada jurnal gastritis terkait anak, wanita hamil dan lansia? 1.5 TUJUAN 1. Untuk mengetahui latar belakang terbuatnya jurnal 2. Untuk mengetahui metode yang diterapkan untuk penelitian di jurnal 3. Untuk mengetahui hasil dari penerapan metode 4. Untuk mengetahui diskusi terkait hasil penelitian di jurnal. 5. Untuk mengetahui kesimpulan terkait hasil penelitian di jurnal. 7|Page BAB II PEMBAHASAN 2.1 METODE 2.1.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis Sebanyak 59 anak (24 laki-laki dan 35 perempuan) dengan gejala gastrointestinal atas awalnya terdaftar dalam penelitian dari bulan Oktober 2005 sampai Desember 2008. Usia ratarata mereka adalah 10,6 tahun (kisaran 3-17 tahun). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) gejala pencernaan bagian atas, seperti nyeri epigastrium, mual, muntah dan bersendawa, (2) tidak menggunakan antibiotik atau antasida selama 2 minggu sebelum pengambilan sampel dan (3) tidak ada Obat Antiinflamasi Non Steroid (NSAID) digunakan dalam waktu 1 bulan saat pengambilan sampel. Kriteria eksklusi adalah sebagai berikut: riwayat operasi lambung atau riwayat pemberantasan H. Pylori (HP) dan retardasi psikomotor. Penelitian ini telah disetujui oleh komite etika di Zhejiang University School of Medicine, Cina. Persetujuan tertulis diperoleh dari pasien atau keluarga mereka. Endoskopi lambung (Olympus GIF-160, Jepang) dilakukan pada semua pasien dan 3 biopsi antral lambung diperoleh untuk menilai perubahan histopatologi. Salah satunya digunakan untuk mendeteksi infeksi H. Pylori (HP) dengan uji urease cepat (RUT) dan dua lainnya segera diperbaiki pada 10% formalin dan diproses secara rutin. Semua pasien menjalani rawat pemantauan selama 24 jam absorbansi bilirubin dalam rongga lambung menggunakan Bilitec 2000, memantau empedu refluks (Medtronic Instrumen) dua hari setelah endoskopi lambung. Setiap obat yang dapat menghambat sekresi asam lambung, meningkatkan motilitas gastrointestinal, melindungi mukosa lambung atau menetralisir empedu dan antibiotik dihentikan 2 minggu sebelum pemantauan. Setelah kalibrasi pemeriksa fiber optik dari Bilitec 2000 dalam gelap, air diisi ruang dan penyelidikan memasukkan melalui lubang hidung ke dalam perut dan posisi 10-15 cm di bawah rendah esophageal sphincter (LES) dihitung dengan rumus sebagai berikut: jarak dari hidung ke titik tengah dari LES adalah (tinggi tubuh × 0,252 + 5) cm. Kateter kemudian melekat dengan pita perekat di hidung dan pipi pasien. Posisi kateter dikonfirmasi oleh radiografi untuk memastikan bahwa migrasi transpilorik tidak terjadi. Pasien 8|Page diizinkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Orang tua mereka diminta untuk mencatat waktu makanan atau konsumsi cairan dan perubahan postur dalam buku harian. Selama waktu perekaman hanya mengkonsumsi makanan yang lunak agar tidak mengganggu pemantauan Bilitec. Pasien diminta untuk menghindari jus buah, teh dan kopi sedangkan mengkonsumsi air tidak dibatasi. 2.1.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum Penelitian melibatkan 80 wanita hami dengn umur kehamilan antara 10-16 bulan dengan hiperemesis gravidarum. Dilakukan pemeriksaan riwayat penyakit sebelumnya yang terjadi pada wanita hamil tersebut, seperti peptic ulcer dan riwayat pemberian obat-obatan (pada penyakit kronis) seperti NSAIDs, hipertiroid, penyakit psikologi, penyakit hati, penyakit ginjal, termasuk infeksi saluarn urin, penyakit pankreas dan penyakit intrakranial. Setelah dilakukan pemeriksaan secara umum, termasuk pemeriksaan laboratorium dan ultrasound, maka akan dipilih kembali yang termasuk dalam kriteria penelitian. Kemudian dilakukan pemeriksaan tes serum untuk H. pylori antibodi IgG pada seluruh pasien. 2.1.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly Penelitian dilakukan pada pasien yang menjalani endoskopi gastrointestinal (GI) di departemen gastroenterology. Tokushima university hospital 2010-2012 untuk gejala dan skrining kanker. Prosedur pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan video endoskopi tansnasal, sedangkan yang menggunakan inhibitor proton pump, H 2- reseptor antagonis, antibiotic, atau obat anti-inflamasi non-steroid tidan diikutkan dalam penelitian. Tidak terkecuali pasien dengan riwayat terapi H. pylori juga diikutkan dalam penelitian. Insidek NG dan Kanker lambung dievaluasi berdasarkan data di kagawa prefektur deteksi kanker cebter dan niki no hashi clinic 2003-2012 dan kasus-kasu NG dikumpulkan dan dianalisis dari semua database kelembangaan 2004-2012. Informed consent disediakan dalam informasi lisan dan persetujuan terlebih dahulu untuk penelitian ini. 9|Page Nodular Gastritis diklaisfikasikan menjadi 3 kelas yaitu : Kelas A – menyebar melingkar (90-100%) Kelas B – Menyebar semi melingkar ( 50-89%) dan Kelas C – Pola tersebar (<50%) Ketika NG sulit dilihat dengan menggunakan endoskopi, pencitraan yang digunakan dan / atau chromoendoscopy dengan indigo carmine 0,2% seperti gambar berikut : Sedangkan specimen biopsy di ambil untuk mengkonfirmasi folikel limfoid. Menurut kelas atrofi lambung, C-0, C-1 dan C-2 = ringan dan C-3 = parah. Empat visual analog juga digunakan dengan skala 0-3 yaitu : infiltrasi neutrofil, infiltrasi sel mononuclear, atrofi dan metaplasia intestinal, sesuai dengan klasifikasi Sydney yang di update. Pepsinogen ( PG) dan PG II dan rasio PG I/II. serta dengan periksaan serologi serta antibody H. pylori. Sebanyak 78 dengan kecocokan usia dan jenis kelamin dengan control H.pylori positif diikutkan dalam kelompok penelitian. Evaluasi PG I, PG II dan PG I/II di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok muda yang terdiri dari pasien berusia <40 tahun, dna kelompok usia lanjut berusia 40 tahun atau lebih, yang diarahkan untuk mengambil pemeriksaan kanker lambung. 10 | P a g e 2.2 HASIL PENELITIAN 2.2.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis  Tingkat lambung empedu refluks perubahan histologis yang berbeda dari mukosa lambung antral Tiga belas kasus dari 59 pasien mengalami infeksi HP dengan demikian sesuai dengan kriteria eksklusi, 46 pasien yang terdaftar dalam penelitian ini. Tidak ada atrofi antral lambung ditemukan pada kelompok-kelompok ini. Skor perubahan histologis yang berbeda pada mukosa lambung antral dan parameter refluks empedu ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil kami menunjukkan bahwa waktu refluks terpanjang dan total waktu persentase refluks empedu jauh lebih rendah pada kasus dengan gangguan vaskular dari permukaan mukosa dibanding yang tanpa gangguan vaskular [55 (1-23) vs 137 (7-240), 22,8 (0,9-55,1) vs 35,2 (3.5- 82.8), masingmasing]. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam parameter refluks empedu ditemukan untuk perubahan histologis lain dari mukosa lambung. Perubahan histologis mukosa lambung pada pasien dengan refluks empedu yang ditunjukkan pada Gambar 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. 11 | P a g e Gambar 12 | P a g e 13 | P a g e  Rasio DGR-positif untuk perubahan histologis yang berbeda dari mukosa lambung antral Menurut kriteria diagnostik patologis DGR, 15 dari 46 kasus yang positif dan lainnya 31 kasus negatif. Seperti terlihat pada Tabel 2, tingkat positif patologis DGR secara signifikan lebih tinggi dalam kasus-kasus dengan hiperplasia foveolar (5/6) dibanding mereka yang tanpa hiperplasia foveolar (10/40); Namun, tingkat signifikan lebih rendah dalam kasus-kasus dengan gangguan vaskular mukosa superfisial (28/5) dibanding mereka yang tanpa gangguan vaskular (10/18). Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam patologis tingkat positif DGR ditemukan pada pasien dengan perubahan histologis lain dari mukosa lambung. 14 | P a g e  Hasil analisis regresi logistik biner Sembilan jenis perubahan histologis pada mukosa lambung dianalisis menggunakan regresi bertahap, seperti yang ditunjukkan pada Tabel , namun ada kasus memiliki aktivitas peradangan atau atrofi antral. Hiperplasia Foveolar dan gangguan vaskular mukosa superfisial adalah variabel yang signifikan dalam langkah terakhir dari regresi. Dua variabel secara signifikan berkorelasi dengan empedu refluks: hiperplasia foveolar merupakan faktor risiko untuk refluks dan gangguan vaskular adalah sebagai faktor protektif. 2.2.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum Dari 80 wanita hamil, termasuk dalam 62 primigarvida dan 18 multigravida, tak ada salah satu dari mereka memiliki riwayat peptic atau duodenal ulcer. 10 dari multigravida mengalami HG yang cukup parah dan tiga dari mereka melakukan aborsi sebelumnya. Sekitar 71 dari 80 kasus hiperemesis (88%) dan 24 dari 80 kasus (30%) positif pada antibodi serum H. pylori. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata wanita yang lebih tua banyak ditemukan kasus dan kontrol dengan serpopositid dari H.pylori dibandingkan dengan wanita yang seronegatif. Dari 80 kasus hiperemesis gravidarum, 8 pasien ditemukan dengan gejala yang berat dan tidak berespon terhadap pengobatan yang diberikan seperti pemeberian cairan IV, penggantian elektrolit, anti emetik, dan pemberian vitamin. Dari 8 pasie tersebut terdapat gejal ayang mengarah pada hematemesis (muntah darah), sehingga dilakukan pemeriksaan ekdoskopi yang hasilnya menunjukkan dua dar tiga orang tersebut mengalami gastritis dan duodenal eroisions. Dari tiga kasus tersebut, pasien memiliki riwayat aborsi berhubungan 15 | P a g e dengan muntah secara terus-menerus dan infeksi H.pylori telah dibuktikan pada pemeriksaan hitopatologi dari semua biopsi. 2.2.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly Insiden NG Dievaluais berbasis pada data dari tahun 2003 sampai 2012. NG ditemukan di 64 kasus ( 0,94%) dari 6.623 pasien yang menjalani endoskopi dengan rata-rata usia 47,3 +/- 13,3 Tahun ( rentan usia 19-74 tahun). Pada kelompok muda 33 dari 968 orang yang didiagnosa menderita NG. pada kelompok usia lanjut 29 dari 5655 orang didiagnosis menderita NG. kejadian NG secara signifikan lebih rendah terjadi pada kelompok usia lanjut dan pasien wanita lebih tinggi pada pasien usia lanjut. Dan pada kelompok usia muda tidak ada perbedaan yang signifikan antara prai dan wanita. Endoscopic grading of NG. Data NG di kumpullkan dan di analisis dari semua data base kelembagaan 2004-2012 dan sebanyak 115 kasus dengan NG terdaftar unutk endoskopi dan analisis histopatologi. Semua pasien positif H. pyori melalui pemeriksaan histology dan serologi. Kelompok muda ( A=11,5%, B=13,6% dan C=53,9%) dan usia lanjut ( A=15,9%, B=36,5% dan C=47,6%) dikategorikan berdasarkan grade A, B, C masing-masing. Meskipun perbedaan yang tidak signifikan antara kedua kelompok, pada kelompok usia lanjut Grade A lebih tinggi dan grade C lebih rendah. Endoscopic grade of atrophy of the gastric mucosa. Pada kelompok muda 67,3% pasien dikategorikan gastritis ringan dan 32,7% dikategorikan sebagai gastritis parah. Pad akelompok usia lanjut 50,8% dikategorikan sebagai gastritis ringan dan 49,2% gastritis parah. Meskipun ada perbedaan antara kelompok muda dengan kelompok usia lanjut namun perbedaannya cenderung tidak signifikan. Concomitant diseases in NG. Penyakit bersamaan yang terjadi di saluran pencernaan atas pada diagnosis NG pada kelompok pasien muda 36,5% dan 41,3% pada pasien lanjut usia. Pada pasien kelompok muda kejaian ulkus duodenum lebih tinggi dibandingkan dengan dibandingkan dengan kelompok usia lanjut. Sedangkan kejaina polip lambung datu tukak lambung lebih tinggi terjadi pada kelompok usia 16 | P a g e lanjut. Pada kasus kanker lambung terjadi satu pada kelompok mudan dan dua pada kelompok usia lanjut. Histological inflammation and atrophic grade. Ketika sampel biopsy di ambil dari kekelengkuang yang lebih besar di antrum, tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok muda dan usia lanjut pada infiltrasi neutrofil, monosit infiltrasi, atrofi atau metaplasi usus. Nilai infiltrasi lebih besar pada kelompok usia lanjut. PG and NG. Pada kelompok mda nilai rata-rata unutk PG I, PG II dan PG I/II masing-masing tidak ada perbedaan antara NG dan control sebaliknya pada kelompok usia lanjut nilai rata-rata unutk PG I dan PG II hsilnya lebih dignifikan pada pasien NG dari pada control. Pada perbandingan antar kelompok muda dan usia lanjut PG II lebih tinggi dan PG I/II lebih rendah pada kelompok lanjut usia. Incidence of gastric cancer between NG and non- NG. Satu kasus kanker lambung ditemukan pada kelompok muda dengan NG. Sementara kanker lambung tidak ditemukan pada kelompok non-NG. pada kelompok usia lanjut, satu kasus kanker lambung ditemukan dan 96 kanker lambung di temukan di kelompok non-NG. OR (odds ratio) resiko kanker lambung pasien dengan NG adalah 2,1 (95% CI 0.3- 15,3) pada kelompok usia lanjut. 2.3 DISKUSI 2.3.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis Lesi mukosa lambung yang disebabkan oleh refluks empedu yang umum di perut pasca operasi. Baru-baru ini, perubahan histopatologi pada mukosa lambung pada pasien dengan BRG primer telah menerima lebih banyak perhatian. Refluks empedu diduga terkait dengan peradangan kronis dari mukosa lambung, lamina propria edema, hiperplasia foveolar, atrofi antral dan metaplasia intestinal. Pada tahun 1986, Dixon et al. mendirikan sistem penilaian untuk pathomorphisms dari perut pasca operasi. Pasca operasi BRG bisa akurat didiagnosis sesuai dengan perubahan histopatologi yang khas, seperti hiperplasia foveolar, edema dan 17 | P a g e gangguan dari lamina propria dan tingkat yang lebih kecil dari infiltrasi inflamasi seluler. Namun, fitur histologis BRG primer tetap kontroversial. Wang et al. melaporkan bahwa hiperplasia foveolar ada di kedua corpora lambung dan antrum lambung dengan peradangan kronis ringan pada model tikus jangka panjang refluks empedu yang konsisten dengan fitur patologis refluks gastritis. Refluks empedu diketahui terkait dengan perkembangan metaplasia usus pada orang dewasa, tetapi hubungan antara refluks empedu dan metaplasia intestinal pada anak-anak masih belum jelas. Empedu refluks telah disarankan sebagai penyebab gastropati dalam buku teks gastroenterologi anak dan dalam tinjauan komprehensif gastritis pada anak-anak. Hal ini juga tidak jelas apakah BRG utama pada anak-anak memiliki perubahan histologis karakteristik mukosa lambung. Pashankar et al. mengidentifikasi semua fitur histopatologis klasik gastropati kimia dalam 21 anak: 19 pasien hiperplasia foveolar, 20 pasien mengalami gangguan vaskular, 16 pasien memiliki lamina propria edema dan 16 pasien hiperplasia otot polos. Para peneliti menyimpulkan bahwa refluks empedu, penyakit reflux gastroesophageal dan penggunaan obatobatan, seperti NSAID dapat mempengaruhi patogenesis gastropati kimia pada anak-anak. Berdasarkan sistem penilaian Dixon, tidak ada nilai dari 2 atau 3 kelas mukosa lambung yang diamati pada jenis histologis yang berbeda, kecuali untuk tingkat peradangan. Untuk menyelidiki hubungan antara patologis DGR dan perubahan histologi, analisis regresi logistik biner dilakukan untuk 9 jenis karakteristik histologis pada mukosa lambung antral sebagaimana disebutkan dalam metode. Hiperplasia Foveolar dan gangguan vaskular pada lapisan superfisial adalah variabel yang signifikan pada langkah terakhir dari regresi bertahap. Hiperplasia Foveolar adalah faktor risiko untuk pasien dengan refluks empedu dan gangguan vaskular adalah faktor protektif. Kerusakan mukosa lambung yang disebabkan oleh refluks empedu menginduksi degranulasi sel mast dan pelepasan mediator vasoaktif, seperti histamin, yang menyebabkan gangguan pembuluh darah dan lamina propria edema. gangguan vaskular mukosa superfisial dianggap perubahan adaptif dalam mukosa lambung dengan efek protektif. Pasokan darah penting dalam menjaga fungsi normal sel, termasuk perbaikan sel dan penggantian. Perluasan pembuluh dangkal meningkatkan aliran darah mukosa, yang dengan cepat dapat menghapus zat berbahaya dan bermanfaat bagi regenerasi mukosa setelah cedera. Efek sel-protektif ini mungkin berhubungan dengan sekresi prostaglandin. Tingkat positif patologis DGR secara signifikan lebih tinggi dalam kasus-kasus dengan hiperplasia foveolar dibanding mereka yang tanpa hiperplasia foveolar. Namun, itu secara signifikan lebih rendah dalam kasus-kasus dengan gangguan vaskular mukosa superfisial 18 | P a g e dibanding mereka yang tanpa gangguan vaskular. Penelitian ini mengungkapkan bahwa tingkat refluks empedu parah pada pasien dengan hiperplasia foveolar dan ringan pada pasien dengan gangguan vaskular. Menariknya, hanya 3 dari 46 pasien mengalami metaplasia intestinal yang tidak sama dengan penelitian lain pada orang dewasa. Bahkan, metaplasia usus adalah jenis perubahan adaptif dari mukosa lambung yang terjadi ketika mikro lokal perubahan mukosa lambung ke lingkungan mikro saluran usus. 2.3.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum Wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum dapat mempengaruhi fisik dari ibu ataupun pada janin sehingga masalah tersebut hars segera diatasi. Beberapa teori terkait dengan penyebab HG yaitu terdapat perubahan hormonal yang bersamaan dengan dismolitas gastrointestinal dan kemungkinan infeksi bakteri H. pylori yang kebanyakan terjadi pada negara berkembang di bandingkan dengan negara maju. Infeksi bakteri H. pylori dapat menyebabkan penyakit gastritis kronis (terdapat inflamsi dan perubahan epitel pada mukosa lambung). Penelitian menunjukkan bahwa angka kejadi infeksi lebih banyak terjad pada Hiperemesis Gravidarum dibandingkan dengan kelompok normal dan penelitian lain menyebutkan bahwa terjadi peningkatan infeksi pada wanita dengan HG (dengan adannya perubahan hormonal). Hiperemesis Gravidarum yang diakibatkan meningkatakn level serum HCG, dapat meningkatkan dengan cepat kadar estrogen sehingga mengakibatkan peningkatan akumulasi cairan yang disebabkan oleh peningkatan hormon sterois pada wanita hamil, sehingga perubahan pH pun dapat terjadi. Perubahan pH pada saluran gastrointestinal, secara hipotesis dapat menimbulkan manifestasi dari subklinik infeksi H. pylori yag dapat memperburuk gejala gastrointestinal. Dalam jurnal disebutkan bahwa penelitian ini menunjukkan sekitar 90% telah positif infeksi H. pylori pada pasien hiperemesis gravidarum dan 50% subjek kontrol. Sehingga disimpulkan bahwa infeksi H. pylori lebih banyak ditemukan pada wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum yang kebanyakan dari mereka tidak ada tanda geala yang muncul (akibat dari infeksi). Dari 8 wanita dengan gejala yang berat, diberikan pengobatan, meliputi pemberian ratinidin (kelas b) 150 mg, metronidazole (kelas b) 500 mg, dan ampicillin (kelas b)1000 mg dua kali sehari selama dua minggu. Pemberian ratinidin dan ampicillin diberikan melalui parentral dan metronidazole melalui rute rektal sampai pasien mendapatkan terapi oral. Dari pengobatan 19 | P a g e tersebut, 6 pasien menunjukkan perkembangan ditandai dengan berkurang muntah dan 2 pasien lainnya tidak menunjukkan perkembangan pengobatan dari muntah dan nyeri gastrik sehingga diberikan antasid sampai kelahiran bayi secara aman. Selain itu, edukasi pada pasien terkait dengan pemberian mkanan yang lebih hati-hati. Kemudian pengolahan makanan dan cuci tangan sangat pentig untuk mencegah penyebaran kuman atau bakteri melalui makanan. 2.3.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly Hubungan antara H.pylori pertama kali dilaporkan pada tahun 1988, dan NG dianggap hanya terinfekksi di anak. Namun menurut laporan terbaru menunjukan hubungan yang erat antara infeksi H.pylori dan NG pada usia dewasa. Beberapa klasifikasi di NG mencerminkan ukuran filikel limfois. Grade A relative tinggi sedangkan atrofi mukosa lambung ringan pada kelompok usia lanjut dan dominasi terjadi pada wanita. Dalam penelitian ini, tiga kasus kanker lambung ditemukan pada kelompok muda dan dua kanker lambung pada keompok usia lanjut. Penyakit bersamaan gastrointestinal dengan NG dianalisis, kejadian ulkus duodenum lebih tinggi terjadi pada kelompok muda dan ulkus lambung yang lebih banyak terjadi pada kelompok usia lantuj. Selanjutnya timbulnya kanker lambung di bandingkan secara epidemiologis di bandingkan dengan ulkus duodenum dan tungkak lambung ditemukan menjadi raktor resiko kanker lambung dan tampaknya lebih mungkin terjaid pada kelompok usia lanjut. NG kini lebihdi kenal dengan pangastritis dan terbukti pangastritis menjadi salah satu penyebab kanker lambung. Konsentrasi serum PG I dan rasio PG I/II berkolerasi baik dengan atrofi gastritis dan PG II dengan grade lambung. Dalam penelitian perbedaan antara NG dan H.pylori-positif control dalam konsentrasi serum PG I dan PG II secara signifikan lebih tinggi pada kelompok usia lanjut. Sehingga dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa resiko kanke rlambung meningkat pada orangtua dengan NG. Dari database penelitian tidak hanya pasien yang melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga orang-orang dengan gejala pada perut, yang merupakan kempok yang tepat unutk analisis. Pada pasien kelompok usia muda, kanker lambung erat terkait dengan infeksi H.pylori . terapi H. pylori dan pemeriksaan endoskopi digunakan unutk pencegahan dan atau deteksi dini kanker lambung. Saat ini terapi eradikasi H.pylori dengan inhibitor pompa proton dan antibiotic 20 | P a g e sangan dianjurkanunutk mengobati NG dan mencegah komlikasi lebih lanjut serta kanker lambung. Kajadian NG menurun pada individu diatas 40 tahun tetapi hanya pada kasus-kasus tertentu. radang lambung parah yang ditandai dengan pangastritis memiliki hubungan yang erat dengan kanker lambung. Potensi resiko tinggi untuk kanke rlambung pada kelompok usia lanjut dengan NG serta pada kelompok muda. 21 | P a g e BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN 3.1.1. Anak Histological Features of The Gastric Mucosa in Children With Primary Bile Reflux Gastritis Hal ini berspekulasi bahwa tingkat keparahan refluks empedu lebih rendah daripada di kasus dilaporkan oleh Dixon et al. yang melibatkan sekunder BRG. Namun demikian, hubungan antara tingkat empedu refluks dan perubahan histologis pada mukosa lambung masih belum diketahui. Hasil dari penelitian pada jurnal menunjukkan bahwa waktu refluks terpanjang dan total waktu persentase refluks empedu jauh lebih rendah pada kasus dengan pembuluh darah dengan gangguan mukosa lambung daripada yang tidak gangguan vaskular. Hiperplasia foveolar dikaitkan dengan tingkat empedu refluks dan dapat berfungsi sebagai perubahan histologis karakteristik BRG utama pada anak-anak. Pada jurnal menegaskan korelasi negatif antara gangguan vaskular dari permukaan mukosa dan refluks empedu gastritis. 3.1.2. Wanita Hamil Role Of Helicobacter Pylori in The Pathogenesis of Hyperemesis Gravidarum Pada wanita hamil dengan hiperemesi gravidarum dapat dilakukan pemeriksaan kehamilan secara lengkap termasuk skrining untuk bakteri H. pylori terutama pada kondisi berkepanjangan dapat ditemukan pada trimester kedua. Hal tersebut dilakukan karen angka kejadian infeksi bakteri H. pylori meningkat pada wanita hamil dengan hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan kelompok normal. Pemberian obat-obatan juga perlu diperhatikan terkait dengan pengaruhnya pada kondisi janin. Hal yang paling penting adalah edukasi pasien terkait dengan pengolahan makanan dan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran bakteri padan makanan khususnya pada negara berkembang dan sosioekonominya rendah. Dari jurnal disimpulkan bahwa meskipun belum ada bukti yang cukup untuk menunjukkan peran dari infeksi bakteri H. pyloripada patogenesis hiperemesis gravidarum, akan tetapi infeksi tersebut pun mampu memperberat gejala kejadian hipermemesis gravidarum. 22 | P a g e 3.1.3. Lansia / Geriatrik Prevalence And Characteristics of Nodular Gastritis in Japanese Elderly NG (Nodular Gastitis) didefinisikan sebagai gastritis antral biasanya ditemukan pada pemeriksaan endoskopi ditandai dengan pola “goose flesh”. Penelitian ini didasarkan pada salah satu penyebab kanker lambung yang merupakan penyakit yang sering terjadi di jepang yaitu nodular goiter dan dibandingkan antara kelompok muda ( usia > 40 tahun) dan kelompok lansia (>40 tahun).dengan menggunakan beberapa metode skrining lambung untuk kanker lambung dari derajat nodular sampai kelas nodular gastritis yang umumnya dapat dilihat melalui pemeriksaan endoskopi. Hasil dari penelitiaan ini menunjukan perbandingan dari Endoscopic grading of NG, Incidence of gastric cancer between NG and non- NG, PG and NG, Histological inflammation and atrophic grade, Endoscopic grade of atrophy of the gastric mucosa, Concomitant diseases in NG, Insiden NG. kesimpulan yang didapatkan dari jurnal ini yaitu , resiko kanker lambung meningkat dengan bertambahnya usia ( kelompok dengan usia . 40 tahun) dengan NG. 23 | P a g e Daftar Pustaka Deglin, j. 2008. Drug Guide for Nurses. Philadelphia : Davis Company 24 | P a g e

Judul: Makalah Sharing Jurnal Gastritis

Oleh: Trirezika Dianingrum


Ikuti kami