Jurnal Magang Kelompok 8

Oleh Mifro Romza

163,6 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Magang Kelompok 8

LAPORAN PENGABDIAN MASYARAKAT UPAYA PENANGGULANGAN PERKAWINAN DI BAWAH UMUR Oleh : Kelompok 8 Mega Yudha Nur Rokhmah Saptari C100160070 Meila Dwi Jayanti C100160188 Mifro Naimullah Romza C100160212 Miftahul Khoiriyah Annur C100160130 Mike Kumalasari C100150071 Mohammad Syafrie Irawan C100160272 Monika Rachmawati C100160188 Khairunnisa Iffah Asysyifa C100160229 FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2019 Abstrak Pernikahan dibawah umur merupakan pernikahan yang dilakukan oleh mempelai yang belum berusia 18 tahun. Fenomena pernikahan dibawah umur menjadi masalah yang serius bagi pemerintah Indonesia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menikah dibawah umur. Keinginan anak untuk memilih menikah di usia muda karena merasa sudah siap mental dalam berumah tangga. Padahal seharusnya pernikahan itu dilakukan dengan kesiapan mental maupun fisik yang cukup matang. Oleh karena itu, pernikahan dibawah umur tidak bisa dibiarkan mengingat ada dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya pernikahan dibawah umur. Pemerintah harus turun tangan untuk mengurangi tingkat pernikahan dibawah umur di Indoensia, salah satunya dengan mengadakan sosialisasi. Kata kunci : pernikahan dibawah umur, faktor, dampak, penanggulangan PENDAHULUAN Dengan semakin majunya zaman, maka semakin meningkat pula kebutuhan manusia. Baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Tidak dapat dipungkiri kebutuhan rohani manusia salah satunya adalah dengan melaksanakan perkawinan. Perkawinan bagi manusia merupakan hal penting, karena dengan perkawinan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup baik secara psikologis, sosial maupun biologis. Tetapi banyak orang yang beranggapan bahwa batas usia dalam perkawinan tidak penting, padahal dengan adanya batasan ini menghendaki kematangan psikologis, kematangan berpikir, dan kematangan fisik yang memadai.1 Usia seseorang yang terlalu muda untuk melangsungkan perkawinan mengakibatkan meningkatnya kasusu perceraian karena kurangnya kesadaran untuk bertanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga. Pasal 7 ayat (1) UU NO 1 Tahun 1974 menetapkan pria harus sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita harus sudah mencapai 16 tahun, barulah di izinkan melakukan pernikahan.2 Dan apabila salah satu calon belum mencapai batas umur yang ditentukan maka akan mendapatkan dispensasi pernikahan. Di Indonesia tingkat pernikahan dibawah umur cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kemiskinan, tingkat pendidikan orangtua rendah, Tradisi atau budaya setempat, kurang nya kesadaran dan pemahaman anak perempuan, pengaruh sosial media. Padahal dalam pernikahan di bawah umur ada beberapa dampak negatif yang di timbulkan. Salah satunya yaitu resiko komplikasi yang terjadi saat kehamilan dan saat persalinan usia muda sehingga dapat meningkatkan tingkat kematian ibu dan bayi. Selain itu dampak yang ditimbulkan yaitu pereceraian di usia muda, adanya KDRT, dan kesulitan ekonomi sehingga banyak anak yang terlantar dan putus sekolah. Anak perempuan berusia 10-14 tahun memiliki kemungkinan meninggal lima kali lebih besar, di masa kehamilan atau melahirkandibandingkan perempuan berusia 20-25 tahun. Data diatas membuktikan bahwa pernikahan anak memposisikan perempuan dalam kondisi rentan terkait dengan kesehatan reproduksi dan seksualitasnya 3 1 Refqi Alfina,dkk, Implikasi Psikologis Pernikahan Usia Dini Studi Kasus di Kelurahan Karang Taruna Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Volume 6, No.2, 2016, hal 1022 2 Fitria Olivia, Batasan Umur Dalam Perkawinan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Jurnal Lex jurnalica Volume 12 Nomor 3,2015, hal 203 3 Reni Kartikawati Djamilah, Dampak Perkawinan Anak di Indonesia, Jurnal Studi Pemuda, Volume 3, No 1, 2014, hal 3 Dengan demikian pemerintah perlu menangani tingginya tingkat pernikahan dibawah umur dengan menerapkan beberapa kebijakan yaitu : wajib belajar 12 tahun, sosialisasi tentang pentingnya pendidikan kespro, Program KB, Perbaikan RUU Kesetaraan gender, sosialisasi UU No.35 tahun 2014 tentang perubahan UU No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, bekerja sama dengan organisasi perempuan dan organisasi keagamaan serta ormas sosialisasi pendewasaan usia perkawinan METODE PENELITIAN Jenis pendekatan yang digunakan adalah penelitian hukum normatif- empiris dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Sehingga, penelitian tersebut merupakan perpaduan antara penelitian hukum normatif (kepustakaan) dan penelitian hukum empiris (lapangan). Dengan menggunakan pendekatan tersebut peneliti akan mendapat informasi dari berbagai aspek mengenai isu hukum yang sedang diteliti, yang dicoba untuk dicari jawabannya. PEMBAHASAN A. Penyebab perkawinan di bawah umur Penyebab utama terjadinya perkawinan anak di bawah umur adalah keinginan untuk segera mendapat tambahan anggota keluarga, tidak adanya pengetahuan mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda baik bagi mempelai maupun bagi keturunannya. Faktor utama lainnya adalah mengikuti adat secara mentah-mentah. Perkawinan di usia muda terjadi karena masalah ekonomi keluarga terutama di keluarga si gadis. Orang tuanya meminta keluarga laki-laki untuk mengawinkan anak gadisnya, sehingga dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarga yang jadi tanggungjawab (makanan, pakaian, pendidikan dan lain sebagainya). Faktor penyebab lainnya adalah faktor-faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut4 : 1. 4 Faktor ekonomi Rosdalina Bukido, Perkawinan Dibawah Umur : Penyebab dan Solusinya, Jurnal Jurisprudentie ,Volume 5 Nomor 2 Desember 2018, hal 190. Hal ini terjadi karena keluarga si gadis berasal dari keluarga yang kurang mampu. Orang tuanya pun menikahkan si gadis dengan laki-laki dari keluarga mapan. Hal ini tentu akan berdampak baik bagi si gadis maupun bagi orang tuanya. Si gadis bisa mendapat kehidupan yang layak serta beban orang tuanya bisa berkurang. Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan, untuk meringankan beban orang tuanya maka anak wanitanya dikawinkan dengan orang yang dianggap mampu. 2. Faktor Pendidikan Rendahnya tingkat pendidikan orang tua, anak dan masyarakat membuat terjadinya perkawinan anak di bawah umur. 3. Faktor Orang Tua Orang tua khawatir anak menyebabkan aib keluarga atau takut anaknya melakukan zina saat berpacaran maka mereka langsung menikahkan anaknya dengan pacarnya. Niat ini memang baik, untuk melindungi sang anak dari perbuatan dosa. 4. Faktor Media Massa dan Internet Disadari atau tidak, anak di zaman sekarang sangat mudah mengakses segala sesuatu yang berhubungan dengan seks dan semacamnya. Hal ini membuat mereka “terbiasa” dengan hal-hal berbau seks dan tidak menganggapnya tabu lagi. Pendidikan seks itu sangat penting sejak dini, tapi bukan berarti anak-anak tersebut belajar sendiri tanpa didampingi orang dewasa. 5. Faktor Biologis Faktor ini muncul salah satunya karena media massa dan internet. Mudahnya akses informasi tadi, anak-anak jadi mengetahui hal-hal yang belum seharusnya mereka tahu di usianya. Akibatnya adalah terjadilah hubungan di luar nikah yang bisa menjdi hamil di luar nikah. Mau tidak mau, orang tua harus menikahkan anak gadisnya. 6. Faktor Hamil Di Luar Nikah Hamil di luar nikah bukan hanya karena “kecelakaan” tapi bisa juga karena diperkosa sehingga terjadilah hamil di luar nikah. Orang tua yang dihadapkan dalam situasi tersebut pastilah akan menikahkan anak gadisnya, bahkan bisa dengan orang yang sama sekali tidak dicintai orang si gadis. Hal ini semakin dilematis karena tidak sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan. Rumah tangga berdasarkan cinta saja bisa goyah, apalagi karena keterpaksaan. 7. Faktor Adat Faktor ini sudah mulai jarang muncul, tapi masih tetap ada. Perkawinan usia muda terjadi karena orang tuanya takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan. Faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya perkawinan di bawah umur, yaitu : keinginan untuk segera mendapatkan tambahan anggota keluarga , tidak adanya pengertian mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda, baik bagi mempelai itu sendiri maupun keturunannya, sifat kolot orang jawa yang tidak mau menyimpang dari ketentuan adat. Kebanyakan orang desa mengatakan bahwa mereka itu mengawinkan anaknya begitu muda hanya karena mengikuti adat kebisaaan saja. Terjadinya perkawinan usia muda menurut Hollean dalam Suryono disebabkan oleh masalah ekonomi keluarga, orang tua dari gadis meminta masayarakat kepada keluarga laki-laki apabila mau mengawinkan anak gadisnya, bahwa dengan adanya perkawinan anak-anak tersebut, dalam keluarga gadis akan berkurang satu anggota keluarganya yang menjadi tanggung jawab (makanan, pakaian, pendidikan dan sebagainya). Pernikahan anak di bawah umur merupakan suatu fenomena sosial yang kerap terjadi khususnya di Indonesia. 5 B. Upaya hukum pencegahan perkawinan di bawah umur Pencegahan perkawinan sesuai dengan Undang-Undang perkawinan yang tercantum dalam Pasal 13 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa: “Perkawinan dapat di cegah apabila ada orang yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan pernikahan”. Pencegahan perkawinan dapat di laksanakan apabila salah satu pihak atau keduanya ada yang tidak memenuhi syarat untuk dilaksanakanya suatu perkawinan. Dalam upaya pencegahan dibawah umur maka dapat ditempuh melalui cara-cara sebagai berikut : 5 Wekke, I. S. (2018). Islam dan Adat, Keteguhan Adat dalam Kepatuhan 1. Mensosialisasikan undang–undang terkait pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi-sanksi bila melakukan pelanggaran dan menjelaskan resiko–resiko terburuk yang bisa terjadi akibat pernikahan anak di bawah umur kepada masyarakat6 2. Meningkatkan intervensi perlindungan anak perempuan 15-17 tahun dengan fokus utama penyelesaian sekolah menengah. 7 3. Memberikan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak guna menangani masalah kerentanan ekonomi. 4. Melakukan peningkatan sosialisasi desa ke tingkat dukuh untuk mengurangi usia dini. Sosialisasi tersebut memberikan pengetahuan terkait dengan dampak negatif dari perkawinan usia dini dan pengetahuan mengenai hal-hal yang diatur dalam Undangundang Perkawinan. Sosialisasi tersebut dapat dilakukan melalui pengajian, rapat umum, PKK, dan Posyandu. 5. Melakukan koordinasi kepada kepala sekolah maupun pejabat pemerintah yang berwenang untuk turut membantu menekan terjadinya perkawinan usia dini dalam kegiatan sekolah dengan memberikan motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 6. Orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan/mengawinkan anaknya dalam usia dini atau anak dan harus memahami peraturan perundang-undangan untuk melindungi anak. 7. Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada pelaku, melaporkan kepada KPAI, LSM peduli anak lainnya dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada dan bertindak terhadap pelaku untuk dikenai pasal pidana dari peraturan perundangan yang ada yaitu UU No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Upaya pencegahan pernikahan anak di bawah umur dirasa akan semakin maksimal bila anggota masyarakat turut serta berperan aktif dalam pencegahan pernikahan anak di bawah umur yang ada di sekitar mereka. Sinergi antara pemerintah 6 Dania Eka Lestari, Upaya Pencegahan Pernikahan Usia Dini di Desa Ketundan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang Perspektif Sosiologi Hukum Islam, State Islamic University, 2017. 7 Ani Yunita dan Nasrullah, Upaya Mencegah Terjadinya Pernikahan Anak Usia Dini, Repository UMY dan masyarakat merupakan jurus terampuh sementara ini untuk mencegah terjadinya pernikahan anak di bawah umur sehingga kedepannya diharapkan tidak akan ada lagi anak yang menjadi korban akibat pernikahan tersebut dan anak-anak Indonesia bisa lebih optimis dalam menatap masa depannya kelak. KESIMPULAN Dari paparan diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Maraknya perkawinan yang dilakukan oleh anak dibawah umur dapat disebabkan oleh bebrapa faktor, faktor tersebut antara lain faktor ekonomi, pendidikan, orang tua, media massa dan internet, biologis, hamil di luar nikah, dan faktor adat. Adapun penyebab utama terjadinya perkawinan anak di bawah umur adalah keinginan untuk segera mendapat tambahan anggota keluarga, tidak adanya pengetahuan mengenai akibat buruk perkawinan terlalu muda baik bagi mempelai maupun bagi keturunannya dan yang terakhir adalah mengikuti adat secara mentah-mentah. 2. Perkawinan anak dibawah umur dapat dihindari dengan cara Mensosialisasikan undang– undang terkait pernikahan anak di bawah umur beserta sanksi-sanksinya, meningkatkan intervensi perlindungan anak perempuan, memberikan akses pendidikan tinggi kepada anak-anak guna menangani masalah kerentanan ekonomi, melakukan peningkatan sosialisasi untuk memberikan pengetahuan terkait dengan dampak negatif dari perkawinan usia dini, melakukan koordinasi kepada kepala sekolah maupun pejabat pemerintah yang berwenang untuk turut membantu menekan terjadinya perkawinan usia dini dalam kegiatan sekolah dengan memberikan motivasi untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, orang tua harus disadarkan untuk tidak mengizinkan menikahkan anaknya dalam usia dini, serta masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak dapat mengajukan class-action kepada pelaku, melaporkan kepada KPAI, dan para penegak hukum harus melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk melihak adanya pelanggaran terhadap perundangan yang ada. REFERENSI Buku 1. Aulia Nuansa. 2008. Kompilasi Hukum Islam : Hukum Perkawinan , Hukum Kewarisan dan Hukum Perwakafan. Bandung : Tim Redaksi Nuansa Aulia 2. Hasyim, Syafiq. 1999. Menakar Harga Perempuan. Bandung: Mizan 3. Nasrullah, Dade Ahmad. 2014. Peranan KUA dalam Menanggulangi Pernikahan Dini di Desa Pasarean Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah 4. Soemiyati. 1986. Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang tentang Perkawinan. Yogyakarta: Liberty 5. Solahudin, Penghimpun. 2008. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Acara Pidana dan Perdata. Jakarta: Visimedia 6. Subekti, Trusto. 2009. Bahan Pembelajaran Hukum Keluarga dan Perkawinan. Purwokerto: Fakultas Hukum Universitas Jenderal Sudirman 7. Thalib, Abdul. 2007, Hukum Keluarga dan Perikatan. Pekanbaru: UI Press 8. Usman, Rachmadi. 2006. Aspek-aspek Hukum Perorangan dan Kekeluargaan di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika Jurnal 1. Alfina Refqi, dkk, 2016. Implikasi Psikologis Pernikahan Usia Dini Studi Kasus di Kelurahan Karang Taruna, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan 6(2) 2. Djamilahm Reni Kartikawati. 2014. Dampak Perkawinan Anak di Indonesia. Jurnal Studi Pemuda 3(1) 3. Muntamah, Ana Latifatul, dkk. 2019. Pernikahan Dini di Indonesia: Faktor dan Peran Pemerintah . Jurnal Hukum, 2(1) 4. Olivia, Fitria, 2015. Batasan Umur dalam Perkawinan berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Jurnal Lex Jurnalica 12(3) 5. Pediatri, Sari. 2009 . Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya. Sari Pediatri 11(2) 6. Bukido, Rosdalina ,Desember 2018, Perkawinan Dibawah Umur : Penyebab dan Solusinya, Jurnal Jurisprudentie ,Volume 5 Nomor 2 , hal 190. 7. Yanti dkk.2018. Analisis Faktor Penyebab dan Dampak Pernikahan Dini di Kecamatan Kandis Kabupaten Sial. Jurnal Ibu dan Anak , 6(2)

Judul: Jurnal Magang Kelompok 8

Oleh: Mifro Romza


Ikuti kami