Jurnal Activity Based Costing

Oleh Lisna Wati

70,1 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Activity Based Costing

ANALISIS KEMAMPUAN MENGHASILKAN LABA SELAMA DAUR HIDUP PRODUK (PRODUCT LIFE CYCLE) DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING PADA PT. TIRTA INVESTAMA (PRODUK MIZONE) Oleh: Lisna Lisnawati & Heryah Magister Akuntansi Universitas Widyatama Latar Belakang Masalah Kegiatan perusahaan dalam menghasilkan produk memerlukan perencanaan dan perhitungan yang matang. Hal tersebut berkenaan dengan biaya-biaya yang akan dikeluarkan dan total keuntungan yang akan diperoleh. Besarnya biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan mencerminkan besarnya pengorbanan untuk menghasilkan produk yang bersangkutan. Dasar pengenaan Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang mencerminkan sumber daya yang digunakan dan aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Sehingga dari dua hal tersebut harga pokok produksi dapat diketahui. Biaya dapat digunakan sebagai dasar penentuan harga jual produk dan bisa dijadikan dasar untuk mengetahui tingkat laba yang diperoleh dari kegiatan penjualan produk selama masa daur hidup (product life cycle) produk tersebut. Untuk mendapatkan jumlah biaya produk selama daur hidup produk dapat menggunakan pendekatan activity based costing yang merupakan pendekatan biaya penuh (Full cost) untuk perusahaan manufaktur maju. Apabila biaya selama daur hidup produk telah diketahui maka dapat dijadikan dasar untuk menekan biaya-biaya seminimal mungkin sehingga daur hidup produk dapat dipertahankan pada posisi puncak dan laba yang diperoleh pada fase puncak dapat dipertahankan. PT. Tirta Investama adalah perusahaan manufaktur yang merupakan pemegang lisensi dari PT.Aqua Golden Misisipi yang menghasilkan produk beragam. Namun rata-rata produk yang dihasilkannya berbahan dasar air. PT tirta Investama memperoleh laba bersih mencapai Rp.1,4 triliun per tahunnya dari kegiatan memproduksi dan memasarkan produk dengan brand Aqua dan Mizone. Namun saat ini pendapatan yang diperoleh mengalami penurunan hal ini terjadi karena banyaknya pesaing yang muncul di pasaran. Produk mizone sebagai produk inovatif mendapatkan dampak secara langsung yaitu dengan menurunnya pendapatan dari produk mizone padahal fase daur hidup produknya sesuai dengan yang direncanakan masih berada pada fase puncak. Dari permasalahn tersebut maka penulis akan membuat penelitian dengan judul “ANALISIS LABA SELAMA DAUR HIDUP PRODUK (PRODUCT LIFE CYCLE) DENGAN PENDEKATAN ACTIVITY BASED COSTING PADA PT. TIRTA INVESTAMA (PRODUK MIZONE)” Rumusan Masalah Berdasarkan gejala yang terungkap dalam latar belakang masalah di atas maka penulis membuat rumusan masalah “Bagaimana perhitungan Laba selama Product Life Cycle dengan pendekatan activity based costing pada PT. Tirta Investama. Kajian Pustaka Keiso dan weygandt menguraikan beberapa jenis laba, diantaranya: 1. Laba Kotor Laba kotor adalah selisih antara hasil penjualan dengan harga pokok barang yang dijual 2. Laba Operasi Laba operasi merupakan laba kotor setelah dikurangi biaya-biaya komersial yaitu biayabiaya pemasaran dan biaya administrasi dan umum 3. Laba Sebelum dikurangi pajak Laba ini diperoleh dengan menambahkan laba operasi dengan hasil-hasil lainnya dan dikurangi dengan biaya atau kerugian yang terjadi di luar aktivitas normal perusahaan 4. Laba bersih Laba bersih adalah keuntungan bersih perusahaan setelah dikurangi semua biaya dan pajak. Laba terutama dipengaruhi tiga factor: 1. Volume produk yang dijual; jumlah produk yang dijual langsung mempengaruhi volume produksi, volume produksi mempengaruhi biaya 2. Harga jual produk; harga jual dapat mempengaruhi volume penjualan 3. Biaya; biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang dihasilkan. Dalam manufaktur maju perhitungan besarnya laba diperoleh dari pendapatan dikurangi biayabiaya selama daur hidup produk (product life cycle) yaitu biaya yang berkenaan dengan product sustaining cost (biaya mempertahankan produk) dan biaya-biaya atas aktivitas memproduksi produk yaitu sering disebut dengan dasar biaya aktivitas (Activity Based Costing). Daur Hidup Produk (Product Life Cycle) suatu produk tidak dapat ditetapkan secara pasti, hal tersebut sangat tergantung dari peran costumer sebagai pengguna produk. Namun perusahaan memiliki forcesting (peramalan) lama dari daur hidup produk. “Suatu produk dikatakan memiliki daur hidup berarti menegaskan 4 hal yaitu: 1. Produk memiliki umur yang terbatas 2. Penjualan produk melalui beberapa tahap yang berbeda, masing-masing memberikan tantangan, peluang dan masalah yang berbeda bagi penjual 3. Laba naik dan turun pada berbagi tahap yang berbeda selama siklus hidup produk 4. Produk memerlukan strategi pemasaran keungan, manufaktur, pembelian dan sumber daya manusia yang berbeda dalam tiap tahap siklus hidupnya.” (Philip Kotler, 2002:347). “Daur hidup produk (Product Life Cycle) adalah waktu suatu produk mampu memenuhi kebutuhan customer sejak lahir sampai diputuskan dihentikan pemasarannya.” (Mulyadi, 2001:36) Bentuk daur hidup produk kebanyakan digambarkan dalam bentuk kurva berupa lonceng. Kurva-kurva tersebut menggambarkan tahap-tahap daur hidup dari awal kehidupan suatu produk sampai akhir suatu produk. “kurva-kurva itu umumnya terbagi menjadi empat tahap: 1. Perkenalan (Introduction): periode pertumbuhan penjualan yang lambat saat produk ini diperkenalkan ke pasar. Pada tahap itu tidak ada laba karena besarnya biaya-biaya untuk memperkenalkan produk. 2. Pertumbuhan (Growth): periode penerimaan pasar yang cepat dan peningkatan laba yang besar 3. Kedewasaan/ kemapanan (Maturity): peride penurunan pertumbuhan penjualan karena produk itu telah diterima oleh sebagian besar pembeli potensial. Laba stabil atau menurun karena persaingan yang meningkat. 4. Penurunan (Decline): periode saat penjualan menunjukan arah yang menurun dan laba yang menupis.” (Philip Khotler, 2002:347) “Activity Based Costing pada dasarnya merupakan metode penentuan kos produk (Product costing) yang ditujukan untuk menyajikan informasi kos produk secara cermat (accurate) bagi kepentingan manajemen, dengan mengukur secra cermat konsumsi sumber daya dalam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk” (Mulyadi, 2001:51). Dengan menggunakan pendekatan activity based costing maka tingkat biaya ditentukan “ full cost of product mencakup total biaya desain dan pengembangan prodyk (seperti biaya desain, biaya pengujian produk), biaya produksi (facility sustaining activity cost + product sustaining activity cost + batch related activity cost + unit level activity cost) ditambah dengan biaya dukungan logistic (biaya iklan, biaya distribusi + biaya garansi produk).” (Mulyadi, 2001:51). Untuk dapat menganalisis kemampuan laba diperlukan perhitungan, sebagai berikut: Tabel 1. Keterangan Pendapatan penjualan 2005 2006 xxx xxx 2007 xxx Objek Penelitian Jurnal ini mengambil objek penelitian pada PT.Tirta Investama yang bealamat di Jl. Kampong salam, desa darmaga kecamatan cisalak, kabupaten subang. Hasil penelitian Produk mizone adalah produk inovatif yang diproduksi oleh PT.Tirta Investama. Produk mizone diharapkan dapat mendongkrak laba yang diperoleh dari difersifikasi produk perusahaan tersebut. PT tirta Investama merencanakan akan memasarkan produk mizone dalam semester 2 tahun 2005. Produk tersebut telah di desain dan dikembangkan pada semester pertama tahun 2005. Diperkirakan produk tersebut akan memiliki daur hidup selama 15 tahun. Perusahaan menganggarkan unit yang akan diproduksi tahun 2005 (fase perkenalan) adalah 18 juta unit, tahun 2006 sebanyak 20 juta unit dan tahun 2007 sebanyak 24 juta unit. Biaya penuh untuk: Desain & pengembangan produk xxx xxx xxx Biaya produksi: Facility sustaining activity cost xxx xxx xxx Product sustaining activity cost xxx xxx xxx Batch related activity cost xxx Unit level activity cost xxx xxx xxx Dukungan logistic xxx xxx xxx Jumlah biaya aktivitas xxx xxx xxx laba/rugi xxx xxx xxx xxx xx Analisis Kemampuan Menghasilkan Laba Untuk mengetahui tingkat laba dengan pendekatan activity based costing maka yang pertama dilakukan adalah mengetahui besarnya biaya-biaya yang menggunakan sumber daya dan aktivitas yang menggunakan sumber daya. 1. Biaya Bahan Baku berdasarkan Unit Level activity Cost Tabel 2 Dasar pengenaan biaya bahan baku Berdasarkan Unit Level Activity Cost Cost Konsumsi bahan Driver /unit Air aqua ml 450ml Fruktosa ml 10ml Gula grm 20grm Base Mizone ml - Perisa lycee lemon ml 10ml Perisa passion fruit ml 10ml Perisa orange lime ml 10ml Vitamin c mg 60mg Vitamin B3 mg 8mg Vitamin B6 mg 4mg Vitamin B12 mg 5mg Kalium laktat mg 35mg Natrium Benzoat mg 210mg Kalium sorbet mg 90mg Pemanis buatan grm 10grm Magnesium sulfat mg 10mg Kemasan bottle 1bottle Label sheet 1sheet Biaya bahan baku &pembantu Jumlah biaya bahan baku diperkirakan: TAHU N BBB/unit 2005 Rp. 2074 JUMLAH PRODUKSI (Unit) 18.365.000 2006 Rp. 2085 20.000.000 2007 Rp. 25.000.000 TOTAL BBB

Judul: Jurnal Activity Based Costing

Oleh: Lisna Wati


Ikuti kami