Jurnal Kebenaran Islam Dakwah

Oleh Aini Ar

94,5 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Kebenaran Islam Dakwah

JURNAL KEBENARAN ISLAM DAKWAH Donna Firanda IAIN METRO Email: Donnaviranda9partii@gmail.com ABSTRAK Kebenaran merupakan obyek pencarian manusia selama berabad-abad. Filsafat, ilmu dan agama hadir sebagai jalan manusia untuk menemukan kebenaran. Namun, kebenaran yang ditemukan manusia menjadi beragam sangat tergantung dengan kondisi manusia: keadaan sosial budaya yang melingkupinya, pola pikir, serta keyakinan yang dianutnya menjadi muncul banyak teori kebenaran. Dalam dakwah, pesan yang disampaikan harus berupa kebenaran, baik eksistensi maupun substansinya. Selanjutnya metode dan media dakwah harus berjalan dalam rambu kebenaran, terutama pendekatan kepada mitra dakwah. Dapat dikatakan bahwa seluruh proses sampai akhir aktifitas dakwah harus mengandung unsur kebenaran. Kata Kunci: Kebenaran, pesan dakwah, filsafat Islam PENDAHULUAN Manusia terus mengajukan pertanyaan demi mendapatkan kebenaran. Semakin jauh jalan pikirannya, makin banyak pertanyaan yang muncul, dan makin banyak usahanya untuk memahami suatu kebenaran. (Keraf 2001 : 36) Namun, kebenaran sulit untuk ditentukan: apakah wujud kebenaran itu? Karena kesulitan ini, kebenaran menjadi sulit untuk diketahui. Semua orang menyatakan dirinya yang benar, bahkan paling benar. Mereka juga mengajukan argumentasi yang hampir semuanya bisa dikatakan benar. Inilah yang membuat manusia bingung dalam mencari kebenaran. Jangankan wujudnya, letaknya saja sulit untuk ditemukan. Padahal, tiap saat suara yang membela kebenaran selalu dikumandangkan. Semua mengklaim sebagai pembela dan penegak kebenaran. Persoalan semakin rumit ketika dakwah Islam menyatakan untuk mengajak kepada kebenaran. Pendakwah harus berkata benar, meskipun terasa pahit. Tidak hanya itu, dakwah Islam juga menyatakan bahwa kebenaran itu datang dari Allah. Teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dijadikan sebagai bukti adanya kebenaran. Akan tetapi, teks suci itu terbuka untuk di tafsirkan. Sementara penjelasan nya bukan tunggal, melainkan beragam penafsiran. Akhirnya, kebenaran digugat kembali: manakah di antara ragam penafsiran tersebut yang benar, bahkan paling benar?. Ketika dakwah Islam menyatakan bahwa Islam merupakan satusatunya agama yang paling benar, sehingga umat manusia harus mengikutinya, muncul pertentangan dari umat non muslim. Mereka menyatakan bahwa agama mereka juga berhak dituntut dengan agama yang benar dan Islam dianggapnya sebagai agama yang tidak benar. Tidak hanya itu, ada beberapa golongan dalam umat Islam juga mempertanyakan ‘jenis’ Islam yang dianut oleh pendakwah. Pertanyaan ini mengundang diskusi tentang kebenaran agama, kebenaran Islam, hingga kebenaran aliran sekalipun. Tulisan ini hendak mengkaji hakekat kebenaran. Setelah itu, konsep kebenaran dihubungkan dengan konsep dakwah Islam, terutama terkait dengan pesan dakwah. DISKUSI KEBENARAN Menurut Prof. Syed Naquib Al-Atas, mengatakan sumber dan kriteria kebenaran dalam pandangan Islam terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu yang bersifat relatif dan yang bersifat absolut atau pasti. Yang termasuk sumber pengetahuan relatif adalah indra dan persepsi. Sumber yang absolut, tiada lain al-Quran dan Sunnah. Secara tradisional, juga kita mengenal 3 teori kebenaran yaitu koherensi, korespondensi dan pragmatic (Suriasumatri, 1983). Sementara, Michel William mengenalkan 5 teori kebenaran dalam ilmu, yaitu : 1. kebenaran koherensi, 2. kebenaran korespondensi, 3. kebenaran performatif, 4. kebenaran pragmatik dan 5. kebenaran proposisi. Bahkan, Noeng Muhadjir menambahkannya dalam buku Ismaun, 2001, satu teori lagi yaitu kebenaran paradigmatik. Namun dalam Islam ada kebenaran yang disebut kebenaran agama (ilahiyah). Meskipun demikian, penulis menjelaskan ada empat teori kebenaran sebagai berikut ini: 1. Kebenaran Pragmatis: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila memiliki kegunaan/manfaat praktis dan bersifat fungsional dalam kehidupan sehari-hari (Suriasumatri, 1982). Dalam al-Qur‟an terdapat beberapa contoh, antara lain: Khamar itu ada manfaatnya meskipun lebih banyak mudarratnya sebagaimana firman Allah yang artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. 2. Kebenaran Koresponden: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila materi pengetahuan yang terkandung didalamnya berhubungan atau memiliki korespondensi dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Dalam Kattsoft 1992 kebenaran korespondensi ialah kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan. Salah satu contoh kebenaran korespondensi dalam al-Qur‟an adalah pernyataan tentang pertemuan antara air asin dan air tawar tanpa bercampur baur. Yang artinya: “Dan dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang Ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”. 3. Kebenaran Koheren: Sesuatu (pernyataan) dianggap benar apabila konsisten dan memiliki koherensi atau keutuhan dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar tanpa melihat kepada fakta atau realita. Bakhtiar menyebutkan teori koheren menggunakan logika deduktif. Salah satu contoh dalam al-Qur‟an adalah pernyataan tentang zina yang artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. Ketiga teori ini mempunyai perbedaan paradigma. Teori koherensi mendasarkan diri pada kebenaran rasio atau akal, teori korespondensi pada kebenaran konkret atau nyata dan teori fragmatis mefungsional pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri. Tetapi ketiganya memiliki persamaan, yaitu pertama, seluruh teori melibatkan logika, baik logika formal maupun material (deduktif dan induktif), kedua melibatkan bahasa untuk menguji kebenaran itu, dan ketiga menggunakan pengalaman untuk mengetahui kebenaran itu. JENIS-JENIS KEBENARAN Karena kebenaran merupakan sifat dari pengetahuan, untuk membahas adanya berbagai kebenaran, kita perlu mengetahui adanya berbagai macam pengetahuan. Sebagaimana pengetahuan dapat dibedakan atas dasar berbagai kriteria penggolongan, demikian pula berkenaan dengan kebenaran pengetahuan juga dapat digolongkan atas dasar beberapa kriteria (Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2003: hal. 136-138). 1. Atas dasar sumber atau asal dari kebenaran pengetahuan, dapat bersumber antara lain dari: fakta empiris (kebenaran empiris), wahyu atau kitab suci (kebenaran wahyu), fiksi atau fantasi (kebenaran fiksi). Kebenaran pengetahuan perlu dibuktikan dengan sumber atau asal dari pengetahuan terkait. Kebenaran pengetahuan empiris harus dibuktikan dengan sifat yang ada dalam obyek empiris (yang didasarkan pengamatan inderawi) yang menjadi sumber atau asal pengetahuan tersebut. Kebenaran wahyu sumbernya berasal dari wahyu atau kitab suci yang dipercaya sebagai ungkapan tertulis dari wahyu. Sehingga yang menjadi acuan pembuktian kebenaran wahyu adalah wahyu atau kitab suci yang merupakan tertulis dari wahyu. Sedangkan kebenaran fiksi atau fantasi bersumber pada hasil pemikiran fiksi atau fantasi dari orang bersangkutan. Dan yang menjadi acuan pembuktiannya ialah alur pemikiran fiksi atau fantasi yang terwujud dalam ungkapan lisan atau tertulis, visual atau auditif, atau dalam ungkapan keempatempatnya. 2. Atas dasar cara atau sarana yang digunakan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Antara lain dapat menggunakan: indera (kebenaran inderawi), akal budi (kebenaran intelektual), intuisi (kebenaran intuitif), iman (kebenaran iman). Kebenaran pengetahuan perlu dibuktikan dengan sarana yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan terkait. Kebenaran pengetahuan inderawi (penglihatan) harus dibuktikan dengan kemampuan indera untuk menangkap hal atau obyek inderawi dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Penglihatan dapat menghasilkan pengetahuan tentang warna, ruang, ukuran besar/kecilnya obyek, serta adanya suatu gerak atau perubahan. Sesuai dengan perspektif penglihatan disadari bahwa penangkapan penglihatan sering tidak tepat. Kita mengalami tipu mata. Misalnya, bintang yang semestinya besar tampak di penglihatan sebagai bintang kecil; sepasang rel kereta api yang seharusnya sejajar ternyata tampak di penglihatan sebagai yang semakin menciut di kejauhan. Kebenaran intelektual didasarkan pada pemakaian akal budi atau pemikiran agar dapat berpikir secara lurus, yaitu mengikuti kaidah-kaidah berpikir logis, sehingga tidak mengalami kesesatan dalam berpikir. Kebenaran intuitif didasarkan pada penangkapan bathin secara langsung (konkursif) yang dilakukan oleh orang bersangkutan, tanpa melalui proses penalaran terlebih dahulu (diskursif). Sedangkan kebenaran iman didasarkan pada pengalaman hidup yang berdasarkan pada kepercayaan orang bersangkutan. 3. Atas dasar bidang atau lingkup kehidupan, membuat pengetahuan diusahakan dan dikembangkan secara berbeda. Antara lain, pengetahuan agama (kebenaran agama), pengetahuan moral (kebenaran moral), pengetahuan seni (kebenaran seni), pengetahuan budaya (kebenaran budaya), pengetahuan sejarah (kebenaran historis), pengetahuan hukum (kebenaran yuridis), pengetahuan politik (kebenaran politik). Kebenaran pengetahuan perlu dipahami berdasarkan bahasa atau cara menyatakan dari lingkup/bidang kehidupan terkait. Misalnya, penilaian baik atas tindakan dalam bidang moral tentu saja perlu dibedakan dengan penilaian baik tentang hasil karya dari bidang seni. 4. Atas dasar tingkat pengetahuan yang diharapkan dan diperolehnya: yaitu pengetahuan biasa sehari-hari (ordinary knowledge) memiliki kebenaran yang sifatnya subyektif, amat terikat pada subyek yang mengenal, pengetahuan ilmiah (scientific knowledge) menghasilkan kebenaran ilmiah, pengetahuan filsafati (philosofical knowledge) menghasilkan kebenaran filsafati. Kriteria yang dituntut dari setiap tingkat kebenaran ternyata berbeda. Kebenaran pengetahuan yang diperoleh dalam pengetahuan biasa sehari cukup didasarkan pada hasil pengalaman sehari-hari, sedangkan kebenaran pengetahuan ilmiah perlu diusahakan dengan pemikiran rasional (kritis, logis, dan sistematis) untuk memperoleh pengetahuan yang selaras dengan obyeknya (obyektif). TINGKATAN KEBENARAN Terdapat empat tingkatan kebenaran, dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Kebenaran indrawi, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis, dan kebenaran religius. Tiga yang pertama bersifat relatif, sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (Darmodiharjo, 2006:2). Kebenaran indrawi adalah tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia. Kebenaran ini didapatkan manusia dengan menggunakan panca indra yang dimiliki, seperti kebenaran tentang rasa yang bisa dibuktikan lewat lidah atau tentang warna yang dapat dilihat oleh mata. Selain rendah, kebenaran ini sangat relatif, karena panca indra sangat terbatas kemampuannya. Setiap orang memiliki perbedaan kemampuan indrawi antara satu dengan yang lain, sehingga kebenaran indrawi cenderung sangat individual. Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang didapatkan manusia lewat pengalamanpengalaman indrawi lalu diolah dengan rasio. Kebenaran ilmiah ini biasanya selalu berubah. Hal ini tergantung dari penemuan manusia dalam proses untuk memahami apa yang di–tangkap oleh indranya. Proses ini dilakukan lewat eksperimen dan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berkaitan antara satu dengan yang lain. Walaupun relatif, namun kebenaran ini jauh lebih tinggi daripada kebenaran indrawi, karena didasarkan pada proses ilmu pengetahuan (eskperimen dan pengalaman). Kebenaran ilmu pengetahuan tetap relatif, karena prosesnya sangat dipengaruhi oleh faktor manusia yang melakukan kajian ilmiah. Bagaimanapun, kemampuan manusia untuk memahami sebuah realita berdasarkan metode ilmiah sangat terbatas pada hal-hal yang bersifat empiris saja. Selain itu, kemampuannya sangat tergantung pada instrumen yang digunakan. Keterbatasanketerbatasan tersebut menye–babkan kebenaran ilmiah juga relatif. Kebenaran filosofis adalah kebenaran yang didapatkan lewat proses berpikir yang radikal dan integral. Kebenaran ini hadir setelah dilakukan renungan yang mendalam. Semakin dalam perenungan untuk mengolah kebenaran itu, semakin tinggi nilainya. Dalam kebe–naran filosofis ini, biasanya didapatkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan “mengapa”. Banyak hal yang dapat ditemukan lewat proses perenungan filosofis, terutama tentang hal-hal yang bersifat abstrak dan tidak empiris. Di wilyah ini, ilmu pengetahuan tidak dapat menjangkaunya. Dengan proses perenungan yang terus menerus, ma–nusia dapat menemukan jawaban dari pertanyaanpertanyaan tentang hakikat kemanusiaan, alam semesta, dan Tuhan sebagai penciptanya. Terakhir adalah kebenaran religius atau kebenaran agama. Kebe–naran ini bersifat mutlak, karena bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas iman dan keper–cayaan. Tidak ada keraguan sama sekali terhadap kebenaran yang ada didalamnya. Selain itu, kebenaran ini juga memiliki rentang yang luas sekali. Artinya, kebenaran religius berlaku di segala tempat dan zaman. KEBENARAN DALAM PESAN DAKWAH Dakwah ialah mempengaruhi orang lain agar bersikap dan bertingkah laku seperti apa yang diserukan oleh da’i. Islam menegaskan setiap muslim sesungguhnya adalah juru dakwah yang mengemban tugas untuk menjadi teladan moral di tengah masyarakat (Daulay Hamdan, 2001: 79). Tugas dakwah yang demikian berat dan luhur itu mencakup dua aspek yaitu Amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemunkaran). Jika seluruh muslim menyadari hal ini selayaknya krisis moral yang merebak di kalangan masyarakat sedikit demi sedikit akan tereliminasi. Pesan-pesan yang disampaikan da’i kepada sasaran dakwah (mad’u) dapat disebarkan melalui media. Pada masa permulaan Islam, Rasulullah dan Sahabatnya menggunakan media oral dan kontak langsung (Syihata Abdullah, 1986: 31). Dan sekarang menyampaikan nya dakwah telah banyak sarana atau media yang dimanfaatkan oleh seorang da’i, media itu antara lain: surat kabar, televisi, radio, majalah, dan sebagainya. Surat kabar sebagai media yang dapat menyampaikan pesan searah pada para pembaca, mempunyai pengaruh dan daya tarik yang besar bagi para pembacanya. Surat kabar sebagai media mempunyai dua sisi yaitu negatif dan positif. Apabila digunakan untuk kejahatan maka akan menyesatkan orang dan apabila digunakan untuk medium saling mengingatkan dan menyeru manusia kebaikan bukan saja boleh tapi diharuskan. Media dakwah sangat banyak, tetapi tidak ada media yang sempurna, masing- masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Makin banyak menguasai penggunaan media dalam pelaksanaan dakwah, maka semakin mengantar pada keberhasilan dan kesuksesan dalam pelaksanaan dakwah. Oleh karena itu, dalam memilih media dakwah sebaiknya selalu dikondisikan dengan objek dakwah, sebab tidak semua media dakwah bisa digunakan dalm semua kondisi dan situasi. KEBENARAN DALAM FILSAFAT ISLAM Kebenaran dalam Islam merujuk pada Al-Qur’an yang menjadi sumber utama ajaran Islam. Al-Qur’an meru–pakan kitab suci yang menjadi tuntunan hidup seorang muslim. Segala persoalan kehidupan umat Islam, baik secara global maupun spesifik, diatur dalam Al-Qur’an. Quraish Shihab menyebut Al-Qur’an sebagai informasi agung yang diturunkan dari langit ke bumi. Di dalamnya terdapat berita tentang masa lalu dan kabar tentang masa depan. Manusia yang berpegang pada apa yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an tidak pernah tersesat (Shihab, 2007: 19). Kitab suci al-Qur’an memuat kebenaran yang tidak hanya diyakini oleh kaum muslimin, tetapi juga dikagumi oleh non-muslim. Dengan memahami ajaran Al-Qur’an, maka seorang muslim dapat menemukan kebenaran yang sedang dicarinya. Di samping memuat kebenaran mutlak, Al-Qur’an juga menyu–ruh umat Islam, agar selalu berpikir dan menggunakan akalnya untuk mencari dan memahami kebenaran. Banyak ayat alQur’an yang menyatakan bahwa Allah menyuruh umat Islam untuk mengopti–malkan potensi akalnya. Tidak sedikit ilmuwan muslim yang me–ngikuti al-Qur’an, sehingga mereka melahirkan teori-teori di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Selain sebagai ilmuwan, banyak di antara mereka yang menjadi filosof. Mereka melahirkan banyak pemikiran yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan (Sholikhin, 2008 : 147). Filsafat Islam berangkat dari al-Qur’an, melahirkan pemikiran, serta berakhir pada keyakinan. (Anshari, 2004 : 114). Sesungguhnya, al-Qur’an telah memberitahukan kebenaran tentang hal-hal yang abstrak. Akan tetapi, kebenaran ini perlu dijelaskan secara rasional dan logis. Dengan penjelasan ini, filosif muslim menemukan apa yang disebut sebagai filsafat agama, tepatnya filsafat Islam. Apa yang menjadi kekurangan dalam filsafat, yakni kebenaran yang masih relatif, dilengkapi dengan agama, sehingga lebih dekat dengan kebenaran. mutlak. Begitu pula, kekurangan kebenaran agama, yakni kurang rasional, disempurnak oleh filsafat. Pembahasan tentang kebenaran pun telah dilakukan oleh beberapa filosof muslim. Menurut Ibnu Sina, kebenaran bersumber dari Dzat Allah yang memancar kepada makhluknya (teori emanasi) (Daudy, 1984 : 42). Untuk menemukan kebenaran, manusia harus mendekatkan diri kepada Allah, karena Ia merupakan sumber kebenaran utama bagi manusia. Selain Ibnu Sina, teori emanasi juga dikembangkan oleh Suhrawardi dan Al-Farabi. Ibnu Rusyd membagi jalan dalam mencapai kebenaran menjadi tiga metode, yaitu metode retorika, metode dialektika, dan metode demonstratif (Nasution, 1999: 116). Dua jalan pertama diperuntuk–kan bagi kaum awam yang cenderung melihat segala sesuatu secara fisik. Sedangkan metode yang ketiga dikhususkan bagi mereka yang mampu berpikir filosofis. Berkaitan dengan ketiga jalan ini, Ibnu Rusyd membagi pencari kebenaran menjadi tiga golongan, yaitu golongan ortodoks, golongan teolog, dan golongan filosof. Golongan ortodoks adalah mereka yang mendapatkan kebenaran dengan mengikuti apa disampaikan orang lain tanpa berpikir. Mereka meng–anggap apa yang disampaikan orang yang dianggapnya ahli adalah benar. Golongan kedua adalah orang yang memahami kebenaran agama secara tekstual dan tidak mau menggunakan logika maupun silogisme. Sedangkan golongan terakhir adalah mereka yang mema–hami kebenaran agama dengan mengoptimalkan potensi akalnya. Pada abad moderen, Al-Jabiri menjelaskan tiga teori pendekatan kebenaran dalam filsafat Islam, yaitu Bayani, Burhani dan Irfani. Selain ketiga pendekatan tersebut, ada pula dua pendekatan lain: iluminasi (isyraq) dan transendensi (hikmah muta’aliyah). Bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang didasarkan atas otoritas teks (nash), secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung artinya memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Sedangkan secara tidak langsung berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah, sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini bukan berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks (Al-Jabiri, 1991: 38). Dalam bayani ini, kebenaran ditemukan dengan memahami teks yang menjadi sumber rujukan kebenaran tersebut. Dalam hal ini, teks tersebut adalah Al-Qur’an dan Hadits. Untuk mengetahuinya bayani memiliki dua metode. Pertama, memahami teks dengan berpegang pada teks yang ada serta menggunakan kelimuan bahasa yang umum digunakan, seperti Nahwu, Saraf dan Balagah. Kedua, menggu–nakan logika dan nalar untuk melakukan analisa makna yang terkandung di dalam teks. SIMPULAN kriteria kebenaran dalam pandangan Islam terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu yang bersifat relatif dan yang bersifat absolut atau pasti. Kebenaran ini pada kegiatan dakwah mempengaruhi kualitas dakwahatau disebut juga dengan kapasitas dakwah. Melalui konsep kebenaran, kegiatan dakwah dibedakan dengan kegiatan bukan dakwah. Konsep kebenaran tidak melihat dari baik dan buruk, namun melihat dari benar dan salah. Suatu kesalahan, bagaimana pun kebaikannya, harus ditinggalkan. Oleh sebab itu, tidak salah bila pen dakwah juga dikatakan sebagai pembela kebenaran. Apa yang disampaikan harus berupa kebenaran. Metode dan media atau cara yang harus sesuai dengan kebenaran. Pendekatan kepada mitra dakwah juga dalam koridor kebenaran. DAFTAR PUSTAKA Al-Jabiri, Muhammad Abid. Bunyah al-‘Aql al-‘Arabi, al-Markaz al-Thaqafi al-‘Arabi, Beirut. 1991. Bakhtiar, Filsafat Ilmu. Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers, 2009 Darmodiharjo, Darjo, dan Shidarta. Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2006. Daudy, Ahmad. Segi - Segi Pemikiran Falsafi dalam Islam, Bula Bintang, Jakarta. 1984. Daulay Hamdan, Dakwah ditengah Persoalan Budaya dan Politik, Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI), Yogyakarta, 2001 Ismaun, Filsafat Ilmu (Diklat Kuliah), Bandung: UPI Bandung, 2001. Kattsoft, Unsur-unsur Filsafat. Cet. V; Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992 M. Keraf, A. Sonny. Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis. Yogyakarta: Kanisius. 2001. QS: Al-Baqarah: 219. QS: al-Furqa>n: 53. QS: Al-Isra>‟: 32. Shihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an. Mizan, Bandung. 2007. Syihata Abdullah, Dakwah Islamiyah, CV. Rasindo, Jakarta, 1986. Sholikhin, Muhammad. Filsafat dan Metafisika dalam Islam. Narasi, Yogyakarta. 2008. Suriasumantri, Filsafah Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar Harapan, 1982. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty. 2003.

Judul: Jurnal Kebenaran Islam Dakwah

Oleh: Aini Ar


Ikuti kami