Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

Oleh Amalia Nurul Izzah

289,4 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

JURNAL HASIL PERKULIAHAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI DOSEN PENGAMPU: ADILITA PRAMANTI ANGGA PRASETYO ADI AMALIA NURUL IZZAH / P21331119008 JURUSAN GIZI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 2 JAKRTA 2020 PERTEMUAN 1 PENGANTAR SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI GIZI Masih banyak masyarakat Indonesia memiliki kualitas gizi yang sangat memprihatinkan. Dilihat dari rendahnya nilai gizi masyarakat, gizi buruk, busung lapar didaerah-daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor ekonomi, sosial budaya,kebiasaan dan kesukaan. Kondisi kesehatan termasuk juga pendidikan atau pengetahuan. Selain tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat, banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, baik faktor individu, keluarga, maupun masyakat. Kondisi Kondisi tersebutlah yang harus dipelajari dengan antropologi gizi. Perbedaan antropologi dan Sosiologi Gizi :  Konsumsi masyarakat dengan melihat budaya yang terkandung dialamnya.  Konsumsi masayrakat yang dipengaruhi oleh interaksi dan modernisasi. Sosiologi Gizi Masyarakat : Sosiologi merupakan ilmu sosial yang objeknya adalah masyarakat. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Antopologi Gizi Masyarakat : Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Definisi Antropologi Gizi Masyarakat : Antropologi Gizi Masyarakat adalah Suatu ilmu yang mempelajari faktor-faktor Antropologi yang dapat mempengaruhi gizi masyarakat atau suatu Ilmu yang mempelajari budaya - budaya makan/konsumsi suatu etnis tertentu dalam memenuhi gizinya. Sehingga menjadikan ilmu tersebut sebagai sistem yang efektif dalam menyelesaikan masalah gizi yang terjadi pada masyarakat saat ini. Karena fungsi Antropologi sendiri yang meneliti sedalam-sedalamnya kebudayaan, etnik dan apa-apa saja pengaruhnya, sehingga bila di bawa kedalam masalah gizi masyarakat sangat luas pengaruhnya dan kita bisa mengetahui apa pengaruh dari budaya masyarakat terhadap kesehatan masyarakat itu sendiri. Tokoh Sosiologi :  Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagianbagian yang tergantung satu sama lain.  Karl Max memperkenalkan pendekatan materialis medialektis, yang menganggap konflik antar kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.  Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi sebagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.  Max webber memperkenalkan pendekatan verstehen ( pemahaman ), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia. Tokoh Antropologi :  Claude levi-Strauss  Ralph Linton  Ruth Benedict  Koentjaraningrat Faktor-Fakor Yang Mempengaruhi Status Gizi Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan Sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli kesehatan masyarakat HL. Blum, yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter (keturunan ). Tiga faktor yang pertama, yaitu lingkungan yang mempengaruhi pola hidup sehat bagaimana antara masyarakat kota dan desa bisa hidup bersih, perilaku menjadi dasar penentu bagaimana masyarakat bisa terjauh dari penyakit agar mampu melakukan hidup sehat dan bersih dan pelayanan kesehatan adalah yang dominan.yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yang bisa memberikan informasi tentang kesehatan. Budaya Konsumsi Masyarakat Dalam hal budaya konsumsi yang terjadi pada masyarakat pada saat ini, terdapat beberapa hal menarik yang perlu untuk di cermati. Contohnya, timbulnya suatu trend dalam masyarakat yang mengatakan " Kalau tidak makan nasi bukan makan namanya ". Padahal makanan lainnya seperti singkong, sagu, kacang-kacangan dan lain-lain, bisa di jadikan sebagai sumber makanan utama karena mengandung karbohidrat yang sangat baik untuk tubuh . Selain ekonomi, pendidikan menjadi suatu masalah utama dalam pemenuhan gizi masyarakat. Seperti rendahnya pengetahuan pada masyarakat desa tentang apa-apa saja makanan yang perlu di konsumsi dalam pemenuhan gizi mereka. Sehingga prinsip makan " asal kenyang " tapi tidak memenuhi kebutuhan gizi selalu menjadi kebiasaan masyarakat di desa. Di Perkotaan, sarapan hanya cukup 1 kopi dan roti sambil baca koran atau dipinggir jalan. Kalau Dipedesaan makanannya nasi dan rame-rame. Tingkat kesibukan kerja yang begitu padat juga mempengaruhi kebudayaan makan masyarakat perkotaan. Mengapa Pentingnya Antropologi dan sosiologi Gizi ? Tingginya angka gizi buruk, kelaparan, produksi pangan lebih sedikit dari jumlah manusia, serta sulitnya membagi waktu makan pada masyarakat perkotaan dan tingkat gizi masyarakat pedesaan masih jauh dari seharusnya. Untuk mengatasi masalah yang terjadi saat ini di perlukannya suatu Antropolgi Gizi dalam mempelajari hal-hal yang menjadi penyebab dalam masalah gizi masyarakat. Kesimpulan : Antropologi Sosiologi Gizi Masyarakat merupakan suatu ilmu yang mengabungkan antara Antropologi dan Gizi. Sehingga menjadikan ilmu tersebut sebagai sistem yang efektif dalam menyelesaikan masalah gizi yang terjadi pada masyarakat saat ini. PERTEMUAN 2 Kebudayaan dan Sistem Sosial Budaya Indonesia Kebudayaan adalah segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan dan diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga dengan cara ini manusia mampu berkomunikasi melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap kehidupan. Kebudayaan perulangan - perulangan yang muncul didalam kehidupan manusia melaui struktur struktur dalam masayrakat. Kontjaraningtat kebudayan merupakan keseluruhan dari kelakuan dan hasil yang harus didapatkan dalam belajar,rasa dan akal budi manusia, semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat. Selo Soemarjan Kebudayaan merupakan hasil karya cipta dan rasa masyarakat. Unsur-Unsur Kebudayaan : 1. Sistem Bahasa 2. Sistem Pengetahuan 3. Sistem Kekerabatan 4. Sistem Peralatan Hidup 5. Sistem Ekonomi 6. Sistem Religi 7. Sistem Kesenian Sistem Bahasa Bahasa atau sistem perlembagaan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi , ciri ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan berserta variasi variasi dari bahasa itu. Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud didalam ide manusia. Sistem Kekerabatan Unsur budaya yang membentuk manusia menjadi masyarakat melalui berbagai kelompok sosial, kelompok masyarakat kehidupan diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan didalam lingkungan. Sistem Peralatan Hidup Manusia selalu berusahan untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda benda tersebut. Sistem Ekonomi Cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain:  berburu dan meramu;  beternak;  bercocok tanam di ladang;  menangkap ikan;  bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi. Sistem Religi Pengertian sistem kepercayaan lebih luas dari agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sistem kepercayaan berkaitan dengan kekuatan di luar diri manusia. Kepercayaan terhadap dewa- dewa, animisme, dinamisme, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah bukti unsur religi dalam kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan akan ditemukan unsur ini walaupun dalam bentuk yang berbeda. Sistem Kesenian Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah yang melahirkan berbagai bentuk seni yang berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. Sistem Budaya Indonesia Sistem budaya indonesia sebagai totalitas nilai, tata sosial dan tata laku masyarakat indonesia. Fungsi Sistem Budaya – Dalam keluarga – Dalam masyarakat – Dalam berbangsa dan bernegara SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Diperlukan untuk memahami kondisi sosial indonesia. Mengapa demikian ? Karena sistem sosial dan budaya masyarakat indonesia sangat heterogen secara vertikal maupun horizontal.Indonesia merupakan negara yang memiliki susunan masyarakat dengan ciri pluralitas yang tinggi. Akibat Heterogenitas masyarakat indonesia, masyarakat menjadi rawan konflik. Pluralitas Masyarakat Indonesia disebabkan oleh :  keadaan geografis   letak indonesia antara samodera indonesia dan samodera pasifik (→pusat lalu lintas perdagangan dan persebaran agama)   iklim yang berbeda (→berakibat plural secara regional)   curah hujan dan kesuburan tanah yang berbeda (pluralitas lingkungan ekologis) a) wetrice cultivation (pertanian sawah di jawa dan bali) b) shifting cultivation (pertanian ladang di luar Jawa) Terkait dengan indonesia sebagai suatu state yang terintegrasi Memunculkan 2 pertanyaan inti: Apakah Sistem itu ?  Konsep yang menjelaskan Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagianbagian,komponen-komponen, dan prosesproses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.  Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya. Sistem adalah istilah yang artinya menggabungkan, untuk mendirikan, untuk menempatkan bersama. Sistem adalah kumpulan elemen berhubungan yang menjadi kesatuan atau kebulatan yang kompleks. Sistem merupakan jarintan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, untuk menjalankan fungsi masing-masing untuk menghasilkan atau menyelesaikan sesuatu yang menjadi sasaran bersama. 1. Sistem Budaya merupakan bentuk abstrak dari kebudayaan.. Sistem budaya merupakan ide dan gagasan manusia yang hidup bermasyarakat. Ide manusia tersebut tidak terlepas melainkan berkaitan satu dengan lainnya dalam sebuah sistem. Oleh karena itu sistem budaya adalah salah satu bagian dari kebudayaan, yaitu adat istiadat yang didalamnya termasuk sistem norma, nilai budaya, dan semua norma yang hidup dan berkembang di masyarakat. 2. Keyakinan (pengetahuan) 3. Norma Tujuan 4. Tujuan 5. Tingkatan atau pangkat (rank) Status dan peranan 6. Status dan peranan 7. Sanksi 8. Kekuasaan atau pengaruh (power) Sanksi 9. Tekanan ketegangaan (stress strain) 10. Sarana atau fasilitas Struktur Dan Proses Sistem Sosial Budaya Indonesia Konsep struktur sisoal adalah alat analisis yang diwujudkan untuk dapat membantu pemahaman terhadap tingkah laku manusia dalam kehidupan bersosial. Dasar yang juga penting adalah setruktur sosial yakni relasi-relasi sosial yang pasti penting untuk menentukan tingkah laku manusia, yang jika relasi sosial tersebut tidak dilakukan, maka masyarakat itu tak terwujud lagi. Struktur sosial juga bisa dilihat dari segi, peranan, status, norma, nilai-nilai serta institusi sosial dalam relasi.Nilai merupakan pembentukan mentalitas yang telah dirumuskan dari tingkah laku manusia sehingga bisa menajdi sejumlah anggapan yang hakiki, baik, serta perlu juga dihargai. Sistem nilai yang harus bisa diwujudkan atau diselenggarakan dalam kehidupan bermasyarakat, benegara dan berbangsa ditemukan pada proses pertumbuhan pancasila sebagai dasar negara ideologi atau falsafah Negara. PERTEMUAN 3 TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL DAN KONFLIK Melihat masyarakat sebagai sebuah keseluruhan sistem yang saling berhubungan dan bekerja untuk menciptakan dan medukungn tatanan,keseimbangan dinamis dan stabilitas sosial. Metode Agil merupakan koreksi dari teori sistem-sistem yang dikembangkan parsons dalam the Social System dan Toward a General Theory of Action. Dalam buku yang ia susun bersama murid-nya, Neil Smelser, berjudul Economy and Society (1956), Parsons mengatakan bahwa masyarakat tersusun dari empat subsistem yang berbeda, yang masing masing subsistem mempunyai fungsi untuk memecahkan persoalan tertentu. Subsistem ini, bisa mengambil bentuk lembaga tertentu, atau bisa juga kegiatan dan prosedur yang sifatnya cair. Dengan menggunakan model AGIL, Parsons berambisi untuk mengembangkan model yang dapat memberi penjelasan secara total menyeluruh atas setiap masyarakat di muka bumi ini, bahkan, ia mengklaim bahwa keempat subsistem ini harus ada dalam sebuah masyarakat atau subsistem jika masyarakat itu mau bertahan untuk waktu yang cukup panjang. Bila dijabarkan dalam bentuk diagram, Keempat subsistem itu tampak sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. A G I L A ( Adaptation ) adalah cara sistem beradaptasi dengan dunia material dan pemenuhan kebutuhan material untuk bertahan hidup (sandang,pangan,papan). Ekonomi teramat penting dalam subsistem ini. G. ( Goal Attainment ) adalah pencapaian tujuan. Subsistem ini berurusan dengan hasil atau produk (output) dari sistem dan kepemimpinan. Politik menjadi panglima dari subsistem ini. I. ( Integration) adalah penyatuan subsistem ini berkenaan dengan menjaga tatanan. Sisitem hukum dan lembaga-lembaga atau komunitas-komunitas yang memperjuangkan tatanan sosial termasuk dalam kelompok ini. L ( Latent pattern maintenance and tension management) mengacu pada kebutuhan masyarakat untuk mempunyai arah panduan yang jelas dan gugus tujuan dari tindakan. Lembaga-lembaga yang ada dalam subsistem ini bertugas untuk memproduksi nilai-nilai budaya, menjaga solidaritas, dan menyosialisasikan nilai-nilai. Contoh dalam sub sistem seperti keluarga, gereja, sekolah. Model AGIL merupakan kombinasi antara unusr-unsur atau material dan budaya, jadi bisa dipikirkan sebagai sebuah model yang Namun, lagi-lagi tekanan utama Parsons terletak pada budaya menetapkan tujuan-tujuan akhir yang harus dicapai masyarakat kestabilan sistem. kebutuhan kebutuhan bersifat multidimensi. (subsistem L), yang sekaligus menjamin Fungsionalism Robert K Merton Masyarakat merupakan sebuah sistem sosial yang terdiri atas bagian atau elemen saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Tetapi perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Dampak negatif dari adanya konflik 1. Hancurnya kesatuan kelompok. Jika konflik yang tidak berhasil diselesaikan menimbulkan kekerasan atau perang, maka sudah barang tentu kesatuan kelompok tersebut akan mengalami kehancuran. 2. Adanya perubahan kepribadian individu. Artinya, di dalam suatu kelompok yang mengalami konflik, maka seseorang atau sekelompok orang yang semula memiliki kepribadian pendiam, penyabar menjadi beringas, agresif dan mudah marah, lebihlebih jika konflik tersebut berujung pada kekerasan. 3. Hancurnya nilai-nilai dan norma sosial yang ada. Antara nilai-nilai dan norma sosial dengan konflik terdapat hubungan yang bersifat korelasional, artinya bisa saja terjadi konflik berdampak pada hancurnya nilai-nilai dan norma sosial akibat ketidak patuhan anggota masyarakat akibat dari konflik. TEORI KONFLIK DAHREDORF  Karena adanya ASSOSIASI TERKOORDINASI secara IIMPERATIVE (IMPETARATIVELY COORDINATED ASSOCIATIONS/ICA) yang mewakili ORGANISASI-ORGANISASI yang berperan penting di dalam MASYARAKAT REALITAS SOSIAL  SISTEM SOSIAL selalu berada dalam KONFLIK yang terus menerus (CONTINUAL STATE OF CONFLICT)  Konflik tercipta karena KEPENTINGAN yang saling BERTENTANGAN dalam struktur sosial  Kepentingan yang saling bertentangan merupakan refleksi dari perbedaan dalam DISTRIBUSI KEKUASAAN antar kelompok yang MENDOMINASI dan TERDOMINASI  Kepentingan cenderung mempolarisasi kedalam dua kelompok kepentingan Konflik bersifat DIALEKTIKA( suatu konflik menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan menurunkan konflik yang berikutnya) Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang selalu berada dimanapun (UBIQUITOUS FEATURE) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik.  Kelompok semu  Kelompok kepentingan  Kelompok konflik Fungsional konflik Fungsi konflik sosial, Katup penyelamat (savety valve), Konflik realistis dan non realistis, Isu Fungsional konflik, Kondisi yang mempengaruhi konflik kelompok dalam dengan kelompok luar Fungsi Konflik Lewis Coser Konflik realis Konflik realistis memiliki beberapa ciri antara lain: Konflik muncul dari frustasi atas tuntutan khusus dalam hubungan, mencari keuntungan, keinginan untuk mandapatkan sesuatu: power, status yang langka, sumber daya, dan nilai-nilai. Konflik akan berhenti jika aktor dapat menemukan pengganti yang sejajar dan mendapatkan hasil akhir memuaskan. Contoh dari konflik ini yaitu para karyawan yang mengadakan pemogokan kerja melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji. Konflik nonrealis Konflik non realistis, contohnya: dalam masyarakat buta huruf, pembalasan dendam lewat ilmu gaib sering merupakan bentuk konflik non realisitis, dengan pengkambinghitaman yang sering terjadi dalam masyarakat yang telah maju. STRUKTURAL FUNGSIONAL Para stuktural fungsional pada awalnya memustakan pada fungsi dalam struktru dan institusi dalam amsyarakat. Bagi Merton hal ini tidaklah demikian, karrena dalam menganalis hal itu, para fungsionalis awal cenderung mencampur adukna motif subjektif individu dengan fungsi stuktur atau institusi. Analisis fungsi bukan motif individu. Merton sendiri mendefinisikan fungsi sebagai konsekuensi-konsekuensi yang didasari dan yang menciptakan adaptasi atau penyesuian, karena selalu ada konsekuensi positif. Tetapi, Merton menambahkan konsekuensi dalam fakta sosial yang ada tidaklah positif tetapi ada negatifnya. Dari sini Merton mengembangkan gagasan akan disfungsi. Ketika struktur dan fungsi dpat memberikan kontribusi pada terpeliharanya sistem sosial tetapi dapat mengandung konsekuensi negative pada bagian lain.Hal ini dapat dicontohkan, struktur masyarakat patriarki c memberkan kontribusi positif bagi kaum laki-laki untuk memegang wewenang dalam keputusan kemasyarakatan, tetapi hal ini mengandung konsekuensi negative bagi kaum perempuan karena aspirasi mereka dalam keputusan terbatas. Gagasan non fungsi pun, dilontarkan oleh Merton. Merton mengemukakan nonfungsi sebagai konsekuensi tidak relevan bagi sistem tersebut. Dapat konsekuensi positif dimasa lalu tetapi tidak dimasa sekarang.Tidaklah dapat ditentukan manakah yang lebih penting fungsi-fungsi positif atau disfungsi. Untuk itu Merton menambahkan gagasan melalui keseimbangan mapan dan level analisis fungsional. Dalam penjelasan lebih lanjut, Merton mengemukakan mengenai fungsi manifest dan fungsi laten.Fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, laten adalah yang tidak dikehendaki.Maka dalam stuktur yang ada, hal-hal yang tidak relevan juga disfungso laten dipenagruhi secara fungsional dan disfungsional. Merton menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional akan selalu ada. Dalam teori ini Merton dikritik oleh Colim Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton dalam fungsi manifest dan laten, menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur dengan berbagari cara. Hal ini Merton tidak secara tepat mengintegrasikan teori tindakan dengan fungsionalisme. Hal ini berimplikasi pada ketidakpasan antara intersionalitas dengan fungsionalisme structural. Kami rasa dalam hal ini pun Merton terlalu naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan dengan beraninya dia mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tetapi dia pun mengkritik akar pemikiran yang mendahuluinya. Tetapi, lebih jauh dari itu konsepnya mengenai fungsi manifest dan laten telah membuka kekauan bahwa fungsi selalu berada dalam daftar menu struktur. Merton pun mengungkap bahwa tidak semua struktur sosial tidak dapat diubah oleh sistem sosial. Tetapi beberapa sistem sosial dapat dihapuskan. Dengan mengakui bahwa struktur sosia dapat membuka jalan bagi perubahan sosial. TOKOH : 1. PLATO 2. HERBERT SPENCER 3. EMILE DURKHEIM 4. BRANISLAW MALINOWSKI 5. AUGUSTE COMTE 6. TALCOT PARSON 7. EDCLIFFE BROWN Anggapan dasar teori Struktural Fungsional masyarakat adalah suatu sistem dari bagianbagian yang saling berhubungan.hubungan dalam masyarakat bersifat ganda dan timbal balik (saling mempengaruhi).secara fundamental, sistem sosial cenderung bergerak kearah equilibrium dan bersifat dinamis/disfungsi/ketegangan sosial/ penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian dan proses institusionalisasi. perubahan-perubahan dalam sistem sosial bersifat gradual melalui penyesuaian. bukan bersifat revolusioner. perubahan terjadi melalui 3 macam kemungkinan: 1.penyesuaian siatem sosial terhadap perubahan dari luar ( extra systemic change ) 2.pertumbuhan melalui proses differensiasi struktural dan fungsional 3.penemuan baru oleh anggota masyarakat. faktor terpenting dalam integrasi adalah konsensus Menurut David Lockwood terlalu menekankan anggapan dasarnya pada peranan unsur-unsur normatif dari tingkah laku sosial (pengaturan secara normatif terhadap hasrat seseorang untuk menjamin stabilitas sosial) terdapat sub stratum yang berupa disposisidisposisi yang mengakibatkan timbulnya perbedaan life chances (kesempatan hidup) dan kepentingankepentingan yang tidak normatif dalam setiap situasi sosial terdapat 2 hal yaitu: tata tertib yang bersifat normatif sub stratum yang melahirkan konflik. Kenyataan yang diabaikan dalam pendekatan Struktural Fungsional 1. setiap struktur sosial mengandung konflik dan kontradiksi yang bersifat internal dan menjadi penyebab perubahan 2. reaksi suatu sistem sosial terhadap perubahan yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat adjustive/tampak 3. Suatu sistem sosial dalam waktu yang panjang dapat mengalami konflik sosial yang bersifat visious circle 4. Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara gradual melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara revolusioner. Asumsi Dasar Teori Konflik Dialektika 1. Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat 2. Konflik dalah gejala yang melekat pada setiap masyarakat 3. Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial 4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain unsur-unsur yang bertentangan dalam masyarakat atau kontradiksi intern akibat pembagian kewenangan/otoritas yang tidak merata dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial. MENURUT DAHRENDORF karena adanya assosiasi terkoordinasi secara imperativ (impetaratively coordinated associations/ica) yang mewakili organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. ICA Terbentuk atas hubungan-hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada dalam masyarakat kekuasaan menunjukkan adanya faktor “paksaan” oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain. dalam ica hubungan kekuasaan menjadi “tersahkan” atau terlegitimasi. Dalam ica terdapat ruling dan ruled (pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai) yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo, yang dikuasai berusaha mendapatkan status quo, terdapat dikotomi antara dominator dan sub dominator (dominated group dengan subjugated group). DALAM PANDANGAN TEORI KONFLIK DIALEKTIKA Kekuasaan (power) dan otoritas (authority) merupakan sumber yang langka dan selalu diperebutkan dalam sebuah imperatively coordinated associations. dahrendorf dengan teori konflik dialektika berusaha menyempurnakan pendapat karl marx mengenai realitas sosial dalam tinjauan konflik dialektika, suatu kepentingan bisa dinegoisasikan antar kelompok dalam ica jika sudah menjadi kelompok kepentingan yang bersifat riil sehingga, bersatunya individu yang memiliki kepentingan yang sama dalam sebuah kelompok yang terorganisir menjadi hal yang penting. Kepentingan yang sama dari beberapa individu, jika tidak diorganisasi secara formal kedalam suatu kelompok, merupakan kepentingan semu karena tidak ada yang bisa mewakili/mengatasnamakan pemilik kepentingan. PERTEMUAN 4 BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK DAN PPH SEBAGAI PENGGANTI KETERGANTUNGAN PADA BERAS BENTUK PENGENDALIAN KONFLIK 1. KONSILIASI (CONCILIATION) 2. MEDIASI (MEDIATION) 3. PERWASITAN (ARBITRATION) KONSILIASI Terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan diantara fihak-fihak yang berkonflik. dilakukan dengan cara-cara damai. Lembaga-lembaga berfungsi efektif, jika :  Bersifat otonom dengan wewenang untuk mengambil keputusan tanpa campur tangan fihak lain.  Kedudukan lembaga tersebut dalam masyarakt bersifat monopolistis (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian)  Peran lembaga harus mampu mengikat kelompok kepentingan yang berlawanan. termasuk keputusankeputusan yang di hasilkan  Harus bersifat demokratis Prasyarat kelompok kepentingan untuk Konsiliasi 1. Masing-masing kelompok sadar sedang berkonflik 2. Kelompok-kelompok yang berkonflik terorganisir secara jelas 3. Setiap kelompok yang berkonflik harus patuh pada rule of the games MEDIASI ( MEDIATION) Pihak yang berkonflik sepakat menunjuk Pihak KETIGA untuk memberi “nasehatnasehat” penyelesaian konflik. Tujuannya mengurangi irasionalitas kelompok yang berkonflik. PEWASITAN (ARBITRATION) Dilakukan/terjadi jika fihak yang bersengketa bersepakat untuk menerima atau “terpaksa” menerima hairnya fihak ketiga yang akan memberikan “keputusan-keputusan” tertentu untuk mengurangi konflik. JIKA PENGENDALIAN EFEKTIF, MAKA : Konflik akan menjadi kekuatan pendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial yang terus berlanjut. struktur majemuk masyarakat indonesia masyarakat majemuk memiliki sub struktur dengan ciri yang sangat beragam sehingga disebut majemuk masing-masing sub struktur berjalan dengan sistemnya masing-masing. Dalam struktur sosial terdapat sistem sosial Dalam sistem sosial terdapat seperangkat kegiatan bersama yang memperlihatkan hubungan timbal balik yang disebut struktur sistem sosial dan struktur sosial tidak bisa di pisahkan. struktur sosial memperlihatkan suatu hubungan yang konstan sebagai suatu kerangka sistem, dan memberikan sifat dan dinamika pada struktur secara keseluruhan. Indonesia adalah masyarakat majemuk yang ditandai oleh 2 ciri unik: majemuk secara horizontal majemuk secara vertikal konsekwensinya adalah:  dalam mengamati sistem sosial dan budaya serta realitas masyarakat indonesia diperlukan minimal penguasaan 2 teori, yaitu; konflik dialektika dan struktural fungsional.  konflik dan konsensus adalah gejala yang melekat bersama-sama di masyarakat (david lockwood) Masyarakat majemuk indonesia adalah : suatu masyarakat majemuk (plural societies) yang masyarakatnya terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendirisendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalan satu kesatuan politik (furnival). Ciri masyarakat majemuk indonesia  dalam kehidupan politik, tidak ada kehendak bersama  dalam kehidupan ekonomi, tidak ada permintaan sosial yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat (common social demand) Tidak adanya permintaan sosial yang dihayati bersama, menyebabkan karakter ekonomi yang berbeda. ekonomi majemuk → masyarakat majemuk ekonopmi tunggal → masyarakat Homogen. Akibatnya: anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat sebagai keseluruhan, kurang memiliki homogenitas kebudayaan dan kurang memiliki dasardasar untuk saling memahami satu sama lain. KARAKTERISTIK MASYARAKAT MAJEMUK (Pierre L. Van Den Berghe)       Terjadi segmentasi kedalam bentuk kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang non komplementer. Kurang mengembangkan konsensus antar para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar. Relatif sering terjadi konflik. secara relatif, integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling saling ketergantungan dalam bidang ekonomi Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain karakteristik masyarakat majemuk ini tidak bisa digolongkan ke dalam dua golongan masyarakat (modern dan tradisional) menurut emile durkheim. TERKAIT DENGAN CIRI MASYARAKAT MAJEMUK a) Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki unitunit kekerabatan yang bersifat segmenter. b) Masyarakat majemuk tidak dapat disamakan dengan masyarakat yang memiliki differensiasi atau spesialisasi yang tinggi MASYARAKAT YANG MEMILIKI UNIT KEKERABATAN YANG BERSIFAT SEGMENTER Suatu masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur kelembagaan yang bersifat homogen. MASYARAKAT YANG MEMILIKI DIFERENSIASI/SPESIALISASI TINGGI Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi fungsional yang tinggi dengan banyak lembaga-lembaga kemasyarakatan yang saling komplementer dan saling tergantung. Menurut van den berghe; solidaritas mekanis dan solidaritas organis sulit di tumbuhkan dalam masyarakat majemuk karena pengelompokan yang terjadi bersifat sesaat atas dasar kepentingan praktis. FAKTOR YANG MENGINTEGRASIKAN MASYARAKAT MAJEMUK  adanya konsensus diantara sebagian besar anggota masyarakat terhadap nilainilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental  adanya berbagai masyarakat yang berasal dari berbagai kesatuan sosial (cross cutting affiliations) yang akan menyebabkan terjadinya loyalitas ganda (cross cutting loyalities) KEMUNGKINAN YANG TERJADI PADA MASYARAKAT MAJEMUK  KONFLIK BERSIFAT IDEOLOGIS Terwujud dalam bentuk konflik antara sistem nilai yang dianut oleh serta menjadi ideologi dari berbagai kesatuan sosial  KONFLIK BERSIFAT POLITIS Terjadi dalam bentuk pertentangan di dalam pembagian status kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi yang terbatas, diantara anggota masyarakat KONSEP STATUS DAN PERANAN UNTUK MELIHAT HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN SISTEM SOSIAL STATUS adalah suatu posisi dalam struktur sosial yang menentukan dimana seseorang menempatkan dirinya dalam suatu komunitas dan bagaimana ia diharapkan bersikap dan berhubungan dengan orang lain. PERANAN adalah pola perilaku yang diharapka dari seseorang yang mempunyai status atau posisi tertentu dalam suatu organisasi atau masyarakat. Dalam suatu sistem sosial, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (berperan) sesuai dengan normanorma atau aturan-aturan yang dibuat oleh sistem. DIFERENSIASI SOSIAL  Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaanperbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.  Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah.  Perbedaan itu hanya secara horisontal. Perbedaan seperti ini dalam sosiologi dikenal dengan istilah Diferensiasi Sosial. DIFERENSIASI SOSIAL  Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaanperbedaan yang biasanya sama.  Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.  Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial. Ciri-ciri yang Mendasari Diferensiasi Sosial  Ciri Fisik. Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.  Ciri Sosial. Muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.  Ciri Budaya. Berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai-nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai-nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb. Bentuk-bentuk Diferensiasi Sosial  Diferensiasi Ras. Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciriciri fisiknya, bukan budayanya.  Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis). Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut : - ciri fisik - kesenian - bahasa daerah - adat istiadat  Diferensiasi Klen (Clan) Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada: a) Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga) b) Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam) c) Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) d) Masyarakat Flores (klennya disebut Fam) e) Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau, Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang-kampuang.    Diferensiasi Agama Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya. Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya. ・ Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang. ・ Tempat ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng. ・ Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial. Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya. a) Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb. b) Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya. c) Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya melaksanakan pekerjaannya. Diferensiasi Jenis Kelamin     Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat lakilaki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita. Diferensiasi Asal Daerah Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Diferensiasi Partai Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuankesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran. Industrialisasi Industrialisasi yang terjadi saat ini telah membawa pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Industri memberi mata pencaharian kepada berjuta-juta rakyat dalam bidang-bidang yang berbeda. Industri membuka peluang bagi banyak orang untuk mengembangkan kemampuannya. Revolusi Industri adalah perubahan teknologi, sosioekonomi, dan budaya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin. Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap (dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar) dan ditenagai oleh mesin (terutama dalam produksi tekstil). Dampak Revolusi Industri Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara, kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan membentuk peradaban, menggantikan kehidupan nomadik. ERA INDUSTRIALISASI DI INDONESIA Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Belanda. Perkembangan industrialisasi di Indonesia, terbagi dalam empat periode, mulai dari tanam paksa hingga berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga akhir Perang Dunia II, proklamasi hingga berakhirnya Orde Lama, serta masa Orde Baru hingga berakhirnya pembangunan Jangka Panjang I. Industrialisasi di Indonesia, berawal pada perkembangan industri di sektor perubahan, dan baru menjelang tahun 1900, pemerintahan Hindia Belanda saat itu mengalihkan kesektor lain. Perkembangan industrialisasi juga tidak terlepas dari peristiwa dunia, seperti ekspansi Jerman ke negara-negara Eropa, Perang Dunia I, serta Perang Asia Timur Raya. Era Industrialisasi di Indonesia: Periode Pendudukan Jepang. Kebijakan industri pada masa pendudukan Jepang beralih ke keperluan perang. Dalam masa ini dikembangkan satu kebijakan yaitu kebijakan Ekonomi Wilayah Selatan yang meliputi 2 wilayah, yaitu Hindia Belanda, Malaya, Baruto dan Filipina yang termasuk wilayah pertama, dan Indochina, dan Muangthai termasuk wilayah dua. Pada masa ini pula terjadi perubahan struktur industri, dimana pola industri dengan menghasilkan bahan baku untuk ekspor, berkembang menjadi industri pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi untuk kosumsi sendiri. PPH SEBAGAI PENGGANTI KETERGANTUNGAN PADA BERAS DASAR REGULASI Pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Kebutuhan manusia akan pangan ialah hal yang sangat mendasar, sebab konsumsi pangan adalah salah satu syarat utama penunjang kehidupan. Kini pangan ditetapkan sebagai bagian dari hak asasi manusia yang penyelenggaraannya wajib dijamin oleh negara. Penyelenggaraan urusan pangan di Indonesia diatur melalui Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 pengganti Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996. Dalam Undang-Undang Pangan ini ditekankan pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat perorangan, dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi dan kearifan lokal secara bermanfaat. INDIKATOR Dewasa ini situasi kualitas konsumsi pangan di tengah masyarakat Indonesia masih dirasakan kurang beragam dan bergizi seimbang. Padahal komsumsi pangan dengan gizi cukup dan seimbang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia. Volume dan kualitas komsumsi pangan dan gizi di dalam rumah tangga juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, pengetahuan dan budaya masyarakat. Indikator kualitas komsumsi pangan ditunjukan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang dipengaruhi oleh keragaman dan keseimbangan konsumsi antar kelompok makanan. PPH biasanya digunakan untuk perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan yang ideal di suatu wilayah. Menurut Susenas 2011, Tingkat Pola Pangan Harapan (PPH) di Indonesia pada periode tahun 2009-2011 mengalami fluktuasi mulai dari 75,7 pada tahun 2009 naik menjadi 77,5 pada tahun 2010, kemudian turun lagi pada tahun 2011 menjadi 77,3 dan tingkat PPH pada tahun 2012 bahkan cenderung mengalami penurunan lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, penganekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan. Dari segi fisiologis juga dikatakan, bahwa untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif manusia memerlukan lebih dari 40 jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan, sebab tidak ada satupun jenis pangan yang lengkap zat gizinya selain air susu ibu (ASI) Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya, baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan, yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya, agama, cita rasa. PPH mencerminkan susunan konsumsi pangan anjuran untuk hidup sehat, aktif dan produktif. Dengan pendekatan PPH dapat dinilai mutu pangan berdasarkan skor pangan dari 9 bahan pangan. Ketersediaan pangan sepanjang waktu, dalam jumlah yang cukup dan hanya terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan (Depkes RI , 2010). Pola pangan masyarakat yang mengacu pada Pola Pangan Harapan dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan program diversifikasi pangan. Program diversifikasi bukan bertujuan untuk mengganti bahan pangan pokok beras dengan sumber karbohidrat lain, tetapi untuk mendorong peningkatan sumber zat gizi yang cukup kualitas dan kuantitas, baik komponen gizi makro maupun gizi mikro (Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi XI, 2010) Diversifikasi pangan adalah suatu proses pemanfaatan dan pengembangan suatu bahan pangan sehingga penyediaannya semakin beragam. Setiap daerah di Indonesia memiliki karateristik bahan pangan lokal yang sangat berbeda dengan daerah lainnya. Divertifikasi pangan juga merupakan solusi untuk mengatasi ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap satu jenis bahan pangan yakni beras. Pemerintah melalui kementerian Pertanian pada 2014, mentargetkan secara nasional skor untuk PPH penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal dapat mencapai (93.3). Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan memberi arahan bahwa untuk memenuhi pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman serta mengembangkan usaha pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan, antara lain: melalui penetapan kaidah penganekaragaman pangan, pengoptimalan pangan lokal, pengembangan teknologi dan sistem insentif bagi usaha pengolahan pangan lokal, pengenalan jenis pangan baru termasuk pangan lokal yang belum dimanfaatkan, pengembangan diversifikasi usaha tani dan perikanan, peningkatan ketersediaan dan akses benih dan bibit tanaman, ternak, dan ikan; pengoptimalan pemanfaatan lahan termasuk lahan pekarangan; penguatan usaha mikro, kecil dan menengah di bidang pangan; serta pengembangan industri pangan yang berbasis pangan lokal. IMPLEMENTASI Untuk implentasinya, telah dikeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Menjadi acuan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam melakukan perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi, dan pengendalian kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. Di tingkat provinsi, kebijakan tersebut telah ditindaklanjuti melalui surat edaran atau Peraturan Gubernur (Pergub), dan di tingkat kabupaten/kota ditindaklanjuti dengan surat edaran atau Peraturan Bupati/Walikota (Perbup/Perwalikota). Sebagai bentuk keberlanjutan program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal tahun 2010, pada tahun 2013 program P2KP diimplementasikan melalui kegiatan: 1. Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL); 2. Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L); 3. Sosialisasi dan Promosi P2KP. MENGENAL KEBIJAKAN PANGAN STRATEGIS Marshal Plam : Donor uang untuk negara-negara yang kelaparan Potensi Sumberdaya Pangan  Pemanfaatan Lahan Rumah  Budidaya Tanaman Pangan Potensi pangan lokal  Mengurangi Ketergantungan Beras  Meningkatkan Potensi Ekonomi Lokal  Meneganl Beragam Jenis Makanan Khas Indonesia  Pariwisata Memenuhi Gizi Masyarakat  kuantitas pangan  kualitas pangan  mencegah stanting  penyuluhan kepada masyarakat Diversivikasi Pangan Rumah Tangga Proses emilihan pangan tidak bergantung pada satu jenis pangan, dari aspek produksi,aspek pengolahan, aspek distribusi hingga proses konsumsi pada tingkat rumah tangga Tujuan diversifikasi pangan pada rumah tangga Penganekaragaman dan pemenuhan gizi pada rumah tangga dari pangan pokok dan semua pangan lain Keuntungan kebijakan diversifikasi pangan pada rumah tangga  Dalam lingkup nasional pengurangan konsumsi beras memberikan dampak positif  Konsumsi pangan akan merubah alokasi sumberdaya kearah efisien  Nutrisi untuk mewujudkan pola pagan harapan POLA PANGAN HARAPAN Susunan keragaman pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama pada tingkat ketersediaan maupun konsumsi pangan. Peran Akademisi Dalam Kebijakan Pangan  MELAKUKAN PENYULUHAN  MEWUJUDKAN TRIDARMA PERGURUAN TINGGI  TRANSFORMASI BUDAYA DAN NILAI Model Perilaku Konsumsi Pagan dan Anak analysis of children’s of food consumption behavior model, atau Model Lund & Burk (Sianjur, 1982). Sianjur (1982) juga menjelaskan tentang tiga tipe kebutuhan yang berkaitan dengan dorongan dasar (motivasi).  Kebutuhan Biogenik, Didasarkan oleh fakta biologis  Kebutuhan psikogenik, Pikiran  Kebutuhan sosiogenik, Kebutuhan pola makan yang dipengaruhi keadaan sosial Teori Terbentuknya Pola Makan  Children’food consumtion behaviour model oleh: lund &Burk (1969)  Teori Kode dimensi ganda (Multi-dimensional code theory)  Model Wenkam (1969)  Hartog (1995) Lewin’s motivational model (chanel theory= teori alur teori saluran )  Asumsi pertama Semua pangan yang dikonsumsi bergerak selangkah demi selangkahmelalui alur, yang sifat dan jumlahnya bervariasi antar budaya. Setiap alur diawasi seseorang yang disebut sebagai gatekeepers  Asumsi kedua Terdapat beragam kekuatan yang menggerakkan pangan dalam alur, dan ada juga kekuatan yang menghadang masuknya pangan dalam alur Kekuatan   yang dapat mendorong dan menghadang adalah rasa, nilai sosial, manfaat bagi kesehatan dan harga Fisik : Ketersediaan pangan, produksi pangan, jumlah lahan, sumber daya material, jumlah pangan. Fisik akan mempengaruhi struktur ekonomi Sosial Budaya : Etiket, adat, kebudayaan, norma, dan nilai PERTEMUAN 5 PRESENTASI ANALISIS JURNAL D4A Kelompok 1A : Pengetahuan lokal ibu tentang pentingnya gizi dan sarapan pagi bagi anak.  Permasalahan : Pentingnya pendidikan ibu tentang gizi dan sarapan bagi anak.  Metode: Metode Kuantitatif  Penyelesaian Masalah : Memanfaatkan adanya penyuluhan kepada ibu.  Ringkasan : Sarapan pagi itu sangat penting untuk anak sekolah dan sebagai ibu kurang mengetahui pentingnya sarapan pagi. Kelompok 5A : Pola Makan Mie Instant pada mahasiswa  Permasalahan : Budaya atau kebiasaan pola makan mie instan di kalangan mahasiswa  Metode: Pendekatan sosial budaya dan metode Kuantitatif  Ringkasan : Pola makan pada mahasiswa kos yang memilih makan mie instant karena aspek positif pada mie Instant sehingga tidak megganggu aktivitas. Kelompok 7A : Hubungan sarapan dan sosial budaya dengan status gizi anak SD.  Permasalahan : Masalah gizi pada anak yaitu rendahnya asupan energi sarapan pagi pada anak sekolah dasar.  Penyelesaian Masalah : Observasi pada desain cross sectional.  Obyek Penelitian : Sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya  Teori yang dipakai : Teori Planned Behaviour  Ringkasan : Sarapan pagi untuk anak menyumbangkan 25 % energi, selain itu 10 pesan dasar gizi seimbang antara lain yang membiasakan untuk mengonsumsi lauk pauk. PERTEMUAN 6 PRESENTASI ANALISIS JURNAL D4B DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI Kelompok 3 Analisis Jurnal : Kajian makanan dalam perspektif anthropologi Rangkuman : Didalam jurnal ini membahas tentang kebiasaan makan sebagai suatu bentuk tingkah laku berpola yang sangat terkait dengan kebudayaan, yang mencakup juga kepercayan dan pantangan makanan yang berkembang dalam sekelompok masyarakat. Dengan adanya kebudayaan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat, hal itulah yang membedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Adanya makanan sangat berkaitan erat dengan sebuah kebudayaan yang ada pada suatu kelompok mayarakat, karena hal itulah yang akan meninmbulkan banyak kepercayaan yang dianut sehingga menimbulkan banyak pantangan pada suatu makanan yang juga akan berdampak pada gizi mereka. Kelompok 6 Analisis Jurnal : Dimensi etis terhadap budaya makan dan dampaknya pada masyarakat Rangkuman : Memakan makanan yang diizinkan berani patuh dan taat pada norma budaya yang ada, tetapi sekaligus membawa “ keselamatan “ bagi dirinya agar tidak melakukan pelanggaran. Makanan dikategorikan menjadi makanan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. Makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan belum tentu memiliki nilai gizi yang memadai. Oleh karena itu, kategori makanan menjadi pemicu akan munculnya berbagai hal seperti perilaku makan, perubahan gaya hidup, persepsi masyarakat, nilai keagamaan dan ekspesi simbolik. Kelompok 7 Analisis Jurnal : Hubungan sarapan dan sosial budaya dengan status gizi anak SD pulau semau kabupaten kupang Rangkuman : Pola makan seseorang berkaitan dengan kebiasaan makannya. Sekitar 80 % tidak memiliki pantangan makanan, dan 20 % sisanya memliki pantangan. Penyebab adanya pantangan makanan dikarenakan kesehatan seseorang seperti: gatal gatal, sakit perut, sakit kepala, muntah dan batuk. Adanya faktor sosial budaya dengan status gizi ditandai dengan pandangan terhadap suatu makanan yang sudah berinteraksi selama bertahun-tahun dan turun-menurun. Hasil analisis bivariat sebanyak 35% siswa SD yang tidak memiliki pantanggan tetapi memliki status gizi kurus, karena pantangan makanan bukan merupakan faktor penyebab status gizi kurus. Rendahnya tingkat konsumsi makanan anak SD pulau Semau adalah penyebab status gizi kurus. Indonesia memiliki beraneka ragam suku dan budaya, sehingga indonesia mempunyai ragam makanan yang sangat beragam, dimulai dari cara mengolah, menyajikannya, dan mempunyai ciri khas masingmasing di tiap daerah. TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI Contohnya : Mesin penggiling padi, suku baduy di lumbung padi. Fungsi : Memiliki nilai ekonomis tetap dan mengurangi nilai gizi dan ekonomis Teknologi pengolahan pangan berdasarkan budaya. Awal Mula Teknologi Pangan  Sejarah teknologi pangan dimulai ketika Nicolas Appert mengalengkan bahan pangan, sebuah proses yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun ketika itu, Nicolas Appert mengaplikasikannya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan terkait pangan. Contohnya : Sarden, kornet.  Teknologi pangan berdasarkan ilmu pengetahuan dimulai oleh Louis Pasteur ketika mencoba untuk mencegah kerusakan akibat mikroba pada fasilitas fermentasi anggur setelah melakukan penelitian terhadap anggur yang terinfeksi. Contohnya : Mentega  Pasteur juga menemukan proses yang disebut pasteurisasi, yaitu pemanasan susu dan produk susu untuk membunuh mikroba yang ada di dalamnya dengan perubahan sifat dari susu yang minimal. Contohnya : Susu Pateurisasi, Fermentasi produk susu. Manfaat Teknologi Pangan  Ketersediaan pangan  Alam menghasilkan bahan pangan  kebutuhan manusia akan pangan adalah rutin.  Teknik pengawetan juga memungkinkan untuk mendistribusikan bahan pangan secara merata ke seluruh penjuru dunia Bagaimana olahan hasil teknologi pangan bisa dinikmati ? Lebih praktis, lebih mudah untuk dikonsumsi, masyrakat bisa menghemat waktu dan biaya. Prasarana ekonomi dan komunikasi • ` Transportasi sangat penting peranannya bagi daerah baik itu perdesaan atau daerah urban di negara-negara yang sedang berkembang, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. • Infrastruktur fisik terutama jaringan jalan sebagai pembentuk struktur ruang nasional memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun sosial budaya kehidupan masyarakat. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan tempat bertumpu perkembangan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketersediaan jalan yang memadai. Pengolahan Hasil Pertanian • Memperpanjang waktu dan jumlah persediaan • Memudahkan penyimpanan dan distribusi • Meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial • Meningkatkan nilai gizi Penyimpanan Pasca Panen • mencegah susut bobot • memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan • Meningkatkan nilai ekonomi Contoh hasil teknologi pangan : Sate PERTEMUAN 7 TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI Masyarakat yang mengkonsumsi bukan hanya barang , namun juga jasa dan jasa yang saling berhubungan dengan manusia, Ciri-ciri masyarakat Konsumsi : Tidak pernah mengkonsumsi objek itu sendiri dalam nilai gunanya, Objek selalau dimanipulasi sebagai tanda yang memebedakan status antara dengan individu.bahwa objek tidak hanya dikonsumsi dalam sebuah masyarakat konsumeris; mereka diproduksi lebih banyak untuk menandakan status daripada untuk memenuhi kebutuhan. masyarakat konsumeris yang lengkap (thorough-going) objek menjadi tanda, dan lingkungan kebutuhan, jika memang ada, jauh ditinggalkan” (Lechte, 2001:354).Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi – manusia justru melakukan diferensiasi (perbedaan) yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi (Lechte, 2001:354). TERBENTUKNYA GAYA HIDUP PADA MASYARAKAT KONSUMSI  Pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan serta kompleks-kompleks rekreasi dan gaya hidup rekreatif, mulai dari kafe-kafe ‘bergaya’ tertentu hingga bangunan-bangunan Disneyworld.  Peningkatan berbagai bentuk kegiatan  belanja, mulai dari pemesanan lewat pos, mal-mal hingga penjualan di atas mobil dan toko barang-barang bekas.  Peningkatan penekanan pada gaya, desain, dan penampilan barang-barang. TEKNOLOGI DAN KEBIASAAN MAKAN  Kebiasaan makan didefinisikan sebagai perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk memnuhi kebutuhan makan yang melibatkan sikap, kepercayaan, dan pilihan makanan (Irwan, 2004)  pada usia remaja, kebiasaan makan dipengaruhi oleh lingkungan, teman sebaya, kehidupan sosial, dan kegiatan yang dilakukannya di luar rumah (soekantri 2006)  Kebiasaan makan adalah tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan makan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pemilihan makanan, bukan merupakan bawaan dari lahir namun merupakan hasil pembelajaran. FAKTOR DALAM KEBIASAAN MAKAN  tingkat ekonomi  pengaruh teman sebaya  suasana dalam keluarga  kemajuan insdustri makanan / Teknologi Peran teknologi bisa mempengaruhi kebiasaan makan. Contohnya ketika yang biasa masak sendiri karena ada aplikasi GoFood dan GrabFood tidak perlu memasak lagi. PENGARUH TEKNOLOGI DALAM KEBISAAN MAKAN Masyarakat Digital :  Setiap aktivitas manusia akan digerakkan melalui serangkaian teknologi digital.  Relasi yang terbangun di antara individu adalah relasi pertukaran digital. Masyarakat Satu Dimensi  suatu masyarakt yang seluruh aspek kehidupanya diarahkan kepada satu tujuan, meskipun banyak memperoleh kemudahan tetapi teralienasi.  Manusia telah direpresi oleh masyrakat keseluruhan dan kekuasaan teknologi telah membuat masayrakat kehilangan kesadaran kritisnya. PERILAKU MAKAN  tingkah laku yang dapat diamati yang dilakukan oleh Individu dalam rangka memenuhi kebutuhan makan. TEKNOLOGI VS MAKANAN  Perkembangan teknologi diantaranya teknologi pengolahan dan teknologi informasi, telah mengakibatkan perubahan pola makan, terutama di negara maju dan masyarakat kota besar di negara berkembang. Mereka mulai menyadari pentingnya makanan sehat, aman, bergizi dan halal.  Trend perubahan pola makan ini berpengaruh pula pada teknologi pengolahan makanan di negara berkembang. Produsen termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM) akhirnya berlomba-lomba untuk memenuhi harapan konsumen PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP PERILAKU MAKAN  Perdanagan makanan global (global trade)  Akses listrik dan alat elektronik  Teknologi pengolahan pangan  Modernisasi dan globalisasi Budaya konsumsi dilatarbelakangi olej munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh Karl Marx. Kapitalisme yang dikemukakan Marx adalah suatu cara produksi yang dijalankan oleh kepemilikan pribadi sebagai sarana produksi. Kapitalisme dengan cara mengeksploitasi para pekerja. Tahapan selanjutnya dalam merealisasikan keuntungan tersebut dalam bentuk uang, hasil produksi yang ada dijual, dan dipasarkann kepada masyarakat sebagai komoditas. Marx menjelaskan bahwa komoditas hanya memiliki 2 aspek, yaitu : use value dan exchange value. Nilai guna atau use value merupakan kegunaan suatu objek dalam pemenuhan kebutuhan tertentu, sedangkan exchange value menekankan pada nilai tukar yang terkait dengan nilai produk itu dipasar, atau objek yang bersangkutan. Oleh karena itu, Marx menekanka pentingnya produksi dalam ekonomi. Namun apa yang dinyatakan Marx berbeda dengan Baudrillard. Sebuah objek tidak hanya memiliki use value dan exchange value, tetapi juga memiliki symbolic value dan sign value. Maksud dari pernyataan tersbut bahwa orang tidak lagi mengonsumsi sebuah objek berdasarkan kegunaan dan nilai tukarnya, tetapi juga adanya nilai simbolik dan nilai tanda yang bersifat abstrak. Baudrillard menyimpulkan bahwa konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi, bukan lagi produksi menjadi inti dari ekonomi, ukan lagi produksi. Konsumsi menurut Baudrillard memegang peranan penting dalam hidup manusia. Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak addanya intensitas untuk melakukan homogenisasi. Manusia justru melakukan diferensiasi (perbedaan) yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi. Masyarakat seperti inilah yang disebut dengan masyarakat konsumeris. Menurut Baudrillard, Tanda menjadi salah satu elemen penting dalam masyarakat konsumeris saat ini. Tindakan konsumsi suatu barang dan jasa tidak lagi berdasarkan pada kegunaanya melainkan lebih mengutamakan pada tanda dan simbol yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri. Masyarakat pun hanya mengonsumsi citra yang melekat pada barang tersebut(bukan lagi pada kegunaannya) sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas dan akan memicu terjadinya konsumsi secara terus-menerus,karena kehidupan sehari-hari tiap individu dapat terlihat dari kegiatan konsumsinya, barang dan jasa yang dibeli dan dipakai oleh setiap individu, yang juga didasarkan pada citra-citraan yang diberikan dari produk tersebut. Hal ini pun dapat mempengaruhi perubahan gaya hidup seseorang. SIMULACRA dan SIMULACRUM Baudrillard mendefinisikan simulasi sebagai proses penciptaan bentuk nyata melalui modelmodel yang tidak ada asal-usul atau referensi realitasnya, sehingga membuat manusia selalu merasa berada dalam dunia supernatural, ilusi, fantasi, dan khayalan yang menjadi tampak nyata. Baudrillard berpendapat bahwa dunia ini telah kehilangan keasliannya dan yang ada hanyalah simulasi. Simulasi merupakan dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode, tanpa ada referensi yang jelas. Kode membuat simulasi menjadi penting, karena kode memungkinkan kita untuk menghilangkan realitas, dan hal ini dapat terlihat pada simulasi dan simulacra. Simulacra tidak memiliki acuan, yang merupakan duplikasi dan duplikasi, sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. Simulacra merupakan sebuah istilah untuk menunjukan dimana sebuah tanda, simbol, dan citra yang ditampakkan bukan saja tidak memiliki referensi dan realitas, justru tanda, simbol daan citra yang dibentuk dan dianggap sebagai representasi dari tanda, simbol, dan tanda yang juga merupakan hasil dari simulasi. Citraan dari simulacra yang tidak memiliki referensi secara bertahap menjadi simulacrum. Simulacrum merupakan sebuah proses perubahan citra yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan realitas. PERTEMUAN 9 INOVASI SOSIAL Inovasi merupakan hal yang merubah sesuatu Inovasi berati penemuan yang benarbenar baru dan hasil dari kreasi. Inovasi diarahkan pada era revolusi industri 4.0 inovasi secara garis besar merupakan model penemuan yang sebelumnya tidak pernah ada. Penemuan ini dianggap berguna bagi masyarakat, lantaran berdampak pada solusi penawaran yang berbeda dari keadaan sebelumnya. Proses terbentuknya inovasi tidak dalam waktu cepat, diperlukan penelitian dan kajian yang lebih mendalam. Etimologi dari Inovasi merupakan semua motede yang dirasakan oleh masyarakat dan tidak satu orang saja. Inovasi tidak dapat dilihat dari produk yang berupa hasil infensi untuk tujuan tertentu. Konsep perubahan sosial yang terjadi di perubahan sehari-hari dan faktor yang mempengaruhi yaitu proses. Proses tidak bisa lepas dari fakta sosial dan budaya, dimana faktor sosial itu penting. Inovasi adalah pengembangan terhadap keadaan yang ada di dalam masyarakat, pengambangan ini mencakup gagasan pemikiran, serta solusi yang tawarkan, melalui aspekaspek teknologi, pertanian, pendidikan, dan lain sebagainya. Ciri Inovasi yaitu : 1. Baru Inovasi harus baru dan belum ada pada keadaan dan kondisi sebelumnya. Pembaharuan ini tercipta dari pemikiran dan ide yang keras dari masyarakat terhadap pemanfaatan SDA (Sumber Daya Alam) dengan maksimal tanpa mengurangi peran serta fungsinya. 2. Terencana Jadi, inovasi itu harus terencana sesuai dengan keadaan dan kondisi sebelumnya. Terencana ini sebagai bentuk upaya dampak positif dari masyarakat. Sesuatu hal yang tidak terencana akan menimbulkan kekecawaan. 3. Khas Jadi, sebuah inovasi harus mempunyai khas dan ciri tersendiri dan beda dari yang lain dengan memahami lingkungan sosial nya. 4. Tujuan Jadi, inovasi harus memiliki tujuan untuk mencapai masalah yang dihadapi. Tujuan tersebut untuk mempermudah dan memberikan manfaat pada kehidupan, mengatasi masalah yang sedang dihadapi di masyarakat. Contoh inovasi sangatlah banyak, seperti contoh inovasi dalam produk, pendidikan, pelayanan publik, teknologi, kebudayaan, serta kewirausahaan. Seperti contoh inovasi dalam hal teknologi dilingkungan sekitar, contohnya di desa. Banyak masyarakat membajak sawah sudah umum memakai traktor, tidak lagi memakai kerbau atau sapi untuk membajaknya. Beberapa tahun yang lalu, masyarakat masih bergotong royong menggunakan cangkul, sekarang sudah menyewa beko. Jadi, walaupun alatnya super canggih tapi tidak membantu/ bermanfaat dikatakan bukan inovasi. Sebuah perkembangan dari fenomena sosial dan mengembangkan teknologi. Istilah sosiologi, ada teori yang mengatakan bahwa seseorang bisa berfikir dalam kondisi kepepet/ terjepit/terdesak. Inovasi tidak muncul dengan sendirinya, inovasi itu berkembang secara perubahan. Sebagian masyarakat bisa menggunakan inovasi online ketika dalam keadaan daurat, contohnya penggunaan aplikasi go to meeting. Aplikasi ini untuk menyampaikan materi pembelajaran jarak jauh. Ketika penyakit corona atau virus covid 19 muncul, aplikasi ini menjadi tren yang awal mulanya tidak berbayar akan menjadi berbayar seiring berjalannya waktu dan situasi darurat. Dan ini merupakan perspektif ekonomi seperti tidak mengeluarkan uang untuk transportasi. Uang untuk makan. Inovasi itu berkembang pada era perkembangan yang mulanya gaptek ( gagap teknonologi / yang kurang percaya diri terhadap teknologi / kuno ) menjadi bisa menggunakan aplikasi ini dan ini yang disebut perubahan. Virus Covid 19 ini disebabkan kelelawar yang dimakan manusia. Adanya pemburuan liar yang mengakibatkan hewan menjadi punah dan merubah ekosistem dari pohon yang rindang jadi villa. Contohnya wilayah Wuhan, China yaitu daerah pertama yang terkena virus covid-19 dan menyebabkan penyakit corona dan di wilayah ini biasa memakan binatang liar seperti babi, kelelawar, ular, kodok, monyet,dan anjing. Di pasar tradisionalnya juga, menjual hewan pemburuan liar ini. Istilah masyarakat risiko (risk society) merupakan istilah yang melekat pada ilmu sosiologi dimana pengarangnya adalah Ulrich Beck. Istilah tersebut sebenarnya dapat dilihat sebagai sejenis masyarakat industri karena kebanyakan risikonya berasal dari industri. Hal tersebut dapat terjadi sebab menurut Beck, kita itu masih berada dalam era modern, walaupun dalam bentuk modernitas yang baru. Perbedaan tersebut terletak pada tahap ”klasik” modernitas yang sebelumnya berkaitan dengan masyarakat industri, sedangkan modernitas “baru” berkaitan dengan masyarakat risiko. Dalam buku masyarakat resiko dari ulrich beck, Berbagai perubahan turut mengiringi pergantian dari modernitas tahap “klasik” menuju modernitas “baru” yang ditandai kemunculan masyarakat risiko. Jika dalam modernitas “klasik” masalah sentralnya berkisar pada kekayaan. Sementara itu dalam modernitas “baru” masalah sentralnya adalah risiko dan bagaimana cara mencegah, meminimalkannya, atau menyalurkannya. Inovasi didorong oleh 3 hal : Modernisasi, kapitalis dan pengetahuan. Semuanya saling berkaitan, seperti master plan standar gizi, sementara ini masih memakai standar orang bule. Kapitalisasi modal dan modernisasi serta modernisasi dan pengetahuan tidak berdiri sendiri dan saling berkaitan satu smaa lain. Ketika modernisasi, kita mampu untuk mengikuti yang diterapkan, tapi tidak sesuai dengan kapasitas kita. Mutu hidup dilihat dari banyak aspek : aspek ekonomi, aspek sosial budaya, dan ideologi. Mutu hidup ini harus mendorong dan mengakibatkan perubahan. Inovatednest adalah sifat dari perubahan. Masyarakat dapat mengubah bentuknya, contohnya : 1. ketika muncul virus Covid 19, masker dan hand sanitizer menjadi barang langka, dan harga melambung tinggi. Kemudian muncul inovasi cara membuat alternatif masker dan hand sanitizer. 2. Ketika muncul virus covid 19, harga bahan baku rempah-rempah menjadi mahal, seperti jahe, kunyit melambung tinggi, karena disinyalir dapat menangkal virus covid 19. Sosiologi dapat mengubah sebuah sikap dan perilaku dalam bermasyarakat. Dengan cara baru dengan menempatkan, Dalam upaya upaya pencapaian tujuan. Rekayasa sosial : Inovasi akan beralih ke rekaya sosial. Menjadikan masyarakat menjadi lebih baik dengan rekayasa sosial. Pendekatan sosiologi dan pemetaan sosiologi Struktur sosial mempengaruhi proses dan produk dari aktivitas inovatif. Wawasan sosiologis bahwa stuktur sosial mempengaruhi perilaku, inovasi berada tingkatan mana dan pada tahap apa. Sosiologi selalu menceritakan perubahan dari ciri -ciri inovasi. Inovasi akan mendorong aktivitas-aktivitas ekonomi. Modal, pengetahuan dan modernisasi di rekombinasikan. Rekombinasi ini Sifatnya terbuka, sudah digunakan secara luas dalam bentuk usaha-usaha masyarakat serta menyediakan dan pemberia penjelasan kepada kita bahwa inovasi itu sebagian besar pendekatannya adalah perspektif ekonomi dan managemen untuk menceritakan sebuah fenomena sosial tersebut. Tugas kita adalah menjelaskan inovasi inovasi pangan dan gizi dalam tingkatan atau level dalam tahapan-tahapan inovasi. Contohnya kenapa orang memasak nasi di rice cooker dan tidak menggunakan tungku lagi, kenapa orang menghaluskan bumbu lebih suka pakai blender, dan tidak menggunakan cobek lagi. Disitu ada perubahan ekonomi dan managemen yang cukup kompleks sehingga kita harus mengetahui tahapan-tahapan dalam inovasi tersebut. Dalam kasus Covid 19, banyak mendorong inovasi-inovasi baru. Disamping itu, perilaku-perilaku yang baru ada yang positif dan ada juga yang negatif, yang negatif munculnya spekulan-spekulan seperti penimbun masker, sanitizer, bahan makanan pokok, yang mungkin dijual kembali atau dipakai sendiri. Yang positif, teknik pencegahannya seperti : tidak berkumpul di keramaian, menjaga jarak antara yang satu sama lain, tidak bersentuhan, karena belum ada obatnya. Menurut Cooper, 1998. Inovasi dilakukan melalui sebuah proses yang meliputi pengidentifikasian masalah, pengevaluasian alternatif, pembuatan keputusan, dan pengimplementasian inovasi dalam perbuatan nyata. Proses tersebut diistilahkan oleh Roger (1995) sebagai difusi inovasi yang berarti penyebaran inovasi dari sumber penemuan ke pengguna atau pengadopsi yang paling akhir. Ketika inovasi disebarkan, maka inovasi tersebut akan diadopsi atau ditolak pihak yang diharapkan akan dituju. Oleh karena itu, proses adopsi berlangsung melalui serangkaian keputuasan yang diambil oleh individu atau organisasi terhadap sesuatu yang baru. Dalam proses tersebut, baik individu maupun organisasi sebagai pengambil keputusan akan memulai proses keputusan ini dari: (1) keputusan untuk mempelajari suatu inovasi dan memahami fungsinya. (2) keputusan untuk membentuk sikap terhadap inovasi seperti senang atau tidak senang (3) memutuskan untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi (4) apabila seorang memutuskan untuk mengadopsi, maka ia akan melangkah lebih lanjut untuk mengimplementasikan inovasi tersebut. (5) mengkonfirmasikan keputusan tersebut dengan mencari informasi yang dapat menguatkan proses keputusan ini. Penemuan dari Utterback, menjelaskan bahwa perubahan pola aktivitas inovasi dalam masyarakat itu membuat perilaku dalam perusahaan di indonesia ini dipengaruhi teknologi terutama berkaitan dengan industri atau perusahan-perusahaan manufaktur dan hal itu membuka pintu kefokusan yang lebih dari inovasi produk. Kemudian menjadi inovasi-inovasi pemikiran yang menghasilkan atau menyentuh teknologi. Karena teknologi berkaitan dengan produk. Bagaimana kita dalam menciptakan produk-produk agar mengembangkan teknologi. Inovasi selalu mengunci teknologi karena dalam tahapannya selalu menggunakan teknologi, dan terletak pada level mana. Literatur sosiologi banyak membicarakan tentang Inovasi dalam proses hingga rutinitas sosial dalam sebuah organisasi kelompok sosial. Contohnya : BPOM. Dalam ekonomi yang luas, masing-masing inovasi memiliki teknologi. Inovasi teknologi itu digunakan untuk peneliti inovasi klasik, inovasi proses sosial dalam tingkatan yang lebih tinggi. Proses teknologi ini mengakibatkan adanya produk teknologi. Jadi tidak semua tekonologi menghasilkan produk.Tapi, semua proses-proses teknologi itu outputnya adalah produk. Tahapan-tahapan dalam proses-proses inovasi. Menurut robbert pada tahun 1888, Penemuan itu mengeksploitasi tidak kepahaman manusia, mengeksploitasi rutinitas-rutinitas sosial. Contohnya : penggunaan aplikasi go to meeting yang darinya tidak bisa menjadi bisa. Rumus Inovasi sebagai berikut : Inovasi = penemuan + eksploitasi Menurut Robert, proses itu dipecah menjadi 2 arah, dan menghasilkan 4 langkah dalam menjelaskan tahapan-tahapan. Eksplorasi adalah eksplorasi peran oleh struktur jaringan tertentu sebagai yang merekombinasikan antara aktivitas nasional dan inovasi. Pada tahun 1983, Kelompok-kelompok sosiologi, menyebar-menyebar melalui jaringan sosial dan kekuatan-kekuatan dari kelembagaan-kelembagaan. Tugasnya menjelaskan bagaimana Usaha-usaha dalam jaringan itu menggambarkan kualitas-kuliatas struktural dalam sebuah lingkungan dan menciptakan produk-produk. Salah satu teorinya yaitu teori tekanan jaringan dimana memiliki modal, kategori-kategori klasik, yang menyarankan bahwa rangkaian dari inovasi dan melibatkan adopsi setiap tahapan level. Literatur literatur yang menjelaskan inovasi cenderung tidak merata, literatur cukup varian atau beragam sehingga cenderung lebih bebas dalam menjelaskan inovasi. Menjelaskan tahapan yang berbeda satu sama lain. PERTEMUAN 10 REKAYASA SOSIAL (SOCIAL ENGINEERING) DAN DINAMIKA GIZI 1. Rekayasa Sosial a. Sosial  Sosial itu spesies tertentu, dari spesies baik hewan maupun manusia yang bersama dalam koloni atau kelompok yang terorganisir, jadi kata kuncinya adalah kelompok yang terorganisir. seperti semut atau banteng, yg berkaitan peduli dengan tanggung jawab atas hubungan timbal balik dan kesejahteraan individu.  Lalu, adanya hubungan timbal balik. Jadi kehidupan sosial atau sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan manusia maupun individu dengan individu, yaitu adanya hubungan timbal balik dan kesejahteraan individu. Jadi hubungan timbal balik itu menyebabkan adanya kesejahteraan individu. Misalnya seperti pekerja sosial yang dia dibayar tetapi prang lain juga mendapat keuntungan dari apa yang dia kerjakan. b. Rekayasa (engineering)  Engineering atau rekayasa ialah suatu upaya merekayasa suatu objek sosial dengan segala perencana yang matang untuk mewujudkan transformasi sosial sesuai dengan target rekayasa atau engineer.  Tujuan engineer di dalam rekayasa sosial ialah memperediksi jangka panjang. Ketika sudah diprediksi, hal tersebut ada yang dinamakan social planing atau scenario plan, bahwa ketika isu corona itu muncul, sudah ada yang membuat rekayasa. Contohnya seperti membuat disinfektan, lalu membatasi ruang masyarakat untuk bergerak, maka ketika virus corona itu muncul ruang-ruang masyarakat itu tidak lagi dibutuhkan masyarakat. Rekayasa sosial adalah upaya untuk mempengaruhi sikap popular baik kelompok swasta atau pemerintah. Masyarakat didorong untuk mengikuti arahan dari kelompok swasta atau pemerintah, bukan dari keinginan masyarakat it sendiri. Rekayasa sosial muncul ketika rezim orde baru. Pertama kali digunakan sebagai proses internalisasi nilai-nilai seperti B4. B4 merupakan salah satu bentuk rekayasa sosial yang digunakan pada rezim orde baru. Sekarang ini, tujuan rekayasa sosial bermuara pada transformasi sosial yaitu perubahan sosial yang didukung dengan internalisasi nilai-nilai humanisasi yang tinggi. Maka rekayasa sosial itu sendiri merupakan konstruksi ulang dari apa yang telah kita konstruksi saat ini. Ketika zaman orde baru, orang-orang yang tidak mau mengikuti rezim Soeharto dikatakan orang-orang yang anteknya komunis. Seringkali rekayasa sosial dipahami sebagai upaya negatif, tetapi disisi lain rekayasa sosial tidak hanya berkonotasi negatif karena kita direkayasa sesuai keinginan orang lain. Jadi seakan akan kita bebas padahal kita terpenjara didalam sebuah realita sosial yang kita konstruksikan sendiri. Rekayasa social membangun aspek2 pada ilmu social, politik, ekonomi, dll. Rekayasa social bukan murni dalam ilmu sosiologi, tetapi merupakan interdisiplin dari ilmu pengetahuan, karena porses social membutuhkan interaksi antar individu maupun kelompok untuk mengubah suatu perilaku. Maka dari itu sosiologi menggunakan rekayasa social untuk mengubah perilaku masyarakat. Rekayasa sosial sering dilakukan pemerintah untuk membuat kebijakan, seperti BLT yang merupkan salah satu bentuk rekayasa sosial untuk mengurangi kemiskinan. c. Rekayasa Sosial menurut ahli  Less dan Presley Less dan Presley yang mengatakan bahwa upaya social engineering adalah upaya yang mengandung unsur perencanaan yang diimpelementasikan hingga diaktualisasikan di dalam kehidupan nyata. Rekaya sosial sendiri yang seperti dikatakan Presley itu upaya untuk mengubah kehidupan nyata pada masyarakat, seperti pada isu virus corona. Ketika ada orang yang terbiasa makan nasi, tetapi dengan terjadinya virus corona saat ini, orang tersebut diubah pola makan dengan makanan-makanan yang lain. Hal tersebut diubah oleh tingkah laku atau media yang ada di kehidupan masyarakat tersebut.  Jalaludin Rahmat Pemaknaan rekayasa sosial Jalaludin Rahmat berbeda dengan Less dan Presley. Jalaludin Rahmat membawa perubahan positif yang pada akhirnya mengatasi masalah sosial yang muncul di masyarakat. ada suatu hal yang menarik, yaitu suatu perubahan itu tidak akan muncul ketika kita masih terjebak pada kesalahan berfikir. Contohnya ketika kita terbiasa atau konstruksi kita mengenai suatu masalah, seperti kenapa kita harus takut pada virus corona, disitulah engineer itu merubah konstruksi kita yang sebelumnya tidak takut menjadi waspada terhadap virus corona. d. Pengertian dan Contoh masalah masalah : Rekayasa social mengacu pada sikap popular dalam skala besar. Rekayasa social bukan atas dasar keinginan masyarakat itu sendiri tetapi ada dorongan agar masyarakat mau mengikuti perubahan yang ada. Prinsipnya membangun interaksi antar ilmu dlam proses peningkatan kesejahteraan public. Mengapa hal ini merupakan interdisiplin suatu ilmu pengetahuan? karena memerlukan interaksi yang mampu merubah konstruksi sosial yang baru, sehingga sosiologi menggunakan rekayasa sosial untuk merubah perilaku social. Rekayasa social membangun aspek2 pada ilmu social, politik, ekonomi, dll. Rekayasa social bukan murni dalam ilmu sosiologi, tetapi merupakan interdisiplin dari ilmu pengetahuan, karena porses social membutuhkan interaksi antar individu maupun kelompok untuk mengubah suatu perilaku. Maka dari itu sosiologi menggunakan rekayasa social untuk mengubah perilaku masyarakat. Sering dilakukan oleh pemerintah yaitu rekayasa kebijakan (di jatim ada blt kambing yang mau melahirkan = untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan atau masyarakat yang hampir miskin), Kebijakan pemberian pelayanan rekayasa social pelayanan public (KRL dirubah jamnya dari jam 06.00-06.20), yang mengenai infrastruktur (jalan ditutup dan disuruh ke jalan lain karena ada perubahan jalan). Ketika naik haji atau pesawat orang Madura melihat pesawat tidak akan dipakai lagi, maka orang Madura akan menjualnya. Orang lain yang melihat seperti itu akan merekaysa tentang itu menjadi “bahwa orang Madura tidak seperti itu”. Contoh lagi kota banyuwangi yang dibilang menjadi “kota wisata” Rekayasa sosial = rekayasa kebijakan sosial masyarakat/kebijakan public. Rekayasa sosial dibuat sesuai kebutuhan dalam permasalahan di masyarakat sehingga, pemikiran masyarakat bisa diubah melalui rekonstruksi sosial yang berulang- ulang. e. Tahapan Rekayasa Sosial  Perencanaan partisipatif Perencanaan partisipatif bisa disebut sebagai sebagai rekayasa sosial pada zaman dahulu. Pemerintah daerah mempunyai kewenangan dalam merencakan rekayasa sosial di daerahnya, karena pada zaman dahulu jika ingin ada pembangunan harus dikontrol oleh pusat, tetapi pada saat ini sudah lebih mudah karena adanya peraturan secara desentralisasi. Perencanaan yang dibuat oleh engineer itu dibuat atas dasar proses partisipatif antara pemerintah daerah dengan masyarakat melalui aspirasi yang mereka inginkan. Contoh : Di suatu daerah ingin menghidupkan adanya poskamling yang didatangi oleh anak muda, dengan cara di fasilitasi wifi, dan pembayarannya bisa dengan patungan ataupun sumbangan.  Mendorong perencana agar terfokus pada masyarakat. Contoh : Pemberantasan gizi buruk di Indonesia timur dan penuntasan kemiskinan di daerah tertentu.  Media perantara  Rencana harus lebih bisa mengajak masyarakat Contoh: SDGS yang ada unsur penyetaraan gender untuk masyarakat. f. Stereotype Kesetaraan Gender Dalam isu feminist atau gender, rekayasa sosial sering dilakukan seperti SDGS dan MDGS. Ketimbangan gender sama dengan ada stereotype bahwa laki-laki bekerja disektor pabrik dan perempuan bekerja di sketor domestik. Tetapi dalam rekayasa sosial dibalik, bahwa laki-laki dan perempuan boleh sama-sama bekerja diluar. Sebagian besar kebijakan pemerintahan terlalu bias terhadap kesetaraan gender, seperti perempuan yang hanya bisa dirumah dan mengurus anak. Rekayasa sosial disini berfungsi agar terjadinya adanya kesetaraan gender di kebijakan pemerintahan. g. Strategi dalam Pembangunan Kebijakan dengan Adanya Kesetaraan Gender Sebagian besar kebijakan pemerintahan terlalu bias terhadap kesetaraan gender, seperti perempuan yang hanya bisa dirumah dan mengurus anak. Rekayasa sosial disini berfungsi agar terjadinya adanya kesetaraan gender di kebijakan pemerintahan. h. Interaksi lingkungan dan sosial  Para engineer dan para sosiolog memiliki pandangan yang berbeda, dan engineer mempelajari perubahan yang ada di masyarakat. Para engineer mempelajari perubahan yang harus didapati oleh masyarakat dalam pembangunan fisik lingkungan disekitarnya, karena dasar rekayasa sosial bukan sosiologi murni.  Mereka tidak melihat bagaimana berubah cara dan kontruksi di masyarakat. Contoh ketika ada masalah sampah disekitar kita, orang sosiolog berbicara “oh berarti tingkat kesadaran masyarakat di dalam pemisahan sampah masih kurang” (menganalisis), sedangkan engineer melakukan perubahan agar masyarakat tidak melakukan hal itu lagi.  Interaksi sosial adalah adaptasi manusia / ekologi manusia  Ekologi manusia merupakan interaksi antara manusia dengan alam  Semakin banyak populasi, makin mempengaruhi kondisi lingkungan, Contohnya: 1) Dampak karbon yang berkurang karna adanya social distancing . 2) Dengan adanya corona, kita bisa memanfaatkan makanan sehingga meminimalisir makanan yang mempengaruhi kualitas makan kita, mengakibatkan dapat mengurangi kerja usus kita untuk memproduksi insulin untuk menghancurkan glukosa dalam darah untuk dijadikan energi (kita melakukan makan secukupnya dengan tujuan mengurangi produksi bahan makanan yang dari desa). 3) Protocol Kyoto dan KTT Bumi, Perjanjian Paris Protokol Kyoto adalah sebuah amendemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), sebuah persetujuan internasional tentang pemanasan global. KTT Bumi (Konferensi Tingkat Tinggi Bumi) atau yang juga dikenal dengan nama Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (UNCED), KTT Rio dan Konferensi Rio, merupakan salah satu konferensi utama Perserikatan Bangsa Bangsa yang diadakan di Rio de Janeiro, Brasil dari tanggal 3 Juni sampai 14 Juni 1992. Perjanjian Paris – Indonesia adalah dalam Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) mengenai mitigasi emisi gas rumah kaca, adaptasi, dan keuangan. i. Kerja Rekayasa Sosial dalam Fenomena Sosial  Hubungan interaksi sosial 1) Hubungan manusia yang makin mengurangi ruang di publik, seperti adanya sosial media sebagai ruang chat. 2) Engineer membuat pola interaksi manusia menjadi berubah  Manusia membangun telepati dengan implant gadget 1) Adanya perencanaan implant gadget pada manusia 2) Kalau dihewan dipasang guna menjaga kepunahan dengan memperhatikan aktivitasnya. 2. Gerakan Sosial Aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial. Contoh : Saat Bulan April di Paris ada Pariziello, mereka melakukan demonstrasi di Kota Paris atau Menara Eiffel untuk menuntut gaji. a. Gerakan sosial merupakan bentuk dari rekayasa sosial, karena gerakan sosial akan menimbulkan perubahan budaya, perubahan masyarakat baik masyarakat Prancis yang terkekang oleh rajanya sehingga kaum – kaum miskin itu naik ke pemerintahan. b. Teori konflik = Merubah struktur atau merubah tatanan yang dianggap mendominasi berubah menjadi tatanan baru. c. Engineer membuat perencaan dan dengan adanya konflik dapat terjadi perubahan sosial. Konflik terjadi ketika adanya kelompok yang dirugikan sehingga adanya gerakan sosial berupa demo sehingga merubah struktur sosial. Maka teori konflik dapat digunakan untuk menilai rekayasa sosial. d. Keributan dengan gerakan sosial, keributan adalah hal yang tidak direncanakan tanpa tujuan, sementara gerakan sosial memiliki tujuan dan mempunyai engineer yang merencanakan. e. Debrevasi relative adalah keinginan seseorang tidak setara dengan kemampuan yang dimiliki. Contoh : Adanya demo dari petani yang merasa dia kekurangan apa yang mereka miliki untuk memenuhi keinginannya. Kekerasan simbolik, seperti : dosen yang memberikan nilai jelek ke manusia Pemberontakan juga bisa terjadi karena adanya keadaan ekonomi, seperti pada tahun 1998 dengan adanya krisis moneter. Rekayasa dalam bidang gizi salah satunya adalah kebijakan pemerintah. Misalnya penurunan angka kematian yang tinggi dan penerimaan anak SD yang meningkat, dengan kebutuhan anak SD yang memerlukan status gizi anak yang penting dalam rekayasa pembangunan dalam bidang gizi. Fokus rekayasa gizi yang telah dilakukan adalah pada stunting yang disebabkan oleh malnutrisi dan terkena infeksi yang jika dipandang dalam sisi sosiologis anak menjadi minder atau tidak percaya diri, berkurangnya kemampuan mencari pekerjaan, dll. Kedua, fokus pemerintah selanjutnya adalah tubuh kurus yang disebabkan oleh penurunan berat badan yang secara tepat maka di bilik-bilik gym atau tempat olahraga diadakan bilik konsultasi gizi agar setiap manusia memenuhi gizi yang cukup. Ketiga, obesitas pada orang dewasa yang ada di US, yang dipandang dalam ilmu sosiologis dapat menimbulkan efek tidak percaya diri sehingga timbul adanya bullying akan bentuk fisik. Pemberian vibes yang mendukung rekayasa gizi seperti ajakan atau dukungan untuk memerangi permasalahan gizi, mempraktikan aktivitas yang dapat mendukung pemenuhan gizi sebagai rekayasa gizi. 3. McDonalisasi Sebagai Teori Rekayasa Sosial Kenapa disebut mcdonalisasi? Mcdonalisasi merupakan salah satu makanan cepat saji yang berdiri di amerika. Oleh sebab itu mungkin litser menggunakan kata mekdonal untuk menejelaskan rasionalitas. Mcdonalisasi merupakan sebuah fenomena yang mempengaruhi instruksi masyarakat yang mempengaruhi kebiasaan masyarakat. Litser mengambil konsep dari makanan cepat saji untuk menjelaskan realitas yang ada dimasayarakat. Bahwa terdapat perubahan yang berkaitan dengan 4 komponen. Terdapat 4 kunci yang ada di dalam teori litser : a. Efisiensi Pada dasarnya manusia selalu menginginkan proses instan dan selalu berusaha menghindari hal-hal yang rumit. Sering terjadi pada masyarakart dewasa ini, ketika kita tidak lagi mau memasak tapi lebih memilih untuk memesan makanan lewat Go-Food daripada masak sendiri. Sebab hal tersebut lebih efisien daripada masak sendiri. Efisiensi sendiri diambil dari proses produksi restoran cepat saji McDonald. Efisiensi atau metode optimal untuk berpindah dari satu titik ke titik yang lain, McDonald menawarkan cara terbaik untuk melalui rasa lapar hingga kenyang. Modal makanan cepat saji menawarkan setidaknya metode yang efisien untuk memuaskan banyak kebutuhan lainnya, seperti halnya pelanggan mereka sendiri. Pekerja dalam sistem McDonald sendiri berfungsi secara efisien dengan mengikuti langkah-langkah atau proses yang dirancang sebelumnya. Jadi, ada proses yang dirancang sehingga McDonald di Indonesia dan di Amerika sama dalam segi kecepatannya dan ketetapannya. Contoh di Surabaya adanya jam pasir. Ketika penyajiannya melebihi jam pasir, boleh memesan makanan yang lain secara gratis. b. Kalkulasi Kalkulasi seseorang yang sedang bekerja di kantor akan cenderung memilih untuk membeli makanan yang tersedia untuk menghemat waktu, jadi mereka itu cenderung menghitung kalkulatif, terutama pada masyarakat urban. Kalkulatif biaya, kalkulatif waktu, yang mana hal tersebut sangat diperhitungkan. Hal tersebut ditarik sama Litser terhadap kalkulasi yang ada di dalam produksi McDonald, bahwa aspek kuantitaif dari produksi yang dijual dalam hal ukuran, porsi, biaya, akan menjadi setara dengan kualitas. c. Prediktabilitas Restoran cepat saji akan menjamin bahwa hasil produksi disetiap kedai menghasilkan rasa yang sama. Hal inin sama dengan teori one dimension man. Jadi saat manusia suka dengan Mcd maka akan berdampak rasa berbeda ketika ia makan yang bukan Mcd. d. Control Diberikan kepada orang-orang yang masuk ke dunia McDonald. Contoh sistem dari makanan cepat saji untuk buru2 makan dan pergi dan digantikan oleh pengunjung lain. Jadi ada komtrol bukan atas dasar kemauan kita tapi atas dasar kemauan management. Ada cara yang dilakukan untuk mendukung control tersebut. Contoh ketikia kita di warteg bisa menambah makanan sesuka kita, tapi di mekdi bisa. Data kita gampamg dikntrol oleh pemerintah. Semua kegiatan kita atau perilaku kita bukan atas dasar kemauan kita tetapi atas dasar control yang dibuat oleh pemerintah atau swasta. Ketika di restoran cepat saji menunya terbatas dari warteg. Dan itu terjadi pada realitas social masyarakat. Kita tidak bisa membeli makanan lain seperti diwarteg bukan atas kemauan kita, tetapi atas sistem dari resto cepat saji itu sendiri. 4. Dinamika Gizi di Indonesia Ada beberapa hal yang mempengaruhi dinamika gizi, mengapa masi ada gz buruk ? karena adanya demografi, pengetahuan, perubahan makanan pokok pada daerah, ekonomi, budaya, pola asuh balita, kesejahteraan keliuarga, lifestyle makan pada remaja. Adanya kesenjangan kelas diantara masyarakat. Masyarakat kaya mampu mebeli makanan sehat atau bergizi sedangkan orang gamampu gabisa beli. Pengetahuan kita atau pun orang tua mengenai gizi anak masih kurang, di garut banyak menanam buah dan sayur tetapi mereak tidak mengkonsumsi buah dan sayur. DAFTAR PUSTAKA BUKU : Ponirin.Lukitaningsih.2019.Sosiologi. Medan : Yayasan kita Menulis Sutrisno,Mudji.2005. Teori-Teori Kebudayaan. Yogyakarta : Kanisius PPT DAN PDF PPT SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI PPT KEBUDAYAAN PDF SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA PDF POLA PANGAN HARAPAN KETERGANTUNGAN PADA BERAS PPT TEORI SOSIOLOGI GIZI SEBAGAI PENGGANTI PPT KEBIJAKAN DAN POLA MAKAN PPT GIZI TEKNOLOGI PANGAN Jurnal https://kesmas-fkm.blogspot.com/2012/11/antropologi-gizi-masyarakat.html https://www.gurupendidikan.co.id/sosial-budaya/ http://digilib.uinsby.ac.id/3939/5/Bab%202.pdf (teori konflik sosial lewis coser) digital_20351974-MK-Mutia%20Hastiti%20Pawanti (masyarakat konsumeris menurut konsep pemikiran jean baudrillard)

Judul: Jurnal Hasil Perkuliahan Sosantro

Oleh: Amalia Nurul Izzah


Ikuti kami