8-jurnal-faperta-unikal

Oleh Petrus Silalahi

125,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip 8-jurnal-faperta-unikal

PENGARUH SISTEM TANAM LEGOWO DAN KONSENTRASI PUPUK PELENGKAP CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI Oleh : Eka Adi Supriyanto,1) , Syakiroh Jazilah 1) Wisnu Anggoro 2) 1) Dosen Tetap Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan.2) Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pekalongan. Jln Sriwijaya No: 3 Pekalongan Telp : (0285) 421464, 426800 Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam legowo dan konsentrasi pupuk pelengkap cair terhadap pertumbuhan dan produksi padi ini telah dilaksanakan di desa Pejangkaran kelurahan Karangasem kecamatan Batang Kabupatan Batang, mulai dari bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Split Plot Design dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Sistem tanam legowo ditempatkan sebagai petak utama terdiri atas 4 taraf, yaitu : L1 (25x25 cm), L2 (25x12,5x40 cm), L3 (25x12,5x50 cm), dan L4 (25x12,5x60 cm), sedangkan konsentrasi pupuk pelengkap cair ditempatkan sebagai anak petak, terdiri atas 4 taraf, yaitu P0 (tanpa pupuk pelengkap cair), P1 (2 ml per liter air), P2 (4 ml per liter air), P3 (6 ml per liter air). Kombinasi perlakuan ada 16 dengan 3 kali ulangan.Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah anakan total per rumpun, umur berbunga, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah isi per rumpun, bobot gabah kering per petak, bobot 1000 butir gabah, panjang malai, jumlah gabah hampa per malai, bobot gabah kering per rumpun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam legowo berpengaruh nyata terhadap jumlah malai per rumpun, bobot gabah kering per petak dan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang malai. Konsentrasi pupuk pelengkap cair berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah isi per malai, bobot gabah kering per petak, bobot 1000 butir gabah, panjang malai, jumlah gabah hampa per rumpun, bobot gabah kering per rumpun. Interaksi antara sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair terjadi pada variabel jumlah malai per rumpun Kata Kunci : Padi, Sistem Tanam Legowo dan Pupuk Pelengkap Cair PENDAHULUAN Padi merupakan makanan pokok bangsa Indonesia yang mengandung berbagai zat gizi yang diperlukan oleh tubuh, antara lain : karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin dan beberapa unsur mineral seperti : kalsium, magnesium, fosfor dan lain sebagainya. (Kanisius, 1990). Kebutuhan padi sebagai makanan pokok di Indonesia selalu mengalami kenaikan. Produksi yang dihasilkan dari hasil tanaman dalam negeri masih belum memenuhi kebutuhan sehingga setiap tahun harus mengimpor ratusan ribu ton dari luar negeri (Sugeng, 2006). Produksi padi nasional sampai saat ini baru mencapai 50 juta ton dari luas panen 10 – 11 juta ha per tahun dan laju peningkatan produksi 1,27 persen per tahun. Laju peningkatan produksi padi sebesar itu masih belum seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk yang mencapai 2 persen per tahun, sehingga untuk memenuhi kebutuhan padi harus mengimpor sebanyak 1,355 ton per tahun (Departemen Pertanian, 2000). Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi padi nasional, diantaranya adalah : penggunaan varietas unggul yang adaptif dan benih bermutu tinggi, pengelolaan tanah, air dan tanaman secara optimal, pemupukan yang tepat, pengendalian hama dan penyakit serta pengairan yang teratur. Selain itu juga diusahakan peningkatan penyuluhan, penyediaan kredit usaha tani, pemberian subsidi sarana produksi atau perbaikan sarana hasil, namun usaha tersebut masih belum memenuhi kebutuhan nasional.(Departemen Pertanian, 2000). Usaha intensifikasi padi yang dilakukan selama ini sudah mencapai kejenuhan teknologi sehingga masih perlu diupayakan suatu terobosan teknologi baru. Salah satu teknologi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan produktivitas padi dan menekan biaya produksi adalah melalui rekayasa lingkungan tanaman padi melalui Sistem Tanam Legowo . Sistem tanam legowo merupakan modifikasi sistem tanam tegel, yang dilakukan dengan menghilangkan satu baris tanaman dari setiap 10 – 12 baris tanaman dan merapatkan jarak tanam pada setiap barisan tanaman. Dengan sistem ini, tanaman akan mendapatkan ruang kosong berupa lorong yang memanjang sehingga seluruh barisan tanaman seolah-olah berada pada pinggir dekat galengan. Dengan demikian seluruh rumpun tanaman mendapat pengaruh samping. Sistem ini juga disebut sistem tanam tepi, yang bertujuan untuk memudahkan pengendalian gulma, pengendalian organisme pengganggu tanaman dan dapat mengefisienkan penggunaan pupuk. Suriapermana (2002) menyatakan bahwa prinsip dasar tanam legowo adalah (1) untuk menjadikan semua barisan rumpun tanaman berada pada bagian pinggir, dengan kata lain seolaholah semua rumpun tanaman berada pada bagian pinggir galengan sehingga semua tanaman mendapat efek samping; (2) tanaman yang mendapat efek samping, produksinya lebih tinggi dari yang tidak mendapat efek samping. Berdasarkan hasil penelitian bahwa padi yang ditanam secara beraturan dalam bentuk tegel ternyata menunjukkan hasil tanaman dekat galengan atau rumpun pertama lebih tinggi 1,5 – 2 kali dari pada rumpun kedua, ketiga dan keempat dari pinggir galengan ke bagian dalamnya; (3) tanaman padi dengan sistem legowo menguntungkan dalam pengendalian hama dan gulma. Kelebihan lain sistem tanam dalam bentuk legowo adalah jarak tanam dalam barisan tanaman akan lebih rapat sehingga akan menambah populasi tanaman. Ridwan dkk ( 2001) menyatakan bahwa teknologi legowo dapat meningkatkan populasi tanaman padi dari 160.000 rumpun (sistem tegel) menjadi 213.280 rumpun/ha pada jarak legowo 40 cm sampai 60 cm, jumlah baris tanaman dua baris, dan jarak tanaman antar barisan 25 x 12,5 cm. Sistem tanam dengan jarak yang lebih lebar akan berpengaruh terhadap penurunan populasi tanaman per hektarnya, tetapi berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan produksi per individu tanaman. Pada jarak tanam yang lebih rapat persaingan untuk mendapatkan unsur hara, cahaya matahari dan CO2 lebih besar karena populasi tanaman lebih banyak dan daun saling menutupi, sehingga pertumbuhan dan produksi per individu menurun, tetapi penurunan produksi ini akan diimbangi oleh peningkatan populasi tanaman, sehingga produksi persatuan luas meningkat. Pada pengujian dengan legowo 2 dengan jarak tanam 25 x 12,5 x50 cm mampu meningkatkan hasil padi 0,8- 1,47 ton per hektar (12-22%) dibandingkan dengan sistem tanam tegel (Suriapermana , 2002) Selain merekayasa teknologi tanam untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, kesuburan tanah juga perlu diperhatikan. Defisiensi unsur hara menyebabkan metabolisme tanaman terganggu yang dapat dilihat dari pertumbuhannya yang menyimpang, sedangkan pada konsentrasi yang lebih tinggi menyebabkan keracunan bagi tanaman (Lakitan, 2001). Meningkatnya populasi tanaman persatuan luas pada sistem tanam legowo mempunyai konsekuensi pada kebutuhan pupuk untuk pertumbuhan dan produksi tanaman akan semakin meningkat pula, sehingga diperlukan aplikasi pupuk pelengkap cair, sebagai penunjang kebutuhan pupuk tanaman untuk pertumbuhan dan produksi supaya metabolisme dan biosintesis tanaman berjalan normal. Pemupukan dengan pupuk pelengkap cair (PPC) pada konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan produksi tanaman. Pemupukan tambahan yang diaplikasikan dengan menyemprotkan ke permukaan daun diharapkan dapat mengatasi kekurangan unsur hara mikro. Oleh karena itu dengan mengkombinasikan pemupukan melalui tanah dan penambahan pupuk pelengkap cair yang optimal diharapkan dapat menunjang pertumbuhan dan produksi padi. Adanya ruang kosong berupa lorong yang memanjang pada sistem tanam legowo akan meningkatkan intersepsi cahaya dan CO2 ke dalam pertanaman. Pemberian pupuk pelengkap cair (PPC) ini dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi karena dengan meningkatnya intersepsi cahaya dan CO2 ke dalam tanaman maka akan meningkat pula metabolisme tanaman dan biosintesisnya. Fenomena meningkatnya populasi dan metabolisme tanaman pada modifikasi sistem tanam legowo yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi padi sangat menarik dalam usaha meningkatkan produksi padi, untuk itu perlu diteliti tentang upaya peningkatan pertumbuhan dan produksi padi dengan sistem tanam legowo dan konsentrasi pupuk pelengkap cair. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk : 1. Mengetahui pengaruh sistem tanam legowo terhadap pertumbuhan dan produksi padi. 2. Mengetahui dosis pupuk pelengkap cair (PPC) yang optimum pada sistem tanam legowo yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi. 3. Mengetahui interaksi antara sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair (PPC) terhadap pertumbuhan dan produksi padi. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di desa Pejangkaran kelurahan Karangasem Utara kecamatan Batang kabupaten Batang dengan ketinggian kurang lebih 3 meter di atas permukaan laut, pH netral antara 6,4 – 7,3 dan reliefnya datar, jenis tanah Aluvial, mulai bulan Desember 2007 sampai dengan bulan Maret 2008. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas Conde, pupuk pelengkap cair (PPC) Super Green, pupuk Urea, SP-36, KCl, Furadan 3G, dan herbisida Gramoxon. Alat yang digunakan cangkul, sprayer, papan nama, timbangan, tali rafia, kantong plastik, penggaris dan sabit. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Split Plot Design dengan rancangan dasar Rancangan Acak Kelompok Lengkap. Faktor yang dicoba dalam penelitian ini adalah sistem tanam legowo sebagai petak utama (main plot ) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu : L1 : Sistem tanam ubin (tegel) dengan jarak tanam 25 x 25 cm. L2 : Sistem tanam legowo dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 40 cm. L3 : Sistem tanam legowo dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 50 cm. L4 : Sistem tanam legowo dengan jarak tanam 25 x 12,5 x 60 cm. Konsentrasi pupuk pelengkap cair (PPC) Super Green sebagai anak petak (sub plot) yang terdiri dari 4 taraf yaitu : PO : tanpa perlakuan PPC. P1 : 2 ml per liter air P2 : 4 ml per liter air P3 : 6 ml per liter air Dengan demikian terdapat 16 kombinasi perlakuan masing-masing kombinasi dengan 3 kali ulangan sehingga seluruhnya terdapat 48 petak percobaan. Kombinasi perlakuan dua faktor antara sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair (PPC) adalah sebagai berikut : L1P0, L1P1, L1P2, L1P3, L2P0, L2P1, L2P2, L2P3, L3P0, L3P1, L3P2, L3P3, L4P0, L4P1, L4P2, L4P3. Variabel yang diamati adalah (1) tinggi tanaman (cm), (2) jumlah anakan total per rumpun (anakan), (3) umur berbunga (hari), (4) jumlah malai per rumpun (malai), (5) jumlah gabah isi per malai (bulir), (6) bobot gabah kering per petak (kg), (7) bobot 1000 butir gabah (g), (8) panjang malai (cm), (9) jumlah gabah hampa per malai (bulir) dan (10) bobot gabah kering per rumpun (g) Data dianalisis dengan menggunakan uji F dan apabila menunjukkan perbedaan yang nyata, maka pengujian dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test untuk mengetahui beda pengaruh antar perlakuan. Untuk perlakuan Legowo dengan uji kontras ortogonal sedang untuk konsentrasi PPC menggunakan uji regresi HASIL DAN PEMBAH ASAN Tabel 1 menunjukkan bahwa sistem tanam legowo berpengaruh nyata pada variabel jumlah malai per rumpun dan jumlah gabah isi per malai serta sangat nyata pada variabel panjang malai, sedang pupuk pelengkap cair berpengaruh sangat nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan total per rumpun, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah isi per malai, bobot gabah kering per petak, bobot 1000 butir gabah, panjang malai, jumlah gabah per malai, dan bobot gabah kering per rumpun. Interaksi antara sistem tanam legowo dan konsentrasi pupuk pelengkap cair hanya terjadi pada variabel jumlah malai per rumpun A. Pengaruh Sistem Tanam Legowo Tabel 2 (Hal 12) menunjukkan bahwa sistem tanam legowo tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah anakan total per rumpun, umur berbunga, bobot gabah kering per petak, bobot 1000 butir gabah, jumlah gabah hampa per malai dan bobot gabah kering per rumpun. Widarto dan Suparman (1999) menyatakan bahwa selain untuk memperbaiki pertumbuhan dan hasil padi, tanam padi dengan jarak tanam sistem legowo juga menguntungkan dalam (1) pemeliharaan tanaman lebih mudah, (2) adanya ruang terbuka antar lorong akan memudahkan dan efisiensi dalam pemupukan, (3) dapat menekan serangan hama dan penyakit, karena sinar matahari dapat lebih banyak masuk ke pertanaman, sehingga kelembaban di lingkungan tidak tinggi. Namun demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam legowo tidak berpengaruh nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan total per rumpun, umur berbunga, bobot gabah kering per petak, bobot 1000 butir gabah, jumlah gabah hampa per malai dan bobot gabah kering per rumpun. Hal ini disebabkan laju metabolisme pada tanaman sangat menentukan pertumbuhan tanaman selama fase vegetatif, reproduktif dan pemasakan. Dalam proses ini selain dipengaruhi oleh teknik budidaya yang digunakan juga dipengaruhi oleh varietas padi yang ditanam serta kondisi lingkungan pertanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tanam legowo berpengaruh nyata pada variabel jumlah malai per rumpun dan jumlah gabah isi per malai serta sangat nyata pada variabel panjang malai. Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil tertinggi dari jumlah malai per rumpun (17,97 malai), jumlah gabah isi per malai (147,5 bulir) dan panjang malai (28,25 cm) dicapai L1 (25 x 25 cm) yaitu sistem tanam ubin (tegel). Hal ini disebabkan kerapatan tanam merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil gabah per satuan luas atau per rumpun (Suriapermana, 2002). Tabel 1. Matrik Hasil Analisis Statistik Data Penelitian Pengaruh Sistem Tanam Legowo dan Konsentrasi Pupuk Pelengkap Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Padi. Faktor yang dicoba No Sistem Pupuk Tanam Pelengkap Legowo Cair Variabel yang diamati Interaksi 1. Tinggi Tanaman (cm) ns **q ns 2. Jumlah anakan total per rumpun ns **q ns 3. Umur berbunga (hari) ns nsq ns 4. Jumlah malai per rumpum * **q ** 5. Jumlah gabah isi per malai (bulir) * **q ns 6. Bobot gabah kering per petak (kg) ns **q ns 7. Bobot 1000 butir gabah (g) ns **q ns 8. Panjang malai (cm) ** **q ns 9. Jumlah gabah hampa per malai (bulir) ns **q ns 10. Bobot gabah kering per rumpun (g) ns **l ns Tabel 3. Pengaruh Interaksi Antara sistem Tanam Legowo dengan Konsentrasi PPC terhadap Jumlah Malai per Rumpun Jumlah malai per rumpun Sistem tanam legowo L1 L2 L3 L4 P0 = tanpa PPC 16.86 a 11.73 a 15.26 a 13.76 a P1 = 2 ml per liter air 17.06 a 115.2 b 15.46 a 14.6 b P2 = 4 ml per liter air 17.98 b 16.2 c 19 b 16.26 c P3 = 6 ml per liter air 18.73 b 15.4 b 15.86 a 16.66 c F hitung 9.81 ** 9.81 ** 9.81 ** 9.81 ** F tabel 5 % 2.52 2.52 2.52 2.52 F tabel 1 % 3.71 3.71 3.71 3.71 DMRT 5 % 0.78 0.78 0.78 0.78 KK (a) 17.004 17.004 17.004 17.004 KK (b) 2.89 2.89 2.89 2.89 Konsentrasi PPC Keterangan : Angka-angka dalam kolom dan perlakuan yang diikuti dengan huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata berdasarkan uju DMRT pada taraf 5 %. L1 = 25 x 25 cm, L2 = 25 x 12.5 x 40 cm,L3 = 25 x 12.5 x 50 cm, L4 = 25 x 12.5 x 60 cm, **) Berbeda sangat nyata Makin tinggi kerapatan tanam pada sistem tanam legowo, maka semakin meningkat pula persaingan antara tanaman terutama dalam mendapatkan unsur hara yang dapat mengakibatkan menurunnya laju metabolisme tanaman Jumlah malai per rumpun ditentukan oleh metabolisme pada fase vegetatif, jumlah gabah isi per malai ditentukan pada fase reproduktif, dan bobot 1000 butir gabah pada fase pemasakan. Oleh karena itu, dengan menurunnya laju metabolisme tanaman akibat makin tingginya kerapatan tanaman pada sistem tanam legowo, menyebabkan menurunnya jumlah malai per rumpun dan jumlah gabah isi per malai. Hal ini berarti menurunnya bobot gabah kering per rumpun akibat makin tingginya kerapatan pada sistem tanam legowo, menyebabkan makin menurunnya jumlah malai per rumpun dan jumlah gabah isi per malai sebagai komponen-komponen produksinya. B. Pengaruh Pupuk Pelengkap Cair Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pupuk pelengkap cair berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan total per rumpun, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah isi per malai, bobot gabah kering per petak, bobot gabah kering per rumpun, bobot 1000 butir gabah, panjang malai, jumlah gabah hampa per malai dan bobot gabah kering per rumpum Tinggi tanaman tertinggi yaitu 112,7 cm dicapai pada konsentrasi PPC optimum 5,02 ml per liter air, jumlah anakan total terbanyak yaitu 23,3 anakan dicapai pada konsentrasi PPC optimum 4,90 ml per liter air, jumlah malai per rumpun terbanyak yaitu 17,36 malai dicapai pada konsentrasi PPC optimum 3,70 ml per liter air, jumlah gabah isi per malai terbanyak yaitu 159 bulir dicapai pada konsentrasi PPC optimum 4,45 ml per liter air, bobot gabah kering per petak tertinggi yaitu 7,23 kg dicapai pada konsentrasi optimum 4,22 ml per liter air, bobot 1000 butir gabah tertinggi yaitu 34,41 gr dicapai pada konsentrasi PPC optimum 3,55 ml per liter air, panjang malai terpanjang yaitu 28,25 cm dicapai pada konsentrasi PPC optimum 4,41 ml liter per liter air, jumlah gabah hampa per malai terendah yaitu 21 bulir dicapai pada konsentrasi PPC optimum 3,63 ml per liter air, bobot gabah kering per rumpun tertinggi yaitu 44,59 gr dicapai pada konsentrasi PPC 4 ml per liter air. Keuntungan menggunakan pupuk pelengkap cair antara lain adalah; respon tanaman terhadap PPC lebih cepat karena langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Selain itu tidak menimbulkan kerusakan pada tanaman apabila aplikasinya dilakukan secara benar. Penyemprotan pupuk cair idealnya dilakukan pada pagi atau siang hari karena bertepatan pada saat membukanya stomata dan terutama pada bagian bawah daun tempat terdapatnya stomata (Ahmad, 2000). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk pelengkap cair dapat meningkatkan tinggi tanaman, hal ini disebabkan pemberian pupuk pelengkap cair dapat menyediakan unsur hara yang lebih baik, sehingga tanaman dapat memanfaatkan unsur hara tersebut secara maksimal. Meningkatnya tinggi tanaman terutama dipengaruhi oleh unsur N dan P yang terkandung di dalam pupuk pelengkap cair. Menurut Lingga (1986) tersedianya nitrogen dalam jumlah yang cukup bagi tanaman yang merupakan unsur hara makro sangat penting digunakan dalam proses fotosintesis sehingga menyebabkan pertumbuhan tanaman berlangsung dengan baik. Sarief (1989) menyatakan bahwa nitrogen sangat diperlukan dalam pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman seperti meningkatnya panjang batang dan jumlah daun. Oleh karena itu apabila unsur hara nitrogen terpenuhi, maka pertumbuhan vegetatif berlangsung dengan baik, dengan demikian berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Hakim dkk (1986) menyatakan bahwa tersedianya unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang menyebabkan proses metabolisme tanaman berjalan lancar sehingga pembentukan protein, karbohidrat dan pati tidak terhambat. Hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah gabah isi per malai, bobot gabah kering per petak dan bobot 1000 butir gabah. Unsur hara yang tersedia dalam jumlah banyak akan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman untuk pertumbuhan dan selebihnya diakumulasikan pada bagian vegetatif tanaman seperti batang, akar dan daun. Oleh karena itu semakin banyak senyawa organik yang diakumulasikan pada batang, akar dan daun, makin panjang pula malai, semakin sedikit jumlah gabah hampa per malai, dan semakin besar bobot gabah kering per rumpun. Pendapat ini didukung oleh Gardner (1991) bahwa meningkatnya pertumbuhan vegetatif tanaman seperti akar, batang dan daun akan mendorong meningkatnya kandungan karbohidrat di dalam tanaman. Karbohidrat tersebut dihasilkan dari proses-proses yang terjadi pada daun yaitu proses fotosintesis, dan adanya proses metabolisme yang meningkat, sehingga berpengaruh terhadap jumlah malai per rumpun, jumlah gabah isi per malai, bobot gabah kering per petak serta bobot 1000 butir gabah. C. Pengaruh Interaksi Sistem Tanam Legowo dengan Konsentrasi Pupuk Pelengkap Cair Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair terdapat interaksi yang sangat nyata pada variabel jumlah malai per rumpun . Kombinasi terbaik dicapai pada sistem tanam legowo dengan jarak tanam 25x12,5x50 cm dengan konsentrasi PPC optimum 3,70 ml per liter air dengan hasil tertinggi 19 malai per rumpun. Interaksi ini terjadi karena adanya saling mempengaruhi antara peranan sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair. Sistem tanam legowo berperan untuk mengoptimalkan temperatur dan cahaya matahari, sedangkan pupuk pelengkap cair menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Dengan demikian proses metabolisme tanaman berjalan dengan lancar sehingga pembentukan protein, karbohidrat dan pati tidak terhambat. Hal ini mempengaruhi jumlah malai per rumpun, karena PPC mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang cukup untuk diserap tanaman padi. Menurut Soepardi (1985) meningkatnya serapan unsur hara menyebabkan proses metabolisme berjalan dengan lancar sehingga meningkatkan produksi karbohidrat, protein dan pati yang ditranslokasikan keseluruh bagian tanaman untuk pertumbuhan dan selebihnya diakumulasikan pada jaringan tanaman. Oleh karena itu makin banyak karbohidrat dan pati yang diakumulasikan pada jaringan tanaman maka makin banyak pula jumlah malai per rumpun. SIMPULAN Dari hasil analisa data dan pembahasan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. Sistem tanam legowo berpengaruh nyata terhadap variabel jumlah malai per rumpun dan jumlah gabah isi per malai serta berpengaruh sangat nyata terhadap variabel panjang malai. 2. Konsentrasi pupuk pelengkap cair berpengaruh sangat nyata terhadap semua variabel yang diamati kecuali pada variabel umur berbunga 3. Terdapat interaksi antara sistem tanam legowo dengan konsentrasi pupuk pelengkap cair terhadap variabel jumlah malai per rumpun. IMPLIKASI Implikasi yang diperoleh dari hasil kajian ini adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menemukan varietas padi yang sesuai pada sistem tanam legowo. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, S. S. 2000. Kaji Terap Pemupukan Berimbang NPKS dan PPC / ZPT. Mendukung Mutu Hasil Giling Padi Padi Sawah di Jawa Barat. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lembang dan Depot Logistik Jawa Barat. Sukamandi. Departemen Pertanian. 2000. Deskripsi Varietas Unggul Padi dan Palawija. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Sukamandi. Departemen Pertanian. 2000. Program Diversifikasi Pangan dan Gizi. Departemen Pertanian Jawa Tengah. Departemen Pertanian, 2002. Program Intensifikasi Padi Sawah Melalui Pendekataan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah. Departemen Pertanian. 2007. Deskripsi Varietas Padi. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. BPTP. Sukamandi Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta. Hakim, N, Yusuf Napka, Sutomo Gandi, A.M. Lubis, M. Rusdi, Amin Diha, Go Bang Hong dan H, Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung Kanisius. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Yogyakarta. Lakitan B. 2001 Dasar dan Fisiologi Tumbuhan Raja Grafindo Persada, Jakarta. Ridwan L, Ismon, Zainir. 2001. Budidaya Padi Sawah Sistem Tanam Jajar Legowo. J. Stigma 1(1), Sukamandi. Sarief, S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. Soepardi. 1985. Masalah Kesuburan Tanah dan Pertanian. C.V. Pustaka Buana. Bandung. Sugeng, HR. 2006. Bercocok Tanam Padi. Aneka Ilmu, Semarang. Suriapermana, S. 2002. Teknologi Budidaya Padi Dengan Cara Tanam Legowo Pada Lahan Sawah Irigasi. Badan Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Sukamandi. p : 125 – 135.

Judul: 8-jurnal-faperta-unikal

Oleh: Petrus Silalahi


Ikuti kami