Jurnal Reading Stase Kulit

Oleh I Kadek Dwi Iman Muliawan

256 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Reading Stase Kulit

PERBANDINGAN ASAM FUMARAT 5 % KRIM DENGAN TRIAMSINOLON 0,1 % KRIM PADA PENGOBATAN EKSEM TANGAN INTISARI Latar belakang. Eksem pada tangan merupakan masalah kulit yang menganggu. Eksem melibatkan suatu reaksi kekebalan tubuh sehingga zat yang dapat menghambat sistem kekebalan efektif dalam pengobatan eksim tangan. Dalam penelitian ini, obat topikal asam fumarat 5% krim dibandingkan dengan steroid topikal dalam pengobatan eksem tangan. Pasien dengan eksem tangan dibagi secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menerima asam fumarat 5% dalam basis krim, dan lainnya menerima triamsinolon 0,1% dalam basis krim yang sama. Kedua kelompok menggunakan krim dua kali sehari selama satu bulan. Pasien diperiksa untuk eritema, ekskoriasi, populasi (gerombol) dan likenifikasi, skor EASI, dan pruritus sebelum dan setelah pengobatan. Pada kedua kelompok, rata-rata dari semua tanda-tanda penyakit dan skor EASI menurun setelah satu bulan pengobatan. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara dua perlakuan dalam mengurangi eritema. Namun ekskoriasi, populasi (gerombol), likenifikasi, skor EASI dan gatal-gatal kelompok triamsinolon 0,1 % lebih unggul dalam mengurangi gejala tersebut. Meskipun asam fumarat dapat menghambat sistem kekebalan tubuh tetapi kurang efektif untuk pengobatan semua tanda eksim tangan kecuali eritema dibandingkan dengan triamcinolon. Hasil ini dapat dibenarkan karena dua alasan: penetrasi rendah asam fumarat topikal melalui kulit atau rendah konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini. PENDAHULUAN Eksem adalah sinonim dari dermatitis. Eksem pada tangan merupakan gangguan umum yang sering terjadi hingga 30 % dari penyakit akibat kerja yang berkunjung ke klinik dan hampir sebagian besar dialami oleh suatu negara. Hampir 50 % dari pasien yang terkena eksem tangan mencari pengobatan dan sekitar 5 % berhenti dari pekerjaannya akibat penyakit ini. Dalam kebanyakan studi, prevalensi lebih tinggi pada jenis perempuan dan penelitian terbaru menunjukan bahwa dominasi perempuan bukan karena genetik melainkan karena faktor lingkungan. Eksem tangan memiliki penyebab yang berbeda. Paling umum disebabkan dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi dan dermatitis atopik. Bentuk lainnya yang jarang terjadi yaitu dermatitis numular, eksem hiperkeratosis dan eksem dishydrotic. Pengobatan eksem tangan dapat dikatakan sulit dan termasuk perubahan gaya hidup, langkahlangkah pencegahan serta pengobatan menggunakan secara topikal dan sistemik. Steroid topikal adalah pengobatan andalan pada eksem tangan. Penggunaan jangka panjang dari obat topikal steroid memiliki efek samping seperti atrofi kulit. Pengobatan eksem tangan biasanya bersifat kronis dan termasuk masalah yang berulang, untuk itu menemukan sebuah terapi alternatif untuk obat steroid topikal menjadi nilai besar. Asam fumarat topikal adalah pengobatan yang direkomendaasikan untuk psoriasis. Obat topikal ini dapat menekan sistem kekebalan tubuh melalui beberapa jalur. Penekanan kekebalan tubuh pada obat asam fumarat dapat menjadi potensi terapeutik yang besar bagi penyakit eksem dan asam fumarat memiliki efek samping yang dilaporkan lebih kecil sehingga dapat menjadi pengobatan baru untuk eksem pada tangan. Dalam studi sebelumnya, ekstrak Fumina Parviflora L. Efektif dalam pengobatan eksem pada tangan yang kronis. Fumaria parvifloria L. Juga dikenal sebagai Shartreh yang merupakan tanaman yang sering digunakan obat rakyat Persia dan asam fumarat adalah salah satu komponen aktif biologis. Dalam uji coba klinis secara acak double blind ini. Kita membandingkan efektivitas topikal asam fumarat 5 % krim dan triamsinolon 0,1 % krim dalam pengobatan eksem pada tangan. METODE Penelitian ini dikontrol, dipilih secara acak dan double blind yang dilakukan di klinik dermatologi Shiraz University of Medical Sciences. Sebanyak 92 pasien termasuk orang yang mengajar di klinik dermatolgi dari Shiraz Universitas Ilmu Kedokteran telah didiagnosis eksem tangan berdasarkan gejala klinis dan terdaftar dalam studi ini. Kriteria eksklusi adalah kehamilan, menyusui, penggunaan imunosupresan topikal atau obat sistemik selama 1 bulan dan pasien dibawah umur 12 tahun. Setiap pasien yang mengalami efek samping berat juga dikeluarkan. Dalam penelitian ini memiliki dua kelompok, salah satunya yang menerima obat topikal asam fumarat krim 5 % dan yang kelompok lainnya menerima triamsinolon krim 0,1 %. Daftar kelompok secara acak telah diberikan dalam bentuk kode diserahkan pada peneliti dan pasien yang telah terdaftar dalam penelitian ditugaskan kedepan untuk memasuki kelompok secara acak yang tersedia pada daftar. Pasien diminta untuk menggunakan obat dua kali seharu selama 1 bulan dan juga pasien diminta mengurangi paparan lingkungan mereka sesedikit mungkin. Pasien <12 tahun, hamil dan wanita menyusui, orang yang berada dalam perawatan topikal selama 2 minggu terakhir atau sisitemik selama 1 bulan akan dikeluarkan dalam penelitian ini. Tanda-tanda penyakit seperti eritema, ekskoriasi, populasi (bergerombol), likenifikasi dinilai dan derajat keparahannya juga dinilai menggunakan skor EASI (Ecsema Area and Severity Index) yang akan di observasi, diamati dan dicatat sebelum dan setelah 4 minggu pengobatan. Derajat pruritus sebelum dan setelah terapi juga ditanyakan dan dicatat menggunakan tingkat keperahan dari 0 sampai 3 (0= tidak ada, 1= ringan, 2= sedang, 3= parah). Studi ini disetujui oleh Komite Etika dama penelitian medis Shiraz Universitas Ilmu Kedokteran. Analisis statistik dilakukan dengan SPSS 15.0 dan menggunakan T test perpasangan untuk melihat signifikan statistik (P< 0,05). Total ada 58 pasien yang berpartisipasi dan untuk mengikuti tidak lanjut penelitian. HASIL Tiga puluh pasien dari 58 peserta penelitian masuk dalam kelompok asam fumarat dan sisanya berada di kelompok triamsinolon. Empat pasien kami keluarkan dari penelitian karena terjadi efek samping yang semakin berkembang. Rata-rata usia pada kelompok satu yang menerima asam fumarat yaitu 28,7 tahun dan pada kelompok dua yaitu 31 tahun. Perbedaan usia secara statistik tidak signifikan antara kedua kelompok (p= 0,373). Kelompok satu terdiri 30 pasien, 21 (70 %) perempuan sedangkan kelompok kedua terdiri dari 19 pasien (68,9 %) perempuan. Menggunakan uji chi-square test, tidak terdapat perbedaan usia secara statistik anatara kedua kelompok (P=0,86). Durasi rata-rata penyakit pada kelompok satu 39,7 bulan dan kelompok dua 42,82 bulan (tidak berbeda secara statistik antar kelompok, p=0,808). Hasil dari pemeriksaan gejala penyakit, skor EASI dan derajat pruritus menunjukan pengurangan yang signifikan secara statistik pada kelompok satu (asam fumarat) (tabel 1). Tabel 1. Perbandingan gejala, skor EASI dan pruritus skor pada kelompok 1 (asam fumarat 5 %) sebelum dan setelah terapi Demikian juga pada kelompok dua (triamsinolon) untuk gejala, EASI skor dan derajat pruritus menunjukan pengurangan yang signifikan secara statistik (Tabel 2). Tabel 2. Perbandingan gejala, skor EASI dan pruritus skor pada kelompok 1 (triamsinolon 0,1 %) sebelum dan setelah terapi Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok sesuai dengan penurunan eritema (p=0,145). Namun berbeda dengan penurunan gejala ekskoriasi, pruritus, populasi (gerombol), likenifikasi dan skor EASI memperlihatkan behwa triamsinolon lebih unggul menurunkan gejala tersebut dari pada asam fumarat (p= 0,023, 0,002, 0,005, 0,001, 0,006)(gambar 1-6). Menentukan khasiat obat berdasarkan usia, jenis kelamin atau durasi penyakit tidak layak dikarenakan terbatasnya jumlah pasien. Gambar 1. Perbandingan tingkat eritema sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 Gambar 2. Perbandingan tingkat ekskoriasi sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 Gambar 3. Perbandingan tingkat likenifikasi sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 Gambar 4. Perbandingan tingkat gerombol sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 Gambar 5. Perbandingan skor EASI sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 Gambar 6. Perbandingan tingkat pruritus sebelum dan setelah terapi pada kelompok 1 dan 2 PEMBAHASAAN Eksem tangan memiliki etiologi yang berbeda. Penyebab yang paling umum adalah dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak alergi dan dermatitis atopik. Interaksi antara faktor pemicu, keratinosit dan sel T yang sangat penting dalam kebanyakan kasus eksem. Dalam alergi dan kontak iritan interaksi antara antigen menyebabkan diferensisasi sel T pada epidermis. Sitokin dan kemokin akan memicu masuk sel T pada epidermis dan menjadi jalur akhir yang umum antara sebagian besar jenis eksem. Asam fumarat dapat berguna dalam mengobati eksem tangan melalui beberapa jalur. Meningkatkan produksi IL-10 yang memiliki efek anti inflamasi, menghambat dierensiasi, sel dendritik, dan sebagai hasilnya akan menurunkan kemampuan anatigen dan menekan sistem kekebalan tubuh serta dapat mengurangi produksi IFN- gamma dan menurunkan produksi sitokin tipe I oleh sel T helper. Dalam penelitian ini, dua individu antara kedua kelompok mendapatkan efek samping seperti eritema dan pruritus berat. Penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa pengobatan asam fumarat dan kortikosteroid topikal dapat mengobati dermatitis kontak alergi. Pada kedua kelompok, tingkat keparahan tanda dan gejala penyakit menurun setelah pengobatan dan efektifitas obat adalah sama dalam mengurangi eritema. Tetapi berbeda dengan efektifitas triamsinolon 0,1 % lebih unggul dalam mengurangi gejala ekskoriasi, gerambol, likenifikasi dan skor ESAI serta pruritus. Menurut temuan dari asam fumarat 5 % dapat mengobati eritema eksem pada tangan. Meskipun tanda-tanda dan gejala yang lain mereda dengan pengobatan ini namun hasilnya lebih unggul pengobatan tramsinolon 0,1 % yang merupakan pengobatan terkenal untuk eksem tangan. Efektifitas asam fumarat tergantung dari konsentrasi sehingga hasil dalam penelitian ini dapat disebabkan oleh konsentrasi yang lebih rendah dikulit. Ini mungkin dikarenakan kemampuan asam fumarat dalam menembus jauh kedalam kulit atau mungkin disebabkan konsentrasi rendah dalam krim. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas asam fumarat dalam penegobatan eksem tangan dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari obat pada penelitian ini atau menggabungkan dengan penembah penetrasi.

Judul: Jurnal Reading Stase Kulit

Oleh: I Kadek Dwi Iman Muliawan


Ikuti kami