Jurnal Pendidikan Vokasi

Oleh Abdulloh Hamid

402,6 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Pendidikan Vokasi

138 − Jurnal Pendidikan Vokasi Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 Jurnal Pendidikan Vokasi − 139 PENANAMAN NILAI-NILAI KARAKTER SISWA SMK SALAFIYAH PRODI TKJ KAJEN MARGOYOSO PATI JAWA TENGAH Abdulloh Hamid Disdik SMPN1 Sukolilo doelhamid07@gmail.com Putu Sudira Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta putupanji@uny.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: nilai-nilai karakter, proses penanaman, faktor pendukung dan penghambat dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah Kajen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan teknik interviu, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan analisis interaktif model Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan (1) Nilai-nilai yang ditanamkan di SMK Salafiyah adalah nilai-nilai karakter Islam berbasis pondok pesantren; (2) Proses penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di SMK Salafiyah melalui konteks mikro dan konteks makro. Konteks mikro: integrasi nilai karakter dengan setiap mata pelajaran dan muatan lokal, budaya sekolah, dan kegiatan pengembangan diri. Konteks makro: keluarga, sekolah dan masyarakat; dan (3) Faktor pendukung dan pengambat: (a) faktor pendukung: SMK Salafiyah mempunyai SDM yang memadai, siswa SMK Salafiyah mayoritas di pondok pesantren, adanya sinergitas antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. (b) faktor penghambat: terbatasnya sarana dan prasarana, perbedaan pemahaman, belum adanya satu pondok pesantren, apatisme masyarakat terhadap SMK berbasis pondok pesantren. Kata kunci: Pendidikan karakter, Islam, pondok pesantren INCULCATING THE CHARACTER VALUES OF THE STUDENT OF SMK SALAFIYAH OF EXPERTISE PROGRAM CTN KAJEN, MARGOYOSO, PATI, JAWA TENGAH Abstract The objectives of this research are to find out: (1) the character education values, (2) the inculcation process of the character education values, and (3) the obstacles in inculcating the character education values at SMK Salafiyyah Kajen.This research was conducted used the fenomenological qualitative approach. The data were collected through interviu, partisipative observation, and document analysis. The data analysis was conducted by having interactive analysis of Miles and Huberman model. The results of this research are as folows. First, the values inculcated at SMK Salafiyyah are the Islamic character education based on the Islamic boarding school. Second, the inculcation process of character education values at SMK Salafiyyah is through micro-context and macro-context. The micro-context includes the integration of each subject and local content, school culture, and self-development activities. The macro-context includes family, school, and society. Third, the supporting factors and the obstacling factors. The supporting factors are SMK Salafiyah has the human resource, the student majority live in Islamic boarding school, and SMK Salafiyah has the synergy between the family, school and society. The obstacling factors are the shortage of infrastucture, the differences of understanding of character education, and unavailability of boarding school for the students, the publicapathy of SMK education based on the Islamic boarding school. Keywords: character education, Islam, Islamic boarding school. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 140 − Jurnal Pendidikan Vokasi PENDAHULUAN Di dalam kitab suci umat Islam Alqur’an disebutkan bahwa Nabi Muhammad diutus oleh Allah ke muka bumi sebagai uswah hasanah [contoh yang baik], (QS. Al Ahzab[33]:21) sejak itu pula Nabi Muhammad didaulat sebagai makhluk yang paling sempurna akhlaknya (QS.al Qalam[68]:4), dan juga di dalam Hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad ditugaskan untuk menyempurnakan akhlak (H.R. Baihaqi). Dari ayat-ayat Alqur’an dan Hadis di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang mempunyai akhlak yang baik (karakter yang baik) dapat dijadikan sebagai teladan yang baik, demikian juga bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang mempunyai sumber daya alam (SDA) yang melimpah saja tetapi juga didukung dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengelola dan me-manage SDA tersebut untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, sehingga dibutuhkan SDM yang mempunyai kecerdasan yang cukup. Selain kecerdasan, kualitas SDM juga dibutuhkan akhlak yang baik, integritas. Hal tersebut disetujui oleh Lickona (2004:iv): “Moral are the foundation upon which a country rises to great heights. Take away morals, and individuals, leaders, and countries fall” (old spiritual wisdom). Untuk mencetak SDM berkualitas dan berkarakter, maka harus ada sinergitas antara keluarga, sekolah dan masyarakat, karena karakter adalah berawal dari sebuah kebiasaan. Sekolah (pendidikan) adalah salah satu tempat yang strategis dalam pembentukan karakter selain di keluarga dan masyarakat, melalui sekolah proses penanaman nilai-nilai karakter siswa akan diaplikasikan baik melalui kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah, dan kegiatan pengembangan diri. Menurut Marthin Luther King tujuan pendidikan yang benar adalah membentuk peserta didik yang cerdas secara intlektual dan berkarakter “Intellegence plus character, that is the true education” (Lickona, 2004:xi). Permasalahan yang melanda Bangsa Indonesia sangat banyak sekali, antara lain dekadensi moral pelajar Indonesia seperti free sex, penyalahgunaan narkoba, meningkatnya penderita HIV-AIDS, tawuran antarpelajar, mencontek ketika ujian, dan lain-lainnya, demikian pula rusaknya moral bangsa Indonesia Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 juga melanda disetiap lini kehidupan seperti budaya korupsi, perbuatan asusila, kejahatan tindak kriminal, masih tingginya angka kemiskinan penduduk Indonesia yaitu: 28,07 juta orang (Purwanto, D. Kompas:01/07/13), serta masih tingginya angka pengangguran terdidik di Indonesia, seperti data badan pusat statistik (BPS, 2012) pada bulan agustus tentang pengangguran terbuka menurut pendidikan tinggi yang ditamatkan, lulusan SMK: 1,041, 265 dan lulusan SMA:1,832,109. Fenomena-fenomena di atas menunjukkan bahwa karakter dan moral bangsa Indonesia sudah mengalami dekadensi, sehingga langkah cepat perlu segera diambil untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif. Salah satunya yaitu dengan menggaungkan kembali “pendidikan karakter”. Banyak negara yang dalam menghadapi krisis menempatkan pembangunan karakter sebagai fokus untuk menemukan solusi. Revitalisasi bangsa Jerman oleh kekalahan perang dengan Perancis dilakukan dengan pendidikan karakter dan spiritualitas. Bangsa Jepang negerinya menghadapi urbanisasi, disertai introduksi pendidikan moral. Bangsa Amerika pada akhir abad keduapuluh yang sarat dengan aneka masalah mengintroduksi kembali pendidikan karakter (Suyata, 2011:4). Sejak ditetapkannya “Pendidikan Karakter” pertama kali oleh Kementerian Pendidikan Nasional pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2011, merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini, seperti: disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila; bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai kebudayaan bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan melemahnya kemandirian bangsa (Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa:2010-2025). Untuk mendukung perwujudan cita-cita pembangunan karakter di atas, maka pemerintah menjadikan pendidikan karakter sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Semangat itu secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015, pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan Jurnal Pendidikan Vokasi − nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.” Hal tersebut di atas senada dengan tujuan pendidikan nasional yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional-UUSPN pasal 3). Dengan demikian RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan karakter. Pendidikan karakter bukan sekedar aspek “pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga “merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action). Pendidikan karakter menekankan pada habit atau kebiasaan yang terus menerus dipraktikan dan dilakukan. Pokok-pokok sistem pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut: sekolah dasar 6 tahun yang dilanjutkan dengan 3 tahun pendidikan lanjutan pertama; sekarang dikenal dengan pendidikan dasar 9 tahun yang dicanangkan sebagai wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun sejak bulan Mei 1994. Pada tingkat lanjutan atas pendidikan dibagi menjadi dua jenis jalur pendidikan. Jalur pertama adalah pendidikan umum yang dilaksanakan melalui Sekolah Menengah Umum (SMU) atau Sekolah Menengah Atas (SMA). Jalur yang lain adalah pendidikan kejuruan yang dilaksanakan melalui sekolah kejuruan yang secara umum disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), SMK juga dituntut mengimplementasikan dan mengembangkan pendidikan karakter di satuan pendidikannya. Tujuan pengembangan pendidikan kejuruan dan vokasi secara holistik semestinya tidak tereduksi hanya pada proses pembentukkan keterampilan teknis semata untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Pendidikan kejuruan dan vokasi bukan pula sebatas schooling. Pendidikan kejuruan dan vokasi adalah pendidikan yang menuju pada proses inkulturisasi dan akulturasi yaitu proses memperadabkan 141 suatu generasi baru masa depan yang berlangsung di sekolah, keluarga, industri, dunia usaha, dan masyarakat terbuka yang porous (Putu Sudira, 2011:1), sehingga implementasi pendidikan karakter di SMK dapat mengupayakan terciptanya keselarasan antara karakter yang dikembangkan di sekolah dengan pembiasaan di rumah dan masyarakat. Agar pendidikan karakter dapat dilaksanakan secara optimal, pendidikan karakter bisa dilaksanakan melalui integrasi dengan mata pelajaran yang ada, mata pelajaran dalam muatan lokal (mulok) serta kegiatan pengembangan diri, namun realita di lapangan untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di masing-masing sekolah mengalami kesulitan, karena tidak adanya standar yang jelas sehingga pendidikan karakter masih belum menemukan bentuknya, dan masih dalam batas trial and eror, namun disisi lain tidak adanya draf standar yang jelas tentang pendidikan karakter, memberikan ruang untuk mengembangkan pendidikan karakter di masing-masing satuan pendidikannya. Maka atas dasar alasan yang kedualah, penelitian tentang “Penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah program keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) Pati Jawa Tengah” penting untuk dilakukan. SMK mempunyai ciri khas yang membedakan dengan sekolah menengah atas lainnya (SMA dan MA) yaitu hubungan erat dengan dunia kerja, pada awal berdirinya SMK didesain demikian rupa untuk bekerja, melanjutkan atau wiraswasta (BMW), serta dalam pembelajarannya banyak menggunakan learning by doing. Sehingga karakteristik dan kompetensi siswa SMK harus sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, seperti: berkarakter personal baik, berkarakter kerja kuat dan lainlain. SMK Salafiyah yang berada di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, merupakan SMK yang unik dan menarik untuk dijadikan obyek penelitian, salah satunya karena SMK Salafiyah dibangun dengan basis karakter pondok pesantren. Dan salah satu keunikan lainnya yaitu SMK Salafiyah berada di sebuah Desa Kajen, Desa Kajen terletak di Kecamatan Margoyoso, 18 km dari kota Pati ke arah utara, luas desa Kajen hanya 63 hektar. Kajen mempunyai sebutan “Desa Santri” karena di dalam satu desa tersebut terdapat banyak sekali pondok pesantren (20 Pondok PesanPenanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 142 − Jurnal Pendidikan Vokasi tren) yang juga merupakan pusat perkembangan Islam di Kabupaten Pati. Selain itu di desa tersebut ada makam waliyullah yaitu KH. Ahmad Mutamakkin. SMK Salafiyah secara geografis berdiri di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati, di Desa Kajen tersebutlah menurut data Kementrian Agama Kabupaten Pati terdapat 126 Pondok Pesantren. (Kemenag Pati, 2012:12) dan sering disebut dengan “Desa Santri” di desa tersebut ada pondok pesantren yang usianya sudah mencapai 1 Abad “Pondok Kulon Banon” di desa tersebut selain Yayasan Salafiyah juga ada pendidikan yang berbasis Pondok Pesantren lain yaitu Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen (PIM). Kalau dilihat dari awal mula berdiri SMK Salafiyah ini dimulai dari induk yayasannya yaitu Yayasan Salafiyah Kajen, yayasan ini mempunyai satuan pendidikan antara lain, Pondok Pesantren Salafiyah (dulu namanya Pondok Wetan Banon), Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah, Madrasah Tsanawiyah Salafiyah, dan Madrasah Aliyah Salafiyah, selain itu mayoritas siswanya adalah santri pondok pesantren, walau dari segi kurikulum SMK Salafiyah sudah menggunakan kurikulum resmi Dinas Pendidikan Kabupaten Pati, namun juga ditambahkan dengan nilai-nilai karakter yang ditanamkan pada peserta didiknya secara khas. Atas dasar tersebut di atas, penelitian ini sangat menarik untuk dilakukan untuk mendapatkan bentuk pendidikan karakter SMK pada program keahliah TKJ yang berbasis pondok pesantren. yang lain. Dari beberapa definisi tersebut di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi faham (kognitif) tentang mana yang benar dan yang salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik bukan hanya melibatkan aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan yang baik (moral feeling) dan perilaku yang baik(moral action). Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila (Balitbang Kemendiknas, 2011: 2) Proses penanaman nilai-nilai karakter siswa menurut Krathwohl, Bloom & Masia (1964) ada 5 tahap, yaitu:(1) Receiving (menyimak); (2) Responding (menanggapi); (3) Valuating (member nilai); (4) Organizing (mengorganisasikan nilai); (5) Characterization (karakteristik nilai), seperti gambar berikut: Pendidikan Karakter Secara etimologis, kata karakter berasal dari bahasa Yunani Charrassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Sedang dalam kamus Ingris-Indonesia karakter berasal dari kata character yang berarti watak, karakter atau sifat (Echols dan Shadily, 1995:5). Muchlas Samani & Hariyanto (2012: 43) memaknai karakter sebagai nilai-nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 Gambar 1. Affective domain Krathworl (1964:27) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2009:9-10) mengidentifikasi ada 18 nilai yang bersumber dari Agama, Pancasila, budaya, yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) Jurnal Pendidikan Vokasi − gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Ta’limul Muta’allim (As’ad, 2007:3551) menjelaskan nilai-nilai karakter seorang peserta didik yaitu: (a) menghargai ilmu; (b) menghormati guru; (c) memuliakan kitab/ buku; (d) menghormati teman; (e) sikap khidmat; (f) pemilihan bidang studi; (g) posisi tempat duduk; (h) menghindari akhlak tercela. SMK mempunyai ciri khas tentang pendidikan karakter yaitu: pendidikan karakter kerja, sebagai pendidikan yang mempersiapkan lulusannya memiliki daya hati (heart set) kerja, baik sebagai pekerja (pegawai), bekerja sendiri (sebagai pengusaha kecil), maupun sebagai orang yang memperkerjakan orang lain. Definisi ini jelas menuntut dilakukannya restrukturalisasi, rekulturasi dan refigurisasi pembelajaran pada institusi-institusi pendidikan yang khususnya memang dirancang untuk menyiapkan lulusannya memasuki lapangan kerja, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pendidikan Karakter SMK Pendidikan kejuruan bertujuan untuk menghasilkan manusia yang produktif, yakni manusia kerja, bukan manusia beban bagi keluarga, masyarakat dan bangsanya. Manusia menjadi manusia karena bekerja. Bekerja adalah sebuah tindakan, sebuah actus, untuk menyatakan kemandirian. Slamet PH (2011) membagi pekerjaan dikategorikan menurut sektor primer (pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan sebagainya), sektor sekunder (perusahaan mobil, perusahaan sepatu, perusahaan makanan dan sebagainya), sektor tersier atau jasa langsung misalnya transportasi, bank, perhotelan, dan sebagainya, dan sektor kuarter atau jasa tidak langsung misalnya penasihat, konsultan, dan sebagainya. Pekerjaan dapat juga diklasifikasikan menjadi sektor publik (pemerintahan) dan sektor swasta (perusahaan), sektor profit dan non profit, sektor riil dan keuangan, dan sektor formal dan informal. Tiap pekerjaan tersebut menuntut karakter kerja yang berbedabeda meski secara umum ada yang berlaku sama untuk semua jenis pekerjaan. Karakter kerja adalah nilai-nilai dasar kerja yang merupakan saripati kualitas rohaniah kerja seseorang yang dimensi-dimensinya meliputi intrapersonal dan interpersonal kerja. 143 Kualitas intrapersonal adalah kualitas batiniah (kualitas rohaniah) manusia yang bersumber dari lubuk hati manusia yang dimensi-dimensinya meliputi antara lain, etika kerja, rasa keingintahuan tinggi, disiplin diri, kejujuran, tanggung jawab, respek diri, kerja keras, integritas, ketekunan, motivasi kerja, inisiatif, keberanian moral, kerajinan, pengendalian diri, pembelajar cepat, kemauan mempelajari hal-hal baru, tahu cara belajar, keluwesan, kerendahan hati, dapat dipercaya, dan berjiwa kewirausahaan. Keterampilan interpersonal adalah keterampilan yang terkait dengan hubungan manusia yang dimensi-dimensinya meliputi antara lain: bertanggung jawab, sekap hormat kepada orang lain, kerja sama, penyesuaian diri, perdamaian, kecintaan pada sesame, komunikasi yang baik, kepeminpinan, kehalusan berbudi, solidaritas, toleransi, bijaksana, beradab, berani berbuat benar meskipun tidak popular, demokratis, sikap adil sikap tertib, berkelakuan baik, kasih sayang (cinta sesama) dan lain-lain. Dengan demikian, pendidikan karakter kerja dapat disarikan artinya sebagai pendidikan yang mempersiapkan lulusannya memiliki daya hati (heart set) kerja, baik sebagai pekerja (pegawai), bekerja sendiri (sebagai pengusaha kecil), maupun sebagai orang yang memperkerjakan orang lain. Definisi ini jelas menuntut dilakukannya restrukturalisasi, rekulturasi dan refigurisasi pembelajaran pada institusi-institusi pendidikan yang khususnya memang dirancang untuk menyiapkan lulusannya memasuki lapangan kerja, yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Menurut spektrum keahlian pendidikan menengah kejuruan tahun 2008 teknik komputer dan jaringan (TKJ) merupakan bagian dari kompetensi keahlian dari program studi keahlian teknik komputer dan informatika, yang merupakan bidang studi keahlian teknologi informasi dan komunikasi (TIK). TIK adalah teknologi yang digunakan untuk berkomunikasi dan untuk membuat, mengelola, dan mendistribusikan informasi seperti komputer, internet, telepon, televise, radio dan peralatan audiovisual lainnya (UNESCO, 2008:11). Suroso dan Adi Winanto (2009:3-4) menyatakan bahwa cakupan kompetensi penguasaan dan pemanfaatan TIK untuk pembelajaran dibagi dalam dua kategori, yaitu: dasar dan mahir. Kategori dasar meliputi: (a) presentasi multimedia; (b) penyusunan dokuPenanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 144 − Jurnal Pendidikan Vokasi men; (c) kalkulasi tabulasi; (d) manajemen berkas elektronik; (e) komunikasi efektif; (f) kolaborasi kelompok; (g) cari refrensi; (h) manajemen data; (i) kelola kebutuhan publikasi, dan (j) catatan personal. Adapun kategori mahir meliputi: (a) animasi multimedia; (b) pengembangan aplikasi sederhana; (c) pengembangan situs internet; (d) manipulasi data dan informasi; (e) ragam kolaborasi kelompok terpadu; (f) kolaborasi, komunikasi dan koperasi terpadu; (g) pengembangan jarring antar institusi; (h) analisa data; (i) manajemen akses jaringan; (j) kelola program; (k) penyelenggara kelas maya; dan (l) aplikasi permodelan. Pondok Pesantren Pada dasarnya pendidikan pondok pesantren disebut sistem pendidikan produk Indonesia. Atau dengan istilah Indigenious (pendidikan asli Indonesia). Pondok Pesantren adalah lembaga Pendidikan Islam yang tertua di Indonesia (Madjid, 2002:5). Dalam peraturan pemerintah republik Indonesia No.55 tahun 2007 tentang pendidikan agama dan keagamaan dijelaskan dalam pasal 26 ayat (1), yaitu: Pesantren menyelenggarakan pendidikan dengan tujuan menanamkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, akhlak mulia, serta tradisi pesantren untuk mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik untuk menjadi ahli ilmu Agama Islam (mutafaqqih fiddin) dan/atau menjadi muslim yang memiliki keterampilan/ keahlian untuk membangun kehidupan yang Islami di masyarakat. Steenbrink (1986) dalam bukunya Pesantren Madrasah Sekolah menjelaskan secara detail bagaimana metamorfosis pesantren yang bermula dari pengajaran Alqur’an (Pendidikan Islam yang paling sederhana), kemudian pengajian kitab (Pendidikan lanjutan), sampai menjadi sebuah institusi formal yang disebut “Madrasah” dan bahkan kemudian menjadi institusi modern yang bernama “Sekolah”, untuk itu sebelum membahas panjang lebar tentang pondok pesantren, maka ada baiknya saya mengulas tentang pengertian pondok pesantren. Istilah pondok pesantren terdiri dari dua kata yang menunjukkan pada suatu pengertian Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 yaitu kata pondok dan kata pesantren. Menurut Mujamil Qomar (2006:1) dalam pemakaian sehari-hari, istilah pesantren biasa disebut dengan pondok saja atau kedua kata ini digabung menjadi pondok pesantren. Secara esensial, semua istilah ini mengandung makna yang sama. Dalam bahsa Arab “ma‟had” atau pesantren adalah bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu yang terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala ma‟had. (Kamus Besar Indonesia, 2005:72). Definisi lain diungkapkan oleh Dhofier (1982:18) pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan Pe- dan akhiran -an yang berarti menunjukkan tempat para santri. Dalam perkembangan selanjutnya, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran Agama Islam, yang pada umumnya pendidikan dan pengajaran tersebut terimplementasikan dengan cara nonklasikal. Dimana seorang kiai mengajarkan santri berdasarkan kitab-kitab bahasa arab dari ulama’ulama’ besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santrinya tinggal dalam asrama. Menurut para ahli, pondok pesantren baru dapat disebut pondok pesantren bila memenuhi 5 syarat, yaitu: (1) ada kiai, (2) ada pondok, (3) ada masjid, (4) ada santri, dan (5) ada pengajian kitab kuning ( Tafsir,2001:197). Azizi membagi pondok pesantren atas dasar kelembagaannya yang dikaitkan dengan system pengajarannya menjadi lima ketegori: (1) pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formaldengan menerapkan kurikulum nasional, baik yang hanya memiliki sekolah keagamaan maupun yang juga memiliki sekolah umum; (2) pondok pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional; (3) pondok pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama dalam bentuk madrasah diniyah; (4) pondok pesantren yang hanya sekedar menjadi tempat pengajian (majlis ta'lim); (5) pondok pesantren untuk ma’had anak-anak belajar sekolah umum dan mahasiswa (Mujammil Qomar, 2003:18). Di bawah ini disebutkan metode-metode pembelajaran yang bersifat tradisional menjadi trade mark pondok pesantren, yaitu: (1) metode sorogan; (2) metode bandongan/ wetonan; (3) metode musyawarah atau (bah- Jurnal Pendidikan Vokasi − tsul masa‟il); (4) metode pengajian pasanan; (5) metode hafalan (muhafadzah); (6) metode demonstrasi/praktek ibadah; (7) metode rihlahilmiyah (studitour); (8) metode muhawarah /muhadatsah; (9) metode mudzarakah; ( 1 0) metode riyadhah. (Depag: detpeka-pontren ditjen kelembagaan Agama Islam, 2003 : 73144). Fuad Nashori (2011) tentang “Kekuatan karakter santri” menerangkan bahwa ada 5 karakter yang menonjol pada santri yaitu: (1) Kebersyukuran (gratitude);(2) Keadilan (fairness); (3) Kebaikan hati (kind-ness); (4) Kewargaan (citizenship); (5) Harapan (hope). METODE Jenis penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan“Pendekatan Fenomenologi”. Dalam penelitian kualitatif, peneliti sebagai instrumen kunci (key instrument). Kekuatan metode riset terletak pada kemampuan periset memasuki bidang persepsi orang lain, guna memandang kehidupan sebagaimana dilihatnya. Metode penelitian kualitatif fenomenologi, teori dengan sendirinya lahir atau dilahirkan oleh fenomena yang memberitakan dirinya sendiri. Fenomenologi mendeskripsikan pengalaman, bukan menjelaskan atau menganalisisnya (Mudjiyanto & Kenda, Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik, 2009:1). Moustakas (1994:118; lihat juga Creswell, 1998: 176-178) menjelaskan tentang bagaimana studi fenomenologi mengorganisir dan menganalisis data, “pengorganisasian data di mulai sejak peneliti mentranskrip wawancaranya“ menurut Moustakas. Creswell yang meringkas penjelasan Moustakas yakni: Creating meaning units (pengkreasian unit-unit pemaknaan), Clustering themes (pengelompokan tema-tema), Advancing textual and structural discriptions (pengembangan deskripsi tekstual dan structural), And presenting an integration of textual and structural descriptions into an axhaustive description of essential invariant structure (or essence) of the experience (dan pengintegrasian penyajian pelbagai deskripsi tekstual dan structural 145 pada kedalaman deskripsi struktur pengalaman invariant yang esensial). Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini bertempat di SMK Salafiyah (Yayasan Salafiyah) terletak di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. SMK Salafiyah dipilih menjadi tempat penelitian karena SMK tersebut terletak di Desa Kajen yang merupakan pusat pengajaran dan perkembangan agama Islam dan pusat pondok pesantren di Kabupaten Pati. Waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu mulai bulan Desember 2012 sampai dengan bulan April 2013 (lima bulan). Subjek dan objek penelitian Objek dalam penelitian ini adalah SMK Salafiyah Pati yang difokuskan pada kegiatan rutinitas dan proses kegiatan belajar mengajar dan kegiatan pengembangan diri di SMK Salafiyah Pati. Sebagai subjek (responden) dalam penelitian ini adalah orang yang mempunyai kapasitas sebagai sumber informasi penelitian yang dipilih secara purposif, adapun subjek penelitian dalam penelitian ini yaitu Bapak H. UW, SH. selaku kepala SMK Salafiyah, Bapak HS, S.Kom., selaku kepala program studi Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Ibu TM, S.Pd.I., selaku waka kurikulum, Bapak IH, S.H.I., S.Kom., selaku guru produktif TKJ, Ibu IB, S.Pd.I., selaku guru muatan lokal, Bapak KH. UA, S.Ag., selaku sekretaris pengurus Yayasan Salafiyah, peserta didik SMK Salafiyah, FW, HM, AR dan NA, selaku alumni SMK Salafiyah. Teknik pengumpulan data Dalam penelitian ini menggunakan teknik: (1) observasi partisipatif (pengamatan); (2) interviu (wawancara); (3) dokumentasi; (4) gabungan (Sugiyono, 2012:63) serta dengan (5) Materi audio dan visual (Creswell, 2010:270). Dalam penelitian kualitatif, observasi partisipatif, interviu kualitatif, rekam audio, dan pengambilan potografi dilakukan secara alami (nature) sebagai bagian dari realitas sosial pendidikan menengah kejuruan di SMK Salafiyah. Interviu kualitatif dilakukan terhadap sumber data yaitu orang-orang yang dipilih yang mampu memberikan informasi yang Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 146 − Jurnal Pendidikan Vokasi dibutuhkan dalam penelitian ini adalah: orang yang telah mengalami fenomena yang menjadi fokus penelitian, bersedia berpartisipasi dalam proses interviu, dan memperbolehkan merekam ketika pelaksanaan interviu. Da-lam penelitian ini menggunakan semistructure interviu (wawancara semi terstruktur) yang masuk dalam jenis kategori in-dept interviu dengan tujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, di mana pihak yang di ajak wawancara diminta pendapat dan ideidenya. Interviu kualitatif digunakan untuk menggali data-data yang tidak diobservasi secara langsung (Creswell, 1994). Data dikonstruksi melalui interaksi dialog yang komunikatif dan direkam menggunakan HP Blackberry 8310. Teknik keabsahan data Teknik pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan triangulasi sumber, triangulasi data dan triangulasi waktuyang merupakan bagian dari kriteria derajat kepercayaan (credibility). Teknik analisis data Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis model Miles dan Huberman (1994:10) “we define anaysis as consisting of three concurent flows of activity: data reduction, data display and conclution drawing/verification.” Berdasarkan pernyataan di atas, terdapat tiga kegiatan utama yang saling berkaitan dan terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Dalam penelitian ini, reduksi data berlangsung terus-menerus selama proses penelitian berlangsung di SMK Salafiyah, kemudian data yang tersaji selama di lapangan maupun sesudah meninggalkan lapangan dimaknai. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah SMK Salafiyah yang lahir dari rahim Yayasan Salafiyah tidak bisa terlepas dari karakteristik Yayasan Salafiyah itu sendiri, sehingga nilai-nilai karakter yang ditanamkan kepada peserta didik SMK Salafiyah adalah: Pertama nilai-nilai karakter Islam berbasis Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 Pondok pesantren, nilai nilai Islam berbasis Pondok pesantren yaitu: (1) keimanan; (2) ketakwaan;(3) kemampuan baik pada siswa; (4) kemampuan baik dalam kinerja; (5) disiplin; (6) sopan; (7) kepatuhan; (8) kemandirian; (9) cinta pada ilmu pengetahuan; (10) menghormati guru; (11) memuliakan kitab; (12) menyayangi teman; (13) berkah; (14) uswah hasanah. Para founding father Yayasan Salafiyah mempunyai idealisme yaitu mengamalkan ajaran Islam ala Ahlusunnah Wal Jama‟ah yakni Islam yang rahmatan lil „alamin (menjadi rahmat bagi seluruh alam) Islam yang mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Dan para sahabat-sabatnya. Islam Ahlusunnah Waljama‟ah yaitu Islam yang mempunyai karakteristik: Tawassut (moderat), Tawazun(seimbang), Tasamuh (toleran), dan I’tidal (Adil). Tawassut artinya moderat, sikap jalan tengah yang mengintegrasikan antara ikhtiar (berusaha) dan tawakkal (pasrah). Sebagai jalan tengah antara aliran Kaum Jabariyah yang mengandalkan penuh tawakkal kepada Allah dan Kaum Mu’tazilah yang mengandalkan sepenuhnya kepada akal, sebagai manusia yang telah dianugrahi akal manusia punya kewajiban untuk berusaha (ikhtiar), namun manusia sebagai makhluk mempunyai keterbatasan dalam segala hal sehingga setelah melakukan ikhtiar maksimal kemudian dipasrahkan (tawakkal) kepada Allah. Tawasutjuga diartikan sikap tengahtengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Karakteristik selanjutnya Tawazun artinya seimbang (balance) atau seimbang dalam segala hal. Seimbang dalam penggunaan dalil aqli (dalil yang bersumber dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari AlQur’an dan Hadits). Seimbang juga dalam hati (heart), fikiran (head), dan gerak (hand) sehingga membentuk karakter yang jujur, selaras antara hati, pikiran dan perbuatan. Tasamuh atau toleransi yakni menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini. I‟tidal berarti bersikap adil dalam segala hal, adil berarti tidak pilih kasih, sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak kepada salah satu. Jurnal Pendidikan Vokasi − Ajaran yang dipesankan oleh KH. Baedlowi Siroj (founding father) kepada anak cucu beliau yaitu: “nek isih ono santri sing kepingin ngaji/sekolah yo terimoho” kalau memang masih ada siswa yang ingin sekolah maka diterima, Yayasan Salafiyah menggunakan sistem menerima semua siswa yang mendaftar dan wali murid peserta didik Salafiyah juga dari berbagai macam latar belakang status sosial dan level keagamaannya, dan ini sebuah salah satu misida’wah. Konsep founding father Yayasan Salafiyah tersebut di atas sesuai dengan misi pendidikan yang telah dinyatakan oleh UNESCO (badan PBB untuk pendidikan dan urusan anak-anak) yaitu Education For All (EFA) atau pendidikan untuk semua, dalam kongresnya di Dacca (Bangladesh) tahun 2008. Pencanangan program ini dimaksudkan sebagai ketetapan sekaligus seruan terhadap bangsa-bangsa di dunia untuk memberikan akses pendidikan seluas-luasnya terhadap semua warga negara, dan meningkatkan kerja sama unilateral secara lebih intensif dalam bidang pendidikan. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karaker di SMK Salafiyah juga harus mengetahui tentang hidden curriculum, hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak tertulis dan tidak tercantum di SMK Salafiyah secara langsung secara eksplisit namun secara implisit diaplikasikan di lembaga SMK Salafiyah. Islam ahlusunnah waljama‟ah yang diaplikasikan melalui oganisasi sosial Nahdlatul Ulama’ (NU). Nahdlatul Ulama’ (kebangkitan ulama atau kebangkitan cendekiawan Islam) adalah organisasi sosial masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan ekonomi yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926M./16 Rajab 1344H. Dalam faham keagamaan, NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya Alqur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar 147 dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid AlBaghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat (Ilahi, A, 2012). Selain hal tersebut di atas hidden curriculum di SMK Salafiyah yang lain yaitu: (a) berkah: bertambahnya kebaikan (ziyadatul khoir), ada faktor x yang tidak kasat oleh mata yang bisa membuat orang berhasil (tidak hanya faktor intlektualsaja tapi faktor keberkahan juga; (b)ikhlas: selalu tulus dalam membantu orang lain (tanpa pamrih); (c) tawadlu‟: rasa rendah hati; (d) do’a guru: do’a guru kepada siswa bagaikan do’a orang tua kepada anaknya dan juga bagaikan do’a Nabi kepada ummatnya yaitu mustajab (terkabul), seorang guru hendaknya selalu mendo’akan siswa-siswinya agar mendapat ilmu yang bermanfaat; (e)menutup aurat: memakai baju muslim-muslimah dan menutup anggota badan yang pribadi agar tidak menyebabkan salah pandangan yang akhirnya menimbulkan syahwat; (f)pisah antara laki-laki dan perempuan: memisahkan tempat duduk antara siswa laki-laki dan perempuan agar supaya menjaga tercampurnya (ikhtilat) laki-laki dan perempuan adan agar terhindar dari fitnah. Tabel 1. Nilai-nilai karakter SMK Salafiyah Nilai Dasar Nilai Personal Nilai Sosial Moderat Keimanan Kemampuan baik dalam kinerja Seimbang Ketakwaan Sopan-santun Toleran Kemampuan baik Menghormati guru Adil Disiplin Memuliakan kitab kepatuhan Menyayangi teman Kemandirian Uswah hasanah Cinta ilmu Tawadhu’ Ihlas Do’a guru Menutup aurat Berkah Pisah antara siswa-siswi Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 148 − Jurnal Pendidikan Vokasi Proses penanaman nilai-nilai karakter siswa Konsep penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah Kompetensi Keahlian TKJ Kajen, Margoyoso, Pati. Diimplementasikan melalui dua konteks yaitu konteks mikro dan makro. Konteks mikro di implementasikan ke dalam: (a) integrasi dalam mata pelajaran dan muatan lokal; (b) budaya sekolah; (c) kegiatan pengembangan diri. Gambar 2. Konteks mikro pendidikan karakter (Sumber: Kemdiknas,2011) Integrasi dalam Mata Pelajaran dan Muatan Lokal (Mulok) Integrasi dalam mata pelajaran dan pengembangan diri melalui kurikulum, kurikulum yang digunakan SMK Salafiyah adalah mengacu kurikulum yang ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Nasional Indonesia untuk Sekolah Kejuruan Teknik Komputer dan Jaringan dengan pendekatan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), ditambah dengan program keahlian khusus pendidikan agama Islam berbasis pondok pesantren berlandaskan nilainilai “Ahlu sunnah wal jama‟ah”. Di SMK Salafiyah terdapat muatan lokal tentang pendidikan akhlak dengan tujuan peserta didik SMK Salafiyah menjadi peserta didik yang memiliki budi pekerti yang baik (akhlakul karimah). Pendidikan akhlak di SMK Salafiyah menggunakan kitab Ta‟limul Mutaallim, dalam kitab Ta‟limul Mutaallim dijelaskan tentang beberapa poin diantaranya: (1) Akhlak kepada Allah, yaitu sebagai peserta didik dalam mencari ilmu haruslah mengharap ridlo Allah; (2) Akhlak kepada orang tua: orang tua merupakan orang yang telah melahirkan, merawat dan menjaga kita, sehingga Ridlo Allah terdapat di dalam ridlo kedua orang tua, sehingga sebagai pencari ilmu harus selalu menghormati dan memuliaJurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 kan kedua orang tua; (3) Akhlak kepada para pendidik: peserta didik tidak akan mendapat ilmu dan memetik ilmu tanpa menghormati dan memuliakan ahli ilmu (para guru) seperti tidak menempati tempat duduknya, tidak berjalan mendahuluinya dan lain-lainnya; (4) Akhlak kepada teman: bagaimana memilih dan bergaul dengan teman, teman atau sahabat adalah orang yang selalu menemani dalam suka maupun duka; (5) Akhlak kepada diri sendiri: peserta didik harus memenuhi kewajiban-kewajiban kepada diri sendiri diantaranya tidak membuat diri sendiri merasa kelelahan sehingga mengakibatkan lemah dan tidak berdaya, member kebutuhan jasmani secara cukup seperti makan, minum dan istirahat yang cukup. Menghafal surat-surat pendek (juz amma) tiap semester, merupakan salah satu muatan lokal SMK Salafiyah, hal ini dilakukan dengan tujuan bahwa peserta didik SMK Salafiyah agar cinta kepada kitab suci umat Islam yaitu Alqur’an yang merupakan sumber dari segala sumber agama Islam. Budaya Sekolah Budaya sekolah merupakan tradisi yang dilakukan sehari-hari (pembiasaan) karena nilai-nilai karakter tidak akan pernah terukir tanpa adanya pembiasaan (habbit) sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Lickona bahwa budaya moral sekolah akan berpengaruh pada fungsi moral siswa (the school moral culture affect students moral functioning). Oleh karenanya untuk menerapkan dalam pelaksanaan pendidikan karakter siswa, SMK Salafiyah dengan sadar berupaya menciptakan sebuah lingkungan serta budaya yang positif dan Islami bagi seluruh warga sekolah (peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan). Budaya pendidik dan kependidikan SMK Salafiyah yang peneliti temukan adalah sebagai berikut: (a) budaya Islami: hal ini dapat ditunjukkan pada aspek, ucapan, sikap dan perilaku seharihari, tenaga pendidik sebagai teladan yang baik (uswah hasanah),dan juga dapat dilihat dari cara berbusana, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan menggunakan busana muslim-muslimah. (b) budaya disiplin kerja: disiplin kerja ditunjukkan dengan cara datang dan pulang tepat waktu serta melaksanakan tugas dengan maksimal, budaya disiplin kerja ini memberikan teladan yang baik (uswah hasanah) kepada peserta didik untuk selalu Jurnal Pendidikan Vokasi − bersikap disiplin dan tepat waktu dalam segala hal; (c) budaya malu, ada 10 budaya malu yang diterapkan di SMK Salafiyah yaitu: malu terlambat masuk, malu tidak ikut apel, malu tidak suka masuk kantor tanpa alasan, malu sering ijin tidak masuk kerja, malu bekerja tanpa program, malu pulang sebelum waktunya, malu sering meninggalkan kerjaan, malu bekerja tanpa tanggung jawab, malu berpakaian seragam tidak rapi dan tanpa atribut. Salah satu langkah SMK Salafiyah dalam melaksanakan pendidikan karakter siswa adalah melalui budaya dan kultur yang diciptakan dilingkungan siswa, adapun budaya siswa SMK Salafiyah adalah sebagai berikut: (a) datang ke sekolah sebelum jam pelajaran dimulai; (b) senyum, kemudian mengucapkan Salam serta menyapa dan mencium tangan bapak/ibu guru yang sudah hadir di sekolahan; (c) menuntun kendaraan ketika memasuki gerbang sekolah, dan parkir secara rapi; (d) berdo’a sebelum dan setelah selesai kegiatan belajar mengajar; (e) menjaga ketertiban, keamanan dan kebersihan ruang belajar dan lingkungan sekolah; (f) mentaati aturan-aturan agama Islam dan menjahui larangan-larangan; (g) berpakain rapi dan menutup aurat (h) tertib memasuki ruang belajar dan dalam proses belajar mengajar; (i) minta izin jika ingin keluar pada saat belajar mengajar; (j) menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dengan membuang sampah di tempat yang telah disediakan; (k) jama’ah Sholat Dzuhur: setiap hari para siswa SMK Salafiyah diwajibkan untuk sholat berjama’ah Dzuhur setiap hari di aula SMK Salafiyah, (l) tidak memakai perhiasan yang berlebihan; (m) mentaati perintah bapak/ibu guru; (n) mentaati tata tertib sekolah. Pengembangan Diri Implementasi pendidikan karakter di SMK Salafiyah juga melalui program pengembangan diri. Program pengembangan diri adalah berbagai macam program tambahan yang diselenggarakan oleh pihak sekolah guna menunjang terwujudnya karakter dan kepribadian siswa, serta kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik dan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan dibimbing oleh konselor, guru, atau te- 149 naga kependidikan lainnya yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler, adapun program pengembangan diri di SMK Salafiyah adalah: (a) Marching Band: salah satu kegiatan pengembangan diri favorit di Salafiyah namanya “Bahana Suara” Marching Band. Marching band ini tiga kali dalam satu minggu mengadakan latihan, yaitu hari selasa, rabu dan ahad. Marching Band Salafiyah ini beranggotakan 125 orang siswa-siswi Salafiyah, dan marching band ini sudah berpengalaman di Kabupaten Pati.(b) Pencak Silat, Salafiyah juga mempunyai pengembangan diri Pencak Silat “Pagar Nusa”. Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa disingkat (IPS-NU Pagar Nusa) tujuannya siswa-siswi SMK Salafiyah mempunyai bekal dasar untuk membela dirinya kapan saja dan dimana saj, pengembangan diri ini dilakukan di halaman sekolah dan pelaksanaannya setiap hari jum’at pukul 13.00 s/d. 16.00 Wib. (c) Pramuka (Praja Muda Karana) di Salafiyah sudah ada mulai dari tingakat Madrasah Ibtidaiyyah (Siaga), Madrasah Tsanawiyah (Penggalang) dan Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Kejuruan (Penegak). Nama ambalan di SMK Salafiyah adalah ambalan Ki Cibolang untuk putra dan ambalan RA Kartini untuk putri, prestasi ambalan-ambalan tersebut sudah diakui di dunia kepramukaan di Kabupaten Pati.(d) Bola Voli adalah olah raga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masingmasing grup memiliki enam orang pemain, salah satu pengembangan diri di MA dan SMK Salafiyah adalah bola voli, yang secara rutin dilakukan latihan setiap hari sabtu pukul 14.00 s/d. 16.00 Wib. (e) Teater: merupakan salah satu ekstrakurikuler SMK Salafiyah. “Teasa” adalah nama dari teater Salafiyah, sudah malang melintang tampil baik di lingkungan Salafiyah, di wilayah Kajen, Kabupaten Pati bahkan sampai ke Semarang. Konteks Makro dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah meliputi, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Peran lingkungan keluarga dan masyarkat adalah sebagai berikut: (a) peran keluarga: ikut proaktif membina dan mengawasi putra-putrinya di luar jam sekolah, ikut dalam penyusunan tata tertib sekolah, menghadiri undangan wali murid dalam menerima raport setiap semester atau ijazah pada waktu kelulusan dan selalu koordinasi, komunikasi dan konsultasi dengan pihak Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 150 − Jurnal Pendidikan Vokasi sekolah terhadap putra-putrinya dan sebaliknya sehingga sinergitas keluarga dan sekolah bisa terwujud untuk mencapai terbentuknya siswa yang berkarakter; (b) peran lingkungan masyarakat: ikut mengawasi peserta didik yang melakukan hal-hal yang tidak baik seperti siswa bolos sekolah dan lain-lain, ikut dalam membangun gedung sekolah SMK Salafiyah, dilibatkan kegiatan sekolah yang bersifat terbuka, seperti pengajian umum, bakti sosial dll. Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai karakter di SMK Salafiyah meliputi: Faktor Pendukung a) Faktor Pendukung: (1) SMK Salafiyah mempunyai SDM tenaga pengajar yang memadai; (2) siswa SMK Salafiyah mayoritas mondok di pondok pesantren di bawah naungan Yayasan Salafiyah; (3) memiliki sarana dan prasarana yang memadai. (4) SMK Salafiyah terletak di Desa Kajen yang mempunyai karakteristik Islam berbasis pondok pesantren; (5) adanya program-program sekolah yang mendukung penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah; (6) adanya sinergitas antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. b) Faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah: a) faktor penghambat: (1) terbatasnya sarana dan prasarana; (2) perbedaan latar belakang; (3) terbatasnya keuangan sekolah; (4) perbedaan pemahaman dan penafsiran tentang pendidikan karakter itu sendiri; (5) belum adanya satu asrama/pondok pesantren bagi siswa-siswi SMK Salafiyah. (6) kurang optimalnya koordinasi antar sekolah, wali murid lingkungan dan masyarakat; (7) apatisme masyarakat terhadap pendidikan SMK berbasis pondok pesantren; (8) paradigma masyarakat bahwa pondok pesantren sudah ketinggalan dengan zaman sekarang; (9) pengaruh globalisasi. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Nilai-nilai yang ditanamkan di SMK Salafiyah adalah sebagai berikut: (1) Nilai dasar: (a) tawassuth (Moderat); (b) tawazun (seimbang); (c) tasamuh (toleran); (d) I‟tidal (adil). (2) Nilai Personal: (a) keimanan;(b) ketaqwaan; (c) kemampuan baik; (d) disiplin; (e) kepatuhan; (f) kemandirian; (g) cinta ilmu; Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 (h) menutup aurat. (3) Nilai sosial: (a) kemampuan baik dalam kinerja; (b) sopan santun; (c) menghormati guru; (d) memuliakan kitab; (e) menyayangi teman; (f) uswah hasanah; (g) tawadzu‟; (h) do’a guru; (i) berkah; (j) pisah antara siswa dan siswi. Proses penanaman nilai-nilai karakter di SMK Salafiyah melalui konteks mikro dan konteks makro, (1) konteks mikro meliputi: (a) integrasi dengan setiap mata pelajaran dan muatan lokal; (b) budaya sekolah; (c) kegiatan pengembangan diri. (2) konteks makro meliputi: (a) Keluarga; (b) sekolah; (c) masyarakat. Dalam konteks makro sinergitas antara keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan faktor penting dalam penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Faktor pendukung dan faktor penghambatan dalam penanaman nilai-nilai karakter di SMK Salafiyah meliputi: Faktor Pendukung a) Faktor Pendukung Internal: (1) SMK Salafiyah mempunyai SDM tenaga pengajar yang memadai; (2) siswa SMK Salafiyah mayoritas mondok di pondok pesantren di bawah naungan Yayasan Salafiyah; (3) memiliki sarana dan prasarana yang memadai. b) faktor pendukung eksternal: (1) SMK Salafiyah terletak di Desa Kajen yang mempunyai karakteristik Islam berbasis pondok pesantren; (2) adanya program-program sekolah yang mendukung penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah; (3) adanya sinergitas antara lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah, a) faktor penghambat internal: (1) terbatasnya sarana dan prasarana; (2) perbedaan latar belakang; (3) terbatasnya keuangan sekolah; (4) perbedaan pemahaman dan penafsiran tentang pendidikan karakter itu sendiri; (5) belum adanya satu asrama/pondok pesantren bagi siswa-siswi SMK Salafiyah. b) faktor penghambat eksternal: (1) kurang optimalnya koordinasi antar sekolah, wali murid lingkungan dan masyarakat; (2) apatisme masyarakat terhadap pendidikan SMK berbasis pondok pesantren; (3) paradigma masyarakat bahwa pondok pesantren sudah ketinggalan dengan zaman sekarang; (4) pengaruh arus deras globalisasi. Saran Temuan-temuan sebagai pemaknaan dari penelitian ini sangat perlu untuk di tindak Jurnal Pendidikan Vokasi − lanjuti, Pertama kepada pihak SMK Salafiyah untuk lebih fokus terhadap nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta didiknya dan kalau perlu dibuatkan satu asrama/pondok pesantren sehingga proses penanaman nilainilai pendidikan karakter bisa di biasakan dan di fokuskan selama 24 jam. Kemudian koordinasi, komunikasi secara kontinyu kepada keluarga peserta didik dan masyarakat ditingkatkan kembali untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Kedua,kepada pihak keluarga wali murid siswa SMK Salafiyah ikut aktif dalam komunikasi dengan SMK Salafiyah serta mengawasi putra-putrinya diluar jam sekolah. Sehingga terjadi sinergitas antara sekolah dan keluarga untuk mencapai tujuan penanaman nilai-nilai Islam berbasis pondok pesantren. Ketiga, kepada pihak lingkungan SMK Salafiyah untuk ikut pro-aktif dalam kegiatan-kegiatan SMK Salafiyah yang di buka untuk umum serta ikut mengawasi siswa SMK Salafiyah di luar jam pelajaran. Keempat, kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Pati untuk ikut mendukung upaya penanaman nilai-nilai karakter siswa SMK Salafiyah serta ikut mensupport baik berupa materi atau nonmateri demi terwujudnya SMK berkarakter Islam berbasis pondok pesantren. Kelima, kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk terus mendukung di bukanya SMK di seluruh Indonesia yang berkarakter Islam berbasis Pondok pesantren sehingga mencetak tenaga kerja yang Islami, yang mandiri, professional dan berakhlak mulia. Daftar Pustaka As’ad, A. (2007). Terjemah ta’limul muta’allim; bimbingan bagi penuntut ilmu pengetahuan. Kudus: Menara Kudus. Badan Pusat Statistik. (2012). Pengangguran terbuka menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan 2004-2013. Diakses pada tanggal 3 Juli 2013, dari http:// bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabe l=1&daftar=1&id_subyek=06¬ab=4. Creswell, J.W. (1994). Reserach design qualitative & quantitative approaches. California: Sage Publications. 151 ___________. (1998). Qualitative inquiry and research design: choosing among five tradition. London: Sage Publication. __________.(2010). Research design “pendekatan kualitatif,kuantitatif, dan mixed”. (Terjemahan Achmad Fawaid). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. 1. (Buku Asli diterbitkan 2009). Depag RI. (1984). Al-Qur‟an dan terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. Depdiknas. (2002). Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Jakarta: Balai Pustaka. Dhofier, Z. (1982), The pesantren tradition, the role of the kyai in the maintenance of tranition islam in java. Arizona State University: Program for Southeast Asian Studies Uniten Stated of America. Echols, J.M. & Shadily, H. (1996). Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Ilahi, A. (24 Maret 2013). Paham keagamaan menurut Nahdhatul Ulama‟. Diambil pada 27 Maret 2013, dari http://www. nu.or.id/a,public-m,static-s,detaillang,id-ids,1-id,7-t,paham+keagamaan.phpx. Kemdiknas. (2011). Pedoman pelaksanaan pendidikan karakter (berdasarkan pengalaman di satuan pendidikan rintisan). Jakarta: Balitbang Puskurbuk. Kemenag Pati. (2012). Data pondok pesantren Kabupaten Pati tahun 2012. Pati: Kemenag Pati. Krathwohl, D.R., Bloom, B.S., and Masia, B.B. (1964). Taxonomy of educational objectives: handbookII: affective domain. New York: David McKay Co. Lickona, T. (2004). Character matters: how to help our childen develop good judgment, integrity and other essential virtues. New York: Toughstone. Madjid, N. (2002). Modernisasi pesantren (kritik nurcholis terhadap pendidikan Islam tradisional). Jakarta: Ciputat Press. Matthew, B., Miles, A. & Huberman, M. (1994). Qualitative data analysis. London: Sage Publication, Inc. Penanaman Nilai-Nilai Karakter Siswa SMK Salafiyah 152 − Jurnal Pendidikan Vokasi Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods. London: Sage Publications. Steenbrink, K.A. (1986). Pesantren, madrasah, sekolah; pendidikan Islam dalam kurun modern. Jakarta: LP3ES. Mudjiyanto, B & Kenda, N. (2010). Metode fenomenologi sebagai salah satu metodologi penelitian kualitatfif dalam komunikologi. Jurnal penelitian komunikasi dan opini publik, volume no.11. Manado: Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi dan Komunikasi Indonesia. Sudira, P. (2011). Pendidikan kejuruan dan vokasi berbasis tri hita karana. dalam (Prosiding Kongres Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan), Yogyakarta: Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada. Nashori, F. (2011). Kekuatan karakter santri. (jurnal studi agama millah, vol. xi no. 1 Agustus 2011). Yogyakarta: Pascasarjana Universitas Islam Indonesia. Peraturan Pemerintah RI Nomor 55, Tahun 2007, tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Pasal 26 ayat (1). Diunduh pada tanggal 2 September 2012. dari www.ditjenpum.co.cchukum20072007pppp55_2007.pdf. Purwanto, D. (2013, Juli 1). BPS: Jumlah penduduk miskin turun. Kompas. Diakses pada tanggal 3 Juli 2013, dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/ 2013/07/01/1339226/BPS.jumlah.pendu duk.miskin.turun. Qomar, M. (2003). Pesantren dari transformasi metodologi menuju demokratisasi institusi. Surabaya: Erlangga. Samani, M. & Hariyanto. (2012). Konsep dan model pendidikan karakter. Bandung : PT. Remaja Rosyda Karya. Slamet PH. (2011). Implementasi pendidikan karakter kerja dalam pendidikan kejuruan dalam Pendidikan Karakter: dalam perspektif teori dan praktik. Zuchdi, D. (Ed.).Yogyakarta: UNY Press, Cet.1. Jurnal Pendidikan Vokasi, Vol 3, Nomor 2, Juni 2013 Sugiyono. (2012). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta. Supriadi, D. (Ed). (2002). Sejarah pendidikan teknik dan kejuruan di Indonesia. Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendasmen Dirpenmenjur, cet. 1. Suroso, & Adiwinanto. (2009). Pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan peningkatan profesionalisme guru. Diambil pada tanggal 10 Juli 2013, dari http:// www.pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repos itory/dikti/BA_DIPBJJ_BATCH_1/man ajemen%20berbasis%20sekolah/unit%2 009.pdf. Suyata. (2011). Pendidikan karakter: dimensi filosofis dalam Pendidikan Karakter: dalam perspektif teori dan praktik. Zuchdi, D. (Ed.).Yogyakarta: UNY Press, Cet.1. Tafsir, A. (2001). Ilmu pendidikan dalam prespektif Islam. Bandung: Rosda. Undang-Undang RI Nomor 20, Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. UNESCO. (2008). Strategy framework for promoting ICT literacy in the Asia Pasivic region. Bangkok: Asia and Pasific Regional Bureau for Education.

Judul: Jurnal Pendidikan Vokasi

Oleh: Abdulloh Hamid


Ikuti kami