Zulkarnain-090462201175 Jurnal Baggus

Oleh Dita Listiani Purnama

651,6 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Zulkarnain-090462201175 Jurnal Baggus

Pengaruh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, dan Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Industri Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2011 Julkarnain 090462201175 Jurusan akuntansi, fakultas ekonomi, universitas maritim raja ali haji, tanjung pinang Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang secara parsial maupun simultan terhadap Return On Invesment (ROI) pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari www.idx.co.id 2011. Metode analisis data yang digunakan adalah uji asumsi klasik dan selanjutnya pengujian hipotesis. Metode statistik yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial Modal Kerja berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI), Perputaran Modal Kerja tidak berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI), Perputaran Kas berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI), Perputaran Piutang tidak berpengaruh terhadap Return On Investment (ROI). Secara simultan, Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, dan Perputaran piutang berpengaruh signifikan terhadap Return On Investment (ROI), pada perusahaan Industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. Kata kunci:pengaruh modal kerja, perputaran modal kerja, perputaran kas, perputaran piutang terhadap profitabilitas (ROI). PENDAHULUAN Masalah modal kerja adalah masalah yang tiada akhir, selama perusahaan masih beropersi, modal sangat dibutuhkan untuk melakukan pembiayaan kegiatan perusahaan. Adanya modal kerja yang cukup untuk memungkinkan suatu perusahaan untuk melaksanakan aktivitasnya tidak mengalami kesulitan dan hambatan yang mungkin akan timbul. Adanya modal kerja yang berlebihan menujukkan adanya dana yang tidak dan produktif dan hal ini memberikan kerugian karena dana yang tersedia tidak digunakan untuk kegiatan perusahaan. Sebaliknya, kekurangan modal kerja merupakan sebab utama kegagalan perusahaan dalan menjalankan perusahaannya. Keefektifan penggunaan modal kerja dapat diukur dengan rasio perputaran modal kerja (working capital turnover). Rasio ini menunjukkan berapa kali dana yang tertanam dalam modal kerja berputar dalam satu periode, atau jumlah penjualan yang bisa dicapai oleh setiap rupiah modal kerja, dan jumlah penjualan tersebut otomatis berpengaruh terhadap profitabilitas (Munawir 2004: 240). Semakin cepat perputaran modal kerja menunjukkan semakin efektif penggunaan modal kerja yang berdampak pada meningkatnya profitabilitas perusahaan. Menurut Manullang dan Sinaga (2005:24) mengemukakan Kas dapat diartikan sebagai uang beserta pos-pos lain yang dalam jangka waktu dekat dapat diuangkan sehingga dipakai sebagai alat ukur untuk membayar finansialnya (keuangan). Menilai ketersediaan kas dapat dihitung dari perputaran kas. Tingkat perputaran kas merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia. Menurut Kasmir (2011:141) ”Perputaran kas adalah perbandingan antara penjualan dengan jumlah kas ratarata”. Tingkat perputaran kas merupakan ukuran efisiensi penggunaan kas yang dilakukan oleh perusahaan. Karena tingkat perputaran kas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengahsilkan laba yang berkaitan dengan tingkat pengembalian atas investasi. Sebaliknya apabila jumlah kas relatif kecil berarti perputaran kas tinggi sehingga perusahaan akan atau dapat berada dalam keadaan bangkrut. Tingkat perputaran piutang dapat dihitung dengan membandingkan penjualan kredit dengan rata- rata piutang, dimana saldo ratarata piutang dapat dihitung dengan menjumlahkan saldo awal dan saldo akhir dan kemudian dibagi dua. Tingkat perputaran ini menggambarkan berapa kali modal yang tertanam dalam piutang berputar atau berapa lama waktu yang digunakan untuk mengubah piutang ke kas, semakin cepat perputaran piutang menandakan bahwa modal dapat digunakan secara efektif dan efisien. Perputaran piutang juga merupakan salah satu faktor yang menentukan besar kecilnya keuntungan yang akan diperoleh perusahaan. Beberapa keuntungan yang diperoleh perusahaan, jika melakukan pengelolaan piutang dengan baik, antara lain kemungkinan perusahaan dapat membayar semua kewajibannya tepat waktu dan memungkinkan perusahaan tersebut untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang dan jasa yang diperlukan, dimana secara tidak langsung akan berdampak pada tingkat perolehan keuntungan perusahaan yang bersangkutan. Sebaliknya, apabila tingkat perputaran piutang rendah, maka akan terjadi kelebihan piutang dan perusahaan akan mengalami keadaan bangkrut. Untuk mengukur keberhasilan perusahaan dalam upaya mewujudkan operasi perusahaan yang efektif dan efisien dalam menghasilkan laba yang diperoleh, tidak hanya dilihat dari besar kecilnya jumlah laba yang diperoleh, tetapi dapat dilihat dari profitabilitasnya. Masalah profitabilitas ini penting bagi kelangsungan hidup dan perkembangan perusahaan. Bagi pimpinan perusahaan, profitabilitas dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk mengetahui berhasil atau tidaknya perusahaan yang dipimpinnya, sedangkan bagi penanam modal dapat digunakan sebagai tolak ukur prospek modal yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut. Profitabilitas menunjukkan perbandingan antara laba yang diperoleh perusahaan dengan aktiva atau modal yang dipergunakannnya untuk menghasilkan laba tersebut. Oleh karena itu, profitabilitas yang tinggi menunjukkan semakin efisien perusahaan dalam menjalankan operasinya yang mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang besar dalam menghasilkan laba. Pencapaian profitabilitas yang tinggi tergantung kepada kemampuan pihak manajemen perusahaan dalam merencanakan, mendapatkan, dan memanfaatkan serta mengelola dana - dana seefektif dan seefisien mungkin. Salah satu pengukuran atas kinerja perusahaan tersebut adalah dengan mengetahui tingkat pengembalian atas investasi (Return on Investment-ROI). Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai: Pengaruh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas Dan Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas Pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. TINJAUAN PUSTAKA Rasio Profitabilitas Menurut Kasmir (2011:196) tujuan akhir yang ingin dicapai suatu perusahaan yang terpanting adalah memperoleh laba atau keuntungan yang maksimal,di samping hal-hal lainnya. Dengan memperoleh laba yang maksimal seperti yang telah di targetkan, perusahaan dapat berbuat banyak bagi kesejahteraan pemilik, karyawan, serta meningkatkan mutu produk dan melakukan investasi baru. Oleh karena itu, manajemen perusahaan dalam praktiknya dituntut harus mampu untuk memenuhi target yang telah ditetapkan. Artinya besarnya keuntungan haruslah dicapai sesuai dengan yang diharapkan dan bukan berarti asal untung. Untuk mengukur tingkat keuntungan suatu perusahaan, digunakan rasio keuntungan atau rasio profitabilitas yang dikenal juga dengan nama rasio rentabilitas. Pengertian Return On Investment (ROI) Return on Investment adalah kemampuan perusahaan dalam mengahsilkan laba yang berkaitan dengan tingkat pengembalian atas investasi. Sedangkan menurut Van Horne dan Wachowicz (2005:224) menjelaskan bahwa “Return on Investment mengukur efektivitas keseluruhan dalam meningkatkan keuntungan dengan aktiva yang tersedia.” Analisa Return on investment (ROI) dalam analisa keuangan mempunyai arti yang sangat penting sebagai salah satu teknik analisa keuangan yang bersifat menyeluruh/komprehensif. Analisa Return on Investment (ROI) ini sudah merupakan tehnik analisa yang lazim digunakan oleh pimpinan perusahaan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan. Return on Investment (ROI) itu sendiri adalah salah satu bentuk dari rasio profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam investasi yang digunakan untuk operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Dengan demikian Return on Investment (ROI) menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan (Net Operating Income) dengan jumlah investasi yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan operasi tersebut (Net Operating Assets). Sebutan lain untuk ROI adalah “Net Operating profit Rate Of Return” atau “Operating Earning Power”. Formulasi dari Return on Investment (ROI) adalah sebagai berikut: Sumber : Van home dan Wachowicz (2009:224) Modal Kerja Modal kerja (working capital) didefinisikan sebagai modal yang digunakan untuk membiayai operasional perusahaan sehari-hari, terutama yang memiliki jangka waktu pendek. Pengertian Modal kerja menurut Khasmir (2011:250) modal yang digunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi jangka pendek yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat beharga, piutang, persediaan dan aktiva lancar lainnya. Modal kerja menurut Brigham dan Houston (2006:131) Modal kerja yang diartikan seluruh aktiva lancar dikurangi dengan utang lancar , yang dinamakan modal kerja bersih. Modal kerja = total aktiva lancar - total utang lancar Perputaran Modal Kerja Perputaran modal kerja atau working capital turn over merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode teretentu. Atinya seberapa banyak modal kerja berputar selama suatu periode atau dalam suatu periode (Kasmir, 2011:182). Untuk mengukur rasio ini, kita membandingakan antara penjualan dengan modal kerja atau dengan modal kerja rata-rata. Rumus yang digunakan untuk mencari perputaran modal kerja adalah sebagai berikut. Modal kerja rata-rata dapat dicari dengan menjumlahkan modal kerja tahun pertama dan modal kerja tahun keduia kemudian dibagi dua. Perputaran Kas Menurut Gill dalam Kasmir (2011:140) rasio perputaran Kas (Cash Turn Over) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya yang berkaitan dengan penjualan. Untuk mencari modal kerja kurangi aktiva lancar terhadap utang lancar. Modal kerja dalam pengertian ini dikatakan sebagai modal kerja bersih yang dimiliki perusahaan. Sementara itu, modal kerja kotor atau modal kerja saja merupakan jumlah dari aktiva lancar. Rumus yang digunakan untuk mencari untuk mencari rasio perputaran kas adalah sebagai berikut. Untuk mencari modal kerja bersih dikurangi total utang lancar. adalah total aktiva lancar Perputaran Piutang Menurut Wild, Subramayam, Dan Halsey (2005:197), Perputaran piutang adalah menunjukkan rata-rata berapa sering, secara rat-rata, piutang berubah yaitu, diterima dan di tagih sepanjang tahun. Perputaran piutang dapat dirumuskan sebagai berikut: Cara lansung untuk menentukan rata-rata piutang adalah dengan menambahkan saldo awal dan saldo akhir piutang pada priode tersebut dan membaginya dengan dua. Dalam penelitian ini digunakan empat variabel Independen yaitu Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang serta satu variabel dependen yaitu Return On Investmen. Hubungan antara variabel independen terhadap dependen akan dijelaskan sebagai berikut : Hubungan Modal Keja dengan ROI Modal kerja dalam suatu perusahaan harus dikelola dengan baik. Modal kerja tersebut harus cukup jumlahnya dalam arti harus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran untuk kegiatan operasi perusahaan sehari-hari. Dengan adanya modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan karena di samping memungkinkan bagi perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan efisien perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan. Modal kerja (working capital) didefinisikan sebagai modal yang digunakan untuk membiayai oprasional perusahaan sehari-hari, terutama yang memiliki jangka waktu pendek. Modal kerja yang cukup lebih baik daripada modal kerja yang berlebihan, karena dengan modal kerja yang berlebihan menunjukkan bahwa perusahaan tidak bisa menggunakan dana yang ada dengan baik, sehingga dana tersebut menjadi tidak produktif. Hal tersebut akan berdampak terhadap tingkat pengembalian modal perusahaan atau profitabilitas. Begitu juga sebaliknya modal kerja yang kurang dari cukup akan dapat menjadi penyebab kemunduran atau bahkan kegagalan suatu perusahaan dan menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. H1: Terdapat pengaruh antara Modal Kerja tehadap Profitabilitas (ROI). Hubungan Perputan Modal Kerja dengan ROI Tingkat perputaran modal kerja yang tinggi akan menyenangkan kreditor jangka pendek. Mereka akan memperoleh kepastian bahwa modal kerja berputar dengan keceptan tinggi dan utang akan segera dapat dibayar meski dalam kondisi operasi yang sulit sehingga meningkatkan profitabilitas perusahaan. Suatu perusahaan dikatakan memiliki profitabilitas tinggi artinya bahwa modal yang besar, efektivitas juga akan tinggi. Tetapi modal yang besar belum tentu perusahaan memperoleh profitabilitas yang tinggi. Hal ini tergantung dari penggunaan penggunaan modal kerja apakah efektif dan efisien atau tidak. Modal kerja yang selalu berputar akan mempengaruhi arus dana dalam perusahaan. Apabila perputaran modal kerja mengalami peningkatan setiap tahunnya, berarti arus dana yang kembali keperusahaan akan semakin lancar. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah tingkat perputaran modal kerja, semakin panjang waktu terikatnya dana yang berarti pengelolaan modal kerja kurang efektif dan efisien dan cenderung menurunkan profitabilitasnya. H2: Terdapat pengaruh antara Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas (ROI). Hubungan Perputaran Kas dengan ROI Menurut Kasmir (2011:140) rasio perputaran kas (cash turn Over) berfungsi untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan. Perputaran kas merupakan perbandingan antara penjualan dengan jumlah kas rata-rata. Perputaran kas menunjukkan kemampuan kas dalam menghasilkan pendapatan sehingga dapat dilihat berapa kali uang kas berputar dalam satu periode tertentu. Semakin tinggi perputaran kas ini akan semakin baik profitabilitasnya. H3: Terdapat pengaruh antara Perputaran Kas terhadap Profitabilitas (ROI). Hubungan Peputaran Piutang dengan ROI Piutang juga merupakan aktiva lancar yang paling likuid setelah kas. Bagi sebagian perusahaan, piutang merupakan pos yang penting karena merupakan bagian aktiva lancar perusahaan yang jumlahnya cukup besar. Keadaan perputaran piutang yang tinggi menunjukkan bahwa semakin efisien dan efektif perusahaan mengelola piutang, hal ini berarti profitabilitas perusahaanpun dapat dipertahankan. H4:Terdapat pengaruh antara Perputaran Piutang terhadap Profitabilitas (ROI). Metode Penelitian Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan yang bergerak di perusahaan dalam perusahaan manufaktur khususnya industri barang konsumsi sebagai objek penelitian. Peneliti melakukan penelitian laporan keuangan tahunan dari tahun 2008-2011 yang dilaporkan di BEI. Dimana perusahaan tersebut melaporkan laporan keuangan tahunannya kepada BEI selama 4 tahun berturut-turut dari tahun 2008-2011. Perusahaan yang listing di BEI yang menyajikan laporan tahunan secara 4 tahun berturut-turut (dalam hal ini dari tahun 20082011), tidak semua perusahaan memenuhi karakteristik pemilihan sampel yang telah ditentukan peneliti di dalam penelitian ini. Jadi jumlah sampel yang digunakan di dalam penelitian ini sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan adalah 24 (dua puluh empat) perusahaan. Sampel dapat dilihat dilampiran I. Teknik pengumpulan data di dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan penelitian dengan memilih laporan keuangan perusahaan manufaktur khususnya sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI selama periode 2008-2011. Peneliti melakukan penelitian melalui penelitian kepustakaan. Penelitian kepustakaan adalah mengumpulkan data sekunder atau teori-teori yang akan digunakan sebagai bahan pembanding. Peneliti melakukan penelitian melalui buku-buku literature, jurnal ilmiah, artikel ol-line. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan data berupa dokumentasi. Dokumentasi di dalam penelitian ini berupa dokumentasi perusahaan (laporan keuangan tahunan) yang diperoleh dari BEI melalui www.ICMD.co.id. Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari pengujian asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan bantuan komputer yang menggunakan software SPSS 17.0. Adapun pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas, heterokedastisitas, dan autokorelasi. Analisis Regresi Linear Berganda Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh dari modal kerja, perputaran modal kerja, perputaran kas dan perputaran piutang. Persamaan regresi berganda yang dipakai adalah sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4+ e Dimana: Y = Profitabilitas (ROI) a = konstanta X1 = Modal kerja X2 = Perputaran modal kerja X3 = Perputaran kas X4 = Perputaran piutang b1, b2, b3, b4 = Koefisien regresi berganda variabel X1, X2, X3, dan X4 e = Kesalahan penganggu (standar error) Pengujian Hipotesis Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah semua variabel independen mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen. Model regresi untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji F (simultan) dan uji t (parsial). Ada dua jenis koefisien regresi yang dapat dilakukan pengujian yaitu uji-F dan uji-t. Uji-F Uji–F digunakan untuk menguji besarnya pengaruh dari seluruh variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen (Priyanto, 2010:67). Tingkat signifikansi yang digunakan adalah sebesar 5%, dengan level of confidence 95% (α = 0.05) dan degree of freedom (n-k) dan (k-1), dimana (n) adalah jumlah observasi dan (k) adalah jumlah variabel. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut : Ho = tidak semua variabel independen berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Ha = semua variabel independen berpengaruh secara simultan terhadap variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi Fhitung dengan Ftabel dengan ketentuan: - jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak untuk α = 5%, - jika Fhitung > Ftabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak untuk α.= 5%. a. Uji-t Uji-t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel independennya (Priyanto, 2010:68). Tingkat signifikansi yang digunakan adalah sebesar 5%, dengan level of confidence 95% (α = 0.05) dan degree of freedom (n-k-1), dimana (n) adalah jumlah observasi dan (k) adalah jumlah variabel. Hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut. Ho = tidak semua variabel independen berpengaruh secara parsial terhadap variabel dependen. Ha = semua variabel independen berpengaruh secara parsial terhadap variabel dependen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikansi thitung dengan ttabel dengan ketentuan: - jika thitung < ttabel, atau -thitung > -ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak untuk α = 5%, - jika thitung > ttabel, atau -thitung < -ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak untuk α = 5%. Koefisien Determinasi (R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Besarnya koefisien determinasi ini adalah 0 sampai dengan 1 Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel- variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali 2005:169). Pembahasan dan hasil Hasil Uji Asumsi Klasik Analisis asumsi klasik yang harus dipenuhi adalah data terbebas dari masalah normalitas, multikolinearitas, heterokedastisitas dan autokorelasi. Setelah dilakukannya pengujian terhadap lima variabel diperoleh hasil bahwa terjadi masalah data tidak berdistribusi normal. Menurut Ghozali (2006:110) cara memperbaiki model tersebut adalah dengan melakukan transformasi logaritma sehingga model persamaan regresinya menjadi Ln_Y= a + b1 Ln_X1 + b2 Ln_X2 + b3 Ln_X3 + b4 Ln_x4 + e kemudian data diuji ulang sesuai dengan syarat untuk melakukan uji asumsi klasik. Uji Normalitas Diketahui bahwa nilai kolmogorov-smirnov adalah 0.917 dan signifikan pada 0.370 karena p-value = 0.370 > 0.05, maka Ho diterima yang berarti data residual terdistribusi secara normal. Pada grafik histogram, dapat dilihat bahwa distribusi data tidak menceng (skewnes) ke kiri atau ke kanan.dapat dilihat di lampiran II. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas bertujuan menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Ghozali, 2006: 91). Ghozali (2006:91) mengemukakan bahwa pengujian multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat varians Inflation Factor (VIF) dan korelasi diantara variable independen. Jika nilai VIF < 10 atau nilai tolerance > 0.10,maka tidak terjadi multikolinieritas. Berdasarkan lampiran III dari hasil pengujian multikolonieritas, dapat dilihat bahwa pada masing-masing variabel tidak terjadi multikolinearitas karena memiliki tolerance lebih dari 0, 10 dan nilai VIF kurang dari 10. Uji Heterokedastisitas Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain (Ghozali, 2006:105). Model regresi yang baik adalah model yang tidak terjadi heterokedastisitas (homokedastisitas). Berdasarkan lampiran IV, dapat diketahui bahwa tidak ada satupun variabel independen yang signifikan secara statistik mempengaruhi dependen nilai Absolut Ut (AbsUt). Hal ini terlihat dari nilai probabilitas signifikansinya di atas tingkat kepercayaan 5%. Jadi dapat disimpulkan model regresi tidak mengandung adanya heterokedastisitas. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Menurut Ghozali (2006:103), salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya terjadi autokorelasi pada data penelitian adalah dengan menggunakan Run Test. Run test digunakan untuk melihat apakah data residual terjadi secara random atau tidak (sistematis). Model yang baik adalah model yang tidak terdapat autokorelasi dengan melihat tingkat signifikansi diatas 0.05 (Ghozali, 2006:104). Berdasarkan lampiran V hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai test adalah -0.07082 dengan tingkat signifikan 0.913, p-value 0.913 > 0.05 yang berarti hipotesis nol diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa residual random, atau tidak terjadi autokorelasi. Regresi Linear Berganda Dalam analisis regresi, selain mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih, juga menunjukan arah hubungan variabel dependen dengan variabel independen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu modal kerja, perputaran modal kerja, perputaran kas, perputaran piutang terhadap variabel dependen yaitu retun on investment (ROI). Berdasarkan Lampiran VI pengujian hipotesis maka dapat dibuat persamaan regresi berganda sebagai berikut Ln_Y= 0.638-0.138-0.039-0.256+0.303+e 1. Konstanta (a) Nilai konstanta (a) sebesar 0.638 menunjukkan bahwa apabila nilai variabel modal kerja, perputaran modal kerja, perputaran kas, perputaran piutang bernilai tetap (0) maka nilai variabel ROI sebesar 0.638 2. Koefisien b1 untuk variabel Modal Kerja Besarnya nilai koefisien regresi (b1) sebesar -0.138, nilai b1 yang positif menunjukkan adanya hubungan yang searah antara variabel return on investment dengan variabel Modal Kerja yang artinya jika nilai variabel Modal Kerja naik sebesar 1% maka nilai Retun On Investment akan naik sebesar 0.138, dengan asumsi variabel bebas lainnya konstan. 3. Koefisien b2 untuk variabel Perputaran Modal Kerja Besarnya nilai koefisien regresi (b2) sebesar -0.039, nilai b2 yang positif menunjukkan adanya hubungan yang searah antara variabel return on investment dengan variabel Perputaran Modal Kerja yang artinya jika nilai variabel perputaran Modal Kerja naik sebesar 1% maka nilai Retun On Investment akan naik sebesar 0.039, dengan asumsi variabel bebas lainnya konstan. 4. Koefisien b3 untuk variabel Perputaran Kas Besarnya nilai koefisien regresi (b3) sebesar -0.256, nilai b2 yang positif menunjukkan adanya hubungan yang searah antara variabel return on investment dengan variabel Perputaran kas yang artinya jika nilai variabel perputaran Kas naik sebesar 1% maka nilai Retun On Investment akan naik sebesar 0.256. Dengan asumsi variabel bebas lainnya konstan. 5. Koefisien b4 untuk variabel Perputaran Piutang Besarnya nilai koefisien regresi (b4) sebesar 0.303, nilai b2 yang positif menunjukkan adanya hubungan yang searah antara variabel return on investment dengan variabel Perputaran Piutang yang artinya jika nilai variabel Perputaran Piutang naik sebesar 1% maka nilai Piutang naik sebesar 1% maka nilai Retun On Investment akan naik sebesar 0.303. Dengan asumsi variabel bebas lainnya konstan. Pengujian Hipotesis Berdasarkan lampiran VI Berdasarkan hasil pengujian secara simultan (uji F) membuktikan bahwa ada pengaruh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang secara simultan terhadap Return On Investment pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. Hal ini dibuktikan dengan nilai Fhitung > Ftabel (6.937>2.48) dan tingkat signifikansi sebesar 0.000<0.05, yang berarti hipotesis dalam penelitian ini diterima atau Ha diterima. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) dapat dilihat bahwa nilai Thitung Ln_X1 yang besar dari Ttabel Ln_X1 (-4.873<-1.98969) dan dilihat dari nilai signifikan yang lebih kecil dari 5% (0.000<0.05) hal ini dapat disimpulkan bahwa modal kerja pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar pada periode 2008-2011, signifikan atau berpengaruh negatif terhadap Return On Investment . Penelitian ini dilakukan oleh Aulia Rahma (2009) mengemukakan dengan adanya pengaruh yang negatif, berarti bahwa semakin tinggi modal kerja maka akan menurunkan tingkat profitabilitas perusahaan. Kondisi perputaran modal kerja dalam suatu perusahaan dipengaruhi oleh modal kerja (aktiva lancar dan hutang lancar) dalam menghasilkan penjualan. Semakin tinggi volume penjualan yang dihasilkan maka modal kerja berputar semakin cepat sehingga modal cepat kembali ke perusahaan yang disertai keuntungan yang tinggi pula, adanya keuntungan yang tinggi menyebabkan ROI perusahaan juga meningkat. Akan tetapi, penelitian pada perusahaan ini menujukkan bahwa adanya tingkat penjualan yang tinggi akan menurunkan profitabilitas (ROI). Hal ini dikarenakan perusahaan belum menggunakan modal kerja secara efisien. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) dapat dilihat bahwa nilai Thitung Ln_X2 yang kecil dari Ttabel Ln_X2 (-0.521<-1.9896) dan dilihat dari nilai signifikan yang lebih besar dari 5% (0.604>0.05) hal ini dapat disimpulkan bahwa perputaran modal kerja pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar pada periode 2008-2011, artinya perputaran modal kerja tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irfani Wulan Sari (2012) yang menyatakan bahwa Perputaran Modal kerja berpengaruh terhadap ROI. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) dapat dilihat bahwa nilai Thitung Ln_X3 yang besar dari Ttabel Ln_X3 (-2.095>-1.98969) dan dilihat dari nilai signifikan yang kecil besar dari 5% (0.039<0.05) hal ini dapat disimpulkan bahwa perputaran kas pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar pada periode 2008-2011, signifikan atau berpengaruh negatif terhadap Return On Investment . artinya perputaran kas mempunyai pengaruh signifikan terhadap ROI. Setiap perputaran kas memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap profitabilitas yang akan diperoleh perusahaan. Mulai dari mempergunakan kas untuk membiayai kegiatan operasional hingga dipergunakan untuk menjaga kemampuan perusahaan dalam membayar hutang jangka pendek dan jangka panjang. Besarnya uang kas yang harus dipertahankan dapat dikaitkan dengan omset penjualan. Semakin tinggi tingkat perputaran kas berarti semakin efisien pula penggunaan kasnya maka akan menghasilkan profitabilitas yang tinggi pula. Penelitian ini dilakukan oleh Duwi Sri Utami (2009) mengemukakan bahwa perputaran kas berpengaruh negatif terhadap profitabilitas, maksudnya adalah dengan adanya penambahan perputaran kas akan memberikan penurunan profitabilitas. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh sabhatini (2012) yang menyatakan perputaran kas signifikan berpengaruh positif terhadap ROI. Berdasarkan hasil pengujian secara parsial (uji t) dapat dilihat bahwa nilai Thitung Ln_X4 yang kecil dari Ttabel Ln_X4 (1.905<1.98969) dan dilihat dari nilai signifikan yang lebih besar dari 5% (0.060>0.05) hal ini dapat disimpulkan bahwa piutang pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar pada periode 2008-2011, artinya perputaran piutang tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irfani Wulan Sari (2012) yang menyatakan bahwa perputaran piutang berpengaruh terhadap ROI. Berdasarkan hasil pengujian koefisien determinasi (R Square) sebesar 0.253 atau 25.3% dari variabel Retun On Investment dapat dijelaskan oleh Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang. Sedangkan sisanya 74.7% dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam model. Nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0.503 yang berarti bahwa korelasi atau hubungan antara Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang (variabel independen) terhadap Return On Investment (ROI) (variabel dependen) tidak kuat. Koefisien korelasi dikatakan kuat apabila nilai R berada diatas 0.5 dan mendekati 1. Standar Error of the Estimate adalah 1.06481, semakin kecil nilai SEE maka akan semakin membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan uji hipotesis yang telah dikemukakan pada bab IV sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Modal Kerja, Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas, Perputaran Piutang berpengaruh secara simultan terhadap Return On Investment pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. 2. Modal kerja berpengaruh secara parsial terhadap Return On Investment (ROI) pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. . 3. Perputaran Modal Kerja tidak berpengaruh secara parsial terhadap Return On Investment (ROI) pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. 4. Perputaran Kas tidak berpengaruh secara parsial terhadap Retunrn On Investment (ROI) pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. 5. Perputaran piutang tidak berpengaruh secara parsial terhadap Return On Investment (ROI) pada perusahaan Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di BEI periode 2008-2011. Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas, ada beberapa hal yang dapat disarankan penulis: 1. Bagi perusahaan, disarankan untuk berhati-hati dalam memutuskan penggunaan modal kerja. Modal kerja dapat dipilih dengan syarat, jika perusahaan mampu menghasilkan Modal yang lebih besar, dan adanya modal kerja yang cukup untuk memungkinkan suatu perusahaan untuk melaksanakan aktivitasnya tidak melangalami kesulitan dan hambatan yang mungkin akan timbul. 2. Bagi investor, atau calon investor disarankan untuk melakukan analisis terhadap Modal Kerja berkaitan dengan tingkat Return On Investment (ROI). karena besarnya Return On Investment (ROI) yang diperoleh perusahaan mencerminkan tingkat pengembalian yang diterima oleh investor. 3. Penelitian ini hanya menggunakan rasio Modal Kerja, Perputaran Modal kerja, Perputaran Kas, perputaran Piutang sebagai dasar untuk mengukur tingkat ROI. Bagi peneliti selanjutnya untuk memperluas bahasan mengenai rasio lainnya untuk mengukur tingkat ROI agar hasil yang didapat lebih baik dan menggunakan sampel yang lebih banyak dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai sektor serta memperpanjang periode penelitian. Daftar Pustaka Aulia Rahma. 2009. Analisis Pengaruh Manajemen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Manufaktur PMA dan PMDN Yang Terdaftar di BEI. Jurnal. Universitas Sumatra Utara. Brigham, Eugene F dan Houston, Joel F. 2006. Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Penerbit Salemba Empat. Duwi Sri Utami. 2009. Analisis Pengelolahan Modal Kerja Dan Pengaruhnya Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Food And Beverages Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal.Universitas Sumatra Utara. Encik Latifah Hanum. 2008. Pengaruh Kebijakan Modal Kerja Terhadap Return On Investment Pada Industri Rokok Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatra Utara. Ghozali, I. 2005. "Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS” Edisi Ketiga. Semarang: BP Universitas Diponegoro. Jusuf, Jopie. 2007. Analisis Kredit Untuk Accountofficer.Edisi ketujuh. Jakarta. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Kasmir. 2011. Analisis Laporan Keuangan.Edisi 1. Jakarta: Rajawali Pers. Manulang, Marihot dan Sinaga, Dearlina. 2005. pengantar Manajemen Keuangan. Edisi Pertama. Yogyakarta: Andi. Munawir. 2004. Analisis laporan Keuangan. Edisi Keempat. Yogyakarta: Librty. Priyanto, Duwi, 2010. Analisa Statistik Data dengan SPSS, Yogyakarta, Mediakon. Hansen, Don R dan Mowen, Marryanne M. 2000. Akuntansi manajemen. Jakarta: Erlangga. Irfani Wulan Sari. 2012. Pengaruh Perputaran Modal Kerja, Piutang, Dan Aktiva Tetap Terhadap Profitabilitas Pt. Pelabuhan Indonesia I (persero) cabang Belawan International Container Terminal (BICT). Skripsi. Fakultas ekonomi. Universitas Sumatra Utara. Nur hafni. 2009. Pengaruh Modal Kerja Dan Perputaran Modal Kerja Terhadap Return On Equity (Roe) Perusahaan Consumer Goods Industry Di Dursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Utara. Sriwimerta. 2010. Pengaruh Perputaran Kas Dan Piutang Terhadap Likuiditas Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Utara. Sabhatini, sherly. 2012. Analisis Pengaruh Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal. Universitas Riau. Rianse dan Abdi. 2009. Metodologi Penelitian Sosial Dan Ekonomi Teori & Aplikasi. Edisi Pertama. Cetakan Kedua. Bandung: Alfabeta. Van Home, James C. & Wachowicz, Jhon M., JR. 2005. Prinsipprinsip Manajement Keuangan. Penerbit Salemba Empat. Jakarta. Wild, John.J, Subramanyam, Halsey. 2005. Analisis Laporan Keuangan. Buku 1. Edisi 8. Salemba Empat. Jakarta. Nur hafni. 2009. Pengaruh Modal Kerja Dan Perputaran Modal Kerja Terhadap Return On Equity (Roe) Perusahaan Consumer Goods Industry Di Dursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomi. Universitas Sumatera Utara. LAMPIRAN Lampian I. Daftar Nama Sampel Perusahaan No Kode Nama perusahaan perusahaa n 1 AISA PT. Tiga Pilar Sejahtra Food Tbk 2 CEKA PT. Cahaya Kalbar Tbk 3 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk 4 DVLA PT. Darya-Varia Laboratoria Tbk 5 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk 6 INAF PT. Indofarma Tbk 7 INDF PT. Indofood Sukses Makmur Tbk 8 KAEF PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 9 KDSI PT. Kedawung Setia Industrial Tbk 10 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk 11 LMPI PT. Langgeng Makmur Industry Tbk 12 MERK PT. Merck Tbk 13 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia Tbk 14 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk 15 16 MYOR RMBA PT. Mayora Indah Tbk PT. Bentoel International Investama Tbk 17 PYFA PT. Pyridam Farma Tbk 18 SKLT PT. Sekar Laut Tbk 19 SQBI PT. Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk 20 STTP PT. Siantar Top Tbk 21 TCID PT. Mandom IndonesiaTbk 22 TSPC PT. Tempo Scan Pacific Tbk 23 ULTJ PT. Ultra jaya Milk Tbk 24 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk Sumber: www.idx.co.id Lampiran II Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandard ized Residual N Normal Parametersa,,b 87 Mean .0000000 Std. Deviation 1.03975471 Most Extreme Absolute Differences Positive Negative .098 .091 -.098 Kolmogorov-Smirnov Z .917 Asymp. Sig. (2-tailed) .370 a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Grafik Histogram Lampiran III Uji Multikolineritas Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 B Std. Error Standardiz ed Coefficien ts Beta Collinearity Statistics t Toleran Sig. ce VIF .791 .431 (Constan .638 t) .807 Ln_x1 -.138 .028 -.492 .000 .894 4.873 1.118 Ln_x2 -.039 .074 -.053 -.521 .604 .874 1.145 Ln_x3 -.256 .122 -.227 .039 .775 2.095 1.290 Ln_x4 .303 .159 .189 1.905 .060 .922 1.085 a. Dependent Variable: Ln_y Lampiran IV Uji Heterokedastisitas Uji Glajser Coefficientsa Standardiz ed Coefficien ts Unstandardized Coefficients Model 1 B Std. Error Beta t Sig. .084 .934 (Constan .044 t) .531 Ln_x1 .027 .019 .165 1.444 .153 Ln_x2 .038 .049 .090 .778 .439 Ln_x3 .072 .080 .111 .902 .370 Ln_x4 -.045 .105 -.049 -.430 .668 a. Dependent Variable: Absut Lampiran V Uji Autokorelasi Runs Test Unstandardized Residual Test Valuea .07082 Cases < Test Value 43 Cases >= Test Value 44 Total Cases 87 Number of Runs 45 Z .109 Asymp. Sig. (2-tailed) .913 a. Median Lampiran VI Pengujian Hipotesis Uji t dan Analisis Regresi Berganda Coefficientsa Unstandardized Coefficients Model 1 B (Const .638 ant) Std. Error Standardiz ed Coefficien ts Collinearity Statistics Beta Toleranc e VIF .807 t Sig. .791 .431 Ln_x1 -.138 .028 -.492 -4.873 .000 .894 1.11 8 Ln_x2 -.039 .074 -.053 -.521 .604 .874 1.14 5 Ln_x3 -.256 .122 -.227 -2.095 .039 .775 1.29 0 Ln_x4 .303 .189 1.905 .922 1.08 5 .159 .060 a. Dependent Variable: Ln_y Uji f ANOVAb Model 1 Sum of Squares df Mean Square F Sig. .000a Regress 31.463 ion 4 7.866 Residua 92.974 l 82 1.134 Total 86 124.436 6.937 a. Predictors: (Constant), Ln_x4, Ln_x1, Ln_x2, Ln_x3 b. Dependent Variable: Ln_y Hasil Pengujian Determinasi Model Summaryb Model R 1 .503a R Square Std. Error Adjusted R of the Square Estimate .253 .216 a. Predictors: Ln_x2, Ln_x3 (Constant), b. Dependent Variable: Ln_y 1.06481 Ln_x4, Ln_x1,

Judul: Zulkarnain-090462201175 Jurnal Baggus

Oleh: Dita Listiani Purnama


Ikuti kami