Jurnal Kampung Kunir

Oleh Hadid Qosim

27,5 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Kampung Kunir

Tepat pada hari Senin, 24 juli 2017 berawal pada seminar yang dilakukan di fakultas Teknik di universitas Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan pembagian posisi pada bagian pengabdian masyarakat. Saya M. Hadid Qosim, dipercaya untuk mengambil bagian Wawancara di kampung Kunir yang berada di dekat kota tua, tepatnya di jalan kunir, Jakarta barat. Setelah mengikuti sedikit pengarahan dan menonton video di aula fakultas Teknik UI, pada waktu malam kami langsung terjun ke kampung kunir, tepat jam 11 malam kami di sambut dengan hangat oleh warga kampung kunir, sekaligus perkenalan diri kami kepada warga dan begitu sebaliknya dan sehabis itu Karena sudah malam kami langsung di beberapa orang warga ke penginapan yang rencananya di tempat warga, tetapi Karena jumlah kami yang melebihi batas, kami di antar ke kos kosan yang tidak terpakai yang berada di dekat kampung kunir. Setelah sampai di kos kosan kami langsung menempatkan barang bawaan dan merapikan serta mengambil posisi untuk beristirahat. Dua ruangan kecil yang tidak memiliki ventilasi dan sirkulasi yang baik untuk 16 orang termasuk saya. Cukup berdesakan, sempit, dan hawa panas yang selalu terasa oleh saya. Tetapi semakin malam rasa kantuk mengalahkan hal hal tersebut. Pagi Selasa, kami bergegas mandi dan merapikan diri, kemudian berkumpul untuk membahas apa yang akan di kerjakan, masing-masing bagian. Berkumpul di depan pintu kos kosan yang sejatinya adalah sebuah ruko. Cukup luas dan kami berkumpul di bawah terik matahari pagi. Adel sebagai leader, menjelaskan apa-apa saja yang harus di kerjakan dan target yang harus di dapatkan, kemudian kami tutup dengan doa. Saya, Gede, Steve, Febri (bagian wawancara) di berikan sebuah file berbentuk hvs, terdapat berbagai macam masalah yang akan di tanyakan dan diklarifikasikan kepada warga kampung kunir. Saya membagi banyak masalah tersebut menjadi dua, dengan cara khas Indonesia, yaitu dengan hompimpa, dengan hasil saya Bersama steve dan gede Bersama febri. Setelah berkumpul dan berdoa, saya dan rekan saya (steve) memulai mencari salah satu warga yang akan di wawancarai. Satu dua warga yang saya ingin wawancarai menolak untuk di wawancara dikarenakan di pagi hari mereka masih bekerja. Banyajk yang berdagang makanan dan minuman. Setelah terus mencari warga sekaligus kami menelusuri kampung kunir, saya melihat bapak-bapak yang sedang berjalan mengenakan baju orange dengan memakai topi, kemudian saya menyapa dan berkenalan, nama beliau bapak suhadi, penghuni veteran kampung kunir. kebetulan sekali beliau bersedia untuk di tanyakan hal-hal tentang kampung kunir, tetapi beliau bilang kalau ia ingin menemui mbak adel, Karena saya pikir pak suhadi adalah orang yang sangat berpengaruh dan adel adalah panitia yang membantu rekan yang lain, saya piker saya lebih membutuhkan informasi dari pak suhadi, dan secara langsung saya Bersama rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi arsitektur seluruh Indonesia : 1. Adel (panitia) awal kenal pas nanyain wc ke salah satu panitia, tetapi adel yg kebetulan ingin ke wc bilang “sini gue aja yg antarin!” dan dia dengan semangat untuk mengantar saya ke wc. Dan ternyata dia adalah panitia sekaligus rekan dan leader untuk meriset langsung ke kampung kunir. 2. Farhan salah satu panitia yang pernah ngebantuin saya dalam hal akomodasi dan transportasi 3.

Judul: Jurnal Kampung Kunir

Oleh: Hadid Qosim


Ikuti kami