Review Jurnal Ilmiah Psikologi

Oleh Cahya Saraswati

54,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Ilmiah Psikologi

Review Jurnal Psikologi Nama : Ni Luh Ayu Cahya Saraswati No. Mahasiswa : 1502205025 Penulis/Peneliti Kapur, Vandana & Rai, Shweta Tahun 2013 Judul The Experience of Shame in Social Phobia Nama Jurnal Journal of Psychosocial Research Volume & Hal Vol. 8, Hal. 299-311 Diakses Tgl 15 Agustus 2015 Website http://search.proquest.com/docview/1542684594/fulltextPDF/ 54D048E129D44598PQ/1?accountid=32506 Sitasi Kapur, Vandana & Rai, Shweta. (2013). The Experience of Shame in Social Phobia. Journal of Psychosocial Research, 7, 299-311. Retrieved August 15, 2015 from http://search.proquest.com/docview/1542684594/fulltextPDF/54D048E129D4 4598PQ/1?accountid=32506 Latar Belakang Perbedaan perlakuan yang seseorang dapatkan dari orang tua serta adanya pengalaman rasa malu yang besar menjadi penyebab terjadinya fobia sosial. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk meneliti perbedaan dalam praktek pengasuhan yang dirasakan orangtua dan pengalaman rasa malu diantara sekelompok pasien dengan fobia sosial dan control normal. Landasan Teori Investigasi terhadap pengaruh peran orang tua terhadap perkembangan kecemasan (Rapee dan Malville, 1997) menemukan adanya hubungan yang signifikan terhadap kecemasan anak dan kontrol orang tua yang berlebihan serta overprotective dan kurangnya kehangatan. Laporan retrospektif dari orang dewasa dengan fobia sosial juga umumnya didukung dengan gambaran yang sama. Interaksi orangtua awal ditandai dengan kontrol yang lebih besar dan gangguan kehangatan kurang (Arrindell, Emmelkamp, Monsma dan Brilman, 1983; Arrindell et al, 1989;. Parker, 1979). Gellar (2000) juga melaporkan temuan menekankan hubungan antara fobia sosial dan gaya pengasuhan overprotective dan adanya penolakan. Greco dan Morris (2002) meneliti hubungan antara perilaku ayah yang dirasakan dan aktual dan kecemasan sosial anak, menemukan bahwa ayah dari anak-anak yang memiliki fobia sosial Taylor dan yang tinggi menunjukkan perilaku yang lebih mengendalikan. Alden (2005) menemukan bahwa pasien yang melaporkan overprotection masa kurang mahir mengambil di atau diskriminatif isyarat sosial. Sebuah korelasi positif antara overprotection, penolakan dan gejala kecemasan anak-anak dilaporkan oleh Muris, Loxtonb, Neumannc, Kinge dan Ollendickf (2006). Demikian pula, Gastel, Legerstee dan Ferdinand (2009). Banyak peneliti menganggap malu sebagai hal yang paling mencerminkan diri emosi dengan evaluasi diri berikutnya dalam hal tidak berguna, defectiveness, berdaya dan paparan dalam hubungannya dengan orang lain (Barrett, 1995; Gilbert dan Andrews, 1998). Central ke fenomenologi malu adalah adanya '' mata publik mencela '' (Hahn, 2000). Dengan demikian, ketika individu mengalami rasa malu, kesadaran ini menyakitkan dari (aktual atau membayangkan) kritikus eksternal menyebabkan perasaan tidak berharga dan rendah diri, ditambah dengan yang meningkat kesadaran diri dan dorongan insting untuk bersembunyi dari paparan lebih lanjut mengakibatkan penghindaran interaksi sosial (Tangney, Wagner, dan Gramzow, 1992). Jadi tampaknya ada hubungan yang erat antara malu dan fobia sosial (Zhong, Li Qian dan 2003). Terutama dalam kasus fobia sosial Helsel (2005) berpendapat bahwa inti dari diri setiap orang yang menderita fobia sosial terletak pengalaman berakar dari rasa malu. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa fobia sosial melibatkan tidak diinginkan, irasional ketakutan yang mencegah seseorang dari terlibat dalam aspek sosial kehidupan mereka. Keengganan orang untuk situasi sosial akut bila ada dinamika penyerahan dan dominasi yang terlibat dalam pertemuan itu. Dengan demikian, menyimpulkan bahwa fenomena fobia sosial berakar pada pengalaman malu di masa kanak-kanak yang telah diinternalisasi oleh penderitanya. Gabbard (1992); Stangier dan Fydrich (2002) juga melaporkan bahwa perasaan malu yang berlebihan umumnya diakui sebagai gejala emosional yang dialami oleh individu yang menderita fobia sosial. menemukan hubungan yang signifikan antara ibu dan ayah overprotection dan kecemasan anak. Kontrol orangtua yang berlebihan juga dapat menumbuhkan rasa malu. Kontrol psikologis yang berlebihan oleh orang tua atau orang lain yang signifikan bisa menimbulkan rasa malu, baik secara tidak langsung dengan memperlakukan anak sebagai lemah dan tidak mampu (overprotection) dan menyebabkan rasa uncontrollability dan inefficacy (Chorpita dan Barlow, 1998), atau langsung dengan mendevaluasi anak (misalnya , cinta penarikan, kritik, meremehkan, mengabaikan, mengabaikan) dan mendorong rasa tidak menjadi penting, dekat, atau berharga kepada orang lain (Leary, Koch, dan Hechenbleikner, 2001). Lutwak dan Ferrari (1997) meneliti hubungan antara gaya pengasuhan awal dan malu menemukan malu yang terkait dengan kenangan orang tua sebagai menuntut, mengendalikan, dan non-pengasuhan. Variabel Variabel independen :praktek pengasuhan orang tua dan rasa malu lebih Variabel dependen : fobia sosial Metode : Subjek Metode Penelitian menggunakan :  Pengumpulan sampel  Metode & Teknik Pengumpulan Data menggunakan Egna Minnen Betraffande Uppfostran, Embu (Perris, Jacobsson, Lindstrom, von Rnorring, dan Perris 1980), Pengalaman Skala Malu, ESS (Andrews dan Hunter, 1997), dan Kuisioner Kesehatan Umum – 12 (GHQ – 12, Goldberg, 1970).  Instrumen Subjek penelitian ini adalah 72 orang dari usia 18-35 tahun. Instrumen yang dilakukan dalam penelitian ini berupa instrument kuantitatif menggunakan menggunakan Egna Minnen Betraffande Uppfostran, Embu (Perris, Jacobsson, Lindstrom, von Rnorring, dan Perris 1980) yang menilai mengenai kenangan sendiri dan pendidikan seseorang. Item ini menilai mengenai 4 jenis orang tua dalam praktek penolakan, overprotection, kehangatan emosional dan dukungan terhadap subjek; Pengalaman Skala Malu, ESS (Andrews dan Hunter, 1997) yang mengukur 3 aspek yaitu kategori malu, perilaku malu, dan rasa malu; dan Kuisioner Kesehatan Umum – 12 (GHQ – 12, Goldberg, 1970) yang diguanakan sebagai alat screening untuk memastikan tidak adanya gangguan kejiwaan yang dipendam. Penelitian dibagi dalam 5 tahap, yakni : 1. Mempersiapkan perencanaan penelitian. 2. Menentukan metodologi penelitian. 3. Pengumpulan sampel sebanyak 72 individu dari usia 18-35 tahun. 4. Melakukan penelitian 5. Pengumpulan data hasil penelitian Metode Analisis Metode analisis statitik yang digunakan penulis dalam penelitian ini berupa statistik data dari instrumen yang digunakan kemudian mengambil sebuah simpulan dari statistik data yang didapatkan. Hasil Penelitian Hasil analisis dari penelitian yang dilakukan adalah : Pada domain Praktek Pengasuhan Orangtua ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan kedua orangtua mereka, baik ibu maupun ayah mereka melakukan lebih banyak penolakan terhadap mereka jika dibandingkan dengan orang biasa. Pada domain Kehangatan Emosional ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan kedua orangtua mereka, baik ibu maupun ayah mereka memberikan lebih sedikit kehangatan emosional terhadap mereka jika dibandingkan dengan orang biasa. Pada domain Rasa Malu ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan mereka memiliki pengalaman rasa malu yang lebih besar jika dibandingkan dengan orang biasa. 1. Dasar teori dan hipotesis tepat 2. Menggunakan banyak metode analisis 3. Menggunakan banyak referensi sumber 4. Menggunakan banyak variabel analisis Pembahasan/ Diskusi Dalam pembahasan menunjukkan bahwa banyak penelitian dan studi yang terkait dengan praktik pengasuhan orang tua dan rasa malu yang berhubungan dengan fobia sosial. Adanya pengasuhan yang berlebihan dan tidak sesuai serta rasa malu yang berlebihan dikatan dapat meningkatkan rasa fobia sosial pada remaja. 1. Ukuran sampel yang lebih kecil membatasi analisis data 2. Sampel hanya terdiri dari laki-laki sehingga membatasi generalisasi 3. Adaptasi dari kuesioner yang sesuai dengan lingkungan penelitian tidak bisa dilakukan Komentar Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini mendukung hipotesis dari penulis. Hasil analisis dari penelitian yang dilakukan adalah : Pada domain Praktek Pemeliharaan Orangtua ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan kedua orangtua mereka, baik ibu maupun ayah mereka melakukan lebih banyak penolakan terhadap mereka jika dibandingkan dengan orang biasa. Pada domain Kehangatan Emosional ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan kedua orangtua mereka, baik ibu maupun ayah mereka memberikan lebih sedikit kehangatan emosional terhadap mereka jika dibandingkan dengan orang biasa. Pada domain Rasa Malu ditemukan bahwa individu dengan fobia sosial melaporkan mereka memiliki pengalaman rasa malu yang lebih besar jika dibandingkan dengan orang biasa.Penelitian belum terlalu akurat karena ukuran sampel yang kecil, hanya melibatkan sampel laki-laki dan penelitian hanya dilakukan di satu wilayah Kekurangan dari penelitian ini adalah : 1. Ukuran sampel yang lebih kecil membatasi analisis data 2. Sampel hanya terdiri dari laki-laki sehingga membatasi generalisasi 3. Adaptasi dari kuesioner yang sesuai dengan lingkungan penelitian tidak bisa dilakukan. Kekuatan dari penelitian ini adalah : 1. Dasar teori dan hipotesis tepat 2. Menggunakan banyak metode analisis 3. Menggunakan banyak referensi sumber 4. Menggunakan banyak variabel analisis Adapun kesimpulan dan saran yang dapat diberikan untuk penelitian yaitu: 1. Penelitian belum terlalu akurat karena ukuran sampel yang kecil, hanya melibatkan sampel laki-laki dan penelitian hanya dilakukan di satu wilayah. 2. Perlu adanya penelitian lanjutan dengan melibatkan lebih banyak partisipan dari berbagai kalangan dengan cakupan wilayah yang lebih luas.

Judul: Review Jurnal Ilmiah Psikologi

Oleh: Cahya Saraswati


Ikuti kami