Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

Oleh Chika Shafa Maura

983,3 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

JURNAL HASIL PERKULIAHAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI DOSEN PENGAMPU : ADILITA PRAMANTI ANGGA PRASETYO ADI NAMA : CHIKA SHAFA MAURA NPM : P21331119019 SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA GIZI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 2 JAKARTA 2020 PERTEMUAN I SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI A. LATAR BELAKANG Masih banyaknya masyarakat di Indonesia kualitas gizinya sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai gizi masyarakat, gizi buruk, busung lapar di daerah – daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak factor seperti factor ekonomi, sosial budaya, kebiasaan dan kesukaan. Kondisi kesehatan termasuk juga pendidikan atau pengetahuan. Selain tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat, banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, baik faktor individu, keluarga maupun masyarakat, kondisi – kondisi tersebutlah yang harus dipelajari dengan antropologi gizi. B. PERBEDAAN ANTROPOLOGI DAN SOSIOLOGI  ANTROPOLOGI Yaitu Konsumsi masyarakat dengan melihat budaya yang terkandung di dalamnya. Contoh : Makan pakai tangan kanan.  SOSIOLOGI Yaitu Konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh interaksi dan modernisasi. Contoh : Mengajak teman makan burger. C. KENAPA HARUS MEMPELAJARI SOSIO – ANTROPOLOGI GIZI ? Karena masih rendahnya nilai gizi masyarakat di daerah – daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya faktor ekonomi, sosial budaya, kebiasaan dan kesukaan serta pendidikan dan kebudayaan. D. HAL YANG MEMPENGARUHI GIZI MASYARAKAT  Di Kota : 1) Ekonomi 2) Lingkungan 3) Pendidikan 4) Kebiasaan  Di Desa : 1) Ekonomi 2) Sumber Daya Alam E. PENTINGNYA PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN DALAM KESEHATAN GIZI Karena ketika mempunyai pengetahuan bahwa nasi tidak dapat dijadikan sebagai Bahan Makanan Pokok tetapi bisa diganti dengan sagu atau jenis karbohidrat lainnya sehingga nilai gizi dalam kesehatannya berbeda.  Pengetahuan berpengaruh pada pola pikir  Pendidikan berpengaruh pada ekonomi 1   Vegan yaitu makanan yang terbuat dari tumbuhan yang dapat diubah menjadi rasa daging Antroposen yaitu aktivitas manusia yang mengubah atmosfer, perairan laut, keanekaragaman hayati, perubahan karbon, nitrogen, posfor, dan sulfur. Antroposen telah menyebabkan manusia lebih banyak cara untuk memproduksi dan melepaskan karbondioksida ke atmosfer. F. KAITAN ANTARA ANTROPOLOGI DENGAN GIZI MASYARAKAT  ANTROPOLOGI Merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu dari segi keanekaragaman fisik dan kebudayaan yang dihasilkan sehingga setiap manusia itu berbeda – beda.  GIZI Merupakan substansi organik yang dibutuhkan organisme atau makhluk hidup untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan dan pemeliharaan kesehatan.  GIZI MASYARAKAT Merupakan gizi yang berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat. Dengan mempelajari antropologi dapat diketahui mengenai budaya – budaya masyarakat khususnya budaya dalam mengkonsumsi makanan. Dengan mengetahui budaya makan seorang ahli gizi dapat menentukan intervensi gizi apa yang dapat diberikan. Masalah Gizi pada masyarakat disebabkan oleh banyak faktor seperti faktor ekonomi, faktor sosial budaya, tingkat pendidikan, pendapatan dan pelayanan kesehatan yang kurang memadai. Maka dari itu dengan adanya antropologi kita dapat mempelajari budaya masyarakat atau keragaman fisik yang berkaitan dengan makanan atau gizi. G. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GIZI MASYARAKAT 1. Makanan dan Penyakit Secara Langsung kedua hal tersebut menyebabkan masalah gizi masyarakat karena kesehatan seseorang dapat dilihat dari apa yang dikonsumsi. 2. Tingkat Pengetahuan Seseorang yang memiliki pengetahuan yang kurang mengenai gizi akan menyebabkan pola hidup atau pola makan yang kurang baik. 3. Tingkat Ekonomi Bahan pangan yang mahal harganya dapat disubstitusi dengan bahan pangan lain yang harganya terjangkau dan memiliki nilai gizi yang sebanding dengan bahan pangan yang mahal. 4. Pola Asuh Pola makan seorang anak akan tergantung bagaimana seorang ibu mengajarkan tentang makanan kepada anaknya, karena masih ada orang tua yang kurang memperhatikan makanan yang dimakan oleh anaknya. 2 5. Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan yang kurang memadai dapat menyebabkan masyarakat kesulitan mengaksesnya. H. PENTINGNYA ANTROPOLOGI DALAM MEMPELAJARI GIZI MASYARAKAT Karena antropologi mempelajari tentang manusia, maka hal tersebut diperlukan dalam mempelajari gizi masyarakat. Karena dengan mengetahui tentang budaya, perilaku, dan keanekaragaman fisik manusia dapat membantu mengatasi masalah gizi masyarakat, dengan begitu akan mempermudah memberikan intervensi gizi yang tepat. Sehingga permasalahan gizi masyarakat dapat tertangani. I. KEBUDAYAAN KONSUMSI YANG MEMPENGARUHI GIZI MASYARAKAT “KOTA” DAN “DESA” Budaya konsumsi antara masyarakat kota dengan masyarakat desa tidaklah sama, masyarakat yang tinggal di desa sangat terbatas mengenai bahan pangan. Terlebih lagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, mereka hanya memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar daerah tempat tinggalnya. Sulit akses ke daerah terpencil juga memperparah keterbatasan bahan pangan. Kebudayaan masyarakat yang menganggap “makan asalkan kenyang” tanpa memperhatikan nilai gizi, merupakan hal yang salah. Kebudayaan konsumsi masyarakat kota yang mempengaruhi gizi masyarakat adalah seperti sekarang ini telah menjamu tempat – tempat makan yang menyediakan berbagai jenis makanan yang dikemas secara mekanik. Dan pada zaman millennial ini seseorang akan lebih tertarik dengan makanan yang enak rasanya dan memiliki tampilan yang unik dan menarik atau instagramable. Budaya konsumsi masyarakat yang selalu mengikuti perkembangan zaman harus diimbangi dengan pengetahuan mengenai gizi pada makanan yang akan dikonsumsi.  Budaya dipengaruhi sistem kerja dan ekonomi Contoh : Di Jawa : makan lama dipengaruhi oleh tempat Di Perancis : menghormati dengan menghabiskan makanan yang disediakan  Di Kota dipengaruhi pekerjaan yang dia lakukan  Di Desa tidak menuntut kecepatan dan ketepatan J. TOKOH – TOKOH SOSIOLOGI 1. August Comte  Teori Evolusi Sosial atau Teori Hukum a) Tahap Teologis Dimulai sebelum tahun 1300 dan menjadi ciri dunia, pada tahap ini meyakini bahwa sesuatu yang terjadi di dunia dikendalikan oleh kekuatan supranatural yang dimiliki oleh roh, dewa atau tuhan. b) Tahap Metafisik Tahap ini manusia mulai terjadi pergeseran cara pemikirannya. Pada tahap ini muncul konsep – konsep abstrak atau kekuatan abstrak selain tuhan seperti alam. Tahap ini terjadi antara tahun 1300 sampai 1800. 3 c) Tahap Positivisme Pada tahap ini semua gejala alam dan fenomena yang terjadi dapat dijelaskan secara ilmiah berdasarkan peninjauan, pengujian dan dapat dibuktikan secara empiris. Selain itu muncul sekulerisme atau pemisahan di bidang agama dengan bidang yang lain. 2. Emile Durkheim  Teori Solidaritas “ Kesetiakawanan yang menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.”  Teori Fakta Sosial ” Cara bertindak, berfikir dan berperasaan yang berada diluar individu dan memiliki kekuatan memaksa yang mengendalikannya.” 3 Karakteristik Fakta sosial : 1) Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu 2) Fakta sosial memaksa individu 3) Fakta itu tersebar luas terhadap masyarakat atau bersifat umum.  Teori Bunuh Diri Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat : 1) Bunuh diri dalam kesatuan agama 2) Bunuh diri dalam kesatuan keluarga 3) Bunuh diri dalam kesatuan politik Durkheim membagi tipe bunuh diri kedalam 4 macam : 1) Bunuh diri egoitis 2) Bunuh diri altruistis 3) Bunuh diri anomic 4) Bunuh diri fatalistis  Teori tentang Agama “Mengulas sifat – sifat, sumber – sumber, bentuk – bentuk, akibat, dan variasi agama dari sudut pandang sosiologistis. Menurut Durkheim agama berasal dari masyarakat itu sendiri.” 3. Karl Marx  Teori Konflik Memandang bahwa teori konflik lahir dengan beberapa konsepsi yakni konsepsi tentang kelas sosial, perubahan sosial, kekuasaan dan Negara dimana konsepsi – konsepsi tersebut saling berkesinambungan satu sama lain. 4. Marx Webber (Tokoh Sosiologi Classic)  Teori Rasional Choice Suatu tindakan individu sepanjang tindakan individu itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. 4 K. TOKOH – TOKOH ANTROPOLOGI 1. Claude Levi – Strauss 2. Ralph Linton 3. Ruth Benedict 4. Koentjaraningrat (Prof. antropologi UI) L. ANTROPOLOGI DAN GIZI  Antropologi Yaitu salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat (suatu etnis tertentu).  Gizi Yaitu elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.  Antropologi Gizi Merupakan suatu kebiasaan mengenai pola konsumsi yang ada pada masyarakat baik di kota maupun di desa yang mempengaruhi status gizi pada kelompok atau masyarakat itu sendiri. M. GIZI SECARA KEILMUAN Pada abad ke – 20 Mc Collum, Charles G King melanjutkan penelitian vitamin kemudian terus berkembang hingga muncul “Science of nutrition” yaitu suatu cabang ilmu pengetahuan kesehatan atau kedokteran yang berdiri sendiri yaitu Ilmu Gizi. Ilmu Gizi merupakan ilmu pengetahuan yang membahas sifat – sifat nutrient yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya serta akibatnya timbul bila terdapat kekurangan zat gizi. (Soekirman, 2000). Dalam perkembangan selanjutnya permasalahan gizi mulai bermunculan secara kompleks yang tidak dapat di tanggulangi oleh para ahli gizi dan sarjana gizi saja. Sehingga muncul ilmu gizi yang menurut Komite Thomas dan Earl (1994) adalah “The Nutrition Science are the most interdisciplinary of all science” yang arti bebasnya menyatakan bahwa ilmu gizi merupakan ilmu yang melibatkan berbagai displin ilmu pengetahuan. N. SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI GIZI MASYARAKAT  Antropologi dan Sosiologi Gizi Masyarakat merupakan suatu kajian yang multidisiplin di dalam scientific sehingga menjadikan ilmu tersebut sebagai sistem yang efektif dalam menyelesaikan masalah gizi yang terjadi pada masyarakat saat ini.  Fungsi Antropologi dan Sosiologi Gizi sendiri mempelajari sedalam – dalamnya kebudayaan, etnik dan apa saja pengaruhnya, sehingga bila dibawa kedalam masalah gizi masyarakat sangat luas pengaruhnya dan kita bisa mengetahui apa pengaruh dari budaya dan struktur masyarakat terhadap gizi masyarakat itu sendiri.  Sosiologi Gizi Pola konsumsi yang dipengaruhi oleh interaksi, modernisasi, struktur sosial yang mempengaruhi status gizi pada kelompok atau masyarakat itu sendiri. 5 PERTEMUAN II KEBUDAYAAN DAN SISTEM SOSIAL BUDAYA DI INDONESIA KEBUDAYAAN A. PENGERTIAN KEBUDAYAAN Kebudayaan adalah segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan dan diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga dengan cara ini manusia mampu berkomunikasi melestarikan dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap kehidupan. Kebudayaan perulangan - perulangan yang muncul didalam kehidupan manusia melaui struktur - struktur dalam masayrakat. B. PENGERTIAN KEBUDAYAAN MENURUT PARA AHLI 1. Menurut Kontjaraningrat Kebudayaan merupakan keseluruhan dari kelakuan dan hasil yang harus di dapatkan dalam belajar, rasa dan akal budi manusia, semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat. 2. Menurut Selosomarjan Kebudayaan merupakan hasil karya, cipta dan rasa masyarakat. C. UNSUR – UNSUR KEBUDAYAAN 1. Sistem Bahasa Bahasa atau sistem perlembagaan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi ,ciri ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan berserta variasi - variasi dari bahasa itu. 2. Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud didalam ide manusia. 3. Sistem Kekerabatan Unsur budaya yang membentuk manusia menjadi masyarakat melalui berbagai kelompok sosial, kelompok masyarakat kehidupan diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan didalam lingkungan. 4. Sistem Peralatan Manusia selalu berusahan untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda benda tersebut. 5. Sistem Ekonomi Cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain: a. Berburu dan meramu b. Beternak 6 c. Bercocok tanam di lading d. Menangkap ikan e. Bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi 6. Sistem Religi Pengertian sistem kepercayaan lebih luas dari agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sistem kepercayaan berkaitan dengan kekuatan di luar diri manusia. Kepercayaan terhadap dewa - dewa, animisme, dinamisme, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah bukti unsur religi dalam kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan akan ditemukan unsur ini walaupun dalam bentuk yang berbeda. 7. Sistem Kesenian Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah yang melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. SISTEM SOSIAL BUDAYA DI INDONESIA A. SISTEM BUDAYA INDONESIA Sistem budaya indonesia sebagai totalitas nilai, tata sosial dan tata laku masyarakat indonesia. B. FUNGSI SISTEM BUDAYA INDONESIA 1. Dalam Keluarga Keluarga manusia ialah nursery ground. Keluarga ialah alami dan organisasi serta penuh cinta. 2. Dalam Masyarakat Sosial kemasyarakatan sebagai keluarga buatan, kerjasama dan yang juga mempunyai kepentingan yang berbeda. 3. Dalam Berbangsa dan bernegara Dalam kehidupan Bangsa, Organisasi dan Pemerintah harus mengutamakan untuk kepentingan umum. C. SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA DIPERLUKAN UNTUK MEMAHAMI KONDISI SOSIAL INDONESIA 1. Karena sistem sosial dan budaya masyarakat Indonesia sangat HETEROGEN secara VERTIKAL maupun HORIZONTAL. 2. Indonesia merupakan negara yang memiliki susunan masyarakat dengan ciri PLURALITAS yang tinggi D. PLURALITAS MENURUT AL – QUR’AN  Diakui oleh Al Quran - yaitu Surat Al Baqarah ayat 148 bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri.  Manusia harus menerima kenyataan keragaman budaya dan memberikan toleransi kepada masingmasing komunitas dalam menjalankan ibadahnya. 7  Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan. Mereka semua akan dikumpulkan oleh Allah SWT pada hari akhir untuk memperoleh keputusan final. E. ALASAN BELAJAR SISTEM BUDAYA INDONESIA 1. Masyarakat kultural 2. Masyarakat dapat menyebabkan konflik Faktor latent yang menyebabkan konflik yaitu budaya yang dimiliki oleh masing –masing daerah. Cara mencegah konflik di Indonesia dengan : a. Bhineka Tunggal Ika b. Pancasila c. Rasa memiliki terhadap Negara 3. Taste sangat terpengaruh oleh kebudayaan F. PENGERTIAN SISTEM  Sistem merupakan Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagianbagian,komponen-komponen, dan prosesproses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.  Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya. G. GAMBAR SISTEM H. PENYEBAB PLURALITAS MASYARAKAT INDONESIA 1. Keadaan Geografis 2. Letak Indonesia antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sehingga menyebabkan pusat lalu lintas perdagangan dan persebaran agama 3. Iklim yang berbeda berakibat plural secara regional 4. Curah hujan dan kesuburan tanah yang berbeda (Pluralitas lingkungan ekologis) a. Wetrice Cultivation (Pertanian sawah di Jawa dan Bali) b. Shifting Cultivation (Pertanian ladang di luar Jawa)  Untuk memahami Sistem Sosial dan Budaya Indonesia diperlukan penguasaan teori karena fungsi teori adalah memberi makna terhadap realitas sosial. 8 PERTEMUAN III TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL DAN KONFLIK A. ASUMSI DASAR STRUKTURAL FUNGSIONAL Masyarakat terintegrasi atas dasar kata sepakat para anggotanya terhadap nilai dasar kemasyarakatan yang menjadi panutannya. Kesepakatan masyarakat tersebut menjadi general agreements yang memiliki kemampuan mengatasi perbedaan – perbedaan pendapat dan kepentingan dari para anggotanya.Masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi kedalam suatu bentuk equilibrium. B. ISTILAH LAIN PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL 1. Integration Approach 2. Order Approach 3. Equilibrium Approach 4. Structural Fungtional Approach C. TOKOH STRUKTURAL FUNGSIONAL 1. Plato 2. Auguste Comte 3. Herbert Spencer 4. Emile Durkheim 5. Branislaw Malinowski 6. Redcliffe Brown 7. Talcot Parson D. ANGGAPAN DASAR TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL  Masyarakat adalah suatu sistem dari bagian – bagian yang saling berhubungan.  Hubungan dalam masyarakat bersifat ganda dan timbal balik (saling mempengaruhi)  Secara Fundamental, sistem sosial cenderung bergerak kearah equilibrium dan bersifat dinamis  Disfungsi atau ketegangan sosial atau penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian dan proses institusionalisasi.  Perubahan – perubahan dalam sistem sosial bersifat gradual melalui penyesuaian bukan bersifat revolusioner.  Perubahan terjadi melalui 3 macam kemungkinan : 1) Penyesuaian sistem sosial terhadap perubahan dari luar (extra systemic change) 2) Pertumbuhan melalui proses differensiasi structural dan fungsional 3) Penemuan baru oleh anggota masyarakat E. PENILAIAN ATAU KRITIK TERHADAP TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL Terlalu menekankan anggapan dasarnya pada peranan unsur – unsur normatif dan tingkah laku sosial (pengaturan secara normatif terhadap hasrat seseorang untuk menjamin stabilitas sosial). 9 F. STRUKTURAL FUNGSIONAL MENURUT DAVID LOCKWOOD Terdapat Sub Stratium yang berupa disposisi – disposisi yang mengakibatkan timbulnya perbedaan Life Chances (Kesempatan hidup) dan kepentingan – kepentingan yang tidak normatif. Dalam setiap situasi sosial terdapat 2 hal yaitu : a. Tata tertib yang bersifat normatif b. Sub Stratum yang melahirkan konflik G. GAMBARAN SITUASI SOSIAL MENURUT LOCKWOOD H. TEORI TALLCOTT PARSON  Sistem atau tatanan dalam masyarakat yang saling berkaitan, melihat masyarakat sebagai sebuah keseluruhan sistem yang saling berhubungan dan bekerja untuk menciptakan dan mendukung tatanan, keseimbangan dinamis dan stabilitas sosial. I. 4 FUNGSI TINDAKAN PARSON = AGIL 1. ADAPTATION Yaitu mampu menanggulangi situasi eksternal yang gawat atau dapat dikatakan juga mampu beradaptasi secara internal maupun eksternal Contoh : mampu beradaptasi dengan jurusan kesehatan lingkungan dan teknik gigi 2. GOAL ACHIEVEMENT Yaitu harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utama atau dengan kata lain yaitu harus mempunyai tujuan. Contoh : Tujuan di gizi yaitu untuk mendapat akreditasi A 3. INTEGRATION Yaitu mampu mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya atau dengan kata lain mampu berintegrasi dengan diri sendiri (dari dalam) dan dari luar. Contoh : mampu berintegrasi di dalam jurusan gizi poltekkes kemenkes Jakarta II dan dapat berintegrasi dengan jurusan gizi diluar seperti gizi IPB. 10 4. LATENCY Yaitu harus melengkapi, memelihara dan memperbaiki motivasi individual maupun pola kultural. Contoh : mengikuti berbagai perlombaan agar tetap mempertahankan akreditasi A J. FUNGSIONALISM ROBERT K. MERTON Masyarakat merupakan sebuah sistem sosial yang terdiri atas bagian atau elemen saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Tetapi perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. K. KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL 1. Setiap struktur sosial mengandung konflik dan kontradiksi yang bersifat internal dan menjadi penyebab perubahan 2. Reaksi suatu sistem sosial terhadap perubahan yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat Adjustive/tampak 3. Suatu sistem sosial dalam waktu yang panjang dapat mengalami konflik sosial yang bersifat visious circle 4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara gradual melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara revolusioner. L. TEORI KONFLIK  Perubahan Sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat  Konflik adalah gejala yang melekat pada setiap masyarakat  Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan – perubahan sosial  Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain  Unsur – unsur yang bertentangan dalam masyarakat atau kontradiksi intern akibat pembagian kewenangan atau otoritas yang tidak merata dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial Contoh : Reformasi di Indonesia M. TEORI KONFLIK DAHREDORF Karena adanya Assosiasi terkoordinasi secara imperatif (Impetaratively Coordinated Associations/ICA) yang mewakili organisasi - oragnisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. N. IMPETARATIVELY COORDINATED ASSOCIATIONS (ICA)  Terbentuk atas hubungan – hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada dalam masyarakat.  Kekuasaan menunjukkan adanya faktor “paksaan” oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain. Dalam ICA hubungan kekuasaan menjadi “tersahkan” atau “terlegitimasi.”  Dalam ICA terdapat ruling dan ruled (pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai) → yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo, yang dikuasai berusaha mendapatkan status quo. 11   Terdapat dikotomi antara “Dominator” dan “Sub Dominator (Dominated Group dengan Subjugated Group).” Kekuasaan (Power) dan Otoritas (Authority) merupakan sumber yang langka dan selalu diperebutkan dalam sebuah Impetaratively Coordinated Associations Contoh : Anindya dan Putra yang memiliki power dan otoritas, menguasai anak murid di kelas, dan anak kelas yang lain itu dikuasai oleh Anindya dan Putra. O. REALITAS SOSIAL  Sistem Sosial selalu berada dalam konflik yang terus menerus (Continual State of Conflict)  Konflik tercipta karena kepentingan yang saling bertentangan dalam struktur sosial  Kepentingan yang saling bertentangan merupakan refleksi dari perbedaan dalam distribusi kekuasan antar kelompok yang “mendominasi” dan “terdominasi”  Kepentingan cenderung mempolarisasi kedalam dua kelompok kepentingan  Konflik bersifat Dialektika (suatu konflik menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan menurunkan konflik yang berikutnya)  Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang selalu berada dimanapun (Ubiquitous Feature) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik.  Konflik dapat diatasi oleh kekuasaan yang dihimpun di dalam ICA. → ICA yang dominan dapat meredam konflik P. SKEMA PROSES KEPENTINGAN KELOMPOK 12 SEMU MENJADI KELOMPOK PERTEMUAN IV BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK, MASYARAKAT MAJEMUK, DIFERENSIASI SOSIAL, INDUSTRIALISASI, POLA PANGAN HARAPAN SEBAGAI PENGGANTI KETERGANTUNGAN PADA BERAS DAN KEBIJAKAN KONSUMSI PANGAN BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK A. MACAM – MACAM BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK 1. Konsiliasi (Conciliation) Terwujud melalui lembaga – lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan diantara pihak – pihak yang berkonflik.  Lembaga – lembaga bersifat efektif jika : 1) Bersifat otonom dengan wewenang untuk mengambil keputusan tanpa campur tangan pihak lain. 2) Kedudukan lembaga tersebut dalam masyarakt bersifat monopolistis (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian). 3) Peran lembaga harus mampu mengikat kelompok kepentingan yang berlawanan. Termasuk keputusan – keputusan yang dihasilkan. 4) Harus bersifat demokratis.  Prasyarat kelompok kepentingan untuk Konsiliasi 1) Masing-masing kelompok sadar sedang berkonflik. 2) Kelompok - kelompok yang berkonflik terorganisir secara jelas. 3) Setiap kelompok yang berkonflik harus patuh pada “Rule of the games.” 2. Mediasi (Mediation) Pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga untuk memberi nasehat – nasehat penyelesaian konflik. Dengan tujuan untuk mengurangi irasionalitas kelompok yang berkonflik. 3. Perwasitan (Arbitration) Dilakukan atau terjadi jika pihak yang bersengketa bersepakat untuk menerima atau “terpaksa” menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan “keputusan – keputusan” tertentu untuk mengurangi konflik.  Jika pengendalian konflik efektif maka : Konflik akan menjadi kekuatan pendorong terjadinya perubahan – perubahan sosial yang terus berlanjut. B. FUNGSIONAL KONFLIK Fungsi konflik sosial, Katup penyelamat (savety valve), Konflik realistis dan non realistis, Isu Fungsional konflik, Kondisi yang mempengaruhi konflik kelompok dalam dengan kelompok luar. 13 C. FUNGSI KONFLIK LEWIS COSER 1. Konflik Realistis 2. Konflik Non Realistis MASYARAKAT MAJEMUK A. PENGERTIAN MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA Yaitu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalan satu kesatuan politik (Furnival). B. CIRI MASYARAKAT MAJEMUK INDONESIA 1. Dalam kehidupan politik, tidak ada kehendak bersama. 2. Dalam kehidupan ekonomi, tidak ada permintaan sosial yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat (common social demand). 3. Tidak adanya permintaan sosial yang dihayati bersama, menyebabkan karakter ekonomi yang berbeda Ekonomi Majemuk → Masyarakat Majemuk Ekonomi Tunggal → Masyarakat Homogen C. AKIBAT MASYARAKAT MAJEMUK Anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan dan kurang memiliki dasar - dasar untuk saling memahami satu sama lain. D. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MAJEMUK (Pierre L. Van Den Berghe) 1. Terjadi segmentasi kedalam bentuk kelompok - kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda 2. Memiliki struktur sosial yang terbagi - bagi ke dalam lembaga – lembaga yang non komplementer 3. Kurang mengembangkan konsensus antar para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar 4. Relatif sering terjadi konflik 5. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan dalam bidang ekonomi 6. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain E. TERKAIT DENGAN CIRI MASYARAKAT MAJEMUK 1. Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki unit - unit kekerabatan yang bersifat segmenter. 2. Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki differensiasi atau spesialisasi yang tinggi. F. MASYARAKAT YANG MEMILIKI UNIT KEKERABATAN YANG BERSIFAT SEGMENTER Merupakan Suatu masyarakat yang terbagi - bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur kelembagaan yang bersifat homogeny. 14 G. MASYARAKAT YANG MEMILIKI DIFFERENSIASI ATAU SPESIALISASI YANG TINGGI Merupakan Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi fungsional yang tinggi dengan banyak lembagalembaga kemasyarakatan yang saling komplementer dan saling tergantung.  Menurut Van den Berghe Solidaritas Mekanis dan Solidaritas Oganis sulit di tumbuhkan dalam Masyarakat Majemuk karena pengelompokkan yang terjadi bersifat sesaat atas dasar kepentingan praktis. H. FAKTOR YANG MENGINTEGRASIKAN MASYARAKAT MAJEMUK 1. Adanya consensus diantara sebagian besar anggota masyarakat terhadap nilai – nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental 2. Adanya berbagai masyarakat yang berasal dari berbagai kesatuan sosial (cross cutting affiliations) yang akan menyebabkan terjadinya loyalitas ganda (cross cutting loyalities) I. KEMUNGKINAN YANG TERJADI PADA MASYARAKAT MAJEMUK 1. Konflik bersifat Ideologis Terwujud dalam bentuk konflik antara sistem nilai yang dianut oleh serta menjadi ideologi dari berbagai kesatuan sosial. 2. Konflik bersifat Politis Terjadi dalam bentuk pertentangan di dalam pembagian status kekuasaan dan sumber – sumber ekonomi yang terbatas, diantara anggota masyarakat   Dalam situasi “Konflik” masyarakat yang berselisih berusaha mengabaikan diri dengan memperkokoh solidaritas anggota, membentuk oragnisasi kemasyarakatan untuk kesejahteraan dan pertahanan bersama. Faktor tersebut diperkuat oleh adanya paksaan dari suatu kelompok atau kesatuan sosial yang dominan atas kelompok yang lain. J. SUATU INTEGRASI SOSIAL YANG TANGGUH DAPAT BERKEMBANG APABILA : 1. Sebagian besar anggota masyarakat bangsa bersepakat tentang batas – batas territorial dari Negara sebagai suatu kehidupan politik 2. Sebagian besar anggota masyarakat bersepakat mengenai struktur pemerintahan dan aturan – aturan dalam proses politik yang berlaku bagi seluruh masyarakat (William Liddle) K. KONSEP STATUS DAN PERANAN UNTUK MELIHAT HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN SISTEM SOSIAL  STATUS adalah suatu posisi dalam struktur sosial yang menentukan dimana seseorang menempatkan dirinya dalam suatu komunitas dan bagaimana ia diharapkan bersikap dan berhubungan dengan orang lain.  PERANAN adalah pola perilaku yang diharapka dari seseorang yang mempunyai status atau posisi tertentu dalam suatu organisasi atau masyarakat. 15  Dalam suatu Sistem Sosial, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (berperan) sesuai dengan normanorma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem. DIFERENSIASI SOSIAL A. PENGERTIAN DIFERENSIASI SOSIAL Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaanperbedaan yang biasanya sama. Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya. Pengelompokan horizontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial. B. CIRI – CIRI DIFERENSIASI SOSIAL 1. Ciri Fisik Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb. 2. Ciri Sosial Muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor. 3. Ciri Budaya Berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilainilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb. C. BENTUK – BENTUK DIFERENSIASI SOSIAL 1. Diferensiasi Ras Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri - ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri - ciri fisiknya, bukan budayanya. 2. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis) Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras. Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut : - ciri fisik kesenian - bahasa daerah - adat istiadat. 16 3. Diferensiasi Klen (Clan) Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).  Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada: 1) Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga) 2) Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) 3) Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) 4) Masyarakat Flores (klennya disebut Fam)  Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampung-kampung. 4. Diferensiasi Agama Diferensiasi agama merupakan agama/kepercayaannya.  pengelompokan masyarakat berdasarkan Komponen-komponen Agama: 1) Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya. 2) Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya. 3) Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewadewa dan Roh Nenek Moyang. 4) Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng. 5) Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial. 6) Agama dan Masyarakat. Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agama atau terjadi interaksi yang dinamis. 5. Diferensiasi Profesi (pekerjaan) Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb. 6. Diferensiasi Jenis Kelamin Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat lakilaki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita. 7. Diferensiasi Asal Daerah Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. 17  Terbagi menjadi: a. Masyarakat Desa Kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa. b. Masyarakat Kota Kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota. 8. Diferensiasi Partai Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuankesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran. Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai. INDUSTRIALISASI A. PENGANTAR INDUSTRIALISASI Industrialisasi yang terjadi saat ini telah membawa pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Industri memberi mata pencaharian kepada berjutajuta rakyat dalam bidang-bidang yang berbeda. Industri membuka peluang bagi banyak orang untuk mengembangkan kemampuannya. Industri mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya secara industri telah membentuk perilaku, sikap, gaya hidup dan bahkan nilai-nilai dalam masyarakat. B. REVOLUSI INDUSTRI DAN MUNCULNYA KAPITALISME INDUSTRI  Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin.  Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil).  Perkembangan peralatan mesin logam-keseluruhan pada dua dekade pertama dari abad ke-19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri lainnya.  Awal mulai Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kirakira 1760-1830.  Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin bakar dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik. 18 C. DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara, kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan membentuk peradaban, menggantikan kehidupan nomadik. D. ERA INDUSTRIALISASI DI INDONESIA 1. Periode Pendudukan Belanda Industrialisasi di Indonesia, berawal pada perkembangan industri di sektor perubahan, dan baru menjelang tahun 1900, pemerintahan Hindia Belanda saat itu mengalihkan kesektor lain. Perkembangan industrialisasi juga tidak terlepas dari peristiwa dunia, seperti ekspansi Jerman ke negara-negara Eropa, Perang Dunia I, serta Perang Asia Timur Raya. 2. Periode Pendudukan Jepang Kebijakan industri pada masa pendudukan Jepang beralih ke keperluan perang. Dalam masa ini dikembangkan satu kebijakan yaitu kebijakan Ekonomi Wilayah Selatan yang meliputi 2 wilayah, yaitu Hindia Belanda, Malaya, Baruto dan Filipina yang termasuk wilayah pertama, dan Indochina, dan Muangthai termasuk wilayah dua. 3. Periode 20 Tahun Indonesia Merdeka  Perkembangan industri di Indonesia, penggal waktu ketiga ditandai dengan trial dan error dalam pengembangan industri. Hal ini karena bangsa Indonesia memang belum memiliki pengalaman sendiri dalam mengelola industri.  Pada penggal waktu ini ditandai dengan silih bergantinya pemerintahan, sehingga industri tidak berkembang kemudian dibuat Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang disahkan DPR pada tahun 1958 dan berlaku surut hingga 1 Januari 1956.  Tahun 1957 terjadi nasionalisasi pengusaha asing yang secara tidak langsung dimulainya militer masuk dalam dunia bisnis. 4. Periode Orde Baru  Repelita sebagai ganti dari PNSB dimulai dengan target ambisius yaitu meningkatkan hingga 50% produksi dalam waktu 5 tahun. Repelita menekankan pada industri pertanian.  Masa ini terjadi dalam tahap stabilisasi dan reformasi, bimbingan dan penyuluhan, konsolidasi industri kecil, Broad Spektrum, serta pembinaan terbesar.  Repelita ini dibagi dalam Pembanguan Lima Tahun I hingga ke V. 1) Pelita I ditandai dengan probahan proyek pembinaan industri kecil kerajinan rakyat. 2) Pelita II ditandai dengan pemberian fasilitas kredit. 3) Pelita III ditandai dengan keterkaitan industri kecil pada perekonomian Nasional. 4) Pelita IV ditandai dengan program bapak angkat dalam pemberian bahan baku. 5) Pelita V peningkatan fungsi bapak angkat dalam pemasaran. 19 POLA PANGAN HARAPAN (PPH) KETERGANTUNGAN PADA BERAS SEBAGAI A. PANGAN DAN KONSUMSI PANGAN  Pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis bagi hidup umat manusia. Kebutuhan manusia akan pangan ialah mendasar.  Konsumsi Pangan adalah salah satu syarat utama penunjang pangan ditetapkan sebagai bagian dari hak asasi penyelenggaraannya wajib dijamin oleh negara. PENGGANTI keberlangsungan hal yang sangat kehidupan. Kini manusia yang B. PENYELENGGARAAN URUSAN PANGAN DI INDONESIA Penyelenggaraan urusan pangan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 pengganti Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996. Dalam Undang-Undang Pangan ini ditekankan pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat perorangan, dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi dan kearifan lokal secara bermanfaat. C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI PANGAN DAN GIZI 1. Faktor Ekonomi 2. Faktor Pengetahuan 3. Faktor Budaya Masyarakat Indikator kualitas komsumsi pangan ditunjukan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang dipengaruhi oleh keragaman dan keseimbangan konsumsi antar kelompok makanan. D. KONSEP POLA PANGAN HARAPAN (PPH)  Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya, baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspekaspek sosial, ekonomi, budaya, agama, cita rasa.  Pola pangan masyarakat yang mengacu pada Pola Pangan Harapan dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pelaksanaan program diversifikasi pangan. Program diversifikasi bukan bertujuan untuk mengganti bahan pangan pokok beras dengan sumber karbohidrat lain, tetapi untuk mendorong peningkatan sumber zat gizi yang cukup kualitas dan kuantitas, baik komponen gizi makro maupun gizi mikro (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi XI, 2010)  Diversifikasi pangan adalah suatu proses pemanfaatan dan pengembangan suatu bahan pangan sehingga penyediaannya semakin beragam. Latar belakang pengupayaan diversifikasi pangan adalah melihat potensi negara kita yang sangat besar dalam sumber daya hayati.  Divertifikasi pangan juga merupakan solusi untuk mengatasi ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap satu jenis bahan pangan yakni beras. 20 E. TEORI TERBENTUKNYA POLA MAKAN 1. Children’s Food Consumption Behaviour Model Lund and Mark 1969 2. Teori Kode Dimensi Ganda (Multi Dimentional Code Theory) 3. Model Wenkam (1969) 4. Hartog (1995) F. LEWIN’S MOTIVATIONAL MODEL (CHANEL THEORY = TEORI ALUR) 1. Semua Pangan yang dikonsumsi bergerak selangkah demi selangkah melalui alur, yang sifat dan jumlahnya bervariasi antar budaya. 2. Terdapat beragam kekuatan yang menggerakan pangan dalam alur, dan ada juga kekuatan yang dapat mendorong dan menghadang adalah rasa, nilai sosial, dan manfaat bagi kesehatan. KEBIJAKAN KONSUMSI PANGAN A. PROGRAM KEBIJAKAN KONSUMSI PANGAN Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. 1. Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) 2. Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) 3. Sosialisasi dan Promosi P2KP B. POTENSI SUMBER DAYA PANGAN 1. Pemanfaatan lahan rumah 2. Budidaya tanaman pagar C. POTENSI PANGAN LOKAL 1. Mengurangi ketergantungan beras 2. Meningkatkan potensi ekonomi local 3. Mengenal berbagai jenis makanan khas Indonesia 4. Pariswisata D. MEMENUHI GIZI MASYARAKAT 1. Kuantitas Pangan 2. Kualitas Pangan 3. Mencegah Stunting 4. Penyuluhan kepada masyarakat E. KEUNTUNGAN KEBIJAKAN DIVERSIVIKASI PANGAN RUMAH TANGGA 1. Dalam lingkup Nasional pengurangan konsumsi beras memberikan dampak positif 2. Konsumsi Pangan akan merubah alokasi sumber daya kearah efisien 3. Nutrisi untuk mewujudkan PPH F. PERAN AKADEMISI DALAM KEBIJAKAN PANGAN 1. Melakukan Penyuluhan 2. Mewujudkan Tridarma Perguruan Tinggi 3. Transformasi Budaya dan Nilai 21 PERTEMUAN V ANALISIS JURNAL KELOMPOK KELAS D4 A JURNAL 1 (HUBUNGAN SARAPAN DAN SOSIAL BUDAYA DENGAN STATUS GIZI ANAK SD PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG) A. NAMA JURNAL Sosio-Cultural Nutrition B. PENULIS 1. Maria Helena Dua Nita 2. Dua Hanim 3. Prasodjo 4. Suminah C. KATEGORI JURNAL Penelitian Gizi dan Makanan D. PERMASALAHAN Masalah gizi pada anak sekolah adalah rendahnya asupan energi pada sarapan pagi. Sarapan pagi anak sekolah sangatlah penting kerena dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah daerah dengan prevalensi kurus ( IMT/U) tertinggi (7,8 %) pada anak usia 5-12 tahun. E. TUJUAN DAN MANFAAT Untuk menganalisis sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi dengan status gizi anak SD di daerah terpencil di Pulau Semau. F. PENULIS MENYELESAIKAN MASALAH 1. Teknik Observasional dengan desain cross sectional. 2. Tempat SD di Kecamatan Semau Pulau Semau Kabupaten Kupang 3. Jumlah Anak 112 anak SD dengan sistem random sampling 4. Data a. Karakteristik umum b. Asupan kalori c. Asupan protein d. Sosial budaya e. Pengetahuan gizi, selera, kebiasaan makan, suku, pantangan makan G. SUBJEK DAN OBJEK PENELITIAN 1. Subjek Penelitian Anak kelas 5 SD di Pulau Semau Kabupaten Kupang, sebanyak 112 anak. 22 2. Objek Penelitian Sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi (pengetahuan gizi, selera makan, kebiasaan makan, pantangan makan, suku) dengan status gizi anak sekolah dasar. H. TEORI SOSIOLOGI YANG DIGUNAKAN Teori Planned Behavior merupakan suatu teori yang menjelaskan tentang perilaku manusia. Teori ini disusun menggunakan asumsi dasar bahwa manusia berperilaku dengan cara yang sadar dan mempertimbangkan segala informasi yang tersedia. I. KESIMPULAN  Sarapan pagi sebaiknya menyumbangkan energi 25% dari kebutuhan gizi harian. Sarapan pagi mencegah hipoglikemia, menstabilkan kadar glukosa darah dan mencegah dehidrasi setelah berpuasa sepanjang malam.  Aktivitas fisik berlebih yang tidak diikuti dengan pemenuhan gizi seimbang dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh dan dapat menyebabkan gizi kurang.  Selain itu, dalam 10 pesan dasar gizi seimbang antara lain biasakan mengonsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi. Oleh karena itu, kedua protein perlu dikonsumsi bersama-sama agar kualitas protein lebih baik dan sempurna.  Perilaku kesehatan terhadap makanan (nutrition behavior) adalah suatu respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan.  Memiliki pengetahuan yang tinggi cenderung memilih makanan yang mengandung nilai gizi yang tinggi, sehingga ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi dengan kebiasaan sarapan.  Budaya mempengaruhi perbedaan cita rasa, dan aroma makanan. Pola makan atau food pattern seseorang berkaitan dengan kebiasaan makan atau food habit.  Hubungan budaya terhadap pangan atau makanan ditandai dengan jenis menu, cara mengolah, dan menghidangkan berdasarkan suku bangsanya. JURNAL 2 (POLA MAKAN MIE INSTAN STUDI ANTROPOLOGI GIZI PADA MAHASISWA ANTROPOLOGI FISIP UNAIR) A. NAMA JURNAL BioKultur, Vol.II/No.1/Januari-Juni 2013, hal 27-40 B. PENULIS JURNAL Nurcahyo Tri Arianto C. TAHUN PENULISAN JURNAL Januari 2013 D. KATEGORI JURNAL Kesehatan (Gizi) E. SUBJEK PENELITIAN Mahasiswa Antropologi Fisip Univeritas Airlangga 23 F. OBJEK PENELITIAN Budaya pola makan Mi Instan G. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan sosial-budaya, dengan metode kuali-tatif dalam pegumpulan data. Usaha untuk menggunakan metode kualitatif dalam pengumpulan data, analisis data, dan in-terpretasi data yang komprehensif dan holistik akan dapat diperoleh hasil penelitian yang memadai sesuai dengan topik penelitian ini H. PERMASALAHAN  Pola konsumsi makanan, sebagian besar dipengaruhi faktor sosial-budaya, antara lain pengetahuan, nilai, norma, kepercayaan, sikap, dan perilaku, khususnya yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup (life style), selera, dan gengsi, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan.  Gaya hidup mahasiswa tentang mi instan sudah bukan merupakan hal asing bagi kita, karena sebenarnya banyak hal terkait aspek positif maupun negatif. Dari aspek positif, mi instan merupakan produk olahan yang proses memasaknya mudah dan praktis. Dan juga mudah didapat serta murah harganya.  Dari aspek negatif, masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa mi instan mengandung zat kimia pengawet dan penyedap yang jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan terus-menerus akan mengakibatkan kanker getah bening beserta resiko-resiko lain yang dapat menyebabkan kematian I. TUJUAN DAN MANFAAT  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisi kurangnya kajian aspek sosialbudaya mengenai pola makan mi instan, dan mengkaji pengaruh aspek sosialbudaya terhadap pola makan mi instan, yang berkaitan dengan: pengetahuan, nilai, kepercayaan (pantangan atau tabu), bentuk atau pola (perilaku), alasan yang mendasari, serta perubahan yang terjadi akibat pola konsumsi mi instan.  Manfaat dari penelitian ini adalah agar mahasiswa dapat menerapkan pola yang baik dan benar dalam mengonsumsi mie instan serta dapat selalu menjadikan diri mereka pribadi yang pola makannya bergantung pada mie instan. J. PEMBAHARUAN Dalam penelitian jurnal tersebut Pola makan mi instan, terutama pada mahasiswa kos, meningkat sejalan dengan aspek positif mi instan, yaitu mudah, cepat, murah, dan praktis, sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka. Beberapa mahasiswa mengemukakan bahwa kebiasaan itu memang sudah terjadi pada waktu mereka masih ikut orang tua, dan kebiasaan itu masih dilakukan ketika mereka kos, bahkan konsumsinya lebih intensif. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa masih ada beberapa mahasiswa yang tidak mengetahui bahaya dari mi instan dan tidak memperhatikan pola makan. 24 K. KESIMPULAN  Pola makan mi instan, pada mahasiswa kos, meningkat sejalan aspek positif mi instan, yaitu mudah, cepat, murah, praktis, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya.  Beberapa mahasiswa mengemukakan kebiasaan itu sudah terjadi ketika masih ikut orang tua, dan ketika kos kebiasaan itu masih dilakukan. Hal ini berkaitan selera atau pilihan pribadinya.  Kebiasaan makan terbukti merupakan yang paling menentang perubahan di antara semua kebiasaan. Kesukaan pribadi merupakan kenyataan lain yang juga membatasi keragaman makanan yang dikonsumsi. JURNAL 3 (PENGETAHUAN LOKAL IBU TENTANG PENTINGNYA GIZI DAN SARAPAN PAGI BAGI ANAK) A. NAMA JURNAL Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi Volume 1 no 1 November B. PENELITI Syahlan Mattiro (Universitas Lambung Mangkurat) C. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Pulau Kerayaan Kabupaten Kotabaru 2018 D. KATEGORI JURNAL Pendidikan E. SUBJEK PENELITIAN Ibu-Ibu di Pulau Kerayaan yang memiliki anak yang sekolah pada tingkat Sekolah Dasar. F. OBJEK PENELITIAN Pengetahuan mengenai pentingnya sarapan pagi G. PERMASALAHAN Suatu bangsa dikatakan semakin maju apabila tingkat pendidikan penduduknya semakin baik, derajat kesehatan tinggi, dll. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Dan diharapkan meningkatkan penggunaan Sumber daya makanan yg tersedia dan dapat merencanakan sarapan pagi sehat dan bervariasi pada anak. H. TUJUAN PENELITIAN  Tujuan Khusus Menguraikan pemahaman/pengetahuan ibu-ibu yang ada di Pulau Kerayaan tentang pemahaman mereka tentang Gizi, sarapan pagi terhadap potensi belajar anak. 25  Tujuan Umum 1) Mengidentifikasi pengetahuan Ibu tentang gizi dan sarapan pagi 2) Menganalisa hubungan pengetahuan Ibu tentang gizi, sarapan pagi terhadap potensi belajar anak sekolah di SDN Kerayaan Utara I. METODE PENELITIAN Metode Kualitatif dengan pendekatan emik. Peneliti memilih informan dengan menggunakan teknik purposive sampling. J. PEMAHAMAN MENGENAI ISI JURNAL 1. Pengetahuan Ibu terhadap Gizi 2. Mendorong pola sarapan yang berhubungan dengan prestasi belajar anak 3. Peningkatan penggunaan sumber daya makanan yang tersedia 4. Tingkat kecukupan energi dan zat gizi tinggi K. ANALISIS TERHADAP ISI JURNAL 1. Analisis Audien yang Dituju 2. Objektivitas Penulis 3. Pencakupan (coverage) 4. Gaya Penulisan 5. Ulasan Evaluatif L. KESIMPULAN Pada umumnya, sarapan pagi sebelum berangkat sekolah itu sangatlah penting untuk keberlangsungan belajar anak dalam sekolah. Sebagian besar ibu belum mengetahui pentingnya sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. M. REKOMENDASI Memanfaatkan adanya kegiatan penyuluhan masyarakat diharapkan orang tua (ibu) dappat mengetahui pentingnya memberi sarapan pagi bagi anak. 26 PERTEMUAN VI ANALISIS JURNAL KELOMPOK KELAS D4 B DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI JURNAL 1 (HUBUNGAN SARAPAN DAN SOSBUD DENGAN STATUS GIZI ANAK SD PULAU SEMAU KABUPATEN KUPANG) A. NAMA JURNAL Sosio-Cultural Nutrition. B. PENULIS 5. Maria Helena Dua Nita 6. Dua Hanim 7. Prasodjo 8. Suminah C. KATEGORI JURNAL Penelitian Gizi dan Makanan D. TEKNIK Observasi dengan desain cross sectional E. TEMPAT SD di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Pulau Semau F. SUBJEK PENELITIAN Anak kelas 5 SD di Pulau Semau Kabupaten Kupang, sebanyak 112 anak. G. OBJEK PENELITIAN Sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi (pengetahuan gizi, selera makan, kebiasaan makan, pantangan makan, suku) dengan status gizi anak sekolah dasar. H. TUJUAN PENELITIAN 1. Menganalisis Sosial Budaya Gizi 2. Menganalisis Sumbangan Energi Sarapan I. PERMASALAHAN Menurut Riskesdas 2013, di Pulau Semau Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang memiliki prevalensi anak kurus pada usia 512 tahun tertinggi mencapai 7,8 %. a. Kekurangan energy dan protein (KEP) b. Rendahnya asupan energi pada saat sarapan pagi. c. 112 anak SD Pulau Semau kekurangan gizi d. Sering melewatkan sarapan pagi dan gizi tak seimbang e. Sarapan pagi dapat menyumbang 25% asupan gizi harian 27 J. MANFAAT SARAPAN PAGI 1. Mencegah Hipoglikemia 2. Menstabilkan kadar glukosa darah 3. Mencegah dehidrasi 4. Meningkatkan konsentrasi 5. Menambah kecerdasan K. FAKTOR KEKURANGAN GIZI ANAK DI PULAU SEMAU  Keadaan Geografis 1) Dekat pantai 2) Berpasir 3) Suhu udara yang panas 4) Jalan masih berbatu 5) Belum beraspal  Aktivitas Jalan kaki ke sekolah L. PERILAKU MAKAN 1. Tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan makan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pilihan makanan. 2. Cara individu memilih pangan daan mengonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, sosial budaya. 3. Dipengaruhi factor lingkungan dan menjadi ciri khas masyarakat tertentu. M. FAKTOR YANG MEMBENTUK POLA MAKAN 1. Personal Preference 2. Status Social Dan Ekonomi 3. Rasa Lapar, Nafsu Makan, Dan Rasa Kenyang 4. Kesehatan 5. Budaya 6. Agama N. HASIL PENELITIAN  Sebanyak 35% selera makan masyarakat enak tetapi banyak mengalami status gizi kurus.  Kebiasaan pola makan yang kurang dengan aktivitas tinggi menyebabkan ketidakseimbangan energi dalam tubuh dan dapat menyebabkan gizi kurang.  Keterbatasan konsumsi protein nabati.  Sebanyak 97 anak (86.6%) mengalami asupan protein kurang. O. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI 1. Faktor Pendidikan Dan Pengetahuan Ibu 2. Faktor Kebiasaan 3. Faktor Kesediaan Pangan 4. Faktor Pekerjaan P. KESIMPULAN Tidak ada hubungan antara asupan energi dan asupan protein dengan status anak, dan juga sosial budaya gizi dipulau tersebut. 28 JURNAL 2 (DIMENSI ETIS TERHADAP BUDAYA MAKAN DAN DAMPAKNYA PADA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Penyakit Flu Burung pada awal tahun 2004 menghebohkan masyarakat indonesia. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ada keterkaitan antara perilaku makan manusia khususnya makanan yang berasal dari hewani maupun yang lain tidak hanya terkait dengan kesehatan melainkan juga dengan etika. B. KETERKAITAN SOSIAL PADA MAKANAN Keterikatan sosial pada makanan mucul ketika makanan itu disajikan pada berbagai peristiwa yang dialami oleh individu maupun masyarakat. C. KATEGORI MAKANAN 1) Makanan boleh dimakan 2) Makanan tidak boleh dimakan Kategori ini berasal dari latar belakang budaya, contohnya : budaya orang Padang yang suka makan pedas dan budaya orang Jawa yang tidak suka makan pedas. D. KESIMPULAN Memakan makanan yang diijinkan berati patuh dan taat pada norma budaya yang ada, tetapi sekaligus membawa "keselamatan" bagi dirinya agar tidak melakukan pelanggaran. makanan dikategorikan menajdi makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. JURNAL 3 (KAJIAN MAKANAN DALAM PERSPEKTIF ANTHROPOLOGI) A. PENULIS Yevita Nurti (Dosen tetap jurusan antropologi FISIP Universitas Andalas). B. TANGGAL PENULISAN 10 Juni 2017 C. KAJIAN PENELITIAN Topik yang diangkat merupakan penjelasan bahwa pola makan di suatu daerah tidak akan bisa di pisahkan dari kebudayaan setempat yang tumbuh dan berkembang mempengaruhi lingkungan sosial. D. MASALAH UTAMA Makanan tidak akan memiliki makna apa apa kecuali makanan itu dilihat dari dalam kebudayaan/jaringan interaksi sosialnya.kebiasaan makan akan di pengaruhi oleh budaya yang tumbuh sejak lama di daerah tersebut. E. STUDI YANG MEMBAHAS Hunger and Work in a Savage Society (1932) oleh Audrey Richards, Nutriment (1986) oleh Foster and Anderson, Bryant et al (1985) oleh Rappaport, dll. 29 F. KESIMPULAN adanya makanan sangat berkaitan erat dengan sebuah kebudayaan yang ada pada suatu kelompok masyarakat, karena hal itulah yang akan menimbulkan banyak kepercayaan yang dianut sehingga menimbulkan banyak pantangan pada suatu makanan yang juga akan berdampak pada gizi mereka. TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN A. AWAL MULA TEKNOLOGI PANGAN  Sejarah teknologi pangan dimulai ketika Nicolas Appert mengalengkan bahan pangan, sebuah proses yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun ketika itu, Nicolas Appert mengaplikasikannya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan terkait pangan.  Teknologi pangan berdasarkan ilmu pengetahuan dimulai oleh Louis Pasteur ketika mencoba untuk mencegah kerusakan akibat mikroba pada fasilitas fermentasi anggur setelah melakukan penelitian terhadap anggur yang terinfeksi.  Pasteur juga menemukan proses yang disebut pasteurisasi, yaitu pemanasan susu dan produk susu untuk membunuh mikroba yang ada di dalamnya dengan perubahan sifat dari susu yang minimal. B. MANFAAT TEKNOLOGI PANGAN 1. Ketersediaan pangan 2. Alam menghasilkan bahan pangan 3. Kebutuhan manusia akan pangan adalah rutin 4. Teknik pengawetan juga memungkinkan untuk mendistribusikan bahan pangan secara merata ke seluruh penjuru dunia C. PRASARANA EKONOMI DAN KOMUNIKASI  Transportasi sangat penting peranannya bagi daerah baik itu perdesaan atau daerah urban di negara-negara yang sedang berkembang, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi.  Infrastruktur fisik terutama jaringan jalan sebagai pembentuk struktur ruang nasional memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun sosial budaya kehidupan masyarakat. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan tempat bertumpu perkembangan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketersediaan jalan yang memadai. D. PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN 1. Memperpanjang waktu dan jumlah persediaan 2. Memudahkan penyimpanan dan distribusi 3. Meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial 4. Meningkatkan nilai gizi E. PENYIMPANAN PASCA PANEN 1. Mencegah susut bobot 2. Memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan 3. Meningkatkan nilai ekonomi 30 PERTEMUAN VII TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI A. PENGERTIAN MASYARAKAT KONSUMSI Masyarakat yang mengkonsumsi bukan hanya barang , namun juga jasa dan jasa yang saling berhubungan dengan manusia. B. CIRI – CIRI MASYARAKAT KONSUMSI 1. Tidak pernah mengkonsumsi objek itu sendiri dalam nilai gunanya 2. Objek selalau dimanipulasi sebagai tanda yang memebedakan status antara dengan individu C. TEORI SIMULAKRA  bahwa objek tidak hanya dikonsumsi dalam sebuah masyarakat konsumeris, mereka diproduksi lebih banyak untuk menandakan status daripada untuk memenuhi kebutuhan. masyarakat konsumeris yang lengkap (thorough-going) objek menjadi tanda, dan lingkungan kebutuhan, jika memang ada, jauh ditinggalkan. (Lechte, 2001:354).  Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi – manusia justru melakukan diferensiasi (perbedaan) yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi (Lechte, 2001:354). D. TERBENTUKNYA GAYA HIDUP PADA MASYARAKAT KONSUMSI 1. Pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan serta kompleks-kompleks rekreasi dan gaya hidup rekreatif, mulai dari kafe-kafe ‘bergaya’ tertentu hingga bangunanbangunan Disneyworld. 2. Peningkatan berbagai bentuk kegiatan 3. Belanja, mulai dari pemesanan lewat pos, mal-mal hingga penjualan di atas mobil dan toko barang-barang bekas. 4. Peningkatan penekanan pada gaya, desain, dan penampilan barang-barang. E. TEKNOLOGI DAN KEBIASAAN MAKAN    Kebiasaan makan didefinisikan sebagai perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk memnuhi kebutuhan makan yang melibatkan sikap, kepercayaan, dan pilihan makanan (Irwan, 2004) Pada usia remaja, kebiasaan makan dipengaruhi oleh lingkungan, teman sebaya, kehidupan sosial, dan kegiatan yang dilakukannya di luar rumah (soekantri 2006) Kebiasaan makan adalah tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan makan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pemilihan makanan, bukan merupakan bawaan dari lahir namun merupakan hasil pembelajaran. F. FAKTOR DALAM KEBIASAAN MAKAN 1. Tingkat ekonomi 2. Pengaruh teman sebaya 3. Suasana dalam keluarga 4. Kemajuan insdustri makanan / Teknologi 31 G. PENGARUH TEKNOLOGI DALAM KEBIASAAN MAKAN  Masyarakat Digital 1) Setiap aktivitas manusia akan digerakkan melalui serangkaian teknologi digital. 2) Relasi yang terbangun di antara individu adalah relasi pertukaran digital.  Masyarakat satu dimensi 1) Suatu masyarakt yang seluruh aspek kehidupanya diarahkan kepada satu tujuan, meskipun banyak memperoleh kemudahan tetapi teralienasi. 2) Manusia telah direpresi oleh masyrakat keseluruhan dan kekuasaan teknologi telah membuat masayrakat kehilangan kesadaran kritisnya. H. PERILAKU MAKAN Tingkah laku yang dapat diamati yang dilakukan oleh Individu dalam rangka memenuhi kebutuhan makan. I. TEKNOLOGI VS MAKANAN  Perkembangan teknologi diantaranya teknologi pengolahan dan teknologi informasi, telah mengakibatkan perubahan pola makan, terutama di negara maju dan masyarakat kota besar di negara berkembang. Mereka mulai menyadari pentingnya makanan sehat, aman, bergizi dan halal.  Trend perubahan pola makan ini berpengaruh pula pada teknologi pengolahan makanan di negara berkembang. Produsen termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM) akhirnya berlomba-lomba untuk memenuhi harapan konsumen. J. PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PERILAKU MAKAN 1) Perdanagan makanan global (global trade) 2) Akses listrik dan alat elektronik 3) Teknologi pengolahan pangan 4) Modernisasi dan globalisasi 32 PERTEMUAN IX INOVASI SOSIAL A. MUNCULNYA INOVASI Inovasi tidak muncul dengan sendirinya melainkan muncul dengan solidaritas. Inovasi berkembang pada era pembangunan dengan merubah hal hal lama pada perilaku masyarakat (dari yang tidak tahu tentang pengetahuan tekhnologi sekarang menjadi tahu). B. PENGERTIAN INOVASI  Inovasi berasal dari bahasa Inggris “inovation” yaitu penemuan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya. Penemuan disini berbeda arti dengan kata diskoveri, kalau discovey itu penemuan yang sudah ada sebelumnya, tetapi belum diketahu seseorang. Sebagai contoh penemuan Benua Amerika tetapi baru ditemukan sekitar tahun 1942 oleh orang Eropa. Sedangkan inovasi itu penemuan yang benar benar berbeda dari sebelumnya dan belum ada sebelumnya, sehingga diciptakan untuk mencapai tujuan dan bermanfaat bagi orang bamyak.  Secara Etimologi, Inovasi adalah suatu metode atau produk yang diciptakan yang kemudian masyarakat itu dapat merasakannya, inovasi manfaatnya harus dirasakan oleh semua masyarakat jika tidak maka tidak dapat dikatakan dengan motivasi. C. TUJUAN INOVASI Inovasi memiliki tujuan untuk perbaikan mutu hidup, yang dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu : 1. Ekonomi Memberi kesempatan untuk masyarakat dalam membuka lapangan pekerjaan baru. 2. Sosial Memperluas dan memperkuat hubungan masyarakat, dengan inovasi ini masyarakat dapat terus melakukan hubungan serta berfikir ide idenya dengan bersama untuk bermanfaat bagi semuanya 3. Budaya Dapat mempermudah masyarakat dalam megembangkan suatu budaya yang ada dalam masyarakat di daerah tersebut 4. Ideologi, politik, maupun pertahanan dan keamanan berkaitan dengan Negara, dengan adanya inovasi maka akan meningkatkan kualitas dari Negara tersebut. D. INOVASI SOSIAL Dalam inovasi sosial terdapat : a. Fakta Sosial (sangat penting untuk dipahami dan tidak tidak diabaikan) Seperti fakta baru yang terlihat setelah pembelajaran online, dan tidak perlu mengeluarkan dana untuk pergi kuliah. b. Perubahan Sosial c. Sistem Sosial (dapat diubah oleh kebiasaan baru) 33 E. CONTOH INOVASI  Dalam Pendidikan Adanya seorang guru mengajar dengan cara yang membuat kelas ribut. Meskipun tadinya dianggap mengganggu dari adat yang sebelumnya dijalankan akan tetapi pada faktanya dengan cara itulah keberhasilan yang di dapatkan adalah meningkatkan semangat siswa belajar.  Dalam Budaya Adanya pembaharuan dalam memanfaatkan teknologi. Banyak ditemukan aplikasi di adroid yang membuat musik angklung secara online, musik dan suaranya diciptkan sama persis akan tetapi untuk alat yang dipergunakan berbeda dengan keadaan sebelumnya, yang cederung dengan tradisional.  Dalam Masyarakat Pertanian menggunakan traktor padahal pada saat sebelumnya pertanian menggunakan bajak sawah yang memanfaatkan hewan kerbau.  Dalam Kehidupan sehari – hari Berinterkasi dengan orang lain,yang dahulu dipergunakan melalui surat menyurat akan tetapi pada saat ini bisa memanfaatkan media sosial, menelphon, dan kegiatan lainnya. F. TEORI FAKTA SOSIAL Teori Fakta Sosial ini dikemukakan oleh Emile Durkheim, yang mengatakan bahwa “Cara bertindak, berfikir, dan berperasaan yang berada diluar individu dan memiliki kekuatan memaksa yang mengendalikannya.  3 Karakteristik Fakta Sosial : 1. Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu 2. Fakta Sosial memaksa individu 3. Fakta itu tersebar luas terhadap masyarakat atau bersifat umum G. KONSEP PERUBAHAN SOSIAL Perubahan sosial terjadi di kehidupan sehari – hari, kemudian perubahan sosial itu tidak lepas dari fakta sosial yang menyakitkan, bahwa masyarakat merupakan makhluk sosial yang bergerak secara dinamis. Perubahan sosial itu memiliki sifat sifat pembaharuan yang disebut “Inovativeness.” H. UNSUR PERUBAHAN SOSIAL 1) Informasi Komunikasi (meliputi pengaruh media massa) 2) Birokrasi ( keterkaitan birokrasi sipil dan militer) 3) Ideologi ( meliputi agama dan HAM) 4) Modal ( meliputi modal finansial dan SDM) 5) Teknologi (unsur yang cepat berubah dan sangat tergantung pada kepemilikan modal)  Inovasi merupakan suatu proses pembaharuan dari sumber sumer alam, energi, modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya sistem produk produk yang baru. 34 I. 3 HAL DIKATAKAN INOVASI SERTA BERKAITAN HUBUNGANNYA : 1) Pembaharuan Kebudayaan 2) Teknologi 3) Perekonomian yang dinamis J. INOVASI DALAM SOSIOLOGI Yaitu sikap yang dimiliki oleh seseorang untuk menerima cara baru dalam penempatan nilai budaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam inovasi upaya pencapaian tujuan tidak dilakukan dengan cara yang konvensional dan dilarang, karena dapat merusak integrasi sosial dan keteraturan sosial. K. INNOVATIVENESS BENJAMIN Inovasi sosial tentang bagaimana inovasi muncul karena adanya solidaritas dan kepercayaan, adanya pasar, pencipta, dan pengguna. Contoh : aplikasi GoMeeting yang marak digunakan, karena pasar membutuhkan hal ini agar proses pembelajaran terus berlanjut. L. THE CRISIS TEORY OF TOUGHT Memiliki arti bahwa manusia hanya berfikir ketika kepepet, kondisi ini yang terjadi sekarang seperti COVID – 19, pemburuan yang menjadi pemicu akhirnya manusia mulai memakan binatang liar sehingga dapat menyebakan COVID – 19. M. PENDORONG TERJADINYA INOVASI 1) Modernisasi Ketika kita mampu mengikuti apa yang digunakan oleh masyarakat atau orang – orang Barat, padahal tidak sesuai dengan kebiasaan kita. 2) Kapitalisme Kebutuhan Ekologi berubah menjadi kebutuhan masyarakat 3) Pengetahuan Berbagai negeri berlomba – lomba untuk menciptakan Vaksin COVID – 19 yang dapat menyebabkan keuntungan. N. STRUKTUR SOSIAL Pendekatan sosiologis mencoba untuk menjelaskan struktur sosial yang mempengaruhi proses dan produk dari sebuah aktivitasi inovasi. Struktur sosial mempengaruhi perilaku yang dapat membantu kita untuk menjelaskan proses inovasi. Struktur sosial, aktivitas, perilaku menjelaskan inovasi dalam beberapa level dan tahap dari proses inovasi karena merupakan society. O. TAHAPAN / PROSES INOVASI 1) Tahap Pengetahuan tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Ada tiga tipe pengetahuan dalam tahap pengenalan inovasi, yaitu: kesadaran/pengetahuan mengenai adanya inovasi, pengetahuan “teknis” dan pengetahuan “prinsip.” 35 2) Tahap Bujukan (Persuasi) Pada tahap persuasi dari proses keputusan inovasi, seseorang membentuk sikap menyenangi atau tidak menyenangi terhadap inovasi. Jika pada tahap pengetahuan proses kegiatan mental yang utama bidang kognitif, maka pada tahap persuasi yang berperan utama bidang afektif atau perasaan. 3) Tahap Keputusan berlangsung jika seseorang melakukan kegiatan yang mengarah untuk menetapkan menerima atau menolak inovasi. 4) Tahap Implementasi Keputusan penerimaan gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktek. Pada umumnya implementasi mengikuti hasil keputusan inovasi. 5) Tahap Konfirmasi Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula. Tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi, yang berlangsung dalam waktu yang tak terbatas. P. RASIONALITAS Rasional merupakan bagian dari ilmu sosiologi terapan, bagaimana model inovasi dapat diterapkan pada perkembangan masyarakat. Q. UTTERBACK Menjelaskan pola aktivitas membuat perusahaan di masyarakat dipengaruhi oleh tekonologi, terutama yang berkaitan dengan manufaktur, hal itu membuka pintu focus lebih besar dari inovasi produk ke inovasi pikiran, teknologi berkaitan dengan how to make a product, inovasi selalu mengunci kata teknologi. R. RAW Menjelaskan tentang bagaimana sebuah organisasi baru menjadi sebuah media yang dapat mencontohkan penemuan itu (inovasi). S. INOVASI PROSES Meeus dan Edquist juga membagi menjadi dua inovasi proses yaitu inovasi kategori-teknologi dan organisasi: 1. Inovasi Proses Teknologi mengubah cara produk yang diproduksi dengan memperkenalkan perubahan teknologi (fisik peralatan, teknik, sistem) 2. Inovas Organisasi inovasi dalam struktur organisasi, strategi, dan proses administrasi. T. CONCLUSION Secara umum, sosiologis berfokus pada peran dalam masyarakat, ada proses, serta ada inovasi yang selalu digunakan. Jika suatu hal hanya digunakan hanya di beberapa orang tertentu atau manfaat nya tidak dirasakan oleh semua orang maka hal tersebut belum bisa dikatakan sebagai inovasi. Tidak ada tekonologi yang dihasilkan tanpa adanya pemikiran dari sosiologi. 36 PERTEMUAN X REKAYASA SOSIAL DAN DINAMIKA GIZI REKAYASA SOSIAL (SOCIAL ENGINEERING) A. PENGERTIAN REKAYASA SOSIAL (SOCIAL ENGINEERING)  Social Engineering berasal dari bahasa Inggris yaitu dari kata “Social” yang berarti “Kemasyarakatan” Seperti kita ketahui, bahwa paradigma sosial sesungguhnya memusatkan pada wilayah aksi dan interaksi antara individu satu dengan individu yang lainnya, perilaku sosial dalam hal ini akan selalu menjadi pusat standardisasi sejauh mana tingkat perilaku manusia dalam berinteraksi. Ketika sebuah perilaku individu tidak sesuai dengan normanorma sosial maka interaksi sosial terhambat sehingga muncul apa yang di sebut dengan problem sosial dan kata “Engineering” yang berarti “Keahlian Teknik” atau “Pabrik Mesin”. Akan tetapi mengalami arti yang lebih luas ketika masuk dalam wilayah sosial, keahlian teknik atau pabrik mesin mengalami perluasan makna menjadi suatu upaya merekayasa suatu objek -sosial- dengan segala perencanaan yang matang untuk mewujudkan transformasi soaial sesuai dengan target perekayasa atau “engineer”.  Dapat disimpulkan bahwa Rekayasa Sosial (Social Engineering) adalah suatu upaya dalam rangka transformasi sosial secara terencana “social planning”, istilah ini mempunyai makna yang luas dan pragmatis. Obyeknya adalah masyarakat menuju suatu tatanan dan sistemyang lebih baik sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh sang perekayasa atau the social engineer. Maka upaya rekayasa ini muncul berawal dari problem sosial, yaitu ketidak seimbangan antara das sollen dengan das sein, atau apa di kita cita-citakan dimasyarakat tidak sesuai dengan apa yang terjadi. B. MENURUT PARA AHLI DAN SEJARAH  Menurut Less dan Presley (Tokoh Sosiolog) Social Engineering adalah upaya yang mengandung unsur perencanaan, yang diimplementasikan hingga diaktualisasikan di dalam kehidupan nyata.  Menurut Tinjauan Sejarah Munculnya istilah social engineering adalah ketika rezim orde baru berada pada posisi puncak tiraninya sekitar tahun 1986. Rekayasa sosial merupakan perencanaan sosial yang muaranya pada transformasi sosial, didukung dengan internalisasi nilainilai humanisasi yang tinggi. Seringkali kita memaknai rekayasa adalah suatu upaya negatif, hal ini dikarenakan kita terjebak dalam satu situasi kekuasaan atau kegiatankegiatan praktis rekayasa dilakukan oleh eliteelite politik yang mempunyai tujuan untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu.  Menurut Jalaludin Rahmat Memaknai Rekayasa Sosial membawa nuansa baru tentang pemaknaan istilah tersebut menuju ke dalam perubahan positif (transformasi) yang pada akhirnya mengatasi berbagai masalah sosial yang muncul. Dan ada satu hal yang menarik bahwa suatu perubahan tidak akan muncul ketika kita masih terjebak dalam kesalahan berfikir. 37  Rekayasa Sosial ada kerena adanya permasalahan sosial dan tidak menutup kemungkinanpermasalahan individu akan menjadi permasalahan sosial. Sehingga harus ada pembedaanyang jelas antar permasalah sosial dengan permasalahan individu. Permasalahan sosial adalah keadaan buruk yang hanya bisa diperbaiki dengan tindakan kolektif.  Rekayasa Sosial adalah upaya untuk mempengaruhi sikap popular baik kelompok swasta atau pemerintah. Masyarakat terdorong untuk mengikuti arahan dari kelompok swasta atau pemerintah bukan karena keinginan mereka. Prinsipnya membangun interaksi antara ilmu dalam proses peningkatan kesejahteraan public, hal ini merupakan interdisplin suatu ilmu pengetahuan karena memerlukan interaksi yang mampu merubah konstruksi sosial yang baru, sehingga sosiologi menggunakan rekayasa sosial untuk merubah perilaku sosial. Kebijakan Sosial Masyarakat atau Kebijakan Publik ini berguna untuk membantu kemiskinan. C. TAHAPAN REKAYASA SOSIAL 1) Perencanaan Partisipatif Pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam merencanakan rekayasa sosial di daerahnya. Contoh : Di Daerah A ingin diadakannya poskamling yang di dalam poskamling tersebut tersedia WIFI 2) Mendorong Perencana agar terfokus pada masyarakat Contoh : Pemberantasan gizi buruk di Indonesia Timur serta bentuk perencanaan pada setiap individu. 3) Media Perantara 4) Rencana harus lebih bisa mengajak masyarakat Contoh : SDGs yang ada unsur penyetaraan gender D. STEREOTYPE KESETARAAN GENDER PADA REKAYASA SOSIAL  Konsep kesetaraan gender adalah hal yang sangat penting untuk para perempuan agar mengetahui peran, posisi serta tanggung jawabnya dalam bermasyarakat. Nasarudin Umar dalam bukunya Argumen Kesetaraan Gender (2001) menyatakan bahwa gender adalah konsep kultural yang digunakan untuk memberi identifikasi perbedaan dalam hal peran, perilaku dan lain-lain antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dimasyarakat yang didasarkan pada rekayasa sosial. Jelas adanya gender dalam hal ini adalah sesuatu yang di bentuk oleh lingkungan masyarakat.  Sebagian besar kebijakan pemerintahan terlalu bias terhadap kesetaraan gender, seperti perempuan yang hanya bisa dirumah dan mengurus anak. Rekayasa sosial disini berfungsi agar terjadinya adanya kesetaraan gender di kebijakan pemerintahan. Stereotype di dalam pembangunan, di dalam proses perumusan kebijakan dimana biasanya aspek gender tidak muncul atau dilupakan karena sebagian besar yang membuat kebijakan tersebut itu belum mengerti apa itu gender apa itu keadilan. Maka dari itu social engineering sangat dibtuuhkan dalam kesetaraan gender di dalam pembangunan. 38 E. MENGAPA DI REKAYASA SOSIAL TERDAPAT KESETARAAN GENDER ? karena sebagian besar kebijakan - kebijakan yang ada di pemerintah itu tidak terlalu luas tentang gender. Contoh perempuan harus dirumah, dll. Dan engineer membuat rekayasa social di dalam arus kesetaraan gender untuk membuat relasi yang baik antara laki-laki dan perempuan. Jadi laki - laki tidak mendominasi perempuan. F. INTERAKSI LINGKUNGAN DAN SOSIAL  Para engineer dan para sosiolog memiliki pandangan yang berbeda.Engineer mempelajari perubahan yang ada dimasyarakat. Sosiolog hanya memandang dari sudut interaksi tanpa melihat cara yang dapat dilakukan untuk melakukan perubahan Para engineer mempelajari perubahan yang harus di dapati oleh masyarakat dalam pembangunan fisik lingkungan di sekitarnya, karena basic rekayasa social bukan sosiologi murni. Mereka tidak melihat bagaimana merubah cara dan kontruksi di masyarakat. Contoh : ketika ada masalah sampah di sekitar kita, orang sosiolog berbicara “oh berarti tingkat kesadaran masyarakat di dalam pemisahan sampah masih kurang”(menganalisis), sedangkan engineer melakukan perubahan agar masyarakat tidak melakukan hal itu lagi. G. INTERAKSI SOSIAL Interaksi Sosial bisa disebut juga sebagai adaptasi manusia atau ekologi manusia. Ekologi manusia merupakan interaksi antara manusia dengan alam, Semakin banyak populasi, makin mempengaruhi kondisi lingkungan. Contoh : a. Dampak karbon yang berkurang karna adanya social distancing . b. Dengan adanya corona, kita bisa memanfaatkan makanan sehingga meminimalisir produksi makanan yang mempengaruhi kualitas makan kita. Karena ketika produksi makanan berlebih menjadi buruk H. PROTOKOL KYOTO DAN PERJANJIAN PARIS (KTT BUMI) Kerja engineering pada social thinking, public spare di dalam masyarakat itu semakin hari semakin tidak ada. Ada perencanaan bahwa sutu saat nanti tubuh kita akan dipasang inplan gadget Contoh : a. Perang dagang antara cina dan amerika dimana cina menghabisi produksi ulang gadget yang berasal dari cina untuk menghancurkan produksi ekonomi di cina karena di cina menggunakan home made dengan tujuan untuk mengurangi biaya produksi pembangunan sebuah pabrik. b. Saat pilpres, di social media diarahkan untuk kelompok x atau y jika tidak masuk ke salah satu kelompok tersebut maka dianggap golput. I. KERJA REKAYASA SOSIAL DALAM FENOMENA SOSIAL 1) Hubungan Interaksi Sosial Hubungan antara individu dengan masyarakat seperti dimaksud menunjukkan bahwa individu memiliki status yang relative dominan terhadap masyarakat, sedangkan lainnya menganggap bahwa individu itu tunduk pada masyarakat. 2) Manusia Membangun Telepati dengan Implant Gadget Adanya perencanaan implant gadget pada manusia, sedangkan pada hewan dipasang untuk menjaga kepunahan dengan memperhatikan aktivitasnya. 39 J. GERAKAN SOSIAL  Gerakan Sosial merupakan Interdisiplin yang melibatkan ilmu sosial serta ilmu politik. Gerakan Sosial merupakan bagian dari Rekayasa Sosial karena adanya pihak yang diuntungkan maupun pihak yang dirugikan serta adanya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat. Gerakan Sosial dan Kekacauan itu berbeda, Gerakan sosial yaitu melakukan suatu gerakan yang direncanakan serta memiliki tujuan tertentu sedangkan kekacauan yaitu melakukan gerakan yang tidak direncanakan serta tidak memiliki tujuan.  Gerakan Sosial ini berkaitan dengan Rekayasa Sosial, di dalam rekayasa sosial terdapat Teori Konflik. Teori Konflik merubah struktur atau merubah tatanan yang dianggap mendominasi sehingga berubah menjadi tatanan baru dalam suatu masyarakat.  Contoh Gerakan Sosial : Demo mahasiswa dan Revolusi Perancis. Pada Revolusi Perancis adanya perlawanan karena dominasi raja Louis memberikan pajak yang tinggi kepada masyarakatnya sehingga masyarakat tidak terima atas perlakuan tersebut yang menyebabkan timbulnya perlawanan.  Teori Konflik dapat digunakan untuk menganalisis Rekayasa Sosial Contoh : Ketua kelas D4 2A alfonso kok gaenak yaa orangnyaa, gasopan. Kemudian gita ngomong kepada teman teman untuk mengganti ketua kelas, jika ketua kelas berhasil digantikan maka engineering berhasil.  Debrevasi relative Yaitu Keinginan seseorang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya Contoh : 1) Ketika pekerja di perusahaan gajinya 1 juta, tetapi gaji UMR nya itu tidak mencukupi kredit yang dilakukan di setiap bulannya (tidak cukup membayar credit). Di dalam teori gerakan sosisal akan melakukan perlawanan akan hal itu untuk naik gaji. 2) Petani hanya melakukan perlawanan perlawanan tidak melakukan perlawanan secara konstitusi. 3) Raja swiss memberikan pajak yang tinggi, orang perancis sudah tidak mampu membayar pajak karena kurangnya ekonomi mereka dan mereka melakukan perlawanan. K. REKAYASA DALAM BIDANG GIZI  Rekayasa dalam bidang gizi salah satunya kebijakan pemerintah. Misalnya penurunan angka kematian yang tinggi dan penerimaan anak sd yang meningkat, dengan kebutuhan anak SD yang memerlukan status gizi anak yang penting dalam rekayasa pembangunan dalam bidang gizi.  Fokus rekayasa gizi yang telah dilakukan adalah pada : a. Stunting Stunting disebabkan oleh malnutrisi dan terkena infeksi yang jika dipandang dalam sisi sosiologis anak menjadi minder, berkurangnya kemampuan mencari pekerjaan dan lain – lain . b. Tubuh Kurus Tubuh Kurus disebabkan oleh penurunan berat badan yang secara tepat maka pada bilik – bilik gym atau tempat olahraga diadakan bilik konsultasi gizi agar setiap manusia memenuhi gizi yang cukup. 40 c. Obesitas pada orang dewasa yang ada di US, yang dipandang dalam ilmu sosiologis dapat menimbulkan efek minder sehingga timbul adanya bullying akan bentuk fisik. Pemberian vibes yang mendukung rekayasa gizi seperti ajakan atau dukungan untuk memerangi permasalahan gizi, mempraktikan aktivitas yang dapat mendukung pemenuhan gizi sebagai rekayasa gizi. L. MC DONALISASI  McDonalisasi merupakan sebuah proses dengan prinsip-prinsip dari restoran cepat saji. Semakin lama semakin banyak sektor dari masyarakat Amerika dan sejumlah besar masyarakat lainnya di seluruh dunia. Sistem yang diterapkan McDonald dalam proses sosial masyarakat modern.  McDonaldisasi adalah istilah yang dikemukakan oleh George Ritzer (sosiolog dari Universitas Maryland) dalam The McDonaldization of Society (1993) untuk menunjukkan suatu proses dimana prinsip-prinsip restoran cepat saji (lebih khusus lagi: McDonald’s) mulai mendominasi berbagai sektor masyarakat di seluruh dunia, mulai dari bisnis restoran, pendidikan, dunia kerja, biro periklanan. M. KOMPONEN MCDONALISASI YANG TERDAPAT DALAM MASYARAKAT 1) Efisiensi Dalam prinsip restoran cepat saji, prinsip efisiensi dalam bekerja sangat diutamakan. Mereka harus optimal dalam bekerja dengan berupaya mendapatkan dan memanfaatkan sarana sebaik mungkin, dengan melibatkan sejumlah pekerja yang diberikan tugas khusus dan dibantu dengan ketersediaan teknologi modern. Sehingga dengan mengatasnamakan 'efisiensi', produk yang diciptakan pun dituntut harus sederhana. Penyerderhanaan produk dilakukan agar produk dapat segera dikonsumsi dan cepat saji. Para pekerja juga terpaksa mengikuti aturan dan standar yang telah baku, begitu pun konsumen. 2) Kalkulasi Di dalam McDonaldisasi, pengoptimalan kuantitas lebih dipertimbangkan daripada kualitas. Hal ini dapat dilihat pada waktu, proses, dan hasil akhir yang didapatkan. Berkaitan dengan masalah waktu dan proses, dalam sistem yang terMcDonaldidasikan maka kecepatan sangat diutamakan agar diperoleh efisiensi. Seperti di restauran cepat saji, mereka harus benar-benar mengikuti aturan yang telah ditetapkan agar semua dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Baik pekerja atau konsumen dituntut untuk "buru-buru" agar dapat mengoptimalkan waktu. Tidak boleh ada waktu yang terbuang percuma. Sehingga produk yang diciptakan pun menjadi produk cepat saji nan instan. 3) Prediktabilitas Prinsip prediktabilitas menuntut suatu restaurant cepat saji sejenis McDonald harus dapat menyajikan produk yang hasilnya mudah ditebak orang rasanya di berbagai cabang mana pun. Sehingga ada penyeragaman bahan mentah dan proses produksi yang menggunakan teknologi yang sama. Maka tidak heran kita akan menemukan rasa ayam goreng, burger, saus, atau minuman yang sama di berbagai cabang McDonald atau restaurant cepat saji lainnya di seluruh Indonesia. 41 4) Control Prinsip kontrol juga dapat kita lihat pada penerapan sistem restaurant cepat saji ini. Demi meningkatkan kuantitas kerja, maka dioptimalkan lah kerja mesin guna mengganti atau mengatasi keterbatasan dari manusia. Ini dilakukan untuk memudahkan kontrol atas kerja, pekerja, dan pelanggan. Di McDonald, KFC, Pizza Hut, dan restaurant cepat saji lainnya kita dapat dengan mudahnya menemukan berbagai alat canggih yang memudahkan pekerja melayani pelanggannya. Seperti sistem kasir digital, penyediaan minuman dengan alat, mesin-mesin listrik, dll. Semua disediakan untuk mempermudah kinerja. DINAMIKA GIZI Ada beberapa yang mempengaruhi Gizi di Indonesia, yaitu : 1) Demografi Demografi dipengaruhi oleh urbanisasi dari daerah ke kota yang menyebabkan gaji yang dihasilkan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Kesenjangan kelas juga bisa menyebabkan hal ini, yang kaya dapat memenuhi semua kebutuhan, sedangkan yang kekurangan akan terus kekurangan. 2) Berubahnya makanan pokok pada masyarakat daerah karena adanya pembangunan pemerataan gizi .Misalnya di daerah garut yang banyak penanaman buah tetapi masyarakatnya tetap jarang makan buah. 3) Lifestyle makanan pada remaja 42 PERTEMUAN XI DINAMIKA GIZI DI INDONESIA A. SEJARAH GIZI DI INDONESIA  Permasalahan gizi dimulai di Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan nama “usaha perbaikan gizi keluarga.” Pemerintah bekerjasama dengan BKKBN dan meluas hingga di Jawa dan Bali. Sasaran utama pada ibu dan anak balita, pada tahun 19761977 banyak balita yang mengalami gizi buruk maka, Pemerintah melakukan penyuluhan dan revolusi hijau yang terjadi di Subang dan Indramayu. Dengan langkah : 1. Latihan informasi seperti penyuluhan, penyadaran gizi secara luas, serta meningkatkan kesadaran gizi. 2. Adanya kursus pelatihan kader gizi sebanyak 103 orang. 3. Kursus kader di kecamatan dan kelurahan 4. Survey dilakukan untuk mengetahui permasalahan gizi di masyarakat dan di dengan adanya taman gizi oleh kader yang tadi sudah terlatih.  Hasil studi terhadap evaluasi status gizi anak balita menunjukkan implikasi masih banyak anak balita yang memiliki gizi buruk di Sumatera Barat dimana prevalensi gizi buruk sekitar 17,6 persen dan gizi kurang sekitar 14 persen, kemiskinan dan tingkat pendidikan orang tua merupakan faktor utama penyebab balita menderita gizi buruk dan gizi kurang. Ini menjadi kompleks ketika intervensi dari pemerintah untuk kemiskinan sangat lemah terutama pada komunitas perikanan, komunitas pertanian tradisional dan komunitas perkotaan sehingga tidak mampu memberikan perubahan   untuk kesejahteraan masyarakat dan menimbulkan masalah balita gizi buruk dan gizi kurang. Upaya sistematis diperlukan untuk mengintegrasikan program untuk mengatasi kemiskinan dan program untuk menyediakan makanan agar dapat meminimalkan risiko gizi buruk dan gizi kurang dalam masyarakat. Permasalahan gizi merupakan salah satu kompleksitas di masyarakat karena, untuk menghasilkan generasi penerus yang bagus maka, harus memenuhi gizi pada balita sehingga menunjang kehidupan setelahnya. Permasalahan gizi dalam pembangunan kependudukan merupakan hal utama di dunia, pada tahun 2015 UNICEF mengeluarkan peraturan dalam MDGs, negara harus mengurangi pravalensi gizi buruk sebanyak 15%. Pemerataan gizi sangat perlu diperhatikan untuk mendukung golden age atau 1000 hari pertama kehidupan. B. FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DINAMIKA GIZI DI INDONESIA 1. Demografi Semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin sedikit peluang didapatkannya pekerjaan. 2. Urbanisasi Sebagaian besar masyarakat kota yang bekerja di sektor informal menjadi kurang dalam pemenuhan gizi, lebih kepada tataran pemenuhan kehidupan mereka. Jika di pedesaan lebih berfokus kepada konstruksi atau kebudayaan dalam pemenuhan gizi. Perbedaan masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan, jika masyarakat perkotaan dia lebih pada pemenuhannya sedangkan pada masyarakat 43 pedesaan terkait masalah konstruksi sehingga kurang mengerti masalah gizi karena mereka berfikir bahwa makanan yang mereka makan asalkan kenyang itu sudah memenuhi kebutuhan gizi mereka, padahal kenyataan nya belum memenuhi kebutuhan gizi mereka. 3. Pengetahuan Pengetahuan disini penting, dikarenakan masyarakat perlu edukasi gizi tidak hanya dlm jangka pendek tetapi jangka panjang sebagai asset, masyarakat di Indonesia belum mengerti gizi seimbang, masalah pengetahuan terutama ibu – ibu yg memiliki balita. Pengetahuan menjadi penting karena dengan pengetahuan kita bisa memenuhi gizi dengan mencari nilai gizi yang setara dengan yg makanan mahal tetapi kualitas gizi nya tetap sama. Contoh : Sayur yang kita panen itu bisa dikonsumsi bukan dijual dan akhirnya kita makan asal kenyang saja. Perlu diperhatikan juga gizi dari makanan yang kita konsumsi. 4. Ekonomi  Lebih kepada tataran pendapatan ekonomi rumah tangga. Pendapatan ekonomi rumah tangga, proses pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yaitu dalam rumah tangga, masalahnya di Indonesia banyak sekali orang yg kurang gizi itu bisa dikategorikan dengan terkait dengan kemiskinan. Indikator penerapan agenda internasional yaitu adanya faktor ekonomi sebagai penunjang kebutuhan gizi di Indonesia. Persoalan gizi di Indonesia sulit sekali terkait dengan hubungan kemiskinan selain pada provinsi masalah gizi juga dengan masyarakat urban, penduduk pendatang (migran) memiliki risiko penderita gizi buruk pada balita dibandingkan dengan penduduk asli. Ini dapat dilihat dari nilai probability sebesar 1,190. Selanjutnya, penduduk miskin juga memiliki risiko yang lebih besar menderita gizi buruk pada balita banyak pekerjaan sebagai buruh dan lain sebagainya. Masalah kemiskinan banyak dijumpai pd masyarakat Indonesia timur karena indikator masyarakat kemiskinannya pada masyarakat Jakarta. Indikator pertumbuhan ekonomi mengacu pd pertumbuhan Negara eropa. Pada masyarakat timur adanya disparitas, ketika pendapatan rendah maka pemenuhan gizinya pun otomatis akan rendah. Pemenuhan gizi harus selaras dengan kebutuhan daerah setempat.   Permasalahan gizi di Indonesia paling banyak di Indonesia bagian timur dengan indikator ekonomi di Jakarta. Maksudnya, masyarakat di luar Jawa berfokus kepada pekerjaan informal (seperti nelayan, petani, buruh) yang mempengaruhi pemenuhan gizi masyarakat itu sendiri. Pemerintah seharusnya melakukan pemenuhan gizi sesuai dengan latar belakang masyarakat itu sendiri. 44 Contoh : Nelayan yang seharusnya tidak lupa mengkonsumsi sumber protein hewani dari hasil tangkapan mereka untuk memenuhi pemenuhan gizi. 5. Budaya atau Kebiasaan Masyarakat Konstruksi pemikiran masyarakat yang harus dirubah dalam hal pencukupan gizi. Share poverty, ketika ada panen hasil panen dibagikan kepada tetangga yang mengambil andil terhadap proses penanaman. Makanan apa saja yg bisa menggantikan makanan mereka yg terpenting mereka mampu mencukupi makanan mereka sendiri tidak beli dari luar, budaya makan d Indonesia belum memenuhi gizi seimbang tetapi makan asal kenyang. 6. Pemerataan gizi di desa dan di kota Masalah yg urgen yaitu tidak merata nya pemerataan gizi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. C. REKAYASA SOSIAL PENANGANAN GIZI DI INDONESIA 1. Masyarakat dapat memenuhi pemenuhan gizi dari pekarangan rumah Pola pemenuhan gizi berbasis rumah tangga, dimana kebutuhan gizi bisa dimanfaat dengan pekarangan rumah atau hasil pertnanian atau perikanan di rumah tangga, ketika mereka dpt memanfaatkan nya otomatis pendapatan mereka akan bertambah sehingga bisa berpengaruh pada pemenuhan gizinya. 2. Perbaikan gizi merupakan tanggung jawab bersama Perbaikan gizi tidak hanya tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab bersama, pemerintah sendiri tidak mungkin dapat menjangkau seluruh elemen masyarakat dalam mengatur gizi, jadi masalah sosial juga diperhatikan. 3. Perbaikan gizi seimbang di masyarakat Banyak dari masyarakat kita mengalami gizi buruk tetapi mereka biasa aja, mereka mengganggap bahwa mereka tidak mengalami gizi buruk,banyak di masyarakat pedesaan makan makanan instan.Pentingnya memberikan edukasi terkait pentingnya pemenuhan gizi pada balita karena masa keemasan terjadi pada balita 0 – 5 tahun. Masalah gizi bisa terpenuhi dengan kebutuhan pangan lokal, mereka di pedesaan lebih menjual hasil panen mereka daripada memakai untuk pemenuhan gizi mereka. D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT ITU BERBEDA Masyarakat pedesaan sebenarnya ingin menerapkan kecepatan dan ketepatan. Masalah gizi di pedesaan karena sudah terjadi maslah modernisasi dan westernisasi ditandai dengan menggunakan magic jar bukan dengan menanak nasi lagi, lalu banyak nya plastik dan plastik itu didapat dari makanan yg serba instan. Masayarakat pedesaan sudah terjangkit dengan modernisasi dan westerinisasi tetapi pola perilakunya berbeda dengan perkotaan. Perkotaan lebih mudah karena punya uang yg cukup untuk pemenuhan. Pedesaan menjual hasil tanah mereka untuk dibelikan makanan makanan yg instan contoh mie instan. 45 E. KESEJAHTERAAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN PANGAN  Kesejahteraan sosial adalah situasi dan kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual dan sosial pada warga negara agar hidup layak sehingga dapat melakukan fungsi sosial. Fungsi sosial seperti saling menolong, saling bergantung satu sama lain, saling membantu orang lain.  Upaya untuk meningkatkan tersebut maka terkait dengan pertahanan pangan , pertahanan pangan itu terkait dengan pemenuhan pangan sperti kebutuhan gula, dan lainnya. Program besar untuk MDGs yaitu ketahanan pangan sangat berpengaruh pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat. Ketika gizi masyarakat itu cukup melalui ketahanan pangan otomatis kesejahteraan sosial itu akan muncul khususnya kemiskinan, kelaparan. Jadi ada teori dlm kemiskinan yaitu sangat miskin, hampir miskin dan tidak miskin sebagian masyarakat yg berasal dari kantong kemiskinan yaitu miskin dan miskin banget itu pada masyarakat lapisan bawah. Potensi sumber daya pangan yang kita miliki belum mampu untuk kesejahteraan penduduk Indonesia karena : 1. Sumber daya pangan yang sebagiannya kita tidak nikmati, pemerintah yang mengandalkan impor dibandingkan menikmati hasil produksi lokal. 2. Sumber Daya Manusia banyak dari kita di masyarakat pertanian anak mudanya sudah tidak ingin lagi bekerja di sekor pertanian tetapi mereka lebih memilih bekerja di pabrik yg pendapatan nya itu lebih besar. 3. Strategi pemenuhan gizi di Indonesia. Permasalahan demografi menyebabkan petani kekurangan lahan untuk bercocok tanam karena lahannya digunakan untuk menjadi jalanan atau fasilitas umum. Ketiganya harus selalu dipenuhi untuk mencapai kesejahteraan, bila ada salah satu tidak terpenuhi maka kesejahteraan tidak terpenuhi. F. HUBUNGAN KESEJAHTERAAN DENGAN POLA PANGAN DAN GIZI 1. Kecukupan Pangan (Food Sufficiency) Adanya persediaan pangan yang cukup sehingga tidak akan mengalami kekurangan pangan. Ketakutan masyarakat Indonesia akan kekurangan pangan pada saat adanya COVID-19, sehingga menyebabkan panic buying yang jika diberlakukan terus menerus akan menimbulkan kerusuhan. Contoh : Pada masyarakat Cipta Gelar banyak yang melakukan mereka melengkapi pangan dengan menanam pangan sendiri sehingga mereka tidak merasa kekurangan. 2. Ketahanan Pangan (Food Security) Proses pangan dibuat untuk dalam jangka waktu pangan agar bisa stabil. Terpenuhnya kondisi pangan baik jumlah, mutu dan bahannya bagus dan aman untuk dikonsumsi. Ketahanan Pangan berbeda dengan ketercukupan pangan. 46 Variable Ketahanan Pangan : a. Stabilitas pangan Ketika pangan dihasilkan stabilitas harga, pemenuhan produk pangan tidak terpenuhi, maka tidak menjadi ketahanan dan adanya kekurangan, jadi ada stuasi yg stabil dlm proses pemenuhan pangan. b. Ketersediaan pangan. Ketika kita pangan ada, maka ketahanan pangan bisa dikatakan pangan mereka aman. c. Akses distribusi pangan Ketahanan pangan belum cukup terpenuhi sekarang ini karena dengan adanya virus orang terkena panik buying, ada fluktulasi harga dan bisa dipengaruhi oleh faktor produksinya, dimana orang biasa akan tidak tercukupi kebutuhannya. Sekarang ini ketersediaan menurun, contohnya beras, banyak yang stok telur dimana harganya menjadi naik. 3. Keberlanjutan Pangan (Food Sustainability) Merupakan jenis sistem pangan yang menyediakan makanan sehat bagi masyarakat dan juga memberikan dampak berkelanjutan pada sistem lingkungan, ekonomi, dan sosial. 4. Kedaulatan Pangan Kedaulatan Pangan merupakan konsep pemenuhan ha katas pangan yang berkualitas gizi baik dan sesuai secara budaya, diproduksi dengan sistem pertanian yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. 47 PERTEMUAN XII KETAHANAN PANGAN DAN KEDAULATAN PANGAN A. KETAHANAN PANGAN DI INDONESIA Kondisi ketahanan pangan sebelum adanya Covid 19 baik, bahkan dari tahun ke tahun itu mengalami peningkatan, bisa dilihat dari data yang saya cari yaitu berdasarkan data dari The Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2014 hingga 2018, indeks ketahanan pangan di Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Pemerintah sudah berusaha untuk memperlihatkan capaiannya secara perlahan pada ketahanan pangan. Patut diapresiasi untuk pemerintah karena dengan banyaknya tantangan salah satunya selalu meningkatknya laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya, pemerintah mampu memantapkan ketahanan pangan. Dengan memiliki lahan yang luas dan subur, letak geografis yang beruntung karena di wilayah tropis mengakibatkan aneka jenis tanaman dapat tumbuh subur menjadi kekuatan dari Indonesia. Sedangkan kondisi ketahanan pangan ketika adanya wabah covid – 19 Menurut saya kondisi ketahanan pangan ketika adanya wabah penyakit Covid 1 menurun atau memburuk hal itu disebabkan karena Hampir satu bulan social distancing diterapkan dan sebagian daerah menetapkan aturan lockdown dampaknya perlahan mulai terasa terutama dari sisi ekonomi yang mengalami pelambatan, keluhan pedagang yang mengalami penurunan pendapatan dan mulai merangkak naiknya harga makanan pokok hal ini pasti sangat berpengaruh pada memburuknya atau menurun nya ketahanan pangan di Indonesia. Selain itu di sisi lain nilai tukar rupiah terhadap dolar terus mengalami pelemahan hingga mencapai angka 17 ribu. Meskipun begitu faktanya bukan hanya Indonesia yang mengalami keadaan tersebut. Terdapat keadaan serupa di negara lain yang juga mengalami kondisi yang hampir sama diakibatkan oleh pandemi ini.Dampak dari menurunnya pendapatan masyarakat sebenarnya dapat berimplikasi pada menurunnya daya beli. Jika harga sudah melonjak naik dan daya beli masyarakat menurun maka dihawatirkan banyak masyarakat kecil yang sulit mendapatkan akses secara finansial terhadap ketersediaan pangan pada tingkatan rumah tangga. Menurunnya daya beli dan terbatasnya produksi pangan merupakan rambu-rambu ancaman awal bagi ketahanan pangan di Indonesia. meskipun pemerintah dapat meningkatkan ketersediaan pangan dengan melakukan impor , namun hal tersebut tidak terbukti efektif menjamin tingkat ketahanan pangan. B. KETAHANAN PANGAN MENURUT WHO Ketahanan Pangan menurut WHO yaitu masyarakat mampu mengakses pangan dengan memenuhi kebutuhan gizi mereka. Ketika masyarakat bisa mengakses gizi maupun nutrisinya berarti dia mempu mengatasi ketahanan pangan tersebut. Ketahanan pangan tahun 1970 an ditandai dengan revolusi hijau dimana sebagian masyarakat menanaman tanaman untuk mencapai kebutuhan mereka dan sampai di ekspor ke luar negeri. Ketika kita melihat masyarakat di daerah yang banyak membangun PLTU dan PLTA, disitu banyak mereka yang kekurangan air bersih, disitu bisa dibilang mereka tidak memiliki Ketahanan Pangan. Jadi Ketahanan Pangan bukan hanya tentang pangan, tetapi juga termasuk kebutuhan air bersih. 48 C. DIMENSI KETAHANAN PANGAN 1. Stabilitas Pangan Stabilitas pangan mengacu pada kemampuan suatu individu dalam mendapatkan bahan pangan sepanjang waktu tertentu. Bencana alam dan kekeringan mampu menyebabkan kegagalan panen dan mempengaruhi ketersediaan pangan pada tingkat produksi. Konflik sipil juga dapat mempengaruhi akses kepada bahan pangan. 2. Ketersediaan Pangan Masyarakat kota tidak masuk ketahanan pangan, karena di kota tidak ada lahan pertaniannya berbeda dengan di desa, jika di desa ada lahan pertaniannya. Ketahanan pangan suatu Negara dapat kita lihat dari ketersediaan, akses dan kebutuhan pangan tersebut, jika Negara itu masih kelaparan maka Negara itu tidak memenuhi ketahanan pangan di Negara tersebut. Konsep ketahanan pangan merupakan projek kapitalisme di dunia terutama di Amerika dan Eropa. Ketahanan pangan penting bagi masyarakat ketika ketahanan pangan itu rentan maka masyarakat akan kelaparan. Kuba merupakan salah satu Negara yang di embargo oleh Amerika, masyarakat di Kuba sebagian besar dana yang dihasilkan tidak masuk ke kuba dan PBB tidak memeberikan jaminan terhadap Negara yang di embargo oleh Amerika. Sebagian masyarakat papua tidak memakan sagu tetapi memakan beras. 3. Akses Distribusi Pangan Akses terhadap bahan pangan mengacu kepada kemampuan membeli dan besarnya alokasi bahan pangan, juga faktor selera pada suatu individu dan rumah tangga.PBB menyatakan bahwa penyebab kelaparan dan malagizi sering kali bukan disebabkan oleh kelangkaan bahan pangan namun ketidakmampuan mengakses bahan pangan karena kemiskinan. Kemiskinan membatasi akses terhadap bahan pangan dan juga meningkatkan kerentanan suatu individu atau rumah tangga terhadap peningkatan harga bahan pangan. Kemampuan akses bergantung pada besarnya pendapatan suatu rumah tangga untuk membeli bahan pangan, atau kepemilikan lahan untuk menumbuhkan makanan untuk dirinya sendiri. Rumah tangga dengan sumber daya yang cukup dapat mengatasi ketidakstabilan panen dan kelangkaan pangan setempat serta mampu mempertahankan akses kepada bahan pangan. Secara tidak langsung ketahanan pangan di masyarakat kota sedikit terancam karena, di kota tidak ada pergerakan lahan pertanian. Salah satu indikator negara maju adalah tidak adanya kerentanan pangan di semua bagian Negara. Tetapi nyatanya Indonesia bagian timur sudah mengalami kerentanan pangan karena, lahan pertanian yang sudah beralih fungsi. D. SUSTAINABILITY PANGAN Produk bahan pangan yang diolah dengan teknik khusus untuk kesejahteraan lingkungan dan masyarakat. Sustainability mengacu pada kelestarian pangannya. Hal ini dimaksudkan agar pangan tersebut bisa terjaga hingga lama. Contoh : Pada Cipta Gelar tidak ada penggunaan pupuk kimia, ataupun mesin pertanian. 49 E. KEDAULATAN PANGAN Kedaulatan pangan merupakan konsep tandingan dari ketahanan pangan (bagaimana produksi pangan berlebih), kedaulatan pangan digagas oleh serikat petani internasional mereka berharap ketahanan pangan projek besar bukan menyelamatkan pangan masyarakat justru menghasilkan kelaparan di Negara berkembang.  Konsep Kedaulatan Pangan : 1. Pemenuhan Pangan melalui produksi local Karena di Indonesia mempunyai konsep pemenuhan pangan yang sendiri - sendiri, karena di jawa dn papua mempunyai pemenuhan pangan yg berbeda. Di jawa pemenuhan pangannya yaitu padi sedangkan di papua pemenuhan pangannya yaitu sagu, sebagian besar petani menanam padinya bukan komoditas, mereka menanam bukan untuk kebutuhan pasar tetapi untuk pemenuhan pangan mereka sendiri. 2. Pemenuhan pangan atas gizi yang berkualitas baik sesuai dengan budaya. Contoh : Suku Badui yang menanam padi tanpa alat pertanian modern dan hasilnya ia konsumsi tanpa dijual. 3. Sistem pertanian harus berkelanjutan dan ramah lingkungan. Jadi kedaulatan pangan merupakan gabungan dari food sustainability (tidak melihat jumlah yang pentig alamnya lestari) dan food security ( melihat jumlahnya, mereka tidak bergantung dengan pangan - pangan yang lain dan berkelanjutan serta ramah lingkungan). F. PRINSIP UTAMA KETAHANAN PANGAN 1. Food agrarian Ketika lahan pertanian tidak punya milik sendiri dapat menyebabkan permasalahan politik terhadap pangan yang dihasilkan. 2. Adanya hak akses rakyat terhadap pangan Semua orang dapat mengakses pangan,tidak lagi masyarakat yang memiliki uang tetapi semua masyarakat dapat mengaksesnya. 3. Penggunaan Sumber Daya Alam secara berkelanjutan Seperti tidak melakukan sistem modernisasi pertanian, menggunakan pupuk alami yang ramah lingkungan. 4. Pangan untuk pangan Jadi ketika, pangan yang dihasilkan tidak diperdagangkan melainkan pangan yang dihasilkan dijadikan kebutuhan pangan mereka. 5. Pembatasa kebutuhan pangan oleh perusahaan Pangan tidak dikuasasi oleh perusahaan. 50 6. Pemberian akses kepada petani kecil untuk kebijakan promosi pertanian Pemberian akses kepada petani yang tidak memiliki lahan agar tetap bertahan hidup. G. KEDAULATAN PANGAN TERHADAP GIZI Kedaulatan pangan tidak hanya melihat ketersediaan pangan saja tapi melihat gizi yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut. Mereka tetap prouktif untuk mengakses sumber daya. Kedaulatan pangan hamasyarakat untuk makanan sehat sesuai dengan budaya mereka. H. RELASI INDIVIDU, KELUARGA, GENDER DALAM PERKEMBANGAN GIZI 1. Relasi Individu Interaksi manusia dalam kehidupan bersama yang menimbulkan permasalahan, peran dalam struktur sosial. Contoh : Perkuliahan yang merupakan relasi individu yang menghasilkan pengetahuan. Didalam relasi individu ada relasi kekuasaan dan kekerasan simbolik, seperti nilai mahasiswa. 2. Relasi Keluarga Hubungan suami istri yang saling membutuhkan dan saling mendukung bersifat seperti persahabatan dan anak-anak bergantung kepada orang tua dalam kebutuhan afeksi, sosial dan lainnya. Dalam sistem masyarakat, keluarga merupakan sistem terkecil yang dapat membantu anak untuk bersosialisasi. Pemegang wewenang keluarga, seperti ibu yang mengambil andil dalam perkembangan sosial anak dalam lingkungan. Pendistribusian keluarga, seperti keluarga yang patriarki, matriarki, egaliter. Matriarki, banyak terjadi di masyarakat Minang atau Kerajaan Inggris, dimana wanita lebih dominan. Patriarki, pemegang kekuasaan di kepala keluarga (laki-laki). Egliter, dimana suami dan istri memiliki kesetaraan yang sama satu sama lain. 3. Relasi Gender Gender yaitu suatu sifat yang dilekatkan dan melekat pada seorang laki-laki dan perempuan baik secara struktural maupun sosial. Contoh : Laki-laki yang harus menafkahi keluarganya (melekatkan). Terbentuknya pembentukan gender dalam proses yang panjang,di sejarah Feminist Eropa, wanita diibaratkan dengan nenek sihir bahkan, dalam kehadiran wanita sebagai saksi dalam persidangan itu dilarang. Yang hanya diperbolehkan sebagai saksi hanya laki-laki, Lalu hal ini diperkuat dalam kehidupan sehari-hari baik secara konstruksi, sosial, kultural, dan agama. 51 PERTEMUAN XIII RELASI GENDER DAN ANALISIS GENDER DALAM PERKEMBANGAN GIZI DI INDONESIA RELASI GENDER DALAM PERKEMBANGAN GIZI DI INDONESIA A. RELASI INDIVIDU, SOSIAL, KELUARGA DAN GENDER DALAM PERKEMBANGAN GIZI DI INDONESIA 1. RELASI INDIVIDU  Ada beberapa tahapan dalam relasi individu, yaitu : 1) Kontak Kontak diwujudkan dalam bentuk isyarat dan mempunyai makna untuk penerima dan pelaku. Kontak dapat dibagi dalam beberapa jenis, diantaranya : a. Berdasarkan caranya  Kontak Langsung Kontak langsung terjadi dari sentuhan fisik seperti bahasa isyarat, tersenyum, dan berbicara.  Kontak Tidak Langsung Dilakukan dengan media tertentu seperti surat, telegram, televise, radio, telepon. b. Berdasarkan sifatnya  Kontak Kelompok dengan Kelompok Dapat dilihat saat pertandingan sepak bola antar siswa.  Kontak Individu dengan Kelompok Dapat dilihat saat guru sedang melatih murid sehingga murd mengikuti gerakan yang sama dengan guru mereka.  Kontak Individu dengan Individu Kontak antar individu dapat dilihat saat seorang anak sedang belajar tentang kebiasaan yang dilakukan oleh keluarganya. c. Berdasrkan Tingkat Hubungan  Kontak Primer Kontak primer dapat terjadi saat orang tersebut bertemu langsung. Contoh : berbicara langsung, berjabat tangan  Kontak Sekunder Kontak sekunder hanya terjadi melalui media atau perantara.Media tersebut dapat berupa barang ataupun alat, kontak ini dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Contoh : saat berbicara melalui media seperti telepon atau meminta seseorang untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Antara indivdu satu dengan lainnya terjadi interkasi, keterlibatan yang terjadi maka terjadi keakraban maka timbulah kelompok semu dan kepentingan yang menyebabkan konflik. 52 2) Keterlibatan Keterlibatan yaitu tahap pengenalan lebih jauh, ketika meningkatkan diri dengan untuk mengenal individu lain dan juga mengungkapkan diri. Jika merupakan hubungan persahabatan, maka kedua pihak mungkin merupakan sesuatu yang merupakan minat bersama. 3) Keakraban Pada tahap keakraban, ada rasa saling keterikatan atau ketergantungan. Kemungkinan pada tahap ini terbina hubungan primer (primary relationship), dimana rasa persahabatan dan rasa saling percaya timbul. 4) Perusakan Pada tahap perusakan mulai ada rasa bahwa hubungan yang telah terjalin tidaklah sepenting sebelumnya, semakin sedikit waktu senggang , kedua pihak saling berdiam diri dan tidak lagi banyak mengungkapkan diri. 5) Pemutusan Terjadi pemutusan ikatan yang mempertalikan kedua belah pihak. Jika bentuk ikatan tersebut adalah perkawinan, maka pemutusan hubungan hubungkan dilambangkan dengan perceraian, walaupun pemutusan hubungan.  TEORI PENETRASI SOSIAL Saling mengenal satu dengan yang lainnya, tetapi tahap pengenalannya hanya say hello dalam pengenalan tersebut terjadi pertukaran dalam penetrasi sosial. Contoh : menanyakan nama, rumah , untuk pengenalan lebih dalam bertanya nomor hp. Kasih sayang disisni bukan masuk laki - laki dan perempuan tetapi perempuan dengan perempuan, laki - laki dengan laki – laki, jika kita sudah akrab dengan orang lain maka kita memberi sesuatu kepada orang tersebut  TEORI PERTUKARAN Dalam sosiologi terdapat sosiometri. Sosiometri adalah alat yang digunakan untuk meneliti struktur sosial sekelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial, status sosial dari masing – masing anggota kelompok yang bersangkutan. Dalam teori penetrasi sosial terdapat teori pertukaran, yaitu setiap tindakan yang dilakukan seseorang pasti ada sesuatu motif. Contoh : ketika kita memerikan sedekah maka kita berharap imbalan dari tuhan oleh sebab itu maka sesuatu yang dilakukan seseorang itu pasti mempunyai motif. Politic of living, bagaimana kita berpolitik pada diri kita dan kepada tuhan tidak hanya pada orang lain saja. Semua terjadi negosisasi pada diri kita , oleh sebab itu yang dilakukan seseorang tidak lepas dari suatu motif. 53 Menurut Cost dan Reward Teori Pertukaran dibagi menjadi dua, yaitu : 1) Pertukaran Afektif Dalam proses pertukaran tidak bersifat yang intim tetapi boleh peduli satu sama lain, sering terjadi spontan, sering terjadi memberi perhatian. Jadi ada rasa sungkan , rasa kasihan sehingga memberikan sesuatu bukan atas dasar keintiman dan kejujuran total 2) Pertukaran Seimbang Terjadi kejujuran total dan keintiman total. Contoh : ketika mengungkapkan rasa saying atau rasa nyaman terhadap pasangan itu merupakan pertukaran seimbang. Pada pertukaran seimbang individu dapat menentukan perilaku yang sangat akurat pada pasangannya.petukaran tersebut bukan sudah lagi pada tahap tidak hanya membelikan makanan kepada teman, maka si indvidu sudah memprediksi sesuatu yang akan terjadi. 2. RELASI SOSIAL Pola hubungan yang terjadi di masyarakat sangat mempengaruhi pada gzi seseorang. Ketika sering berinteraksi dengan orang lain maka akan menimbulkan link atau hubungan dengan orang lain sehingga akan berpengaruh pada sosial ekonomi nya dan akan berpengaruh pada gizi nya tersebut. Selain dari faktor ekonomi terjadi disinformasi antara satu dengan yang lainnya. 3. RELASI KELUARGA Keluarga akan sangat berpengaruh, karena anak dalam keluarga akan dapat kebutuhan rohani jasmani dan bimbingan dari orang tuanya. Keluarga merupakan bagian terkecil dari struktur sosial. Masalah Kurangnya gizi disebabkan oleh tingkat pengetahuan di masyarakat atau keluarga. Masalah gizi bukan masalah dari gizi tersebut tetapi berpengaruh pada tingkat pengetahuan masyarakat tersebut. Di pedesaan mengganggap bahwa anak yang lincah merupakan anak yang terpenuhi gizinya. Karena masa keemasan anak penting dalam relasi keluarga bagi perkembangan gizi anak. 4. RELASI GENDER a. Perbedaan kebiasaan pola makan antara laki – laki dan perempuan. ada suatu ketimpangan bahwa laki - laki lebih kecenderungan makan lebih banyak dibandingkan perempuan atau kebutuhan nutrisi laki - laki lebih tinggi dari pada perempuan. b. Proporsi makanan perempuan dan laki laki Proporsi makanan perempuan dengan laki - laki tersebut berlaku terhadap relasi gender. Porsi makan laki - laki lebih besar dari pada perempuan karena laki - laki akan berperan sebagai kepala keluarga dan perempuan berada di rumah. 54 c. Pola Konsumsi Perempuan itu makan sisa makanan suaminya, pola makan seperti itu merupakan ketimpangan gender dalam pola makan atau pola konsumsi. Pola makan atau konsumsi sendiri bukan pada tahap kebudayaan perempuan dengan laki – laki tetapi harus seimbang atau egaliter dengan pasangan. Maka menjadi penting pola kosumsi dengan relasi gender. B. ANALISIS GENDER DALAM MALNUTRISI 1. Konstruksi masyarakat dalam kesetaraan gender Banyak yang menganggap kekurangan nutrisi akibat anak stunting dikatakan karena perempuan tidak dapat merawat anaknya dengan baik disalahkan ibunya, karena yang merawat atau memelihara kesehatan anaknya yaitu si ibu bukan si bapak, jadi disitu terjadi kesetaraan gender. 2. Budaya patriatik budaya Indonesia Budaya patriatik bisa masuk pada ekonomi, interaksi. Perempuan hanya wajib mengurus anak, melayani suami dan memasak itu merupakan pelecehan verbal yang dilakukan oleh masyarakat. Maka itu sama yang terjadi pada film marni tersebt dimana yang punya hutang adalah suaminya dan yang harus melunasi hutangnya yaitu istrnya. Ketika budaya patriatik itu harus dihilangkan dalam relasi gender, selama kebudayaan patriatik itu masih ada dalam relasi gender maka relasi gender tidak bisa seimbang atau egaliter. 3. Kesetaraan gender pada tingkat keluarga Rumah tangga yang berada di pedesaan atau di sektor pertanian tetapi di perkotaan juga terjadi, dimana perempuan dianggap remeh. Laki - laki bekerja diluar tetapi perempuan tidak diperbolehkan bekerja diluar rumah. C. MASALAH MALNUTRISI DAN GENDER Perempuan melahirkan anak yang kurang dari normal, kemungkinanan anak terkena malnutrisi maka akan besar. Perempuan itu memiliki beban ganda di dalam relasi gender keluarga, mereka juga bekerja diluar dan ketika ia bekerja di sektor domestik, perempuan harus merawat rumah tangga, itu diaminkan oleh perempuan Masalah gizi dan gender ada beberapa ketimpangan, ketimpangan perempuan sejatinya itu tertindas itu membuat penyalahgunaan pada laki - laki. Perempuan dianggap tidak berdaya, perempuan itu lebih dibawah laki - laki. Selanjutnya akses kontrol terhadap sumber daya banyak dilakukan oleh laki - laki dibandingkan dengan perempuan, perempuan memiliki wewenang dalam mengatur keuangan keluarga tetapi wewenang atau hak penentuan keputusan bukan pada perempuan tetapi pada laki - laki, perempuan diberikan uang belanja kepada suami, ketika uang belanjanya habis suami bertanya uangnya habis dipakai untuk apa, maka akses kontrol sumber daya terjadi pada laki laki. Terkadang perempuan - perempuan yang bekerja di sektor publik, ketika sudah kembali ke rumah lebih memperhatikan kebutuhan suami dan anaknya serta dirinya sendiri. 55 Ketika pengalokasian nutrisi kepada suami dan anak, padahal perempuan merupakan pembentukkan awal kecerdasan anak, bahwa kecerdasan anak menurun pada ibu bukan pada ayah. Relasi penguasaan pengetahuan melalui budaya , relasi kekuasaan ini terjadi pada gender, yang terakhir yaitu malnutrisi pada anak ketika pemenuhan gizi karena akses kontrol terdapat pada laki - laki, dan laki – laki nya juga harus peka terhadap istrinya tersebut. Ketika terjadi malnutrisi pada anak bukan salahnya perempuan tetapi adanya kontruksi masyarakat yang mengganggap perempuan itu hanya cukup makanan yang seadanya saja, kadang suami atau laki - laki itu sudah memberikan nafkahnya kepada perempuan atau istrinya tetapi tidak memperhatikan lagi kesehatan nutrisi pada anaknya. Jadi ada kontruksi yang membuat perempuan berada pada tataran bawah. Kekurangan gizi pada anak yang baru lahir itu merupakan salah sistem patriatri yang telah melekat pada suami, seharusnya suami memahami relasi gender terhadap perempuan. Kadang itu laki - laki dengan jiwa superior nya itu mengganggap bahwa itu pekerjaan perempuan atau istrinya yang mengerjakan. Relasi gender dalam keluarga itu merupakan sangat penting untuk menentukan generasi nya bagus atau tidak bagus. Ketika masalah nutrisi pada anak kurang bukan lagi sebagai sumber daya manusia tetapi menjadi beban demografi di Indonesia ini, maka relasi gender ini menjadi penting. 56 ANALISIS JURNAL COMPARING FOOD SECURITY AND FOOD SOVEREIGNTY DISCOURSES I. INTRODUCTION This journal provide necessary national and urban case studies, make links between food policy and food discourse, and raise fascinating questions extending beyond food discourses, policy, and ideology to touch upon the importance of ethics and values in reimagining and reworking food politics. In this essay, will discuss how dialogues created among the national cases of Australia, Canada, and New Zealand illumine tensions, linkages, and the relationships between food discourses and food policy in places and across scale. Next, discussion of sovereignty and outline the significant contributions of indigenous scholars to food sovereignty discourses. And finally,discuss the role of the care ethics and utopian envisioning in food politics. 57 II.CONTENTS A. FROM DISCOURSE TO POLICY : CASE SPECIFICITIES Jennifer Clapp and Sophia Murphy ask how considering food policy and problematizing the role of the state can illuminate the intersections of food sovereignty and food security discourses in particular places and across scales. Clapp (2014: 1) argues for “more constructive policy dialogue on how best to address hunger” and other problems in the globalized food system. Others respond with examples from New Zealand, Australia, and Canada. In the case of New Zealand, the emphasis upon agrarian development is framed by a productivist ideology of export marketing in dairy and meat. Both Chris Rosin and Annie Bartos point to the lack of a well-defined policy discourse of food sovereignty outside of projects related to Maori indigeneity. Urban-based movements of food justice and alternative food networking are not well developed in cities like Auckland and seem to be more related to consumer health issues and food security in terms of eating local, fresh, and seasonal foods. Yet, according to a 2002 Ministry of Health Survey, 23% of New Zealand households ran short of food because of lack of money (Rudman, 2014). Social assistance funding cutbacks in the early 1990s and the lack of a subsidized school meal programs, among other things, contributes to food insecurity among New Zealand’s children. Because food sovereignty is tied to issues of racialized oppression and colonization, which dismantled indigenous foodways through agricultural modernization and urbanization, these discourses are tied to Maori struggles for land that was colonized under the Waitangi Treaty giving the British sovereignty over Maori territory. Like New Zealand, Australia exports the majority of agricultural products it produces and is the second largest exporter of wheat in the world, second only to the United States (National Farmer Federation, 2014). As Kristen Lyons notes, urbanization is posing a threat to the nation’s best farmland which is recognized as an impediment to national food security. Australia’s National Food Plan emphasizes an increase in international trade and marketing as a corner stone of national food policy. According to Lyons (2014), the grassroots response to this plan is the People’s Food Plan launched by the Australian Food Sovereignty Alliance and a number of other grassroots organizations whose values and goals are parallel to those of food sovereignty discourses. Activists employ tactics such as framing messages about food cooperatives in ways that will influence policy makers and planners while also embracing theories of social change in terms of broader strategic goals and objectives. This ‘strategic framing’ approach is necessary for the incremental change that builds rapport with powerful policy makers. Other tactics include organizing foraging and seed swapping as ways to provide food security and food sovereignty in ways that are not market-based. Lyons’ important research among urban food activists provides an excellent case study as to how the divergence and convergence of food sovereignty and food security discourses is an important process aiding in grassroots tactics and strategies of food policy creation and change. 58 Blay-Palmer et al. offer rich multiscalar examples of the dynamic and complementary relationships between food security and food sovereignty discourses. They point out that alternative food movement organizations in Canada employ food security, community food security, and food sovereignty within their projects and organizing efforts in ways similar to those of Australia and the United States. Canada, the United States, Australia, and New Zealand are all wealthy, industrialized nations with highly developed globalized food export regimes in key commodities such as soy, wheat, dairy, and livestock. Top markets for New Zealand’s food exports are the United States and Australia, and Canada is a major destination for US agricultural exports. The export-oriented, productivist model is an important source of state revenue and national employment. The convergence, albeit uneven, of food security and food sovereignty discourses within the national and urban policy frameworks of these nations is not surprising given their international trading relations with one another, their rollbacks of social assistance programming in the 1990s and beyond, and the impetus for addressing community food security that exists throughout all three nations due to rising food insecurity among their citizens. As Dixon (2014) notes, there are both convergences and tensions among the tactics and strategies of activists and policy makers across scale and within each nation, as understandings of what development and sustainability are different across a range of political and ideological stances and formations. As Clapp (2014) indicates, Amartya Sen’s concept of entitlement can be used to serve productivist neo-Malthusian arguments or food justice initiatives demonstrating how racialized and gendered formations impede the ability of women and ethnic and racial minorities to gain food security. B. LOCATING AND IDENTIFYING SOVEREIGNTY Edelman (2014) raises an important question about how we might identify who or what is sovereign in food sovereignty discourses as the identification of people and places will give us some ideas about the kinds of political processes that will enable the elimination of hunger and the incorporation of social justice into food production, provisioning, and consumption. Critical indigenous studies provide some insights useful in centering and decentering the nation state as well as moving from sovereignty to liberation. For indigenous people, sovereignty may not be an accurate way of describing people’s relationship to land or food as White Euro-American understandings of sovereignty commonly encompass concepts such as nation, state, boundary, territory, and citizen. Indigenous studies’ scholars such as Alfred (2001) reject Western conceptualizations of sovereignty because they are part of the colonizing processes, which dispossessed indigenous people of their national territory and ruptured their relationships to indigenous foodways, land, and water. As Alfred (2001: 26–27) writes: ndigenous people have successfully engaged western society in the first stages of a movement to restore their autonomous power and cultural integrity inthe area of governance. The movement – referred to in terms of “aboriginal self-government”, “indigenous selfdetermination” or “Native sovereignty” – is founded on an ideology of indigenous nationalism and a rejection of the models of government rootedin European cultural values. It is an uneven process of reinstituting systems that promote the goals and reinforce the values of indigenous cultures, against the constant effort of the Canadian and United States governments to maintain the systems of dominance imposed on indigenous communities during the last century. 59 Bartos notes how sovereignty is contested in relation to Maori land claims, and this brings to mind Murphy’s (2014: 4) assertion that food sovereignty remains loosely defined and is rooted in a ‘politics of local self-determination’ rather than principles leading to a plan of action. Blay-Palmer et al. (2014) describe a recent report by the Council of Canadian Academies, which places over one-third of Nunavut Inuit household as severely food insecure. Clearly, a lack of selfdetermination is linked to food insecurity. Hunger is not just about the lack of access to food but also encompasses political economy of environmental change and the importance of the cultural and spiritual dimensions of indigenous and ecologically grounded foodways. These are embodied in forms of malnutrition and the associated health challenges of obesity and diabetes as Dixon points out. Colin Sage’s (2014) essay about the work of Olivier De Schutter, United Nations rapporteur on the Human Right to Food specifies the kinds of policy that signal productive intersections between selfdetermination and food security. In part, De Schutter’s role in advocating for food sovereignty and the realization of the human right to food has been to encourage specific national agro-food policies that would realize help fulfill the human right to food. Sage links nutritional security not to calories or genetic engineering but to greater biodiversity and to increasing the consumption of fruits and vegetables. De Schutter recommends a variety of consumption taxes, trade policies, and subsidies for the benefit of consumers. Rights to land, water, and seeds are central to self-determination and food sovereignty. Land tenure security, mapping land use and land rights, and recognizing and strengthening customary forms of tenure are significant policy goals and objectives. The promotion of agroecology, which recognizes indigenous knowledges in food production, processing, and storage as well as the Western ecological science of visioning and designing farming systems that are productive, efficient and do not contribute to climate change is vital in undergirding new agricultural policies and objectives. At the global scale, these policy recommendations help ensure both food sovereignty and food security. C. CORE VALUES AND IMAGINARIES As Michael Carolan and others observe, the answer does not necessarily lie in notions of community, democracy, nuclear, patriarchal families, farmers, peasants, or consumers. Rosin’s concept of utopian politics as a process of ‘reimagining a just, fair and abundant food system’ provides a way to critique productivist ideologies as well as critiquing the ongoing, uneven processes of food system transformation that are subject to ethical challenges. I submit that in light of the plurality of competing and conflicting interests and needs among food consumers, providers, and workers, the core values can be met by a consideration of feminist care ethics. Receiving and giving care to others, human and nonhuman, is a party of everyday life (Tronto, 1993). Caring for others is a deep aspect of social relationships that moves us beyond locality and family to imagine and enact caring relationships with strangers near and distant (Lawson, 2007). Ethics provides grounding for policy, practice, and politics by centering other places and people in relations of giving and receiving care. Giving and receiving food is one of the most important aspects of caregiving in the human and nonhuman world. Integrating caregiving into politics and everyday life as a core value can guide us to support, transform, and critique the processes of food politics and food policy across scale and place. III. 60 CLOSING AND SUGGESTIONS A. CLOSING Food sovereignty can be positioned as a basic strategy for achieving goals national food development, namely food security. Food sovereignty does not replace, but becomes a complement or support even a basis for achieving true food security. With implementing the spirit of sovereignty food, then food security in Indonesia will be more able to be achieved steadily and be fair. strong parallels between the concept of food sovereignty at the international level, with the Food Law, and documents Nawacita In other words, food sovereignty which is carried by the President's spouse and The Vice President is very much in line with the concept of "food sovereignity” which is currently developing at among researchers and empowering farmers, even FAO at the international level. The concept of food security though we have not used for almost 20 years closed the possibility to be improved by accepting other ideas well. Substitution or refinement of concepts is common in the development and scientific discourse of development rural areas, as for example appeared the concept of empowerment and people centered development which is the antithesis to the concept of development being valued too unidirectional. As has already begun to be developed in various countries and in international institutions, real food sovereignty can be measured on various levels, namely at the level individual, community, regional region, and national. For Indonesia, indicators for measuring food sovereignty must also be formulated firmly, so that food development planning is more directed and its success rate can also be measured easily. B. SUGGESTIONS in the endurance and discourse of food sovereignty, it is hoped that in the future the government will be better in implementing the food policy provided so that the resilience and sovereignty is even better. 61 PERTEMUAN XIV PERSPEKTIF EKOLOGI DALAM PANGAN DAN GIZI A. BIO, EKO DAN CULTURE(BUDAYA) DALAM PANGAN DAN GIZI Didalam perspektif ekologi terdapat : 1. Bio Yaitu pangan atau zat gizi mengalami proses biologi setelah masuk dalam tubuh dan mempunyai pengaruh pada fungsi organ tubuh untuk tumbuh kembang & kesehatan optimal sehingga produktif. Contoh : Tubuh kita melakukan proses mekanisme pertumbuhan yang tidak berbayar. 2. Eko Yaitu proses pengolahan pangan yang ada hubungannya antara manusia dan alam. Pangan juga berfungsi sebagai pelestari, pangan sendiri tidak hanya sebagai pelestari tetapi dapat mempunyai hubungan timbal balik dengan manusia agar pangan itu tetap lestari dan menghasilkan kualitas yamg baik. 3. Culture (Budaya) Faktor kultur atau budaya yang menyangkut aspek sosial, ekonomi, politik dan proses budaya, mempengaruhi jenis pangan yang dikonsumsi, bagaimana mengolahnya, bagaimana cara mengkonsumsinya, kapan dan dimana mereka makan. B. DIMENSI BIOLOGIS, EKOLOGIS DAN CULTURE (BUDAYA) DALAM PANGAN DAN GIZI 1. Dimensi Politis  Adanya kebijakan pemerintah yang mempengaruhi bagaimana alam dan manusia bekerja. - Contoh : taman nasional, yang dibuat untuk mendukung hubungan alam dan manusia. 2. Dimensi Sosial Budaya  Terdapat identitas budaya Contoh : Orang – orang badui, symbol keagamaan, suku maya dan pejawen. 3. Dimensi Nilai Sosial dan Ekonomi Di dalam bio Eko culture terdapat nilai ekonomi dimana alam bisa mengahasilkan sumber ekonomi untuk manusia. 4. Dimensi Biologis Alam itu memberikan manfaat yaitu pemenuhan gizi atau kualitas hidup manusia, ketahanan pangan, kebutuhan gizi, dan kedaulatan pangan. C. PANGAN LOKAL Didalam pangan lokal suatu etnis itu memiliki kualitas pencemaran lingkungan yang sedikit, ada juga teori pertanian monokultur atau pertanian monokultur itu bukan mempertahankan ketahanan pangan tetapi menyebabkan racun bukan pupuk. 62 Jadi pangan lokal sendiri merupakan wujud dari kualitas rasa, mengurangi CO2. Masyarakat melalui produksi pangan lokal mereka mampu mempunyai kesempatan kita dapat melihat kualitas tanaman yang kita tanam, banyak sekali pertanian di eropa tidak menggunakan pupuk kimia mereka lebih banyak menggunakan pupuk organik, ketika lingkungan itu baik maka pangan yang dihasilkan pun kualitasnya bagus. D. KONSEP LINGKUNGAN HIDUP DAN PANGAN  Lingkungan Hidup sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang menentukan peri kehidupan serta kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lainnya Contoh : ketika sebagian petani menggunakan pupuk kimia maka semakin banyak juga serangga yang mati.  Ilmu Lingkungan Mempelajari hubungan manusia dengan lingkungan hidup (alami, sosial, binaan) untuk memperoleh manfaat dengan upaya & biaya tertentu Lingkungan hidup dan pangan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. E. LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN KONSEP EKOLOGI MANUSIA Ekologi manusia, mempelajari sikap manusia dan alam agar terjadi keseimbangan. Klasifikasi lingkungan hidup manusia dalam konsep ekologi manusia. 1. Lingkungan alam atau habitat Merupakan natural area atau teritorial culture area atau Medan sosial. Manusia memiliki 2 medan area yiitu natural area dan culture area (bisa disebut kehidupan di alam liar). Alam juga memiliki 2 habitat sama dengan manusia. 2. Lingkungan Sosial Didalam lingkungan sosial terdapat interaksi, dimana didalam interaksi itu terdapat suatu kompetisi. Didalam hubungan manusia tidak mungkin tidak adanya kompetisi. Setiap tindakan manusia pasti ada motif (teori Weber).  tindakan instrumental ( tindakan untuk mencapai tujuan ) Contoh : rumah kita di Bogor menggunakan kereta api agr cepat sampi tujuan  Tindakan Rasional Nilai Perlunya tindakan yang berdasarkan pada akal. 3. Lingkungan Budaya  lingkungan budaya material Contoh : Alat – alat pertanian , material dapat dilihat dan dapat disentuh.  lingkungan non budaya material Contoh : tata nilai, adat, budaya, agama. 63 4. Lingkungan Buatan Yaitu lingkungan yang dibentuk karena adanya tindakan manusia. Contoh : adanya taman , jalan, sungai. F. KLASIFIKASI LINGKUNGAN HIDUP MANUSIA 1. Lingkungan Abiotik Contoh : tanah, air, udara, sinar matahari. 2. Lingkungan Biotik Contoh : flora dan fauna. G. FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP BERDASARKAN EKOLOGI 1. Sebagai sumberdaya (barang dan jasa : udara segar, papan, sandang, pemandangan) 2. Tempat kembalinya limbah (gas → udara; padat/sampah dan cair → tanah dan perairan) 3. Sebagai sumber kesenangan dan rekreasi. H. PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. I. EKOSISTEM  Tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh & saling mempengaruhi dalam membentuk hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup yang lain.  Suatu kawasan alam yang di dalamnya tercakup unsur-unsur hayati (organisme) dan unsur2 non hayati (zat tak hidup) serta antara unsur2 tersebut terjadi hubungan timbalbalik. a. Cara Kerja Ekosistem Proses yang terjadi di sistem sosial bersifat seleksi dan adaptasi. Contoh : pada pemindahan hewan dari penangkaran ke alam bebas terdapat proses adaptasi dengan alam bebas. b. Prinsip Ekosistem 1) Keanekaragaman 2) Keterkaitan dan ketergantungan 3) Keteraturan dan keseimbangan dinamis 4) Harmonisasi dan stabilitas 5) Manfaat dan produktivitas 64 c. Azaz Ekosistem 1) Keanekaragaman Setiap makhluk memiliki fungsi dan peranan masing-masing (produsen, konsumen, pengontrol atau dikontrol oleh makhluk lainnya) sehingga suatu ekosistem akan mengalami keseimbangan yang stabil dan dinamis. 2) Kerjasama karena adanya keanekaragaman. 3) Persaingan untuk mengontrol pertumbuhan suatu komponen yang terlalu cepat sehingga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem (dinamika dalam menjaga keseimbangan dan stabilitas). 4) Interaksi Hubungan timbal balik antar komponen maupun dengan lingkungan sebagai penyedia sumber daya. 5) Kesinambungan J. SISTEM PANGAN DAN GIZI a. Sub sistem pangan 1) Produksi Pangan Menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, Mengemas kembali, Mengubah bentuk pangan. 2) Ketersediaan Pangan ada cadang pangan bisa dari impor ataupun ekspor. 3) Distribusi Pangan a) Akses pangan Bagaimana kita mampu mendistribusikan kendaraan. b) Akses ekonomi Bagaimana distribusi itu dapat berjalan dengan sumber daya ekonomi yang cukup. 4) Konsumsi Pangan Keragaman, keamanan jumlah, mutu gizi, individu, keluarga, dan masyarakat. 5) Status Gizi atau kesehatan  Gejala klinik atau sub klinik  Pertumbuhan atau daya kerja  Gizi kurang atau Gizi lebih b. Sub Sistem Gizi Saling terkait dengan Sub sistem pangan karena pangan akan berpengaruh pada gizi seseorang. 65 c. Sub Sistem Ketahanan Pangan 1) Ketersediaan pangan - Produksi dalam - Cadangan Nasional - Ekspor dan Impor - Penganekaragaman - Penanganan krisis pangan 2) - Keterjangkauan Pangan Distribusi Perdagangan dan Pemasaran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Pokok - Bantuan Pangan 3) - Konsumsi pangan dan gizi Konsumsi Penganekaragaman Konsumsi Perbaikan Gizi K. HUBUNGAN NY DENGAN TEORI STRUKTURAL DAN FUGSIONAL PARSON 1. Adaptasi Adanya produksi, ketersediaan pangan, distribusi yang berpengaruh pada status gizi dan kesehatan. Ketika produksi pangan dihasilkan dari pangan yang tidak sehat maka akan mempengaruhi status gizi. Lalu ketersediaan pangan juga mempengaruhi status gizi dan kesehatan. 2. Goal achievement Konsumsi pangan menjadi tujuan akhir, diharapkan semua masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dalam pangan, 3. Integrasi yaitu cadangan pangan, akses pangan, pertumbuhan daya kerja, gizi kurang atau lebih. 4. Latensi Pemeliharaan didalam struktur pangan, membuat, mengubah bentuk pangan, adanya akses fisik dan ekonomi, adanya cadangan impor maupun ekspor. Sturktur pangan dan gizi, memiliki tujuan akhir berupa konsumsi pangan melalui tahapan diatas. 66 PERTEMUAN XV INDIKATOR EKOLOGI A. INDIKATOR EKOLOGI Keberadaan suatu organisme atau beberapa organisme yang berada pada suatu ekosistem tertentu dan menentukan keadaan fisik-sosekbud wilayah tersebut.  Hukum Minimum Leibig kebutuhan dasar yang terdapat di lingkungan tidak semuanya tersedia secara mencukupi (jumlahnya terbatas), sehingga manusia hanya dapat bertahan hidup pada faktor tertentu di lingkungannya dalam keadaan minimum. Contoh : ketika kita ujian jika waktu semakin sedikit kita akan menjadi lebih mudah berfikir dibanding awal jam pengerjaan.  Hukum Toleransi Shelford Manusia dapat bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh faktor pembatas minimum saja, tetapi ditentukan oleh faktor pembatas maksimum. Contoh : perubahan iklim, kita bisa bertahan hidup dalam keadaan suhu dingin maupun sebaliknya. B. KOMODITAS SAGU MENJADI INDIKATOR EKOLOGI Komoditas sagu menjadi indikator ekologi (berdasarkan konsep bio-eco-culture) untuk wilayah Indonesia bagian timur. 1) Sumber pangan Pati sagu digunakan sebagai makanan pokok dan cadangan pangan. 2) Sumber energi Sumber bahan baku bioetanol. 3) Kekuatan nilai budaya ”Lumbung” makanan untuk kelompok kerabat maupun keluarga. 4) Aspek ekologis Lahan sagu dapat melindungi air tanah, dapat menciptakan air pada habitatnya, berfungsi sebagai zona di pesisir, sebagai buffer intrusi air laut & penyerap O2. C. PARADIGMA EKOLOGI BUDAYA (Cultural Ecology)  Julian Steward (1968) Ekologi budaya adalah studi yang mempelajari bagaimana suatu masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya.  Adaptasi lingkungan hanya berlangsung di unsur budaya tertentu, seperti penduduk (kebiasaan makan) dan merupakan inti kebudayaan (cultural core).  Di inti kebudayaan inilah berlangsung interaksi antara kebudayaan dengan lingkungan hidup di sekitarnya. D. KEBIASAAN MAKANAN DAN LINGKUNGAN HIDUP Kebiasaan makan yang tumbuh dan berkembang tidak terlepas dari pengaruh faktor luar (faktor lingkungan : ciri tanaman pangan, ternak dan ikan yang tersedia dan dapat dibudidayakan), faktor budaya dan sistem sosial ekonomi. 67  Pengembangan kebiasaan makan (pengendalian kenaikan konsumsi pangan tertentu, misalnya beras, terigu ke arah keseimbangan gizi dan keanekaragam konsumsi pangan (TGS,PPH) seperti melalui pengembangan pangan lokal/tradisional), keseimbangan antara pola konsumsi pangan dengan daya dukung lingkungan dan kelestarian fungsi lingkungan.  Jika hal ini terjadi, keseimbangan lingkungan pun akan terjadi. Hal ini terjadi karena tidak adanya percepatan pertanian, masyarakat tidak terlalu bergantung pada alam karena mereka bisa menghasilkan pangan sendiri. Dengan tujuan akhir terciptanya kelestarian lingkungan. E. ADAPTASI  Food coping stategy Suatu respon jangka pendek dan segera terhadap menurunnya akses terhadap pangan.  Tujuan : Mempertahankan berbagai tujuan termasuk pemenuhan konsumsi pangan, kesehatan, status, dan mata pencaharian.  Bentuk food coping stategy (Maxwell 2001) : 1) Mengurangi makanan kesukaan 2) Membeli makanan yang lebih murah 3) Meminjam makanan atau uang untuk membeli pangan 4) Membeli makanan dengan berhutang 5) Meminta bantuan kepada teman 6) Membatasi dan membagi makanan 7) Membatasi konsumsi makan pribadi untuk memastikan anak cukup makan 8) Mengurangi satu jenis makanan pada satu hari 9) Menjalani hari tanpa makan  Contoh perilaku food coping stategy a. Rumah tangga petani di Kabupaten Lebak Banten : beralih pada pangan yang lebih murah. b. Rumah tangga di wilayah rawan pangan dan gizi di Kabupaten Banjarnegara meminjam uang kepada saudara dan kepada orang lain. F. THE GROWTH SEBAGAI GERAKAN SOSIAL  The Growth merupakan gerakan sosial yang fokus kepada pertumbuhan ekonomi berlebih serta pertumbuhan sosial.  The Growth menganut teori bahwa kerusakan lingkungan bukan karena banyaknya populasi manusia, tetapi terjadi karena kebiasaan manusia tersebut.  Sebagai proyek penyusutan masyarakat secara sukarela dari produksi dan konsumsi yang ditunjukkan untuk keberlanjutan politik, sosial, budaya, dan ekologis.  The Growth gerakan sukarela bukan karena terpaksa dalam hal pangan, hal ini terjadi karena masyarakat sekarang hanya menganggap pangan hanya sebagai pelengkap bukan lagi bagian dari tubuhnya. 68 Contoh : Masyarakat makan hanya karena lapar bukan karena ingin memenuhi kebutuhan gizi pada tubuh mereka. G. PARADIGMA ATAU KONSEP THE GROWTH Paradigma diartikan sebagai model atau cara pandang terhadap suatu persoalan yang didalamnya terdapat sejumlah asumsi tertentu, teori tertentu, metode tertentu dan pemecahan masalah tertentu. 1) Eco-centrism Yaitu alam dan manusia memiliki kedudukan yang sama. 2) Anthropocentrism Yaitu manusia sebagai pusat segalanya. H. KONSEP OVERCONSUMPTION Konsep overconsumption terjadi bukan karena kita menginginkan hal tersebut,tetapi hanya karena “lapar mata.” Contoh : di Bogor banyak sampah rumah tangga yang dihasilkan dari kedai kopi, mereka menghasilkan sampah mkanan sepereti susu yang sudah tidak terpakai lagi. Maka yang terjadi itu inseminasi buatan yang tidak mendukung pada hewan. Jadi kebutuhan pasar akan susu meningkat, tetapi kebutuhan pangan menjadi over. I. DEEP ECOLOGY ATAU ECOLOGISM Deep ecology memandang dan menilai sebuah tindakan sosial dari perspektif lingkungan alam secara keseluruhan, dan tidak secara parsial dari kacamata manusia semata-mata. Secara khusus, dalam sistem gagasan ini termasuk juga upaya advokasi terhadap eksistensi sistem sosio budaya lokal yang seringkali diabaikan dan dimatikan oleh sistem pengetahuan barat. Para penganut paham ini hendak mengubah tatanan ekonomi sosial dan politik dunia secara fundamentalistik-radikal-struktural. Mereka memperjuangkan terbentuknya struktur tatanan dunia “baru” dan sistem kemasyarakatan baru yang menghargai alam demi kelangsungan hidup keseluruhan sistem ekologi itu sendiri J. MODERNISASI EKOLOGI Modernisasi ekologi merupakan dinamika proses perbaikan lingkungan di era modern. Ide dasar modernisasi ekologi adalah bahwa di akhir millenium dua masyarakat modern tergerak untuk memperhatikan kepentingan ekologi, menggagas dan mempertimbangkannya dalam desain institusi mereka, karenanya stuktur ekologi menginspirasi proses transformasi dan perbaikan institusi modern. 69 K. REPRESENTASI THE GROWTH DARI VEGAN DAN VEGETARIAN Vegetarian dibagi menjadi 4, yaitu : 1) Lacto-ovo vegetarians Tidak mengonsumsi daging dan ikan namun masih mengonsumsi telur dan produk susu. 2) Lacto vegetarians Tidak mengonsumsi daging, ikan dan telur namun masih mengonsumsi produk susu. 3) Ovo vegetarians Tidak mengonsumsi daging, ikan dan produk susu namun masih mengonsumsi telur. 4) Partial vegetarians (setengah vegetarian) menghindari daging merah namun masih mengonsumsi ikan (pescovegetarian, pescatarian) atau masih mengonsumsi daging unggas (pollovegetarian).  Kebanyakan orang yang memilih menjadi vegetarian karena keterbatasan agama, adanya pemikiran takut menyakiti hewan. Dalam pemikiran masyarakat yang memilih menjadi vegan bukan karena keterbatasan agama, tetapi didukung dengan adanya pemikiran gerakan moral. Contoh : Ekowisata merupakan salah satu bentuk wisata yang berbasis ekologi. Orang vegan ketika kita menggunakan produk dari hewan berarti kita menganggap kebutuhan hewan tersebut jauh lebih penting dari hak – hak yang sudah diambil.  Vegan masuk ke deep ekologi karena tidak ada ekolabel. Vegan termasuk deep ekologi karena memandang bahwa manusia dan hewan memiliki derajat yang sama, sedangkan vegetarian masuk ke dalam modernisasi ekologi. 70

Judul: Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

Oleh: Chika Shafa Maura


Ikuti kami