Jurnal Tgt Dedy Wiratama

Oleh Dyah Ayu Ratnaningtyas

153 KB 3 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Tgt Dedy Wiratama

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TEAM GAMES TOURNAMENT PADA MATA PELAJARAN IPS TERPADU (Studi Kasus Siswa Kelas VII E SMP Negeri 9 Semarang) Dedy Wiratama* ,Palupiningdyah, Hengky Pramusinto Jurusan Pendidikan Ekonomi FE Universitas Negeri Semarang Gedung C6 Kampus Sekaran Gunungpati Telp. (024) 8508015 Semarang email: dedywiratama@yahoo.co.id ABSTRAK Berdasarkan observasi di SMP Negeri 9 Semarang menunjukkan hasil belajar IPS Terpadu, dimana presentase ketuntasan belajar siswa sebesar 7,4%. Sebanyak 2 siswa dari 27 siswa tidak tuntas dengan nilai dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Metode pengumpulan data penelitian adalah observasi/pengamatan berupa lembar observasi siswa, dokumentasi, serta tes hasil belajar tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar setelah perlakuan dengan menggunakan metode pembelajaran TGT. dilihat dari rata-rata hasil belajar pada siklus I sebesar 79,18 % dengan ketuntasan klasikalnya sebesar 77,78%. Dari rata-rata hasil belajar pada siklus II yakni sebesar 83,04% dengan ketuntasan klasikalnya sebesar 88,89%. Disimpulkan bahwa metode pembelajaran TGT mampu meningkatkan hasil belajar siswa dan lebih efektif meningkatkan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar mendiskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, kegiatan konsumsi, produksi dan distribusi kelas VII E SMP Negeri 9 Semarang. Kata Kunci : Hasil Belajar, Metode Pembelajaran Team Games Tournament (TGT) dan IPS Terpadu. ABSTRACT Based on the observation at SMP Negeri 9, the data showed the low indication of student’s learning achievement, in which the percentage of students learning accomplishment was 7,4%. Up to 2 of 27 students did not accomplish and the score was under the minimum criteria (KKM). Research data collection method is observation (in the form of student observation sheets), achievement test by the end of the cycle and documentation. The result shows that there was a significant improvement of learning result after the treatement using TGT learning method. The mean of learning result in the cycle I was 79.18% with the classical accomplishment up to 77.78%. The mean of learning result in the cylce II reached 83,04% with the classical accomplishment of 88,89%. Meanwhile, the observation result toward the students’ activities during the learning process by TGT in the cycle I was 55,4% and the cycle II was 77,6%. Based on the result of this research, conclusion that can be drawn about TGT method is that it can improve the students’ learning achievement and can more effectively improve the students’ learning for the basic competence of describing the pattern of people’s economic activities, activity of consumption, production, and distribution in class VII E SMP Negeri 9 Semarang. Keywords: Learning achievement, Team Games Tournament (TGT) method, and Integrated Social Science. 1 PENDAHULUAN Perubahan perilaku dalam pembelajaran yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Adapun tujuan proses pembelajaran di sekolah adalah bahwa semua siswa dapat memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Menurut Hamalik (2009:155) hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. perubahan tersebut dapat diartikan terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, misal dari yang tidak tahu menjadi tahu, sikap kurang sopan menjadi sopan. Sedangkan tingkat keberhasilan belajar siswa dapat diketahui dari sejauh mana pemahaman dan penangkapan ilmu oleh siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari, yang ditunjukkan pada nilai-nilai yang diperoleh siswa pada saat diadakan evaluasi atau penilaian. Tercapainya tujuan pembelajaran atau hasil pengajaran sangat dipengaruhi oleh bagaimana aktivitas siswa dalam belajar. Suatu proses belajar mengajar dikatakan berjalan dengan baik, apabila proses belajar mengajar dapat membangkitkan kegiatan belajar yang efektif. Menurut Sardiman (2012:96) itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Berdasarkan penelitan yang dilakukan oleh Slavin (2005:4-5) mendukung penggunaan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencapaian prestasi para siswa, dan juga akibat–akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antar kelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa harga diri. Satu aspek pembelajaran kooperatif ialah bahwa disamping pembelajaran kooperatif membantu mengembangkan tingkah laku kooperatif dan hubungan yang lebih baik diantara siswa, pembelajaran kooperatif secara bersamaan membantu siswa dalam pelajaran akademis mereka. Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah metode Team Games Tournament (TGT). Dalam pembelajaran Team Games Tournament merupakan metode pembelajaran kelompok yang melibatkan aktivitas siswa dengan terjadi pertukaran pikiran atau gagasan mengkonstruksi pengetahuan di antara siswa dalam kelompok saat mendapatkan tugas. Slavin (2005:167) menyebutkan 2 Para siswa menyadari bahwa kompetisi merupakan sesuatu yang selalu mereka hadapi setiap saat, tetapi Team Games Tournament memberikan mereka peraturan dan strategi untuk bersaing sebagai individu setelah menerima bantuan dari teman mereka. Penggunaan metode pembelajaran Team Games Tournament mungkin dapat menjadikan siswa terpacu untuk lebih belajar aktif karena terlibat persaingan untuk memenangkan permainan yang disediakan guru. Menurut Slavin (2005:167) game itu sendiri menciptakan warna positif di dalam kelas karena kesenangan siswa terhadap permainan tersebut. SMP Negeri 9 Semarang merupakan salah satu sekolah yang berdomisili di jalan Sendang Utara Raya no.2 Semarang, yang selalu meningkatkan kualitas di dalam pembelajaran dengan didukung dengan tenaga pendidik yang profesional dan berbagai sarana belajar yang memadai sangat menunjang aktivitas belajar siswa yang beracuan pada kurikulum Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dasar penilaian prestasi siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu menggunakan ketentuan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan sesuai dengan surat edaran kepala sekolah yaitu 80. Data hasil observasi pada mata pelajaran IPS Terpadu kajian Ekonomi di SMP Negeri 9 mengenai aktivitas dan hasil belajar kelas VII E pada semester gasal tahun pelajaran 2012/2013. Guru dalam proses belajar mengajar tidak hanya menggunakan metode ceramah saja tetapi sudah menggunakan model pembelajaran yang bervariasi diantaranya membentuk kelompok belajar dalam memecahkan tugas yang diberikan oleh guru, menggunakan tanya jawab dengan siswa dan observasi. Selain itu media yang digunakan dalam proses belajar mengajar meliputi penggunaan White Board dan LCD proyektor yang memungkinkan siswa dapat lebih baik dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan. Beberapa asumsi tentang rendahnya hasil belajar siswa kelas VII E dalam pembelajaran IPS disebabkan oleh adanya anggapan bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran hafalan sehingga kurang menarik. Selain itu, IPS merupakan mata pelajaran hafalan yang memadukan Ekonomi, Geografi, Sejarah dan Sosiologi. 3 Data pada hasil belajar dapat dilihat pada Ulangan Harian semester gasal siswa kelas VII E SMP N 9 Semarang ditunjukan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 1.1 Nilai Ulangan Harian Mata Pelajaran IPS Terpadu VII E pada Semester Gasal Tahun Pelajaran 2012/2013 Jumlah Siswa Kelas 27 VII E Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 80 Tuntas Persentase Tidak Tuntas Persentase 2 siswa 7,4% 25 siswa 92,6% Sumber : data yang diolah 2013 Tabel di atas menunjukkan persentase ketuntasan belajar hasil ulangan harian semester gasal tahun ajaran 2012/2013, terdapat 7,4% siswa yang tuntas atau sebanyak 2 siswa dan yang tidak tuntas 92,6% atau sebanyak 25 siswa. Karena itu hasil belajar di kelas VII E perlu ditingkatkan. METODE Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII E SMP Negeri 9 Semarang tahun pelajaran 2012/2013. Adapun jumlah siswa sebagai subyek penelitian adalah 27 siswa. Metode pengumpulan data penelitian adalah observasi/pengamatan berupa lembar observasi siswa metode observasi yaitu mengamati aktivitas siswa saat diterapkannya pembelajaran dengan menggunakan metode TGT, metode dokumentasi yaitu daftar nama siswa dan daftar hasil belajar siswa, serta metode tes hasil belajar tiap akhir siklus. Metode analisis data yang digunakan data kuantitatif (nilai hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara deskriptif dan kualitatif yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa tentang tingkat pemahaman terhadap suatu mata pelajaran IPS Terpadu (kognitif), pandangan atau sikap siswa terhadap metode pembelajaran yang baru yakni metode pembelajaran TGT (afektif), aktifitas siswa mengikuti pelajaran dalam penggunaan metode pembelajaran TGT (psikomotorik), perhatian, antusias dalam belajar, kepercayaan diri, motivasi belajar dan sejenisnya dapat dianalisis secara kualitatif. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian pra siklus bahwa hasil nilai siswa pada waktu pra tindakan ini diketahui bahwa siswa yang mendapat nilai sama dengan atau diatas KKM 80 adalah 3 siswa atau 11,11%. Sedangkan siswa yang tidak tuntas sebanyak 24 siswa atau 88,89%. Pada siklus I merupakan siklus awal, suasana dalam pembelajaran belum ada perkembangan yang cukup berarti. Artinya, masih terdapat siswa yang ramai dan belum terbiasa terhadap metode pembelajaran yang digunakan, kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran masih rendah, keberanian siswa untuk bertanya atau berpendapat pun masih sedikit selain itu masih ada siswa yang bingung dalam penghitungan skor TGT, siswa masih belum terbiasa menyelesaikan soal dengan tepat waktu. Suasana kelas belum kondusif, masih terlihat ada beberapa siswa yang belum tertib.. Secara keseluruhan hasil pelaksanaan siklus I pada kelas dengan metode pembelajaran TGT yang mana metode ini masih membutuhkan banyak penyesuaian dari pihak guru maupun siswa. Hal ini karena siswa belum terbiasa dengan metode pembelajaran TGT. Dalam mengerjakan tes evaluasi masih ada beberapa siswa yang mencontek maupun mencoba meminta bantuan kepada temannya. Berdasarkan hasil tes evaluasi pada siklus I, terdapat mengalami peningkatan, ada 21 siswa yang tuntas, dan ada 6 siswa yang belum tuntas. Kemudian nilai tertingginya adalah 88 dan nilai terendahnya adalah 60. Nilai rata-rata kelas pada siklus I sebesar 79,18% dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 77,78% dan aktivitas siswa pada siklus I persentase siswa sebanyak 55,4%, sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II. Gambaran secara umum pelaksanaan siklus II mengalami peningkatan hasil belajar yang sangat baik. Hasil refleksi pada siklus II sebagai berikut: Data pengukuran hasil belajar penelitian siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I. Ketuntasan hasil belajar pada hasil tes evaluasi siklus II mengalami peningkatan sebesar 83,04% dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 88,89% dan pada aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 77,6%. Ini menunjukkan bahwa siswa sudah biasa dalam proses pembelajaran menggunakan metode TGT. Kesiapan belajar siswa meningkat, keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapat serta siswa mampu menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru dengan waktu yang ditentukan dan suasana kelas lebih tertib dan kondusif saat proses pembelajaran. 5 Selain itu pada siklus II ini aktivitas siswa mengalami peningkatan dibandingkan aktivitas siswa pada siklus I, hal tersebut ditunjukan pada tabel dibawah ini: Tabel 4.9 Perbandingan Siklus I dan Siklus II No Keterangan Persentase (%) . 1. Siklus I 55,4 2. Siklus II 77,6 Sumber: Data hasil aktivitas siswa 2013 Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa terjadi peningkatan aktivitas siswa pada siklus I persentase siswa sebanyak 55,4% mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 77,6% atau dengan kata lain meningkat sebesar 22,2%. Hasil evaluasi pembelajaran pada siklus II dengan metode TGT dapat diketahui hasil belajar sebagai berikut: Tabel 4.10 Hasil Analisis Tes siklus II No. Hasil Tes Siklus I Siklus II 1. Jumlah Siswa 27 siswa 27 siswa 2. Nilai Tertinggi 88 92 3. Nilai Terendah 60 74 4. Jumlah Siswa yang tuntas 21 siswa 24 siswa 5. Jumlah Siswa yang tidak tuntas 6 siswa 3 siswa 6. Rata-rata kelas 79,18% 83,04% 7. Ketuntasan klasikal 77,78% 88,89% Sumber: Data nilai siswa siklus I dan siklus II Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat peningkatan pada setiap tahap, ketuntasan hasil belajar pada hasil tes evaluasi siklus II mengalami peningkatan, ada 24 siswa yang tuntas, dan ada 3 siswa yang belum tuntas. Kemudian nilai tertingginya adalah 92 dan nilai terendahnya adalah 74. Nilai rata-rata kelas pada siklus II sebesar 83,04% dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 88,89%. Perbandingan dari hasil tes evaluasi siklus II lebih baik dari pada siklus I, yaitu meningkat sebesar 3,86 % untuk nilai rataratanya dan untuk ketuntasan klasikalnya meningkat sebesar 11,11%. Karena hasil 6 penelitian pada siklus II sudah sesuai dengan harapan, maka tidak dilanjutkan untuk siklus berikutnya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa dengan semakin sering menggunakan metode pembelajaran TGT dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran pokok kegiatan ekonomi pada siswa kelas VII E SMP Negeri 9 Semarang. Hal tersebut dapat dilihat dimana pada siklus I untuk nilai rata-rata kelasnya sebesar 79,18% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 83,04%. Untuk ketuntasan klasikalnya pada siklus I ketuntassan klasikalnya sebesar 77,78% pada siklus II meningkat menjadi 88,89%. UCAPAN TERIMAKASIH 1. Dra. Palupiningdyah, M.Si Dosen Pembimbing I; 2. Hengky Pramusinto, S.Pd, M.Pd Dosen Pembimbing II; 3. Setyo Budi S.Pd, MM, Kepala Sekolah SMP Negeri 9 Semarang; 4. M Nona Dewi Wahyuni S.Pd guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 9 Semarang; 5. Siswa-siswi kelas VII E SMP Negeri 9 Semarang. DAFTAR PUSTAKA Hamalik Oemar.2009. Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta:Bumi Aksara. Sardiman.2012.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta:Rajawali Pers. Slavin E Robert.2009.Cooperative Learning Teori, Riset dan Prakik.Bandung: Nusa Media. Sudjana, Nana.2009.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.Bandung: Rosdakarya. Suharsimi Arikunto.2009.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara. 7

Judul: Jurnal Tgt Dedy Wiratama

Oleh: Dyah Ayu Ratnaningtyas


Ikuti kami