Jurnal Sasranesia Stkip Jombang

Oleh Moh Badrih

3,7 MB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Sasranesia Stkip Jombang

ISSN-P 2337-7712 ISSN-E 2598-8271 DAFTAR ISI Siti Maisaroh & Devi Nur Sugiarti, STKIP PGRI Jombang Teater Rakyat Gambus Misri: Sebuah Kajian Struktur dan Fungsi 1 Heny Sulistyowati, STKIP PGRI Jombang Komposisi Verbal Dalam Koran Jawa Pos Bulan Juli 2017 Terbit empat kali setahun pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penanggung Jawab: Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pemimpin Redaksi: Anton Wahyudi, S.Pd., M.Pd. Dewan Redaksi: Dr. Siti Maisaroh, M.Pd. Dr. Susi Darihastining, M. Pd. Mu’minin, S.Pd., M.A. Nanda Sukmana, S.Pd., M.Pd. Penyunting Pelaksana: Diana Mayasari, S.Pd., M.Pd. Fitri Resti Wahyuniarti, S.Pd., M.Pd. Penyunting Ahli: Dr. Heny Sulistyowati, M.Hum. Mitra Bestari: Prof. Dr. Setya Yuwana Sudikan, M.A. (Universitas Negeri Surabaya) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. (Universitas negeri Malang) Prof. Dr. Fatimah Djajasudarma (Universitas Negeri Bandung) Distributor: Endah Sari, S.Pd., M.Pd. Dra. Mindaudah, M.Pd. Penerbit: Prodi PBSI STKIP PGRI Jombang Kampus STKIP PGRI Jombang Jalan Pattimura III/20 Jombang Telp. (0321) 861319, Fax. (0321) 854319 Email: pbsistkippgrijombang@gmail.com Surel: http://ejournal.stkipjb.ac.id/index.php/sastra Web: http://www.stkipjb.ac.id Jurnal SASTRANESIA diterbitkan sejak 1 April 2013 oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang. Penyunting menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan di media lain. Naskah diketik di kertas HVS A4 spasi ganda sepanjang kurang lebih 15 halaman, dengan format seperti yang tercantum pada halaman belakang (Gaya Selingkung bagi Calon Penulis Jurnal SASTRANESIA). Naskah yang sudah masuk dievaluasi dan disunting untuk keberagaman format, istilah dan tata cara yang lainnya. 14 Isnani Nur Rizqi & Susi Darihastining, STKIP PGRI Jombang Bentuk dan Fungsi Kalimat Interogatif Konfirmasi Serta Tendensi dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci 2016 (Kajian Sintaksis) 25 Fitri Resti Wahyuniarti, STKIP PGRI Jombang Pemerolehan Makna Pragmatis Dalam Tindak Tutur Direktif Pada Anak Usia 5 Tahun 32 Endah Sari & Asri Wulandari, STKIP PGRI Jombang Mantra Bercocok Tanam Padi di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang (Kajian Struktur dan Fungsi) 40 Banu Wicaksono & Erma Rahayu Lestari, STKIP PGRI Jombang Struktur dan Fungsi Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon Bagi Masyarakat Kabupaten Jombang 48 Iwan Marwan, STAIN Kediri Objektivitas Semiotika (Ilmu Tanda) Menyingkap Firman (Tanda-Tanda Kebesaran) Tuhan 66 Moh. Badrih, Universitas Islam Malang Ekspresi Simbol Monoteis Sastra Lisan Kèjhung Madura (Telaah Semiotika Hjemslev) 74 Sultan, IAIN Pontianak Sastra Pesisir Kajian Struktur Bahasa dan Nilai Budaya dalam Pantun Pernikahan Masyarakat Melayu Sambas 85 Teater Rakyat Gambus Misri: Sebuah Kajian Struktur dan Fungsi Siti Maisaroh & Devi Nur Sugiarti Email: maysaroh65@gmail.com, devinursugiarti@gmail.com STKIP PGRI Jombang Salah satu teater rakyat yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Jombang, Jawa Timur adalah Gambus Misri. Kajian terhadap Gambus Misri dengan menggunakan teori struktur naratif Heda Jason dan teori fungsi William R. Bascom. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data utama berupa transkrip video rekaman pertunjukan dan didukung hasil wawancara narasumber Gambus Misri. Hasil dari penelitian:teridentifikasi struktur bersubindikator yang berbeda, yakni (1) word-ing terdapat unsur dialek arekan, (2) texture, terdapat beragam genre sastra lama; (3) narration, adanya hubungan alur dengan tema pertunjukan, dan (4) dramatization, dapat dipertunjukan teater rakyat Gambus Misri di era tahun 2000-an terbentuk dari tradisi lisan yang masih aktif. Hasil penelitian terkait teori fungsi adalah bahwa kesenian Gambus Misri dapat berfungsi: (1) sebagai sistem proyeksi berupa fungsi hiburan dan nostalgia; (2) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, berupa pengesahan pranata dan penyimpan khazanah budaya bangsa; (3) sebagai alat pendidikan berupa pendidikan tanpa dibatasi usia; dan (4) sebagai pemaksa dan pengawas norma berupa perilaku di atas dan di luar panggung. PENDAHULUAN eater rakyat merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa yang sangat langka keberadaannya. Oleh karena itu, penelitian terhadap salah satu unsur kekayaan budaya bangsa yang satu ini sangat penting guna menjaga kelestariaanya dan mencegah dari kepunahan. Salah satu teater rakyat yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Jombang, Jawa Timur adalah Gambus Misri. Teater rakyat menjadi bagian dari wujud sastra lisan. Sebagai bentuk hasil “tradisi lisan sebagian lisan.” Teater rakyat menggunakan tradisi lisan untuk pewarisan (yang dapat mengajarkan atau memberi pengetahuan) ke masyarakat lain sebagai pertahanan keberadaan wujud seninya. T SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Damono (Sudikan, 2015:4) memaparkan bahwa tradisi lisan tetap akan berlangsung, meskipun zaman sudah memasuki tradisi cetak.Tradisi lisan yang bersifat seni memberikan deskripsi bentuk dan cara pandang manusia pada wujud tradisi lisan. Seperti halnya sastra lisan, tidak hanya terlihat ketika sastra yang disampaikan secara lisan, tetapi juga cara pewarisan lisan sebagai ciri lain yang melekat pada sastra lisan. Selain itu, ada wujud dari tradisi lisan yang tidak hanya berupa bahasa lisan yang menjadi sastra, tetapi media lain menjadi bagian dari wujudnya, yaitu teater rakyat. Tidak semua pewarisan memberikan pertahanan yang sama persis dengan wujud asli dari hasil tradisi lisan. Terlebih jika dihadapkan pada bentuk sastra lisan, yang keindahannya relatif menjadi bagian ideo1 logi nilai masing-masing minat masyarakat. Hal ini disebabkan minat masyarakat terhadap seni justru mem-pengaruhi pewarisan dari bentuk sastra yang ada. Jika sastra lisan hanya mengalami perubahan saat ditampilkan tanpa mengubah bentuk (dalam hal ini unsurnya), maka hal tersebut dapat disebut sebagai improvisasi yang dilakukan seniman di atas panggung. Amir (2013:35) menyebutnya cara tersebut digunakan kesenian untuk menyesuaikan kekinian zaman, salah satunya dengan menyesuaikan isi per -tunjukanpada kondisi yang ada. Bentuk atau wujud dari sastra lisan tersebut jika sudah berbeda jauh dari bentuk awal, dapat dimungkinkan hal tersebut bukan bagian dari transformasi, melainkan sudah menjadi wujud pertunjukan yang memiliki sebutan lain. Atau bahkan justru bentuk lama tidak dapat bertahan, dan minat masyarakat telah terpenuhi oleh pertunjukan lain. Salah satunya, hal ini terjadi pada pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang ada di kota Jombang menjelang kepunahan di era 1980-an. Teater rakyat Gambus Misri diperkirakan sudah ada sejak tahun 1960-an di kota Jombang. Pendapat ini didukung oleh pengakuan seorang narasumber di kabupaten Mojokerto, A. Wachid Mustajab (66th) yang memberikan informasi melalui surat balasan mengenai pengalaman tentang Gambus Misri (6 Juni 2016). Beliau (Mustajab, 2016:1) menyatakan kelahiran 1951, pernah menyaksikan pertunjukan dari beberapa kelompok kesenian Gambus Misri, yang beberapa di antaranya sebanyak 2 kali. Keberadaan Gambus Misri juga diungkapkan oleh Pitono dan Haryono (2010:6), bahwa pendiri pertama grup kesenian ini ialah Asmuni bin Asfandi. Disebutkan di Jombang ada dua kesenian dari subkultur berbeda, yakni Ludruk muncul dari komunitas abangan, sedangkan Gambus Misri lahir dari komunitas Santri. Ludruk masih dapat bertahan sampai sekarang, sedangkan Gambus Misri telah mati. Selanjut2 nya, Gambus Misri mati karena harus terus -menerus repot dengan budaya Islam yang serba fiqih. Sehingga, muncul anggapan yang dinyatakan oleh Ilahi (Cahyono, 2014:2) bahwa salah satu faktor hilangnya kesenian tersebut sekitar era 1980-an karena tidak ada yang melanjutkan, dan tergeser oleh kesenian lain. Ada kesenian lain yang di dalamnya menggunakan nada musik lagu pembuka Selamat Datang dari Gambus Misri, yakni Syiir Tanpa Waton. Ini didasari pernyataan dari Cak Nun, dalam sebuah penampilan malam. Cak Nun mengajak Grup Kasidah Al Jamilah dari Desa Pulo Lor untuk melantunkan komposisi Syi’ir Tanpo Waton yang dianggap sebagai karya Gus Dur. Cak Nun menegaskan, “Syiir tanpa waton itu karya Aspandi, ayah seniman Asmuni yang kelahiran Diwek Jombang,” (Hambali, 2012). Klarifikasi siapa pencipta Syiir Tanpo Waton tersebut, disebutkan oleh Kusumawati (2013:43) bahwa pencipta aslinya ialah Gus Nizam, seorang Kyai kelahiran Sidoarjo, 23 Oktober 1973 dari pondok pesantren di kawasan Simoketawang, Wonoayu, Sidoarjo. Sedangkan, Gambus Misri (mungkin)telah ada sejak tahun 1960-an dengan berdasarkan pernyataan Mustajab (2016:1), Gambus Misri telah ada sebelum tahun tersebut (ini: melihat tahun kelahiran dari Mustajab 1951 yang masih sempat menyaksikan pertunjukan Gambus Misri), juga secara terpisah oleh Pitono dan Haryono (2010:6 dan 124), yang menyebutkan bahwa pendiri pertama Gambus Misri ialah Asmuni bin As-fandi, seniman Jombang kelahiran 17 Juni 1932. Tahun kelahiran Asmuni tersebut tentu sudah jauh lebih dahulu dari tahun Guz Nizam sebelumnya. Selanjutnya, pertunjukan Gambus Misri di awal perkembangan lebih mengambil tema-tema Islami. Gambus Misriberasal dari Jombang dan berlatar Islam dengan representasi berasal dari budaya pesantren. Sedangkan, lirik awal yang dibawaSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 kan dalam SyiirTanpa Waton yang menyamai lirik awal lagu Selamat Datang pada Gambus Misri sebagai pembuka acara, dapat diidentifikasi sebagai yang tersisa dari Gambus Misri yang ditimbulkan dari perjalanan tradisi lisan yang berkembang. Sehingga belum tentu bentuk Syiir Tanpa Waton, dapat disebut sebagai transformasi dari bentuk Gambus Misri. Bentuk Gambus Misri, sebagai teater rakyat dapat diidentifikasi dari bentuk seninya menjadi pusat pertemuan khalayak dengan seniman pada waktu dan tempat yang sama (Riantiarno, 2011:viii-1 dan 28). Selain itu, termasuk dalam gradasi sastra lisan terbesar yang terdiri dari sajian: musik, tari, dialog, nyanyian, lawakan, dan lakon. Sajian yang dikemas dalam satu pertunjukan inilah yang dikategorikan sebagai sastra lisan terbesar. Selain itu, kategori sebagai pertunjukan sastra lisan, sebab ciri pertunjukan sastra lisan dan teater rakyat memiliki kesamaan, yakni di antaranya (1) yang cenderung tidak memiliki teks dan meliputi banyak aspek: teks bahasa, musik, penataan pertunjukan (sehingga tidak ada teks yang baku, yang ada hanyalah ciri umum pertunjukan), (2) sifat pertunjukannya santai, bahkan kadang terjadi interaksi antara penyaji dengan penonton, (3) penyajian lewat dia-log tari, nyanyi. Kadang-kadang humor dimunculkan, (4) spontanitas jadi dasar pagelarannya (nilai dan laku dramatiknya) (Amir, 2013:119; Riantiarno, 2011:28). Kadarisman dalam Sukatman (2009:5) menyatakan bahwa seni Gambus Misri ditampilkan secara etnografik, ditampilkan rakyat dengan memori saja, muatan simboliknya kecil, berorientasi pada budaya kedaerahan, bernilai keseharian, dan kandungan bahasa Jawa klasiknya kecil), Gambus Misri termasuk tradisi lisan kecil. Tradisi lisan kecil yang berlaku dan kurang terorganisir dengan baik inilah yang membuat Gambus Misri mengalami pasang surut tradisi lisan. Muatan secara SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 etnografik, seperti halnya subkultur yang mendiami kota Jombang, tentu tidak dapat membuat kesenian ini sama bertahannya dengan karakter yang melekat. Sutarto dan Sudikan (2004:14-29) menyatakan Jombang termasuk budaya arekan, yang berakar dari kota Surabaya, yang diikuti juga kabupaten kota Mojokerto. Subkultur yang mendiami, terdiri dari santri, abangan, dan priyayi, ketiganya berimbang. Subkultur santri dengan karakter budaya arekan masih bertahan, tetapi Gambus Misri yang merupakan bagian dari representasinya belum tentu bertahan. Ketidakbertahanan tersebut dapat ditimbulkan akibat tradisi lisan yang mulai pasif, karena berubah dan atau menghilang unsur sifatnya. Jika berubah unsur sifatnya, dapat terlihat dari nada yang tersisa dan melekat pada lagu Syiir Tanpa Waton, ini masih berlaku sifat seni dan lisannya, tetapi bentuk pertunjukan sudah berbeda, dan tidak dapat dikategorikan sebagai transformasi. Selanjutnya, menghilang unsur sifatnya yang lain dapat berupa unsur seninya, seperti menjelang tahun 1980-an, kesenian ini mulai menghilang, dan menyisakan tradisi lisan dari pelakunya di tahun-tahun kemudian. Tradisi lisan tersebut dapat berupa cara-cara pertunjukan Gambus Misri dan berbagai pengalaman dari para pelaku belum tentu dipertunjukkan ulang seperti pada masanya. Sehingga membuat Gambus Misri tersimpan dalam ingatan para pelaku (baik seniman maupun khalayak). Selebihnya beberapa tahun kemudian, menjadi pasif. Peristiwa tersebut seperti sifat dari sastra lisan dan tradisi lisan, apabila sastra lisan tidak ditradisikan maka dapat berlaku kesastraannya, namun dalam bentuk lain (dapat dituliskan atau berubah). Tetapi jika tradisi lisan tidak dapat mempertahankan sastra (nilai keindahannya), tinggallah sebagai tradisi lisan saja. Jika tradisi lisan berhenti, sifatnya menjadi tradisi lisan pasif, baik sementara atau hilang, maupun 3 terbekukan dalam bentuk lain (Hutomo dalam Sudikan, 2015: 21; Sukatman, 2009: 3). Memasuki tahun 2000-an, ternyata teater rakyat yang berunsur musik, dialog, dan tari tersebut muncul kembali dengan transformasi baru oleh dukungan dari beberapa stake holder kesenian Jombang. Memasuki perkembangan teknologi, manusia mulai mengenal tulisan dari manual hingga cetak. Cara ini juga digunakan untuk mengawetkan tradisi lisan yang berlangsung, seperti pada teater rakyat Gambus Misri, yakni diketahui di tahun 2000-an dipertunjukkan ulang sebab penggalian dan pengawetan informasi lisan hasil tradisi yang ada. Peristiwa ini dalam fenomena kelisanan dapat disebut sebagai era lisan kedua, atau Oong (Amir, 2013:12) menyebutnyasecondary orality (kelisanan tahap kedua). Kelisanan kedua dapat terbekukan dalam media elektronik misalnya cetak, atau elektronik seperti compact disk (CD). Pembekuan elektronis tersebut dapat memperpanjang usia keberadaan tradisi lisan, termasuk berwujud sastra lisan. Sebab dapat dinikmati tanpa batas waktu pertemuan antara penutur dan pendengar. Sehingga dalam perkembangan tersebut, berlaku pada perkembangan dan perpanjangan usia sastra lisan dalam benuk elektronik, atau disebut sebagai sastra lisan elektronik. Pertunjukan teater rakyat Gambus Misri dalam upaya revitalisasi oleh pegiat seni menghasilkan juga bentuk sastra lisan elektronik. Pertunjukan melalui rekaman, yakni yang terlihat pada saat ditampilkan di TMII Anjungan Jawa Timur-Jakarta, pada Minggu (7 Agustus 2016) yang dapat diakses secara online di situs youtube.com. Bentuk tersebut muncul dan dapat beriringan dengan budaya dari masyarakat.Sastra lisan dibekukan berhenti sebab kebermaknaannya tidak dapat diserap secara langsung dan kurang menarik, akhirnya penikmat beralih pertunjukan. Oleh 4 karena itu, perlu adanya kajian terkait yang dapat memunculkan kebermaknaan yang dapat memberikan nilai lebih bagi keberadaan teater rakyat Gambus Misri. Salah satunya dengan mengkaji struktur dan fungsi pertunjukan dengan bantuan perspektif teori yang tepat. Struktur pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang disebutkan sebelumnya dianggap sama dengan Ludruk. Padahal yang dibawakan dari latar belakang muncul dan baground Islam dari kaum Santri, tentu memiliki khas untuk dapat dibedakan. Apalagi pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang ditampilkan di Anjungan Jawa Timur TMII di Jakarta, pada Minggu 7 Agustus 2016 berbeda dengan pertunjukan Gambus Misri sebelumnya. Pertunjukan yang didokumentasikan ini tetap mempertahankan unsur dari Gambus Misri, tetapi esensi pertunjukan yang dibawakan berbeda. Pertunjukan di TMII memiliki ciri yang mendekati pakem pertunjukan Gambus Misri yang lama (lebih terbagi menjadi beberapa bagian sajian berbeda seperti pembagian sajian pada Ludruk, yang dijelaskan pada buku sejarah dan Budaya Jombang), dan seperti ciri pertunjukan teater rakyat atau sastra lisan. Selain itu, judul lakon yang sama seperti teks drama teater modern Sandiwara Gambus Misri di Depag, yakni Senja yang Berceritamemiliki beberapa perbedaan pembawaan, seperti jika di TMII alur cerita maupun perilaku pemain di atas panggung terdapat banyak gubahan dan menyesuikan pakem lama; maka pertunjukan di Depag lebih pada alur teks drama, yang unsur sajian tidak terbagi seperti di TMII, karena pertunjukan ini mengikuti alur teks. Perbedaan itulah yang menarik penulis meneliti struktur pertunjukan Gambus Misri di TMII, dengan alasan sajian terbagi tidak mencirikan alur teks teater modern. Mengingat seperti pendapat Amir (2013:119) bahwa teks pertunjukan sastra SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 lisan cenderung tidak memiliki teks dan meliputi banyak aspek; seperti: teks bahasa, musik, penataan pertunjukan (sehingga tidak ada teks yang baku, yang ada hanyalah ciri umum pertunjukan). Pertunjukan sesuai pakem inilah yang menjadi ciri umum teks abstrak dari susunan sajian Gambus Misri yang lama. Ini sebagai ciri khas dari Gambus Misri di TMII sebagai bentuk teater rakyat, sebab masih menyisakan ciri tradisi lama pada Gambus Misri di eranya. Pembahasan struktur dengan kajian teori, dapat memberikan sudut pandang baru juga sebagai pertahanan struktur lama melalui kajian dari teori struktur yang dipakai. Pemaknaan dari segi fungsi didasarkan dari pernyataan Amir (2013: 78), bahwa sastra lisan lebih dominan unsur hiburan dan pendidikan. Jika pada masanya, sebelum teknologi berkembang, Gambus Misri diminati masyarakat sebagai media hiburan, dan pendidikan dari segi dakwah lakon yang dibawakan (Wawancara A. Manan, 72th: 6 dan 8 Maret 2017). Maka dengan bantuan sudut pandang teori yang lain, dapat digali lagi fungsi-fungsi yang tidak terlihat dan kurang termanfaatkan. Dengan demikian, kajian teori terhadap pertunjukan teater rakyat Gambus Misri membuka keberagaman fungsi, dapat memperpanjang pemanfaatan keberadaan teater rakyat, juga pelestarian dan inventarisasinya. Teori yang digunakan untuk mengkaji keberadaan sastra lisan elektronik, berupa pertunjukan teater rakyat Gambus Misri di TMII pada Minggu 7 Agustus 2016, ialah teori struktur naratif milik Heda Jason (Sudikan, 2015:98-99) dan teori fungsi William R. Bascom (Danandjaja, 1994:19; Sudikan, 2015: 151; dan dielaborasi dengan penjabaran fungsi oleh Amir, 2013:169). Struktur naratif Heda Jason dipilih karena tingkat struktur yang digunakan memiliki identifikasi yang dapat dipecah SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dan disesuaikan dengan bentuk sastra lisan yang hendak dikaji. Sifat teori yang fleksibel ini dapat membuka sastra lisan, yang wujudnya tidak selalu dibentuk atas resepsi teks sastra sebelumnya, tetapi pertunjukan dapat dilakukan secara spontanitas penampil. Tingkat struktur tersebut meliputi: (1) Wording; atau disebut sebagai tingkat kata. Pembahasan melingkupi sistem linguistic. Dalam sastra lisan, hal ini dapat dikaitkan dengan ciri folk penghasil bahasa, sehingga karakteristik bentuk kata dari bahasa dapat teridentifikasi; (2) Texture; tingkat jalinan makna pada isi sajian sastra dapat meliputi: masalah ciri-ciri bahasa prosa dan puisi, gaya sebuah genre, kebudayaan atau aliranaliran pencerita dan penyanyi, dan gaya yang aneh perseorangan di dalam pertunjuk-an; (3) Narration; tingkat jalinan plot (alur) cerita. Ini tidak terikat pada bentuk narasi saja, tetapi juga pada ciri pertunjukan yang telah dibahas sebelumnya, teks sastra lisan sendiri adalah keseluruhan dari pertunjukan, maka jalinan plot (alur) dapat juga ditandai dengan musik, tarian, atau bahkan nyanyian; (4) Dramatization; dapat berupa akuistik, visual, dan aspek-aspek gerak yang merupakan elemen-elemen setiap pertunjukan sastra lisan, atau penciptaan sastra lisan (Sudikan, 2015:98-99; Nurgiyantoro, 2010: 273). Fungsi sastra lisan mengikuti fungsi yang ada pada tradisi lisan. Sebab, sastra lisan diketahui merupakan bagian dari wujud hasil tradisi lisan dengan pembeda terdapat unsur estetika atau keindahan.Teori fungsi William R. Bascom, dipilih sebab dianggap sebagai perintis jalan teori fungsi pada tradisi lisan, yakni meliputi: (1) sebagai sistem proyeksi; (2) sebagai pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan; (3) sebagai alat pendidikan anak; dan (4) sebagai alat pengawas dan 5 pemaksa norma. Penjabaran fungsi sastra lisannya, ialah fungsi khusus dari masingmasing minat individu pembawa sebagai kesamaan kolektif yang tercermin dalam fungsi umum tradisi lisan. Amir (2013:3643 dan 168-170) menyatakan ada beragam fungsi yang terdapat pada sastra lisan, di antaranya: (1) fungsi hiburan (memberikan hiburan); (2) fungsi sosial (gotong royong, dan kegiatan masyarakat lainnya); (3) fungsi pendidikan (berlaku pada semua kalangan, baik seniman, khalayak, atau umum); (4) fungsi nostalgia (mengingat kenangan, seperti ikatan berkampung dengan sanak saudara); (5) fungsi penghimpun dana; (6) fungsi politik (dapat berupa kritik, atau tujuan politik), (6) khazanah bangsa (penyimpan sejarah, budaya, dan ilmu); dan (7) sebagai penyimpan nilai budaya dan identitas suatu bangsa dan negara. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif. Alasannya didasarkan pendapat Corbin dan Strauss (2009: 5 dan 31) bahwa metode tersebut dapat digunakan untuk memahami dan mengungkap sesuatu di balik feno-mena yang baru atau tidak diketahui sama sekali.Pengalaman yang ada akan membantu kepekaan teoritik pada suatu objek. Objek/sumber data pada penelitian adalah pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang ditampilkan di Anjungan Jawa Timur TMII Jakarta pada Minggu 7 Agustus 2016. Objek diakses secara online pada laman youtube.com. Objek ini menjadi sumber data utama yang diubah melalui proses pentranskripan yang didasarkan pada struktur naratif dalam pertunjukan sastra lisan adalah semua yang ada dalam pertunjukan. Selain itu juga didukung dari hasil wawancara danberagam dokumen. 6 Data penelitian identifikasi berupa: (1) wording, yakni difokuskan pada bentuk kata yang digunakan dalam pertunjukan disesuaikan dengan masyarakat pembentuknya; (2) texture, difokuskan pada bentuk ciri genre bahasa yang dike-nali dengan pengait maknanya, (3) narration, tidak hanya disebut sebagai plot yang tercermin pada lakon, tetapi juga tema pertunjukan sebagai penyambung alur pertunjukan, dan (4) dramatization difokuskan pada proses munculnya sastra lisan di era 2000-an. Sedangkan untuk data fungsi akan dikenali berdasarkan perilaku yang terlihat dan yang mengidentifikasikan nilai guna yang dapat dilekatkan sebagai identifikasi fungsi terkait. Selanjutnya data tersebut diberi kode nomor sesuai transkrip video pertunjukan, akan dikode “VNo…” sebagai kode transkrip video pada nomor…. Sedangkan data transkrip wawancara, maka kode data “W-No…” sebagai kode transkrip wawancara pada nomor…. Serta untuk dokumen pendukung dikode seperti contoh: Dok.(1)/SD1, merujuk dokumen nomor (1), teridentifikasi struktur Dramatization data nomor 1. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN Kajian Struktur dalam Lakon Struktur yang ditemukan ada yang tidak terlepas dari latar belakang folk yang mengikuti. Dengan demikian, struktur yang terdapat dalam pertunjukan teater rakyat Gambus Misri memiliki kesatuan meskipun secara analisis dibedakan ke dalam tingkat berbeda, seperti berikut ini. 1. Wording Tingkat kata yang terdapat pada pertunjukan terlihat pada transkrip dialog. Pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang berasal dari kota Jombang, tidak terlepas dari subkultur pengisi karakter dari masyarakatnya, sehingga mempengaruhi cara-cara hidup, termasuk dalam bahasa komunikasi. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Jombang termasuk dalam subkultur arekan, dengan karakter sifat nJaba nJero Padha (terbuka), Jer Basuki Mawa Bea (rela berkorban), dan Sesanti ya apa enake (musyawarah). Tidak jarang karena sifat tersebut mempengaruhi bahasa, menjadi dituturkan dengan cepat, terkesan kasar (tingkat tutur Jawa lebih bersifat campuran antara halus dan kasar), dan lebih pada to the point. Seperti yang terlihat pada data berikut. Pelawak 1 : …gak enak iki, (1) (2) mandeke! Kurang sitik, manéh! (3) (4) (5) (Kode. V-No.3) Data tersebut menunjukkan adegan pada sajian lawakan dalam pertunjukan teater rakyat Gambus Misri. Dialog yang dituturkan oleh Pelawak 1 menunjukkan sikap keterbukaan terhadap lawan bicara, dengan mengungkapkan “…gak enak iki mandeke!” yang ditujukan pada peristiwa pemberhentian musik yang tidak enak dari dendangan yang dilakukan oleh tim pemusik. Dari dialog ini juga dapat diketahui bahwa dialek arekan, yang digunakan dituturkan secara tidak lengkap untuk mempercepat penuturan, seperti kata “iki” yang berarti “ini” sebagai kata adverbial pengganti referensial terhadap peristiwa bermusik dan menari yang dilakukan oleh pelawak. Selain itu, bentuk dari kata yang digunakan terdapat proses afiksasi, seperti kata “mandeke” yang berasal dari kata “mandek” bersufiks “-e” sebagai kata ganti petunjuk “-nya.” Beberapa penggunaan lain dari dialek arekan ini ialah, terdapat campur kode (bahasa Jawa dan bahasa lain serumpun, dikombinasi saat berkomunikasi), dan penuturan idiolek yang disepakati bersama (sebab pemahaman antar penutur), yang dapat dilihat pada penuturan Kurang sitik, manéh!Yakni teridentifikasi “kurang” berarti sama dengan tuturan bahasa IndoSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 nesia, dan “sitik” yang terkadang dituturkan“titik” pada peristiwa dialek keseharian personal yang dijumpai peneliti di lapangan sebagai idiolek, yang berarti “sedikit. 2. Texture Tidak jarang juga penuturan dialog dalam pertunjukan diselingi beberapa genre bahasa. Beberapa di antaranya tidak terlihat dan teridentifikasi, sebab menjadi satu kesatuan dalam pertunjukan. Sehingga jarang dijumpai secara terbuka dan mandiri, kecuali pada sajian tertentu, seperti nyanyian atau lakon, yang sudah kentara ciri genrenya. Ini terlihat pada data berikut. Peti bukan sembarang peti Peti yang baik, jati kayunya Sampiran Bupati bukan sembarang bupati Bupati yang baik yang selalu memikirkan kesejahteraan rak-yatnya! Isi (Kode. V-No.395) Data tersebut adalah bagian dari nukilan dialog yang dituturkan oleh Bintang Tamu 1. Bahasa yang diucapkan berupa pantun. Genre ini ditandai dengan adanya dua baris sampiran dan isi, yang masingmasing memiliki rima kembar atau berseling. Seperti yang terlihat pada bunyi akhir pantun tersebut berseling /-ti/-nya/ti/-nya/. Selain itu ada genre sastra daerah seperti halnya cangkriman wancah. Cangkriman wancah merupakan bentuk akronim Jawa yang kegunaannya lebih pada fungsi teka-teki. Seperti pada data berikut. Bintang :Pak Nyono itu kalau ibaratnya mobil, SusukiVitara… Bintang :Artinya? Bintang :Sungguh-sungguhlakilaki,vitalitastiadatara …… (Kode. V-No.437-439) Terlihat pada data bergaris bawah sebagai akronim yang mengandalkan bunyi 7 dan bentuk singkatan yang menyerupai nama kendaraan. Sehingga pernya-taan tersebut lebih menimbulkan pertanyaan serupa teka-teki, yang akhirnya dijabarkan berdasarkan pecahan suku kata su-su-ki ka -ta-ra yang be-rarti “Sungguh-sungguh lakilaki, vitalitas tiada tara.” Bentuk-bentuk genre tersebut sengaja dituturkan dan menjadi bagian dari dialog pada sajian lawakan, dan bukan berdiri sendiri sebagai sajian pantun sebagaimana sajian nyanyian yang sudah tentu diketahui bentuknya. Seperti data berikut. “Mari bergandengan jangan dilepaskan… bernyanyi bersama dengan suka cita…. Hati yang terluka jiwa yang tersiksa Raga yang t’lah lelah, semua akan sirna…. (Kode V-No.2) Lirik tersebut merupakan nukilan yang ada pada sajian nyanyian yang ditampilkan di awal pertunjukan setelah lagu Selamat Datang pada kode yang sama (V-No.2). Bentuk dari lirik syair tersebut hampir sama dengan pantun, yakni menggunakan bunyi rima serupa yakni /a/a/a/a/ pada bunyi akhir ucapan tiap barisnya. Ditemukannya beragam genre tersebut pada bentuk sastra lisan tidak terlepas dari ciri folk masyarakat Jombang, yang pernah dipengaruhi budaya Melayu yang masuk dalam sendi-sendi agama Islam sebagai bagian dari ciri kaum santri. 3.Narration Narration pada pertunjukan teater rakyat Gambus Misri ditandai dengan tema pertunjukan. Tema yang dimaksud sebagai penjalin rangkaian antarsajian yang ditampilkan, bukan sekadar terlihat pada pemplotan seperti pada cerita, tetapi juga dapat terlihat pada tema-tema sajian yang dapat disatukan menjadi tema utama pertunjukan sebab kesamaan yang ditemukan. Tema utama pertunjukan teater rakyat Gambus Misri di TMII pada Minggu, 8 7/08/2016 ialah Gam-bus Misri (sebagai kesenian) dan Jombang. Tema ini terlihat pada seringnya disebutkan kata gambus misri, kesenian, dan Jombang pada tiap sajian yang berbeda. Seperti berikut. Pelawak 1: Ada apa aja kesenian di Jombang? (Kode V-No.261) Terlihat pada nukilan, terdapat kata kesenian dan Jombang. Ini menunjukkan bahwa pertunjukan sengaja menampilkan tema khusus pada percakapan yang dilakukan, yakni kesenian yang ada di kota Jombang, baik itu termasuk juga Gambus Misri. Dengan demikian tema-tema tersebut secara tidak langsung terucapkan dan ditunjukkan melalui tindakan di atas panggung, sebagai bagian dari penjalin antarsajian yang berbeda. 4. Dramatization Tingkat dramatization yang dipilih peneliti lebih ditujukan pada perjalanan munculnya sastra lisan elektronik, yakni adanya pertunjukan teater rakyat Gambus Misri secara online di era 2000-an. Ternyata ini tidak terlepas dari proses pemanjangan tradisi lisan yang terus digali dan diterapkan ulang tanpa menghilangkan unsur yang ada dalam pertunjukan Gambus Misri. Seperti yang terangkum dalam kegiatan berikut ini. 1. Penggalian data, penulisan ulang, dan pertunjukan Gambus Misri oleh tim pelestari. “… Catatan ini hanya merupakan pintu masuk darurat yang mencoba menguak tabir yang menyelimuti Gambus Misri. Pertemuan dengan beberapa pelaku dan penikmatnya coba dihadirkan untuk memberikan gambaran awal atas upaya penelurusan, penggalian, rekonstruksi, revitalisasi, pelestarian, dan pengem-bangan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Gambus Misri ke depan (Nanang, dkk., 2012:531).” (Kode Doc.1a/SD) Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tradisi lisan digali, dan dipertunjukkan ulang sebagaimana yang didapatkan pada tradisi lisan pada sastra yang ada. Beberapa di antaranya memberikan pertun -jukan sebagai bentuk revitalisasi atau proses menghidupkan kembali, seperti yang satu di antaranya dilakukan oleh Almarhum Badar Alamudy, mantan pemain Gambus Misri, di Alun-Alun Jombang (Nanang, dkk., 2012:535-536). Kemudian pertunjukan tersebut ditulis dan didokumentasikan dalam buku yang sama. Ini menjadi bagian dari pembekuan tradisi lisan pada bentuk sastra ke dalam tulisan, sebelum pada akhirnya menguap kembali menjadi tradisi lisan beri-kutnya. 2. Penggalian data, pengajaran Gambus Misri di dunia pendidikan sebagai bagian pemanjangan tradisi lisan pada sastra lisan …Upaya yang lain untuk merevitalisasi gambus misri ini juga dilakukan Imam Ghozali. Guru, dosen dan pegiat seni komunitas Tombo Ati Jom-bang ini juga tak kalah dalam melakukan revitalisasi pada kesenian yang sebelumnya dikatakannya telah punah ini. Upayanya juga tak mainmain, dengan latar belakang pendidikan tingginya, ia tak saja sekedar mengumpulkan alat, pelakon, dan bermain. Namun dirinya mampu melakukan langkah yang bisa dibilang cukup komprehensif dalam revitali-sasinya tersebut. Seperti adanya peneliti-an terlebih dahulu untuk mengumpulkan data valid selama kurang lebih setahun. Sebelum akhirnya mulai diperkenalkan pada kalangan pendidikan tempatnya bekerja. “Kegiatannya mungkin total sudah tiga tahun terakhir. Tahun pertama kita lakukan penelitian dulu bersa-ma mahasiswa saya, SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 kemudian setelah data valid baru pelanpelan kita coba kepada siswa SD di dua tahun setelahnya,” ujar pria yang juga guru di SDN Jombatan 2 Jombang ini (Riza W, 2017:37).” (Kode.Doc.6b/SD) Kegiatan yang dilakukan oleh salah satu pegiat seni, sekaligus juga berasal dari akademisi, menunjukkan bahwa tradisi lisan yang ada tidak sekedar diterima secara mentah. Sebab perlu untuk digali ulang dari tradisi lisan yang berbeda, yakni dari keterangan individu yang satu dengan yang lain. Upaya ini akan mengurangi penyebaran informasi yang salah, sebagai bentuk pemurnian tradisi lisan untuk menemukan bentuk dari tradisi lisan pertama, termasuk juga dalam sastra lisan. Penyampaian ulang seperti memberikan pengajaran di dunia penddikan, ini dilakukan dengan perlahan dan bertahap sesuai dengan usia, seperti yang di-lakukan oleh pegiat seni pada penjelasan dokumen tersebut. Pemanjangan tradisi lisan selanjutnya dapat memperkecil resiko kesalahpahaman akibat penerimaan pemahaman yang berbeda dari masing-masing penerima informasi. Agar ketika disampaikan selanjutnya, ingatan tetap memberikan wujud tradisi lisan yang sama. 3.Tradisi Lisan dari Pelaku Seni juga masih menampilkan sastra selain proses pertunjukannya. Ns: Iya. Jadi misalkan raja, Raja Sulaiman jika menjadi, apa sebutannya, menunjukkan bahwasannya, Nabi Sulaiman itu adalah nabi, yang di semua negeri, segala macam ucapan binatang apapun, tahu dia. Terus dia sebagai pemimpin, yang betul-betul menegakkan keadilan rakyat nya. Contohnya biasanya begini judulnya, ada cerita orang yang saling berebut anak. Sangat ribut… … (translate wawancara Kode.W3No.148) 9 Kisah Nabi Sulaiman yang dituturkan oleh narasumber (Ns), sebagai hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap narasumber (A. Manan, 72th: 6 dan 8 Maret 2017) menunjukkan bahwa lakon dari pertunjukan Gambus Misri di masanya mengkisahkan cerita tersebut. Hal ini pada tradisi lisan oleh pelaku, masih menyisahkan sastra lisan yang tercermin pada kisah Nabi Sulaiman secara tutur lisan personal, dan bukan di panggung. 4. Dokumentasi tertulis dan rekam elektronis sebagai pembekuan sastra lisan (sastra lisan elek-tronik). Perhatikan gambar screen shoot laman youtube.com berikut ini! Gambar tersebut diperoleh pada rekaman pertunjukan teater rakyat Gambus Misri secara online. Revitalisasi yang dilakukan oleh pegiat seni sebelumnya, memberikan beragam kegiatan seperti penggalian data, rekontruksi, dan akhirnya menghasilkan pertunjukan. Pertunjukan yang terekam menunjukkan bahwa sastra lisan dapat terbekukan dan dinikmati secara ulang tanpa harus melihat secara live. Penyebarannya yang secara online, tanpa menghilangkan unsur suara lisan, dan sastra, menunjukkan tradisi lisan masih dapat tersebar. Kajian Fungsi lakon Fungsi yang ditemukan pada pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang ditam10 pilkan secara onli-ne, cukup beragam. Fungsi-fungsinya diidentifikasi melalui transkrip teks dan meninjau ulang khalayak beku yang terekam dalam video. Berikut beberapa fungsi di antara yang telah ditemukan. 1. Fungsi sebagai sistem proyeksi Fungsi ini memosisikan bah-wa pertunjukan sebagai representasi yang dapat mewujudkan angan seperti ketika khalayak mendapatkan hiburan atau terhibur atas kenangan yang disampaikan. Pelawak 1: Ini kompaknya, keluarga besar, Jombang ya?! Pelawak 2: Ya! Pelawak 1: Ya di sini juga kan ada Pager Ijo… ?! Pelawak lain: Ya! Pelawak 1: Walau di perantauan, tapi tetap, hatinya tetap di Jombang…! (Kode.V-No.56-60) Nukilan data dialog tersebut menunjukkan secara terbuka, bahwa keberadaan mereka tidak berada di wilayah Jombang. Sehingga ketika pertunjukan dibawa di tempat lain, secara terbuka pemain di atas panggung dapat menunjukkan identitas berkampungnya. Hal ini disebabkan, karena pertunjukan yang digelar me-miliki tujuan dan bertajuk khas Jombang, maka fungsi nostalgia muncul dan terlihat pada khalayak beku. 2. Fungsi Pengesahan Pranata-Pranata dan Lembaga Kebudayaan Fungsi berikut digali berdasarkan peristiwa sastra lisan yang terjadi dan tidak jarang secara implisit berdasarkan transkrip videonya. Seperti berikut ini. Protokol: Hadirin yang berbaha-gia, inilah Sandiwara Gambus Misri, pimpi-nan Joko Bromo lakon judul Sarip Tambak Oso… selamat menyaksikan! (Kode.V-No.998) SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Tidak tampak bahwa adanya fungsi yang dapat dimanfaatkan dari nukilan data transkrip pertunjukan tersebut. Seolah data tersebut hanya memberikan pernyataan biasa. Tetapi sebenarnya fungsi yang dimunculkan bukan dari pernyataan yang didengar, melaikan dari wujud pernyataan dialog tokoh dalam lakon yang dimunculkan dan tersimpan secara beku dalam pertunjukan yang telah didokumentasikan. Dengan demikian, pernyataan tersebut memiliki fungsi menyimpan informasi yang baik sebagai bagian dari khazanah sejarah bangsa berupa pemaparan perjalanan seni Gambus Misri di kota Jombang, berserta lakon yang biasa dimunculkan pada zaman pertunjukan ini masih eksis di masyarakat, yang ditunjukkan dengan penyebutan “…lakon judul Sarip Tambak Oso…”pada dialog tersebut. Fungsi ini dapat termasuk dalam fungsi pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan. Sebab, lembaga kebudayaan tercermin dari khazanah bangsa sebagai bagian budaya yang pernah dilakukan dan dibentuk oleh masyarakat dalam sebentuk kesenian teater rakyat Gambus Misri. 3. Fungsi Pendidikan Anak Fungsi pendidikan anak yang dimaksud ialah pendidikan pada ge-nerasi bangsa. Ini terlihat pada data berikut. Bintang: Jadi gini, saya saja. Gini. Kenapa, Tuhan itu menciptakan, dua telinga… Bintang tamu 2: He? Bintang tamu 3: …satu mulut? Bintang tamu 1: Agar? Bintang: Agar manusia itu lebih banyak mendengarkan, daripada berbicara! (Kode.V-No.588-592) Percakapan para Bintang tamu, menunjukkan bahwa ada amanah yang disampaikan melalui tanya jawab. Pertanyaan terlontarkan dari Bintang Tamu 3, Kenapa, SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Tuhan itu menciptakan, dua telinga… satu mulut? Ternyata jawabannya dinantikan penutur lain. Selanjutnya, Bintang Tamu 3 menjawab pertanyaannya sendiri, Agar manusia itu lebih banyak mendengarkan, daripada berbicara! Dari tanya jawab yang dilontarkan oleh orang yang sama, d-pat dijadikan menjadi satu pesan, yakni alasan Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut pada manusia, ialah agar manusia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Pesan ini mendidik agar manusia, terlebih pada era sekarang, harus lebih banyak memperhatikan dan mendengarkan informasi untuk mendapatkan informasi yang baik. Bila manusia mendapat informasi, kemudian tergesa-gesa disampaikan tanpa manfaat dan dasar yang benar, maka dapat menimbulkan informasi yang salah, dan kekacauan yang sia-sia. Seperti beredarnya gossip dan beritahoax di kalangan usia. Dari pesan ini, moral didiknya ialah manusia harus membiasakan menyaring infor-masi, dengan banyak belajar dari pendengaran maupun penglihatan. 4. Sebagai Alat Pemaksa dan Pengawas Norma Fungsi pemaksa dan pengawas norma terlihat pada perilaku yang menjadi kebiasaan dan selalu diawasi sebagai norma yang berlaku. Fungsi ini terlihat pada data berikut. Pelawak 1: (Menunjuk Pelawak 2) Ini ‘kan lebih tua, biasa-nya yang lebih tua ‘kan, kita harus menghormati yang lebih tua, yang lebih sepuh itu harus dihormati…! Biasanya! (Kode. V-No.104) Norma yang terlihat ialah kewajiban untuk menghormati orang yang lebih tua. Secara sadar, Pelawak 1 mengungkapkan hal tersebut, karena norma yang berlaku membudayakan kewajiban sikap tersebut. Budaya ini tidak hanya berlaku ketika 11 berhadapan orangtua sebagai hubungan darah, melainkan juga pada orang lain yang lebih tua. Dalam budaya adat ketimuran, menghormati orang yang lebih tua, juga diatur dalam agama dan kepercayaan. Jika hal tersebut dilanggar akan membawa petaka, seperti ketika mendurhakai orangtua (baik yang masih ada hubungan darah atau tidak). Sebab orang yang lebih tua, dianggap sebagai orang yang sudah memiliki pengalaman dan ilmu yang banyak berdasarkan panjang usia perjalanan hidupnya. Sehingga perlu dihormati keberadaannya di manapun.Secara sadar norma ini diawasi oleh setiap orang apalagi dalam suatu pertunjukan. Khalayak sebagai alat pengawas norma. Jika di atas pang-gung, pengawasnya adalah pemain yang membenarkan perilaku yang lain. PENUTUP Struktur naratif pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang ditampilkan di TMII pada Minggu, 7 Agustus 2016, yang diakses secara online pada laman youtube.comberupa: (1) wording ditemukan unsur dialek arekan pada bentuk kata sebagai bahasa yang digunakan; (2) texture dapat membedah beragam genre sastra dan wacana lain yang terdapat dalam pertunjukan, dan menjadi bagian dari yang ditampilkan, meliputi, cangkriman wancah, pantun, syair, dan wacana narasi dan deskripsi; (3) narration terlihat pada kata Gambus Misri, kesenian, dan Jombang sebagai penjalin antarsajian, yang dirangkum dalam satu tema Gambus Misri (sebagai kesenian) dan berkaitan dengan kota Jombang; (4) dramatization dapat membuktikan bahwa pertunjukan teater rakyat Gambus Misri yang direkam dan tersebar secara online di era ini ialah akibat tradisi lisan yang masih aktif dan berunsur sastra, di kalangan pelaku seni dengan didukung beberapa kegiatan dari stake holder seni di Jombang. 12 Fungsi pertunjukan teater rakyat Gambus Misrimeliputi: (1) sebagai sistem proyeksi yang terdiri dari fungsi menghibur dan nostalgia, (2) sebagai alat penge-sahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, (3) sebagai alat pendidikan anak, tanpa batasan usia anak didik, dan (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas norma, DAFTAR PUSTAKA Amir, Adriyetti. 2013. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Pener-bit Andi. Danandjaja, James. 1994. Foklor Indonesia. Jakarta: PT Temt-print Grafiti Press. Hambali, Jalaluddin. 2012. Cak Nun Budayawan Asal Menturo, Sumobito Pulang Kampung. Edisi (tidak diketahui; Pementasan terjadi pada Selasa, 14 Agustus 2012 malam). Jawa Pos. Kusumawati, Ayu Diah. 2013. Bentuk Lagu “Tanpa Watan” Karya Gus Nizam Di Pondok Pesan-tren Ahlus-Shofa WalWafa Desa Simoketawang Kecamatan Wonoayu Kabu-paten Sidoarjo. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Koentjoroningrat. 2000. Kebudayaan dan Mentalitas Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia. Moeleong, Lexi J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Cet. ke 9. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nanang., dkk, 2012. Sejarah dan Budaya Jombang. Jombang: Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang. Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pitono, Djoko., dan Kun Haryono. 2010. Profil Tokoh Kabupaten Jombang Jombang: Pemerintah Kabupaten Jombang. Riantiarno, N. 2011. Kitab Teater. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Riza W., Achmad. 2017. Melihat Nasib Gambus Misri Kesenian Asli Jombang (1). Radar Jombang, hal. 24, edisi Kamis, 6 April 2017. Jombang: Jawa Pos Radar Jombang. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 ________. 2017. Melihat Nasib Gambus Misri Kesenian Asli Jombang (2-habis). Radar Jombang, hal. 32, edisi Jumat, 7 April 2017. Jombang: Jawa Pos Radar Jombang. Sudikan, Setya Yuwana. 2015. Meto-de Penelitian Sastra Lisan. Lamongan: CV Pustaka Ilalang Group. Sukatman. 2009. Butir-Butir Tradisi Lisan Indonesia. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 13 Komposisi Verbal Dalam Koran Jawa Pos Bulan Juli 2017 Heny Sulistyowati E-mail: heny.sulistyowati@gmail.com STKIP PGRI Jombang Salah satu proses morfologi yang menggabungkan dua unsur kata (morfem) atau lebih sehingga menimbulkan makna atau arti baru disebut komposisi. Proses pembentukan kata majemuk (komposisi) memiliki pengembangan bentuk berdasarkan konstruksi kelas katanya, yaitu komposisi nominal, komposisi verbal, dan komposisi adjektival. Penelitian ini mengambil permasalahan tentang wujud komposisi verbal yang memiliki hubungan makna setara, berlawanan, dan bersinonim antarunsur pembentuk kata majemuk. Objek yang digunakan, yaitu Koran Jawa Pos. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode deskriptif kualitatif.Penelitian dilakukan dengan mencatat kata-kata yang termasuk kata majemuk verbal dalam sebuah tabel yang dibuat berdasarkan rumusan masalah, .Hasil penelitian data yang diperoleh ditemukan bentuk komposisi verbal dengan hubungan makna setara seperti, menipiskan bibir, jalan tol, ulang tahun, unjuk gigi. Bentuk komposisi verbal dengan hubungan makna berlawanan antarunsur seperti, jual beli, keluar masuk, dan bongkar muat. Komposisi verbal dengan hubungan makna bersinonim antarunsur pembentuk peneliti menemukan pada kata diam tercengang dan melonjak tinggi. Bentuk komposisi verbal yang diperoleh berupa unsur dasar: verba + verba (V+V), verba + nomina (V+N), dan verba + adjektiva (V+Adj). Kata Kunci: Penggunaan komposisi, verbal PENDAHULUAN lat komunikasi merupakan suatu media yang digunakan oleh manusia untuk mengungkapkan ide-ide yang hendak disampaikan dan mampu menyampaikan pesan yang diterima. Bahasa sebagai salah satu alat komunikasi dapat menghubungkan manusia satu dengan yang lain dalam berinteraksi. Komunikasi tidak akanterjadi dengan sempurna bila tidak ada respon dari lawan bicara. Manusia berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa. A 14 Menurut Kridalaksana (Kushartanti dkk., 2009:3-4) bahasa ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. Dengan demikian, bukan berarti sejumlah unsur yang terkumpul secara tidak beraturan. Unsur-unsur bahasa “diatur” seperti polapola yang berulang sehingga salah satu bagian saja tidak tampak maka secara keseluruhan ujaran tersebut dapat dirasakan.Sifat tersebut dapat dijabarkan lebih SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 jauh dengan mengatakan bahwa bahasa itu sistematis berarti bahasa dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang terkombinasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan.Bahasa bersifat sistematis berarti bukan sistem yang tunggal melainkan terdiri dari beberapa subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem gramatika, dan subsistem leksikon. Berkaiatan dengan bentuk, morfologi merupakan cabang dari ilmu bahasa yang mempelajari tentang seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan betuk kata terhadap kelas kata dan arti kata. Perubahan-perubahan bentuk kata terhadap kelas kata dan arti kata terjadi akibat dari proses morfologi seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi (pemajemukan).Komponen atau unsur pembentuk kata, yaitu morfem (morfem dasar atau morfem imbuhan). Selain afiksasi, reduplikas, dan komposisi, dapat dijelaskan bahwa komposisi ialah suatu proses morfologis dalam membentuk suatu kata dengan cara menggabungkan dua atau lebih kata menjadi satu sehingga menimbulkan arti kata baru. Hasil dari proses komposisi berupa kata yang biasa disebut dengan kata majemuk. Penelitian yang dilakukan pada Jawa Pos Edisi Juli 2017 memiliki sisi kemenarikan.Penggalian dan pemahaman lebih dalam mengenai jenis komposisi verbal merupakan tujuan utama dari pe-nelitian ini.Peneliti dalam penelitian ini dapat mengetahui tata bentuk bahasa Indonesia yang digunakan dalam Koran Jawa Pos yang merupakan salah satu Koran yang beredar setiap hari di Indo-nesia. Peneliti ingin lebih memahami tentang pengertian komposisi dan jenis-jenis komposisi melalui penelitian ini se-hingga peneliti bisa membedakan antara komposisi dengan frase. Berdasarkan konteks penelitian yang sudah dijelaskan tersebut peneliti memSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 bahas permasalahan tentang bagaimanakah wujud komposisi verbal yang memiliki hubungan makna setara, berlawanan, dan bersinonim antarunsur pembentuk kata majemuk verbal. Objek yang digunakan ialah majalah Jawa Pos Edisi Juli 2017. LANDASAN TEORI Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau mempelajari seluk-beluk struktur kata serta pengaruh perubahan-perubahan struktur kata terhadap kelas kata dan arti kata (Putrayasa, 2010:3).Hal ini dijelaskan oleh Chaer (2008:3) bahwa secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti “bentuk” dan logi yang berarti “ilmu”, Dengan demikian, yang dimaksud dengan morfologi yaitu ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata. Kegiatan dalam membentuk kata diperlukan suatu komponen atau unsur pembentuk kata, yaitu morfem baik yang berupa morfem dasar maupun afiks dengan berbagai alat proses pembentukan kata itu, seperti afiks dalam afiksasi, duplikasi dalam reduplikasi (pengulangan), penggabungan dalam pembentukan kata melalui komposisi, dan lain sebagainya. Proses morfologi adalah suatu sistem pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (afiksasi atau imbuhan), pengulangan (reduplikasi), penggabungan (komposisi), pemendekan (akronimisasi), dan pengubahan Hal status (konversi). Bentuk dasar alat pembentuk (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akroniisasi, dan konversi), makna gramatikal dan hasil proses pembentukanmerupakan komponen dalam proses morfologi. Proses ini berbeda dengan analisis morfologi yang mencerai-beraikan kata (sebagai satuan sintaksis) menjadi bagian-bagian atau satuan yang lebih kecil. 15 Komposisi Menurut Chaer (2008:209) komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar (biasa berupa akar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata. Proses komposisi dalam bahasa Indonesia merupakan satu mekanismeyang cukup penting dalam pembentukan dan pengayaan kosakata. Proses pemajemukan atau komposisi adalah peristiwa penggabungan dua morfem dasar atau lebih secara padu dan menimbulkan arti yang relatif baru. Hasil proses pemajemukan disebut dengan bentuk majemuk, misal kamar tidur, buku tulis, kaki tangan, keras kepala, meja makan, mata air, sapu tangan dan simpang siur. Bentuk-bentuk majemuk pada contoh yang sudah disebutkan masing-masing terdiri atas perpaduan bentuk dasar kamar dan tidur, buku dan tulis, kaki dan tangan, keras dan kepala, meja dan makan, mata dan air, sapu dan tangan, serta simpang dan siur (Muslich, 2008:57). Hal ini dijelaskan oleh Tirtawijaya (1987:30) kata majemuk merupakan gabungan dua kataatau lebih yang menjadi satu kesatuan dengan rapat dan erat. Kata majemuk dikatan rapat dan erat karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. kedua kata atau lebih itu tidak dapat dipertukarkan letaknya atau susunannya karena sudah rapat dan erat hubungannya, misal mata sapi tidak bisa dikatakan sapi mata dan kapal terbang tidak bisa dikatakan terbang kapal; b. kata majemuk tidak dapat dipisahkan oleh . c. sepatah katapun, misal mata sapi bukanlah matanya sapi dan kapal erbang bukanlah kapal yang tebang; d.jika diberi afiks atau imbuhan, maka harus pada seluruh kata tidak boleh afiks itu disisipkan, misal mata sapinya bukan matanya sapi, kapal terbangnya 16 bukan kapalnya terbang, mempertanggungjawabkan bukan mempertanggungkan jawab, dan pendayagunaan bukan pendayaan guna; e.menunjuk atau menimbulkan satu pengertian, misal: mata sapi : satu pengertian satu benda (Jawa : ceplok) kapal terbang : satu pengertian, satu benda (pesawat). Jenis-Jenis Pemajemukan Berdasarkan hubungan unsur-unsur, jenis-jenis pemajemukan dibagi atas tiga jenis, yaitu: 1. bentuk majemuk yang unsur pertama diterangkan (D) oleh unsur kedua (M) dibedakan atas dua macam, yaitu: a. karmadharaya,misal orang kecil, hari besar, meja hijaudan lain-lain; b. tatpurusa, misal meja tulis, ruang tamu, dankamar mandi; 2. bentuk majemuk yang unsur pertama menerangkan (M) unsur kedua (D), misal perdana mentri, purbakala, bala tentara, akil balig; 3. bentuk majemuk yang memiliki unsurunsur tidak saling menerangkan tapi hanya merupakan rangkaian yang sejajar (kopulatif) dan biasa disebut dengan dwandwa (Muslich, 2008: 62). Ditinjau dari hubungan makna antarunsurbentuk majemuk dibagi atas: 1. bentuk majemuk hubungan setara,misal: kaki tangan, daya juang, tanggung jawab; 2. bentuk majemuk hubungan berlawanan, misal jual beli, simpan pinjam, ibu bapak; 3. bentuk majemuk hubungan bersinonim, misal hancur lebur, pucat pasi, sanak saudara. Berdasarkan jumlah unsur kata majemuk dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama kata majemuk berunsur dua buah bentuk, misal orang tua, anak buah, bini muda, lembaran hitam, dan lain-lain. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Kedua, kata majemuk berunsur lebih dari dua buah dan biasa disebut dengan idiom, misal senjata makan tuan, sekali tiga ruang,danapa boleh buat (Muslich, 2008: 63). Bentuk majemuk berdasarkan konstruksi kelas katanya dibedakan menjadi. 1. Komposisi nominal, yaitu komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina. Misal, kakek nenek, meja kayu, sate kambing, baju baru. 2. Komposisi verbal, yaitu komposisi yang pada satuan klausa berkategori verbal. Misal, menyanyi menari, datang mengha -dap,gigit jari, lompat galah, makan besar. 3. Komposisi adjektival, yaitu komposisi yang pada satuan klausa berkategori adjektiva. Misal, kaya miskin, tua muda, besar kecil, putih baru, sangat indah, merah darah, keras hati. Menurut Samsuri (Muslich, 2008: 63) mengatakan bahwa klasifikasi pemajemukan berdasarkan pada konstruksi kelas kata dibedakan dalam sembilan kelompok, yaitu. 1. KB-KB (kata benda-kata benda), misal tuan tanah, kepala batu, mata keranjang, tanah air. 2. KB-KK (kata benda-kata kerja), misal roti bakar, kursi goyang, kamar tidur, ayam sabung. 3. KB-KS (kata benda-kata sifat), misal kursi malas, hidung belang, kepala dingin, bini muda 4. KK-KB (kata kerja-kata benda), misal tolak peluru, tusuk jarum, masuk angin, balas budi. 5. KK-KK (kata kerja-kata kerja), misal turun minum, temu karya, pukul mundur, pulang pergi. 6. KK-KS (kata kerja-kata sifat), misal tertangkap basah, tahu beres, adu untung, melonjak tinggi, berkata keras, loncat tinggi. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 7. KS-KB (kata sifat-kata benda), misal gatal mulut, haus darah, tinggi hati, besar kepala. 8. KS-KK (kata sifat-kata kerja), misal salah ambil, salah lihat, buruk sangka; 9. KS-KS (kata sifat-kata sifat), misal panjang lebar, tua renta, lemah lembut, kering kerontang Muslich (2008: 63) mengatakan bahwa di luar sembilan jenis pemajemukan yang dijelaskan oleh Samsuri tersebut ternyata masih ada sebelas lagi kelompok kata majemuk, yaitu: 1. KB-KBil (kata benda-kata bilangan), misal langkah seribu, roda dua, roda empat, nomordua. 2. KBil-KB (kata bilangan-kata benda), misal setengah hati, perdana menteri, empat mata 3. KBil- KBil (kata bilangan-kata bilangan), misal: sekali dua (pernah tapi jarang). 4. KKet-KB (kata keterangan-kata benda),misal: sebelah mata (remeh, enteng). 5. KB- KKet (kata benda-kata keterangan), misal: negeri seberang; 6. KB-KK-KBil (kata benda-kata kerja-kata bilangan), missalhewan berkaki seribu; 7. KB-KB-KBil (kata benda-kata bendakata bilangan), missalpedagang kaki lima, warga kelas satu, warga kelas dua; 8. KB-KKet-KK (kata benda-kata keterangan-kata kerja), misalapa boleh buat. 9. KBil-KBil-KB (kata bilangan-kata bilangan-kata benda), missalsekali tiga uang. 10.KB-KK-KB (kata benda-kata kerja-kata benda), misal senjata makan tuan. 11.KBil-KK (kata bilangan-kata kerja), misalsetengah mati. Pembagian kata majemuk menurut arti dibedakan menjadi: 1. kata majemuk wajar, yaitu kata majemuk yang artinya memang tidak merupakan kiasan, missalyatim piatu,murah 17 durja,jerih payah, indah permai,siang ma-lam, adat istiadat; 2. kata majemuk kiasan, yaitu kata majemuk yang artinya memang kiasan tidak dapat diartikan langsung begitu saja, missalbuah bibir, mata air, panjang lidah, anak sungai, keras hati, besar mulut, kaki tangan, tangan kanan.(Tirtawijaya, 1987:34) Komposisi Verbal Komposisi verbal, yaitu komposisi yang pada satuan klausa berkategori verbal (Chaer, 2008: 225). Komposisi ini dapat dibentuk dari dasar: 1. verba + verba (kata kerja + kata kerja), misal: menyanyi menari, datang menghadap, duduk termenung,lari bersembunyi; 2. verba + nomina (kata kerja + kata benda), misal: gigit jari, membanting tulang, ma -kan tangan, lompat galah;. 3. verba + adjektiva (kata kerja + kata sifat), misal: lompat tingi, lari cepat,berkata keras, makan besar; 4. adverbia + verba (kata keterangan + kata kerja), misal: sudah makan, tidak dating, belum jumpa, masih tidur. Lebih lanjut dijelaskan bahwa proses pembentukan komposisi verbal menimbulkan beberapa makna gramatikal, antara lain makna yang menyatakan: 1. ‘gabungan biasa’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipi kata dan. Makna ini dapat terjadi apabila: a) kedua unsur memiliki komponen makna yang sama sebagai dua buah kata bersinonim, misal bimbang ragu, bujuk rayu, caci maki, gelak tawa, hilang lenyap, ikut serta, kasih saying, tegur sapa, turut serta; b) kedua unsur merupakan anggota dari satu medan makna, misalbelajar men18 gajar, makan minum, menyanyi menari, baca tulis, tanya jawab, tingkah laku; c) kedua unsur merupakan pasangan berantonim, misaljual beli, jatuh bangun, timbul tenggelam. Makna gramatikal kelompok ini bergantung pada kalimat. Suatu konteks bisa bermakna ‘dan’ pada konteks lain bermakna ‘atau’. 2. ‘gabungan mempertentangkan’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata atau. Makna ini diperoleh bila kedua unsur merupakan pasangan berantonim, missal hidup mati, gerak diam, rebah bangun, jual beli, maju mundur, pulang pergi, bongkar pasang; 3. ‘sambil’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata sambil. Makna gramatikal ini dapat diperoleh bila kedua unsur merupakan dua tindakan yang dapat dilakukan bersamaan, hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak) sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak), misaldatang membawa, datang menangis, datang meringis, duduk berbicara, duduk bersiul, lari tertawa-tawa; 4. ‘lalu’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata lalu. Makna ini dapat terjadi bila unsur pertama memiliki makna (+tindakan) dan (+gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak), misaldatang berteriak-teriak, melompat menendang, pulang menangis, menerkam menggigit; 5. ‘untuk’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata untuk. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak) unsur kedua mempunyai komponen makna (+tindakan) dan (+saran), misaldatang menagih (hutang), pergi membayar (pajak), datang SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 menghadap (beliau), pergi berobat, lari bersembunyi, duduk berunding; 6. ‘dengan’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata dengan. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+keadaan), misal datang merangkak ngesot, datang pulang terpincang-pincang,menangis tersedu-sedu, pulang menggendong adik; 7. ‘secara’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata secara. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+cara), missal terjun bebas, makan besar-besaran, lari cepat, kerja paksa, cetak ulang, tukar tambah, lari beranting, jalan pintas; 8. ‘alat’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata menggunakan. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+alat) atau (+yang digunakan), missal balap mobil, balap sepeda, lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, lompat galah, terjun payung; 9. ‘waktu’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata waktu. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+saat) atau (+ketika), misal ronda malam, jaga malam, apel pagi, tidur siang, kawin muda, makan siang, makan sahur, shalat subuh; 10. ‘karena’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata karena. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kejadian) dan unsur kedua me mi l i ki k o mp o n e n ma k n a SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 (+penyebab), missalcerai mati, mabuk laut, mabuk udara, mabuk asmara, mabuk dara, mandi darah, mandi keringat; 11. ‘terhadap’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata terhadap atau akan. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama me mi l i ki ko mp o n e n ma kna (+peristiwa) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+bahaya), missal kedap air, kedap udara, tahan panas, kedap suara, tahan peluru, tahan banting, tahan uji, tahan lapar; 12. ‘menjadi’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata menjadi. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+penyebab) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+akibat), missal jatuh cinta, jatuh sakit, jatuh miskin, naik haji, bagi rata, pergi haji, masuk Islam, masuk tentara; 13. ‘sehingga’, di antara kedua unsur dapat disisipkan kata sehingga atau sampai. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua me mi l i ki ko mp o n e n ma kna (+kesudahan), misal tembak mati, tembak jatuh, beri tahu, pukul mundur, sebar luas, buang habis, lempar jauh; 14. ‘menuju’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata ke atau menuju. Makna ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+gerak arah) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+arah tujuan), missal belok kiri, belok kanan, hadap kiri, hadap kanan, masuk desa, masuk sekolah, naik darat, pulang kampung, lirik kanan, lirik kiri; 15. ‘arah kedatangan’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata dari. Makna ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+gerak arah) dan unsur kedua 19 memiliki komponen makna (+tempat kegiatan), misal pulang kantor, pulang kerja, usai sekolah,bubar rapat, habis mandi; 16.‘seperti’, sehingga di antara kedua unsur dapat disisipkan kata seperti atau sebagai. Makna ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+keadaan) dan unsur kedua me mi l i ki k o mp o n e n ma k n a (+perbandingaan), misal lurus tabung, mati kutu, buta ayam, kawin ayam, larilari anjing. Frasa Menurut Sulistyowati (2012:11) frasa adalah suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih dan bersifat nonpredikatif.Frasa mempunyai dua sifat, yaitu (10 merupakan satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih, (2) merupakan satuan yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Menurut (Chaer, 2009:39-41) frase terbentuk dari dua buah kata atau lebih dan mengisi salah satu fungsi sintaksis. Frase sebagai pengisi fungsi-fungsi sintaksis mempunyai kategori, yaitu 1) frase nominal (seperti: adik saya sebuah meja, rumah batu, dan rumah makan) yang mengisi fungsi subjek (S) atau objek (O); 2) frase verbal (seperti: suka makan, sudah mandi, makan minum, tidak maudatang, dan belum menerima) yang mengisi fungsi predikat (P); 3) frase adjectival (seperti: sangat indah, bagus sekali, merah muda, sangat senang sekali dan merah jambu) yang mengisi fungsi predikatif (P); dan 4) frase preposisional yang menduduki fungsi keterangan (Ket), misal di pasar, ke Surabaya, dari gula dan ketan, kepala polisi dan pada tahun 2007. Frase adalah kelompok kata yang merupakan bagian fungsional dari tuturan yang lebih panjang.Maksud dari frase sebagai bagian fungsional adalah dalam struktur ekstrafrasanya, yaitu frasa sejauh 20 frasa itu merupakan konstituen di dalam konstituen yang lebih menyelu-ruh. Struktur intrafrasal menentukan tipe frasa, misal frasa nominal memiliki nomina sebagai konstituen induk dan atribut sebagai konstituen bawahan (Verhaar, 1999:291293). Berdasarkan pendapat Verhaar dan Chaer peneliti menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan frase adalah gabungan dua buah kata atau lebih yang menduduki satu fungsi dalam sebuah kalimat baik itu sebagai S, P, O, atau Ket.Tipe frasa atau jenis frase ditentukan oleh struktur intrafrasalnya, misal frase nominal memiliki nomina sebagai konstituen induk dan atribut sebagai konstituen bawahan. Rangkaian kata dalam frase dapat disisipi konjungsi (dan, yang, sedang, akan dan lainlain). METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hal ini seperti dikatakan Bogdan dan Biklen (1982:2) bahwa penelitian kualitatif (qualitative research) sebagai payung memiliki beberapa karakteristik Metode dalam penelitian bahasa berhubungan erat dengan tujuan penelitian bahasa dalam mengumpulkan dan mengaji data, serta mempelajari fenomena-fenomena kebahasaan (Djajasudarma, 2010:4). Menurut Mahsun (2011:72) pada bagian metode penelitian dijelaskan cara penelitian itu akan dilakukan yang mencakup bahan atau materi penelitian, alat, jalan penelitian,variabel dandata yang hendak disediakan dan analisis data. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Alasan peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena penelitian ini berusaha mendeskripsikan tentang wujud kata majemuk verbal yang memiliki hubungan makna setara dan berlawanan. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Sumber data merupakan tempat asal mula suatu data penelitian yang dapat diperoleh peneliti.Penelitian ini didasarkan pada penggunaan bentuk bahasa Indonesia mengenai proses pembentukan kata majemuk (komposisi) yang memiliki pengembangan bentuk kontruksi kelas kata dan hubungan makna antarunsur pembentuk. Wujud komposisi yang digunakan, yaitu komposisi dengan kelas kata verbal yang memiliki hubungan makna setara dan berlawanan.dan bersinonim antarunsur pembentuk. Sumber Data dalam penelitian ini adalah Koran Jawa Pos bulan Juli 2017. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dalam Koran Jawa Pos Bulan Juli 2017. Kata-kata yang diteliti berupa kata majemuk (komposisi verbal) dengan hubungan makna setara, danberlawanan. Instrumen penelitian merupakan alat atau fasilitas pendukung yang digunakan oleh peneliti dalam melakukan sebuah penelitian baik itu untuk mencari, mengumpulkan, dan mengidentifikasi data sehingga pekerjaan peneliti menjadi lebih mudah dan lancar. Fasilitas yang digunakan dalam penelitian ini ialah instrumen utama berupa peneliti sendiri dan instrumen pendukung berupa tabel rekapitulasi analisis data untuk memudahkan pengumpulan data. Langkah-langkah pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara: (1) observasi, (2) penentuan objek, (3) pemilihan rubrik, (4) identifikasi data, dan (5) pengkodean. Pengolahan data merupakan upaya yang dilakukan untukmengklasifikasikan, mengelompokkan data-data yang diperoleh. Tahapan ini dilakukan peneliti dalam upaya mengelompokkan, menyamakan data yang sama dan membedakan data yang memang berbeda, serta menyisihkan pada kelompok lain data yang serupa tetapi tidak sama.Tujuan pengolahan data ini, yakni untuk memecahkan masalah yang SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 diteliti, jadi peneliti harus benar-benar konsentrasi penuh. Data mentah yang telah dikumpulkan perlu dipecahkan dalam kelompok-kelompok sehingga data tersebut mempunyai makna untuk menjawab masalah-masalah dalam penelitian. Pengolahan data dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) pengelompokan data, (2) deskripsi data, (3) analisis data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pola analisis nonstatistik karena data dalam penelitian ini berupa deskripsi kata-kata, yaitu mengenai wujud kata majemuk (komposisi) verbal yang memiliki hubungan makna setara, berlawanan, dan bersinonim antarunsur pembentuk. HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Setara Antarunsur Bentuk komposisi verbal dengan hubungan makna setara antarunsur dapat ditemukan pada data berikut: Data (1): “Panas matahari biasanya membuat orang mengernyitkan mata dan menipiskan bibir. (1/JP/7) Kata yang bercetak tebal pada kutipan data (1), yaitu menipiskan bibir merupakan kompisisi verbal dengan hubu-ngan makna setara antarunsur pembentuk. Menipiskan bibir terbentuk dari dua unsur, yaitu menipiskan yang tergolong dalam kategori (V) mempunyai makna tindakan membuat jadi tipis. Unsur kedua, yaitu bibir merupakan kata benda (N) dengan makna tepi (pinggir) mulut sebelah atas dan bawah. Kedua unsur tersebut memiliki kedudukan yang sederajat sehingga dikatakan sebagai komposisi verbal dengan hubungan makna setara antarunsur pembentuk kata majemuk. Morfem menipiskan dan bibir mengalami proses pemajemukan (komposisi) sehingga mempunyai makna baru, yaitu tersenyum. 21 Data (2): “Pada tahun ini kata dia, prioritas untuk mengurangi kemacetan di jalan tol sebagai upaya untuk melancarkan pada sector ekonomi.” (2/JP/7) Kata majemuk verbal pada kutipan data (2), yaitu jalan tol. Kata yang bercetak tebal terbentuk dari unsur jalan (N) dan tol (N). Kedua unsur tersebut memiliki hubungan makna setara antarunsur karena masih merupakan satu medan makna. Unsur pertama, yaitu Jalan tergolong dalam kata kerja (V) yang memiliki makna melangkahkan kaki. Morfem tol yang merupakan unsur kedua tergolong dalam kelas kata benda (N) memiliki makna pajak untuk memasuki jalan tertentu atau jalan yang mengenakan bea bagi pemakainya. Jalan tol memiliki arti baru, yaitu jalan bebas hambatan setelah mengalami proses pemajemukan atau komposisi. Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Berlawanan Antarunsur Komposisi dikatakan memiliki hubungan berlawanan antarunsur pembentuk kata majemuk jika kedua unsurnya merupakan pasangan berantonim (berlawanan arti). Bentuk komposisi verbal dengan hubungan makna setara antarunsur dapat ditemukan pada data berikut: Data (3): “Perusahan raksasa dalam jual beli gas akhir-akhir ini marak dilakukan. Hal ini dijelaskan lebih lanjut bahwa perusahaan gas sudah menaggung resiko di awal jika ternyata tak menemukan gas. Gas juga tak bisa di simpan layaknya minyak dan batu bara.” (3/JP/7) Pada kutipan data (3) kata yang bercetak tebal, yaitu jual beli merupakan komposisi verbal yang memiliki hubungan makna berlawanan antarunsur pembentuk. Kata ini terbentuk dari dua unsur yang keduanya merupakan bentuk dasar, yaitu jual tergolong dalam kelas kata kerja (V) dengan makna tindakan menjual atau menawarkan barang dan jasa. Unsur 22 kedua, yaitu beli termasuk dalam kelas kata kerja (V) dengan makna tindakan meminta atau membeli barang dan jasa. Kedua unsur tersebut merupakan pasangan berlawanan atau berantonim sehingga memiliki hubungan berlawanan antarunsur pembentuk kata majemuk. Jual beli memiliki makna baru sebuah transaksi atau kegiatan menjual dan membeli barang atau jasa (perdagangan). Data (4): Pasien yang menderita penyakit kronis dilarang dokter untuk dibezuk banyak orang Seharussnya keluarga yang berwenang mebri izinagar pengunjung tidak keluar-masuk kamar pasien tanpa melihat kondisi pasien yang dibezuk. (4/ JP/7) Berdasarkan data (4) kata yang bercetak tebal keluar-masuk merupakan komposisi verbal yang memiliki hubungan makna berlawanan antarunsur pembentuk kata majemuk. Kata ini terbentuk dari dua unsur, yaitu keluar yang termasuk dalam kelas kata kerja (V) dengan makna suatu tindakan bergerak dari sebelah dalam ke sebelah luar. Unsur pertama, keluar (V) merupakan lawan kata dari masuk yang juga tergolong dalam kelas kata kerja (V) dengan makna suatu tindakan datang (pergi) ke dalam ruangan. Kedua unsur tersebut merupakan pasangan yang memiliki makna berlawanan atau berantonim sehingga jika mengalami proses komposisi (pemajemukan) maka akan menghasilkan kata majemuk keluar masukyang memiliki hubungan makna berlawanan dengan arti baru, yaitu kegiatan mengekspor dan mengimpor barang. Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Bersinonim Antarunsur Suatu komposisi dikatakan memiliki hubungan bersinonim antarunsur pembentuk kata majemuk jika kedua unsurnya memiliki komponen makna yang sama sebagai dua buah kata bersinonim. Bentuk komposisi verbal dengan hubungan makna SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 bersinonim antarunsur dapat ditemukan pada data berikut: Data (5): “Pintu antrean dibuka untuk yang mengambil tiket sehingga pengunjung yang dekat pintu dapat masuk lebih dahulu. Petugas ghanya diam tercengangmelihat situasi itu ” (5/ JP/7)) Kata yang bercetak tebal diam tercengang pada data (5) merupakan komposisi verbal yang memiliki hubungan makna bersinonim antarunsur pembentuk. Kata ini terbentuk dari dua unsur, yaitu diam yang tergolong dalam kelas kata kerja (V) dengan arti tidak bersuara (berbicara). Unsur kedua berbentuk morfem berimbuhan, yaitu tercengang yang merupakan kelompok kelas kata kerja (V) dengan makna ternganga keheranan; takjub; kagum. Kedua usur tersebut memiliki komponen makna yang sama sebagai dua buah kata yang bersinonim dan setelah mengalami proses pemajemukan (komposisi) menghasilkan sebuah kata majemuk verbal diam tercengang dengan makna baru, yaitu terpana (heran atau takjub sampai tidak bisa berkata apa-apa). Data (6): “Harga bahan pangan melonjak melonjak tinggi. Hal ini terjadi pada bahan pangan utama beras. (6/JP/4) Berdasarkan kutipan pada data (6) kata yang bercetak tebal, yaitu melonjak tinggi merupakan komposisi verbal dengan hubungan makna bersinonim antarunsur pembentuk. Kata ini terbentuk dari dua unsur, yaitu melonjak yang merupakan unsur pertama dalam bentuk berimbuhan tergolong dalam kelas kata kerja (V) dengan makna meloncat ke atas (dengan kedua belah kaki) hendak menggapai sesuatu; melambung; meninggi. Unsur kedua berupa bentuk dasar, yaitu tinggi yang termasuk dalam kata sifat (Adj) dengan makna jauh jaraknya dari posisi sebelah bawah. Kedua unsur tersebut memiliki komponen makna yang SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 sama sebagai dua buah kata bersinonim sehingga ketika mengalami proses pemajemukan kedua unsur tersbut menghasilkan bentuk kata majemuk verbal dengan hubungan makna bersinonim antarunsur pembentuk. Kata majemuk verbal melonjak tinggi memiliki makna baru, yaitu kenaikan harga barang yang amat sangat atau melebihi batas kewajaran (normal). PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data dari penelitian pada Jawa Pos Edisi Juli 2017 dapat disimpulkan ada empat wujud komposisi verbal yaitu (1)Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Setara Antarunsur (2)Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Berlawanan Antarunsur, (3) Komposisi Verbal dengan Hubungan Makna Bersinonim Antarunsur Hasil analisi konstruksi kelas kata verba + nomina (V+N) sebagai unsur pembentuk kata majemuk verbal dengan hubungan makna setara antarunsur ditemukan pada kata menipiskan bibir, jalan tol, Hasil analisis data yang kedua peneliti menemukan wujud komposisi verbal yang memiliki hubungan makna berlawanan antarunsur pembentuk kata majemuk dengan konstruksi kelas kata verba + verba (V+V) ditemukan pada kata jual beli, keluar masuk. Komposisi verbal dengan hubungan makna berlawanan antarunsur kebanyakan hanya terdiri dari konstruksi verba + verba (V+V) saja yang kedua unsurnya saling berlawanan arti. Wujud komposisi verbal yang memiliki hubungan makna bersinonim antarunsur pembentuk kata majemuk dengan konstruksi verba + verba (V+V) ditemukan pada kata diam tercengang dan untuk konstruksi verba + adjektiva (V+Adj) pada kata melonjak tinggi. Secara keseluruhan hasil dari analisis data peneliti menemukan komposisi verbal dengan unsur 23 pembentuk konstruksi kelas kata verba + verba (V+V), verba + nomina (V+N), dan verba + adjektiva (V+Adj) sedangkan komposisi verbal dengan konstruksi adverbia + verba (Adv+V) tidak ditemukan . DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta. _____. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta. _____. 2012. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Djajasudarma, Fatimah.2010. Metode Linguistik. Bandung: Refika Aditama.. Mahsun. 2011. Metode Penelitian Bahasa. Jakarta: Rajawali Pers. Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk BahasaIndonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Putrayasa, Ida Bagus. 2010. Kajian Morfologi Bentuk Derivasionaldan Infleksional. Bandung: Refika Aditama. Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press. ______. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik. Surakarta:Cakrawala Media Sulistyowati, Heny.2012. Mengenal Struktur Atributif Frasa. Malang: Madani Intrans Verhaar, J. W. M. 1992. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. _____. 1999. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 24 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Bentuk dan Fungsi Kalimat Interogatif Konfirmasi Serta Tendensi dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci 2016 (Kajian Sintaksis) Isnani Nur Rizqi & Susi Darihastining Email: isnaninurrizqi24@gmail.com, s.nanink@gmail.com STKIP PGRI Jombang Kegiatan tanya jawab tergambar jelas dalam forum persidangan. Terjadi proses penggalian informasi dalam persidangan yang dilakukan hakim. Hal ini berkaitan erat dengan dan fungsi kalimat interogatif (tanya) berupa konfirmasi dan tendensi. Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci 2016 memuat banyak kalimat interogatif, sehingga peneliti tertarik untuk menganalisis dari segi sintaksis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan fungsi kalimat interogatif yang terdapat dalam objek. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tahap observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk dan fungsi kalimat interogatif konfirmasi dan tendensi dalam objek menunjukkan hubungan yang searah. Apabila kalimat interogatif berbentuk konfirmasi maka fungsinya juga berupa konfirmasi dan apabila kalimat interogatif berbentuk tendensi maka fungsinya juga berupa tendensi. Kata Kunci: Kalimat interogatif, kalimat interogatif konfirmasi, kalimat interogatif tendensi PENDAHULUAN orum persidangan menjadi bahasan menarik bagi masyarakat saat ini, hal ini dikarenakan semakin merebaknya kasus kriminalitas di Indonesia. Masyarakat dipaksa oleh aparat penegak hukum untuk menyoroti permasalahan dengan ditayangkannya beberapa persidangan kasus-kasus kejahatan seperti kekerasan seksual, narkoba, dan pembunuhan. Proses yang berlangsung dalam sebuah persidagan yakni komunikasi dua arah. Komunikasi terjadi antara hakim dengan terdakwa, hakim dengan saksi, dan sebagainya. Komunikasi yang terjadi merupakan bentuk interogasi atau pemeriksaan demi mengungkap kebenaran sebuah kasus. Proses interogasi dalam persidangan tentunya F SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 memunculkan berbagai bentuk kalimat tanya yang terstruktur. Meskipun terstruktur, kalimat tanya dalam persidangan terkadang dapat muncul secara spontanitas jika seorang hakim ingin menelisik lebih jauh keterangan para saksi. Proses penggalian informasi yang dilakukan hakim dalam persidangan, berkaitan erat dengan fungsi kalimat interogatif berupa konfirmasi dan tendensi. Fungsi kalimat interogatif berupa konfirmasi dilakukan dengan tujuan meminta penegasan kembali atas jawaban yang telah disampaikan oleh mitra tutur. Fungsi kalimat interogatif berupa tendensi bertujuan untuk menjernihkan atau menjelaskan kembali perihal apa yang telah disampaikan mitra tutur (Purnanto dkk, 2012:17-22). Oleh 25 karena itu peneliti mencoba menerapkan kajian sintaksis untuk menelaah bentuk dan fungsi kalimat interogatif berupa konfirmasi dan tendensi dalam liputan sidang kopi bersianida agenda pemeriksaan saksi kunci. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah berupa kodifikasi atau kamus kecil bentuk dan fungsi kalimat konfirmasi serta tendensi dalam liputan sidang kopi bersianida agenda pemeriksaan saksi kunci. RUMUSAN MASALAH 1.Bagaimanakah bentuk kalimat konfirmasi dan tendensi lain dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci? 2. Bagaimanakah fungsi kalimat konfirmasi dan tendensi lain dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci? LANDASAN TEORI Kajian Sintaksis Sintaksis merupakan tataran linguistik yang membahas mengenai kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsurunsur lain yang membentuk suatu ujaran. Fokus pembahasan sintaksis lebih mengarah pada pembahasan kalimat. Kalimat merupakan susunan kata-kata yang teratur, disusun dari konstiuen dasar menjadi frasa atau klausa, dilengkapi dengan konjungsi, dan disertai intonasi final (Chaer, 2009: 206). Kalimat Interogatif Kalimat interogatif merupakan kalimat yang mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Jawaban ini dapat berupa pengakuan, keterangan, alasan atau pendapat dari pihak pendengar atau pembaca (Chaer, 2009:189). Menurut Ramlan (2005:28) kalimat interogatif atau kalimat tanya merupakan kalimat yang berfungsi untuk menanyakan sesuatu. Kalimat ini mempunyai pola intonasi yang berbeda dengan kali26 mat lain, yakni bernada akhir naik. Kalimat interogatif sendiri mempunyai beberapa bentuk, salah satunya berupa konfirmasi dan bertendensi. Bentuk Kalimat Konfirmasi dan Tendensi Bentuk kalimat interogatif dalam forum persidangan menurut Purnanto, dkk (2012:17-22) dibagi atas bentuk kalimat interogatif konfirmasi dan fungsi kalimat interogatif bertendensi lain. Bentuk kalimat interogatif konfirmasi ditandai dengan respon berupa konfirmasi. Ciri-cirinya menggunakan jawaban ya dan tidak. Misalnya: “Kejadiannya itu hari Selasa, tanggal 14 Desember, betul ya?” Sedangkan bentuk kalimat interogatif bertendensi lain ditandai dengan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban. Ciri-cirinya berupa sanggahan, rayuan, dan permintaan. Misalnya: “Ini yang masih dalam taraf apa? Dari dokter gimana masih dalam pengawasan? Masih observasi dari dokter? Masih pengawasan?”. Fungsi Kalimat Konfirmasi dan Tendensi Fungsi kalimat interogatif dalam forum persidangan menurut Purnanto, dkk (2012:17-22) dibagi atas fungsi kalimat interogatif konfirmasi dan fungsi kalimat interogatif bertendensi lain. Fungsi kalimat interogatif konfirmasi bertujuan meminta penegasan kembali atas jawaban yang telah disampaikan oleh mitra tutur. Ciricirinya bersifat menelisik dan penegasan. Misalnya: “Kejadiannya itu hari Selasa, tanggal 14 Desember, betul ya?” Fungsi kalimat interogatif bertendensi lain bertujuan untuk menjernihkan atau menjelaskan kembali perihal apa yang telah disampaikan mitra tutur. Ciri-cirinya bersifat klarifikasi dan pemberian alasan. Misalnya: “Ini yang masih dalam taraf apa? Dari dokter gimana masih dalam pengawasan? Masih observasi dari dokter? Masih pengawaSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 san?” Penentuan fungsi ini ditentukan pula oleh konteks kalimat saat digunakan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif adalah metode yang digunakan untuk objek alamiah, analisis bersifat induktif dan hasilnya lebih menekankan pada makna (Sugiyono, 2012:7). Sumber data dalam penelitian ini adalah Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci dan nantinya akan dihasilkan dua data, yakni data 1 berupa bentuk kalimat konfirmasi dan tendensi sedangkan data 2 berupa fungsi kalimat konfirmasi dan tendensi. Teknik pengumpulan dilakukan dengan cara (observasi, dokumentasi dan analisis data dibantu juga dengan instrumen dalam penelitian berupa tabel instrumen (a) Bentuk kalimat konfirmasi dan kalimat bertendensi lain dan (b) Fungsi kalimat interogatif bertendensi lain. Teknik Pengumpulan Data 1. Tahap Observasi Dalam tahap ini terjadi proses memilah dan memilih video yg menarik dan uptodate. Pemilihan video ini ditentukan untuk mendapatkan objek yang kompeten sesuai dengan bahasaan sintaksis. 2. Tahap Dokumentasi 1. Proses Menyimak Video Proses ini dilakukan dengan cermat dan teliti yang bertujuan untuk memperoleh data yang diinginkan. 2. Penyusunan Transkrip Penyusunan transkrip didasarkan pada hasil proses menyimak video. Penyusunan transkrip digunakan untuk memindahkan data yang mulanya berupa bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Transkrip ini bertujuan memudahkan proses analisis data. 3. Penggelompokkan Data Data yang telah diperoleh dan disusun dalam transkrip, selanjutnya akan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dikelompokkan. Pengelompokkan ini didasarkan pada pemilahan antara pertanyaan dengan jawaban dalam bahasa liputan persidangan. 4. Analisis Data Proses analisis data meliputi: 1. Penentuan bentuk kalimat interogatif yang ditemukan 2. Penentuan fungsi kalimat inteogatif yang ditemukan 3. Penentuan maksud dan tujuan penggunaan kalimat interogatif HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Kalimat Konfirmasi dan Tendensi Bentuk kalimat interogatif konfirmasi ditan -dai dengan respon yang berupa konfirmasi dari suatu pertanyaan yang diajukan. Setelah dilakukan analisis dan pengelompokan data pada instrumen penelitian, maka pada objek ditemukan 27 bentuk kalimat interogatif konfirmasi. Terdiri atas 23 kalimat menggunakan jawaban ‘ya’ dan 4 kalimat menggunakan jawaban ‘tidak’. Contoh data yang ditemukan sebagai berikut. “Terus bekerja disini? Ya.” (YA/Sd.5/ Pr.4) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan respon berupa jawaban ‘ya’ atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang melakukan konfirmasi terhadap saksi mengenai pekerjaannya dan saksi tersebut menyetujui konfirmasi yang dilakukan hakim. “Tanggal 8 Desember ya? Ya.” (YA/ Sd.5/Pr.9) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan respon berupa jawaban ‘ya’ atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang melakukan konfirmasi terhadap saksi mengenai tanggal kejadian dan 27 saksi tersebut menyetujui konfirmasi yang dilakukan hakim. “Saudara bertemu dengan Mirna? Tidak, hanya kontak di whatsap.” (TDK/ Sd.5/Pr.11) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan respon berupa jawaban ‘tidak’ atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang melakukan konfirmasi terhadap saksi mengenai kebersamaannya dengan korban dan saksi tersebut tidak menyetujui konfirmasi yang dilakukan hakim. Bentuk kalimat interogatif tendensi ditandai dengan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban. Setelah dilakukan analisis dan pengelompokan data pada instrumen penelitian, maka pada objek ditemukan 36 bentuk kalimat interogatif tendensi. Terdiri atas 11 kalimat berupa sanggahan dan 25 kalimat berupa permintaan. Contoh data yang ditemukan sebagai berikut. “Sering bersama-sama atau bertemu? Kita beda jurusan, saya kuliah.” (SGH/ Sd.5/Pr.1) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang menanyakan kepada saksi mengenai hubungan saksi dengan korban dan intensitas pertemuan keduanya. Saksi memberikan jawaban berupa pernyataan sanggahan yang menyatakan bahwa saksi tidak sering bertemu dengan korban karena berbeda jurusan. “Tapi di luar sekolah? Diluar sekolah jarang kecuali ada kegiatan rame-rame sama orang Indonesia.” (SGH/Sd.5/Pr.2) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan pernyataan berupa alasan 28 lain dalam pemberian jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang menanyakan kepada saksi mengenai hubungan saksi dengan korban dan intensitas pertemuan keduanya. Saksi memberikan jawaban berupa pernyataan sanggahan yang menyatakan bahwa saksi tidak sering bertemu dengan korban kacuali ada kegiatan bersama. “Coba ceritakan awal kejadiannya bagaimana sampai bisa bertemu dengan Jessica dan Mirna serta Vera di lestoran Olivier itu bagaimana. Coba ceritakan secara urut ya? Ya. Saya ceritakan dari awal Mirna mengabari saya bahwa Jessica sedang pulang ke Indonesia. Kirakira tanggal 6 Desember, Mirna whatshap saya bilang Jessica lagi di Indonesia terus saya bilang oh sampai kapan. Mirna bilang belum tahu, dia mau ketemu Jessica dalam beberapa hari ini dan dia mengajak saya, kebetulan hari itu saya tidak bisa. Lalu Mirna bilang dia akan tetap ketemu Jessica di Kelapa Gading. Setelah itu Mirna...” (PRM/Sd.5/ Pr.7) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang meminta penjelasan kepada saksi mengenai kronologi urutan kejadian pertemuannya dengan korban sampai di lestoran. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan secara rinci urutan kejadian. “Apa yang dibicarakan? Oh, hai Jessica sudah lama nggak ketemu. Apa kabar? Ya sekedar untuk memberi salam. Setelah itu Mirna bilang ini ada Jes, terus saya bilang oh halo Jes. Semuanya saling menyapa. Setelah itu baru Jessica tanya kapan kalian free? Aku tanya sampai kapan disini Jes? Dia bilang masih lama. Lalu dia bilang kapan kalian free? Setelah itu baru Mirna bilang, aku bilang SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 aku nggak bisa, aku lagi nggak di Jakarta. Aku bilang setelah tahun baru saya baru bisa bertemu karena saya mau ke Pontianak sampai tahun baru. Setelah itu percakapan berlanjut sampai tanggal 6 di whatsapp itu yang kita bicarakan hal-hal general.” (PRM/Sd.5/ Pr.12) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang meminta penjelasan kepada saksi mengenai kronologi urutan kejadian sebelum terjadinya peristiwa meninggalnya korban. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan secara rinci urutan kejadian. “Apa yang tergambar dalam menumenu itu? Menu itu menu jus minuman, lalu Mirna bertanya ini makan dimana ya? Lalu Jessica bilang Olivier, sesuai yang Hani bilang Olivier. Lalu saya bilang oh terserah kalian kalau mau pindah tempat juga terserah saya cuma suggest aja.” (PRM/Sd.5/Pr.19) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan pernyataan berupa alasan lain dalam pemberian jawaban atas pertanyaan yang disampaikan hakim. Hakim sedang meminta penjelasan kepada saksi mengenai kronologi urutan kejadian sebelum terjadinya peristiwa meninggalnya korban. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan secara rinci urutan kejadian. Fungsi Kalimat Konfirmasi dan Tendensi Fungsi kalimat interogatif konfimasi ber -tujuan meminta penegasan kembali atas jawaban yang telah disampaikan oleh mitra tutur. Setelah dilakukan analisis dan pengelompokan data pada instrumen penelitian, maka pada objek ditemukan 26 fungsi kalimat interogatif konfirmasi. TerSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 diri atas 19 kalimat bersifat menelisik dan 7 kalimat bersifat penegasan. Contoh data yang ditemukan sebagai berikut. “Terus bekerja disini? Ya.” (MSK/Sd.5/ Pr.4) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penegasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang meminta penegasan kepada saksi mengenai pekerjaannya yang bertujuan untuk menelisik lebih dalam dan mengetahui kebenaran. Saksi memberikan jawaban berupa penegasan yang menunjukkan persetujuan. “Tanggal 8 Desember ya? Ya.” (MSK/ Sd.5/Pr.9) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penegasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang meminta penegasan kepada saksi mengenai tanggal pertemuannya dengan korban yang bertujuan untuk menelisik lebih dalam dan mengetahui kebenaran. Saksi memberikan jawaban berupa penegasan yang menunjukkan persetujuan. “Saudara lagi dijalan? Jessica.” (PNG/ Sd.5/Pr.20) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penegasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang meminta penegasan kepada saksi mengenai kronologi kejadian. Saksi memberikan jawaban berupa penegasan yang menunjukkan kepastian bahwa terdakwa saat itu sedang dalam perjalanan menuju lestoran. “Setelah ketemu dengan Mirna, apakah saudara atau Mirna ada ngasih tahu Jessica bahwa saya sudah ada di 29 Olivier? Enggak, nggak ada.” (PNG/Sd.5/ Pr.26) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penegasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang meminta penegasan kepada saksi mengenai keberadaannya di lestoran. Saksi memberikan jawaban berupa penegasan yang menyatakan bahwa saksi tidak memberitahu keberadaannya dan korban kepada terdakwa. Fungsi kalimat interogatif bertendensi lain bertujuan untuk menjernihkan atau menjelaskan kembali perihal apa yang telah disampaikan mitra tutur. Setelah dilakukan analisis dan pengelompokan data pada instrumen penelitian, maka pada objek ditemukan 37 fungsi kalimat interogatif bertendensi lain. Terdiri atas 21 kalimat bersifat klasifikasi dan 16 kalimat bersifat pemberian alasan. Contoh data yang ditemukan sebagai berikut. “Sering bersama-sama atau bertemu? Kita beda jurusan, saya kuliah.” (KLF/Sd.5/Pr.1) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penjelasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang melakukan klarifikasi kepada saksi mengenai intensitas pertemuannya dengan korban yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan kembali bahwa ia jarang bertemu dengan korban. “Tapi diluar sekolah? Diluar sekolah jarang kecuali ada kegiatan rame-rame sama orang Indonesia.” (KLF/Sd.5/Pr.2) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penjelasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang melakukan klarifikasi kepada saksi mengenai intensitas pertemuannya 30 dengan korban yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan kembali bahwa ia jarang bertemu dengan korban kecuali ada kegiatan bersama. “Apa yang dibicarakan? Oh, hai Jessica sudah lama nggak ketemu. Apa kabar? Ya sekedar untuk memberi salam. Setelah itu Mirna bilang ini ada Jes, terus saya bilang oh halo Jes. Semuanya saling menyapa. Setelah itu baru Jessica tanya kapan kalian free? Aku tanya sampai kapan disini Jes? Dia bilang masih lama. Lalu dia bilang kapan kalian free? Setelah itu baru Mirna bilang, aku bilang aku nggak bisa, aku lagi nggak di Jakarta. Aku bilang setelah tahun baru saya baru bisa bertemu karena saya mau ke Pontianak sampai tahun baru. Setelah itu percakapan berlanjut sampai tanggal 6 di whatsapp itu yang kita bicarakan hal-hal general.” (KLF/Sd.5/ Pr.12) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penjelasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang melakukan klarifikasi kepada saksi mengenai pembicaraannya di whatsapp bersama korban dan terdakwa yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran. Saksi memberikan jawaban berupa penjelasan kembali bahwa yang dibicarakan hanya sebatas menanyakan kabar dan perbincangan umum lainnya. “Coba ceritakan awal kejadiannya bagaimana sampai bisa bertemu dengan Jessica dan Mirna serta Vera di lestoran Olivier itu bagaimana. Coba ceritakan secara urut ya? Ya. Saya ceritakan dari awal Mirna mengabari saya bahwa Jessica sedang pulang ke Indonesia. Kirakira tanggal 6 Desember, Mirna whatshap saya bilang Jessica lagi di Indonesia terus saya bilang oh sampai kapan. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Mirna bilang belum tahu, dia mau ketemu Jessica dalam beberapa hari ini dan dia mengajak saya, kebetulan hari itu saya tidak bisa. Lalu Mirna bilang dia akan tetap ketemu Jessica di Kelapa Gading. Setelah itu Mirna...” (PA/Sd.5/ Pr.7) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penjelasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang menanyakan kembali kepada saksi mengenai kronologi pertemuannya dengan korban. Saksi memberikan jawaban berupa pemberian alasan/penjelasan rinci mengenai awal pertemuannya dengan korban. “Apa yang tergambar dalam menumenu itu? Menu itu menu jus minuman, lalu Mirna bertanya ini makan dimana ya? Lalu Jessica bilang Olivier, sesuai yang Hani bilang Olivier. Lalu saya bilang oh terserah kalian kalau mau pindah tempat juga terserah saya cuma suggest aja.” (PA/Sd.5/Pr.19) Dari data tersebut nampak bahwa saksi memberikan penjelasan kembali atas jawaban yang telah diberikan sebelumnya. Hakim sedang menanyakan kembali kepada saksi mengenai tempat pertemuannya dengan korban dan terdakwa. Saksi memberikan jawaban berupa pemberian alasan/ penjelasan rinci mengenai awal pemilihan tempat pertemuan ketiganya. PENUTUP Bentuk kalimat interogatif konfirmasi dan tendensi dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci 2016 ditemukan sebanyak 63 data, di mana bentuk kalimat interogatif tendensi lebih banyak dibandingkan dengan bentuk kalimat interogatif konfirmasi. Bentuk kalimat interogatif tendensi yang ditemukan berupa sanggahan dan permintaan, seSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dangkan yang berupa rayuan tidak ditemukan. Fungsi kalimat interogatif konfirmasi dan tendensi dalam Liputan Sidang Kopi Bersianida Agenda Pemeriksaan Saksi Kunci 2016 ditemukan sebanyak 63 data, dimana fungsi kalimat interogatif tendensi lebih banyak dibandingkan dengan fungsi kalimat interogatif konfirmasi. Fungsi kalimat interogatif tendensi yang ditemukan berupa klarifikasi dan pemberian alasan. Bentuk dan fungsi kalimat interogatif konfirmasi dan tendensi keduanya saling berkesinambungan. Maksudnya, apabila dalam bentuk suatu kalimat interogatif masuk dalam konfirmasi maka otomatis fungsi dari kalimat tersebut juga masuk kedalam fungsi kalimat interogatif konfirmasi. Begitupun sebaliknya, apabila dalam bentuk suatu kalimat interogatif masuk dalam tendensi maka otomatis fungsi kalimat tersebut juga masuk kedalam fungsi kalimat interogatif tendensi. DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta. Purnanto. 2013. Bentuk dan Fungsi Tanya Jawab dalam Persidangan Pidana di Pengadilan Wilayah Surakarta. Diunduh dari www.publikasiilmiah.ums.ac.id Pada hari Senin, 3 Oktober 2016. Ramlan. 2005. Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono. Ridho, Hidayat. 2009. Pembentukan dan Pemaknaan. Diunduh dari www.lib.ub.ac.id Pada hari Rabu, 5 Oktober 2016. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabet. 31 Pemerolehan Makna Pragmatis Dalam Tindak Tutur Direktif Pada Anak Usia 5 Tahun Fitri Resti Wahyuniarti STKIP PGRI Jombang Pemerolehan bahasa merupakan fenomena yang hanya dimiliki oleh manusia. Namun, dalam menyikapi fenomena tersebut terdapat perbedaan dudut pandang di antara para ahli. Ada yang memandang bahasa seseorang merupakan hasil pajanan yang diperoleh dari lingkungannya. Sebaliknya, ada yang memandang bahasa merupakan kapasitas sejak lahir. Oleh karena itu, pemerolehan makna bahasa pada anak sangat esensial bagi perkembangan kemampuan komunikatifnya. Dalam kegiatan komunikasi, makna berperan dan berkedudukan sangat penting dalam penyusunan dan pemahaman pesan karena pada hakekatnya tujuan berbahasa adalah untuk mengkomunikasikan makna. Penelitian ini mendeskripsikan bentuk pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun. Bentuk-bentuk tuturan yang dideskripsikan dan dimaknai berdasarkan konteks tuturan dalam peristiwa tutur yang sedang terjadi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang digunakan untuk memotret pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif. Data penelitian ini berupa tuturan anak usia 5 tahun yang diindikasikan sebagai pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif. Data tersebut diperoleh dari tuturan anak usia 5 tahun di Jombang. Temuan hasil penelitian pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun terdapat 3 bentuk. Adapun ketiga bentuk tersebut yaitu (a) memerintah, (b) meminta (meminta sesuatu, meminta informasi, meminta penegasan, dan meminta perhatian), dan (c) melarang. Kata Kunci: Pemerolehan makna pragmatis, tindak tutur direktif PENDAHULUAN emerolehan makna bahasa pada anak sangat esensial bagi perkembangan kemampuan komunikatifnya. Dalam kegiatan komunikasi, makna berperan dan berkedudukan sangat penting dalam penyusunan dan pemahaman pesan karena pada hakekatnya tujuan berbahasa adalah untuk mengkomunikasikan makna. Clark dan Clark (1977:329) berpendapat bahwa P 32 pada usia kurang lebih 5 tahun proses perkembangan bahasa anak sudah menyerupai bahasa orang dewasa, baik aspek bunyi, bentuk kata, tata kalimat, maupun organisasi wacana. Namun, perkembangan makna pada bahasa anak mengalami proses yang lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan aspek struktur yang lain. Hal itu disebabkan dalam proses pemerolehan makna bahasa, proses peSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 ngaitan antara makna dan struktur bahasa bukan merupakan proses yang mudah bagi anak. Menurut Austin (1962) dalam Sumarsono (2004), makna tuturan dapat dibedakan menjadi lokusi, ilokusi dan perilokusi. Lokusi merupakan tindak berbahasa yang dapat dilihat secara berurutan mulai dari tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Ilokusi merupakan tuturan bermakna yang dihubungkan dengan tindakan yang diinginkan. Makna tuturan ditentukan oleh konteks sosial dan fungsi komunikasi yang dimunculkan. Tindak ilokusi dikatakan berhasil jika pembicara dan pendengar memiliki latar belakang budaya yang relatif sama, menyadari tujuan percakapan, dan saling berminat untuk melanjutkan percakapan, sehingga masingmasing pihak memberi acuan makna yang sama terhadap tuturan yang dihasilkan. Perlokusi diartikan sebagai efek tuturan pembicara terhadap pendengar. Efek ini biasanya berupa tindakan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Setiap ujaran makna ilokusi yang berbeda-beda. Menurut Searle (1969), setiap tutur dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kategori, yaitu (1) representative, (2) direktif, (3) komisif, (4) ekspresif, dan (5) deklaratif. Tindak tutur direktif adalah jika seseorang pembicara mengucapkan kalimat direktif, ia sebenarnya menyuruh pendengar melakukan sesuatu. Dengan mengucapkan ujaran berupa pemesanan, pemberian perintah, penyampaian permohonan, penyampaian permintaan, atau memohon dengan sangat, pembicara mengharapkan orang lain melakukan orang lain melakukan apa yang diucapkan tersebut. Tindak tutur komisif menun-jukkan bahwa pembicara berjanji untuk melakukan sesuatu di waktu lain. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah bersumpah untuk melakukan sesuatu, mnelakukan kontrak, memberikan jaminan, dan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 sebagainya. Tindak tutur ekspresif adalah apabila pembicara menyampaikan kenyataan batinnya terhadap sesuatu, misalnya memohon maaf, berterima kasih, penyesalan, memberikan ucapan selamat dan sebagainya. Pemerolehan bahasa merupakan fenomena yang hanya dimiliki oleh manusia. Namun, dalam menyikapi fenomena tersebut terdapat perbedaan dudut pandang di antara para ahli. Ada yang memandang bahasa seseorang merupakan hasil pajanan yang diperoleh dari lingkungannya. Sebaliknya, ada yang memandang bahasa merupakan kapasitas sejak lahir. RUMUSAN MASALAH Dari penjelasan latar belakang di atas, dapat dirumuskan rumusan masalahnya yaitu “Bagaimana bentuk pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun?” LANDASAN TEORI Pemerolehan Bahasa Pemerolehan bahasa merupakan fenomena yang hanya dimiliki oleh manusia. Namun, dalam menyikapi fenomena tersebut terdapat perbedaan sudut pandang di antara para ahli. Ada yang memandang bahasa seseorang merupakan hasil pajanan yang diperoleh dari lingkungannya. Sebaliknya, ada yang memandang bahasa merupakan kapasitas sejak lahir. Perbedaan sudut pandang terhadap fenomena pemerolehan bahasa ini menimbulkan beberapa pandangan dalam pemerolehan bahasa (Larsen-Freeman and Long, 1991: 221). Dari hasil penelitian tentang pemerolehan kompetensi tindak tutur yang dilakukan Pratiwi (1994: 435) diperoleh hasil bahwa anak pada usia prasekolah (antara 4 sampai dengan 6 tahun) dapat memproduksi tindak tutur (1) meminta informasi, (2) memerintah, (3) menolak, (4) mengekspresikan perasaan, (5) menyampaikan informasi, (6) menyangkal, 33 (7) meminta perhatian, (8) meminta penegasan, (9) menyampaikan permintaan, dan (10) menyatakan solidaritas. Urutan jenis tindak tutur tersebut jiga menunjukkan urutan pemerolehannya. Dalam simpulan penelitian tersebut juga dikemukakan bahwa kompetensi tindak tutur anak-anak usia prasekolah diperoleh berdasarkan tingkat kesulitan proses pemerolehan fungsi tindak tutur, tingkat perkembangan aspek kejiwaan anak, maupun frekuensi pemakaiannya. Semakin tinggi frekuensi pemakaiannya, anak semakin sering menunjukkan ketepatan pemilihan bentuk tuturan yang sesuai dengan maksud tuturan serta sesuai dengan prinsip kerja sama dan prinsip sopan santun. Makna Pragmatis dalam Tindak Tutur Makna sangat esensial dalam kegiatan komunikasi. Studi tentang makna merupakan kajian makna dalam pengertian luas, yaitu semua yang dikomunikasikan melalui bahasa. Ada tiga alasan makna mempunyai posisi penting dan tidak dapat ditinggalkan dalam upaya memerikan bahasa, yaitu (1) tidak ada bahasa tanpa makna, (2) bahasa di mana pun berasal, selalu terdiri atas bentuk dan makna, dan (3) dalam universal grammar, representasi makna menempati urutan teratas. Berdasarkan representasinya sebagai produk bahasa, makna bahasa dapat dipilah menjadi tiga kategori, yaitu (1) makna kata, (2) makna kalimat, dan (3) makna pragmatis dalam tindak tutur. Tetapi, dalam penelitian ini lebih menekankan pada makna pragmatis dalam tindak tutur. Makna kata secara otonom dan berelasinya makna kata dalam bentuk makna kalimat merupakan dasar untuk menentukan makna pragmatis dalam tindak tutur. Makna sangat esensial dalam 34 kegiatan komunikasi. Untuk menentukan makna pragmatis dalam tindak tutur, peneliti melibatkan konteks peristiwa tutur dan aspek-aspek metalingustik. Menurut Austin (1962) dalam Sumarsono (2004), makna tuturan dapat dibedakan menjadi lokusi, ilokusi dan perilokusi. Lokusi merupakan tindak berbahasa yang dapat dilihat secara berurutan mulai dari tataran fonologi, morfologi, dan sintaksis. Ilokusi merupakan tuturan bermakna yang dihubungkan dengan tindakan yang diinginkan. Makna tuturan ditentukan oleh konteks sosial dan fungsi komunikasi yang dimunculkan. Tindak ilokusi dikatakan berhasil jika pembicara dan pendengar memiliki latar belakang budaya yang relatif sama, menyadari tujuan percakapan, dan saling berminat untuk melanjutkan percakapan, sehingga masingmasing pihak memberi acuan makna yang sama terhadap tuturan yang dihasilkan. Perlokusi diartikan sebagai efek tuturan pembicara terhadap pendengar. Efek ini biasanya berupa tindakan yang sesuai dengan apa yang diharapkan. Menurut Searle (1969), setiap tutur dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kategori, yaitu (1) representatif, (2) direktif, (3) komisif, (4) ekspresif, dan (5) deklaratif. Tindak tutur direktif adalah jika seseorang pembicara mengucapkan kalimat direktif, ia sebenarnya menyuruh pendengar melakukan sesuatu. Dengan mengucapkan ujaran berupa pemesanan, pemberian perintah, penyampaian permohonan, penyampaian permintaan, atau memohon dengan sangat, pembicara meng -harapkan orang lain melakukan apa yang diucapkan tersebut. Makna pragmatis dalam tindak tutur merupakan kajian makna berdasarkan perspektif pragmatik. Dalam hal ini, Dardjowidjojo (2003:265) menyampaikan pen -dapatnya bahwa pragmatik bukan merupakan komponen keempat (disamping fonologi, sintaksis, dan leksikon) pada SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 bahasa tetapi memberikan perspektif yang berbeda mengenai bahasa. Dalam penjelasan lebih lanjut tentang perspektif pragmatik tersebut, Dardjowidjojo memberikan tiga contoh kalimat yang dapat digunakan untuk menyampaikan maksud yang sama tetapi dengan nuansa yang berbeda, yaitu : (1) Kamu mau pergi ke mana? (2) Saudara mau pergi ke mana? (3) Bapak mau pergi ke mana? Kalimat (1) dipakai oleh orang tua kepada anak, atasan kepada bawahan, atau orang tua kepada anak kecil. Kata saudara pada (2) menunjukkan jarak yang renggang atau suasana formal dan bisnis. Kata bapak pada (3) menunjukkan bahwa yang berbicara lebih muda daripada yang diajak berbicara, atau kalimat bawahan terhadap atasan, murid terhadap guru, dan sebagainya. Strategi Pemerolehan Makna Bahasa oleh Anak Strategi pemerolehan makna bahasa merupakan bagian dari strategi pelajar (Ellis, 1994: 529). Ada tiga perangkat strategi pelajar yaitu strategi belajar, strategi produksi dan strategi komunikasi. Dari ketiga strategi tersebut, strategi pemerolehan makna bahasa oleh anak merupakan suatu bentuk strategi belajar. Ada beberapa strategi utama yang digunakan anak dalam proses pemerolehan makna bahasa, yaitu strategi fitur semantis, strategi pembentukan hipotesis dan pengujian hipotesis, strategi lama dan baru, dan strategi di sini dan sekarang. Namun, dalam penelitian ini lebih menekankan strategi fitur semantisnya. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan pemerolehan makna bahasa Indonesia oleh anak bilingual IndoneSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 sia-Jawa yang pada usia 5 tahun. Pemerolehan makna bahasa Indonesia anak diperoleh dalam penelitian melalui tuturan spontan dan wajar yang dilakukan anak dalam memproduksi tuturan. Tuturan tersebut merupakan bentuk ekspresi makna bahasa Indonesia yang dimiliki oleh anak. Pemerolehan makna bahasa Indonesia oleh anak yang dikaji dalam penelitian ini difokuskan pada pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif anak usia 5 tahun. Makna pragmatis dalam tindak tutur dikaji sebagai makna tuturan yang secara pragmatis digunakan dalam kegiatan komunikasi. Data penelitian ini berupa tuturan dalam suatu peristiwa tutur yang merupakan makna pragmatis dalam tindak tutur bahasa Indonesia yang dituturkan anak. Data tersebut diperoleh dari tuturan anak usia 5 tahun. Penelitian ini dilakukan pada anak bilingual Indonesia-Jawa yang bertempat tinggal di Jombang. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa di daerah tersebut terdapat lingkungan yang sesuai untuk penelitian ini yaitu anak dari keluarga yang berbahasa Indonesia-Jawa dan mereka menggunakan kedua bahasa tersebut secara simultan. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen kunci. Sebagai instrumen kunci yang dimaksud adalah peneliti melakukan pengamatan dan perekaman tuturan yang diproduksi anak di dalam otak dan pikirannya, serta kemudian memaknainya sebagai fakta pemerolehan makna bahasa pada anak. Peneliti melakukan pengamatan dengan cara merekam yang menggunakan bantuan catatan lapangan berupa percakapan yang ditulis tangan. Dalam melakukan pengamatan, peneliti memperhatikan dan mencatat konteks tuturan (penutur, lawan tutur, peristiwa tutur, termasuk tempat, dan waktu terjadinya peristiwa tutur). 35 Dalam melakukan pengamatan dan perekaman tuturan anak maupun mitra tutur anak, peneliti perlu memperhatikan keakuratan tuturan sebagai bahan data penelitian. Tuturan yang akurat adalah tuturan alamiah yang dapat disimak. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati tuturan anak dalam suatu konteks percakapan secara utuh dengan mitra tuturnya. Pengamatan ini dilakukan dalam bentuk pengamatan nonpartisipatif. Pengamatan nonpartisipatif dilakukan dengan cara peneliti tidak melibatkan diri secara langsung dalam percakapan yang dilakukan oleh anak dan mitra tuturnya. Peneliti hanya mengamati subyek tutur dari suatu tempat yang dianggap tidak akan merusak peristiwa tutur, namun tetap dapat mengamati kondisi-kondisi pada saat peristiwa tutur terjadi dan merekam secara tertulis percakapan yang dilakukan antara anak dan mitra tuturnya. Analisis data penelitian ini dilakukan untuk memperoleh fakta pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun dengan menggunakan pendekatan fungsional terhadap tuturan anak. Artinya, makna kata dan makna pragmatis dalam tindak tutur dianalisis berdasarkan fungsinya dalam membentuk tindak ilokutif. Prosedur analisis data dimulai dengan menyeleksi data hasil dari pencatatan tuturan anak. Kegiatan seleksi dilakukan karena tuturan yang dikumpulkan dalam penelitian ini sangat banyak sehingga hanya tuturan yang relevan dengan tujuan penelitian saja yang diambil sebagai bahan analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun dapat dilihat dalam bab ini. Tindak tutur direktif adalah tindak tutur yang digunakan apabila penutur mengharapkan mitra tutur melakukan sesuatu sesuai dengan makna yang dikandung tuturan 36 yang diujarkan penutur. Tindak tutur direktif dapat berupa pemesanan, pemberian perintah, penyampaian permohonan penyampaian permintaan, atau memohon dengan sangat. Makna pragmatis dalam tindak tutur direktif yang diperoleh anak usia 5 tahun terdiri atas makna (a) memerintah, (b) meminta (meminta sesuatu, meminta informasi, meminta penegasan dan meminta perhatian), dan (c) melarang. Memerintah Makna memerintah adalah makna yang dikandung tindak tutur dengan maksud memerintah yang disampaikan penutur kepada mitra tutur agar mitra tutur melakukan tindakan yang dituturkan penutur. Konteks: Peristiwa tutur: Vicky dan kakaknya bermain kambing-kambingan dengan ayahnya. Ayahnya menjadi kambing-kambingan dan Vicky naik di punggung ayahnya; Tempat: di ruang keluarga, Waktu; malam hari, Penutur: Anak, Mitra tutur: Ayah, Tujuan: meminta ayahnya menjadi kambing-kambingan lagi; Situasi: akrab; Ragam percakapan: tidak resmi. Vicky : Ayo mbek lagi Bi (meminta ayahnya menjadi kambingkambingan lagi) Ayah : Udah ya, capek… Vicky : Nggak, nggak capek Bi. Ayah : Abi yang capek. Vicky aja ya yang jadi mbeknya Vicky : Nggak mau. Ayo Bi Tindak tutur memerintah dilakukan Vicky kepada ayahnya ketika mereka sedang bermain kambing-kambingan pada waktu malam hari di rumah. Vicky menginginkan ayahnya untuk melakukan sesuatu, yaitu menjadi kambing-kambingan lagi dengan menggunakan tindak SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tutur memerintah Ayo mbek lagi Bi. Pada tuturan berikutnya tampak bahwa ayahnya menolak bermain kambing-kambingan lagi karena sudah lelah, namun Vicky bersikeras menginginkan ayahnya untuk menjadi kambing-kambingan lagi dengan menggunakan tindak tutur memerintah Nggak mau. Ayo Bi. Tindak tutur yang dilakukan oleh Vicky ini merupakan tindak tutur memerintah secara langsung walaupun yang dihadapi adalah orang yang lebih tua, bahkan ayahnya sendiri. Tampaknya, contoh 1 ini anak lebih dominan melakukan tindak tutur memerintah secara langsung dan belum dapat mencocokkan bentuk tindak tutur yang digunakan dengan konteks tuturan, terutama dalam mempertimbangkan aspek kesopansantunan kepada mitra tutur. Meminta Tindak tutur dengan makna meminta adalah tindak tutur yang dimaksudkan agar mitra tutur melakukan tindakan memenuhi apa yang diminta penutur dalam suatu peristiwa tutur. Konteks: Peristiwa Tutur: Vicky berusaha meminjam sandal kakaknya supaya bisa bermain di luar rumah karena sandalnya putus dan belum dibelikan kembali oleh ibunya. Tempat: ruang keluarga, Waktu: siang hari, Penutur: anak, Mitra tutur: kakak, Tujuan: meminjam sandal kepada kakaknya, Situasi: akrab, Ragam percakapan: tidak resmi. Vicky Kakak Vicky Kakak Vicky : Mas, aku pinjem sandale. : Sandalnya adik kenapa? : Pedhot : Kebesaran nanti. : Nggak apa-apa. Aku pinjem (sambil beranjak pergi ke luar rumah) Tindak tutur meminta dilakukan Vicky kepada kakaknya ketika sandal Vicky SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 putus. Vicky meminta kakaknya untuk meminjamkan sandal kepadanya dengan menggunakan tindak tutur meminta Mas, aku pinjem sandale. Pada tuturan berikutnya tampak bahwa kakaknya menolak dengan alasan sandalnya terlalu besar apabila dipakai Vicky. Namun, Vicky berkeras untuk meminjam kakaknya dengan menggunakan tindak tutur meminta Nggak apa-apa. Aku Pinjem. Meminta informasi Tindak tutur meminta informasi adalah tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud mendorong mitra tutur untuk memberikan informasi yang ingin diketahui oleh penutur. Informasi yang dimaksud adalah informasi tentang siapa, apa, kapan, di mana, bagaimana, atau mengapa sesuatu terjadi. Konteks: Peristiwa Tutur: Ayah bermaksud untuk merekam suara Vicky ketika menyanyi, namun Vicky tahu ayahnya sedang merekam suaranya dengan menggunakan alat perekam. Tempat: di ruang keluarga, Waktu: sore hari, Penutur: anak, Mitra Tutur: Ayah, Tujuan: meminta informasi tentang alat perekam yang dibawa ayahnya, Situasi: akrab, Ragam perca-kapan: tidak resmi. Ayah : Vicky tadi di sekolah diajarin apa? Vicky : Menyanyi, Papa yang nyanyi. Nyanyi yang balonku Ayah : Gak bisa papanya. Vicky sing bisa Vicky : (menyanyi lagu yang diminta ayah). Lho diapainnya ini? (sambi Menunjuk tape recorder, mengetahui ayahnya sedang merekam) Ayah : Vicky tadi di sekolah diajarin menggambar apa? Vicky : Iya nanti, nanti aja aku jawab pertanyaan ayah (sambil 37 Ayah Vicky Ayah Vicky mencoba membuka tape recorder) : Lho nanti dulu, cerita dulu.. : Ini apa Yah? : Ayo cerita dulu... : Duh...ya udah...tak tinggal tidur aja! (jengkel karena tidak mendapaT respon dari ayahnya) Pada tuturan tersebut, anak melakukan tindak tutur untuk mendapatkan informasi atas apa yang dilakukan ayahnya. Untuk meminta informasi, anak tersebut menggunakan tindak tutur Ini apa Yah?. Tuturan tersebut merupakan keinginan anak untuk mendapatkan informasi dari ayahnya. Meminta penegasan Tindak tutur meminta penegasan adalah tindak tutur yang disampaikan penutur untuk meminta penegasan kepada mitra tutur tentang sesuatu yang masih samarasamar atau yang sebenarnya sudah diketahui. Tindak tutur meminta informasi dilakukan penutur dengan maksud agar mitra tutur dapat memberikan penegasan tentang suatu hal yang diminta oleh penutur. Konteks: Peristiwa Tutur: Vicky memperhatikan ibunya yang sedang tiduran di dipan dengan terbatuk-batuk. Vicky menduga bahwa ibunya sedang sakit. Tempat: di ruang keluarga, Waktu: siang hari, Penutur: Anak, Mitra Tutur: Ibu, Tujuan: Dafa meminta penegasan bahwa ibunya sedang sakit, Situasi: akrab, Ragam Percakapan: tidak resmi. Vicky Ibu 38 : Lho batuke Nda. Bunda sakit ya. (sembari duduk lalu tiduran di dekat ibunya) : Iya Bunda kena flu (sambil mengusap-usap hidungnya Vicky yang pilek dengan menggunakan kertas tisu) : Bunda mimik anget, mimik anget ya Pada tuturan tersebut anak-anak melakukan tindak tutur meminta penegasan dari ibunya tentang kebenaran dugaannya bahwa ibunya sedang sakit berdasarkan gejala batuk yang dialami ibunya. Penggunaan tindak tutur anak itu yaitu Lho batuke Nda. Bunda sakit ya. Tampaknya tindak tutur meminta pene-gasan ini disambut dengan jawaban yang memuaskan ketika ibunya menuturkan Iya, Bunda kena flu. Meminta perhatian Tindak tutur meminta perhatian adalah tindak tutur yang dilakukan penutur dengan maksud mitra tutur dapat memberikan perhatian terhadap penutur atau sesuatu yang diinginkan penutur. Tindak tutur meminta perhatian ini dilakukan agar mitra tutur memberikan respon perhatian sesuai dengan tindak tutur yang dituturkan penutur. Konteks: Peristiwa Tutur: Merengek minta perhatian ibunya karena tidak diperbolehkan kakaknya ikut bermain dengan memodifikasi robot-robotan. Tempat: ruang keluarga dan dapur, Waktu: sore hari, Penutur: anak, Mitra Tutur: Ibu, Tujuan: minta perhatian ibunya, Situasi: akrab, Ragam Percakapan: tidak resmi. Vicky Ibu Vicky Ibu Vicky Ibu : Uma, Mas Kamal (merengek sambil menarik baju ibunya yang sedang membuat minuman). : Mas Kamal kenapa? : Nakal…aku. : Sampean diapakno? : Sama Kamal…nakal…Kamal : Mas Kamal nakal? Sampean diapain? Lho Mas Kamal SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 kenapa itu? (Kamal bermain sendiri dengan mainannya). Pada tuturan tersebut anak melakukan tindak tutur meminta perhatian ketika dia tidak diperbolehkan oleh kakaknya untuk ikut bermain. Dia menggunakan tuturan meminta perhatian Uma, Mas Kamal…Nakal merupakan upaya anak untuk mendapatkan perhatian ibunya tentang perilaku kakaknya. Melarang Tindak tutur melarang adalah merupakan salah satu jenistindak tutur memerintah yang dilakukan penutur dengan maksud melarang mitra tutur melakukan sesuatu. Tindak tutur melarang ini dilakukan agar mitra tutur memberikan respon berupa tidak melakukan kegiatan tertentu sesuai dengan makna larangan dalam tindak tutur yang dituturkan penutur. Konteks: Peristiwa Tutur: Vicky belajar bernya-nyi lagu berjudul Bintang Kecil yang baru diajarkan kakak sepupunya. Sore itu, Vicky belajar menyanyikan lagu berjudul Bintang Kecil di rumah bersama ayah dan ibunya. Tempat: di ruang keluarga; waktu: sore hari; penutur: anak; mitra tutur: ayah dan ibu; tujuan: melarang ayah dan ibunya untuk mengikutinya dalam menyajikan lagu berjudul Bintang Kecil. Situasi: akrab; ragam percakapan: tidak resmi. Vicky Ibu Vicky Ibu Vicky Ibu : (menyanyi lagu bintang kecil). Bintang kecil....(tidak bisa meneruskan) : Terus.... : Nggak tahu.. : Lho kok gak tahu...diajarin sapa? : Aku dibelajarin Mbak Ela, Bunda bisa? (meminta ibunya melanjutkan lagu yang dinyanyikan) : Bisa...di langit yang tinggi.. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Ayah Vicky Ibu Vicky Ibu Vicky : Amat banyak.... : Amat banyak menghias angkasa... : terus ayo cepet...Amat banyak menghias angkasa... : jangan ikut-ikut : Oh...diem ta Bunda? :Iya.... Pada tuturan tersebut anak melakukan tindak tutur melarang ketika Ibunya mengikuti dia menyanyi. Dia menggunakan tuturan melarang jangan ikut-ikut merupakan upaya anak untuk melarang ibunya mengikuti di menyanyi lagu bintang kecil.. PENUTUP Berdasarkan paparan data makna pragmatis dalam tindak tutur direktif pada anak usia 5 tahun, maka dapat disimpulkan bahwa pemerolehan makna pragmatis dalam tindak tutur direktif anak usia 5 tahun yaitu (a) memerintah, (b) meminta (meminta sesuatu, meminta informasi, meminta penegasan, dan meminta perha-tian), dan (c) melarang. DAFTAR PUSTAKA Clark, Herbert H. and Clark, Eve V. 1977. Psychology and Language: An Introduction to Psycholinguistic. New York: Harcourt Brace Jovanovich. Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Echa: Kisah Pemerolehan Bahasa Anak Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia. Ellis, Rod. 1994. The Study Second LanguageAcquisition. Oxford: Oxford University Press. Pratiwi, Yuni. 1994. Pemerolehan Kompetensi Tindak Tutur dalam Percakapan Anak Usia Prasekolah Keluarga Jawa. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana IKIP Malang. Sumarsono. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA. 39 Mantra Bercocok Tanam Padi di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang (Kajian Struktur dan Fungsi) Endah Sari & Asri Wulandari Email: endahsari.stkipjb@gmail.com, asriwulandari.bina2013c@gmail.com STKIP PGRI Jombang Penelitian ini bertujuan untuk meneliti struktur mantra dan fungsi mantra yang terdapat dalam objek penelitian mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang. Mantra merupakan kesusastraan lama yang berkembang didalam kehidupan masyarakat. Mantra juga dipercayai sebagai puisi tertua di Indonesia. Mantra dipercayai masyarakat dapat menimbulkan sesuatu yang ghaib dan tidak sembarang orang yang mampu melafalkan atau mengucapkan mantra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan atau melukiskan subjek atau objek peneliti berdasarkan fakta yang tampak atau nyata. Sedangkan kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang tidak melibatkan perhitungan atau diistilahkan dengan penelitian ilmiah yang menekankan pada karakter alamiah sumber data. Mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang terdapat dua fokus permasalahan yaitu 1) Bagaimana struktur mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang? 2) Bagaimana fungsi mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang? Sehingga hasil penelitian tersebut yaitu 1) Struktur mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang, 2) Fungsi mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang. Kata Kunci: Struktur mantra, fungsi mantra dalam mantra bercocok tanam padi PENDAHULUAN astra lama merupakan sastra yang berada dimasyarakat dan hidup dimasyarakat. Sastra lama terancam punah keberadaanya karena kurang perhatian masyarakat yang disebabkan oleh pola berpikir yang modern dan sikap hidup yang berubah seiring dengan perkembangan zaman yang mengedepankan kehidupan modern. Sastra lama berkembang dimasyarakat secara lisan dari mulut ke mulut dan diwariskan secara turun temurun. Sastra lama ini juga bisa disebut sebagai sastra lisan, dikarenakan sastra ini disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Sastra S 40 lama tercipta dan berkembang sebelum masuknya unsur modernisme ke dalam kehidupan manusia. Mantra dikategorikan sebagai sastra lisan karena berupa puisi magis yang dimiliki oleh masyarakat yang diperoleh dan disebarkan secara lisan Mantra tidak dapat diketahui secara pasti siapa penciptanya atau penulisnya, mantra disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut dan tidak ada bukti tertulis awal mantra itu diciptakan. Mantra diucapkan untuk mendatangkan kekuatan gaib, tetapi di zaman yang modern ini tidak semua mantra yang diucapkan dapat mendatangkan kekuatan gaib, dikarenakan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 pertaniannya. Pada penelitian ini peneliti menggunalan teori dari Yusuf alasan peneliti menggunakan teori tersebut dikarenakan pada teori itu dijelaskan secara rinci struktur dan fungsi yang ada pada mantra dan teori tersebut membatu peneliti dalam melakukan penelitian karena peneliti meneliti struktur dan fungsi mantra. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah strukturmantra bercocok tanam padi yang ada di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang? 2. Bagaimanakah fungsi mantra bercocok tanam padi yang ada di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang? LANDASAN TEORI Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani posima “membuat” atau poeisis “pembuatan”, dan dalam bahasa inggris disebut poem atau poetry. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi perasaan atau gambaran suasana-suasana tertentu baik fisik maupun batiniah (Aminuddin, 1984:37). Dengan mengutip pendapat MoCaulay, Hudson mengungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertian puisi diatas, sementara ini dapatlah kita terima karena kita seringkali diajuk oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi (Aminuddin, 1984:38). SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinasi). Kata-kata betul terpilih agar memiliki kekuatan pengucapan. Walaupun singkat atau padat, namun berkekuatan. Karena itu, salah satu usaha penyair adalah memilih kata-kata yang memiliki persamaan bunyi (rima). Kata-kata itu mewakili makna yang lebih luas dan lebih banyak. Karena itu, kata-kata dicarikan konotasi atau makna tamhannya dan dibuat bergaya dengan bahasa figuratif (Waluyo, 2002:1). Menurut Yusuf (2001:08) sebelum manusia menciptakan puisi, ia terlebih dahulu menciptakan mantra, yakni ungkapan yang dapat mendatangkan kekuatan magis. Dengan demikian, mantra lebih dahulu lahir dari pada puisi. Mantra diciptakan untuk mengobati penyakit, melawan roh jahat, atau memanfaatkan kekuatan supranatural. Menurut Medan dalam Yusuf (1975) mantra merupakan salah satu bentuk puisi lama, yang di dalamnya berbaur unsur bahasa dengan unsur kepercayaan alam gaib. Mantra dapat mendatangkan kekuatan atau tenaga sakti bukan hanya dapat memesona manusia biasa, melainkan juga dapat membuat makhluk lain, seperti hewan, tidak berdaya. Bahkan, roh-roh yang berada disekitar lingkungan kehidupan kita dapat dijinakkan dan kemudian dimanfaatkan (Gazali dalam Yusuf, 1958). Menurut Soedjijono dalam Yusuf (1987:13) mantra adalah serangkaian kata yang diucapkan dengan syarat tertentu yang dapat menimbulkan kekuatan gaib. Sementara itu, koentjaraningrat dalam Yusuf (1981:177), menganggap bahwa mantra merupakan unsur penting dalam ilmu gaib (magic). Mantra dapat berupa kata dan suara yang dianggap memiliki kesaktian. Dari segi bahasa, mantra biasanya menggunakan bahasa khusus yang sukar 41 dipahami. Mantra yang ada biasanya menggunakan bahasa Arab, bahasa Jawa, dan bahasa campuran antara keduanya, tergantung dimana tempat mantra itu berkembang. Adakalanya, dukun atau pawang sendiri tidak memahami arti sebenarnya mantra yang ia baca, ia hanya memahami kapan mantra tersebut dibaca dan apa tujuannya (Anggoro, 2011:22-23). Menurut orakas dalam Yusuf (yang dikutip oleh Soedjijono, 1987:14) mantra terikat oleh bentuk atau susunan mutlak yang tidak boleh diubah, sebagai warisan dari ahli gaib zaman dahulu. Mantra tidak diwajib dimengerti bahasa dan kalimatnya. Dalam mantra terkandung banyak kiasa atau simbolik unsur-unsur kepercayaan yang dianggap berisi tenaga magis. Menurut Orakas pengertian mantra sebenarnya identik dengan pengertian sugesti. Keduanya memiliki persamaan penggunanya, bermaksud untuk mempengaruhi orang lain. METODE PENELITIAN Metodologi penelitian berasal dari kata “metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu, dan “logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi metodologi artinya cara untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan (Narbuko, 2009: 1). Menurut Ali dalam Narbuko dan Achmadi (2009:02) penelitian adalah suatu cara untuk penyellidikan atau melalui usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya. Metode berarti cara yang dipergunakan seorang peneliti didalam usaha memecahkan masalah yang diteliti. Oleh sebab penelitian merupakan kegiatan ilmiah, metode harus sistematis atau prosedural. Sistematis artinya seorang peneliti harus bekerja secara teratur di dalam upaya memecahkan masalah. Ia ti42 dak bisa bergerak dari satu aspek atau fase ke aspek atau fase ke lain secara serampangan. Gerakan atau cara berpikir harus tetap terjalin antara aspek yang satu dengan yang lain secara terpadu (solid). Kepaduan berpikir secara runtut adalah cermin cara kerja yang sistematis, sehingga penelitian terhindar dari cara kerja acak (Siswantoro, 2008:56). Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa metode penelitian merupakan suatu cara, alat maupun teknik yang digunakan untuk melakukan penelitian terhadap hal yang akan diteliti. Oleh karena itu, pemilihan metode harus tepat agar penelitian dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam penelitian, metode merupakan yang terpenting karena kehadirannya akan membantu peneliti pengarahan cara penelitian yang benar. Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Mantra Bercocok Tanam Padi di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang (Kajian Struktur dan Fungsi)”, maka metode yang dipakai adalah metode deskriptif kualitatif. Menurut Nawawi dalam Siswantoro (1995:63) metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (novel, drama, cerita pendek, puisi) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Menurut Suryabrata (2011:76) penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat pencandraan (deskripsi) mengenai situasi atau kejadiankejadian. Dalam arti ini peneliti dekriptif itu adalah akumulasi data dasar dalam cara deskriptif semata-mata tidak perlu mencari atau menerangkan saling hubungan, mentest hipotesis, membuat ramalan, atau mendapatkan makna dan impliksi, walaupun penelitian yang bertujuan untuk menemuSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Menurut Tjahjono (2011:180) Mantra merupakan puisi tua. Keberadaannya pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat istiadat dan kepercayaan. Kekuatan mantra terletak pada bunyinya. Semakin kuat bunyi mantra tersebut, semakin tinggi nilai magisnya. Menurut Amir (2013:67) mantra didaraskan seseorang pada tempat tertentu, teksnya juga sudah tertentu, lafalnya tidak jelas, kekuatan magis implisit di dalamnya, dan ada akibat riil atas pelaksanaannya. Pada dasarnya mantra merupakan pujian-pujian atau kata-kata terhadap sesuatu yang gaib atau terhadap sesuatu yang dianggap dikeramatkan. Mantra lahir dari kepercayaan dan keyakinan masyarakat sejak zaman nenek moyang kita. Mantra biasanya dituturkan oleh dukun atau orang yang dipercayai oleh masyarakat untuk mengucapkan atau melafalkan mantra itu. Mantra diucapkan dengan penuh penghayatan tidak dengan suara keras. Mantra memiliki ciri khas yaitu mantra diucapkan pada saat tertentu dan memiliki tujuan yang tertentu pula, mantra dianggap suci, memiliki kekuatan gaib, tidak boleh diucapkan oleh sembarang orang, selalu dijaga kemurniannya dan diturunkan secara berhati-hati. Mantra bercocok tanam padi merupakan mantra yang digunakan pada saat bercocok tanam padi mulai dari menabur benih, menanam padi, pada saat padi menguning, memanen padi sampai pada saat membawa padi pulang ke rumah. Mantra bercocok tanam ini dibacakan oleh dukun setempat yang diyakini masyarakat bisa membacakan atau menuturkan mantra. Mantra ini dilakukan dengan harapan, pada saat bercocok tanam padi tanaman diberikan sehat, terhindar dari penyakit dan hama, petani juga berharap mendapatkan hasil panen yang melimpah. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Berdasarkan uraian latar belakang penelitian diatas, maka peneliti menggunakan judul penelitian yakni “Mantra Bercocok Tanam Padi Di Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang (Kajian Struktur Dan Fungsi)”, alasan peneliti menggunakan judul tersebut adalah untuk menambah wawasan keilmuan sastra lamaterutama dalam hal struktur dan fungsi yang terdapat dalam mantra. Dari beberapa desa dan dusun yang ada di kecamatan Diwek yang dipilih peneliti untuk dijadikan objek kajiannya yaitu dusun Galuh Krajan desa Watugaluh, dusun Buntel desa Keras, dusun Cikar desa Keras, dusun Tebon desa Kayangan. Peneliti mengambil objek penelitiannya berupa mantra bercocok tanam padi yang selalu digunakan oleh masyarakat kecamatan Diwek kabupaten Jombang. Peneliti mengambil objek tersebut dikarenakan mulai berkurangnya perhatian terhadap sastra lisan dan adanya fenomena di sebuah kelompok masyarakat bahwa penuturan mantra yang dilakukan sebelum pelaksanaan kegiatan pertanian masih selalu dituturkan dan masih produktif hingga saat ini, dan tidak semua orang bisa memahami mantra dan mempercayainya tetapi ternyata masih ditemukan mantra yang masih digunakan oleh masyarakat. Alasan peneliti selanjutnya ialah di dalam mantra terdapat suatu keindahan yang terletak di dalam bahasa yang digunakan sebagai penyampaiannya, dan selama ini belum ada yang meneliti tentang struktur dari mantra bercocok tanam padi yang ada di daerah tersebut. Alasan peneliti mengambil mantra bercocok tanam padi yang berada di kecamatan Diwek kabupaten Jombang sebagai objek penelitian dikarenakan di kecamatan tersebut masih banyak ladang atau sawah yang ditanami padi pada saat musim hujan dan di daerah tersebut masih dijumpai desa ataupun dusun yang menggunakan mantra untuk kegiatan 43 kan hal-hal tersebut dapat mecakup juga metode-metode deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data, jadi ia juga menyajikan data, menganalisis data dan menginterpretasi. Ia juga bisa bersifat komperatif dan korelai (Narbuko 2008:44). Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu cara yang digunakan dengan sistematis digunakan untuk membuat deskripsi atau gambaran mengenai kata-kata atau kalimat yang terdapat dalam matra bercocok tanam padi yang berada di kecamatan Diwek kabupaten Jombang. Penelitian sastra juga memerlukan data tetapi dalam bentuk verbal yaitu berujud kata, frasa atau kalimat. Meski bersifat verbal, namun data menyajikan daya tarik serta kaya akan kedalaman interpretasi (Siswantoro, 2008:70). Menurut Milles dan Huberman dalam Siswantoro (1984:15) Data kualitatif sesungguhnya menarik. Data tersebut benar-benar sumber informasi yang berdasar teori, kaya akan deskripsi serta kaya akan penjelasan proses yang terjadi di dalam konteks.Dalam penelitian kualitatif, peneliti selain berperan sebagai pengelola penelitian juga sebagai satu-satunya instrumen dalam mengumpulkan data, yang tidak dapat digantikan dengan instrumen lainnya (Riyanto, 2007: 22). Menurut Bungin (2007: 65-66) analisis kualitatif berasal dari pendekatan fenomenologisme yang sebenarnya lebih banyak alergi terhadap pendekatan positivisme yang dianggap terlalu kaku, hitam-putih, dan terlalu taat asas. Alasannya bahwa analisis fenomenologisme lebih tepat digunakan untuk mengurai persoalan subjek manusia yang umumnya tidak taat asas, berubah-ubah dan sebagainya. Penelitian kualitatif adalah sebuah proses inquiri yang menyelidiki masalah-masalah sosial dan 44 kemanusiaan dengan tradisi metodologi yang berbeda (Masyhuri, 2008: 19). Analisis kualitatif umumnya tidak digunakan untuk mencari data dalam arti frekuensi, tetapi digunakan untuk menganalisis makna dari data yang tampak di permukaan itu. Dengan demikian, analisis kualitatif digunakan untuk memahami sebuah fakta, bukan untuk menjelaskan fakta tersebut (Bungin, 2007: 66). Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa analisis atau penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang menitikberatkan pada gambaran yang lengkap dan rinci terhadap variabel yang saling berkaitan. Metode ini bertujuan untuk memperoleh makna dan menggambarkan realita. Pengumpulan data merupakan cara yang sengaja disusun sedemikian rupa dipergunakan untuk menghimpun sejumlah data. Data-data yang diperlukan sebagai bahan suatu penelitian. Teknik atau cara pengumpulan data harus dilakukan dan disusun secara sistematis agar penelitian dapat terarah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Teknik pengumpulan data tidak terlepas dari proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengambilan data yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya. Di samping data primer dan data skunder, yang seringkali juga diperlukan oleh peneliti (Suryabrata, 2013:39). Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah sangatlah penting karena baik buruk -nya tergantung pada teknik pengumpulan data. Data-data yang diperoleh akan diperlukan sebagai bahan dalam suatu penelitian. Penelitian yang berjudul “Mantra Bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang (Kajian Struktur dan Fungsi)” membutuhkan teknik untuk mendapatkan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Observasi. Menurut Bungin dalam Satori (2007:115), observasi adalah meSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan.Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu peneliti mengadakan observasi guna penentuan objek. Peneliti juga melaksankan penelitian lapangan yang dikunjungi adalah sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Oleh karena itu, setelah peneliti menentukan fokus penelitian, maka dipilih lokasi penelitian yang digunakan sebagai sumber data. Setelah penulis mengamati dan meninjau secara cermat, maka objek yang diambil adalah mantra bercocok tanam padi yang ada di kecamatan Diwek kabupaten Jombang yang akan djadikan sebagai sumber dan data penelitian yang akan diteliti. 2. Menentukan objek. Penentuan objek dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data agar sesuai dengan apa yang ingin diteliti oleh peneliti. Penentuan objek dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mantra bercocok tanam padi yang berada di kecamatan Diwek kabupaten Jombang yaitu dusun Galuh Krajan desa Watugaluh dengan narasumber bapak Suradi, dusun Buntel desa Keras dengan narasumber bapak Slamet, dusun Cikar desa Keras dengan naraumber bapak Mugeni, dan dusun Tebon desa Kayangan dengan narasumber bapak Sukardi. 3. Perekaman. Teknik perekaman ini digunakan peneliti untuk merekam setiap kata yang dituturkan oleh narasumber. Sebelum melakukan perekaman peneliti melakukan wawancara terlebih dahulu dengan narasumber. Selanjutnya peneliti mere -kam saat penutur mantra atau narasumber membacakan mantra bercocok tanam padi dengan handycam sony. Alasan peneliti menggunakan handycam sony sebagai alat untuk perekaman yaitu dengan handycam sony diharapkan suara narasumber bisa jelas dan jernih, gambar naraSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 sumber juga bisa terlihat dengan jelas. Peneliti mendengarkan secara berulangulang untuk memahami mengenai mantra yang dibacakan oleh penutur mantra atau narasumber guna mendapatkan data yang faktual untuk dilakukan simak catat. 4. Transkrip data. Transkrip data dilakukan setelah peneliti memperoleh data. Dari hasil perekaman yang telah dilakukan kemudian peneliti menyalin data yang diperoleh dari hasil rekaman yang telah disimak ke dalam bentuk tertulis. Peneliti menyalin data hasil rekaman ke dalam bentuk tertulis supaya mudah untuk melakukan menganalisis dari data yang telah diperoleh peneliti. 5. Membaca data. Setelah peneliti melakukan proses simak rekam dan simak catat, peneliti membaca atau mencari data penelitian. Pembacaan data difokuskan pada kata-kata atau kalimat-kalimat yang dibacakan oleh penutur mantra yang terdapat dalam mantra bercocok tanam padi. 6. Pengkodean. Teknik ini digunakan untuk menandai kata-kata atau kalimat yang terdapat dalam mantra bercocok tanam padi. Pada tahap ini peneliti memberikan kode pada data hasil penelitian kemudian memilih data sesuai rumusan masalah dalam penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis klasifikasi data struktur mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang Kutipan 1 kode (PM) Nyai danyang Kaki danyang Nyai bodo Kaki bodo Pada kalimat Nyai danyang, Kaki danyang, Nyai bodo, Kaki bodomerupakan pembuka mantra (PM) karena pada kalimat 45 tersebut merupakan salam kepada yang dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai dzat yang dimintai bantuan. Kutipan 2 kode (I) Anggenipun tanem dinten meniko nyuwun pandongo wilujeng slamet Pada kutipan diatas merupakan isi mantra karena pada kutipan tersebut pemantra memberitahukan bahwa akan ada proses menanam padi dan pemantra meninta do’a diberi keselamatan. Kutipan 3 kode (PN) Slamet saking kersane gusti Allah Pada kutipan diatas merupakan penutup mantra karena pada kutipan tersebut menyatakan permintaan do’a selamat yang berasal dari kehendak Allah. Analisis data fungsi mantra bercocok tanam padi di kecamatan Diwek kabupaten Jombang Kutipan 1 kode (MT) Suket teki Podo mati Tandure ijo royo-royo koyok mendung Pada kutipan tersebut memiliki fungsi menundukkan tumbuhan (MT), pemantra memberikan pemberitahuan kepada rumput teki agar mati atau tidak tumbuh dan yang tumbuh hanyalah tanaman (padi) yang hijau dan subur. Kutipan 2 kode (MRH) Iki bageanmu mbok sri muliho Kowe tak sediani wedak tak sediani ngilon tak sediani suri Brai-braio ndok omah ndok gedung roro denok Pada kutipan tersebut memiliki fungsi menundukkan roh halus (MRH), Roh halus 46 tersebut ditundukkan supaya tidak mengganggu kegiatan yang akan dilakukan oleh petani dengan meminta bantuan dari pemantra. Roh halus ditundukkan dengan disediakan sesaji yang lengkap dan juga disediakan bedak, sisir, dan kaca. Pemantra menyuruh roh halus yang sedang ada di sawah untuk pulang dan membawa sesaji yang telah dipersiapkan. PENUTUP 1. Berdasarkan dari penjelasan rumusan masalah yang pertama dapat ditarik kesimpulan bahwa pada mantra bercocok tanam padi yang ada dikeca-matan Diwek kabupaten Jombang terdapat beberapa mantra yang digunakan pada saat proses penanaman hingga memanen padi. Dari mantra-mantra tersebut ada yang memiliki struktur mantra lengkap yaitu mantra tandur dari dusun Buntel Desa Keras, mantra methik dari dusun Buntel desa Keras, mantra methik dari dusun Tebon Desa Kayangan,mantra nye-bar wineh dari dusun Cikar desa Keras, mantra tandur dari dusun Cikar Desa Keras, dan mantra keleman dari dusun Cikar desa Keras. 2. Berdasarkan penjelasan rumusan masalah yang kedua mengenai fungsi dari mantra bercocok tanam padi yang ada dikecamatan Diwek Kabupaten Jombang dapat ditarik kesimpulan bahwa ada mantra yang berfungsi untuk menundukkan tumbuhan dan ada mantra yang berfungsi untuk menundukkan roh halus. Mantra yang berfungsi untuk menundukkan tumbuhan yaitu mantra tandur dari dusun Galuhkrajan desa Watugaluh, mantra tandur dari dusun Tebon desa Kayangan, mantra keleman dari dusun Tebon desa Kayangan, mantra methik dari dusun Tebon desa Kayangan, mantra nyebar wineh dari dusun Cikar desa Keras, dan mantra keleman dari dusun Cikar desa Keras. Sedangkan, mantra yang berfungsi untuk menundukkan roh halus yaitu mantra methik dari dusun Galuhkrajan desa SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Watugaluh, mantra tandur dari dusun Buntel desa Keras, mantra methik dari dusun Buntel desa Keras, mantra tandur dari dusun Cikar desa Keras, mantra methik dari dusun Cikar desa Keras, dan mantra boyong mbok sri dari dusun Cikar desa Keras. DAFTAR PUSTAKA Amir, Adriyetti. 2013. Sastra Lisan Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset. Aminuddin. 1984. Pengantar Memahami Unsur-Unsur Dalam Karya Sastra ( B a g i a n I I ) . M a l a n g : Fa ku l t a s Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP. Anggoro, Hendi. 2011. Struktur Mantra Primbon Ajimantrawara. Semarang.UNS. Bungin, Burhan. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. 2008. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Bumi Aksara. Djam’an Satori dan Aan Komariah. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung:Alfabeta. Kukuh, Randy Tri Bastian. 2011. Kajian Struktur Batin Antologi Puisi Lelah Membaca Indonesia Karya Saiful Hajar. Jombang. STKIP PGRI Jombang. Melani dkk. 2002. Membaca Sastra. Magelang: Indonesia Tera. Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mukhlasin, Saiful. 2015. Prosiding Seminar Nasional Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajarannya Dewasa Ini. Kediri: Universitas Nusantara PGRI Kediri. Masyhuri dan Zainuddin. 2008. Metodologi Penelitian (Pendekatan Praktis dan Aplikatif). Bandung: Refika Aditama. Ratnawati. 2015. Analisis Struktur dan Fungsi Mantra Pengobatan Masyarakat di Dusun Senempek Desa Limbung Kecamatan Lingga Utara Kabupaten SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Lingga. Tanjung Pinang. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Rifqi, Muhammad Rahman. 2013. Kajian Struktur Batin dalam Antologi Puisi Karya Hasyim Wahid. Jombang. STKIP PGRI Jombang. Riyanto, Yatim. 2007. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Unesa University Press. Santoso, Muhammad. 2011. Kajian Struktur Fisik Antologi Puisi Kita Lahir Sebagai Dongengan Karya Soni Farid Maulana. Jombang. STKIP PGRI Jombang. Siswantoro. 2008. Metode Penelitian Sastra.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suryabrata, Sumadi. 1983. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Trisia, Meta. 2014. Analisis Struktur Dan Fungsi Mantra Pada Masyarakat Tarempa Kecamatan Siantan Kabupaten K e p u l a u a n A n a m b a n . Ta n j u n g Pinang.Universitas Maritim Raja Ali Haji. Tjahjono, Tengsoe. 2011. Mendaki Gunung Puisi. Malang: Bayumedia Publishing. Wiratmojo, Bayu. 2015. Mantra Pengobatan Di Desa Gantang Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang (Kajian Struktur dan Fungsi). Surakarta. Universitas Sebelas Maret. Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga. ______. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka. Yusuf, Yusri dkk. 2001. Struktur dan Fungsi Mantra Bahasa Aceh. Jakarta: Pusat Bahasa. 47 Struktur dan Fungsi Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon Bagi Masyarakat Kabupaten Jombang Banu Wicaksono & Erma Rahayu Lestari Email: banuwicaksono79@gmail.com, ermarahayu.lestari79@gmail.com STKIP PGRI Jombang Penelitian ini mengkaji sastra lisan, terkhususnya cerita babad Kebo Kicak Karang Kejambon di Kabupaten Jombang. Fokus dalam penelitian ini ada dua, antara lain (1) mendeskripsikan struktur cerita babad Kebo Kicak Karang Kejambon, dan (2) mendeskripsikan fungsi sosial cerita babad Kebo Kicak Karang Kejambon bagi masyarakat Kabupaten Jombang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sebab menghasilkan data deskriptif yang berupa data lisan dan tulis. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pemotretan, (3) pencatatan, (4) wawancara yang mendalam, dan (5) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi. Hasil dari penelitian ini memberikan temuan bahwa struktur cerita dalam cerita babad Kebo Kicak Kejambon bersifat kompleks dan variatif. Tema dalam cerita ini adalah tentang perjuangan manusia dalam mencari jati dirinya, tokoh dalam cerita ada sebanyak 27 orang, setting atau latar dalam cerita lebih mengacu pada temuan asal tempat yang sering muncul dalam cerita antara lain Bantaran Sungai, Rumah Ki Ageng Pranggang, Kerajaan Majapahit, Cukir (Desa Sumoyono), Kejambon, Kedung Bungkil, Bantengan, Sungai Brantas, Tampingan, Trengguluan, Jambu, dan Kandang Sapi. Amanat dalam cerita adalah ambisi yang tinggi dan kontrol emosi adalah dua hal yang harus diseimbangkan dalam diri manusia. Fungsi dalam cerita lebih banyak mengacu pada empat hal, antara lain (1) sebagai alat pendidikan masyarakat, (2) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, (3) meningkatkan sanksi sosial agar berperilaku atau memberi hukuman, dan (4) sebagai sarana kritik sosial bagi para pembaca atau pendengar cerita. Kata Kunci: Struktur Cerita, Fungsi Cerita, Babad Kebo Kicak Karang Kejambon PENDAHULUAN arya sastra dapat dibedakan menjadi dua yaitu sastra tulis dan sastra lisan. Sastra tulis adalah karya sastra yang disampaikan dengan cara dibukukan, sedangkan sastra lisan adalah cerita yang bersifat kelisanan dan diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya. K 48 Karya sastra lisan di nusantara ini sebenarnya sangat banyak, hanya saja belum diketahui oleh khalayak banyak karena persebarannya yang sangat minim. Semua itu terjadi mungkin oleh karena belum ada yang meneliti ataupun belum terdokumentasikan secara rapi. Apabila lebih dicermati dan dipahami, karya sastra lisan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 yang berada tidak jauh dari kehidupan masyarakatnya yang mempunyai suatu manfaat tanpa mereka sadari. Dalam sebuah karya sastra tersimpan sebuah gagasan yang merupakan ungkapan pemikiran, cita- cita, dan bahkan berupa renungan manusia pada masa tertentu. Cerita rakyat merupakan salah satu hasil budaya yang kontroversional. Di satu sisi, cerita rakyat pada saat ini secara pelan tapi pasti mulai dilupakan atau kurang diminati oleh masyarakat pendukungnya. Tetapi, di sisi lain cerita rakyat juga sangat dibutuhkan oleh sebagian masyarakat terutama dari kalangan pendidik, utamanya bagi pendidik dan peserta didik yang masih duduk di bangku prasekolah atau Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, bahkan Sekolah Menengah Atas. Demikian juga dengan para orangtua, cerita rakyat dibacakan atau diceritakan secara langsung sebagai pengantar untuk meninabobokan anaknya menjelang tidur. Hal ini disebabkan oleh suatu kebutuhan bahwa untuk menanamkan nilai-nilai atau sikap, nilai sejarah, dan nilai-nilai kemasyarakatan, akan lebih mudah ditanamkan pada jiwa peserta didik melalui cerita rakyat baik itu secara lisan maupun cerita rakyat yang telah dibukukan. Nugroho (1990: 9) menegaskan bahwa cerita rakyat yang pada dasarnya mulai ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya, terutama oleh anak-anak muda, disebabkan oleh suatu pola pikir anak-anak muda yang bersifat praktis. Mereka tidak memerlukan pemikiran dan perenungan yang dalam. Hal itu menyebabkan mereka lebih menyukai karya sastra yang bersifat hiburan semata. Oleh karena dalam memahami karya sastra tersebut sesuai dengan jiwa dan kemampuannya. Karya sastra, dalam hal ini cerita rakyat, juga merupakan kekayaan khasanah budaya bangsa. Karya sastra seperti ini berkembang di masyarakat dengan berbagai variasi bentuk cerita walaupun terkaSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dang mungkin tema ceritanya hampir sama. Secara umum, harus diakui bahwa cerita rakyat yang berhubungan dengan kejadian, nama, dan mitos di suatu daerah tertentu merupakan naskah lisan yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu secara lisan pula. Dengan demikian, menjadi objek yang menarik untuk diteliti baik dari asal-muasal cerita maupun struktur dan fungsi cerita bagi masyarakat pendukungnya. Adapun alasan peneliti meneliti objek filologi lisan, dalam hal ini cerita Kebo Kicak Karang Kejambon di wilayah Kabupaten Jombang ini, oleh karena cerita rakyat ini banyak mengalami berbagai variasi. Variasi itu terlihat baik dalam unsur intrinsik pada cerita itu sendiri, misalnya: tema, alur cerita, penokohan, latar cerita, sudut pandang cerita, dan pesan yang akan disampaikan oleh cerita itu sendiri. Keanekaragaman penghayatan atau pro-ses penerimaan cerita yang disampaikan secara lisan kepada seseorang dipengaruhi berbagai hal. Hal-hal itu antara lain misalnya agama, riwayat hidup, pendidikan, politik, ekonomi, filsafat, dan bu -daya. Dengan demikian, menimbulkan filologi lisan yang dihasilkan dan secara berjenjang akan menghasilkan filologi lisan yang sangat beragam. Kehadiran filo -logi lisan cerita yang seperti ini sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra di Indonesia. Pada dasarnya, filologi lisan bersifat kemasyarakatan. Apa yang disampaikan oleh salah satu anggota masyarakat sebagai narasumber filologi lisan bermaksud untuk menyampaikan sejarah, legenda, perasaan, dan falsafah hidup masyarakat pada zaman dahulu dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakat pembaca dan masya -rakat pendengarnya di masa yang akan datang. Oleh karena itu, hubungan antara individu dengan masyarakat, khususnya penikmat suatu karya sastra sangat erat sekali. Hal ini dapat menjadikan suatu hasil 49 karya sastra yang mempunyai dampak positif bagi pembacanya. Di samping itu, faktor intrinsik dalam karya sastra dengan hal ini sebagai filologi lisan sangat menentukan mudahnya bagi penikmat sastra ini untuk menyerap kandungan isinya. Untuk itulah penulis menganggap penting untuk mengkaji unsur-unsur intrinsik filologi lisan yang berkembang di masyarakat, lebih khususnya di wilayah Kabupaten Jombang, sehingga memperoleh gambaran-gambaran kevariasian cerita yang lebih jelas focus penelitian. Fokus dalam penelitian ini ada dua, antara lain sebagai berikut. 1. Bagaimanakah struktur cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon di Kabupaten Jombang, terkhususnya yang mencakup tentang: (a) tema cerita; (b) alur cerita; (c) tokoh dan penokohan dalam cerita; (d) setting (waktu, tempat, dan suasana dalam cerita); (e) sudut pan -dang dalam cerita; dan (f) amanat cerita. 2. Bagaimanakah fungsi sosial cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon bagi masyarakat di Kabupaten Jombang? TINJAUAN PUSTAKA 1. Kajian Filologi Lisan Kebudayaan merupakan hasil akal budi manusia dari alam sekitar bagi kesejahteraan hidupnya. Hasil budi daya itu adalah penciptaan batin yang dapat berubah seperti kepercayaan keseniaan dan adapt istiadat. Dari adat istiadat ter -sebut timbullah karya sastra sebagai ekspresi pikiran dan perasaan manusia. Menurut Suripan Sadi Hutomo (1991: 34), sastra atau kesusastraan adalah akspresi pikiran dan perasaan manusia, baik lisan maupun tulis (cetakan), dengan menggunakan bahasa yang indah menurut konteksnya. 50 Dengan dasar teori di atas dapat dikemukakan bahwa karya sastra pada dasarnya dapat berupa karya sastra tulis dan karya sastra lisan. Karya sastra tulis menghasilkan naskah-naskah yang berbentuk prosa, puisi atau drama. Sedangkan, karya sastra lisan dapat berupa cerita rakyat, syair, pantun, dan lain sebagainya. Untuk dapat menikmati karya sastra diperlukan ilmu-ilmu pengetahuan sebagai unsur penunjangnya. Ilmu-ilmu pengetahuan itu di antaranya adalah filologi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998: 242), arti filologi adalah ilmu tentang perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau tentang kebudayaannya berdasarkan bahasa dan sastranya. Dengan demikian, filologi sangat erat kaitannya dengan kesusastraan. Seperti diketahui suatu teks, baik tulis maupun lisan berupakah suatu hasil karya sastra. Sedangkan, teks atau naskah berdasarkan waktu pembuatannya dapat dibedakan menjadi teks atau sastra lama dan sastra modern. Oleh karena itu, sejalan dengan uraian di atas, Suripan Sadi Hutomo menjelaskan bahwa filologi adalah ilmu yang mencintai teks kuno maupun modern, baik lisan maupun tertulis. Dan, untuk dapat memahami suatu teks apapun, kita harus mempelajari bahwa teks itu, misalnya jenis kertas yang dipakai, jenis tinta yang dipakai, sejak era atau masa kapan cerita lisan dituturkan, dan lain sebagainya (Hutomo, 1999: 1). Kajian Filologi Tulis. Karya sastra yang di dalamnya filologi dapat dipilah menjadi dua macam yaitu filologi tulis dan filologi lisan. Filologi tulis atau sastra tulis yaitu kesusatraan yang mencakup ekspresi seseorang atau lebih yang penyebarannya menggunakan media tulis (Sudikan, 2001: 2). Filologi tulis dipilah lagi menjadi filologi tulis tradisional dan filologi tulis modern. Filologi tradisional baik tulis maupun lisan sering disebut sebagai filologi klasik atau filologi lama. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Filologi klasik atau filologi lama adalah filologi yanhg tercipta dalam masyarakat yang masih dalam keadaan tradisonal atau filologi yang berasal dari zaman pra modern, yaitu zaman sebelumnya adanya pengaruh Eropa secara intensif. Oleh karena itu, filologi yang dimaksud menggunakan bahasa daerah, maka filologi klam juga disebut filologi yang dimaksud menggunakan bahasa daerah, maka filologi lama juga disebut filologi daerah. Kajian Filologi Lisan. Jika kembali pada etimologi, kata filologi yang berasal dari kat phialin (cinta) dan logos (kata-kata), maka tidak mengherankan jika istilah filologi dihubungkaitkan dengan tradisi lisan, atau sastra lisan (Hotomo, 1999:3). Oleh karena itu, karya sastra lisan sering disebut filologi lisan. Filologi lisan atau sastra lisan yaitu kesusastraan yang mencakup ekspresi warga suatu kebudayaan yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan (dari mulut ke mulut) (Sudikan, 2001: 2). Berdasarkan teori di atas, bahwa suatu ekspresi kesusastraan yang disebarluaskan melalui kata-kata secara lisan dinamakan sastra lisan. Sedangkan, di masyarakat, sastra lisan dikenal dengan sebutan dongeng atau cerita rakyat. menenggelamkan suara pencerita, (5) di Indonesia, tak jarang si pencerita kata-kata atau kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang mendesak pemakaian kata- kata atau kalimat-kalimat bahasa daerah (Hutomo, 1999: 7). Cerita rakyat ini juga mengenal ciri-ciri kelisanan primer. Kelisanan primer adalah kelisanan yang secara bspontan lahir sewaktu bahan lisan itu disampaikan pada pendengarnya (Hutomo, 1999: 7). Ciri-ciri kelisanan primer itu antara lain: (1) penyebaranya melalui mulut, maksudnya, ekspresi budaya yang disebarkan, baik dari waktu maupun ruang melalui mulut atau lisan; (2) lahir di dalam masyarakat yang masih bercorak desa, masyarakat luar kota, atau masyarakat yang masih belum mengenal huruf; (3) menggambarkan ciri suatu budaya masyarakat; (4) tidak diketahui siapa pengarangnya dan karena itu menjadi milik masyarakat; (5) bercorak puistis, teratur, dan berulang-ulang; (6) tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek khayalan atau fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern, tetapi secara lisan memiliki fungsi penting di dalam masyarakatnya; (7) terdiri dari atas berbagai versi; dan (8) bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa 2. Cerita Rakyat lisan (sehari-hari) mengandung dialek, kaCerita rakyat adalah cerita tentang dang-kadang diucapkan tidak lengkap orang-orang atau peristiwa-peristiwa suatu (Sudikan, 2001: 3). kelompok suku bangsa yang diwariskan turun-temurun, biasanya secar lisan (Su3. Struktur Pembangun Dalam Cerita mardjo, Kebutuhan atau kelengkapan sebuah 1998: 36). Cerita rakyat atau dongeng cerita dapat dilihat dari segi-segi unsur ini adalah teks yang wujudnya masih yang membentuknya (Sumardjo, 1998: 7). berbentuk lisan. Teks sastra lisan itu bi- Unsur-unsur tersebut antara lain, unsur asanya berwujud sebagai anatar lain (1) intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur insuara jelas dan tidak jelas, (2) mengandung trinsik ialah unsur karya sastra yang kata-kata bersifat dialek, (3) mengandung mendukung dari dalam karya sastra itu kalimat yang tidak sempurna atau tidak sendiri. Sedangkan, unsur ekstrinsik ialah selesai diucapkan, (4) bagi tradisi lisan atau unsur karya sastra yang mendukung karya sastra lisan yang diwujudkan dalam per- sastra dari luar karya sastra itu sendiri. tunjukan seni, kadang-kadang suara iringan Sesuai dengan judul penelitian ini da musik yang dipukul terlalu keras, biasanya -lam menganalisis suatu karya sastra SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 51 yang berupa filologi lisan, peneliti menitikberatkan pada masalah unsur intrinsik dalam cerita, sedangkan unsur-unsur yang lain hanyalah sebagai penunjang. Unsur intrinsik dalam suatu karya sastra ini akan peneliti jadikan sebagai batasan masalah dalam penelitian. Pembatasan masalah penelitian ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan tema, alur atau plot, penokohan dan perwatakan, latar dan setting, sudut pandang, dan amanat atau pesan di dalam cerita. Berkaitan dengan itu peneliti ingin menguraikan satu persatu dari batasan- batasan masalah tersebut. Tema dalam Cerita. Tema adalah ide sebuah cerita (Sumardjo, 1991: 56) atau pokok pikiran pengarang atau penuturnya, inti cerita dari karya sastra tersebut. Ada beberapa macam tema antara lain: tema utama dan anak tema. Tema utama adalah yang penting dan dominan yang merasuki seluruh cerita. Anak tema ini berfungsi untuk menyokong dan menonjolkan tema utama atau pokok, menghidupkan suasana cerita, atau juga dapat dijadikan sebagai latar belakang cerita. Alur atau Plot Cerita. Alur atau plot adalah urutan peristiwa yang bersambungsambung dalam sebuah cerita berdasarkan sebab akibat (Mido, 1994: 42). Dengan kata lain, alur merupakan sambungsinambungnya suatu cerita dari suatu peristiwa ke pristiwa lainnya sehingga menimbulkan cerita yang utuh. Pada umumnya alur sebuah cerita memunyai bagaian-bagaian yang sama seperti pada lakon atau drama. Oleh karena itu, alur cerita dapat dibagi menjadi: (1) beberan mula atau introduksi, eksposisi; (2) pengawatan atau komplikasi; (3) puncak kegawatan atau klimaks; (4) peleraian atau antiklimaks; dan (5) penyelesaian atau kongklusi. Beberan mula atau introduksi, eksposisi adalah tahapan memperkenalkan tokohtokoh dengan lingkungannya. Waktu dan tempat terjadinya cerita serta segala 52 situasi ditampilkan pada bagian ini. Penggawatan atau kompliasi merupakan bagaian yang menampilkan adanya konflikkonflik antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan, baik baik konflik lahiriyah maupun konflik batiniah. Puncak kegawatan atau klimaks merupakan kelanjutan logis dari penggawatan, kelanjutan dari perkembangan penggawatan jaringan konflik yang wajar, masuk akal. Puncak kegawatan ini merupakan puncak ketegangan yang paling tinggi, yang tidak bisa dipertinggi lagi. Peleraian atau antiklimaks merupakan paparan pemecahan konflik. Dipandang dari sudut konflik, bagian ini merupakan antiklimaks, ketegangan mulai menurun. Sedangkan, penyelesaian atau kongklusi akhir merupakan bagian yang memaparkan pengungkapan penyelesaian konflik-konflik, dicari keseimbangan baru. Para tokoh menemukan nasibnya masing-masing. Tokoh dan Penokohan dalam Cerita. Penokohan adalah penekanan pada unsur perwatakan tokoh (Sumardjo, 1991: 42). Mutu sebuah cerita ditentukan oleh kepandaian si pencerita menghidupkan watakwatak tokohnya. Dalam sebuah cerita terdapat bermacam- macam tokoh. Hal ini tergantung dari segi tinjauannya. Tinjauan itu adalah dari segi peranannya dan dari segi perwatakannya. Dari segi peranannya, ada tokoh utama dan tokoh pembantu atau tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting atau terpenting dalam cerita. Dialah yang menjadi pendukung idea tau tema utama dalam cerita. Tokoh pembantu atau tokoh tambahan adalah tokoh yang mendukung cerita dan perwatakan tokoh utama. Dia diperlukan agar tingkah laku dan perbuatan, peristiwa dan kejadian yang dialami oleh tokoh utama menjadi wajah, hidup, dan menarik. Dari segi macam perwatakan, ada empat macam perwatakan tokoh, yaitu (1) perwatakan statis (static characterization), yaitu pelukisan watak sang tokoh tetap tiSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dak berubah-ubah dari awal sampai akhir cerita; (2) perwatakan dinamis (dynamic or developmental characterzatio), yaitu watak sang tokoh yang berubah-ubah atau berkembang dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat sesuai dengan situasi yang dimasukinya; (3) perwatakan datar (flat characrerization), yaitu bila watak sang tokoh disoroti hanya dari satu unsur atau aspek saja; dan (4) perwatakan bulat (round characterization), ialah jika watak sang tokoh dilukiskan dari segala aspek yang meliputi semua dimensi seperti yang terdapat pada tokoh-tokoh nyata dalam kehidupan sehari-hari (Mido, 1994: 38). Latar dan Setting dalam Cerita. Latar dan setting adalah bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan waktu terjadinya. Setting biasa berarti bermacam- macam yaitu tempat, daerah tertentu, orang-orang tertentu akibat situasi lingkungan atau zamannya, cara hidup tertentu dan cara berpikir tertentu (Sumardjo, 1991: 9). Lebih lanjut (Mido, 1994: 52) menjelaskan ada tiga unsur penting dalam sebuah latar atau setting. Ketiga unsur itu ialah (1) waktu; (2) tempat, (3) suasana atau situasi. Ketiga unsur inilah yang membentuk sebuah latar; ketiganya tidak dapat dipisah-pisahkan, merupakan satu kesatuan yang utuh dan padu. Sudut Pandang dalam Cerita. Sumardjo (1998: 17) menjelaskan bahwa sudut pandang (point of view) pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Sebelum menulis atau bercerita, pegarang atau pencerita terlalu dahulu menentukan siapakah yang menjadi pusat cerita, siapa yang menjadi sabjeknya. Menentukan pusat cerita atau pusat pengisahan berarti menemukan pertalian atau relasi antara pengarang atau pencerita dengan ceritannya, dimana pengarang berdiri. Inilah yang disebut sudut pandang (Mido, 1994: 65). SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Ditinjau dari sudut pandang penceritaan, ada dua sudut pandang penceritaan, yaitu: (1) sudut pandang orang ketiga, dan (2) sudut pandang orang pertama. Pada sudut pandang orang ketiga, tokoh yang menjadi pusat cerita diperlakukan sebagai orang ketiga, di-dia- kan dan di-merekakan. Sedangkan, sudut pandang orang pertama, yang menjadi pusat cerita atau peristiwa ialah orang pertama, yaitu aku atau saya. Amanat dalam Cerita. Amanat atau pesan adalah pemecahan persoalan yang dihidangkan oleh pengarang (Mido, 1994: 17). Dalam amanat ini dapat dilihat atau diketahui pelajaran hidup atau hikmah yang disampaikan oleh pencerita kepada pendengarnya. Amanat dalam cerita sama halnya dengan isi cerita mengandung pesan, baik yang tersirat maupun tersurat dalam cerita. Setiap cerita pada dasarnya mempunyai pesan yang bisa ditangkap oleh pendengar atau pembaca. Amanat atau pesan umumnya bersifat unity in variety, ada kesatuan dalam keberagaman. Dengan demikian, setiap personal (baik pendengar maupun pembaca cerita) bisa menginterpretasi amanat atau pesan secara subjektif yang ada di dalamnya. 4. Teori Fungsi Alan Dundes dan William R. Bascom Cerita rakyat merupakan bagian dari foklor. Karena itulah cerita rakyat mempunyai fungsi bagi masyarakat pendukungnya (Danandjaya, 1997: 103). Mengasumsikan cerita rakyat mempunyai fungsi, dalam penelitian ini digunakan teori fungsi sosial yang dikembangkan oleh Alan Dundes dan William R. Bascom. Kehadiran cerita rakyat di masyarakat memberi arti tersendiri bagi masyarakat pendukungnya. Seperti yang diutarakan oleh beberapa ahli sastra lisan berikut, William R. Bascom (Dundes, 1965: 290) menyatakan bahwa cerita rakyat mempunyai empat 53 fungsi, yaitu: (1) sebagai sebuah bentuk hiburan (as aform of amusement), (2) sebagai alat pengesahan pranata dan lembaga kebudayaan (it plays in validating culture, in justifying its rituals andinstitution to those who perform and observe them), (3) sebagai sarana pendidikan anak (it plays in education as pedagogical device), (4) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya (maintaining conformity to the accepted patterns of behavior, as means of applying social pressure and exercising social control). Dundes (1965: 277) menyatakan bahwa foklor mempunyai fungsi: (1) sebagai alat pendidikan masyarakat (aiding in the education of the young), (2) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok (promoting a group’s feeling of solidarity), (3) meningkatkan sanksi sosial agar berperilaku atau memberi hukuman (providing socially sanctioned way is for individuals to censure other individuals), (4) sebagai sarana kritik sosial (serving as a vehicle for social protest), (5) memberikan suatu pelarian yang mnyenangkan dari kenyataan (offering an enjoyable escape from reality), dan (6) mengubah pekerjaan yang membosankan menjadi permainan (converting dull work into play). Kedua ahli sastra lisan di atas membagi fungsi sastra lisan ke dalam bentuk yang umum. Artinya, pengelompokan fungsi itu mencakup pada semua bentuk sastra lisan yang ada. Menurut Hutomo (1991: 69), sastra lisan di masyarakat mempunyai fungsi: (1) sebagai sistem proyeksi, misalnya cerita Bawang Putih dan Bawang Merah yang dijadikan proyeksi idamidaman dari gadis miskin untuk menjadi istri orang kaya, (2) untuk pengesahan kebudayaan, misalnya cerita Asal-Usul Babah dijadikan pengesahan ketidakbenaran perkawinan antara pribumi dan non pribumi, (3) sebagai alat pemaksa berlakunya norma -norma sosial dan sebagai alat pengendali 54 sosial, misalnya peribahasa seperti pagar makan tanaman, tua-tua keladi makin tua makin jadi, (4) sebagai alat pendidik anak, misalnya cerita si Kancil, (5) untuk memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyrakat agar dia dapat lebih superior daripada orang lain, misalnya perihal penjelasan teka-teki, (6) untuk memberikan seseorang suatu jalan yang dibenarkan oleh masyrakat, agar dia dapat mencela orang lain, hal seperti itu terdapat pada peribahasa- peribahasa dan pantun-pantun yang berisi sindiran dan celaan, (7) sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat, (8) untuk melarikan diri dari himpitan hidup sehari-hari, artinya sastra lisan dipergunakan untuk hiburan semata. METODE PENELITIAN 1. Pendekatan Penelitian Penelitian cerita rakyat di Kabupaten Jombang ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sebab menghasilkan data deskriptif yang berupa data lisan atau tulis. Berkaitan dengan penelitian kualitatif, Ratna (2004: 46) mengungkapkan secara lugas bahwa pendekatan kualitatif merupakan penelitian yang memanfaatkan cara-cara penafsiran dengan menyajikannya dalam bentuk deskripsi. Dalam penelitian karya sastra, terutama sastra lisan (cerita rakyat), jenis penelitian kualitatif memberikan perhatian pada data ilmiah, yang melibatkan pengarang (juru cerita), lingkungan sosial tempat pengarang (juru cerita) berada, dan juga tidak ketinggalan pada unsurunsur budaya yang terdapat pada masyarakat tersebut. Lebih lanjut, Ratna (2004: 46) menjelaskan bahwa ciri-ciri pendekatan kualitatif, antara lain: (1) memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, (2) lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian, sebabmakna bisa berubahubah, (3) tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Subjek penelitian sebagai instrumen utama, seSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 hingga terjadi interaksi secara langsung, (4) desain dan kerangka penelitian bersifat sementara, sebab penelitian bersifat terbuka, dan (5) penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks budaya masing -masing. 2. Objek dan Lokasi Penelitian Objek penelitian ini adalah cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon yang ada di Kabupaten Jombang, yang akan dikaji melalui struktur cerita dan fungsi sosial bagi masyarakat pendukungnya. Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon di Kabupaten Jombang sampai saat ini diyakini sebagai cerita rakyat yang sakral dan mistis. Di lain sisi, cerita ini dipercaya sebagai cerita cikal -bakal sejarah lahirnya kota atau Kabupaten Jombang. Oleh karena Kabupaten Jombang yang secara historis penamaannya berasal dari dua kata, yakni ijo (hijau = kaum santri) dan abang (merah = kaum abangan), maka cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ini terbagi menjadi beberapa versi, yakni versi kaum santri dan versi kaum abangan. Adapun lokasi penelitian yang dijadikan peneliti sebagai pemerolehan atau pencarian objek dalam penelitian cerita rakyat ini adalah desa-desa yang ada hubungannya dengan cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon yang terdapat di Kabupaten Jombang. 3. Tahapan-Tahapan Penelitian Penentuan Informan Penelitian. Hutomo (1991: 81) menyatakan bahwa penentuan informan ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) informan dapat diperoleh dari petunjuk bapak kepala desa atau orang lain (tapi kadang-kadang tidak dapat dipercaya), (2) peneliti seharusnya mencari informan-informan sendiri, (3) hati-hati dengan informan yang menonjolkan diri dengan motif ingin mendapatkan uang, (4) daerah yang pernah diteliti orang kadangkadang merupakan daerah yang tidak SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 murni lagi. Berdasarkan uraian di atas, untuk memperoleh data penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan, ada beberapa langkah yang akan dilakukan peneliti sendiri dengan mengidentifikasi informan, seperti: nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, bahasa yang dipakai seharihari, dan kedudukan informan di dalam masyarakat. Jumlah informan dalam penelitian ini tidak terbatas, karena menurut peneliti semakin banyak informan, maka semakin banyak pula data yang akan diperoleh. Informan penelitian akan dipilih berdasarkan pertimbangan, yaitu: (1) penduduk asli Jombang; (2) dewasa; (3) memiliki pengetahuan tentang cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon; (4) sehat jasmani dan rohani; (5) tidak harus tokoh masyarakat; dan (6) memiliki informasi yang diperlukan untuk menjawab fokus penelitian. Pengumpulan Data Penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian sastra lisan menurut Sudikan (2001: 173) menggunakan (1) teknik perekaman, baik audio maupun audiovisual, (2) pemotretan, (3) pencatatan, (4) wawancara yang mendalam, dan (5) studi kepustakaan dan analisis dokumentasi. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dinyatakan oleh Sudikan, yaitu: (1) mengadakan pengamatan di lokasi penelitian, di Kabupaten Jombang (2) mengadakan perekaman data yang didapat dari informan, (3) mengadakan pencatatan yang berkaitan yang berkaitan dengan penelitian cerita rakyat, dan (4) mengadakan wawancara yang mendalam dengan informan. Teknik Pengamatan. Dalam tahap pengamatan, dalam penelitian ini orang-orang yang dipelajari (diamati) menjadi pelaku dan pada saat yang sama menjadi informan. Dalam penentuan jumlah informan, peneliti sejalan dengan pemikiran Sudikan (2001: 55 174), bergantung pada sasaran yang ingin dicapai. Dengan demikian, jumlah informan dalam penelitian ini nantinya tidak mempunyai batasan maksimal atau minimal. Teknik Perekaman. Penelitian cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon di Kabupaten Jombang ini menggunakan perekaman dengan alat bantu rekam MP4 atau HP. Dalam teknik perekaman, Hutomo (1991: 77) menyatakan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perekaman, antara lain (a) kehadiran peneliti dan alat perekamakan mengganggu situasi, (b) pencerita tidak lancar, dan (c) ada pencerita yang lancar ketika ceritanya diperdengarkan lagi. Lebih lanjut, Sudikan (2001: 174) menyatakan bahwa perekaman yang baik memiliki dua sifat, yakni: (1) rekaman itu jelas, dan (2) mengandung keteranganketerangan yang diperlukan untuk meletakkan bahan dalam konteks sosial- budaya. Teknik Pencatatan. Teknik pencatatan dalam penelitian ini berkaitan erat dengan teknik perekaman. Teknik perekaman ini sejalan dengan pemikiran Sudikan (2001: 176), bahwa hal yang tak perlu dicatat pada waktu pengamatan ataupun perekaman antara lain: (1) tanggal perekaman, (tempat perekaman, (3) rekaman asli atau tidak, dan (4) perekam. Berkaitan dengan informasi, catatan yang nantinya akan dibuat oleh peneliti antara lain meliputi: (1) nama, (2) umur, (3) jenis kelamin, (4) ahli atau bukan ahli, dan (5) pengalaman, berkaitan dengan bahan yang direkam. Dalam penelitian ini, teknik pencatatan yang dilakukan oleh peneliti meliputi: (1) hal yang berkaitan dengan informasi (nama, usia, pekerjaan, status, dan bahasa yang dikuasai), (2) hal yang berkaitan dengan etnografi Kabupaten Jombang, (3) hal yang berkaitan dengan proses wawancara (tanggal, tempat, dan orang yang diwawancarai). Teknik Wawancara. Dalam penelitian ini, 56 sejalan dengan pemikiran Sudikan (2001: 176), dalam mengaplikasikan teknik wawancara, peneliti menggali data dan informan yang berkait dengan pumpunan berikut. Pertama, menggali data mengenai pengalaman individu (life history) pencerita yang mempunyai hubungan dengan cerita rakyat. Di samping itu peneliti menggali data mengenai sikap-niatan pencerita terhadap cerita rakyat, sehingga bisa diperoleh sikap-niatan pencerita. Kedua, peneliti mewawancarai informan dalam kaitannya dengan konteks sosio-budaya masyarakat Jombang. Hal ini dilakukan untuk mempertajam kajian cerita rakyat dalam hubungannya dengan konteks sosialbudaya. Di samping itu, untuk mendapatkan deskripsi yang mendalam mengenai etnografi masyarakat Kabupaten Jombang. Wawancara tersebut dilakukan dalam situasi yang informal agar informan lebih merasa nyaman. Teknik Transkripsi. Setelah data wacana lisan mengenai cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon di Kabupaten Jombang diperoleh, langkah selanjutnya memindahkan data wacana lisan tersebut ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik yang dikemukakan oleh -: (a) melakukan transkripsi kasar, dengan cara memindahkan semua suara dalam rekaman ke dalam bentuk tulisan tanpa mengindahkan tanda baca; pada tahap ini suara rekaman dalam bahasa Jawa Jombang dipindahkan dalam bentuk tulis; (b) transkripsi kasar cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon yang ada di Kabupaten Jombang, kemudian disempurnakan; (c) hasil transkripsi yang telah disempurnakan kemudian diberi tanda baca dan catatan-catatan penting; dan (d) setelah itu, transkripsi tersebut diketik ulang dan mulailah dilakukan penganalisisan data. Teknik Terjemahan. Informan dalam penelitian ini menggunakan bahasa Jawa SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Jombang, karena itulah maka harus dilakukan terjemahan. Berkaitan dengan masalah terjemahan dalam sastra lisan, Hutomo (1991: 86) menyatakan bahwa terdapat tiga macam teknik terjemahan, antara lain: (a) terjemahan bebas (free translation), (b) terjemahan literal (literal translation), dan (c) terjemahan kata demi kata (word-for word translation). Dalam penerjemahan, peneliti harus: (1) mampu memahami isi dan maksud pengarang, (2) mengetahui pengetahuan bahasa, baik dari bahasa sumber atau pun bahasa terjemahan, (3) menghindari kecenderungan penerjemahan kata-perkata, sebab dapat merusak makna kata yang asli, (4) menggunakan ungkapan-ungkapan yang biasa, (5) berkemampuan menyajikan nada (tone) dari ‘warna’ asli bahasa sumber ke dalam karya terjemahan (Nida dalam Sudikan, 2001: 187). Selain itu, peneliti juga merevisikan hasil terjemahan kepada penutur asli yang mempunyai kompetensi dalam berbahasa Jawa Jombang dengan baik dan benar. 4. Te kn i k A n a l i s is Da t a Teknik Analisis Struktur Cerita. Teknik analisis struktur cerita rakyat, dalam hal ini dilakukan dengan cara: (a) memenggalmenggal cerita atas beberapa bagian berdasarkan atas apa yang dinyatakan dalam cerita yang berkenaan dengan tokoh dan karakternya, selanjutnya hasil pemenggalan diikhtisarkan; (b) setelah diikhtisarkan, maka sesudah itu dibuat gambaran struktur alur cerita, gambaran itu terdiri atas bagian-bagian yang disebut terem dan fungsi, serta hubungan antara keduanya yang disebut hubungan sebab akibat; (c) teknik analisis cerita didasarkan pada aspek tema cerita, alur dan plot cerita, tokoh dan penokohan dalam cerita, latar dan setting dalam cerita, sudut pandang dalam cerita, dan amanat dalam cerita; (d) gambaran struktur alur cerita di atas merupakan model struktur alur Levi-Strauss SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 yang diterapkan Maranda. Teknik Analisis Fungsi Sosial. Teknik analisis fungsi sosial dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon melalui tahapan (a) membaca transkripsi cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon dengan sambil mengidentifikasi fungsi cerita yang terdapat dalam teks, (b) membaca transkripsi fungsi sosial yang sudah dipisahkan dari transkripsi cerita rakyat, kemudian menghubungkan fungsi sosial cerita dalam transkripsi dengan teks, (c) mengklasifikasi data fungsi sosial berdasarkan teori Alan Dundes dan William R. Bascom, (c) pengklasifikasian fungsi dilakukan dengan hati-hati; membedakan fungsi sosial menurut kedua ahli foklor di atas denga fungsi sosial yang lain, (d) menghubungkan fakta- fakta di masyarakat cerita dengan fungsi untuk memperkuat kedudukan fungsi sosial, seperti fakta nama tempat, nama penduduk, ide masyarakat, dan lain sebagainya 5. Teknik Keabsahan Data Penelitian Tingkat keabsahan data dapat diperiksa dengan menggunakan teknik pemeriksaaan. Menurut Lincoln dan Guba (Sudikan, 2001: 83) pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan pada empat hal, antara lain: (1) derajad kepercayaan atau credibility, (2) pemeriksaan keteralihan (transferability), (3) pemeriksaan kebergantungan (dependability), dan (4) pemeriksaan kepastian (confirmability). Dalam penelitian ini teknik yang dipergunakan untuk memeriksa keabsahan data mengacu pada pendapat Sudikan. Menurut Sudikan (2001: 83) mempergunakan tiga teknik dalam memeriksa keabsahan data, yakni: melakukan trianggulasi, peer debriefing, dan member check atau audit-trical. Trianggulasi dilakukan dengan dua cara, yaitu trianggulasi sumber data, metode dan temuan. Trianggulasi sumber data dilakukan dengan cara mencari data dari banyak sumber informan, yaitu orang yang terlibat lang57 sung dengan objek penelitian. Hal ini dilakukan untuk menguji kelengkapan dan ketepatan data. Cara yang dilakukan ialah membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda. Trianggulasi metode dilakukan untuk mengecek derajat kepercayaan penemuan beberapa teknik pengumpulan data dan beberapa sumber data dengan cara menggunakan bermacam-macam metode pengumpulan data. Trianggulasi temuan dilakukan dengan cara mengkaji berbagai hasil temuan yang relevan, sehingga tidak hanya menggunakan temuan tunggal, tetapi menggunakan temuan yang jamak. Teknik peer debriefing dilakukan untuk memeriksa data dan menguji hasil data dengan pemeriksaan sejawat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan diskusi. Diskusi dengan sejawat dapat memberikan kesempatan awal yang baik untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari pemikiran peneliti. Diskusi dapat dengan ahli foklor, pakar metode penelitian sastra, dosen, dan teman-teman. Dan, teknik member check dilakukan dengan cara mengecek kepada informan mengenai data dan informasi yang sudah dikumpulkan. Hasil yang sudah diinterpretasi juga dikonfirmasikan kembali kepada informan. Teknik audit-trial dilakukan denga cara mengecek berbagai jenis data, baik data mentah, hasil analisis data, dan catatan proses yang digunakan kepada informan untuk menguji keabsahan data. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Struktur Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon Sesuai dengan judul penelitian ini dalam menganalisis suatu karya sastra yang berupa filologi lisan (foklor), peneliti menitikberatkan pada masalah unsur intrinsik dalam cerita, sedangkan unsurunsur yang lain hanyalah sebagai penun58 jang. Dalam kajian struktur cerita ini fokus penelitian hanya difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan tema, alur atau plot, penokohan dan perwatakan, latar dan setting, sudut pandang, dan amanat atau pesan di dalam cerita. Berikut ini hasil uraian temuan data dalam peneliti. a. Tema dalam Cerita Tema adalah ide sebuah cerita atau pokok pikiran pengarang atau penuturnya, atau, bisa dikatakan sebagai inti cerita dari karya sastra tersebut. Ada beberapa macam tema antara lain: tema utama dan anak tema. Tema utama adalah yang penting dan dominan yang merasuki seluruh cerita. Anak tema ini berfungsi untuk menyokong dan menonjolkan tema utama atau pokok, menghidupkan suasana cerita, atau juga dapat dijadikan sebagai latar belakang cerita. Dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon tema utamanya adalah tentang perjuangan manusia dalam mencari jati dirinya. Hal ini bisa dibuktikan dari penggambaran tokoh utama yang bernama Joko Tulus (Kebo Kicak) yang gigih dan mempunyai semangat tinggi dalam meraih citacita atau menggapai keinginannya. Dalam cerita ini mengajarkan tentang persoalan pelik sosok pemuda yang beranjak dewasa dalam mencari jati dirinya. Joko Tulus adalah salah satu contoh karakter yang sering melekat pada pemuda yang beranjak dewasa. Pada umumnya, seorang pemuda yang beranjak dewasa mempunyai lakuan yang bermacam-macam. Contoh sederhananya adalah umumnya pemuda sangat ambisius dan susah untuk dikontrol, bersifat temperamental, tidak mau berpikir secara jernih terlebih dahulu sebelum melangkah atau melakukan semua yang sedang dikehendakinya. Potret Joko Tulus (Kebo Kicak) yang sedang mencari keberadaan dan ingin tahu lebih tentang sosok ayahandanya adalah bukti konkrit tentang sebuah gambaran SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 pencarian jati diri manusia. Oleh karena, jati diri adalah manifestasi ideologi hidup setiap personal. Juga, merupakan salah satu bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya, baik mulai dari masa kecil, hingga dewasa. Umumnya, pencarian jati diri juga menjadi salah satu sifat bawaan yang terkadang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat seseorang itu tumbuh atau dibesarkan. Di lain sisi, dalam cerita ini juga memunculkan anak tema yang berfungsi menyokong dan menonjolkan tema utama atau pokok dalam cerita, serta mampu menghidupkan suasana cerita dan dapat dijadikan sebagai latar belakang cerita. Anak tema dalam cerita ini adalah tentang pendidikan dan pembelajaran tentang sopan santun dalam bertingkah laku. Bukti konkretnya adalah bahwasannya di dalam cerita ini dilukiskan bahwa seorang anak harus menghormati orangtua. Seorang yang lebih muda harus menghormati atau mempunyai etika yang baik terhadap orang yang lebih tua. Tokoh Ki Ageng Pranggang (sang kakeknya Joko Tulus) adalah salah satu tokoh dalam cerita yang mengajarkan atau membimbing Joko Tulus (sebagai cucu/ anak muda) agar mampu menjadi seorang anak yang baik. Baik dalam artian seorang anak harus bisa menghormati atau bertingkah sopan terhadap orang yang lebih tua darinya. Penggambaran tokoh Ki Ageng Pranggang yang mencibir dan mengingatkan Joko Tulus (Kebo Kicak) pada saat senang kegirangan dan lepas kontrol dalam bersikap (menginjak-injak tubuh kakeknya) adalah salah satu bentuk teguran, yang secara tersirat dan tersurat mempunyai arti bahwa pendidikan dan pembelajaran tentang bersikap atau tingkah laku sangat penting diajarkan untuk anak-anak. Dengan demikian, tema ini menjadi penyokong dan mampu menghidupkan suasana di dalam cerita. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 b. Alur atau plot cerita Alur atau plot adalah urutan peristiwa yang bersambung-sambung dalam sebuah cerita berdasarkan sebab akibat. Dengan kata lain, alur merupakan sambungsinambungnya suatu cerita dari suatu peristiwa ke peristiwa lainnya sehingga menimbulkan cerita yang utuh. Pada umumnya, alur sebuah cerita mempunyai bagian-bagaian yang sama seperti pada lakon atau drama. Oleh karena itu, alur cerita dapat dibagi menjadi: (1) beberan mula atau introduksi, eksposisi; (2) pengawatan atau komplikasi; (3) puncak kegawatan atau klimaks; (4) peleraian atau antiklimaks; dan (5) penyelesaian atau kongklusi. Beberan mula atau introduksi, eksposisi adalah tahapan memperkenalkan tokohtokoh dengan lingkungannya. Waktu dan tempat terjadinya cerita serta segala situasi ditampilkan pada bagian ini. Penggawatan atau kompilasi merupakan bagian yang menampilkan adanya konflik-konflik antara kekuatan-kekuatan yang berlawanan, baik baik konflik lahiriyah maupun konflik batiniah. Puncak kegawatan atau klimaks merupakan kelanjutan logis dari penggawatan, kelanjutan dari perkembangan penggawatan jaringan konflik yang wajar, masuk akal. Puncak kegawatan ini merupakan puncak ketegangan yang paling tinggi, yang tidak bisa dipertinggi lagi. Peleraian atau antiklimaks merupakan paparan pemecahan konflik. Dipandang dari sudut konflik, bagian ini merupakan antiklimaks, ketegangan mulai menurun. Sedangkan, penyelesaian atau kongklusi akhir merupakan bagian yang memaparkan pengungkapan penyelesaian konflik-konflik, dicari keseimbangan baru. Alur dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon adalah alur maju, oleh karena di dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ini menceritakan asalmuasal kelahiran tokoh utama (Joko Tulus) sampai menceritakan meninggal atau menghilang nya tokoh utama di akhir 59 cerita. Adapun tahapan dari alur maju dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon dijelaskan sebagai berikut. Tabel Tahapan Alur Maju dalam Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon. No Tahapan Alur Maju 1 2 Bukti Pendukung di dalam Cerita Tahap Pengenalan a. Pengenalan tokoh Pandan Manguri (Ibu Joko Tulus) beserta kebiasaan sehari-hari (mencuci pakaian di sungai) b. Pengenalan tokoh Pamulang Jagat (Ayahanda Joko Tulus) c. Pertemuan Pandan Manguri dan Pamulang Jagat (Jatuh Cinta) hingga perbuatan zina (bersetubuh) d. Pengenalan tokoh Ki Ageng Pranggang (Ayahanda Pandan Manguri) e. Lahirnya tokoh Joko Tulus (Kebo Kicak) Tahap Mun- a. Upaya dan kegigihan Joko culnya KonTulus dalam pencarian soflik sok ayahanda (Pamulang Jagat) b. Tragedi Joko Tulus menginjak-injak Ki Ageng Pranggang (perilaku tidak sopan terhadap orangtua) 5 Kicak dengan Surontanu (saudara sepupu) karena Perebutan Mustika Banteng Tracak Kencana Tahap Pen- Musnahnya/ hilangnya/ yelesaian tenggelamnya kedua tokoh (Kebo Kicak dan Surontanu) pada saat perkelahian Mutu sebuah cerita ditentukan oleh kepandaian si pencerita menghidupkan watakwatak tokohnya. Dalam sebuah cerita terdapat bermacam-macam tokoh. Hal ini tergantung dari segi tinjauannya. Tinjauan itu adalah dari segi peranan dan dari segi perwatakannya. Dari segi peranannya, ada tokoh utama dan tokoh pembantu atau tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting atau terpenting dalam cerita. Dialah yang menjadi pendukung ide atau tema utama dalam cerita. Tokoh pembantu atau tokoh tambahan adalah tokoh yang mendukung cerita dan perwatakan tokoh utama. Dia diperlukan agar tingkah laku dan perbuatan, peristiwa dan kejadian yang dialami oleh tokoh utama menjadi wajah, hidup, dan menarik. Dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ditemukan duapuluh tujuh tokoh dalam cerita. Adapun keduapuluh tokoh cerita tersebut diuraikan sebagai berikut. 1. Ki Ageng Pranggang 4 Tahap Anti a. Pertemuan Kebo Kicak den2. Ki Ageng Sumoyono Klimaks gan Pamulang Jagat (Ayahanda) dan Raja Brawijaya V 3. Ki Ageng Bono (Raja Majapahit) di Kerajaan 4. Ki Ageng Sendang Biru Majapahit 5. Pangeran Pamulang Jagat b. Rencana picik ayahanda Joko Tulus (Pamulang Jagat) 6. Putri Pandan Manguri dan Raja Brawijaya V untuk 7. Joko Tulus (Kebo Kicak) menyingkirkan Joko Tulus 8. Surontanu dari trah kerajaan 9. Padmi (membuat sarat c. Konflik antarkeluarga/ Per- 10. Seger tarungan Kebo 11. Buntung Boyo 3 60 Tahap Klimaks Perubahan Tabiat Joko Tulus/ Menjadi Sosok Kebo Kicak SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 12. Lirih Boyo 13. Bantang Boyo 14. Pak Tirto (Pak Tamping) 15. Mbok Tamping 16. Joko Tamping 17. Onggo Berling 18. Pak Sabar 19. Celeng Kethek 20. Jamadi 21. Pak Wongso 22. Raja Brawijaya V 23. Prajurit Majapahit 24. Murid-Murid Ki Ageng Pranggang 25. Murid Murid Ki Ageng Sumoyono 26. Murid-Murid Ki Ageng Bono 27. Murid-Murid Ki Ageng Sendang Biru Dalam cerita ini tokoh utama atau tokoh yang mendominasi dalam cerita ada beberapa, antara lain: (1) Joko Tulus (Kebo Kicak), (2) Putri Pandang Manguri (Ibu Joko Tulus), (3) Pangeran Pamulang Jagat (Ayahanda Joko Tulus), dan (4) Ki Ageng Pranggang (Ayahanda Putri Pandan Manguri sekaligus kakek dari tokoh Joko Tulus). Sedangkan, tokoh-tokoh yang lain/ tokohtokoh yang muncul dalam cerita hanya diposisikan sebagai tokoh tambahan/ tokoh bantu dalam cerita. Di dalam cerita, ada tiga penokohan yang tampak signifikan, antara lain tokoh protagonis, antagonis, dan tritagonis. Adapun tokoh protagonis dalam cerita ini, antara lain: (1) Putri Pandan Manguri, (2) Ki Ageng Pranggang, (3) Joko Tulus, dan (4) Surontanu. Sedangkan, tokoh antagonis dalam cerita hanya ditemukan dua, antara lain: (1) Raja Brawijaya V (Raja Majapahit) dan (2) Pangeran Pamulang Jagat. Begitu juga, dengan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai tokoh tritagonis dalam cerita, antara lain: (1) Ki Ageng Sumoyono, (2) Ki Ageng Bono, (3) dan Ki Ageng Sendang Biru. Sedangkan, tokoh- SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tokoh yang lain dalam cerita hanya dijadikan sebagai pelengkap yang secara penokohannya tidak diuraikan secara mendetail. Dalam artian, tokoh-tokoh tersebut juga bisa dimasukkan dalam kategori tokoh pendukung tokoh-tokoh tritagonis dalam cerita. d. Latar dan Setting dalam Cerita Latar dan setting adalah bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan waktu terjadinya sebuah cerita. Setting dalam cerita bermacam-macam yaitu bisa berupa tempat, daerah tertentu, orang-orang tertentu akibat situasi lingkungan atau zamannya, cara hidup tertentu, dan cara berpikir tertentu. Ada tiga unsur penting dalam sebuah latar atau setting dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon. Ketiga unsur itu ialah (1) waktu; (2) tempat, (3) suasana atau situasi. Ketiga unsur inilah yang membentuk sebuah latar cerita dan ketiganya tidak dapat dipisahpisahkan serta menjadi satu kesatuan yang utuh dan padu. Adapun setting atau latar dalam cerita lebih mengacu pada temuan asal tempat yang sering muncul dalam cerita, antara lain: Bantaran Sungai, Rumah Ki Ageng Pranggang, Kerajaan Majapahit, Cukir (Desa Sumoyono), Kejambon, Kedung Bungkil, Bantengan, Sungai Brantas, Tampingan, Trengguluan, Jambu, dan Kandang Sapi. Sedangkan, setting waktu di dalam cerita lebih banyak diuraikan waktu pagi, siang, dan sore hari. Hal ini bisa dibuktikan dari temuan cerita yang melukiskan tokoh Putri Pandan Manguri yang suka pergi ke sungai untuk mencuci pakaian setiap hari. Di samping itu, setting waktu siang dan sore hari bisa dilukiskan dari tingkah laku tokoh Joko Tulus dalam menggali cerita tentang sosok ayahandanya kepada Ki Ageng Pranggang. Begitu juga dengan pelukisan tokoh Joko Tulus yang menemui ayahandanya di Kerajaan Majapahit. 61 e. Sudut Pandang dalam Cerita Sudut pandang (point of view) pada dasarnya adalah visi pengarang, artinya sudut pandang yang diambil pengarang untuk melihat suatu kejadian cerita. Sebelum menulis atau bercerita, pengarang atau pencerita terlalu dahulu menentukan siapakah yang menjadi pusat cerita, siapa yang menjadi subjeknya. Menentukan pusat cerita atau pusat pengisahan berarti menemukan pertalian atau relasi antara pengarang atau pencerita dengan ceritannya, di mana pengarang berdiri. Inilah yang disebut sudut pandang. Ditinjau dari sudut pandang penceritaan, di dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ada dua sudut pandang penceritaan yang paling dominan, yaitu: (1) sudut pandang orang ketiga, dan (2) sudut pandang orang pertama. Pada sudut pandang orang ketiga, tokoh yang menjadi pusat cerita (Joko Tulus) diperlakukan sebagai orang ketiga, di- dia-kan dan dimereka-kan. Sedangkan, sudut pandang orang pertama, yang menjadi pusat cerita atau peristiwa ialah orang pertama, yaitu aku atau saya. f. Amanat dalam Cerita Amanat atau pesan adalah pemecahan persoalan yang dihidangkan oleh pengarang. Dalam amanat ini dapat dilihat atau diketahui pelajaran hidup atau hikmah yang disampaikan oleh pencerita kepada pendengarnya. Amanat dalam cerita sama halnya dengan isi cerita mengandung pesan, baik yang tersirat maupun tersurat dalam cerita. Setiap cerita pada dasarnya mempunyai pesan yang bisa ditangkap oleh pendengar atau pembaca. Amanat atau pesan umumnya bersifat unity in variety, ada kesatuan dalam keberagaman. Dengan demikian, setiap personal (baik pendengar maupun pembaca cerita) bisa menginterpretasi amanat atau pesan secara subjektif yang ada di dalamnya. Amanat dalam cerita Babad Kebo Kicak 62 Karang Kejambon adalah bahwasannya ambisi yang tinggi dan kontrol emosi adalah dua hal yang harus diseimbangkan dalam diri manusia. Hal ini bisa dibuktikan dari perangai tokoh Joko Tulus di dalam cerita. Secara lugas dalam cerita ini mengajarkan tentang persoalan pelik pemuda yang beranjak dewasa dalam mencari jati dirinya. Joko Tulus adalah salah satu contoh karakter yang sering melekat pada pemuda yang beranjak dewasa. Umumnya, pemuda yang beranjak dewasa mempunyai lakuan yang bermacam-macam. Contoh sederhananya adalah umumnya pemuda ambisius dan susah untuk dikontrol, bersifat temperamental, tidak mau berpikir secara jernih terlebih dahulu sebelum melangkah atau melakukan semua yang sedang dikehendakinya. Potret Joko Tulus yang sedang mencari keberadaan dan ingin tahu lebih tentang sosok ayahandanya adalah bukti konkrit tentang sebuah gambaran pencarian jati diri manusia. Oleh karena, jati diri adalah manifestasi ideologi hidup setiap personal. Juga, merupakan salah satu bagian dari sifat seseorang yang muncul dengan sendirinya, baik mulai dari masa kecil, hingga dewasa. Umumnya, pencarian jati diri juga menjadi salah satu sifat bawaan yang terkadang juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan tempat seseorang itu tumbuh atau dibesarkan. 2. Fungsi Sosial Cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon Dundes menyatakan bahwa folklor mempunyai beberapa fungsi, antara lain (1) sebagai alat pendidikan masyarakat, (2) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, (3) meningkatkan sanksi sosial agar berperilaku atau memberi hukuman, (4) sebagai sarana kritik sosial, (5) memberikan suatu pelarian yang menyenangkan dari kenyataan, dan (6) mengubah SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 pekerjaan yang membosankan menjadi permainan. Dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ini mempunyai fungsi utama, yakni sebagai alat pendidikan masyarakat. Hal ini ditegaskan melalui bukti pembelajaran tentang nilai-nilai, baik nilai-nilai etika dan moral serta nilai edukasi orangtua terhadap anak. Potret Ki Ageng Pranggang yang marah besar oleh karena melihat putrinya tengah dihamili orang di luar nikah adalah bukti konkrit tentang pencarian tentang pertanggungjawaban dari nilai moral. Di lain sisi, potret tentang mengajar atau mendidik anak dengan baik melalui pembelajaran etika/ sopan santun serta penguatan mental dan spiritual juga tercermin dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon. Hal inilah yang menjadi fungsi utama dari sebuah cerita rakyat yang sarat dengan nilai-nilai moral dan edukasi. Fungsi kedua dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon adalah bahwasannya melalui cerita ini seseorang bisa meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok. Bukti konkret dari cerita tercermin dalam jalinan/ ikatan batin keluarga besar Ki Ageng Pranggang, mulai dari Ki Ageng Sumoyono, Ki Ageng Bono, dan Ki Ageng Sendang Biru yang memahami keingintahuan tokoh Joko Tulus terhadap sosok dan keberadaan ayahandanya. Ki Ageng Sumoyono sebagai bagian dari keluarga besar Ki Ageng Pranggang menghendaki agar Ki Ageng Pranggang segera/ secepatnya menceritakan tentang sosok dan keberadaan ayahandanya Joko Tulus yang sebenarnya. Ini adalah bukti solidaritas, semacam dukungan moril kepada kerabat/ saudara. Oleh karena, solidaritas memiliki makna dan arti penting dalam sebuah kebersamaan, kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, dan juga sebagai wujud dari kekompakan dalam suatu kelompok tertentu. Kebersamaan adalah hal yang penting SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dan mendasar bagi suatu kelompok oleh karena kebersamaan pastilah bisa melewati rintangan dan bisa memecahkan suatu persoalan yang sulit dengan mudah. Ki Ageng Pranggang dalam hal ini digambarkan sebagai sosok yang tidak egois, yang pastinya membutuhkan orang lain di sekitarnya untuk memecahkan suatu permasalahan atau persoalan tertentu. Di lain sisi, upaya meningkatkan solidaritas atau kebersamaan dalam sebuah kelompok bukan hanya bisa dicapai secara fisik atau dalam sebuah aktivitas saja, melainkan solidaritas pastilah bisa dicapai dari psikologis setiap individu. Tokoh Joko Tulus yang setiap hari bertanya tentang sosok ayahandanya pastilah juga membutuhkan solidaritas dari keluarga atau kelompoknya untuk mengetahui keberadaan ayahandanya yang sesungguhnya. Inilah yang bisa dikatakan bahwa di dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon bisa berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan solidaritas dalam suatu kelompok tertentu. Fungsi yang tampak berikutnya dalam cerita adalah bahwasannya melalui cerita Babad Kebo Kicak Karang Kejambon ini pembaca bisa meningkatkan sanksi sosial agar berperilaku atau memberi hukuman. Hal ini bisa dibuktikan dari wujud pembelajaran tentang etika (hukuman tidak sopan santun terhadap orang yang lebih tua). Potret Joko Tulus yang berubah tabiat dan perangainya layaknya Kebo Kicak adalah bukti nyata dari sanksi sosial atau adanya hukum alam di dalamnya. Begitu juga dengan hubungan sembunyi-sembunyi antara tokoh Putri Pandan Manguri dengan Pangeran Pamulang Jagat hingga berakhibat fatal (hamil di luar nikah) adalah contoh konkrit dari sanksi sosial dalam cerita. Fungsi sebagai sarana kritik sosial di dalam cerita Babad Kebo Kicak Karang Karang Kejambon tercermin dari tabiat buruk rencana jahat melenyapkan nama Joko Tulus dari trah kerajaan yang dilakukan oleh Raja Brawijaya V dan Pangeran Pamu63 lang Jagat di Kerajaan Majapahit. Ini adalah contoh permainan politik yang berujung pada keburukan. Hal ini diilustrasikan melalui cerita bahwa cerita Kebo Kicak Karang Kejambon juga menguraikan tentang persoalan politik di dalamnya. Politik antarpersonal. Politik dalam cerita yang terdeskripsikan dari penggambaran tokoh ayahandanya Joko Tulus (Pangeran Pamulang Jagat) dengan sang raja (Raja Brawijaya di Kerajaan Majapahit). Keduanya sedang berkoalisi, berharap agar bisa menghilangkan atau melenyapkan Joko Tulus dari trah sejarah garis keturunannya. Menghilangkan dari sejarah dengan alasan Joko Tulus dinilai tidak baik perangai dan tabiatnya. Koalisi yang notabenenya adalah sebuah tindakan persekutuan, sebuah gabungan atau aliansi yang mempunyai kepentingan- kepentingan sendiri. Sebuah aliansi yang berasas pada manfaat yang bersifat sementara. Entah itu member manfaat yang baik, atau, manfaat yang buruk. Sebuah cerminan hidup yang menegaskan bahwa politik pada dasarnya sudah mendarah daging pada diri manusia. Dengan demikian, cerita ini sarat dengan kritik sosial kepada pembacanya. PENUTUP Hasil dari penelitian ini memberikan temuan bahwa struktur cerita dalam cerita babad Kebo Kicak Kejambon bersifat kompleks dan variatif. Tema yang paling tampak dalam cerita ini adalah tentang perjuangan manusia dalam mencari jati dirinya, dalam hal ini tokoh Joko Tulus (Kebo Kicak) yang sedang dihadapkan dalam dua hal, antara lain ambisi atau keinginan yang tinggi dalam meraih cita-citanya (ingin segera bisa menemukan bapaknya dan ingin segera mendapatkan pengakuan anak) dan kontrol emosional (pengendalian diri dalam menyikapi ambisi atau keingin yang tinggi). Alur dalam cerita ini adalah alur maju, oleh karena menceritakan asal-muasal kelahiran tokoh utama 64 sampai menceritakan meninggal atau menghilangnya tokoh utama di akhir cerita. Tokoh dalam cerita ini ada sebanyak 27 orang, yang mana tokoh utama dalam cerita ini bernama Joko Tulus (nama asli Kebo Kicak). Penokohan dalam cerita terbagi menjadi tiga, antara lain tokoh-tokoh protagonist, tokoh-tokoh antagonis, dan tokohtokoh tritagonis. Adapun setting atau latar dalam cerita lebih mengacu pada temuan asal tempat yang sering muncul dalam cerita, antara lain Bantaran Sungai, Rumah Ki Ageng Pranggang, Kerajaan Majapahit, Cukir (Desa Sumoyono), Kejambon, Kedung Bungkil, Bantengan, Sungai Brantas, Desa Tampingan, Trengguluan, Jambu, dan Kandang Sapi. Amanat dalam cerita adalah ambisi yang tinggi dan control emosi adalah dua hal yang harus diseimbangkan dalam diri manusia. Fungsi dalam cerita babad lebih banyak mengacu pada empat hal, antara lain (1) sebagai alat pendidikan masyarakat dan (2) meningkatkan perasaan solidaritas suatu kelompok, (3) meningkatkan sanksi sosial agar berperilaku atau memberi hukuman, dan (4) sebagai sarana kritik sosial terhadap para pembaca ataupun pendengar cerita. DAFTAR PUSTAKA Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Galang Press. Danandjaja, James. 1997. Folkore Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: Grafitti. Dundes, Alan. 1965. The Functions of Folklore. In Alan Dundes(Ed.). The Study of Folklore, pp. 277. Englewood, N.J.: Prentice-Hall. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian: Epistemology Model Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Geertz, C. 2002. Hayat dan Karya: Antropolog Sebagai Penulis dan Pengarang. Di Indonesiakan oleh Landung Simatupang. Yogyakarta: LKis. Hutomo, Suripan Sadi. 1991. Mutiara Yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: Hiski Jawa Timur. Koentjaraningrat. I988. Penelitian Antropologi Terhadap Masalah Masyarakat Multietnik danKesatuan Nasional. Dalam Koenjaraningrat (Ed.) Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta: Djambatan. Ratna, Nyoman K. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Salam, Burhanuddin. 2000. Etika Individual: Pola Dasar Filsafat Moral. Jakarta: Rineka. Strauss, Levi. 2005. Mitos dan Makna Membongkar Kode-Kode Budaya. Tangerang: Marjin Kiri. Sudikan, Setya Yuwana. 2001. Metode Penelitian Sastra Lisan. Surabaya: Citra Wacana. Wellek, Rene dan Austin Werren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 65 Objektivitas Semiotika (Ilmu Tanda) Menyingkap Firman (Tanda-Tanda Kebesaran) Tuhan Iwan Marwan E-mail: nucaseftea@gmail.com STAIN Kediri The fact of life is a collection of puzzles, questions or enigmas, which demanded a search of answers, which is called truth (truth). Truth belongs to God and man just looking for clues, evidence, and signs of truth in logic. The review was directed at the thought of how objectivity as the science of semiotics sign looked and positioning and unveil the word (the signs of the greatness of) God. View of semiotics towards God's signs include signs qauliyah and signs qauniyah. Mark qauliyah is speech, sounds, fonts or text, while the sign of kauniyah is a natural phenomenon, social events, unusual in nature. The second verse is a sign containing a variety of usage marks, codes and meanings in it, though it did not close the possibility to look at the relationships the metaphysical, theological, philosophical and scientific in it. Reading this semiotic, can be considered as a reading open, plural and comprehensive, which can spread out almost all of the realities of life. Keywords: Semiotics, God’s Creation, Qauliyah, Kauniyah PENDAHULUAN ealitas hidup adalah rangkaian teka -teki, pertanyaan, atau enigma, yang menuntut pencarian jawaban, yang disebut kebenaran (truth). Untuk sampai pada kebenaran itu diperlukan penyelidikan (seder-hana maupun kompleks), yaitu sebuah kegiatan mencari petunjuk, bukti, tanda-tanda (sign), serta melihat logika, relasi dan kausalitas di antara semuanya, sehingga sampai pada sebuah kesimpulan akhir (inference). Inilah kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti, penyidik, detektif, hakim, ahli pemasaran, bahkan orang yang sedang mencari pasangan hidup sekalipun. R Adakalanya petunjuk, bukti dan tandatanda yang ada dapat membentuk sebuah rangkaian berpola atau tatanan beraturan (order), yang unsur-unsurnya saling berkaitan satu sama lainnya sebagai sebuah kesatuan konsep, tema atau peristiwa, yang terbentuk berdasarkan sebuah rencana 66 atau desain tertentu, sehingga makna atau logika di baliknya dapat dengan mudah dipahami. Artinya, ada tingkat keterdugaan atau redudance yang tinggi, yang dapat mengarahkan pembacaan (reading) menjadi lebih jelas, terang, transparan dan eksplisit. Akan te-tapi, adakalanya petunjuk, bukti dan tanda-tanda yang ada merupakan sebuah rangkaian yang tidak berpola, terputus (dis-continous) dan tidak beraturan, yang unsur-unsurnya tidak saling berkaitan satu sama lainnya, dan yang tidak terbentuk berdasarkan sebuah desain atau rencana tertentu, yang di dalamnya hanya ada ketidakberaturan, turbulensi (pergolakan), dan chaos (kekacaubalauan), sehingga proses pembacaaannya dipenuhi oleh kekaburan, kegelapan, ambiguitas, keraguan, tanda tanya dan enigma (membingungkan). Leahy mengatakan tanda segala realitas inderawi yang mengandung signifikasi. Sebuah papan kayu misalnya yang bertulisSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 kan “parking” atau keseluruhan suarasuara yang harus diucapkan dan dikemukakan untuk mengatakan “di sini ada tempat untuk parkir”. Tanda adalah material serta unsur yang metamaterial, yaitu signifikasi yang bersatu padu dengan material, tetapi yang memberi ketentuan terhadapnya dan melebihinya. Signifikasi atau arti adalah sifat yang dimiliki oleh suatu realitas material untuk dapat mengarahkan kita kepada suatu realitas lain dari dirinya sendiri. Jadi tanda itu dalam struktur internnya terdiri dari suatu unsur yang material dan suatu signifikasi (Leahy, 1981). Tanda-tanda atau firman Tuhan merupakan serangkaian atau sistem manifestasi kekuasaan dan kebesaran Tuhan di dunia dan semesta alam. Keagungan Tuhan tersabdakan dalam tanda-tanda kebesaranNya yang mengandung makna, pesan, hikmah yang sangat dalam dan misterius. Tanda-tanda Tuhan terbalut dalam asma-Nya yang senantiasa melekat dan mengikat di dalamnya. Teks al-Qur’an merupakan sekumpulan tanda-tanda yang bersistem yang mengandung pesan-pesan dari Tuhan untuk disampaikan kepada manusia. Untuk melihat dan membaca bahasa atau tanda-tanda Tuhan diperlukan pendekatan dan persamuhan perspektif diantaranya kompetensi linguistik dan kompetensi agama. Disiplin ilmu linguistik yang mengkaji tanda adalah semiotika. Semiotika sebagai ancangan digunakan untuk mengkaji, menguak, serta merepresentasi hakikat firman Tuhan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Penelitian ini hanya mendiskripsikan telaah kontribusi semiotika dalam mengungkap tanda-tanda atau firman Tuhan dan pertandaan sebagai ciptaan Tuhan yang bersifat alamiah dan hakiki. Penelitian dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap sejumlah teori dan hasil penelitian relevan. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Tanda-Tanda (Firman) Tuhan Alquran telah memberikan banyak penjelasan tentang hakikat. Allah swt tidak menampilkan wujud Dzatnya Yang Maha Kuasa di hadapan mahluk-mahluknya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama mahluk. Maka segala sesuatu yang tampak dan dapat dilihat dengan mata kepala kita, pasti itu bukan tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti nabi saw supayaberpikir tetang mahluk-mahluk Allah. jangan sekali-kali berpikir tentang dzat Allah. mahluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang disarankan di dalam banyak ayat Alquran agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran Allah. Ada dua wujud tanda Tuhan, yaitu a. Ayat Qauliyah Ayat Qauliyah (tanda terucap) adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt di dalam Al Quran yang terdiri 114 surat 6666 ayat. Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek kehidupan, termasuk tentang cara mengenal Allah. Sebagaimana Allah telah mengisyarakat pada ayat pertama Alquran surah Al Alaq (1-5) yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw saat beliau berkhalwat di Gua Hira, yaitu Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, (Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca), Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Ayat di atas menjelaskan agar manusia membaca tanda-tanda kebesaran Allah dan ciptaan-Nya atas nama Allah (qauliyah dan kauniyah). Manusia diciptakan dari segumpal darah dan Allah mengejar manusia dengan perantaraan qalam (tulis-baca) apaapa yang tidak diketahui manusia. Se67 benarnya tujuan membaca ayat-ayat Allah adalah untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) secara lebih mendalam. Ketika sudah mengenal Allah dengan baik dan mendalam maka semakin bertambah keimanan serta meningkatkan ketaqwaan. Dengan demikian membaca Alquran adalah wujud membaca ayat-ayat qauliyah (tandatanda terucap) yang telah difirmankan dalam kitab-kitab Nya. Pada surat At Tin dijelaskan “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, (Yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli Tafsir ialah tempat tinggal Nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitun) dan demi bukit Sinai (Bukit Sinai yaitu tempat Nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Tuhannya), dan demi kota (Mekah) ini yang aman, sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendahrendahnya (neraka), Ayat qauliyah di atas menjelaskan bahwa Allah bersumpah demi buah Tin yakni tempat tinggal nabi Nuh dimana terdapat banyak buah Tin, dan buah Zaitun (Baitul Maqdis), demi buah Sinai (tempat nabi Musa). Pada ayat ini tanda-tanda ciptaan Tuhan terwujud dalam buah Tin, buah Zaitun, dan buah Sinai. Ketiga buah tersebut merupakan hipernim dari nama buahbuahan yang berfungsi sebagai tanda simbolis. Pada suatu kisah nabi Musa diajak bicara oleh Allah, ayat yang mengisahkan ini menjelaskan bahwa kalam Allah swt adalah suara dan huruf, yang sesuai dengan kemuliaan dan kesempurnaan Allah, bukan makna dan pikiran yang ada dalam diri Allah swt. Sebab kalau kalam Allah swt niscaya nabi Musa tidak dapat mendengarnya dan tidak akan digelari Kalimur Rahman. b. Ayat Kauniyah Ayat Kauniyah (tanda terwujud) adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling 68 yang diciptakan oleh Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di dalam alam ini. Oleh karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala sistem dan peraturan-Nya, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan Allah. Ayat-ayat kauniyah adalah jagat raya ini berikut isi-isinya termasuk manusia beserta isi hatinya. Para ulama menegaskan bahwa Alquran dapat dipahami sebagaimana dari keseluruhan firman Allah, namun juga dapat bermakna sepenggal dari ayat-ayat-Nya. Sebagaimana dalam surah Fushilat ayat 53 dijelaskan: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? Ayat di atas menjelaskan dengan tegas bahwa Allah menampilkan atau mempresentasikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya di setiap penjuru bumi sehingga manusia mengakui bahwa Al Quran itu adalah benar, dan Tuhan adalah saksi atas segala sesuatu. Dalam ayat lain Allah swt menyuruh hamba-hamba-Nya untuk merenungi ayatayat kauniyah untuk berpikir dan memperhatikan bukti-bukti kekuasaan dan kemahabesaran Allah swt, seperti terdapat pada surah Adz Dzariyat ayat 20 -21 dan Al Ghasyiyah 17-20: Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz Dzariyat, 20-21) Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 guhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. (QS. Al Ghasyiyah 17-20) Kedua ayat di atas menyampaikan agar manusia menggali, berpikir atas semua ciptaan Allah beserta isinya, seperti unta-unta (binatang), gunung-gunung (tumbuhan), serta bumi dan lain sebagainya. Intinya adalah Allah menyuruh manusia untuk membaca ayat-ayat kauniyah. Allah menunjukkan tanda-tanda Kemahabesaran dan Kemahakuasaan dalam bentuk unta, gunung, dan bumi dan manusia itu sendiri. Hal tersebut di atas ditegaskan oleh Poespoprodjo bahwa manusia harus senantiasa menafsirkan (membuat interpretasi) karena ia selalu harus menempatkan diri dalam konteks yang terus berubah. Menafsirkan merupakan hakikat transendensi manusia menghadapi dan menghindari bahaya imanensi (ketenggelaman, kebekuan) eksistensinya (Poespoprodjo, 1987). Membaca tanda-tanda Tuhan baik qauliyah maupun kauniyah adalah menafsirkan, menggali, mengungkap tabir kebesaran dan keagungan Tuhan melalui pikiran, idea yang rasional, logis dan metodologis. Melalui objektivitas ilmu yang sistematis, rahasia dan pesan Tuhan yang multimakna dapat diterapkan dan diterjemahkan dalam kehidupan. Disiplin ilmu yang mengkaji tanda dinamakan semiotika (semiologi). c. Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS AdzDzariyat ayat 20-21: “Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Ayat di atas dengan jelas Allah menggunakan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta. Dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?” Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah). Kalimat retoris ini tidak membutuhkan jawaban dengan lisan, tetapi tindakan yang patut dilaksanakan, karena sesungguhnya kalimat ini adalah perintah. Selain itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al -Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah. Jadi itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al69 Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah Konsep Ilmu Tanda (Semiotika) Ferdinand de Saussure yang berperan besar dalam pencetusan Strukturalisme memperkenalkan konsep semiologi. Ia bertolak dari pendapatnya tentang langue yang merupakan sistem tanda yang mengungkapkan gagasan. Namun, ia pun menyadari bahwa di samping itu, ada sistem tanda alfabet bagi tuna-rungu dan tunawicara, simbol-simbol dalam upacara ritual, tanda dalam bidang militer, dan sebagainya. Saussure berpendapat bahwa langue adalah sistem yang terpenting. Oleh karena itu, dapat dibentuk sebuah ilmu lain yang mengkaji tanda-tanda dalam kehidupan sosial yang menjadi bagian dari psikologi sosial; ia menamakannya sémiologie. Kata tersebut berasal dari akar kata seme, sēmeîon (bahasa Yunani) yang bermakna “tanda‟ (Saussure, 1972). Semiotika adalah ilmu yang mengkaji tanda. Istilah semiotika merupakan cetusan Pierce, sedang Saussure menggunakan istilah semiologi. Dalam semiotika Peirce, tanda terkait dengan tiga unsur, yaitu referent, interpretant, dan objek. Menurut Peirce referent adalah objek baik konkret maupun abstrak, sedangkan interpretant adalah hasil penyimpulan terhadap kaitan antara tanda dan referennya (Chandler, 2002). Menurut Peirce semiotika bersinonim dengan logika sebab pemahaman mengenai tanda-tandalah yang justru memungkinkan manusia untuk berpikir dan bernalar. Dalam perkembangannya, semiotika didefinisikan sebagai studi sistematis yang melibatkan produksi dan interpretasi tanda dalam proses pemaknaan (Ratna, 2009). Peirce dikenal dengan konsep triadik dan trikotominya. Prinsip dasar dari tanda triadik tersebut bersifat representatif. Berdasarkan prinsip ini, tanda menjadi wakil yang menjelaskan sesuatu. Rumusan ini 70 mengimplikasikan bahwa makna sebuah tanda dapat berlaku secara pribadi, sosial atau bergantung pada konteks tertentu. Representamen berfungsi sebagai tanda (Saussure menamakannya signifier). Perlu dicatat bahwa secara teoritis, Peirce menggunakan istilah representamen dengan merujuk pada triadik secara keseluruhan. Namun secara terminologis, ia kadang-kadang menggunakan istilah sign alih-alih representamen. Object adalah sesuatu yang diwakili oleh representamen yang berkaitan dengan acuan. Object dapat berupa representasi mental (ada dalam pikiran), dapat juga berupa sesuatu yang nyata di luar tanda. Interpretant merupakan makna dari tanda. Pada beberapa kesempatan, ia menggunakan istilah significance, signification, atau interpretation. Tanda sendiri tidak dapat mengungkapkan sesuatu. Tanda hanya menunjukkan dan tugas penafsir memberi makna berdasarkan pengalamannya (Noth, 1990). Peirce melihat tanda tidak sebagai suatu struktur, tetapi sebagai suatu proses pemaknaan tanda yang disebutnya semiosis. Semiosis merupakan proses tiga tahap dan dapat terus berlanjut. Artinya, interpretant, pada gilirannya dapat menjadi representamen, dan seterusnya. Peirce menyatakan bahwa proses semiosis tidak terbatas, bergantung pada pengalaman. Sementara Morris mengatakan semiotika mencakup teori umum tentang tanda dalam semua bentuk manifestasinya, baik pada binatang maupun manusia, apakah itu normal ataupun patologis, linguistik atau nonlinguistik, personal ataupun sosial. Jadi, semiotik adalah bidang interdisipliner (Noth, 1990). Dalam semiologi Saussure menegaskan bahwa tanda memiliki tiga aspek, yaitu tanda itu sendiri (sign), aspek material (baik berupa suara, huruf, bentuk, gambar, maupun gerak) yang dijadikan penunjuk (signifier/penanda), dan aspek mental atau SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 konseptual yang ditunjuk oleh aspek material (signified/petanda) (Sunardi, 2002). Hubungan antara penanda dan petanda, menurut Saussure, adalah bersifat arbitrer (semena/bebas). Dengan kata lain, penanda tidak memiliki hubungan alamiah petanda (Berger, 2000). Sebuah tanda akan memiliki nilai (value) menurut Saussure, jika disandingkan (oposisi) atau dihubungkan (relasi) dengan tanda-tanda lain dalam sebuah sistem (sintagma), yang ia sebut dengan difference (perbedaan) (Chandler, 2002). Jadi, Saussure mengembangkan teori semiotik dari sudut bahasa. Menurutnya, tanda mengekspresikan gagasan sebagai kejadian mental yang berhubungan dengan pikiran manusia (Zoest, 1992). Dalam konteks ini, bahasa merupakan sistem tanda yang terpenting karena dengan bahasa dapat terungkap hal-hal lain yang tersimpan di luar bahasa, dalam kenyataan para penerima bahasa itu (Teuw, 1984). Sebenarnya, pandangan antara kedua teori tersebut di atas terdapat kesamaan, yaitu keduanya sepakat memandang semiologi atau semiotik sebagai studi tanda, berdasarkan segala yang berhubungan dengannya; cara berfungsinya, hubungan dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan juga penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya (Zoest, 1992). Objektivitas Semiotika (Ilmu Tanda) dalam Menyingkap Firman (TandaTanda Kebesaran) Tuhan. Objektivitas semiotika memandang firman Tuhan sebagai serangkaian tandatanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang sistematis dan sarat dengan makna dan hikmah. Tanda-tanda kebesaran Tuhan dapat berkedudukan sebagai simbol, indeks, maupun ikon. Tidak semua tanda dapat diubah dengan cara sewenang-wenang, khususnya tanda-tanda yang berkaitan dengan rantai komunikasi manusia-Tuhan. Komunikasi manusia-Tuhan, khususnya SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dalam kerangka ibadah muamalah, memiliki bentuk atau gerakan ritual dan rukun tertentu, yang secara semiotika dapat dianggap sebagai seperangkat tanda berdasarkan konvensi. Beberapa peneliti terkait perspektif semiotika terhadap ayat-ayat Quran dan Hadits di antaranya Taufiq (2008) menggali ideologi di balik simbol-simbol surga dan kenikmatannya dalam ayat-ayat Quran. Afwadzi (2014) menyoal teori semiotika komunikasi hadis ala Umberto Eco , dan Akrom (2014) menganalisis ketampanan Nabi Yusuf dengan perspektif semiotika AlQur’an . Ketiga penelitian di atas meggunakan semiotika dalam menganalisis ayat-ayat Al Quran dan Hadis. Hasil penelitian Taufiq (2008) menjelaskan “ideologi” yang terkandung di balik simbol-simbol surga serta kenikmatannya dalam Quran adalah ideologi materialism-spiritualistik. Artinya, Quran menggambarkan surga serta kenikmatannya dengan meminjam simbol-simbol materialisme (kebun) yang digunakan masyarakat Arab pra-Islam atau sesuatu tidak ada pada mereka tetapi sangat mereka inginkan (fasilitas raja dan sungai yang mengalir). Namun demikian, kemudian Quran menyisipkan nilai-nilai religius (spiritual) terhadap simbol-simbol tersebut, seperti perintah beriman, beramal saleh, dan bertaubat. Hal inilah yang menjadi tujuan utama dari penggambaran surga dan kenikmatannya secara konkret tersebut. Sementara itu, penelitian Akrom (2014) menemukan kisah ketampanan Nabi Yusuf ini telah melahirkan presuposisi (praanggapan) yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. Melalui jalinan peristiwa yang dituturkan atau diceritakan dengan bahasa yang terstruktur, pengirim pesan telah mengantisipasi pemahaman pembaca terhadap isi pesan tersebut. Secara naratif, penggalan kisah mengandung pesan-pesan dan makna tertentu yang berhubungan 71 dengan perintah-perintah agama, seperti perintah untuk menjaga diri dari perbuatan zina. Penelitian Afwadzi (2014) menghasilkan pertama, teori semiotika komunikasi hadis mencakup adanya sembilan komponen dalam proses komunikasi hadis, yaitu source (Nabi), message I (redaksi otentik Nabi), transmitter (para periwayat hadis), signal I (berbagai redaksi hadis secara verbal), channel (berbagai kitab hadis), signal II (berbagai redaksi hadis secara tertulis), receiver (nalar riwayah hadis), message II (redaksi tunggal hadis), dan destination (nalar semiotis). Metode pemahaman hadis terdapat dalam komponen destination yang melaksanakan metode unlimited semiosis untuk menemukan final logical interpretant. Konsep yang dibangun di sini adalah, bahwa dalam channel tersimpan noise (gangguan) dalam komunikasi berupa transformasi dari bahasa lisan ke dalam bahasa tulis, yang bisa berakibat pada adanya distorsi makna. Kedua, aplikasi teori tersebut pada hadis mengenai syirik. Hadis dengan bentuk redaksi al-shirk bi allâh menghasilkan final logical interpretant berupa “menuhankan materi”. Berdasarkan penelitian di atas bahwa dengan perspektif semiotika, tanda-tanda kebesaran Allah baik bersifat qauliyah (terucap) maupun kauniyah (termanifestasikan) mampu diungkap melalui unsurunsur yang terdapat dalam ilmu tanda (semiotika). Unsur-unsur tersebut diantaranya signifier-signified, denotasi-konotasi Barthes, referent, interpretant, dan objek Peirce, source, message I, transmitter, signal I, channel, signal II, receiver, message II, dan destination (unlimited semiotis). Ayat qauliyah dapat dikatakan teks-teks agama yang bersifat historis. Dengan perkataan lain makna yang ditimbulkan bergantung pada sistem budaya dan sosial dimana ia lahir. Karena itu (seperti yang diungkap Barthes) dalam teks-teks bahasa agama mengenal istilah makna tingkat per72 tama (denotatif) dan juga makna tingkat kedua (konotatif). Makna denotatif adalah makna secara leksikal, sementara makna konotatif adalah makna yang melibatkan unsur kesejarahan teks (asbab al-nuzul) dan latar sosio-kultural pembaca teks itu sendiri. Ayat-ayat Tuhan merupakan serangkaian tanda-tanda terstruktur, terencana dan sempurna (lengkap) yang menyimpan makna (hikmah). Komponen-komponen yang terikat dapat digali dengan tiga unsur yang dikemukakan Peirce mencakup referent, interpretant, dan objek. Sebagaimana perspektif pandang Audifax, tidak ada sesuatu yang namanya "kebetulan" di dunia ini. Semua kejadian, pertemuan, perpisahan, orang-orang yang saling bertemu, bahkan mimpi pun, mengusung pesan yang bisa dihubungkan satu sama lain akan membawa kita kepada kesempatan yang kita inginkan. Dan, itu adalah tanda yang harus kita baca sebagai pesan yang ingin disampaikan-Nya (Audifax, 2007). Ayat kauniyah tidak lepas dari pesan ayat qauliyah. Sebagai contoh dari proses pertandaan yang saling mengisi ini adalah pada pelaksanaan ibadah haji. Kata Haji menurut bahasa artimya “Menyengaja”. Menurut istilah Haji berarti mengunjungi Baitullah di Mekkah dengan niat melakukan Ibadah semata-mata karena Allah SWT, dengan memakai pakaian ihram dan syarat -syarat dan waktu yang sudah ditentukan. Ihram secara denotasi adalah pakaian putih, unik dan tidak berjahit. Konotasi ihram adalah dilarang berkata dan beramal dengan hal-hal tertentu, seperti jima’, menikah, melontarkan ucapan kotor, dan lain-sebagainya. Selain itu juga ihram sebagai simbol kesucian, persamaan, persaudaraan mahluk di depan Tuhan. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah tujuh kali putaran dimulai dari hajar Aswad dengan posisi Ka’bah selalu berada di sebelah kiri yang berthawaf. Konotasi maknanya adalah mengelilingi kehidupan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 ini, berputar dari tiada kemudian kembali ke asalnya yaitu tiada, dari tanah kembali ke tanah Kemudian datangnya ramadhan, muslim harus mengetahui tanda datangnya bulan suci itu dengan melihat hilal (bulan sabit atau menengok ke atas. Selanjutnya muslim berkomitmen untuk ber-shiyam: menahan diri, membunuh egoisitas, dan mengoptimalkan kecerdasan emosi dan spiritual. Dalam prosesnya ditandai malam istimewa nuzulul quran dan lailatul qadr dan akhirnya puasa disempurnakan dengan "tanda kesalehan sosial" berupa zakat fitrah. Jadi objektivitas semiotika sebagai ilmu yang mengkaji tanda berpijak pada landasan ilmiah dan juga bersifat alamiah (kodrati) dalam memandang firman Tuhan. Perpaduan intelektualitas dan spiritual manusia untuk menyerap pengetahuan dan singkapan-Nya yang berserakan dalam realitas dan peristiwa yang terjadi. Manusia seharusnya bisa melihat realitas secara transparan melalui kepekaannya sehingga mampu membaca fenomena yang Dia kehendaki, gar terjwujud keseimbangan mikrokosmos dan makrokosmos. PENUTUPAN Antara ayat-ayat atau tanda-tanda qauliyah dan kauniyah yang terdapat dalam firman Tuhan memiliki hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama be-rasal dari Allah. Kedua ayat tersebut saling menguatkan dan melengkapi. Adanya penemuan-penemuan ilmiah menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Alquran sebagai bentuk penguatan kebenaran ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah. Keilmuan yang mempelajari tentang penggunaan tanda (bahasa) di dalam masyarakat sejatinya diterima secara luas, namun masih saja diperdebatkan tentang intervensi semiotika terhadap cabang keilmuan. Pandangan semiotika terhadap tandatanda Tuhan meliputi tanda qauliyah dan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tanda qauniyah. Tanda qauliyah adalah ucapan, bunyi, huruf atau teks, sedangkan tanda kauniyah adalah fenomena alam, peristiwa sosial, kejadian luar biasa yang ada di dalam alam ini. Kedua ayat tersebut adalah tanda yang mengandung berbagai penggunaan tanda, kode dan makna-makna di dalamnya, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk melihat relasi-relasi teologis, metafisis, filosofis dan saintifik di dalamnya. Pembacaan semiotik ini, dapat dianggap sebagai sebuah pembacaan yang terbuka, plural dan komprehensif, yang dapat membentangkan hampir semua realitas kehidupan. DAFTAR PUSTAKA Audifax. (2007). Semiotika Tuhan. Yogyakarta : Pinus Publisher. Berger, A. A. (2000). Tanda-Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana. Chandler, D. (2002). Semiotics: The Basics. Canada: Routledge. Leahy, L. (1981). Manusia Sebuah Misteri (Sintesa Filosofis tentang Mahluk Paradoksal). Jakarta : PT. Gramedia . Noth, W. (1990). Handbook of Semiotics . Bloomington & Indianapolis: Indiana University Press. Poespoprodjo, W. (1987). Intepretasi: Beberapa Catatan Filsafatinya. Bandung: Remaja Karya. Ratna, N. K. (2009). Stilistika: kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelaja. Saussure, F. D. (1972). Course de Linguistique General. Paris: Payot. Sunardi, S. (2002). Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal. Teuw, A. (1984). Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya . Zoest, A. V. (1992). Serba-Serbi Semiotika. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta. 73 Ekspresi Simbol Monoteis Sastra Lisan Kèjhung Madura (Telaah Semiotika Hjemslev) Moh. Badrih Universitas Islam Malang Email: moh.badrih@unisma.ac.id Manusia sebagai animal simbolicum selalu berupaya untuk mentransfer pengetahuan yang dimilikinya dalam berbagai bentuk simbol. Hal ini bertujuan agar pesan luhur yang terdapat dalam simbol dapat dimaknai sesuai dengan tingkat pengetahuan, waktu, dan lingkungannya. Bentuk simbol yang diciptakan dapat berupa pesan verbal dan non-verbal. Simbol verbal merupakan segala sesuatu yang disampaikan melalui lisan, sedangkan simbol non-verbal dapat berupa benda, gerakan, bahkan warna. Kedua bentuk simbol tersebut menjadi tradisi masyarakat setempat dan diklaim sebagai milik bersama. Pesan yang disampaikan dalam simbol tidak hanya diperuntukkan pada masyarakat sezaman melainkan juga untuk generasi sesudahnya. Sebagai bagian dari ekspresi verbal, kèjhung menjadi sebuah seni sastra lisan yang mengandung simbol intelektual, emosional, bahkan spiritual manusia Madura. Kata Kunci: Semiotika, kèjhung, sastra lisan, simbol, manusia Madura PENDAHULUAN anusia merupakan makhluk simbolis dalam berfikir, bertutur, bersikap, dan berinteraksi dengan sesamanya atau dengan makhluk yang lain. Ketika berpikir, manusia cenderung menyimbolkan segala kesan yang dirasakan indera menjadi ‘meta simbol’ dan meyimpannya dalam pikiran. Dalam hal ini, pengetahuan manusia merupakan rekontruksi dari simbol-simbol yang telah ada (dunia) menjadi simbol mentalis yang dapat dimengerti dalam perspsektifnya sendiri. Simbol-simbol yang telah direkontruksi tersebut secara langsung memiliki relasi dengan dunia acuan (referen), sehingga pada saat bertutur, bersikap, bertindak, dan berinteraksi dengan manusia dan alam sekitar, manusia cenderung membuat simbol- M 74 simbol baru sebagai representasi dari meta simbol. Menurut Cassirer (1990:40), manusia sebagai animal simbolicum dan homo estheticus. Animal simbolicum berarti manusia sebagai makhluk yang selalu bermain dengan simbol-simbol, dan sebagai homo estheticus manusia memiliki rasa indah untuk bermain dengan simbol yang sesuai dengan pengalaman keindahannya. Selain itu, manusia dapat dikategorikan sebagai pembuat simbol dan pemakna simbol. Bentuk pertama mengindikasikan pengetahuan manusia untuk membuat pengetahuan-pengatahuan baru secara simbolis, sedangkan bentuk kedua merupakan penge -tahuan baru yang diperoleh dari hasil pemaknaan terhadap simbol-simbol yang ada. Baal (1986:46) mengatakan bahwa SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 “menusia dapat membedakan mana yang indah dan yang jelek dan selalu menyatakan dirinya dengan simbol-simbol dalam perkataan, mitos, dan seni”. Simbol-simbol yang dibuat dan dimaknai oleh manusia menjadi ‘tugu’ yang menandai proses belajar manusia. Tugu tersebut kemudian menjadi petunjuk ke arah pembaharuan dan penyusunan kembali nilai-nilai humanis secara sistemik (Peursen, 1993:149). Sebagai bentuk dari budi luhur, manusia kembali merepresentasikan nilainiai humanistik ke dalam sebuah bentuk simbol agar selalu menjadi barometer hidup. Inilah yang akan menjadi dasar perilaku manusia di masa yang akan datang. Simbol dari budi luhur manusia tersebut terimplementasi dalam lima hal yaitu: (1) agama dengan sistem releginya, (2) sistem budaya tertentu, (3) kebajikan dan ajaran tertentu, (4) paham kepercayaan dan mistisme, dan (5) alam semesta. Kelima hal tersebut sebagai tugu proses belajar manusia dan penyusunan kembali nilainilai kemanusiaan. Pada ranah sistem kebudayaan, simbol tidak hanya berupa hal yang sifatnya sakral, akan tetapi juga dapat berupa kesenian tradisional yang dimiliki bersama oleh sebuah komunitas masyarakat. Di Madura terdapat kesenian kèjhung yang menjadi salah satu bagian dari sastra lisan yang dimiliki oleh masyarakat Madura. dalam kèjhung terdapat ungkapan-ungkapan simbolis yang ditempatkan pada bagian sampiran atau bagian isi. Hal ini menandakan bahwa kèjhung Madura merupakan jenis puisi lama yang dinyanyikan dengan berirama ab-ab. Adapun simbol-simbol yang terdapat di dalam kèjhung sebagai puisi yang dinyanyikan bertujuan untuk mengungkapkan gagasan, kekhasan, dan kebenaran kultural yang dimiliki oleh masyarakat Madura (Badrih, 2014). Ekspresi verbal kèjhung selalu identik dengan suara nyaring dan melengking. Hal SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 tersebut menandakan bahwa kèjhung hanya dilantunkan oleh perempuan. Namun seiring dengan perkembangan waktu, kèjhung yang terdapat di Madura telah mengalami pergeseran peran yang tidak hanya dilantunkan oleh perempuan, akan tetapi juga oleh laki-laki (Badrih, 2016:35). Laki-laki yang ikut melantunkan kèjhung hanya sebagai pelantun kedua setelah tandha’ (sinden). Walaupun laki-laki memiliki peran yang sama seperti tandha’, mereka tidak bisa disebut sebagai tandha’ karena panggilan tersebut hanya diperuntukkan untuk para wanita yang pandai ngèjhung dan menari, sedangkan untuk laki -laki yang memiliki kepandaian yang serupa biasanya disebut sebagai tokang tandhang. Tokang tandhang (penendang laki-laki) dan tandha’ (sinden) dalam sebuah pertunjukan dapat menentukan sendiri irama yang akan mengiringi mereka pada saat ngejung. Irama tersebut selanjutkan akan menjadi pengiring kèjhung yang akan mereka lantunkan pada pendengar. Pada umumnya setiap topik kèjhung yang mereka bawakan diikuti oleh irama yang berbeda. Hal tersebut bertujuan agar kèjhung yang mereka lantunkan lebih menarik simpati para pendengar yang hadir di tempat penyelenggaraan kèjhung. Pembawaan kèjhung yang dinyanyikan selang-seling antara laki-laki dan perempuan dapat mengubah bentuk kèjhung dari sastra lisan menjadi nyanyian. Hal inilah yang dapat menjadikan kèjhung diapresiasi berbeda oleh masyarakat setempat. Di satu sisi kèjhung dapat dikategorikan sebagai puisi lama, karena strukturnya yang hampir sama dengan pantun, di sisi yang lain kèjhung berfungsi sebagai nyanyian rakyat karena penyampaiannya yang harus dinyanyikan. Bagi para pemerhati sastra lisan Madura, kèjhung tidak dipandang sebagai sastra yang dikotomik, tetapi sebagai sastra lisan yang memiliki ciri khas dan kom75 posisi utuh baik dari segi bentuk, isi, penyampaian, dan fungsinya. Kèjhung Madura memiliki karakteristik seperti pantun atau puisi lama yaknik terdiri dari empat larik dalam satu bait dan berirama ab-ab. Isi kèjhung dapat berupa bhabulangan (pendidikan), pesan moral, ungkapan romantis, dan humor (Badrih, 2016). Seperti telah disinggung sebelumnya, bahwa penyampaian kèjhung dengan cara dinyanyikan, sedangkan fungsinya disamping sebagai hiburan juga berfungsi sebagai pengikat warga dan kelompok etnik Madura (Badrih, 2013b). Selain dari keempat hal tersebut, dalam kèjhung juga terdapat ungkapan-ungkapan yang sangat folosofis. Bagi para budayawan Madura, ungkapan -ungkapan yang terdapat dalam kèjhung merupakan simbol-simbol yang mengandung makna religi, seni, kontekstual dan kultural. Kèjhung-kèjhung yang dimaksud dapat dijumpai dalam kèjhung bhabulangan (kidung pendidikan), dan kèjhung tayubhan. Kedua kèjhung tersebut meskipun emiliki karakteristik yang berbeda, akan tetapi memiliki bentuk yang hampir sama. Adapun perbedaan dari kedua kèjhung tersebut dapat dilihat dari tujuan dan fungsinya bagi para pendengar. Fungsi dari kèjhung bhabulangan untuk bebagai hal yang berkaitan dengan keyakinan, dan ketauhidan, sedangkan kèjhung tayuban hanya untuk hiburan dan pesanpesan yang berkaitan dengan kehidupan sosial. Pada ranah inilah sebenarnya dapat dilihat bahwa cerminan dari kèjhung sebagai ekspresi verbal memiliki kebenaran kultural yang dimiliki oleh kelompok etnik Madura. Dalam memandang diri sebagai manusia yang berbudaya, kelompok etnik Madura memiliki cara pandang terhadap kehidupan di masa lalu, sekarang dan yang akan datang (Busri, 2010:13). Wujud pencitraan tersebut salah satunya dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan yang terdapat 76 dalam kèjhung. Dasar inilah yang diangkat oleh penulis bahwa dalam ekspresi verbal kèjhung terdapat simbol-simbol yang dapat mencerminkan manusia Madura. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah ekspresi simbol verbal dalam kèjhung? 2. Bagaimanakah simbol monoteis dalam kèjhung? LANDASAN TEORI Simbol dan Karakteristik Simbol dalam Sastra Lisan Sebuah simbol adalah sesuatu yang terdiri atas sesuatu yang lain. Suatu konsep makna dapat ditunjukkan dengan simbol (cincin merupakan simbol perkawinan, seragam militer merupakan simbol kesatuan, dan bendera merupakan simbol bang -sa). Seseorang juga merupakan simbol, presiden menunjukkan republik, raja atau ratu menunjukkan kerajaan. Menurut Busri (2010:63), bahwa simbolsimbol merupakan prinsip utama untuk berinteraksi dengan manusia. Sebuah simbol dari setiap objek, kata ataupun kejadian memiliki arti tertentu yang dapat disepakati bersama. Hal ini mengindikasikan bahwa simbol merupakan konsensus sosial yang menjadi persetujuan kelompok untuk menjelaskan sesuatu yang diwakili oleh simbol tersebut. Selain itu Hasan juga menegaskan bahwa sebagai konsensus sosial simbol dibagi menjadi dua, yaitu (a) simbol presentasional, dan (b) simbol distruktif. Simbol presentasional merupakan simbol yang cara penafsirannya tidak memerlukan intelektualitas, dengan kata lain penafsiran simbol ini dengan cara spontan, sedangkan simbol distruktif merupakan simbol yang cara penafsirannya memerlukan intelektualitas, spontanitas dan berurutan. Dengan kata lain, simbol jenis distruktif dapat berupa bahasa verba. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Hubungan simbol dalam bahasa verba dengan sesuatu yang disimbolkan bersifat satu arah. Kata ‘bunga, tidak haya memiliki hubungan timbal balik antara gambaran yang disebut ‘bunga’, melainkan secara asosiatif juga dapat dihubungkan dengan ‘keindahan’, ‘kelembutan’, dan lain sebagainya. Kesadaran simbolis selain dapat menampilkan gambaran objek yang diacu juga dapat menggambarkan ide citraan, maupun konfigurasi gagasan yang mengatasi bentuk simbolik maupun gambaran objeknya sendiri. Dengan demikian pembuaran makna dari sesuatu simbol pada dasarnya merupakan perepresentasian ciri semantis yang secara abstrak juga dapat membentuk seruan pengertian tertentu. Dapat dinyatakan juga bahwa simbol merupakan gejala khusus dari tanda. Sebagai bagian dari tanda, meskipun tidak semua tanda adalah simbol. Simbol itu sendiri dapat disebut sebagai tanda. Simbol sebagai gejala khusus dari tanda karena keberadaan simbol berkaitan dengan tanda dan interpretasi, penggunaan, dan penikmatan, keikursertaan dan pamasukan ciri, seni dan metologi, serta gejala yang lain pengkreasian tanda (Sudaryono, 2002:101). Tanda merupakan ‘fakta’ yang dapat didudukkan secara isolatif terlepas dari hubungannya dengan penafsiran. Dapat dinyatakan bahwa tanda mengacu pada gelala yang lebih luas daripada simbol dan simbol hanya mengacu pada simbol verbal. Pernyataan di depan, sejalan dengan pendepat Eco (1983:134), bahwa kreasi simbol bukan hanya menyangkut kreasi simbolik, tetapi juga berkaitan dengan tanda dalam komunikasi. Penyusunan dan penyampaian tanda itu selain berhubungan dengan untaian isi juga berhubungan dengan bentuk yang mewujudkan untaian isi sebagai bentuk ekspresi. Oleh karena itu, sebagai sistem, simbol selain terkait dengan dunia pengalaman, pengetahuan, dan intensi penuturnya juga terkait dengan SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 konteks sosial budaya pemakainya. Pemakaian kata Adam sebagai nama pasangan Hawa, tidak dapat semata-mata disikapi sebagai nama tetapi sebagai simbol yang mengemban isi tertentu sejalan dengan intensi penuturnya. Apabila ditinjau dari karakteristiknya, simbol memiliki empat karakteristik utama, yaitu (1) simbol bersifat figuratif yang selalu menunjuk kepada sesuatu di luar dirinya sendiri, (2) simbol bersifat dapat dicerap baik sebagai bentuk objektif maupun sebagai konsep imajinatif, (3) simbol memiliki daya kekuatan yang melekat secara ghaib, mistis, relegius, dan rohaniah, (4) simbol mempunyai akar dalam masyarakat dan mendapat dukungan dari masyarakat (Dellistone, 1986:102). Kaitannya dengan sastra lisan maka deskripsi simbol tersebut dapat diurai sebagai berikut. Pertama, konsep figuratif dalam simbol. Setiap ungkapan dalam sastra lisan selalu memiliki kandungan makna referensial. Misalnya, dalam sebuah ungkapan lisan terdapat ungkapan “rembulanku yang kini hilang”. Kata bulan yang terdapat dalam larik tersebut dapat diberi makna rembulan yang menjadi penerang bumi di malam hari, dan dapat diberi makna seorang gadis atau perempuan yang sudah tidak ada dalam kehidupan seseorang. Umumnya pemaknaan simbol dalama sastra lisan, selain melihat isi dari teks sastranya juga harus melihat konteks yang sedang terjadi pada saat sastra itu dibacakan atau dilantunkan. Kedua, konsep objektif dan imajinatif dalam simbol. Karena sastra lisan tidak lahir dari ‘dunia yang kosong’ maka setiap karya sastra yang ada selalu sebagai imitasi dari sebuah realita. Namun tidak semuanya sastra lisan selalu memiliki objek atau sandaran dalam proses penciptaannya. Sastra lisan juga dapat dibentuk dari hasil imajinasi pengarang meskipun dalam dunia nyata tidak ada. Hal inilah yang perlu disadari bahwa dalam pemberian makna terha77 dap sastra lisan, pendengar harus memiliki kearifan lokal dalam menyerap pesanpesan yang terdapat di dalamnya. Bentuk isi sastra lisan hanyalah kebenaran lokatif yang hanya dimiliki oleh sekelompok masyarakat dan tidak harus diterima oleh semua orang. Ketiga, konsep daya simbol dalam sastra lisan. Keberadaan sismbol dalam sastra lisan tidak hanya sebatas dalam ranah imajinasi saja, tetapi pada bentuk-bentuk lain yang terlibat dalam pertunjukan sastra lisan. Apabila pertunjukan sastra lisan ‘harus disakralkan’ seperti pembaca yang harus dimasuki ‘roh halus’, maka segala bentuk yang terlibat dan dapat dilihat pada pementasan tersebut termasuk kategori simbol. Oleh karena itu, wujud pemaknaan simbol tidak hanya pada tataran fisik saja melainkan juga yang meta fisik. Selain itu, keutuhan pemaknaan simbol dalam sastra lisan dapat dikontruksi jika setiap komponen yang terlibat pembacaan sastra lisan saling dikaitkan satu dengan yang lain. Keempat, konsep kepemilikan simbol dalam masyarakat. Simbol-simbol yang terdapat dalam sastra lisan sebagai perwujudan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat. Sebagai karya yang dimiliki bersama, masyarakat selalu menikmati, dan memelihara setiap bagian yang terdapat dalam sastra lisan. Perubahan yang terjadi pada sastra lisan di luar kehendak mereka biasanya akan mengundang perselisihan dan pertentangan. Di sinilah inti bahwa dalam sastra lisan memiliki akar di masyarakat dan dapat dukungan dari masyarakat. Seluruh deskripsi di depan dapat dijadikan dasar untuk mengambil sebuah simpulan mengenai hakikat simbol yang sesuai dengan konteks kajian penulis. Dalam hal ini simbol merupakan kata atau sesuatu yang dapat dianalogikakan sebagai kata yang terkait dengan penafsiran pemakai, kaidah pemakaian sesuai dengan jenis wacananya, dan kreasi pemberian makna 78 sesuai dengan intensi pemakainya yang bersifat tradisional dan konvensional. Makna Simbol Simbol merupakan produk yang hanya dibuat dan digunakan untuk manusia. Tingkat pengetahuan manusia yang berbeda sangat berpotensi untuk memaknai simbol dengan cara yang berbeda, sehingga otomatis maknanya juga berbeda. Tidak hanya pada tataran pengetahuan yang ruang lingkupnya sangat luas, pada tataran sudut pandang dan teknik pemaknaan yang berbeda dalam menaknai simbol akan menghasilkan makna simbol yang berbeda. Menurut Sudaryono (2002:163), pemaknaan terhadap simbol setidak-tidanya melibatkan tiga aspek, (1) assosiasi bentuk dan isi, (2) pengetahuan pembaca, dan (3) konteks. Penggunaan tiga aspek pemaknaan simbol tersebut diasumsikan akan mengungkap makna hakiki simbol dari perspektif sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makna simbol merupakan upaya penggalian makna dari ranah isi dan ekspresi menuju substansi sampai pada purport simbol. METODE PENELITIAN Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Hjemslev. Teknik ini dipilih untuk melihat kѐhung sebagai sastra lisan kelompok etnik Madura. Oleh karena itu, peneliti (penafsir) melakukan dekontekstualisasi (otomomi teks), dan rekontekstualisasi (mengembalikan teks pada latar belakang terjadinya teks) dengan cara mengaitkannya dengan realitas kehidupan etnik Madura. Denzin (2009:257) menyatakan bahwa penelitian kualitatif lebih terfokus pada penafsiran ‘realitas’ yang dibentuk oleh praktik-praktik interpretatif. Adapun upaya penafsiran teks tuturan kèjhung sebagai berikut. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 RK = (T [T1{s + m}.T2{s + m}]) + (SS) + (Kd [KL{ctr}.KT{ctr}]) + ( R [R1{m + s}.R2 {m + s}]) + (SL [K Id{s}.K In{s}]) + (Ks [Mw{ctr}.Pw {ctr}.Rlt{ctr}]) + PK{ctr}. (Badrih, 2016:33) HASIL DAN PEMBAHASAN Ekspresi Simbol Verbal dalam Kèjhung Kèjhung sebagai sastra lisan tidak dapat dipisahkan dari pertunjukan dan khalayak. Adreyetti (2013:7) juga memiliki pendapat yang sama bahwa pertunjukan adalah persembahan atau perwujudan sastra lisan oleh penampil kepada khalayak di tempat yang sama dan waktu yang sama. Kondisi tersebut akan memudahkan penyampaian pesan-pesan yang terdapat dalam sastra lisan secara langsung. Indikator keberhasilan penyampaian pesan tersebut dapat dilihat dari jumlah dan kondusifitas khalayak yang datang ke tempat tersebut. Pada saat pertunjukan dimulai para pelantun sastra lisan akan berupaya agar pesan-pesan yang disampaikannya dapat diterima secara utuh. Hal yang sama juga berlaku untuk khalayak, pada saat yang bersamaan akan mengkonstruk sebuah pemahaman ‘baru’ meskipun sebelumnya mareka telah mendengar perihal yang serupa. Situasi tersebut akan menjadikan khalayak berfungsi sebagai penikmat, penilai, dan sekaligus pengkritik apabila terdapat isi atau alur cerita yang tidak sama dengan pemahaman yang mereka terima sebelumnya. Cara pandang demikian dapat terjadi hanya dalam situasi dan waktu yang sama yakni saat pertunjukan sastra lisan berlangsung. Setiap pertunjukan sastra lisan berlangsung tidak mustahil jika terdapat perubahan dalam hal penyajian pada khalayak. Sajian yang dimaksud dapat berupa ungkapan-ungkapan yang diekspresikan dengan maksud tertentu. Katika para pelantun menginginkan agar penonton yang hadir SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 pada saat itu terbawa oleh nuansa kesedihan, maka seorang pembawa atau pelantun akan mengekspresikannya sedemikian rupa sehingga para penonton banyak yang menangis. Demikian juga saat para pelantun menginginkan penonton tertawa, mereka membawakan sastra lisan dengan berbagai ekspresi verbal sehingga para penonton banyak yang tertawa. Ekspresi verbal dalam kèjhung dapat dijumpai pada masing-masing larik yang dialntunkan oleh seorang tandha’ (sinden) atau tokang kèjhung (laki-laki yang menjadi penyanyi sekaligus penari). Ekspresi verbal tersebut dapat berupa pujian, istilah, berbagai nama pohon dan buah, ungkapan, dan falsafah yang sudah dikenal oleh masyarakat Madura secara umum. Berbagai bentuk ekspresi verbal tersebut dapat diungkapkan dalam satu bait kèjhung yang dilantunkan oleh seorang tandha’ atau tokang kèjhung. Keberadaanya dapat dijumpai dalam sampiran atau isi kèjhung. Dalam menyampaikan maksud tuturan, kadang-kadang sampiran kèjhung tidak menjadi perhatian utama, tetapi hanya dijadikan pengantar saja. Hal inilah yang membuat tandha’ menggunakan sampiran yang sama dari isi kèjhung yang berbeda. Misalnya kèjhung berikut. Aéng gellâs berna méra Nompa ka tana tadhâ’ sakalé Dhinéng belles nesérra Allah Sapa bâi ta’ pelé `kasé Air gelas warna merah Tumpah ke tanah habis tak tersisa Kasih dan sayang cintanya Allah Siapapun tak pernah pilih kasih Kéjhung 1 Kèjhung di tersebut hampir sama dengan kèjhung berikut yang memiliki sampiran sama, namun isinya berbeda. 79 Aéng gellâs berna méra Nompa ka tana tadhâ’ sakalé Rassa males ngibhâ sossa Ka abhâ’ bân kasé laén` Air gelas warna merah Tumpah ke tanah habis tak tersisa Perasaan malas akan membawa susah untuk diri sendiri dan orang lain Kéjhung 2 Kedua sampiran kèjhung di atas memiliki kesamaan, tetapi kandungan isinya memiliki kandungan yang berbeda. Inilah bagian ekspresi verbal kèjhung yang di dalamnya mengandung pernyataan, saran, dan falsafah. Ketiga hal bentuk ekspresi tersebut selain memiliki bentuk dan makna yang berbeda juga memiliki modus yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dijumpai pada saat kèjhung disampaikan pada khalayak. Ekspresi verbal yang berupa pernyataan dapat dilihat pada kèjhung ke-2. Pernyataan ini memiliki makna sifat malas akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Oleh karena itu, secara tidak langsung kèjhung ini memberikan saran pada siapa saja yang hadir dan mendengar nyanyian kèjhung tersebut untuk tidak memiliki sifat -sifat pemalas. Demikian juga dengan kèjhung ke-1 yang memiliki kandungan falsafah. Falsafah yang terdapat dalam kèjhung ke -1 tersebut tentang kasih sayang tuhan yang tidak pilih kasih. Siapapun hambanya, baik ataukah tidak tuhan tetap akan memberikan kasih sayangnya. Perihal tersebut dalam bahasa Madura dikenal dengan isi sampiran kèjhung ke-1. Ungkapan tersebut kadang dijadikan semboyan motivasi pada saat orang Madura akan merantau ke daerah lain. Salah satu tujuannya adalah agar mereka tetap optimis dalam bekerja dan mencari nafkah lahir. 80 Ekspresi Simbol Monoteis dalam Kèjhung Ekspresi simbol merupakan varian dari satu substansi simbol yang berbentuk beberapa simbol. Simbol-simbol yang terdapat dalam sastra lisan Madura dapat berupa suara yang melengking, suara panjang, pilihan diksi yang terdapat dalam kèjhung, dan rima akhir. Varian-varian simbol yang menjadi bagian dari ekspresi simbol tersebut tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, keyakinan, dan cara penyajian pembuat simbol. Meskipun ada yang berasumsi bahwa ekspresi simbol hanyalah gaya pencitraan yang tidak memiliki arti, tetapi bagi penulis ekspresi simbol memiliki kandungan makna yang berbeda. Hjelmslev (Noth, 2006:66) membedakan ekspresi (expression) dan isi (content) sebagai sebuh bidang dari tanda. Bidang ekspresi dan bidang isi selanjutnya dipilah ke dalam substansi dan bentuk semiotik yang menghasilkan enam strata: bidang isi, bidang ekspresi, substansi isi, substansi ekspresi, isi purport dan ekspresi purport. Bidang isi merupakan konsep tanda yang terbentuk di dalam mental, sedangkan bidang ekspresi merupakan konsep tanda yang sudah terwujud dalam realita. Selain bidang isi, juga substansi isi dan substansi ekspresi. Substansi isi merupakan inti dari setiap tanda yang mengandung konsep makna, demikian juga dengan substansi ekspresi yang merupakan penggabungan dari benda dan bentuk. Konsep purport yang diperkenalkan Hjemslev merupakan pokok isi yang posisinya lebih substansial dalam sebuah tanda. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Bagan 1: Model tanda diadik bertingkat Hjemslev Setiap purport menjadi sub pokok dari substansi dan keberadaannya dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan “pengujar”. Setelah berwujud substansi akan terbentuk sebuah tanda (simbol) yang merupakan penggabungan dari bentuk dan ekspresi. Bentuk dan ekspresi selalu saling tarikmenarik untuk mewujudkan sebuah tanda, dan hasil dari ini adalah sebuah varian tanda dari substansi yang sama. Simbol-simbol ketuhanan dalam kèjhung Madura dapat dilihat pada kèjhung babhulangan atau kèjhung-kèjhung yang memiliki khazanah pendidikan. Umumnya kèjhung tersebut membicarakan kekuasaan tuhan yang terdapat dalam alam semesta dan cara menemukan tuhan yang dapat dilakukan oleh Manusia. Simbol-simbol verbal yang terdapat dalam kèjhung dapat dicermati pada teks berikut. Ngella londhong jhâ’ lighâli Sé ngobhânghi lé samporna Allah sèttong è kambuli Nangèng ta’ nguorangi kasoghianna Merebus londong jangan terlalu keras Yang membeli agar sempurna Allah satu untuk semua ciptaan-Nya Namun tidak mengurangi kekayaan-Nya Kèjhung 3 Kèjhung ke-3 di atas mengandung varian simbol verba yang terdapat pada sampiran dan isi kèjhung. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Apabila simbol-simbol tersebut dianalisis dengan mengguna-kan model Hjemslev, maka dapat diketahui bahwa di dalamnya terdapat tiga ranah yang saling berpasangan. Pasangan-pasangan tersebut, mulai dari bentukan semiotik (purport), isi, dan substansi. Ketiga bentuk tersebut mengekspresikan cara pandang masyarakat Madura terhadap masa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Masyarakat Madura memiliki sebuah keyakinan monoteisme yakni Allah Settong. Hal tersebut mengambarkan ketergantungan dan pengharapan segala hal yang berkaitan dengan kemanusiaan (insaniyah) kepada sebuah dzat yang menguasai alam semesta. Bentukan tanda semiotik ketuhanan dalam hal tersebut sudah terbentuk dalam pengalamannya yang bersandar pada keyakinan dan pengetahuan sebelumnya. Meski gambaran ketuhanan tersebut bersifat keyakinan, tetapi bentukan tanda semiotik yang dibuat bersifat mutlak. Bentuk penghambaan pada dzat yang Maha Agung dalam hal ini dapat dilihat dari sebuah ungkapan simbolis kejhung ‘meske e kambuli’i nangèng ta’ nguorangi kasoghianna’ (Kejhung 3). Ungkapan ini sebagai perwujudan bahwa tidak ada hal yang perlu disikapi secara pesimis apabila sebuah keyakinan tentang sifat-sifat tuhan tersebut sudah dapat dimanifestasikan dalam kehidupan sehari. Selain itu, cara pandang orang Madura terhadap keberadaan tuhan dapat dilihat dalam kejhung berikut Ngala’ nangka aghundhungan É badhai soro ghibâ Allah nika ta’ akennengan Dimma bhâi ghânika bâdâ 81 Mengambil nangka satu brondong Bungkus dan bawalah Allah tidak memiliki tempat, tetapi Meliputi segala sesuatu Kèjhung 4 Ekspresi simbol verbal mengenai keberadaan tuhan dapat dilihat dari ungkapan simbolis kèjhung Allah nika ta’ akennengan (Tuhan tidak bertempat). Hal ini menyimbolkan bahwa setiap individu selalu diawasi oleh penciptanya. Bagi mereka setiap gerak-gerik yang dilakukan akan senantiasa dipantau oleh sang pencipta. Oleh karena itu, orang Madura tidak menjadikan sebuah tempat sebagai sesuatu yang khusus di dalam melakukan hal kebajikan karena bagaimanapun situasi dan kondisi tempat tersebut masih bagian dari kekuasaan-Nya. Bagi sebagian orang Madura, cara pandang bahwa tuhan tidak memiliki sebuah tempat, akan tetapi meliputi semua tempat hanya dapat ditemui pada orang ‘saleh’ yang selalu berpikir kekuasaan tuhan. Merekalah orang Madura yang tidak lagi berpikir tentang kenikmatan ‘duniawiyah’ semata, tetapi sudah berpikir tentang kenikmatan ‘ukhrowiyah’. Pengalamanpengalaman mereka di dalam menemukan sosok tuhannya kemudian diekspresikan dalam sebuah simbol-simbol verbal seperti kèjhung 3 dan 4 di depan. PENUTUP Pada dasarnya simbol merupakan sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain. Sebuah simbol dapat berdiri sebagai sebuah ekspresi dari pola keyakinan, pola pikir, pola tindakan, instansi, dan maksud tertentu. Simbol verbal oreng odhi’ ta’ kera dadhi cangghana langgi’ (orang hidup tidak akan menjadi tiang langit) sebagai sebuah 82 ekspresi bahwa semua manusia akan mati. Hal tersebut hanya dapat ditemukan apabila dalam menyikapi sebuah simbol selalu dipikirkan sebuah tanda apa yang melingkupinya, isi, substansi, sekaligus konteksnya. Dengan demikian simbol tidak dapat diinterpretasikan dalam waktu yang singkat dan hanya memiliki satu makna saja. Ekspresi simbol dari suatu keyakinan, pikiran, tindakan, dan maksud dapat berwujud (a) kata-kata yang diucapkan, (b) sebuah objek tertentu, (c) gerakan tubuh, (d) sebuah tempat, dan (e) peristiwa. Satu substansi simbol yang diekspresikan dengan simbol-simbol yang berbeda memiliki makna yang berbeda. Oleh karena itu, intensitas pengetahuan pemakna simbol sangat diperlukan untuk melihat makna simbol dari berbagai ekspresi simbol. DAFTAR PUSTAKA Anderson, Benidict. 2000. Kuasa Kata: Jelajah Budaya-Budaya Politik di Indonesia. Terjemahan Sanosa, Budi. Yogyakarta: Matabangsa. Baal, J. Van. 1986. Sejaran dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Badrih, Moh. 2016. Representasi Realitas Kehidupan Sosial dalam Sastra Lisan Kejhung. Disertasi (tidak diterbitkan). Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Busri, Hasan. 2010. Simbol Budaya Madura dalam Cerita Rakya Madura. Disertasi tidak diterbitkan Malang: Universitas Negeri Malang. Cassirer, Ernst A. 1990. Symbol, Meth, and Culture. New Heven: Yale Univ. Press. Dillistone, F.W. 1986. The Power of Simbols. Terjemahan A. Widyamartaya, London: SCM Press Ltd. Eco, Umberto. 1979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press. Mardiantono, Saleh. 2013. Tradisi Pernikahan Adat Jawa. (online), (http:// SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 komunitassastraugm.com/index.php/ tradisi-pernikahan/42-susunan-acaraupacara-pernikahan-adat-jawa), diakses 28 April 2013. Noth, Winfried. 2006. Semiotik. Surabaya: Airlangga University Press. Peursen. 1993. Susunan Ilmu Pengetahuan: Sebuah Pengantar Filasafat Ilmu. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Pierce, Charles Sanders. 1992. Logic Semeotics: The Theori of Sigs. Dalam Robert E. Innis (ed.) Semiotic, An Introductory anthology. Bloomington: Indiana University Press. Ricoeur, Paul. 1985. Hermeneutics and the Human Science. Dalam John B. Thompson (ed.) Cambridge: Cambridge University Press. Spradley, James, P. 1997. Meode Etnografi. Terjemahan Misbah, dan Elizabeth, Zulfa. Yogyakarta: Tiara Wacana. Sudaryono. 2002. “Pasemon” dalam Wacana Puisi Indonesia. Disertasi tidak diterbitkan Malang: Universitas Negeri Malang. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 83 Sastra Pesisir Kajian Struktur Bahasa dan Nilai Budaya dalam Pantun Pernikahan Masyarakat Melayu Sambas Sultan IAIN Pontianak Di Indonesia, tradisi berpantun terdapat di beberapa daerah, satu di antara daerah yang konsisten melestarikan budaya berpantun adalah daerah Sambas. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di bawah naungan administrasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Seacara geografis, Sambas berada di deretan pesisir pantura, dan dari sudut historis kabupaten Sambas menjadi sentral penyebaran dan perluasan agama Islam di Kalimantan Barat. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran menjadi lebih kreatif, karena untuk berpantun dibutuhkan kemampuan berpikir asosiatif secara spontanitas melalui permainan kata-kata sebagai media penyampai pesan. Budaya berpantun bagi masyarakat Melayu Sambas masih dilestarikan dengan baik, pelestarian berpantun dilaksankan salah satunya dalam acara pernikahan. Setiap acara pernikahan menjadi keharusan dihadirkan acara berbalas pantun antara kedua belah pihak, yakni dari pihak mempelai perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Dikarenakan pernikahan merupakan unsur sakral dalam kehidupan manusia yang bernilai budaya, maka nilai-nilai yang terkandug dalam ungkapan pantun tersebut menggambarkan nilai budaya sosial dalam kehidupan. Adapun masalah yang dibahas dalam artikel ini adalah Bagaimanakah struktur bahasa pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas sebagai sastra Pesisir? Apakah nilai budaya yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas? Bagaimana persepsi masyarakat Melayu Sambas tentang panggunaan pantun dalam upacara budaya pernikahan? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan satra. Dari pembahasan pada artikel ini dapat disimpulkan bahwa Pantun yang dibaca saat prosesi cara pernikahan itu terbagi menjadi 8 jenis, pertama, pantun pem buka, kedua pantun untuk melamar, ketiga, pantun serah terima pengantin, keempat pantun untuk mempelai laki-laki, kelima, pantun untuk mempelai perempuan, keenam, pantun untuk orangtua pengantin laki-laki, ketujuh pantun untuk orangtua pengantin perempuan, dan yang kedelapan adalah pantun untuk para tamu undangan. Adapun struktur pantun dalam pernikahan ini terdiri dari dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisiknya terdiri dari, diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, rima dan ritme. Sedangkan struktur batin terdiri dari, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat.Nilai-nilai yang terkandung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas adalah, pertama nilai persatuan dan saling menghormati, kedua, nilai budaya optimis dan disiplin, ketiga nilai sopan santun dan ketundukan, keempat nilai menjaga tutur kata. Ada beberapa perspsi masyarakat Melayu Sambas tentang penggunaan pantun dalam acara pernikahan, pertama menurunnya minat dan antusias generasi muda untuk berpantun, kedua pantun mejnadi media penghibur, tidak lagi sebagai medium untuk penyampaian pesan-pesan moral seperti zaman-zaman terdahulu. Ketiga, pantun juga berperan sebagai pelestari budaya. Kata Kunci: Sastra, struktur, nilai budaya, dan pantun 84 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 PENDAHULUAN astra merupakan khasanah suatu bangsa yang tidak ternilai harganya. Ini telah dibuktikan oleh sejarah Yunani Furba, yang kini telah diketahui kembali oleh generasi penerusnya lewat karangan homorius.1 Seperti diketahui bahwa, Indonesia memiliki khasanah sastra yang kaya dan luas dan menjadi sumber pengetahuan tentang kebudayaan Indonesia pada masa lampau. Penggalian sastra akan memaparkan peradaban tinggi yang pernah dimiliki, dan dalam konteks kekinian perlu dikaji sebagai bagian dalam national bulding atau pengkajian dan pembangunan karakter bangsa. Salah satu jenis sastra yang banyak terdapat dalam budaya masyarakat Melayu adalah pantun. Pantun merupakan puisi klasik yang sangat digemari oleh masyarakat bangsa Indonesia. Di berbagai daerah di Indonesia terbukti ada bentuk-bentuk pantun. Misalnya, sesindiran dan sesuwalan dalam bahasa Sunda, parikan dan wangsalan dalam bahasa Jawa, ende-ende dalam bahasa Batak, panton dalam bahasa Ambon, dan lelakaq dalam bahasa Sasaq. Pantun pertama kali diperkenalkan secara ilmiah oleh, H.C. Klinkert pada tahun, 1868 lewat tulisan “de Pantuns of Minezzangen der Maleiers” yang dimuat dalam surat cerita “Bijdragen tot de Tall-Landen Volken-kunde Van Ned-Indie.” Ch.Van Ophu -ysen, guru besar bahasa Melayu di Leiden, pada tahun 1904 juga pernah menyampaikan beberapa pemikirannya tentang pantun dalam “Buah Pikiran Tuan Ch. Van Ophuysen dari Hal Pantun Melayu.” Sejak saat itu muncul berbagai pandangan mengenai sampiran dan isi dalam sebuah pantun. Liaw Yock Fang (1993)2mencatat asal mula istilah pantun pernah menjadi perdebatan para pengamat sastra. Pantun merupakan senandung rakyat yang hingga kini S SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 dinyanyikan dan dilestarikan sebagai tradisi lisan masyarakat melayu, khususnya masyarakat Melayu Sambas di Kalimantan Barat. Pantun dianggap berasal dari bahasa jawa halus yakni pari atau paribahasa yaitu pribahasa dalam bahasa melayu. Dalam sastra lisan jawa dikenal parikan yaitu berpantun namun bentuknya lebih singkat. R. Brandstetter seorang ahli perbandingan bahasa dari Swiss, menyatakan bahwa pantun berasal dari kata tun yang terdapat dalam banyak bahasa Nusantara yang berarti ‘tuntun’ “teratur”; dalam bahasa jawa kuno tuntun berarti benang dan atuntun berarti teratur serta matuntun berarti memimpin. Ternyata, pantun tidak hanya terdapat di Nusantara (Indonesia), dengan mengutip Giacomo Prampolini, Liaw Yock Fang 3 mencatat bahwa puisi rakyat yang menyerupai pantun juga terdapat di Cina, Jepang, Iran, Arab, Spanyol, Jerman, dan negara-negara lain. Di Indonesia, tradisi berpantun terdapat di beberapa daerah, satu di antara daerah yang konsisten melestarikan budaya berpantun adalah daerah Sambas. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang berada di bawah naungan administrasi wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Seacara geografis, Sambas berada di deretan pesisir pantura, dan dari sudut historis Kabupaten Sambas menjadi sentral penyebaran dan perluasan agama Islam di Kalimantan Barat. Pantun berfungsi sebagai alat pemelihara bahasa dan sebagai media mengasah pikiran menjadi lebih kreatif, karena untuk berpantun dibutuhkan kemampuan berpikir asosiatif secara spontanitas melalui permainan kata-kata sebagai media penyampai pesan. Budaya berpantun bagi masyarakat Melayu Sambas masih dilestarikan dengan baik, pelestarian ber- 85 pantun dilaksankan salah satunya dalam acara pernikahan. Setiap acara pernikahan menjadi keharusan dihadirkan acara berbalas pantun antara kedua belah pihak, yakni dari pihak mempelai perempuan dan pihak mempelai laki-laki. Dikarenakan pernikahan merupakan unsur sakral dalam kehidupan manusia yang bernilai budaya, maka nilai-nilai yang terkandug dalam ungkapan pantun tersebut menggambarkan nilai budaya sosial dalam kehidupan. Hal itu terwujud seperti pada pantun penyerahan baran (antar pinang) berikut ini. dan unsur sosial budaya dan agama yang terkandung di dalamnya. Dengan penelitian ini, hasilnya diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi bagi masyarakat, khususnya masyarakat Melayu Sambas, bahwa pantun tersebut mengandung nilai sastra yang tinggi dan aspek sosial budaya masyarakat yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam bermasyarakat dan bernegara. Penelitian ini juga memberikan sumbangan terhadap studi tentang suatu bangsa yang melahirkan budaya sastra lisan, sebab sastra lisan berupa pantun merupakan budaya yang mengandung pikiran, perasaan, dan pengetahuan dari bangsa atau kelompok sosial budaya pendukungnya. 5 Bukan batang sembarang batang Batang tengkawang tumbuh di bukit Bukan datang sembarang datang RUMUSAN MASALAH Datang membawa barang serba sedikit Berdasarkan uraian pada bagian latar belakang, rumusan masalah yang akan dibaDaun pandan satu ikat has dalam penelitian ini adalah: Daun selasih dalam gelas 1. Bagaimanakah struktur bahasa pantun Tiada berlian tiada intan pernikahan masyarakat Melayu Sam4 Hanya tanda kasih yang ikhlas bas sebagai sastra Pesisir? (01) 2. Apakah nilai budaya yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Dari pantun di atas, beberapa istilah Melayu Sambas? penyimbolan yang digunakan menggambar- 3. Bagaimana persepsi masyarakat Melakan unsur lokalitas, seperti batang tengkayu Sambas tentang panggunaan panwang, daun selasih. Penyimbolan ini menuntun dalam upacara budaya pernijukkan korelasi simbol lokalitas. Adapun kahan? secara pesan moral menggambarkan pesan kesederhanaan dengan ungkapan datang LANDASAN TEORI membawa barang serba sedikit. Kemudian Sastra lisan mempunyai posisi penting di pada sampiran berikutnya diakhiri dengan berbagai suku dan daerah di Indonesia. hanya tanda kasih sayang, artinya berang Posisi penting tersebut selaras dengan pernhantaran tidak hanya dilihat dari jumlah dan yataan Horace bahwa sastra itu menyenangkualitas barang hantaranya tetapi semua kan dan berguna bagi penyadaran dalam barang hanya sebagai simbol kasih sayang kehidupan. antara kedua belah pihak. Penelitian pantun dalam acara pernikaPengertian Pantun han masyarakat Melayu Sambas berorienPantun merupakan bentuk puisi Indotasi untuk mengungkap struktur bahasa nesia (Melyau), yang tiap-tiap (kuplet) bi- 86 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 asanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap-tiap lariknya terdiri atas empat kata, baris pertama dan keduanya untuk tumpuan (sampiran) dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.6 Menurut Simanjuntak 7 bahwa pantun merupakan kepandaian bersama yang tidak dapat diketahui pengarangnya. Pantun dapat dipergunakan untuk mencurahkan perasaan senang dan duka, memberi nasihat, pelajaran agama, dan berbagai tekateki. Adapun Sudjiman memaparkan bahwa, pantun merupakan jenis puisi lamayang terdiri dari 4 baris bersajak abab. Tiap-tiap baris terdiri atas empat kata. Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris kedua disebut isi. Kadang-kadang pantun juga terdiri atas enam atau delapam baris. berapa pengertian yang dikemukakan Cuddon 9 bahwa struktur merupakan hubungan antara bagian (unsur) yang satu dengan bagian yang lain yang membentuk satu-kesatuan. Tentu saja hubungan beberapa bagian tersebut dipahami dalam kaitannya dengan fungsi estetis. Selanjut10 nya Teeuw mengemukakan bahwa struktural adalah teori yang meneliti karya sastra dalam otonominya, terlepas dari latar belakang sosial, sejarah, biografi, dan sebagainnya. Unsur-unsur yang akan diteliti dalam struktural pantun pernikaha masyarakat Melayu Sambas, adalah tipologi, pilihan kata, makna, dan gaya bahasa. Tipologi. Tipologi adalah cara untuk meneliti karya sastra (pantun) secara visual yang menyangkut jumlah kata dalam satu baris, berupa frasa atau kalimat. Pilihan Kata. Pilihan kata merupakan penempatan kata yang cocok dalam satu karya sastra. Misalnya nama satu benda mempunyai banyak sebutan (bersinonim), maka hanya dengan kemampuan memilih katalah suatu karya sastra akan lebih menarik. Makna Kata. Makna kata adalah arti yang terkandung dalam pantun secara totalitas yang menyangkut makna konotatif dan denotatif. Gaya Bahasa. Gaya bahasa merupakan pemanfaatan atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis.11 Ragam Pantun Dalam kenyataannya pantun sangat beragam. Pantun dapat digolongkan berdasarkan bentuk dan isinya. Menurut JS.Badudu8 berdasarkan bentuknya, pantun dapat digolongkan menjadi pantun biasa, pantun karmina, pantun talibun, dan pantun seloka. Untuk lebih terperinci berikut pemaparannya. Pantun biasa terdiri dari 4 baris, tiaptiap baris terdiri atas delapan sampai sepuluh suku kata. Baris pertama dan kedua pada pantun biasa disebut sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat merupakan isi atau makna pantun. Pada umumnya sampiran beiri tentang sesuatu Hubungan Timbal Balik Bahasa, Pola (biasanya gambaran alam) yang menjadi Pikir, dan Budaya kiasan. Sampiran memiliki hubungan saran Lahirnya poststrukturalisme dan postbunyi persajakan pada makna pantun. moderenisme dalam efistimologi filsafat telah membawa pengaruh terhadap para Konsepsi Struktural pemikir dari beberapa latar belakang Dalam karya sastra, terdapat bermacam disiplin keilmuan untuk mengkaji hubun-macam pengertian istilah struktural. Be- gan antara bahasa, budaya, dan pola pikir. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 87 Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara suara, kata, dan kalimat suatu bahasa dengan bagaimana orang memahami dunia sekitarnya serta bertindak. Melalui bahasa, manusia tidak hanya mengekspresikan pikirannya, namun juga mengonseptualisasikan dan menginterpretasikan dunia yang mengikutinya. Bahkan, bahasa sebagai sistem tanda mengungkapkan, membentuk dan menyimbolkan realitas budaya. 12 13 Menurut Nababan bahasa merupakan bagian inti dari suatu kebudayaan, karena tanpa bahasa kebudayaan masyarakat tidak akan terwujud apalagi berkembanag. Ketika berbahasa, penutur bahasa tidak mungkin melepaskan unsur-unsur kebudayaan masyarakat pemilik bahasa tersebut. Alasannya, peristiwa berbahasa sebenarnya sekaligus juga merupakan peristiwa budaya. Dari paparan tersebut disimpulkan bahwa, ada hubungan positif yang saling mempengaruhi dan saling membentuk antara bahasa dan budaya. Hubungan bahasa dan budaya semakin terlihat jelas pada perbedaan pola tutur dalam setiap budaya yang berbeda. 14 Jika Ferdinan De Saussure memandang bahasa sebagai sistem, ada pemikiranpemikiran lain yang lebih memperhatikan perbedaan bahasa dan filsafat antara budaya yang satu dengan yang lain, serta memperhatikan dampak bahasa terhadap persepsi yang menyangkut realita. Edwar Sapir (1884-1939) dan Benjamin Lee Whorf (1897-1941) para antropolog ini mengemukakan teorinya yang kemudian jamak disebut teori Sapir-Whorf tentang hubungan bahasa dan pikiran. Hipotesis ini dibedakan menjadi dua bagian: pertama teori relativitas linguistik, kedua teori determinisme linguistik. 88 Teori Relativitas Linguistik 15 Thomas dan Waereing menyatakan bahwa tiap-tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-beda, dan perbedaan-perbedaan itu akan terkodekan dalam bahasa. Perbedaan persepsi akan tampak dalam bahasa karena para penutur bahasa harus menjelaskan cara mereka memandang dunia sehingga perbedaan pandangan itu akan tercermin dalam bahasanya. Istilah relativitas menunjuk pada ide bahwa tidak ada cara yang mutlak untuk memberikan label pada isi dari dunia ini sesuai dengan persepsi masyarakat masing -masing dan persepsi bersifat relatif, dalam artian yang lebih luas terdapat perbedaan antara budaya satu dengan budaya yang laian. Teori Determinisme Linguistik Teori ini menjelaskan bahwa bukan hanya persepsi terhadap dunia yang mempengaruhi bahasa, tetapi bahasa yang digunakan juga dapat memengaruhi cara berpikir secara mendalam. Bahasa bisa dikatakan sebagai kerangka (frame) dari pemikiran. Dan menurut teori determinisme linguistik, orang akan sulit berpikir di luar kerangka itu. Edward Sapir, setelah sistem bahasa terbentuk maka bahasa akan memengaruhi cara dari anggota masyarakat bahasa itu untuk membicarakan dan menafsirkan dunia mereka. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa, budaya dan perilaku semuanya berkembang secara bersama dan dalam perjalananya saling memengaruhi satu sama lain secara terus menerus. 16 Seperti ungkapan Sapir menyatakan bahwa setelah kebiasaan-kebiasaan berbahasa dari kelompok terbentuk secara pasti, maka para penutur bahasa itu akan tunduk pada pengaruh bahasa itu. Dengan memper- SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 hatikan hipotesis Sapir-Worf tersebut, maka Yang memberikan kesempatan kepada tampak ada dua versi dari hipotesis tersesaye but., yakni versi radikal dan versi moderat. Orang sekuduk kematang suri Versi radikal menegaskan bahawa bahasa Bapak semuenye duduk saye sorang bediri secara mutlak membentuk pola pikir penu(data 1) turnya dan pandangan budaya masyarakat penutur bahasa tersebut. Adapun versi moderat menyatakan bahwa bahasa me- 2. Pantun untuk melamar Dalam budaya pernikahan, melamar memengaruhi pola pikir penuturnya dan juga rupakan langkah pertama yang dilakukan pandangan budaya mereka. oleh kedua belah pihak bertujuan untuk memohon persetujuan dari calon mempelai HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang telah dukumpul- laki-laki kepada calon mempelai perempuan kan oleh peneliti, berikut peneliti menganal- untuk mempersunting anak atau anggota isis dan menguraikan sesuai dengan fokus keluarga menjadi bagian keluarga mempelai laki-laki yang akan terikat dalam sebuah masalah penelitian. pernikahan. Proses melamar ini dilakukan Struktur bahasa dan gambaran pengdengan berbagai rangkain budaya.salah satu gunaan pantun dalam pernikahan mabudayany adala berpantun. Pantun digusyarakat sambas. nakan sebagai medium untuk melamar, Pantun merupakan salah satu karya saskarena bahasa pantun adalah bahasa intra yang sudah lestari dari sejak zaman Indirektif (bahasa tidak langsung) hal ini donesia belum merdeka atau Indonesia mabertujuan untuk menjaga perasaan dari sih bernama nusantara, terutama di kalanmasing-masing pihak. Berikut pantun yang gan masyarakat Melayu. Masyarakat Melayu digunakan saat melamar. dalam budayanya selalu diidentikkan dengan masyarakat yang suka berpantun. Salah Buah Saoh di atas batang satu budaya yang tidak luput dari pantun Batang patah ditimpa damar adalah berpantun saat acara pernikahan. Dari Jaoh kamek datang Sudah mejadi tradisi yang terus dilestarikan, Kamek datang untuk melamar bahwa jika ada acara pernikahan, peng(P1) 17 gunaan pantun seolah-olah harus diselengDari paoh paggi ke matang garakan. Adapaun jenis-jenis pantun yang Dari selumar pgagi kekampong gelamak sering digunakan adalah sebagai berikut. Dari jaoh bapak datang 1. Pantun yang dikhusukan buat pembawa Lamaran bapak kamek terimak acara. (P2) 18 Pantun ini dioeruntukkan kepada pemBerlabuh saoh di waktu petang bawa acara bahwa ia telah memberikan Berenang laju kekote pemangkat waktu kepada penyair atau pembaca pantun Dari jaoh kamek datang untuk mengungkapkan pantunya saat acara Karene setuju dah mupakat pernikaahn berlangsung. Pantunnya sebagai (P1) berikut. Buah semangke diikat-ikat Batang selasih batang pedare Buahlah pinang dari kote lamak Beraran rotan beraran prie Rase suke mun dapat orng putat (bisa di Terima kasih kepada pembawa acare ganti) SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 89 Sape yang nak minang tatap diterimak (P2) (data 2) 3. Pantun saat serah terima pengantin Selesainya prosesi lamaran, dilanjutkan dengan acara serah terima pengantin dari kedua belah pihak. Hal ini juga tidak luput dari penyampaian pantun dari kedua belah pihak mempelai. Adapun pantunnya sebagai berikut. Bukanlah bakol sembarang bakol Bakol berisek asam jawe sijambu merah Kite gumpol bukan sembarang ngumpol Kite ngumpol untuk acara besarah (P1) Bunga selasih di dalam baki Batang keladi tersusun diatas jerami Terima kasih kepada pihak laki-laki Yang sudi datang ke dusun kami (P2) Bunga selasih di atas papan Batang keladi tersusun di atas jerami Terima kasih kepada pihak perempuan Yang sudi datang ke dusun kami (P1) (P2) Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang tapi telage Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak keluarge (P1) Buah semangke di atas biduk Di kelakak urang di tanamek abek Rase suke mendapat urang sekuduk Lakak sorang rase nak sorang agek (P2) (data 3) 4. Pantun untuk pengantin laki-laki Setalah acara serah terima dilakukan, dilanjutkan dengan penyapaan kepada kedua mempelai, penyapaan itu dimulai kepada pengantin laki-laki. Penyair atau pembawa pantun menyampaikan pesan kasih sayang yang harus dilakukan oleh penganten lekai-laki kepada istrinya. Adapun pantunya sebagai berikut. Main layang-layang sambel belari Bannangnye kandor karena kusut Sayang-sayang dangan istri Dari yang melador sampai ke ngerisut (data 4) 5. Pantun untuk pengantin perempuan Setalah acara serah terima dilakukan, dianjutkan dengan penyapaan kepada kedua mempelai, penyapaan itu dimulai juga kepada pengantin perempuan. Penyair atau pembawa pantun menyampaikan pesan kasih sayang yang harus dilakukan oleh penganten perempuan kepada suaminya. Adapun pantunya sebagai berikut. Bunga selasih di atas batang Buah keladi di atas jerami Terima kasih kepada tamu yang sudah datang Yang sudi menghadiri undangan kami (P2) Cak uncang burung cak uncang Ape diguncang dirumah nek uan Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak Kerumah pak Agus membeli bensen perempuan Kerumah tamtimah membeli gattah (P1) Bagus-bagus kitak bemesen Cak Uncang burong cak uncang Supaye laki battah tinggal dirumah Ape diguncang di dakat baki (data 5) Izinkanlah saye bincang bebincang Saye bebincang-bincang mewakilek mem- 6. Pantun untuk orangtua mempelai lakipelai laki-laki laki 90 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Penyair atau pembawa pantun juga mem -berikan sapaan kepada kedua orang tua pengantin. Pantun pertama diperuntukkan kepada orangtua mempelai pengantin lakilaki. Adapun pantunnya adalah sebagai berikut. Naik-naik ke atas batu Meliat ular dua tige ekok Baik-baik dangan anak menantu Supaye malar dibalikannye rokok (data 6) 7. Pantun untuk orangtua mempelai perempuan Penyair atau pembawa pantun juga memberikan sapaan kepada kedua orang tua pengantin. Pantun kedua diperuntukkan kepada orangtua mempelai pengantin perempuan. Adapun pantunnya adalah sebagai berikut. Orang semayang ketanjung batu Nanamlah bayam di pagi hari Sayang sayang dangan anak menantu Supaye dibalikannye ayam tiap ari (data 7) 8. Pantun untuk tamu undangan Setiap acara pernikahan tidak luput dari hadirnya kerabat untuk menyaksikan sekaligus memberikan ucapan selamat atas kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua mempelai. Sebagai rasa hormat kepada tamu undangan, maka penyair tidak luput untuk menyampaikan pesan komunikasi melalui pantun. Adapun pantun untuk tamu adalah sebagai berikut. Dari lubuk rawe ke rantau panjang Dari semparong pagi ke sekilah Saye bicare daan panjang Mun pelayan nak besurong-besuronglah Dari sekuduk ke kote lamak Oranglah garut membawa apar Kamek dudok rase dah lamak Parut pun udah terase lapar SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Ikan sapat si ikan gabus Biar capat lebih bagus Dari sebedang ke parit setie Membawa atap ke sungai pinang Hidangan yang sudah ade tersedie Minta di santap sampai kanyang Urang sepauk pagi kepasar membeli colak Pergi ke bukit mencari jimat Kalau lauknye rase besar di pulak-pulak Kalau rase kaccik di cimat-cimat Urang persi berpindah-pindahan Urang menangguk disungai riam Mun kurang nasi padah-padahkan Mun kurang lauk diam-diam. Burung gagak burung keluang Dia terbang di pohon jati Mun belom ragak belom juak kanyang Usah lah dolok nak beranti (data 8) Struktur Pantun Pantun adalah karya sastra yang dibangun oleh dua struktur, struktur pertama adalah struktur fisik, dan struktur batin. Struktur fisik pantun merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan penyair. Mediuam pengucapan yang hendak disampaikan oleh penyair adalah bahasa. Struktur fisik pantun terdiri dari, diksi, imaji, kata konkret, bahasa figuratif, dan rima ritma. Struktur batin marupakan ungkapan perasaan dan suasana hati seorang pembawa pantun yang disampaikan melalui pantun-pantunya. Adapun struktur batin dari sebuah pantun yaitu, tema, perasaan, nada dan suasana, dan amanat. Adapun struktur fisik pantun dalam acara pernikahan masyarakat Melayau Sambas adalah sebagai berikut. 1) Diksi Diksi merupakan aspek bahasa yang mengatur ketapatan dan kesesuaian penggunaan kata. Pantun-pantun yang disam91 paikan saat acara pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas disampaikan menggunakan dua aspek kata, yaitu aspek kepuitisan dan aspek makna. Aspek kepuitisan artinya pantun-pantun yang digunakan terdiri dari dua bagian, yaitu sampiran dan isi pantun. Hal ini seperti yang terdapat pada pantun berikut ini. Bukanlah bakol sembarang bakol Bakol berisek asam jawe sijambu merah Kite gumpol bukan sembarang ngumpol Kite ngumpol untuk acara besarah (P1) Bunga selasih di dalam baki Batang keladi tersusun diatas jerami Terima kasih kepada pihak laki-laki Yang sudi datang ke dusun kami (P2) Bunga selasih di atas papan Batang keladi tersusun di atas jerami Terima kasih kepada pihak perempuan Yang sudi datang ke dusun kami (P1) Izinkanlah saya bincang berbincang Saya bincang berbincang mewakili pihak keluarge (P1) Buah semangke di atas biduk Di kelakak urang di tanamek abek Rase suke mendapat urang sekuduk Lakak sorang rase nak sorang agek (P2) (pantun serah terima pengantin) Rangkaian pantun di atas menunjukkan kemahiran yang dimiliki oleh pendendang dalam pemilihan kata-kata yang digunakan dalam pentun. Pemilihat dan susunan kata ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata-kata dalam pantun di atas tidak dapat dipertukarkan tempatnya atau kata-kata tersebut diganti dengan kata-kata yang memiliki makna yang sama. Jika kata-kata itu diganri susunannya, maka ia akan menimbulkan kerancuan bunyi. 2) Imaji Imaji merupakan bagian dari diksi, tetapi Bunga selasih di atas batang imaji bersifat khusus, karena ada segi-segi Buah keladi di atas jerami yang perlu disentuh, khususnya mengenai Terima kasih kepada tamu yang sudah imajinasi seorang penyair terhadap objek datang maupun abstraksi. Penyair dalam melanYang sudi menghadiri undangan kami tunkan pantun-pantunnya membuat pen(P2) dengar seolah-olah ikut merasakan (imaji Cak uncang burung cak uncang taktil), melihat dan mendengarkan kejadianApe diguncang dirumah nek uan kejadia yang dilukiskan. Hal ini dapat dilihat Izinkanlah saya bincang berbincang pada pantun berikut ini. Saya bincang berbincang mewakili pihak Dari lubuk rawe ke rantau panjang perempuan Dari semparong pagi ke sekilah (P1) Saye bicare daan panjang Cak Uncang burong cak uncang Mun pelayan nak besurong-besuronglah Ape diguncang di dakat baki Dari sekuduk ke kote lamak Izinkanlah saye bincang bebincang Oranglah garut membawa apar Saye bebincang-bincang mewakilek Kamek dudok rase dah lamak mempelai laki-laki Parut pun udah terase lapar (P2) Ikan sapat si ikan gabus Cak uncang burung cak uncang Biar capat lebih bagus Ape diguncang tapi telage 92 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Dari sebedang ke parit setie Membawa atap ke sungai pinang Hidangan yang sudah ade tersedie Minta di santap sampai kanyang (pantun untuk tamu undangan) 4) Bahasa Figuratif Bahasa figuratif merupakan bahasa yang digunakan pedendang atau penyair untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Kata atau bahasanya bermakna kias atau bermakna lambang. Pantunpantun yang dipakai saat acara pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas menggunakan bahasa figuratif berupa bahasa kias, melambangkan sesuatu, dan menggambarkan sesuatu secara berlebihan, seperti pada pantun berikut ini. Imaji yang dilukiskan pada pantun di atas adalah imaji visual dan imaji rasa. Imaji visual dapat dilihat pada redaksi pantun Dari lubuk rawe ke rantau panjang Dari semparong pagi ke sekilah penggalan sampiran pantun ini seolah-olah membawa pendengar atau lawan bicara untuk dapat mengimajinasikan nama tempat (Lubuk Rawa menuju ke Rantau Panjang) ini adalah Mamah berkayuh memakai sampan nama daerah. Berangkat menuju semelagi Adapun imaji rasa tergambar pada Sama gagah samalah tampan sampiran pantun Dari sebedang ke parit Ibarat raja dengan permaisuri setie/Membawa atap ke sungai pinang/ Hidangan yang sudah ade tersedie/Minta di Raja Sambas memakai pedang santap sampai kanyang. (dari sebedang ke Raja Aceh memakai rencong parit Setie membawa atap ke sungai Pinang, Sungguh bertuah ananda sekarang hidangan sudah siap sedia silahkan disantap Mendapat istri hdungnya mancung samapai kenyang). Penggalan pantun ini mengajak para tamu untuk merasakan dan Pantun di atas menggunakan bahasa menikmati makanan yang telah dihi- Figuratif yang menggambarkan sesuatu dangkan. secara berlebihan, yaitu pada baris keempat pada bagian isi yang berbunyi ibarat raja 3) Penggunaan kata konkret dengan permaisuri, dan juga pada bait Kata konkret merupakan kata yang khu- pertama dan kedua pada bagian sampiran, susnya ditempatkan dalam pantun untuk Raja Sambas memakai pedang, Raja Aceh menjelaskan imaji dengan mudah. Melalui memakai rencong, penyair mengibaratkan kata konkret pembaca ataua pendengar pengantin itu ibarat raja, karena saat acara dapat merasakan atau membayangkan berlangsung, pasangn kedua mempelai disegala sesuatu yang dialami oleh penyair. perlakukan bak raja dan ratu sehari. Semua Kata konkret pada pantun merupakan kata- ini adalah perwujudan ekspresi atas kata yang membangkitkan imaji dan kebahagian pasangan dan keluarga besar menimbulkan pengertian yang menyeluruh dari kedua mempelai. dalam sebait pantun, baik sampiran atau isi. Dengan kata-kata yang konkret, pendengar 5) Rima dan ritme dapat membayangkan secara jelas perisRima merupakan pengulangan bunyi tiwa atau keadaan yang dilukiskan oleh pe- pada pantun, sedangkan ritme atau irama nutur. Kata konkret dalam pantun per- adalah turun naiknya suara secara teratur. nikahan ini seperti kata ikan, parit dan kata- Pantun yang digunakan saat acara pernikata lain yang memiliki refren yang didapat kahan di masyarakat Melayu Sambas dibuktikan dengan panca indera. Lawan dari umumnya mempunyai ab-ab atau persajakata konkret adalah kata abstrak. kan silang yang terdapat diakhir kata pada SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 93 setiap baris. Rima atau pengulangan bunyi yang terdapat dalam pantun pernikahan terdiri dari, n, a, i, g. Pantun-pantun yang dipergunakan saat acara pernikahan umumnya berjumlah 4 baris seuntai. Berikut contoh pantun dengan rima tersebut. Burung jelatik terbang sekawan Hinggap seekor di pohon nangka Sama cantik samalah padan Seperti pinang dibelah dua Mama berkayuh memakai sampan Berangkat menuju semelangi Sama gagah samalah tampan Ibarat raja dengan permaisuri Bagian di atas memaparkan struktur fisik pantun yang digunakan saat acara pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas. Adapun struktur batin yang terdapat dalam pantun pernikahan masyarakat Melayu Sambas yaitu, tema, nada dan suasana, perasaan dan amanat. Untuk lebih fokus dan jelas berikut peneliti memaparkan satu demi satu. 1) Tema. Tema merupakan gagasan pokok yang disampaikan oleh penyair melalui pantunnya. Tema pantun pertama adalah permohonan izin dan ucapan teriakasih dari penyair kepada pembawa acara dan audiens yang hadir saat acara berlangsung, baik dari mempelai perempuan dan mempelai laki-laki. Kemudian tema pantun yang selanjutnya adalah menyangkut tentang kasih sayang antara suami dan istri. Terdapat juga tema joke (candaan) hal ini bertujuan untuk mencairkan suasana yang sedang berlangsung. 2) Perasaan. Perasaan adalah suasana perasaan penyair (pedendang) yang ikut diekspresikan dalam karyanyan. Perasaan yang diungkapkan oleh penyair dalam pantunnya adalah tentang perasaan senang dan gembira, perasaan kebanggaan dan ungkapan sukur. 94 3) Nada dan suasana. Nada diartikan sebagai sikap penyair (pedendang) yang ditujukan kepada audiens atau penonton, sedangkan suasana dapat diartikan sebagai pengaruh psikologi bagi penonton setelah mendengarkan pantun tersebut. Nada yang disampaikan penyair melalui pantun adalah memberitahukan, mempersilahkan, menasehati dan menyanjung. 4) Amanat. Amanat adalah sesuatu maksud yang terkandung dalam sebuah pantun. Tujuan atau amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan pantun. Adapun pesan-pesan yang disampaikan adalah ucapak syukur, etika moran dan keharmonisan. Hal ini seperti yang terdapat dalam bait pantun berikut. Pergi Piknik ke tanjung batu Sambil melihat gang kalangbahu Berbaik-baiklah kepada menantu Tahun depan menimang cucu Memang suke makan kurme Rasanya enak dari buah nage Berbaik-baiklah kepada bapak mertue Mudah-mudahan nanti dapat pembagian pusake Pantun di atas mengungkapkan tentang pentingnya untuk saling memperlakukan dengan baik antara kedua belah pihak, yakni pengantin atau menantu kepada mertuanya, dan begitu juga mertua kepada menantunya. Hal ini menjadi energi yang sangat postif dalam membangun rumah tangga yang bahagia, sakinah mawadah. Apabila ini terjadi maka kedamian di tengah leingkungan keluarga dan rumah tangga akan terwujud, masing-masing dapat berperan bahagia sesuai dengan paosisinya masing-masing. a. Gambaran penggunaan pantun 1. Nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas. SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Masyarakat Indonesia tidak dapat dipisahkan dari lingkungan yang menjunjung nilai budaya dalam kehidupannya. Hal ini terjadi di semua suku, begitu juga dengan suku Melayu khususnya Melayu Sambas di kalimantan Barat. Menyangkut masyarakat melayu, sangat relevan apa yang dikatakan Abror19bahwa “masyarakat Melayu sejak zaman dahulu dilingkungi dengan adat.” Salah satu budaya yang lestari di kalangan masyarakt Melayu Sambas hingga sekarang adalah budaya adat pernikahan. Budaya adat pernikahan masyarakat Melayu Sambas memiliki serangkain acara di antaranya, lamaran, tukar cincin, akad nikah, seserahan, mulang-mulangkan, balas baki, belarak, resepsi, mandi belulus, dan pengantin bejalan. Pada saat melaksanakan serangkaian acara pernikahan tersebut, biasanya setipa subacara dapat dipastikan akan terdapat pantun yang digunakan sebagai variasi atau genre komunikasi saat prosesi berlangsung. Adapun pantun-pantun yang digunakan memiliki nilai budaya. Adapun nilai-nilai budaya yang terkadung dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu sambas adalah sebagi berikut. 2. Budaya persatuan dan saling menghormati Dalam bermasyarakat, budaya saling menghormati menjadi pengikat dan memperkokoh persatuan antar satu dengan yang lain. Dalam tradisi masyarakat melayu kekuatan struktur kekerabatan dan keakraban menjadi identitas budayanya. Simbol saling menghormati ini terdapat dalam pantun berikut. Batang selasih batang sedare Beraran rotan berara prie Terima kasih kepada pembawa acare Yang memberikan kesempatan kepada saye SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Kata batang merupakan bagian pohon atau tumbuhan yang menjadi penyangga dan penyatu semua unsur dalam tumbuhan. Hal ini melambangkan bahwa melalui pernikahan adalah budaya pemersatu dari dua insan yang berbeda, berbeda latar belakang dan keluarga yang berbeda. Melalui pernikahan akan menjadi satu keluarga yang memiliki keterikatan secara kekeluargaan dan emosional. Kemudian penggunaan simbol menggunakan bunga Selasih merupakan acuan, bahwa bunga selasih termasuk kategori tumbuhan yang memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Bunga selasih sejenis dengan pohon kemangi dan termasuk satu spesies. Penggunaan istilah batang selasih dalam pantun pernikahan ini diulang beberapa kali seperti yang terdapat pada sampiran pantun berikut. Bunga selasih di dalam baki Batang keladi tersusun di atas jerami Terimakasih kepada pihak laki-laki Yang sudi datang ke dusun kami Selain penggunan kata bunga selasih, dalam pantun pernikahan ini, juga selalu menggunakan nama nama tumbuhan seperti, Batang selasih, bungan selasih batang pedare, batang keladi, rotan jerami. Semua ini mengacu kepada tumbuhan. Batang atau pohon merupakan sesuatu yang hidup dan menghidupkan (memberi rasa hidup). Pohon juga mampu memberikan rasa teduh dan damai sejuk serta mampu menjadi pengayom bagi mahluk yang lain. Demikian halnya dengan sebuah pernikahan, manjadi awal dimulainya rumah tangga. Rumah tangga diibaratkan pohon menjadi payung dan menjadi tempat bernaung dalam kehidupan. Dan rumah tangga juga harus dapat menciptakan kedamaian bagi suami istri, anak dan keluarga serta kerabat di lingkungan sekitar, maka jadi- 95 kanlah rumah tangga itu laksana batang pohon yang menjadi penyejuk dan tempat bernaung. Dalam pantun pernikahan ini juga terdapat nilai budaya saling menghormati. Penghormatan ini disampaikan oleh pedendang melalui ungkapan terimakasih, baik untuk pembawa acara maupun semua yang hadir (audiens). Budaya terimakasih di lingkungan masyarakat Melayu khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya sduah mentradisi. 3. Budaya optimis dan kedisiplinan Dalam pantun pernikahan di kalangan masyarakat Melayu Sambas, terdapat beberapa simbol yang digunakan, sementara simbo itu memiliki makna, seperti makna budaya optimis dan kedisiplinan. Budaya optimis dan kedisiplinan terdapat pada penggalan pantun berikut. ing memiliki nilai optimis, harus disandingkan dengan penguatan prinsip, sehingga tidak mudah terobamg-ambing dalam lautan kahidupan yang tidak bertepi. Adapun nilai kedisiplinan yang terdapat dalam pantun di atas adalah terdapat pada penggalan isi, yakni, sebelum barang antaran ini kame terima, terlebih dahulu daftar barang kami periksia. Hal ini menggamabrkan bahwa kedisiplian dan ketaraturan dalam menjalani kehidupan rumah tangga manjdi sesuatu yang penting. Sebagi ilustrasi, bahwa barang antaran seyogyanya tidak butuh untuk dihitung atau diperiksa kembali, karena yang memberikan atau yang membawa adalah oarang sudah dikenal dan dipercaya, tetapi kejelasan dan kedisiplinan menjadi acuan bersama dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Oleh sebab itu, optimis dan disiplin menjadi pegagangan hidup dalam rumah tangga. Memancing ikan dapat gelamak 4. Nilai sopan santun dan Taruh seekor di atas batu ketundukan Sebelum barang antaran ini kami terima Nilai merupakan suatu tatanan yang Terlebih dahulu daftar barang yang ade dijadikan panduan oleh individu untuk kame periksa menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Dalam Dari pantun di atas, peneliti fokus pada budaya pernikahan di kalangan masyarakat penggunaan kata ikan. Ikan merupakan Melayu Sambas, penyampain nilai sopan mahluk yang hidu di air. Hewan ini selalu santu diutarkan memlaui pedendang berenang ke arah depan apa pun kondisi (penyair) pantun. Adapun pantun yang yang dialaminya dan tidak pernah berenang mengandung nilai kesopanan dan ketunmundur meskipun ada hal yang membuat dukan yakni sebagai berikut. dia untuk mundur. Seperti itulah yang harus dicontoh dalam meraih kesuksesan dan keNaik-naik ke atas batu berhasilan dalam rumah tangga dalam Meliat ular dua tiga ekok balutan ikatan perkawinan. Apapun halanBaik-baik dengan anak menantu gan ataupun rintangan yang selau datang Supaya malar dibelikannye rokok ketika menjalankan kapal rumah tangga maka harus optimis, seperti ikan yang Ungkapan “baik-baik dengan anak berenang ke arah depan. Hadapi dan jangan menantu” ini menjadi acuan untuk mundur untuk mencapainya. Dan kita harus mengedepankan aspek sopan santun, baik belajar dari ikan laut, meskipun air yang antara mertua dan menantu, atau pun denmenjadi tempat tinggalnya terasa asin, na- gan semua lapisan keluarga. Kekuatan nilai mun tubuhnya tidak ikut asin. Artinya, seba- budaya sopan santun merupakan roh objekgai pasangan dalam rumah tangga di samp- tif. Sementara kekuatan individu adalah roh 96 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 subjektif. Kekuatan individu atau roh subjektif didudukan dalam posisi primer karena nilai-nilai kebudayaan hanya akan berkembang dan bertahan apabila didukung dan dihayati oleh individu. Sementara nilai ketundukan dalam pantun oernikahan ini terdapat pada penggalan pantun di bawah ini. Wabillahitaufik walhidayah Assalamualikum warahmatullah wabarakatuh Pantun di atas mengandung nilai budaya yang ditandai dengan bait ketiga dan keempat Kalo ada kata-kata kami yang salah dan dilanjutkan dengan Jangan disampaikan ke orang lain. Dalam bait tersbut makna terMain layang-layang sambil berlari sirat bahwa dalam masyarakat Melayu SamBenangnya kendor karena ksusut bas memiliki satu keyakinan untuk selalu Sayang-sayang dengan istri menjaga tutur kata. Jika terlanjur mengudari melador sampai ngerisut capkan kata-kata yang menyinggung perasaan orang lain, maka dapat segera ke rumah pak ague membeli bensin meminta maaf. Pihak yang tersinggung juga ke rumah tamtimah membeli gattah diharapkan tidak menjadi dendam, karena bagus-bagus bemesen memaafkan lebih baik dari pada dendam. supaya laki betah di rumah Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga jalinan silaturrahmi dalam menjalankan kePantun yang mengajarkan budaya ketun- hidupan sosial dan bermasyarakat. dukan terdapat pada bagian isi masingmasing pantun, seperti sayang-sayang den6. Persepsi masyarakat Melayu gan isitri, kemudian bagus-bagus bemesem, Sambas tentang panggunaan pantun inilah menjadi acuan bahwa pantun perni- dalam upacara budaya pernikahan. kahan di kalangan masyarakat Sambas Dari hasil wawancara peneliti dengan memiliki unsur nilai ketataan dan tanggung beberapa warga di kecamatan Galing Kajawab, baik dari istri kepada suami atau bupaten Sambas, bahwa mereka memiliki dari suami kepada istrinya. pandangan dan pendapat yang berbeda dengan penggunaan pantun dalam acara 5. Budaya menjaga tutur kata pernikahan. Sebagai orang timur, masyarakat Melayu Sambas selalu mengedepankan etika dengan a. Menurunnya minat generasi menjaga tutur kata. Hal ini seperti yang muda untuk berpantun terdapat pada pantun berikut. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Rian Umbara bahwa “Untuk tradisi berKalau ada jarum yang patah pantun dalam acara pernikahan saat ini Jangan diletakkan di atas kain masih ada, namun minat masyarakat untuk Kalo ada kata-kata kami yang salah berpantun itu sedikit, apalagi kalangan Jangan disampaikan ke orang lain mudanya.Yang biasa membawakan pantun dalam acara pernikahan adalah masingBurunglah uap terbang dipohon tematok masing perwakilan pihak mempelai. Baik itu Batanglah palah berhimpunan pak RT, KADES, dan seseorang yang sering Mohon maaf dangan orang sitok berpantun.” Pendapat ini menjadi acuan Mun kamek salah tolong barek ampunan bahwa pantun di kalangan generasi muda sudah tidak lagi memiliki tempat untuk Burung kilik hinggap di galah manjadi kajian sebagaimana semangat Galahnye patah kiliknye jatuh orang-orang terdahulu yang selalu berpanSASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 97 tun sebagai bagian cara berkomunikasi. Di sisi lain, secara kebutuhan tradisi dan budaya pantus selalu dibutuhkan, hal ini seperti yang diuraikan oleh Umbara juga bahwa, “Pantun dalam acara pernikahan itu harus selalu ada, karena ini merupakan suatu budaya yang harus dilestarikan. Selain itu pantun juga sebagai media hiburan dan media untuk memberikan nasehat kepada masing-masing mempelai pengantin.” Pantun dalam acara pernikahan pada masyarakat melayu Sambas saat ini masih ada, walaupun minat masyarakat saat ini untuk berpantun tidak sama seperti dulu. Saat ini susah sekali menemukan pemantun yang handal dan mampu menciptakan baitbait pantun yang sesuai serta memenuhi kaidah dan ciri-ciri pantun dalam waktu yang relatif singkat dan memiliki nilai. menyerahkan, pihak perempuan yang menerima. Tidak tentu, tergantung pada masing-masing pihak. Kadang ada yang dari awal-akhir menggunakan pantun, dan ada juga yang hanya untuk menyampaikan maksud-maksud tertentu menggunakan pantun. c. Pantun sebagai pelestari budaya Pandangan masyarakat tentang pantun, di samping sebagai media penghibur, mereka juga menganggap pantun sebagai salah satu media pelestarian budaya. Budaya yang dimaksudkan adalah budaya sastra lisannya. Hanya saja dalam faktanya tidak banyak di antara generasi muda yang tertarik untuk berpantun. Kecendrungan yang biasa membawa atau mendendangkan pantun adalah orang-orang tua, atau petugas desa dan para tokoh adat. Oleh sebab itu, untuk memperkuat identitas Melayu, seyogyanya ada sosialisai dengan b. Pantun menjadi media hiburan lomba pantun di tingkat-tingkat sekolah Persepsi lain bahwa pantun tidal lagi formal, sehingga budaya tetap lestari. berfungsi sebagai media penyampain pesanpesan budaya dan sosial, tetapi pantun juga PENUTUP dianggap sebagai penghibur saat acara perBerdasarkan anlisis yang dilakukan oleh nikahan berlangsung. Hal ini seperti yang peneliti, maka dapat disimpulkan bahwa dikatakan Syaiful bahwa “pantun dalam 1. Pantun yang dibaca saat prosesi acara pernikahan itu harus selalu ada wa- cara pernikahan itu terbagi menjadi 8 jenis, laupun tidak banyak. Karena selain media pertama, pantun pem buka, kedua pantun komunikasi, pantun juga bisa disebut untuk melamar, ketiga, pantun serah terima dengan media hiburan.” Di samping itu juga pengantin, keempat pantun untuk mempelai pantun menghadirkan nilai sosial disini laki-laki, kelima, pantun untuk mempelai yang mengambarkan adanya media pengaja- perempuan, keenam, pantun untuk orangtua ran, yaitu memberikan pesan-pesan positif pengantin laki-laki, ketujuh pantun untuk kepada mempelai pengantin yang akan orangtua pengantin perempuan, dan yang menjalani bahtera rumah tangga lewat isi kedelapan adalah pantun untuk para tamu pantun tersebut. Kemudian nilai budayanya undangan. Adapun struktur pantun dalam di sini yaitu melestarikan tradisi zaman pernikahan ini terdiri dari dua struktur, dahulu. yaitu struktur fisik dan struktur batin. Biasa pada umumnya tetap ada. Karena Struktur fisiknya terdiri dari, diksi, imaji, pantun ini merupakan tujuan yang akan kata konkret, bahasa figuratif, rima dan menyampaikan hajatnya, begitu juga seba- ritme. Sedangkan struktur batin terdiri dari, liknya. Biasa dalam acara pernikahan atau tema, nada dan suasana, perasaan dan penyerahan sirih pinang ada dua wakil, yang amanat. satu wakil dari pihak laki-laki, satu wakil 2. Nilai-nilai yang terkandung dalam dari pihak perempuan. Pihak laki-laki yang pantun pernikahan di kalangan masyarakat 98 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 Melayu Sambas adalah, pertama nilai persatuan dan saling menghormati, kedua, nilai budaya optimis dan disiplin, ketiga nilai sopan santun dan ketundukan, keempat nilai menjaga tutur kata. 3. Ada beberapa perspsi masyarakat Melayu Sambas tentang penggunaan pantun dalam acara pernikahan, pertama menurunnya minat dan antusias generasi muda untuk berpantun, kedua pantun mejnadi media penghibur, tidak lagi sebagai medium untuk penyampaian pesan-pesan moral seperti zaman-zaman terdahulu. Ketiga, pantun juga berperan sebagai pelestari budaya. Marsono. 1996. Lokajaya, Suntingan Teks, Terjemahan, Struktur Teks, Analisis Intra. Disertasi S3. Yogyakarta: Uni-versitas Gadjah Mada. Rahardjo, Mudjia. 2004. Relung-Relung Bahasa: Bahasa dalam Wacana Politik Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Aditiya Media. Sudaryanto. 2004. Metode dan Teknik Penelitian Bahasa. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada Press. Teeuw. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengan -tar Teori. Jakarta.Vicker Andrian. Thomas dan Wearing. 2007. Bahasa, Masyarakat & Kekuasaan. Penerj. Sunoto dkk. Yogyakarta; Pustaka Pelajara. DAFTAR PUSTAKA Palmer, Gray. 1999. Toward a Theory of CulAbd. Rachman Abror. 2009. Pantun Melayu tural Linguistic. Austin: Austin University Titik Temu Islam dan Budaya Lokal Press. Nusantara. Asmuni Fauzi. 2016. Rangkaian Kegiatan Adat Prnikahan Melayu Sambas. Chairil Efendi. 1993. Nilai-Nilai Budaya dalam Satera Nusantara di Kalimantan Barat. Jakarta: PPPB Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Endaswara. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta. Universitas Gajah Mada. Eka Jati. 1988. Naskah Sunda Inventyarisasi dan Pencatatan. Bandung. Universitas Padjajaran. Eka Hendri. 1998. Nilai-Nilai Pendidikan dalam Petuah dan Pantangan Etnik Melayu Pontianak. Skripsi tidak diterbitkan pada Sekolah Tinggi Aga-ma Islam Pontianak. Ery Iswara. 2010. Analisis Semiotik Kultural Pantun Bahasa Indonesia-Makasar: dari Bilingualisme ke Multikulturalisme. Jurnal Msyarakat Linguistik Indonesia. Harimurti Kridalaksana. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta. Gramedia Imam Suryadi. 1992. Pantun dalam Cerita Rengganis. Mataram. Unram press. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 2002 SASTRANESIA Vol. 5, No. 4, 2017 99

Judul: Jurnal Sasranesia Stkip Jombang

Oleh: Moh Badrih


Ikuti kami