Bab Ii Jurnal Riesma

Oleh Riesma Sri Rahayu Herman

379 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Bab Ii Jurnal Riesma

A. Terapi Herbal pada Flu Ringan atau ISPA non-spesifik Common cold, atau Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) non spesifik atau “flu biasa” merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan menyerang saluran pernapasan atas (hidung). Pengobatan awal penyakit ini lebih sering menggunakan obat-obat simptomatis (mengatasi gejala awal) yang bisa dibeli bebas di apotek atau toko obat yang terdiri dari analgesik (anti nyeri) dan antipiretik (penurun panas) sederhana. Terapi non-farmakologi atau terapi tanpa obat yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan gejala awal common cold. Beberapa jenis herbal atau tanaman juga telah banyak diteliti memiliki manfaat untuk mengatasi gejala awal pada common cold. Beberapa jenis herbal atau tanaman juga telah banyak diteliti memiliki manfaat untuk mengatasi gejala awal pada common cold, jenis herbal tersebut diantaranya : 1. Herbal Andrographis paniculata atau sambiloto Tanaman sambiloto memiliki kandungan andrographolide yang dapat meningkatkan imunitas di saluran pernafasan atas sehingga efektif untuk penyembuhan gejala common cold. Berdasarkan studi randomized controlled trial (RCT) menyebutkan bahwa sambiloto mampu memperbaiki gejala yang menyertai common cold. Sebuah jurnal systematic review juga menunjukan bahwa A. paniculata (sambiloto) tunggal atau kombinasi dengan Acanthopanax senticosus (Gingseng) dapat lebih efektif meredakan gejala. Dosis senyawa Andrographolide untuk meredakan common cold yaitu sebesar 60 mg/hari dan pada anak-anak sebesar 30 mg/hari yang diberikan selama 10 hari. Sedangkan dosis sambiloto yang berupa tanaman kasar (Crude plant) sebesar 3-6 gram kemampuan mencium permanen. Cara penggunaan sambiloto cukup bervariasi salah satu cara yaitu dengan mengambil daun sambiloto segar sebanyak 1 genggam tangan kemudian ditumbuk dan ditambahkan ½ cangkir air matang lalu saring dan siap diminum. Cara yang lain yaitu sebanyak 3 gram tanaman kering sambiloto atau 25 gram bahan segar direbus dan diminum 2 kali/hari sebelum makan. Penggunaan herbal sambiloto akan efektif digunakan selama 3-5 hari setelah gejala awal muncul 2. Herbal Echinacea purpurea Tanaman ini pada Pengggunaan awal dapat menurunkan durasi dan keparahan gejala common cold dengan meningkatkan sistem imunitas tubuh. Sediaan Echinacea purpurea sudah banyak beredar di apotek sebagai suplement herbal untuk meningkatkan imunitas tubuh. Tetapi, berdasarkan penelitian secara randomized clinical trial penggunaan suplemen Echinacea pada anakanak tidak efektif untuk menurunkan durasi atau lama penyakit dari common cold. 3. Bawang putih (Allium sativum) Sebagai profilaksis atau terapi awal dapat menurunkan frekuensi cold pada pasien dewasa, namun tidak memiliki efek terhadap durasi gejala. Bawang putih dapat meredahkan kongesti atau hidung tersumbat yang merupakan gejala awal dari common cold . Cara yang paling efektif yaitu menambahkan irisan bawang putih pada kuah sup hangat, hal ini karena irisan bawang putih akan melepaskan senyawa allicin yang merupakan antibiotik alami yang akan membunuh virus dan infeksi bakteri 4. Herbal teh hijau (green tea) dan teh hitam (black tea) Mengkonsumsi teh hangat baik itu teh hijau, teh hitam atau chamomile tea dapat meredakan gejala hidung tersumbat atau kongesti yang sangat menganggu dari common cold. Hal ini karena kandungan theophylline pada daun teh yang diseduh akan membuka saluran nafas dan memudahkan proses bernafas. Jenis teh chamomile merupakan jenis teh yang paling efektif dibanding jenis teh yang lainnya dalam meredakan gejala common cold dan dianjurkan untuk mengkonsumsi 5 cangkir teh hangat tiap hari. B. Penggunaan Obat Herbal pada Pasien Kanker Serviks Obat herbal merupakan terapi yang tetap bertahan di tengah-tengah kemajuan pengobatan konvensional. Minat pasien terhadap obat herbal dipicu oleh risiko efek samping yang rendah dan lebih aman dibandingkan obat konvensional. Saat ini, penggunaan obat herbal telah menyebar di se1uruh dunia. Pasar obat herbal dunia yang telah mencapai US$5 miliar/tahun merupakan bukti semakin meningkatnya minat masyarakat dalam menggunakan obat herbal. Berdasarkan data Gabungan Perusahaan Jamu dan Obat Tradisional, transaksi obat herbal di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2 triliun/tahun. Setiap tahun dibutuhkan 5.000 ton jahe (Zingiber officinale Roscoe), 3.000 ton temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) dan 25 ton pegagan Centella asiatica, untuk berbagai perusahaan jamu di Tanah Air. Penggunaan obat herbal sebagai obat komplementer dan alternatif pada pasien kanker telah dilaporkan terjadi pada pasien kanker payudara, pasien kanker serviks dan pasien kanker leher rahim. Tetapi, di Indonesia, penggunaan obat herbal pada pasien kanker serviks belum pernah diteliti. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan obat herbal pada pasien kanker serviks, jenis, dan lama pemakaian obat herbal serta hubungannya dengan stadium penyakit, usia, pendidikan, suku, penghasilan, dan status pembayaran. 1. Hasil dan Pembahasan Pasien yang diwawancarai berjumlah 36 orang. Sejumlah 34 orang memberikanjawaban, sementara 2 orang lagi tidak. Salah seorang tidak dapat memberikan jawaban karena keberatan diwawancarai dan seorang lagi sedang dalam kondisi yang sangat buruk sehingga tidak memungkinkan untuk dilaksanakan wawancara. Karakteristik pengguna obat herbal disajikan pada Tabel 1.Pasien kanker serviks (n=34) yang menggunakan obat herbal sebanyak 61,8%, sisanya 38,2% tidak pernah menggunakan obat herbal. Jenis obat herbal terbanyak pilihan pasien adalah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Scheef. Boerl.) 35,3%, temu putih (Curcuma zedoaria Rose.) 32,4%, dan buah merah 17,6% (Pandanus conoideus Lam). Ditinjau dari waktu pemakaian, pasien menggunakan obat herbal sebelum terapi konvensional 29,4%, bersamaan dengan terapi konvensional 8,8%, dan setelah terapi konvensional 23,5%. Sementara itu, lama pemakaian obat herbal kurang dari empat minggu 32,4% dan lebih dari empat minggu 29,4% sebagaimana yang disajikan pada Tabe1 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan pasien diketahui bahwa obat herbal yang paling banyak digunakan ini berupa obat herbal jadi yang dijual dalam kemasan yang mereka dapatkan dari apotek ataupun toko obat. Dosis pemakaiannya disesuaikan dengan petunjuk yang tertera dalam kemasan obat herbal tersebut. Penggunaan obat herballainnya yang tersaji pada Tabel 2, biasanya berasal dari daun atau akar yang direbus dan diminum sari airnya. Dorongan bagi pasien kanker serviks untuk menggunakan obat herbal antara lain berasal dari keluarga dan ternan 38%, media massa 52% dan dari buku sekitar 10% (Tabel 3). Sementara itu, minat pasien kanker serviks yang tidak menggunakan obat herbal untuk mencoba menggunakan obat herbal untuk membantu penyembuhan penyakitnya adalah sebanyak 38% (TabeI 4). Hubungan penggunaan obat herbal dengan stadium penyakit bermakna (p=O,039). Sementara itu, hubungan penggunaan obat herbal dengan umur, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, status pembayaran dan suku tidak bermakna (Tabel 1). Berbagai jenis tumbuhan obat telah dimanfaatkan untuk membantu pengobatan kanker secara tradisional. Berita di media massa tentang khasiat suatu obat herbal dapat mempengaruhi pasien dalam memilih jenis mana yang mereka gunakan. Dalam beberapa tahun belakangan ini obat herbal semakin populer dan banyak dimanfaatkan dalam pengobatan alernatif. Penggunaan obat herbal ini kian meningkat sejalan dengan peningkatan iklan obat herbal dan liputannya di media massa. Saran keluarga dan teman terdekat berpengaruh terhadap penggunaan dan jenis jenis obat herbal yang digunakan oleh pasien. Dengan demikian, saran keluarga dan ternan juga merupakan faktor yang menentukan dalam pemilihan obat herbal di samping peranan media massa dalam mempublikasikan obat herbal sebagai terapi altematif dan komplementer. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa 38% pasien kanker serviks yang tidak menggunakan obat herbal ketika diwawancarai menyatakan minatnya di kemudian hari untuk mencoba obat herbal. lni berarti akan terjadi peningkatan persentase penggunaan obat herbal pada pasien kanker serviks jika kelak mereka mencobanya. Lama dan waktu pemakaian obat herbal. Pasien yang menggunakan obat herballebih dari empat minggu menandakan ada kesungguhan dalam penggunaan herbal untuk mengatasi penyakit yang mereka derita. Ada tiga waktu penggunaan obat herbal, yakni sebelum, bersamaan, dan sesudah menjalani terapi konvensional. Penggunaan obat herbal yang sering terjadi adalah pada saat sebelum dan setelah menjalani terapi konvensional. Penggunaan obat herbal sebelum terapi konvensional menunjukkan kecenderungan pasien mencoba terlebih dahulu keampuhan obat herbal. Pasien pengguna obat herbal memang khawatir dengan efek samping kemoterapi, bedah, dan radiasi karena mempengaruhi keadaan pasien secara umum, termasuk kehilangan indera perasa dan penciuman, perubahan wama kulit, sariawan, mual, dan muntah. Mereka tidak menolak diobati dengan pengobatan konvensional jika pengobatan herbal tidak menunjukkan perubahan. Obat herbal di sini memiliki fungsi sebagai obat altematif. Penggunaan obat herbal pada saat yang bersamaan dengan terapi kanker tidak banyak. Pasien menghindari penggunaan obat bersamaan atas saran dari ahli pengobatan herbal itu sendiri, dan tindakan ini ada benarnyajika dikaitkan potensi terjadinya interaksi obat. Pene1itian tentang interaksi obat sudah dilakukan oleh peneliti dari berbagai negara dan hasilnya menunjukkan bahwa suatu obat bisa saja berinteraksi dengan obat lain, termasuk obat herbal, makanan dan minuman tertentu. Hal yang perlu diawasi dari interaksi obat antara lain adalah peningkatan kadar obat bebas di dalam darah yang mengakibatkan tercapainya konsentrasi toksik atau, sebaliknya, terjadinya penurunan konsentrasi obat tertentu sehingga efek terapinya tidak tercapai. Contoh interaksi obat yang dilaporkan antara lain adalah jika jahe dipakai bersamaan dengan obat antihipertensi akan memperkuat efek antihipertensi dan jika dipakai bersamaan dengan warfarin akan meningkatkan aktivitas antiplatelet<19).Obat herbal lain yang berasal dari tanaman Hypericum perforatum dapat menurunkan kadar obat kanker siklosporin dan indinavir di dalam darah serta dapat menurunkan kadar metabolit aktif kemoterapi irinotecan(20). Sejauh ini interaksi antara temu putih, mahkota dewa, dan buah merah dengan obat-obat kemoterapi belum diketahui. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah belum bisa menilai keberhasilan pengobatan dihubungkan dengan penggunaan obat herbal, mengingat pasien yang dijadikan subjek pene1itian masih dalam proses pengobatan. Namun demikian, beberapa pasien merasakan bahwa penggunaan obat herbal dapat membantu mengurangi efek samping obat kanker yang tidak menyenangkan, seperti mual dan muntah. Seorang pasien berumur 60 tahun, mengaku tidak mengalami efek samping yang berat sete1ah menjalani kemoterapi dengan mengkonsumsi obat herbal tertentu yang bentuknya mirip dengan daun pakis. Demikian pula ada pasien yang menggunakan kunyit putih sebagai antiemetika untuk meredakan efek samping kemoterapi. Pasien ini mengaku efeknya adanya efek positif kunyit putih, karena dia sudah bisa makan dan minum tanpa harus mual dan muntah. Secara tradisional, jahe (Zingiber officinale Roscoe) dan kunyit putih memang digunakan untuk obat sakit perut dan antimual. Hubungan antara penggunaan obat herbal dan stadium penyakit. Pada Tabell dapat dilihat bahwa terdapat hubungan bermakna an tara penggunaan obat herbal dan stadium penyakit kanker serviks (P=0,039). Seluruh pasien kanker serviks pada stadium I menggunakan obat herbal. Hal ini menunjukkan bahwa pasien pada stadium I meyakini bahwa obat herbal dapat membantu mengatasi penyakit yang mereka derita. Pada umunya pasien kanker servik stadium I terse but berharap bahwa penggunaan obat herbal dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya. Kanker serviks pada stadium I masih belum terlalu invasif, sehingga pasien dapat cukup leluasa memilih pengobatan. Namun, risikonya tentu saja ada. Jika obat herbal gagal dalam menanggulangi kanker, penyakit kanker itu akan berkembang menjadi stadium lebih lanjut sehingga penanganannya dapat terlambat. Hubungan antara penggunaan obat herbal dengan usia, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, suku dan status pembayaran. Tidak ada hubungan bermakna antara pengguna obat herbal dan usia pasien. Temuan ini berbeda dari hasil survei di AS tentang pengguna obat herbal dalam berbagai kasus penyakit, yang menunjukkan bahwa pengguna obat herbal yang terbesar adalah pasien yang berusia antara 25-49 tahun. Tidak ada hubungan yang bermakna antara penggunaan obat herbal dan pekerjaan pasien, ini menandakan bahwa apapun pekerjaan pasien tidak berpengaruh pada alasan penggunaan obat herbal oleh pasien yang bersangkutan. Taraf pendidikan juga tidak berpengaruh signifikan terhadap alasan penggunaan obat herbal pada pasien kanker serviks. Hal ini menunjukkan bahwa obat herbal merupakan bagian dari pengetahuan mereka dan sudah menjadi pengetahuan umum. Hasil ini berbeda dari penelitian di AS yang menyatakan bahwa ternyata pasien yang memiliki pendidikan lebih tinggi lebih banyak menggunakan obat herbal dibandingkan dengan yang berpendidikan rendah. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan, tidak ada hubungan bermakna antara penggunaan obat herbal dan status pembayaran. Hal ini berarti bahwa pasien siap mengeluarkan uang ekstra untuk pembe1ian obat herbal. Obat herbal te1ah menjadi bagian penting di dalam upaya pasien memperoleh kesembuhan di samping terapi konvensional. Penghasilan pasien tidak berhubungan pula dengan penggunaan obat herbal. Temuan ini berbeda dari hasil survei yang dilakukan di AS yang menunjukkan bahwa minat terhadap obat herballebih besar pada pada kalangan yang berpenghasilan tinggi(21).Biaya berobat adalah sejumlah uang yang dikeluarkan untuk membayar jasa-jasa pengobatan. Biaya yang dikeluarkan untuk mengobati kanker tergolong besar, karena meliputi biaya analisis laboratorium, radioterapi, jasa dokter, dan pembelian obat-obatan. Sekitar 50% pasien menggunakan uangnya sendiri untuk berobat, berbeda dari negara yang lebih maju yang sebagian besar masyarakatnya sudah memiliki asuransi kesehatan. Di AS dan Jerman, umumnya biaya pengobatan, termasuk obat herbal, ditanggung oleh asuransi. Hasil survei pada 2005 menunjukkan bahwa hanya 17% penduduk AS yang tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan dan di Jerman hanya l2 % penduduk yang tidak memiliki asuransi kesehatan. Pengobatan menggunakan obat herbal dan pengobatan konvensional di rumah sakit di Indonesia kebanyakan masih berjalan sendiri-sendiri. Belum terlihat adanya saling keterkaitan antara penggunaan obat herbal dan pengobatan konvensional. Hal ini terjadi karena khasiat dan keamanan obat herbal masih dipertanyakan oleh sebagian besar dokter. Namun, upaya menggabungkan kedua metode pengobatan tersebut telah banyak dilakukan, terutama pada pusatpusat pengobatan tradisional eina te1ahmenggabungkan penggunaan obat herbal yang diberikan bersama dengan obat konvensional. Di Indonesia ada beberapa rumah sakit yang mengupayakan penggunaan obat herbal untuk pasiennya, seperti Polik1inik Obat Tradisional Indonesia RSU Dr. Soetomo Surabaya dan klinik tumbuhan obat di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Penggunaan metode pengobatan alternatif dan komplementer lain. Dari hasil wawancara dengan pasien diketahui, hanya 3% pasien yang melakukan peningkatan aktivitas ibadah dan berzikir. Hasil penelitian yang dilakukan di Kanada melaporkan bahwa pasien kanker di bagian kebidanan mengalami peningkatan aktivitas spiritual. Peningkatan aktivitas spiritual pada pasien berhubungan dengan upaya untuk mengatasi gangguan psikis yang sering terjadi pada pasien kanker. Penggunaan doa merupakan pilihan terbanyak pasien, yakni sebanyak 52,6%. Mereka mengaku penyakit yang mereka derita membuat mereka lebih 'spiritual' dibandingkan dengan sebe1umnya. Hasil survei di AS menunjukkan bahwa pasien kanker yang telah menggunakan metoda spiritual, termasuk berdoa, untuk membantu proses penyembuhannya sebanyak 43%. 2. Simpulan Obat herbal dipakai oleh 61,8% pasien kanker serviks yang juga menjalani pengobatan kanker konvensional. Obat herbal yang banyak dipakai oleh pasien adalah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Scheef. Boerl.), kunyit putih (Curcuma zedoaria Rose.), dan buah merah (Pandanus conoideus Lam). Pada pasien kanker serviks, obat herbal berperan sebagai obat alternatif dan sebagai obat komplementer. Ada hubungan bermakna antara penggunaan obat herbal dan stadium pasien, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaan tumbuhan obat dengan pendidikan, usia, pekerjaan, dan status pembayaran.

Judul: Bab Ii Jurnal Riesma

Oleh: Riesma Sri Rahayu Herman


Ikuti kami