Tugas Jurnal Pak Ari

Oleh Titania Firda

214 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Tugas Jurnal Pak Ari

ANALISA KUALITAS PELAYANAN KESELAMATAN DAN KEAMANAN PETUGAS AVIATION SECURITY (AVSEC) TERHADAP KEPUASAN PENUMPANG DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL I GUSTI NGURAH RAI BALI Titania Firda Politeknik Penerbangan Surabaya Titaniafirda98@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan penumpang terhadap kualitas pelayanan keselamatan dan keamanan petugas Aviation Security (AVSEC). Penelitian ini dilakukan di unit Aviation Security di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Data dikumpulkan dengan kuesioner dengan sampel 100 orang responden. Pengolahan data dengan menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) untuk mengukur besarnya kepuasan konsumen. Apabila hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan nilai yang menunjukkan tingkat kepuasan akan pelayanan keselamatan keamanan penerbangan di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dengan nilai 97 maka dinyatakan sangat puas. Meskipun nantinya sistem keamanan, tingkat kesiapan personil, dan tingkat kepuasan pengguna jasa pelayanan Aviation Security di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali dinyatakan “Sangat Puas”, petugas Aviation Security harus tetap waspada dengan situasi yang ada yang dapat menimbulkan gangguan keselamatan dan keamanan di bandar udara. Kata Kunci: Kepuasan Penumpang, Keselamatan dan Keamanan Penerbangan, Petugas AVSEC. ABSTRACT This study aims to determine the level of passenger satisfaction with the quality of Aviation Security (AVSEC) security services. This research was conducted at the Aviation Security unit at I Gusti Ngurah Rai International Airport, Bali. Data collected by questionnaire with a sample of 100 respondents. Data processing using Customer Satisfaction Index (CSI) to measure the amount of customer satisfaction. The results showed that the calculation of the value that shows the level of satisfaction with aviation security services at I Gusti Ngurah Rai International Airport in Bali with a value of 96 or was declared very satisfied. Although the security system, the level of preparedness of personnel, and the level of satisfaction of Aviation Security service users at the I Gusti Ngurah Rai International Airport in Bali are declared "Very Satisfied", Aviation Security officers must remain vigilant with the situation that can cause security disturbances at the airport. Keywords: Passenger Satisfaction, Aviation Security, AVIATION SECURITY Officer. 1 LATAR BELAKANG Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai adalah Bandar Udara Internasional yang terletak di sebelah selatan Bali, Indonesia tepatnya di daerah kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Bali sekitar 13 Km dari Denpasar. Kode IATA nya adalah DPS, sedangkan kode ICAO nya WADD (dahulu WRRR). Bandara I Gusti Ngurah Rai merupakan Bandara tersibuk ketiga di Indonesia, setelah Bandara Internasional Soekarno hatta dan Bandara Internasional Juanda. Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departemen Pekerjaan Umm). Landas pacu berupa airstrip sepanjang 700 M dari rumput di tengah ladang dan pekuburan di desa Tuban, masyarakat sekitar menamakan airstrip sebagai Pelabuhan Udara Tuban. Tahun 1935 sudah dilengkapi dengan peralatan telegraph dan KNILM (Koninklijke Nederlands Indische Luchtvaar Maatschappij) atau Royal etherlands Indies Airways mendarat secara rutin di south Bali yang merupakan nama lain dari Pelabuhan Udara Tuban. Pada tahun 1942 Airstrip South Bali dibom oleh tentara Jepang yang kemudian dikuasai untuk tempat mendaratkan pesawat temput dan pesawat angkut mereka. Airstrip yang rusak akibat pengeboman diperbaiki oleh tentara Jepang dengan mengunakan peer still plate (sistem plat baja) Lima tahun berikutnya 1942-1947, airstrip mengalami perubahan, panjang landasan pacu menjadi 1200 meter dari semula 700 meter. Tahun 1949 dibangun gedung terminal dan menara pengawas penerbangan sederhana yang terbuat dari kayu. Komunikasi penerbangan mengunakan transceiver kode morse. Untuk meningkatkan kepariwisataan Bali, pemerintah Indonesia kembali membangun gedung terminal internasional dan memperpanjang landas pacu yang semula 1200 meter menjadi 2700 meter dengan overrun 2x100 meter. Proyek ini berlangsung dari tahu 1963- 1969 diberi nama proyek Airport Tuban dan Sekaligus sebagai persiapan internasionalisasi Pelabuhan Udara Tuban. Proses reklmasi pantai sejauh 1500 meter dilakukan dengan mengambil material batu kapur yang berasal dari Ungasan dan batu kali serta pasir Sungai Antosari – Tabanan. Seiring selesainya terminal sementara dan runway pada proyek Airport Tuban, pemerintah meresmikan pelayanan penerbangan internasional di Pelabuhan Udara, tanggal 10 Agustus 1966. Penyelesaian pengembangan Pelabuhan Udara Tuban ditandai dengan peresmian oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Agustus 1969, yang sekaligus menjadi momen perubahan nama dari Pelabuhan Udara Tuban Menjadi Pelabuhan Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai (Bali International Airport I Gusti Ngurah Rai). Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kargo, maka pada tahun 1975 sampai dengan 1978 pemerintah Indonesia kembali membangun fasilitas-fasilitas penerbangan, antara lain dengan membangun terminal internasional baru. Gedung terminal lama selanjutnya dialih fungsikan menjadi terminal domestik, sedangkan terminal domestik yang lama digunakan sebagai gedung kargo, usaha, jasa katering dan gedung serba guna. Saat ini, terminal domestik menempati area terminal internasional lama. Terminal domestik keberangkatan memiliki 8 gerbang, gerbang 1A, 1B, 1C, 2, 3, 4, 5 dan 6. Terminal domestik kedatangan memiliki 5 pengambilan bagasi. Terminal internasional sudah selesai di renovasi untuk keberangkatan berada di lantai 3dan kedatangan ada di lantai 1. 2 Terminal internasional keberangkatan mememiliki 14 gerbang. Gerbang 1A, 1B, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9A, 9B berada di lantai 3 dan gerbang 10, 11, 12 berada dilantai 1. Untuk gerbang keberangkatan internasional difasilitasi garbarata. Terminal internasional kedatangan memiliki 7 pengambilan bagasi. Terdapat pula fasilitas Visa On Arrival (VOA), Imigrasi dan Bea Cukai di area kedatangn internasional. Keamanan di bandar udara dilakukan oleh petugas keamanan khusus yang disebut Aviation Security (AVSEC). Aviation Security adalah gabungan sumber daya manusia, fasilitas dan materil serta prosedur untuk melindungi penerbangan sipil dari tindakan gangguan melawan hukum menurut (Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 54 tahun 2004 tanggal 21 Mei 2004). AVSEC atau Aviation Security bukanlah Security pada umumnya seperti Satpam, Security Bank, Security Mall. Namun AVSEC memiliki pendidikan khusus untuk mendapatkan keahlian dibidang pengamanan. AVSEC bisa disebut juga dengan Polisi Bandara dimana tugas dan tanggung jawabnya adalah mengamankan, melindungi juga menangkal gangguan-gangguan yang dapat membahayakan regulasi penerbangan. AVSEC harus memiliki tanda kecakapan khusus atau disebut LISENCE/SERTIFIKAT/STKP (Surat Tanda Kecakapan Petugas). Avsec bertugas bandara baik bandara domestik maupun International untuk penempatan Daerah Public, Daerah Tertutup dan Daerah Terbatas. AVSEC penerbangan memiliki tugas penting salah satunya untuk melindungi penerbangan sipil terhadap tindakan melawan hukum baik oleh pesawat udara, instalasi, awal pesawat di darat, konsumen ataupun penumpang. Biasanya petugas dari AVSEC bandara bisa dilihat di bagian mesin x-ray yang mana jadi proses wajib bagi penumpang saat melakukan check in ataupun boarding di sebuah bandara. Bisa dikatakan bahwa AVSEC menjadi bagian petugas keamanan penerbangan, dimana sudah melalui proses pendidikan keamanan sehingga memberikan kinerja terbaik kepada semua aspek penerbangan. Kinerja dari AVSEC sudah diatur dalam regulasi berskala internasional ataupun nasional sehingga lisensi hingga surat ijin kecakapan personil harus ada dari seorang AVSEC bandara. Regulasi surat-surat resmi langsung diturunkan oleh pemerintah kemudian menjadi pedoman dalam menjalankan tugasnya di setiap keamanan bandara LANDASAN TEORI Bandar udara menurut Undang- undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan penerbangan serta fasilitas pokok dan fasilitas penunjang. Selanjutnya Pasal 228, menyatakan bahwa otoritas bandar udara mempunyai tugas dan tanggung jawab: ayat (a) menjamin keselamatan, keamanan, kelancaran, dan kenyamanan di bandar udara; (b) memastikan terlaksana dan terpenuhinya ketentuan keselamatan dan keamanan penerbangan, kelancaran, dan kenyamanan di bandar udara. Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan, Pasal 55, menyatakan bahwa terhadap bagasi dari penumpang yang batal 3 berangkat dan/ atau bagasi yang tidak bersama pemiliknya, wajib dilakukan pemeriksaan keamanan ulang untuk dapat diangkut dengan pesawat udara. Ditinjau dari aspek keamanan, terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di bandar udara berupa kejahatan seperi pencurian barang bawaan penumpang maupun pelanggaran seperti membawa barang terlarang (narkoba), hal ini tentunya perlu kiranyadiperhatikan supaya dapat mengurangi tingkat kejadiannya. Untuk mencegah terjadinya tindakan melawan hukum tentunya diperlukan tingkat kemampuan dari petugas keamanan bandar udara, fasilitas peralatan yang cukup dan disertai dengan sistim dan prosedur pengamanan bandar udara. Pengawasan keamanan di suatu bandar udara terhadap penumpang, barang dan kendaraan sebaiknya dimulai sejak dari area publik yang setiap orang masih bebas keluar masuk tanpa harus menunjukkan kartu pengenal (Pas bandar udara), hal ini diperlukan untuk lebih terciptanya situasi aman bagi setiap penumpang maupun siapapun yang melakukan kegiatan di wilayah bandar udara. Tempat Pemeriksaan Keamanan (Security Check Point/SCP) adalah tempat pemeriksaan keamanan bagi penumpang, orang, personel pesawat udara dan barang yang akan masuk ke daerah keamanan terbatas dan/atauruang tunggu di gedung terminal Bandar udara. Berdasarkan SKEP 2765/ XII/2010 tempat pemeriksaan keamanan (Security Check Point/SCP) dibagi dalam 2 (dua) area yaitu : 1. Tempat pemeriksaan keamanan pertama (Security Check Point/SCP-1), Terletak pada pintu masuk menuju daerah sekitar tempat pelaporan keberangkatan (counter checkin serta Harus memiliki sekurang - kurangnya 1 (satu) jalur pemeriksaan. 2. Tempat pemeriksaan keamanan kedua (Security Check Point/SCP2), Terletak di daerah pintu masuk menuju ruang tunggu dan Jalur pemeriksaan yang menggunakan peralatan keamanan penerbangan harus mempunyai peralatan keamanan paling sedikit meliputi mesin x-ray bagasi tercatat; gawang detector logam (Walk Through Metal Detector / WTMD ); dan detektor logam genggam (Hand Held Metal Detector / HHMD ). Keselamatan penumpang, awak pesawat, petugas di darat dan masyarakat umum harus menjadi tujuan utama dari masing-masing negara anggota dalam segala masalah yang berhubungan dengan penanganan keamanan terhadap tindak gangguan melawan hukum dalam penerbangan sipil intrnasional diatur dalam Annex 17. Pengamanan Sisi Darat setiap personel dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan SOP yang berlaku seperti : Pengamatan dan pengawasan dari pos jaga; Selalu mengunci kembali pintu-pintu dan akses-akses setelah dipergunakan; Penertiban arus lalu lintas di sekitar terminal dan gedung administrasi; Patroli rutin dimaksudkan untuk mengamankan obyek vital bandara dan menjamin keamanan dan ketertiban di sisi wilayah bandara. 4 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana kesiapan personil dan peralatan Aviation Security dalam mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan di Bandar Udara dan Pesawat Terbang ? 2. Seberapa besar Tingkat kepuasan penumpang terhadap kualitas pelayanan keamanan petugas Aviation Security yang dirasakan pengguna jasa keamanan penerbangan yang berada di lingkungan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali ? TUJUAN PENELITIAN 1. Menganalisa kesiapan personil dan peralatan Aviation Security dalam mengantisipasi terjadinya gangguan keamanan di Bandar Udara dan Pesawat Terbang. 2. Menganalisa seberapa besar tingkat kepuasan pengguna terhadap kualitas pelayanan keamanan petugas Aviation Security yang dirasakan pengguna jasa keamanan penerbangan yang berada di lingkungan Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. KAJIAN PUSTAKA Kualitas pelayanan berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaianya untuk mengimbangi harapan konsumen (Tjiptono 2014 : 268). Sedangkan Menurut Wyock (dalam lovelock,1988) yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (2014 : 268), Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan (excellent) yang diharapkan dan pengendalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dari Definisi di atas dapat dikatakan bahwa baik tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan konsumen secara konsisten karena kualitas berhubungan erat dengan kepuasan konsumen. Sejatinya Kualitas harus dimulai dari apa yang konsumen butuhkan dan berakhir pada persepsi konsumen. Citra kualitas tidak berdasarakan sudut pandang penyedia jasa melaikan berdasarkan sudut pandang atau persepsi konsumen. Maka dari itu perusahaan harus dapat memahami harapan konsumen lebih baik lagi dan dapat meningkatkan kepuasan konsumen dengan memaksimumkan pengalaman konsumen yang menyenangkan dan meminimumkan pengalaman konsumen yang kurang menyenangkan. Pengamanan merupakan bentuk usaha mengamankan suatu kondisi penting bagi operasional perusahaan atau unit lain. Pengamanan dilakukan untuk menciptakan suasana yang bebas dari segala ancaman, gangguan, dan hambatan setiap usaha/pekerjaan. Pengaman digunakan untuk melindungi sarana dan prasarana (materil – personil – dokumen dan informasi) serta usaha dari segala macam ancaman dan gangguan serta hambataan yang bersifat preventif dan represif. Berkaitan dengan penyelenggaraan pengamanan penerbangan, petugas keamanan wajib menjaga dan mengawasi pintu-pintu masuk, baik yang berada di daerah Publik Area dan Non Publik Area terhadap pemeriksaan kendaraan terutama pada kendaraan yang keluar masuk dan beroperasi di sisi udara. Untuk mencegah terjadinya 5 kejahatan/kriminal atas benda–benda yang berada dalam gedung/instalasi vital di dalam bandar udara baik yang ada di lanside maupun di airside. Penyelenggaraan pengamanan bandar udara mempunyai dasar hukum yang bersumber dari dalam negeri dan internasional, dasar hukumnya antara lain sebagai berikut: Undang- undang No. 4 tahun 1976, tanggal 27 April 1976 tentang perubahan dan penambahan beberapa pasal dalam kitab undang- undang hukum pidana bertalian dengan perluasan berlakunya ketentuan perundang- undangan pidana, kejahatan penerbangan dan kejahatan terhadap sarana dan prasarana penerbangan. KM 73 tahun 1996 tentang pengamanan penerbangan Sipil. SKEP DITJENHUBUD 12/1/1995 tentang surat tanda kecakapan operator peralatan pengamanan dan petugas pemeriksaan penumpang tanggal 17 Januari 1995. SKEP DITJENHUBUD No. SKEP 275/XII/1998 tentang penggangkutan bahan dan atau barang berbahaya dengan pesawat udara (Dangerous Goods) tanggal 9 Desember 1998.PP 3 tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan. SKEP/12/I/1995: Surat Tanda Kecakapan Operator Peralatan Sekuriti dan Petugas Pemeriksa Penumpang. SKEP 43/2007 : Penanganan Barang Bawaan Berbentuk Cairan, Gas dan Jeli yg Dibawa Penumpang Kedalam Kabin Pesawat pada Penerbangan Internasional. Annex 17 ICAO: SECURITY (Safeguarding International Civil Aviation Against Acts of Unlawful Interference) Adapun prosedur pemeriksaan keamanan di bandar udara berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara NOMOR : SKEP/2765/XII/2010, tentang Tata Cara Pemeriksaan Keamanan Penumpang, Personel Pesawat Udara dan Barang Bawaan yang diangkut dengan pesawat udara dan orang perseorangan, antara lain meliputi: Pemeriksaan penumpang mulai penumpang masuk kedalam terminal bandar udara, diperiksa kesesuian tiket dengan identitas penumpang, sebelum masuk di cek-in couter dilakukan pemeriksaan penumpang dan barang bawaan dengan menggunakan beberapa alat pemeriksa kemanan yaitu Walk Through Metal Detector, Hand Held Metal Detector, Mesin X – Ray, Explosive Detector di security cek point satu (SCP 1). Bertujuan untuk memeriksa benda yang melekat di tubuh penumpang dan memeriksa isi dari barang bawaan apakah termasuk kategori barang yang berbahaya. Bila diindikasikan terdapat barang yang berbahaya maka akan di lakukan pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut sesuai prosedur penanganan keamanan. Kemudian sebelum masuk ke ruang tunggu penumpang dan barang bawaan yang akan dibawa ke dalam pesawat harus di periksa lagi di SCP 2, hal ini dilakukan untuk memberikan tingkat keamanan penerbangan yang optimal. Semua cara penanganan dilakukan dengan sopan dan tanggungjawab sesuai dengan Standard Operating Prosedur. Kepuasan pelanggan (Oliver dalam Tjiptono, 2000) merupakan evaluasi purna beli, dimana persepsi terhadap kinerja alternatif produk/jasa yang dipilih memenuhi atau melebihi harapan sebelum pembelian. Apabila persepsi terhadap kinerja tidak dapat memenuhi harapan, maka yang terjadi adalah ketidakpuasan. Sedangkan Menurut Kotler (2013), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Apabila kinerja dari produk tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan, maka konsumen akan puas. Dari definisi di atas menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan merupakan suatu pemenuhan harapan. Jadi, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang 6 muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja/hasil suatu produk dan harapan-harapaannya. Jadi tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapannya. Apabila kinerja dibawah harapan, maka konsumen akan kecewa. Bila kinerja sesuai dengan harapan, konsumen akan puas. Sedangkan bila kinerja melebihi harapan, konsumen akan sangat puas. Harapan konsumen dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi pemasar dan saingannya. Konsumen yang puas akan setia lebih lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan. Tolak ukur kepuasan pelanggan terhadap pelayanan menjadi faktor yang penting dalam mengembangkan suatu sistem penyediaan pelayanan yang memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan. Pelanggan akan merasa puas apabila petugas memberikan pelayanan secara maksimal kepada pelanggan. Tolak ukur kepuasan pelanggan dapat dilihat dari : Kepuasan secara keseluruhan yaitu persepsi kehandalan petugas terhadap pelanggan secara benar dan tanggung jawab, untuk menciptakan terpenuhinya kebutuhan pelanggan yang diperlukan. Mengukur loyalitas yaitu pelanggan akan merasa puas terhadap afektif dan perilaku bagaimana petugas memberikan pelayanan tersebut. Pengukuran serangkaian atribut kepuasan terhadap pelanggan yaitu kepuasan pelanggan yang harus menentukan dan mengembangkan langkah- langkah untuk setiap atribut yang penting bagi kepuasan pelanggan. Tingkat kepuasan pelanggan dapat ditenntukan oleh faktor utama yang harus di perhatikan di dalam jasa transportasi udara yaitu faktor keamanan. Pengamanan sangat diperlukan dalam dunia penerbangan dengan adanya parameter yaitu: Performa personil pengamanan/penampilan personil pengamanan sangat berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan. Skill personil/keahlian personil pengamanaan harus bisa dan tahu tentang pengamanan apa saja yang menjadi tugasnya untuk menciptakan kepuasan pelanggan di Bandar udara. METODOLOGI PENELITIAN Obyek penelitian ini adalah Unit Aviation Security Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Subyek dari penelitian ini adala penumpang di Bandar udara internasional I Gusti Ngurah Rai Bali,. Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan di teliti, sedang populasi adalah seluruh penumpang yang menggunakan pelayanan di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali yang menggunakan jasa penerbangaan untuk seluruh maskapai. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah Accident Sampling adalah mengambil responden sebagai sampel, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila orang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Untuk menentukan jumlah sampel, peneliti menggunakan rumus slovin dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi dikali dengan junglah tingkat toleransi kesalahan pangkat dua, berikut rumus slovin. 7 Keterangan : n = jumlah sampel N = jumlah populasi e = batas toleransi kesalahan (error tolerance) Dari uraian diatas tentang teknik pengambilan sampel maka penulis menggunakan 100 orang responden dari semua orang yang menggunakan jasa pelayanan penerbangan. Customer Satistification Index (Indeks Kepuasan Pelanggan) Customer Satisfication digunakan untuk menganalisis tingkat kepuasan penumpang secara menyeluruh dengan melihat tingkat harapan dari atribut-atribut produk atau jasa. Nilai CSI dalam penelitian ini dibagi kedalam lima kriteria sangat puas sampai dengan sangat tidak puas. Pengukuran terhadap indeks kepuasan pelanggan diperlukan karena hasil dari pengukuran tersebut dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan sasaran-sasaran dimasa yang akan datang. Tanpa adanya indeks kepuasan pelanggan tidak mungkin pihak Bandara dapat menetukan target dalam peningkatan kepuasan pelanggan. Selain itu indeks juga diperlukan karena proses pengukuran kepuasan pelanggan bersifat berkelanjutan atau continue. Cara menghitung indeks kepuasan pelanggan yaitu : Nilai rata-rata pada kolom kepentingan (I) dijumlahkan dan diperoleh Y dan juga hasil kali dari I dengan P pada kolom skor (S) dijumlahkan dan diperoleh T. CSI diperoleh 8 dari perhitungan (T/5Y) x 100 %. Nilai 5 (Pada 5Y) Adalah nilai maksimum yang digunakan pada skala pengukuran. CSI dihitung dengan rumus : Nilai maksimum CSI adalah 100%. Nilai CSI 50% atau lebih rendah menandakan kinerja pelayanan yang kurang baik. Nilai CSI 80% atau lebih tinggi mengindikasikan pengguna merasa puas terhadap kinerja pelayanan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang telah dilakukan disimpulkan hal-hal yang terkait dengan analisa pelayanan yang dilakukan oleh Unit Aviation Security Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, yaitu: Tingkat kesiapan personil Unit Aviation Security dan peralatannya dinyatakan sebagai berikut: Jumlah personil petugas Aviation Security di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali berjumlah 103 Orang diantaranya yaitu Airport operation & Readiness Section Head 1 Orang, Team Leader berjumlah 6 Orang, Squad Leader berjumlah 4 Orang, Officer berjumlah 11 Orang, Staff Angkasa Pura berjumlah 1 Orang, Petugas berstatus pegawai Angkasa Pura berjumlah 23 Orang, Petugas dari TNI-AU berjumlah 10 Orang dan sisanya berstatus sebagai Out Sourching. Sedangkan Jenis peralatan yang ada di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali antara lain Mesin X-Ray, Walk – Through Metal Detector (WTMD), Metal Detector, Explosive Detector,Hand Held Metal Detector (HHMD), Ruang Closed Circuit Television (CCTV), Telepon, HT (Handy Talky), Perimeter, Golf Car (Mobil patroli). Proses shift kerja di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali bertukar posisi tempat selama 4 jam sekali dan terbagi atas 4 grup di setiap timnya berjumlah 24-26 orang. Besar pengaruh kualitas pelayanan keamanan petugas Aviation Security (Aviation Security ) terhadap kepuasan penumpang di bandar udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali ditunjukkan pada Tabel 3 di bawah ini: 9 Berdasarkan tabel 3 di atas diperoleh perhitungan nilai pada kolom kepentingan pelayanan (I) dijumlahkan dan diperoleh Y = 90. Sedangkan Nilai Σ Harapan maka dinyatakan sebagai nilai T. Sehingga T = 432. Perhitungan keseluruhan CSI (Customer Satistification Index) menurut Bhote (1995). Nilai rata-rata pada kolom kepentingan (I) dijumlah kan dan diperoleh Y dan juga hasil kali dari I dengan P pada kolom skor (S) dijumlah kan dan diperoleh T. CSI diperoleh dari perhitungan (T/5Y) x 100 %.Nilai 5 (Pada 5Y) Adalah nilai maksimum yang digunakan pada skala pengukuran. CSI dihitung dengan rumus : maka dari perhitungan diatas dan berdasarkan tabel penentuan kepuasan pelanggan pada tabel 2. tentang kriteria penilaian customer satisfication index. Maka diketahui bahwa CSI dengan nilai 96% menunjukkan arti bahwa pelayanan yang dilakukan oleh unit Aviation Security Bandar Udara Adi Soemarmo Surakarta dalam kriteria “SANGAT PUAS”. 10 KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: Sistem keamanan penerbangan telah dilakukan dengan baik dengan predikat kriteria “sangat memuaskan” untuk area-area kerja pengamanan di Pintu masuk Check in Counter, Pemeriksaan pertama (pemeriksaan random), Pemeriksaan pada posisi kedua (pemeriksaan cabin bagage), Pemeriksaan Internasional. Tingkat kesiapan personil Unit Aviation Security dan peralatannya dinyatakan sangat siap karena jumlah personil dan peralatan yang digunakan sangat baik jika terjadinya gangguan keamanan di bandar udara dan Pesawat Terbang yang dinyatakan sebagai berikut: Jumlah personil petugas Aviation Security di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali berjumlah 103 Orang diantaranya yaitu Airport operation & Readiness Section Head 1 Orang, Team Leader berjumlah 6 Orang, Squad Leader berjumlah 4 Orang, officer berjumlah 11 Orang, Staff Angkasa Pura berjumlah 1 Orang, Petugas berstatus pegawai Angkasa Pura berjumlah 23 Orang, Petugas dari TNI-AU berjumlah 10 Orang dan sisanya berstatus sebagai Out Sourching. Jenis peralatan yang ada di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali antara lain Mesin X-Ray, Walk – Through Metal Detector (WTMD), Metal Detector, Explosive Detector, Hand Held Metal Detector (HHMD), Ruang Closed Circuit Television (CCTV), Telepon, HT (Handy Talky), Perimeter, Golf Car (Mobil patroli). Proses shift kerja di Bandar Udara Internasional Adi Soemarmo Surakarta bertukar posisi tempat selama 4 jam sekali dan terbagi atas 4 grup di setiap timnya berjumlah 24 -26 orang. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi Penelitian. Yogyakarta. : Rineka Cipta. Atmadjati, Arista, 2012. Manajemen Bandar Udara. Yogyakarta. : Leukito Prio. Amangku, Resing.2006. Pengamanan Penerbangan PT. (Persero) Angkasa Pura I. Surabaya Amangku, Resing.2007. Prosedur Skrining Penumpang Dan Barang. Surabaya Amangku, Resing.2007. Pengamanan Jalan Masuk. Surabaya Evania.2008. Pengembangan Sistem Pengamanan Bandara Agar Mampu Meningkatkan Keamanan Calon Penumpang Dengan Menerapkan Image Mining. STTKD Yogyakarta Tjiptono, Fandy. 2014. Pemasaran Jasa. Yogyakarta: Penerbit Andi Kristan, Yalfan Ndrudu.2016. Analisis Kualitas Pelayanan Maskapai Sriwijaya Air terhadap Kepuasan Pelanggan Di Bandara Internasional Adisutjipto Yogyakarta. STTA Yogyakarta PT. ANUGERAH WIRA ANGKASA.2013. Materi Diklat Basic Aviation Security (AVSEC ). Malang DITJENHUBUD.2010. Tentang surat tanda kecakapan operator peralatan pengamanan dan petugas pemeriksaan penumpang. Sugiyono, 2013. Metodologi penelitian. Yogyakarta. : ALFABET. Undang-Undang No 1 tahun 2009. Tentang Penerbangan. 11

Judul: Tugas Jurnal Pak Ari

Oleh: Titania Firda


Ikuti kami