Review Kolaborasi Jurnal 2018

Oleh Irnawati Siregar

158 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Kolaborasi Jurnal 2018

REVIEW JURNAL KOLABORASI METODE PEMBELAJARAN PADA PRAKTEK STUDIO DESAIN ARSITEKTUR Irnawati Siregar siregar.irna@yahoo.co.id Dosen Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Ekasakti ___________________________________________________________________________ Abstrak Kajian kolaborasi pembelajaran pada studio desain arsitektur ini bertujuan untuk menguji artikel penelitian yang diterbitkan antara Januari 2010 dan April 2015 yang berfokus pada pembelajaran di studio arsitektur yang melibatkan mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam pengajaran dan pembelajaran di studio desain arsitektur pada jurusan arsitektur. Metode pembelajaran di studio desain arsitektur ini bisa dibilang perubahan yang paling signifikan terjadi dalam pendidikan arsitektur sejak dari model pembelajaran dengan metode tradisional sampai ke metode sesi kritik. Pengajaran dan pembelajaran dari bentuk tradsional ke bentuk sesi kritik dapat mempengaruhi berhasilnya pelaksanaan pembelajaran didalam studio desain arsitektur ke dalam kurikulum program studi arsitektur serta dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan lulusan dibidang arsitektur dalam rangka meningkatkan mutu lulusan di jurusan arsitektur. Sumber data review kolaborasi model pembelajraran ini menggunakan database online Science Direct dengan metode kriteria yang digunakan untuk memilih studi ulasan dengan fokus utama pada metode pembelajaran yang berhubungan dengan desain dan sistem pengajaran dan pembelajaran yang dilakukan dalam studio. Hasil dari analisis 12 studi yang dikaji mengungkapkan masalah yang berhubungan dengan pengajaran dan pembelajaran yang dilaksanakan dalam studio desain arsitektur yang terjadi antara mahasiswa, dosen dan tutor studio. Kesimpulan dari tinjauan kolaborasi ini diperlukan penelitian berkelanjutan dari pendidikan di studio desain arsitektur serta dukungan sekitarnya yang memungkinkan mahasiswa lebih kreatif dalam pembelajaran dengan keterampilan yang dibutuhkan pendidikan saat ini dan strategi pengajaran bagi pendidik. Kata kunci: Metode pembelajaran arsitektur, studio desain arsitektur, pendidikan dan pembelajaran studio arsitektur, pembelajaran studio desain arsitektur. ___________________________________________________________________________ Latar belakang Tantangan yang dihadapi pendidikan arsitektur saat sekarang adalah menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berperan menjembatani perkembangan dunia yang semakin transparan dan global. Untuk itu perlu adanya strategi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yang mengarah kepada ekonomi global seutuhnya. Tuntutan ini mendorong semakin diperlukannya lulusan yang memiliki kompetensi sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu, teknologi, seni, dunia kerja, profesi, dan pengembangan kepribadian dengan ciri khas kebudayaannya masing-masing. Salah satu strategi yang dapat menjawab tantangan pengembangan sumber daya manusia adalah dengan melalui pendidikan arsitektur terutama dalam pembelajaran yang berhubungan dengan sistem pembelajaran yang dilakukan pada studio arsitektur. Studio merupakan core dari kurikulum arsitektur yang didasarkan pada desain yang berfokus pada studio dalam bentuk yang berhubungan dengan prosedur pemecahan masalah melalui sesi kritik, sistem tutorial dan pembelajaran yang terkait dengan pemecahan-pemecahan permasalahan di studio arsitektur. Pembelajaran seperti ini sebagai komunikasi antara mahasiswa dan dosen dan juga antara mahasiswa dan mahasiswa. Dengan cara ini setiap mahasiswa akan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan ide-ide nya sendiri dan membuat dialog dengan para ahli (dosen) dan rekan-rekan serta dapat mengekspos dan menilai diri mereka sendiri. Hasil dari penelitian Nicosia di Cyprus utara (Sevinc Kurt, 2009), menemukan bahwa karakteristik lingkungan studio tradisional dibandingkan dengan studio konstruktivis merekomendasikan transformasi di studio desain. Sementara temuan studi terbaru Turkey (Yavuz Taneli et al, 2010) evaluasi yang menghubungkan kualitas dan efektivitas menunjukkan skala penilaian dalam menilai karya kreatif. Sedangkan temuan studi terbaru Malaysia (Nakula Huberta et al, 2011), menemukan bahwa latihan studio saat ini membutuhkan pola pikir baru serta kerangka kerja baru yang akan direkonstruksi dan direnovasi. Temuan terbaru Turkey (Ercument Gorgul et al, 2012), menemukan bahwa peningkatan kemampuan, ketrampilan dan keahlian siswa ada kaitannya dengan keragaman kelompok. Sedangkan temuan terbaru Nangkula Uberta et al, (2013), menekankan ada beberapa jenis desain studio yang dilaksanakan oleh pengawas studio melalui pengelompokkan metode kritik dengan crit sehingga masing-masing mahasiswa mengeksplorasi alasan puas dan tidak puas yang pada akhirnya memperbaharui sistem yang ada. Aysen Ciravoglu (2014), pada penelitiannya menemukan penerapan dan pelaksanaan kritik kelompok untuk studio desain dengan melibatkan seorang dosen yang pada akhirnya akan kembali ke metode pembelajaran tradisional. Sedangkan pada penelitian Iran (Mohammadjavad et al, 2014), menemukan adanya dampak pendekatan formalistik dalam proses desain arsitektur pada kualitas pembelajaran mahasiswa dengan desain pada desain studio II dan IV. Peneltian Ethiopia (Fathi Bashier, 2014) menemukan bahwa perlunya merefleksi pendidikan desain arsitektur dalam mengembalikan rasionalisme di studio. Sedangkan penelitian Portugal (Sajjad Nazidizaji et al, 2014), menemukan bahwa perlunya mencari kecerdasan desain dengan memanfaatkan kecerdasan emosional di studio desain arsitektur. Sedangkan menurut (Safiye Orem Dizdar1, 2015) proses pendidikan arsitektur dengan kursus menggunakan desain proyek dapat digunakan sebagai contoh dibidang pembelajaran pendidikan arsitektur. Pada penelitian (Maja Bâldea et al, 2015) menggambarkan aspek-aspek positif dan negatif dari menggunakan blog sebagai alat komunikasi dalam mengajar mahasiswa di studio arsitektur, dan mempelajari implikasi langsung dalam proses pengajaran. Sedangkan menurut penelitian lanjutan yang dilakukan (Maja Bâldea et al, 2015) menemukan bahwa jumlah blog harus diperluas, sehingga penerimaan yang berbeda memungkinkan bahwa lebih dinamis dan lebih luas digunakan dialog langsung yang harus dipelihara antara dosen dan mahasiswa. Tujuan Tujuan dari review kolaborasi ini adalah untuk mengidentifikasi penelitian yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran studio desain arsitektur yang terkait dalam program arsitektur dan untuk mengidentifikasi masalah bagi mahasiswa dan dosen yang melaksanakan pembelajaran dalam studio dan juga dengan pemanfaatan teknologi informasi. Metode Sebuah pencarian sistematis literatur penelitian utama dilakukan dengan menggunakan pilihan pencarian melalui tiga kategori besar: pendidikan desain pada studio arsitektur (architectural design educationin the studio), pendidikan desain arsitektur (architectural design education), , proses pendidikan distudio desain arsitektur (educational process in architectural design studio) dan pemanfaatan blog sebagai pembelajaran di studio arsitektur (learning architecture studio with the use of blogs). Database online yang diadobsi adalah Science Direct. Pencarian pengguna berdasarkan pada daftar referensi dan bibliografi dari artikel, Berikut kata kunci menggabungkan 'Architecture' sebagai bagian .dari pencarian yang digunakan; dicampur, learning, design, studio, education, critique, process, design studio, design education, design process, mahasiswa, pendidik, dosen, guru, jurusan arsitektur. Pencarian kemudian diulang menambahkan kata-kata kunci berikut: masalah dan bentuk. Hasil Pencarian studi diidentifikasi sebanyak 100 judul. Setelah dibaca abstrak yang relevan sebanyak 55, studi yang dibuang tidak secara langsung relevan dengan review sebanyak 45, setelah diperiksa lebih rinci yang memenuhi kreteria sebanyak 35. Studi ini kemudian diperiksa terhadap kriteria studio desain arsitektur meninggalkan 12 studi, kemudian studi yang terpilih dimasukkan dalam review. StudiLokasi Studi yang dihasilkan berada di tujuh negara termasuk Turkey ( n = 3 ), Romania ( n = 2 ), Malaysia ( n = 2 ), dan Nicosia, Iran, Ethiopia, China, dan Portugal masing-masing memiliki satu penelitian. Studi Desain 12 studi yang dipilih dibagi menjadi tiga kelompok: metode kualitatif, kuantitatif dan campuran. Dari penelitian termasuk metode penelitian yang paling sering adalah kualitatif dengan lima studi, dengan dua studi kuantitatif dan satu metode campuran. Tema Identifikasi Empat tema diidentifikasi, ada satu tema yang ditemukan di semua artikel. Tema beserta sumber tema adalah sebagai berikut: 1) masalah yang berhubungan dengan pembahasan kritik dan penilaian pada studio desain arsitektur; 2) dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain arsitektur, 3) peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur dan 4) Pemanfaatan blog sebagai komunikasi pembelajaran di studio arsitektur. Setiap studi Ulasan menunjukkan adanya proses disain dan hasil desain yang dilakukan distudio arsitektur pada program arsitektur. Tema 1: Masalah berkaitan dengan kritik pada studio desain arsitektur Tema ditemukan pada 34 % (n = 4) dari artikel Ulasan (Seving Kurt, 2010; Yavuz Taneli et al, 2010; N. Uberta etal, 2011;Nangkula Uberta et al, 2013;). Isu-isu ini berkaitan dengan aspek-aspek positif dan negatif dari kritik yang diterapkan pada studio desain arsitektur. Aspek positif dari kritik pada studio desain arsitektur. Dari 4 studi, mahasiswa menyatakan aspek positif penggunaan sesi kritik dalam bentuk crit. (Seving Kurt, 2010; N. Uberta etal, 2011, dan Nangkula Uberta et al, 2013 ) menyatakan Crit Tipe 1; Semua siswa dapat mendengarkan kritik teman mereka, dan memiliki kesempatan dan kemungkinan untuk berpartisipasi dalam diskusi. Crit Tipe 2; Semua siswa dapat bekerja di studio desain selama jam studio. Juri awal dan sistem juri Akhir diimplementasikan. Crit Tipe 3; Setiap siswa bisa mendapatkan crit dari supervisor yang berbeda. Juri awal dan sistem juri akhir diimplementasikan. Crit Tipe 4; Meskipun terbatas, ada peluang dan kemungkinan diskusi dan partisipasi dalam lingkungan studio di seluruh juri. CritTipe 5; A"Juri konstan" sistem diterapkan dalam pengajaran studio) Terkonsentrasi Studio: 2-3 profesor mengelola operasi studio. Crit Jenis 6; Kedua Crit Tipe 5 dan Crit Jenis 6 mendorong kolaborasi mengenai partisipasi dan diskusi. Satu penelitian (Yavuz Taneli et al, 2010) menyatakan bahwa perbedaan yang dirasakan penilaian dengan skala yang mereka terima penting untuk memotivasi perubahan dalam belajar. Skala penilaian untuk mengevaluasi karya yang dihasilkan distudio arsitektur berbeda dari pendekatan gradasi tradisional tidak hanya dalam dimensi pekerjaan tetapi juga visual yang disampaikan kepada siswa. Aspek negatitif dari kritik pada studio desain arsitektur Dari 4 studi yang direview yang menyatakan aspek negatif penggunaan sesi kritik dalam bentuk crit hanya 3 studi (Seving Kurt, 2010; N. Uberta etal, 2011, dan Nangkula Uberta et al, 2013 ) dimana crit yang punya kelemahan adalah Tipe Crit 1 samapai Tipe Crit 4, sementara Tipe Crit 5 siswa sudah mandiri. Disin dapat dilihat bahwa Crit Tipe 1: Guru duduk terpusat didepan siswa, pengajaran terjadi daripada belajar serta kurangnya aplikasi multi-media. Pada Crit Tipe 2; tidak ada kolaborasi dan partisipasi dalam studio latihan serta kurangnya aplikasi multi-media. UntukCrit Tipe 3; Tidak ada kolaborasi dan partisipasi dalam studio latihan serta kurangnya aplikasi multi-media. Crit Tipe 4; Selama kritik meja, siswa seharusnya belajar secara individual serta kurangnya aplikasi multi-media. Kesimpulan dan rekomendasi. Pendidikdan instruktur studio pentingnya berpikir rasional dalam meningkatkan praktek belajar mengajar distudio. Pendidikan desain arsitektur dapat dikatakan masuk ke dalam standar alat penilaian otentik dimana penilaian otentik tidak berfokus pada pengetahuan faktual tetapi sebaliknya, berfokus pada kemampuan untuk menggunakan pengetahuan yang relevan, keterampilan, dan proses untuk memecahkan masalah yang berakhir terbuka. Dalam pengajaran desain diwujudkan dalam berbagaicara, dengan sesi kritik sebagai pokok utama penilaian hasil desain siswa dalam berpikir kreatif. Pada pengajaran distudio desain sebaiknya studio dan lingkungan studio dapat diterapkan hal sebagai berikut - Lingkungan Studio didesain sesuai dengan kebutuhan siswa untuk mencapai tujuan akademis mereka. Lingkungan studio desain tradisional yang ada sebaiknya ditransformasikan ke studio konstruktivis, sehingga permasalahan yang ada dari studio desain dapat dikurangi. Studio berfokus pada proses bukan desain produk akhir Siswa dapat berbagi ide-ide desain mereka Kolaborasi sangat penting dalam proses desain. Sesi diskusi terbuka diimplementasikan Siswa didukung untuk melakukan refleksi pada tindakan Keterampilan baru dan alat-alat yang dikembangkan untuk prosedur belajar Aplikasi Multimedia yang banyak digunakan Dalam mengevaluasi keberhasilan siswa, langkah yang diambil dari awal proses sampai akhir sangat penting. Tema 2 : Masalah yang berkaitan dengan dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain arsitektur Tema menggunakan dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain terletak di 42 % (n=5) dari artikel Ulasan (Ercument Gorgul et al, 2012;. Mohammadjavad Mahdavinejad et al (2014); Aysen Ciravoglu (2014); Fathi Bashier (2014); safiye orem Dizdar1 (2015). Masalah-masalah yang diidentifikasi di sini berkaitan dengan dampak pendekatan eksperimental, formalistik, dan rasionalisme pada studio desain arsitektur. Dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain. Review mengidentifikasi lima studi memiliki subtema dari dampak pendekatan yang digunakan dalam studio desain (Ercument Gorgul et al, 2012; Mohammadjavad Mahdavinejad et al, 2014; Aysen Ciravoglu, 2014; Fathi Bashier, 2014; safiye orem Dizdar1, 2015). Studi Ercument Gorgul et al (2012) menemukan bahwa sistem pendidikan di Cina, proses terutama penilaian terstruktur, bukan fokus pada peningkatan kekuatan pribadi individualistik, di mana siswa pendidikan menengah perlu mengambil serangkaian tes untuk menentukan pendidikan tinggi mereka berdasarkan arahan penilaian otoritas. Salah satu tujuan utama dari arahan ini menciptakan alternatif untuk lingkungan, program yang berfokus untuk menilai dan mengembangkan kemampuan alami siswa untuk membantu mereka membuat keputusan yang tepat untuk masa depan mereka. Setelah diterima, mahasiswa dibimbing untuk menyederhanakan dan representasi abstrak dalam hal menghilangkan kesamaan formal melalui bidang sumber kerajinan yang mungkin hasil pekerjaan dengan yang telah dikembangkan di studio. Selanjutnya siswa didorong untuk mewujudkan hasil simulatif dan perwakilan menggunakan teknik kerajinan. Hasil ini biasanya dikembangkan dengan menggunakan alat digital atau model studi mereka. Ini lebih kurang tahap sintesis atau dimana siswa menggabungkan dan mengeluarkan hasilnya. Bimbingan ketat diterapkan untuk membatasi hasil konvensional yang mungkin jatuh ke dalam salah satu kategori arsitektur seni dan teknik dan juga dalam kategori kerajinan tradisional. Pada tahap akhir bahwa kemampuan, ketrampilan, dan keahlian berkaitan dengan keragaman kelompok. Menurut studi Mohammadjavad Mahdavinejad et al (2014) proses desain dapat dikelompokkan dalam lima tahap menyatu dengan metode visual, tahap tersebut; (1) Tahap awal; dalam "wawasan Pertama", kesadaran arsitek 'dalam bentuk utama yang telah terbentuk dalam pikiran mereka, sehingga ide dasar desain dalam banyak kasus adalah ide visual yang dapat ditunjukkan dengan sketsa. (2) Tahap Persiapan : Dalam "tahap persiapan" apa yang ada dalam fikiran arsitek, secara bertahap akan menemukan aspek yang lebih nyata, sehingga arsitek mencoba untuk menyelesaikan ide arsitektur dengan mengambil catatan, pertanyaan dan mengumpulkan pengalaman dalam hal ini sebagian besar kegiatan ini memiliki aspek visual.(3) Inkubasi: Dalam "inkubasi" pikiran manusia sadar bawah mengambil inisiatif akan membantu memajukan proses desain dan karena kebanyakan arsitek dalam pikiran mereka memiliki kaya akan ide visual. Kesimpulannya, bersama inkubasi adalah proses visual. (4) Intuisi: Sebuah respon yang inovatif untuk desain adalah hasil dari "intuisi" yang benar dalam proses desain, dimana tanggapan ini adalah aspek visual. (5) Akhir Desain Arsitektur: desain dari pikiran para arsitek 'mencapai stabilisasi dan perubahan situasi. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pikiran arsitek dapat menemukan ide, karena bagian ini dapat dipertimbangkan dalam merancang tingkat tertinggi fungsi visual. Penemuan Aysen Ciravoglu (2014) mengemukakan bahwa pelaksanaan studio desain arsitektur memiliki banyak kelemahan saat ini. Dampak dari kelemahan tersebut berdampak pada siswa magang, dimana permasalahan yang timbul adalah; Menyalin dari tutor memiliki pendekatan arsitektur; Kurangnya mengambil tanggung jawab siswa dan kepemilikan proyek; Kurangnya inisiatif tentang proyek; Kurangnya kepercayaan diri dan terus-menerus menunggu penegasan. Penyelesaian yang dikemukan oleh Aysen Ciravoglu (2014) kurangnya pengetahuan siswa dan guru dalam ilmu terbaru, diharapkan lingkungan studio arsitektur dapat membuka diri dari ilmu terbaru dimana pelajar mencoba desain arsitektur proyek dengan dukungan tutor. Fathi Bashier (2014) Perlunya perubahan kembalinya rasionalisme distudio menunjukkan bahwa panggilan untuk perubahan dalam budaya studio telah menjadi global, muncul baik di negara-negara Barat, seperti yang dicontohkan oleh AIAS dan lembaga internasional lainnya. Untuk hal ini teori yang diusulkan berfungsi sebagai dasar teoritis atas mana saling ketergantungan yang rasional dan fase kreatif proses desain dapat dikonseptualisasikan.Tahap pertama adalah metode yang sistematis yang melibatkan penelitian, penggunaan teori positif, dan produksi prinsip-prinsip dasar. Tahap praktek kreatif juga melibatkan penelitian dan berfokus pada pemahaman pengetahuan rasional. Studi Safiye orem Dizdar1 (2015) Selama periode operasional pelajaran desain karakteristik subjek yang akan dilakukan dan informasi rinci harus diberikan kepada siswa secara lisan dan tertulis. Informasi seperti penelitian, produksi ide, kerja sketsa awal, Model skala sebelum dan sesudah dan tanggal berakhir harus diumumkan ke siswa. Dalam mengkritisi masalah, identifikasi masalah harus diklarifikasi untuk- siswa dengan mengamati apakah apa yang diinginkan selama kemajuan proyek dipahami atau tidak. Dalam situasi di mana tampaknya perlu, persepsi siswa baik dari produk dapat dipastikan dengan mengidentifikasi masalah pada contoh model tiga dimensi. Penyelesaiannya menurut Safiye orem Dizdar1 (2015) adalah membuat suasana fungsi studio harus dipahami bukan sebagai produk tetapi sebagai proses yang terfokus. Kemampuan menggambar apa yang mereka impikan hari ini akan menjadi akuisisi kesatuan konsep teknologi dan seni. Kesimpulan dan rekomendasi Sumber yang menyehatkan pendidikan yang terdiri dari; mahasiswa, staf pengajar, profesional, biro konstruksi dan tempat (studio) harus secara efektif memberikan kontribusi terhadap pendidikan, dan keabsahan sistem pemikiran dan pengembangan harus dipastikan di setiap tingkat pendidikan. Pentingnyaberpikir rasionaldalam meningkatkanpraktekbelajar mengajardi studio, dimana banyaktelah mengakui bahwa rasionalitas dan kreativitas berdampingan dalam proses desain.Terlalu sedikit pendekatan teoritis untuk desain studio arsitektur, dan terlalu sedikit eksperimen pendidikan mengakibatkan kurang optimalnya hasil desain siswa. Perlunya menyehatkan kembali studio desain dan meningkatkan praktek belajar mengajar distudio, sehingga menghasilkan lulusan yang ahli dibidangnya. Tema 3: Masalah Berkaitan peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur. Tema ketiga adalah 'masalah yang berhubungan dengan peran kecerdasan emosional di studio desain arsitektur. Tema ini ditemukan pada satu studi (8 %) dari studi Ulasan (Sajjad Nazidizaji et al, 2014). Tema ini mengkaji sarjana jurusan arsitektur di Iran yang membutuhkan masa perkuliahan setidaknya 4 tahun, dengan jumlah total kredit 140 SKS, dan mereka terdiri dari program umum, dasar, profesional, dan opsional. Masing-masing dari ADS (ADS-1, ADS-2, ADS-3, ADS-4, dan ADS-5) setara dengan 5 kredit. Setiap kursus studio desain dimulai dengan studi dasar, standar arsitektur yang berhubungan dengan desain, studi lapangan serta analisis. Siswa mempresentasikan konsep utama, dan dosen membantu memperbaiki pekerjaan mereka. Proyek akhir pada akhir semester terdiri dari model 3D dan rencana dimensi, termasuk rencana site, denah perlantai, sampai berakhir menggunakan perspektif baik interior maupun eksterior. Program ini dievaluasi oleh dosen melalui proyekproyek yang disajikan pada akhir semester. Sistem kritik di studio desain Iran umumnya berlangsung dari meja kritik individu dalam ADS-1 sampai dengan kritik juri di ADS-5. Kritik meja individu melibatkan guru dan siswa dan biasanya diadakan di meja siswa Artinya, jumlah komentar yang siswa terima dari teman-teman sekelasnya, dan bahkan orang-orang dari tutor diundang dari fakultas lain, kompleksitas masalah terlihat meningkat (yaitu, dari ADS-1 sampai ADS-5). ADS program mulai dari semester keempat, dan mahasiswa tidak bias lulus lebih dari satu ADS saja dalam satu semester. Isi utama dan ruang lingkup masing-masing program ADS adalah sebagai berikut; ADS-1: Belajar fungsi ruang yang sederhana, seperti pasar buah atau terminal kecil. ADS-2: Belajar desain dan faktor perumahan dalam konteks perkotaan hijau. ADS-3: Desain Budaya, artistik, dan konseptual dengan kesederhanaan dalam sistem fungsional, seperti museum dan pusat kebudayaan. ADS-4: Desain sistem fungsional kompleks, seperti rumah sakit kecil atau bandara kecil. ADS-5: Desain kompleks perumahan. Kesimpulan dan rekomendasi. Studio desain adalah inti dari kurikulum arsitektur. Mengingat peran kunci dari interaksi interpersonal dalam studio desain dan dikritik, maka dicari dan diuji alat prediktif untuk keterampilan ini, dan hasilnya diperoleh hasil yang lebih baik di studio desain dengan memilih EQ sebagai alat prediksi: (a) Peran positif EQ tinggi dalam keterampilan, seperti komunikasi lisan, negosiasi, kerja sama tim, dan kepemimpinan; (b) peran penting keterampilan ini di studio desain; dan (c) universalitas tes EQ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan antara EQ dan desain arsitektur, di satu sisi keterampilan dan, di sisi lain, prestasi akademik mahasiswa arsitektur, termasuk peran gender. Hubungan yang signifikan antara EQ dan hasil skor ADS yang berbeda (yaitu, ADS-1- ADS 5- di studi ini). Kelima ADS belajar desain berbeda dalam hal subjek desain dan kompleksitas masalah desain. ADS skor yang digunakan dalam penelitian ini diukur dengan metode penilaian kualitatif dan kritik. Komposisi evaluator dan teman sekelas juga berbeda. Pendekatan ini diharapkan untuk mengungkapkan kemampuan mahasiswa di studio desain. Tema 4: Pemanfaatan blog sebagai komunikasi pembelajaran di studio arsitektur Tema empat adalah 'masalah yang berhubungan dengan pemanfaatan blog sebagai komunikasi di studio desain arsitektur. Tema ini ditemukan pada dua studi (16 %) dari studi Ulasan (Maja Baldea et al, 2015). Dari 2 studi terdapat perbedaan isi blog dari tahun 1, tahun 2 dan tahun ke 5 studi, Feedback menurut titik pandang mahasiswa menyatakan bahwa Pemanfaatan blog sebagai komunikasi pembelajaran di studio arsitektur sangat positif. Pada tahun pertama blog yang berisi dukungan teoritis untuk studio desain, dosen memberikan pembelajaran didasarkan teori teori arsitektur. Pada waktu yang sama juga merupakan tahun pertama dimulainya halaman Facebook terpisah untuk kegiatannya, informasi dan formal, dimana kegiatan informal dilakukan melalui melalui Facebook, sedangkan Formal melalui blog. Mahasiswa juga menyatakan bahwa berkomunikasi melalui blog telah memperpendek jalur informasi dari dosen kepada mahasiswa, mereka juga menyatakan komunikasi dan penyebaran informasi dalam format digital sangat penting, blog juga dapat penyimpanan informasi pembelajaran, melalui proses informasi yang mudah. Sedangkan Feedback menurut titik pandang dosen berkomunikasi melalui blog telah memperpendek jalur informasi dari dosen kepada mahasiswa, dosen menganggap bahwa semua mahasiswa membaca segala sesuatu yang ditulis di blog, tetapi dalam kenyataannya ini tidak terjadi. Blog memungkinkan memberikan informasi kepada semua orang yang terlibat dalam proses pengajaran, dosen beranggapan bahwa blog mempunyai komunikasi yang cepat, tetapi kurang redudansi. Dosen membuat pengumuman dibedakan untuk setiap grup kerja, namun hanya beberapa mahasiswa yang tertarik untuk mengakses informasi dalam blog. Mahasiswa tidak berinteraksi dengan konten blog kepentingan yang lebih besar dan lebih fokus pada tema proyek dan bimbingan yang ditawarkan oleh dosen, serta ketertelusuran kegiatan semester. Diskusi pada blog berlangsung hanya selama lokakarya, tetapi hal ini dapat dimengerti karena ada dua lokakarya mingguan yang memfasilitasi pertemuan langsung, blog gagal untuk menjadi platform diskusi, hanya menyediakan informasi timbal balik Sebuah blog hanya merupakan alat komunikasi seperti halnya koran, blog dapat menyampaiklan informasi sesuai dengan waktu dan pesan yang akan disampaikan. Kesimpulan dan rekomendasi. Untuk mencapai dampak akademik yang lebih baik melalui konten blog, rekomendasi untuk masa yang akan datang adalah dengan memperluas fungsi blog saat ini dan beradaptasi melalui karakter komunikasi untuk kebutuhan khusus mahasiswa setiap tahun, sesuai dengan usia dan kepentingan mereka. Faktor kunci untuk mencapai rekomendasi ini dengan keterlibatan dosen yang lebih besar dari para mahasiswa dalam proses blogging. Dosen harus mengintegrasikan proses blogging dalam kegiatan ilmiah yang lebih luas, karena blogging dan pengajaran telah berkembang menjadi fungsi dari praktek ilmiah yang sama. DAFTAR PUSTAKA Ayşen Ciravoğlu. 2013. Catatan tentang pendidikan arsitektur: Sebuah pendekatan eksperimental untuk desain studio. Turkey. Ercument Gorgul et al. 2012. Pengajaran Kreativitas; Mengembangkan Experimental Design Studio Kurikulum Mahasiswa Pra Perguruan Tinggi dan Tingkat Sarjana di China. China. Fathi Bashier. 2014. Refleksi pendidikan desain arsitektur: mengembalikan rasionalisme di studio Ethiopia. Maja Baldea et al. 2015. Menggunakan Blog Sebagai Alat Komunikasi Untuk Studio Desain Arsitektur. Maja Baldea et al. 2015. Menggunakan Blog Sebagai Alat Komunikasi Untuk Pengajaran Siswa Dalam Studio Design Arsitektur Mohammadjavad Mahdavinejad et al. 2013. Dampak Pendekatan formalistik dalam Desain Arsitektur Proses pada Kualitas Pembelajaran Siswa, Kasus: Design StudioII, IV. N. Utaberta et al. 2011. Merekonstruksi Ide Kritik Session dalam Studio Arsitektur. Selangor, Malaysia. Nangkula Uberta et al. 2013. Perbaikan oleh pendidikan arsitektur mendefinisikan ulang pembahasan kritik pada disain studio Malaysia. Safiye Orem Dizdar I. 2014. Pendidikan arsitektur, kursus menggunakan contoh proyek desain pada proses pendidikan. Turkey Sajjad Nazidizaji, Ana Tomé, Francisco Regateiro. 2014. Mencari Kecerdasan Desain: Sebuah tentang peran kecerdasan emosional distudio desain arsitektur (studi lapangan). Portugal. Sevinç Kurt. 2013. Sebuah studi analitik pada lingkungan studio tradisional dan penggunaan studio konstruktivis dalam pendidikan desain arsitektur. Cyprus Utara Yavuz Taneli et al. 2010. Skala penilaian alternative untuk pekerjaan siswa yang diproduksi distudio arsitektur. Turkey. 1st year blog. 2013. Retrieved October 10, 2013 from http://arhitectura1tm.wordpress.com/ 2nd year blog. 2013. Retrieved October 10, 2013 from http://arhitectura2tm.wordpress.com/ 2nd year blog. 2014. Retrieved December 12, 2013 from http://arhitectura2tm.edublogs.org/ 5th year blog. 2013. Retrieved October 10, 2013 from http://arhitectura5tm.wordpress.com/ Di Batista, N. 2014, January. Studying architecture and design in Europe today. In Europe‟s top 100 schools of architecture and design 2014.

Judul: Review Kolaborasi Jurnal 2018

Oleh: Irnawati Siregar


Ikuti kami