Artikel Jurnal Karya Ilmiah

Oleh Ade Hilya

122,8 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Artikel Jurnal Karya Ilmiah

ANALISIS NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER MENGGUNAKAN PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA Hilyatul Aini Hajarul Almas Al-Munawar Universitas Majalengka Email: hilyaade@gmail.com ABSTRACT This research was investigated because the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer tells the story of a Javanese youth (Priyayi). This novel tells the story of a young man who deviates from his culture, namely traditional Javanese culture. This novel is interesting to study because the problem discussed in this research is how cultural deviation forms in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. Based on the formulation of the problem, this research aims to determine the form of cultural deviation in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer using the sociology of literature. This type of research is qualitative to produce data in the form of descriptive techniques, techniques used in data collection using documentation techniques and content analysis. In accordance with the techniques used in this study, the data that has been collected is analyzed using descriptive techniques. The results of this study found that the form of cultural deviation in the novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer is what forms of cultural deviation carried out by Minke (the main character). There are three forms of cultural bias. First, sungkem in Javanese culture. Second, there are racial differences between European and Indigenous people. Third, Indigenous resistance to Europe. Each literary work basically provides inspiration for its readers so that it is no longer an object but can also become a subject for itself. This has prompted researchers to conduct research on the main character so that the original Javanese culture is always preserved in everyday life. Keywords: Cultural Deviation, Human Earth, and Sociology of Literature. ABSTRAK Penelitian ini diteliti disebabkan karena novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer mengisahkan tentang seorang pemuda Jawa (Priyayi). Novel ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang melakukan penyimpangan terhadap kebudayaannya yaitu budaya Jawa Tradisional. Novel ini menarik untuk dikaji karena masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk penyimpangan budaya dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Berdasarkan rumusan masalah penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyimpangan budaya dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer menggunakan kajian sosiologi sastra. Jenis penelitian ini adalah kualitatif untuk menghasilkan data berupa teknik deskriptif, teknik yang digunakan dalam pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan telaah isi. Sesuai dengan teknik yang digunakan dalam penelitian ini, maka data yang sudah terkumpulakan dianalisis dengan teknik deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan bentuk penyimpangan budaya dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer adalah bagaimana bentuk penyimpangan budaya yang dilakukan Minke (tokoh utama). Ada tiga bentuk penyimpangan budaya. Pertama, sungkem dalam kebudayaan Jawa. Kedua, adanya perbedaan ras antara orang-orang Eropa dan Pribumi. Ketiga, perlawanan Pribumi terhadap Eropa. Setiap karya sastra pada dasarnya memberikan inspirasi bagi para pembacanya agar tidak lagi menjadi objek tetapi juga bisa menjadi subjek bagi dirinya hal tersebut yang mendorong peneliti melakukan penelitian terhadap tokoh utama agar kebudayaan asli Jawa selalu dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: Penyimpangan Budaya, Bumi Manusia, dan Sosiologi Sastra. PENDAHULUAN Novel ini penuh dengan kritik sosial akan kedua nilai tradisional dan modern. Ambiguitas setiap karakter membuat novel ini tidak hanya berhasil menggambarkan revolusi budaya di negara terjajah tapi juga merupakan sebuah penolakan akan pengagungan absolut sebuah nilai budaya dan sosial. Bumi manusia diterbitkan pertama kali oleh Hasta Mitra (Jakarta) pada pertengahan tahun 1980, tidak lama setelah pengarang Pramoedya Ananta Toer dibebaskan (oleh penguasa Orde Baru) dari pengasingannya di Pulau Buru (Yudiono, 2007:302). Novel ini dinyatakan “terlarang” oleh pemerintah karena dianggap mengandung ajaran komunis. Padahal roman ini mengajarkan tentang nasionalisme kepada bangsa sendiri Bumi Manusia mengisahkan tentang kegelisahan seorang pemuda bernama Mingke. Ia merupakan seorang pemuda berdarah priyayi yang sedang menamatkan sekolah HBS di Surabaya. Pola pikirnya yang kritis menjadikannnya lebih dewasa ketimbang anak seusianya. Selain itu ia mampu keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka. Di sudut, ia malah membelah jiwa ke-Eropa-an yang didapatnya dari bangku sekolah, yang saat itu menjadi simbol dan kiblat ilmu pengatahuan dan peradaban. Cerita ini dibuka saat Mingke berkesempatan berkunjung ke rumah seorang Belanda kaya, bernama Herman Mallena, Mingke diajak oleh temannya yang bernama Robert Shuurhof. Belanda ini terkenal kaya karena memiliki perkebunan yang luas dengan beberapa buah pabrik di banyak tempat. Saat berkunjung, ia tidak menemui Mallena, tapi malah bertemu dengan istrinya yang anggun, bernama Nyai Ontosoroh dan anak gadisnya yang cantik; Annelies Mallena. Dari pertemuan pertama ini pula semua berawal. Mingke dengan kesederhanaannya berhasil merebut simpati gadis cantik jelita tersebut, hingga akhirnya mereka saling jatuh cinta. Percintaan ini pun disetujui oleh ibunya yang bernama Nyai Ontosoroh, yang belakangan menganggap Mingke sebagai anaknya. Sementara itu, tanpa latar belakang yang jelas Herman Mallena telah meninggalkan mereka begitu saja. Kini, tinggallah Nyai Ontosoroh yang awalnya bernama Sanikem bersama dua orang anak, yakni; Robert Malena dan adiknya Annelies hasil pernikahannya dengan Herman. Sekilas dikisahkan bagaimana Nyai Ontosoroh yang kala itu masih berumur 14 tahun harus rela dijual ayahnya (Sastrotomo) kepada seorang tuan besar bernama Mallena, demi peningkatan jenjang karir dari juru tulis menjadi seorang kassier. Anehnya, Nyai Ontosoroh ini kurang bersahabat dengan anak lelakinya (Robert Mallena). Tingkah Robert yang urakan dan hanya mementingkan diri sendiri membuat Nyai tidak ambil pusing dengan semua tingkah lakunya. Ternyata, kejadian ini bermula dari tidak harmonisnya hubungan orang tua mereka, yang berdampak pada perkembangan psikologi Robert. Lambat laun sikapnya cenderung mengikuti jejak ayahnya yang suka menghamburhamburkan uang dengan kegiatan mabukmabukan dan sering kali singgah di lokalisasi. Konflik semakin memuncak saat Mingke mendapat tawaran menginap dan tinggal di rumah mewah itu. Robert yang mengetahui keadaan itu, langsung tidak dapat menerima hal tersebut. Sementara itu, di luar sana, tanggapan orang bermacam-macam. Ada yang menganggap Mingke jatuh hati dengan kecantikan Nyai Ontosoroh yang kala itu dianggap negatif. Dalam pandangan masyarakat, nyai Ontosoroh tidak lebih dari seorang gundik yang hidup dengan Robert Millema, karena itu derajatnya sangat rendah. Kabar ini pula yang membuat keluarga, terutatama ayahandanya, yang kala itu mendapat promosi bupati, menjemputnya dengan sebuah skenario kejutan. Mingke pun harus dibawa paksa dari rumah nyai dalam keadaan tidak siap, seakan-akan menjadi penjahat yang paling dicari-cari. Singkat kata, Mingke akhirnya menikah dengan pujaan hatinya, Annelies, secara Islam. Kebahagiaan itu seakan jadi pertanda masa depan yang lebih baik. Semua orang memberi salam. Namun, kebahagiaan itu tidak lama, karena Nyai Ontosoroh masih terlibat peradilan perihal pengasuhan Annelies yang menurut hukum Belanda Annelies harus kembali ke Belanda karena orangtuanya adalah seorang Belanda. Hukum Belanda juga tidak mengakui pernikahan yang telah berlangsung dan menganggap Annelies masih anak-anak yang belum dewasa dan belum pernah menikah. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah novel Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia dengan objek formalnya adalah gambaran hubungan sosial masyarakat Jawa dan Eropa atau sebaliknya antara kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar). Damono (1978:6) memberikan definisi sosiologi sastra sebagai telaah yang objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. Sosiologi sastra berhubungan dengan masyarakat dalam menciptakan karya sastra tentunya tidak lepas dari pengaruh budaya tempat karya sastra dilahirkan. (Argorekmo: 2013). Adapun perspektif kajiannya bertolak pada pendekatan sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah pendekatan yang menitikberatkan pada hubungan karya sastra dengan nilai-nilai sosial yang berlaku pada pengarang dan pembaca (Muzakka dalam Damono, 2010). Penelitian berfokus pada karya sastra yaitu novel Bumi Manusia dan tidak melakukan penelitian langsung terhadap pengarang dan pembaca, maka penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan. Berkenaan dengan hal itu, maka metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi pustaka, yaitu mengumpulkan data primer dan sekunder yang terkait dengan karya sastra. Data primer diperoleh dari objek materialnya yaitu novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber kepustakaan lain yang membicarakan objek material. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pascakolonialisme adalah strategi pembacaan yang menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang bias membantu mengidentifikasi tanda-tanda kolonialisme dalam teks-teks kritis maupun sastra, dan menilai sifat dan pentingnya efek-efek tekstual dari tanda-tanda tersebut. Istilah pascakolonial menunjukkan tanda-tanda dan efek-efek kolonialisme dalam sastra, juga mengacu pada posisi penulis pascakolonial sebagai pribadi suara naratifnya (Day dan Foulcher, dalam Elbers: 2002). Karya sastra merupakan bangunan bahasa yang: (1) utuh dan lengkap pada dirinya sendiri; (2) mewujudkan dunia, rekaan; (3) mengacu pada dunia nyata atau realitas, dan (4) dapat dipahami berdasarkan kode norma yang melekat pada sistem sastra, bahasa, dan sosial budaya tertentu (Noor, 2004: 5). Dalam novel Bumi Manusia Pram mencoba menggambarkan kejadian pada masa peralihan abad 20 di Jawa Timur. Berikut ini adalah gambaran hubungan sosial masyarakat Jawa dan Eropa atau sebaliknya antara kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar). Orang Eropa dalam novel Bumi Manusia digambarkan sebagai orang-orang yang berasal dari golongan/kelas atas(Borjuis) yang tinggi kedudukannya dan derajatnya dibandingkan dengan orang-orang pribumi yang digolongkan dalam Kelas Bawah (Proletar). Hal ini dikarenakan orangorang Eropa adalah orang-orang yang terpelajar dan selalu memiliki nilai tinggi dalam pendidikannya. Terdapat pertentangan kelas yang menyatakan bahwa orang-orang eropa lebih pintar dari pada orang-orang pribumi pada waktu itu. Orang Eropa juga dianggap mempunyai pendidikan yang lebih tinggi di banding orang-orang pribumi. Sehingga pada waktu itu orang-orang eropa menjadi guru sekolah. Dan semua guru pada waktu itu adalah orang-orang eropa. Adanya pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi. Orang-orang pada saat itu bangga ketika dia mempunyai keturunan darah eropa. Karena derajat di mata masyarakat pada waktu itu aka tinggi di banding dengan orang pribumi. Orang Eropa menganggap bahwa orang pribumi sama dengan indo hina, orang Eropa keturunan pribumi yang tidak diakui oleh orang tuanya yang berdarah Eropa. Orang pribumi juga tidak mempunyai nama gelar keluarga sehingga dianggap rendah oleh orang Eropa. Kutipan yang lainnya yang menunjukkan pertentangan kelas antara orang Eropa dan orang pribumi. SIMPULAN Melalui analisis sosiologi sastra terhadap novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, dapat disimpulkan bahwa novel tersebut mengungkapkan cerminan kehidupan masyarakat peralihan abad 20 di Jawa Timur, di mana gambaran hubungan sosial masyarakat Jawa dan Eropa atau sebaliknya antara kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar) sangat jelas terlihat perlakuan sikap pada masa itu. Orang Eropa yang selalu merasa paling tinggi derajatnya karena terpelajar dibandingkan orang Jawa, maka apapun yang mereka ucapkan harus dipercaya. Di lain pihak ada orang pribumi keturunan Eropa yang tetap rendah hati memperlakukan orang pribumi dengan baik meskipun ia berdarah eropa dan kaya, Annelies. Ada juga Minke seorang Pribumi berdarah priyayi yang mampu keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka. Di sudut, ia malah membelah jiwa ke-Eropaan yang didapatnya dari bangku sekolah, yang saat itu menjadi simbol dan kiblat ilmu pengatahuan dan peradaban. DAFTAR PUSTAKA Fokkema, D.W. & Elrud Kunne Ibsch, 1998. Teori Sastra Abad Kedua Puluh. Jakarta: Gramedia Mussaif, Moh. Muzaka. 2018. Beginilah Meneliti Sastra.Semarang: SINT Publishing Redyanto, Noor. 2004. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Badan Penerbit Undip Sudjiman, Panuti, 1995. Filologi Melayu. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.Semi, M.Atar.1993.Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa Teeuw, A., 1980, Sastra Baru Indonesia, Ende: Nusa Indah. Toer, Pramoedya Ananta. 2008. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara YudioLANDAFTo, K.S. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo

Judul: Artikel Jurnal Karya Ilmiah

Oleh: Ade Hilya


Ikuti kami