Jurnal Museum Tan Malaka

Oleh Rafi Mahligai Zekri

262,7 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Museum Tan Malaka

1 PERKEMBANGAN DAN PNGELOLAAN MUSEUM TAN MALAKA (20082018) Rafi Mahligai Zekri Sejarah Peradaban Islam IAIN Bukittinggi rmahligai@gmail.com Abstrak Rafi Mahligai Zekri, Nim 4415.011 dengan Judul Skripsi “Perkembangan dan Pengelolaan Museum Tan Malaka (2008-2018)”. Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi. 2019 M. Museum Rumah Tan Malaka adalah museum khusus yang di dalamnya terdapat koleksi-koleksi peninggalan Tan Malaka, museum Tan Malaka diresmikan oleh KEMENDIKBUD pada tahun 2008, bangunan museum ini berbentuk rumah gadang yang mencerminkan identitas Minangkabau, peresmian museum Tan Malaka tidak lepas dari usaha keluarga Tan Malaka serta pengagum Tan Malaka dalam meresmikan museum Tan Malaka tersebut. Metode penelitian sejarah dengan pendeketan kualitatif dalam bentuk deskriptif naratif. Metode penelitian yang dipakai dalam pengerjaan penelitian ini ialah metode penelitian sejarah, dimana menurut Dudung Abdurrahman langkah-langkahnya meliputi: 1) Heuristik atau pengumpulan sumber baik observasi, wawancara, studi pustaka; 2) Kritik Sumber, dilakukan penyaringan atau penyeleksian sumber data yang faktual dan orisinalnya terjamin; 3) Interpretasi, penafsiran terhadap fakta sejarah yang diperoleh dari data-data selaam penelitian dilakukan; 4) Historiografi, rangakaian data yang telah dianalisis peneliti tuliskan dalam bentuk skripsi penelitian sejarah. Penulisan skripsi ini menggunakan sistematika sesuai buku Pedoman Penulisan Skripsi Prodi SPI IAIN Bukittinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa museum Tan Malaka ini masih belum sesuai dengan museum yang seharusnya. partisipasi pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota serta pemerintah Pusat dalam mengelola dan merawat museum Tan Malaka belum lah maksimal. Seharusnya museum Tan Malaka ini dikelola oleh pemerintah bukan lagi oleh keluarga Tan Malaka. Keluarga Tan Malaka berharap pemerintah lebih memerhatikan lagi museum Tan Malaka dari segi pengelolaan, tata letak koleksi, koleksi yang kurang terawat, fasilitas yang kurang memadai, pemahaman manajerial masih kurang, dan juga minat pengunjung lokal masih kurang. Key word : Perkembangan, Pengelolaan, Sejarah Museum Tan Malaka 1 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan warisan budaya yang sangat beragam, termasuk dalam hal ini berupa benda cagar budaya (BCB), baik yang merupakan buatan manusia maupun berupa warisan alam. Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki budaya yang berbeda. Begitu juga dengan Kabupaten Lima Puluh Kota, Nagari Pandam Gadang merupakan bagian dari wilayah Indonesia, juga memiliki benda cagar budaya peninggalan sejarah. Pandam Gadang merupakan salah satu lokasi peninggalan benda cagar budaya berupa rumah Tan Malaka yang sudah dijadikan museum. Di dalam museum tersebut terdapat koleksi dari peninggalan Tan Malaka. Melalui koleksi Tan Malaka tersebut tentunya generasi selanjutnya dapat mengetahui peninggalan dari Tan Malaka, sehingga dapat dijadikan pembelajaran oleh generasi selanjutnya. 2 Sesuai dengan ayat Al-Qur`an surat 59 ayat 13: Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dari ayat diatas kita diajarkan “untuk memperhatikan sejarah kamu untuk masa depan kamu yang akan datang”. Dan seperti yang kita ketahui bahwa museum Tan Malaka juga merupakan sejarah masa lalu dari penulis dan pejuang kemerdekaan indonesia yang harus diketahui oleh generasi masa depan dan selanjutya. Dari museum Tan Malaka ini mencerminkan bagaimana kehidupan orang sebelum kita, dan dari museuem Tan Malaka ini generasi sekarang dan masa yang akan datang bisa mendapat ilmu dari seorang tokoh. Museum merupakan organisasi pelestarian dan sumber informasi benda yang memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat. Oleh karena itu museum punya visi dan misi yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pemberi pendidikan kepada masyarakat tentang arti sebuah kekayaan budaya sebagai warisan bangsa. Guna melaksanakan visi dan misi museum tersebut, sebuah museum harus punya informasi yang terdiri dari penyelenggara dan pengelola dengan kewenangan masing-masing yang berbeda. Penyelenggara museum merupakan instansi yang memiliki gagasan melestarika museum, dapat berupa yayasan atau badan hukum lain atau pemerintah pusat maupun daerah. Sedangkan pengelola museum merupakan orang yang diberi tugas oleh penyelenggara museum untuk melaksanakan tugas menjalankan kegiatan penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan. 1 Pemanfaatan museum mencakup tiga fungsi museum yang disebut dalam definisi 1 Kresno Yulianto,Di balik pilarpilar Museum,(Jakarta: Wedatama Widya Sastra,2016), hal 3. menurut ICOM, yakni fungsi pelayanan untuk tujuan pendidikan, penelitian, dan hiburan. Adapun pemanfaatan dalam konteks yang lebih luas meliputi pendayungan cagar budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelstarian (UU No. 11 tahun 2000 tentang Cagar Budaya).2 Perspektif historis terhadap museum dan kemudian memahami warisan budaya suatu wilayah atau tempat. Perspektif ini dapat membantu menentukan bahwa warisan budaya itu merupakan itu merupakan warisan budaya wilayah, seperti misalnya profinsi, atau warisan budaya setempat, dalam hal ini daerah tingkat dua. Disamping itu, perlu pula diungkapkan dalam bentuk bentuk warisan budaya wilayah itu seperti apa; maka warisan budaya yang telah ditetapkan perlu dideskripsikan agar kemudian dipahami.3 Dari hasil observasi penulis di lapangan, bahwa kondisi museum yang sangat memperihatinkan serta tidak terawat dan bangunannya pun tidak layak pakai dan harus direnovasi supaya museum Tan Malaka yang terbuat dari kayu tidak roboh dimakan rayap. Masalah lainnya yang penulis temukan dilapangan yaitu tidak adanya petugas tetap untuk menjaga museum tersebut, sehingga orang lain bisa masuk lalu lalang ke museum Tan Malaka karena tidak adanya petugas yang memandu orang yang berkunjung ke museum Tan Malaka tersebut. Selain itu daya minat pengunjung ke museum Tan Malaka sangatlah minim karena melihat dari museum Tan Malaka tersebut 2 Kresno Yulianto,Di balik pilarpilar Museum,(Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 7. 3 Noerhadi Magetsari, Perspektif Arkeologi Masa Kini, (Jakarta: Kompas, 2016), hal 180. 3 sangat tidak terawat, sehingga pengunjung kurang berminat untuk datang ke museum Tan Malaka. Berdasarkan informasi tersebut, maka penulis tertarik untuk meneliti hal tersebut dan memberi judul “Perkembangan dan Pengelolaan Museum Tan Malaka (20082018)”. 2 2.1 ISI Gambaran Rumah Tan Malaka Sebelum Menjadi Museum Rumah Tan Malaka terletak di Profinsi Sumatera Barat, kabupaten Lima Puluh Kota, Kecamatan Gunuang Ameh, Nagari Pandam Gadang, Jorong Ikan Banyak. Rumah Tan Malaka adalah rumah dengan model gaya khas minangkabau yaitu Gumah Gadang. Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau yang dibangun diatas tiang-tiang tinggi dan bersendikan batu . Namun makna gadang atau besar, lebih mengacu ke fungsinya. Atapnya lancip seperti tanduk kerbau. Satu lancip disebut satu gonjong Jumlah gonjong sebuah rumah didasarkan kepada besar atau kecilnya rumah, mulai dari dua, empat, enam, atau lebih. Karena beratap gonjong maka ia disebut luga Rumah Bagonjong.4 4 HASANUDDIN. “Nilai Sosial Budaya Minangkabau”. Skrisp Pdf, 2018, Padang: Universitas Andalas, 2018. Hal 1. Di akses dari: http://repository.unand.ac.id/23991/1/Nilai %20Sosial%20Budaya%20Rumah %20Gadang%20Minangkabau.pdf. Tanggal 20-juli-2019. Sebelum rumah Tan Malaka ini dijadikan Museum, gamabaran ketika sebelum jadi museum dan setelah jadi museum tidak jauah berbeda. Dari segi arsitektur masih tetap sama dengan atap dari seng, lantai dari kayu dan dinding dari anyaman bambu yaitu model rumah Gadang. Cuman yang membuat berbeda isi dalamnya yaitu ditambahkan koleksi dan karya serta foto-foto dari Tan Malaka beseta keluarganya. Sebelum jadi museum Rumah ini hanya rumah tua yang sangat terabaikan. Sama halnya seperti Tan Malaka Pahlawan perjuang indonesia yang terabaikan. Rumah Tan Malaka ini dikelilingi oleh sawah dan pohon kelapa yang rindang. Letak rumah Tan Malaka pun bukan ditepi jalan, melainkan kita harus masuk dulu di gang baru lah kita bisa melihat rumah Tan Malaka. Rumah Tan Malaka pun hanya berdiri sendiri tidak ada tetangganya melaikan hanya ada mesjid yang sudah tidak dipakai lagi. Ditambah lagi dengan rumah tersebut sudah tidak dihuni lagi oleh keluarga Tan Malaka. Maka sangat wajar kalau rumah Tan Malaka tersebut harus Mendapat perhatian lebih dari Pemerintah. Karna mengingat bahwa Tan Malaka adalah seorang Pejuang Kemerdakaan Indonesia. Rumah Tan Malaka ini sudah sangat lama sekali didirikan, kurang lebih didirikan sekitar pada tahun 1862 ucap narasumber. Rumah Tan Malaka memiliki lima buah gonjong dengan lantai tebuat dari kayu dan dinding terbuat dari bahan bambu. Rumah tan malaka juga memiliki jenjang setinggi 1,5 meter. Di dalam rumah Tan Malaka terlihat langsung ruang tamu dan ruang kelarga 4 menyatu tanpa adanya pembatas seperti rumah gadang pada umumnya. Bapak Indra Ibnu Ikatama mengatakan kalau dahulunya rumah Tan Malaka ini perah menjadi dapur umum pada masa pemberontakan PRRI. bahan pembelajan bari generasi selanjutya dan juga dengan adanya museum ini bisa membuat nama Tan Malaka tidak terlupakan oleh waktu. 2.2 Rumah Tan Malaka ini dahulunya dihuni oleh keluarga Tan Malaka, sedangkan Tan Malaka sendiri lebih banyak tidur di surau. Karena pada jaman dahulu pada dasarnya anak laki-laki di minangkabau tidak ada yang tidur di rumah. sampai suatu ketika Tan Malaka di angkat menjadi datuak, barulah Tan Malaka menetap di rumahnya. Sebelum dujadikan Museum, Bapak Indra Ibnur Ikatama mengatakan kalau rumah Tan malaka ini terakhir dihuni pada tahun 1998. Bapak indra mengatakan rumah Tan Malaka sudah lama tidak ditempati karena keluarga dari Tan Malaka ada yang pergi merantau dan ada yang berkeinginan untuk membuat rumah sendiri. Pada dasarnya rumah Tan Malaka ini sudah kosong dan sudah tidak dihuni lagi. Oleh karena itu, karena rumah Tan Malaka ini kosong dan tidak ada lagi peghuninya, maka keluarga berinisiatif untuk menjadikan rumah Tan malaka ini sebagai Museum Tepatnya sebagai Museum lokal. Maka mulailah keluarga Tan Malaka serta pengangum Tan Malaka supaya Museum Tan Malaka bisa berdiri. Seteah banyaknya usaha yang dilakukan keluarga dan para pengagum dari Tan Malaka Tepat pada tanggal 21 Februari 2008 rumah Tan Malaka yang reot dan tidak berpenghuni secara resmi dijadikan sebagai Museum lokal yang bernama Museum Tan Malaka oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga Mueum Tan Malaka ini bisa menjadi Pengertian koleksi museum dan Koleksi Museum Tan Malaka 1. Pengertian koleksi museum Koleksi adalah aspek terpenting dari penyelenggaraan sebuah museum. jenis koleksi dapat dijadikan acuan untuk menentukan kriteria sebuah museum. sebagai contoh museum wayang, museum batik, museum keramik, dan lain-lain.5 Sesuai dengan kriteria museum di indonesia, museum Tan Malaka termasuk museum khusus. Kriteria ini berdasarkan ketetapan direktorat permuseuman pada januari 1993, yang menyatakan koleksi museum 7 Negeri provinsi terdiri atas 10 jenis. 10 jenis yang dikelola museum adalah: a. Geologika yaitu koleksi yang terdiri dari benda-benda bukti sejarah alam dan lingkungan yang berkaitan dengan disiplin ilmu geologi. b. Biologika yaitu koleksi yang berkaitan degan alam dan 5 Rahmad Kurnia Ilahi. “ Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Dan Partisipasi Pemerintah Kabupaten Agam”. Skripsi, 2019, Bukittinggi: IAIN Bukittinggi, 2018, hal 23. 5 c. d. e. f. g. h. lingkungan serta berkaitan dengan disiplin ilmu biologi. Etnografika yaitu benda hasil karya manusia yang cara pembuatan dan pemakaiannya merupakan identitas atau mempunyai ciri khas budaya setempat. Histirorika yaitu benda-benda yang merupakan bukti hasil peninggalan masa pra sejarah, Hindu-Budha dan masuknya islam. Historika yaitu benda yang mempunyai nilai sejarah yang pernah digunakan untuk halhal yyang berhubungan dengan perlawanan kepada penjajah. Nusmatika/Heraldika yaitu koleksi nusmatika berupa mata uang atau alat tukar yang sah (token) yang pernah beredar di masyarakat, terdiri dari mata uang indonesia dan mata uang asing. Sedangkan heraldika adalah kumpulan tanda jasa dan peralatan pemeritah. Fisiologika yaitu kumpulan tulisan atau naskah kuno yang dituliskan dengan tangan diatas kulit kayu, bambu,, daun lontar dan sebagainya. Keramologi, yaitu benda yang terbuat dari tanah liat, bahan batuan porselin yang dibakar pada suhu tertentu.6 6 Rahmad Kurnia Ilahi. “ Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Dan Partisipasi Pemerintah Kabupaten Agam”. Skripsi, 2019, Bukittinggi: IAIN Bukittinggi, 2018, hal 24. 2. Koleksi museum Tan Malaka Berikut detail koleksi Museum Tan Malaka a. Media salinan : Foto digital (digital photographi) Fotografi menurut asal katanya berasal dari bahasa Yunani, yaitu Photos yang berarti cahaya dan Graphos yang berarti melukis, artinya fotografi adalah kegiatan “melukis dengan cahaya”. Secara umum, dikenal sebagai metode untuk menghasilkan gambar dari suatu objek dengan cara merekam pantulan cahaya dari objek tersebut menggunakan medium yang peka terhadap cahaya. Fotografi adalah media komunikasi dan alat dialog, fotografi juga dapat dilihat secara fungsi, fotografi berfungsi secara dokumentatif, informatif, dan bagian dari seni (art).7 b. Media asli Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.8 7 Nardi. Photography Dan Art Di Kabupaten Pasuruan. Skripsi Pdf. Jawa Timur: Universitas Pasuruan, 1989, hal 3. Diakses dari: http://repository.unpas.ac.id/28047/4/BAB %202.pdf. Tanggal 21-juli-2019. 8 Azhar Arsyad. Sumber Dan Media Pembelajaran. Skrip Pdf, 2010, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, hal 4. 6 Bahan perselinan: yang zaman dahulu dan ada foto yang zaman sekarang. Bentuk: a. 8 buah foto asli b. 10 buah foto keluarga c. 6 buah foto acara Museum Bahan Asli: Bentuk: Kumpulan isi koleksi dari Museum Tan Malaka yang telah dikumpulan keluarga yaitu: a. Ada foto asli dari Tan Malaka. Foto asli Tan malaka ini yaitu foto hitam putih seperti gambar foto zaman dahulu yang masih belum berwarna. Foto asli tan malaka ini ada yang waktu dia duduk santai dan ada foto Tan Malaka sedang berpidato didepan publik. b. Ada foto dari keluarga Tan Malaka Foto keluarga Tan Malaka ini ada foto yang hitam putih dan ada foto yang berwarna warni. Pada foto keluarga Tan Malak ini ada foto https://eprints.uny.ac.id/9432/12/12%20B AB%20II-08503247004.pdf. Tanggal 21juli-2019. c. Buku karya dari Tan Malaka Sebagaimana yang kita telah kita ketahui bahwa Tan malaka bukan hanya seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia juga adalah seorang penulis yang terkenal dengan karyanya yang terkenal adalah MADILOG. Karyanya tersebut ditulisnya dengan tulisan tangan dengan tidak adanya referensi buku lainnya. Dia menulis berdasarkan pengalaman yang ia alami bagaimana cara merombak pola pikir bangsa indonesia yang dulu bangsa indonesia berpikiran mistik bisa menjadi rasional supaya indonesia bisa merdeka. d. Talempong Talempong adalah alat musik khas dari minangkabau. Talempong ini digunakan untuk mengiringi pertunjukan dan- penyambutan. Pada dasarnya anak bujang minangkabau pada jaman dahulu diajari bermain talempong. e. Kursi 7 Kursi adalah perabotan rumah yang digunakan untuk tempat duduk. Sebelum Tan Malaka memutuskan untuk meninggalkan kampungnya untuk menimba ilmu, kursi goyang ini adalah kursi yang digunakan Tan Malaka Untuk bersantai dan melepas penat sambil memikirkan bagaimana cara memerdekakan indonesia. f. Dilemari inilah Tan Malaka menyimpan baju-bajunya, serta menyimpan alat benda-benda pusaka dari keluarganya. i. Tan Malaka juga ada meninggalkan beberapa helai bajunya dirumahnya. Baju model guntiang cino yang telah kusam karena sudah lama tidak terpakai ini adalah baju Tan Malaka dahulunya. Meja Belajar Meja belajar adalah meja yang digunakan untuk belajar menulis dan membaca. Sebelum Tan Malaka pergi meninggalkan kampung halamannya pada tahun 1913, ia pernah menimba ilmu di kweek school di fort de kock. Gurunya mengatakan kalau Tan Malaka adalah murid yang cerdas. Dimeja inilah Tan Malaka dahulunya pernah belajar. g. Kasur Kasur adalah alas yang digunakan untuk tidur. Dikasur inilah Tan Malaka tidur untuk melepas letihnya setelah beraktifitas pada siang hari. h. Lemari Lemari adalah tempat yang digunakan untuk menyimpan kain. Baju Tan Malaka j. Kamar Kamar adalah ruangan khusus yang digunakan untuk tempat tidur. Dikamar inilah Tan Malaka dulunya tidur dan beristirahat setelah aktivitas yang dilakukannya sehari-hari. Dikmar inilah Tan Malaka merenung dan berfikir bagaimana supaya negara ini bisa terbebas dari penjajahan kolinial belanda pada saat itu. k. Monumen Tan Malaka Monumen Tan Malaka ini sebenarnya bukan dari Peninggalan Tan Malaka. Tapi dengan adanya monumen ini didekat rumah adalah sebuah pernghargaan Terhadap Tan Malaka karena beliau adalah seorang pejuang Kemerdekaan Indonesia. 8 l. Lampu api strongkeng Lampu ini bukan api dari listrik, melainkan lampu dari api. Karena pada jaman dahulunya tidak ada listrik, maka orang dulu menggunakan api sebagai penerangan. m. Radio Radio adalah teknologi pengiriman sinyal yang menghasilkan suara. Radio pada jaman dahulu digunakan untuk mendengarkan dan menerima berita serta mendengarkan lagu. Dari radio inilah Tan Malaka selalu mendengar berita dan mendengarkan lagu.9 2.3 Museum Tan Malaka Tidak Terawat 1. Kebersihan Museum Tan Malaka adalah sebuah museum lokal yang terletak di Jorong Ikan Banyak, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Ameh, Kabupatan Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Museum Tan Malaka ini dahulunya adalah bekas peninggalan dari Tan Malaka sebelum Tan Malaka mengabdikan dirinya untuk NKRI. Ketika mendirikan 9 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Museum Tan Malaka ini sebenarnya tidak ada problema yang dihadapi, tetapi ketika telah museum ini diresmikan barulah mulai atau munculnya problema. Seperti contohnya saja, museum Tan Malaka ini tidak terawat atau sangat terbaikan dari perhatian pemerintah dengan tata peneglolaan yang tidak teratur, sehingga membuat masyarakat luas menjadi kurang berminat untuk datang ke museum Tan Malaka. Seperti yang kita ketahui bahwa museum merupakan tempat peyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa (Peraturan Pemerintah No.19 tahun 1995).10 Museum Tan Malaka ini tidak sama halnya dengan museum lainnya yang selalu diperhatikan Pemerintah. Apabila sebuah museum tidak terawat, maka akan berdampak buruk terhadap museum dan akan mengurangi daya minat masyarakat untuk berkunjung ke museum tersebut, sehingga masyarakat akan beranggapan negatif terhadap museum. Dua riset yang pernah dilakukan, yakni riset tentang Pengembangan Museum Dalam Rangka Peningkatan Apresiasi Masyarakat tahun 2004 (Asdep Litbang Deputi Peningkatta Kapasitas Dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2004) serta riset “Pandangan Masyarakat Terhadap Peran dan Pengelolaan Museum” yang dilaksanakan Pusat penelitian dan pengembangan kebudayaan tahun 2007. Ringkasnya hingga kini masih terdapat sejumlah anggapan negatif yang cenderung ditujukan pada museum, apalagi auseum Tan Malaka ini tidak ada yang merawatnya. Menurut para ahli ada beberapa anggapan 10 Kresno Yulianto, Dibalik PilarPilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 7 9 negatif terhadap museum apabila museum tersebut tidak terawat dan pengelolaan yang tidak baik antara lain sebagai berikut: 1) Museum hanya merupakan lembaga yang berkenan dengan kemasa laluan. Sedangkan kita tahu bahwa sebenarnya museum juga merupakan sarana pendidikan supaya generasi anak bangsa tahu akan makna sejarah yang terkandung di dalam Museum. 2) Museum tidak punya dinamika. 3) Museum hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno. 4) Masyarakat belum bisa merasakan manfaat dari kehadiran museum apabila museum tidak dikelola dengan baik. 5) Museum seharusnya memberikan kesan sebagai tempat yang bersih, indah, dan berwibawa, tapi kesan yang tertangkap justru sebaliknya. Museum merupakan tempat yang kotor, kurang terurus, dan tidak mencerminkan kebanggaan daerah.11 Inilah anggapan negatif terhadap musuem apabila sebuah museum tidak terawat dan tidak memiliki tatapengelolaan yang baik, seharusnya museum Tan Malaka harus dikelola dengan baik oleh pemerintah supaya masyarakat tidak ada yang beranggapan negatif terhadap museum, khususnya museum Tan Malaka. 11 Kresno Yulianto, Dibalik Piliar-pilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 33. Di museum Tan Malaka ini tidak ada tong sampah sehingga banyak sampah yang berserakan, seharusnya dimuseum haruslah ada tong sampah supaya ketika pengunjung yang membawa makanan atau mau membuang sampah sudah ada langsung tempat sampah. Sehingga pengunjung lebih nyaman untuk berkunjung ke museum Tan Malaka karna tidak ada sampah yang berserakan. Di dalam museum Tan Malaka terdapat koleksi dan peninggalan dari Tan Malaka yang sangat bersejarah, hanya saja koleksi museum Tan Malaka ini tidak terawat dan berdebu, sehingga membuat pengunjung tidak nyaman untuk melihat-lihat koleksi dari museum Tan Malaka ini, seharusnya koleksi museum Tan Malaka ini harus dibersihkan supaya pengunjung lebih nyaman untuk berkunjung ke museum Tan Malaka tersebut. 2. Koleksi Museum Berantakan Kondisi dari koleksi museum Tan Malaka sangat tidak bagus. Bahkan ada tempat penyimpanan yang kurang layak seperti baju Tan Malaka hanya diletakan didinding tanpa ada pelindung, sehingga bisa membuat baju Tan Malaka berdebu dan lama-kelamaan menjadi kusam dan juga radio jaman dahulu yang digunakan Tan Malaka untuk mendengar berita hanya diletakan di lantai tidak di letakan di tempat semestinya, seharusnya radio tersebut diletakan di atas meja yang bagus atau didalam etalase, supaya pengunjung lebih nyaman untuk melihat benda-benda koleksi dari museum Tan Malaka tersebut. Bapak Indra Ibnu Ikatama dan Bapak Doddy Saputra mengatakan bahwa problema yang dihadapi museum ini sebenarnya datang dari Pemerintah daerah itu sendiri. Kenapa bapak indra mengatakan seperti itu, karena 10 pemerintah- daerah tidak ada perhatian terhadap Museum Tan Malaka. Sedangkan pihak keluarga telah memberikan pondasi kepada Pemerintahan Daerah supaya museum Tan Malaka ini bisa berdiri dan bisa dijadikan sarana Pembelajaran bagi anak bangsa. Tapi Pemerintah Daerah tidak merespon sama sekali, seharusnya museum Tan Malaka ini adalah tanggung jawab dari Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat untuk memperbaiki museum Tan Malaka yang sudah rusak dan tidak terawat, supaya pengunjung yang datang nyaman untuk melihat koleksi dari peninggalan Tan Malaka.12 Museum Tan Malaka ini sangat jelas sekali tidak ada dapat perhatian dari Pemerintah. Terutama sekali dari tata pengelolaannya, seharusnya tiap museum pasti ada pengelolanya sedangkan pada museum Tan Malaka ini tidak jelas tata pengelolaannya. Museum Tan Malaka ini juga tidak ada penjaganya, ketika kita masuk ke museum Tan Malaka tidak ada yang menyambut kita atau orang yang bisa menjelaskan kepada kita tentang museum Tan Malaka. Seharusnya museum itu harus punya ruang kerja untuk konsevator, staff, administrasi, dan perpustakaan. Sedangkan di museum Tan Malaka tidak ada staff, administrasi. Tapi ada perpustakaan, cuman kondisi perpustakaan tersebut tidak ada perawatan dan tidak layak pakai. Perpustakaan Tan Malaka tersebut hanya terbuat dari etalase yang terkunci. Sehingga pengunjungpun tidak bisa membaca buku dan karya-karya dari Tan Malaka. 12 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Museum-museum pada umumnya memiliki ruang koleksi yang bagus dan tersusun dengan metode yang baik. Sedangkan di museum Tan Malaka koleksinya sangat tidak tersusun dan juga banyak debunya, sehingga pengunjung kurang nyaman untuk dengan suasana ruang koleksi Tan Malaka yang tidak terawat. Apabila museum Tan Malaka ini terawat akan sangat memiliki manfaat bagi generasi yang akan datang. Seperti halnya manfaat dari Museum sebagai berikut: 1) Sebagai sarana Edukatif Manfaat pertama yang dirasakan cukup dominan bagi seseorang yang sadar berkunjung ke museum. Dengan mengunjungi museum seseorang akan belajar dan menambah pengetahuannya terutama dengan benda-benda yang dikoleksi dalam museum tersebut. 2) Inovatif Dengan mengunjungi museum seseorang akan menemukan ide baru, sehingga menghasilkan karya baru. Seorang peneliti tidak akan segan untuk orang pergi ke museum tertentu karena koleksi museum tersebut menarik bahan perhatiannya. Ia akan segera saja menghasilkan Interpretasi baru, teori baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. 11 3) Rekreatif Dengan mengunjungi museum orang dapat juga rilek, santai, dan melepaskan himpitan- himpitan sehari-hari yang telah menyibukkannya. Oleh karena itu dapat di saksikan pada hari- hari libur museum yang sudah terkenal dipadati pengunjung, misal Museum Nasional Jakarta, dan Museum Negri Provinsi Bali yang berhasil menarik pengunjung untuk berekreasi. Wisatawan-wisatawan asing pada museummuseum tersebut menjadikan tujuan rekreasi wisatanya. Museum dapat merupakan tempat untuk rilek sambil menyaksikan bendabenda negri yang dikunjunginya. 4) Imajinatif Manfaat ini telah dibuktikan oleh kalangan seniman. Misalnya seorang pelukis dapat menjadikan salah satu koleksi museum. Dengan mengunjungi museum seorang seniman dapat melakukan kontemplasi sehingga mampu mengembangkan daya Imajinasinya untuk menghasilkan suatu karya seni. Demikian juga dengan kunjung museum siswa-siswa dapat memperjelas Imajinasinya terhadap pelajaran sejarah dari guru di sekolahnya, karena dibantu memperhatikan diorama, foto-foto, penjelasannya.13 koleksi beserta Dimuseum Tan Malaka ini dindingnya juga sudah rusak, karena kayunya yang sudah sangat lama dan juga sudah ada yang rapus, sehingga dinding-dindingnya sangat mudah dimakan rayap. Apabila terus dibiarkan seperti itu dan tidak direnovasi maka dinding museum Tan Malaka akan berlobang-lobang sehinga bisa membuat museum Tan Malaka bisa roboh dan juga bisa menyebabkan museum Tan Malaka juga sepi pengunjung. Lantai museum Tan Malaka ini juga tidak layak pakai karena lantai museum ini juga sudah rapuh, sehingga bisa menyebabkan para pegunjug museum kurang nyaman untuk melihat-lihat isi dari koleksi museum Tan Malaka karena lantainya ada yang berlobang, seharusnya lantai di museum Tan Malaka ini harus ditukar dan direnovasi supaya museum Tan Malaka tidak sepi pengunjung. Apabila lantai dari museum Tan Malaka sudah direnovasi dan ditukar, maka pengunjung pun lebih nyaman untuk melihat dan berkunjung ke museum Tan Malaka. Museum Tan Malaka ini sangat tidak terawat, seharusnya Pemerintah sangat memperhatikan museum Tan Malaka ini terlebih dari tata pengelolaan, seharusnya bukan keluarga Tan Malaka lagi yang mengelola museum Tan Malaka tersebut. Karena museum Tan Malaka ini adalah sebuah yayasan yang telah resmi di bawah naungan Pemerintah. Di museum Tan Malaka ini seharusnya ada pekerja yang merawat museum, serta ada kepala museum, staff, beserta jajarannya. Tapi museum Tan Malaka ini tidak ada kepala museum, staff, dan penjaganya. 13 Suratmin, Museum Sebagai Wahana Pendidikan Sejarah, (Yogyakarta: Ghalia Indonesia,2000), hal 40. 12 Sehingga tidak ada yang mengelola museum Tan Malaka tersebut. Bapak Indra dan Bapak Doddy Saputra mengatakan, Pemerintah pernah menjanjikan bahwa museum Tan Malaka ini akan direhap dan diperbaiki. Tapi itu hanya janji manis pemerintah saja “ bak kato urang minang, diagia umbok-umbok wak jo tabu, barau nan turun kironyo”. Jadi intinya jangankan yang manis, yang hambarpun tidak ada. Jadi Pemerintah hanya janji dan janji saja untuk memperbagus dan memperbaiki museum Tan Malaka ini.14 2.4 Pengelolaan Museum Tan Malaka 1. Minimnya pengetahuan pengelolaan museum dari pihak keluarga Tan Malaka Museum Tan Malaka adalah sebuah museum lokal yang berada dibawah naungan Pemerintah. Tetapi pada dasarnya museum Tan Malaka ini sangat-sangat tidak diperhatikan oleh Pemerintah. Melainkan keluarga dari Tan Malaka lah yang turun tangan untuk menjaga dan mengelola museum Tan Malaka tersebut. Tidak sama dengan museum lain dengan pengelolaan yang terstruktur berbeda halnya 14 Indra Ibnu Ikatama dan Doddy Saputra. Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. dengan museum Tan Malaka. Pihak keluarga mengelola hanya sebisa mungkin saja, karena tentu saja pihak dari keluarga memiliki kesibukan lainnya bukan hanya mengurus museum. Apabila sebuah museum tidak dikelola dengan baik oleh Pemerintah, otomatis sebuah museum akan mengalami penurunan drastis dalam hal kunjungan masyarakat terhadap museum. pihak dari keluarga Tan Malaka sudah sangat berjuang dalam mendirikan museum Tan Malaka supaya Museum Tan Malaka bisa dijadikan pembelajaran bagi generasi yang akan datang. fungsi pengelolaan secara garis besar dapat disampaikan bahwa tahap dalam melakukan pengelolaan meliputi: perencanaan, perorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Fungsi-fungsi tersebut bersifat universal, dimana saja dan dalam organisasi apa saja. Namun, semua tergantung pada tipe organisasi, kebudayaan dan anggotanya.15 Pihak dari keluarga Tan Malaka sebenarnya sudah sangat bertanggung jawab atas peninggalan dari museum Tan Malaka, karena pihak keluargalah yang mengumpulkan dan merawat dari peninggalan Tan Malaka, sehingga peninggalan Tan Malaka bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anak-anak bangsa. Museum Tan malaka tidak memiliki standar pengelolaan yang baik, seharusnya museum Tan Malaka harus memiliki standar pengelolaan yang baik seperti museum pada umumnya. Menurut manullang menyebutkan pengelolaan museum memiliki unsur-unsur 15 Oktavia Andini. Pengelolaan Fasilitas Museum Sultan Syarif Kasim Di Kabupaten Bengkalis. Skripsi Pdf. Riau: Universitas Riau, 2016, hal 3. Diakses dari: https://media.neliti.com/media/publication/ 206468-none.pdf. Tanggal 2 oktober 2019. 13 yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan yaitu 6M + 11 meliputi: a. Man (manusia). Manusia merupakan unsur pendukung yang paling penting untuk pencapaian sebuah tujuan yang telah ditentukan sehingga berhasil atau gagalnya suatu management tergantung pada kemampuan untuk mendorong dan menggerakan orang-orang kearah tujuan yang hendak dicapai. b. Money (uang) Untuk melakukan aktifitas diperlukan uang, seperti gaji atau upah. Uang sebagai sarana managemn harus digunakan sedemikian rupa agar tujuan yang ingin dicapai bisa dinilai dengan uang lebih besar dari pada uang yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. c. Material Dalam proses pelaksanaan kegiatan, manusia menggunakan bahan-bahan (material), karenanya dianggap sebagai alat atau sarana managemen untuk mencapai tujuan. d. Machine (mesin) Peran mesin sangat dibutuhkan agar proses produksi dan pekerjaan bisa berjalan efektif dan efesien. e. Method (metode) Untuk melakukan kegiatan-kegiatan secara berdayaguna dan berhasil, manusia dihadapkan kepada berbagai alternative atau cara melakukan pekerjaan. Oleh karen itu, metode atau cara dianggap sebagai sarana atau alat pengelolaan untuk mencapai tujuan. f. Market (pasar) Bagi badan yang bergerak di bidang industri, maka sarana managemen yang paling penting lainnya adalah pasar, tanpa adanya pasar bagi hasil produksi jelas tujuan perusahaan industri tidak mungkin akan tercapai. g. Informasi Segala informasi yang digunakan dalam melakukan kegiatan suatu perusahaan. Informasi sangat dibutuhkan dalam managemen. Informasi tentang apa yang sedang terkenal sekarang, apa yang disukai, apa yang sedang terjadi di masyarakat. Museum Tan Malaka ini sangat tidak terkelola baik karena yang mengelola museum Tan Malaka adalah pihak dari keluarga Tan Malaka bukan pemerintah yang mengelolanya, sedangkan pihak keluarga dari Tan Malaka tidak ada yang mengetahui ilmu tentang museum, dan juga pihak dari dari keluarga Tan Malaka tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengelola museum karena tidak ada uang pemasukan dari museum Tan Malaka tersebut. Pihak dari keluarga Tan Malaka hanya bisa mengelola semampunya saja seperti, membuka museum untuk para pengunjung, membersihkan museum, dan apabila ada waktu senggang dan tidak ada pekerjaan lain keluarga Tan Malaka bisa melayani pengunjung yang datang ke museum Tan Malaka. 14 Museum Tan malaka sangatlah minim pengunjung atau kurang diminati masyarakat luas karena minimnya pengetahuan tentang pengelolaan museum dari pikah keluarga Tan Malaka. Apabila museum terkelola dengan baik dari pihak keluarga, maka museum Tan Malaka akan menjadi daya tarik wisata bagi masyarakat luas, khususnya bagi kalangan akademisi. Bapak Indra dan Bapak Doddy mengatakan, sebenarnya yang mengelola museum Tan Malaka bukan lagi dari pihak Tan Malaka, melainkan adalah tugas dari Pemerintah, seharusnya Pemerintah harus memberikan SK (surat keterangan) kepada orang untuk merawat museum Tan Malaka, karena museum Tan Malaka sudah diresmikan oleh pemerintah dan sudah dibawah naungan pemerintah. pemerintah seharusnya memberikan pengelolaan yang baik, sehingga banyak masyarakat luas berminat untuk berkunjung ke museum Tan Malaka.16 Dari segi pengelolaan koleksi museum Tan Malaka pihak keluarga hanya sebisanya saja mengelola koleksi museum tersebut seperti merawat dan menjaga koleksi agar tetap bersih dan tidak kotor, sehingga pengunjung nyaman untuk melihat-lihat peninggalan dari Tan Malaka. Bisa dikatakan musuem Tan Malaka masih sangat minim koleksi, teratama dari karya-karya Tan Malaka. Didalam pustaka museum Tan Malaka lebih banyak mengenai tentang buku sejarah indonesia dan biografi Tan Malaka. Sedangkan karya Tan Malaka hanya madilog saja yang ada. pihak keluarga Tan Malaka sangat berharap Pemerintah yang mengelola museum 16 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra . Keluarga dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Tan Malaka supaya Museum Tan Malaka bisa menambah koleksi museum Tan Malaka dan bisa menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat luas dan kalangan akademisi. Dari semua koleksi Museum Tan Malaka ini pihak keluarga dari Tan Malaka lah yang mengurus dan bertaggung terhadap peninggalan Tan Malaka. Yang seharusnya bertanggung jawab atas koleksi ini bukan lagi keluarga Tan Malaka, melainkan adalah Pemerintah. Karena museum Tan Malaka ini sudah berada dibawah naungan Pemerintah. 2. Minimnya Pengelola Museum Tan Malaka Museum Tan Malaka adalah sebuah museum lokal yang telah di resmikan oleh Kementrian Kebudayaan Dan Pariwisata. Berbicara tentang museum Tan Malaka, museum Tan Malaka ini sangat Jauh dari kata museum yang labelnya saat ini adalah sebuah museum. Museum Tan Malaka ini sangat berbeda dengan Museum lainnya. Museum ini adalah sebuah museum dengan tata pengelolaan yang sangat tidak jelas, sehingga ketika pengunjung ingin pergi melihat museum, mereka tinggal masuk saja tanpa harus membayar karcis, dan menulis nama pengunjung. Museum Tan Malaka tidak memiliki pengelola tetap, seharusnya museum Tan Malaka harus ada pengelola museum yang langsung ditugaskan oleh pemerintah bukan lagi yang mengelola keluarga dari Tan Malaka, karena museum Tan Malaka sudah berada dibawah naungan pemerintah. Seperti yang kita ketahui pengelola museum adalah petugas yang 15 berada dan melaksanakan tugas museum dan dipimpin oleh seorang kepala museum. Kepala museum membawahkan 2 bagiannya yaitu bagian Administrasi dan Bagian Teknis yaitu: Tenaga preparasi bertugas menyiapkan sarana dan prasana serta menata pameran. a. Bagian Administrasi 4) Tenaga bimbingan dan humas Tenaga bimbingan dan humas bertugas melakukan infornasi dan mempublikasikan koleksi untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.17 Petugas administrasi mengelola ketenagaan, keuangan, surat-menyurat, kerumahtanggaan, pengamanan, dan registrasi koleksi b. Bagian teknis terdiri dari tenaga pengelola koleksi, tenaga konservasi, tenaga preparasi, tenaga bimbingan, dan humas. 1) Tenaga pengelola koleksite Tenaga pengelola koleksi bertugas melakukan inventarisasi dan kajian setiap koleksi museum. 2) Tenaga konversasi Tenaga konversai bertugas melakukan pemeliharaan dan perawatan koleksi. 3) Tenaga preparasi Dari point yang penulis bahas diatas, seharusnya pemerintahlah yang mengelola museum Tan Malaka tersebut, bukan keluarga dari Tan Malaka lagi, supaya pegeloalaan museum Tan Malaka menjadi lebih baik serta terurus dan sangat diminati masyarakat luas. Apabila museum Tan Malaka terkelola dengan baik dari pemerintah, maka museum Tan Malaka bisa menjadi sarana pendidikan dan rekreasi untuk generasi yang akan datang. Ada dua para ahli mengatakan (ambrosse dan paine) bahwa museum sudah mengalami perubahan dan perkembangan, namun museum juga harus mampu menyampaikan misi pendidikan kepada semua lapisan masyarakat, termasuk tempat bagi para pengujung memperoleh pengalaman.18 17 Lutfi asiarto, Dkk. Pedoman Museum Indonesia. (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2012), hal 22 18 Kresno Yulianto, Dibalik Piliar-pilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 35. 16 3. Perhatian Pemerintah Museum Tan Malaka Terhadap Museum Tan Malaka ini bagaikan rumah kosong yang tidak berpenghuni. Siapa saja boleh masuk dan keluar semaunya tanpa adanya pengawasan dari pihak museum itu sendiri. Seharusnya apabila museum Tan Malaka ini sangat tersrtuktur dan pengelolaan yang bagus dari pemerintah, museum Tan Malaka ini bisa menjadi daya tarik wisata, khususnya menjadi wisata sejarah. Seperti yang kita ketahui Tan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dan juga seorang penulis terkenal sampai keluar Negeri. Dengan tata cara pengelolaan museum Tan Malaka yang tidak jelas dari pemerintah, membuat Museum Tan Malaka jadi sepi pengunjung dan peminatnya. Tapi yang telah penulis teliti dilapangan museum Tan Malaka tidak memiliki dari 2 poin diatas yakni Bagian Administrasi dan Bagian Teknis. Hanya keluarga lah yang mengurus museum Tan Malaka tersebut. Dengan tidak adanya campur tagan dari Pemertintah. Bapak Indra Ibnu Ikatama (keluarga Tan Malaka) sekaligus yang mengelola museum Tan Malaka mengatakan, kondisi sebenarnya rumah Tan Malaka masih sangat membutuhkan perawatan yang cukup banyak. Perawatan tidak bisa dipenuhi oleh keluarga dan lagi pula ini sudah jadi tugasnya Pemerintah untuk mengurus dan mengelola museum Tan malaka ini, ucap bapak indra ibnu ikatama.19 Seharusnya Pemerintah mengelola dengan baik museum Tan Malaka, apabila museum terkelola dengan baik, otomatis pihak dari museum Tan Malaka bisa mempromosikan museum Tan Malaka dan bisa dijangkau oleh masyarakat luas. Salah satu aspek yang dijadikani indikator standar pengelolaan museum adalah aspek pemasaran dan promosi. Promosi adalah kegaitan pemasaran adalah kegiatan pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/ membujuk dan/ atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan prosuk agar bersedia menerima, membeli, loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan bersangkutan.20 Bapak Indra dan Bapak doddy Saputra juga mengatakan selama ini Pemerintah Daerah tidak banyak dalam membantu perawatan rumah ataupun menambah koleksi museum ini. Museum ini juga tidak mempunyai pemasukan karena tidak adanya pemungutan uang kepada para pengunjung museum Tan Malaka ini. Koleksi buku untuk perpustakaan museum juga tidak banyak bertambah sejak diresmikan pada tanggal 21 Februari 2008. Hanya beberapa buku dan gambar yang diterima pihak museum dari sumbangan beberapa pihak pengagum dari Tan Malaka saja. Jadi seharusnya pemerintah daerah lah yang bertugas untuk mengelola museum Tan Malaka supaya museum ini tidak punah seiring berjalannya waktu.21 Dengan tidak adanya pengelolaan yang terstruktur membuat Museum ini tidak ada 20 19 Indra Ibnu Ikatama. Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Kresno Yulianto, Dibalik Piliar-pilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 187. 21 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. 17 pemasukan. Museum Tan Malaka ini juga sangat minim dengan pelayanan terhadap pengunjung, sehingga museum ini sangat kurang diminati oleh masyarakat luas. Khususnya bagi kalangan wisatawan dan akademisi. Bapak Indra dan Bapak Doddy juga mengatakan sebenarnya keluarga sangat malu dengan meletakan kotak sumbangan di museum, karena seolah-olah keluarga dari Tan Malaka sekaligus pengelola museum memintaminta kepada pengunjung yang datang ke museum. Walaupun gunanya uang tersebut adalah untuk kepentingan museum. Sedangkan menurut ICOM Museum merupakan sebuah lembaga yang tidak menarik keuntungan dalam melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang memperoleh, melestarikan, meneliti, mengkomunikasikan, dan memamerkan warisan yang berwujud dan tidak berwujud dari manusia dan lingkungannya untuk tujuan pendidikan, studi, dan hiburan.22 Bapak Indra dan Doddy Saputra mengatakan seharusnya uang pendanaan untuk kepentingan museum harusnya dipertanggung jawabkan oleh pemerintah. Tapi karena Pemerintah tidak merespon dan tidak peduli, maka terpaksalah pihak keluarga (pengelola museum) meletakan kotak sumbangan di dalam museum Tan Malaka tersebut demi kepentingan Museum. 23 Ketika peneliti meneliti di lapangan, peneliti sangat perihatin dengan museum Tan Malaka tersebut. Terutama penulis sangat perihatin dengan barang-barang peninggalan dari Tan Malaka yang besejarah. Apabila kedepannya museum tidak dikelola dengan baik oleh Pemerintah bahwa berkemungkinan barang-barang yang ditinggalkan Tan Malaka bisa dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Seperti yang kita ketahui museum adalah tempat pengamanan dan perlindungan benda-benda yang bersejarah. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti materil hasil budaya manusia, alam, dan lingkungan guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan buadaya bangsa.24 Jadi berdasarkan Peraturan Pemerintah tersebut, museum memiliki tugas menyimpan, mengamankan, dan memanfaatkan koleksi museum berupa benda cagar budaya. Hal lain yang penulis temukan dilapangan yaitu dari segi penyimpanan bisa dikatakan baik. Sedangkan dari segi perawatan, dan pengamanan masih sangat minim atau tidak baik. Bisa dikatakan museum Tan Malaka hanya seperti rumah tua yang sudah ditinggal lama oleh penghuninya, sehingga tidak ada yang tidak ada yang merawat rumah tersebut. Seperti itulah ibaratnya museum Tan Malaka ketika penulis meneliti di lapangan. Jadi museum Tan Malaka ini bukanlah seperti museum lainnya yang melaksanakan kegiatan, perawatan, dan pengamanan yang baik. Seharusnya sebuah museum harus melaksanakan kegiatan sebagai berikut: 22 Kresno Yulianto, Dibalik Piliar-pilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016), hal 6. 23 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. 24 Lutfi asiarto, Dkk. Pedoman Museum Indonesia. (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2012), hal 15. 18 1) Peyimpanan, yang di dalamnya meliputi kegiatan: a) Pegumpulan benda untuk menjadi koleksi melalui hibah, imbalan jasa, titipan atau hasil kegiatan lain sesui ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. b) Pencatatan koleksi ke dalam buku regustrasi dan inventaris c) Sistem penomoran d) Penataan koleksi di dalam ruang pameran maupun luar pameran dan ruang gudang koleksi bagi koleksi pada kondisi tertentu. 2) Perawatan Meliputi kegiatan perawatan untuk mencegah dan meanggulangi kerusakan koleksi yang dilakuka oleh tenaga ahli. Perawatan tersebut dapat dilakukan, baik di dalam maupun di luar ruangan. Untuk mencegah kerusakan koleksi dapat dibuat duplikat agar koleksi tersebut tetap dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi. 3) Pengamanan Meliputi kegiatan perlindungan untuk menjaga koleksi dari gangguan atau kerusakan yang disebabkan oleh faktor alam dan ulah manusia. Untuk melakukan pengamanan, pengelola museummelakukan upaya, diantaranya: beberapa a. Melengkapi sarana dan prasana pegamanan b. Mengatur tata tertib pengunjung c. Menyediakan tenaga pengawas atau keamanan museum.25 Seharusnya Pemerintah sangatlah perihatin dengan dengan museum Tan Malaka. Supaya bisa dijadikan sebagi sumber informasi, pembelajaran, dan tempat pengkajian penelitian. Apabila pihak Pemerintah perihatin dan mau mengelola museum Tan Malaka bagimana semestinya pengelolaan museum yang seharusnya, bukan tidak mungkin museum Tan Malaka akan menjadi daya tarik bagi wisatawan dan kalangan akademisi. Penulis juga menemukan dan merasakan di lapangan bahwa museum Tan Malaka tidak memiliki pelayanan pengunjung. Seharusnya pelayanan pengujung dilakukan oleh pengelola musuem. Pihak dari Museum Tan Malaka harusnya menyediakan berbagai akses bagi pegunjung agar mereka dapat memperoleh kesempatan menggunakan fasilitas dan layanan, riset, study koleksi, sajian display, termasuk konsultasi dengan staff museum. Tetapi karena pengeloaan yang tidak baik dan tidak terstruktur dan pemerintah maka pengujung hanya bisa melihat peninggalan dari Tan Malaka tanpa bertanya kepada pihak museum tersebut. Seharusnya ada 4 pelayanan museum yang diberikan pada umumnya berupa: 25 Lutfi asiarto, Dkk. Pedoman Museum Indonesia. (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2012), hal 16. 19 1) Panduan keliling melihat koleksi museum 2) Buku pedoman/ panduan 3) Brosur dan VCD tentang museum 4) Laman (website) museum26 Tetapi di museum Tan Malaka penulis tidak menemukan 4 point diatas. Apabila pengelolaan museum Tan Malaka yang saat ini tanpa adanya perhatian dari pemerintah, maka museum Tan Malaka ini sangat minim pengunjung. Sehingga lama kelamaan museum Tan Malaka ini akan hilang sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Bisa dikatakan museum ini hanya tinggal nama lagi. 2.5 Dinamika Museum Tan Malaka (2008-2018) 1. Sejarah awal diresmikan Museum Tan Malaka Musuem Tan Malaka adalah institusi permanen yang melayani kebutuhan publik dengan sifat terbukan dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata ke masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Museum Tan Malaka terletak di daerah Jorong Ikan Banyak, Nagari Pandam Gadang, Kabupaten 50 kota. 26 Lutfi asiarto, Dkk. Pedoman Museum Indonesia. (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2012), hal 20. Dinamakan museum Tan Malaka karena pada dahulunya museum ini adalah Bekas tempat tinggal Tan Malaka pada masa mudanya sebelum dia mengabdikan diri untuk membela Negara Indonesia dari penjajahan Kolonial Belanda. Museum Tan Malaka ini adalah sebuah museum lokal. Pendirian museum Tan Malaka ini bukanlah inisiatif dari Pemerintah, melainkan inisiatif dari keluarga Tan Malaka untuk menjadikan rumah Tan Malaka menjadi Museum. Ketika penulis mewawancarai Bapak Indra Ibnur Ikatama dan Doddy Saputra (keluarga dan pengurus museum Tan malaka) dia mengatakan sebagai anak bangsa kita harus selalu mengingat pahlawan yang telah gugur. Salah satu caranya adalah dengan menjadikan rumah Tan Malaka sebagai museum supaya dapat selalu teringat oleh generasi selanjutnya dan juga bisa dijadikan sebagai tempat sarana pembelajaran. Bapak Indra dan Bapak Doddy mengatakan inisiatif pendirian museum Tan Malaka ini beberapa tahun setelah reformasi, tepatnya pada tahun 2000. Walaupun pada saat itu nama Tan Malaka tidak boleh disebut-sebut atau diperbincangkan. Tapi keluarga Tan Malaka tetap bersikukuh untuk tetap mendirikan museum Tan Malaka supaya nama Tan Malaka tidak hilang27. Narasumber juga mengatakan kepada penulis bahwa pada masa Orde Baru ada sejarah yang ditutup-tutupi ketika itu, karena narasumber dahulunya pernah sekolah di Jakarta. Jadi ketika narasumber SD (Sekolah Dasar) sekitar tahun 1970-an di Jakarta, buku yang mengenai hal tentang Tan Malaka itu di hapuskan atau dilarang dibaca dan diedarkan oleh Pemerintah, karena Pemerintah mengatakan bahwa Tan Malaka adalah 27 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga Dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. 20 komunis. jadi semua yang berkaitan dengan Tan Malaka baik itu buku, atau karya dan sejarah Tan Malaka di hapuskan dan tidak boleh dipelajari. diresmikanlah rumah Tan Malaka menjadi museum Tan Malaka oleh A.N. Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata (Dr. Magdalia Arfian). Setelah Orde Baru atau zaman Reformasi sudah ada kebebasan yang menyangkut tentang Tan Malaka. Maka mulailah keluarga (Hengky N.A Datuk Tan Malaka SE, MM, Hj. Anna Yuliar, Hj. Anni Zarni, Hj. Anna Retna, H.M. Ibarsjah Ishak, Hsyafnir) berinisiatif bagaimana cara mengangkat nama Tan Malaka yang hilang ketika masa Pemerintahan Soeharto atau pada masa Orde Baru. Serta dibantu oleh pengagumpengagum Tan Malaka dari berbagai daerah maka langkah pertama yang dilakukan adalah mendirikan perpustakaan Tan Malaka pada tahun 2000. Setelah pendirian perpustakaan maka dikumpulkanlah semua buku-buku atau karya Tan Malaka dari pengagum-pengagum Tan Malaka dari berbagai daerah. Bapak Indra dan Bapak Doddy juga mengatakan dengan didirikannya Mueseum Tan Malaka ini adalah suatu respon dari pihak keluarga Tan Malaka kepada Pemerintah daerah atau pusat. Khususnya Pemerintahan Daerah karena Pemerintahan Pusat sendiri telah mengakui bahwa Tan Malaka adalah seorang Pahlawan Nasional. Walaupun ada sebagian orang yang setuju dan ada yang tidak setuju karena penyebab dari zaman Orde Baru dulu yang menganggap Tan Malaka adalah seorang komunis. 28 2.6 Karena kegigihan dari keluarga Tan Malaka (Hengky N.A Datuk Tan Malaka SE, MM, Hj. Anna Yuliar, Hj. Anni Zarni, Hj. Anna Retna, H.M. Ibarsjah Ishak, Hsyafnir) mulailah ada respon dari pemerintah pusat. Tepat pada tanggal 21 Febuari 2008 28 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga Dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Peran Kemendikbud dan Dinas Kebudayaan Lima Puluh Kota Terhadap Museum Tan Malaka 1. Peran Kemendibud Terhadap Museum Tan Malaka Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) adalah kementrian dalam pemerintahan Indonesia yang menyelenggarakan urusan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan masyarakat, serta pengelolaan kebudayaan. Kementrian pendidikan dan kebudayaan berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kementrian Pendidikan dan kebudayaan dipimpin langsung oleh seorang Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (MENDIKBUD) yang sejak tanggal 27 juli 2016 dijabati oleh Muhajir Effendi.29 Pada tanggal 21 Februari 2008 kementrian pendidikan dan kebudayaan meresmikan museum Tan Malaka. Semenjak Museum Tan Malaka diresmikan maka, segala urusan tentang museum Tan Malaka seperti pengelolaan dan pendanaan resmi ditanggun oleh Pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, walaupun 29 Kementrian Pendidikan dan Budaya. “ Pengertian, Tugas, dan Fungsi Kementrian Pendidikan dan Budaya”. www.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 89-2019. 07.40. 21 sebenarnya museum Tan Malaka ini langsung dibawah naungan pemerintah pusat bukan pemerintah daerah. Akan tetapi sebagai anak bangsa dan penerus generasi bangsa, seharusnya pemerintah daerah juga patut untuk memperhatikan museum Tan Malaka mengingat Tan Malaka adalah Seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Museum Tan Malaka diresmikan pada tanggal 21 februari 2008 yang diresmika oleh A.N. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Dr. Magdalia Arfian) atau yang lebih kita kenal sekarang dengan KEMENDIKBUD. KEMENDIKBUD sangat berperan sekali dalam peresmian Museum Tan Malaka. Akan tetapi peran KEMENDIKBUD hanya sebatas peresmian saja, karena sangat jelas bahwa museum Tan Malaka yang sangat tidak terawat dan pengelolaan museum yang sangat tidak tertata dengan baik, sehingga museum Tan Malaka hanyalah seperti rumah tinggal yang tidak berpenghuni, jadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berperan hanya dalam hal peresmian saja, setelah museum Tan Malaka diresmikan tidak adalagi peran dari Mentri Kebudayaan dan Pariwisata terhadap museum Tan Malaka yang seharusnya Museum Tan Malaka ini sangat memerlukan Peran dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dalam hal pengelolaan supaya museum Tan Malaka ini akan terus berkembang dan diminati oleh masyarakat luas serta kalangan akademisi. Sebuah museum harusnya memiliki organisasi yang terdiri dari pengelenggara dan pengelola. Penyelenggara museum dapat berupa yayasan dan Pemerintah pusat maupun daerah. Sementara itu pengelola museum adalah mereka yang diberikan tugas oleh penyelenggara museum untuk melaksanakan tugas pengumpulan, penelitian, penyimpanan, perawatan, pengamanan dan penyajian informasi kepada publik. Penyelenggaraan museum harusnya dikaitkan dengan kebijaka penelolaan museum baik dibidang administrasi maupun teknis. Kebijakan pengelolaan museum meliputi (1) pengembangan, (2) visi, misi dan program, (3) sumber dana (4) sarana dan prasana (5) standar dan prosedur ( koleksi dan pelayanan pengunjung.30 Museum Tan Malaka diresmikan pada tanggal 21 Februari 2008. Museum Tan Malaka ini berada dibawah naungan Pemerintah yaitu. Hanya saja museum Tan Malaka ini sangat tidak memiliki kejelasan dari Pemerintah mengenai hal pengelolaan museum, seharusnya apabila museum sudah berdiri dan diresmikan oleh Pemerintah, maka Pemerintah harus memberikan SK kepada pegawai museum Tan Malaka supaya museum Tan Malaka ini punya pengelola tetap dan museum Tan Malaka ini bisa dikelola dengan baik. Apabila museum Tan Malaka terkelola dengan baik, maka masyarakat akan tertarik datang berkunjung ke museum Tan Malaka.31 Ketika peneliti berada dilapangan dan langsung melihat keadaan museum Tan Malaka tersebut, museum sangat tidak diperhatikan oleh Pemerintah sejak pertama peresmian pada tahun 2008 sampai tahun 2018. Hanya saja ada sumbangan berupa atap dari BPCB Batusangkar berupa atap sebanyak 10 helai atap seng. Sedangkan pemeritah tidak peduli sekalipun terhadap museum Tan Malaka yang seharusnsya apabila museum Tan Malaka dikelola dengan baik, maka museum Tan Malaka tersebut bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi generasi yang akan datang. 30 Lutfi asiarto dan Dkk. Pedoman Musseum Indonesia. (Direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2012), hal 27. 31 Indra Ibnu Ikatama. Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. 22 Museum Tan Malaka tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah dari sejak peratma kali diresmikan pada tahun 2018 hingga sekarang. Hanya saja, ketika ditahuntahun politik khususnya pada tahun-tahun pemilu pemerintah daerah langsung mengiming-imingi atau hanya sekedar janji. Bahwa museum Tan Malaka akan secepatnya diperbagus. Tapi buktinya itu hanya sekedar janji belaka saja, karena sampai saat ini museum Tan Malaka tidak pernah berubah dari pertama museum tersebut resmi berdiri hingga sekarang. Dengan tidak adanya kejelasan dari Pemerintah, maka museum Tan Malaka tersebut tidak memiliki dana pemasukan untuk merehap museum, sehingga pada suatu saat apabila museum Tan Malaka ini tidak diperhatikan oleh Pemerintah, bisa jadi museum Tan Malaka ini hanya tinggal nama saja.32 Menteri kebudayaan dan pariwisata seharusnya berperan penting terhadap museum Tan Malaka khususnya dalam hal melestarikan museum Tan Malaka tersebut sehingga museum Tan Malaka akan terawat, tidak seperti saat ini yang sangat terbengkalai dan koleksinya bisa saja dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab karena tidak adanya yang mengurus museum Tan Malaka tersebut . Pelestarian secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan untuk merawat, melindungi dan mengembangkan suatu objek yang memiliki nilai guna untuk dilestarikan. Sebelum muncul kegiatan pelestarian budaya, manusia memiliki kesadaran akan adanya sejarah. Dengan kesadaran akan sejarah manusia menyadari pengalaman masa lampau dan menyadari bahwa kehidupan sekarang ini baik kehidupan individu maupun masyarakat serta kebudayaan senantiasa bersumber dan berakar pada masa lampau yang akhirnya dapat membentuk 32 Indra Ibnu Ikatama. Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. kehidupan kita yang sekarang ini maupun yang akan datang33. Museum Tan malaka ini sangatlah minim akan pemasukan dana, karena tidak adanya dana yang masuk dari Pemerintah. Sedangkan museum Tan Malaka ini sangat memerlukan dana untuk merehap museum karena ketika penulis meneliti dilapangan penulis melihat dinding museum Tan Malaka sudah rapuh dan mulai dimakan rayap. Berdasarkan sifat kepemilikan museum dapat dibagi menjadi 3 jenis museum, antara lain : a) Museum Pemerintah terdiri dari museum Nasional yang dibiayanya dibiayai oleh Pemerintah Pusat, museum Provinsi yang dananya di dapat dari Pemerintah Provinsi, museum Kota besar, Kota kecil yang dibiayai oleh Pemerintah Kota. b) Museum swasta atau museum non Pemerintah, biayanya di dapat dari pihak swasta, juga ada museum-museum kecil yang didanai oleh para komunitas sukarelawan. c) Museum pribadi atau museum keluarga, biayanya didanai oleh dana pribadi atau dana keluarga. Selain itu dana didapat pula dari sumbangansumbangan yang berbentuk 33 Rizky Nindya Nunggalsari. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan Dalam Pelestarian Museum Buwono Keling di Kecamatan Punung Kabupaten Pacitan. Skripsi Pdf. Madiun: Universitas PGRI Madiun, 2018. Hal 81. Diakses tanggal 20-September-2019. 23 uang, aset-aset permodalan, pelayanan, dan lain-lain. Di Indonesia pengelolaan museum, pada umumnya dilakukan oleh Pemerintah. Pada saat inilah seharusnya ada peran dari Mentri Kebudayaan dan Pariwisata untuk merehab atau memperbagus museum Tan Malaka tersebut supaya museum Tan Malaka ini bisa menarik pengujung kembali untuk datang melihat koleki dari peninggalan Tan Malaka tersebut, karena museum Tan Malaka ini adalah museum milik Pemerintah, bukan milik pribadi lagi sehingga Pemerintahlah yang harus mendanai dan mengelola museum Tan Malaka tersebut. 2. Peran Dinas Pendidikan Kabupaten 50 Kota Terhadap Museum Tan Malaka Sebuah Museum harus memiliki organisasi yang terdiri dari penyelengara dan pengelola. Penyelengara Museum dapat berupa Yayasan dan Pemerintah baik pusat maupun daerah. Sementara itu pengelola Museum adalah mereka yang diberikan tugas oleh penyelenggara Museum untuk melaksanakan tugas pengumpulan, penelitian, penyimpanan, perawatan, pengamanan dan penyajian informasi kepada Publik. Penyelenggaraan Museum hendaknya dikaitkan dengan kebijakan pengelolaan Museum baik dalam bidang administrasi maupun teknis. Kebijakan pengelolaan museum meliputi (1) pengembangan, (2) visi, misi dan program (3) sumber dana (4) sarana dan prasarana (5) standar dan prosedur ( koleksi dan pelayanan pengunjung).34 Museum Tan Malaka pada saat 34 Lutfi asiarto dan Dkk, Pedoman Museum Indonesia. Direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2012. Hal 27 diresmikan tahun 2008 pengelolaannya itu hanya dari keluargaTan Malaka yaitu bapak Indra Ibnu Ikatama dan Pemerintah tidak begitu berperan. Bapak Dedi Iswandi (Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 kota) mengatakan bahwa museum Tan Malaka adalah milik provinsi dan Pemerintah Kabupaten 50 kota tidak berhak atas museum Tan Malaka karena museum Tan Malaka adalah hak dan kewenangan dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar. Sedangkan Dinas Kebudayaan 50 kota hanya mendukung saja apa pun kegiatan museum Tan Malaka yang dilakukan oleh BPCB karena Dinas Kebudayaan 50 kota tidak boleh campur tangan atas koleksi, perawatan museum, atau pun memberikan SK atau PNS terhadap pengelola museum Tan Malaka karena kewenagan adalah BPCB. Bapak Dedi Iswandi (Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 kota) mengatakan bahwa museum Tan Malaka selalu dipantau oleh dinas kebudayaan karena museum Tan Malaka merupakan aset daerah. Akan tetapi kalau dari segi pengelolaan Dinas Kebudayaan 50 kota tidak bisa campur tangan karena itu adalah dari BPCB sedangkan Dinas Kebudayaan hanya memantau dan mendukung apapun kegiatan yang BPCB lakukan di museum Tan Malaka. 35 Bapak Dedi Iswandi (Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 kota) mengatakan bahwa perhatian pemerintah terhadap museum Tan Malaka tidak kurang, malahan lebih karena yang mengelola museum Tan Malaka langsung dari pusat, bukan daerah lagi. Sedangkan ketika penulis meneliti dilapangan bahwa museum Tan Malaka sangat jelas tidak terawat serta koleksinya yang sangat berantakan. 35 Dedi Iswandi. Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 Kota. wawancara langsung. 25 November 2019 24 Bapak Dedi Iswandi (Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 kota) juga mengatakan bahwa museum Tan Malaka terkelola dengan baik dan pengelola museum Tan Malaka pun di beri SK oleh BPCB untuk merawat museum Tan Malaka. Ketika penulis meneliti di lapangan museum Tan Malaka tidak ada pengelolanya sama sekali dan pengunjung yang berkungjung ke museum Tan Malaka tidak ada yang melayani karena tidak adanya pengelola dari museum Tan Malaka tersebut.36 Bapak Indra Ibnu Ikatama dan Bapak Doddy Ade Saputra (keluarga Tan Malaka) mengatakan bahwa museum Tan Malaka dari pertama kali diresmikan sampai sekarang tidak ada pemerintah yang mengelola museum Tan Malaka tersebut dan tidak ada pengelola yang diberi SK atau gaji honor untuk mengelola museum Tan Malaka tersebut. Jadi bapak Indra Indra Ibnu dan Bapak Doddy ade saputra berharap Pemerintah lebih perhatian lagi terhadap museum Tan Malaka supaya museum Tan Malaka bisa terus ada dan bisa dipelajari oleh generasi yang akan datang.37 Jadi ketika penulis meneliti di lapangan penulis tidak menemukan pengelola dari museum Tan Malaka, sehingga museum Tan Malaka terbengkalai dan tidak terawat. Sehingga ketika penulis meneliti di Dinas Kebudayaan 50 kota sangat berbeda sekali dengan data yang ada di lapangan. Karena penulis tidak menemukan pengelola yang merawat dan menjaga museum Tan Malaka melainkan hanya keluarga Tan Malaka lah yang mengurus museum Tan Malaka. 36 Dedi Iswandi. Kasi Cagar Budaya Dinas Kebudayaan 50 Kota. wawancara langsung. 25 November 2019 37 Indra Ibnu Ikatama, Doddy Saputra. Keluarga Dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. Seharusnya museum Tan Malaka ini bukan lagi tugas dari keluarga Tan Malaka melainkan tugas dari Pemerintah karena museum Tan Malaka sudah berada di bawah naungan Pemerintah 3. Perkembangan Museum Tan Malaka Periode Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Museum Tan Malaka adalah sebuah museum lokal yang terletak di Jorong Ikan Banyak, Nagari Pandam Gadang, Kecamatan Gunuang Ameh, Kabupatan Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Museum Tan Malaka ini dahulunya adalah rumah bekas peninggalan dari Tan Malaka sebelum Tan Malaka mengabdikan dirinya untuk NKRI. Museum Tan Malaka didirikan atau diresmikan pada tanggal 21 Februari 2008. Setelah museum Tan Malaka diresmikan, museum Tan Malaka tidak banyak perubahan serta perkembangan, sehingga bisa dikatakan bahwa museum Tan Malaka tidak terurus serta tidak terawat oleh pemerintah. Museum Tan Malaka ini terhambat perkembangannya karena museum Tan Malaka ini tidak mempunyai struktur pengelolaan dan managemen yang baik. Managemen museum ditujukan untuk memberi gambaran komprehensif mengenai why, who, dan how di dalam pengelolaan museum, atauu pendek kata semua hal yang dibutuhkan dalam mengelola museum agar tetap eksis, efektif, dan efesien. Utnuk dapat melaksanakan peran dan fungsinya dengan maksimal, museum tentu harus dikelola dengan baik. Management museum merupakan bidang yang sangat luas karena meliputi apa, mengapa, siapa, dan bagaimana museum dikelola agar berkembang, tetap eksis, dan efesien dalam 25 menjalankan fungsinya sebagai institusi pelayanan masyarakat dibidang penelitian, pendidikan, dan hiburan. Bagaimanapun kualitas managemen sangat menentukan kualitas museum secara keseluruhan.38 Sedangkan museum Tan Malaka ini tidak memiliki management yang baik, sehingga akan menghambat perkembangan Museum Tan Malaka itu sendiri dan akan membuat museum Tan Malaka tidak eksis, efesien, dan efektif lagi dalam menjalankan tugasnya sebagai institusi pelayanan masyarakat dibidang penelitian, pendidikan, dan hiburan. Faktorfaktor yang mengahambat perkembangan musum Tan Malaka antara lain: a. Bangunan Museum Bangunan museum adalah bangunan yang dapat berfungsi, menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan koleksi. Oleh karena itu , museum harus memiliki bangunan yang terdiri dari bangunan pokok dan bangunan penunjang. Bangunan pokok memiliki beberapa ruang sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Ruang pameran tetap Ruang pameran temporer Ruang audiotorium Ruang kantor Ruang administrasi/kantor Ruang perpustakaan Ruang laboratorium Ruang edukasi Ruang transit koleksi 38 Kresno Yulianto, Dibalik Piliar-pilar Museum, (Jakarta Selatan: Wedatama Widya Sastra, 2016) hlm 3-4 10) Bengkel kerja prepasi Bangunan penunjang beberapa ruang sebagai berikut: melipitu 1) Ruang cendra mata dan kafetaria 2) Ruang penjualan tiket dan penitipan barang 3) Ruang lobi 4) Ruang toilet 5) Ruang pos penjaga39 Jadi pada museum Tan Malaka bangunannya ketika pertama kali diresmikan sampai dengan sekarang, bangunannya hanya seperti sebuah rumah tinggal yang tidak ada penghuninya. Bangunan museum Tan Malaka dari tahun 2008-2018 tidak memiliki perkembangan sedikitpun. Pada museum Tan Malaka tersebut tidak memiliki bangunan pokok dan bangunan penunjang. Semua koleksi dan perpustakaan langsung diletakan dalam satu ruangan saja. b. Koleksi Koleksi museum adalah bendabenda bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan satu atau berbagai cabang ilmu pengetahuan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 1995 39 Lutfi asiarto dan Dkk. Pedoman Musseum Indonesia. Direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2012, hal 18-19. 26 menyatakan: benda cagar budaya di museum adalah semua koleksi berupa benda cagar budaya bergerak atau benda cagar budaya tertentu yang disimpan, dirawat, dan dimanfaatkan museum.40 Sedangkan pada koleksi museum Tan Malaka sangat kurang sekali dalam hal perawatan koleksi museum. Ketika penulis meneliti dilapangan hanya pihak keluarga dari Tan Malakalah yang merawat museum Tan Malaka, sehingga koleksi museum Tan Malaka tidak terawat karena kurangnya pengetahuan pihak keluarga Tan Malaka tentang perawatan koleksi museum. Seharusnya perawatan koleksi dilakukan oleh ahlinya supaya koleksi museum dapat terjaga sedangkan di museum Tan Malaka tidak mempunyai ahli dalam hal koleksi, hanya keluarga Tan Malaka yang mengurus koleksi Tanpa adanya pengetahua Tentang perawatan koleksi museum. Perawatan koleksi museum dalam prakteknya dilaksanakan oleh para konsevator yang mempunyai ilmu di bidang ilmu kimia, fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan bahan. Dari segi ilmu ia harus faham tentang kimia organik dan kimia anorganik. Sebab dari segi pembagian ragam koleksi asal bahan pembuatan atau segia asalnya, maka bahan itu berasal dari bahan organik dan anorganik. Tanpa keahlian pembagian bidang tersebut kita jangan sekalikali berani menangani kegiatan praktis perawatan, sebab bisa berakibat fatal bagi benda koleksi itu sendiri. Bukannya menjadi 40 Lutfi asiarto dan Dkk. Pedoman Musseum Indonesia. Direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2012, hal 20 baik, malahan bisa menjadi rusak akibat sentuhan bahan kimiawi yang salah.41 Seharusnya Pemerintahlah menugaskan orang untuk bekerja dan mengelola koleksi museum Tan Malaka supaya bisa dimanfaatkan. Karena pemerintah sudah membuat undang-undang bahwa benda-benda yang ada di museum harus dirawat dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Maka dari tahun 2008-2008 koleksi museum Tan Malaka tidak memiliki perkembangan sama sekali karena tidak adanya pihak yang mengurus koleksi museum Tan Malaka tersebut. c. Pengelolaan Pengelola museum adalah petugas yang berada dan melaksanakan tugas museum dan dipimpin oleh seorang kepala museum. kepala museum membawahi dua bagian yaitu bagian administrasi dan bagian teknis. 1) Bagian Administrasi Petugas administrasi mengelola ketenagaan, keuangan, surat-menyurat, kerumahtanggaan, pengamanan, dan registrasi koleksi 41 Moh. Amir Sutarga. Pedoman Penyelenggara dan Pengelolaan Museum. (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta: 1997/1998), hal 53. 27 2) Bagian teknis terdiri dari tenaga pengelola koleksi, tenaga konservasi, tenaga preparasi, tenaga bimbingan, dan humas. a) Tenaga pengelola koleksite Tenaga pengelola koleksi bertugas melakukan inventarisasi dan kajian setiap koleksi museum. b) Tenaga konversasi Tenaga konversai bertugas melakukan pemeliharaan dan perawatan koleksi. c) Tenaga preparasi Tenaga preparasi bertugas menyiapkan sarana dan prasana serta menata pameran dimanfaatkan masyarakat.42 oleh Pengelola museum, sejak semula harus dapat menghayati dan mengamalkan fungsi musuem sehingga dapat mengelola museum tersebut sebagai berikut: 1) Program-program kegiatan kegiatan diuraikan dengan musyawarah dan sepakat dengan staf penunjang museum. 2) Sarana dan kemudahan (fasilitas) berupa modal materil atau yang perlu disediakan dan dimanfaatkan dalam lingkungan museum serta kegiatan museum lainnya. 3) Pegawai dan karyawan sebagai komponen yang menggerakan roda kegiatan museum 4) Dana dan sumber dana yang telah ada perlu diadakan untuk melaksanakan program kegiatan khusus untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan kalangan pelajar.43 d) Tenaga bimbingan dan humas 42 Tenaga bimbingan dan humas bertugas melakukan infornasi dan mempublikasikan koleksi untuk Lutfi asiarto, Dkk. Pedoman Museum Indonesia. (Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Dan Permuseuman, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan: 2012), hal 22. 43 Moh. Amir Sutarga. Pedoman Penyelenggara dan Pengelolaan Museum. (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta: 1997/1998), hal 38. 28 Sedangkan museum Tan Malaka dari tahun 2008-2018 tidak memiliki pengelola tetap dari pemerintah, sehingga museum Tan Malaka tidak memiliki perkembangan sama sekali. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa sebuah museum yang telah berdiri dan resmi dari pemerintah seharusnya pemerintah memberikan SK kepada pegawai museum Tan Malaka supaya museum Tan Malaka ada yang mengelolanya, sehingga museum Tan Malaka bisa berkembang dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan kalangan akademisi. Jadi dari tahun 2008-2018 museum Tan Malaka sangat minim dana yang diterima dari pemerintah, sehingga membuat museum Tan Malaka ini terhambat perkembangannya yang seharusnya museum Tan Malaka ini bisa manfaatkan oleh masyarakat luas, jadi karena keterbatasan dana dari Pemerintah maka pihak keluarga Tan Malaka tidak bisa berbuat banyak dalam Perkembangan museum Tan Malaka.44 Jadi Perkembangan museum Tan Malaka dari tahun 2008-20018 tidak ada Perkembangan sama sekali baik itu dari segi pengelolaan, koleksi, bangunan, dan lainnya karena museum Tan Malaka kurang di perhatikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, sehingga museum Tan Malaka dari pertama didirikan sampai tahun 2008-2018 hanya seperti itu saja. d. Keterbatasan dana Museum Tan Malaka merupakan sebuah museum yang dibawahi oleh instantansi Pemerintah. Museum Tan Malaka tidak mempunyai dana untuk merehab dan memperbagus museum, karena museum Tan Malaka sangat jauh sekali dari perhatian pemerintah. Pihak museum khususnya keluarga Tan Malaka yang sekaligus mengelola museum saat ini sudah memcoba untuk mengajukan proposal perehapan dan pendanaan terhadap museum Tan Malaka, tapi pemerintah tidak pernah merespon. Baik itu kepada Pemerintah pusat atau pun kepada Pemerintah daerah itu sendiri. 3 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari uraian hasil penelitian mengenai Perkembangan dan Pengelolaan Museum Tan Malaka (2008-2018) diatas, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa: 1. Rumah Tan Malaka sebelum menjadi museum 44 Indra Ibnu Ikatama, Doddy SAputra. Keluarga Dan Pengurus Museum Tan Malaka, wawancara langsung. 17 juli 2019. 29 Museum Tan Malaka pada dahulunya adalah sebuah rumah yang pernah ditinggali oleh Tan Malaka pada masa kecilnya. Rumah Tan Malaka didirikan pada tahun 1652 oleh keluarga Tan Malaka yang hidup pada masa itu. Rumah Tan Malaka sangat mirip seperti rumah adat minangkabau yaitu rumah bagonjong atau disebut juga rumah gadang. Rumah Tan Malaka terakhir dihuni pada tahun 1998, setelah itu rumah Tan Malaka tidak dihuni lagi oleh keluarga Tan Malaka. Oleh karena itu keluarga dari Tan Malaka beriniatif untuk menjadikan rumah Tan Malaka menjadi musuem Tan Malaka, supaya nama Tan Malaka akan terus terkenang dengan di dirikannya museum Tan Malaka. 2. Sejarah berdirinya Malaka museum Tan Museum Tan Malaka adalah sebuah museum lokal yang terletak di Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kecamatan Gunuang Omeh, Nagari Pandam Gadang, Jorong Ikan Banyak. Museum Tan malaka berdiri pada tahun 2000, setelah adanya perjuangan dari pihak keluarga Tan Malaka dan para pengagum Tan Malaka, makapada tahun 2008 museum Tan Malaka resmi diresmikan oleh kementrian pariwisata dan kebudayaan. 3) Koleksi yang berantakan dan tidak terurus 4) Atap museum yang sudah rapuh Pegelolaan museum Tan Malaka sangat lah tidak memadai, mencukupi, dan belum dikelola dengan baik. Hal ini dikarenakan karena tidak adanya pegawai tetap yang mengelola museum Tan Malaka. Hanya keluarga Tan Malaka yang mengelola museum Tan Malaka tanpa adanya pengetahuan tentang permuseuman dan pengetahuan tentang pengelolaan museum. pihak keluarga Tan Malaka sendiri mengatakan seharusnya museum Tan Malaka dikelola oleh Pemerintah, bukan keluarga Tan Malaka lagi. Jadi museum Tan Malaka juga sangat kurang diperhatikan pemerintah. 4. Perkembangan museum Tan Malaka Perkembangan museum Tan Malaka dari tahun 2008-2018 tidak memiliki perkembangan berarti, karena museum Tan Malaka kurang diperhatikan Pemerintah. museum Tan Malaka dari awal diresmikan sampai dengan sekarang model bangunan serta tampilan museum tidak ada yang berubah hanya itu-itu saja. Karena museum Tan Malaka tidak menyai pengelola museum tetap sehingga museum Tan Malaka tidak memiliki perkembangan yang signifikat. 3. Problema museum Tan Malaka B. Saran Museum Tan Malaka sangat banyak memiliki problema, terutama museum Tan Malaka yang tidak terawat seperti: 1) Dinding museum Tan Malaka yang sudah banyak yang rusak 2) Lantai museum Tan Malaka ada yang rapuh dan berlobang Berdasarkan analisis dan kesim[ulan yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis memberi saran sebagai berikut: a. Peneliti menyarankan kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah 30 Daerah untuk lebih memperhatikan museum Tan Malaka serta melakukan pembenahan terhadap museum Tan Malaka untuk menarik minat pengujung, baik masyarakat luas atau kalangan akademisi, sehingga museum Tan Malaka tidak lagi sepi peminatnya dan museum Tan Malaka bisa digunakan sebagai ilmu bagi generasi yang akan datang. b. Dari segi pengelolaan, peneliti menyarankan kepada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah bisa memperhatikan lagi pengelolaan museum yang seharusnya. Museum Tan Malaka ini sangat tidak terawat karena pengelolaan yang tidak baik dari pihak keluarga Tan Malaka. Museum Tan Malaka kurang pengelolaan dari tata cara letak koleksi, cara merawat koleksi, cara melayani pengunjung, dan lainnya. Museum Tan Malaka juga tidak mempunyai ornanisasi dibidangnya, seperti humas dan pemasaran, pemandu museum, dan juga management museum. dengan hal diatas bisa menjadikan museum Tan Malaka sebagai destinasi wisata sejarah dan sumber ilmu bagi masyarakat luas dan kalangan akademisi. 4 Andini, Oktvita. 2016. Pengelolaan fasilitas museum sultan syarif kasim di kabupaten bengkalis. Skripsi Pdf. Riau: Universitas Riau. A Shamad, Irhas. 2003. Ilmu Sejarah Perspektif metodolgis dan Acuan penelitian .Jakarta: Hayfa Press. Asiarto, Lutfi dan Dkk, Pedoman Museum Indonesia. Direktorat pelestarian cagar budaya dan permuseuman Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2012. Arsyad,Azhar, 2010, “Sumber Dan Media Pembelajaran”, Jurnal Pdf, Yogyakarta: FIS UNY. Gultom,Noor,Chandra, 2010, “Peranan Museum”, Jurnal Pdf, Jakarta: FIB UI. Hasanuddin. 2012. “Nilai Sosial Budaya MinangKabau”. Skrisi Pdf. Padang: Universitas Andalas. DAFTAR PUSTAKA Ilahi,Kurnia,Rahmad. 2019. “Sejarah Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka Dan Partisipasi Pemerintah Kabupaten Agam”. Skripsi. Bukittinggi: IAIN Bukittinggi. Alqur`anul Karim surat 59 ayat 13 Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu Indra Ibnu Ikatama, Doddy saputra. Keluarga dan Pengurus museum Tan Malaka, “wawancara langsung”. 17 Juli 2019. 31 Kementerian Pendidikan Dan Budaya. 2019. Pengertian, Tugas, dan Fungsi Kementerian Pendidikan Dan Budaya. Web. Indonesia. Kusumo, Pratameng, 1995, Menimba Ilmu Dari Museum, Jakarta: Balai Pustaka. Magetsari, Noerhadi, 2016, Perspektif Arkeologi Masa Kini, Jakarta: Kompas. Mutia, Riza dan tim. 2012. Buku petunjuk Museum Adityawarman. Padang: museum nagari adityawarman. Nunggalsari, Nindya, Rizky. 2018. “Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pacitan Dalam Pelestarian museum Buwono Keling Di Kecamatan Punung Di Kabupaten Pacitan”. Madiun: Universitas PGRI Madiun. Pemerintah provinsi Sumatera Barat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata UPTD Museum Nagari Adityawarman. 2014. Profil Museum nagari Adityawarman. Padang: Museum Nagari Adityawarman. Rosyadi, Imron. 1991. “Museum Sebagai Media Pariwisata dan Pelayanan Terhadap Wisatawan” dalam Kumpulan Makalah Simposium Temu ilmiah Antar Museum di Museum Nasional. Jakarta. Suratmin. 2000. Museum Sebagai Wahana Pendidikan Sejarah. Yogyakarta: Ghalia Indonesia.

Judul: Jurnal Museum Tan Malaka

Oleh: Rafi Mahligai Zekri


Ikuti kami