Jurnal Ngurah Fix Banget

Oleh Ngurah Sudarsana

894,6 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Ngurah Fix Banget

EVALUASI TINGKAT KEBERHASILAN REKLAMASI TERHADAP LAHAN BEKAS PENAMBANGAN BATU KAPUR DI PT SEMEN INDONESIA (PERSERO),Tbk. KAB. TUBAN, JAWA TIMUR RECLAMATION SUCCES RATE EVALUATION POST-MINING LAND OF LIME STONE IN PT SEMEN INDONESIA (PERSERO), Tbk. KAB. TUBAN, EAST JAVA I Made Ngurah Sudarsana1, Eddy Ibrahim2, Hartini Iskandar3 1,2,3 Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km.32 Inderalaya Sumatera Selatan, Indonesia e-mail: fumidoctor@gmail.com ABSTRAK PT Semen Indonesia (Persero),Tbk. merupakan perusahaan tambang batu kapur terletak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Dengan luas IUP batu kapur 797,44 ha, lokasi penambangan PT Semen Indonesia (Persero)Tbk, terletak di Desa Temandang, Pongpongan, Kecamatan Merakurak dan Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban Jawa Timur. Untuk menjaga stabilitas lingkungan perlu diadakan reklamasi terhadap lahan yang telah selesai ditambang. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, melaksanakan kegiatan reklamasi setiap satu blok yang sudah selesai ditambang. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang telah dilakukan, perlu diadakan suatu penilaian agar didapat hasil akhir berupa persentase tingkat keberhasilan reklamasi (Menurut Permen ESDM No 7 Tahun 2014). Adapun hasil dari perbandingan data perencanaan dan realisasi reklamasi area blok ABC 8-14 terdapat perbedaan antara perencanaan dan realisasi meskipun tidak signifikan. Dari segi penataan lahan, perencanaan awal seluas 10 hektar tetapi hanya mencapai 8 hektar saat realisasinya, kemudian dari segi penebaran tanah pucuk, rencana awal adalah sebesar 30.000 m3 namun pada saat realisasinya hanya tercapai sekitar 24.000 m3. Beralih pada aspek revegetasi, awalnya direncanakan pohon yang ditanam sekitar 12.480 pohon, namun pada realisasnya hanya tumbuh sekitar 11.232 pohon jati. Tanaman yang ditanam adalah pohon jati dan rimba. Dari hasil evaluasi yang telah dilakukan dengan membandingkan data perencanaan dan data realisasi lapangan telah didapat persentase keberhasilan sebesar 85,7 % dengan kategori baik. Kata kunci: reklamasi, evaluasi, penataan lahan, drainase, revegetasi. ABSTRACT PT Semen Indonesia (Persero), Tbk. is a located in Tuban Regency, East Java. With a limestone mining license of 797.44 ha, at Temandang Village, Pongpongan, Merakurak Subdistrict and Sumberarum Village, Kerek District, Tuban Regency, East Java. To maintain environmental stability, it is necessary to reclaim the land which has been mined. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, conducting reclamation activities every one block that has been completed mined. To determine the level of success that has been done, need to be held an assessment to obtain the final result of the percentage of success rate of reclamation (According to Minister of Energy and Mineral Resources No 7 of 2014). There is difference between planning and realization. In terms of land arrangement, the initial planning of 10 hectares but only 8 hectares on realization, then in terms of shifting top soil, the plan is 30,000 m3 but at the realization only about 24,000 m3. On revegetation aspect, originally planned trees planted around 12,480 trees, but on realization only grow about 11,232 teak trees. Plants for planting are teak and jungle trees. From the results of the evaluation that has been done by comparing the data planning and field realization data has obtained a success percentage of 85.7% with good category. Keywords: reclamation, evaluation, land of arangement, drainage, revegetation. 1. PENDAHULUAN PT Semen Indonesia (Persero), Tbk. merupakan perusahaan tambang batu kapur di Provinsi Jawa Timur. Jenis metode penambangan yang digunakan adalah metode tambang terbuka (kuari). Lokasi Penambangan dan Pabrik PT Semen Indonesia (Persero), Tbk. berada di Kecamatan Kerek dan Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Kegiatan utama pada penambangan tersebut terdiri dari pengupasan lapisan tanah penutup, pembongkaran dengan peledakan, pemuatan, dan pengangkutan dari lokasi penambangan ke lokasi peremukan. Dalam kegiatan pertambangan, dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti, rusaknya ekosistem, sehingga dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dalam bentuk pencemaran air, tanah, dan udara yang disebabkan oleh, kegiatan pertambangan sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula. Kemudian dampak lainnya, usaha pertambangan dalam waktu yang relatif singkat dapat mengubah bentuk topografi dan keadaan muka tanah (land impact), sehingga menyebabkan kerusakan keseimbangan sistem ekologi bagi daerah sekitarnya Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengevaluasi pelaksanaan penatagunaan lahan, (2) Mengevaluasi pelaksanaan pengendalian erosi dan sedimentasi, (3) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan revegetasi pada lahan bekas penambangan, (4) Melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang yang berpedoman pada Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No.7 Tahun 2014 tentang pelaksanaan reklamasi dan pasca tambang pada kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara. Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya [1]. Kegiatan penataan lahan meliputi kegiatan pengisian kembali lubang bekas tambang, penataan permukaan tanah, kestabilan lereng, dan penaburan tanah pucuk [2]. Tanah pucuk (top soil) adalah lapisan tanah bagian atas yang banyak mengandung unsur hara yang sangat baik untuk pertumbuhan tanaman [3]. Erosi adalah pengikisan atau kelongsoran yang sesungguhnya merupakan proses penghanyutan tanah oleh desakandesakan atau kekuatan angin dan air, baik yang berlangsung secara alamiah ataupun sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia [4]. Sedimentasi atau pengendapan adalah proses terangkutnya sedimen oleh suatu limpasan/aliran air yang diendapkan pada suatu tempat yang kecepatan airnya melambat atau terhenti seperti pada saluran sungai, waduk, danau maupun kawasan tepi teluk atau laut [5]. Dalam kegiatan revegetasi perlu memperhatikan antara jenis tanaman yang dipilih dan syarat tumbuh tanaman dengan kondisi lahan, agar kriteria keberhasilan reklamasi dapat tercapai, apabila pemilihan tanaman tepat dan sesuai terhadap kondisi lahan yang akan direklamasi, maka tanaman dapat tumbuh dengan baik, persentase tumbuh tanaman yang diinginkan tercapai, jumlah tanaman tiap hektar memenuhi target, kombinasi jenis tanaman sesuai serta kesehatan tanaman baik jika hal tersebut terlaksana maka keberhasilan reklamasi pada aspek revegetasi dapat dikatakan berhasil karena telah sesuai dengan kriteria keberhasilan reklamasi yang ditetapkan [6]. Setelah dilakukan revegetasi perlu dilakukan perawatan terhadap hasil reklamasi meliputi pemupukan tanaman, perawatan tanaman, dan pemberian obat– obatan (pestisida) agar kondisi tanaman dapat selalu baik [7]. 2. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di PT Semen Indonesia (Persero), Tbk pada lahan reklamasi blok ABC 8-14 dengan luas keseluruhan lahan tambang batu kapur 797,44 Ha sesuai dengan ijin lokasi dari Pemerintah Provinsi Tingat I Jawa Timur dengan No.545.4/84/166/1994, yang berlokasi di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 02 April 2018 dan berakhir pada tanggal 30 April 2018, yang bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanan penatagunaan lahan, mengevaluasi pelaksanaan pengendalian erosi dan sedimentasi, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan revegetasi pada lahan bekas penambangan, dan melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang. Dari perencanaan reklamasi yang telah dilakukan, kemudian data perencanaan tersebut akan dibandingkan dengan realisasi yang ada di lapangan, sebagai dasar untuk penilaian tingkat keberhasilan reklamasi yang telah dilakukan. Aspek-aspek keberhasilan reklasmasi yang dibahas di penelitian ini mengacu pada Permen ESDM no 7 Tahun 2014. Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: Studi literatur dilakukan dengan mempelajari teori-teori yang bisa digunakan untuk menganalisa permasalahan dari penelitian yang dilakukan. Berupa reklamasi, dasar hukum kegiatan reklamasi, erosi dan sedimentasi, saluran drainase, dan revegetasi. Referensi yang digunakan berupa buku, jurnal, peraturan-peraturan, arsip dan laporan penelitian PT Semen Indonesia (Persero), Tbk yang berkaitan dengan reklamasi tambang. Orientasi lapangan dilakukan dengan cara mengamati secara langsung terhadap kondisi umum di lokasi penelitian secara visual seperti pengamatan terhadap proses reklamasi dan kondisi umum lahan reklamasi di lapangan. Untuk mendapatkan jumlah kebutuhan alat mekanis yang sesuai agar terlaksana sesuai dengan target yang direncanakan maka dapat dihitung dengan menghitung produktivitas alat tersebut berdasarkan Pers. (1-3) [8]: Q=qx Q=qx 60 Ct xexE 3600 𝐶𝑡 xE 60 P = C x 𝐶𝑚𝑡 x Et x M (1) (2) (3) Keterangan: Q = Produktivas Bulldozer (LCM/jam) q = Produksi per siklus (m3) e = grade factor E = Effisieni kerja Ct = Cycle time (menit) P = Produktivitas dumptruck (LCM/Jam) C = Produksi per siklus (m3) Cmt = Cycle time dumptruck (menit) Dalam merencanakan pembuatan saluran drainase terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu curah hujan dengan menghitung curah hujan rencana, intensitas hujan rencana dan air limpasan pada Pers. (4-6) [9]: X T = x + (K × SX ) It  Q (4) 60.Rt t (5) 1 xC xI xA 360 (6) Keterangan: X T = Besarnya curah hujan rencana untuk periode ulang T (mm/bulan) x = Curah hujan rata-rata (mm/bulan) K = Variabel Reduksi SX = Standar Deviasi It = Intensitas hujan (mm/jam) Rt = Curah hujan dalam t menit (mm) t = Lama hujan (menit) Q = Debit limpasan (m3/detik) C = Koefisien limpasan I = Intensitas curah hujan (m/jam) A = Luas catchment area (Ha) Kapasitas saluran dapat ditentukan dengan rumus Manning. Perhitungan kapasitas rencana pengaliran suatu saluran berdasarkan Pers (7-10) [10]: Q=A×V (7) V = 1/n × R2/3 × S1/2 (8) Q = A × 1/n × R2/3 × S1/2 (9) R= A P (10) Keterangan: Q = Debit aliran dalam saluran (m3/detik) A = Luas penampang saluran (m2) V = Kecepatan aliran rata-rata dalam saluran (m/det), n = Koefisien kekasaran manning R = Jari-jari hidraulik (m) S = Kemiringan dasar saluran P = Keliling basah Pengambilan data merupakan kegiatan memperoleh data-data yang dibutuhkan dan diperlukan dalam melakukan penelitian. Adapun data-data yang diambil adalah sebagai berikut: Data Primer: Data ini didapat dan diperoleh dari observasi di lapangan, dokumentasi kegiatan, dan tanya jawab serta diskusi dengan pembimbing lapangan maupun operator lapangan, data tersebut meliputi: Data citra udara, Pengambilan data ini dilakukan untuk mendapat gambar citra udara pada blok area reklamasi untuk mengetahui berapa persen penutupan tanjuk yang telah berhasil dilakukan. Data Sekunder: Data ini dikumpulkan dari literatur dan data yang diarsipkan perusahaan, data sekunder yang digunakan adalah sebagai berikut: Data rencana pengisian lubang tambang, Data rencana penataan lahan dan realisasinya, Data luas area yang mengalami kelongsoran, Data rencana penaburan tanah pucuk dan realisasinya, Data jumlah bangunan konservasi tanah, Data rencana luas area yang akan direklamasi, Data revegetasi lahan reklamasi. Pengolahan dan analisis data: Pengolahan data terhadap data yang diperoleh dari pengamatan di lapangan maupun data perusahaan dengan pustaka yang ada. Adapun tahapan dalam pengolahan dan analisis data ini adalah: 1. Menghitung seberapa luas area perencanaan reklamasi dan penatagunaan lahannya kemudian dibandingkan dengan realisasi di lapangan. 2. Membandingkan data perencanaan pengendalian erosi dan sedimentasi dengan data realisasi yang ada di lapangan. 3. Membandingkan perencanaan revegetasi yang dilakukan (luas area revegetasi, jumlah pohon, jenis tanaman) terhadap realisasi di lapangan. 4. Melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan reklamasi, mengacu pada tabel penilaian yang ada dalam Permen ESDM Nomor 7 Tahun 2014. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Evaluasi Tingkat Keberhasilan Reklamasi Terhadap Lahan Bekas Penambangan Batu Kapur Di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Kabupaten Tuban Jawa Timur dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi pelaksanan penatagunaan lahan, pelaksanaan pengendalian erosi dan sedimentasi, pelaksanaan kegiatan revegetasi pada lahan bekas penambangan, dan melakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang. 3.1. Perencanaan dan Realisasi Kegiatan Penatagunaan Lahan Hasil dari perbandingan antara data perencanaan dan realisasi kegiatan penataan lahan yang dilakukan terdapat perbedaan, berikut adalah data perencanaan dan realisasi yang didapat. 3.1.1. Luas Area Penataan Lahan Luas rencana awal blok ABC 8-14 sebesar yangakan ditata dan digunakan untuk areal reklamasi adalah sebesar 10 Ha tetapi realisasinya hanya sebesar 8 Ha. Hal ini disebabkan karena masih ada bangunan bangunan sementara yang tidak digusur dan, terdapat area yang dipakai sebagai tempat parkir sementara alat berat yang tidak beroperasi. Sementara untuk pengisian lubang bekas tambang pada perencanaan dan realisasi, kegiatan pengisian lubang bekas tambang tidak perlu dilakukan karena, lahan yang telah selesai ditambang tidak menimbulkan lubang-lubang yang bermasalah bagi proses reklamasi. 3.1.2. Penebaran Tanah Pucuk (Top Soil) Kebutuhan tanah pucuk yang diperlukan oleh perusahaan diambil dari area blok tambang yang baru dibuka lapisan tanah penutupnya. Untuk menambah kebutuhan tanah pucuk , PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, juga memakai tanah liat yang jatuh (spoils) di sekitar jalan pada saat dilakukan pengangkutan oleh dump truck, agar tidak terbuang dan menjadi pengotor, sehingga masih dapat dimanfaatkan. Sesuai dengan rencana tahunan perusahaan dari dokumendokumen perencanaan sebelumnya kebutuhan tanah pucuk pada tiap hektar area adalah sebesar 3.000 m3 dengan ketebalan 0,3 m. Untuk blok ABC 8-14 dengan luas area sebesar 10 Ha maka volume tanah pucuk yang dibutuhkan sebesar 30.000 m3 (Tabel 1). Alat gali – muat yang digunakan adalah backhoe komatsu PC200 LC-8 dan alat angkut dari blok pengambilan tanah pucuk menuju blok D,E menggunakan dumptruck UD Quester (kapasitas 20 ton). Sedangkan di lokasi penebaran tanah pada blok ABC 8-14 menggunakan alat gusur bulldozer Komatsu D85ESS-2. Dari perencanaan penebaran tanah pucuk (top soils) seperti yang telah di buat pada tabel (Tabel 1) volume tanah pucuk yang dibutuhkan sebesar 30.000 m3 tetapi saat dilakukan pengamatan kelapangan dan dari data tahunan perencanaan reklamasi yang dibuat oleh perusahaan ternyata realisasi yang ada di lapangan hanya sebesar 24.000 m3. Terjadi pengurangan volume tanah pucuk yang dipakai, disebabkan oleh berkurangnya luas area penataan lahan sehingga berdampak pada berkurangnya realisasi volume penebaran tanah pucuk yang ada di lapangan seperti pada tabel berikut (Tabel 2). 3.1.3. Kebutuhan Alat Mekanis Penebaran (Top Soil) Alat gali – muat yang digunakan adalah backhoe Komatsu PC200 LC-8 dengan kapasitas bucket 1,0 m3, waktu siklus 13,5 detik dengan asumsi effisiensi kerja dari alat 0,75 maka didapatkan hasil untuk perhitungan produktivitas dari alat dalam satu jam adalah 41,65 BCM/jam Perhitungan jumlah alat yang dibutuhkan untuk kegiatan penebaran tanah pucuk didapatkan dari membagi jumlah tanah pucuk yang dibutuhkan untuk luas area 8 ha yaitu sebanyak 24.000 m3, dengan produktivitas alat gali–muat selama jam kerja/tahun maka jumlah backhoe yang dibutuhkan adalah 1 unit. Alat angkut yang digunakan adalah dumptruck UD Quester dengan kapasitas 20 ton atau kapasitas vessel 10 m3, waktu siklus 13,88 menit dengan asumsi effisiensi kerja dari alat 0,8 maka didapatkan hasil untuk perhitungan produktivitas dari alat angkut dalam satu jam adalah 25,8 BCM/Jam. Perhitungan jumlah alat angkut dengan menghitung nilai keserasian dari alat gali – muat dan alat angkut. Dari perhitungan nilai keserasian 0,13 yang artinya antara alat gali – muat terdapat waktu tunggu sedangkan alat angkut bekerja maksimal untuk mengatasi agar alat gali - muat bekerja dengan maksimal maka dengan menambahkan jumlah alat angkut. Alat angkut yang digunakan adalah sebanyak 7 unit. 3.1.4. Kebutuhan Alat Penataan Top Soil Alat gusur yang digunakan adalah Bulldozer Komatsu D85ESS–2 dengan kapasitas blade 3,4 m3, waktu siklus 2,81 menit dan asumsi effisiensi kerja dari alat gusur 0,75 maka didapatkan hasil untuk perhitungan produktivitas dari alat gusur dalam satu jam adalah 41,65 BCM/Jam. Perhitungan jumlah alat gusur yang diperlukan dalam kegiatan penebaran tanah pucuk didapatkan dari membagi jumlah volume tanah pucuk yang diperlukan untuk 8 ha sebanyak 24.000 m3 dengan produktivitas alat gusur selama jam kerja/tahun maka didapatkan jumlah bulldozer yang dibutuhkan adalah 1 unit. Jumlah volume top soil yang dibutuhkan untuk menutupi lahan yang akan direklamasi seluas 8 ha yaitu sebanyak 24.000 m3 yang di ambil dari lahan yang akan ditambang di Blok BB dan CC merupakan pekerjaan yang menggunakan alat gali – muat 1 unit backhoe Komatsu PC200 LC-8 dengan produktivitas 187 BCM/Jam dan 7 unit alat angkut dumptruck UD Quester memerlukan waktu pengerjaan selama 132,56 Jam atau 1 Bulan dengan waktu efektif dalam satu tahun yaitu 877,5 Jam/Tahun. Jumlah top soil yang akan di tata pada lahan seluas 8 ha yaitu 24.000 m3 yang sudah di angkut dari Blok BB dan CC kemudian di dumping pada lokasi reklamasi dan akan di tata dengan menggunakan alat penataan bulldozer Komatsu D85ESS–2 dengan produktivitas 41,65 BCM/Jam memerlukan waktu pengerjaan selama 576,24 Jam atau 3,5 bulan dengan waktu efektif dalam satu tahun yaitu 877,5 Jam/Tahun. 3.2. Perencanaan dan Realisasi Pengendalian Erosi dan Sedimentasi Hasil dari perbandingan antara data perencanaan dan realisasi pengendalian erosi dan sedimentasi yang dilakukan terdapat perbedaan, namun tidak terlalu signifikan, berikut adalah data perencanaan dan realisasi yang didapat. 3.2.1. Pembuatan Bangunan Konservasi Tanah Dalam upaya menanggulangi seerta mengendalikan erosi dan sedimentasi yang terjadi, dilakukan dengan konservasi tanah berupa pembuatan beberapa bangunan konservasi tanah. Di PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, bentuk bangunan konservasi tanah yang direncanakan berupa saluran drainase dan saluran pengelak. Untuk blok ABC 8-14 perencanaan saluran pengelak yang direncanakan sejumlah 4 buah (Gambar 1) yang berfungsi untuk memotong air larian dan mengalihkannya menjauhi daerah kegiatan. Kegunaan lain untuk melindungi bibit tumbuhan yang baru ditanam, agar tidak terbawa aliran air jika terjadi hujan saat proses penanaman awal sedang berlangsung. 3.2.2. Dimensi Saluran Drainase Penentuan dimensi saluran berdasarkan perhitungan debit maksimum air permukaan didapatkan hasil dengan besarnya debit air permukaan (Q) yaitu 0,16 m3/detik dan memakai rumus manning untuk menentukan dimensi yang direncanakan. Tabel 1. Data Kebutuhan Tanah Pucuk Lokasi Blok ABC 8-14 Volume dibutuhkan per hektar (m3) 3.000 Tebal (m) 0,3 Luas Area (ha) 10 Volume dibutuhkan (m3) 30.000 Dari hasil perhitungan yang dilakukan dengan besar debit air permukaan tersebut maka untuk dimensi saluran dengan menggunakan nilai koefisien manning (n) yaitu 0,028 dimana saluran digali dengan menggunakan excavator, persentase kemiringan (S) yaitu 0,01 didapat hasil dimensi yang direncanakan yaitu lebar dasar saluran (B) 0,75 m , kedalaman saluran (h) 0,50 m , tinggi jagaan (F) 0,125 m tinggi saluran (H) 0,625 dan lebar dari permukaan saluran (L) 1,25 m. Dari perencanaan yang dilakukan, terdapat perbedaan dimensi dari saluran drainase, terdapat perbedaan antara perencanaan dan realisasi pembuatan saluran drainase dari segi bagian lebar dalam, pada bagian perencanaan lebarnya 0,75 m sedangkan pada realisasi, lebar dalamnya mencapai 0,85 m berikut ini adalah hasil realisasi saluran drainase yang terdapat dilapangan (Gambar 2). 3.2.3. Pengamatan Berkala Terhadap Kejadian Erosi dan Sedimentasi Setelah realisasi pembangunan selesai maka harus diadakan kegiatan pemantauan dan pengamatan untuk mengetahui manfaat dan tingkat keberhasilan reklamasi. Kemudian dari hasil pengamatan yang dilakukan secara berkala tidak ditemukan tingkat erosi dan sedimentasi yang terjadi (Tabel 3). 3.3. Perencanaan dan Realisasi Revegetasi Hasil data perencanaan dan realisasi dari aspek revegetasi lingkungan yang didapat dilingkungan adalah sebagai berikut Tabel 2. Perbandingan Volume Penebaran Tanah Pucuk Perbandingan Perencanaan Realisasi Lapangan Volume dibutuhkan per hektar (m3) 3.000 3.000 Tebal (m) 0,3 0,3 Gambar 1. Lahan Yang Akan Direklamasi 1,25 m 0,50 m 0,125 m 0,85 m Gambar 2. Realisasi Bentuk dan Dimensi Saluran Drainase Luas Area (Ha) 10 8 Volume dibutuhkan (m3) 30.000 24.000 Gambar 3. Realisasi Perawatan Tanaman Tabel 3. Pemantauan Sarana Kendali Erosi dan Sedimentasi Realisasi Pemantauan Saluran Pengelak Saluran Air Drainase Item Evaluasi Kemampuan menahan / memperlambat laju aliran air permukaan Kemampuan menahan material / endapan yang terbawa oleh air Kemampuan tanah agar tidak tergerus Terjadi pembentukan bidang gelincir yang menggerus tanah Temuan kerusakan fisik pada sarana pengendali erosi Temuan limpasan yang tidak sesuai Pergerakan atau perubahan bentuk sarana pengendalian akibat pergeseran atau pergerakan tanah Baik Baik Baik Baik Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Baik Baik Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Tabel 4. Total Penebaran Bibit Tanaman Cover Crop Lokasi Blok ABC 8-14 Penebaran (m2/kg) 100 Luas Area (ha) 10 Total Penebaran (kg) 1000 3.3.1. Penanaman Cover Crop (Tanaman Penutup Tanah) Perencanaan tanaman penutup tanah yang direncanakan di blok ABC 8-14 adalah seluas sesuai dengan dokumen perencanaan reklamasi yang dibuat. Tanaman cover crop yang dipakai adalah jenis kacang-kacangan (calopogonium caeruleum, calopognium mucunoides) yang dicampur dan ditebar dengan penebaran sebesar 100 m 2 / kg (Tabel 4). Setelah dilakukan pengamatan, luas yang ditanami tanaman penutup tanah hanya sebesar 8 hektar. Dari 8 hektar tersebut tanaman cover crop telah menutupi lapisan tanah dengan sempurna, hal ini bisa dilihat dari tidak adanya tekstur tanah yang terlihat lagi di sekitar blok ABC 8-14 sehingga realisasi yang dilakukan sangat baik. 3.3.2. Penanaman Tanaman Cepat Tumbuh (Tanaman Pionir) Bentuk perencanaan yang dilakukan terhadap kegiatan penanaman tanaman cepat tumbuh yaitu sebesar 20 % dari jumlah total tanaman yang di tanam atau sekitar 1.920 pohon dari keseluruhan total 12.480 tanaman. Jenis tanaman pionir yang dipakai berupa tanaman lamtoro dan turi. Setelah dilakukan pengamatan dilapangan jumlah tanaman mencapai 2.246 pohon dari total tanaman yang hidup 11.232 pohon. 3.3.3. Penanaman Tanaman Jenis Lokal Pada saat perencanaan penanaman tanaman jenis lokal untuk 1 hektarnya perencanaan penanaman pohon jati yang dibuat sebesar 80 % dari total penanaman (1.650 pohon). Maka untuk 1 hektarnya sekitar 1.330 pohon jati. Tetapi pada realisasinya pohon jati yang tumbuh sebesar 8.986 pohon. 3.3.5. Realisasi Perawatan Tanaman Perawatan tanaman yang direalisasikan di blok ABC 8-14 berupa penyiraman, pemupukan, pendangiran dan penyulaman tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan mengurangi resiko tanaman yang gagal tumbuh (Gambar 3). Bagian yang tidak tumbuh dengan baik Gambar 4. Realisasi Penutupan Tajuk Tabel 5. Pedoman Penilaian Tingkat Keberhasilan Reklamasi Menurut Permen ESDM No 7 Tahun 2014 No 1 2 3 Uraian Kegiatan Penatagunaan Lahan a. Penataan permukaan tanah dan penimbunan kembali lahan bekas penambangan b. Penebaran tanah zona pengakaran c. Pengendalian erosi dan pengelolaan air Revegetasi a.Penanaman tanaman penutup (cover crop) b.Penanaman tanaman cepat tumbuh c.Penanaman tanaman jenis lokal d.Pengendalian air asam tambang Penyelesaian akhir a.Penutupan tajuk b.Perawatan Total Bobot (%) Hasil Evaluasi (%) Hasil Penilaian (%) 40 80 32 10 80 8 10 100 10 2,5 80 2 7,5 100 7,5 5 5 80 - 4 5 10 10 100 90 100 9 10 87,5 3.3.6. Hasil Persentase Penutupan Tanjuk Sebagai bentuk penyelesaian akhir terhadap kegiatan reklamasi yang dilakukan, persentase penutupan tanjuk juga merupakan salah satu poin yang harus diperhatikan. Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan pengambilan gambar citra udara untuk menemukan seberapa besar persentase penutupan tanjuk terhadap keseluruhan luas area reklamasi. Setelah dilakukan pengolahan data maka didapat persentase penutupan tanjuk sebesar 90 % (Gambar 4). 3.4. Penilaian Tingkat Keberhasilan Reklamasi Penilaian keberhasilan reklamasi dilakukan dengan berpedoman pada tabel penilaian tingkat keberhasilan reklamasi sesuai dengan Permen ESDM No. 7 Tahun 2014 maka didapat hasil penilaian sebagai berikut (Tabel 5). Berdasarkan penilaian pada tiap kriteria keberhasilan reklamasi, didapatkan bahwa pelaksanaan reklamasi yang telah dilaksanakan oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, mendapatkan nilai 87,5 %. Sehingga pelaksanaan reklamasi pada lahan bekas penambangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, masuk pada kriteria berhasil, namun dari kriteria keberhasilan tersebut masih ada perencanaan reklamasi yang tidak sesuai dengan realisasi di lapangan sehingga terdapat ketidakselarasan antara data perencanaan dan data realisasi. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain: 1. Perencanaan penatagunaan lahan yang dilakukan di PT Semen Indonesia (Persero), Tbk telah sesuai dengan realisasi yang ada dilapangan meskipun terdapat perbedaan yang tidak terlalu signifikan misalnya, dari segi perencanaan awal penataan, luas lahan yang akan ditata sebesar 10 hektar namun realisasinya hanya tercapai sebesar 8 hektar, hal tersebut dikarenakan masih adanya area yang dipakai sebagai tempat pemberhentian sementara alat berat, kemudian dari segi penebaran tanah pucuk, awalnya direncanakan top soil yang akan dipakai sebesar 30.000 m3, tetapi yang terealisasin hanya sebesar 24.000 m3. 2. Aspek perencanaan pengendalian erosi dan sedimentasi yang dilakukan telah sesuai dengan realisasai yang ada dilapangan hal tersebut dapat dilihat dari pengamatan saluran drainase yang ada di lapangan, meskipun terdapat perbedaan sekitar 0,10 m lebih lebar di bagian dalam saluran drainase, kemudian saluran pengelak yang ada juga telah mencapai jumlah yang sama dengan total perencanaan yaitu sebanyak 4 buah saluran pengelak air yang dibuat pada blok ABC 8-14. 3. Perencanaan revegetasi untuk blok ABC 8-14 sebesar 12.480 dan yang terealisasi sebanyak 11.232 pohon yang terdiri dari pohon jati sebesar 8.986 pohon dan 2.246 pohon campuran dari lamtoro serta turi. Terdapat selisih antara jumlah pohon yang direncanakan dengan yang ada dilapangan sebesar 1248 pohon (10 %), hal ini dikarenakan tidak semua pohon yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, dan setiap pohon tidak mendapat perawatan yang, kemudian dari segi penutupan tanjuk yang dipantau dari foto udara terdapat 10% area yang tidak tertutup dengan baik karena terdapat tanaman yang mati atau gagal tumbuh di lapangan. 4. Pencapaian Tingkat keberhasilan reklamasi di PT Semen Indonesia (Persero), Tbk mencapai persentase sebesar 85,7 % dengan keterangan pencapaian sebagai berikut, dari aspek penatagunaan lahan didapat hasil keseluruhan 50 % dari bobot total 60 %, kemudian dari aspek revegetasi mencapai 18,5 % dari bobot total 20 %, dan yang terakhir dari segi penyelesaian akhir didapat hasil sebesar 19 % dari total 20 %. DAFTAR PUSTAKA [1] Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2014. (2014). Pelaksanaan Reklamasi dan Pascatambang pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Jakarta: Direktorat Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral. [2] Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2009. (2009). Pedoman Penilaian Keberhasilan Reklamasi Hutan. Jakarta: Direktorat Kementrian Kehutanan. [3] Minerals Council of Australia. Mine Rehabilitation Hand Book. Australia: Minerals Council of Australia. [4] Kartasapoetra,G., A.G. Kartasapoetra, MM Sutedjo (2005). Teknologi Konservasi Tanah dan Air Cetakan Kelima. Jakarta: Rineka Cipta. [5] Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor: IPB Press. [6] Parascita, L., Sudiyanto, A.,dan Gunawan, N. 2015. Rencana Reklamasi Lahan Bekas Penambangan Tanah Liat Di Kuari Tlogowaru PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pabrik Tuban Jawa Timur. Yogyakarta: UPN Press. [7] Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010. (2010). Reklamasi dan Pascatambang. Jakarta: Direktorat Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral. [8] Komatsu. 2013. Spesification and Application Handbook. Japan. [9] Suripin. 2003. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan. Yogyakarta: ANDI. [10] Soewarno. 1995. Hidrologi Aplikasi Metode. Statistik Jilid 1. Bandung: Nova.

Judul: Jurnal Ngurah Fix Banget

Oleh: Ngurah Sudarsana


Ikuti kami