Jurnal Acara Batuan Beku.docx

Oleh Nadia Slsabla

797,5 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Acara Batuan Beku.docx

PENGAMATAN PETROGRAFI BATUAN BEKU ASAM, INTERMEDIET, BASA DAN ULTRABASA Syahreza Muslih Arafah1, Arsyad Hamsah2 D611 15 010 1 Praktikan Laboratorium Petrografi, Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Geologi, Universitas Hasanuddin 2 Asisten Laboratorium Petrografi, Fakultas Teknik, Departemen Teknik Geologi, Program Studi Teknik Geologi SARI Petrografi adalah salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang batuan dengan mikroskop. Maksud diadakannya pengamatan ini ialah untuk mengidentifikasi batuan beku berdasarkan analisis petrografi. Metode yang digunakan pada pengamatan ini ialah melakukan penyiapan sayatan tipis, melakukan pengamatan tekstur & struktur pada sayatan tipis, menentukan jenis mineral pada sayatan tipis, menentukan nama batuan, dan penyusunan laporan. Hasil dari penelitian ini adalah 1). Porfiri Granit dengan kandungan mineral Muskovit 10%, Ortoklas 33,4%, Kuarsa 33,4%, Biotit 10%, dan Massa dasar 10%. 2). Granit dengan kandungan mineralnya antara lain Kuarsa 31,67%, Biotit 16,67%, Muskovit 11,67%, Ortoklas 28,33%, Andesin 11,67%. ) Porfiri Latit Kuarsa dengan mineral terdiri dari mineral kuarsa 23,33%, ortoklas 21,67%, plagioklas 10%, hornblende 30%, piroksin 3,33% dan massa dasar 11,67%. 4) Porfiri Monzonit Kuarsa dengan mineral teridiri dari mineral kuarsa 31,67%, ortoklas 16,67%, plagioklas 25%, sanidine 11,67%, piroksin 3,33%, augite 5% dan massa dasar 6,67%. Kata Kunci : Petrografi, Mikroskopis, Mineral, IUGS, Streickeinsen bumi. Karena hasil pembekuan, maka ada 1. PENDAHULUAN Geologi merupakan cabang ilmu unsur kristalisasi material penyusunnya. yang mempelajari mengenai bumi serta Komposisi mineral yang menyusunnya penyusunnya. Salah satu penyusun bumi merupakan kristalisasi dari unsur-unsur ialah batuan yang dapat dikalsifikasikan secara kimiawi, sehingga bentuk kristalnya berdasarkan kandungan mineralnya yang mencirikan intensitas kristalisasinya. Maksud dari praktikum ini yaitu dapat diketahui hasil dari pengamatan Petrografi. Petrografi adalah cabang ilmu untuk mngidentifikasi batuan petrologi yang berfokus pada deskripsi menggunakan analisis petrografis. beku mineral Tujuan dari praktikum ini adalah penyusunnya. Kandungan mineral dan 1) untuk mengetahui nama batuan asam hubungan tekstur dalam batuan dijelaskan dalam pengamatan petrografis. 2) untuk secara rinci. Klasifikasi batuan didasarkan mengetahui nama batuan pada informasi yang diperoleh selama dalam pengamatan petrografis. 3) untuk analisis petrografi. Selain itu Petrografi mengetahui nama batuan merupakan salah satu cabang dari ilmu dalam pengamatan petrografis. rinci dari batuan serta kebumian yang mempelajari batuan berdasarkan kenampakan mikroskopis, termasuk didalamnya untuk dipergunakan sebagai langkah pemerian, pendeskrifsian dan klasifikasi batuan. Pemerian secara petrografi pada batuan pertama-tama melibatkan identifikasi mineral (bila memungkinkan), dan penentuan komposisi dan hubungan tekstural antar butir batuan. Batuan beku terbentuk karena pendinginan dan pembekuan magma. Magma adalah cairan silikat pijar didalam bumi, bersuhu tinggi (900 - 13000 C), terbantuk alamiah dan berasal dari dalam perut bumi atau bagian atas selimut atau cenderung bergerak kebagian permukaan intermediet intermediet 2. TUJUAN PUSTAKA Di alam batuan beku memiliki keanekaragaman jenis. Karena itu, klasifikasi dan penamaan terhadap batuan beku perlu dilakukan demi kemudahan dalam pengenalan dan pemanfaatannya. Klasifikasi batuan beku dapat dilakukan tekstur, mineralogi, dan komposisi kimia. Klasifikasi batuan berdasarkan tekstur dan komposisi mineral merupakan klasifikasi secara kualitatif, sedangkan klasifikasi berdasarkan persen komposisi kimia merupakan klasifikasi secara kuantitatif. (Jahidin, 2010). Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma diuraikan yang mendingin dan mengeras, dengan extrusive, dan intrusive). Dan batuan beku atau tanpa proses kristalisasi, ini baik di diatas mungkin (volkanik, terbentuk plutonik, oleh proses bawah permukaan sebagai batuan intrusif magmatik, metamorfosa, atau kristalisasi (plutonik) maupun di atas permukaan metasomatism (Noor, 2009). sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.(Noor, 2012). Petrografi adalah salah satu cabang Gambar 2.1 Klasifikasi IUGS (Bas & Streckeisen, 1991) ilmu geologi yang mempelajari tentang Klasifikasi berdasarkan tekstur dan batuan-batuan dengan mikroskop. Analisi mineralogi batuan biasanya dilakukan petrografi adalah suatu metode yang sangat melalui analisis petrografi sayatan tipis mendasar untuk batuan (thin section). Klasifikasi batuan mendukung analisis data geologi. (Dwi & beku secara normative yang merupakan Stiwinder, 2012) klasifikasi secara kuantitatif adalah klasifikasi batuan berstandar IUGS yang berfungsi Penamaan batuan beku ditentukan berdasarkan dari komposisi mineral- (International Union Geological Science). mineral utama (ditentukan berdasarkan Klasifikasi ini berdasarkan pada kuantitas persentase volumenya) dan apabila dalam beberapa komposisi kimia dan persen penentuan komposisi mineralnya sulit mineralogi QAPF normatif (Quartz, Alkali ditentukan secara pasti, maka analisis feldspar, Plagioklas, dan Felspatoid) yang kimia dapat dilakukan untuk memastikan terkandung komposisinya. Yang dimaksud dengan batuan klasifikasi batuan beku disini adalah semua dilakukan untuk menciptakan keseragaman batuan beku yang terbentuk seperti yang dalam penamaan batuan (Jahidin, 2010). dalam beku batuan. berstandar Klasifikasi IUGS perlu Diferensiasi magma adalah proses mineral-mineral Olivine, pyroxene, dan penurunan temperatur magma yang terjadi Ca-Plagioklas maka konsentrasi larutan secara dengan magma akan semakin bersifat basa hingga terbentuknya mineral-mineral seperti yang intermediate dan pada kondisi ini akan ditunjukkan dalam deret reaksi Bowen. terbentuk Pada penurunan temperatur magma maka Biotite dan Plagioklas yang intermediate mineral yang pertama kali yang akan (Labradorite – Andesine) yang merupakan terbentuk mineral pembentuk batuan Gabro (basa) perlahan yang diikuti adalah mineral Olivine, mineral Amphibol, kemudian dilanjutkan dengan Pyroxene, dan Hornblende, Biotite (Deret tidak kontinu). terbentuknya Pada deret yang kontinu, pembentukan diatas, maka sekarang konsentrasi magma mineral dimulai menjadi semakin bersifat asam. Pada mineral Ca-Plagioclase dengan terbentuknya dan diakhiri Diorite mineral (intermediate). Dengan mineral-mineral tersebut kondisi ini mulai terbentuk mineral- dengan pembentukan Na-Plagioclase. Pada mineral K-Feldspar penurunan temperatur selanjutnya akan Plagioklas (Albit), Muscovite, dan Kuarsa terbentuk mineral K-Feldspar(Orthoclase), yang kemudian dilanjutkan oleh Muscovite dan penyusun batuan Granite dan Granodiorite diakhiri (Proses diferensiasi magma ini dikenal dengan terbentuknya mineral Kuarsa (Quartz). Proses pembentukan merupakan (Orthoclase), Namineral-mineral dengan seri reaksi Bowen). (Noor, 2009) mineral akibat proses diferensiasi magma Ketika minera felsik di bawah dikenal juga sebagai Mineral Pembentuk 10%, klasifikasi streckeisen melibatkan Batuan (Rock Forming Minerals) (Noor, olivine, piroksen dan hornbende membagi 2009). jenis batuan ultrabasa menjadi 3, yaitu Pembentukan batuan yang peridotit, pyroxinite, dan hornblndit. Bas berkomposisi ultrabasa, basa, intermediate, dan Streckeisen membahas ini untuk dan asam dapat terjadi melalui proses semua batuan. (Bas & Streckeisen, 1991) diferensiasi magma. Pada tahap awal penurunan temperatur magma, maka mineral-mineral yang akan terbentuk untuk pertama kalinya adalah Olivine, Pyroxene dan Ca-plagioklas dan sebagaimana diketahui bahwa mineral-mineral tersebut adalah merupakan mineral penyusun batuan ultra basa. Dengan terbentuknya color index. Kandungan SiO2, Al2O3, Fe2O3 dalam suatu batuan akan sangat berpengaruh dalam penamaan batuan itu. Sedangkan color pengklasifikasian index batuan adalah berdasarkan warnanya. Berdasarkan Gambar 2.2 Klasifikasi Streckeisen (Bas & Streckeisen, 1991) Tabel klasifikasi Travis adalah tabel yang menjelaskan penamaan atau pemerian nama batuan berdasarkan kandungan mineral penyusunnya. Tabel ini mengklasifikasikan berdasarkan mineral batuan beku penyusun batuan tersebut (essential minerals, accessory minerals) dengan melihat jumlah mineral apa saja yang melimpah dan dominan. Mineral yang demikian disebut dengan essential minerals. Mineral – mineral ini adalah mineral yang paling menentukan nama suatu batuan. Contohnya adalah quartz, feldspathoid, dan feldspar. Sedangkan accessory minerals adalah mineral yang keberadaanya lebih sedikit dibangkan dengan mineral esensial namun dapat juga menentukan dalam penamaan suatu batuan. Contoh dari mineral aksesori ini adalah biotite, muscovite, dan sebagainya. Selain berdasarkan komposisinya, Russell juga mengklasifikasikan batuan beku berdasarkan komposisi kimianya dan teksturnya, beliau juga mengklasifikasikan batuan kedalam 3 kelompok besar yaitu faneritik, porfiritik, dan afanitik. Faneritik adalah tekstur batuan yang mempunyai ukuran mineral yang relatif sama dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Porfiritik adalah tekstur batuan yang mineral-mineralnya memiliki ukuran yang berbeda dan dapat dilihat dan dibedakan dengan mata telanjang. Porfiritik ini masih dibagi lagi menjadi phaneritic groundmass yaitu batuan yang mempunyai mineral yang berukuran besar (fenokris) tetapi massa dasar yang masih nampak dan aphanitic groundmass yaitu batuan yang memiliki fenokris dengan massa dasar yang halus dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (mikroskopis). Afanitik adalah tekstur batuan semua mineral penyusunnya berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Afanitik dibagi menjadi glassy. Glassy microcrystalline adalah tekstur dan yang keseluruhannya terdiri dari kaca seperti obsidian dan pitchstone. (Travis, 1955) Gambar 2.3 Klasifikasi Travis 1955 Berikut ini cara yang cukup lama. Langkah selanjutnya penggunaan Klasifikasi Travis. Jika ada adalah pengamatan tekstur batuan tersebut, sebuah batuan, pertama-tama yang kita jika teksturnya faneritik dan memiliki lakukan kandungan lebih dari 2/3 dari keseluruhan adalah mineral-nya. adalah meninjau Mineral essential yang feldspar dengan quartz lebih dari 10% mendominasi batuan tersebut. Jika batuan maka batuan tersebut adalah granite, bila tersebut memiliki jumlah potash feldspar quartz dan feldspathoid kurang dari 10% lebih dari 2/3 dari keseluruhan feldspar, maka batuan tersebut adalah syenite. Dan maka tersebut jika teskturnya porfiritik dan groundmass- bersifat asam (felsic). Setelah itu amati nya faneritik maka batuan tersebut adalah keberadaan mineral aksesorinya. Namun, granite nama batuan tidak dapat diketahui hanya teskturnya porfiritik dan groundmass-nya dengan afanitik maka batuan tersebut adalah kemungkinan meninjau apakah batuan komposisi mineral porphyry, rhyolite melihat lagi aspek color index dan penggunaan tabel diatas, semua penamaan komposisi kimia. Komposisi kimia ini batuan tergantung dari komposisi mineral tidak dapat dilakukan dilapangan dengan yang mencakup essential minerals dan pengamatan dapat accessory minerals, color index, komposisi pengamatan kimia, dan yang terakhir adalah tekstur diketahui akan melalui tetapi laboratorium, hal ini dapat menyita waktu batuan tersebut. Demikian jika batuan tersebut untuk itu kita masih harus mata, porphyry. sedangkan cara 3. METODE PENELITIAN 4. PEMBAHASAN Adapun metode penelitian yang 1. Batuan Beku Asam dilakukan pada pengamatan sayatan tipis a) ST 10 ini yaitu : a) Dari sampel sayatan tipis batuan ini dalakukan penelitian dengan menggunakan mikroskop polarisasi dengan tipe Nikon E-100. Gambar 4.1 Sayatan Tipis Batuan Beku Asam ST 10 b) Kemudian dalam penelitian itu kita Berwarna mengamati tiap-tiap mineral yang ada dalam sayatan tipis batuan tersebut. c) Dari semua mineral yang telah diamati dan diberikan nama mineral berdasarkan klasifikasi IUGS,1973. absorbsi kuning kecoklatan, berwarna interferensi putih kecoklatan, bentuk subhedral, kristalinitas granularitas mineral euhedral- hipokristalin, porfiritik,relasi dapatkan inequigranular,. Ukuran mineral 0,3 – 3 kemudian dipresentasekan untuk dapat mm. Kandungan mineralnya antara lain menentukan nama batuan dari sayatan Muskovit 10%, Ortoklas 33,4%, Kuarsa tipis yang telah dilkukan pengamatan 33,4%, Biotit 10%, dan Massa dasar 10%. dengan Berdasarkan ciri fisik dari mineral dan d) Mineral-mineral yang menggunakan Travis,1995. di klasifikasi Klasifikasi Travis, 1955 maka diketahui nama batuan yaitu Porfiri Granit (Travis,1955). b) ST 12 Gambar 4.2 Sayatan Tipis Batuan Beku Asam ST 12 Berwarna kuning, bentuk mineral euhedral-subhedral, ukuran mineral 0,3 – 1,125 mm, warna interferensi berwarna abu-abu, tekstur faneritik, dengan mineral terdiri dari. Kandungan mineralnya antara lain Kuarsa Muskovit 31,67%, 11,67%, Biotit 16,67%, kehitaman, Ortoklas 28,33%, granularitas kristalinitas hipokristalin, faneroporfiritik, bentuk Andesin 11,67%. Berdasarkan ciri fisik mineral mineralnya dan Klasifikasi Travis, 1955 mineral ± 0,5 – 1,75 mm. Kandungan maka diketahui nama batuan yaitu Granit mineralnya antara lain Kuarsa (30%), (Travis,1955). Plagioklas (20%), Piroksin (10%), Sanidin 2. (10%), Ortoklas (25%), dan Massa dasar Batuan Beku Intermediet a) ST14 Kenampakan mikroskopis batuan warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman, kristalinitas granularitas mineral hipokristalin, faneroporfiritik, subhedral-anhedral, bentuk ukuran mineral ± 0,5 – 1,75 mm, komposisi mineral kuarsa, ukuran ( 5%). Gambar 4.3 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 14, DMP 1 memiliki subhedral-anhedral, plagioklas, augite, sanidine dan massa dasar. Kandungan mineralnya antara lain Kuarsa (30%), Plagioklas (35%), Augit (15%), Sanidin (15%), Massa dasar (5%). Gambar 4.5 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 14, DMP 3 Kenampakan mikroskopis batuan memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi kristalinitas abu-abu hipokristalin, kehitaman, granularitas faneroporfiritik, bentuk mineral subhedralanhedral, ukuran mineral ± 0,5 – 2,5 mm. Kandungan mineralnya antara lain Kuarsa (35%), Plagioklas (20%), Sanidin (10%), Ortoklas (25%), dan Massa dasar (10%). Berdasarkan ciri fisik dari mineralnya dan pemerian nama Klasifikasi Travis, batuan 1955 berdasarkan maka nama batuaannya yaitu Porfiri Monzonit Kuarsa (Russel B. Travis, 1955). b) ST 13MR9 Gambar 4.4 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 14, DMP 2 Kenampakan mikroskopis batuan memiliki warna absorbsi kuning kecoklatan, warna interferensi abu-abu Gambar 4.6 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 13MR9, DMP 1 Kenampakan mikroskopis batuan memiliki warna absorbsi kuning Kenampakan memiliki mikroskopis batuan absorbsi kuning warna kecoklatan, warna interferensi abu-abu kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman, kehitaman, hipokristalin, granularitas porfiroafanitik, bentuk mineral granularitas porfiroafanitik, bentuk mineral subhedral-anhedral, ukuran mineral ± 0,5 subhedral-anhedral, ukuran mineral ± 0,75 – 2,4 mm, kandungan mineralnya antara – 2,12 mm, Kandungan mineralnya antara lainOrthoklas lain Orthoklas (45%), Kuarsa (15%), hornblende (80%) dan Massa Dasar (10%). plagioklas kristalinitas (15%), hornblende kristalinitas (5%), hipokristalin, Kuarsa (5%) (10%), pyroksin (10%) dan Massa Dasar (5%). Gambar 4.7 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 13MR9, DMP 2 Kenampakan memiliki warna mikroskopis batuan absorbsi kuning Gambar 4.9 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 13MR9, Kenampakan mineral yang dominan Kenampakan memiliki mikroskopis batuan absorbsi kuning warna kecoklatan, warna interferensi abu-abu kecoklatan, warna interferensi abu-abu kehitaman, kehitaman, kristalinitas hipokristalin, kristalinitas hipokristalin, granularitas porfiroafanitik, bentuk mineral granularitas porfiroafanitik, bentuk mineral subhedral-anhedral, ukuran mineral ± 0,25 subhedral-anhedral, ukuran mineral ± 0,25 – 1,75 mm, kandungan mineralnya antara – 2,4 mm, komposisi mineral kuarsa lain Orthoklas plagioklas Kuarsa (35%), (23,33%) , ortoklas (21,67%), plagioklas hornblende (25%), (10%), hornblende (3,33%) dan (5%), (15%), pyroksin (10%) dan Massa Dasar (10%). Berdasarkan pemerian (30%), piroksen dasar (11,67%). massa ciri nama fisik batuan mineral serta berdasarkan klasifikasi Travis, 1955 maka nama batuan yaitu Porfiri latit kuarsa (Russel B. Travis, 1955). Gambar 4.8 Sayatan tipis Batuan Beku Intermediet ST 13MR9, DMP 3 5. PENUTUP 5.1 KESIMPULAN Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum ini yaitu: 1. Berdasarkan Pengamatan 5.2 SARAN Petrografi Adapun saran yaitu hendaknya serta ciri fisik dari mineral yang diamati pembaca dapat memberikan masukan serta serta melakukan penelitian yang lebih teliti pemerian nama batuan berdasarkan klasifikasi Travis, 1955 maka diketahui nama batuan beku asam tersebut yaitu Porfiri Granit dan Granit (Travis,1955). 2. Berdasarkan Pengamatan Petrografi serta ciri fisik dari mineral yang diamati serta pemerian nama batuan berdasarkan klasifikasi Travis, 1955 maka diketahui nama batuan beku intermediet tersebut yaitu Porfiri Monzonit Kuarsa dan Porfiri latit kuarsa (Russel B. Travis, 1955). terhadap pengamatan petrografi. DAFTAR PUSTAKA Bas, M. J. Le & Streckeisen A.L. 1991 University of Leicester. UK Dwi, Indah P. & Stiwinder R. P. 2012. Institut Sains & Teknologi AKPRIND. Yogyakarta Jahidin. 2010. Universitas Haluoleo. Kendari Noor, Djauhari. 2012. Insitut Pertanian Bogor. Bogor Travis, Russell B. 1955. Classification of Rocks. Quarterly of The Colordado School of Mines

Judul: Jurnal Acara Batuan Beku.docx

Oleh: Nadia Slsabla


Ikuti kami