Review Jurnal Geo Perkotaan.docx

Oleh Afifuddin Nasyith

227,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Geo Perkotaan.docx

TUGAS REVIEW JURNAL GEOGRAFI PERKOTAAN Oleh Nama : Nasyith Afifuddin Zain NIM : 15/377525/GE/07966 FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2016 Nama : Nasyith Afifuddin Zain NIM : 15/377525/GE/07966 Pemukiman Penduduk Perkotaan Oleh : Gurniawan Kamil Pasya, Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Tumbuh dan berkembangnya kota di Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh penduduk kota itu sendiri, bisa juga karena banyaknya pendatang yang ikut membangun kota tersebut. Munculnya kota ini juga turut memunculkan penduduknya yang berasal dari wilayah lain ke kota tersebut. Pendatang tadi tentunya memerlukan tempat untuk singgah dan tinggal, yang terutama dekat dengan tempat kerja mereka. Oleh sebab itu bisa dikatakan setiap adanya penduduk yang bertambah, bertambah pula pemukiman yang diperlukan. Namun kadang pertambahan penduduk tersebut tidak sebanding dengan berkembangnya fasilitas pendukung pemukiman. Pada akhirnya, muncul yang namanya pemukiman kumuh, yakni pemukiman yang padat namun tidak tertata dengan baik, dari segi penataan, jalan, sanitasi dan lain lain. Pemukiman penduduk ada untuk mendekati tempat kerja, yang lama kelamaan semakin banyak orang yang datang ke suatu tempat yang menjadi pemukiman itu. Kemudian selanjutnya pemukiman tersebut menjadi pemukiman yang padat namun kurang terencana dengan baik, dari segi penatan maupun infrastruktur. Selain itu, pendatang yang ada tidak selalu berasal dari kelas bawah, ada juga yang berasal dari golongan mampu. Pada akhirnya ,muncullah perbedaan yang sangat mencolok pada lokasi tersebut, antara yang mampu dan kurang mampu. Faktor lainnya dari datangnya penduduk ke suatu tempat adalah daya tarik kota atau tempat. Lalu menyebabkan masyarakat atau warga dari daerah non kota atau desa lebih memiih daerah perkotaan tersebut untuk ditinggali. Karena kota memiliki infrastruktur dan fasilitas yang lebih baik dari tempat tinggal sebelumnya, sehingga mereka bermigrasi ke tempat itu. Selain itu, bisa juga karena adanya lapangan pekerjaan serta kesempatan kerja yang lebih baik. Hal ini menjadi daya tarik yang dirasa paling berpengaruh terhadap besarnya migrasi ke kota kota besar. Dengan adanya lapangan pekerjaan yang lebih besar, maka diharapkan penghasian dari penduduk menjadi lebih baik. Untuk menghemat pengeluaran juga, penduduk tadi akhirnya memutuskan untuk bermukim di kota tadi dan tidak kembali lagi ke desa. Penduduk yang datang ke kota ada yang memiliki ketrampilan ada juga yang hanya sekedar nekat. Bagi mereka yang punya keterampilan akan memeberikan dampak positif bagi kota yang didatanginya. Mereka bisa terserap ke perusahaan atau jasa jasa yang membutuhkan tenaga kerja dengan ketentuan skill tertentu. Namun bagi mereka yang tidak punya keterampilan yang baik dan hanya sekedar nekat saja, akan menyebabkan beban pada kota tadi. Angka kemiskinan yang bertambah akan membebani aspek aspek kehidupan di kota tersebut. Kemudian akan menjalar ke arah tidak bisanya mereka membangun sebuah tempat tinggal yang baik dan layak untuk ditinggali. Akhirnya muncullah pemukiman pemukiman kumuh yang semakin banyak ditemui di berbagai sisi kota. Dampak atau akibat lainnya dari urbanisasi terhadap pemukiman di kota adalah adanya pemukiman spontan atau liar. Bisa disebut demikian karena adanya pemukiman itu karena pada awalnya lahan yang digunakan adalah lahan kosong dan tak diketahui pemiliknya. Kemudian pendatang yang tanpa adanya persiapan dan tergolong kelas menegah ke bawah memerlukan tempat tinggal. Kemudian didirikanlah hunian di tempat tadi yang tergolong “liar” atau tanpa ada izin yang jelas. Hal tadi dibarengi dengan pembiaran dan akibatnya akan menjadi perumahan yang padat dan tidak terkendali jumlahnya. Munculnya pemukiman liar ini menimbulkan ketidakseimbangan pada beberapa aspek. Hal ini dikarenakan tidak adanya perencanaa dan penataan bangunan yang baik, hanya sekedar membangun dan memenuhi ruang yang masih tersedia. Contohnya adalah jalan yang sempit dan sanitasi yang buruk. Kasus jalan yang sempit sedangkan pemukimannya padat banyak terjadi di Indonesia. Ambil contoh pemukiman padat penduduk di beberapa wilayah di DKI Jakarta. Untuk melaluinya kadang kita harus menundukkan kepala serta berhati hati melewatinya, karena jalan tadi juga dipakai untuk keperluan lain warganya, seperti adanya jemuran warga atau tempat untuk berjualan di depan rumah. Kemudian sanitasi yang kurang baik. Biasanya di daerah padat seperti ini sanitasi akan mencemari air bersih warga. Dekatnya jarak antar rumah menjadi salah satu penyebab pencemaran air bersih yang dipakai warga. Area yang seharusnya untuk menyimpan air tanah, terganggu oleha adanya area septic tank, sehingga akan mencemari air tanah yang akan digunakan warga untuk aktivitas sehari hari. Sungguh miris! Terdapat beberapa solusi dari permasalah pemukiman padat di kota kota besar, salah satuny adalah dibangunnya rumah susun. Ada juga solusi lain bagi permasalahan ini, namun saat ini dirasa tidak memungkinkan, karena lahan di kota sudah mulai sulit dicari. Pembangunan perumnas atau perumahan nasional akan sangat sulit diwujudkan di kota kota besar, karena hal tadi serta biaya sewa atau beli yang tentunya tidak murah. Pembangunannya juga tidak akan mudah mengingat akses menuju tujuan juga terkendala dengan jalan yang sempit. Belum lagi melakukan relokasi pada perumahan padat dan kumuh milik warga yang pastinya akan membutuhkan upaya yang sangat keras untuk mewujudkannya. Paling tidak untuk membangun perumnas harus dibutuhkan lahan yang cukup, dan wilayah kota yang ada adalah di daerah pinggiran kota. Ini tentunya akan menimbulkan kesulitan nantinya bagi warga, karena jarak dari tempat kerja dengan rumah mereka menjadi jauh. Tempat kerja dan rumah menjadi salah satu faktor kenapa warga masyarakat mau untuk tinggal di daerah padat kumuh seperti itu . Mereka lebih memilih dekat dengan tempat kerja, yakni di daerah kota yang padat, daripada jauh dari tempat mencari nafkah mereka, di pinggiran kota. Rumah susun menjadi cara yang paling rasional serta paling manusiawi dalam memecahkan masalah ini. Dilakukannya pembangunan rusun didasari pertimbangan beberapa hal, yakni jarak tempat kerja dengan rumah warga, jarak sekolah dengan anak anak juga akan tetap, hubungan sosial antar warga juga akan tetap terjaga, dan lain sebagainya. Rumah susun dibangun sedemikian rupa agar warga nyaman dalam sehari harinya. Penataan yang rapi nan lingkungan yang bersih menjadikan rusun untuk tempat utama para penduduk imigran yang datang ke kota kota besar. Biaya yang tidak terlalu mahal juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi warga untuk tinggal di rusun. Berbagai masalah pembangunan di kota kebanyakn adalah masalah lahan, salah satunya pemukiman. Cara satu satunya adalah membuat pemukiman tersebut ke atas. Maksudnya, pemukiman yang biasanya berada pada lahan yang luas dan memanjang, dijadikan bertingakat seperti bangunan tinggi. Sehingga masalah kurangnya lahan dapat terselesaikan, yakni dengan dibangunnya rumah susun. KRITIK dan SARAN Cara penyampaian kajian sudah baik dan bisa difahami. Terlihat dari pemakaian kata kata yang relatif sering ditemui sehari hari. Bahasa yang dipakai sudah sesuai EYD, sehingga pembaca bisa langsung mengerti apa yang dimaksud penulis. Tidak memakai campuran bahasa daerah yang tidak semua pembaca mengerti. Untuk mempertegas pernyataan, ditambah dengan mengutip dari ahli ahli tertentu dari buku lain. Hal seperti ini merupakan langkah yang baik untuk menambah pemahaman dari pembaca. Asal dari kutipan tadi, sumbernya, juga jelas dan tidak seenaknya, sehingga keaslian pernyataan benar benar terjaga. Pembagian sub sub bab yang bagus, sehingga pembaca bisa tahu bagian bagian dari jurnal ini apa saja sub pokoknya. Penjelasan tergolong terlalu panjang, sehingga menyebabkan pembaca agak malas dalam membaca. Sebaiknya secukupnya saja kemudian langsung menuju poin poin utamanya. Penulis kurang memperhatikan adanya gambar atau ilustrasi dalam jurnal ini, sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan tulisan untuk memahami tiap tiap penjelasannya. Sebaiknya ditambah dengan ilustrasi bagaimana pemukiman yang padat dan kumuh di area kota itu, sehingga penafsiran tiap pembaca tidak berbeda beda dan bisa sama dengan apa yang ingin dijelaskan penulis mengenai pemukiman padat penduduk. Penulis tidak memiliki penjelasan yang bervariasi pada kota kota besar lainnya di Indonesia, hanya berkutat di DKI Jakarta saja dan itupun hanya mengenai program pemerintah DKI tentang membangun kampung yang baik. Padahal kota kota lain juga merupakan wilayah yang patut dikaji perkembangan pemukiman padat penduduknya, seperti Surabaya, Bandung, Medan, dan lain lain. Selain itu, tidak ada data yang menjelaskan bagaimana pertambahan luas pemukiman di perkotaan tiap tahunnya. Data seperti itu menurut saya penting agar bisa mamahamkan pembaca mengenai bagaimana perkembangan dan pertumbuhan pemuiman padat di perkotaan. Dengan tidak adanya bukti nyata ini, pembaca harus mencari tahu sendiri agar mengetahui perkembangan hal tadi. Sumber : http://journal.um.ac.id/index.php/pendidikan-geografi/article/view/1950 DAFTAR PUSTAKA Alfana, M. A. F., Giyarsih, S. R., Aryekti, K., & Rahmaningtias, A. (2016). FERTILITAS DAN MIGRASI: KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN UNTUK MIGRAN DI KABUPATEN SLEMAN. NATAPRAJA, 3(1). ANGGLENI, A., Rini Rachmawati, M. T., & Giyarsih, S. R. (2015). KINERJA PELAYANAN PENGURUSAN KARTU TANDA PENDUDUK ELEKTRONIK (KTP-el) DI KECAMATAN RAMBANG DANGKU KABUPATEN MUARA ENIM (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). DWIHATMOJO, R., Luthfi Muta'ali, M. T., & Giyarsih, S. R. (2015). Kajian Ruang Terbuka Hijau di Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Giyarsih, S. R. (1999). Mobilitas Penduduk Daerah Pinggiran Kota. Majalah Geografi Indonesia, 13(1999). Giyarsih, S. R. (2010). URBAN SPRAWL OF THE CITY OF YOGYAKARTA, SPECIAL REFERENCE TO THE STAGEOF SPATIAL TRANSFORMATION (Case Study at Maguwoharjo Village, Sleman District). Indonesian Journal of Geography, 42(1), 49-60. Giyarsih, S.R. 2010a. Pola Spasial Transformasi Wilayah di Koridor Yogyakarta-Surakarta dimuat dalam Jurnal Forum Geografi, Fakultas Geografi UMS, 24(1) : 28-38. Giyarsih, S. R. (2011). Gejala Urban Sprawl sebagai Pemicu Proses Densifikasi Permukiman di Daerah Pinggiran Kota (Urban Fringe Area) Kasus Pinggiran Kota Yogyakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 12(1), 39-45. Giyarsih, S. R. (2015). Pemetaan Kelembagaan dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis DAS Bengawan Solo Hulu. Jurnal Sains&Teknologi Lingkungan, 2(2). Giyarsih, S. R. (2016). Koridor Antar Kota Sebagai Penentu Sinergisme Spasial: Kajian Geografi Yang Semakin Penting. TATALOKA, 14(2), 90-97. Giyarsih, S. R., & Kurniawan, A. (2015). PERSEPSI DAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT MISKIN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS KELURAHAN 3-4 ULU KOTA PALEMBANG (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Giyarsih, Sri Rum, and Muhammad Arif Fahrudin Alfana. (2013). "The Role of Urban Area as the Determinant Factor of Population Growth." Indonesian Journal of Geography 45.1. Harini, R., Giyarsih, S. R., & Budiani, S. R. (2005). Analisis Sektor Unggulan dalam Penyerapan Tenaga Kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta. Majalah Geografi Indonesia, 19(2005). Hidayat, O., & Giyarsih, S. R. (2012). Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Tentang Bahaya Penyakit AIDS. Jurnal Bumi Indonesia, 1(2). Pristiani, Y. D., & Giyarsih, S. R. (2014). Evaluasi Pelaksanaan Program Business Coaching Bagi Pemuda Wirausaha Baru Bank Indonesia Dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Ekonomi Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (Studi di Bank Indonesia Cabang Yogyakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada). Setyono, J. S., Yunus, H. S., & Giyarsih, S. R. (2016). THE SPATIAL PATTERN OF URBANIZATION AND SMALL CITIES DEVELOPMENT IN CENTRAL JAVA: A CASE STUDY OF SEMARANG-YOGYAKARTA-SURAKARTA REGION. Geoplanning: Journal of Geomatics and Planning, 3(1), 53-66. Sriartha, I. Putu, and Sri Rum Giyarsih. (2015). "Spatial Zonation Model of Local Irrigation System Sustainability (A Case of Subak System in Bali)." The Indonesian Journal of Geography 47.2: 142. Sriartha, I. Putu, Suratman Suratman, and Sri Rum Giyarsih. 2015. "The Effect of Regional Development on The Sustainability of Local Irrigation System (A Case of Subak System in Badung Regency, Bali Province)." Forum Geografi. Vol. 29. No. 1. SUSANTI, S., M Baiquni, M. A., Giyarsih, S. R., & Si, M. (2015). STRATEGI PENGHIDUPAN MASYARAKAT KORBAN LUMPUR PANAS SIDOARJO SETELAH RELOKASI PERMUKIMAN DI DESA KEPATIHAN KECAMATAN TULANGAN KABUPATEN SIDOARJO (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).

Judul: Review Jurnal Geo Perkotaan.docx

Oleh: Afifuddin Nasyith


Ikuti kami