Jurnal Diyah Dewi Gayatri

Oleh Diyah Dewi Gayatri

77,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Diyah Dewi Gayatri

Kebijakan Redaksional Dalam Pemberitaan Metro TV (Analisis Deskriptif Kualitatif Pada Acara Citizen Journalist Wide Shot) Oleh: Diyah Dewi Gayatri Pembimbing: Mondry dan Isma Adila Jurusan IlmuKomunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Abstrak Metro TV adalah pelopor program acara yang mengusung konsep Citizen Journalism yang ditayangkan di televisi. Berlatarbelakang konsep Citizen Journalism yang mengedepankan partisipasi dari masyarakat dalam menyampaikan sebuah informasi, maka pihak redaksional perlu strategi khusus untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam pemberitaan Metro TV. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, fokus penelitiannya adalah bagaimana kebijakan redaksional dalam pemberitaan di program acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV. Hasil penelitian kebijakan redaksional terdiri dari kebijakan internal dan eksternal, kebijakan internal meliputi: kebijakan pengambilan keputusan berita, kebijakan produksi berita, dan kebijakan etika jurnalistik. Kebijakan eksternal meliputi kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh warga. Kebijakan redaksional selain mempengaruhi bentuk video liputan warga juga mempengaruhi bentuk citizen journalism yang diaplikasikan pada media televisi, serta mempengaruhi pemberitaan dalam acara tersebut, hal tersebut dikarenakan adanya proses agenda setting dengan penekanan pada isu-isu tertentu yang terlihat pada tema liputan yang sering ditayangkan. Kata kunci: Kebijakan redaksional, Citizen Journalist, Agenda Setting Pendahuluan: Dalam perkembangan komunikasi massa yang sudah sangat modern dewasa ini, ada satu perkembangan tentang media massa, yakni ditemukannya internet (Nurudin, 2007:5). Media internet sebagai suatu media baru (new media), telah menghadirkan berbagai macam bentuk jurnalisme yang sebelumnya tidak kita kenal. Salah satunya adalah yang kita sebut sebagai “Jurnalisme Warga” (Citizen Journalism) (Haryati, 2007). Seiring semakin meningkatnya pengguna internet, sekarang semakin meningkatnya jurnalisme warga (Citizen Journalism) yakni bentuk jurnalisme yang melibatkan warga masyarakat untuk ikut mengisi media. Jurnalisme warga pada awalnya berkembang melalui media internet, tetapi sekarang sudah bisa dilakukan melalui media radio, televisi, dan surat kabar (Aceng Abdullah (Effendi, Khamzah dan Latifah, 2011:468). Citizen Journalism biasa disingkat dengan (CJ) adalah suatu genre yang baru di dunia komunikasi massa dalam ranah jurnalisme (Nurudin, 2009:214), sedangkan Citizen Journalist adalah panggilan untuk pelaku Citizen Journalism. Citizen Journalism sering juga disebut dengan participatory journalism, netizen, open source journalism, dan grassroot journalism dan dalam bahasa Indonesianya disebut dengan Jurnalisme Warga adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu. Seseorang tanpa memandang latar belakang pendidikan, keahlian dapat merencanakan, menggali, mencari, mengolah, melaporkan informasi (tulisan, gambar, foto, tuturan), video kepada orang lain. Jadi setiap orang bisa menjadi wartawan (Nurudin, 2009:215). Jurnalisme warga mulai berkembang pada tahun 1988 pada saat pemilihan Presiden AS. Jay Rossen, dosen Universitas New York, memperkenalkan genre jurnalistik 1 ini kepada warga AS. Media jurnalisme warga yang paling fenomenal adalah Ohmynews yang berpusat di Korea Selatan, didirikan pada tahun 2000 oleh Oh Yeon Ho. Sampai tahun 2007 Ohmynews memiliki 50.000 kontributor dari seluruh penjuru Korea Selatan. Sekarang Ohmynews memiliki edisi bahasa Inggris dengan kontributor tetap sekitar 1.000 orang dari sekitar 100 negara (Aceng Abdullah (Effendi, Khamzah dan Latifah, 2011:468). Di indonesia, jurnalisme ala warga telah hadir dalam keseharian melalui acara-acara talkshow di radio khususnya sejak awal tahun 90-an. Karena dilarang pemerintah menyiarkan program siaran berita, beberapa stasiun radio mengusung format siaran informasi. Pada program siarannya, stasiun radio tersebut (diantaranya adalah Radio Mara 106,7 FM di Bandung yang menjadi pionir siaran seperti ini) menyiarkan acara talkshow yang mengajak pendengar untuk aktif berpartisipasi melalui telepon untuk menyampaikan informasi maupun pendapat tentang sebuah topik hangat (Yudhapramesti, 2007:36). Belakangan jurnalisme warga bukan hanya dilakukan melalui media internet, radio, begitupun melalui media lainnya, salah satunya adalah media televisi. Televisi memiliki beberapa kelebihan yang banyak kesamaan dengan siaran radio (Mondry, 2008:21) seperti cepat dan langsung, mudah, tanpa batas, akrab dan relatif murah bila dibandingkan dengan media cetak karena radio dan televisi cukup sekali membelinya dan kemudian dapat dipakai untuk jangka waktu yang panjang. Akan tetapi, sebagai media dengan teknologi yang lebih canggih dibanding media cetak dan radio, televisi memiliki beberapa keunggulan lain yakni lebih “hidup” dan lebih “dekat” hal tersebut dikarenakan informasi televisi ada gambarnya (visual) sehingga dengan visual yang bagus pemirsa dapat merasa lebih “dekat” dengan sesuatu yang ditayangkan. Kelebihan televisi seperti yang dijelaskan tersebut, serta keterbukaan informasi dan ketersediaan teknologi lah yang membuat manusia terus meningkatkan inovasi untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Media terutama televisi melihat peluang tersebut dengan membuat programprogram acara baru yang mengikutsertakan masyarakat berpartisipasi aktif dalam menyampaikan informasi. Metro TV sebagai televisi swasta di Indonesia adalah pelopor program acara yang mengusung konsep Citizen Journalism yang ditayangkan di televisi. Acara yang diberi nama “Citizen Journalist” ini menjadi salah satu rubrik dalam program acara Wide Shot yang mulai 25 Desember 2011 hadir setiap Senin-Jumat Pukul 13.00-17.00 WIB. Metro TV pernah memiliki acara Snapshot yang memutar aneka video kiriman masyarakat, gambar video yang paling fenomenal karya warga masyarakat sehingga ikut disiarkan dihampir seluruh televisi di dunia adalah rekaman gambar bencana Tsunami Aceh yang amat sangat luar biasa (Aceng Abdullah (Effendi, Khamzah dan Latifah, 2011:468). Wide Shot merupakan salah satu program news yang ada di Metro TV, sebagai program baru Wide Shot menjadikan Citizen Journalism sebagai icon dan menjadi karakter utama program, sekaligus sebagai faktor pembeda dari seluruh program berita lain. Citizen Journalist (CJ) atau Jurnalisme Warga (JW), Wide Shot memberikan ruang bagi publik untuk turut serta terlibat dalam dunia jurnalistik. Semua masyarakat dapat berperan aktif menyampaikan informasi dengan mengirimkan hasil liputan tentang sebuah berita yang nantinya akan tayang pada rubrik Citizen Journalist dalam program acara Wide Shot (Wide Shot Metro TV, 2011). Wide Shot menentukan dua bentuk Citizen Journalism, yakni Citizen Reporter dan Citizen Video. Citizen Reporter diberikan kepada publik/warga yang berkeinginan untuk menjadi reporter citizen dengan 2 mendaftar via email nantinya tim redaksi akan memanggil peserta untuk melaksanakan coaching dan briefing terlebih dahulu. Citizen Video atau Video Amatir Wide Shot adalah kesempatan yang diberikan kepada publik untuk mengirimkan video tentang peristiwa di sekitar mereka, feature, budaya, dan hal lain yang menarik dengan cara upload melalui website (Wide Shot Metro TV, 2011). Berlatarbelakang konsep Citizen Journalism yang mengedepankan partisipasi dari masyarakat dalam menyampaikan sebuah informasi, maka tim redaksi Citizen Journalist (CJ) atau Jurnalisme Warga (JW) perlu strategi khusus untuk menyaring informasi yang masuk ke dalam pemberitaan Metro TV. Hal tersebut dikarenakan video liputan yang dikirim berasal dari masyarakat yang bukan pekerja media dan belum paham dan sadar tentang jurnalistik pada media massa, juga karena sebagai sebuah televisi nasional, tayangan Metro TV dilihat hampir oleh seluruh masyarakat Indonesia, untuk itu acara yang ditayangkan dapat berdampak langsung pada masyarakat, karena itu diperlukan kebijakan redaksional dalam menyaring informasi yang akan ditayangkan. Kebijakan redaksional tersebut berisi tentang aturanaturan tentang kriteria suatu berita yang baik dan layak ditayangkan pada program acara mereka. Hal ini dianggap menarik oleh penulis karena menggabungkan dua hal yang berlawanan antara kebebasan menyampaikan informasi dengan penyaringan informasi yang dilakukan media televisi. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka penulis berminat untuk mengkaji lebih jauh tentang bagaimana kebijakan redaksional dalam pemberitaan yang dilakukan redaksi program acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV untuk menyaring informasi dari masyarakat umum yang berpartisipasi pada program acara mereka. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yakni penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2010:6). Penelitian ini menggunakan tipe deskriptif yang bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu. (Kriyantono, 2010:71). Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif karena dapat menuntun penulis untuk menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya terkait kebijakan redaksional yang berlaku dalam program acara Citizen Journalist, Wide Shot Metro TV, kemudian membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat yang diperoleh pada saat penelitian. Fokus penelitian ini adalah bagaimana kebijakan redaksional dalam pemberitaan di program acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV untuk menyaring informasi dari masyarakat umum yang berpartisipasi pada program acara mereka. Penelitian ini menggunakan teknik pemilihan informan dengan teknik Sampling Purposif (Purposive Sampling), teknik ini mencakup orang-orang yang diseleksi atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat periset berdasarkan tujuan riset. Sedangkan orang-orang yang dalam populasi yang tidak sesuai dengan kriteria tersebut tidak dijadikan sampel (Kriyantono, 2010:160). Kriteria informan dalam penelitian ini adalah seseorang yang memahami dan dapat menjelaskan bagaimana kebijakan redaksional yang terjadi dalam acara tersebut, dengan informan kunci yakni Syaifudin selaku produser acara Citizen 3 Journalist Wide Shot Metro TV, dan informan utama, yang terdiri dari E. Arum Dian Prawesti selaku Production Assisten/Staff Produksi Citizen Journalist, Wide Shot, Rina Rahmadani selaku Runner Produser Wide Shot, dan Dodi Wijaya selaku editor Metro TV. Sumber data dalam penelitian ini menurut Sugiyono (2011:255) dapat dibagi menjadi dua, yakni : 1. Sumber primer dalam penelitian ini didapat dari wawancara mendalam dengan produser acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV, staff produksi, editor Metro TV, dan juga Runners Produser Wide Shot, serta hasil liputan program acara yang ditayangkan. 2. Sumber sekunder dalam penelitian ini didapat dari dokumen yang ada tentang peraturan dan kebijakan penyiaran pemberitaan yang ada di Metro TV, juga dokumen dari literatur, berbagai website yang terkait, dan sumber dari internet dan literatur lainnya yang relevan, seperti Peraturan Penyiaran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), UU Pers, Kode Etik Jurnalistik oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), dan lain-lain. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan, teknik wawancara dengan jenis wawancara mendalam dan semistruktur kepada produser acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV. Selain itu menggunakan teknik observasi, dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi partisipasi pasif, juga menggunakan teknik dokumentasi. Unit analisis dalam penelitian ini adalah : 1. Pernyataan dari hasil wawancara terhadap subjek penelitian, yakni produser acara dan anggota redaksi program acara Citizen Journalist Wide Shot Metro TV. 2. Hasil liputan yang ditayangkan Penelitian ini menggunakan analisis data yang terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles, dan Huberman, 1992:16). Dalam penelitian ini juga, penulis menggunakan tabel analisis hasil olahan penulis tentang aplikasi kebijakan pada video yang telah tayang pada tahap penyajian data. Triangulasi dalam penelitian ini adalah triangulasi metode, triangulasi metode adalah usaha mengecek keabsahan data atau mengecek keabsahan temuan riset. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan informasi yang sama (Kriyantono, 2010:73). Dalam penelitian ini karena subjek yang diteliti hanya pada satu pihak maka untuk penilaian kesahihannya peneliti menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan data, yakni wawancara, observasi dan analisis dokumentasi. Hasil Dan Pembahasan: Pembuatan kebijakan redaksional dalam program acara berita di Metro TV berada di tingkat Pemimpin Redaksi (PemRed), Pemred dibantu oleh Secretariat Redaksi membawahi Produksi & Special Project/Event, kemudian membawahi beberapa divisi yang salah satunya adalah Produksi Berita yang dipimpin oleh Ketua Produksi Berita, dibawah struktur Ketua Produksi Berita ada Eksekutif Produser, kemudian Eksekutif Produser membawahi Produser, lalu produser acara program disini adalah yang membawahi langsung staff produksinya. Kebijakan umum Metro TV, dan kebijakan redaksional dalam pemberitaan yang berlaku di Metro TV secara umum pasti berdampak untuk semua program acara yang ada kemudian digabungkan dengan tujuan serta kebutuhan masing-masing program. Menurut Produser Citizen Wide Shot kebijakan Journalist redaksional tersebut mengatur tentang tayangan pada pemberitaan Metro TV secara umum yang disesuaikan dengan hakikat Metro TV sebagai televisi publik. 4 Berdasarkan acuan pedoman dari kebijakan umum Metro TV, kebijakan umum program acara Wide Shot, kebijakan redaksional pada program berita di Metro TV yang semuanya mengacu pada Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/KPI/03/2012 dan hasil dari rapat redaksi program acara Citizen Journalist Wide Shot menghasilkan sebuah bentuk kebijakan redaksional pada rubrik acara Citizen Journalist Wide Shot yang tertuang dalam format-format program acara tersebut. Format tersebut meliputi, bentuk Citizen Journalism, penentuan sumber video, kategori liputan, durasi video, format peliputan, format gambar (terdiri dari, ukuran video, gambar yang boleh dan tidak boleh dipakai), pengaturan jam tayang, jumlah video yang tayang dalam setiap harinya, jenis atau tema berita yang ditayangkan, kriteria dalam pemilihan video liputan masyarakat, serta dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut. Kebijakan tersebut tidak tertulis melainkan pelaksanaan langsung dalam prakteknya, ada peraturan tertulis yang hanya berupa sejarah Wide Shot dan juga format peliputan, untuk format peliputan pun sangat flexible tergantung apa yang terjadi di lapangan. Kebijakan redaksional yang ada dalam acara Metro TV terdiri dari kebijakan internal dan juga eksternal. Kebijakan internal merupakan ketentuan atau caracara yang disepakati oleh tim redaksi Citizen Journalist, Wide Shot tentang mencari, memilih, mengolah dan meyiarkan berita hasil liputan warga, kebijakan tersebut meliputi, Kebijakan Pengambilan Keputusan Berita, Kebijakan Produksi Berita, kebijakan Etika Jurnalistik. Kebijakan eksternal merupakan kebijakan redaksional yang dibuat oleh redaksi Citizen Journalist, Wide Shot tentang bagaimana mengatur kriteria-kriteria yang harus dipenuhi oleh video hasil liputan warga agar dapat ditayangkan. Kebijakan tersebut disampaikan kepada masyarakat melalui promosi di berbagai media seperti televisi yakni video promo program atau video turorial yang ditayangkan selama program acara berlangsung, melalui internet, pada website, blog dan youtube, akun facebok, twitter, dan juga melalui pemberian materi saat coaching. Program acara Citizen Journalist merupakan salah satu rubrik di dalam program acara Wide Shot yang merupakan salah satu program acara yang ada di Afternoon Show, Afternoon Show adalah salah satu program harian news atau berita Metro TV yang berada dibawah Produksi Berita. Untuk sebuah program acara seperti Citizen Journalist, produser diberi kendali penuh atas apa yang terjadi pada programnya dengan pedoman dari kebijakan umum Metro TV yang mengacu pada Visi dan Misi Metro TV, UU no. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, dan Peraturan KPI No. 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran. Keputusan tertinggi dalam pengambilan keputusan terhadap penayangan berita berada pada keputusan produser, hal tersebut dikarenakan semua produser program acara berita sudah paham betul dengan konsep acara mereka, dan tidak memungkinkan untuk rapat redaksi dengan Pemred sebelum mengambil keputusan, karena rapat antara produser dengan bagian pemberitaan dilakukan seminggu sekali. Terdapat tiga tahapan filter keputusan untuk memutuskan suatu tayangan dapat ditayangkan, Filter I pada tahap ini adalah keputusan untuk menindak lanjuti sebuah tema, kemudian pelaksanaan peliputan yang di dampingi oleh campers Metro TV, lalu proses editing kasar oleh redaksi. Filter II pada tahap ini semua video yang sudah diedit kasar pada saat coaching dipilih oleh Produser, kemudian Staff Produksi melakukan supervisi/ pendampingan untuk proses editing, jadi editor didampingi oleh staff produksi, setelah diedit Produser memutuskan lagi video tersebut dapat tayang atau tidak, setelah video disetujui oleh produser maka 5 berlanjur pada Filter III, pada tahap ini Runner Produser memilih lagi video yang telah disetujui oleh Produser untuk ditayangkan. Kebijakan produksi berita juga dipengaruhi oleh kebijakan umum Wide Shot yang menjelaskan usaha-usaha pegemasan liputan dari jurnalisme warga. Pengemasan liputan tersebut dapat dilihat dari tahapan produksi yang ada dalam program acara Citizen Journalist Wide Shot, tahapan produksi tersebut akan dijelaskan menggunakan tahapan produksi menurut Wibowo (2007:39), yang terdiri dari tiga bagian di televisi yang disebut standard operation procedure (SOP), tahapan tersebut meliputi: Pra Produksi (ide, perencanaan, dan persiapan), Produksi (pelaksanaan), serta Pasca Produksi (penyelesaian, penayangan dan evaluasi) Kebijakan etika jurnalistik disini lebih kepada menyangkut penyerapan nilai-nilai kode etik profesi tentang peraturan sebuah media televisi dalam hal menyiarkan sebuah liputan berita pada program acaranya. Peraturan yang menjadi acuan segmen Citizen Journalist (Jurnalisme warga) Wide Shot salah satunya adalah kode etik jurnalistik, karena meskipun semua tayangan adalah berasal dari warga, tetapi kegiatan ini merupakan kegiatan jurnalistik dalam dan terdapat kerja tim redaksi dalam pendampingan dan proses editing yang merupakan wartawan profesional di Metro TV. Untuk itu sebagai jurnalis profesional semua tim redaksi Citizen Journalist, Wide Shot yang terdiri dari Produser, Staff Produksi, Editor, dan Kameraman, menaati nilai-nilai yang terkandung Pasal-Pasal Kode Etik Jurnalistik, dan bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai etika jurnalistik tersebut kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi. Penanaman etika jurnalistik tersebut dilakukan pada saat coaching, ketika coaching peserta diberikan pendekatan tentang penggunaan etika jurnalistik, misalnya dalam keberimbangan narasumber. Hal tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung pada Kode Etik Jurnalistik Dewan Pers pasal 1 yang berbunyi “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk”, juga pada pasal 3 yang berbunyi “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”. Oleh karena itu sebagai wartawan profesional semua tim redaksi bertanggung jawab penuh atas liputan warga, karena selain mereka adalah yang menyiarkannya di televisi juga karena mereka ikut berperan dalam pembuatan liputan tersebut. Bentuk kebijakan redaksional pada video kiriman warga setelah proses editing adalah pengaturan durasi, penambahan template, penambahan narasi berupa suara atau yang biasa disebut dengan dubbing, dan musik. Template digunakan pada judul, keterangan nama, keterangan berita, keterangan pengirim, dan penambahan narasi berupa tulisan. Format template berupa tulisan berwarna putih dengan latar belakang kotak berwarna hitam transparan dengan tulisan berisi keterangan informasi pada video tersebut, seperti judul, keterangan pengirim, waktu dan tempat kejadian, diberi tulisan keterangan nama narasumber. Keterangan tersebut biasanya muncul dua kali setelah pada awal video, muncul juga ketika video akan berakhir. Format tersebut hampir digunakan untuk semua video, dan diberikan pada saat proses editing oleh editor, yang mana format tersebut telah dibuat dan disepakati oleh redaksi sebelumnya. Bentuk kebijakan yang pasti digunakan adalah pengaturan durasi, penggunaan template judul, keterangan berita, dan keterangan pengirim selebihnya sama dengan video aslinya karena tidak banyak yang berubah dari hasil video aslinya. Selain penggunaan template atau format penulisan narasi dan judul, para CJ juga 6 mengucapkan tagline dalam opening maupun closing dengan kalimat “...melaporkan untuk Wide Shot Metro TV”, hal ini tidak ditambahkan pada saat proses editing melainkan sudah ada pada video yang dikirimkan, biasanya yang memakai tagline ini adalah para CJ yang pernah mengikuti coching karena mendapat arahan dari tim redaksi pada saat proses produksi berlangsung hal ini dikarenakan sebagai penunjuk pemakaian identitas untuk program acara ini agar masyarakat dapat mengenal dan mengingatnya. Bentuk-bentuk liputan program acara ini yakni citizen video dan citizen reporter dapat diklasifikasikan ke dalam bentuk citizen journalism menurut Steve Outing (Nurudin, 2009:217) yakni bentuk Standalone citizen journalism site, dan Hybrid: pro + citizen journalism. Stand-alone citizen journalism site, adalah yang melalui proses editing. Sumbangan laporan dari warga, biasanya tentang hal-hal yang sifatnya sangat lokal, yang dialami langsung oleh warga. Editor berperan untuk menjaga kualitas laporan, dan mendidik warga (kontributor) tentang topik-topik yang menarik dan layak untuk dilaporkan. Dalam program ini semua kiriman dari warga akan melalui proses editing untuk nantinya ditayangkan. Sedangkan Hybrid: pro + citizen journalism adalah suatu kerja organisasi media yang menggabungkan pekerjaan jurnalis profesional dengan jurnalis warga. Disini redaksi sebagi jurnalis profesional melakukan pendampingan dari tahap produksi hingga produksi, nantinya dalam tahap pasca produksi yakni proses editing hanya redaksi yang mengolahnya. Baik jurnalis profesional dan jurnalis warga sama-sama melakukan kegiatan yang bersangkut paut dengan kewartawanan. Etika sebagai pewarta warga atau citizen reporter adalah etika keseharian tentang moral baik dan moral buruk. Sebutlah itu etik values, yakni etisetis berupa sanksi moral jika berbuat salah karena menyerang kehormatan seseorang atau lembaga, sebaliknya akan mendapat penghormatan jika apa yang ditulis bermanfaat untuk orang banyak. Menjadi citizen reporter, bertanggung jawab pada diri sendiri dengan etika, moral, serta filsafat hidup yang berlaku universal yang dimiliki (Nugraha, 2012:3). Dari penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun menjadi Citizen Journalist yang menjunjung tinggi kebebasan dalam menyampaikan informasi dan tidak terikat oleh sebuah lembaga atau aturan-aturan yang mengikat, tetap saja harus memperhatikan tentang apa saja yang ditulis atau dilaporkan, karena tidak menutup kemungkinan tulisan atau laporan tersebut dapat merugikan orang lain. Begitu juga dengan kegiatan Citizen Journalism pada acara Citizen Journalist atau Jurnalisme Warga, Wide Shot Metro TV sebagai media penyalur aspirasi warga dalam menyampaikan informasi tentunya memiliki aturan-aturan yang tertuang dalam kebijakan redaksional acara tersebut agar liputan kiriman warga dapat ditayangkan dan dipertanggung jawabkan. Kegiatan citizen journalism dalam program ini tidak banyak peraturan yang mengikat atau membatasi karya warga, media televisi sebagai media penyalur disini berperan dalam menyebarkan secara luas informasi dari warga juga sebagai kontrol terhadap liputan warga dengan bertanggung terhadap liputan tersebut. Kontrol dimaksudkan untuk membuat liputan warga layak tayang, dan mengarahkan agar warga mengangkat tema dalam ruang lingkup jurnalisme warga. Tidak diberinya imbalan dengan pertimbangan bahwa jurnalisme warga bukan sebagai sebuah profesi wartawan yang mendapatkan gaji dari hasil liputannya juga untuk menjaga keberimbangan berita yang artinya berita tidak memihak pada institusi yang memberikan bayaran materi, tetapi dalam acara ini diberikan apresiasi bagi warga dengan hasil liputan yang terbaik, hal ini dimaksudkan memacu minat warga untuk 7 lebih perduli pada lingkungan sekitar dengan membaginya kepada khalayak yang lebih luas melalui media televisi. Selain kebijakan redaksional dalam format video terdapat pula kebijakan penayangan berita yang terlihat dari jenis tema berita (menurut kategori peneliti) yang ditayangkan yang di dalamnya terdapat proses agenda setting. Teori agenda setting adalah teori tentang kemampuan media dalam memengaruhi agenda publik. Tentang penggunaan teori agenda setting pada penelitian ini dapat dilihat dari analisis video hasil liputan selama bulan Februari 2013 hingga Maret 2013, dari hasil wawancara dalam satu bulan redaksi menerima kira-kira 10 video melalui pos, dan 60 video melalui website, untuk penayangannya dalam satu hari dibagai menjadi 2 segmen, dalam 1 segmen video yang tayang idealnya 3, jadi dalam satu hari tayang 3 sampai 6 video dalam satu bulan kira-kira tayang 60, jadi semua video yang masuk hampir keseluruhan ditayangkan, tetapi karena terbatasnya SDM (Sumber Daya Manusia) tidak ada data rekapitulasi harian yang lengkap terhadap video yang masuk, dan video yang tayang. Karena tidak adanya rekapitulasi data yang lengkap, peneliti hanya diberikan daftar video yang diunggah dari website pada bulan Februari sebanyak 35 video, dan dari video yang masuk melalui website tersebut hanya 16 video yang ditayangkan karena terdapat video event yang sama, video perayaan hari jadi suatu daerah yang melibatkan sponsorship di dalamnya, lebih banyak video dengan pertimbangan nilai berita yang tidak berdampak terlalu besar bagi pemirsanya, seperti contoh video kreatif warga. Sedangkan untuk video bulan Maret hanya ada 1 video yang diunggah, dan itu pun tidak ditayangkan karena menurut pernyataan dari Produser video itu tidak mengandung makna yang jelas dan sifatnya tidak informatif, selain itu pada bulan Maret tim redaksi mengadakan coaching di beberapa kampus di Surabaya, Jawa timur dan dari coaching tersebut menghasilkan 21 video, yang sebanyak 20 video tayang, dan satu video yang tidak tayang dikarenakan video tersebut menampilkan sebuah brand lokal Surabaya. Dari tabel tema dapat dibuat pemetaan yakni penggabungan tema kedalam tiga tema besar menurut unsur-unsur nilai berita yang terkandung sebagai berikut: 1. Tema berita dengan unsur aktual (timeliness) yang terdiri dari tema musibah, bencana alam, event, fenomena dan kriminalitas, dengan total jumlah video 22 video. 2. Tema berita dengan unsur dampak (consequence) yang terdiri dari tema kritisi fasilitas umum, aksi protes, kepedulian sosial, dan kisah inspiratif, dengan total jumlah video 19 video. 3. Tema berita dengan unsur kedekatan (proximity) yang terdiri dari tema tradisi, komunitas unik, dan wisata, dengan total jumlah video 19 video. Berdasarkan pemetaan tersebut, dapat ditemukan bahwa tema yang paling sering ditayangkan berdasarkan banyaknya jumlah video adalah tema yang mengandung unsur aktual (timeliness), karena tema ini dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi terkini dan memenuhi rasa keingintahuan masyarakat tentang apa saja yang sedang terjadi. Tema berita dengan unsur dampak (consequence) merupakan tema yang paling sering ditayangkan setelah tema dengan unsur aktual (timeliness) hal ini dikarenakan aksi kritisi masyarakat terhadap pemerintah dapat menunjukkan bahwa masyarakat tidak puas dengan kinerja kepemerintahan, hal tersebut dapat berdampak bagi perbaikan kinerja pemerintahan, juga dapat mengajak masyarakat lain untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka. Kemudian di urutan ketiga dengan total jumlah video sebanyak 14 video adalah tema berita dengan unsur kedekatan (proximity), liputan tentang sesuatu yang berasal dari masyarakat merupakan bukti 8 nyata bahwa liputan ini berada di ruang lingkup citizen journalist yang mana liputan dari warga memberitahukan tentang apa yang terjadi di sekitar mereka, sehingga menjadi ciri khas dengan seringnya menayangkan liputan unik tersebut. Dalam hal ini juga kedekatan yang dimaksud adalah secara geografis tentang kejadian unik yang terjadi disekitar masyarakat kota tertentu yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dapat menimbulkan rasa kepemilikan terhadap media pada masyarakat tersebut sehingga jumlah penontonnya pun dapat bertambah sesuai dengan wilayah yang ditayangkan keunikannya. Kebijakan redaksional pada program acara Citizen Journalist Wide Shot, Metro TV, merupakan sebuah agenda media karena didalamnya mengatur tentang pemberitaan sebuah tayangan program berita televisi. Oleh karena itu terdapat proses agenda setting yang mana agenda media (dalam hal ini berbentuk kebijakan redaksional) dapat mempengaruhi agenda publik (pemirsa Wide Shot) dalam hal pola pikir, tetapi sejauh ini pengaruh agenda media tersebut tidak berdampak negatif terhadap perilaku masyarakat melainkan hanya berdampak pada keseragaman liputan yang nantinya mereka kirim dikarenakan pengaruh agenda media tersebut yang menempa oleh isu-isu tertentu secara terus menerus. Meskipun tayangan Citizen Journalist merupakan tayangan berita, tetapi untuk tayangan news feature dikemas menarik agar pesan yang diangkat akan tersampaikan kepada khalayak, hal ini terlihat dari komentar penonton pada saat acara berlangsung juga pada perubahan sikap untuk membantu narasumber yang ada pada liputan tertentu. Kebijakan redaksional yang digunakan oleh tim redaksi Citizen Journalist Wide Shot untuk mengolah hasil liputan dari masyarakat agar dapat layak tayang, ternyata juga digunakan dalam menyeleksi dan mengarahkan kesadaran serta perhatian pemirsanya terhadap isu-isu yang dianggap penting oleh media berdasarkan kepentingan mereka juga, seperti isu-isu tentang komunitas unik, dan kritisi fasilitas publik yang ada disekitar masyarakat yang belum terjangkau oleh media mainstream. Dengan seringnya menayangkan liputan-liputan dengan tema yang seperti itu, dipertegas dengan lamanya durasi pada tema-tema yang dimaksud juga terdapat pengulangan pada beberapa liputan, serta pemilihan dua video liputan terbaik menurut redaksi, hal tersebut dapat membuat masyarakat tanpa sadar ingin membuat dan mengirimkan liputan yang seperti itu pula karena telah disuguhkan contoh yang seperti itu. Kesimpulan: Bentuk kebijakan redaksional program acara Citizen Journalist Wide Shot tertuang dalam format-format program acara tersebut. Format tersebut meliputi, bentuk Citizen Journalism, penentuan sumber video, kategori liputan, durasi video, format peliputan, format gambar (terdiri dari, ukuran video, gambar yang boleh dan tidak boleh dipakai), pengaturan jam tayang, jumlah video yang tayang dalam setiap harinya, jenis atau tema berita yang ditayangkan, kriteria dalam pemilihan video liputan masyarakat, serta dampak dari kebijakan-kebijakan tersebut. Kebijakan redaksional yang ada dalam acara Metro TV terdiri dari kebijakan internal dan juga eksternal, serta meliputi: Kebijakan pengambilan keputusan berita, Kebijakan produksi berita, Kebijakan Etika Jurnalistik Kebijakan redaksional disini ternyata selain mempengaruhi bentuk dari video kiriman warga ternyata juga mempengaruhi pemberitaan yang ditayangkan dengan menyeleksi dan mengarahkan kesadaran serta perhatian pemirsanya terhadap isu-isu yang dianggap penting untuk kepentingan media tersebut, isu-isu tersebut adalah tema yang mengandung unsur aktual (timeliness), tema berita dengan unsur kedekatan 9 (proximity), dan tema berita dengan unsur Daftar Pustaka Badjuri, Adi. 2010. Jurnalistik Televisi. Yogyakarta: Graha Ilmu Bagong, Suyanto dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Prenada Media Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin. 2011. Dasar-Dasar Penyiaran: Sejarah, Organisasi, Operasional, Dan Regulasi. Jakarta: Prenada Media Effendi, Daris, Andayani Khamzah dan Pipih Latifah. 2011. Fenomena Baru Dunia Jurnalistik. Komunikasi Kontekstual Teori dan Praktik Komunikasi Kontemporer. Bandung: Remaja Rosdakarya Kriyantono, Rachmat. 2010. Teknis Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Kusumaningrat, Hikmat dan Purnama Kusumaningrat. 2007. Jurnalistik, Teori dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. (terj. Rohidi, Tjetjep Rohendi) Jakarta: Universitas Indonesia Moleong, Lexy J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya Mondry. 2008. Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik. Bogor: Ghalia Indonesia Morissan. 2008. Jurnalistik Televisi Mutakhir. Jakarta: Kencana Muda, Deddy Iskandar. 2008. Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya Nurudin. 2009. Jurnalisme Masa Kini. Jakarta: Raja Grafindo Persada . 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Raja Grafindo Persada dampak (consequence). Rahkmat, Jalaludin. 2005. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Santana, Septiawan. 2005. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Obor Indonesia Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Suhandang, Kustadi. 2010. Pengantar Jurnalistik Seputar Organisasi, Produk, Dan Kode Etik. Bandung: Nuansa Syamsul, M. Romli Asep. 2008. Kamus Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Tamburaka, Apriadi. 2012. Agenda Setting Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers Tebba, Sudirman. 2005. Jurnalistik Baru. Jakarta: Kalam Indonesia Wibowo, Fred. 2007. Teknik Produksi Program Televisi. Yogyakarta: Pinus Dirgahayu, Dida. 2007. Citizen Journalism Sebagai Ruang Publik (Studi Literatur Untuk Menempatkan Citizen Journalism Berdasarkan Teori Jurnalistik dan Mainstream Media). Observasi Vol.5. No.1. hal.11. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Haryati. 2007. Selamat Datang Jurnalisme Warga!. Observasi Vol.5. No.1. hal.vi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Laksono, Fajar Tri. 2010. “Peran Blog Politik Sebagai Ruang Publik (Studi Fenomenologi Pada Pemaknaan Blogger Politik WordPress.com Tentang Citizen Journalism)”. Malang: FISIP Universitas Brawijaya Yudhapramesti, Pandan. 2007. Citizen Journalism (CJ) Sebagai Media 10 Pemberdayaan Warga. Observasi Vol.5. No.1. hal.36. Bandung: Simbiosa Rekatama Media Anonymous. 2013. UU Pers. Online. available at: http://pwi.or.id. diakses 24 Mei 2013. 15.24 WIB Anonymous. 2011. About Us. online. available at: http://metrotvnews.com. diakses 19 Juli 2012, 12:47 WIB Anonymous. 2013. Wide Shot Metrotv. Online. available at: http://facebook.com/wideshot1. diakses 25 Mei 2013, 22.35 WIB Anonymous. 2013. Komisi Penyiaran Indonesia Pusat. Online. available at: http://www.kpi.go.id/download/reg ulasi/P3SPS_2012_Final.pdf Nurhasanah. 2011. Kebijakan Redaksional Surat Kabar Media Indonesia Dalam Penulisan Editorial. online. available at: http://uinjkt.ac.id. diakses 8 Oktober 2012, 20:29 WIB Sugono, Dendi. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III. Online. available at: http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi /index.php. diakses 8 Juli 2013, 13.05 WIB 11

Judul: Jurnal Diyah Dewi Gayatri

Oleh: Diyah Dewi Gayatri


Ikuti kami