Jurnal Buk Sil Baru

Oleh Ania Lingsih

131,4 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Buk Sil Baru

PELAKSANAAN NIKAH BAWAH TANGAN DI JORONG KUBANG DUO BUKIK BATBUAH OLEH: ANIA LINGSIH : 4617039 SEPRIA MELI YULITA :4617058 YOGA EKA SAPUTRA :4617048 Abstrak Pernikahan adalah upacara sakral yang dilakukan oleh sepasang sijoli yang telah membina hubungan pacaran, dalam sosiologi keluarga dikenal dengan seleksi jodoh. yang bertujuan untuk mengikat suatu hubungan yang sah dan membina sebuah rumah tangga baru. Dimana manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya baik secara biologis maupun ekonomi, karena pada hakikatnya manusia diciptakan berpasang-pasangan untuk saling melengkapi satu sama lain. Pada saat ini sering terjadi fenomena nikah bawah tangan atau nikah sirih yang dilaksanakan di Nagari Bukik Batabuah. Nikah bawah tangan adalah nikah yang dilakukan secara agama tapi tidak sah menurut hukum negara. Pernikahan bawah tangan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin menikah tetapi bermasalah baik itu dalam keluarga maupun dalam pekerjaan. A marriage is a sacred ceremony performed by a pair pf men and women who have developed a relationship, in family sosiologi known as soul mate selection. Which aims to tie a legitimate relationship and foster a new household. Where humans as social beings can not live alone in meeting their needs both biologically and economically, because in essence humans are created pairs of patners to complement each other which is carried out in the Nagari Bukik Batabuah. At this time often the phenomenon of underhand marriage or batel marriage. Marriage under the hand is marriage that is done in a religiouns manner but is not legal for the law and the state. Underhan marriage is usually done by people who want to get married but have problems bot in family and work. Pendahuluan Dari awal manusia diciptakan yaitu pertama sekali adalah adam. yang mana allah memerintahkan jibril turun kebumi untuk mengambil sebagian tanah untuk menjadikan adam. di surga adam tinggal sendiri, namun allah melihat adam kesepihan dan menciptakan hawa dari tulang rusuknya untuk menemani adam di surga. Dari awal manusia diciptakan sudah berpasang-pasangan untuk saling melangkapi kekurangan satu sama lain. semakin berkembangnya peradaban manusia, manusia mengenal perkawinan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap nilai-nilai dan norma dimasyarakat. Dibentuknya pernikahan ini bertujuan agar tercipta keluarga yang baru serta menghasilkan keturunan yang baik dan tau asal-uslunya sesuai aturan pernikahan dan terdaftar kecatatan sipil yang diakui oleh negara, dan negara mangatur tentang pelaksanaan perkawinan dalam UU yaitu Pasal 1 UU Nomor 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa: Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan memnbentuk keluarga ( rumah tanngga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Selnjutnya pasal 2 ayat (2) UU No.1 tahun 1974 menegaskan bahwa: tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undang yang berlaku.1 Undangundang ini menekankan bahwa setiap warga negara Indonesia harus menikah sesuia 1 Andriati, S. L.,dan Lubis, T.M (2017) Penyuluhan Hukum Poligami dan Nikah siri Menurut Undang-Undang Perkawinan. Jurnal Abdimas TALENTA. hal 105 dengan aturan yang ada di dalam undang-undang yang berlaku pada saat ini. Jika warga negara tidak melaksanakan pernikahan yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku pada saat ini maka pernikahan tersebut bisa dikatan sebagai nikah di bawah tangan atau nikah sirih. Pada saat ini marak-maraknya terjadi pernikah yang tidak mengikuti aturan negara atau tidak terdaftar dalam catatan sipil secara resmi yang lebih dikenal dengan nikah bawah tangan atau nikah sirih. Pengertian Nikah Bawah Tangan Kebanyakan orang memandang, pernikahan adalah persatunya dua orang yang saling mencintai dan ingin hidup bersama atas nama pernikahan. Namun dengan proses yang tidak mudah membuat orang mencari cara agar dilaksnakannya pernikahan mereka dengan mudah dan sah bagi masyarakat dan agama. Pernikahan ini terjadi karena ada beberapa permasalahan dalam mencapai suatu proses pernikahan. Agar bisa berjalan sesuai keinginan mereka, maka melakukan pernikahan dengan cara cepat dan tanpa ada masalah yang tidak menggunakan aturan atau hukum negara, karena dalam aturan dan hukum negara banyak yang harus dipenuhui syaratnya dan halangan sehingga banyak terjadi nikah dibahwa tangan Nikah bahwa tangan adalah sah jika dilaksanakan sesuai dengan syariat islam, tetapi tidak terdaftar dalam catatan sipil. Dalam pernikahan ini ditemukan dalam KUH Perdata tentang Autentik dan Akte di bawah tangan. a. Akte Autentik adalah Akte atau surat yang dibuat secara resmi dihadapan oleh penjabat umumyang berwenang dimana Akte itu dibuatnya sesuai ketentuan perundang-undang yang berlaku (Pasal 1868 KUH Perdata) b. Akte di bawah tangan (Onderrhands acte) adalah Akte yang di buat tidak oleh atau tanpa perantara seorang penjabat umum, melainkan dibuat ditanda tangani sendiri oleh para pihak yang mengadakan perjanjian atau oleh pejabat yang tidak berwenang untuk itu. Istilah nikah di bawah tangan timbul dalam masyarakat Indonesia setelah lahirnya UU Perkawinan di bawah tangan dimaksudkan adalah” perkawinan yang dilakukan hanya berdasarkan hukum masing-masing agamanya dan kepercaraannya, akan tetapi tidak tercatat menurut peraturan perundang-undang” . Yang didasarkan pada pasal 2 Ayat (1) Tahun 1974, sebuah perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaanya itu. Jadi bagi umat yang beragama jika telah melakukan syarat dari agama untuk melaksanakan pernikahan maka pernikahan itu sah menurut agama. Begitu pun agama islam telah menbuat aturan apa saja syarat dalam melaksanakan pernikahan sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai agama islam. kata “sirrih” dari segi etimologis berasal dari bahasa Arab, yang arti harfiyahnya “rahasia” (secret). Dengan demikian sirih dapat diartikan adalah “nikah yang atas pesan suami, para saksi merahasiakannya untuk istrinya atau jamaahnya, sekalipun warga setempat”. Pernikahan siri atau nikah dibawah tangan adalah pernikhan yang dirahasikan khalayak umum. Pelaksanaan Nikah Bawah Tangan Pernikahan bawah tangan sudah banyak dilaksnaka di Indonesia. Salah satunya terjadi di salah satu derah di Sumatera barat, khususnya didaerah bukik batbuah kabupaten agam yang sering melaksankan pernikahan dibawah tangan. Yang pada umumnya yang melaksanakan pernikahan di bawah tangan bukanlah warga asli Bukik Batabuah melainkan datang dari luar daerah sekitar Bukittinggi daerahnya antara lain Pelambayan, Canduang, Sijunjung. Istilah nikah di bawah tangan biasa dipahami sebagai suatu yang mendasar dalam perkawinan dan melalui tata cara pada agama dan kepercayaan serta adat istiadat tanpa dilakukan di hadapan pegawai pencatat nikah seperti yang di atur dalam undang-undang perkawinan dan kompilasi hukum islam. Perkawinan dalam hukum Islam tercermin dari sudah terpenuhinya syarat dan rukun sahnya perkawinan. Ini merupakan sebuahhal yang harus di penuhi bagi umat Islam dalam melaksanakaan pernikahan. Pada dasarnya istilah nikah di bawah tangan tidak dikenal dalma hukum negara. Perkawinan Indonesia hanya mengenal istilah yang di catat dan perkawinan tidak dicatat. Dalam pelaksanaan pernikahan negara Indonesia sudah mengatur dan disesuaikan dengan agama masing-masing. seperti agma islam dilaksanakan dikantor urusan agama sedangkan non islam proses perkawinanya di kantor catatan sipil. Alquran dan Al Hadist tidak menagtur secara rinci mengenai pencatatan perkawinan. Namun pentingnya yang dirasakan oleh masyarakat akan hal itu, sehingga di atur melalui perundang-undang, baik undang-undang nomor 1 tahun 1974 maupun melalui kom[ilasi hukum Islam. Tujuan dari ini semua untuk menwujudkan ketertiban perkawinan dalam masyarakat baik itu perkawinan yang dilakukan menurut hukum Islam maupun perkawinan yang dilakukan tidak berasarkan hukum Isalm. Dengan banyaknya aturan yang di buat oleh pemerintah, serta prosedur-prosedur yang di buat oleh pemerintah sebagian kecil menyulitkan bagi seseorang yang ingin menikah tapi tidak bisa melaksanakan pernikahan menurut aturan-aturan negara maka terjadilah yang dinamakan pernikahan di bawah tangan. Dalam pelaksanaan pernikahan dibawah tangan kedua mempelai terlebih dahulu menceritakan permasalahn-permasalahan kepada wali hakim, setelah kedua mempelai menceritakan permasalahanya, jika permasalahnya tidak terlalu berat dan bisa di terima oleh wali hakim maka pernikahan di laksanakan, setelah itu wali hakim memberikan nasehat kepada kedua mempelai yang akan melaksanakan pernikahan agar pernikah kedua mempelai bertahan lama dan menjadi keluarga Rukun-rukun Nikah: 1. Ada penganti pria dan pengantin wanita Sepasan kekasih yang akan melaksanakan pernikahan dan ingin mengikat hubungan mereka ke jenjang pernikahan yang sah secara agama tetapi tidak terdaftar ke dalam catatan sipil. 2. wali nikah Wali nikah merupakan rukun dalam akad nikah, keberadaan wali merupakan rukun dalam akad pernikahan. Karena itu, Tidak sah menikah tanpa ada wali. Dalam pernikah di bawah tangan ini peran wali nikah digantikan oleh seorang wali hakim yang di pilih oleh orang yang akan nikah tersebut. wali hakim adalah orang yang paham dengan agama dan mengerti tentang syarat dan rukun nikah. 3. Saksi Dalam pernikahan harus ada saksi, saksi di butuhkan sebagai bukti untuk berhati-hati jika suatu saat suami atau istri menolak atau tidak mengakui pernikahan dan jika di tanyakan oleh warga jadi saksi la yang bertanggung jawab dalam menjelaskan bahwa mereka telah melaksanakan pernikahan. syarat menjadi saksi adalah seorang saksi harus mencapai batas baliq, suatu pernikahan itu tidak sah jika kedua atau salah satu saksinya belum mencapai batas baliq. Saksi dalam pernikahan wajib bagi laki-laki, perempuan tidak dibenarkan sebagai saksi dalam pernikahan. Saksi dalam pernikahan harus beragama islam bagi umat islam, jika saksi beragama non Muslim maka pernikahnya tidak sah. 4. Ijab dan Qabul Ijab adalah perkatan yang di ucapkan oleh wali hakim atau yang mewakili dalam menyampaikan kehendak hatinya yang berkaitan dengan akad yang akan di jalin. Qabul adalah perkataan yang di ucapkan oleh mempelai laki-laki atau yang mewakilinya sebagai ekspresi dari kehendaknya berkaitan dengan akad tersebut. jadi Ijab dan Qabul adalah proses serah terima antara wali hakim dengan mempelai laki-laki atau yang mewakili. Syarat-Syarat Nikah di Bawah tangan 1. Beragama islam dalam pernikahan bawah tangan kedua mempalai harur beragama islam. 2. berjenis kelamin perempuan bagi mempelai wanita dan berjenis kelami laki-laki tidak boleh transgender. 3. Pernikahan yang dilakukan bukan dalam masa Idah bagi perempuan. 4. Tidak memiliki lebih dari empat. 5. tidak melakukan pernikahan di bawah paksaan. 6. calon yang akan dinikahi bukan mahramnya 7. Bagi Perempuan tidak dalam keadaan halangan Proses Perlaksanaan Nikah Bawah Tangan 1. berwudu adalah suatu cara menyucikan anggota tubuh dengan menggunakan air. Sebelum akad nikah dilaksankan kedua mempelai di wajibkan terlebih dahulu untuk berwudu supaya bersih di hadapan allah. 2. Membaca syahadat syahadat adalah rukun islam pertama. syahadat atas syahadat tauhid dan syahadat rasul. Rukin Isalam pertama dua kalimat syahadat ini menjadi fondasi bagi rukun-rukun islam. Arrinya dari syahadat tauhid yakni aku berkasi bahwa tiada tuhan selain allah yang berkalimat “ Lai ilaha illa Allah” dalam syahadat tauhid yakni adalah tiada ilah (sesembahan) yang benar-benar berhak disebut ila (sesembah) kecuali Allah SWT. Kalimat Shadat kedua shalawat Nabi yakni “wa ashadu anna Muhammadan rasulullah” dan artinya aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah. 3. membaca surat Dalam pelaksanaan pernikahan calon mempelai mengharuskan membaca al quran yang disaksikan oleh semua orang yang berada di tempat pelaksanaan pernikahan. 4. mengucapkan Ijab dan Qabul Ijab adalah perkatan yang di ucapkan oleh wali hakim atau yang mewakili dalam menyampaikan kehendak hatinya yang berkaitan dengan akad yang akan di jalin. Qabul adalah perkataan yang di ucapkan oleh mempelai laki-laki atau yang mewakilinya sebagai ekspresi dari kehendaknya berkaitan dengan akad tersebut. jadi Ijab dan Qabul adalah proses serah terima antara wali hakim dengan mempelai laki-laki atau yang mewakili. 5. disahkan oleh saksi jika pengucapan ijab dan qabul lancar menurut saksi. Maka pernikahan sah dimata Allah Swt, dan resmi menjadi suami istri. Faktor penyebab Terjadinya Pernikahan di Bawah Tangan. faktor pertama disebabkan oleh banyaknya permasalahan yang menyebabkan sesorang tidak bisa mendaftarkan pernikahannya ke dalam catatan sipil karena adanya aturan-aturan yang melarang bagi anngota sebuah institusi untuak menikah lebih dari satu atau ada permalahan-permaslahan yang tidak disetujui. a. pegawai negri sipil (PNS) pegawai negri sipil adalah warga negara Indonesia yang memenuhi sarat tertentu, diangkat sebagai ASN (aparatur sipil negara) mempunyai tugas untuk melayani publik atau masyarakat. pegawai negri sipil dilarang mempunyai istri lebih dari satu orang, jika pegawai negri sipil tersebut ingin mempunyai istri baru atau menamba istri pegawai tersebut harus terlebih dahalu mendapatkan izin dari pejabat, setelah pegawai tersebut memenuhi sarat-sarat alternatif dan sarat-sarat komulitif. b. Tentara nasiaonal Indonesia (TNI) tentara nasional Indonesia aparatur negara yang bertugas untuk menjaga keaamanan dan kedaulatan negara. Dalam menjalankan tugasnya tentara harus fokus dalam menjalankan tugasnya oleh sebab itu tentara di larang mempunyai istri lebih dari satu orang atau lebih yang emninbulkan permaslahan yang menyebabkan terganggunya kinerja dari aparatur negara tersebut. c. Hubungan Kurang Harmonis dalam Rumah Tangga Dalam sebuah rumah tangga pasti mengidamkan keluarga yang harmonis. dalam ikatan yang terjalin dalam pernikahan akan mengikat ikatan lahir dan batin antara suami dan istri agar bisa hidup bahagia dalam sebuah rumah tangga. Untuk menjaga hubungan tersebut harus ada kasih-sayang antara mereka dalam menghadapi suka dan duka dalam keluarga. Serta suami dan istri selalu berpedoman kepada nilai-nilai dan ajaran agama. Apabila suami dan istri taat dalam agamanya maka akan terjalin hubungan yang harmonis. Namun realitanya saat ini masih banyak masyarakat yang keluarga tidak harmonis sehingga mengakibatkan perpecahan dalam rumah tangga dan hancur. dengan ini menyebakan suami istri tersebut melakukan pernikahn siri. Faktor Yang Mempengaruri Nikah Dibawah Di Bawah Tangan. Pernikahan di bawah tangan atau nikah sirri bagi umat Indonesia pada saat sekarang ini masi terbilang banyak, bukan hanya dilakukan oleh kalanagn masyarakat bawah, tapi juga oleh lapisan masyarakat atas. Secara umum nikah dibawah tangan dapat sisebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kurangnya Kesadaran Hukum Masyarakat Pada umumnya masih banyak masyarkat yang belum mengerti sepenuhnya luar biasa pentingnya pencatatan perkawinan. Sebagian dari mereka boleh jadi hanya sebenarnya ikut-ikutan saja. Pertimbangan sebagai tradisi yang lazim dilakukan oleh masyarakat lokal, atau pencatatan perkawinan itu hanya dilihat sebenarnya soal administrasi, belum diberang dengan kesadaran sepenuhnya akan segi-segi manfaat dari pencatatan perkawinan tersebut. pengatahuan masyarakat terhadap nilai-nilai pernikahan di bawah tangan ini sangat kurang, sebagian masyarakat menganggap penikahan itu adalah masalah pribadi dan tidak perlu adanya ikut campur tangan pemerintah/negara di dalamnya. 2. Hamil di luar Nikah Pada zaman sekarang dengan era globalisasi yang semakin maju dan informasi sangat mudah di dapatkan, mulai gaya hidip, tingkah laku, serta pergaulan yang bebas . Hal ini tentu sangat berdampak besar dalam mengubah prilaku dan pola pikir seseorang tanpa disaring terlebih dahulu, akibatnya pergaulan yang mereka terkadang melampaui batas, tidak lagi mengikuti norma-norma dan ajaran agama. Akibat dari pergaulan bebas ini seperti hamil di luar nikah. Jadi untuk menghilangkan rasa malu di tengah masyarakat maka dengan melakukan pernikahan di bawah tangan dapat menyelamatkan nama baik keluarga, itulah kebanyakan alasan dari masyarakat melakukan nikah di bawah tangan. 3. Menghindari Tuntutan Hukum Kerena dengan pernikahan siri yang tidak tercatat oleh kantor urusan agama, tidak bisa dituntut secara hukum di pengadilan. Jika nanti terjadi permasalah dalam sebuar rumah tangga dala pernikhan dibawah tangan, maka istri atau pun suami tidak bisa menuntut satu sama lain.2 2 Hijar Cahaya Argiansiyah, Tinjauan Yuridis Perlaksanaan Nikah siri Dalam perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Dampak Pernikahan di Bawah Tangan. Dampak dari pernikahan di bawah tangan ini sangat bnayk menumbulkan pro dan kontra, pernikahan di bawah tangan ini masih banyak terjadi di kalangan masyarakat, tentu saja dampak pernikahan di bawah tangan ini bukan hanya berdampak terhadap pasangan suami istri tapi juga akan berdampak kepada anakanaknya nanti, dampaknya yaitu: 1. suami istri yang melakukan pernikahan di bawah tangan tidak mempunyai akta nikah sebagai bukti mereka telah menikah secara sah menurut agama dan negara. Karena pernikahan dibawah tangan hanya sah menurut agama. 2. anak-anak tidak dapat memperoleh akta kelahiran dari istri yang berwenang karena untuk mendapatkan akta kelahiran itu diperlukan akta nikah dari secara hukum maupun sosial. 3. tidak dianggap sebagai istri sah. 4. tidak berhak atas nafkah dan warisan dari suami jika ia meninggal dunia. 5. secara sosial, akan sulit bersosialisasi karena perempuan yang melakukan perkawinan bahwa tangan sering dianggap telah tinggal serumah dengan lakilaki tanpa ikatan perkawinan. atau di anggap sebagai istri simpanan.3 PENUTUP A. Kesimpulan perkawinan (univ pasunda:2011) hal 11 3 Berutu, A.G.(2019). Nikah Dibawah Tangan Dampak Dan Solusinya hal 25 Dalam sebuah negara telah mangatur tentang pelaksanaan perkawinan dalam UU yaitu Pasal 1 UU Nomor 1 tahun 1974 menyebutkan bahwa: Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan memnbentuk keluarga ( rumah tanngga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa. Selnjutnya pasal 2 ayat (2) UU No.1 tahun 1974 menegaskan bahwa: tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undang yang berlaku. Undang-undang ini menekankan bahwa setiap warga negara Indonesia harus menikah sesuia dengan aturan yang ada di dalam undang-undang yang berlaku pada saat ini. Jika warga negara tidak melaksanakan pernikahan yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku pada saat ini maka pernikahan tersebut bisa dikatan sebagai nikah di bawah tangan atau nikah sirih. Pada saat ini marak-maraknya terjadi pernikah yang tidak mengikuti aturan negara atau tidak terdaftar dalam catatan sipil secara resmi yang lebih dikenal dengan nikah bawah tangan atau nikah sirih. B . Saran Dengan meraknya pernikahan dibawah tangan di Negara Republik Indonesia, hal ini menunjukan bahwa aturan dinegara Indonesia tentang perkawinan masih terdapat kelemahan dalam hal penegaskan bagi perlaku nikah dibawah tangan yang memanfaat alasan agama namun tidak dapat bertanggung jawab secara penuh, sebagai konsekuensi ikatan suci yang telah . Maka dibutuhkan ketegasan dan kejelasan dalam peraturan perundang-undang yang mengatur mengenai sanksi pelaku perkawinan yang merugikan, agar dapat menimbulkan efek jera dan agar masyarakat lebih tidak melakukan pernikahan dibawah nikah. DAFTAR PUSTAKA Andriati, S. L.,dan Lubis, T.M (2017) Penyuluhan Hukum Poligami dan Nikah siri Menurut Undang-Undang Perkawinan. Jurnal Abdimas TALENTA. Berutu, A.G.(2019). Nikah Dibawah Tangan Dampak Dan Solusinya. Burhanuddin Nikah Siri: Menjawab Semua Pertanyaan tentang Nikah Siri. Yogyakarta: Medpress Digital, 2012 Fuad, I.Z, Fakhrina, A.,Azis,A.Rosyid,A (2012). Kriminalisasi Sosiologi Nikah Siri. JURNAL PENELITIAN, 8.(1) Hijar Cahaya Argiansiyah, Tinjauan Yuridis Perlaksanaan Nikah siri Dalam perspektif Hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan (univ pasunda:2011) Susanto, H.(2007). Nikah Siri apa untungnya?. Visimedia Hanani S,(2010): kekerasan dalam Rumah Tangga dan Upaya penaggulanganya melalui pendekan institusi lokal dan Formal. Marwah: Jurnal perempuan, Agama dan Gender, 9 (1), 42-57 https://ejurnal.iainbukittinggi.ac.id/index.php/psga/article/view/2017/pdf

Judul: Jurnal Buk Sil Baru

Oleh: Ania Lingsih


Ikuti kami