Jurnal Ilmiah: Silaturahmi Keilmuan

Oleh Rosa Widyawan

159,5 KB 6 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Ilmiah: Silaturahmi Keilmuan

Jurnal Ilmiah: Silaturahmi keilmuan Oleh: Rosa Widyawan Jurnal Ilmiah mempunyai sejarah panjang, ketika semangat kegiatan sains di Eropa sedang subur-suburnya pada pertengahan abad ke tujuhbelas, terutama di Inggris dan Perancis. Senin, 5 Januari 1665, Académie des Sciences didirikan di Paris. Komunitas keilmuan ini bersifat terbuka tanpa memandang latar belakang asosiasi profesi maupun aliran politik apa mereka afiliasi. Pada era inilah di Eropa komunitas keilmuan bermunculan, misalnya di Dublin pada 1683, St. Petersburg Academy of Science didirikan 1725 dan Royal Swedish Academy of Science pada 1739 dan Royal Society of Edinburgh pada 1783. Karena anggota semakin banyak dan tidak semua bisa hadir, maka diterbitkanlah prosiding. Prosiding inilah cikal bakal Jurnal Ilmiah yang berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi temuan temuan penelitian. Banks (2008) mencatat bahwa pada jaman ini muncullah dua jurnal yakni Journal des Sçavans dan Philosophical Transactions of the Royal Society. Jurnal pertama terbitan Paris dirintis Jean-Denis de Sallo (1626-1669). Tentu saja sejawat mereka yang ada di London membaca dan mendiskusikan Journal des Scavans. Mereka melihat kesamaan pandangan, dan Jurnal Perancis ini mengilhami mereka untuk menerbitkan laporan khusus atau eksperimen yang dilakukan anggotanya. Maka terbitlah Philosophical Transactions of the Royal Society, London, pada 6 Maret, 1665. Penyuntingnya adalah Henry Oldenburg, sekretaris organisasi ini. Tokoh inilah yang membiayai penerbitan, sehingga jurnal ini menjadi publikasi serial bulanan. Jurnal ini memuat ekperimen ilmiah orisinal, karya anggota organisasi. Selain memuat karya ilmiah, jurnal ini juga memuat tinjauan buku dan menyediakan halaman untuk diskusi bagi mereka yang berbeda pendapat. Wajarlah jika waktu itu jurnal ini menjadi model terbitan berkala di Eropa. Jurnal memperhatikan kendali mutu dengan penilaian Peer Reviewer (Mitra Bestari) adalah Philosophical Transactions of Royal Society dan Journal de Scavans. Kedua jurnal ini dianggap sebagai pengabsahan suatu kajian. Terbitan berkala ini meringkas buku-buku teknik yang saat itu menjamur. Pada abad ke 19 terjadi ledakan jumlah jurnal juga karena publikasi massal murah gara gara ditemukannya kertas dari bubur kayu. Dampaknya, spesialisasi dan keragaman riset tumbuh subur. Meningkatnya terbitan semacam ini membuat penerbit melayani kebutuhan pembaca kalangan ilmuwan dan perguruan tinggi. Peluang ini dilirik penerbit komersial seperti Elsevier Scientific Publishing yang menerbitkan Jurnal Rekayasa sejak tahun 1884, demikian pula Robert Maxwell memulai penerbitan ilmiah komersial setelah Perang Dunia II. Sejak munculnya Pergamon Press pada pada awal 1960-an inilah penerbitan komersial ilmiah dianggap sebagai pasar penting. 1. Sasaran pembaca Rata-rata tiras jurnal Ilmiah Indonesia tidak banyak sekitar 100 sampai 500 eksemplar, dan hampir tidak pernah ditemukan di toko buku umum. Hal ini dapat dipahami karena sasaran pembaca sangat spesifik yakni akademisi atau profesional. Hanya sedikit jurnal ilmiah yang dipasarkan diluar lingkungan akademis, kecuali bidang Enginering/Sains/kesehatan, dan jurnal jurnal yang menekankan pada terapan. 1 Tidak sedikit pula yang terkait pada kelompok profesional, misalnya Jurnal of Evaluation Research, dan Jurnal Pendidikan yang punya kaitan dengan asosiasi profesional. Artikel-artikel ini dapat digunakan pada riset dan pendidikan pasca sarjana. Banyak kelas sebagian diperuntukkan untuk mengungkap dan menafsirkan artikel klasik, dan kelas seminar berisi presentasi mahasiswa tentang artikel klasik atau masa kini. Kelompok riset atau departemen akademis selalu berisi jurnal ilmiah terkini didiskusikan dalam klub Jurnal. Standar yang digunakan jurnal beragam. Beberapa jurnal seperti Nature1, Science2 dan Physical Review Letters3, mempunyai reputasi menerbitkan artikel yang menandai terobosan dalam bidangnya, merupakan hirarki informasl dari jurnal ilmiah yang ada; jurnal yang sangat bergengsi dan cenderung sangat ketat dalam memilih artikel yang akan diterbitkan. Ada juga jurnal yang mengkhususkan perhatian pada daerah tertentu, khusus menerbitkan makalah dari kawasan geografis atau negara tertentu seperti African Invertebrates4. Artikel jurnal ilmiah cenderung sangat teknis, mengungkapkan riset teoritis dan hasil percobaan bidang sains. Sering kali sulit dipahami orang awam kecuali peneliti dalam bidangnya dan mahasiswa . Dalam beberapa subjek ini merupakan sumbangan yang sangat berharga. Perpustakaan riset, perpustakaan universitas, atau perpustakaan akademis 5 adalah target jurnal ilmiah dan status sebuah jurnal ilmiah salah satunya diukur dengan jumlah perpustakaan yang melanggan. Namun demikian penulis memastikan bahwa hanya sedikit perpustakaan umum yang melanggan jurnal ilmiah. Banyak jurnal ilmu sosial dan kemanusiaan menargetkan akademisi pada bidang yang sama atau serupa. Kelompok sasaran pembaca terdiri dari mahasiswa pasca sarjana, tapi jarang sekali untuk mahasiswa S1 sebagi pelanggan potensial. Memang ada artikel jurnal yang diperuntukkan khusus untuk mereka dan ini digunakan sebagai teks utnuk kelas tertentu. Namun demikian, mahasiswa diharapkan menjadi pengguna artikel yang ada dalam jurnal ketika mereka menyusun skripsi, tesis dan desertasi. Beberapa jurnal bisa dianggap sebagai Jurnal Internasional, menilik penulisnya dari universitas berbagai negara. Lihat saja jurnal Anthropology Indonesia atau Jurnal Masyarakat Indonesia tidak mempunyai pretensi berkenaan dengan ruang lingkup internasional. 1 Nature diterbitkan pertamakali p ada 4 November 1869. Walaupun kebanyakan jurnal ilmia saat ini sangat khusus, Nature itu salah satu dari sedikit jurnal, bersama dengan jurnal mingguan seperti Science dan Proceeings of the National Academy of Sciences, yang masih menerbitkan riset orisinal dari berbagai bidang riset ilmiah, riset orisinal yang penting diterbitkan dalam artikel atau surat dalam Nature. 2 Science adalah jurnal akademis dari American Association for Advancement od Science yang dianggap sebagai jurnal paling bergengsi di dunia. Jurnal dengan penilaian mitra bestari yang pertama diterbitkan pada 1880 ini diedarkan mingguan dan langganannya mencapai 13 000. Karena pelanggan lembaga dan pelayanan online sangat banyak, diperkirakan dibaca oleh satu jura oran 3 Physical Review Letters adalah jurnal bergengsi bidang fisika sejak 1958. Jurnal ini diterbitkan oleh the American Physical Society sebagai ulasa fisika yang berkembang pesat. Physical Review khusu memuat artikal pendek yang dinamakan “letters” . Panjang artikel rata-rata 5 halaman. 4 African Invertebrates adalah jurnal ilmiah yang dinilai oleh mitra bestari mencakup taxonomi, sistematika, biogeografi, biologi, ekologi, konservasi dan palaeontology dari Invertebrata Anfrotopi, apakah terestrial, air tawar atau air laut. African Invertebrates terbit pertama pada 1906 sebagai the Annals of the Natal Government Museum yang kemudian merubah nama Annals of the Natal Museum. Jurnal ini hidup lebih dari satu abad, dengan artikel lebih dari 800 artikel tentang sejarah alam, dan lebih dari 5000 akta nomenklatur diterbitkan. 5 Istilah perpustakaan akademis jarang digunakan di Indonesia, perpustakaan ini adalah perpustakaan fakultas di perguruan tinggi. 2 Untuk menjadi jurnal internasional dalam arti distribusi, dana akan menjadi kendala karena penerbit harus menyediakan alokasi dana dalam setahun. Selain itu banyak jurnal Indonesia sulit untuk terbit secara berkesinambungan. Selain kesulitan dalam mengumpulkan naskah, para penerbit dari kalangan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian tidak mengalokasikan dana khusus untuk penerbitan jurnal. Di lain pihak, jurnal dengan subjek antropologi atau sosiologi, kajian gender, ekologi tampaknya tidak mengenal batas teritorial. Jika batasnya itu nasional, ruang lingkup yang mereka turut akan tergantung pada luas spesialis subjek diluar negara yang mereka pilih. Misalnya sekitar 60 program kajian Indonesia atau Asia Tenggara seluruh dunia membangkitkan minat Indonesia dan mendukung publiksi internasional. Pada kasus kajian atlantis, ilmuwan kajian gender seluruh dunia akan minat isi dan kontribusi pada pengetahuan dasar kajian gender. Jika kita telusur penyebaran jurnal di Indonesia cukup luas dikarenakan beberapa lembaga penelitian dan universitas asing antara lain Library of Congress, Amerika Serikat, National Library of Australia, Kyoto University membuka cabang di Jakarta. Salah satu kegiatan mereka adalah pengadaan literatur, antara lain membeli atau tukar menukar terbitan berupa jurnal ilmiah. Memang tidak sedikit Lembaga Penelitian Organisasi Profesi yang tersendatsendat dalam menerbitkan jurnal mereka. Alasannya klasik, yaitu pengadaan naskah dan dana penerbitan. Namun diantara tiga jenis penerbit jurnal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) adalah organisasi yang paling produktif dengan menerbitkan 41 judul jurnal. Bisa dipahami, karena disamping ilmu kedokteran itu sangat berkembang pesat, penerbitan senantiasa didukung oleh industri farmasi yang berjalan seiring dengan disiplin yang satu ini. 2. Jurnal Ilmiah versus Populer Memahami ciri-ciri jurnal ilmiah dan populer membantu ilmuwan dan profesional untuk memilih jurnal yang cocok untuk mencari bahan referensi dan mengirim menyumbangkan karya tulis ilmiah mereka. Secara umum, terdapat tiga jenis berkala yakni jurnal ilmiah, terbitan populer, dan jurnal perdagangan. Jenis terakhir inilah yang sering dirujuk oleh kalangan bisis dan profesional yang tirasnya sangat terbatas pada bisnis, keuangan, dan industri. Otomatis pembaca yang paling banyak adalah mereka yang terlibat dalam bidang ini. Berkala ini terbit mingguan atau bulanan untuk mengimbangi perkembangan bisnis dan perdanganan yang pesat. Sering kali berisi kolom reguler tentang isu dan komentar dan kecenderungan orang yang terlibat dalam bidang ini, selain itu artikal ditulis oleh spesialis atau wartawan. Jurnal semacam ini menduduki kawasan abu-abu atu semi ilmiah atau semi populer. Perbedaan dan persamaan jurnal Ilmiah versus Populer yang dilihat dari tujuan penerbitan dan maanfaat yang diharapkan, khalayak pembaca mereka, para penulis dan bentuk artikel yang mereka susun. Sumber informasi yang mereka gunakan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Badan yang yang menerbitkan jurnal ilmiah. Jurnal Ilmiah itu gampang ditengarai, bentuknya sederhana tanpa warna warni. Kebanyakan miskin advertensi, sebab pembacanya sangat terseleksi yakni ilmuwan seprofesi. Artikel ditulis oleh pengarang spesialis keilmuan, pantang memakai nama samaran, dan selalu mencantumkan organisasi tempat mereka berafiliasi. Maksudnya agar mudah dihubungi pembaca melalui telfon maupun surat keong dan elektronik. Siapa tahu ada pembaca ingin menanggapi, atau berkonsultasi. Artikelnya cenderung panjang, kaya jargon, kadang pakai kata kata latin, tabel, diagram, dan pasti disertai catatan kaki, referensi atau bibliografi. Judul sering 3 diembel embeli dengan kata Jurnal, review, atau atau bulletin. Jangan silap, karena ada The Wall Street Journal atau Far East Review yang dua ini terbitan umum atau populer. Walaupun terbitnya berseri seperti terbitan populer, tenggang waktu terbit cukup lama: tiga bulanan, enam bulan, bahkan setahun sekali. Ciri yang sangat khusus adalah bahwa jurnal ilmiah diterbitkan oleh Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, atau Organisasi Profesi. Semua Lembaga Pendidikan Tinggi mempunyai Jurnal dan banyak diantaranya dikelola dengan baik dan terbit secara teratur mungkin Hayati: Jurnal Biosains (Institut Pertanian Bogor), atau Jurnal Teknik Sipil (F. Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta) contoh yang cukup mewakili. Kunci jurnal ilmiah saat ini terpusat pada mitra bestari, berdasarkan riset, menjadi objek konvensi disiplin. Diharapkan agar riset mempunyai kandungan orisinal, menambah basis ilmu pengetahuan.dan diterbitakan bagi komunitas ilmuwan yang bekerja pada bidang kajian tersebut. Dengan demikian, jurnal ilmiah akan menyajikan hasil penelitian penting, sehingga memperkaya pengetahuan yang memicu penelitian selanjutnya. Pada umumnya jurnal merupakan sarana komunikasi keilmuan formal karena memuat pengamatan, hasil, temuan, dan pandangan berasal dari karya para peneliti. Keuntungan jurnal antara lain infomasi dapat disebarkan secara luas. Artikel yang terkandung didalamnya merupakan informasi rinci seperti metoda, tabel, diagram. Informasi dapat dikritisi dan dibetulkan, mudah dirujuk, dan dapat dijadikan sarana untuk menetapkan prioritas karya akademis, dan menyumbangkan upaya keras akademis para penulisnya. Selang waktu terbit cukup lama: tiga bulan, enam bulan, bahkan setahun sekali. Proses kepenyuntingan dan proses penerbitan majalah kebanyakan. Perbedaan mencolok adalah jika jurnal tersebut menggunakan jasa mitra bestari (Peer Reviewer), orang yang paling berperan dalam evaluasi naskah pra terbit. Mereka punya kompetensi berkaitan dengan teori, metoda, dan piawai dalam pembuktian hipoteis. Mereka akan memilah apakah suatu naskah itu mengandung fakta atau sekadar opini, termasuk memastikan orisinalitas naskah. Tahap penilaian para mitra bestari ini lah yang memakan waktu. 3. Ruang lingkup jurnal Pada umumnya format jurnal memasukkan 75-80% untuk artikel lengkap. Ini termasuk proyek penelitian formal yang yang ditulis dalam bentuk format standar, kebanyakan panduan format dan ragam diletakkan di kulit belakang dalam. Namun demikian, ada jaringan diantara akademisi yang memfasilitasi berbagi pengetahuan informal berkenaan dengan bentuk dan isi apa yang dapat diterima. Jumlah halaman selebihnya diperuntukkan ulasan buku, surat pada penyunting, ralat, catatan riset, dan informasi keilmuan lainnya. Beberapa jurnal membuang ulasan buku agar artikel riset lebih banyak, dan mereka menerbitkan jurnal khusus untuk timbangan buku atau diterbitakan secara online. Tentu saja, jika dalam jurnal itu terdapat iklan, mereka ditempatkan pada sisa halaman. Penyunting jurnal itu bisa seorang ilmuwan, atau seorang profesional anggota organisasi ilmiah atau profesi. Tugas penyunting jurnal menentukan arah jurnal maupun kepenyuntingan untuk tetap dalam koridor keilmuan. Tujuan dan ruang lingkup jurnal ditentukan oleh organisasi profesi, penyunting bertanggunjawab menentukan apakah naskah yang masuk memenuhi misi jurnal yang diasuhnya. 4 Penyunting jurnal mentukan berbagai jenis kontribusi yang akan diterbitkan jurnal misalnya Surat pembaca, ulasan buku, atau agenda seminar, dan konferensi, yang sedang, akan dan telah berlangsung. Surat kepada penyunting dalam Jurnal mempunyai posisi yang cukup penting, karena kebanyakan surat pembaca menanggapi substansi yang telah dimuat sebelumnya,. Surat kepada penyunting bisa dianggap sebagai salah satu kendali mutu artikel yang diterbit. Terdapat beberapa jenis artikel jurnal; Terminologi dan definisi yang pasi berbariasi oleh bidang dan jurnal spesifik, tetapi biasanya jurnal itu memuat: a. Surat (letters) juga disebut communication, istilah ini sering dicampuradukkan dengan istilah Surat Pada Penyunting (Letter to the editors), berupa gambaran singkat temuan riset yang dianggap penting dan harus cepat diterbitan. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan pemberitahuan pada masyarakat keilmuan bahwa telah dilakukan sebuat riset yang hampir selesai. b. Catatan Penelitian Catatan ini di disebut juga reseach notes, merupakan gambaran singkat penelitian terbaru yang dianggap kurang penting dibanding Surat. c. Artikel Utama Biasaya artikel yang dibuat terdiri dari lima sampai duapuluh halaman dan temuan orisinal. Panjang halaman beragam, tentunya menurut disiplin ilmu jurnal itu. Bisa jadi bidang matematika dan sains teori komputer memuat artikel sebanyak 80 halaman. Format artikel jurnal bervariasi, namun banyak yang mengikuti skema IMRAD yang dianjurkan oleh the International Committee of Medical Journal Editors (ICMJE). Setelah judul dan nama pengarang dengan afiliasi dan kontak, diteruskan dengan abstract, yang terdiri dari ringkasan artikel satu sampati empat paragraf. Pendahuluan terdiri dari latar belakang riset termasuk riset serupa yang dilakukan orang lain, atau ulasan literatur. Perlunya, penulis meyakinkan pembaca bahwa risetnya itu orisinal, berbeda dengan riset yang telah dilakukan orang. Dalam pendahuluan ini para penulis mencantumkan pertanyaan riset. Pertanyaan ini dijawab dengan method, material atau eksperimental yang dilakukan penulis. Hasil dan Diskusi mengambarkan hasil dan implikasi reset. Artikel diakhiri dengan simpulan yang meletakkan riset dalam konteks dan menggambarkan hasil untuk eksplorasi berikutnya. d. Artikel pelengkap Artikel ini terdiri dari tabel data yaitu hasil riset terkini. Bisa jadi panjangnya puluhan, bahkan ratusan halaman yang sebagian besar berisi data numerik. Mungkin karena alasan biaya, artikel pelengkap diterbitkan melalui internet. e. Artikel Review tidak berisi riset orisinal tapi lebih merupakan kumpulan hasil artikel yang berbeda dalam topik tertentu dirankup dalam suatu narisi tentang keadaan tertikni serial jurnal “Nature Reviews” dan “Trend” dalam serial, yang mengundang para ahli untuk menulis spesialisasi mereka kemudian artikel mereka dinilai oleh mitra bestari sebelum dipublikasikan. Jurnal lain seperti the serial Current Opinion (http://www.current-opinion ), lebih tegas dalam penilian mitra bestari pada tiap artikel untuk mengandalkan pengarang pada pengarang untuk menyajikan pandangan yang akurat dan tidak bias. Aetikel review menyediakan informasi tentang topik, dan juga menyedian referensi jurnal untuk riset orisinal. Resensi buku merupakan pekerjaan yang melelahkan. Felber (2002) menyatakan bahwa mencari ilmuwan yang tepat untuk meresensi buku itu merupakan upaya yang memerlukan intuisi dan taktik mak jomblang. Sayangnya, ilmuwan yang dipilih tampaknya telah mempunyai antrian panjang. Seorang dosen muda atau Phd baru mungkin 5 akan lebih mudah mendapatkan mitra bestari. Namun, para ilmuwan senior, berharap sekali lebih suka riset mereka diulas oleh mereka yang setingkat, daripada mereka yang dibawah. Sebagai tambahan, beberapa jurnal ilmiah seperti Science memasukkan rubrik berita dimana perkembangan ilmiah (sering melibatkan isu politik). Artikel ini ditulis oleh jurnalis sains bukan oleh ilmuwan. Lagi pula, beberapa jurnal memasukkan penyuntingial dan dan surat pada penyunting. Sementara artikel yang diterbitkan dalam jurnal, tidak dianggap sebagai artikel jurnal ilmiah karena tidak dinilai oleh mitra bestari. Agenda seminar dan konferensi sering dimasukkan dalam jurnal, karena acara pertemuan semacam ini bisa menjadi salah satu cara untuk memantau perkembangan disiplin yang diimani para ilmuwan dan profesional. Makalah, presentasi lisan, atau poster merupakan hasil penelitian yang relatif baru dengan tenggang waktu sekitar 1-2 tahun dari berjalannya penelitian. Sering pula dalam konferensi ada sessi untuk best practice atau Country Reports. Oleh karena itu, dari agenda seminar dan koferensi ilmuwan dapat mengetahui kecenderungan penelitian sejawatnya di lempat lain. 4. Proses Penerbitan Ibarat sebuah ceritera dalam seni Tonil, penerbitan jurnal ilmiah dimainkan oleh tiga pelakon penting. Pertama adalah para ilmuwan dan profesional penganut disiplin keilmuan yang menyusun naskah ilmiah dimana sebuah jurnal tidak akan pernah terbit tanpa penulis. Pelakon kedua adalah penyunting yang memainkan peran tidak kalah pentingnya dengan pelakon pertama, Baik buruk jurnal bergantung pada para penyuntingnya, karena merekalah yang mempunyai kekuasaan penuh untuk menentukan jenis dan standar naskah yang akan diterbitkan, tanpa campur tangan pihak lain. Ketiga adalah Mitra Bestari, orang yang tahu metodologi, kecenderungan bidang ilmu tertentu dari dalam atau dari luar organisasi induk. Mitra bestari inilah yang memberi masukan pada penyunting dan penulis tentang substansi makalah yang diulasnya. Mereka ini memberikan masukan tertulis pada redaksi apakah sebuah naskah laik muat atau sebaliknya. Walaupun demikian, keputusan terakhir berada pada pihak penyunting. Penerbit adalah pelakon yang memainkan peran penting untuk kelangsungan sebuah jurnal dengan mengadakan dan mengevaluasi biaya produksi, mendalikan harga langganan jurnal. Bahkan, bukan tidak mungkin menghentikan penerbitan, jika jurnal itu dinilai gagal. Dua pelakon lain yang memainkan peran intermediary, atau perantara adalah Agen dan Penyedia Informasi, atau Perpustakaan. Agen berperan dalam pemasaran jurnal ke para pelanggan, baik para pelanggan institusi maupun pribadi. Para agen inilah yang berperan aktif untuk selalu meningkatkan jumlah pelanggan dan memperluas jangkauan pemasaran. Walaupun peran dua pelakon ini mirip, namun perpustakaan lebih terfokus pada kegiatan pengadaan, pengolahan, dan pelayanan jurnal yang diarahkan agar pemustaka membaca artikel dalam jurnnal. Oleh karena itu perpustakaan banyak mencitakan alat pencari informasi untuk artikel junal berupa literatur sekunder seperti indeks, abstrak, bibliografi untuk memudahkan pemusta mencari informasi. Tidak berhenti di sini saja, perpustakaan juga bisa mengukur sejauh mana sebuah jurnal itu efektif atau tidak dengan menunjukkan impact faktor sebuah jurnal. Tanpa pembaca sebuah penerbitan jurnal akan sia-sia, sama halnya sebuah seni pertunjukan tonil tanpa penonton. Jurnal tidak dibaca orang akan tetap terpajang 6 di perpustakaan, tak tersentuh dan tidak pernah disebut-sebut orang. Namun jurnal yang banyak dibaca kemungkinan akan menjadi rujukan tulisan-tulisan orang lain, meramaikan dunia keilmuan. Pekerjaan penyuntingan jurnal melibatkan bebarapa pihak untuk mendukung ketiatan baik manajemen kepenyuntingan, memantau keberhasilan jurnal seperti sirkulasi, kepuasan khalayak pembaca dan penulis. Juga tugas yang penting yakni memantau trend penelitian, mengadakan naskah atau issue yang muncul dalam sebuah konferensi.komunitas keilmuan. Penerimaan naskah di meja penyunting merupakan awal proses penerbitan. Ini termasuk proses penilaian terjadi ketika pengarang bekerja dengan penyunting, dan mitra bestari, proses kepenyuntingan, ketika penulis bekerjasama dengan penyunting, pada umumnya dalam hal bentuk proses publikasi, dimana pengarang bekerjasama dengan penyunting dan pencetak, berkaitan dengan tugas tugas percetakan dan penerbitan makalah. Namun, proses utama dalam penerbitan jurnal antara lain sebagai berikut: a. Pengadaan Naskah Awal proses penerbitan jurnal adalah saat naskah yang dikirim oleh penulis diterima oleh penyunting. Naskah-naskah ini akan diseleksi sesuai dengan kriteria yang telah ditertapkan dewan penyunting, seperti jurnal hanya menerbitkan karya ilmiah asli. Tidak menerima dan tidak mendaur ulang naskah usang karya mereka sendiri. Ini merupakan persyaratan utama yang harus dipenuhi. Dewan penyunting juga melarang penulis untuk mengirimkan karyanya pada jurnal ke jurnal lain secara bersamaan atau terpisah. Setelah itu mereka mulai memilih naskah yang sesuai dengan gaya selingkung yang telah mereka tetapkan, dan mereka beritahukan sebelumnya melalui call for paper, imbauan untuk menulis pada para penulis potensial. Jika terjadi pemuatan ganda, tanggung jawab kembali pada penulis. Idealnya penyunting bekerjasama dengan penulis, ketika mereka sampai pada bentuk. Pada umumnya standar bentuk telah ditentukan oleh penyunting dan tertulis di halaman dalam cover belakang. Walaupun format standar ini merupakan saringan pertama pada naskah yang datang. b. Kepenyuntingan Proses kepenyuntingan berlangsung setelah seleksi naskah selesai. Untuk melihat keaslian dan keterbaruan, redaksi bisa membandingkan dengan karya-karya dengan pokok bahasan yang sama, atau karya-karya yang disitir sebelumnya. Kegiatan ini akan lebih efektif dengan menyimak kajian literatur yang ada dalam makalah yang ditanganinya dan setalah dirasa bersih dan bebas kecurigaan, naskah tersebut diserahkan pada Mitra Bestari untuk dinilai. Mitra Bestari (Peer Reviewer), orang diluar keanggotaan dewan redaksi yang paling berperan dalam evaluasi naskah pra terbit. Mereka inilah punya kompetensi berkaitan dengan teori, metoda, dan piawai dalam pembuktian hipoteis. Mereka inilah yang memilah apakah suatu naskah itu mengandung fakta atau sekadar opini, termasuk menyaring orisinalitas naskah. Memilih Mitra bestari merupakan seni politis, karena tidak dibayar, padahal mengulas, menilai sebuah artikel ilmiah itu mereka perlu menyisihkan waktu khusus dari pekerjaan utama mereka, bahkan waktu penelitian mereka sendiri. Ketika 7 penyunting bekerjasama dengan mitra bestari, pihak penerbit memberi kemudahan proses seperti biaya-biaya administrasi dan pengiriman dokumen. c. Publikasi Naskah akhir yang telah siap cetak diserahkan ke pihak penerbit untuk diperbanyak dan didistribusikan. Pada umumnya produksi jurnal tidak banyak, mengingat pembacanya terbatas kalangan penganut disiplin keilmuan dan perpustakaan. Pada tahap ini terjadi kemungkinan hubungan antara penerbit dan penyunting maupun langsung ke penulis. Hubungan kerja ini bersifat sangan teknis, misalnya masalah koreksi, keterbatasan halaman, ilustrasi atau tabel. Proses mencetak jurnal tidak relatif cepat, karena saat ini tersedia banyak tawaran program Desk Top Publishing (DTP) yang memungkinkan berkembangkan ruang lingkup, sehingga penulis dilibatkan dalam produksi makalah mereka. Hebatnya, hasil DTP ini hampir sempurna sehingga ideal. DTP ideal untuk produksi proseding konferensi dalam jumlah terbatas. Kebanyakan penyunting dan pendukungnya bekerja dengan waktu misalnya selama tiga tahun dan pekerjaan ini pekerjaan kehormatan. Komunikasai antara anggota dewan biasanya melalui telefon atau surat menyurat. Sementara mereka semua berkeinginan untuk memelihara mutu jurnal, mereka tidak diharakan untuk memasarkan jurnal dan tidak pula mencari sponsor. Kadang-kadang mereka mengajukan issue khusus yang diberikan dukungan tetapi ini semata dalam penerbitan. Proses kepenyuntingan dan proses penerbitan merupakan proses produksi jurnal. Selain itu terdapat proses administrasi, naskah disirkulasikan ke penulis, penyunting dan pencetak sampai naskah tersebut didistibusikan ke para pelanggan. Ketika naskah diterima penyunting, kemudian penyunting memeriksa kesesuaian naskah dengan amanat yang telah digariskan oleh penerbit. Amanat yang biasanya tersurat pada halaman muka jurnal ini membatasi isi substantif. Setelah itu, penyunting mencarikan mitra bestari yang sesuai dengan substansi naskah. Bisa terjadi penyunting menerima naskah dengan subjek yang masuk pada abu abu antara satu cabang disiplin dengan disiplin ilmu lain. Sebagi misal bisakah karyakarya Masinambow tentang Ethno-linguistics dimasukkan kedalam jurnal Antropologi atau linguistik? Idealnya naskah semacam ini diterbitkan dalam jurnal ethnografi6, sayangnya jurnal dengan subjek ini jarang didapatkan di Indonesia, sama halnya dengan subjek abu abu lain seperti Bioetika yang justru banyak dimuat dalam jurnal kedokteran dan pelayanan kesehatan dibanding dengan jurnal filsafat terapan. Keadaan di atas bisa dimaklumi karena perkembangan sains semakin spesifik dan interdisipliner sehingga mendorong penyunting untuk lebih jeli dan teliti dalam mengklasifikasi pokok bahasan. Dalam mengidentifikasi pokok bahasan dalam sebuah naskah, penyunting bisa mengadopsi alat bantu Library of Congress Subject Heading, atau thesaurus seperti Agrofox yang digunakan pustakawan untuk menentukan tajuk subjek. Selama tingkat perubahan bervariasi, ada yang reguler ada yang tidak, isi jurnal bisa tetap konsisten dalam jangka waktu lama, walau telah terjadi perubahan penyunting beulang kali. Kandungan jurnal ilmiah ditentukan oleh amanat mereka, yaitu masing masing jurnal menentukan sifat artikel yang akan mereka terima. Selama berabad-abad, sejak Gutenberg press menghasilkan karya cetak, penerbit telah memainkan peran penting dalam menyebarluaskan karya para penulis 6 Di Indonesia belum terdapat Jurnal ethnolingusitics, karena kelas ini sangat spesifik dan masih belum banyak peminatnya. 8 pada mereka yang ingin membaca. Penanaman modal besar penting dalam bahan dan biaya pendukung, dan para ahli dikumpulkan dalam bidang kunci seperti produksi dan pemasaran, mencari mereka yang ingin membeli karya tersebut. Dalam penerbitan akademis, seperti dalam penerbitan lainnya, ini mengarah pada kepastian harga karya terbitan, dan tawar menawar seperti yang dirujuk Harnad. Berbeda dengan kebanyakan penerbitan komersial, pasar jurnal ilmiah terbatas, walaupun pasar secara keseluruhan meningkatkan keuntungan beberapa penerbit, akibatnya harga tinggi menjadi masalah. Model sederhana proses penerbitan jurnal menunjukkan bahwa perkembangan bermula dari makalah. Penerbit terlibat tidak langsung, melalui penyunting, seringkali ruang lingkup makalah bisa diarahkan menjadi lebih luas atau lebih sempit. Ini merupakan pengaruh penerbit pada proses kepengarangan. Jelaslah bahwa penerbit mengambil tanggung jawab penuh untuk mengumpulkan karya, issu jurnal. Sebuah jurnal bisa saja mengalami kejadian yang luar biasa misalnya tingginya tingkat permintaan berlangganan baik pribadi atau institusi diluar yang direncanakan, atau sebaliknya opl ah sebuah jurnal itu menurun drastis, penerbit perlu mencari tahu dan bertindak untuk mengatasinya. Mungkin saja terjadi sebuah jurnal gulung tikar karena integritas dan kompetensi profesional dipertanyakan, sehingga si penyunting tersebut mengalami kesulitan serius dalam pengadaan naskah atau mencari mitra bestari. Bisa jadi untuk mengatasi kesulitannya itu si penyunting mengambil jalan pintas dengan menurunkan daur ulang penelitian usang atau memuat proseding kadaluwarsa. Pada kasus peserti ini keputusan untuk mengembangkan jurnal atau mengganti penyunting ada di tangan penerbit. Penerbit bertanggungjawab atas pekerjaan pekerjaan manajemen bisnis. Perencanaan dan pengendalian biaya merupakan pekerjaan yang menantang, karena terkait dengan seluruh aspek penerbitan. Karena jumlah langganan menceriminkan banyaknya penghasilan jurnal, pihak penerbit perlu menilai perkembangan pelanggan, menilai biaya produksi dan menentukan panduan harga. Dengan pertimbangan pertimbangan seperti ini, penerbit bisa menutup jurnal yang gagal. Pekerjaan penerbit antara lain adalah manajemen kepenyuntingan dengan memantau efisiensi ketatausahaan penyunting terutama waktu untuk penilaian artikel untuk mitra bestari, karena biasanya memakan waktu. Bukan tidak mungkin seorang peneliti merasa “gerah” karena dikembalikan disertai komentar atau mempertanyakan ketepatan teori maupun rancangan penelitian yang digunakan. Tanggapan penulis juga menjadi perhatian penerbit, karena apapun bentuk tanggapan penulis terhadap penelaian mitra bestari akan mempengaruhi penerbitan. Penerbit perlu memantau trend penelitian yang terkatait seperti issue khusus, atau issue yang ada dalam konferensi. Dalam memantau trend penelitian para ilmuwan mungkin lebih piawai karena beberapa diantara mereka membentuk kelompok dengan minat penelitian yang sama, bahkan banyak diantaranya pada tingkat internasional. Bahkan bermunculan bidang bidang interdisipliner. Pada umumnya mereka bergabung dalam forum diskusi dengan memanfaatkan jaringan Internet. Seringkali tanpa dukungan langsung dari lembaga profesional atau suatu publikasi yang diakui. Dalam banyak kasus jaringan informal menjadi basis upaya pemasaran penerbit untuk jurnal baru, menunjukkan betapa pentingnya pada akademisi. Pengalaman berorganisasi dengan konferensi dan kursus termasuk memasarkan konferensi seperti halnya produksi prosiding. Pada umumnya jurnal ilmiah menganggap bahwa iklan itu tidak tepat. Namun demikian jika anggaran seret dan membuat penerbitan kembang kempis, mereka menerima iklan juga. Jurnal ilmiah juga menerima iklan yang terseleksi terfokus pada 9 konferensi yang akan diselenggarakan atau kegiatan-kegiatan professional. Lain lagi jika penerbit buku meminta ruang untuk mengumumkan buku yang akan terbit, para penyunting jurnal akan menerima. Lebih umum lagi, terdapat iklan “barter” diantara sesame jurnal ilmiah. Sistem barter ini bersifat saling menguntungkan dan gratis ( biasanya terdiri dari judul, identifikasi artikel yang lampau, alamat dan ringkasan mandate jurnal) masig-masing jurnal melakukan hal yang sama. 5. Klub Jurnal Klub jurnal mendiskusikan dan mengkritisi penelitian yang telah digunakan beberapa tahun dalam pendidikan medis. Klub jurnal medis yang pertama didirikan pada 1875 oleh Sir William Osier, seorang dokter yang tertarik pada pendidikan kedokteran. Sejatinya, dia menjabarkan bahwa klub jurnal sebagai memberikan kemudahan distribusi berkala yang tidak terjangkau, dan kemudian merambah ke buku. Klub jurnal ini bertemu dalam kesempatan makan malam untuk mengulas penelitian medis yang mutakhir. Kleinpell, (2002) memberikan batasan bahwa klub jurnal itu kelompok individu membicarakan artikel terkini, menyediakan suatu petikan untuk upaya kolektif untuk mengkaji literatur. Banyak keuntungan jika kita ikut serta dalam klup jurnal, antara lain mengikuti perkembangan pengetahuan baru, mengetahui temuan temuan baru dalam disiplin yang dianutnya, belajar mengkritisi sekaligus menghargai penelitian, menjadi kenal dengan riset yang baik, dan mendorong pemanfaatan. Klub jurnal juga dicatat sebagai jembatan riset dan praktek, mendorong penerapan riset dalam kehidupan profesional sehari-hari. Klub jurnal, adalah kelompok individu yang bertemu secara secara teratur untuk mengevaluasi artikel dalam jurnal ilmiah. Klub jurnal selalu diadakan di sekitar subjek yang pasti pada riset murni atau terapan. Misalnyapenarapan evidence based medicine untuk beberapa bidak praktek medis dapat difalitasi oleh klub jurnal. Pada umumnya, masing-masing peserta dapat menyuarakan pandangannya sehubungan dengan beberapa pertanyaan seperti ketepatan rancangan penelitian, statistic yang disuguhkan, ketepatan kendali yang digunakan, dsb. Mereka bisa juga mensintesakan beberapa beberapa makalah, meskibun beberpa hasilnya bisa berlawanan satu sama lain. Walaupun hasil kajiannya tampaknya sahih, mungkin muncul diskusi bebaimana bermanfaatnya hasil dan jika hasilnya mengarah pada penelitian dan implikasi baru. Klub jurnal kadang kadang diterapkan dalam pendidikan pasca sarjana atau professional. Kegiatan ini membantu para mahasiswa menjadi lebih terbiasa dengan literatur jitu dalam bidang studi mereka. Lagi pula, klub jurnal ini membantu mereka meningkatkan pemahaman dan kemampuan berdebat tentang issue mutakhir bidang studi mereka. Jenis klub jurnal kali ini kadang kadang diadakan untuk mengambil nilai. Laboratorium riset bisa juga menyelenggarakan klub jurnal untuk semua peneliti yang ada di lab untuk membantu mereka tetap mengikuti literature yang dihasilkan mereka yang bekerja dalam bidang mereka. Rujukan awal tentang klub jurnal ditemukan dalam buku harian dan surat oleh almarhum Sir James Paget, seorang ahli bedah Inggris, yang menggambarkan sebuah kelompok di Rumah Sakit st. Bartholomew di London pada pertengahan 1800-an sebagai semacam kelompok di seberang toko dekat gerbang rumahsakit, kita bisa duduk dan membaca journal. Sementara itu Sir William Osler mendirikan klub jurnal yang resmji di McGill University di Montreal pada 1875. Tujuan klub adalah untuk membeli dan mendistribusikan berkala bagi mereka yang tak mampu melanggan. 6. Peluang dan tantangan 10 Keadaan di Indonesia saat ini relatif memungkinkan jurnal Indonesia berkembang sesuai dengan dinamika sains yang ada. Penghargaan dalam bentuk nilai kridit untuk pengembangan karir fungsional (profesi) dari pemerintah terhadap penulis atau ilmuwan saat ini relatif memadai. Langkah ini mendorong antusiasme para peneliti dan akademisi untuk menulis di jurnal. Untuk menampung antusiasme dan peningkatan mutu penulisan banyak lembaga pendidikan dan riset mengadakan lokakarya penerbitan jurnal dan penulisan artikel ilmiah. Terdapat semacam kehormatan dalam menyumting sebuah jurnal yang mempunyai tingkat penolakan tingi dan jurnal ilmiah papan atas memmpunyai tingkat penerimaan ang lebih dari limapuluh persem untuk semua naskah yang diajukan. Variasi terakhir dalam operasi tahunan jurnal adalah dengan meminta bayaran per halaman. Beberapa jurnal meminta bayaran pada pengirim naskah, sementara ada pula yang menarik biaya (atau keanggotaan asosiasi) apaila artikel itu diterima sementara ang lain dengan jumlah halaman. Sudah berabad-abad Jurnal meduduki posisi penting dalam dunia keilmuan, bahkan semakin lama semakin kuat kedudukannya. Jurnal memberikan catatan “permanen” tentang karya tulis para ilmuwan dan professional, bahkan berlipat kali lebih lama dari umur ilmuwan itu sendiri, karena artikel jurnal itu didokumentasikan, dibaca dan disitir ilmuwan lain. Artikel jurnal itu dikatakan effektif jika banyak disitir orang. Salah satu fungsi jurnal adalah sebagai sarana pertukaran informasi yang berlangsung dalam lingkungan ilmuwan dan profesional. Mereka ini memerlukan referensi untuk memformulasikan pertanyaan riset atau hipotesa, dan untuk menjawab pertanyaan riset para peneliti ini memerlukan jurnal untuk membandingkan, dan membedakan pendekatan yang dipakainya. Melalui jurnal, mereka bisa berbagi informasi temuan, observasi dan pandangan yang muncul dari karya para peneliti dalam jurnal. Dibanding dasawarsa yang lalu, perkembangan penerbitan jurnal di RI ini cukup menggembirakan. Permadi (2004) mencatat bahwa sebelum Juni 2004 terdapat 1.170 judul jurnal. Catatan menggembirakan adalah bahwa sekitar separohnya melibatkan mitra bestari dan menggunakan dwi bahasa Indonesia dan Inggris. Sebagian besar jurnal ini diliput oleh terbitan indeks atau abstrak Indonesia pada umumnya bidang filsafat, agama, bahasa, sastra, seni, geografi dan sejarah. Kegairahan penerbitan jurnal RI saat ini adalah buah kerja keras pihak terkait seperti Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dirjen DIKTI) yang tak henti hentinya menyemangati para peneliti dengan memberikan berbagai kemudahan, juga kampanye standar penerbitan yang dilancarkan oleh LIPI. Secara tidak langsung Dewan Riset Nasional (DRN) ikut pula menyemarakkan karya tulis di jurnal, melalui beberapa skema penelitian yang disponsorinya. Barangkali kepentingan profesi yang akan membuahkan semangat para ilmuwan menggalang silaturahmi formal dengan sejawatnya melalui jurnal ilmiah. Namun demikian, manfaat silaturahmi ini bakal luntur jika jurnal tidak didokumentasikan baik dan diindeks dan dibuat bibliografi secara cermat serta disebarluaskan ke komunitas mereka. Rujukan: 11 Banks, David. “Getting science started: the Philosophical Transactions and the Journal des Sçavans”.( This article is based on a paper presented at the 29ème Colloque du GERAS at the Université d'Orléans, 13-15 March, 2008.) tersedia di www.univ-brest.fr/erla/membres/banksdocs/GERAS %20Orleans%20art.doc diakses 22 Januari 2008 Carey Patty. Gould, Linda “Per Page Costs of Atmospheric Sciences Journal Titles at the University of Washington” terdapat di http://www.lib.washington.edu/subject/atmosphericsci/scholcom/ diakses 8 Februari 2010 Felber, Lynett “The Book Review: Scholarly and Editorial Responsibility” Journal of Scholarly Publishing - Volume 33, Number 3 April 2002. Kleinpell, Ruth M. “Rediscovering the value of Journal Club” American Journal of Critidal Care(September 2002) vol.11. No. 5 tersedia di http://ajcc.aacnjournals.org/cgi/reprint/11/5/412.pdf diakses 21 Januari 2010-01-20 Rowland, Fytton “Print Journals: Fit for the Future?” Ariadne terdapat di http://www.ariadne.ac.uk/issue7/fytton/ diakses 8 Februari 2010. 12

Judul: Jurnal Ilmiah: Silaturahmi Keilmuan

Oleh: Rosa Widyawan


Ikuti kami