Review Jurnal Isu Klinis.docx

Oleh Eva Meila

109,8 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Isu Klinis.docx

Faktor Psikopatologis: Psikodinamika Anoreksia Nervosa Anorexia nervosa disebabkan oleh pasien yang selalu membatasi makanan yang dikonsumsinya disebabkan penyakit fisik atau reaksi depresif akibat hilangnya nafsu makan. Hal ini mengakibatkan pasien memiliki kesadaran untuk menolak makanan atau mempertahankan berat badannya. Bila dilihat dari perspektif psikodinamika, adalah bahwa penolakan makanan diasumsikan untuk memenuhi tiga fungsi, defensif, sebuah reward, dan fungsi pengorganisasian. Misalnya, pembatasan makanan dan penurunan berat badan sebagai reaksi terhadap tekanan batin, seperti kecemasan atas perubahan fisik pubertas, atau keadaan eksternal yang menyakitkan akan memenuhi tujuan defensif, dengan mengurangi berat badan dan / atau membalikkan perubahan pubertas; hal tersebut akan membantu pasien dalam mengatur hidupnya dengan cara menyempitkan tujuan-tujuannya menjadi satu, yakni menjadi lebih kurus yang muncul sebagai reward yang disebabkan oleh penolakan makanan dan penurunan berat badan. Masa kanak-kanak dan isu-isu perkembangan menonjol sebagai jalan menuju anoreksia nervosa. Bruch (1962) percaya bahwa pembangunan emosional yang timpang pada masa awal, yang timbul dari pola transaksional yang salah pada orang tua terhadap anak mereka telah memaksa pasien tidak bisa berlaku mandiri dan cenderung dituntut untuk selalu patuh pada orang tua mereka. Rasa kelaparan yang dialami menjadi sarana untuk meneguhkan pendirian dan identitas mereka serta menghilangkan pengaruh orang tua yang berlebihan. Minuchin, Rosman, dan Baker (1978) juga menekankan interaksi keluarga patologis yang dibina dengan kepatuhan dan ketergantungan; penolakan makanan dipandang sebagai penolakan kekuasaan orangtua dalam upaya untuk memisahkan diri dari belenggu tersebut. Selvini-Palazzoli (1978) mengemukakan bahwa remaja, yang menolak perkembangan kewanitaan dari tubuhnya karena merasa menjadi mirip tubuh ibunya secara ambivalen, berusaha menghindari makanan dan berolahraga untuk membentuk tubuhnya sesuai dengan pikirannya sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh Crisp (1980) bahwa salah satu penyebab anoreksia nervosa adalah sebagai bentuk penghindaran (fobia) yang terlalu mengkhawatirkan implikasi psikososial dari pubertas. Berbeda dengan Casper (1983) yang lebih menitikberatkan pada ketidakstabilan konsep diri dan kekecewaan dengan hubungan pribadi. Alih-alih negosiasi solusi untuk masalah emosional melalui hubungan pribadi, pasien cenderung meregulasi hubungannya dengan tubuhnya dengan bertujuan untuk kemandirian dan rasa percaya diri. Teori-teori psikodinamik pada umumnya adalah upaya untuk menjelaskan motif pasien untuk selalu berusaha menjadi kurus. Perilaku defensif merupakan asumsi sementara yang memaparkan tentang alasan tindakan seseorang yang memiliki masalah tertentu, memilih untuk mengontrol makanan untuk mengambil alih tubuhnya bukan hidupnya untuk mengatasi ketidakbahagiaan dan penyesuaian kesulitan yang dihadapinya. Ciri Kepribadian pada Anorexia Nervosa Pendekatan yang paling bermanfaat untuk menguji kontribusi kepribadian untuk anoreksia nervosa adalah menganalisa dimensi kepribadian berdasarkan pola makan. Beumont (1977) yang meneliti tentang ''diet'' menyimpulkan bahwa mereka lebih menarik diri dari sosial dan lebih obsesif daripada orang yang melakukan cara diet lain seperti memuntahkan makanan dan purgers (cuci perut). Casper, Eckert, Halmi, Goldberg, dan Davis (1980) pun mencatat bahwa pasien yang abstain dari makanan mengalami kurang nafsu makan dan gejala kurang dari tekanan emosional, tapi lebih bersikap perfeksionis dari pasien anoreksia-bulimia nervosa. Strober, Salkin, Burroughs, dan Morrell (1982) menemukan bahwa pasien anoreksia nervosa, kebanyakan dari mereka adalah abstain, dinilai memiliki obsesi tinggi dan lebih menarik diri dibandingkan remaja depresi. Kekurangan gizi telah terbukti meningkatkan kekakuan dan obsesionalitas serta kekurangan makanan memiliki imbas pada emosi, terutama kecemasan, namun juga memberikan efek yakni mempertajam indra, visi, dan pendengaran, meningkatkan kesadaran diri dan rasa percaya diri. Secara keseluruhan, jurnal tersebut mendukung hubungan antara profil kepribadian yang berbeda dan hasil klinis anoreksia nervosa, lebih khusus kecenderungan ke arah emosi, penghambatan kognitif dan perilaku serta kekakuan dan kemampuan untuk menjauhkan diri dari makanan. Kesimpulan (Ini belum ke translate, udah keburu oleng kak. Masih translate-an google) Generally, if patients become intensely invested in the pro- cess of food avoidance, they seek control over their life for various kinds of personal reasons, often to escape an unhappy or oppressive life situation. If instead of feeling drained and tired, they could feel sprightly and lighter in addition to holding on and planning how to retain personal control, the psychological and physiological forces com- bined would be a powerful incentive to perpetuate the process of food restriction. Patients would refuse food in order to retain this element of vitality, its fluctuations and varying depths giving them the impression of moving and living, despite sometimes severe weight loss. The liveliness would explain why anorexia nervosa patients do not appear outwardly depressed, since the restless energy along with the focus on a valued goal would keep emotional distress and negative emotions out of awareness and tip the balance towards feeling better. Umumnya, jika pasien menjadi sangat diinvestasikan dalam cess pro penghindaran makanan, mereka mencari kontrol atas hidup mereka untuk berbagai macam alasan pribadi, sering melarikan diri dari situasi kehidupan bahagia atau menindas. Jika bukan perasaan terkuras dan lelah, mereka bisa merasakan sigap dan lebih ringan selain memegang dan merencanakan bagaimana untuk mempertahankan kontrol pribadi, kekuatan psikologis dan fisiologis comdikombinasi akan menjadi insentif yang kuat untuk mengabadikan proses pembatasan makanan. Pasien akan menolak makanan untuk mempertahankan elemen ini vitalitas, fluktuasi dan kedalaman bervariasi memberi mereka kesan bergerak dan hidup, meskipun penurunan berat badan kadang-kadang parah. Keaktifan akan menjelaskan mengapa pasien anoreksia nervosa tidak muncul secara lahiriah tertekan, karena energi gelisah bersama dengan fokus pada tujuan dihargai akan terus tekanan emosional dan emosi negatif dari kesadaran dan ujung keseimbangan menuju merasa lebih baik.

Judul: Review Jurnal Isu Klinis.docx

Oleh: Eva Meila


Ikuti kami