Jurnal - Fransiscus Xp Setyadarma

Oleh Rusli Muhammad

247,9 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal - Fransiscus Xp Setyadarma

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA GUNUNG API PURBA NGLANGGERAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL COMMUNITY’S PARTICIPATION IN DEVELOPMENT OF ANCIENT VOLCANIC TOURISM AREA OF NGLANGGERAN OF GUNUNGKIDUL REGENCY Fransiscus XP. Setyadarma1, M. Hatta Jamil2, Muhammad Yunus3 1 Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Gunungkidul 2 Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin 3 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Alamat Korespondensi: Wonosari, Jalan Veteran No. 30 Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Gunungkidul – Daerah Istimewa Yogyakarta Email: franspamenang@gmail.com Hp. 0878 3954 1990 Abstrak Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan kawawan wisata yang dikembangkan oleh masyarakat desa, dalam pengelolaannya harus melibatkan sebanyak mungkin partisipasi masyarakat karena merekalah yang akan merasakan dampak dan manfaatnya. Penelitian ini bertujuan: menganalisa partisipasi warga masyarakat, menganalisa faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat, merumuskan strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis dalam bentuk deskriptif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode analisis SWOT dengan identifikasi berbagai faktor secara sitematis untuk merumuskan strategi. Pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumen. Lokasi penelitian di Desa Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran masyarakat dalam aktivitas kepariwisataan lebih banyak terlibat pada tahap pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Pada tahap perencanaan lebih banyak dilakukan oleh pengelola. Warga masyarakat dilibatkan dalam proses perencanaan ketika kegiatan yang direncanakan sudah memiliki konsep yang jelas. Faktor yang mendukung partisipasi masyarakat adalah: semangat gotong royong, memiliki masalah yang sama yaitu kemiskinan, dan memiliki forum pertemuan untuk menyampaikan aspirasi. Sedangkan faktor yang menjadi penghambat adalah letak geografis dua dusun yang relatif jauh dari pusat aktivitas, profesi utama mayoritas masyarakat adalah petani dan tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. Hasil penghitungan matriks IFAS dan EFAS menghasilkan nilai sumbu X sebesar 0,647 dan Y sebesar 0,556. Hal ini menunjukan posisi strategis berada pada kuadran I, dengan rumusan strategi S-O, yaitu: meningkatkan kerjasama pemerintah desa dan kabupaten, meningkatkan peran pemuda, meningkatkan peran kelompok-kelompok masyarakat, serta meningkatkan kualitas forum pertemuan warga. Kata kunci : partisipasi, pariwisata, strategi, SWOT Abstract Nglanggeran Ancient Volcano is developed by the tourist village communities, the management should involve the participation of the community as much as possible as they will feel the impact and benefits.The aims of the research to analyze the participation of community, to analyze supporting and inhibiting factors participation of community, formulate a strategy to increase community participation in tourism development Nglanggeran Ancient Volcano.This research used a qualitative approach in descriptive analysis. The data analysis technique used in this research using the method of SWOT analysis to formulate a strategy. The collection of data through observation, interviews, and document research. Location of the study in the Village Nglanggeran Gunungkidul, Patuk, Yogyakarta.The results showed that the role of the community in tourism activities more involved at the stage of implementation and evaluation of activities. In the planning stage is mostly done by the manager. Community members involved in the planning process when the planned activities already have a clear concept. Factors that support community participation are: the spirit of mutual cooperation, has the same problem, namely poverty, and have a forum for meeting aspirations. While the bottleneck factor is the geographical location of the two villages that are relatively far from the center of activity, the majority of the community is the main profession of farmers and community education levels are still low. Results IFAS and EFAS matrix calculation produces the X-axis value of 0.647 and Y for 0,556. This shows the strategic position to be in quadrant I, the SO strategy formulation, namely: improving the village and district government cooperation, enhance the role of youth, enhancing the role of community groups, as well as improve the quality of community forum meetings . Keywords : participation, tourism, strategy, SWOT PENDAHULUAN Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor prioritas untuk dikembangkan di Kabupaten Gunungkidul. Prioritas pembangunan sektor pariwisata ini tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Gunungkidul Tahun 2005-2025. Dalam dokumen RPJPD tahapan lima tahunan yang kedua yaitu periode tahun 2010-2015, pembangunan daerah menitikberatkan pada bidang industri kecil dan menengah berbasis pertanian serta pariwisata yang unggul dan mampu menjadi basis aktivitas ekonomi dan menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing. Prioritas pembangunan diarahkan pada : 1) Revitalisasi pertanian; 2) Inovasi pengembangan obyek wisata serta 3) pengembangan perekonomian yang bertumpu pada perdagangan (trade) dan investasi (investment). Pembangunan sektor wisata di Kabupaten Gunungkidul dari tahun ke tahun semakin menunjukkan perkembangan yang positif. Menurut data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul tiga tahun terakhir yaitu tahun 2010 sampai dengan tahun 2012 menunjukkan kenaikan jumlah wisatawan yang cukup signifikan. Pada tahun 2010 jumlah wisatawan mencapai 548.498 orang, sedangkan tahun 2011 sebanyak 675.768 orang atau meningkat 23,2%. Pada tahun 2012 mengalami peningkatan hingga jumlah wisatawan mencapai 960.601 orang atau mengalami peningkatan sebanyak 42,15% dari tahun sebelumnya. Kawasan wisata Gunung Api Purba (GAP) berada di desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, dengan jarak tempuh 22 km dari kota Wonosari. Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Kawasan wisata GAP Nglanggeran menyajikan pesona alam sebuah gunung berapi yang pernah aktif puluhan juta tahun yang lalu (jaman Oligo-Miosen). Ditemukan beberapa bukti lapangan yang menunjukkan bahwa dulu pernah ada aktivitas vulkanis yaitu banyaknya batuan sedimen vulkaniklastik seperti batuan breksi andesit, tufa dan adanya aliran lava andesit di GAP Nglanggeran. Sebuah penelitian terdahulu dilakukan Raharjana (2010) di sebuah Desa Wisata dataran tinggi Dieng yang mengangkat proses partisipasi masyarakat Dieng Kulon dalam membangun desa wisata di lingkungan tempat tinggal mereka. fokus meneliti permasalahan dalam pengembangan desa wisata, pemetaan potensi desa wisata, dan identifikasi potensi jejaring antar lembaga yang dapat mendukung keberlanjutan desa wisata di Dieng Kulon. Keterlibatan warga dalam pengembangan desa wisata menjadi hal yang krusial, sebab dari merekalah akan diketahui dan dipahami sejauh mana potensi wilayahnya. Partisipasi masyarakat hakekatnya bukan semata mendorong terjadinya proses penguatan kapasitas masyarakat lokal, namun dapat berlaku sebagai sebuah mekanisme guna meningkatan pemberdayaan bagi warga untuk terlibat dalam pembangunan secara bersama. Pengembangan kawasan wisata GAP Nglanggeran ini diarahkan pada pengembangan pariwisata yang berbasis masyarakat berwawasan lingkungan. Pengembangan pariwisata di kawasan GAP Nglanggeran harus melibatkan masyarakat lokal, sebagai bagian dari produk pariwisata, kalangan industri juga harus melibatkan masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan, sebab masyarakat lokallah yang harus menanggung dampak kumulatif dari perkembangan wisata (Murphy, 1985 dalam Muallisin, 2007). Berdasarkan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan, menganalisis faktor penghambat dan faktor pendukung, serta merumuskan strategi peningkatan partisipasi masyarakat. METODE Lokasi dan Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan, yaitu dari bulan Nopember sampai dengan Desember 2013 dengan lokasi penelitian di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis dalam bentuk deskriptif, yaitu menganalisis secara komperehensif partisipasi warga masyarakat dalam pengelolaan kawasan wisata GAP Nglanggeran dilihat dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan kepariwisataan. Kemudian menganalisis faktor-faktor yang menjadi pendukung dan penghambat partisipasi masyarakat. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian kualitatif insutrumen penelitian meliputi latar (tempat penelitian), pelaku (orang yang diamati atau diwawancarai) dan peristiwa (apa yang akan di amati) oleh sebab itu untuk mengumpulkan informasi/data dilakukan dengan wawancara mendalam, pengamatan/observasi, studi dokumen dan bahan-bahan visual. Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan tujuan penelitian, yaitu: menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan serta menganalisis faktor penghambat dan faktor pendukung menggunakan analisis diskriptif kualitatif. Kemudian perumusan strategi peningkatan partisipasi masyarakat menggunakan analisis SWOT. Langkah-langkah dalam perumusan strategi sebagai berikut: menyusun matrik IFAS dan EFAS, mengidentifikasi posisi strategi pengembangan melalui diagram SWOT, dan merumuskan strategi pengembangan melalui matrik SWOT. HASIL PENELITIAN Kelembagaan Pengelola Kawasan Wisata Kawasan wisata Gunung Api Purba (GAP) Nglanggeran dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) desa Nglanggeran. Pengelolaan kawasan wisata GAP Nglanggeran ini dipelopori dan dimotori oleh Karang Taruna “Bukit Putra Mandiri”. Pengelolaan diawali pada tahun 1999 dengan kegiatan penanaman pohon di area gunung yang gersang. Pengelolaan oleh karang taruna ini mengalami pasang surut seturut dengan regenerasi karang taruna yang tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 2006 Yogyakarta dan sekitarnya diguncang gempa bumi yang memporak-porandakan banyak rumah-rumah penduduk. Tidak terkecuali kondisi di Desa Nglanggeran pun demikian, 80% rumah penduduk hancur. Hikmah dari bencana gempa bumi ini telah menumbuhkan kesadaran dan semangat gotong royong untuk bangkit dari keterpurukan. Perasaan senasib dalam penderitaan memicu semangat gotong-royong masyarakat untuk mencari sumber daya tambahan bagi pembangunan rumahrumah yang roboh. Pada saat itu karang taruna kembali bangkit untuk menjadi motor penggerak dalam membangun desa mereka. Selain kelembagaan beserta kepengurusan yang telah dimiliki, pengelola kawasan wisata GAP Nglanggeran juga membentuk suatu lembaga berbadan hukum dan sudah memiliki ijin usaha kepariwisatan yaitu Lembaga Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri”. Lembaga Sentra Pemuda ini digunakan sebagai lembaga yang mewakili Kelompok Sadar Wisata untuk meraih peluang keja sama dengan lemba-lembaga lain yang menuntut adanya status badan hukum. Tabel 1 memperlihatkan bentuk-bentuk keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas kepariwisataan yang diselenggarakan oleh pengelola. Aktivitas tersebut terdiri dari lima kegiatan yaitu : 1) Paket jelajah alam; 2) Paket edukasi pertanian; 3) Paket edukasi kuliner; 4) Paket edukasi seni dan budaya; serta 5) Penyelenggaran fasilitas homestay. Partisipasi Masyarakat Pada Perencanaan Kegiatan Dalam melaksanakan tugas pengelolaannya Pokdarwis Desa Nglanggeran dimotori oleh Karang Taruna sehingga perencanaan kegiatan lebih banyak dilakukan oleh para pemuda dan pemudi karang taruna. Tahap awal perencanaan dengan melakukan inventarisasi kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh pengelola, masyarakat dan sumber daya alamnya. Dari hasil inventarisasi muncul kekuatan-kekuatan yang dimiliki yaitu potensi di bidang peternakan, pertanian, perkebunan kesenian dan pariwisata. Tahap lebih lanjut dalam perencanan kegiatan kepariwisataan adalah penyaringan ide-ide dan gagasan oleh pemuda karang taruna. Ide-ide dan gagasan muncul dari pengurus karang taruna dengan delapan orang koordinator masingmasing dusun. Setelah konsep kegiatan kepariwisataan tersusun lebih detil barulah konsep tersebut ditawarkan pada masyarakat melalui pertemuan tingkat desa yang melibatkan lebih banyak lagi masyarakat. Kegiatan yang direncanakan pada tahap awal ini adalah kegitan seputar kepariwisataan yaitu jelajah alam, berbagai macam atraksi antara lain panjat tebing, flying fox dan aneka outbond. Untuk kegiatan yang melibatkan potensi pertanian, kuliner dan kesenian belum dapat dilaksanakan karena belum melibatkan ibu-ibu PKK, kelompok tani dan masyarakat yang terlibat dalam kelompok kesenian. Seiring perjalanan waktu dan pembenahanpembenahan dalam pengelolaan, maka pengelolaan mulai menjangakau bidang kegiatan di bidang pertanian, kuliner, kesenian dan homestay yang melibatkan orang tua. Paket Jelajah Alam Konsep aktivitas jelajah alam ini berawal dari pemanfaatan pesona alam gunung api purba sebagai fokus utama bagi wisatawan yang berkunjung. Wisatawan diajak mendaki sampai puncak melalui jalur pendakian yang disediakan oleh pengelola wisata. Selain penjelajahan kawasan pegunungan, kegiatan lain yang diselenggarakan adalah menampilkan atraksi-atraksi seperti panjat tebing dan flying fox, serta berbagai macam kegiatan outbond. Kegiatan aktivitas jelajah alam tersebut dilaksanakan oleh kelompok pemandu yang memiliki anggota sebanyak 34 orang. Paket Edukasi Pertanian Paket edukasi pertanian merupakan sebuah aktivitas kepariwisataan yang memiliki konsep mengemas tradisi masyarakat yang mayoritas petani menjadi sebuah daya tarik wisata. Kegiatan yang dilaksanakan dalam paket edukasi pertanian ini adalah pembelajaran dalam menanam padi dan kakao serta pengembangan Kawasan Rumah Tangga Lestari, yaitu menanam sayur-sayuran di dalam pot. Pelaksanaan paket edukasi pertanian dibawah koordinasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) “Kumpul Makaryo” Desa Nglanggeran. Untuk setiap kegiatan pemberlajaran pertanian melibatkan sekitar 10 sampai dengan 15 orang. Selain melaksanakan kegiatan edukasi pertanian, Gapoktan “Kumpul Makaryo” juga mengelola kawasan embung buatan dan kebun buah yang juga menjadi obyek wisata buatan. Kebun buah seluas 20 Ha. melibatkan 100 warga masyarakat dari 5 pedusunan. Paket Edukasi Kuliner Olahan Paket kegiatan ini bertujuan pembelajaran proses pengolahan hasil-hasil pertanian di Desa Nglanggeran menjadi aneka makanan dan minuman. Disamping untuk pembelajaran kegiatan ini juga bertujuan untuk menyediakan oleh-oleh makanan khas Desa Nglanggeran. Kegiatan paket ini dilaksanakan oleh ibu-ibu PKK Desa Nglanggeran, dengan membentuk sebuah kelompok yaitu “Purba Rasa” yang sekaligus menjadi merek dari produk-produk yang dihasilkan dan telah mendapatkan sertifikasi ijin produksi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Anggota kelompok “Purba Rasa” ini berjumlah 23 orang (2 orang diantaranya lakilaki). Produk yang dihasilkan antara lain dodol kakao, ceriping pisang dan singkong, lanting, stik keju dan minuman temulawak. Paket Edukasi Seni dan Budaya Paket edukasi seni dan budaya merupakan sebuah kegiatan dengan konsep mengajak wisatawan belajar dan mengenal seni dan budaya masyarakat lokal di Desa Nglanggeran. Wisatawan dapat belajar kesenian tradisional antara lain jathilan, reog, tari-tarian, maupun gamelan hingga pada akhir kunjungan live in mereka mampu mementaskannya. Selain belajar seni, para wisatawan juga dikenalkan dengan budaya tradisional masyarakat seperti unggahungguh atau tata-krama, tradisi kenduren dan lain sebagainya. Penyelenggaraan Fasilitas Homestay Pengelola kawasan wisata GAP Purba menyiapkan 79 rumah warga masyarakat yang rumahnya telah disiapkan untuk homestay. Ada beberapa standar homestay, yaitu: a) Tradisional, yaitu disediakan tempat tinggal seperti apa adanya kondisi masyarakat desa; b) standar, yaitu tempat tinggal yang sudah disesuaikan dengan permintaan wisatawan, seperti kamar mandi yang memadai dengan kloset duduk/jongkok; c) tempat tinggal yang memenuhi standard wisatawan manca negara; d) homestay untuk kelompok yaitu tempat tinggal yang memiliki ruang luas untuk aktivitas berkelompok. Partisipasi Masyarakat dalam Tahap Evaluasi Evaluasi kegiatan dilakukan oleh pengelola bersama masyarakat yang terlibat dalam kegiatan. Penilaian suatu kegiatan dilakukan oleh pihak pelaksana maupun masyarakat yang tidak terlibat secara langsung. Justru masukan dan peniliaian paling banyak didapatkan dari masyarakat yang tidak terlibat dalam kegiatan aktivitas kepariwisataan secara langsung. Secara umum kekurangan yang muncul dalam evaluasi antara lain : keterbatasan waktu masyakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani, peralatan dan perlengkapan yang belum memadai, kapasitas keterampilan dan pengetahuan SDM masyarakat yang masih perlu ditingkatkan serta keorganisasian yang belum terbentuk pada masing-masing kelompok masyarakat yang melaksanakan kegiatan kepariwisataan tersebut. Hasil perhitungan matrik IFAS dan EFAS, nilai sumbu X sebesar 0,647 dan nilai sumbu Y sebesar 0,556. Skoring matrik IFAS disajikan dalam Tabel 2, dan matrik EFAS disajikan dalam Tabel 3. Pemetaan lingkungan strategis berada pada kuadran pertama (I), pada posisi strategi S-O. Posisi strategi pengembangan disajikan dalam Gambar 1. Rumusan strategi pengembangan S-O, yaitu memaksimalkan kekuatan yang dimiliki dengan memanfaatkan peluang yang ada. PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukan bahwa peluang strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata GAP Nglanggeran berada pada posisi strategi S-O sangat menguntungkan. Dimana selain memiliki kekuatan yang lebih besar dari kelemahan juga memiliki peluang yang lebih besar dari pada ancaman yang ada (Azhari, et al., 2013). Rumusan strategi S-O adalah: a) Mendorong peran pemerintah desa untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten; b) Meningkatkan peran pemuda dalam lembaga Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri” untuk melakukan kerja sama dengan pihak non pemerintah untuk mendapatkan sumberdaya tambahan dan promosi wisata; c) Meningkatkan peran kelompok-kelompok masyarakat terutama dalam proses pengembangan dari embung dan kebun buah; d) Meningkatkan kualitas forum pertemuan Insan Wisata Desa Wisata Nglanggeran dengan melibatkan lebih banyak lagi tokoh masyarakat. Rumusan strategi pertama yaitu mendorong peran pemerintah desa untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten diharapkan selain kerjasama di bidang pembinaan dan promosi wisata, pemerintah kabupaten juga berperan dalam pembangunan fisik yang mendukung kegiatan kepariwisataan. Pemerintah desa sebagai pengayom masyarakat insan wisata di desa diharapkan lebih intensif memperjuangkan harapan dari warga desa. Selain itu Diperlukan upaya promosi yang lebih gencar lagi, utamanya kemudahan promosi melalui media internet. Perkembangan teknologi internet, menjadi kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang cepat, tepat, akurat dan lebih signifikan (Nurdianto, et al., 2008); Strategi yang kedua adalah meningkatkan peran pemuda dalam lembaga Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri”. Gerak dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) menjadi lebih luas untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Dengan memiliki ijin resmi usaha kepariwisataan sentra pemuda ini mampu meraih peluang mendapatkan sumberdaya tambahan dari luar. Peran Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri” yang masih bisa ditingkatkan antara lain : a) Kerja sama dengan biro perjalanan, agen travel, dan hotel-hotel di Kota Yogyakarta; b) Mengikuti even-even tingkat nasional, misalnya lomba, seminar dan lain. c) Akses sebagai entrepreneur kreatif untuk mendapatkan sumber dana alternatif, seperti dana Corporate Social Responsibility (CSR). Rumusan strategi ketiga adalah meningkatkan peran kelompok-kelompok masyarakat terutama dalam proses pengembangan dari embung dan kebun buah. Embung dan kebun buah yang baru diresmikan awal tahun 2013 ini tentunya baru bisa dinikmati panen buahbauahnnya setelah kurang lebih lima tahun kedepan. Hal ini merupakan peluang dan tantangan untuk pengelola kawasan wisata GAP Nglanggeran untuk membuat konsep wisata yang tepat. Kelompok-kelompok kegiatan masyarakat yang selama ini telah mendukung pariwisata harus tetap dilibatkan dan ditingkatkan kapasitasnya. Perlu disiapkan pula keberadaan kelompok baru yang sesuai untuk kawasan kebun buah, misalnya kelompok wanita tani, kelompok pedangan buah dan lain sebagainya. Kelompok-kelompok baru ini diharapkan akan memunculkan ide-ide kreativitas yang merupakan sumber daya yang tak terbatas. Kreatifitas dan inovasi sebagai penggerak dalam pertumbuhan ekonomi, yang kemudian lebih popular disebut dengan ekonomi kreatif (Khristianto, 2008). Strategi yang keempat adalah meningkatkan kualitas forum pertemuan Insan Wisata Desa Wisata Nglanggeran dengan melibatkan lebih banyak lagi tokoh masyarakat. Dari lima dusun yang ada di Desa Nglanggeran, hanya tiga dusun yang terlibat aktif dalam pengembangan kawasan wisata GAP Nglanggeran. Hal ini disebabkan letak geografis dua dusun lainnya yang relatif jauh dari pusat kegitan kepariwisataan. Petemuan insan wisata desa wisata Nglanggeran digunakan sebagai forum untuk melibatkan masyarakat dalam aktivitas kepariwisataan mulai dari perencanaan kegiatan, tahap pelaksanaan sampai dengan evaluasi kegiatan. Menurut Cohen dan Uphoff (1977) dalam Salam (2010) dalam melihat tingkat partisipasi masyarakat dapat dilihat dari indikator sebagai berikut: a) Partisipasi dalam pengambilan keputusan; b) Partisipasi dalam pelaksanaan; c) Partisipasi dalam memperoleh keuntungan; dan d) Partisipasi dalam kegiatan evaluasi. Partispasi ini sesuai dengan konsep pemberdayaan masyarakat, yaitu masyarakat secara bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan dan masalahnya, mengupayakan jalan keluarnya dengan cara memobilisasikan segala sumber daya yang diperlukan serta secara bersama-sama merencanakan dan melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Mikkelsen, 2003 dalam Muslim, 2007). Partisipasi masyarakat di Desa Nglanggeran dapat berdasarkan mobilisasinya dikategorikan sebagai partisipasi internal dari dalam atau bottom up. Partisipasi berdasarkan mobilisasi internal (self mobilization) disebut juga partisipasi bottom-up, yaitu partisipasi yang dipicu oleh tiga faktor yaitu terjadinya krisis dalam komunitas masyarakat, adanya bantuan dari luar (donor), dan inspirasi serta kesadaran dari komunitas lainnya. (Shah, et.al, 2012). Krisis yang dihadapi adalah keterpurukan dan kemiskinan akibat bencana gempa bumi yang melanda desa mereka pada tahun 2006. Dari uraian pengelolaan kepariwisataan di Desa Nglanggeran tersebut, tingkat partisipasi masyarakat dapat dikategorikan masuk pada tangga ke-enam dari delapan tangga partisipasi Arnstein yaitu partnership. Menurut Arnstein (1969) dalam Satries (2011) pada tangga partnership ini warga masyarakat diperlakukan selayaknya rekan kerja. Pengelola bermitra dalam merancang dan mengimplementasikan aneka kegiatan kepariwisataan. Satu tahapan di atas partnership adalah delegated power masih belum terlihat di dalam penyelenggaraan aktivitas kepariwisataan. Delegated Power dipahami bahwa pengelola mendelegasikan beberapa kewenangannya kepada warga masyarakat, contohnya masyarakat yang mempunyai hak veto dalam proses pengambilan keputusan. Beberapa faktor pendukung dan penghambat dalam partisipasi warga masyarakat Desa Nglanggeran juga dapat dianalisa dari hasil wawancara dan observasi di lapangan. Sebagai faktor pendukung adalah : a) Semangat gotong royong masyarakat desa Nglanggeran, semangat gotong royong ini tampak pada kegiatan latihan-latihan kesenian dan kegiatan pembersihan sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung; b) Memiliki masalah yang sama yaitu kemiskinan dan keterpurukan, dengan memberikan pemahaman kepada warga masyarakat bahwa kemiskinan dan keterpurukan yang dialami secara kolektif ini harus diatasi secara kolektif juga; serta c) Forum pertemuan untuk menyalurkan aspirasi. Dalam forum ini masyarakat mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menyampaikan segala bentuk partisipasi yang tidak nyata atau abstrak, yaitu partisipasi buah pikiran, pengambilan keputusan dan partisipasi representatif (Deviyanti, 2013). Sedangkan sebagai faktor-faktor yang menghambat partisipasi warga masyarakat Desa Nglanggeran adalah : a) Letak geografis, dua dari lima dusun di Desa Nglanggeran terletak relatif jauh dari pusat kegiatan kepariwisataan sehingga menghambat komunikasi dan akses kegiatan; b) Profesi utama mayoritas masyarakat Desa Nglanggeran adalah petani sehingga aktivitas kepariwisataan seringkali berbenturan dengan aktivitas di sawah atau ladang; serta c) Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan tentang partisipasi masyarakat Desa Nglanggeran maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : a) Dalam pengelolaan kawasan wisata GAP Nglanggeran, Pokdarwis Desa Nglanggeran menyelenggarakan berbagai macam aktivitas kegiatan yang terkelompokkan menjadi lima jenis. Lima jenis aktivitas kegiatan tersebut dikelola oleh kelompok-kelompok masyarakat. Masyarakat sudah dilibatkan dalam tahapan-tahapan pengelolaan yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Selain kelompok masyarakat, mereka memiliki forum untuk menampung aspirasi masyarakat yaitu Forum Insan Desa Wisata yang diselenggarakan tiga puluh lima hari sekali yaitu setiap malam Selasa Kliwon; b) Dalam pengembangan kawasan wisata GAP Nglanggeran terdapat faktor-faktor yang mendukung dan menghambat keterlibatan masyarakat. Faktor pendukung adalah: semangat gotong royong, memiliki masalah yang sama yaitu kemiskinan dan memiliki forum pertemuan untuk menyalurkan aspirasi. Sedangkan faktor-faktor penghambat adalah: letak geografis, profesi utama mayoritas masyarakat petani, dan rendahnya tingkat pendidikan. Strategi peningkatan partisipasi masyarakat Desa Nglanggeran dalam pengembangan kawasan wisata GAP Nglanggeran dirumuskan dalam alternatif strategi S-O, yaitu : a) Mendorong peran pemerintah desa untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah kabupaten; b) Meningkatkan peran pemuda dalam lembaga Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri”; c) Meningkatkan peran kelompok-kelompok masyarakat terutama dalam proses pengembangan dari embung dan kebun buah; d) Meningkatkan kualitas forum pertemuan Insan Wisata Desa Wisata Nglanggeran dengan melibatkan lebih banyak lagi tokoh masyarakat Dari kesimpulan yang telah dirumuskan tersebut, dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut : a) Bagi pengelola kawasan wisata GAP Nglanggeran untuk lebih menguatkan kelembagaan dengan pelatihan kepemimpinan dan manajemen, mengoptimalkan kelompok-kelompok kegiatan masyarakat yang sudah ada dengan membentuk struktur organisasi yang lebih baik, membentuk kelompok-kelompok kegiatan masyarakat yang baru untuk menampung keterlibatan masyarakat yang lebih banyak lagi, serta memperluas wilayah penyelenggaraan kegiatan kepariwisataan; b) Bagi pemerintah kabupaten : meningkatkan pembinaan dan pendampingan terhadap pengelola dan masyarakat Desa Nglanggeran, tetap mempertahankan pengelolaan kawasan wisata GAP Nglanggeran sebagai daerah tujuan wisata yang dikebangkan dengan berbasis pada masyarakat dan berwawasan lingkungan serta pola pengembangan di kawasan wisata GAP Nglanggeran ini dapat dicontoh untuk pengembangan wilayah lain. DAFAR PUSTAKA Azhari, M. H., Yantu, M. R. & Asih, D. W. (2013). Pengembangan Strategi Pemasaran Produk Gula Tapo (Studi Kasus di Desa Ambesia Kecamatan Tomini Kabupaten Parigi Moutong). e-Journal Agrotekbis, Volume 1(1):81-92. Deviyanti, D. (2013). Studi Tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan Di Kelurahan Karang Jati Kecamatan Balikpapan Tengah. eJournal Administrasi Negara, 1(2):380-394. Khristianto, W. (2008). Peluang dan Tantangan Industri Kreatif di Indonesia. Jurnal Bisnis dan Manajemen, 5(1):33-48. Muallisin, I. (2007). Model Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Kota Yogyakarta. Jurnal Penelitian Bappeda Kota Yogyakarta, 2:5-14. Muslim, A. (2007). Pendekatan Partisipatif Dalam Pemberdayaan Masyarakat. Aplikasia, Jumal Aplikasi llmu-ilmu Agama, VIII(2):89-103. Nurdianto, K. Syukur, A. & Soeleman, M. A., (2008). Sistem Pemetaan Potensi Wisata Berbasis WEB dalam Rangka Mendukung Promosi Daerah Pemerintah Daerah Kabupaten Batang. Jurnal Teknologi Informasi, 4(2):1-10. Raharjana, D. T. (2010). Membangun Pariwisata Bersama Rakyat Kajian Partisipasi Lokal dalam Membangun Desa Wisata di Dieng Plateau. Jurnal Kawistar, 2010:1-22. Salam, R. M. (2010). Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Kualitas Permukiman Di Kawasan Pusat Kota Palu. Jurnal "Ruang" Universitas Tadulako, 2(2):8-23. Satries, W. I. (2011). Mengukur Tingkat Partisipasi Masyarakat Kota Bekasi Dalam Penyusunan APBD Melalui Pelaksanaan Musrenbang 2010. Jurnal Kybernan, 2(2): 89-130. Shah, I. A. & Baporikar, N. (2012). Participatory Approach to Development in Pakistan. Journal of Economic and Social Studies, 2(1):111-141. LAMPIRAN Tabel 1. Aktivitas Kepariwisataan Nama Aktivitas Deskripsi Kegiatan Keterlibatan Masyarakat 1. Dikelola oleh Kelompok Pemandu dengan jumlah anggota: 34 orang. Dari 34 anggota yang memiliki spesialisasi: 8 orang untuk outbond dan panjat tebing, 7 orang SAR, 3 orang menguasai bhs Inggris 2. Pembuatan dan pemeliharaan jalur pendakian, arena flying fox 3. Gotong-royong membersihkan sampah 4. Penyediaan lahan untuk area outbond 1. Dikelola oleh kelompok Bapak Tani yang tergabung dalam Gapoktan “Kumpul Makaryo” 2. Jumlah anggota di embung dan kebun buah 100 orang berasal dari 5 dusun. 3. Jumlah anggota yang memberikan edukasi pertanian 10 s.d. 15 orang 4. Menggarap kebun buah seluas 20 Ha 1. Dikelola oleh ibu-ibu PKK dalam Kelompok Kuliner “Purba Rasa” 2. Jumlah anggota 23 orang (2 laki-laki) 3, Memproduksi dodol kakao, ceriping pisang dan singkong, lanting, stick keju dll. serta minuman instan (jahe, temulawak, dll) 4. Berperan sebagai katering dalam penyambutan tamu-tamu khusus Kelompok kesenian yang terlibat : 2 klp Jathilan, 1 klp reog, 1 grup tari remaja putri, 2 klp dangdut (dewasa dan remaja), 1 grup musik keroncong, 1 klp kesenian calung (dalam rintisan), 1 kelompok karawitan (kategori anak dan dewasa 1. Jumlah homestay 79 rumah 2. Jenis homestay: tradisional, standar, dan standar wisman 3. Tersedia juga homestay untuk kelompok live in (makrab dll.) 1 Paket Jelajah Alam Penyelenggaraan kegiatan untuk mengeksplorasi keindahan alam, yaitu jelajah alam, panjat tebing, flying fox serta aneka outbond. 2 Paket Edukasi Pertanian Kegiatan pembelajaran penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanenan buah kakao dan tanaman padi Mengelola embung dan kebun buah 3 Paket Edukasi Kuliner Olahan Pembelajaran pengolahan berbagai produk olahan kuliner dari pertanian, sekaligus memproduksi berbagai macam produk oleh-oleh khas Desa Nglanggeran 4 Paket Edukasi Kesenian dan Budaya Pembelajaran di bidang kesenian dan budaya lokal serta mempersiapkan atraksi kesenian untuk penyambutan tamu dan kirab budaya. 5 Penyelenggaraan Homestay Penyelenggaraan penginapan dengan konsep dimana wisatawan tinggal bersama dengan induk semangnya Wisatawan mengikuti pola kehidupan sehari-hari induk semangnya. Tabel 2. Matriks IFAS Kekuatan/Strength (S) 1 2 3 4 Organisasi pengelola didukung oleh pemerintah desa Memiliki kelompok karang taruna sebagai motor penggerak Memiliki kelompok-kelompok kegiatan masyarakat Memiliki lembaga yang berbadan hukum (Sentra Pemuda “Taruna Purba Mandiri”) 5 Memiliki forum pertemuan Insan Wisata Desa Wisata Nglanggeran Subtotal Kekuatan (S) Bobot Nilai Bobot x Nilai 0,09 0,15 0,12 0,09 2 4 2 3 0,176 0,588 0,235 0,265 0,15 0,59 3 0,441 1,706 0,12 0,09 0,12 3 2 3 0,353 0,176 0,353 0,09 2 0,176 Kelemahan/Weakness (W) 1 2 3 Kelompok kegiatan masyarakat belum terorganisasi dengan baik Kapasitas SDM pengelola yang belum merata Pembinaan usaha kecil yang tergabung dalam kelompok kuliner masih kurang 4 Minimnya pemahaman tentang tata ruang pengembangan kawasan wisata Subtotal Kelemahan (W) Total (S) + (W) Total (S) - Total (W) = sumbu x 0,41 1,00 1,059 2,765 0,647 Tabel 3. Matriks EFAS Peluang/Opportunity (O) Bobot Nilai Bobot x Nilai 1 Dukungan dari pemerintah daerah berupa pembinaan dan promosi wisata 0,11 3 0,333 2 Peluang untuk memperoleh sumber dana tambahan dari luar 3 Peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk meningkatkan kapasitas pengelola 4 Kerja sama dengan agen-agen pariwisata untuk meningkatkan jumlah kunjungan 5 Pengembangan lanjutan dari embung dan kebun buah sebagai agrowisata Total Peluang (O) 0,14 0,14 4 2 0,555 0,278 0,08 3 0,250 0,11 0,58 4 0,444 1,861 Ancaman/Threat (T) Bobot Nilai Bobot x Nilai 0,14 0,11 4 3 0,556 0,333 0,08 2 0,167 0,08 0,42 1,00 3 0,250 1,306 3,167 0,556 1 Masuknya investor dari luar daerah 2 Minimnya bantuan dana dari pemerintah daerah untuk pengembangan kepariwisataan 3 Kurangnya sosialisasi dan penyuluhan untuk mewujudkan kawasan wisata GAP Nglanggeran sebagai geopark 4 Kesempatan bekerja di luar daerah Total Ancaman (T) Total (O) + (T) Total (O) - Total (W) = sumbu y Gambar 1. Diagram SWOT Opportunity Kuadaran I (+,+) Agresif y = 0.556 Weakness Strength x = 0.647 Treath

Judul: Jurnal - Fransiscus Xp Setyadarma

Oleh: Rusli Muhammad


Ikuti kami