Review Jurnal Dap

Oleh Susi Silalahi

105,2 KB 5 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Review Jurnal Dap

Review Jurnal DAP (Draw A Person) Kelompok 18  Densi Wahyuni 111301045  Kristin Citra Napitupulu 111301051  Rosliana K. Manalu 111301052  Susi Farida Silalahi 111301066  Fiorella Silviani S. 111301091  Yunita 111301101  Eva Brahmana 111301126 Judul Jurnal : Developing a Projective Drawing Test : Experiences with the Face Stimulus Assessment (FSA) (Art Therapy: Journal of the American Art Therapy Association, @AAJA, Inc.2003) Penulis : Donna J. Betts, MA, ATR-BC, Tallahassee, FL Pendahuluan : Tehnik Proyektif adalah sebuat alat atau kumpulan dari prosedur yang di desain untuk memberikan informasi tentang kepribadian individu dengan memberikan kesempatan individu untuk merespon dengan cara terbuka didasarkan seni atau konstruk visual. Beberapa terapis biasanya menggunakan teknik proyektif ini, tetapi masih dibutuhkan penilaian yang lebih sensitive pada populasi tertentu. Rubin menentukan bahwa penilaian standar pada perkembangan psikososial, perkembangan kognitif, potensial kreatif, trait personal dan konsep diri memelurkan ke sensitivan yang lebih untuk klien yang memiliki gangguan pekembangan ataupun gangguan fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan prediksi kemampuan dari satu variable atau kumpulan variable untuk mendiagnosa bagian gangguan atau masalah dari seseorang. Peneliti merupakan seorang karyawan di sekolah multicultural di area metropolitan ketika dirinya mulai bekerja dengan FSA. Peneliti menemukan bahwa perlu untuk mengembangkan metode tertentu mengevaluasi nonverbal klien yang memiliki gangguan kognitif, seperti orangorang ini tidak dapat mengikuti petunjuk dan tidak termotivasi untuk menggambar tanpa stimulus visual. Klien yang memiliki keterbelakangan mental yang berat atau keterlambatan perkembangan, misalnya, biasanya tidak responsif terhadap arahan dasar, seperti "menggambar seseorang". Peneliti terinspirasi oleh karya Silver dan Stamatelos dan Mott, yang mana membuat peneliti menyadari kebutuhan untuk menggabungkan metode yang akan menimbulkan kekuatan klien melalui seni. Pada tahap awal, Peneliti berhasil menggunakan stimulus gambar pada klien dan menemukan bahwa klien dengan autisme , kesulitan komunikasi dan, khususnya , kurangnya motivasi mengenai manfaat dari stimulus gambar seperti gambar wajah. Klien ini dimungkinkan untuk memproyeksikan ide-ide mereka sendiri ke dalam gambar, atau setidaknya, mereka termotivasi untuk menambahkan coretan warna. Klien diberikan stimulus wajah manusia untuk memberikan informasi tentang kemampuan mereka. Peneliti memilih stimulus wajah karena wajah merupakan penentu yang penting tentang bagaimana seseorang mempersepsikan diri sendiri dan orang lain. Selain itu, wajah juga dianggap sebagai daerah yang paling penting dari tubuh dalam mengatur dan mempengaruhi interaksi seseorang dengan ekspresi emosi dan identitas individu. Hal ini dapat mencerminkan niat dan sikap , memainkan peran penting dalam penilaian estetika , dan menyediakan informasi tentang jenis kelamin dan usia. FSA sebagai projective drawing assessment dapat digunakan pada anak – anak dan remaja dengan multiple disabilities, khususnya kesulitan komunikasi. FSA menggunakan tiga gambar yang berorientasi vertikal yang secara spesifik untuk kepala manusia. Peneliti menyimpulkan bahwa metode tersebut akan menyediakan cara untuk mengungkapkan kemampuan klien untuk memori dan retensi visual dan kemampuannya untuk mengatur elemen konsisten dari wajah manusia. Jika klien mengalami kesulitan mengatur unsur-unsur wajah, maka penilaian harus memberikan kesempatan bagi kecenderungan seperti itu untuk terwujud. Dengan memberikan stimulus wajah awal (gambar 1), kemudian mengeluarkan stimulus dan hanya memberikan garis besar wajah (gambar 2), diikuti dengan halaman kosong (gambar 3). Peneliti berhipotesis bahwa klien memiliki dua peluang berturut-turut untuk mengatur elemen wajah serta untuk menunjukkan kapasitas memori dan retensi visual. Subjek pada penelitian ini sebanyak 6 orang yang mengalami multiple disabilities (khususnya autism dan gangguan komunikasi), yaitu sebagai berikut :  Subjek 1, anak laki – laki Afrika – Amerika berusia 11 tahun dengan mild mentar retardation (MR), autism, ADHD, mood disorder, dan seizure disorder.  Subjek 2, anak perempuan Asia – Amerika berusia 14 tahun dengan mild – moderate MR dan autism.  Subjek 3, laki – laki hispanik – amerika berusia 20 tahun dengan mild MR (IQ = 71), pervasive developmental disorder, ADHD, dan simtom autistic.  Subjek 4, laki – laki hispanik – amerika berusia 16 tahun dengan borderline IQ dan serious emotional disturbance (SED).  Subjek 5, perempuan Afrika - Amerika berusia 15 tahun dengan mild MR, psychosis, dan emotional disturbance (depressive features).  Subjek 6, laki – laki Afrika – Amerika berusia 20 tahun dengan mild MR dan drug exposure in utero. Administrasi FSA dapat diberikan secara individu atau dalam grup. Di atas meja, 16 spidol harus secara acak dicampur bersama - sama. Waktu yang diberikan selama 50 menit. Setiap klien disediakan dengan Gambar 1 dan kemudian diminta untuk "menggunakan spidol dan kertas ini. "Setelah klien melengkapi Gambar 1, tersebut akan dihapus dari tampilannya dan diganti dengan Gambar 2. Setelah selesai gambar 2, itu juga dihapus dan diganti dengan gambar 3 dalam format vertikal. (Catatan : FSA memiliki konten yang konsisten dan karena itu, alat penelitian yang baik. FSA dapat dinilai tanpa penilai mengamati proses menggambar. Hal ini dapat digunakan dengan populasi verbal atau non verbal dan gambar stimulus umumnya nonthereatening.) Temuan Kesimpulan Masih banyak yang harus dilakukan di ranah penilaian menggambar proyektif, dan pengujian yang lebih sensitif. Siswa terapi seni dan profesional yang menekuni pekerjaan ini perlu menyadari adanya beberapa tantangan. Ini seharusnya tidak menghalangi potensi peneliti dengan mengeksplorasi cara inventif dengan bekerja dan mengevaluasi klien. Ini adalah harapan tentang pembahasan dari pengalaman peneliti dalam mengembangkan FSA berfungsi sebagai ilustrasi yang berguna untuk jenis pekerjaan ini. Berikut Indikator level keberfungsian yang dipertimbangkan dalam proses assessment ketiga gambar. Picture 1: a. kemampuan motorik klien untuk mewarnai gambar di bagian dalam garis b. kemampuan menggunakan warna-warna alami dan bukti mengenal bahwa gambar merupakan wajah manusia c. penambahan bagian-bagian lain, misalnya rambut dan anting d. apakah klien menyamakan wajah seperti dirinya dan apakah hal ini berhubungan dengan self-perception (ras dan gender dipertimbangkan) e. penggunaan ruang gambar, apakah klien menggambar pada background atau apakah ada perbedaan warna antara wajah dengan background gambar Picture 2: a. apakah klien mengabaikan bentuk wajah (menjadikan gambar menjadi objek lain) atau menggambarnya dengan komplit dengan menambahkan ciri wajah b. jika klien melengkapi wajah, indikator pada Picture 1 boleh di-assess ulang. Dengan mempertimbangkan kemampuan klien untuk mengenal ulang stimulus visual. c. jika klien tidak menggambar wajah, indikator formal seperti penggunaan garis, warna dan lainnya boleh diterapkan. Picture 3: a. apakah klien menggambar wajah dan apa maksud gambarnya b. jika klien menggambar wajah, hal ini mungkin menggambarkan kepatuhan. Pertimbangkan apakah wajah mirip atau berbeda dengan Picture 1 dan 2 c. jika klien tidak menggambar wajah, mungkin menunjukkan perlawanan atau kreatifitas. Sama seperti Picture 2, indikator formal yang diterapkan. d. apakah klien mengubah posisi kertas atau mengubah gayanya misalnya melipat, membasahi dan lain sebagainya. Komentar kelompok

Judul: Review Jurnal Dap

Oleh: Susi Silalahi


Ikuti kami