Juteks-jurnal Teknik Sipil

Oleh Damian Making

409,5 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Juteks-jurnal Teknik Sipil

JUTEKS- JURNAL TEKNIK SIPIL PERENCANAAN STRUKTUR JEMBATAN BETON BERTULANG PADA JEMBATAN BESTOBE I KECAMATAN INSANA BARAT KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Damianus P H Making1, Albert Aun Umbu Nday2, dan Deasi D A A Daud3 1 Alumni Prodi TPJJ Jl. Thamrin no. 67 A Kayu Putih Email : damianuspayonghalimaking@gmail.com 2 Albert Aun Umbu Nday Jl. Adisucipto Penfui, Kupang-NTT Email : umbundayalbert@gmail.com 3 Deasi D A A Daud Jl. Adisucipto Penfui, Kupang-NTT Email : deasi.daud@gmail.com ABSTRAK Sarana dan prasarana lalu lintas memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Sarana dan prasarana lalu lintas yang tersedia dengan baik selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi yang meningkat. Hal ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah agar dapat memberikan pelayanan transportasi yang baik bagi warganya. Jembatan Bestobe I mempunyai panjang jembatan mencapai 12 m dengan lebarnya 9 m berlokasi sekitar 18 km dari pusat kota kefamenanu, jembatan ini dibangun pada tahun 1992 dengan Status Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Nusa Tengara Timur. Konstruksi bangunan atas jembatan ini terbuat dari struktur komposit beton dan baja, sedangkan bangunan bawah berupa pondasi langsung dengan konstruksi pasangan batu. Dalam tugas akhir ini dibahas tentang perencanaan struktur jembatan baik struktur atas jembatan maupun struktur bawah jembatan. Struktur atas jembatan dimulai dengan perencanaan lantai kendaraan, balok, tiang sandaran dan trotoar dan dilanjutkan dengan perencanaan struktur bawahnya yang meliputi perencanaan abutmen dan pondasi. Kata Kunci : Jembatan, bangunan atas, bangunan bawah. sungai kecil. Indonesia sebagai negara PENDAHULUAN tropis yang terdiri dari berbagai pulau Jembatan dapat dikatakan sebagai besar dan kecil serta memiliki banyak salah satu sarana prasarana tertua sungai memerlukan jembatan untuk didalam penghubung peradaban manusia. Pada antara wilayah yang zaman dahulu, jembatan dibuat dengan terpisahkan oleh sungai dan laut. Usaha menggunakan balok kayu yang besar yang dan kuat untuk menyeberangi sungai- 1 dapat dilakukan untuk memperlancar hubungan antar daerah mengalami kerusakan yang cukup serius melalui dengan berupa retak pada pasangan batu dan membangun jembatan-jembatan dan abutmen terlihat menggantung akibat jalan-jalan baru maupun perbaikan dan erosi dari aliran air, karat ( korosi ) pada pelebaran jalan lama, serta perbaikan gelagar jembatan yang telah rusak, yang sudah terbuat dari konstruksi baja , mengingat tidak mampu menampung arus lalulintas pertumbuhan yang ada. pesat darat adalah kota Teknik Perancangan dan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Politeknik Negeri Provinsi Nusa Tengara Timur. Konstruksi Kupang, dengan judul “Perencanaan bangunan atas jembatan ini terbuat dari beton dan Struktur Jembatan Beton Bertulang baja, Pada Jembatan Bestobe I Kecamatan sedangkan bangunan bawah berupa Insana Barat Kabupaten Timor Tengah pondasi langsung dengan konstruksi Utara”. pasangan batu. Perencanaan penting dan merupakan vital pembangunan tersebut, sekaligus sebagai proposal skripsi pendidikan S1 dengan Status Jalan Nasional Wilayah II komposit makin menyebabkan tingkat layanan ulang jembatan kefamenanu, jembatan ini dibangun pada tahun 1992 struktur yang maka perlu dilakukan perencanaan dengan lebarnya 9 m berlokasi sekitar 18 pusat lalulintas yang tidak sesuai dengan umur rencananya, panjang jembatan mencapai 12 m dari jembatan yang diberikan oleh jembatan bestobe I Jembatan Bestobe I mempunyai km memanjang dalam konstruksi fungsi METODE kegiatan PENELITIAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA jembatan. Dalam suatu proyek konstruksi seperti Dalam proses pengumpulan data, dalam hal ini konstruksi jembatan selalu data yang diperoleh adalah data primer. memerlukan sumber daya yang berupa Dalam hal ini penulis langsung ke lokasi tenaga kerja biaya bahan material dan untuk mengambil data tersebut yaitu peralatan. Biaya merupakan salah satu panjang bentang dan lebar jembatan dan sumber daya yang sangat berperan data sekunder di dapat dari instansi besar untuk menunjang pembangunan terkait dengan cara bersurat ke instansi proyek Maka diperlukan perencanaan terkait. HASIL DAN PEMBAHASAN terhadap kebutuhan biaya melalui suatu penjadwalan biaya untuk mendapatkan Perancangan Tiang Sandaran jumlah Perhitungan Pembebanan biaya yang diperlukan Tiang berdasarkan waktu pelaksanaan proyek. menerima Dari dilapangan pengamatan jembatan tersebut penulis sandaran beban sebesar 100 telah 1.3.28.1987 2 terpusat Kg/m2 Hal direncanakan : sandaran (PPPJJR SKBI10)yang bekerja horizontal pada ketinggian 50 cm dari Mutu baja tulangan= 240 MPa atas permukaan trotoar. Direncanakan Mutu beton= 22 MPa dimensi tiang sandaran bagian atas dengan panjang 15 cm dan lebar 15 cm, Berat isi beton (γc) = 2400 Kg/m3 ( RSNI T 02-2005, Hal. 10) sedangkan Pipa Railling dimensi bagian bawah = ∅ 3’ (76,3 mm) dengan dengan panjang 25 cm dan lebar 15 cm. tebal 2,8 mm, dan dari tabel diperoleh Diasumsikan tiang sandaran sebagai berat sendiri pipa = 5,08 Kg/m’. balok kantilever. Lebar bawah= 20 cm = 200 mm = 0,20 m Data perencanaan : 1. Tinggi tiang sandaran= 90 cm = 900 mm = 0,9 m Lebar (b) = 15 cm = 150 mm = 0,15 m 2. Jarak antar tiang sandaran= 200 Tebal (h) = 15 cm = 150 mm = 0,15 m cm = 2.000 mm = 2 m Tinggi tiang sandaran = 125 cm = 1250 mm = 1,25 m 3. Pipa Railling= ∅ 3’ (76,3 mm) dengan tebal 2,8 mm, dan dari Jarak antara tiang sandaran = 200 cm = 2000 mm = 2,0 m table diperoleh berat sendiri pipa Ø Tulangan pokok = 10 mm Ø tulangan bagi = 8 mm Untuk selimut beton (𝑆𝑏 )= 40 mm Perhitungan Penulangan Faktor Momen Pikul (K) 1. Tulangan Pokok Data Perancangan Tinggi penampang, h = 15 cm = 150 mm : Faktor Reduksi Kekuatan (∅) Untuk Perencanaan Struktur Lentur Dengan atau Tanpa Tarik Struktur Beton Bertulang UntukJembatan Aksial = 0,80 (Dari Manual Perencanaan No.009/BM/2008 Hal.2-18 Pasal 2.8 Struktur Tabel 2-3, untuk struktur yang langsung Jembatan berhubungan dengan tanah atau cuaca Tabel 3.2) Berdasarkan Manual dengan D < 16 maka selimut beton (Sb) Beton Bertulang No.009/BM/2008 Untuk Hal.3-5 Tinggi Penampang (h=b) =150 mm yang pakai sebesar 40 mm. K Tinggi efektif penampang (d) : d = ℎ − 𝑆𝑏 − ∅ 𝑇𝑢𝑙. 𝑠𝑒𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛𝑔 − (12 . ∅ 𝑇𝑢𝑙. 𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘) = = 1 𝑀𝑢 ∅.𝑏.𝑑² = 2.358,171 𝑁𝑚 0,80 𝑥 150𝑚𝑚 𝑥 (97𝑚𝑚)² 2.358,171 𝑥 103 𝑁𝑚𝑚 0,80 𝑥 150𝑚𝑚 𝑥 9409𝑚𝑚2 2.358.171 𝑁𝑚𝑚 = 150 mm–40mm–8mm-( .10mm) = = 150 mm–40mm–8mm-5mm = 2,089 N/mm2 = 97 mm = 2,089MPa 2 3 1.129.080 𝑚𝑚3 Data perancangan : Rasio Tulangan Perlu (𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ) : 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = = 0,85.𝑓𝑐′ 𝐹𝑦 0,85 𝑥 22 𝑀𝑃𝑎 240 𝑀𝑃𝑎 [1 − √1 − [1 − √1 − 2.𝐾 0,85.𝐹𝑐′ Dari syarat perhitungan diatas maka ] 2 𝑥 2,089 𝑀𝑃𝑎 0,85 𝑥 22 𝑀𝑃𝑎 dipakai 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 = 0,009 Tinggi Penampang (h=b) = 15 cm = 150 ] mm 18,70 𝑀𝑃𝑎 = 240 𝑀𝑃𝑎 [1 − √1 − 4,177 𝑀𝑃𝑎 18,70 𝑀𝑃𝑎 ] Tinggi Efektif Penampang (d) = 97 mm = 0,0779[1 − √1 − 0,223] (Perhitungan Hal : 89) = 0,0779[1 − √0,777] As,u = 0,0779[1 − 0,881] =𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 . 𝑏. 𝑑 = 0,009 𝑥 150 𝑚𝑚 𝑥 97 𝑚𝑚 = 0,0779 x 0,119 = 133,479 mm2 = 0,009 Luas 1 Batang Tulangan Tarik atau Rasio Tulangan Minimum (𝜌𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 ) : Pokok (As1) : 𝜌𝑚𝑖𝑛 = 1,4 𝑓𝑦 = 1,4 240 𝑀𝑃𝑎 = 0,006 Data perancangan Rasio Tulangan Maksimum (𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 ) 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 = 0,75 𝑥 = 0,75 𝑥 0,85.𝑓𝑐 ′ .𝛽1 𝑓𝑦 0,85.22𝑀𝑃𝑎.0,85 240 𝑀𝑃𝑎 𝑥 [ 600 600+𝑓𝑦 𝑥[ 600 600+240 𝑀𝑃𝑎 : Dipakai tulangan pokok ∅ 10 ] 𝜋 = 3,14 As1 ] = 𝜋 4 𝑥(𝐷)2 = 3,14 4 𝑥(10 𝑚𝑚)²= 0,785 x100 mm2 = 78,5 mm2 = 0,75x0,0662 x0,7143 Jumlah Tulangan Yang Diperlukan (n) : = 0,0355 Data perancangan : Syarat 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ≤ 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 As,u = 133,479 mm2 As1 = 78,5 mm2 n = 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 (0,006 ≤ 0,009) maka dipakai𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑚𝑎𝑘𝑠 (0,006 ≤ 0,0355) maka dipakai 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 𝐴𝑠,𝑢 133,479 𝑚𝑚² 𝐴𝑠₁ = 78,5 𝑚𝑚² = 1,700 Batang = 4 Batang Ternyata 𝜌𝑚𝑖𝑛 ≤ 𝜌𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 ≤ Luas 𝜌_𝑚𝑎𝑘𝑠 (0,006 ≤ 0,009 ≤ 0,0355) Terpasang (AsPasang) : Luas tulangan tarik atau pokok yang Data perancangan diperlukan (AsPerlu) : Tulangan Tarik atau Pokok : Jumlah Tulangn (n) = 4 Batang Luas 1 Batang Tulangan Tarik (As1) = 78,5 mm2 4 1 As,pasang = 𝑛 . 𝐴𝑠1 2 = 4 x78,5 mm2 1 . ∅. 𝑉𝑐 = (0,70). (11.396 𝑁) 2 = 3.988,6 N > Vu (3.988,6 > 4.000 … Ok = 314 mm 2 > AsPerlu (314 mm2 > Syarat Pemasangan Tulangan Geser 133,479 mm2) ..........…Ok adalah 1 2 . ∅. 𝑉𝑐 < 𝑉𝑢 < ∅. 𝑉𝑐 : Jadi, dipakai tulangan tarik / pokok 4∅10 1 Karena 𝑉𝑢 < . ∅. 𝑉𝑐 < ∅. 𝑉𝑐 (4.000 N < dengan As,pasang = 314 mm2, dimana As,pasang > As,u (314 mm2>133,479 a. Perancangan Tulangan 2 3.988,6 N < 7.977,2 N), maka struktur mm2) tidak memerlukan tulangan geser.Tapi, Geser / untuk kepentingan pencegahan terhadap Sengkang Data perancangan peningkatan tegangan beton pada saat interlocking, : tulangan Gaya Geser Ultimit Rencana (Vu) 4.000 maka geser perlu dipasang minimum. Tulangan geser minimum dihitung berdasarkan N (Perhitungan Hal : 88) rumus : Kuat Tekan Beton (𝑓𝑐′) = 22 MPa As = Tinggi Penampang (h=b) = 15 cm = 150 1⁄ √𝑓𝑐′.𝑏.𝑆 3 𝐹𝑦 mm Dengan : Tinggi Efektif Penampang (d) = 97 mm SMaks adalah jarak dari As ke As batang (Perhitungan Hal : 89) tulangan geser ke arah sejajar tulangan pokok Faktor reduksi akibat geser (∅) = 0,70 Jembatan utama memanjang (mm), sehingga secara teoritis tiang sandaran (Manual Perencanaan Beton Bertulang Untuk / tidak No/009/BM/2008 perlu sengkang, tetapi untuk kestabilan struktur maka perlu dipasang Halaman 3-5 Tabel 3.2) tulangan geser dengan spasi minimum : 1 Vc = . √𝑓𝑐′. 𝑏. 𝑑 1 6 SMinimum = . 𝑑= 0,5 𝑥 97 𝑚𝑚 = 48,5 mm 2 1 = 𝑥√22𝑀𝑝𝑎 𝑥 150 𝑚𝑚 𝑥 97 𝑚𝑚 Agar 6 tidak pemasangan = 0,167 𝑥 4,69 MPa 𝑥150 mm 𝑥 97 mm menyulitkan tulangan pada di saat lapangan, maka spasi tulangan dibulatkan ke atas =0,167 𝑥 4,69 𝑁/ yaitu 2 𝑚𝑚 𝑥 150 𝑚𝑚 𝑥 97 𝑚𝑚 50mm. Maka luas tulangan minimum : = 0,167 𝑥 4,69𝑁𝑚𝑚−2 𝑥 150 𝑚𝑚 𝑥 97 𝑚𝑚 As = 1⁄ √𝑓𝑐′.𝑏.𝑆 3 𝐹𝑦 = 11.396 N ∅. 𝑉𝑐 = = (0,70)(11.396𝑁) = 7.977,2 𝑁 5 0,333 √22𝑀𝑃𝑎𝑥 150 𝑚𝑚𝑥 50 𝑚𝑚 240 𝑀𝑃𝑎 = = ketinggian dari permukaan plat lantai sebesar 20 cm (0,20 m). 0,333 √22𝑁/𝑚𝑚²𝑥 150 𝑚𝑚𝑥 50 𝑚𝑚 240 𝑁/𝑚𝑚² 0,333 𝑥 4,69𝑁/𝑚𝑚²𝑥 150 𝑚𝑚𝑥 50 𝑚𝑚 240 𝑁/𝑚𝑚² 0.10 0.15 100 kg X1 = 11.713,28𝑁 0.50 500 kg/m ² 240 𝑁/𝑚𝑚² X2 X3 0,10 0.65 = 0,40 0,10 X6 11.713,28𝑁 500 kg X7 X4 0,20 240 𝑁𝑚𝑚⁻² X5 0,20 0,20 0.075 = 48,81 mm² 0.075 0.175 0.25 0.43 0,927 0.50 Jadi, untuk tulangan geser (sengkang) 0.75 digunakan ∅8-50mm, sedangkan untuk 0.50 0.82 tulangan pokok digunakan 4∅10. Gambar 4.8 Dimensi Plat Kantilever Dan Titik Berat Arah X Dan Y Perancangan Plat Lantai Kendaraan Perhitungan beban yang bekerja pada plat lantai kendaraan Ø 8 - 50 1. Perhitungan akibat : berat sendiri (𝑄𝑀𝑆 )( Halaman : 10 RSNI T – 02 - 4 Ø 10 2005 pasal 5,2) Ø 8 - 50 Data perencanaan : Faktor beban ultimit KMS = 1,3 menurut RSNI T – 02 - 2005 Tebal pelat lantai kendaraan Hf = 0,20m (RSNI-T12-2004 pasal 5.2.4) Gambar 4.7 Penulangan Tiang Sandaran Berat jenis beton bertulang ɣ = 2400 Kg/m³ Perancangan Plat Kantilever Perhitungan Pembebanan Ditinjau Perancangan tulangan plat kantilever dimulai dari hitungan bebanbeban yang bekerja, yaitu beban mati (DL) dan beban hidup (LL). Beban mati (DL) merupakan beban sendiri tiang sandaran, pipa railing dan trotoar. Sedangkan beban hidup (LL) adalah beban horizontal (H1) pada tiang sandaran sebesar 100 Kg, beban vertikal (V1) merata di atas trotoar sebesar 500 Kg/m' dan beban horizontal (H2) pada trotoar sebesar 500 Kg, dengan selebar 1 meter. arah memanjang plat b = 1 m maka : Berat pada pelat lantai kendaraan = 𝐻𝑓 . ɣ . 1 𝑚 = 0,20 x 2400 x 1480 Kg/m’ 𝑄𝑀𝑆 = 480 Kg/m= 4,8 kN/m’ 2. Perhitungan beban mati tambahan (𝑄𝑀𝐴 ) (Halaman : 13 RSNI T – 02 2005 pasal 5.3) 6 Data perencanaan : Faktor beban ultimit Tegangan leleh (𝑓𝑦) = 400MPa (Untuk BJTD 40 atau Tulangan ulir) 𝐾𝑀𝐴 = 2,0 (RSNI T – 02 - 2005) Faktor reduksi kekuatan lentur dengan atau tanpa beban aksial dan tarik aksial Lapisan aspal + overlay (ta)= 0,10 m (∅) = 0,80 (Dari Manual Perencanaan Tebal genangan air hujan (th)= 0,05 m Struktur Beton Jembatan Berat jenis aspal beton (ɣ)= 2200 Kg/m Bertulang No.009/BM/2008 Untuk Hal.3-5 Tabel 3.2) (RSNI T – 02 - 2005) Faktor 𝛽 1 untuk 𝑓𝑐′≤30 MPa (22MPa< 30 Ditijau 1 m arah memanjang plat (b = 1 MPa) = 0,85 (Manual Perencanaan m) maka : Struktur a. Berat lapisan aspal + overlay Beton Jembatan = 𝑡𝑎 . ɣ . 𝑏 Bertulang No.009/BM/2008 Untuk Hal.4-2 Pasal 4.1.2 Persamaan 4.1-1) = 0,10 x 2200 x 1 Jarak peninjauan pelat lantai jembatan =220 Kg/m =2,2 kN/m (b) = 1m = 1.000 mm b. Berat genangan air hujan = 𝑡ℎ . ɣ . 𝑏 Tebal plat lantai jembatan (hf) = 0,20 m = = 0,50 x 1000 x 1 200 mm = 50 Kg/m Selimut Beton (Sb) = 25 mm, untuk beton = 0,5 kN/m yang Maka total beban mati tambahan (𝑄𝑀𝐴 ) tidak langsung berhubungan dengan tanah atau cuaca. Untuk struktur = 1 + 2 = 2,2 kN/m + pelat, dinding dan pelat berusuk dengan 0,5 kN/m=2,7 kN/m tulangan < D36 (Manual Perencanaan Perhitungan Penulangan Plat Lantai Struktur Kendaraan Beton Jembatan 1. Tulangan Tumpuan Bertulang No.009/BM/2008 Untuk Hal.2-18 Pasal 2.8 Tabel 2-3 Bagian A Data perhitungan : Tinggi Efektif Penampang (d) Momen Tumpuan ultimit rencana (𝑀𝑢 ) 1 d = ℎ𝑓 – 𝑆𝑏 − ( . 𝐷𝑡𝑢𝑙.𝑝𝑜𝑘𝑜𝑘 ) Maksimum = 122,708 KN.m = 122,708 x 103 2 Nm = 122.708 Nm = 200 mm -25 mm - (0,5 x 16 mm) Mutu beton K-350 = 200 mm -25 mm - 8 mm Kuat tekan beton (𝑓𝑐′) = 29MPa = 167 mm Tulangan Pokok D16 Tulangan Bagi D12 Gambar 4.19 Tinggi Efektif Penampang Mutu baja BJTD 40 7 Perhitungan Pembebanan = 243 Kg/m' 1. Berat sendiri balok diafragma (QMS) = 2,43 KN/m' Berat balok diafragma (MS) = 𝑏. ℎ. 𝛾 Gaya geser akibat beban mati tambahan = 0,25m x 0,4 m x 2.400Kg/m 3 (VMA) : 1 = 240 Kg/m' VMA= . 𝑄𝑀𝐴. 𝑆′ 2 = 0,5 x 2,43 KN/m' x 0,9 m = 2,40 KN/m' = 1,094 KN Gaya geser akibat berat sendiri (VMS) Momen akibat beban mati tambahan = 1 2 . 𝑄𝑀𝑆. 𝑆′ (MMA) : = 0,5 x 2,40 KN/m' x 0,9 m MMA = 1,08 KN 1 = . 𝑄𝑀𝐴. 𝑆′² 2 = 0,083 x 2,43 KN/m' x (0,9 m)2 = 0,163 KN.m Momen akibat berat sendiri (MMS) 3. Beban truk (QTT) 1 = . 𝑄𝑀𝑆. 𝑆′² 12 Beban truk ''T'' (PTT) : = 0,083 x 2,40 KN/m' x PTT = (1 + 𝐹𝐵𝐷). 𝑇 (0,9 m)2 = (1 + 40%) 𝑥 100𝐾𝑁 = 0,083 x 2,40 KN/m' x 0,81 m2 = {1 + ( = 0,161 KN.m = 1,40 x 100KN = 140 KN Berat lapis aspal + overlay (I) : II Gaya geser akibat beban truk ''T'' (VTT) : = 𝑆 ′ . 𝑡𝑎. 𝛾𝐴𝑠𝑝ℎ𝑎𝑙 𝑏𝑒𝑡𝑜𝑛 = 0,9 m x 0,10m x )} x 100KN = (1 + 0,40) x 100KN 2. Beban mati tambahan (QMA) I 40 100 VTT 2.200Kg/m 3 = 1 2 . 𝑃𝑇𝑇 = 198 Kg/m' = 0,5 x 140KN Berat air hujan (II) : = 70 KN = 𝑆 ′ . 𝑡ℎ. 𝛾𝐴𝑖𝑟 𝑚𝑢𝑟𝑛𝑖 Momen akibat beban truk ''T'' (MTT) : = 0,9 m x 0,05m x 1.000 Kg/m 3 MTT = 45 Kg/m' 1 = . 𝑃𝑇𝑇. 𝑆′² 8 = 0,125 x 140 KN x (0,9m)2 = 0,125 x 140 KN x 0,81 m 2 Total beban mati tambahan (QMA) : = 14,2 KN.m QMA = I + II Perancangan Gelagar Induk = 198 Kg/m' + 45 Kg/m' 8 Perhitungan pembebanan pada = 0,20 m x 0,4 m x 0,8 m x 2.400 Kg.m3 = 153 Kg = 1,53 KN gelagar induk terdiri dari : 1. Berat Sendiri (QMS) Beban diafragma pada balok memanjang Data Perhitungan : (QD) : Faktor beban ultimit akibat berat sendiri KMS = 1,3 untuk beton cor ditempat (RSNI =𝑛𝑥 QD 𝑊𝐷 𝐿 T-02-2005 Halaman 10 Pasal 5.2 Tabel 2) =4𝑥 Tinggi diafragma (h) = 0,4 m 1,53 𝐾𝑁 12 𝑚 = 4 x 0,128 KN/m 1 Lebar diafragma (b) = 𝑥 ℎ = 0,5 x 0,4m 2 = 0,510 KN/m = 0,20 m Berat sendiri pada gelagar induk terdiri Tinggi gelagar induk (h) = 1.000 mm dari = 1,0 m : Berat pelat lantai (I) Lebar gelagar induk (b) = 5.00 m = 𝑆. ℎ𝑓. 𝛾 = 0,50 m = 1,40 m x 0,2 m x 2.400 Kg/m3 Tebal plat lantai kendaraan (hf) = 0,2 m = 672 Kg/m = 20cm = 200mm Berat gelagar induk (II) Tinggi bersih gelagar induk (h Y = h-hf) = 1,0 m - 0,2 m = 0,8 m = 𝑏 . ℎ𝑌. 𝛾 Tebal lapis aspal+overlay (ta) = 0,1 m = = 0,50 m x 0,8 m x 2.400 Kg/m3 10cm = 100mm = 960 Kg/m Panjang gelagar induk (L) = 12 m Berat diafragma “QD” (III) = Jumlah gelagar induk (n) = 6 Buah = 0,510 KN/m = 51 KN/m Lebar jalur lalu lintas (b) = 7 m Berat jenis beton bertulang (𝛾) = 2.400 Total berat sendiri (QMS)= I + II + III Kg/m3 = 672 Kg/m + 960 Kg/m + 51 Jarak dari As ke As antar gelagar induk (S) = 𝑏 𝑛−1 = 7𝑚 6−1 = 7𝑚 5 KN/m = 1.683 Kg/m = 1,40m = 16,83 KN/m Berat sendiri suatu balok diafragma (W D) WD = 𝑏. ℎ . 𝑆 . 𝛾 9 Mutu Baja = 400 MPa Tulangan = Pokok D 29 dan Sengkang D16 Gambar 4.24 Distribusi Berat Sendiri Berat isi beton (γc)= 2.400 kg/m3 (RSNI T Gelagar Induk (QMS) 02-2005,Hal.10) tanpa tulangan 2200 kg/m3 Perancangan Abutmen Data tanah : 1. Perencanaan dimensi awal abutmen Berat isi tanah Asli (ɤ1)= 1,54 ton/m3 Berdasarkan analisis diperoleh tinggi abutmen (h) = 5,7 m, maka lebar Sudut geser asli 𝜑1= 34° (Data tanah) abutmen arah X (Bx) = 0,6.h = 0,6 x 5,7 Berat isi tanah timbunan (ɤ2)= 1,54 m = 3,42 m (Syarat 0,4-0,7 h). Tebal ton/m3 ( menggunakan berat isi tanah footing diambil = H/7 = 5,7 m/7 = 0,814 m = 0,81 m (Syarat asli) H/8-H/6).(Hary Christady Hariantomo, Pondasi I) Sudut geser tahah timbunan 𝜑2= 32°(SNI 1725:2016 Hal.13) Data Perencanaan Abutmen Data sondir (terlampir) Panjang Bentang Jembatan = 12 m Dimensi abutmen Lebar Bentang Jembatan = 7 m : Dimensi Gelagar induk = 500/1000 Jumlah gelagar perbentang = 6 Buah Diafragma = 250/400 Jumlah Diafragma Perbenatang =4 buah Gambar 4.38 Dimensi Abutmen Dan Tebal Pebal Pelat Lantai= 0,2 m Dinding Sayap Abutmen Tebal Aspal = 0,10 m (Sumber : Penulis, 2018) Tebal Genangan Air Hujan= 0,05 m Berat isi air kg/m3 = 1000 beban hidup yang bekerja pada abutmen (RSNI T A. Beban hidup struktur atas 02-2005, Hal.10) Berat isi lapisan aspal Perhitungan = 2240 kg/m3 ( RSNI T 02-2005, Hal.10) Spesifikasi Beton dan Baja Data perhitungan : 1. Panjang bentang jembatan (L) = 12 m 2. Beban garis P = 12 Ton (PPPJR SKBI- : 1.3.28.1987 : 7 Pasal 2.4a) Mutu Beton K-350 = 29,05 MPa 10 3. Beban terbagi rata (q) untuk L < 30m Penulangan Pondasi Sumuran (12m<30m) = 2,2 T/m (PPPJR SKBI- Tebal minimum diambil = 28 cm; Tulangan pokok = D22 1.3.1987 : 7 Pasal 2.4a) Tulangan bagi = D12 Perencanaan Pondasi Sumuran Penulangan dinding permeter keliling : Dalam penentuan tipe pondasi ini, jenis pondasi yang dipakai dipilih berdasarkan hasil data sondir/data penyelidikan tanah yang telah dilakukan. Dan dalam perencanaan jembatan ini, data sondir/data penyelidikan tanah menunjukan kedalaman tanah keras mencapai 2meter. Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah pondasi dangkal seperti pondasi sumuran (Hary Christady Hardiyatmo, 2010. Analisis dan perancangan pondasi I ) Maka dari itu, dalam proses perencanaan jembatan bestobe I dipilih Pondasi sumuran. Tulangan minimum (As) = 0,25% x 28 x 300 = 21 cm2  210 mm2 dipakai tulangan pokok D22 Jarak tulangan : 1 S =4 = .𝜋. 𝐷𝑇𝑃2 . 𝑏 𝐴𝑠 1 .3,14. 22². 300 4 210 = 542,771 mm  54 cm Dipilih jarak, S = 200 mm 1 Luas tulangan = 4 . 𝜋. 𝐷𝑇𝑃². 𝑏 1 =4 Data perencanaan : 𝑠 𝑥 3,14 𝑥 222 𝑥 300 200 Kedalaman fondasi (Df) : 4 m : 400 cm (Hasil Uji Sondir) = 569,910 mm² ≥As................................(ok) Beban pada fondasi sumuran (Qd): 408,503 Ton Jadi dipakai tulangan pokok As = D22– 200 Gaya geser (VH): 175,158 ton Penulangan Geser Sumuran : 1. Perhitungan diameter sumuran. As’ = 50 % x 𝐴𝑠𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 Rumus : 𝐴𝑝 𝑥 𝑓𝑐 − ∑ 𝑉 = 0 = 50 % x 210 = 105 mm ¼ 𝜋 𝐷𝑇𝑃² . 𝑓𝑐 = 𝑄𝑑 𝐷 = √1 4 Dipakai tulangan D12 (As = 113 mm 2 ) dengan jarak 𝑄𝑑 .𝜋.𝑓𝑐 S Keterangan : Qd = Σv = 408,503 Ton 𝑓𝑐′ = 3.500 kg/cm 2 𝑓𝑐′ = 0,25 x fc’ = 𝐴𝑠 𝐴𝑠𝑝𝑒𝑟𝑙𝑢 113 210 .𝑏 𝑥 300 = 161,4 ≈ 160 mm Dipakai tulangan D12-160 = 0,25 x 3.500 T/m 2 = 875 T/m2 𝐴𝑝 = = 1 𝜋. 𝐷² 4 11 = 408,503 tan 340 Rs = 275,539 Fk = ∑ > 1,1 = 𝑅𝑠 275,539 𝐻 177,308 > 1,1 = 1,6 > 1,1….........….Aman Gambar 4.50 Penulangan Fondasi Sumuran Penurunan Pondasi Rumus Total Penurunan sebuah pile adalah : Kontrol Kapasitas Daya Dukung Tanah a. Persamaan terzaghi Se = 𝑆𝑒1 + 𝑆𝑒2 + 𝑆𝑒3 Daya dukung Batas a. Penurunan Elastic Pile ( Se ( 1 ) ) : Φ1 = 34 o c’ = 2,51 (Data Sondir) Se1 = Nc = 57,8 (Tabel 2.19) QWP = Qd Nq = 41,4 (Tabel 2.19) = Σv + Berat Pondasi γ = 1,54 t/m2 = 408,503 Ton + 68,54 Ton Nγ = 44,0 (Tabel 2.19) = 477,073 Ton (𝑄𝑤𝑝 + σu = (1,3. 𝑐’. 𝑁𝑐 + 𝐷𝑓. 𝛾. 𝑁𝑞 + 0,4. 𝛾. 𝐵. 𝑁𝛾) = (1,3 x 2,51 x 57,8) + (4 x 1,54 x 41,4) + (0,4 x 1,54 x 3 x 44,0)  𝑄𝑤𝑠 ).𝐿 𝐴𝑝.𝐸𝑝 Qw = QWP = 477,073 ton  = 0,67 Ap = 4 m2 Ep = 4700. √𝑓𝑐′ = 524,9 T/m2 = 4700. √350 Daya dukung yang dijinkan : FK = Qa = 𝜎𝑢 𝑄𝑎 𝑄𝑑 𝐴𝑝 = 87.928,949 Kg/cm 2 ≥ 3,0 = = 87.928.949,58 ton/m2 408,503 (𝑄𝑤𝑝 + 4 Se1 = = 102,12 Ton/m2 FK a = 𝜎𝑢 𝑄𝑎 ≥ 3,0 = 524,9 102,12 = ≥ 3,0 = 5,14  3  Aman 𝐴𝑝.𝐸𝑝 (477,073+(0,67 𝑥 477,073) 𝑥 4 4 𝑥 87.928.949,58 = 0,0001 cm b. Penurunan yang disebabkan oleh Syarat kemantapan : Rs .𝑄𝑤𝑠 ).𝐿 = 0,00001 m Kontrol terhadap Geser Fk  beban pada tiang ( Se2) : 𝑅𝑠 (𝑄𝑤𝑝.𝐶𝑝 ) =∑ > 1,1 Se2 = = P’ tan φ D = 3,00 m 𝐻 12 𝐷.𝑄𝑝 Cp = 0,09 PENUTUP qp = 1.600 kPa Kesimpulan = 1600 x 10 kg/ cm 2 = 160.000 Se2 = = kg/cm 2 = Berdasarkan hasil tujuan penulisan 16.000 t/m2 skripsi maka, dapat di simpulkan bahwa hasil (𝑄𝑤𝑝.𝐶𝑝 ) 𝐷.𝑄𝑝 perhitungan perencanaan (477,073 𝑥 0,09) 3 𝑥 16.000 dan struktur pembahasan atas maupun struktur bawah jembatan beton bertulang = 0,001 m pada jembatan bestobe I kecamatan = 0,1 cm insana barat kabupaten timor tengah c. Penurunan yang disebabkan oleh utara, diperoleh hasil : transfer beban sepanjang tiang( Se3): Struktur Bangunan Atas 𝑄𝑤𝑠 𝑥(1 − 𝜇𝑠 2 )𝑥 𝐼𝑤𝑠 =[ P = 𝜋 . 𝐷 = 3,14 x 3,00 = 9,42 m mutu baja (fc') 29 MPa, kuat tekan Es = 3,5 x 4.Qc ( Qc beton 240 MPa, tulangan pokok 𝑃.𝐿 ]𝑥 𝐷 Se3 𝐸𝑠 1. Tinggi tiang sandaran 1,25 m dengan 4D10 dan sengkang D8-50 mm. = 240 Kg/cm2) 2. Tebal plat kantilever 200 mm dengan = 3,5 x (4 x 240 Kg/cm 2) Es = 3.360 mutu baja (fc') 29 MPa, tegangan kg/cm 2 leleh baja tulangan (fy) 400 MPa. Iws = 0,85 Menggunakan tulangan pokok D12- πs = 0,5 190 mm dan tulangan bagi D10-265 Se3 =[ = 𝑄𝑤𝑠 (477,073) 9,42 𝑥 4 𝑃.𝐿 𝑥 ]𝑥 3 3360 𝐷 𝐸𝑠 mm. 𝑥(1 − 𝜇𝑠 2 )𝑥𝐼𝑤𝑠 𝑥 (1 − 0,5 2 )𝑥 3. Tebal plat lantai kendaraan 200 mm dengan mutu baja (fc') 29 MPa, 0,85 tegangan leleh baja tulangan (fy) = 18.29,94 x 0,001 x 0,75 x 0,85 m 400 MPa. Menggunakan tulangan = 0,008 m = 0,8 cm pokok daerah tumpuan D16-200 Jadi penurunan yang terjadi adalah : mm, tulangan bagi daerah tumpuan Se = Se1+ Se2+ Se3 D12-220 = 0,00001 cm + 0,1 cm + 0,8 cm daerah lapangan D16-190 mm, dan mm, tulangan pokok tulangan bagi daerah tumpuan D12- = 129,7 cm < 1 inchi (2,54 cm) 270 mm. Penurunan yang terjadi pada jembatan dinyatakan aman terhadap nilai kontrol yakni ; Total penurunan = 1 cm < 1 inchi (2,54 cm) Aman 4. Tinggi balok T 800 mm, lebar badan 500 mm, lebar sayap 1.500 mm, dengan mutu baja (fc’)29 MPa, tegangan leleh baja tulangan 400 MPa. Balok balok 13 T asli berperilaku sebagai tulangan tunggal, dengan tulangan tarik 15D29, Saran tulangan tekan 2D29, tulangan geser 1. Berdasarkan D16-318 mm. perencanaan Jembatan di atas, 5. Tinggi diafragma 400 mm, lebar maka penulis menyarankan pada badan 250 mm dengan mutu baja (fc’) perencanaan 29 MPa tegangan leleh baja tulangan kesimpulan (fc’) 400 struktur bentang besar sebaiknya dibagi MPa. menjadi 2 bentangan, agar tinggi Menggunakan tulangan daerah tarik balok T menjadi ekonomis dan tidak 4D16, tulangan daerah tekan 2D16 terjadi dan tulangan geser D12-700 mm. kegagalan pelaksanaan, khususnya 2. Untuk 1. Badan abutmen dengan mutu leleh baja tulangan (fc’) (Primer,Sekunder) 3. Lebih 2. Footing dengan mutu baja (fc’) 29 400 lengkap lebih mudah. geser D16-225 mm. (fy) yang bagian – bagian jembatan menjadi bagi D16-403 mm dan tulangan tulangan terlebih sehingga pada saat perhitungan pokok D29-203 mm, tulangan leleh jembatan dahulu mengumpulkan data – data 400 MPa. Menggunakan tulangan tegangan merencanakan pembangunan baja (fc’) 29 MPa dan tegangan dan pada pelaksanaan pengecoran balok. Struktur Bangunan Bawah MPa dengan memperhatikan koefisien (Angka,satuan dan keterangan ) baja yang diambil dari sumber maupun MPa. refrensi yang dipakai pada saat Menggunakan tulangan pokok D29- melakukan perhitungan 319 mm, tulangan bagi D16-388 mm dan tulangan geser D16-141. 3. Sayap abutmen (Wing Wall) dengan mutu baja (fc’) DAFTAR PUSTAKA 29 MPa dan tegangan leleh baja tulangan (fy) Asroni, 2010, Kolom Fodasi Dan Balok T Beton Bertulang, Edisi Pertama Cetakan Pertama, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta. 400 MPa. Menggunakan tulangan pokok D22-209 mm dan tulangan bagi D12-124 mm. 4. Pondasi sumuran dengan diameter Asroni, 2010, Balok dan Pelat Beteon Bertulang. Grama Ilmu, Yogyakarta. 3000 mm daan kedalaman pondasi sumuran 4000 mm. Menggunakan tulangan pokok D22-200 mm dan tulangan bagi D12-160 mm dengan Anonim, Direktorat Jenderal Prasarana Jalan, 2002. kuat tekan beton K-350 14 Hardiyatmo Hary Cristady. 2010. Analisis dan Perancangan Fondasi bagian I. Yogyakarta: Gadja Mada University Press Http:// Ilmukonstruksitekniksipil. Blogspot.Com /2016/01/ Macam-Macam-Pondasi. Html. Manual Perencanaan Struktur Beton Bertulang Untuk Jembatan No.009/Bm/2008 Penerbit Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga. RSNI T- 02 - 2005,Standar Pembebanan Jembatan, Yayasan Penerbit BSN, Jakarta. RSNI T- 12 - 2004,Struktur Beton Untuk Jembatan, Yayasan Penerbit BSN, Jakarta. SKBI-1.3.28.1987, Pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya, Yayasan Badan Penerbit PU, Jakarta. Soemargono, dkk, 1995, jembatan, PT Pradnya Paramita, Jakarta. SNI 1725 : 2016,Standar Pembebanan Pada Jembatan, Yayasan Penerbit BSN, Jakarta. Struyk, Van Der Soemargo.(1995), Veen, Jembatan, PT. Prada Paramita, Jakarta 15

Judul: Juteks-jurnal Teknik Sipil

Oleh: Damian Making


Ikuti kami