21-jurnal Hasni Baso.docx

Oleh Zubari Sulaiman

171,8 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip 21-jurnal Hasni Baso.docx

HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah Edisi Volume 1 No. 3, Oktober 2016 IMPLEMENTASI COOPERATIVE LEARNING MELALUI STRATEGI CROSSWORD PUZZLE DALA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM KELAS VII SMP NEGERI 8 RAHA TAHUN PELAJARAN 2014/20151 Oleh HASNI BASO2 Guru SMP Negeri 8 Raha Kabupaten Muna ABSTRAK Tujuan mendasar dari penelitian ini adalah untuk mendiskpsikan Implementasi Kooperativ Learning Melalui Strategi Crossword Puzzle Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Tahapan penelitian ini dilakukan dengan empat tahap yaitu mulai Perencanaan, Pelaksanaan tindakan, Pengamatan dan terakhir Reflektif. Sedangkan pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dari penelitian ini adalah satu kelas yaitu siswa kelas VII SMP Negeri 8 Raha. Hasil penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran kooperativ melalui Strategi Crossword Puzzle terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar materi saling ketergantungan dalam ekosistem pada siswa kelas VII SMP Negeri 8 Raha. Hal penelitian ini dapat diketahui dari hasil evaluasi yang menunjukan peningkatan belajar yang semula nilai rata-rata pretes sebesar 64,8. Pada siklus I sebesar 72,4 dan meningkat pada siklus II sebesar 78. Sedangkan bukti dari data kualitatif yang menjelaskan keantusiasan siswa terhadap strategi pembelajaran tersebut sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup dan pengalaman siswa menjadi bertambah. Kata Kunci: Cooperatif Learing, Crossword Puzzle, Motivasi dan hasil Belajar PENDAHULUAN Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) melalui kegiatan pengajaran. Kegiatan pengajaran tersebut diselenggarakan pada semua satuan dan jenjang pendidikan yang meliputi wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi Pengajaran sebagai aktifitas oprasional kependdikan dilaksanakan oleh para tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar. Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Menurut Oemar Hamalik (2008:1) Proses pendidikan tidak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas dan pembangunan sektor ekonomi, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan berlangsung dengan berbarengan. Suatu rumusan nasional tentang istilah “pendidikan” yang tercantum dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Bab I, Pasal I, adalah sebagai berikut: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan 1 2 Disadur dari laporan hasil penelitian 2014 Guru SMP Negeri 8 Raha 159 spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlakukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Pendidikan juga dapat dimaknai sebagai proses mengubah tingkah laku anak didik agar menjadi manusia dewasa yang mampu hidup mandiri dan sebagai anggota masyarakat dalam lingkungan alam sekitar dimana individu itu berada. Pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan intelektual saja, akan tetapi ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak didik secara menyeluruh sehingga menjadi lebih dewasa. Dilihat dari sudut proses bahwa pendidikan adalah proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya dan yang akan menimbulkan perubahan pada dirinya yang memungkinkan sehingga berfungsi sesuai kompetensinya dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang berlangsung di sekolah dan luar sekolah. Relevan dengan pandangan Saiful Sagala (2008:4) bahwa Usaha sadar tersebut dilakukan dalam bentuk pembelajaran dimana ada pendidik yang melayani para siswanya melakukan kegiatan belajar, dan pendidik menilai atau mengukur tingkat keberhasilan belajar siswanya tersebut dengan prosedur yang ditentukan. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan belajar itu, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan didorong ke pencapaian yang dicitacitakan. Lingkungan tersebut disusun dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar, guru berusaha untuk mentransfer pesan kepada siswa. Namun untuk menghasilkan perubahan perilaku sebagaimana yang diharapkan dalam proses pembelajaran tidaklah mudah. Karena untuk mendapatkan pemahaman yang sama antara guru dengan siswa tentang makna pesan yang disampaikan bukanlah suatu hal yang mudah, Oleh karena itu, guru sebagai ujung tombak dalam pencapaian tujuan pendidikan perlu memilih strategi pembelajaran yang efektif dan efisien agar mudah diterima oleh siswa. M. Sobry Sutikno (2009:32) dalam bukunya yang berjudul “Belajar Dan Pembelajaran”, mengemukakan definisi pembelajaran yaitu, segala upaya yang dilakukan oleh guru (pendidik) agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Secara implisit, di dalam pembelajaran ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode untuk mencari hasil/tujuan pembelajaran yang diinginkan. Jadi pada proses selanjutnya kita bisa melihat keberhasilan dari sebuah proses pembelajaran tidaklah terlepas dari peran serta dan kemampuan dari seorang guru di dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang mengarah kepada peningkatan belajar siswa dalam sebuah proses belajar mengajar. Maka dari itu, Aunurrahman (2009) menuturkan bahwa untuk dapat mengembangkan suatu model pembelajaran yang efektif maka setiap guru diharuskan memiliki sebuah pengetahuan yang memadai berkenaan dengan konsep dan cara-cara pengimplementasian model dan strategi pembelajaran tersebut dalam proses belajar mengajar. 160 Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa kelas VIII SMP Negeri 8 Raha, diketahui bahwa pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu mata pelajaran yang masih dianggap kurang menarik dan membosankan. Para siswa menginginkan pembelajaran dengan suasana belajar yang baru agar materi pelajaran yang diajarkan oleh guru lebih menarik, memotivasi, dan mudah dipahami. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam harus dirubah menjadi pendekatan yang berorientasi pada peserta didik. Model pembelajaran aktif nampaknya merupakan jawaban atas permasalahan tentang rendahnya motivasi belajar siswa di SMP Negeri 8 Raha. Dengan menerapkan model pembelajaran ini diharapkan kualitas pembelajaran akan lebih meningkat, sebab pada model pembelajaran ini keaktifan siswa lebih diutamakan. Dengan melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran, maka siswa akan mengalami atau bahkan menemukan ilmu pengetahuan secara mandiri. Sehingga apa yang mereka ketahui dan pahami akan menjadi pengetahuan yang bersifat pribadi. Oleh karena itu pemakaian metode harus sesuai dan selaras dengan karakteristik siswa, materi, kondisi lingkungan di mana pengajaran berlangsung. Oleh sebab itu, peneliti menggunakan model pembelajaran aktif (cooperative learning) melalui strategi crossword puzzle, untuk memecahkan permasalahan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam materi Saling ketergantungan dalam ekosistem di SMP Negeri 8 Raha pada siswa kelas VII. Berangkat dari pentingnya permasalahan yang terjadi di SMP Negeri 8 Raha maka penelitian tentang “Implementasi Cooperative Learning Melalui Strategi Crossword Puzzle dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Raha” harus segera dilaksanakan. Dengan menerapkan cooperative learning melalui strategi crossword puzzle, dapat membantu siswa memahami materi Saling ketergantungan dalam ekosistem yang sulit, menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis, dan mengembangkan sikap sosial, serta dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar, dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama terhadap siswa. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain, secara holistik, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong, 2007:6). Penelitian kualitatif memiliki ciri-ciri yang membedakan dengan penelitian lainnya. Menurut Bogdan dan Biklen mengemukakan lima ciri, sedangkan Lincoln dan Guba mengemukakan sepuluh ciri penelitian kualitatif. Kedua pendapat tersebut digabungkan menjadi satu sehingga menjadi sebelas ciri, yaitu: (1) latar alamiah; (2) manusia sebagai alat (instrumen); (3) metode kualitatif; (4) analisis data secara induktif; (5) teori dari dasar; (6) deskriptif; (7) lebih mementingkan proses daripada hasil; (8) adanya batas yang ditentukan oleh fokus; (9) adanya kriteria khusus untuk keabsahan data; (10) desain yang bersifat sementara; dan (11) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK), karena jenis penelitian ini mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk 161 memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat kondisi siswa. Bahkan McNiff dalam bukunya yang berjudul Action Research Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum pengembangan sekolah, meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya (Arikunto, 2007: 102). Dalam melaksanakan PTK ini mengacu pada desain penelitian yang telah dirancang sesuai dengan prosedur penelitian yang berlaku. Fungsinya sebagai patokan untuk mengetahui bentuk penerapan pembelajaran kooperatif melalui strategi crossword puzzle dalam meningkatkan motivasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam pada siswa kelas VII SMP Negeri 8 Raha. Dalam penelitian ini peneliti adalah sebagai instrumen pengumpul data. Selain itu Instrumen pendukung penelitian ini adalah pedoman wawancara, pedoman observasi, dan dokumen. Mengenai status peneliti adalah sebagai pengamat penuh serta diketahui subjek atau informan. Oleh karena itu, kehadiran peneliti adalah mutlak, lebih-lebih dalam PTK peneliti mandiri, selain sebagai pelaku tindakan (berarti juga sumber data) peneliti juga bertugas sebagai pengamat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar. Secara garis besar data dalam penelitian ini dapat dipilih menjadi dua jenis, yaitu data kualitatif dan data kuantitaif. Sedangkan instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Pedoman pengamatan untuk menggali data tentang suasana kelas pada saat pembelajaran sedang berlangsung, keceriaan atau keantusiasan peserta didik dalam mengikuti program pembelajaran, dan kerja kelompok pada saat pembelajaran. (2) Pedoman wawancara untuk menggali data secara mendalam tentang tanggapan siswa terhadap strategi pembelajaran yang telah dilaksanakan. (3) soal tes yaitu tes digunakan untuk menggali data kuantitatif berupa skor tugas kelompok dan skor tugas individu. Tahap terkahir yang dilakukan dalam metode penelitian ini yaitu tahap analisis data. Analisis ini bertujuan (1) data dapat diberi arti atau makna yang berguna dalam memecahkan masalah-msalah penelitian, (2) memperlihatkan hubunganhubungan antara fenomena yang terdapat dalam penelitian, (3) untuk memberikan jawaban terhadap hipotesis yang diajukan dalam penelitian, dan (4) bahan untuk membuat kesimpulan serta implikasi-implikasi dan saran-saran yang berguna untuk kebijakan penelitian selanjutnya. Selanjutnya untuk mengukur apakah penelitian ini berhasil atau tidak ditetpkan indikator kinerja yang dibagi dalam indikator kuantitatif dan indikator kualitatif, yakni (1) indikator kualitatif berupa keantusiasan siswa mengikuti pembelajaran dan sikap mereka terhadap strategi pembelajaran yang dikembangkan, dan (2) indikator kuantitatif berupa besarnya skor ujian yang diperoleh siswa dan selanjutnya dibandingkan dengan batas minimal lulus (kriteria ketuntasan minimal/KKM) mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di SMP Negeri 8 Raha, besarnya skor kriteria KKM sebesar 65. Dengan demikian siswa dikatakan tuntas belajar secara individual jika skor tes minimal sebesar 65. Tetapi jika siswa yang berhasil secara individual masih dibawah 65, maka strategi yang dijalankan dapat dikatakan belum berhasil. 162 HASIL PENELITIAN Kegiatan penelitian ini, sebelum melakukan tindakan maka peneliti terlebih dahulu melakukan free tes untuk melihat kondisi awal atau gambaran awal kemampuan peserta didik. Pada pre test ini, peneliti belum memperoleh ketercapaian tujuan pembelajaran secara individual melalui tes individu. Sebagaimana hasil pre test dapat ditunjukkan pada tabel dibawah ini: Tabel 4.4 Distribusi Skor Pre Test Mata Pelajaran IPA No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Interval Skor 81-85 76-80 71-75 66-70 61-65 56-60 51-55 46-50 00-45 Frekwensi 2 3 3 3 2 4 3 3 2 25 Jumlah Status* Lulus Lulus Lulus Lulus Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Tidak Lulus Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa tingkat keberhasilan kelas adalah 52 % yakni dari 25 peserta tes yang dinyatakan lulus sebanyak 13 orang. Sedangkan yang gagal sebanyak 12 orang atau sebesar 48 %, karena skor tesnya kurang dari 65. Hasil pre test di atas menunjukkan, bahwa motivasi belajar siswa masih rendah, sehingga mempengaruhi prestasi siswa yang masih dibawah standar ketuntasan minimum, dimana pada nilai pre test belajar siswa menunjukkan rata-rata kelas 64,8. Itulah yang menjadi acuan bahwa pelaksanaan tindakan perbaikan penting untuk dilakukan. Pelaksanan tindakan dalam kegiatan penelitian ini dilaksanakan sebanyak dua siklus. Pada siklus I peneliti menerapkan pembelajaran kooperatif melalui strategi crossword puzzle, dapat membantu siswa menjelaskan makna Saling ketergantungan dalam ekosistem yang sulit, menumbuhkan kemampuan kerja sama, berpikir kritis, dan mengembangkan sikap sosial, serta dapat meningkatkan motivasi, hasil belajar, dan penyimpanan materi pelajaran yang lebih lama, sehingga siswa tidak bermain sendiri dan mempunyai tanggung jawab. Pertemuan I dilaksanakan pada tanggal 21 Maret dan pertemuan II dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2015. Berdasarkan pengamatan tes kelompok dalam mengerjakan lembar crossword puzzle berjalan dengan lancar hingga waktu telah berakhir. Setelah dilakukan koreksi, skor tes setiap kelompok adalah sebagaimana disajikan dalam tabel berikut: Tabel Skor Tes Kelompok Crossword Puzzle Mata Pelajaran IPA Kelompok Skor Tes Keterangan* 163 I 80 Lulus II 85 Lulus III 70 Lulus IV 85 Lulus V 75 Lulus Berdasarkan hasil skor yang diperlihatkan pada tabel tersebut bahwa perolehan siswa, dapat dikatakan bahwa strategi pembelajaran ini terbukti efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap materi Saling ketergantungan dalam ekosistem yang sedang dipelajari. Pertemuan kedua di laksanakan pada tanggal 25 Maret 2015. pertemuan ini kelanjutan dari pertemuan I yang hanya dilaksanakan tes kelompok saja. pada awal pertemuan ini peneliti mengemukakan pengalaman pembelajaran yamg dirasakan dalam pertemuan sebelumnya, peneliti merasa senang bahwa ada sesuatu yang beda dalam pembelajaran yang telah diterapkannya dibandingkan dengan pembelajaran sebelumnya yang menggunakan metode konvensional, yaitu ceramah, tanya jawab, dan mengerjakan tugas. Tabel Distribusi Skor Tes Individual Mata Pelajaran IPA Kelas VII No. Interval Skor Frekwensi Status* 1. 96-100 1 Lulus 2. 91-95 1 Lulus 3. 86-90 - - 4. 81-85 3 Lulus 5. 76-80 3 Lulus 6. 71-75 5 Lulus 7. 66-70 5 Lulus 8. 61-65 1 Lulus 9. 56-60 2 Tidak Lulus 10. 51-55 2 Tidak Lulus 11. 00-50 2 Tidak Lulus Jumlah 25 Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa tingkat keberhasilan kelas adalah 76 % yakni dari 25 peserta tes yang dinyatakan lulus sebanyak 19 orang. Sedangkan yang gagal sebanyak 6 orang atau sebesar 24 %, karena skor tesnya kurang dari 65. Hasil tes individual di atas menunjukkan, bahwa adanya peningkatan motivasi belajar siswa, akan tetapi belum maksimal. Hasil nilai pre test belajar siswa menunjukkan rata-rata kelas 72,4. Dengan demikian bahwa hasil tersebut menunjukan adanya peningkatan akan tetapi belum mencapai indikator kinerja, sehingga dilanjutkan pada siklus II. 164 Siklus II di laksanakan dengan 1 kali pertemuan pada tanggal 2015 selama 40 menit. untuk mengantisipasi siklus I yang belum maksimal, maka peneliti benar-benar mempersiapkan pelaksanaan siklus II sesuai rekomendasi catatan hasil refleksi pada siklus sebelumnya dengan membuat rencana pembelajaran pada tindakan siklus II yang lebih baik, sehingga kesalahan yang terjadi pada siklus I tidak terulang kembali. Berdasarkan pengamatan pada siklus II, tes kelompok dalam mengerjakan lembar crossword puzzle berjalan dengan baik. Setelah dilakukan koreksi, skor tes setiap kelompok adalah sebagaimana disajikan dalam tabel berikut: Tabel Skor Tes Kelompok Crossword Puzzle Kelompok Skor Tes Keterangan* I 90 Lulus II 100 Lulus III 75 Lulus IV 100 Lulus V 80 Lulus VI 85 Lulus Berdasarkan hasil skor perolehan siswa, dapat dikatakan bahwa strategi pembelajaran ini terbukti efektif untuk meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap materi Saling ketergantungan dalam ekosistem yang sedang dipelajari. Kegiatan akhir, guru mengadakan evaluasi dengan melakukan latihan soal. Setelah selesai mengerjakan latihan soal tersebut, kemudian dikoreksi bersama-sama dengan menukarkan soalnya dengan teman di sampingnya. Jadi setiap siswa membawa soal dari siswa yang lain, hal ini dilakukan agar tidak terjadi kecurangan pada waktu mengoreksi. Kemudian memberi kesempatan kepada siswa untuk menyimpulkan materi yang telah disampaikan. Pada tindakan refleksi, guru mengajak siswa untuk memetik pelajaran dari cerita yang telah dipelajari. Dan sebelum pelajaran diakhiri guru memberikan pesan-pesan kepada siswa agar tetap semangat belajar, kemudian dilanjutkan dengan berdo’a dan salam sebagai tanda bahwa pembelajaran telah selesai.Berdasarkan pengamatan tes individu dalam mengerjakan soal latihan berjalan dengan lancar. Setelah dilakukan koreksi, skor tes setiap individu adalah sebagaimana disajikan dalam tabel berikut: Tabel Distribusi Skor Tes Individual Mata Pelajaran IPA Kelas VII No. Interval Skor Frekwensi Status* 1. 96-100 2 Lulus 2. 91-95 2 Lulus 3. 86-90 1 Lulus 4. 81-85 4 Lulus 5. 76-80 3 Lulus 6. 71-75 5 Lulus 7. 66-70 4 Lulus 165 8. 61-65 - Lulus 9. 56-60 1 Tidak Lulus 10. 51-55 2 Tidak Lulus Jumlah 24 . Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa tingkat keberhasilan kelas adalah 87 % yakni dari 24 peserta tes yang dinyatakan lulus sebanyak 21 sorang. Sedangkan yang gagal sebanyak 3 orang atau sebesar 12 %, karena skor tesnya kurang dari 65. Satu orang izin tidak masuk karena sakit. Hasil tes individual di atas menunjukkan, bahwa adanya peningkatan motivasi belajar siswa pada siklus II sudah mencapai maksimal. Hasil nilai pre test belajar siswa menunjukkan rata-rata kelas 78. Untuk lebih mendapatkan gambaran kualitatif secara mendalam terhadap penerapan pembelajaran kooperatif melalui strategi crossword puzzle, peneliti melakukan wawancara kepada siswa yang ditetapkan sebagai informan. Hasil rekapan wawancara adalah sebagai berikut, terhadap pertanyaan “Bagaimanakah tanggapan kamu terhadap penerapan strategi pembelajaran kemarin?”. Berikut contoh kutipan hasil wawancara langsung kepada siswa yaitu: Contoh 1. “Saya sangat senang dengan strategi pembelajaran yang ibu terapkan, karena saya bisa memahami materi Saling ketergantungan dalam ekosistem dengan mudah, sehingga saya bisa mengerjakan soal-soalnya dengan benar”. Contoh 2. “Saya suka dengan strategi pembelajaran ini, walaupun teka-teki silang sudah pernah diterapkan, tapi dulu secara individual, tapi kalau sekarang dibuat kelompok, jadi saya lebih mengerti karana saya bisa berbagi pendapat dengan teman-teman, dan tidak merasa kesulitan dalam mengerjakan soal, dan cara bapak mengajar juga enak, tidak tegang. Contoh 3. “Saya sangat senang dengan strategi belajar yang ibu berikan, apalagi bentuknya permainan, jadi saya lebih semangat dalam belajar, padahal terkadang pelajaran IPA itu membosankan, Akan tetapi dengan strategi dan cara ibu mengajar kemarin, saya suka dan lebih faham tentang materi tersebut, sehingga dengan mudah saya bisa mengerjakan soal yang ibu berikan”. Dengan demikian walaupun hanya tiga contoh hasil wawancara yang ditampilkan dapat ditarik pemhaman bahwa tanggapan para informan adalah positif terhadap pelaksanaan pembelajaran kooperatif melalui strategi crossword puzzle, karena ketiga siswa menyatakan senang terhadap strategi pembelajaran yang mereka alami selama mengikuti kegiatan penelitian. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif melalui strategi crossword puzzle sangat memberikan manfaat kepada para siswa, mereka merasakan suasana keakraban dengan kelompoknya, mereka sangat antusias, dan senang. Hal itu dapat dilihat dari keberanian mereka untuk angkat tangan dan menjawab pertanyaan. Selanjutnya hasil observasi siklus II menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa yang sangat memuaskan. Peningkatan motivasi belajar siswa dapat diamati pada lembar observasi dari siklus I sampai II terus mengalami peningkatan. 166 Penilaian dalam pembelajaran ini dilakukan pada setiap pertemuan setelah proses pembelajaran berlangsung. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menggunakan strategi yang telah diterapkan. Tingkat keberhasilan kelas dalam setiap siklusnya mengalami peningkatan, yaitu dari pre tes semula 52 % meningkat pada siklus I menjadi 76 %, kemudian meningkat lagi pada siklus II menjadi 87 %, atau nilai rataratanya dari 64,8 meningkat menjadi 72,4 hingga 78. Sedangkan pada motivasi belajar siswa juga mengalami peningkatan dari pre test yang semula 1,8 meningkat menjadi 72,22%, dan meningkat lagi menjadi 88,89%. Ini semua adalah bukti-bukti data kuantitatif. Sedangkan bukti-bukti data kualitatif dapat dijelaskan dari hasil pengamatan dan wawancara dengan siswa yang menyatakan senang dengan penerapan strategi pembelajaran tersebut, hal ini dapat ditunjukkan dengan tumbuhnya rasa kebersamaan dan gotong royong dalam kelompok, susana kelas menjadi lebih hidup, dan keberanian dalam mengemukakan pendapat. Dari hasil penilaian dapat dibuktikan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi crossword puzzle dapat meningkatkan motivasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada siswa kelas VII SMP Negeri 8 Raha. Berdasarkan data empiris dan analisis dapat diambil sebuah kesimpulan, bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi crossword puzzle dapat meningkatkan motivasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan bentuk aplikasinya yang efektif adalah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah dibuat sebelumnya. Bahwa penelitian ini telah dianggap berhasil melalui pembelajaran kooperatif dengan strategi crossword puzzle dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Disi lain apa yang menjadi indikator keberhasilan telah tercapai. Adapun indikator keberhasilan penerapan cooperative learning, antara lain: (1) Pada saat pembelajaran berlangsung siswa terlihat lebih semangat, senang, dan tidak merasa bosan, sehingga dapat menyelesaikan tugas tepat waktunya, karena dikerjakan dengan bersama-sama. (2) Siswa mempunyai rasa ingin tahu yang besar, yaitu aktif dalam berdiskusi dengan saling tukar pendapat dan tanya jawab. Hal ini menunjukkan bahwa siswa tidak merasa takut lagi untuk belajar mengemukakan pendapatnya dan tanya jawab. (3) Adanya peningkatan motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari kenaikan setiap siklusnya. KESIMPULAN Sesuai dengan hasil penelitian tersebut maka penelitian dapat disimpulkan pertama, Perencanaan cooperative learning melalui strategi crossword puzzle terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII dalam pembelajaran Saling ketergantungan dalam ekosistem. Perencanaan dibuat setelah peneliti mengetahui karakteristik siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Raha yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Langkah awal perencanaan ini adalah membuat silabus, menyusun RPP, membuat modul pembelajaran, membuat lembar crossword puzzle, dan lembar observasi tentang motivasi belajar siswa. Kedua, Pelaksanaan cooperative learning melalui strategi crossword puzzle terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII dalam pembelajaran Saling ketergantungan dalam ekosistem, dibandingkan ketika melaksanakan pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan data indikator peningkatan motivasi belajar siswa dari 72,22%, menjadi 88,89% atau meningkat sebesar 16,67%. Hasil motivasi belajar tersebut terlihat dari bertambahnya 167 semangat dan antusias siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, mereka selalu menampakkan aura senang dan selalu berusaha menyelesaikan tugas tepat waktu. Ketiga, Penilaian cooperative learning melalui strategi crossword puzzle dalam meningkatkan motivasi belajar Saling ketergantungan dalam ekosistem dilakukan pada setiap pertemuan setelah proses pembelajaran berlangsung. Penilaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam menggunakan strategi yang telah diterapkan. Dari hasil penilaian dapat dibuktikan bahwa pembelajaran ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Raha. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi, dkk. Penelitian Tindaakn Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. 2007. Emildadiany, Novi. Cooperative Learning-Teknik Jigsaw (http:www.yahoo.com. diakses 8 Agustus 2015). Fathoni, Muhammad Kholid. Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional {Paradigma Baru}. Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Islam 2005. Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara 2007. -------------.. Proses Belajar Mengajari. Jakarta: Bumi Aksara 2007 --------------. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru 1992. Hasan, M. Iqbal. Pokok Materi Metodologi penelitian & Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia 2002. Hisyam, dkk. Strategi Pembelajaran di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: CTSD. 2002. Lie, Anita. Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di RuangRuang Kelas. Jakarta: Gramedia 2007. Majid, Abdul dan Dian Andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung :Remaja Rosdakarya. 2006. Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2000. Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2007. Muhammad, Hamid. Pedoman Diagnostik Potensi Peserta Didik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2004. Muslich, Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. 2007. Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya 2006. Sanjaya, Wina. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana 2006. --------------. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana 2007. Silberman, Melvin L. Active Learning 101 Cara Bealajar Siswa Aktif. Bandung: Nuansa 2006. Solihatin, Etin.. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran IPS Jakarta: Bumi Aksara 2007 Suderadjat, Hari. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Bandung: Cipta Cekas Grafika 2004.. Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar. Jakarta: RajaGrafindo Persada 2004. Trianto. Model-Model pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: 168 Prestasi Pustaka 2007. Uno, Hamzah B. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif . Jakarta: Bumi Aksara 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya Analisis di Bidang Pendidikan. Jakarta: Bum Aksara. 2007. Usman, Moh. Uzer. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya 1995. Wahidmurni. Penelitian Tindakan Kelas dari Teori Menuju Praktik. Malang: UM Press 2008. Wiriaatmadja, Rochiati. Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Remaja Rosdakarya 2008. 169

Judul: 21-jurnal Hasni Baso.docx

Oleh: Zubari Sulaiman


Ikuti kami