Jurnal Pengabdian Safroni Isrososiawan

Oleh M. Khairus Sholihin

259,3 KB 2 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Pengabdian Safroni Isrososiawan

PENINGKATAN KUALITAS MANAJEMEN DAN PENGELOLAAN USAHA KERAJINAN GERABAH DI DESA ANYAR KECAMATAN BAYAN LOMBOK UTARA NTB Safroni Isrososiawan Dosen Jurusan Pendidikan IPS Ekonomi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Negeri Mataram ronnie_lombok@yahoo.com Abstrak Salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Keterlibatan Institut Agama Islam Negeri Mataram dalam kegiatan ekonomi mikro adalah salah bentuk pengabdian kepada masyarakat sebagaimana yang dilaksanakan di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat yaitu memberikan pelatihan dan pendampingan manajemen dan pengelolaan usaha kepada para pengerajin gerabah. Selama ini kegiatan produksi yang dijalankan oleh pengrajin gerabah dilaksanakan secara tradisional tanpa memperhitungkan cara penanganan dan pengelolaan usaha yang baik mulai dari manajemen usaha, pencatatan hasil produksi maupun pembukuan arus kas untuk melihat untung rugi usaha yang dilaksanakan. Dengan demikian usaha yang dijalankan belum bersifat profesional hanya berjalan di tempat tanpa ada perkembangan usaha yang berarti, dan pemasarannya masih bersifat lokal hanya bisa menembus pasar-pasar tradisional sekitar. Metode pelaksanaan pengabdian ini adalah pelatihan dan pendampingan. Pelatihan dilaksanakan selama satu hari dan pendampingan dilaksanakan selama satu bulan. Sasaran kegiatan ini berjumlah peserta 25 orang yang berlokasi di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa terdapat perubahan menuju arah yang lebih baik dalam hal manajemen dan pengelolaan usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Hal tersebut terlihat dari adanya pencatatan keuangan sederhana, perencanaan usaha, perubahan teknis pemasaran dan pembagian pekerjaan/job description, walaupun disamping itu masih ada kekurangan yang masih perlu disempurnakan. Kata Kunci: Manajemen, Pengelolaan, dan Usaha Kerajinan Gerabah A. Pendahuluan Pembangunan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat berbasis pedesaan diberlakukan untuk memperkuat fondasi perekonimian negara, mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial, desa sebagai basis perubahan. Salah satu kontribusi yang bisa dilakukan oleh 1 civitas perguruan tinggi (dalam hal ini Insitut Agama Islam Negeri Mataram) dalam upaya mewujudkan pembangunan ekonomi masyarakat desa melalui pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya yang berlokasi di Desa Anyar Kabupaten Lombok Utara yaitu melaksanakan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku usaha kerajinan gerabah. Selama ini kegiatan ekonomi yang dilaksanakan oleh pengrajin gerabah dilaksanakan secara tradisional atau sederhana tanpa memperhitungkan cara penanganan atau manajemen dan pengelolaan usaha yang baik mulai dari manajemen usaha, pencatatan hasil produksi maupun pembukuan arus kas untuk melihat untung rugi usaha yang dilaksanakan sehingga usahanya belum bersifat profesional hanya berjalan di tempat tanpa ada perkembangan usaha yang berarti, dan pemasarannya masih bersifat lokal. Berangkat dari hal tersebut maka masalah yang muncul pada usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utaran Nusa Tenggara Barat adalah tidak mengetahui secara pasti berapa untung atau rugi yang didapatkan, belum mampu memperdiksi jumlah produk yang dibutuhkan pasar, tidak mempunyai job description dan belum mampu mengelola keungan dengan baik. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan tentang manajemen dan pengelolaan (manajemen produksi, pemasaran, keuangan, personalia dan administrasi) sekaligus menjadi acuan kerja bagi para pengerajin gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dalam mengelola usahanya, sehingga manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah para pengerajin gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara bisa membuat perencanaan pengembangan usaha dan membuat pencatatan keuangan dengan baik. Pada tataran teori, manajemen menurut Muhammad (2004) adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan, perencanaan, dan pengawasan terhadap pekerjaan pekerjaan dalam suatu proyek. Sedangkan menurut James (dalam Undang Ahmad Kamaludin, 2009), manajemen adalah kebiasaan yang dilakukan secara sadar dan terus menerus dalam membentuk organisasi. Jadi, manajemen adalah suatu aktifitas yang dilakukan menggunakan keterampilan (seni) dalam merencanakan, mengorganisir, dan mengontrol sumberdaya melalui bantuan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan efektif dan efesien. Secara umum fungsi-fungsi manajemen menurut G.R Terry (dalam H. Malayu S.P. Hasibuan, 1986) terdiri dari: Planning (perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Penggerakan), Controlling (Pengawasan). Sedangkan tingkatan manajemen menurutnya dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu Manajemen Puncak (Top Management) yang sifat pekerjaannya lebih banyak pada manajerial dari pada operasional, Manajemen Tengah (Middle Management) yang bertugas untuk menjabarkan kebijakan-kebijakan dari manajemen tingkat atas, dan Manajemen Bawah (Low Management) yang tugasnya mengarahkan atau merencanakan pekerjaan 2 operasional berdasarkan perencanaan-perencanaan yang telah dijabarkan oleh manajemer tingkat menengah. Pada dasarnya manajemen secara umum terbagi menjadi banyak bidang namun akan diuraikan empat bidang berdasarkan kondisi usaha kerajinan gerabah. 1). Manajemen produksi melaksanakan kegiatan-kegiatan manajerial seperti planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan), dan controlling (pengawasan), terhadap sistem-sistem produksi usaha kerajinan gerabah dengan tujuan agar produksi dapat berjalan secara efektif dan efisien; 2) Manajemen pemasaran, bidang ini menerapkan fungsi-fungsi manajemen dalam kegiatan penciptaan dan penyerahan barang atau jasa kepada konsumen, agar dapat memperluas pasar bagi kemajuan usaha kerajinan gerabah; 3) Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), bidang ini menerapkan fungsi - fungsi manajemen yaitu planning, organizing, leading & controlling, dalam setiap aktifitas/fungsi operasional SDM mulai dari proses penarikan, seleksi, pelatihan dan pengembangan, penempatan yang meliputi promosi, demosi & transfer, penilaian kinerja, pemberian kompensasi, hubungan industrial, hingga pemutusan hubungan kerja, yang ditujukan bagi peningkatan kontribusi produktif dari SDM organisasi terhadap pencapaian tujuan usaha secara lebih efektif dan efisien. Pada bidang ini para pengerajin gerabah tidak menerapkan semua fungsi yang ada karena SDM yang ada berasal dari para anggota keluarga; 4) Manajemen keungan, merupakan aktivitas fungsi manajemen untuk menyediakan segala kebutuhan finansial yang berkaitan dengan operasional usaha kerajinan gerabah. Cara pembuatan gerabah pada dasarnya sangatlah mudah apabila telah terbentuk desain yang akan dibuat. Adapun tahapan-tahapan pembuatan gerabah adalah sebagai berikut; 1) Persiapan dan pengolahan bahan baku; 2) Proses produksi. Tahap persiapan meliputi persiapan alat seperti: molen, alat putar, alat cetak, tungku pembakaran, alat pewarnaan, alat pengepakan. Bahan pembuatan gerabah adalah tanah liat, pasir halus, air, kayu bakar dan jerami, dan cat. Adapun proses produksi meliputi beberapa tahapan yaitu tahap pembentukan, tahap pengeringan, tahap pembakaran, tahap pembersihan dan penghalusan, tahap pewarnaan dan finishing, dan tahap pengepakan. B. Proses Pelaksanaan Kegiatan 1. Kerangka Pemecahan Masalah Berangkat uraian pendahuluan di atas maka kerangka pemecahan masalah yang diajukan terkait masalah yang dihadapi oleh pengerajin adalah 1) Menganalisis masalah dan kebutuhan yang dihadapi; 2) Pemberian pelatihan dan pendampingan; 3) Evaluasi hasil pelatihan. 2. Realisasi pemecahan masalah Realisasi pemecahan yang dilakukan tergambar sebagai berikut: a. Analisis masalah dan kebutuhan 1) Kendala terkait dengan produksi a) Pembuatan kerajinan gerabah menggunakan alat seadanya yaitu berupa putaran yang terbuat dari kayu yang didapatkan dengan cara membeli atau membuat sendiri. 3 b) Desain kerajinan yang dihasilkan masih terbatas pada kebutuhan masyarakat sehari-hari berupa: asbak, cobek, tungku memasak, kendi besar (bong) dan tergantung dari pesanan namun bisa dikatakan kecil dan hampir tidak ada sama sekali. c) Pembakaran produk masih tergantung pada kayu, jerami yang diperoleh dengan membeli. 2) Kendala terkait dengan manajemen a) Manajemen usaha dan pengolahan yang dijalankan masih sangat sederhana b) Tidak ada pencatatan barang/produk yang dihasilkan hanya mengandalkan ingatan dari jumlah produk kerajinan yang dihasilkan. c) Belum memiliki sistem pembukuan, sehingga keuntungan dan kerugian tidak dapat terdeteksi dengan baik hanya mengandalkan pada ingatan dan perhitungan sederhana. 3) Kendala terkait dengan pemasaran a) Pemasaran hasil produksi masih dilakukan pada pasar tradisional dan hanya tingkat lokal. b) Jaringan pemasaran yang dimiliki masih sangat terbatas. c) Belum memiliki kemampuan penggunaan Teknolgi Informasi sebagai media pemasaran d) Belum adanya standar harga yang ditetapkan karena tergantung dari tawar menawar yang dilakukan dengan konsumen adapun harga jual yang tetapkan berkisar antara Rp. 4000,- sampai Rp. 50.000,- tergantung dari item produk yang dibeli. e) Laba penjualan hanya digunakan sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari. b. Pelatihan dan Pendampingan Pelaksanaan pelatihan dilakukan dengan memberikan teori dan praktek yang dilakukan selama sehari sehari. Dan dalam rangka memastikan keberlanjutan teori yang telah diberikan dalam pelatihan pelaksana pengabdian kepada masyarakat melakukan pendampingan selama satu bulan. c. Evaluasi Setelah pengerajin didampingi dengan melibatkan mahasiswa yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Pastisipatif untuk menerapkan teori yang telah diberikan pada saat pelatihan. Evaluasi dilaksanakan satu bulan setelah pelatihan dilaksakan. Adapun hasil evaluasi terhadap para pengerajin tersebut adalah: 1) Pengerajin telah membuat tempat pengering gerabah berupa rak untuk pengering pada saat menghadapi kendala musim penghujan 2) Menambah variasi jenis produk yang dihasilkan 3) Membuat catatan jumlah produksi yang dihasilkan 4) Membuat pembukuan sederhana namun mampu mendeteksi kerugian dan keuntungan yang dihasilkan 5) Menjaring mitra atau kerjasama dengan pihak lain untuk memperluas pasar dari produk yang dihasilkan 4 3. 4. 5. 6. 7. 6) Menentukan harga produk yang pasti berdasarkan atas biaya produksi yang digunakan sampai terciptanya suatu produk yang dihasilkan. 7) Menjalin kerjasama yang baik dan melibatkan pemerintah desa untuk pengembangan dan perluasan pasar melalui sosialisasi desa yang dimasukkan ke dalam program desa. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan ini adalah pengerajin gerabah di Desa Anyar (Dusun Gereneng dan Lendang Mamben) Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara yang berjumlah 25 orang. Metode (Bentuk Kegiatan) Metode yang digunakan oleh pelaksana dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah pelatihan dan pendampingan. Pelatihan memberikan kesempatan para pengerajin untuk memperoleh pengetahuan tentang manajemen usaha kerajinan gerabah berupa teori dan praktek dan pendampingan memastikan keterlaksanaan teori yang telah diberikan pada saat pelatihan Waktu dan Tempat Kegiatan Waktu pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan manajemen usaha kerajinan gerabah ini terbagi menjadi dua, yaitu pelatihan dilaksanakan Hari Sabtu, 5 September 2015 yang bertempat di Aula Kantor Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dan pendampingan dilakukan selama satu bulan yaitu Bulan September 2015. Sarana dan Alat yang Digunakan dalam Kegiatan Sarana yang digunakan dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan adalah ruang pertemuan beserta fasilitasnya yang difasilitasi oleh pihak pemerintah desa dan tempat produksi kerajinan gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara . Adapun alat yang digunakan adalah: a. Laptop b. LCD Proyektor c. Form perencanaan usaha kerajinan gerabah d. Form pencatatan keuangan sederhana usaha kerajinan gerabah e. Gambar media massa yang gunakan untuk pemasaran produk kerajinan f. Gambar desain tempat dan bentuk produk kerajinan Pihak yang Terlibat dalam Kegiatan Pihak yang terlibat dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan manajemen usaha kerajinan gerabah ini adalah: a. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lombok Utara Dalam pelaksanaan kegiatan produksi yang dilaksanakan oleh pengrajin gerabah akan berjalan dengan baik bila didukung oleh instansi terkait seperti pihak pemerintah daerah dan badan pemerintah dalam hal ini adalah Disperindag Kabupaten Lombok Utara. Pihak Disperindah merupakan pembina langsung UKM dan dapat membantu 5 memfasilitasi UKM untuk melakukan pendampingan secara berkala dalam upaya untuk membina dan memperhatikan usaha produksi rumah tangga khususnya pada pengrajin gerabah di desa anyar ini. Pemerintah daerah dalam hal ini berpartisipasi dalam mengontrol kegiatan usaha dalam upaya untuk memajukan kegiatan usaha rumah tangga yang dilaksanakan karena ini adalah merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah terhadap masyarakat yang berada di kabupaten lombok uatar tempat lokasi kegiatan usaha yang dilaksanakan. Selain itu juga Disperindag mendapingi pengerajin untuk mendapatkan pengesahan/ melegalkan usaha kerajinan yang ada di Desa Anyar secara administratif, pemerintah daerah juga membantu mensosialisasikan dan menfasilitasi kegiatan usaha untuk mendapatkan surat ijin usaha. Disperindagkan juga memberikan pemahaman tentang hak paten dari pihak pemerintah karena paten-paten itu sendiri dapat memberikan ilham kepada para pengusaha kecil dan enterpreneur kreatif untuk menciptakan produk-produk lain sehingga akan memberikan keleluasaan dan ketenangan dalam berkarya. Disisi lain hak paten hubungannya dengan pemasaran membuat para pengusaha mikro tidak lagi merasa ragu untuk memasarkan hasil produksinya dalam kapasitas yang besar karena sudah ada legalitas, lisensi atau perijinan yang jelas. b. Pemerintah Desa Desa memiliki peranan yang sangat penting didalam membina dan mengembangkan kegiatan usaha yang berada di ruang lingkup desa karena bersentuhan langsung dengan jenis kegiatan usaha yang dilaksanakan di desa tersebut. Dalam hal ini desa ikut serta dalam kegiatan pelatihan dan pendampingan kepada pengerajin gerabah dalam upaya memajukan kegiatan usaha rumah tangga tersebut. Pada pelatihan Pemerintah Desa (Kepala Desa) ikut serta menjadi pemateri untuk menyampaikan program-program desa yang berkaitan dengan usaha kerajinan gerabah, sedangkan dalam pendampingan pemerintah desa terlibat sebagai inisiator terhadap desain tempat dan produk yang diproduksi oleh pengerajin. Oleh karena itu, dengan adanya pembinaan yang berkala dan intensif merupakan salah satu usaha desa didalam meningkatkan dan memajukan kesejahteraan masyarakatnya. Bentuk keterlibatan desa ini merupakan upaya untuk memasukkan kedalam salah satu program desa untuk lebih memperkenalkan secara luas hasil kegiatan usaha yang dilaksanakan oleh masyarakatnya kepada masyarakat luar sebagai upaya untuk memperluas pasar hasil kegiatan usaha yang dilaksanakan dalam hal ini pengrajin gerabah di Desa Anyar tersebut. c. Praktisi Kerajinan Gerabah Keterlibatan praktisi dalam kegiatan ini sangat penting artinya, karen tanpa praktisi teori-teori yang disampaikan pada saat pelatihan tidak akan bisa terlaksana dengan baik. Bentuk keterlibatan praktisi dalam kegiatan ini adalah membina para pengerajin untuk 6 melaksanakan praktik dalam bidang desain produk, desain tempat produksi, rencana pengembangan produksi, rancangan pemasaran dan pencatatan keuangan. 8. Kendala dan Upaya Pemecahan Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan pelatihan manajemen usaha pengerajin gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan Kuliah Kerja Pastisipatif (KKP) tahun 2015 di desa tersebut sehingga pelaksana pengabdian sangat terbantukan baik dari segi pelaksanaan maupun persiapan seperti sosialisasi kepada para pengerajin gerabah, koordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan maupun daerah dan membantu administrasi pada saat pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, sehingga pelaksanaanya berjalan dengan baik. Namun walaupun demikian ada beberapa kendala yang dihadapi pada saat kegiatan berlangsung, yaitu: a. Pelaksana sulit untuk memastikan semua pengerajin di ikut serta menjadi peserta dalam kegiatan pelatihan dan pengabdian yang dilaksanakan, bahkan sebagian secara langsung menolak ikut menjadi peserta. Hal ini dikarenakan para pengerajin sering dijanjikan oleh para oknum baik yang mengatasnamakan pemerintah maupun swasta untuk memberikan pelatihan maupun bantuan materil namun sampai saat ini belum bisa teralisasi. Kendala ini bisa teratasi dengan meyakinkan semua pengerajin dengan cara menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram dan merinci seluruh kegiatan yang akan dilakukan. Hal ini juga terbantukan oleh sosialisasi pemerintah desa tentang kegiatan ini yang sebelumnya dikoordinasikan oleh pelaksana ke pihak pemerintah desa. b. Peserta pelatihan selain berprofesi sebagai pengerajin gerabah juga menjadi petani sehingga terkadang mereka meninggal rumah seharian untuk pergi ke sawah, ini berakibat pada terkendalanya sosialisasi dan konfirmasi kehadiran peserta pada acara pelatihan. Namun kendala ini bisa diatasi dengan bekerjasama dengan mahasiswa peserta (KKP) untuk mendatangi peserta pada waktu malam dengan memperhatikan aturan dan etika berkunjung malam hari di dusun tersebut. c. Pada saat pelatihan banyak dari peserta yang mengharapkan ada bantuan modal dan alat produksi dari pelaksana namun hal tersebut tidak bisa terpenuhi karena di anggaran yang ada tidak dianggarkan untuk bantuan modal dan pembelian alat yang skala besar. Kendala ini diatasi dengan memadukan kegiatan ini dengan program desa yang ada sehingga permintaan peserta pada saat pelatihan tersebut dijawab oleh pemerintah desa dengan penjelasan bahwa desa mempunyai program bantuan untuk para pengusaha kecil namun program tersebut bisa teralisasi pada tahun 2016. 9. Evaluasi Langkah terakhir untuk memastikan hasil pelatihan dan 7 pendampingan berjalan sesuai dengan rencana maka dilakukan evaluasi oleh pelaksana guna mendapatkan data akhir terkait kondisi (manajemen) usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Evaluasi ini lakukan setelah kegiatan pelatihan dan pendampingan berakhir dengan hasil sebagai berikut: a. Pengerajin telah membuat tempat pengering gerabah berupa rak untuk pengering pada saat menghadapi kendala musim penghujan b. Membuat pembagian pekerjaan ( job description) c. Merencanakan penambahan variasi jenis produk yang dihasilkan d. Membuat catatan jumlah produksi yang dihasilkan e. Membuat pembukuan sederhana namun mampu mendeteksi kerugian dan keuntungan yang dihasilkan f. Menjaring mitra atau kerjasama dengan pihak lain untuk memperluas pasar dari produk yang dihasilkan g. Menentukan harga produk yang pasti berdasarkan atas biaya produksi yang digunakan sampai terciptanya suatu produk yang dihasilkan. h. Menjalin kerjasama yang baik dan melibatkan pemerintah desa untuk pengembangan dan perluasan pasar melalui sosialisasi desa yang dimasukkan ke dalam program desa. Selain perubahan menuju perbaikan di atas ada beberapa hal yang belum bisa diterapkan oleh pengerajin dari materi yang diberikan pada saat pelatihan dan pendampingan a. Belum mampu mempromosikan produk kerajinan melalui media massa dan sosial media karena terkait biaya promosi dan alat koneksi internet b. Sumber daya manusia masih mengandalkan keluarga dan kerabat dekat belum bisa melibatkan orang lain karena usaha kerajinan masih berskala rumah tangga c. Masih menggunakan peralatan tradisional karena kemampuan untuk membeli peralatan modern belum ada. d. Belum mampu membentuk komunitas pengerajin C. Hasil dan Pembahasan 1. Manajemen Kerajinan Gerabah di Desa Anyar Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat (Pengadaan Bahan Dasar, Pembuatan Gerabah, Tenaga Kerja, Dan Pemasarannya) Manajemen menurut Mary Parker Follet (1997), adalah seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Sedangkan menurut Muhammad (2004) manajemen adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan, perencanaan, dan pengawasan terhadap pekerjaan pekerjaan dalam suatu proyek. Jadi, Manajemen adalah kegiatan untuk mencapai suatu tujuan, yang dilakukan oleh individu-individu yang menyumbangkan upayanya yang terbaik melalui tindakan-tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal ini meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara 8 bagaimana melakukannya, memahami bagaimana harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha mereka. Dalam bentuk yang lebih sederhana para perajin gerabah mengelolah usaha mereka dengan sebuah model manajemen yang diorientasikan pada pengadaan bahan dasar pembuatan gerabah, proses pembuatan gerabah, pengelolaan tenaga kerja, dan pemasarannya; a. Pengadaan bahan dasar Beberapa dekade sebelumnya, kerajinan gerabah merupakan usaha yang demikian menguntungkan. Betapa tidak, dengan modal yang relatif sedikit, gerabah dapat dijual dengan harga yang menguntungkan dengan angka penjualan yang juga cukup tinggi. Tanah liat dapat diambil secara gratis dari lokasi pertanian secara cuma-cuma. Dengan azas simbiosis mutualism, pemilik lahan pertanian sangat diuntungkan karena tanah liat yang ada di lokasi persawahan akan menyebabkan tanaman padi tidak subur. Begitu pula dengan pengadaan jerami untuk membakar gerabah, dahulu hanya diambil tanpa harus dibeli. Proses pengadaan bahan dasar pembuatan gerabah telah mengalami keadaan yang demikian antiklimaks. Tanah liat harus didapatkan dengan cara membeli dari berbagai tempat yang kualitas tanahnya bagus dan bermutu tinggi. Untuk memperoleh tanah liat biasanya dibeli dengan harga Rp 10.000 perkarung, dengan kemampuan membeli tanah rata-rata 35 karung perbulannya. Pasokan tanah liat ditentukan oleh kualitas tanah liat itu sendiri. Tanah liat yang digunakan oleh perajin pada umumnya dipasok dari daerah sekitarnya. Tidak berbeda dengan tanah liat, kini jerami yang digunakan sebagai bahan pembakaran gerabah untuk mendatangkannya harus dibeli walaupun dengan harga yang relatif murah. Walaupun semua bahan dasar pembuatan gerabah harus didatangkan dengan cara dibeli, hal ini tidak menyurutkan semangat para perajin untuk terus memproduksi gerabah untuk dijual serta untuk memenuhi permintaan pelanggan. Manajemen pengadaan bahan dasar pembuatan gerabah dilaksanakan berdasarkan tingkat kebutuhan dan kemampuan finansial yang dimiliki. b. Pembuatan gerabah Proses pembuatan gerabah di tempat ini boleh dibilang masih tradisional, walaupun sudah ada beberapa kelompok/keluarga yang sudah menggunakan teknologi modern. Pada umumnya gerabah dibuat dengan tetap mempertahankan tehnik yang telah secara turun temurun digunakan, yakni dengan cara dipijat, diputar, lalu dibakar. Akan tetapi dari sisi bentuk dan motif/coraklah yang telah banyak mengalami perubahan. Dalam proses pembuatannya, setelah tanah diolah/dihaluskan, tanah kemudian dibentuk sesuai desain yang ada. Setelah dibentuk dengan berbagai tehnik, gerabah kemudian dijemur hingga kering untuk selanjutnya menuju ke tempat pembakaran. 9 Supaya tidak rusak (patah atau retak), proses pemindahan gerabah dari tempat pembuatan menuju ke tempat penjemuran harus dilakukan secara berhati-hati dengan menggunakan dua tangan. Demikian pula pada saat pemindahan ke tempat pembakaran dilakukan dengan cara yang sama. Pada proses pembakaran, gerabah dibakar pada sebuah tungku besar dengan menggunakan berbagai macam bahan bakar seperti kayu bakar, atau jerami. Sebelumnya, gerabah yang mereka buat dicampur dengan tetesan tebu sebagai anti retak. Namun, cara ini tidak berlangsung lama karena berdasarkan pengamatan, mereka tidak menemukan manfaat dari formula ini. Berbagai eksperimen dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu produksi gerabah agar dapat bertahan ditengah-tengah gempuran berbagai barang-barang industri yang tentu lebih murah, mudah diperoleh serta lebih praktis dari segi penggunaannya. Banyak upaya pembinaan yang difasilitasi oleh pemerintah dan LSM, termasuk di antaranya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh IAIN ini. Gerabah yang telah selesai dibakar ditumpuk begitu saja di tempat yang relatif tidak aman, hal ini dikarenakan minimnya fasilitas penyimpanan seperti gudang ataupun bahkan gallery. c. Penglolaan tenaga kerja Manajemen pengelolaan sumber daya manusia yang dijalankan dalam usaha produksi gerabah dijelaskan ke dalam tiga bagian: 1) Rekruitmen Perajin yang bekerja pada usaha ini sesuai jumlah anggota keluarga dalam setiap rumah tangga. Mereka bekerja secara sukarela tanpa adanya penetapan jumlah gaji yang harus diterima usai bekerja. Mereka bekerja tanpa job description , sehingga jadwal kerja mereka sesuai kesempatan yang dimiliki oleh masingmasing anggota keluarga. Pada kondisi tertentu , mereka harus melibatkan beberapa orang di luar anggota keluarga. Hal ini dilakukan untuk memenuhi target produksi tertentu yang tidak dapat diselesaikan oleh anggota keluarga yang ada. Apalagi jika pekerjaan dalam porsi besar dengan waktu yang sangat terbatas. Keadaan yang demikian ini bersifat insidentil, tidak berlangsung terus-menerus. 2) Penggajian Dengan mengoptimalkan peran anggota keluarga, maka biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran gaji karyawan dapat diminimalkan. Secara sukarela anggota keluarga bekerja tanpa pamrih, mereka tidak mendapatkan pembayaran gaji yang akan diterima usai bekerja. Biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran gaji hanya dilakukan jika usaha produksi kerajinan gerabah melibatkan orang lain dalam proses pembuatan gerabah pesanan. Tidak tanggung- 10 tanggung karyawan dadakan digaji dengan pembagian 50:50 dari hasil penjualan tanpa memperhitungkan modal yang dikeluarkan. Jika dicermati, usaha yang mereka jalankan tidak menerapkan model penglolaan keuangan yang orientasi profitnya pada semua anggota dan organisasi itu sendiri. Mereka mementingkan keberlangsungan dibanding keuntungan. 3) Peningkatan mutu SDM Dalam rangka upaya peningkatan mutu sumber daya manusia, para perajin di daerah ini jarang mengikuti pendidikan dan pelatihan, meraka juga belum melakukan bekerja sama dengan berbagai macam pihak, dan mereka belum mempunyai komunitas sebagai wadah untuk berkomunikasi dengan sesama pengerajin. d. Pemasaran Manajemen pemasaran yang dijalankan bersifat tradisional, pasif, sangat bergantung pada calon pembeli atau saudagar atau pengepul yang datang ke lokasi selanjutnya dijual keberbagai pasar tradisional yang ada disekitanya. Jika tidak ada konsumen yang datang maka tidak ada transaksi yang berlangsung di sana. Dalam bentuk yang lain, penjualan dapat pula terjadi dengan melalui agen, ada juga yang dijual ke pedagang.Pada tingkatan ini gerabah dalam jumlah yang relative besar ini akan dipasarkan ke pelosok daerah, kota, dan bahkan ada yang dibawah ke mancanegara. Walaupun demikian bentuk transaksi ini sifatnya temporer dan berselang cukup lama. Strategi pemasarannya, menciptakan produk yang inovatif dan tahan lama. Mereka bahkan tidak menggunakan referensi dari berbagai sumber, termasuk internet. Gerabah yang mereka produksi benar-benar kreasi sendiri. 2. Pembahasan Berangkat dari pemaparan teori dan penyajian data lapangan yang telah diuraikan di atas, maka pada bagian ini akan dibahas data lapangan tersebut berdasarkan teori yang ada. Dengan pembahasan ini akan terlihat titik temu antara teori yang ada dengan keadaan ril di lapangan. Secara umum, manajemen adalah suatu perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan sumberdaya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Efektif berarti tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sedangkan efisien berarti tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisasi, dan sesuai dengan jadwal. Berangkat dari teori ini maka apabila ditarik ke dalam usaha kerajinan gerabah maka akan terdapat istilah manajemen usaha kerajinan gerabah yang mengandung arti suatu perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan sumberdaya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efisien dalam menjalankan usaha kerajian gerabah. Dari segi perencanaan, para pengusaha kerajinan gerabah merencanakan segala hal yang tekait dengan produk yang akan dihasilkan sebagaimana yang telah disebutkan di atas para pengerajin merencakan 11 berapa jumlah produk yang akan dibuat, bagaimana bentuk, berapa modal yang harus dikeluarkan dan berapa banyak orang yang terlibat dalam pembuatan tersebut. Selanjutnya setelah gerabah tersebut siap dipasarkan, produk akan dipasarkan kemana atau pasar mana yang menjadi sasaran pemasaran. Dari segi perorganisasian, usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar tidak bisa menerapkan semua teori-teori yang terkait dengan pengorganisasian karena sebagian besar pelaku usaha kerajinan gerabah menerapkan “manajemen terpusat” dengan arti pemilik usaha melakukan semua proses dalam usaha tersebut sehingga tidak banyak melibatkan orang lain. Oleh karena itu pengorganisasian hanya bisa dilakukan dalam pengorganisasian bahan dan proses pembuatan produk, yaitu setelah bahan baku ada kapan mulai direndam, kapan mulai dibuat, kapan dijemur dan kapan dibakar. Dengan pengorganisasian bahan-bahan dalam proses pembuatan tersebut diharapkan mampu menjamin kualitas produk tersebut Sedangkan dari segi pengontrolan sumber daya hanya bisa diterapkan pada sumber daya non manusia karena sebagaimana dijelaskan di atas pengerajin di Desa Anyar melakukan sendiri semua proses dalam pembuatan gerabah tersebut. Pengontrolan sumber daya biasa dilakukan oleh para pengerajin dengan memastikan semua proses tersebut dilakukan dengan tepat dan benar. Menurut tingkatan, manajemen terbagi menjadi tiga yaitu manajemen puncak, menengah, dan bawah, namun pada usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar sulit dibedakan mana manajemen puncak, menengah dan bawah. Hal ini dikarenakan belum adanya pembagian tugas yang jelas yang diakibatkan tidak adanya orang lain yang terlibat dalam usaha tersebut. Pada dasarnya walaupun tidak ada orang lain yang terlibat selain keluarga dekat, pembagian tugas dan kewajiban dapat dilakukan dengan cara membagi pekerjaan yang ada seperti siapa yang bertugas membeli bahan baku, siapa yang bertugas membuat produk dan siapa yang melakukan pemasaran. Selanjutnya penerapan manajemen produksi sangatlah sederhana dengan cara pengerajin akan mulai memproduksi apabila barang yang ada sudah mulai berkurang tanpa menggunakan jadwal produksi yang ditentukan, dengan memperkirakan jumlah produk yang akan dihasilkan atau berdasarkan pesanan dari konsumen dan tetap menjaga sumber daya alat yang digunakan dalam memproduksi kerajinan. Manajemen pemasaran diterapkan dengan melihat peluang-peluang yang ada di pasarpasar tradisional terdekat apabila di suatu pasar penjualan meningkat maka pada periode berikutnya produk yang akan dijual di pasar tersebut lebih banyak dengan menerapkan metode pemasaran yang konvensional yaitu menjajakan gerabah pada lapak-lapak di pasar tersebut baik langsung oleh pengerajin maupun menggunakan jasa orang lain. Terkait manajemen sumber daya manusia sebagaimana yang telah dijelaskan di atas belum bisa diterapkan secara maksimal karena masih dilakukan sendiri oleh para 12 pengerajin walapun ada orang lain maka hal tersebut berasal dari sanak keluarga seperti anak, saudara maupun cucu. Adapaun dari segi manajemen keuangan, para pengerajin belum menggunakan pencatatan keuangan yang jelas dalam arti pendokumentasian keuangan didasarkan pada perkiraan-perkiraan saja seperti berapa biaya yang dihabiskan, berapa harga seluruh produk, dan berapa laba yang didapatkan dari pembuatan produk belum bisa ditentukan angkanya secara pasti. Dengan melihat hal tersebut tidak jarang modal yang ada tiba-tiba habis untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk kegiatan produksi berikutnya harus berhutang kepada orang lain. Sumber modal para pengerajin sebagian besar bersumber dari modal sendiri. Berangkat dari keadaan ril dilapangan yang disandingkan dengan teori diatas maka terdapat suatu kalimat yang menjadi “titik temu” yaitu manajemen kerajinan gerabah yang ada belum maksimal terlaksana. Hal ini disebabkan usaha kerajinan gerabah merupakan bagian dari usaha kecil yang dalam pelaksanaannya lebih banyak dikelola oleh industri rumah tangga. Keberadaan manajemen industri rumah tangga salah satunya usaha kerajinan gerabah bukanlah suatu usaha yang menejemennya tergolong tidak baik secara keseluruhan karena keberadaannya yang tidak banyak melibatkan orang lain dapat menekan biaya-biaya yang dikeluarkan dan dapat meminimalisir hambatan yang disebabkan oleh pengaruh luar. Berangkat dari kalimat yang menjadi titik temu antara teori dan kondisi ril di lapangan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan yaitu memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku usaha kerajinan gerabah di Desa Anyar yang telah dilaksanakan sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Adapun hasil dari pelatihan dan pendampingan tersebut adalah para pengerajin dapat merencanakan produksi yang akan dilakukan seperti mendokumentasikan melalui pencatatan berapa biaya yang akan dikeluarkan, berapa hasil penjualan yang akan didapat dan berapa laba. Selain itu para pengerajin sudah bisa membuat pencatatan keuangan sederhana dengan merinci biaya-biaya yang ada, sumber modal yang ada dan hasil penjualan yang dilakukan setiap hari. Dalam hal pemasaran para pengerajin telah memahami dan mempraktekkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan efesien seperti pemasaran melalui internet menggunakan media sosial dan sebagainya sehingga dapat meningkatkan penjualan para pengerajin. D. Simpulan dan Saran 1. Simpulan a. Manajemen usaha kerajinan gerabah yang ada di Desa Anyar adalah manajemen yang diorientasikan pada pengadaan bahan dasar pembuatan gerabah, proses pembuatan gerabah, pengelolaan tenaga kerja, dan pemasarannya yang masih dilaksanakan secara tradisional dan belum menerapkan pendokumentasian semua proses dalam kegiatan produksi kerajinan baik dalam hal keuangan maupun lainnya. 13 b. Bentuk partisipasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram melelui pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh palaksana dalam upaya meningkatkan pemahaman tentang manajemen usaha kerajianan gerabah kepada para pengerajin adalah memberikan pelatihan dan pendampingan intensif dengan melibatkan pihak desa setempat dan pemerintah daerah yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2015. c. Adapun bentuk perubahan manajemen setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan adalah para pengerajin dapat merencanakan produksi yang akan dilakukan seperti mendokumentasikan melalui pencatatan baik dalam hal produksi, keungan maupun pemasaran. 2. Saran a. Bagi Pengerajin 1. Pertahankan kemajuan yang telah dicapai 2. Tingkatkan kualitas produk 3. Perluas jaringan pasar 4. Lakukan inovasi secara terus menerus b. Bagi Institut Agama Islam Negeri Mataram 1. Terus jalin kerjasama dengan Desa Anyar sebagai desa binaan 2. Tingkatkan pelayanan dalam hal pengabdian kepada masyarakat E. Daftar Psutaka Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud (Pusat Bahasa). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi Online/Daring (dalam Jaringan). dikutip dari http://kbbi.web.id/usaha pada Hari Kamis Tanggal 19 September 2015 Pukul 11.49 Wita. Bank Indonesia Direktorat Kredit, BPR dan UMKM. 2011. Pola Pembiayaan Usaha Kecil (PPUK) Usaha Kerajinan Gerabah. Jakarta. Ernie Tisnawati. 2009. Pengantar Manajemen. Jakarta: Kencana. Dawam Raharjo. 1990. Etika Ekonomi dan Manajemen. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. http://www.academia.edu/9164519/Pemberdayaan_Masyarakat_Dalam_Pemb angunan_Ekonomi_Desa http://desyantigularti.blogspot.com/2012/12/manajemen-dan-strategipengelolaan-usaha.html https://id.wikipedia.org/wiki/Pembangunan_pedesaan http://rajapresentasi.com/2012/04/bagaimana-cara-mengelola-manajemenbisnis-secara efektif/#sthash.6Zfy0EEn.dpuf H. Malayu S. P. Hasibuan. 1986. Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Gunung Agung. I Made Mertanadi. 2011. Jurnal: Bahan Baku Peralatan dan Proses Pembuatan Gerabah II. Dikutip dari http://repo.isi-dps.ac.id/453/1/4581595-1-PB.pdf tanggal 19 September 2015 pukul 13.40 wita Ketut Supir, Dkk. 2012. “IbM Kerajinan” Laporan Akhir Program IPTEKS Bagi Masyarakat (IbM). Singaraja: Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Pendidikan Ganesha 14 Muhammad. 2004. Manajemen Dana Bank Syariah. Yogyakarta: Ekunisia. Nawawi, H, 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press. Sri Indrawati. 2012. Pengelolaan Keuangan UMKM. Dikutip dari http://blog.stie-mce.ac.id/indrawati/2012/01/09/pengelolaan-keuanganumkm/ pada tanggal 19 September 2015 Pukul 15.35 Wita Undang Ahmad Kamaluddin. 2009. Etika Manajemen Islam. Bandung: Pustaka Setia. Undang-undang RI No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Tembikar, dikutip dari https://id.wikipedia.org/wiki/Tembikar pada Hari Kamis Tanggal 19 September 2015 Pukul 11.59 Wita. 15

Judul: Jurnal Pengabdian Safroni Isrososiawan

Oleh: M. Khairus Sholihin


Ikuti kami