Jurnal Menejemen Kepemimpinan.docx

Oleh Evvi Marhaeni

268,4 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Menejemen Kepemimpinan.docx

PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 1 KENDAL NGAWI JURNAL Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester “Menejemen Kepemimpinan” Dosen Pengampu : Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I Oleh : EVVI MARHAENI 17160102 MPI A- SMT 3 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO JANUARI 2019 1 PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 1 KENDAL OLEH EVVI MARHAENI Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Ponorogo Email : evvi.ahmad@gmail.com Abstrak Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan: Peran kepemimpinan kepala sekolah dengan gaya kepemimpinan yang menarik dapat meningkatkan mutu pendidikan. Berdasarkan hasil temuan kepemimpinan kepala sekolah di SMPN 1 Kendal adalah demokratis otoriter partisipatoris mempunyai pengaruh besar terhadap mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal karena pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan memerlukan sosok pemimpin yang mampu mengayoni anggotanya dengan selalu meminta pendapat demi kemajuan sekolah sehingga, mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal menjadi sudah baik, hal ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang ada disekolah berjalan sesuai dengan prosedur yang telah direcanakan. Namun masih banyak usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu lulusan di SMPN 1 kendal Kata kunci : peran kepemimpinan, mutu pendidikan agama islam A. PENDAHULUAN Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 3 disebutkan, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi Marusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Fungsi dan tujuan pendidikan tersebut secara operasional diwujudkan oleh lembaga pendidikan, khususnya sekolah yang merupakan organisasi dengan tujuan tertentu yang diwujudkan dalam bentuk visi, misi, dan tujuan sekolah.1 1 Basuki Jaka Purnama, “Optimalisasi Manajemen Sumberdaya Manusia Dalam Upaya Peningkatan Mutu Sekolah,” Jurnal Manajemen Pendidikan 12 (2016). 2 Dalam sebuah organisasi ataupun lembaga, baik lembaga formal maupun nonformal memerlukan sebuah konsep kepeemimpinan. Kepemimpinan dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang merupakan daya upaya besama untuk mengerakan semua sumber dan alat (resources) yang tersedia dalam suatu oganisasi. Resaouces tersebut dapat digolongkan menjadi dua macam bentuk, yaitu: human resource dan non human resaouces. Dalam sebuah lembaga pendidikan, baik lembaga pendidikan umum dan lembaga pendidikan islam yang termasuk salah satu unit organisasi yang terdiri dari berbagai unsur atau sumber, dan manusialah yang merupakan unsur terpenting dalam lembaga pendidikkan tersebut. Untuk itu dapat dikatakan bahwa sebuah kesuksesan dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sangat tergantung atas kemampuan manusia dalam pemimpinya untuk meningkatkan mutu pendidikan agama dengan menumbuhkan iklim kerja sama dengan mudah dan dapat menggerakan sumber-sumber daya yang ada sehingga dapat mendaya gunakan potensi yang ada dan kegiatan pendidikan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dalam sebuah organsasi diperlukan seorang pemimpim yang mampu memanajerial semua potensi yang dimiliki dalam organisasi. Apabila dalam organisasi tersebut terdapat pemimpin yang mampu memegang amanah yang baik dan mempengaruhi serta menggerakkan usaha bersama dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan maka organisasi akan berjalan dengan baik sesuai dengan harapan. Gaya atau proses untuk mempengaruhi serta untuk menggerakkan orang lain atau sekelompok untuk mencapai sesuatu tujuan yang telah ditetapkan disebut sebagai pemimpin. Seorang pemimpin harus mampu memberikan motivasi dan semangat kepada para guru-guru matapelajaran untuk meningkatkan kinerja dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tak terkecuali mutu pendidikan Agama Islam. Sebagaimana mata pelajaran yang lain Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang sangat penting bagi terbentukknya kualitas peserta didik dalam mewujudkan akhlakul karimah. Untuk itu perlu gaya kepemimpinan yang tapat bagi terwujudnya tujuan yang diharapkan dalam sebuah kembangkan pendidikan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas kinerja seorang guru. Maka sebagai kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sebuah sekolah, harus mampu memberikan energi positif sehingga dapat menggerakkan para guru untuk melaksanakan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab, yang pada akhirnya kinerja para guru menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Sebagai seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, maka seorang kepala sekolah harus terus menerus berusaha agar ide nya, gagasanya, nasehatnya, sarannya, instruksiya, perintahnya dan kebijakannya dapat di ikuti oleh para guru yang menjadi binaannya. Dengan demikian ia dapat mengadakan perubahan-perubahan dalam cara berfikir, dalam bersikap dan dalam bertindak atau berperilaku. Maka akan menjadi sebuah tuntutan bagi seorang kepala sekolah harus selalu merefresh dan mengupgred kembali pengetahuan dan 3 wawasan keilmuannya agar di kemudian hari dapat mendukung tugasnya sebagai seorang pemimpin. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah menjadi salah satu bukti sebuah keberhasilan bagi kepala sekolah dalam mengelola dan menggerakkan para dewan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang efektif dan berkesinambungan. Untuk itu pemimpin harus menguasai cara-cara kepemimpinan, memiliki kertampilan memimpin supaya dapat bertindak sebagai seorang pemimpin yang baik.2 Indikator-indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sebagai berikut: (1) Menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi norma-norma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi.(2) Membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan masalah-masalah kerjanya, dan bersedia memberikan bantuan secara proporsional dan profesional. (3) Memberikan dukungan kepada para guru untuk menegakkan disiplin peserta didik. (4) Menunjukkan sikap dan prilaku teladan yang dapat menjadi panutan atau model bagi guru, peserta didik, dan seluruh warga sekolah. (5) Membangun kelompok kerja aktif, kreatif, dan produktif. (6) Memberikan ruang pemberdayaan sekolah kepada seluruh warga sekolah.3 Apabila melihat dari beberapa uraian tentang indikator-indikator kepemimpinan di sekolah maka kepala sekolah SMPN 1Kendal telah memenuhi sebagian indikator salah stu indikator yang telah tercapai adalah pertama kepala sekolah telah mampu menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi normanorma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi, kedua kepala sekolah telah dapat memberikan dukungan kepada para guru untuk menegakkan disiplin peserta didik, dan kepala sekolah telah mampu memberikan ruang pemberdayaan sekolah kepada seluruh warga sekolah. Kompetensi yang harus dimiliki oleh Kepala Sekolah / Madrasah berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah terdiri dari 5 kompetensi di antaranya: kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Berikut unsur-unsur selengkapnya tentang 5 kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah ataupun kepala madrasah: (1) Kompetensi Manajerial (2) Kompetensi Kewirausahaan (3) Kompetensi Supervisi (4) Kompetensi Kepribadian (5) Kompetensi Sosial.4 Kompetensi yang dimiliki oleh kepala sekolah SMPN 1 kendal yang paling menonjol adalah kompetensi kepribadian yang yang menarik, hal ini terbukti kepala sekolah dapat berkomusikasi dengan dewan guru, tenaga TataUsaha dan juga komusikasi dengan peserta didik dengan baik 2 Tim Dosen Admistrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, ke-8 (Bandung: ALFABETA, 2015). 3 Herawati Syamsul, “Penerapan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Pada Jenjang Sekolah Menegah Pertama,” Jurnal Iddarah 275–289 (2017). 4 Syamsul. 4 dan sangat akrab. Sehingga dengan kopetensi yang dimiliki ini kepala sekolah dapat menggali potensi warga sekolah yang belum maksimal. SMPN 1 Kendal merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di kecamatan Kendal kabupaten Ngawi propinsi Jawa Timur yang berkomitmen menjadi sekolah terbaik di kecamatan Kendal. SMPN 1 Kendal juga merupakan sekolah yang mendapatkan dukungan dari masyarkat untuk menjadi sekolah berbasis religius hal ini karena lingkungan sekitar SMPN 1 Kendal dikelilingi oleh banyak sekali Pondok pesantren dan juga lembaga-lembaga diniyah yang sangat intens pada masalah-masalah keagamaan. Dengan letak geografisnya yang sangat setrategis yaitu dekat dengan jalan raya dan terletak di tengah kota kecamatan, dekat dengan pasar membuat SMPN 1 Kendal menjadi tujuan utama masyarakat menyekolahkan anak-anaknya di SMPN 1 Kendal. Kepala sekolah SMPN 1 Kendal merupakan sosok pemimpin yang memiliki gaya kepemimpinan yang mengutamakan pelaksanaan tugas, degan gaya ini dapat diasumsikan bahwa tugas kepala sekolah adalah mendorong agar setiap anggota melaksanakan tugas masing-masing secara maksimal. Dalam hal ini kepala sekolah memberikan perhatian yang besar dan keinginan yang kuat terhadap aktifitas yang dilaksanakan oleh dewan guru. Dengan gaya kepemimpinan ini kepala sekolah dapat mengaktifkan kembali beberapa kegiatan keagamaan yang mendukung pendidikan agama. Kegiatan – kegiatan keagamaan yang ada di SMPN 1 Kendal antara lain adalah: 1. Hadrah yang diasuh oleh guru mata pelajaran Agama Islam 2. Kegiatan ROHIS yang di Pandu oleh mata pelajaran Agama Islam 3. Tausiah setiap Hari senin Yang dipandu oleh Kepala sekolah 4. Sholat Dhuhur yang didampingi oleh walikelas dan guru pelajaran Agama Islam Semenjak banyaknya program kegiatan keagamaan yang diadakan oleh di SMPN 1 Kendal maka prestasi siswa dalam bidang keagamaan mengalami peningkatan. B. KAJIAN PUSTAKA 1. Pengertian Manajemen dan Kepemimpinan Pengertian manajemen menurut Sudjana adalah rangkaian berbagai kegiatan wajar yang dilakukan seseorang berdasarkan norma-norma yang telah ditetapkan dan dalam pelaksanaanya memiliki hubungan dan saling keterkaitan dengan lainya. Hal tersebut dilaksanakan oleh orang atau beberapa orang yang ada dalam organisasi dan diberi tugas untuk melaksanakan kegiatan tersebut.5 Pengertian manajemen dapat dipahami sebagai ilmu yang mempengaruhi atau memberdayakan sumber organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Manajemen juga merupakan suatu proses memadukan sumber daya yang tidak berhubungan 5 Tim Dosen Admistrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan. 5 ke dalam keseluruhan sistem untuk pencapaian tujuan. Manajemen dapat diterapkan dalam semua kegiatan, karena bersifat universal dan merupakan kerangka pengetahuan yang sistematis. Kajian manajemen mencakup perencanaan, pengorganisasian, sampai pada proses evaluasi agar dapat mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan.6 Dari beberapa beberapa pengertian yang dipaparkan oleh para ahli maka penulis memberikan pengertian bahwa manajeman merupakan sebuah kemampuan dan ketrampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang dalam melakukan kegiatan baik secara perorangan maupun kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama secara langsung maupun melalui orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif, efisien dan produktif Untuk mengetahui secara jelas mengenai arti kepemimpinan, terlebih dahulu kita harus memahami tentang konsep kepemimpinan. Berdasarkan konsep ini kita akan tahu sudut pandang dan hakikat kepemimpinan itu sendiri. Ditinjau dari sejarah perkembangannya, konsep kepemimpinan ada 3 jenis, yaitu 7 a. Suatu konsep yang menganggap bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai ” Traits within the individual leader ”. Jadi seseorang dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leader were born ed and not made. Konsep ini menganggap bahwa seseorang muncul dan diangkat sebagai pemimpin semata-mata karena ia dianggap memiliki sifat-sifat yang baik atau setidak-tidaknya memiliki potensi yang merupakan pembawaan atau bahkan keturunan yang diharapkan dapat menjadi suri tauladan bagi orang lain yang akan dipimpinnya. b. Suatu konsep yang memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (fungtion of the group). Menurut konsep ini, sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat-sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat-sifat dan ciri-ciri kelompok yang dipimpinnya. Setiap kelompok memiliki sifat dan ciri yang berlainan sehingga memerlukan tipe atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan masing-masing. c. Suatu konsep yang menyatakan bahwa kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi (fungtion of the situation). Konsep ini tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas dasar ekonomi dan politis. Disamping sifat-sifat individu pemimpin dan fungsi-fungsi kelompok seperti pada konsep pertama dan kedua, kondisi dan situasi tempat kelompok itu berada, mendapat 6 Sakdiah Ibrahim Ismail, Cut Zahri Harun, “Manajemen Pembelajaran Agama Islam Pada MTSN Bambong Kabupaten Pidie,” Jurnal Administrasi Pendidikan 4 (2014): 21–30. 7 M.Ngalim Purwanto, Administrasi Dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Karya, 1987). 6 penganalisaan pula dalam masalah kepemimpinan. Konsep ini menunjukkan bahwa, betapapun seorang pemimpin telah memiliki sifatsifat kepemimpinan yang baik dan dapat mejalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, namun sukses tidaknya kepemimpinannya masih ditentukan pula oleh situasi yang selalu berubah, yang mempengaruhi perubahan dan perkembangan kehidupan kelompok yang dipimpinnya, baik itu adat istiadat, kebudayaan, mobilitas dan struktur sosial, politik pemerintahan atau masyarakat, organisasi dan lembaga-lembaga di dalam masyarakat dan negara. Dalam sebuah kepemimpinan seorang kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting bagi peningkatan mutu Pendidikan, peran tersebut adalah sebagai : 1) educator, 2) manager, 3) administrator, 4) supervisor, 5) leader, 6) pencipta iklim kerja; dan 7) wirausahawan.8 1. Educator Sebagai educator atau pendidik, kepala madrasah melaksanakan kegiatan perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi pembelajaran. Peran inilah yang sangat berkaitan erat dengan peningkatan kompetensi guru di madrasah, utamanya dalam menciptakan guru yang handal dan professional. Kegiatan perencanaan menuntut kapabilitas dalam menyusun perangkatperangkat pembelajaran; kegiatan pengelolaan mengharuskan kemampuan memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang efektif dan efisien; dan kegiatan mengevaluasi mencerminkan kapabilitas dalam memilih metode evaluasi yang tepat dan dalam memberikan tindak lanjut yang diperlukan terutama bagi perbaikan pembelajaran. Sebagai pendidik, kepala sekolah juga berfungsi membimbing siswa, guru dan tenaga kependidikan lainnya. 2. Leader Sebagai pemimpin, kepala sekolah berfungsi menggerakkan semua potensi sekolah, khususnya tenaga guru dan tenaga kependidikan bagi pencapaian tujuan sekolah. Dalam upaya menggerakkan potensi tersebut, kepala sekolah dituntut menerapkan prinsip-prinsip dan metode-metode kepemimpinan yang sesuai dengan mengedepankan keteladanan, pemotivasian, dan pemberdayaan staf 3. Manager Sebagai pengelola, kepala sekolah secara operasional melaksanakan pengelolaan kurikulum, peserta didik, ketenagaan, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan sekolah-masyarakat, dan ketatausahaan sekolah. Semua kegiatan-kegiatan operasional tersebut dilakukan melalui oleh seperangkat prosedur kerja berikut: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan. Berdasarkan tantangan yang dihadapi sekolah, maka sebagai 8 Hasan Baharun, “Peningkatan Mutu Guru Melalui Sistem Kepemimpinan Kepala Madarasah,” At-Tajdid Jurnal Tarbiyah 6 (2017). 7 pemimpin, kepala sekolah melaksanakan pendekatan-pendekatan baru dalam rangka meningkatkan kapasitas sekolah 4. Administrator sekolahnya. Sebagai pengambil kebijakan, kepala sekolah melakukan analisis lingkungan (politik, ekonomi, dan sosial-budaya) secara cermat dan menyusun strategi dalam melakukan perubahan dan perbaikan sekolahnya. Dalam pengertian yang sempit, kepala sekolah merupakan penanggung-jawab kegiatan administrasi ketatausahaan sekolah dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran 5. Wirausahawan Sebagai wirausahawan, kepala sekolah berfungsi sebagai inspirator bagi munculnya ide-ide kreatif dan inovatif dalam mengelola sekolah. Ide-ide kreatif diperlukan terutama karena sekolah memiliki keterbatasan sumber daya keuangan dan pada saat yang sama memiliki kelebihan dari sisi potensi baik internal maupun lingkungan, terutama yang bersumber dari masyarakat maupun dari pemerintah setempat. 6. Pencipta Iklim Kerja Sebagai pencipta iklim kerja, kepala sekolah berfungsi sebagai katalisator bagi meningkatnya semangat kerja guru. Kepala sekolah perlu mendorong guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam bekerja di bawah atmosfir kerja yang sehat. Atmosfir kerja yang sehat memberikan dorongan bagi semua staf untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan sekolah. 7. Supervisor Berkaitan dengan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran, kepala sekolah berfungsi melakukan pembinaan professional kepada guru dan tenaga kependidikan. Untuk itu kepala sekolah melakukan kegiatan-kegiatan pemantauan atau observasi kelas, melakukan pertemuan-pertemuan guna memberikan pengarahan teknis kepada guru dan staf memberikan solusi bagi permasalahan pembelajaran yang dialami guru Selain mempunyai beberapa peran seorang kepala sekolah juga mempunyai beberapa tipe atau gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan tersebut adalah: 1. Kepemimpinan Direktif Pemimpin memberikan nasihat spesifik kepada kelompok dan memantapkanperaturan peraturan pokok 2. Kepemimpinan Suportif Adanya hubungan yang baik antara pemimpin dengan kelompok dan memperlihatkan kepekaan terhadap kebutuhan anggota. 3. Kepemimpinan Partisipatif 8 Pemimpin mengambil keputusan berdasarkan konsultasi dengan kelompok, dan berbagi informasi dengan kelompok. 4. Kepemimpinan Orientasi Prestasi Pemimpin menghadapkan anggotaanggota pada tujuan yang menantang, dan mendorong kinerja yang tinggi, sambil menunjukkan kepercayaan pada kemampuan kelompok.9 Dengan demikian maka kepemimpinan dapat diartikan kemampuan dan kesiapan yang, mengajak, mengerakkan, menuntun, mengarahkan dan tindakan memaksa kepada seseorang atau bahkan sekelompok orang unruk menerima pengaruh tertentu untuk mencapai tujuan sendiri ataupun tujuan organisasi. Dalam kepemimpinan juga diperlukan beberapa potensi yang sangat penting bagi peningkatan mutu pendidikan 2. Mutu pendidikan Islam Secara etimologi kata mutu dapat diartikan dengan kadar,baik buruknya sesuatu, kualitas taraf atau derajat, kepandaian atau kecerdasan.10 Sedangkan secara umum kata mutu adalah sebuah gambaran dan karakteristik menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuan dalam memuaskan kenutuhan yang diharapkan atau kebutuhan yang hanya sekedar tersirat. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu mencakup input, proses dan output pendidikan.11 Mutu pendidikan yaitu kemampuan lembaga pendidikan dalam mendayagunakan sumber-sumber pendidikan untuk meningkatkan kemampuan belajar seoptimal mungkin.12 Pengertian mutu pendidikan Agama Islam, sebagaimana sekolah atau madarasah bisa menyeimbangkan antara proses dan hasil pendidikan yang pada akhirnya peserta didik (lulusannya) menjadi manusia muslim yang berkualitas, dalam arti peserta didik mampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang berprespektif Islam. Pemahaman manusia berkualitas dalam khasanah pemikiran Islam sering disebut sebagaiinsan kamil yang mempunyai sifat-sifat antara lain manusia yang selaras (jasmani dan rohani, dunia dan ukhriwi), manusia morlis (sebagai individu dan sosial), manusia nazar dan i’tibar (kritis, berjihad, dinamis, bersikap ilmiah dan berwawasan kedepan), serta menjadi manusia yang memakmurkan hati.13 Dari beberapa pengertian tentang mutu pendidikan penulis memberikan pengertian bahwa pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki pemahaman 9 Agung Suprapto Astria Khairizah, Irwan Noor, “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN,” Jurnal Administrasi Publik 3 (2017). 10 Poerdawarminta, Kamus Umum Bahasa Idonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976). 11 Hari Sudrajat, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasisi Sekolah (Bandung: Cekas Grafika, 2007). 12 Ace Suryadi, Indikator Mutu Dan Efisiensi Pendidikan Sekolah Dasar Di Indonesia (Jakarta: Balitbang Depdikbud, 1992). 13 Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Madarasah, Dan Perguruan Tinggi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, n.d.). 9 ajaran Islam yang sesuai dengan Al-quran dan Al-Hadits, memiliki prestasi yang dalam bidang akademik dan dapat berperan aktif dilingkungan dengan ketrampilan dan pengetahuan yang mumpuni yang diperoleh pada saat di sekolah. C. METODE PENELITIAN 1. Latar Penelitian Penelitian yang dilaksanakan berlokasi di SMPN 1 Kendal Kabupaten Ngawi pada bulan November 2018 sampai dengan Januari 2019, SMPN 1 Kendal merupakan salah satu sekolah negeri yang memiliki potensi cukup besar dalam meningkatkan mutu pendidikan agama dan juga sebagai salah satu sekolah dasar yang strategis. SMPN 1 Kendal merupakan Sekolah Inti dan sekolah menegah pertama yang berdiri di Kecamatan Kendal. 2. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif dengan teori pendekatan fenomenologi. Menurut Bungin Fenomologi pada dasarnya adalah berpandangan bahwa apa yang tampak di permukaan, termasuk pola prilaku sehari – hari hanyalah suatu gejala atau fenomena dari apa yang tersembunyi di “kepala” sang pelaku. Prilaku yang tampak di tingkatpermukaan baru bisa dipahami atau dijelaskan manakala bisa mengungkapkan atau membongkar apa yang tersembunyi dalam dunia kesabaran atau dunia pengetahuan si manusia pelaku.14 Menurut Sugiyono, metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alami (natural setting). Pendekatan kualitatif memang realitas sosial sebagai suatu yang holistik /utuh, komplek, dinamis, penuh makna,dan hubungan gejala bersifat interatif (reciprocal). Penelitian kualitaif merupakan sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang berbentuk tulisan tentang orang atau kata-kata orang dan prilakunya yang nampak atau kelihatan.15 Sumber data penelitian selain dari informan yang merupakan data primer (manusia), dan juga akan menggunakan data sekunder (bukan manusia) yaitu data yang diperoleh dari data yang sudah ada. Sumber data primer yang diperlukan diantaranya kepala sekolah, guru, orang tua/wali murid sekolah SMPN 1 Kendal Kabupaten Ngawi. Adapun sumber data bukan manusia berupa dokumen-dokumen yang mendukung serta sarana dan prasarana. Penentuan informan melalui teknik pengambilan sampel tetapi bukan untuk mewakili populasi melainkan berdasarkan relevansi dan kedalaman informasi serta didasarkan pada tema penelitian dan kondisi 14 Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: Raja Grafindo, 2010). Sugiyono, Metode Peenelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Dan R&D) (Bandung: ALFABETA, 2010). 15 10 lapangan.Teknik yang digunakan melalui teknik snowball sampling/bola salju sehingga peneliti dapat menggali informasi/data secara mendalam. 3. Data dan Sumber Data Data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yaitu apa yang dikatakan oleh orang-orang berkaitan dengan seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti, dalam penelitian ini sumber data diperoleh dengan wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisa dokumen atau respon survey. Data dalam penelitian tentang peran kepeminpinan dalam meningkatkan mutu Pendidikan Islam di SMPN 1 Kendal ini terdiri dari orang-orong yang menguasai berbagai informasi sekolah yang meliputi kepala sekolah, wakil kepala sekola, guru/karyawan dan siswa di SMPN 1 Kendal. Alasan ditetapkanya informan tersebut karenamereka merupakan perilaku yang secara langsung terlibat dam setiap kegiatan di SMPN 1 Kendal sehingga menguasai berbagai informasi yang akurat berhubungan dengan kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal. D. TEMUAN DAN PEMBAHASAN 1. Kepemimpinan Kepala Sekolah SMPN 1 Kendal Dari hasil interview yang dilakukan oleh peneliti dengan kepala sekolah, waka kurikuluk, waka kesiswaan dan guru PAI di SMPN 1 Kendal maka ada beberapa model gaya kepemimpinan kepala sekolah, hal ini dapat dilihat daribagaimana cara kepala sekolah mempengaruhi bawahanya, kepala sekolah mengambil keputusan serta kebijakan. Namun dari kebanyakan respon yang ditunjukkan oleh kepala sekolah mengatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah SMPN 1 Kendal cenderung pada gaya “kepemimpinan demokratis (Partisipatif)” dimana kepemimpinan kepala sekolah mengutamakan musyawarah mufakat. Sebagaimana yang dijelaskan oleh bapak Suko Santoso, S.Pd selaku waka kurikulum mengatakan: “ secara jelas gaya kepemimpinan kepala sekolah memeng sulit di jelaskan namun kadang-kadang dapat di katagorikan pada gaya kepemimpinan yang demokratis yang otoriter, tapi apabila menyangkut halhal tertentu kepala sekolah juga mengajak musyawarah kepada segenab guru yang ditunjuk untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah.” Hal tersebut diperkuat oleh Ibu Evvi Marhaeni, S.Pd selaku guru Agama di SMPN 1 Kendal yang mengatkan bahwa : “gaya kepemimpinan yang ditunjukkan oleh kepala sekolah adalah demokratis yang otoriter namun pada kondisi tertentu juga menunjukkan partisipasi guru, hal ini terlihat ketika kepala sekolah mendelegasikan guruguru untuk mengikuti kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) 11 baik tingkat kabupaten atau tingkat propinsi, dendan cara menunjuk langsung yang kemudian meminta pendapat kepada guru yang bersangkutan”. Dari hasil interview yang dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa gaya kepeminpinan kepala sekolah SMPN 1 Kendal demokratis hal ini diperkuat dengan wawancara kepada kepala sekolah SMPN 1 Kendal secara langsung bapak Agung Sugiharto,M.Pd mengatkan Bahwa : “sebenarnya yang mengetahui gaya kepemimpinan saya dalam mengambil keputusan di sekolah ini adalah orang lain, namun ketika pada suatu adakalanya saya harus bersikap lebih otoriter dan pada saat yang lain saya kuga harus demokratis dengan meminta pendapat para dewan guru dan para waka dengan mengajak untuk bermusyawarah. Sebagai contoh pengaturan jam mengajar, penunjukan wali kelas yang tidak boleh seenaknya dan harus sesuai dengan komposisi guru mengajar mata pelajaran tertentu. Tabel 1.1 Temuan Gaya Kepemimpinan kepala sekolah SMPN 1 Kendal No Diskripsi gaya kepemimpinan 1 gaya kepemimpinan kepala sekolah memeng dapat di katagorikan pada gaya kepemimpinan yang demokratis, apabila menyangkut hal-hal tertentu kepala sekolah juga mengajak musyawarah kepada segenab guru yang ditunjuk untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di sekolah. 2 Dalam situasi tertentu kepala sekolah menunjukkan sikap otoriter yang lebih dominan, hal ini apabila menyangkut penunjukan tugas-tugas tertentu 3 Mudah menerima masukkan dari para dewan guru apabila menyangkut kegiatan kegiatan keagamaan Dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti maka secara garis besar dapat ditemukan bahwa model kepemimpinan yang di tunjukan oleh kepala sekolah adalah demokratis partisipatoris. 2. Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1Kendal Pendidikan yang bermutu dan berkualitas adalahpendidikan yang dapt dilaksanakan dengan efektif dan efisien dalam pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar artinya dari hasil yang diperoleh peserta didik telah mamnpu mencapai tujuan pendidikan, dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti menujukkan bahwa mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal cukup baik, hal ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan agama yang dilakukan dalam keseharian. Berikut ini adalah hasil wawancara yang yang dilakukan ibu Evvi Marhaeni,S.Pd.I, selaku guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam sebagai berikut: “ Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal ini sudah cukup baik hal ini dapat dilihat dari keberhasilan keegiatan-kegiatan yang 12 dilsakukan berjalan dendan lancar dan sesuai dengan prosedur t direncanakan. Misalnya sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, pelaksanaan Sholat Jumat bagi peserta didik laki-laku dimasjid sekolah, setiap sebelum memulai pelajaran pertama dimulai dilakukan pembiasaan dengan membaca surat-surat pendek dan doa-doa selama kurang lebih 20 menit”. Hal yang serupa juga dikatakan oleh ibu Miftachul Jannah, S.Pd.I selaku guru mata Pelajaran Agama Islam: “ Mutu PendidikanAgama Islam di SMPN 1 Kendal saya anggap cukup baik, karena kegiatan-kegiatan extrakulikuler yang mendukung pelajaran agama Islam berjalan dengan lancar, kegiatan tersebut antara lain ROHIS ( Kerohanian Islam) dan hadrah, kegiatan-kegiatan ini dapat mempengaruhi perilaku siswa yaitu prilaku disipin, cinta ilmu dan cinta budaya Islam “ Lebih lanjut dikemukaan pula pleh bapak Agung Sugiharto, M.Pd selaku kepala sekolah sebagai berikut : “Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal sudah menunjukkan perubahan yang cukup baik, hai ini dapat dilihat dari prestasi peserta didik dalam bidang akademik, tidak kalah bagus dengan sekolah yang lain di kecamatan kendal. Selanjutnya waka kesiswaan bapak Sugeng Sugiharto juga mengemukakan pendapatnya tentang mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal beliaumengatakan “ mutu pendidikan agama Islam di SMPN 1 kendal mulai menunjukkan perkembangan dan kemajuan yang baik, ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di lingkungan sekolah dan juaga prestasi siswa dalam bidang keagamaan” Tabel 1.2 Temuan Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal No Diskripsi Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal 1 Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal ini sudah cukup baik hal ini dapat dilihat dari keberhasilan keegiatan-kegiatan yang dilsakukan berjalan dendan lancar dan sesuai dengan prosedur direncanakan. Misalnya sholat dhuha dan dhuhur berjamaah, pelaksanaan Sholat Jumat bagi peserta didik laki-laku dimasjid sekolah, setiap sebelum memulai pelajaran pertama dimulai dilakukan pembiasaan dengan membaca surat-surat pendek dan doa-doa selama kurang lebih 20 menit 2 Mutu PendidikanAgama Islam di SMPN 1 Kendal saya anggap cukup baik, karena kegiatan-kegiatan extrakulikuler yang mendukung pelajaran agama Islam berjalan dengan lancar, kegiatan tersebut antara lain ROHIS ( Kerohanian Islam) dan hadrah, kegiatan-kegiatan ini dapat mempengaruhi perilaku siswa yaitu prilaku disipin, cinta ilmu dan cinta budaya Islam 3 Mutu Pendidikan Agama Islam di SMPN 1 Kendal sudah menunjukkan perubahan yang cukup baik, hai ini dapat dilihat dari prestasi peserta didik dalam bidang akademik, tidak kalah bagus dengan sekolah yang 13 lain di kecamatan kendal Dari beberapa wawancara yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa mutu pendidikan di SMPN1 Kendal sudah menujukkan perkembangan yang cukup baik, sehingga perlu peningkatan mutu lagi supaya pendidikan dikecamatan kendal juga menjadi lebih baik lagi Dari beberapa temuan di SMPN 1Kendal maka adanya pengaruh yang sangat penting gaya kemeimpinan kepala sekolah terhadap peningkatan Mutu Pendidikan Agama islam di SMPN 1 Kendal E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Dari paparan pembahasan diatas dapat disimpulakan bahwa a. Kepemimpinan kepala sekolah di SMPN 1 Kendal adalah demokratis otoriter partisipatoris mempunyai pengaruh besar terhadap mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal karena pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan memerlukan sosok pemimpin yang mampu mengayoni anggotanya dengan selalu meminta pendapat demi kemajuan sekolah b. Mutu pendidikan di SMPN 1 Kendal sudah menunjukan cukup baik, hal ini dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang ada disekolah berjalan sesuai dengan prosedur yang telah direcanakan. Namun masih banyak usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu lulusan di SMPN 1 kendal 2. Saran Mengkaji dari penelitian tersebut maka peneliti memberikan saran kepada pihak SMPN 1 Kendal 1. Diharapkan kepala sekolah lebih baik lagi dalam membina dewan guru terutama guru Mata pelajaran Pendidikan Agama islam, karena guru PAI lah yang berperan langsung dalam peningkatan mutu pendidikan Agama Islam 2. Meningkatkan prestasi dan mutu pendidikan gama Islam di SMPN Kendal dengan lebih memperhatikan dan mendukung secara total kegiatan-kegiatan yang diadakan di sekolah terutama kegiatan peningkatan pendidikan agama Islam. 3. Diharapkan kepala sekolah memberikan contoh yang baik dalam membina guru dan siswa terutama dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan agama islam. DAFTAR PUSTAKA Astria Khairizah, Irwan Noor, Agung Suprapto. “Pengaruh Gaya Kepemmpinan Terhadap Kinerja Karyawan.” Jurnal Administrasi Publik 3 (2017). 14 Baharun, Hasan. “Peningkatan Mutu Guru Melalui Sistem Kepemimpinan Kepala Madarasah.” At-Tajdid Jurnal Tarbiyah 6 (2017). Bungin. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo, 2010. Ismail, Cut Zahri Harun, Sakdiah Ibrahim. “Manajemen Pembelajaran Agama Islam Pada MTSN Bambomg Kabupaten Piedi.” Jurnal Administrasi Pendidikan 4 (2014): 21–30. Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Madarasah, Dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, n.d. Poerdawarminta. Kamus Umum Bahasa Idonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976. Purnama, Basuki Jaka. “Optimalisasi Manajemen Sumberdaya Manusia Dalam Upaya Peningkatan Mutu Sekolah.” Jurnal Manajemen Pendidikan 12 (2016). Purwanto, M.Ngalim. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya, 1987. Sudrajat, Hari. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasisi Sekolah. Bandung: Cekas Grafika, 2007. Sugiyono. Metode Peenelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Dan R&D). Bandung: ALFABETA, 2010. Suryadi, Ace. Indikator Mutu Dan Efisiensi Pendidikan Sekolah Dasar Di Indonesia. Jakarta: Balitbang Depdikbud, 1992. Syamsul, Herawati. “Penerapan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Pada Jenjang Sekolah Menegah Pertama.” Jurnal Iddarah 275–289 (2017). Tim Dosen Admistrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Manajemen Pendidikan. Ke-8. Bandung: ALFABETA, 2015. Astria Khairizah, Irwan Noor, Agung Suprapto. “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN.” Jurnal Administrasi Publik 3 (2017). Baharun, Hasan. “Peningkatan Mutu Guru Melalui Sistem Kepemimpinan Kepala Madarasah.” At-Tajdid Jurnal Tarbiyah 6 (2017). Bungin. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo, 2010. Ismail, Cut Zahri Harun, Sakdiah Ibrahim. “MANAJEMEN PEMBELAJARAN AGAMA ISLAM PADA MTSN BAMBONG KABUPATEN PIDIE.” Jurnal Administrasi Pendidikan 4 (2014): 21–30. Muhaimin. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di Sekolah,Madarasah, Dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, n.d. Poerdawarminta. Kamus Umum Bahasa Idonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1976. Purnama, Basuki Jaka. “Optimalisasi Manajemen Sumberdaya Manusia Dalam Upaya Peningkatan Mutu Sekolah.” Jurnal Manajemen Pendidikan 12 (2016). Purwanto, M.Ngalim. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Karya, 1987. Sudrajat, Hari. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasisi Sekolah. Bandung: Cekas 15 Grafika, 2007. Sugiyono. Metode Peenelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif Dan R&D). Bandung: ALFABETA, 2010. Suryadi, Ace. Indikator Mutu Dan Efisiensi Pendidikan Sekolah Dasar Di Indonesia. Jakarta: Balitbang Depdikbud, 1992. Syamsul, Herawati. “Penerapan Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Pada Jenjang Sekolah Menegah Pertama.” Jurnal Iddarah 275–289 (2017). Tim Dosen Admistrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Manajemen Pendidikan. Ke-8. Bandung: ALFABETA, 2015. 16

Judul: Jurnal Menejemen Kepemimpinan.docx

Oleh: Evvi Marhaeni


Ikuti kami