Tugas Jurnal Pkg

Oleh Muhammad Ihsan

397,5 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Tugas Jurnal Pkg

Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |1 DOI: xx.xxxxx/jpkg.2018.xx.xxx-xxx Teori Belajar Behavioristik dan Pandangan Islam Terhadap Teori Behavioristik Intan1, Insi Ayunisa F2., Muhammad Ihsan3 Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung E-mail: Intansopandi36@gmail.com, Insiayunf@gmail.com, Ikshanbemba@gmail.com DOI: xx.xxxxx/jpkg.2018.xx.xxx-xxx Abstract This Article is discusses about the Behavioristic theory dan Behavioral learning and the Islamic view of the theory in terms of Positive and Negative side. In this article is also discussed about the various modes of the theory of Behaviorstic learning presented by some of the figures of this theory such as Edward Thorndike, Ivan Pavlov, and so on. In the preparation of the authors take the method of literature studies from several sources of articles and related journals. The presented Behavioristic Learning theory aims to provide a related insight into an individual’s of student’s learning in terms of Stimulus aspects – The Responses seen during the learning process. In application of Behavioristic theory, teachers are expected to generate motivation from each student or learners in order to strengthen the response that shows success in learning. This article should be known and understood by student who take the Science of teacher to maximize their skills and knowledge. Keywords: Behavioristic Theory, Islamic View, Stimulus and Responses, Application of Behavioristic Theory Abstrak Artikel ini membahas tentang Teori Behavioristik dan Teori belajar behavioristik serta pandangan Islam terhadap teori tersebut ditinjau dari Sisi positif dan negatifnya. Dalam artikel ini juga dibahas tentang berbagai model dari Teori belajar Behavioristik yang dipaparkan oleh beberapa tokoh penganut teori ini, Misalnya Edward Thorndike, Ivan Pavlov, dsb. Dalam 1 NIM 1162060050 NIM 1162060049 3 NIM 1162060066 2 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |2 penyusunannya penulis mengambil metode Studi Literatur dari beberapa sumber artikel dan Jurnal terkait. Teori Belajar Behavioristik yang dipaparkan bertujuan untuk memberikan wawasan terkait pembelajaran seorang individu atau Siswa ditinjau dari Aspek Stimulus – Respon yang terlihat ketika berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam penerapan Teori Behavioristik, Guru di harapkan mampu memunculkan motivasi dari masing-masing siswa atau peserta didik dalam rangka penguatan respon yang menunjukkan keberhasilan dalam pembelajaran. Artikel ini perlu diketahui dan dipahami oleh para Mahasiswa/i yang mengambil ilmu keguruan untuk memaksimalkan kemampuan dan keilmuan yang dimiliki. Kata Kunci: Teori Behavioristik, Pandangan Islam, Stimulus Respon, Penerapan Teori Behavioristik A. Pendahuluan Menurut Muhibbin Syah (2004), Pendidikan artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan, dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan. Pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan4. Dalam pendidikan adalah sebuah proses dimana proses tersebut adalah upaya untuk mendewasakan manusia yaitu dengan cara pengajaran dan pelatihan dalam proses belajar mengajar. Dalam pengajaran tentu ada proses belajar, dalam buku Dimyati & Mudjiono (2013) dijelaskan bahwa “Belajar tidak bisa dipaksakan oleh oranglain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apaila anak aktif mengalami sendiri.” Jika dilihat pengertian tersebut, maka sikap siswa dalam belajar khususnya dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam sangatlah penting untuk menunjang perkembangan peserta didik dengan baik, karena belajar tidak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain maka siswa harus aktif dalam belajar. Dengan anak aktif dalam belajar maka proses pembelajaran dikelas akan lebih baik sesuai dengan apa yang diharapkan dari proses belajar tersebut. Untuk terjadinya proses belajar dikelas, maka anak harus aktif mengalami sendiri. Keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran dikelas secara singkat dapat terlihat ketika siswa aktif berpartisipasi atau telihat dalam pembelajaran dikelas seperti bertanya, berkomentar dan menjawab pertanyaan. Berdasarkan hasil observasi di kelas, ada siswa 4 Syah, Muhibbin.(2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Hal.10 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |3 yang aktif berpartisipasi dalam proses belajar tersebut. Tapi pada sisi lain sebagian besar siswa menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran siswa terlihat kurang antusisas, siswa bersikap acuh tak acuh, sebagian besar siswa kurang aktif bertanya maupun berkomentar dalam proses belajar tersebut, hal itu menjadi tanda kurangnya keaktifan belajar siswa. Faktor penyebab kurangnya keaktifan belajar diantaranya kuurangnya pemahaman guru terhadap teori-teori belajar yang seharusnya menjadi dasar bagi guru untuk mlakukan tindakan-tindakan dalam proses beajar, sebagian besar siswa kurang keinginan untuk bersikap aktif, siswa kurang percaya diri, merasa malu dalam mengemukakan pendapat. Oleh karena itu, merupaka tugas guru sebagai pendidik yang harus dapat menigkatkan keaktifan belajar siswa. Tugas guru adalah mengajar, dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori belajar tertentu agar bisa bertindak dengan tepat5. Mudjiono berpandangan bahwa banyak teori atau prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang satu dengan yang lain memilki persamaan dan juga perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar tersebut terdapat beberapa yang relatif umum yang dapat kita pakai sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan upaya belajarnya maupun bagi guru dalam upaya meningkatkan mengajarnya. Hal itu berkaitan dengan perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual. Sayangnya, teori-teori di atas datangnya dari Barat yang tentunya mempunyai orientasi yang berbeda dengan Islam. Kita ambil contoh konsep tentang ”benar dan salah”. Aliran behavioristik memandang benar dan salah itu bergantung pada reinforcement (penguat) positif maupun negatif. Artinya jika ada stimulus dan setelah direspon ternyata menimbulkan ”keenakan”, maka tingkah laku itu dikatakan benar, dan jika respon tersebut menimbulkan reinforcement negatif, maka perbuatan tersebut salah. Hal di atas jelas sangat berbeda dengan Islam. Dalam Islam, baik dan buruk sudah ditentukan dan ditunjukkan, kembali kepada individu masing-masing untuk memilih yang mana (QS. Ali Imran: 256 dan Al-Kahfi: 29), bukan semata-mata karena murni perbuatanmenguntungkan dirinya sendiri. Akibatnya, bisa jadi seseorang menyakiti orang lain, tetapi ia tidak menyadarinya 6. 5 6 Dimyati & Mudjiono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 44 Izzatur Rusuli, “Refleksi Teori Belajar Behavioristik dalam Perspektif Islam”. Jurnal Pencerahan. 8 (1) 2014: 39 ISSN: 1693-7775 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |4 Maka dalam mempelajari disiplin ilmu pengetahuan Barat, –dalam hal ini psikologi – cendikiawan muslim harus berusaha mempelajari landasan filosofis dan latar belakang sejarahnya. Ia harus waspada, jangan menerima seutuhnya teori serta praktiknya (Badri, 1986: 15) tanpa adanya penyeleksian mana yang sesuai dengan ajaran Islam dan yang tidak. Melihat fenomena tersebut, maka muncullah istilah “islamisasi pengetahuan” sebagai upaya membangun kembali semangat umat Islam dalam mengkaji pengetahuan, mengembangkannya melalui kebebasan ilmiah (scientific inquiry) dan filosofis yang merupakan perwujudan dari komitmen terhadap doktrin dan nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Sunah (Muhaimin, 2003: 337). B. Pandangan Islam terhadap Teori Behavioristik Menurut Tobroni & Arifin (2008) dalam Hidayat, Ara (2015) Agenda masa depan pendidikan agama adalah bagaimana mengembalikan agama pada kekuatan teologishistoris. Hal ini diperlukan untuk menyambut babak baru sejarah manusia yang mulai mencari keamanan ontologism (ontological security). Dengan demikian, akan mampu dikembangkan sebuah masyarakat dan peradaban dimana moral transendental menjadi asas utama. Islam melalui Al-Qur’an mengandung cita-cita besar dan mulia untuk menciptakan tatanan sosial dan kehidupan yang berkeadilan dan beretika Pendidikan mestinya dapat meningkatkan kapasitas pemahaman yang pada giliranya dapat membentuk kesadaran baru. Kesadaran yang dapat mendorong bagi mereka, baik secara individual atau kelompok memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan watak Islami. Melalui sikap personal dan komunal yang demikian, akan membentuk habitus harian yang berwawasan keagamaan7. Islam adalah agama yang memiliki tatanan sangat lengkap dalam setiap aspek kehidupan. Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhan (hablum minallah) saja, tetapi juga hubungan horizontal manusia dengan manusia lainnya (hablum minan naas). Diantaranya adalah aturan dan tatanan mengenai pendidikan dan pembelajaran. Dalam Islam, terdapat beberapa aspek utama dalam perspektif pandangan terhadap teori behavioristik, yang didalamnya mencakup: 7 Ara Hidayat, “Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup”, Jurnal Pendidikan Islam, 4 (2) 2015 : 382 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |5 1. Pandangan Islam terhadap Manusia Dalam pandangan Islam, proses penciptaan manusia terdiri dari dua proses dengan enam tahapan. Proses pertama, adalah pembentukan fisik/jasad dengan 5 tahap, yaitu dari nutfah, ‘alaqah, mudhghah, ‘idham, dan lahm (QS. Al-Mukminun: 14). Lahm ini membungkus ‘idham yang kemudian menggambarkan bentuk manusia. Proses kedua adalah non fisik/immateri, yaitu peniupan ruh pada diri manusia (QS. As-Sajdah: 9) sehingga ia berbeda dengan makhluk lainnya. Pada saat itu, manusia memiliki berbagai potensi, fitrah dan hikmah yang hebat dan unik, baik lahir maupun batin; bahkan pada setiap anggota tubuhnya dapat dikembangkan menuju kemajuan peradaban manusia. Al-Raghib al-Asfahani menjelaskan fitrah Allah yang terdapat dalam Surat al-Rum ayat 30, yaitu suatu kekuatan atau daya untuk mengenal atau mengakui Allah (keimanan kepada-Nya) yang menetap dalam diri manusia. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Islam bersesuaian benar dengan fitrah manusia. Ajaran Islam itu sarat dengan nilai-nilai ilahiah yang universal dan manusiawi yang patut dikembangkan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bahkan segala perintah dan larangan-Nya pun sesuai dengan fitrah manusia8. Ditinjau dari aspek tersebut, maka fitrah manusia itu bermacam-macam, yaitu fitrah beragama (potensi untuk tunduk kepada Tuhan), fitrah berakal budi (untuk berkreasi dan berbudaya), fitrah kebersihan dan kesucian, fitrah bermoral, fitrah kebenaran (mendorong untuk elalu mencari kebenaran), fitrah keadilan, fitrah individu (mendorong untuk mandiri dan bertanggung jawab), fitrah sosial, fitrah seksual (mendorong manusia untuk mengembangkan potensinya). 2. Teori Belajar Akhlak Berdasarkan kepada al-Qur’an dan al-Sunah serta khazanah pemikiran intelektual muslim, maka penulis mendapati teori belajar yang sepadan dengan teori belajar behavioristik, yaitu teori belajar akhlak. Pembentukan akhlak yang mulia merupakan salah satu misi yang diemban oleh Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam. Teori belajar akhlak merupakan teori belajar yang fokus utamanya adalah pembentukan tingkah laku individu muslim yang harapannya setelah mengalami proses belajar, individu muslim mempunyai tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan dalam Islam. 8 Nizar Samsul. (2002). Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers. Hal. 41-43 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |6 Akhlak merupakan tindakan ataupun sikap individu yang dilakukan secara spontanitas terhadap situasi tertentu tanpa adanya pertimbangan. Jadi, akhlak di sini merupakan perilaku reflek yang sudah terbentuk sekian lama, sehingga menjadi kebiasaan individu dalam merespon sesuatu kondisi tertentu. Menurut Najati, Dalam teori belajar akhlak, terdapat tiga model pembelajaran; taqlid, tajribah wal khata’ dan ta’wid 9 . Adapun penjelasannya sebagaimana di bawah ini. a. Taqlid (Imitasi/Peniruan) Kebanyakan perilaku manusia dan kebiasaannya merupakan hasil tiruan dari orang yang ada di sekelilingnya. Proses belajar bisa berjalan dengan sempurna melalui imitasi (peniruan). Teori ini terealisasi ketika seseorang meniru orang lain dalam mengerjakan sesuatu maupun melafalkan suatu kata. Al-Qur’an telah menyebutkan contoh-contoh yang menjelaskan bahwa manusia cenderung belajar dengan meniru apa yang dilihatnya. Di antaranya adalah ketika Qabil membunuh saudaranya Habil, dan ia tidak mengetahui bagaimana ia harus memperlakukan mayat saudaranya yang telah dibunuhnya. Maka Allah mengajarkan kepada Qabil dengan mengutus seekor burung Gagak yang menggali tanah untuk menguburkan bangkai burung Gagak lainnya yang telah mati. Dari sini Qabil belajar bagaimana mengubur mayat (QS. AlMaidah: 31). Begitu juga dalam al-Sunah, para sahabat belajar mengerjakan berbagai ibadah dan manasik dari Rasulullah dengan cara meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Seperti mengajarkan kaifiyah shalat. Rasululah mendemonstrasikan cara shalat di hadapan para sahabatnya, dengan tujuan agar mereka menirunya. Menurut al-Attas (1989 dalam Wan Daud, 2003: 263), Taqlid di sini tidak hanya sebatas proses peniruan buta yang memandulkan kemampuan rasional dan intelektual seseorang. Sebaliknya, mempraktekkan taqlid atau menyerahkan pada otoritas tertentu, membutuhkan pengetahuan murni atas suatu masalah dalam rangka membedakan antara berbagai pandangan ahli mengenai hal itu. Jadi, menurut al-Attas, taqlid tidaklah berseberangan dengan belajar, tetapi merupakan suatu sifat alami dan positif pada tahap awal perkembangan pelajar atau seseorang yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan dan latihan yang cukup untuk memahami alasan dan bukti-bukti secara detail. 9 Najati, Moh. Ustman. (2002). Jiwa Manusia dalam Sorotan Al-Qur’an. Terj. Ibn Ibrahim. Jakarta: CV.Cendekia Sentra. Hal. 207-216 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |7 b. Tajribah wa Khatha’ (Trial dan Error) Manusia juga belajar melalui eksperimen pribadi. Dia akan berusaha secara mandiri untuk memecahkan problem yang dihadapinya. Terkadang beberapa kali ia melakukan kesalahan dalam memecahkan masalah, namun dia juga beberapa kali mencoba untuk melakukannya kembali. Sampai pada akhirnya dia mampu menyelesaikan permasalahannya dengan benar. Model semacam ini disebut sebagai trial and error (coba dan salah)10. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melakukan hal ini terhadap sesuatu baru yang belum kita ketahui cara pemecahannya. Dalam hal ini, teori belajar melalui tajribah dan khatha’ merupakan usaha yang dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan urusan dunia atau kehidupan aplikatif yang tidak membutuhkan pemikiran yang panjang dan bersifat praktis. c. Ta’wid (Pembiasaan) Seseorang dikatakan belajar dengan ta’wid (pembiasaan) jika ada stimulus indrawi yang merangsangnya. Ketika itulah seseorang menanggapi stimulus indrawi yang disebut sebagai respon. Respon ini kemudian diikuti dengan stimulus netral. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Hasan Langgulung (1988) yang menyebutkan terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi agar proses belajar itu bisa berlaku, yakni Harus ada perangsang (stimulus). Dan perangsang ini harus mudah dipahami oleh orang yang belajar. Dalam al-Qur’an, teori ini bisa diambil dari pentahapan proses pengkondisian umat Islam agar mempunyai kepribadian yang islami. Bagaimana Islam mengkondisikan umatnya yang ketika itu masih menyembah berhala, menjadi manusia yang hanya mentauhidkan Allah semata. Islam mampu mengkondisikan bangsa Arab menjadi bangsa yang mempunyai peradaban yang tinggi dan kepribadian yang mulia. Mampu menciptakan kehidupan yang tidak berorientasi pada materialisme dan hedonisme, melainkan kepada kehidupan yang beragama (teokrasi). Tentunya dalam pengkondisian ini, Islam memberikan tsawab bagi umatnya, yaitu berupa balasan pahala dan surga kelak di akhirat nanti dan adzab bagi yang melanggarnya (walaupun bersifat abstrak). 10 Wan Daud, Wan Mohd Nor. (2003). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib al-Attas, Terj. Hamid Fahmi. Bandung: Mizan. Hal. 209 Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |8 3. Pandangan Islam yang bertentangan dengan Teori Belajar Behavioristik Namun, dalam ajaran Islam pula terdapat hal lain yang seolah berseberangan dengan teori belajar ini. Ada faktor lain yang tidak kalah penting dari lingkungan, pengkondisian, dan berbagai pembiasaan atau latihan. . Yaitu faktor bawaan, keturunan atau hereditas. Sebagaimana yang diisyaratkan dalam Hadist: “Pilihlah untuk nuthfah (bibit) kalian, nikahilah para wanita yang sepadan dan nikahilah laki-laki yang sepadan (HR. Ibn Majah)” Hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan. Sebaliknya rangsangan lingkungan tidak akan membina perkembangan yang ideal tanpa didasari oleh faktor hereditas. Karenanya penentuan kepribadian seseorang ditentukan dengan kerja integral antara faktor internal (potensi bawaan) dan faktor eksternal (lingkungan pendidikan). Akan tetapi di dalam Islam, ada yang lebih penting diatas semuanya. Yaitu faktor kehendak atau iradah Allah, dan persetujuan atau taufiq dari Allah. Biarpun seseorang sudah berada di lingkungan yang terbaik, berasal dari keturunan terbaik, tetap saja semuanya bergantung pada kehendak dan persetujuan Allah. Disinilah doa sangat berperan penting. Kita lihat di dalam AlQuran banyak termaktub doa-doa para Nabi maupun orang-orang shalih. Karena mereka meyakini bahwa yang bisa dilakukan manusia untuk mendapatkan keturunan baik tidak hanya membutuhkan ikhtiar, tapi juga doa. C. Behavioristik 1. Teori Behavioristik Behaviorisme merupakan aliran psikologi yang memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam kegiatan belajar. Ini bisa dimaklumi karena behaviorisme berkembang melalui suatu penelitian yang melibatkan binatang seperti anjing, burung merpati, tikus, dan kucing sebagai objek. Para ahli behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respons (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan Jurnal Pengembangan Kepribadian Guru |9 output yang berupa respon. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan11. Melalui behaviorisme dapat dijelaskan kelakuan manusia secara seksama dan memberikan program pendidikan yang memuaskan. Dari konsepsi tersebut, jelaslah bahwa konsepsi behaviorisme bear pengaruhnya terhadap maslah belajar. Belajar ditafsirkan sebagai latihan – latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan reson. Dengan rangsangan (stimulus) maka siswa akan merespons. Hubungan antara stimulusrespon ini akan menimbulkan kebiasaan – kebiasaan otomatis pada belajar. Jadi, pada dasarnya kelakuan anak adalah terdiri atas respon-respon tertentu terhadap stimulusstimulus tertentu (Hamalik, 2013: 38-39). Teori behavioristik menekankan pada kajian ilmiah mengenai berbagai respon perilaku yang dapat diamati dan penentu lingkungannya. Dengan kata lain, perilaku memusatkan pada interaksi dengan lingkungannya yang dapat dilihat dan diukur. Prinsipprinsip perilaku diterapkan secara luas untuk membantu orang-orang mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik (King, 2010:15). Behavioris berkeyakinan bahwa setiap anak manusia lahir tanpa warisan kecerdasan, warisan bakat, warisan perasaan dan warisan yang bersifat abstrak lainnya (Syah, 2004: 104) dan menganggap manusia bersifat mekanistik, yaitu merespon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan mempunyai peran yang sedikit terhadap dirinya sendiri.Dalam hal ini konsep behavioristik memandang bahwa perilaku individu merupakan hasil belajar yang dapat diubah dengan memanipulasi dan mengkreasikan kondisi-kondisi belajar dan didukung dengan berbagai penguatan (reinforcement) untuk mempertahankan perilaku atau hasil belajar yang dikehendaki (Sanyata, 2012: 3). Semuanya itu timbul setelah manusia mengalami kontak dengan alam dan lingkungan sosial budayanya dalam proses pendidikan. Maka individu akan menjadi pintar, terampil, dan mempunyai sifat abstrak lainnya tergantung pada apakah dan bagaimana ia belajar dengan lingkungannya. Behaviorisme muncul sebagai counter balik atas metode analisis intropeksi yang mendominasi bidang psikologi pada awal abad 19 yang dikenalkan oleh Wilhelm Wundt. Teori ini dipandang sangat subjektif. Melalui berbagai penelitian dari para tokoh, akhirnya lahir teori yang sangat frontal. 11 Dra. Eveline Siregar, M.Pd dan Hartini Nara, M,Si (2010), Teori Belajar dan Pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia hal. 25 J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 10 Menurut Koch (1964) dalam Sriyanti (2013) menyatakan bahwa behaviorisme klasik yang berlangsung dari 1912 – 1930 memilki ciri sebagai berikut. (1) objektivisme, menekankan pada perilaku yang dapat diamati secara objektif; (2) orientasi S – R (stimulus – Respon), ada hubungan yang dekat antara stimulus dan respon. Respon seseorang dapat diramalkan dari stimulus yang diberikan; (3) peripheral, syarat menjadi pertimbangan dalam pola hubungan antara stimulus dengan respon; (4) menitik beratkan pada belajar asosianistik, bahwa perilaku terbentuk akibat adanya asosiasi; (5) environmentalism, menekankan pengaruh lingkungan terhadap pembentukan prilaku. Ada beberapa ciri utama yang melekat pada teori – teori behavioristik senada dengan ciri – ciri behaviorisme klasik antara lain: (1) objek psikologi adalah tingkah laku; madjhab ini memandang objek psikologi bukanlah kesadaran tapi tingkah laku sehingga pengalaman – pengalaman psikis tidak diteliti, yang diteliti adalah perubahan – perubahan gerakan badaniah yang observable. Metode yang dipakai dalam pengakajian objek sepenuhnya menerapkan metode yang dipakai dalam kajian ilmu pengetahuan alam. (2) semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflex – reflex. Behaviorisme menindak lanjuti apa yang telah dirintis psikologi asosiasi yang ingin menemukan elemen – elemen apa yang mendasari tingkah laku yang ternyata elemen – elemen tersebut berada pada refleks-refleks. Menurut behaviorisme, perilaku adalah kumpulan reflex, dan perilaku pada dasarnya merupakan hubungan antara stimulus – respon. (3) behavioristik tidak mengakui potensi bawaan sebab pendidikan dan lingkungan memegang kekuasaan penuh terhadap proses pembentukan prilaku individu (Sriyanti, 2013: 32-33). 2. Teori Belajar Behavioristik Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang mempelajari tingkah laku manusia.Menurut Desmita (2009:44) teori belajar behavioristik merupakan teori belajar memahami tingkah laku manusia yang menggunakan pendekatan objektif, mekanistik, dan materialistik, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dengan kata lain, mempelajari tingkah laku seseorang seharusnya dilakukan melalui pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat, bukan dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh. Teori ini mengutamakan pengamatan, sebab pengamatan merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut. J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 11 Teori belajar behavioristik adalah sebuah aliran dalam teori belajar yang sangat menekankan pada perlunya tingkah laku (behavior) yang dapat diamati. Menurut aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons (S-R). Oleh karena itu teori ini juga dinamakan teori StimulusRespons. Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respon sebanyak-banyaknya12. Menurut teori belajar behavioristik atau aliran tingkah laku, belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor – faktor kondisonal yang diberikan lingkungan. Beberapa ilmuan yang termasuk pendiri sekaligus penganut behavioristic anatara lain adalah Thorndike, Watson, Hull, Guthrie, dan Skinner (Siregar, Nara, 2010: 25). D. Model Teori Belajar Behavioristik Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa teori, antara lain: teori Connectionism, Classical Conditioning, Contiguous Conditioning, serta Descriptive Behaviorisme atau yang lebih dikenal dengan nama Operant Conditioning. Tokoh-tokoh penting yang mengembangkan teori belajar behavioristik, dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Connectionisme atau Bond-Psychology (Trial and Error) Teori belajar behavioristik model ini dipelopori oleh Thorndike (1874-1949) dengan teorinya connectionisme yang disebut juga dengan trial and error. Pada tahun 1980, Thorndike melakukan eksperimen dengan kucing sebagai subyeknya (Suryabrata, 1990: 266). Menurutnya, belajar adalah pembentukan hubungan (koneksi) antara stimulus 12 Prof. Dr. H. Wina Sanjaya, M.Pd (2013), Kurikulum dan Pembelajaran, Penerbit Kencana, Jakarta. Hal.237 J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 12 dengan respon yang diberikan oleh organisme terhadap stimulus tadi. Cara belajar yang khas yang ditunjukkannya adalah trial dan error (coba-coba salah). Di samping itu, Thorndike juga menggunakan pedoman ”pembawa kepuasan (satisfier)” apabila subyek melakukan hal-hal yang mendatangkan kesenangan dan ”pembawa kebosanan (annoyer)” apabila subyek menghindari keadaan yang tidak menyenangkan (Winkel, 1991: 380). Dari eksperimen Thorndike ini, bisa diambil tiga hukum dalam belajar, yaitu: a. Law of readiness (hukum kesiapan). Belajar akan berhasil apabila subyek memiliki kesiapan untuk belajar (Sukmadinata, 2003: 169). b. Law of exercise (hukum latihan), merupakan generalisasi dari law of use dan law of disuse, yaitu jika perilaku itu sering dilatih atau digunakan, maka eksistensi perilaku tersebut akan semakin kuat (Law of use). Sebaliknya, jika perilaku tadi tidak dilatih, maka perilaku tersebut akan menjadi bertambah lemah atau tidak digunakan sama sekali (law of disuse). Dengan kata lain, belajar akan berhasil apabila banyak latihan atau ulangan. c. Law of effect, yaitu jika respon menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya, jika respon menghasilkan efek yang tidak memuaskan, maka semakin lemah hubungan antara stimulus dan respon tersebut (Suryabrata, 1990: 271).vDengan kata lain, subyek akanbersemangat dalam belajar apabila ia mengetahui atau mendapatkan hasil yang baik. 2. Classical Conditioning (Pembiasaan Klasik) Sementara Thorndike mengadakan penelitian, di Rusia Ivan Pavlov (1849-1936) juga menghasilkan teori belajarClassical Conditioning (Pembiasaan Klasik). Menurut Terrace (1973), Classical Conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan reflek baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Syah, 2004: 95). Prosesnya adalah sebagai berikut: secara alami, ketika anjing diberi makanan (Unconditioned Stimulus= US), ia akan mengeluarkan air liur (Unconditioned Response=UR). Kemudian Pavlov mencoba dengan cara memberikan makanan (US) 30 detik setelah mentronom (Conditioned Stimulus=CS) dibunyikan. Maka terjadilah refleks pengelua ran air liur (UR). Percobaan tersebut diulangi sebanyak32 kali dan untuk kali ke-33 ternyata bunyi men tronom saja telah dapat menyebabkan keluarn ya air liur (Conditioned Response=CR) dan bertambah deras jika makanan diberikan (Suryabrata, 1990: 283). J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 13 Kesimpulan dari eksperimen Pavlov adalah apabila stimulus yang diadakan (CS) itu selalu disertai dengan stimulus penguat (US), maka stimulus tadi (CS) cepat atau lambat akhirnya akan menimbulkan respon atau perubahan yang dikehendaki (CR). Adapun cara menghilangkan refleks-refleks bersyarat ini melalui proses pensyaratan kembali (Reconditioning, hereconditioning) (Suryabrata, 1990: 284). Dalam hal ini, proses belajar berdasarkan eksperimen Pavlov tunduk pada dua hukum, yaitu: a. Law of Respondent Conditioning (hukum pembiasaan yang dituntut), terjadi jika dua macam stimulus (hubungan antara CS dan US yang salah satunya menjadi reinforcer) dihadirkan secara simultan, maka refleks ketiga (hubungan antara CS dan CR) akan meningkat. Dalam hal ini, apabila bunyi mentronom dan pemberian makanan (sebagai reinforcer) dihadirkan secara bersamaan, maka keluarnya air liur sebagai respon yang dikehendaki akan meningkat. b. Law of Respondent Extinction (hukum pemusnahan yang dituntut), terjadi jika refleks yang sudah diperkuat melalui respondent conditioning didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun (Syah, 2004: 97-98). Dalam hal ini, apabila bunyi mentronom sebagai stimulus yang diadakan tidak dibarengi dengan pemberian makanan yang berfungsi sebagai reinforcer, maka respon yang dikehendaki, yaitu intensitas keluarnya air liur akan menurun. 3. Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respon) Selain dua model teori behavioristik di atas, muncul Burhus Frederic Skinner (lahir tahun 1904) dengan teorinya Operant Conditioning (Pembiasaan Perilaku Respon) yang mengadakan eksperimen terhadap tikus (Syah, 2004: 99). Respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer.Reinforcer adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu.Berdasarkan kepada teori ini dapat disimpulkan bahwa proses belajar tunduk kepada dua hukum, yaitu: a. Law of operant conditioning, yaitu jika timbulnya tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Artinya tingkah laku yang ingin dibiasakan akan meningkat dan bertahan apabila ada reinforcer. b. Law of operant extinction, yaitu jika timbulnya tingkah laku operant tidak diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun bahkan J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 14 musnah. Ini bermakna bahwa tingkah laku yang ingin dibiasakan tidak akan eksis, apabila tidak ada reinforcer. Selain itu, Skinner juga memberikan konsekuensi tingkah laku yaitu ada yang menyenangkan (berupa reward) dan tidak menyenangkan (berupa punisment). 4. Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat) Muncul pula Edwin R. Guthrie (1886-1959) dengan teorinya Contiguous Conditioning (Pembiasaan Asosiasi Dekat) yang mengasumsikan terjadinya peristiwa belajar berdasarkan kedekatan hubungan antara stimulus dengan respon yang relevan. Di dalamnya terdapat prinsip kontiguitas (contiguity) yang berarti kedekatan antara stimulus dan respon (Syah, 2004: 101). Oleh karena itu, menurutnya peningkatan hasil belajar itu bukanlah hasil pelbagai respon yang kompleks terhadap stimulus-stimulus yang ada, melainkan karena dekatnya asosiasi antara stimulus dengan respon yang diperlukan. Misalnya, seorang siswa diberi stimulus berupa penjumlahan 2 + 2, maka siswa akan merespon dengan 4 (Syah, 2004: 101). Ini menunjukkan adanya kedekatan antara stimulus dengan respon. Jadi dalam proses belajar menurut model ini, terdapat kaitan yang dekat antara stimulus dan respon. Walaupun demikian, dalam proses belajar tetap memerlukan reward, sedangkan hukuman akan lebih efektif apabila menyebabkan murid itu belajar (Soemanto, 1990: 119). 5. Sarbon (Stimulus and Response Bond Theory) John B. Watson (1878-1958) adalah orang pertama di Amerika Serikat yang mengembangkan teori belajar Ivan Pavlov dengan teorinya Sarbon (Stimulus and response Bond Theory). Watson berpendapat bahwa belajar merupakan proses terjadinya refleks-refleks atau respons-respons bersyarat melalui stimulus pengganti. Menurutnya, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi-reaksi emosional berupa takut, cinta, dan marah. Semua tingkah laku lainnya terbentuk oleh hubungan-hubungan stimulus-respons baru melalui ”conditioning” (Soemanto, 1990: 118). Jadi, menurut Watson, belajar dipandang sebagai cara menanamkan sejumlah ikatan antara perangsang dan reaksi (asosiasi-asosiasi tunggal) dalam sistem susunan saraf (Winkel, 1991: 381). 6. Social Learning Theory (Teori belajar sosial) Albert Bandura dikatakan sebagai neo-behaviorism muncul dengan teorinya Social Learning Theory (Teori belajar sosial). Teori ini merupakan kombinasi antara teori J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 15 classical dan operant conditioning (Sanyata, 2012: 3). Hal yang paling asas dalam teori ini adalah kemampuan seseorang untuk mengabstraksikan informasi dari perilaku orang lain kemudian mengambil keputusan mengenai perilaku mana yang akan ditiru yang selanjutnya akan dilakukan sesuai dengan pilihannya (Mahmud, 1989: 145). Artinya tingkah laku manusia itu bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri (Syah, 2004: 106). Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa adalah dengan mengadakan conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan). Dalam conditioning ini diperlukan adanya reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) (Syah, 2004: 107). Sedangkan dalam imitasi, seorang guru dan orang tua memainkan peranan penting sebagai model yang akan dicontoh perilaku sosialnya. Dari berbagai pendapat pakar behavioris, dapat ditarik benang merah antara pendapat yang satu dengan yang lainnya, walaupun pada hakikatnya sama. Semua pakar behavioris sepakat bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Akan tetapi, Thorndike menggunakan trial-and-error sebagai pemecahannya. Sedangkan Pavlov dan Skinner membentuk pembiasaan tingkah laku dengan bantuan reinforcement (penguatan). Sementara Guthrie berpandangan bahwa hasil belajar itu bukan karena banyaknya hubungan stimulus dan respon, akan tetapi dikarenakan dekatnya hubungan antara keduanya. Watson sebaliknya, memandang bahwa belajar merupakan menanamkan rangkaian asosiasi-asosiasi ke dalam sistem susunan saraf. Sedangkan Bandura dengan teori belajar sosialnya, lebih menekankan belajar sebagai proses pengambilan keputusan dalam bertingkah laku dengan cara peniruan dan pembiasaan melalui informasi yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya. Secara filosofis, behavioristik meletakkan manusia dalam kutub yang berlawanan, dimana seharusnya manusia bersifat dinamis, akan tetapi dituntut untuk bersifat mekanistik. Namun demikian, pandangan behavioris modern menjelaskan bahwa faktor lingkungan memiliki kekuatan alamiah bagi manusia dalam stimulus-respon, sesuai dengan konsep social learning theory dari Albert Bandura.Artinya manusia merupakan hasil dari pengkondisian sosio kultural bukan semata-mata terbentuk dari hubungan antara stimulus dan respon. Konsep ini menghilangkan pandangan manusia secara mekanistik dan J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 16 deterministik, sehingga memberikan peluang kebebasan dan menambah keterampilan untuk memiliki lebih banyak opsi dalam melakukan respon13. E. Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran Teori belajar behavioristik menekankan terbentuknya perilaku terlihat sebagai hasil belajar dengan model hubungan stimulus respons, menekankan siswa yang belajar sebagai individu yang pasif. Munculnya perilaku siswa yang kuat apabila diberikan penguatan dan akanmenghilang jika dikenai hukuman (Nasution, 2006: 66). Teori belajar behavioristik berpengaruh terhadap masalah belajar, karena belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan untuk pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. Dengan memberikan rangsangan, siswa akan bereaks dan menanggapi rangsangan tersebut. Hubungan stimulus-respons menimbulkan kebiasaan-kebiasaan otomatis belajar. Dengan demikian kelakuan anak terdiri atas respons-respons terhadap stimulus-stimulus tertentu. Penerapan teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa komponen seperti: tujuan pembelajaran, materi pelajaran, karakteristik siswa, media, fasilitas pembelajaran, lingkungan, dan penguatan (Sugandi, 2007: 35). Teori belajar behavioristik cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir. Pandangan teori belajar behavioristik merupakan proses pembentukan, yaitu membawa siswa untuk mencapai target tertentu, sehingga menjadikan siswa tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Pembelajaran yang dirancang pada teori belajar behavioristik memandang pengetahuan adalah objektif, sehingga belajar merupakan perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada siswa. Oleh sebab itu siswa diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang diterangkan oleh guru itulah yang harus dipahami oleh siswa. Hal yang paling penting dalam teori belajar behavioristik adalah masukan dan keluaran yang berupa respons. Menurut teori ini, antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan diukur. Dengan demikian yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respons. Faktor lain yang penting dalam teori belajar behavioristik 13 Sigit Sanyata, “Teori dan aplikasi pendekatan behavioristik dalam konseling”. Jurnal Paradigma, 2012 14 : 1-11. J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 17 adalah faktor penguatan di lihat dari pengertiannya penguatan adalah segala sesuatu yang dapat memperkuat timbulnya respons14. Pandangan behavioristik kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi siswa, walaupun siswa memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan behavioristik tidak dapat menjelaskan dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relative sama. Di lihat dari kemampuannya, kedua anak tersebut mempunyai perilaku dan tanggapan berbeda dalam memahami suatu pelajaran.Oleh sebab itu teori belajar behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respons yang dapat diamati. Teori belajar behavioristik tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsurunsur yang diamati (Putrayasa, 2013:49). Penerapan teori behavioristik seperti adanya Peran stimulus dalam teori behavioristik, suatu stimulus memiliki pengaruh melalui proses diskriminasi karena individu telah belajar mendiskriminasi antara stimulus, stimulus itu disebut stimulus diskriminatif. Stimuli diskriminatif positif adalah stimulus yang menunjukan bahwa merespon akan dikuatkan. Stimulus diskriminatif negatif bahwa merespon tidak akan dikuatkan (Hill, 2011:103-104). F. Simpulan Dalam pandangan Islam teori behavioristik ada yang berhubungan dan ada juga yang bertentangan misalnya dalam pendidikan agama adalah bagaimana mengembalikan agama pada kekuatan teologis-historis. Teori ini diperlukan untuk adanya babak baru sejarah manusia yang mulai mencari keamanan ontologism (ontological security). Oleh karena itu akan mampu dikembangkan sebuah masyarakat dan peradaban dimana moral transendental menjadi asas utama. Sedangkan yang bertentangan dengan teori behavioristik yaitu faktor bawaan, keturunan atau hereditas. Hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari faktor lingkungan. Behavioristik berkeyakinan bahwa setiap anak manusia lahir tanpa mewarisi kecerdasan, bakat, perasaan dan menganggap manusia bersifat mekanistik, yaitu merespon terhadap lingkungan dengan kontrol yang terbatas dan mempunyai peran yang sedikit terhadap dirinya sendiri. Teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang menekankan pada 14 Nahar, Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori-Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. (Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial) Vol. 1 No. 1 Hal. 8-9. J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 18 tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.Teori belajar behavioristik berpengaruh terhadap pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal dengan aliran behavioristik.Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Implikasi praktisnya adalah guru guru merencanakan kegiatan belajar berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap motivasi belajar yang terdapat pada siswa. Dengan adanya motivasi, maka belajar merupakan penguatan. Makin banyak belajar makin banyak reinforcement, makin besar motivasi memberikan respons yang menuju keberhasilan belajar. Daftar pustaka Badri, Malik. (1986). Dilema Psikolog Muslim, terj. Siti Zainab Luxfiati. Jakarta: PT. Temprint. Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. Dimyati & Mudjiono. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik, Oemar. (2008). Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara. Hidayat, A. (2015). Pendidikan Islam dan Lingkungan Hidup. Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 373-389. Hill, F Winfred. 2011. Theories of Learning. Bandung: Nusamedia. King, Laura A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pengantar Apresiatif. Jakarta: Salemba Humanika. Langgulung, Hasan. (1988). Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Al-Husna. Mahmud, M. Dimyati, (1989). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud. Muhaimin. (2003). Arah Baru Pengembangan Pendidikan Islam; Pemberdayaan, Pengembangan Kurikulum hingga Redefinisi Islamisasi Pengetahuan. Bandung: Nuansa. Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP. Nahar, Novi Irwan. 2016. Penerapan Teori Belajar Behavioristik dalam Pembelajaran. Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial. 1 (1): 64-74 ISSN 2541-657X. Najati, Moh. Ustman. (2002). Jiwa Manusia dalam Sorotan Al-Qur’an. Terj. Ibn Ibrahim. Jakarta: CV.Cendekia Sentra. Nasution. (2006). Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara. Nizar Samsul. (2002). Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers. Sanjaya, Wina. (2013). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Kencana. Putrayasa, Ida Bagus. 2013. Landasan Pembelajaran. Bali: Undiksha Press. Rusuli, Izzatur. “Refleksi Teori Belajar Behavioristik dalam Perspektif Islam”. Jurnal Pencerahan. 8 (1) 2014: 39 ISSN: 1693-7775. J u r n a l P e n g e m b a n g a n K e p r i b a d i a n G u r u | 19 Sanyata, Sigit. (2012). Teori dan aplikasi pendekatan behavioristik dalam konseling. Jurnal Paradigma, 14: 1-11. Siregar Eveline, Nara Hartini. 2010. Teori belajar dan pembelajaran. Bogor: Ghalia Indonesia. Soemanto, Wasty. (1990). Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan. Jakarta: PT.Rineka Cipta. Cet. 3. Sriyanti, lilik. (2013). Psikologi Belajar. Yogyakarta: Penerbit Ombak. Sugandi, Ahmad. (2007). Teori Pembelajaran. Semarang: Upt Mkk Unnes. Sukmadinata, Nana Syaodih. (2003). Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Suryabrata, Sumadi. (1990). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. Cet.5. Syah, Muhibbin. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Cet.3. Wan Daud, Wan Mohd Nor. (2003). Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Naquib al-Attas, Terj.Hamid Fahmi. Bandung: Mizan. Winkel, W.S. (1991). Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.

Judul: Tugas Jurnal Pkg

Oleh: Muhammad Ihsan


Ikuti kami