Jurnal Manajemen Pas Indo

Oleh Rofi Oktafianto

145,8 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Manajemen Pas Indo

PELAKSANAAN MAPENALING BAGI TAHANAN BARU DI RUTAN KELAS II B PURWOREJO THE ADMINISTRATION OF ORIENTATION FOR NEW DETAINEES IN THE CLASS II B PURWOREJO Rofi Oktafianto Politeknik Ilmu Pemasyarakatan Jalan Raya Gandul No. 4 Gandul Cinere Depok Telepon : 081282809781 Email : rofio314@gmail.com Abstrak Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan mapenaling pada tahanan baru yang terdapat di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Purworejo dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan mapenaling terhadap tahanan baru, serta bagaimana menemukan solusi terbaik yang dapat dilakukan guna tercapainya tujuan pelaksanaan mapenaling secara optimal yang terdapat di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Purworejo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan penelitian lapangan dan studi kepustakaan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis diketahui bahwa dalam pelaksanaan mapenaling terhadap tahanan baru yang terdapat di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Purworejo masih belum optimal. Dalam pelaksanaan mapenaling bagi tahanan baru terdapat beberapa faktor yang menjadi kendala, yang pertama adalah kurangnya sarana dan prasarana dalam pelaksanaan mapenaling, yaitu tidak adanya blok khusus mapenaling sehingga kamar khusus mapenaling berada di blok narapidana, hal ini menimbulkan terjadinya intervensi dari tahanan dan narapidana lama terhadap tahanan baru, yang kedua adalahkurangnya koordinasi antara kesatuan pengamanan rutan dan seksi perawatan dan pelayanan tahanan sehingga pelaksanaan mapenaling hanya tertumpu pada kesatuan pengamanan rutan yang harus melaksanakan fungsi pengamanan dan perawatan serta pelayanan tahanan bagi tahanan baru yang sedang dalam proses mapenaling, yang ketiga yaitu kurangnya pengetahuan petugas tentang pelaksanaan mapenaling. Berdasarkan penelitian tersebut serta untuk mengatasi berbagai kendala yang ditemukan dalam pelaksanaan mapenaling di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Purworejo ada beberapa alternatif pemecahan masalah dapat di lakukan dengan cara : 1) Pengajuan pembangunan blok khusus mapenaling bagi tahanan baru, sehingga pelaksanaan mapenaling dapat dilaksanakan sesuai dengan protap yang ada. 2) Mengadakan sosialisasi dan rapat koordinasi internal guna menjelaskan kembali tusi masing-masing seksi, sehingga mapenaling dapat terlaksana secara optimal dengan terlaksananya tugas masing-masing seksi secara terpadu. 3) Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) petugas, sehingga dalam pelaksanaan mapenaling dapat tercapai tujuan mapenaling. Peningkatan kulaitas SDM dapat dilakukan dengan cara, misalnya dengan mengikuti pelatihan teknis tertentu yang terkait dengan perawatan dan pelayanan tahanan, sehingga diharapkan mempunyai sumber daya manusia yang berkualitas. Kata Kunci : Mapenaling, Tahanan, Rumah Tahanan Negara Abstrack This study discusses the implementation of the mapping of detainees in the State Detention Center Class II B Purworejo and the problems involved in implementing the mapenaling of new detainees, and how to find the best that can be done to ensure the creation of optimal implementation objectives in the State Detention Center Class II B Purworejo. The research method used in this research is descriptive with qualitative approach. Data collection techniques used are field research and literature study. Based on research conducted by State Detention Center Class II B Purworejo still not optimal. In the implementation of mapenaling to find some factors that become the basis, the first is the facilities and infrastructure in the implementation of mapenaling, ie the absence of a special block of room maps. A new prisoner, which is one of the functions of the security union of prison and its treatment and service sections. Disaster management is only based on the security of prisons that should carry out security and maintenance as well as the prisoner service for new detainees who are in the process of mapenaling, the officers knowledge about the implementation of mapenaling. Based on these matters and to address the various mistakes found in the implementation of the mapping in the State Detention Center Class II B Purworejo there are several alternative solutions to the problem can be done: 1) The proposed development of special blocks for new detainee, allowing mapping can be implemented in accordance with existing procedure. 2) Conducting internal socialization and internal meeting to reexplain the responsibilitis of each section, making a map that can be implemented optimally with the implementation of each part in an integrated manner. 3) Increasing the quality of Human Resources (HR), in the implementation of mapenaling can achieve the goal mapenaling. Increasing the quality of human resources can be done by, for example, with the necessary training related to care and service, which has human resources. Key words : Mapenaling, Detainee, the State Detention Center PENDAHULUAN mengulangi perbuatannya merupakan Sistem penyelenggaraan pidana penjara telah mengalami perubahan secara internasional berkembangnya seiring cara dengan berpikir masyarakat. Begitu pula di Indonesia pada awalnya menggunakan sistem kepenjaraan dalam memperlakukan narapidana dan tahanan telah berubah sejak muncul gagasan dari Sahardjo, dalam pidato penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum oleh Universitas indonesia pada tanggal 5 Juli 1963 dengan judul : “Pohon Beringin Pengayoman”. Pohon beringin pengayoman sebagai lambang hukum di Indonesia memiliki makna bahwa tugas hukum adalah memberi pengayoman agar citacita nasional yaitu menciptakan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dapat sistem tercapai. Perlakuan kepenjaraan menurut dianggap tidak sesuai lagi untuk diterapkan dan perlu diganti dengan Sistem Pemasyarakatan yang berdasarkan Pancasila sejak 27 April 1964. Dalam perlakuan terhadap orangorang terpenjara serta orang-orang yang melanggar hukum, agar tidak usaha dari zaman ke zaman yang belum pernah terselesaikan. Dengan adanya perubahan dari kehidupan dunia secara sosial, ekonomi dan dengan munculnya maju, teknologi yang mengharuskan semakin pula untuk mengadakan perubahan dari proses pembinaan bagi melanggar hukum orang-orang sesuai yang dengan perkembangan dan perubahan hal-hal tersebut diatas, agar perlakuan tersebut dapat memenuhi tuntutan yang dikehendaki oleh masyarakat. Dengan adanya perubahan dari waktu ke waktu pemidanaan bukan terpidana maka lagi menjadi tujuan menjadikan jera namun mengarah kepada usaha rehabilitasi bagi terpidana agar menyadari dan mau memperbaiki diri dari kesalahan yang dibuatnya. Tujuan pembinaan adalah untuk pidana. memperbaiki Hukuman pelaku yang tindak diberikan sebagai akibat atas perbuatannya yang melanggar tata kehidupan masyarakat yaitu menjalankan sebagian dari masa kehidupan dalam status dibatasinya kebebasan dibuang bergerak, maupun tidak dirusak untuk melainkan masih diharapkan untuk kembali dalam bersalah kehidupan semula. pengadilan Indonesia memiliki sistem peradilan pidana secara terpadu yang disebut ICJR (Integrated Criminal Justice System) yang terdiri dari : adanya yang kesalahannya putusan menyatakan dan memperoleh kekuatan hukum tetap. Perawatan tahanan di Rutan / Cabang Rutan bertujuan antara lain : Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dan Pemasyarakatan. sebelum 1. Memperlancar Pemasyarakatan proses pemeriksaan baik pada tahap merupakan salah satu dari mata rantai penyidikan sistem peradilan pidana, tidak hanya tahap dibagian akhir namun juga dibagian pemeriksaan di pengadilan awal dari sistem tersebut, hal ini terlihat dari peran penuntutan dan 2. Melindungi kepentingan masyarakat dari pengulangan (RUTAN) yang menanggani pelanggar tindak pidana yang dilakukan hukum sebelum divonis oleh Hakim. pelaku yang bersangkutan Rumah tahanan negara adalah tempat Pada saat tahanan itu ditempatkan atau tahanan pada negara tersangka rumah maupun terdakwa ditahan di Rutan sebagai seorang yang baru selama proses penyidikan, penuntutan masuk, dan pemeriksaan disidang pengadilan. menghadapi lingkungan baru. Banyak Pelaksanaannya diatur dalam PP No.58 perubahan yang dialami oleh tahanan tahun 1999 tentang syarat-syarat dan yang tadinya hidup di alam bebas lalu tata cara pelaksanaan wewenang tugas masuk dan menemui tanggung jawab perawatan tahanan. tentunya ke masih dalam kesulitan Rutan awam dengan terutama yang berhubungan dengan kejiwaannya. Di Ada beberapa azaz dalam Kitab samping itu tahanan yang berada di Undang Undang Hukum Acara Pidana Rutan terdiri dari beberapa lapisan yang sangat mendasar salah satunya masyarakat, azas praduga tak bersalah, bahwa tindak setiap adat istiadat, agama dan lain-lain. orang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut atau dihadapkan di depan pengadilan dianggap tidak bermacam-macam kejahatan, Cara mendapatkan umur, yang jenis pendidikan, resmi keterangan untuk dan mengajukan keluhan dan lain-lain hal beradaptasi dengan lingkungan sesama serupa untuk pelanggar hukum yang lebih lama dan memungkinkan ia mengerti baik hak dan lebih dulu tinggal di Rutan. Mapenaling kewajibannya dan menyesuaikan diri atau kepada merupakan suatu proses penerimaan yang diperlukan kehidupan Berbagai didalam macam Rutan. tahanan semuanya memiliki sifat, yang dan masa pengenalan pengenalan lingkungan terpidana pada sikap, dan lingkungan Rutan dan isinya mengenai perilaku serta berasal dari daerah yang penerimaan bagi tahanan yang masuk sosial berbeda-beda. dan mencari tahu tentang identitas diri, Setelah tahanan masuk dalam Rutan latar belakang keluarga, latar belakang mereka di hadapkan dengan keadaan mengapa melakukan tindak pidana dan yang diperkenalkan ekonominya serba terbatas peraturan-peraturan serta yang adanya mengikat. ketentuan dengan yang aturan berlaku, hak dan dan Dari sinilah timbul rasa ketidakpuasan kewajiban serta larangan-larangan yang terhadap kehidupan mereka, mereka di berlaku di lingkungan Rutan. Adapun ikat dengan peraturan-peraturan yang yang menyebabkan tahanan tersebut mengakibatkan ketegangan jiwa yang merasa tertekan antara lain: akhirnya mengarah kepada kesakitan baik jasmani karena itu maupun di berikan rohani, oleh penyuluhan- penyuluhan bagi tahanan baru. Situasi yang Tahanan menyangkut perkaranya, di mana dia telah menghadapi proses peradilan tahanan atas dirinya. Seorang Tahanan yang baru melakukan tindak pidana mempunyai masalah di mana pada mungkin awal barunya di dihadapi 1. Masalah yang di hadapi oleh memasuki Rutan keadaan yang tahanan tersebut, lingkungan sering menjadi menakutkan dengan bagi keadaan yang di proses peradilan hadapinya berjalan dengan dirinya, atau adil tidak bagi mungkin barunya tahanan menjadi tertekan oleh hukuman yang tidak layak bagi banyaknya hal-hal hadapinya dan yang belum baru di perbuatan yang tidak pernah pernah di dia lakukan atau penyesalan alaminya. Tahanan di paksa untuk terhadap perbuatan yang dengan dilakukannya. 2. Kekuatan lingkungannya sehingga ada tahanan yang mental setiap dapat lepas dari masa tahanan yang berlainan, di mapenalingnya ada yang lama mana dalam kekuatan mental Tahanan tidak sama. tahanan yang kuat menghadapi situasi menjalani Ada mapenalingnya dengan begitu dalam tahanan harus di tuntut oleh seperti petugas untuk lebih cepat apapun, ada juga Tahanan beradaptasi dengan sesama yang mempunyai mental yang tahanan. kurang kuat sehingga Untuk mengatasi hal tersebut di atas yang maka dalam proses pemasyarakatan, negative sebagai kompensasi tahanan yang baru wajib melalui masa dari pengenalan lingkungan yang dikenal melakukan hal-hal perlakuan yang tidak dapat diterima seperti bunuh diri atau melukai dirinya sendiri. 3. Perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan sebagai tradisi yang sering dilakukan oleh sesama tahanan yang merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia ( HAM ) yang dari tahanan Rumusan Masalah Rumusan masalah dari latar belakang tersebut adalah : 1. Bagaimana pelaksanaan mapenaling bagi tahanan Tahanan baru Negara di Kelas Rumah II B Purworejo ? Tujuan mesti dihentikan. 4. Kemampuan dengan nama mapenaling. bersosialisasi Adapun tujuan penelitian ini adalah : berlainan, 1. Memberi di gambaran mana setiap tahanan ada yang pelaksanaan mempunyai tahanan baru di Rumah Tahanan kemampuan bersosialisasi yang cepat, ada yang mempunyai kemampuan bersosialisasi yang lambat mapenaling tentang bagi Negara Kelas II B Purworejo. 2. Mengetahui kendala-kendala yang dihadapi selamapelaksanaan mapenaling bagi Tahanan baru di Metode Penelitian Pada dasarnya Rutan Kelas II B Purworejo. jalanya penulisan dengan metode kualitatif bertitik berat pada pengawasan oleh petugas pengamanan di Lapas dan mapenaling itu sendiri. aspek pemahaman secara mendalam tentang masalah yang akan diteliti. Informan Penelitian Metode penelitian kualitatif merupakan Informan penelitian adalah salah satu suatu cara yang telah tersistem untuk komponen dalam penelitian dimana mengkaji lebih komponen tersebut menyediakan data mendalam dan melebihi pada penelitian atau informasi yang dibutuhkan dalam generalisasai. Dalam penulisan karya suatu penelitian, informan penelitian tulis juga dapat disebut narasumber. Dalam kali penelitian suatu ini masalah menggunakan kualitatif. mempermudah sang metode Metode peneliti ini dalam penelitian ini penulis menentukan pihak-pihak yang terkait dengan judul penulisan karya tulis, karena dengan karya tulis akhir sebagai informan konsep fokus per kasus. Pada penelitian penelitian, yaitu Kepala Rumah kualitatif studi kasus yang ada berbeda Tahanan Negara Kelas II B Purworejo, antara kasus satu dengan yang lain. Kepala Sub Seksi Pelayanan Tujuan dari metodologi ini bukan suatu Tahanan , Kepala Kesatuan generalisasi tetapi pemahaman secara Pengamanan Rutan, lima petugas mendalam terhadap suatu masalah. pengamanan dan lima narapidana. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori substantif dan hipotesis penelitian kualitatif.Pada karya tulis kali penelitian ini menggunakan lapangan. “Pelaksanaan Pada Mapenaling jenis judul Bagi Tahanan Baru di Rutan Kelas II B Purworejo” ini diperlukan sang peneliti terjun langsung dalam mengamati Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penulis melaksanakan penelitian di Rumah Tahanan Kelas II B Purworejo selama 23 hari terhitung mulai 29 maret sampai dengan 23 april 2019. 2. Waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama 23 hari terhitung mulai 29 N maret sampai dengan 23 april 2019. O Teknik Pengumpulan Data Instrumen Penelitian TAHAP 1. Nama Triangulasi 2. Definisi Mencocokkan(Cros s 1. Wawancara Yaitu mendapatkan data dengan kepada pengamanan dan WBPRutan wawancara atau dengan dokumen, pendapat orang lain, kajian atau kepustakaan. 2. Observasi Yaitu dengan melihat langsung di 3. Uraian Pengamanan Menunjang hal perlu dilakukan Dalam Triangulasicross Pengawasan check antara data Mapenaling. yang 3. Kepustakaan relevan kajian pustaka. dengan permasalahan dan fakta yang diperoleh dilapangan dengan Untuk mendapatkan konsep atau yang Menentukan yang lokasi penelitian mengenai Peran teori hasil bukti petugas Kelas II B Purworejo. Petugas Check) observasi, cara melakukan interview yang dilakukan PENJELASAN 4. ada. Pedoma Gunakan n pertanyaan peneletian atau Teknik Analisis Data tujuan Dalam penelitian ini penulis yang menggunakan teknik analisis data tangulasikan. Cross kualitatif Triangulasi seperti pada tabel check dengan hal berikut: yang relevan. 5. Contoh masalah perlu di Mapenaling tidak berjalan pada beberapa 1. Mapenaling narapidana dikarenakan ada suatu penyebab yang sangat mendalam oleh karena itu harus di cross check dengan hal yang relevan Pada pelaksanaan mapenaling di Rutan Kelas II B Purworejo sudah berjalan secara rutin. Kegiatan mapenaling tersebut menggunakan program yang dibentuk Rutan Kelas II B Purworejo. PEMBAHASAN adalah Mapenaling masa pengenalan, Penulis akan memaparkan tentang pengamatan, dan penelitian intepretasi dan penjelasan dari hasil lingkungan data yang diperoleh. ditetapkan dalam tetap Pemasyarakatan. Di dalam pelaksanakan Sistem Pemasyarakatan, Rutan Kelas II B Purworejo sudah dapat melaksanakan dan menerapkan apa yang seharusnya diterapkan pada para pegawai, dan narapidana itu sendiri. Akan tetapi itu semua tidak akan berhasil didukung, namun apabila akan tidak berjalan dengan sempurna apabila sarana dan prasarana penunjang terpenuhi. Proses pembinaan yang dilaksanakan oleh Rutan Kelas II B Purworejo adalah sebagai berikut : Karena yang telah prosedur mapenaling berjalan yang sudah dengan program dibentuk Lapas, permasalahan yang muncul adalah adanya ketidaksesuaian program mapenaling yang telah diatur dalam prosedur tetap Pemasyarakatan. Mapenaling pada Rutan Kelas II B Purworejohanya dipasrahkan pada satu sub seksi saja, oleh karena itu terjadi kurangnya pengawasan dari petugas lain. Kurangnya pengetahuan petugas Pemasyarakatan tentang kegiatan mapenaling menimbulkan koordinasi antar petugas seksi yang tidak solid. Karena Kelas II B Purworejo acuh kurang mengetahui manfaat akan tugasnya. Seluruh tugas dari petugas tentang kegiatan mapenaling terlalu semua dipasrahkan kepada menganggap remeh kegiatan pembina mapenaling dalam ini atau terkesan yang penting segi apapun dan di dalamnya kegiatan terdapat mapenaling Pemasyarakatan dipasrahkan berjalan dan hanya pada Pembina mapenaling. pada Mapenaling di Rutan Kelas II dilaksanakan sudah oleh pengamanan akan petugas tetapi kurangnya koordinasi antara petugas merupakan pengamanan kendala utama bagi pengamanan terhadap mapenaling di Rutan Kelas II B Purworejo. koordinasi Kurangnya antar petugas menimbulkan ketidak hadiran petugas pengamanan dalam mengawasi pengamanan juga. yang Purworejo segi beserta analisa pemecahan masalah mapenaling B dari Rutan Adapun permasalahan yang ada 2. Pengamanan terhadap Pengamanan pengaman mapenaling. Kurangnya pengetahuan dan tidak dimengertinya prosedur tetap mapenaling membuat ada dalam pengawasan mapenaling yang dilakukan petugas pengamanan di Rutan Kelas II B Purworejo. 1. Permasalahan Di dalam Sistem pelaksanakan Pemasyarakatan, Rutan Kelas II B Purworejo sudah dapat melaksanakan dan menerapkan apa yang seharusnya diterapkan pada para pegawai, dan narapidana itu sendiri. Akan tetapi itu semua tidak akan berhasil didukung, berjalan apabila namun dengan tidak akan sempurna apabila sarana dan prasarana penunjang terpenuhi. Proses pembinaan yang dilaksanakan oleh Rutan karena itu terjadi kurangnya pengawasan dari petugas Kelas II B Purworejo adalah lain. Kurangnya pengetahuan sebagai berikut : petugas Pemasyarakatan tentang kegiatan mapenaling 2. Mapenaling menimbulkan koordinasi antar Pada pelaksanaan seksi yang tidak solid. Karena mapenaling di Rutan Kelas II kurang mengetahui manfaat B Purworejo sudah berjalan dari secara Pemasyarakatan rutin. Kegiatan mapenaling mapenaling petugas terlalu tersebut menganggap remeh kegiatan menggunakan program yang ini atau terkesan yang penting dibentuk Rutan Kelas II B kegiatan Purworejo. dipasrahkan adalah Mapenaling masa pengenalan, pengamatan, dan penelitian lingkungan yang telah ditetapkan dalam tetap Pemasyarakatan. Karena mapenaling berjalan yang prosedur berjalan dan hanya pada Pembina mapenaling. 3. Bentuk-bentuk pengamanan dalam kegiatan mapenaling Petugas pada kegiatan sudah mapenaling di Rutan Kelas II dengan program B Purworejo hanya para staf dibentuk Lapas, di bagian permasalahan yang muncul narapidana. adalah prosedur adanya ketidaksesuaian pembinaan Menurut tetap program Pemasyarakatan, mapenaling mapenaling yang telah diatur adalah kegiatan awal yang dalam sangat prosedur tetap berpengaruh untuk Pemasyarakatan. Mapenaling pembinaan selanjutnya. Pada pada prosedur Rutan Kelas II B Purworejo hanya dipasrahkan Pemasyarakatan pada satu sub seksi saja, oleh memerintahkan tetap kepada seluruh petugas Pemasyarakatan untuk mengawasi kegiatan mapenaling. Pada pelaksanaan kegiatan mapenaling di Rutan Kelas II B Purworejo petugas pengamanan kegiatan tetapi memantau mapenaling masih akan belum security. full Petugas pengamanan telah melaksanakan tugas pengawasan kegiatan mapenaling, akan kurangnya tetapi pengetahuan berjalan dengan aman dan tertib. Yang terjadi pada kegiatan mapenaling di Rutan Kelas II B Purworejo. - Kegiatan fisik - Kegiatan upacara - Kegiatan pengarahan dari petugas Pemasyarakatan - Kegiatan olahraga 4. Bentuk-bentuk pengamanan dalam mengawasi mapenaling Pelaksanaan ini telah diatur dalam prosedur pemasyarakatan. tetap Untuk tentang kegiatan mapenaling Rutan Kelas II B Purworejo ini menimbulkan kurangnya sendiri sejauh ini telah : koordinasi - antara petugas Melaksanakan pengamanan dengan petugas pemantauan dalam pembinaan. kegiatan mapenaling Kegiatan mapenaling di Rutan Kelas II B - Seksi pengamanan wajib menerima laporan dari Purworejo meruapakan suatu kegiatan pembina narapidana yang tentang adanya kendala telah ada prosedur dalam Pemasyarakatan. Kegiatan ini wajib dilakukan demi terwujudnya pembinaan awal yang yang terjadi. tetap kondusif pembinaan - Menjalankan administrasi tentang kegiatan mapenaling agar berikutnya PENUTUP Kesimpulan perlindungan narapidana di Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan mengenai peran petugas pengamanan mengawasi masa pengamatan, dalam pengenalan, dan penelitian lingkungan di Rutan Kelas II B Purworejo, maka penulis dapat mengambil kesimpulan dan saran sebagai berikut : perlu untuk mengawasi kegiatan mapenaling karena setiap kondisi psikis seseorang, satu dengan yang lainya berbedabeda. Pada saat awal masuk Lapas peran petugas Pemasyarakatan khususnya petugas pengamanan Lapas sangat dibutuhkan narapidana oleh baru agar kegiatan mapenaling berjalan dengan kondusif. Selain itu peran petugas pengamanan dalam kegiatan mencegah gangguan ketertiban maupun hampir telah berjalan sesuai dengan aturan dan batasan koridor yang ada akan tetapi belum sempurna, ini ialah terjadinya keamanan dan baik internal eksternal. Dalam dengan berbagai siasat dan upaya serta strategi Rutan Kelas II B Purworejo telah berupaya semaksimal untuk meminimalisir 1. Peran petugas pengamanan sangat Rutan Kelas II B Purworejo tidak hal-hal diinginkan khususnya yang terjadi, yang berkaitan dengan kegiatan mapenaling. 2. Di Rutan Kelas II B Purworejo telah menjalankan kegiatan mapenaling yang seharusnya dilakukan Lapas di seluruh Indonesia, akan tetapi penulis disini akan kesimpulan mengambil dari mapenaling kegiatan yang telah dilaksanakan di Rutan Kelas II B Purworejo. Memang sudah berjalan akan tetapi belum sesuai dengan prosedur tetap Pemasyarakatan yang ada, masih banyak kekurangan dalam kegiatan mapenaling. Rutan Kelas II B Purworejo belum menjalani semua kegiatan, seperti pengenalan bagi contoh tentang Lapas Warga Binaan Pemasyarakatan. Jadi disini dapat diambil kesimpulan WBP mapenaling sepenuhnya belum mengetahui Saran Adapun saran-saran yang akan penulis sampaikan sebagai berikut: 1. Untuk lebih memaksimalkan tentang Lapas. Karena pada pelaksanaaan pengenalan mapenaling hanya tentang Lapas disampaikan pada diberitahu terjadwal. Pada perlu kegiatan penyuluhan pelaksanaanya. program adanya waktu pengarahan dan tidak tempat-tempat adalah 2. Di secara perlukan perhatian mapenaling di Rutan Kelas II yang intensif dari petugas B dalam bentuk moril dalam Purworejo menjalankan telah mapenaling menghadapi masa seperti penempatan di blok pengenalan lingkungan, khusus mapenaling, olahraga, dengan bentuk hubungan kegiatan rohani, pengarahan, hangat, sapaan, assesment dari petugas. menerima keluhan, 3. Kurangnya pengetahuan nasehat-nasehat, guna tentang isi dan makna dari membesarkan hati para mapenaling menjadi Narapidana kegiatan tenaga kendala juga dalam diperlukan psikolog agar semua narapidana ditangani oleh petugas pada Rutan Kelas II tenaga profesional yang B tepat. tersebut. Belum Purworejo petugas khususnya pengamanan petugas memberikan harus penyuluhan mengetahui tentang prosedur dan berbagai hal dan tetap mapenaling. upaya dalam pelayanan, dan pembinaan terhadap Narapidana dengan tersebut memberikan pengawasan, memperhatikan pembinaan dan fisik, mental, dan cara penyuluhan-penyuluhan Narapidana terhadap dalam tersebut bersosialisasi yang Narapidana menjalani proses dengan Narapidana lain adaptasi sehingga Narapidana dengan lingkungan Lapas tersebut tidak melakukan serta perekrutan pegawai hal – hal atau perbuatan berdasarkan yang merugikan belakang pendidikan yang dirinya dan pihak Lapas. sesuai dengan tugas dan Dan fungsi Lapas. dapat khususnya petugas pada yang baru atas latar pengamanan harus mengetahui tentang prosedur tetap mapenaling dan pengamanan agar kegiatan mapenaling bisa berjalan dengan baik dan tidak ada gangguan DAFTAR PUSTAKA 1. Buku keamanan dan ketertiban baik dari dalam maupun Banton. 1965. Baeur. Katz dan luar kegiatan mapenaling. Khan. 2003:54. 3. Perlunya peningkatan kemampuan petugas Lapas khususnya petugas pengamanan pelatihan dan diklat pengetahuan mendalam Panjaitan. 2007. “Pidana Penjara Mau Kemana”. Petrus Irawan: 2007. melalui – Poernomo, Bambang. Sistem tentang Baru Pemidanan di Indonesia. diklat yang dalam HS Harsono I C. 1995: 88 Sahardjo. Pohon Beringin Pengayoman. Jakarta 1994 : Departeman Kehakiman, Pola 14. Pembinaan Narapidana/Tahanan. 1990/51. Simanjuntak, S, Drs., Bc.Ip. : Peraturan Penjagaan Tata Usaha Pemasyarakatan, Lembaga Tangerang-2003. Pemasyarakatan, Direktorat Skykes , Gresham M . The Jendral Pemasyarakatan. Society of Captives, New Jer Princenton University Press, 1958 Keputusan Mentri Kehakiman Republik Tahun Indonesia 1991 Tentang Pedoman Tata Tertib di Lembaga 3. Undang-Undang Pemasyarakatan. Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 Tentang Standard Minimum Rules for the Treatment of Prisoner, Pemasyarakatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan No.58 Tentang dan Tahun 1999 Syarat-syarat Tata Cara Pelaksanaan Wewenang Tugas dan Tanggung Jawab. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 Pasal 1 ayat 2 Tentang Pelaksanaan KUHAP. Bina Tuna Warga, 1969

Judul: Jurnal Manajemen Pas Indo

Oleh: Rofi Oktafianto


Ikuti kami