Review Jurnal Teori Perkembangan

Oleh Fairizka Dhinda Izdihar

125,4 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Teori Perkembangan

Kendeou,Panayiota et.al. (2009). Predicting Reading Comprehension in Early Elementary School: The Independent Contributions of Oral Languange and Decoding Skills. Journal of Educational Psychology, 101,No.4. 765-778. Diakses pada tanggal 9 April 2012 dari www.psyche.psikologi.unair.ac.id REVIEW JURNAL TEORI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN Dalam tugas mata kuliah teori psikologi perkembangan saya akan menjabarkan hasil review dari jurnal penelitian yang telah saya pilih yang berjudul “Predicting Reading Comprehension in Early Elementary School: The Independent Contributions of Oral Languange and Decoding Skills”. Latar belakang saya memilih jurnal ini untuk saya review adalah selain untuk memenuhi kewajiban menyelasaikan tugas mata kuliah teori psikologi perkembangan,saya ingin mengetahui penerapan langsung dari teori teori perkembangan yang telah saya pelajari. jurnal ini menggunakan tema perkembangan, cakupan nya pada perkembangan anak, Bahasa dalam jurnal ini juga tidak terlalu susah untuk dipahami, jadi memudahkan saya dalam memahami wacana dalam jurnal tersebut. Manfaat dari jurnal ini menurut saya pribadi dapat menambah wawasan saya dalam proses perkembangan membaca seorang anak dan hal hal apa saja yang mempengaruhinya. Pokok materi dalam jurnal penelitian ini adalah mengenai memprediksi perkembangan pemahaman membaca anak pada usia sekolah dasar dengan melihat kontribusi bahasa lisan dan kemampuan decoding. Dalam jurnal penelitian ini terdapat dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk menguji hubungan antara perkembangan bahasa lisan anak-anak keterampilan dan kemampuan decoding dari prasekolah ke SD awal sekolah. Tujuan kedua adalah untuk menguji stabilitas dan prediktif kekuatan keterampilan lisan anak-anak bahasa untuk kemudian membaca pemahaman untuk menentukan apakah kemampuan bahasa lisan pada usia dini diprediksi mereka pada usia lanjut dan apakah bahasa lisan keterampilan adalah prediksi pemahaman bacaan pada usia lanjut di awal sekolah dasar Para peneliti meneliti perkembangan bahasa lisan dan kemampuan decoding dari prasekolah sampai awal SD dan hubungannya dengan pemahaman bacaan mulai dengan menggunakan desain cross-sekuensial.anak anak berumur 4-6 tahun diuji 1 pada bahasa lisan dan kemampuan decoding lalu diuji ulang 2 tahun kemudian ketika mereka berusia 6-8 tahun. Dalam semua kelompok usia, bahasa lisan dan decoding keterampilan terbentuk cluster yang berbeda. 2 cluster adalah berhubungan satu sama lain di prasekolah, tetapi hubungan ini menjadi lebih lemah di TK dan kelas 2.Pemodelan persamaan struktural menunjukkan bahwa kedua set keterampilan di kelas 2 independen memperkirakan pemahaman membaca anak. Temuan ini mengkonfirmasi dan memperluas pandangan bahwa 2 kelompok keterampilan mengembangkan di awal kehidupan seorang anak dan memberikan kontribusi terhadap kegiatan pemahaman membaca di SD awal sekolah, dengan setiap cluster memberi kontribusi, cukup unik. Penelitian ini menunjukkan beberapa informasi baru diantaranya bahwa jika dalam tahap perkembangan seorang anak kemampuan bahasa lisan nya bagus maka akan berpengaruh terhadap kemampuan dalam decoding nya. Kemampuan coding itu sendiri memliki arti yaitu kemampuan seorang anak dalam menyimbolkan hal hal apa yang ia peroleh dari hasil mendengarkan ke dalam tulisan.dan decoding adalah kemampuan anak dalam menyimbolkan tulisan menjadi sebuah bentuk atau pola dalam pikiran dan dikeluarkan dalam bahasa lisan. pemahaman tergantung pada pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan dalam satu kata atau kalimat atau bahkan dalam teks yang tepat. Selain itu, pemahaman bukanlah fenomena kesatuan melainkan keluarga keterampilan yang berkembang secara bersamaan. Keluarga ini meliputi keterampilan proses-orde tinggi seperti pembangkit dan penalaran inferensi-yang memungkinkan pembaca untuk mengidentifikasi hubungan yang bermakna antara elemen teks dan, antara elemen teks dan latar belakang pengetahuan. Peristiwa dalam teks dapat berhubungan dengan banyak cara, tapi satu jenis penting dari koneksi itu kausal. Ketika pembaca terlibat dalam membuat kesimpulan dan menghasilkan berbagai jenis koneksi kausal untuk interkoneksi peristiwa kisah yang mereka baca, mereka membentuk jaringan mental yang representasi dari narasi. 2 Jaringan mental yang didasarkan pada struktur kausal cerita itu sendiri. Pembaca dewasa lebih mungkin untuk mengingat peristiwa dengan banyak koneksi kausal dari peristiwa dengan beberapa koneksi Dilihat dari usia, anak anak peka dengan struktur kausal narasi serta kemampuan mereka untuk menghasilkan kesimpulan kausal yang diperlukan untuk menghubungkan ide-ide dalam teks dan untuk membentuk representasi tes koheren yang berkembang. Pada usia dini,sifat nonstructural pada peristiwa, termasuk yang dangkal seperti sebagai kejelasan acara tersebut,lebih mempengaruhi minat anak anak daripada sifat struktur kausal. Pada tahapan usia selanjutnya, peran struktural properti meningkat dan faktor nonstruktural menurun. Anak-anak kecil juga memiliki kecenderungan untuk lebih memfokuskan perhatian mereka pada hal yang dapat diamati, tindakan nyata dan bukan pada faktor yang menyebebakan hal itu terjadi (internal) seperti tujuan sebuah karakter. Studi pada acara pemahaman mengungkapkan beberapa pola perkembangan dari bayi menjadi dewasa dan telah menunjukkan bahwa bahkan anak-anak peka terhadap hubungan yang ada antara berbagai aktivitas terutama hubungan kausal. Bahkan, anak-anak berumur 2 tahun dapat mengidentifikasi berbagai jenis hubungan kausal di urutan peristiwa. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun jelas ada perbedaan perkembangan, anak-anak bahkan yang sangat kecil, ketika memahami peristiwa, menggunakan proses kognitif yang mirip dengan yang digunakan oleh anak-anak dan orang dewasa: Mereka mengidentifikasi koneksi dan menghasilkan kesimpulan. Selain itu, hasil ini juga menunjukkan bahwa proses serupa berkontribusi pemahaman narasi di media yang berbeda.Jadi, dengan menggunakan media yang berbeda memberikan kesempatan unik untuk menilai pemahaman secara independen keterampilan decoding dan sebelum anak-anak mulai resmi instruksi. Teori yang diterapkan dalam jurnal penelitian ini adalah teori periode perkembangan secara umum Jean Piaget pada tahap pra operasional. Dalam jurnal penelitian ini yang dapat saya tangkap adalah bahwa perkembengan anak dalam hal 3 ini adalah pemahaman membaca, terbentuk secara bertahap dan meningkat sesuai dengan kematangan usia nya. Piaget mengatakan bahwa pertahapan perkembangan itu berjalan menurut rancangan waktu batiniah anak anak. Mengapa saya mengatakan jurnal ini menerapkan teori piaget pada tahap pra operasional karena objek penitian dalam jurnal ini berusia antara 4-8 tahun. Penjelasan tahapan pra operasional adalah anak anak belajar berpikir menggunakan simbol-simbol dalam hal ini adalah bahasa, dan pencitraan batiniah namun pikiran mereka masih tidak sistematis dan tidak logis, pikiran di titik ini sangat berbeda dengan pikiran orang dewasa. Pentingnya mempublikasikan jurnal penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah lisan bahasa dan decoding keterampilan berkembang sesuai independen dan trek yang unik atau apakah mereka saling tergantung, Apakah perbedaan individu relatif stabil di waktu, dan, karenanya, merupakan keterampilan pada usia dini dapat diprediksi pada usia selanjutnya? Selain itu, keterampilan bahasa lisan dapat diprediksi dari pemahaman membaca pada usia lanjut?.dalam jurnal penelitian ini akan ditemukan jawaban nya bagaimana semesti nya para guru dan orang tua mengembangkan kemampuan membaca anak pada usia dini dengan melihat kontribusi bahasa lisan dan keterampilan decoding. Metode yang digunakan dalam jurnal penelitian ini rata rata berupa test observasi. Untuk melihat kemampuan keterampilan bahasa lisan menggunakan 3 test yaitu test pemahaman mendengarkan, test pemahaman televisi, dan test kosakata. Sedangkan untuk mengukur kemampuan keterampilan decoding menggunakan tes identifikasi huruf, identifikasi kata, dan kesadaran fonologi. Terakhir pengukuran keterampilan pemahaman membaca. Keterangan lebih lanjut untuk tiap tiap test adalah dalam pemahaman mendengarkan satu cerita naratif ditampilkan dalam bentuk kaset pada anak anak dalam beberapa waktu.waktu pertama cerita berjudul The Cat’s Purr dengan waktu 7 menit. Waktu kedua cerita berjudul The Rabbit and The moon dengan waktu 10 menit. Bersamaan dengan pemutaran audio cerita ditampilkan gambar-gambar yang 4 berhubungan dengan cerita. Kedua cerita sama sama memiliki standar dengan struktur kompeks dimana karakater protagonist melakukan beberapa upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam test pemahaman audiovisual atau televisi, anak anak diberi satu cerita naratif dalam bentuk audiovisualpada setiap titik waktu.waktu pertama disajikan cerita audiovisual yang berjudul Autumn Leaves dengan waktu 12 menit.Pada waktu kedua ditayangkan cerita yang berjudul Granny’s New Glasses dengan waktu 18 menit.kedua cerita memiliki standar tetapi terdapat struktur kompleks dimana karakter protagonis melakukan beberapa upaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Untuk tes kosakata ini memiliki PPVT-III sebagai ukuran standar kosakata reseptif untuk standar bahasa inggris pada kedua titik waktu. Dalam test ini memungkinkan siswa yang nonverbal untuk berpartisipasi dengan menunjukkan tanggapan. Test pemahaman huruf dan kata ini dipilih karena menyediakan informasi tentang kemampuan seorang anak untuk mengidentifikasi secara verbal baik kata ataupun huruf dalam waktu 5 detik.tes dimulai sesuai dengan usia item (level basal) dan berakhir ketika jawaban anak enam atau lebih berturut turut tidak benar atau ketika halaman terakhir tes telah diberikan. Tes Kesadaran fonologi digunakan untuk menilai kesadaran fonologi anak anak.pemeriksa menyajikan empat gambar untuk anak, menamai setiap gambar, dan kemudian meminta anak untuk mengidentifikasi(yaitu arahkan kea tau mengatakan) gambar yang dimulai dengan suara yang dihasilkan secara lisan oleh pemeriksa.misalnya pemeriksa mengatakan, “ini adalah wastafel,kucing,sarung tangan, dan topi. Gambar yang dimulai dengan huruf s adalah…” anak juga diminta untuk secara lisan menyajikan suara yang sama dengan apa yang ada di gambar yang telah ditunjukn oleh pemeriksa. 5 Test keterampilan pemahaman membaca menggunakan narasi tertulis untuk menilai pemahaman bacaan anak anak pada waktu dua (usia 8 tahun saja). Jurnal penelitian ini menguji bahasa lisan dan keterampilan decoding dari dua kelompok umur anak, yang pertama anak ketika berusia 4-6 tahun, dan diuji ulang ketika mereka berumur 6-8 tahun, masing-masing telah diambil tiga langkah dalam analisis penelitian nya. Pertama, peneliti memeriksa hubungan antara pengembangan keterampilan bahasa lisan anak anak dan keterampilan decoding dari prasekolah sampai sekolah dasar awal. Untuk melakukannya, peneliti menggunakan model persamaan struktural untuk menguji dua model (satu untuk setiap kelompok) yang berasal dari literatur. Dalam model ini, bahasa lisan dan keterampilan decoding terhubung selama prasekolah (usia 4) dan TK (usia 6). Karena kemampuan bahasa lisan mendahului pengembangan keterampilan decoding, dan karena itu, mempengaruhi perkembangan mereka, hubungan dalam model persamaan struktural berjalan dari kemampuan bahasa lisan menuju kemampuan keterampilan decoding. Kedua, dalam model ini, peneliti menguji stabilitas dan prediksi kekuatan keterampilan bahasa lisan anak anak, yaitu apakah kemampuan bahasa lisan pada usia dini diprediksi pada usia kemudian mereka dan apakah kemampuan bahasa oral di prediksi dengan pemahaman bacaan pada usia lanjut. Ketiga, peneliti menguji sejumlah model teoritis alternatif untuk memperoleh dukungan empiris terhadap kesesuaian model konseptual hipotesis peneliti serta pengukuran pemahaman naratif yang peneliti gunakan untuk menilai kemampuan bahasa lisan. Prosedur penelitian dalam jurnal ini yaitu pada waktu pertama ketika anak anak berusia 4-6 tahun anak-anak diuji secara individu dalam satu sesi oleh salatu dari tiga peneliti perempuan. Seluruh sesi itu direkam, dan tes pemahaman juga direkam. Setelah anak-anak telah diberi periode waktu tertentu untuk menjadi nyaman dengan pengaturan eksperimental, mereka menyelesaikan kesadaran fonologi dan penilaian kosa kata. Anak-anak kemudian mendengarkan aural (di kaset),Purr The Cat. Anak-anak diminta untuk mendengarkan dengan fokus sehingga mereka 6 bisa menjawab pertanyaan setelah cerita berakhir. Saat mendengarkan cerita, anakanak memiliki gambar-gambar yang disertai cerita yang tersedia. Segera setelah cerita itu selesai, peneliti meminta anak-anak untuk "memberitahu segala sesuatu Anda ingat tentang cerita dari awal "Jika seorang anak tidak dapat menyampaikan memori cerita yang sudah didengarkan dengan spontan, eksperimen mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik, "Apa yang terjadi di awal dari cerita "Anak-anak? diminta untuk terus mengingat cerita ("Apa lagi yang Anda ingat?"), sampai mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bisa mengingat apa pun. Karena anak-anak muda sering kesulitan secara spontan melaporkan memori mereka untuk narasi, pertanyaan yang sedikit lebih spesifik kemudian diberikan. Untuk setiap episode dalam cerita itu (ditentukan oleh prosedur yang dijelaskan oleh Mandler & Johnson, 1977; Stein & Glenn 1979) bahwa seorang anak ingat secara spontan, eksperimen mengajukan pertanyaan di sesi berikut: "Anda ingat X. Apa yang terjadi sebelum X? "Dan" Apa yang terjadi setelah X? "pertanyaan ini diajukan hanya jika anak tidak mengingat episode yang berhubungan dengan pertanyaan Setelah istirahat sejenak, anak-anak menyelesaikan tes identifikasi huruf dan kata. Anak-anak kemudian menonton narasi audiovisual, Autumn Leaves. Prosedur untuk menilai pemahaman dari narasi audio visual itu identik dengan yang ada pada aural naratif. Pada waktu kedua ketika anak telah berusia 6-8 tahun anak-anak diuji secara individu dalam satu sesi oleh salah satu dari tiga peneliti (dua perempuan dan satu laki-laki). semua prosedur identik dengan waktu pertama, kecuali untuk mengesampingkan tes kesadaran fonologi,identifikasi huruf dan tugas pemahaman bacaan untuk anak anak usia 8 tahun. Penilaian pemahaman bacaan terjadi setelah anak-anak menyelesaikan tugas identifikasi kata. Prosedur untuk menilai pemahaman bacaan adalah paralel dengan pemahaman dari narasi aural dan audiovisual. Untuk memungkinkan perbandingan longitudinal, peneliti berbeda dan cerita identik di kedua titik waktu. 7 memberikan urutan tes yang Jumlah total peserta yang diuji adalah 297 anak. Data lengkap dikumpulkan dari 113 anak dalam kelompok 4-6 tahun dan 108 anak-anak dalam kelompok 6-8 tahun. Di kedua titik uji, anak anak usia 6 tahun atau baru saja menyelesaikan TK. Pada titik uji kedua, anak anak usia 8 tahun atau baru saja menyelesaikan kelas dua. Semua peserta berasal dari sebuah kota besar di Midwest atas, dan orang tua mereka secara tradisional berkolaborasi dalam proyek penelitian di universitas di mana Penelitian dilakukan. Sebagian besar (96%) adalah Putih. Akibatnya, sampel ini sangat homogen. Hasil temuan dalam jurnal penelitian ini adalah temuan ini menunjukkan, pertama, bahwa dalam setiap kelompok usia keterampilan bahasa lisan dan kemampuan decoding terbentuk cluster yang berbeda dan bahwa kelompok ini menunjukkan kontinuitas longitudinal. Berkenaan dengan Temuan terakhir, SEM menunjukkan bahwa keterampilan bahasa lisan pada satu usia unik diprediksi oleh kemampuan bahasa lisannya pada 2 tahun kemudian untuk kedua kelompok usia anak-anak (yaitu, dari usia 4 sampai usia 6, dan dari usia 6 sampai usia 8) dan, juga, bahwa keterampilan decoding pada usia dini unik diprediksi keterampilan decodingnya pada 2 tahun kemudian. Kedua, temuan menunjukkan bahwa dua set keterampilan sangat erat berhubungan dalam prasekolah dan dengan pengembangan hubungan ini menjadi lebih lemah, baik dari prasekolah untuk TK dan dari TK sampai kedua kelas. Secara khusus, SEM menunjukkan bahwa di prasekolah, kemampuan bahasa lisan diprediksi oleh keterampilan decoding tetapi pola ini lemah di kelas TK dan kelas 2 SD. Ketiga bahasa lisan dan keterampilan decoding masing masing secara independen memprediksi pemahaman membaca anak di kelas dua Jurnal penelitian ini menunjukkan bahwa penilaian awal keterampilann pemahaman tidak hanya mungkin tetapi juga berguna karena hasilnya dapat memprediksi kinerja pemahaman dalam konteks membaca pada masa depan,yaitu ketika anak terlibat dalam kegiatan membaca. Hubungan tumpang tindih antara kinerja pemahaman pada media yang berbeda misalnya televisi menunjukkan bahwa 8 penilaian pemahaman dalam konteks non-reading dapat digunakan untuk awal identifikasi siswa yang mungkin mengalami kesulitan dalam membaca. Selanjutnya, penelitian dalam jurnal ini menunjukkan bahwa peningkatan dan perkembangan pemahaman keterampilan pada anak pra sekolah bisa jadi menimbulkan peningkatan pemahaman ketika ia mencapai usia baca (sekitar kelas 2 SD). Misalnya kegiatan menonton atau mendengarkan televisi dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan dan mendorong pemahaman strategi bahkan sebelum adanya instruksi awal untuk yang lebih tua,. terakhir berkaitan dengan instruksi, pemisahan bahasa lisan dan keterampilan decoding memiliki pengaruh terhadap pendidikan langsung karena hal tersebut dapat memberikan kerangka konseptual untuk praktek pengajaran yang sesuai baik decoding dan keterampilan pemahaman. Misalnya,pemisahan keterampilan ini memungkinkan guru untuk memahami apa yang mereka butuhkan untuk mengajarkan tentang decoding dan pemahaman dalam kurikulum yang luas. Menurut saya kelebihan jurnal penelitian ini adalah bahasa yang digunakan cukup mudah untuk dipahami, data hasil penelitian yang dilampirkan cukup jelas, penyampaian objek penelitian dan pencantuman usia juga sangat jelas,penulisan nya sistematis, kekurangan jurnal penelitian ini menurut saya kurang adanya penjelasan mengenai teori apa yang mereka terapkan. Kesimpulan saya setelah mereview jurnal penelitian ini adalah bahwa ternyata peran bahasa lisan dan keterampilan decoding seorang anak berpengaruh cukup besar terhadap perkembangan pemahaman membacanya. jika dalam tahap perkembangan seorang anak kemampuan bahasa lisan nya bagus maka akan berpengaruh terhadap kemampuan dalam decoding nya dan jika kemampuan decoding seorang anak cukup bagus maka akan mengimplikasi keterampilan membaca seorang anak. pemahaman bacaan yang sukses adalah hasil dari pertemuan sebuah keterampilan unsur, masing masing memiliki jalur lintasan perkembangan sendiri. Lintasan ini dapat terjalin dan saling mempengaruhi pada tahap awal usia anak yang mana dalam penelitian jurnal 9 ini awal usia anak yang dipakai adalah 4 tahun.tetapi mereka juga tetap independen sampai tingkat yang cukup besar. Jurnal penelitian ini sangat membantu untuk menambah wawasan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak pada usia dini dan memberikan konsep konsep pengajaran yang sesuai dalam meningkatkan keterampilan pemahaman. 10

Judul: Review Jurnal Teori Perkembangan

Oleh: Fairizka Dhinda Izdihar


Ikuti kami