Ahmad Darmawan Jurnal Paradikma

Oleh Sabariyah Ahmad

250,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Ahmad Darmawan Jurnal Paradikma

JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH BERORIENTASI ISLAM TERHADAP KEMAMPUAN SPASIAL DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA MA Ahmad Darmawan1*, Edi Syahputra2, KMS Muhammad Amin Fauzi3 1,2,3 Prodi Pendidikan Matematika Pascasarjana, Universitas Negeri Medan Medan, Sumatera Utara, Indonesia *Email: ahmaddarmawan62@gmail.com Abstract This intervention study focused on: (1) analyzing whether there is a significant effect of islamic oriented problem based learning model towards student’s mathematical spatial ability or not and (2) analyzing whether there is a significant effect of islamic oriented problem based learning model towards student’s self regulated learning or not and (3) analyzing whether there is a significant interaction between learning model and prior mathematical ability towards student’s mathematical spatial ability or not. (4) analyzing whether there is a significant interaction between learning model and prior mathematical ability towards student’s self regulated learning or not. This study is a quasi experimental research that used mathematical spatial ability test and self regulated learning quisionaire. Population in this study are all students in MAS Nurul Hikmah Tinjowan Academic Year 2019/2020 and the samples are 32 students in class XII-1 IPS taught by using islamic oriented problem based learning model and 32 students in class XII-2 IPS taught by using convensional learning. The data was analyzed by using t-test. Hypothesis test used by Two Way Anova and found that: (1) there is a significant effect of islamic oriented problem based learning model towards student’s mathematical spatial ability and (2) there is a significant effect of islamic oriented problem based learning model towards student’s selfregulated learning (3) there is no a significant interaction between learning model and prior mathematical ability towards student’s mathematical spatial ability. (4) there is no a significant interaction between learning model and prior mathematical ability towards student’s self regulated learning Katakunci: mathematical spatial ability, self regulated learning, islamic oriented problem based learning Penelitian pembelajaran ini berfokus pada: (1) menganalisis apakah ada pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran berbasis masalah islami terhadap kemampuan spasial matematika siswa atau tidak dan (2) menganalisis apakah ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islami terhadap kemandirian belajar siswa atau tidak dan (3) menganalisis apakah ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemampuan spasial matematika siswa atau tidak. (4) menganalisis apakah ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemandirian belajar siswa atau tidak. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu yang menggunakan tes kemampuan spasial matematika dan angket kemandirian belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas XII di MAS Nurul Hikmah Tinjowan Tahun Ajaran 2019/2020 dan sampelnya adalah 32 siswa di kelas XII-1 IPS yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam dan 32 siswa di kelas XII-2 IPS yang diajar dengan menggunakan pembelajaran konvensional. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t. Alat Uji hipotesis yang digunakan adalah Two Way Anova dan menemukan bahwa: (1) terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam terhadap kemampuan spasial matematika siswa dan (2) terdapat pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islami terhadap kemandirian belajar siswa (3) tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemampuan spasial matematika siswa. (4) tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemandirian belajar siswa Kata kunci: kemampuan spasial matematika, self regulated learning, pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA PENDAHULUAN banyak kesulitan untuk memahami objek atau gambar geometri. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran Hal diatas sependapat dengan penelitian Syahputra yang dapat membekali siswa dengan kompetensi seperti (2013) bahwa : “Kemampuan spasial yang baik akan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, menjadikan siswa mampu mendeteksi hubungan dan serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut perubahan bentuk bangun geometri”. Syahputra (2013) diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan menambahkan “Demikian pentingnya kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi spasial ini sehingga kita semua terutama para guru untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, dituntut untuk memberikan perhatian yang lebih dari tidak pasti dan kompetitif (Depdiknas, 2006 : 328). cukup agar kemampuan spasial diajarkan dengan Tujuan pembelajaran tersebut akan dicapai melalui sungguh-sungguh sesuai dengan amanat kurikulum”. proses pembelajaran matematika. Proses pembelajaran Kemampuan spasial matematika yang rendah ini matematika melibatkan lima standar isi yaitu konsep juga terlihat pada hasil analisis daya serap Ujian dan operasi bilangan, pengukuran, geometri, aljabar Nasional materi pokok dimensi tiga yang masih serta analisis data dan peluang (NCTM, 2000 : 29). tergolong rendah. Ditemukan bahwa siswa SMA N 1 Oleh karena itu, diperlukan suatu metode Banjarnegara tahun 2011 sebesar 79,83 %, untuk pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa, sehingga Kabupaten Banjarnegara sebesar 51,52%, untuk dapat mendukung siswa untuk lebih mudah memahami Propinsi Jawa Tengah sebesar 52,96% dan untuk kemampuan spasial matematika yang berhubungan Nasional sebesar 64,78% (Pranawestu, 2012:2). dengan materi dimensi tiga, dan meningkatkan Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pengetahuan siswa terhadap matematika, serta memiliki mendukung kemampuan spasial siswa adalah dengan keterampilan dalam kemandirian belajar. memperhatikan latar belakang kemampuan awal Menurut Zulfahmi,Syahputra & Fauzi (dalam matematika siswa. Hal ini dipertegas oleh Trianto Putri, 2019:3) menyatakan bahwa; “The spatial ability (dalam Fadilah, 2017:8) sebagai berikut : “sering of mathematics in students in Indonesia is very low”. seorang pelajar (siswa, mahasiswa) mengalami kesulitan Hal yang sama menurut Putri (2019:3) menyatakan dalam memahami suatu pengetahuan tertentu yang salah bahwa dari hasil penelitiannya di SMP Negeri 2 Pulo satu penyebabnya karena pengetahuan baru yang Bandring hasil tes kemampuan spasial siswa yang diterima tidak terjadi hubungan dengan pengetahuan diberikan pada kelas IX masih rendah sebelumnya atau mungkin pengetahuan awal Fauzan (dalam Syarah, 2013 : 6) menyatakan sebelumnya belum dimiliki. Dalam hal ini maka bahwa kemampuan spasial yang dimiliki oleh siswa pengetahuan awal menjadi syarat utama dan menjadi kelas X SMA di Sumatera Barat masih rendah. Ada sangat penting bagi pelajar untuk dimilikinya.” beberapa hal yang ditemukan dalam penelitiannya, yaitu Kemampuan awal siswa adalah kemampuan yang siswa terfokus pada tampilan-tampilan yang berupa telah dimiliki oleh siswa sebelum ia mengikuti gambar, siswa membutuhkan alat peraga yang berkaitan pembelajaran yang akan diberikan. Kemampuan awal dengan materi yang dipelajari dan siswa tidak (entry behavior) ini menggambarkan kesiapan siswa menguasai konsep-konsep dimensi tiga dasar. Beberapa dalam menerima pelajaran yang akan disampaikan oleh temuan dalam penelitian Fauzan menegaskan bahwa guru. Berdasarkan hasil penelitian Wahyuningsih siswa mengalami kesulitan dalam memahami dimensi (2012:14) menyimpulkan kemampuan awal, minat ruang karena kemampuan spasial siswa yang masih belajar dan kemampuan berhitung siswa berpengaruh tergolong rendah. positif terhadap hasil belajar matematika. Penelitian ini Berdasarkan hasil diskusi peneliti dengan guru menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara matematika menunjukkan bahwa kemampuan spasial kemampuan awal siswa dengan hasil belajarnya. siswa masih rendah dan belum sesuai dengan apa yang Dengan demikian perhatian guru dapat diarahkan pada diharapkan. Diduga ada beberapa faktor yang berkaitan kemampuan awal siswa, sebelum materi pelajaran dengan kemampuan spasial antara lain siswa belum disampaikan. terbiasa melibatkan diri secara aktif dalam pembelajaran Adapun beberapa komponen yang dapat digunakan dikarenakan siswa beranggapan bahwa matematika sulit untuk mengukur kemandirian belajar adalah sebagai dan tidak bisa dipelajari sendiri, akibatnya siswa selalu berikut: (1) inisiatif belajar; (2) mendiagnosis kebutuhan menunggu bantuan guru. Sifat individualis dan belajar; (3) mengatur dan mengontrol kemajuan belajar; kecenderungan siswa yang pandai mendominasi (4) mengatur dan mengontrol kognisi, motivasi dan pembelajaran di kelas sehingga tidak seluruh siswa perilaku dalam belajar; (5) memilih dan menerapkan melibatkan diri secara aktif dalam pembelajaran. (Putri, strategi belajar; (6) memandang kesulitan sebagai 2019:4) tantangan; (7) mengevaluasi proses dan hasil belajar. Menurut Noviani, Syahputra & Murad (2017) : (Rahayu, 2019) mengatakan bahwa konsep berpikir spasial cukup Pentingnya kemandirian belajar siswa belum menarik untuk dibahas mengingat banyak penelitian sesuai dengan fakta yang terlihat di lapangan. Dari hasil sebelumnya menyatakan bahwa anak-anak menemukan angket yang diberikan peneliti kepada 32 siswa di kelas XII MAS Nurul Hikmah Tinjowan, diperoleh Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA kesimpulan bahwa: (1) 46,7% siswa belum memiliki berusaha memahami dunia di sekitarnya. Rasa inisatif belajar; (2) 40% siswa belum bisa mendiagnosa ingin tahu itu memotivasi anak untuk secara aktif kebutuhan belajarnya; (3) 66,7% siswa belum bisa membangun tampilan dalam otak mereka tentang mengatur dan mengontrol belajarnya;(4) 40% siswa lingkungan yang mereka hayati. belum bisa memanfaatkan dan mencari sumber yang c. Lev Vygotsky (1896-1934) dengan relevan; dan (5) 56,7% siswa belum bisa memilih dan konstruktivismenya, bahwa interaksi sosial dengan menerapkan strategi belajarnya. teman lain memacu terbentuknya ide baru dan Dari pendapat di atas, hal yang menyebabkan memperkaya perkembangan intelektual siswa. rendahnya kemampuan spasial dan kemandirian belajar Jerome Brunner dengan pembelajaran siswa adalah model dan alat pembelajaran yang kurang penemuannya, bahwa pentingnya pembelajaran cocok yang digunakan oleh guru untuk dapat menggali penemuan, yaitu model pembelajaran yang kemampuan spasial dan kemandirian belajar pada diri menekankan perlunya membantu siswa memahami siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat struktur atau ide suatu disiplin ilmu, perlunya meningkatkan kemampuan spasial dan kemandirian siswa aktif dalam proses pembelajaran. belajar adalah model Pembelajaran Berbasis Masalah Dikarenakan pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL). diterapkan pada lembaga pendidikan Islam madrasah Hal ini di dukung oleh pendapat Yeni (2011) yang maka model pembelajaran yang paling pantas untuk mengatakan bahwa untuk mengatasi kesulitan siswa dikembangkan peneliti adalah pembelajaran berbasis dalam pembelajaran geometri (dimensi tiga), diperlukan masalah berorientasi Islam. Model Pembelajaran ini adanya upaya guru dalam menggunakan metode dipandang relevan untuk menghadirkan suasana nyata mengajar dan media pembelajaran yang dapat didalam proses pembelajaran termasuk pembelajaran memenuhi tuntutan kebutuhan siswa dalam belajar matematika pada lembaga pendidikan Islam madrasah sesuai dengan tahap perkembangan intelektual. sebab secara kontekstual permasalahan pembelajaran di Menurut Syahputra (2017) bahwa model madrasah khususnya sangat terkait dengan kehidupan Pembelajaran berbasis masalah ini tepat untuk nyata, terutama yang berkaitan kemampuan spasial pada meningkatkan kemampuan spasial matematika siswa. masalah-masalah keruangan seperti dimensi tiga. Dalam proses pembelajaran berbasis masalah, aktivitas Pendekatan atau model pembelajaran yang dianggap siswa dimulai dengan observasi, kemudian mengajukan sesuai dan pas dalam pembelajaran seperti itu adalah pertanyaan, mencoba, membuat jaringan, dan Pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam. menganalisis. Jika kita melihat kedalam Al-Qur’an, maka kita Ditambah lagi menurut Eviyanti, Surya & tidak akan terkejut apa yang dikatakan ilmuwan seperti Syahputra (2017) bahwa pembelajaran dengan Galileo dan Hawskin, karena sekitar 600 tahun pembelajaran berbasis masalah membantu siswa untuk sebelumnya, Al-Qur’an sudah menyatakan bahwa menunjukkan dan memperjelas cara berpikir serta segala sesuatu diciptakan secara matematis. Seperti kekayaan struktur dan proses kognitif yang terlibat di firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Qamar ayat 49 dalamnya. PBL mengoptimalkan tujuan, kebutuhan, berikut: motivasi yang mendorong proses belajar merancang Artinya: Sesungguhnya kami menciptakan segala berbagai macam pemecahan masalah kognisi. sesuatu menurut ukuran. Dalam PBL pembelajaran diawali dengan masalah Semua yang ada di alam ini ada ukurannya, ada dikemukakan terlebih dahulu. Tujuan dari Model PBL hitungan-hitungannya, ada rumusnya, atau ada adalah (a) mengembangkan keterampilan berfikir persamaannya. Al-Qur’an merupakan sumber ilmu tingkat tinggi; (b) belajar berbagi peran orang dewasa; pengetahuan. Dengan itu, diharapkan moral dan serta (c) menjadi pelajar yang otonom dan mandiri karakter religius seseorang akan terbentuk sehinggga (Wardhani, 2006:5). Arends (2004) mengemukakan ada Al-Qur’an tidak terbengkalai oleh kesibukan duniawi. lima fase atau tahapan dalam sintaks PBL yaitu: (1) Contoh nyata Al-Qur’an sebagai sumber dari segala Orientasi siswa pada masalah, (2) mengorganisisr siswa ilmu misalnya ilmu matematika. Matematika ditinjau dalam belajar, (3) membimbing penyelidikan individual dari filosofinya bersumber dari Al-Qur’an. maupun kelompok; (4) mengembangkan dan Materi Dimensi tiga merupakan materi yang menyajikan hasil karya, dan (5) menganalisis serta berhubungan dengan bangun datar dan bangun ruang mengevaluasi proses pemecahan masalah. secara harfiah berarti pengukuran tentang sisi dan sudut Menurut Wardhani (dalam Supinah, 2010:19) PBL serta mengenai ukuran, bentuk, kedudukan serta sifat mengikuti tiga aliran pikiran utama yang berkembang ruang. Dalam Islam dimensi tiga digunakan untuk pada abad dua puluh, yaitu: pembuatan seni bangunan, terutama untuk bangunan a. John Dewey dan kelas demokratisnya (1916), mesjid, kaligrafi,serta arsitektur bangunan lainnya. bahwa sekolah seharusnya mencerminkan Seperti firman Allah dalam Al-quran surat At- Taubah masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan ayat 18 yang artinya : laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah nyata. ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari b. Jean Piaget (1886-1980), bahwa anak memiliki kemudian serta tetap mendirikan shalat, menunaikan rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. KAJIAN TEORI 2.1 Kemampuan Spasial Menurut Shearer dalam (Ahmad dan Jaelani 2015) kemampuan spasial juga termasuk mempresentasikan dunia melalui gambaran-gambaran mental dan ungkapan astistik. Linn dan Petersen (National Academy of Science, 2000) mengelompokkan kemampuan spasial ke dalam tiga kategori yaitu: (1) persepsi spasial, (2) rotasi mental, dan (3) visualisasi spasial. Dipandang dari konteks matematika khususnya geometri ternyata kemampuan spasial sangat penting untuk ditingkatkan. Berdasarkan pendapat Bailey (dalam Muhasanah, 2014) spasial adalah kombinasi dari gagasan yang cemerlang untuk membentuk kombinasikombinasi gagasan yang baru. Kemampuan spasial adalah kemampuan interpretasi visual kualitas tinggi, karena setiap subjek membangun pengetahuan dan pemahamannya dalam bentuk mental image untuk merepresentsikan hubungan spasial antara bagian pada objek dan lokasi objek tersebut dalam ruangan. Menurut Armstrong (2008) menyebutkan bahwa kemampuan spasial adalah kemampuan untuk melihat dunia visual-spasial secara akurat dan kemampuan untuk melakukan perubahan dengan penglihatan atau membayangkan. 2.2 Kemandirian Belajar Zumbrunn, (2011:4) menyatakan bahwa kemandirian belajar merupakan suatu proses yang membantu siswa dalam mengelola pikiran, perilaku, dan emosi sendiri agar berhasil mengarahkan pengalaman belajar. Dengan demikian, dalam kemandirian belajar, belajar sebagian besar dari pengaruh pemikiran sendiri, perasaaan, strategi, dan perilaku yang diorientasikan ke arah pencapaian tujuan belajar. Dari uraian di atas, terdapat dua ciri khusus untuk memahami kemandirian belajar, yaitu: 1) siswa diasumsikan memiliki kesadaran diri atas potensial yang dimiliki dan dapat menggunakan secara baik dalam proses pengaturan diri atas potensi yang dimiliki dan dapat menggunakan secara baik dalam proses pengaturan diri untuk mencapai hasil belajar yang optimal; 2) siswa memiliki orientasi diri terhadap siklus umpan balik selama proses belajar berlangsung. Dalam siklus umpan balik tersebut memonitor derajat efektivitas metode belajar atau strategi belajar dan respon-respon yang dilakukan untuk mencapai hasil melalui berbagai cara yang senantiasa diperbaiki. METODE PENELITIAN terdapat dua kelompok yang dipilih secara random, kemudian diberi test untuk mengetahui sejauh mana kesiapan siswa menerima pembelajaran pada materi sebelumnya dan tes digunakan untuk menyetarakan pengetahuan awal kedua kelompok sedangkan postes digunakan untuk mengukur kemampuan spasial matematika siswa dan sikap kemandirian belajar setelah diberi perlakuan. Desain dalam penelitian ini menggunakan kelompok tes KAM dan posttest yang dinyatakan sebagai berikut: Tabel 3.1. Desain Penelitian Grup Perlakuan Perlakuan Postest Eksperimen X1 O Kontrol O Keterangan : X1 : Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam O : Postest 3.1. Populasi dan Sampel Penelitian ini akan dilaksanakan di MAS Nurul Hikmah Tinjowan yang beralamat di Jalan Masjid Taqwa Emplasmen Tinjowan Kecamatan Ujung Padang Kab. Simalungun pada kelas XII IPS. Waktu penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun pelajaran 2019/2020. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII IPS MAS Nurul Hikmah Tinjowan Kecamatan Ujung Padang yang berjumlah 64 siswa pada tahun pelajaran 2019/2020. Terpilihnya siswa MAS Nurul Hikmah Tinjowan ini didasarkan pada pertimbangan tingkat kemampuan siswa yang memungkinkan untuk diterapkannya Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah berorientasi Islami. Sampel dalam penelitian ini dipilih secara acak ( cluster random sampling) untuk ditetapkan sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Tahap pemilihan acak dimungkinkan karena berdasarkan informasi dari kepala sekolah dan guru bahwa pendistribusian siswa pada tiap kelas merata secara heterogen. 3.2. Instrumen Penelitian dan Teknik Analisis Data Data dalam penelitian ini berasal dari tes kemampuan spasial dan skala kemandirian belajar siswa. Data dianalisis yang terdiri dari tes normalitas, tes homogenitas dan uji hipotesis.. Hipotesis statistik yang digunakan adalah Two Way Anova. Semua penghitungan statistik menggunakan SPSS 22.0. Model Statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk where i = 1, 2, 3; j = 1, 2; k = 64 with: Yijk: skor variabel terikat (kemampuan spasial atau sikap kemandirian belajar siswa) Penelitian ini dikategorikan dalam penelitian kuasi eksperimen dengan a Non Equivalent Postes Only Control Group. Penelitian ini dilakukan pada dua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol dimana diberikan perlakuan yang berbeda. Dalam rancangan ini Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA µ: αi: Average actual score (constant value) Effect of additives on the i-th PMA (high, medium and low) βj: The additive effect of the jth learning (αβ) ij: Interaction between students' learning and mathematical initial abilities (Syahputra,2016) 3.3. Prosedur Penelitian Dalam penelitian eksperimen ini dilakukan dengan melalui beberapa tahap yang diawali dengan studi pendahuluan yang digunakan untuk merumuskan identifikasi masalah, rumusan masalah studi literatur yang pada akhirnya diperoleh perangkat penelitian berupa Lembar kerja peserta didik, perangkat pembelajaran serta instrumen penelitian. Perangkat penelitian yang telah disusun tersebut terlebih dahulu dilakukan validasi oleh pakar yang berkompetensi. Selanjutnya kelas kontrol dan kelas eksperimen terlebih dahulu dilakukan tes kemampuan awal dengan tujuan apakah kedua kelompok tersebut memiliki kemampuan yang homogen dan menempatkan siswa dalam kelompok tinggi, sedang dan rendah sesuai kemampuan matematikanya sebelum dilaksanakan tindakan penelitian. Selama dilakukan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol dilakukan observasi. Hasil observasi ini nantinya akan dianalisis secara kualitatif. Selain itu dilakukan juga analisis data terhadap respon siswa pada tes yang diberikan pada akhir penelitian. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari posttes untuk setiap kemampuan baik kemampuan spasial matematika dan kemandirian belajar siswa. SD dikelompokkan dalam kemampuan rendah. Hasil ringkasan disajikan pada Tabel 2 di bawah ini. Tabel 2. Distribusi Sampel Penelitian Class Experimental Class Control Class Total Berdasarkan Tabel 2 di atas, ditemukan bahwa di kelas eksperimen yang diajarkan oleh model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam ada 7 siswa berkemampuan tinggi, 20 siswa berkemampuan sedang, dan 5 siswa berkemampuan rendah. Sedangkan di kelas kontrol yang diajarkan oleh pembelajaran konvensional ada 4 siswa berkemampuan tinggi, 19 siswa berkemampuan sedang, dan 9 siswa berkemampuan rendah. 4.2 Deskripsi Kemampuan Spasial Siswa Tes kemampuan spasial matematis adalah pertanyaan esai yang berkaitan dengan materi yang sedang dieksperimen, yaitu materi dimensi tiga. Tes terdiri dari empat pertanyaan yang mewakili empat indikator kemampuan spasial matematika, yaitu: persepsi spasial, visualisasi, rotasi mental, hubungan spasial dan orientasi spasial. Pemrosesan dan analisis data posttest bertujuan untuk menentukan kemampuan spasial siswa setelah diajarkan oleh model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam di kelas eksperimen dan kemampuan spasial matematika siswa setelah diajarkan oleh model pembelajaran konvensional di kelas kontrol. Hasil posttest untuk dua kelas dijelaskan pada Tabel 3 di bawah ini. Table 3. Deskripsi Kemampuan Spasial Matematika Siswa Class HASIL 4.1 Student’s Prior Mathematical Ability Description Untuk memperoleh gambaran umum tentang PMA siswa, rata-rata dan standar deviasi (SD) dihitung. Hasil perhitungan disajikan pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Deskripsi Kemampuan Awal Matematika Class Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Ideal Score 100 N Xmin Xmax x SD 32 40 95 64,69 16,65 100 32 20 90 55,63 18,74 Pengelompokan kemampuan awal matematika siswa (tinggi, sedang, dan rendah) dibentuk berdasarkan skor KAM siswa. Untuk siswa yang memiliki skor KAM ≥ + SD dikelompokkan dalam kemampuan tinggi, siswa yang memiliki skor KAM antara kurang dari + SD dan lebih dari - SD dikelompokkan dalam kemampuan sedang, sedangkan siswa yang memiliki skor PMA ≤ - Student’s Ability Medium Low 20 5 19 9 39 14 High 7 4 11 Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Ideal Score x N Xmin Xmax SD 32 40 90 71,68 16,38 32 35 83 63,25 13,85 100 Berdasarkan Tabel 3 di atas, itu menunjukkan bahwa skor posttest minimum kemampuan spasial siswa di kelas eksperimen adalah 40 dan lebih tinggi daripada siswa di kelas kontrol yang skor minimumnya adalah 35. Untuk skor maksimum kemampuan spasial matematika siswa kelas eksperimen adalah 90 dan lebih tinggi daripada siswa di kelas kontrol yang skor maksimumnya adalah 83. Selanjutnya, skor posttest rata-rata kemampuan spasial matematika siswa untuk kelas eksperimen adalah 71,68 dan lebih tinggi daripada siswa di kelas kontrol yang skor rata-ratanya adalah 63 , 25. Standar deviasi data posttest pada kemampuan spasial di kelas eksperimen adalah 16,38 dan kelas kontrol adalah 13,85 Deskripsi postes kemampuan spasial siswa berdasarkan kemampuan awal matematika siswa dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini : Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA signifikan antara model pembelajaran dan KAM terhadap kemampuan spasial matematika siswa. Table 4. Deskripsi Kemampuan Spasial berdasarkan KAM Siswa Class PMA N Experimental Class High Medium Low High Medium Low 7 20 5 8 17 7 Control Class 90 Average Score 90 72,25 43,80 80,75 63,82 43,29 63,82 Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam terhadap kemampuan spasial siswa. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5 dibawah ini Table 5. Two Way Anova Hasil Tes Kemampuan Spasial Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: K_Spasial Type III Sum Mean Source of Squares df Square F Corrected a 12541,051 5 2508,210 52,218 Model Intercept 215644,66 4489,45 215644,667 1 7 4 KAM 11477,235 2 5738,618 119,471 Pembelajara 459,884 1 459,884 9,574 n KAM * Pembelajara 159,862 2 79,931 1,664 n Error 2785,949 58 48,034 Total 308008,000 64 Corrected 15327,000 63 Total a. R Squared = ,818 (Adjusted R Squared = ,803) Sig. ,000 ,000 ,000 ,003 ,198 ‌Berdasarkan hasil uji Two Way Anova pada Tabel 5 di atas, nilai signifikansi untuk pembelajaran adalah 0,003 lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 atau sig. <0,05 (0,003 <0,05), artinya H0 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam terhadap kemampuan spasial matematika siswa. Dengan kata lain, pengaruh model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islami pada kemampuan spasial matematika siswa lebih baik daripada pembelajaran konvensional pada kemampuan spasial matematika siswa. Selanjutnya, hasil uji Two Way Anova menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk KAM*Pembelajaran adalah 0,198 yang lebih besar dari signifikansi 0,05 atau sig. > 0,05 (0,198> 0,05), artinya H0 diterima karena tidak ada cukup bukti untuk menolak H0. Dengan kata lain, tidak ada pengaruh yang diberikan oleh model pembelajaran dengan KAM siswa pada kemampuan spasial matematika siswa. Perbedaan kemampuan spasial matematika siswa disebabkan oleh perbedaan dalam pembelajaran yang diterapkan bukan karena kemampuan matematika siswa sebelumnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi yang 80,75 72,25 43,80 43,29 Gambar 1. Graphic Pencar Interaksi Antara Model Pembelajaran dan KAM terhadap Kemampuan Spasial Siswa 4.3. Deskripsi Kemandirian Belajar Siswa Tes kemandirian belajar berupa pertanyaan yang terkait dengan materi yang sedang dieksperimen, yaitu materi dimensi tiga. Tes yang terdiri dari tiga puluh pertanyaan mewakili delapan indikator kemandirian belajar, yaitu: evaluasi diri, organisasi dan informasi, penetapan tujuan dan perencanaan, pencarian informasi, penataan lingkungan, reshing dan memori, pencarian per, guru, bantuan orang dewasa, tes ulasan / pekerjaan . Pemrosesan dan analisis data posttest bertujuan untuk menentukan kemandirian belajar siswa setelah diajarkan oleh model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam di kelas eksperimen dan kemandirian belajar siswa setelah diajarkan oleh model pembelajaran konvensional di kelas kontrol. Hasil posttest untuk dua kelas dijelaskan pada Tabel 6 di bawah ini. Table 6. Deskripsi Kemandirian Belajar Siswa Class Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Ideal Score 4 N Xmin Xmax x 32 1 4,37 32 1 4,37 3,2 5 3,2 5 SD 1,008 1,008 Berdasarkan Tabel 6 di atas, itu menunjukkan bahwa skor posttest minimum kemandirian belajar siswa di kelas eksperimen adalah 1 dan sama dengan siswa di kelas kontrol yang skor minimumnya adalah 1. Untuk skor maksimum pembelajaran kemandirian belajar siswa di kelas eksperimen adalah 4,37 dan sama dengan siswa di kelas kontrol yang skor maksimumnya adalah 4,37. Selain itu, skor posttest rata-rata belajar mandiri siswa untuk kelas eksperimen adalah 3,25 sama dengan siswa di kelas kontrol yang skor rata-rata 3,25. Standar deviasi dari data posttest pada belajar mandiri siswa untuk kelas eksperimen adalah 1.008 dan 1.008 untuk kelas kontrol. Deskripsi postes kemandirian Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA belajar siswa berdasarkan kemampuan awal matematika siswa (KAM) dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini. kemandirian belajar siswa dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini. Tabel 7. Deskripsi Postes Kemandirian Belajar Siswa Berdasarkan Kemampuan Awal Matematika Siswa Class KAM N Kelas Eksperimen Tinggi Sedang Rendah Tinggi Sedang Rendah 11 15 6 8 14 10 Kelas Kontrol Average Score 4,50 3,48 2,24 4,34 3,19 1,99 4,50 4,30 3,46 3,21 2,11 Selanjutnya hasil penelitian ditunjukan bahwa ada pengaruh signifikan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam terhadap kemandirian belajar siswa. Hal ini ditunjukan pada Tabel 8 dibawah inu : Table 8. Two Way Anova Test Result of Self Regulated Learning Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Kemandirian Belajar Type III Sum of Mean Source Squares df Square F Sig. Corrected Model 46,060a 5 9,212 31,380 ,000 Intercept 2143,24 629,165 1 629,165 ,000 7 KAM 44,613 2 22,307 75,988 ,000 Learning ,814 1 ,814 2,773 ,010 KAM * Learning ,044 2 ,022 ,075 ,928 Error 17,026 58 ,294 Total 739,411 64 Corrected Total 63,086 63 R Squared = ,730 (Adjusted R Squared = ,707) Berdasarkan hasil uji Two Way Anova pada Tabel 8 di atas, nilai signifikansi untuk pembelajaran adalah 0,01 yang lebih kecil dari signifikansi 0,05 atau sig. <0,05 (0,01 <0,05), artinya H0 ditolak. Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam terhadap kemandirian belajar siswa. Dengan kata lain, pengaruh model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam terhadap kemandirian belajar siswa lebih baik daripada pengaruh pembelajaran konvensional terhadap kemandirian belajar siswa. Selanjutnya, hasil uji Two Way Anova menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk Pembelajaran*KAM adalah 0,928 yang lebih besar dari signifikansi 0,05 atau sig. > 0,05 (0,928> 0,05), artinya H0 diterima karena tidak ada cukup bukti untuk menolak H0. Dengan kata lain, tidak ada pengaruh yang diberikan oleh model pembelajaran dengan KAM siswa terhadap kemandirian belajar siswa. Perbedaan dalam sikap kemandirian belajar siswa disebabkan oleh perbedaan dalam pembelajaran yang diterapkan bukan karena kemampuan awal matematika siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan KAM terhadap kemandirian belajar siswa. Secara grafis, interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap 1,91 Gambar 2. Scatter Plot interaksi antara model pembelajaran dan KAM terhadap Kemandirian Belajar Siswa Berdasarkan Gambar 2 di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dan kemampuan awal matematika terhadap kemandirian belajar siswa PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian, skor rata-rata kemampuan spasial siswa yang diajarkan dengan pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam lebih baik daripada skor kemampuan spasial rata-rata siswa yang diajarkan dengan pembelajaran biasa. Untuk menjawab semuanya dalam perumusan masalah, peneliti harus menganalisis semua data dari lapangan. Selanjutnya, untuk memberikan masukan positif untuk perbaikan jika menerapkan pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi Islam, perlu untuk mengedepankan hal-hal yang dapat mengatasi masalah yang ditemukan dalam penelitian untuk mengukur kemampuan spasial dan sikap kemandirian belajar siswa. Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa, ada beberapa hal yang masih menjadi kendala dalam pembelajaran berkelanjutan termasuk (1) lebih sedikit waktu yang dihabiskan untuk belajar (2) kemampuan untuk memahami pertanyaan terutama bagian spasial dari persepsi dan rotasi mental (3) siswa yang tidak peduli dan serius dalam mengerjakan masalah. Di kelas kontrol sistem pembelajaran berpusat pada guru, dengan model pembelajaran yang digunakan model pembelajaran langsung. Di kelas kontrol, siswa kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan kelas eksperimen yang diajarkan menggunakan model PBL. Kurangnya siswa aktif dalam proses pembelajaran menyebabkan keterampilan berpikir spasial siswa menjadi kurang terlatih, ini dapat dilihat pada nilai rata-rata kelas eksperimen yaitu = 71,68 yang jauh lebih baik daripada nilai rata-rata di kelas kontrol yang. is = 63.56 Seseorang berpikir spasial harus dapat Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA melihat dan memberikan keputusan yang mereka buat, harus mampu menjawab pertanyaan mengapa keputusan seperti itu dibuat [19], ini terlihat pada siswa dalam fase diskusi. Di kelas eksperimen, peneliti hanya mengarahkan siswa ke masalah yang telah dipilih kemudian siswa melakukan proses pemecahan masalah secara mandiri. Ketika memecahkan masalah, pemikiran siswa dioptimalkan melalui proses kerja kelompok dengan cara siswa mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan masalah dari buku pegangan siswa dan LKPD. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dengan mengacu pada hipotesis yang dirumuskan dan tingkat kepercayaan 95% (=0,05), maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam menghasilkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan spasial matematika siswa daripada metode pembelajaran konvensional, dengan harga uji statistik Fhitung> Ftabel, yaitu 9,574 > 2,750 dengan nilai signifikan 0,003 < 0,05 dan rata-rata nilai kemampuan spasial dari siswa yang dikenai model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam lebih besar dari metode pembelajaran konvensional, yaitu 71,68> 63,25 sehingga Terdapat pengaruh pendekatan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam terhadap kemampuan spasial siswa MA. 2. Model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam menghasilkan pengaruh yang signifikan terhadap kemandirian belajar matematika siswa daripada metode pembelajaran konvensional, dengan harga uji statistik Fhitung> Ftabel, yaitu 2,77 > 2,75 dengan nilai signifikan 0,01 < 0,05 dan ratarata nilai kemandirian belajar siswa yang dikenai model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam lebih besar dari model pembelajaran konvensional, yaitu 71,68> 63,25 sehingga Terdapat pengaruh pendekatan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi Islam terhadap kemampuan spasial siswa MA. 3. Tidak ada pengaruh yang signifikan model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam dengan KAM terhadap kemampuan spasial matematika siswa daripada model pembelajaran konvensional, dengan harga uji statistik F hitung> Ftabel, yaitu 1,664 < 2,75 dengan nilai signifikan 0,1981 > 0,05 sehingga Tidak Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan KAM terhadap kemampuan spasial matematis siswa MA. 4. Model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap kemandirian belajar siswa daripada metode pembelajaran konvensional, dengan harga statistik uji Fhitung> Ftabel, yaitu 2,77 > 2,75 dengan nilai signifikan 0,01 < 0,05 dan rata-rata nilai kemandirian belajar dari siswa yang dikenai model pembelajaran berbasis masalah berorientasi islam lebih besar dari model pembelajaran konvensional, yaitu 71,68> 63,25 sehingga tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dan KAM terhadap sikap kemandirian belajar siswa MA. DAFTAR PUSTAKA Ahmad & Jaelani, A. 2015. Kemampuan Spasial: Apa dan Bagaimana Cara Meningkatkannya. Jurnal Pendidikan Nusantara Indonesia. Vol. 1, No. 1, 112 Armstrong, T. 2008. Multiple Intelligences in the Classroom. Alexandria: ASCD. Al-quran dan Terjemahannya, 2012. Edisi Asmaul Husna Doa dan Akhlak, Bandung: Al-Mizan Publishing House Arends, R.I. 2004. Learning to Teach. (Sixth Edition), Boston: Mc Graw Hill Companies Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Sekolah Menengah Atas.Jakarta: Depdiknas. Eviyanti,CY. Surya,.E. & Syahputra, E. 2017. Improving the Students’ Mathematical Problem Solving Ability by Applying Problem Based Learning Model in VII Grade at SMPN 1 Banda Aceh Indonesia. International Journal of Novel Research in Education and Learning Vol. 4, Issue 2, pp: (138144), Month: March – April 2017 Harsanto, R. 2005. Melatih Anak Berpikir Analitis, Kritis, dan Kreatif. Jakarta :PT. Grasindo. Nasution, KN. Syahputra, E. & Mulyono. 2019. The Effect of Guided Inquiry Learning Model Based on Deli Malay Culture Context towards Student’s Mathematical Critical Thinking Ability, American Journal of Educational Research, 2018, Vol. 6, No. 10, 1414-1420 Available online at http://pubs.sciepub.com/education/6/10/12 ©Science and Education Publishing DOI:10.12691/education6-10-12 NCTM. 2000. Handbook of research on mathematics teaching and learning. Editor: Douglas A. Grows USA: Macmillan Library Reference. Noviani, Syahputra E, & Murad A, 2017, The Effect of Realistic Mathematic Education (RME) in Improving Primary School Students' Spatial Ability in Subtopic Two Dimension Shape, Journal of Education and Practice www.iiste.org ISSN 22221735 (Paper) ISSN 2222-288X (Online) Vol.8, No.34, 2017 Putri S.K, 2019. Development of Learning Devices Based on Realistic Mathematics Education to Improve Students’ Spatial Ability and Motivation, International Electronic Journal Of Mathematics Education e-ISSN: 1306-3030. 2019, Vol. 14, No. 2, 393-400 https://doi.org/10.29333/iejme/5729 Pranawestu, A. 2012. Keefektifan Problem Based Learning Berbantuan CABRI 3D Berbasis Karakter terhadap Kemampuan Spasial, Unnes Journal of Mathematics Education 1 (2) (2012) Rahayu, RP. 2019. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Berdasarkan Model PBL Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik dan Kemandirian Belajar Siswa Kelas VII SMPIT Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA JURNAL PENDIDIKAN MATEMATIKA PARADIKMA Jabal Noor Tesis (Tidak dipublikasikan) Medan:Universitas Negeri Medan Syahputra, E.2013. Peningkatan Kemampuan Spasial Siswa Melalui Penerapan Pembelajaran Matematika Realistik, Jurnal Cakrawala Pendidikan, Th XXXII No.3 November 2013 Syarah, Syahputra E & Fauzi A, 2013. Peningkatan Kemampuan Spasial Dan Komunikasi Matematis Siswa SMP Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah , Jurnal Tabularasa Pps Unimed Vol.1 No.3, Desember 2013 Syahputra, E. 2016. Statistika Terapan, Medan : Unimed Press Tasleky, J.2016. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Sikap Positif Matematika Siswa SMP Budi Murni 3 Medan, Tesis (Tidak dipublikasikan), Medan :Universitas Negeri Medan, . Trianto. 2009. Mendesain Model-Model Pembelajaran Inovasi-Progresif. Jakarta :Kencana Prenada Media Group Wardhani, 2006. Permasalahan Pembelajaran dan Penilaian Kemahiran Matematika. Yogyakarta : PPPG Matematika Yeni, Ety Mukhlesi. (2011). Pemanfaatan Benda-Benda Manipulatif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Geometri dan Kemampuan Tilikan Ruang Siswa Kelas V Sekolah Dasar. [Online], Seminar Nasional Matematika dan Terapan 2011, 51-69. Tersedia: http://scholar.google.com/scholar? q=pembelajaran+dengan+menggunakan+ teori+ belajar+Van+Hiele+&btnG=&hl=id&as_sdt=0%2C 5. [20 Desember 2019] Zulfahmi., Syahputra, E., & Fauzi, K. M. A. (2017). Development of Mathematics Learning Tools Based Van Hiele Model to Improving Spatial Ability and Self-Concept Student’s of MTs.S Ulumuddin. American Journal of Education Research, 5(10), 1080-1086. https://doi.org/10.12691/education-5-109 Ahmad Darmawan, Edi Syahputra, KMS Muhammad Amin Fauzi. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Berorientasi Islam Terhadap Kemampuan Spasial dan Kemandirian Belajar Siswa MA

Judul: Ahmad Darmawan Jurnal Paradikma

Oleh: Sabariyah Ahmad


Ikuti kami