Jurnal Hasil Perkuliahan

Oleh Shellia Putri

614,5 KB 4 tayangan 0 unduhan
 


Bagikan artikel

Transkrip Jurnal Hasil Perkuliahan

JURNAL HASIL PERKULIAHAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI DOSEN PENGAMPU : ADILITA PRAMANTI ANGGA PRASETYO ADI NAMA : RAMA SHELLIA NOVIA PUTRI NIM : P21331119051 SARJANA TERAPAN GIZI DAN DIETETIKA GIZI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN JAKARTA 2 JAKARTA 2020 PERTEMUAN 1 SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI Latar Belakag Masih banyaknya masyarakat di Indonesia kualitas gizinya sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya nilai gizi masyarakat, gizi buruk, busung lapar di daerah-daerah karena tingginya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor ekonomi, sosial budaya, kebiasaan dan kesukaan. Kondisi kesehatan termasuk juga pendidikan atau pengetahuan. Selain tingkat pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat, banyak faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang, baik faktor individu, keluarga maupun masyarakat. Kondisi - kondisi tersebutlah yang harus di pelajari dengan Antropologi Gizi Masyarakat. Perbedaan Antropologi dan Sosiologi  Antropologi  Sosiologi modernisasi. : Konsumsi masyarakat melihat budaya yang terkandung didalamnya. : Kosumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh interaksi dan Tokoh – Tokoh Antropologi dan Sosiologi Sosiologi : August Comte Emile Durkheim Karl Max Max Webber Antropologi : Claude levi-strauss Ralph Linton Ruth Benedict Koentjaraningrat Antopologi Gizi Masyarakat : Sebelum kita mempelajari apa itu Antopologi Gizi Masyarakat, sebaiknya kita pahami dulu apa pengertian Antroplogi dan pengertian Gizi. Antropologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Sedangkan Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Definisi Antropologi Gizi Masyarakat : Antropologi Gizi Masyarakat adalah Suatu ilmu yang mempelajari faktor-faktor Antropologi yang dapat mempengaruhi gizi masyarakat atau suatu Ilmu yang mempelajari budaya budaya makan/konsumsi suatu etnis tertentu dalam memenuhi gizinya. Pada abad ke 20 Mc Collum, Charles G King = melanjutkan penelitian vitamin kemudian terus berkembang hingga muncul “ SCIENCE of NUTRION. Adalah Suatu cabang ilmu pengetahuan kesehatan (kedokteran) yang berdiri sendiri yaitu Ilmu Gizi adalah Ilmu pengetahuan yang membahas sifat-sifat nutrien yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya serta akibat yang timbul bila terdapat kekurangan zat gizi, ( Soekirman, 2000) Secara Keilmuwan Dalam perkembangan selanjutnya permasalahan gizi mulai bermunculan secara kompleks yang tidak dapat ditanggulangi oleh para ahli gizi dan sarjana gizi saja, sehingga muncul Ilmu gizi yang menurut komite Thomas dan Earl (1994) adalah “The NUTRITION SCIENCES are the most interdisciplinary of all sciences”. Yang arti bebasnya menyatakan bahwa ilmu gizi merupakan ilmu yang melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan Mengapa Pentingnya Antropologi dan sosiologi Gizi ? Tingginya angka gizi buruk, kelaparan, produksi pangan lebih sedikit dari jumlah manusia, serta sulitnya membagi waktu makan pada masyarakat perkotaan dan tingkat gizi masyarakat pedesaan masih jauh dari seharusnya. Untuk mengatasi masalah yang terjadi saat ini di perlukannya suatu Antropolgi Gizi dalam mempelajari hal-hal yang menjadi penyebab dalam masalah gizi masyarakat. Budaya Konsumsi Masyarakat Dalam hal budaya konsumsi yang terjadi pada masyarakat pada saat ini, terdapat beberapa hal menarik yang perlu untuk di cermati. Contohnya, timbulnya suatu trend dalam masyarakat yang mengatakan " Kalau tidak makan nasi bukan makan namanya ". Padahal makanan lainnya seperti singkong, sagu, kacang-kacangan dan lain-lain, bisa di jadikan sebagai sumber makanan utama karena mengandung karbohidrat yang sangat baik untuk tubuh . Selain ekonomi, pendidikan menjadi suatu masalah utama dalam pemenuhan gizi masyarakat. Seperti rendahnya pengetahuan pada masyarakat desa tentang apa-apa saja makanan yang perlu di konsumsi dalam pemenuhan gizi mereka. Sehingga prinsip makan " asal kenyang " tapi tidak memenuhi kebutuhan gizi selalu menjadi kebiasaan masyarakat di desa. Tingkat kesibukan kerja yang begitu padat juga mempengaruhi kebudayaan makan masyarakat perkotaan. Dalam hal ini menimbulkan budaya waktu makan tak menentu dan meningkatnya kebiasaan makan di pinggir jalan. Padahal belum tentu makanan-makanan tersebut baik bagi tubuh. Makanan berpengawet sepertinya sudah menjadi makanan seharihari masyarakat perkotaan saat ini. Faktor-Fakor Yang Mempengaruhi Status Gizi Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan Sebagaimana dikemukakan oleh seorang ahli kesehatan masyarakat HL. Blum, yaitu : lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter (keturunan ). Tiga faktor yang pertama, yaitu lingkungan yang mempengaruhi pola hidup sehat bagaimana antara masyarakat kota dan desa bisa hidup bersih, perilaku menjadi dasar penentu bagaimana masyarakat bisa terjauh dari penyakit agar mampu melakukan hidup sehat dan bersih dan pelayanan kesehatan adalah yang dominan.yang mempengaruhi kesehatan masyarakat yang bisa memberikan informasi tentang kesehatan. KESIMPULAN Antropologi Gizi Masyarakat merupakan suatu ilmu yang mengabungkan antara Antropologi dan Gizi. Sehingga menjadikan ilmu tersebut sebagai sistem yang efektif dalam menyelesaikan masalah gizi yang terjadi pada masyarakat saat ini. Karena fungsi Antropologi sendiri yang meneliti sedalam-sedalamnya kebudayaan, etnik dan apa-apa saja pengaruhnya, sehingga bila di bawa kedalam masalah gizi masya sangat luas pengaruhnya dan kita bisa mengetahui apa pengaruh dari budaya masyarakat terhadap kesehatan masyarakat itu sendiri. PERTEMUAN 2 KEBUDAYAAN Pengertian Kebudayaan  Kebudayaan adalah segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan dan diwariskan dalam bentuk simbolik sehingga dengan cara ini manusia mampu berkomunikasi melestarikan, dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap kehidupan.  Kebudayaan perulangan - perulangan yang muncul didalam kehidupan manusia melaui struktur struktur dalam masayrakat. Pengertian kebudayaan Menurut Ahli Kontjaraningrat : Kebudayaan merupakan kesuluruhan dari kelakuan dan hasil yang harus didapatkan dalam belajar, rasa, dan akal budi manusia, semua itu tersusun dalam kehidupan masyarakat. SeloSoemarjan : Kebudayaan merupakan hasil karya cipta dan rasa masyarakat. Unsur unsur kebudayaan  Sistem bahasa  Sistem pengetahuan  Sistem kekerabatan  Sistem peralatan hidup  Sistem ekonomi  Sistem religi  Sistem kesenian Sistem Bahasa Bahasa atau sistem perlembagaan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi , ciri ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan berserta variasii variasi dari bahasa itu. Sistem Pengetahuan Sistem pengetahuan dalam kultural universal berkaitan dengan sistem peralatan hidup dan teknologi karena sistem pengetahuan bersifat abstrak dan berwujud didalam ide manusia. Sistem Kekerabatan Unsur budaya yang membentuk manusia menjadi masyarakat melalui berbagai kelompok sosial, kelompok masyarakat kehidupan diatur oleh adat istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan didalam lingkungan. Sistem Peralatan Manusia selalu berusahan untuk mempertahankan hidupnya sehingga mereka akan selalu membuat peralatan atau benda benda tersebut. Sistem Ekonomi Cara mata pencaharian suatu kelompok masyarakat atau sistem perekonomian mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Sistem ekonomi pada masyarakat tradisional, antara lain:  berburu dan meramu  beternak  bercocok tanam di ladang  menangkap ikan  bercocok tanam menetap dengan sistem irigasi. Sistem Religi Pengertian sistem kepercayaan lebih luas dari agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sistem kepercayaan berkaitan dengan kekuatan di luar diri manusia. Kepercayaan terhadap dewa- dewa, animisme, dinamisme, dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah bukti unsur religi dalam kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan akan ditemukan unsur ini walaupun dalam bentuk yang berbeda. Kesenian Kesenian berkaitan erat dengan rasa keindahan (estetika) yang dimiliki oleh setiap manusia dan masyarakat. Rasa keindahan inilah yang melahirkan berbagai bentuk seni yang berbedabeda antara kebudayaan yang satu dan kebudayaan yang lain. Sistem budaya Indonesia Sistem budaya Indonesia Indonesia. sebagai totalitas nilai, tata sosial dan tata laku masyarakat Fungsi sistem budaya indonesia  Dalam keluarga  Dalam masyarakat  Dalam berbangsa dan bernegara SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Sistem sosial budaya Indonesia diperluka untuk memahami kondisi sosial indonesia. Mengapa demikian…?  Karena sistem sosial dan budaya masyarakat Indonesia sangat HETEROGEN secara VERTIKAL maupun HORIZONTAL.  Indonesia merupakan negara yang memiliki susunan masyarakat dengan ciri PLURALITAS yang tinggi. Pluralitas Menurut Al-Quran  Diakui oleh Al Quran -yaitu Surat Al Baqarah ayat 148 -bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam komunitas yang memiliki orientasi kehidupan sendiri-sendiri.  Manusia harus menerima kenyataan keragaman budaya dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya.  Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan. Mereka semua akan dikumpulkan oleh Allah SWT pada hari akhir untuk memperoleh keputusan final. Terkait Dengan Indonesia Sebagai Suatu State Yang Terintegrasi Memunculkan 2 pertanyaan inti: 1. Faktor-faktor latent apakah yang sesungguhnya telah menyebabkan terjadinya konflik?. 2. Faktor-faktor apakah yang mengintegrasikan masyarakat Indonesia yang memiliki kondisi potensial konflik?. Untuk menjawab 2 pertanyaan ini maka harus mengetahui dan memahami sistem sosial Indonesia Apakah Sistem… ? Konsep yang menjelaskan:  Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagian bagian,komponen komponen, dan prosesproses yang melingkupi aturan aturan tata hubungan yang dapat dikenali.  Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya Pluralitas Masyarakat Indonesia Disebabkan Oleh :  Keadaan geografis  Letak Indonesia antara samudra Indonesia dan samudra pasifik (pusat lalu lintas perdagangan dan persebaran agama)  Iklim yang berbeda (berakibat plural secara regional)  Curah hujan dan kesuburan tanah yang berbeda ( pluralitas lingkungan ekologis ) a)WETRICE CULTIVATION(pertanian sawah di Jawa dan Bali) b)SHIFTING CULTIVATION(pertanian ladang di luar Jawa) PERTEMUAN 3 SOSIOLOGI ANTROPOLOGI GIZI SISTEM SOSIAL BUDAYA INDONESIA Struktural Fungsional Asumsi Dasar : Masyarakat terintegrasi atas dasar kata sepakat para anggotanya terhadap nilai dasar kemasyarakatan yang menjadi panutannya. Kesepakatan masyarakat tersebut menjadi general agreements yang memiliki kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan dari para anggotanya. Masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi kedalam suatu bentuk equilibrium. Istilah Lain Pendekatan Struktural Fungsioal  INTEGRATION APPROACH  ORDER APPROACH  EQUILIBRIUM APPROACH  STRUCTURAL FUNGTIONAL APPROACH Tokoh-Tokoh  Plato  Auguste Comte  Herbert Spencer  Emile Durkheim  Branislaw Malinowski  Redcliffe Brown  Talcot Parson Anggapan Dasar Teori Struktural Fungsional  Masyarakat adalah suatu sistem dari bagian-bagia yang saling berhubungan  Hubungan dalam masyarakat bersifat ganda dan timbal balik (saling mempengaruhi)  Secara fundamental, sistem sosial cenderung bergerak kearah equilibrium dan bersifat dinamis.  Disfungsi / ketegangan sosial / penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian danproses institusionalisasi.  Perubahan-perubahan dalam sistem sosial bersifat gradual melalui penyesuaian . Bukan bersifat revolusioner.  Perubahan terjadi melalui 3 macam kemungkinan: 1. Penyesuaian sistem sosial terhadap perubahan dari luar ( extra systemic change 2. Pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional 3. Penemuan baru oleh anggota masyarakat  Faktor terpenting dalam integrasi adalah konsensus Penilaian / Kritik Terhadap Teori Struktural Fungsional Terlalu menekankan anggapan dasarnya pada peranan unsur-unsur normatif dari tingkah laku sosial (pengaturan secara normatif terhadap hasrat seseorang untuk menjamin stabilitas sosial. (David Lockwood) Menurut David Lockwood Terdapat sub stratum yang berupa disposisi-disposisi yang mengakibatkan timbulnya perbedaan life chances (kesempatan hidup) dan kepentingan-kepentingan yang tidak normatif. Dalama setiap situasi sosial terdapat 2 hal yaitu: 1. TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF 2. SUB STRATUM yang melahirkan KONFLIK Kenyataan yang Diabaikan Dalam Pendekatan Struktural Fungsional 1. Setiap struktural sosial mengandung konflik dan kontradiksi yang bersifat internal dan menjadi penyebab perubahan. 2. Reaksi suatu sistem sosial terhadap perubahan yang datang dari luar (extra systemic change) tidak selalu bersifat adjustive/tampak 3. Suatu sistem sosial dalam waktu yang panjang dapat mengalami konflik sosial yang bersifat visious circle 4. Perubahan perubahan sosial tidak selalu terjadi secara gradual melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi secara revolusioner. Asumsi Dasar Teori Konflik Dialektika 1. Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat 2. Konflik dalah gejala yang melekat pada setiap masyarakat 3. Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya disintegrasiI dan perubahan-perubahan sosial 4. Setiap masyarakat terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang atas sejumlah orang orang yang lain Unsur-unsur yang bertentangan dalam masyarakat atau kontradiksi intern akibat pembagian kewenangan/otoritas yang tidak merata dapat menyebabkan terjadinya perubahan sosial Contoh: reformasi di indonesia Menurut Dahrendorf Karena adanya asosiasi terkoordinasi secara imperativ (Impetaratively Coordinated Associations/ICA) yang mewakili organisasi-organisasi yang berperan penting di dalam masyarakat. ICA  Terbentuk atas hubungan-hubungan kekuasaan antara beberapa kelompok pemeran kekuasaan yang ada dalam masyarakat  Kekuasaan menunjukkan adanya faktor “paksaan” oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain. Dalam ICA hubungan kekuasaan menjadi “tersahkan” atau terlegitimasi.  Dalam ICA terdapat ruling dan ruled (pemeran yang berkuasa dan pemeran yang dikuasai)  yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo, yang dikuasai berusaha mendapatkan status quo.  Terdapat dikotomi antara dominator dan sub dominator ( Dominated Group dengan Subjugated Group ) Dalam Pandangan Teori Konflik Dialektika Kekuasaan (Power) dan otoritas (Authority) merupakan sumber yang langka dan selalu diperebutkan dalam sebuah Imperatively Coordinated Associations. Teori Konflik Dialektika Lebih Sesuai Dengan Realitas Sosial Dahrendorf dengan teori konflik dialektika berusaha menyempurnakan pendapat Karl Marx mengenai realitas sosial. Realitas Sosial 1. Sistem sosial selalu berada dalam konflik yang terus menerus (CONTINUAL STATE OF CONFLICT) 2.Konflik tercipta karena kepentingan yang saling bertentangan dalam struktur sosial 3.Kepentingan yang saling bertentangan merupakan refleksi dari perbedaan dalam distribusi kekuasaan antar kelompok yang mendominasiI dan terdominasi 4.Kepentingan cenderung mempolarisasi kedalam dua kelompok kepentingan 5.Konflik bersifat dialektika (suatu konflik menciptakan suatu kepentingan yang baru, yang dibawah kondisi tertentu akan menurunkan konflik yang berikutnya) 6.Perubahan sosial adalah ciri/karakter yang selalu berada dimanapun (UBIQUITOUS FEATURE) dalam setiap sistem sosial dan akibat dari konflik. 7.Konflik dapat diatasi oleh kekuasaan yang dihimpun di dalam ICA.  ICA yang dominan dapat meredam konflik Dalam tinjauan konflik dialektika, suatu kepentinga bisa dinegoisasikan antar kelompok dalam ICA jika sudah menjadi kelompok kepentingan yang bersifat RIIL Sehingga, bersatunya individu yang memiliki kepentingan yang sama dalam sebuah kelompok yang terorganisir menjadi hal yang penting. Kepentingan yang sama dari beberapa individu, jika tidak di organisasi secara formal kedalam suatu kelompok, merupakan kepentingan semu karena tidak ada yang bisa mewakili/mengatasnamakan pemilik kepentingan. PERTEMUAN 4 Bentuk Pengendalian Konflik Konsiliatsi ( Conciliation )  Mediasi ( Mediation )  Perwasitan ( Arbitration ) Konsiliasi ( Conciliation) Terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan diantara pihak-pihak yang berkonflik. Contohnya seperti rapat RT. Lembaga-Lembaga Berfungsi Efektif Jika :  Bersifat otonom dengan wewenang untuk mengambil keputusan tanpa campur tangan pihak lain  Kedudukan lembaga tersebut dalam masyarakt bersifat monopolistis (hanya lembaga tersebut yang berfungsi demikian)  Peran lembaga harus mampu mengikat kelompok kepentingan yang berlawaanan termasuk keputusan-keputusan yang dihasilkan harus bersifat demokratis. Persyaratan Kelompok Kepentingan Untuk Konsiliasi  Masing masing kelompok sadar sedang berkonflik  Kelompok kelompok yang berkonflik terorganisir secara jelas  Setiap kelompok yang berkonflik harus patuh pada rule of the games Mediasi Pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga untuk memberi “nasehat-nasehat” penyelesaian konflik. Tujuanya mengurangi irasionalitas kelompok yang berkonflik. Perwasitan Dilakukan/terjadi jika fihak yang bersengketa bersepakat untuk menerima atau “terpaksa” menerima hairnya pihak ketiga yang akan memberikan “keputusan-keputusan” tertentu untuk mengurangi konflik. Jika pengendalian efektif maka : konflik akan menjadi kekuatan pendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial yang terus berlanjut. Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia Masyarakat majemuk memiliki sub struktur dengan ciri yang sangat beragam sehingga disebut majemuk. Masing-masing sub struktur berjala dengan sistemnya masing-masing. Sistem Sosial dan Struktur Sosial Tidak Dapat Dipisahkan  Struktur sosial memperlihatkan suatu hubungan yang konstan sebagai suatu kerangka  Sistem, memberikan sifat dan dinamika pada struktur secara keseluruhan Indonesia Masyarakat Majemuk yang Ditandai 2 Ciri Unik :  Majemuk secara horizontal  Majemuk secara vertikal Masyarakat Majemuk Indonesia Adalah Suatu masyarakat majemuk (plural societies) yang masyarakatnya terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lain dalan satu kesatua politik (Furnival) Ciri Masyarakat Majemuk Indonesia  Dalam kehidupan politik, tidak ada kehendak bersama  Dalam kehidupan ekonomi, tidak ada permintaan sosial yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat (common social demand) Karakteristik Masyarakat Majemuk (Pierre L. Van Den Berghe)  Terjadi segmentasi kedalam bentuk kelompok-kelompok yang memiliki kebudayaan yang berbeda  Memiliki struktural sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang non komplementer  Kurang mengembangkan konsensus antar para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar Relatif sering terjadi konflik  Secara relatif, integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling saling ketergantunga dalam bidang ekonomi  Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok atas kelompok yang lain Masyarakat yang Memilik Unit Kekerabatan yang Bersifat Segmenter Suatu masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam berbagai kelompok berdasarkan garis keturunan tunggal, tetapi memiliki struktur kelembagaan yang bersifat homogen. Masyarakat yang Memiliki Diferensiasi/Spesialisasi yang Tinggi Suatu masyarakat dengan tingkat differensiasi fungsional yang tinggi dengan banyak lembaga-lembaga kemasyarakatan yang saling komplementer dan saling tergantung. Menurut Van den Berghe Solidaritas mekanis dan solidaritas organis sulit di tumbuhkan dalam masyarakat majemuk karena pengelompokan yang terjadi bersifat sesaat atas dasar kepentingan praktis. Faktor yang Mengintegrasikan Masyarakat Majemuk  Adanya konsensus diantara sebagian besar anggota masyarakat terhadap nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental  Adanya berbagai masyarakat yang berasal dari berbagai kesatuan sosial (cross cutting affiliations)yang akan menyebabkan terjadinya loyalitas ganda (cross cutting loyalities) Kemungkinan yang Terjadi Pada Masyarakat Majemuk minimal ada 2 (dua) tingkatan konflik yang mungkin terjadi;  konflik bersifat ideologi  konflik bersifat politis Konflik Bersifat Ideologis Terwujud dalam bentuk konflik antara sistem nilai yang dianut oleh serta menjadi ideologi dari berbagai kesatuan sosial. Konflik Bersifat Politis Terjadi dalam bentuk pertentangan di dalam pembagian status kekuasaan dan sumber-sumber ekonomi yang terbatas, diantara anggota masyarakat Suatu Integrasi Sosial yang Tangguh Dapat Berkembang Apabila  Sebagian besar anggota masyarakat bangsa bersepakat tentang batas-batas teritorial dari negara sebagai suatu kehidupan politik.  Sebagian besar anggota masyarakat bersepakat mengenai struktur pemerintahan dan aturan-aturan dalam proses politik yag berlaku bagi seluruh masyarakat (William Liddle) Konsep Status dan Peranan Untuk Melihat Hubugan Individu Denga Sistem Sosial  STATUS adalah suatu posisi dalam struktur sosial yang menentukan dimana seseorang menempatkan dirinya dalam suatu komunitas dan bagaimana ia diharapkan bersikap dan berhubungan dengan orang lain.  PERANAN adalah pola perilaku yang diharapka dari seseorang yang mempunyai status atau posisi tertentu dalam suatu organisasi atau masyarakat Dalam suatu SISTEM SOSIAL, individu menduduki suatu tempat (status) dan bertindak (berperan) sesuai dengan norma norma atau aturan aturan yang dibuat oleh sistem. Diferensiasi Sosial  Kalau kita memperhatikan masyarakat di sekitar kita, ada banyak sekali perbedaanperbedaan yang kita jumpai. Perbedaan-perbedaan itu antara lain dalam agama, ras, etnis, clan (klen), pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin.  Perbedaan-perbedaan itu tidak dapat diklasifikasikan secara bertingkat/vertikal seperti halnya pada tingkatan dalam lapisan ekonomi, yaitu lapisan tinggi, lapisan menengah dan lapisan rendah.  Perbedaan itu hanya secara horisontal. Perbedaan seperti ini dalam sosiologi dikenal dengan istilah Diferensiasi Sosial.  Diferensiasi adalah klasifikasi terhadap perbedaan perbedaan yang biasanya sama.  Pengertian sama disini menunjukkan pada penggolongan atau klasifikasi masyarakat secara horisontal, mendatar, atau sejajar. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.  Pengelompokan horisontal yang didasarkan pada perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klen dan agama disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berasarkan perbedaan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial. Ciri-ciri yang Mendasari Diferensiasi Sosial  Ciri Fisik. Diferensiasi ini terjadi karena perbedaan ciri-ciri tertentu. Misalnya : warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, muka, dsb.  Ciri Sosial Muncul karena perbedaan pekerjaan yang menimbulkan cara pandang dan pola perilaku dalam masyarakat berbeda. Termasuk didalam kategori ini adalah perbedaan peranan, prestise dan kekuasaan. Contohnya : pola perilaku seorang perawat akan berbeda dengan seorang karyawan kantor.  Ciri Budaya. Berhubungan erat dengan pandangan hidup suatu masyarakat menyangkut nilai nilai yang dianutnya, seperti religi atau kepercayaan, sistem kekeluargaan, keuletan dan ketangguhan (etos). Hasil dari nilai nilai yang dianut suatu masyarakat dapat kita lihat dari bahasa, kesenian, arsitektur, pakaian adat, agama, dsb. Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial  Diferensiasi Ras. Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya, bukan budayanya.  Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis).Menurut Hassan Shadily MA, suku bangsa atau etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap mempunyai hubungan biologis. Diferensiasi suku bangsa merupakan penggologan manusia berdasarkan ciri-ciri biologis yang sama, seperti ras.  Namun suku bangsa memiliki ciri-ciri paling mendasar yang lain, yaitu adanya kesamaan budaya. Suku bangsa memiliki kesamaan berikut : -ciri fisik -kesenian -bahasa daerah adat istiadat Diferensiasi Klen (Clan)  Klen (Clan) sering juga disebut kerabat luas atau keluarga besar. Klen merupakan kesatuan keturunan (genealogis), kesatuan kepercayaan (religiomagis) dan kesatuan adat (tradisi). Klen adalah sistem sosial yang berdasarkan ikatan darah atau keturunan yang sama umumnya terjadi pada masyarakat unilateral baik melalui garis ayah (patrilineal) maupun garis ibu (matrilineal).  Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal) antara lain terdapat pada: Masyarakat Batak (dengan sebutan Marga) Masyarakat Minahasa (klennya disebut Fam), Masyarakat Ambon (klennya disebut Fam) Masyarakat Flores (klennya disebut Fam)  Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal) antara lain terdapat pada masyarakat Minangkabau Klennya disebut suku yang merupakan gabungan dari kampuang kampuang. Diferensiasi Agama  Diferensiasi agama merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan agama/kepercayaannya. Komponen-komponen Agama: 1. Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya. 2. Sistem keyakinan, terwujud dalam bentuk pikiran/gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa, dan sebagainya. 3. Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, Dewa-dewa dan Roh Nenek Moyang. ibadah, seperti Mesjid, Gereja, Pura, Wihara, Kuil, Klenteng. 4. Umat, yakni anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.  Agama dan Masyarakat . Dalam perkembangannya agama mempengaruhi masyarakat dan demikian juga masyarakat mempengaruhi agam atau terjadi interaks yang dinamis. Di Indonesia, kita mengenal agama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Disamping itu berkembang pula agama atau kepercayaan lain, seperti Khong Hu Chu, Aliran Kepercayaan, Kaharingan dan Kepercayaan kepercayaan asli lainnya . Diferensiasi Profesi (pekerjaan)  Diferensiasi profesi merupakan pengelompokan masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan atau profesinya.  Profesi biasanya berkaitan dengan suatu ketrampilan khusus. Misalnya profesi dosen memerlukan ketrampilan khusus, seperti : pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dsb.  Berdasarkan perbedaan profesi kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.  Perbedaan profesi biasanya juga akan berpengaruh pada perilaku sosialnya. Contohnya, perilaku seorang guru akan berbeda dengan seorang dokter ketika keduanya melaksanakan pekerjaannya. Diferensiasi Jenis Kelamin  Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang didasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis).  Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya.  Atas dasar itu, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok perempuan atau wanita. Diferensiasi Asal Daerah  Diferensiasi ini merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota.  Terbagi menjadi: -masyarakat desa : kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa; -masyarakat kota : kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota. Perbedaan orang desa dengan orang kota dapat kita temukan dalam hal-hal berikut ini : perilaku,tutur ata, cara berpakaian, cara menghias rumah, dsb. Diferensiasi Partai  Demi menampung aspirasi masyarakat untuk turut serta mengatur negara/ berkuasa, maka bermunculan banyak sekali partai.  Diferensiasi partai adalah perbedaan masyarakat dalam kegiatannya mengatur kekuasaan negara, yang berupa kesatuan-kesatuan sosial, seazas, seideologi dan sealiran. Industrialisasi  Industrialisasi yang terjadi saat ini telah membawa pengaruh dan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia.Industri memberi matap encaharian kepada berjuta-juta rakyat dalam bidang-bidang yang berbeda. Industri membuka peluang bagi banyak orang untuk mengembangkan kemampuannya.  Industri mempunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung. Misalnya secara industri telah membentuk perilaku, sikap, gaya hidup dan bahkan nilai-nilai dalam masyarakat. Revolusi Industri dan Munculnya Kapitalisme Industri  Revolusi Industri adalah perubahan teknologi , sosioekonomi , dan budaya pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19 yang terjadi dengan penggantian ekonomi yang berdasarkan pekerja menjadi yang didominasi oleh industri dan diproduksi mesin .  Revolusi ini dimulai di Inggris dengan perkenalan mesin uap dengan menggunakan batu bara sebagai bahan bakar ) dan ditenagai oleh mesin terutama dalam produksi tekstil ).  Perkembangan peralatan mesin logam keseluruhan pada dua dekade pertama dari abad ke 19 membuat produk mesin produksi untuk digunakan di industri  Awal mulai Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kira kira 1760 1830.  Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin bakar dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik. Dampak Revolusi Industri  Efek budayanya menyebar ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Utara, kemudian mempengaruhi seluruh dunia. Efek dari perubahan ini di masyarakat sangat besar dan seringkali dibandingkan dengan revolusi kebudayaan pada masa Neolitikum ketika pertanian mulai dilakukan dan membentuk peradaban, menggantikan kehidupan nomadik.  Istilah "Revolusi Industri" diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Era Industrialisasi di Indonesia  Era Industrialisasi di Indonesia Periode Pendudukan Belanda  Perkembangan industrialisasi di Indonesia, terbagi dalam empat periode mulai dari tanam paksa hingga berakhirnya Pemerintahan Hindia Belanda pendudukan Jepang hingga akhir Perang Dunia II, proklamasi hingga berakhirnya Orde Lama, serta masa Orde Baru hingga berakhirnya pembangunan Jangka Panjang I  Industrialisasi di Indonesia, berawal pada perkembangan industri di sektor perubahan dan baru menjelang tahun 1900 pemerintahan Hindia Belanda saat itu mengalihkan kesektor lain Perkembangan industrialisasi juga tidak terlepas dari peristiwa dunia seperti ekspansi Jerman ke negara negara Eropa Perang Dunia I, serta Perang Asia Timur Raya  Era Industrialisasi di Indonesia Periode Pendudukan Jepang  Kebijakan industri pada masa pendudukan Jepang beralih ke keperluan perang Dalam masa ini dikembangkan satu kebijakan yaitu kebijakan Ekonomi Wilayah Selatan yang meliputi 2 wilayah, yaitu Hindia Belanda, Malaya, Baruto dan Filipina yang termasuk wilayah pertama, dan Indochina, dan Muangthai termasuk wilayah dua  Pada masa ini pula terjadi perubahan struktur industri, dimana pola industri dengan menghasilkan bahan baku untuk ekspor, berkembang menjadi industri pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi untuk kosumsi sendiri  Era Industrialisasi di Indonesia Periode 20 Tahun Indonesia Merdeka  Perkembangan industri di Indonesia, penggal waktu ketiga ditandai dengan trial dan error dalam pengembangan industri Hal ini karena bangsa Indonesia memang belum memiliki pengalaman sendiri dalam mengelola industri  Pada penggal waktu ini ditandai dengan silih bergantinya pemerintahan, sehingga industri tidak berkembang kemudian dibuat Rencana Pembangunan Lima Tahun, yang disahkan DPR pada tahun 1958 dan berlaku surut hingga 1 Januari 1956  Tahun 1957 terjadi nasionalisasi pengusaha asing yang secara tidak langsung dimulainya militer masuk dalam dunia bisnis  Era Industrialisasi di Indonesia Periode Orde Baru  Repelita sebagai ganti dari PNSB dimulai dengan target ambisius yaitu meningkatkan hingga 50 produksi dalam waktu 5 tahun Repelita menekankan pada industri pertanian  Masa ini terjadi dalam tahap stabilisasi dan reformasi bimbingan dan penyuluhan konsolidasi industri kecil Broad Spektrum serta pembinaan terbesar  Repelita ini dibagi dalam Pembanguan Lima Tahun I hingga ke V  Pelita I ditandai dengan probahan proyek pembinaan industri kecil kerajinan rakyat  Pelita II ditandai dengan pemberian fasilitas kredit  Pelita III ditandai dengan keterkaitan industri kecil pada perekonomian nasional  Pelita IV ditandai dengan program bapak angkat dalam pemberian bahan baku  Pelita V peningkatan fungsi bapak angkat dalam pemasaran Pola Pangan Harapan Sebagai Pengganti Ketergantungan Pada Beras DASAR REGULASI Pangan merupakan hal yang sangat penting dan strategis bagi keberlangsungan hidup umat manusia . Kebutuhan manusia akan pangan ialah hal yang sangat mendasar , sebab konsumsi pangan adalah salah satu syarat utama penunjang kehidupan . Kini pangan ditetapkan sebagai bagian dari hak asasi manusia yang penyelenggaraannya wajib dijamin oleh negara Penyelenggaraan urusan pangan di Indonesia diatur melalui Undang Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 pengganti Undang Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996. Dalam Undang Undang Pangan ini ditekankan pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat perorangan , dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam , manusia , sosial , ekonomi dan kearifan lokal secara bermanfaat INDIKATOR Dewasa ini situasi kualitas konsumsi pangan di tengah masyarakat Indonesia masih dirasakan kurang beragam dan bergizi seimbang . Padahal komsumsi pangan dengan gizi cukup dan seimbang merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan intelegensia manusia . Volume dan kualitas komsumsi pangan dan gizi di dalam rumah tangga juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi , pengetahuan dan budaya masyarakat Indikator kualitas komsumsi pangan ditunjukan oleh skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang dipengaruhi oleh keragaman dan keseimbangan konsumsi antar kelompok makanan . PPH biasanya digunakan untuk perencanaan konsumsi , kebutuhan dan penyediaan pangan yang ideal di suatu wilayah . Menurut Susenas 2011, Tingkat Pola Pangan Harapan (PPH) di Indonesia pada periode tahun 2009 2011 mengalami fluktuasi mulai dari 75,7 pada tahun 2009 naik menjadi 77,5 pada tahun 2010, kemudian turun lagi pada tahun 2011 menjadi 77,3 dan tingkat PPH pada tahun 2012 bahkan cenderung mengalami penurunan lagi Berkaitan dengan hal tersebut , penganekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan menuju kemandirian dan kedaulatan pangan . Dari segi fisiologis juga dikatakan , bahwa untuk dapat hidup sehat , aktif , dan produktif manusia memerlukan lebih dari 40 jenis zat gizi yang terdapat pada berbagai jenis makanan , sebab tidak ada satupun jenis pangan yang lengkap zat gizinya selain air susu ibu (ASI) Konsep Pola Pangan Harapan (PPH) Pola Pangan Harapan (PPH) adalah susunan beragam pangan atau kelompok pangan yang didasarkan atas sumbangan energinya , baik secara absolut maupun relatif terhadap total energi baik dalam hal ketersediaan maupun konsumsi pangan , yang mampu mencukupi kebutuhan dengan mempertimbangkan aspek aspek sosial , ekonomi , budaya , agama, cita rasa. PPH mencerminkan susunan konsumsi pangan anjuran untuk hidup sehat , aktif dan produktif . Dengan pendekatan PPH dapat dinilai mutu pangan berdasarkan skor pangan dari 9 bahan pangan . Ketersediaan pangan sepanjang waktu , dalam jumlah yang cukup dan hanya terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga . Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan Depkes RI , 2010). Pola pangan masyarakat yang mengacu pada Pola Pangan Harapan dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pelaksanaan program diversifikasi pangan . Program diversifikasi bukan bertujuan untuk mengganti bahan pangan pokok beras dengan sumber karbohidrat lain, tetapi untuk mendorong peningkatan sumber zat gizi yang cukup kualitas dan kuantitas , baik komponen gizi makro maupun gizi mikro ( Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi XI, 2010 ) Diversifikasi pangan adalah suatu proses pemanfaatan dan pengembangan suatu bahan pangan sehingga penyediaannya semakin beragam . Latar belakang pengupayaan diversifikasi pangan adalah melihat potensi negara kita yang sangat besar dalam sumber daya hayati . Indonesia memiliki berbagai macam sumber bahan pangan hayati terutama yang berbasis karbohidrat . Setiap daerah di Indonesia memiliki karateristik bahan pangan lokal yang sangat berbeda dengan daerah lainnya . Divertifikasi pangan juga merupakan solusi untuk mengatasi ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap satu jenis bahan pangan yakni beras Target 2014 Pemerintah melalui kementerian Pertanian pada 2014, mentargetkan secara nasional skor untuk PPH penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal dapat mencapai (93.3 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan memberi arahan bahwa untuk memenuhi pola konsumsi pangan yang beragam , bergizi seimbang dan aman serta mengembangkan usaha pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dilakukan , antara lain: melalui penetapan kaidah penganekaragaman pangan , pengoptimalan pangan lokal , pengembangan teknologi dan sistem insentif bagi usaha pengolahan pangan lokal , pengenalan jenis pangan baru termasuk pangan lokal yang belum dimanfaatkan ,pengembangan diversifikasi usaha tani dan perikanan , peningkatan ketersediaan dan akses benih dan bibit tanaman , ternak , dan ikan ; pengoptimalan pemanfaatan lahan termasuk lahan pekarangan ; penguatan usaha mikro , kecil dan menengah di bidang pangan ; serta pengembangan industri pangan yang berbasis pangan lokal IMPLEMENTASI Untuk implentasinya , telah dikeluarkan Peraturan Presiden Perpres ) Nomor 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal . Menjadi acuan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalammelakukan perencanaan , penyelenggaraan , evaluasi , dan pengendalian kegiatan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal . Di tingkat provinsi , kebijakan tersebut telah ditindaklanjuti melalui surat edaran atau Peraturan Gubernur Pergub ), dan di tingkat kabupaten kota ditindaklanjuti dengan surat edaran atau Peraturan. Sebagai bentuk keberlanjutan program Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal tahun 2010, pada tahun 2013 program P2KP diimplementasikan melalui kegiatan : 1.Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari(KRPL); 2. Model Pengembangan PanganPokok Lokal (MP3L); 3. Sosialisasi dan Promosi KEBIJAKAN DAN POLA MAKAN Potensi Sumberdaya Pangan  Pemanfaatan Lahan Rumah  Budidaya Tanaman Pangan Potensi pangan lokal  Mengurangi Ketergantungan Beras  Meningkatkan Potensi Ekonomi Lokal  Meneganl Beragam Jenis Makanan Khas Indonesia  Pariwisata Memenuhi Gizi Masyarakat     KUANTITAS PANGAN KUALITAS PANGAN MENCEGAH STANTING PENYULUHAN KEPADA MASYARAKAT Diversivikasi Pangan Rumah Tangga Proses pemilihan pangan tidak bergantung pada satu jenis pangan, dari aspek produksi,aspek pengolahan, aspek distribusi hingga proses konsumsi pada tingkat rumah tangga Tujuan diversifikasi pangan pada rumah tangga Penganekaragaman dan pemenuhan gizi pada rumah tangga dari pangan pokok dan semua pangan lain Keuntungan kebiajkan diversifikasi pangan pada rumah tangga  Dalam lingkup nasional pengurangan konsumsi beras memberikan dampak positif  Konsumsi pangan akan merubah alokasi sumberdaya kearah efisien  Nutrisi untuk mewujudkan pola pagan harapan Pola Pangan Harapan Susunan keragaman pangan yang didasarkan pada sumbangan energi dari kelompok pangan utama pada tingkat ketersediaan maupun konsumsi pangan. Peran Akademisi Dalam Kebijakan Pangan  MELAKUKAN PENYULUHAN  MEWUJUDKAN TRIDARMA PERGURUAN TINGGI  TRANSFORMASI BUDAYA DAN NILAI Model Perilaku Konsumsi Pagan dan Anak analysis of children’s of food consumption behavior model, atau Model Lund & Burk (Sianjur, 1982). Sianjur (1982) juga menjelaskan tentang tiga tipe kebutuhan yang berkaitan dengan dorongan dasar (motivasi)  Kebutuhan Biogenik,  Kebutuhan psikogenik  Kebutuhan sosiogenik Teori Terbentuknya Pola Makan  Children’food consumtion behaviour model oleh: lund &Burk (1969)  Teori Kode dimensi ganda (Multi-dimensional code theory)  Model Wenkam (1969)  Hartog (1995) Lewin’s motivational model (chanel theory= teori alur teori saluran  Asumsi pertama = Semua pangan yang dikonsumsi bergerak selangkah demi selangkahmelalui alur, yang sifat dan jumlahnya bervariasi antar budaya. Setiap alur diawasi seseorang yang disebut sebagai gatekeepers  Asumsi kedua = Terdapat beragam kekuatan yang menggerakkan pangan dalam alur, dan ada juga kekuatan yang menghadang masuknya pangan dalam alur Kekuatan yang dapat mendorong dan menghadang adalah rasa, nilai sosial, manfaat bagi kesehatan dan harga PERTEMUAN 5 PRESENTASI ANALISIS JURNAL D4A Nama Jurnal Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi Volume 1 no 1 November Kategori Jurnal Pendidikan Peneliti Nama : Syahlan Mattiro Institusi : Universitas Lambung Mangkura Kelompok 1A : Pengetahuan lokal ibu tentang pentingnya gizi dan sarapan pagi bagi anak.  Permasalahan : Suatu bangsa dikatakan semakin maju apabila tingkat pendidikan penduduknya semakin baik, derajat kesehatan tinggi, usia harapan hidup panjang, dan pertumbuhan fisiknya optimal. Di negara maju anak-anak tumbuh lebih cepat dari negara berkembang karena asupan gizi yang lebih baik dapat menunjang tumbuh kembang anak. Dalam hal ini peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Ibu dianjurkan untuk berpengetahuan tinggi yang bertujuan untuk meningkatkan penggunaan sumber daya makanan yang tersedia. Ibu yang memiliki pengetahuan tinggi dapat merencanakan sarapan pagi yang sehat dan bervariasi pada anak. Sarapan bagi anak penting untuk menunjang kebutuhan fisik, dan mempengaruhi pencapaian prestasi belajar anak. Dalam penelitian yang penulis lakukan anak-anak yang tidak terbiasa sarapan pagi ternyata sulit berkonsenstrasi, lambat menanggapi, dan rentang perhatiannya terhadap pelajaran sangat rendah. Gerak-geriknya lamban dan cenderung mudah tersinggung. Dari hasil tersebut dapat diasumsikan bahwa tingkat kecuckupan energi dan zat gizi pada anak relatif tinggi bila pendidikan ibu tinggi.  Tujuan Penelitian Tujuan khusus : Menguraikan pemahaman/pengetahuan Ibu-ibu yang ada di Pulau Kerayaan tentang pemahaman mereka tentang Gizi, sarapan pagi terhadap potensi belajar anak. Tujuan umum : 1. Mengidentifikasi pengetahuan Ibu tentang gizi dan sarapan pagi. 2. Menganalisa hubungan pengetahuan Ibu tentang gizi, sarapan pagi terhadap prestasi belajar anak sekolah di SDN Kerayaan utara.  Metode: Metode Kuantitatif  Penyelesaian Masalah : Memanfaatkan adanya penyuluhan kepada ibu.  Ringkasan : Pada umumnya sarapan pagi sebelum berangkat sekolah itu sangatlah penting untuk keberlangsungan belajar anak dalam sekolah. Sebagian besar ibu belum mengetahui pentingnya sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. JUDUL JURNAL Pola Makan Mi Instan : Studi Antropologi Gizi Pada Mahasiswa Antropologi Fisip Unair PENULIS JURNAL Nurcahyo Tri Arianto TAHUN PENULISAN JURNAL Januari 2013 VOLUME TERBIT JURNAL Juni 2013 NAMA JURNAL BioKultur, Vol.II/No.1/Januari-Juni 2013, hal 27-40 ASAL INSTANSI PENULIS Universitas Airlangga, Surabaya KATEGORI JURNAL Kesehatan (Gizi) Kelompok 5A : Pola Makan Mie Instant pada mahasiswa  Permasalahan : Permasalahan yang terdapat di dalam jurnal bahwa pola konsumsi makanan, sebagian besar dipengaruhi faktor sosial-budaya, antara lain pengetahuan, nilai, norma, kepercayaan, sikap, dan perilaku, khususnya yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup (life style), selera, dan gengsi, baik di daerah perdesaan maupun perkotaan. Para ahli antropologi sepakat bahwa kebiasaan makan keluarga beserta susunan hidangannya merupakan salah satu manifestasi kebudayaan suatu keluarga, yang disebut gaya hidup. Gaya hidup mahasiswa tentang mi instan sudah bukan merupakan hal asing bagi kita, karena sebenarnya banyak hal terkait aspek positif maupun negatif. Dari aspek positif, mi instan merupakan produk olahan yang proses memasaknya mudah dan praktis. Dan juga mudah didapat serta murah harganya, sebagai anak kosan yang sedang kekurangan uang di akhir bulan, hal tersebut merupakan sebuah keuntungan yang berdampak positif dalam menghemat biaya ekonomi. Dari aspek negatif, masih banyak mahasiswa yang tidak mengetahui bahwa mi instan mengandung zat kimia pengawet dan penyedap yang jika dikonsumsi dalam jangka panjang dan terus-menerus akan mengakibatkan kanker getah bening beserta resiko-resiko lain yang dapat menyebabkan kematian  Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisi kurangnya kajian aspek sosial-budaya mengenai pola makan mi instan, dan mengkaji pengaruh aspek sosial-budaya terhadap pola makan mi instan, yang berkaitan dengan: pengetahuan, nilai, kepercayaan (pantangan atau tabu), bentuk atau pola (perilaku), alasan yang mendasari, serta perubahan yang terjadi akibat pola konsumsi mi instan. Manfaat dari penelitian ini adalah agar mahasiswa dapat menerapkan pola yang baik dan benar dalam mengonsumsi mie instan serta dapat selalu menjadikan diri mereka pribadi yang pola makannya bergantung pada mie instan. Mahasiswa juga sebaiknya mempelajari setiap aspek social-budaya yang terkait didalam konsumsi mie instan, agar diperoleh mahasiswa yang sehat dan cerdas.  Metode: Pendekatan sosial budaya dan metode Kuantitatif  Ringkasan : Pola makan mi instan, pada mahasiswa kos, meningkat sejalan aspek positif mi instan, yaitu mudah, cepat, murah, praktis, sehingga tidak mengganggu aktivitasnya. Beberapa mahasiswa mengemukakan kebiasaan itu sudah terjadi ketika masih ikut orang tua, dan ketika kos kebiasaan itu masih dilakukan. Hal ini berkaitan selera atau pilihan pribadinya. Kebiasaan makan terbukti merupakan yang paling menentang perubahan di antara semua kebiasaan. Kesukaan pribadi merupakan kenyataan lain yang juga membatasi keragaman makanan yang dikonsumsi. Data hasil wawancara pada maha-siswa antropologi, didapat variasi pola makan mi instan berdasarkan waktu dan kua-litas. Ada 6 variasi pola makan mi instan menurut waktu, yaitu: (1) pagi, (2) siang, (3) malam, (4) pagi dan siang, (5) pagi dan malam, dan (6) pagi, siang dan malam. Di samping itu juga terdapat 3 variasi poa makan mi instan menurut kualitas makanan, yaitu: (A) mi instan saja, (B) mi in-stan, nasi, dan/atau lauk, dan (C) mi instan dan lauk. Lauk di sini bisa berupa sayur, daging, dan/atau telur. Dalam konteks sosial-budaya, makanan adalah produk budaya yang dapat didistribusikan pada berbagai masyarakat. Makanan sebagai sistem budaya merupakan kegiatan ekspresif, yang berkaitan dengan aspek sosial, peranan simbolik, ekonomi, agama, kepercayaan, serta sanksi. Judul jurnal : Hubungan Sarapan dan Sosial Budaya dengan Status Gizi Anak SD (Relationship Breakfast and socio-cultural with nutritional of children elementary school) Penulis : - Maria Helena Dua Nita - Dua Hanim - Prasodjo - Suminah Tahun : 2006 Volume terbit : 1 Nama jurnal : Sosio-Cultural Nutrition Asal instansi penulis : Universitas Sebelas Maret Surakarta Kategori jurnal : Penelitian Gizi dan Makanan Kelompok 7A : Hubungan sarapan dan sosial budaya dengan status gizi anak SD.  Permasalahan : Masalah gizi pada anak sekolah adalah rendahnya asupan energi pada sarapan pagi. Sarapan pagi anak sekolah sangatlah penting kerena dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah daerah dengan prevalensi kurus ( IMT/U) tertinggi (7,8 %) pada anak usia 5-12 tahun  Tujuan dan Manfaat : Untuk menganalisis sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi dengan status gizi anak SD di daerah terpencil di Pulau Semau  Teknik : Observasional dengan desain cross sectional  Tempat : SD di Kecamatan Semau Pulau Semau Kabupaten Kupang  Jumlah Anak : 112 anak SD dengan sistem random sampling  Data : -Karakteristik umum -Asupan kalori -Asupan protein -Sosial budaya (pengetahuan gizi, selera, kebiasaan makan, suku, pantangan makan)  Subjek dan Objek Penelitian : Sumbangan energi sarapan pagi dan sosial budaya gizi (pengetahuan gizi, selera makan, kebiasaan makan, pantangan makan, suku) dengan status gizi anak sekolah dasar.  Teori Sosiologi yang Digunakan : Teori Planned Behavior  Ringkasan : Sarapan pagi sebaiknya menyumbangkan energi 25% dari kebutuhan gizi harian. Sarapan pagi mencegah hipoglikemia, menstabilkan kadar glukosa darah dan mencegah dehidrasi setelah berpuasa sepanjang malam. Perilaku kesehatan terhadap makanan (nutrition behavior) adalah suatu respon seseorang terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan. Memiliki pengetahuan yang tinggi cenderung memilih makanan yang mengandung nilai gizi yang tinggi, sehingga ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan gizi dengan kebiasaan sarapan. Budaya mempengaruhi perbedaan cita rasa, dan aroma makanan. Pola makan atau food pattern seseorang berkaitan dengan kebiasaan makan atau food habit. Hubungan budaya terhadap pangan atau makanan ditandai dengan jenis menu, cara mengolah, dan menghidangkan berdasarkan suku bangsanya. PERTEMUAN 6 PRESENTASI ANALISIS JURNAL D4B DAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN DAN MASYARAKAT KONSUMSI Judul : Kajian Makanan Dalam Perspektif Antropologi Penulis : Yevita Nurti (Dosen Tetap Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas) Tanggal Penulisan : 10 Juni 2017 Website Pengunduhan : fisip.unand.ac.id Kelompok 3 Analisis Jurnal: Kajian makanan dalam perspektif anthropologi  ABSTRACT This article is a literature study explain about the study of food (in culture), food habits and nutrition in the Anthropology perspective. The article only reviews and suggests some examples, which are considered popular and represented.  KONTEKS PENELITIAN Topik yang diangkat dalam jurnal ini adalah penjelasan bahwa pola makan di suatu daerah tidak akan bisa dipisahkan dari kebudayaan setempat yang tumbuh dan berkembang mempengaruhi ingkungan sosial.  RESUME Kebiasaan makan adalah suatu bentuk tingkah laku berpola yang sangat terkait dengan kebudayaan, yang mencakup juga kepercayaan dan pantangan makan yang tumbuh dan berkembang dalam sekelompok masyarakat. Sehingga menjadi ciri khas sekelompok masyarakat yang membedakan dengan kelompok masyarakat lainnya. Makanan sebagai simbol – simbol tertentu akan memiliki makna makna – makna tertentu dalam aktivitas sosisal. Contohnya adalah makanan yang digunakan dalam perayaan adat, upacara adat, atau upacara perkawinan dan kegiatan penghormataan budaya lainnya. Makanan juga sebagai pembentuk identitas etnis, yang dapat dikenali dari jenis masakannya dan karakterisitik rasa. Makanan dan perubahan budaya makan akibat masuknya makanan asing mempengaruhi praktik kebiasaan makan sehari – hari dan tradisi setempat.  ANALISIS Judul Jurnal : Kajian Makanan Dalam Perspektif Antropologi Masalah Utama : Makanan tidak akan memiliki makna apa – apa kecuali makanan itu dilihat dalam kebudayaannya atau jaringan interaksi sosialnya Jurnal ini membuktikan bahwa pola makan atau kebiasaan makan akan dipengaruhi oleh budaya yang tumbuh sejak lama di daerah tersebut. Jurnal ini fokus dengan penjabaran studi – studi yang telah dibuktikan sejak lama oleh para peneliti. Studi yang sidebutkan antara lain Hunger and Work in a Savage Society (1932) oleh Audrey Richards, Nutriment (1986) oleh Foster and Anderson, Bryant et al (1985) oleh Rappaport, dll. Kelebihan dari jurnal ini adalah menggambarkan dan mendeskripsikan pola makan di banyak tempat sehingga memberikan contoh dari berbagai aspek dan tidak monoton di satu daerah. Selain itu, di dalam jurnal ini dijabarkan pula kepercayaan masyarakat yang berhubungan dengan hakekat dan sumber-sumber makananya . Larangan-larangan pada makanan yang berkembang di lingkungan masyarakat juga ikut dijabarkan beserta dengan contohnya dan dampak yang ditimbulkan dari kepercayaan tersebut terhadap gizi mereka. Makanan-makanan dalam symbol tertentu juga memiliki makna-makna tertentu dalam aktivitas social, yang dimisalkan dalam makanan yang digunakan dalam perayaan adat, upacara adat, atau upacara perkawinan.  KESIMPULAN Jurnal “ Kajian Makanan Dalam Perspektif Anthropologi” merupakan jurnal yang baik. Di dalam jurnal tersebut membahas tentang kebiasaan makan sebagai suatu bentuk tingkah laku berpola yang sangat terkait dengan kebudayaan, yang mencakup juga kepercayaan dan pantangan makan yang berkembang dalam sekelompok masyarakat. Dengan adanya kebudayaan yang berkembang dalam suatu kelompok masyarakat, hal itulah yang membedakan dengan kelompok masyarakat yang lainnya. Jadi, adanya makanan sangat berkaitan erat dengan sebuah kebudayaan yang ada pada suatu kelompok masyarakat, karena hal itulah yang akan menimbulkan banyak kepercayaan yang dianut sehingga menimbulkan banyak pantangan pada suatu makanan yang juga akan berdampak pada gizi mereka. Judul : Dimensi etis terhadap budaya makan dan dampaknya pada masyarakat Penulis : V. Irmayanti Meliono-Budianto Asal Penulis : Departemen Filsafat, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia Tahun : 2004 Volume : VOL. 8, NO. 2 Nama Jurnal : MAKARA, SOSIAL HUMANIORA Kelompok 6 Analisis Jurnal : Dimensi etis terhadap budaya makan dan dampaknya pada masyarakat  Permasalahan : Penyakit Flu Burung pada awal tahun 2004 menghebohkan masyarakat indonesia. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa ada keterkaitan antara perilaku makan manusia khususnya makanan yang berasal dari hewani maupun yang lain tidak hanya terkait dengan kesehatan melainkan juga dengan etika. Etika yang dimaksud adalah perilaku manusia secara moral dalam melihat makanan ketika makanan itu hadir melalui suatu proses (yang cukup panjang) dan disantap manusia. Bagi antropologi kebiasaan makan sebagai sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak,suka dan tidak suka, serta adanya berbagai kepercayaan (religi), pantangan-pantangan dan persepsi mistis (tahayul) yang berkaitan dengan kategori makan : produksi, persiapan dan konsumsi makanan. Kategori Makanan:  Makanan boleh dimakan  Makanan tidak boleh dimakan Kategori ini berasal dari latar belakang budaya, contohnya : budaya orang Padang yang suka makan pedas dan budaya orang Jawa yang tidak suka makan pedas. Rekomendasinya adalah perlunya kajian etika makanan yang berada pada dua tataran, teoritis dan praktis. Melalui persebaran informasi pentingnya Dimensi Etis pada Makanan, masyarakat, pemilik modal atau kelompok diharapkan menjadi lebih paham tentang hak dan kewajiban masing-masing. Agar keberpihakan tidak hanya dilihat pada satu sisi ekonomis (konsumen dan produsen) tetapi keberpihakan moral yang dilandasi oleh kesadaran hati nurani yang baik.  Tujuan dan Manfaat : Tujuan penelitian ini, pertama mengungkapkan adanya dimensi etis dalam budaya maka yang berdampak pada munculnya masyarakat konsumtif, dan teknologi. Kedua, menemukan adanya pola hubungan antara perilaku makan suatu masyarakat dengan perilaku budayanya Sedang manfaat dalam penelitian ini, pertama untuk memahami bahwa masyarakat luas sebagai masyarakat penyantap makanan memiliki hak (hak untuk mendapatkan makanan baik, hak untuk mendapatkan informasi tentang proses produksi makanan, hak untuk hidup sehat) serta memiliki kewajiban (menjaga lingkungan, menghargai makanan yang baik dan sehat, menghargai perilaku budaya.  Teknik : Teknik penelitian ini menggunakan metode observasi dan metode studi pustaka, metode fenomenologi, metode interpretasi.  Tempat : Supermarket besar di Jakarta  Ruang Lingkung : Lingkup penelitian ilmu humaniora menekankan pada sisi empiris/faktual dan sisi manusiawi (filosofis) dari perilaku makan manusia yang terjadi karena dominasi kebudayaan.  Kesimpulan : Dominasi kebudayaan manusia menjadi sangat berperan terutama dalam pola makannya. Makanan terkategorisasi menjadi makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan. Makanan yang dianggap nutriment belum tentu menjadi makanan yang boleh dimakan. Begitu sebaliknya,makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan belum tentu memiliki nilai gizi yang memadai. Dengan demikian kategori makanan menjadi pemicu akan munculnya berbagai hal, seperti perilaku makan, perubahan gaya hidup, persepsi masyarakat, nilai keagamaan, ekspresi simbolik. Dimensi etis muncul ketika makanan berada di tangan konsumen, produsen, dan lingkungan manusia. Interaksi antara konsumen dengan produsen memunculkan aspek etis, yaitu hak dan kewajiban serta tanggung jawab moral. Berada pada posisi yang lemah, maka konsumen sebagai penyantap makanan berhak mendapat perlindungan dari instansi yang berwewenang, produsen (petani, peternak pemilik pabrik), ilmuwan tentang makanan yang disantapnya. Selain itu konsumen juga berhak untuk hidup sehat, mendapat kesetaraan kualitas makanan. Makanan yang baik dan sehat menjadi milik, dan hak bagi semua orang. Pola hubungan antara perilaku masyarakat dengan perilaku budayanya merupakan pola yang terstruktur oleh kesadaran masing-masing individu. Melalui pengaruh lingkungan serta pandangan hidupnya, maka kesadaran (cara berpikir) individu tersebut terbentuk sehingga menimbulkan berbagai persepsi ataupun pola berpikir yang sifatnya ideologis. Dampak persepsi tersebut memunculkan suatu bentuk masyarakat konsumtif (consumer society). Masyarakat konsumtif tersebut terbentuk karena munculnya teks label yang bersifat persuasif serta bersifat utopis, dan ideologis. Rekomendasi pada penelitian ini berupa perlunya kajian etika makanan yang berada pada dua tataran, teoritis dan praktis. Melalui persebaran informasi tentang pentingnya dimensi etis pada makanan, masyarakat, pemilik modal atau kelompok kapital diharapkan menjadi lebih paham tentang hak dan kewajiban masing-masing. Dengan demikian keberpihakan tidak hanya dilihat pada satu sisi ekonomis (konsumen atau produsen atau ilmuwan) tetapi keberpihakan moral yang dilandasi oleh kesadaran dan hati nurani yang baik. Judul : Hubungan sarapan dan sosial budaya dengan status gizi anak SD pulau semau kabupaten kupang Penulis : Maria Helena Dua Nita Diffah Hanim, Prasodjo Eti Poncorini Suminah Tahun : 2016 Asal penulis : Program Studi Magister Ilmu Gizi, Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta Kelompok 7 Analisis Jurnal : Hubungan sarapan dan sosial budaya dengan status gizi anak SD pulau semau kabupaten kupang  Permasalahan : Menurut Riskesdas 2013, di Pulau Semau Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah yang memiliki prevalensi anak kurus pada usia 5-12 tahun tertinggi mencapai 7,8 %.  Tujuan : Menganalisis Sosial Budaya Gizi. 1. Pengetahuan Gizi 2. Selera Makan 3. Pantangan Makan 4. Suku 5. Menganalisis Sumbangan Energi Sarapan  Teknik : Observasi dengan desain cross sectional  Tempat : SD di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Pulau Semau  Subjek : 112 Anak SD, data proporsional random sampling, melalui wawancara, pengisian kuesioner dan pengukuran antropometri  Data : Karakteristik Umum, Asupan Gizi, Sosial Budaya  Kesimpulan : Pola makan seseorang berkaitan dengan kebiasaan makannya. Sekitar 80 % tidak memiliki pantangan makanan, dan 20 % sisanya memliki pantangan. Penyebab adanya pantangan makanan dikarenakan kesehatan seseorang seperti: gatal gatal, sakit perut, sakit kepala, muntah dan batuk. Adanya faktor sosial budaya dengan status gizi ditandai dengan pandangan terhadap suatu makanan yang sudah berinteraksi selama bertahuntahun dan turun-menurun. Hasil analisis bivariat sebanyak 35% siswa SD yang tidak memiliki pantanggan tetapi memliki status gizi kurus, karena pantangan makanan bukan merupakan faktor penyebab status gizi kurus. Rendahnya tingkat konsumsi makanan anak SD pulau Semau adalah penyebab status gizi kurus. Indonesia memiliki beraneka ragam suku dan budaya, sehingga indonesia mempunyai ragam makanan yang sangat beragam, dimulai dari cara mengolah, menyajikannya, dan mempunyai ciri khas masingmasing di tiap daerah. Teknologi Pengolahan Pangan dan Masyarakat Konsumsi Awal Mula Teknologi Pangan  Sejarah teknologi pangan dimulai ketika Nicolas Appert mengalengkan bahan pangan, sebuah proses yang masih terus berlangsung hingga saat ini. Namun ketika itu, Nicolas Appert mengaplikasikannya tidak berdasarkan ilmu pengetahuan terkait pangan.  teknologi pangan berdasarkan ilmu pengetahuan dimulai oleh Louis Pasteur ketika mencoba untuk mencegah kerusakan akibat mikroba pada fasilitas fermentasi anggur setelah melakukan penelitian terhadap anggur yang terinfeksi.  Pasteur juga menemukan proses yang disebut pasteurisasi, yaitu pemanasan susu dan produk susu untuk membunuh mikroba yang ada di dalamnya dengan perubahan sifat dari susu yang minimal. Manfaat Teknologi Pangan  Ketersediaan pangan  Alam menghasilkan bahan pangan  kebutuhan manusia akan pangan adalah rutin.  Teknik pengawetan juga memungkinkan untuk mendistribusikan bahan pangan secara merata ke seluruh penjuru dunia Prasarana ekonomi dan komunikasi  Transportasi sangat penting peranannya bagi daerah baik itu perdesaan atau daerah urban di negara-negara yang sedang berkembang, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi.  Infrastruktur fisik terutama jaringan jalan sebagai pembentuk struktur ruang nasional memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun sosial budaya kehidupan masyarakat. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan tempat bertumpu perkembangan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketersediaan jalan yang memadai. Pengolahan Hasil Pertanian     Memperpanjang waktu dan jumlah persediaan Memudahkan penyimpanan dan distribusi Meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial Meningkatkan nilai gizi Penyimpanan Pasca Panen  mencegah susut bobot  memperlambat perubahan kimiawi yang tidak diinginkan  Meningkatkan nilai ekonomi PERTEMUAN 7 Masyarakat Konsumsi Masyarakat yang mengkonsumsi bukan hanya barang , namun juga jasa dan jasa yang saling berhubungan dengan manusia Ciri ciri Masyarakat Konsumsi  Tidak pernah mengkonsumsi objek itu sendiri dalam nilai gunanya  Objek selalau dimanipulasi sebagai tanda yang memebedakan status antara dengan individu “One of the strongest proofs that the principal and finality of consumption is not enjoyment or pleasure is that is now something which is forced upon us, something institusionalized, not as right or pleasure but as the duty of citizen” (Baudrillard,1998:80). ‘’bahwa objek tidak hanya dikonsumsi dalam sebuah masyarakat konsumeris; mereka diproduksi lebih banyak untuk menandakan status daripada untuk memenuhi kebutuhan. masyarakat konsumeris yang lengkap (thorough-going) objek menjadi tanda, dan lingkungan kebutuhan, jika memang ada, jauh ditinggalkan” (Lechte, 2001:354). ‘’Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi – manusia justru melakukan diferensiasi (perbedaan) yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi’’ (Lechte, 2001:354). Terbentuknya Gaya Hidup Pada Masyarakat Konsumsi  Pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan serta kompleks-kompleks rekreasi dan gaya hidup rekreatif, mulai dari kafe-kafe ‘bergaya’ tertentu hingga bangunan-bangunan Disneyworld.  Peningkatan berbagai bentuk kegiatan  belanja, mulai dari pemesanan lewat pos, mal-mal hingga penjualan di atas mobil dan toko barang-barang bekas.  Peningkatan penekanan pada gaya, desain, dan penampilan barang-barang. Teknologi dan Kebiasaan Makan  Kebiasaan makan didefinisikan sebagai perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk memnuhi kebutuhan makan yang melibatkan sikap, kepercayaan, dan pilihan makanan (Irwan, 2004)  pada usia remaja, kebiasaan makan dipengaruhi oleh lingkungan, teman sebaya, kehidupan sosial, dan kegiatan yang dilakukannya di luar rumah (soekantri 2006)  Kebiasaan makan adalah tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhan makan yang meliputi sikap, kepercayaan, dan pemilihan makanan, bukan merupakan bawaan dari lahir namun merupakan hasil pembelajaran. Faktor dalam kebiasaan makan  tingkat ekonomi  pengaruh teman sebaya  suasana dalam keluarga  kemajuan insdustri makanan / Teknologi Pengaruh teknologi dalam kebisaan makan Masyarakat Digital :  Setiap aktivitas manusia akan digerakkan melalui serangkaian teknologi digital.  Relasi yang terbangun di antara individu adalah relasi pertukaran digital. Masyarakat Satu Dimensi :  suatu masyarakat yang seluruh aspek kehidupanya diarahkan kepada satu tujuan, meskipun banyak memperoleh kemudahan tetapi teralienasi.  Manusia telah direpresi oleh masyrakat keseluruhan dan kekuasaan teknologi telah membuat masayrakat kehilangan kesadaran kritisnya. Perilaku Makan tingkah laku yang dapat diamati yang dilakukan oleh Individu dalam rangka memenuhi kebutuhan makan. Teknologi vs Makanan  Perkembangan teknologi diantaranya teknologi pengolahan dan teknologi informasi, telah mengakibatkan perubahan pola makan, terutama di negara maju dan masyarakat kota besar di negara berkembang. Mereka mulai menyadari pentingnya makanan sehat, aman, bergizi dan halal.  Trend perubahan pola makan ini berpengaruh pula pada teknologi pengolahan makanan di negara berkembang. Produsen termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM) akhirnya berlomba-lomba untuk memenuhi harapan konsumen Pengaruh teknologi terhadap perilaku makan  Perdangan makanan global (global trade)  Akses listrik dan alat elektronik  Teknologi pengolahan pangan  Modernisasi dan globalisasi Masyarakat Konsumeris Menurut Konsep Pemikiran Jean Baudrillard Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (1991),kata konsumsi memiliki dua arti, yaitu pemakaian barang-barang hasil produksi, dan pemakaian barang-barang yang langsung memenuhi keperluan hidup manusia. Orang yang melakukan kegiatan konsumsi disebut dengan konsumen. Konsumen berarti pembeli dan pemakai dari barang-barang hasil produksi. Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa konsumen mengeluarkan atau membelanjakan pendapatannya untuk memperoleh apa yang dibutuhkan, baik berupa barangbarang konsumsi maupun berupa jasa. Budaya konsumsi dilatarbelakangi oleh munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh Karl Marx. Kapitalisme yang dikemukakan Marx adalah suatu cara produksi yang dijalankan oleh kepemilikan pribadi sebagai sarana produksi. Kapitalisme bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya,dengan cara mengeksploitasi para pekerja. Tahapan selanjutnya dalam merealisasikan keuntungan tersebut dalam bentuk uang, hasil produksi yang ada dijual, dan dipasarkan kepada masyarakat sebagai komoditas. Marx menjelaskan bahwa komoditas hanya memiliki dua aspek, yaitu: use value dan exchange value. Nilai guna atau use value tidak lain merupakan kegunaan suatu objek dalam pemenuhan kebutuhan tertentu, sedangkan exchange valuemenekankan pada nilai tukar yang terkait dengan nilai produk itu di pasar, atau objek yang bersangkutan (Lechte, 2001:352). Oleh karena itu, Marx menekankan pentingnya produksi dalam ekonomi. Namun, apa yang dinyatakan oleh Marx berbeda dengan Baudrillard. Sebuah objek tidak hanya memiliki use value dan exchange value, tetapi juga memiliki symbolic value dan sign value. Maksud dari pernyataan tersebut bahwa orang tidak lagi mengonsumsi sebuah objek berdasarkan kegunaan dan nilai tukarnya, tetapi juga adanya nilai simbolik dan nilai tanda yang bersifat abstrak. Baudrillard menyimpulkan bahwa konsumsilah yang menjadi inti dari ekonomi, bukan lagi produksi (Fadhilah, 2011:1). Konsumsi menurut Baudrillard memegang peranan penting dalam hidup manusia. Konsumsi membuat manusia tidak mencari kebahagiaan, tidak berusaha mendapatkan persamaan, dan tidak adanya intensitas untuk melakukan homogenisasi – manusia justru melakukan diferensiasi (perbedaan) yang menjadi acuan dalam gaya hidup dan nilai, bukan kebutuhan ekonomi (Lechte, 2001:354). Hal inilah yang terjadi pada masyarakat kita saat ini. Masyarakat seperti ini disebut Baudrillard sebagai masyarakat konsumeris. Baudrillard menyatakan bahwa konsumsi yang terjadi sekarang ini telah menjadi konsumsi tanda. Tindakan konsumsi suatu barang dan jasa tidak lagi berdasarkan pada kegunaannya melainkan lebih mengutamakan pada tanda dan simbol yang melekat pada barang dan jasa itu sendiri. Masyarakat pun pada akhirnya hanya mengonsumsi citra yang melekat pada barang tersebut (bukan lagi pada kegunaannya) sehingga masyarakat sebagai konsumen tidak pernah merasa puas dan akan memicu terjadinya konsumsi secara terus menerus, karena kehidupan sehari-hari setiap individu dapat terlihat dari kegiatan konsumsinya, barang dan jasa yang dibeli dan dipakai oleh setiap individu, yang juga didasarkan pada citraan-citraan yang diberikan dariproduk tersebut (Murti, 2005:38). Hal ini pun dapat mempengaruhi perubahan gaya hidup seseorang. Masyarakat Konsumeris dan Gaya Hidup Cara hidup masyarakat saat ini telah mengalami perubahan, menuju budaya konsumsi dan perilaku kehidupan yang konsumtif. Masyarakat konsumeris adalah masyarakat yang menciptakan nilai-nilai yang berlimpah ruah melalui barang-barang konsumeris, serta menjadikan konsumsi sebagai pusat aktivitas kehidupan (Piliang, 2003:17). Disadari atau tidak, dalam masyarakat Indonesia saat ini juga terdapat suatu kecenderungan untuk menjadi masyarakat konsumeris. Hal ini dapat dilihat dari gaya berpakaian, telepon genggamyang digunakan, serta mobil yang dikendarai, dianggap dapat merepresentasikan status sosial tertentu. Fenomena seperti ini, dengan mudah kita temukan di malatau pusat-pusat perbelanjaan. Sebagian besar pengunjung berpakaian dan mengenakan aksesoris yang sesuai dengan fashion dan mode yang sedang berlaku saat ini. Hampir semua pengunjung memiliki telepon genggam serta kebanyakan dari pengunjung-pengunjung tersebut lebih memilih fast food (yang dianggap lebih bergengsi) daripada makanan tradisional khas Indonesia. Barang elektronik, fast food, pakaian bermerek, dan lain-lain, sepertinya kini menjadi suatu kebutuhan primer dan tidak dapat ditinggalkan. Masyarakat tidak lagi membeli suatu barang berdasarkan skala prioritas kebutuhan dan kegunaan, tetapi lebih didasarkan pada gengsi, prestise, dan gaya. Baudrillard berpendapat bahwa yang dikonsumsi oleh masyarakat konsumeris (consumer society) bukanlah kegunaan dari suatu produk melainkan citra atau pesan yang disampaikan dari suatu produk. Sebagai contoh, apabila konsumen membeli mobil BMW, ia membeli produk tersebut bukan hanya karena kegunaan mobil tersebut sebagai sarana transportasi, akan tetapi mobil BMW tersebut juga menawarkan citra tertentu pada konsumen yaitu kemewahan dan status sosial yang tinggi. Selain itu, Baudrillard juga berpendapat bahwa setiap individu dalam masyarakat konsumeris memiliki keinginan untuk terus melakukan pembedaan antara dirinya dengan orang lain. Individu akan terus mengonsumsi produkproduk yang dianggap akan memberikan atau menaikkan status sosialnya, tanpa memikirkan apakah produk tersebut dibutuhkan atau tidak. Hal ini senada seperti kutipan berikut “yang ditekankan disini adalah bahwa objek tidak hanya dikonsumsi dalam sebuah masyarakat konsumeris; mereka diproduksi lebih banyak untuk menandakan status daripada untuk memenuhi kebutuhan. Oleh sebab itu, dalam masyarakat konsumeris yang lengkap (thorough-going) objek menjadi tanda, dan lingkungan kebutuhan, jika memang ada, jauh ditinggalkan” (Lechte, 2001:354). Dapat disimpulkan bahwa konsumen tidak lagi melakukan tindakan konsumsi suatu objek atas dasar kebutuhan atau kenikmatan, tetapi juga untuk mendapatkan status sosial tertentu dari nilai tanda atau sign value yang diberikan objek tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Baudrillard berikut “One of the strongest proofs that the principal and finality of consumption is not enjoyment or pleasure is that is now something which is forced upon us, something institusionalized, not as right or pleasure but as the duty of citizen” (Baudrillard,1998:80). Fenomena masyarakat konsumeris tersebut terjadi karena adanya perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara orang mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya. Gaya hidup mulai menjadi perhatian penting untuk setiap individu. Gaya hidup adalah salah satu bentuk budaya konsumeris, karena gaya hidup seseorang dapat dilihat dari apa-apa yang dikonsumsinya, baik konsumsi barang atau jasa. Konsumsi tidak hanya mencakup kegiatan membeli sejumlah barang (materi), dari televisi hingga mobil, tetapi juga mengonsumsi jasa, seperti pergi ke tempat hiburan dan berbagai pengalaman sosial. Gaya hidup juga dihubungkan dengan status kelas social ekonomi. Gaya hidup mencitrakan keberadaan seseorang pada suatu status sosial tertentu. Misalnya saja pilihan mobil, perhiasan, bacaan, rumah, makanan yang dikonsumsi, tempat hiburan, dan berbagai merek pakaian; semua itu sebenarnya hanyalah simbol dari status sosial tertentu. tertentu. Misalnyasaja pilihan mobil, perhiasan, bacaan, rumah, makanan yang dikonsumsi, tempat hiburan, dan berbagai merek pakaian; semua itu sebenarnya hanyalah simbol dari status sosial tertentu. Sebagai contoh dapat kita temukan pada gaya berpakaian masyarakat saat ini. Pada dasarnya fungsi pakaian yang utama adalah menutupi dan melindungi tubuh. Namun, sepertinya pakaian tidak lagi dilihat sebagai kebutuhan dasar bagi manusia, tetapi juga sebagai mode dan fashion, yang membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas yang menjadi bagian dari kehidupan sosial. Fashion juga mengekspresikan atau menandakan suatu identitas tertentu, yang dengannya seseorang menempatkan diri mereka terpisah dari orang lain, yang selanjutnya berkembang menjadi identitas suatu kelompok. Alasan seseorang dalam menentukan gaya berpakaian dapat dipengaruhi oleh iklan, pakaian tersebut bermerk, sedang trend, dan dipakai oleh selebriti. Terbentuknya gaya hidup pada masyarakat konsumeris saat ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Tersedianya sejumlah besar dan meningkat secara konstan berbagai jenis barang. 2. Kecenderungan semakin bertambahnya pertukaran dan interaksi manusia 3. Pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan serta kompleks-kompleks rekreasi dan gaya hidup rekreatif, mulai dari kafe-kafe ‘bergaya’ tertentu hingga bangunan-bangunan Disneyworld. 4. Gencarnya iklan-iklan dimedia khususnya televisi yang menawarkan sejumlah produkproduk kepada masyarakat. 5. Semakin pentingnya pengemasan dan promosi dalam pembuatan, tampilan, dan pembelian barang-barang konsumen. 6. Peningkatan penekanan pada gaya, desain, dan penampilan barang-barang. 7. Pemakaian kartu kredit pada saat berbelanja, yang memudahkan individu untuk tidak perlu membawa uang dalam jumlah yang besar. 8. Kemustahilan untuk menghindari pemilihan terhadap barang-barang konsumen dan pemuasan yang mengikutinya dalam transformasi diri melalui promosi gaya hidup (Lury, 1996:44-54). Perkembangan Teknologi dan Media Iklan Perkembangan teknologi akhir-akhir ini sangat berkembang pesat. Mulai dari berkembangnya teknologi informasi seperti internet, mobile, serta telepon seluler. Perkembangan teknologi ponsel yang demikian cepatnya dan menghasilkan berbagai macam ponsel yang selalu berganti dengan menghadirkan berbagai macam fitur dan brand membuat masyarakat modern merasa tertinggal jika tidak membeli dan memiliki ponsel dengan model terbaru. Keadaan seperti ini pada akhirnya mendorong masyarakat menjadi semakin konsumtif oleh penggunaan ponsel sehingga terjebakpada konsumerisme (Putri, 2012:4). Salah satu produk telepon seluleryang sukses menjual produknya khususnya di Indonesia adalah smartphoneBlackberry. Blackberry pertama kali diperkenalkan pada tahun 1997 oleh salah satu perusahaan Kanada, Research In Motion, yang didirikan oleh Mike Lazaridis, seorang imigran asal Yunani, di kota Waterloo, Kanada. Sejak kehadirannya di Indonesia, smartphone ini digunakan oleh masyarakat kalangan atas seperti para eksekutif, pebisnis, serta pelaku ekonomi lainnya, karena memang mereka membutuhkan smartphone tersebut untuk memudahkan aktivitas mereka. Artinya, produk smartphone tersebut memiliki use value pada saat dimiliki oleh individu-individu yang benar-benar membutuhkan alat tersebut. Namun kini smartphone Blackberry tidak hanya dinikmati oleh masyarakat kelas atas, tetapi juga telah menjangkau masyarakat menengah ke bawah, yang berlomba-lomba membeli Blacberry karena terdorong oleh trend(Putri, 2012:4). Nilai guna atau use value dari smartphone ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan produk teknologi lainnya seperti laptop, kamera, modem, serta produk telepon genggamlainnya. Namun smartphone ini menggabungkan semua kecanggihan dan kemudahan tersebut hanya dalam satu alat saja. Oleh karena itu, tak heran jika pengguna smartphone ini tidak hanya berasal dari masyarakat kalangan menengah ke atas maupun masyarakat kalangan menengah ke bawah. Trend gaya hidup masyarakat Indonesia dengan menggunakan Blackberry dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, masyarakat Indonesia sangat menyukai gadget. Setiap produk baru dari merk-merk ternama seperti, BlackBerry, Samsung, dan Nokia selalu diburu oleh orang Indonesia yang senang dengan gadget. Semahal apapun harganya, produk tersebut akan selalu diburu orang Indonesia, bahkan mereka rela antre sejak malam hari demi gadget impiannya. Kedua, orang Indonesia senang mengganti-ganti handphone atau smartphone. Kebiasaan orang Indonesia seperti ini menjadikan produsen handphone berlomba-lomba meluncurkan produknya di Indonesia, konsumen Indonesia akan rela menjual gadget lamanya dengan harga rendah dan membeli gadget yang baru. Serta sebagian orang Indonesia memilih gadget bukan karena fungsi tetapi karena gengsi. Semakin mahal harga gadget yang dimiliki maka semakin terlihat kelas sosialnya. Menjamurnya produk-produk teknologi seperti smartphone, tidak terlepas dari peran iklan. Menurut Baudrillard, seorang individu atau konsumen dalam masyarakat konsumeris tidak lagi mengonsumsi komoditas melainkan tanda dari suatu produk. Tanda itu berupa pesan dan citra yang disampaikan melalui iklan. Iklan dengan segala bentuk publikasinya dalam media massa menjadi sarana mengomunikasikan tanda kepada masyarakat sebagai konsumen. Iklan juga berfungsi untuk menghilangkan nilai guna atau use value dari suatu objek, sehingga konsumen tidak lagi mengonsumsi suatu produk dari nilai kegunaannya melainkan mengonsumsi berdasarkan citra (image) produk tersebut(Murti, 2005:39). Bahasa yang digunakan dalam iklan bersifat membujuk dan mengajak kepada para konsumen untuk membeli produk tersebut, menarik. Dengan kata lain, iklan mengarahkan konsumen untuk terus menerus mengonsumsi produk-produk yang diiklankan demi suatu status sosial tertentu. Hiperrealitas Iklan-iklan yang ditayangkan melalui media televisi kemudian menciptakan realitas-realitas baru sehingga membentuk sebuah hiperrealitas. Menurut Baudrillard, hipperealitas menghapuskan perbedaan antara yang nyata (real) dan yang imajiner (Lechte, 2001:357). Hiperrealitas menciptakan satu kondisi yang di dalamnya terdapat kepalsuan dan berbaur dengan keaslian; masa lalu berbaur dengan masa kini; tanda melebur dengan realitas; dan fakta bersimpang siur dengan rekayasa. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan, keaslian, isu, realitas seakan-akan tidak berlaku lagi di dalam dunia seperti itu, sehingga membentuk kesadaran diri (self consciousness) yang pada dasarnya palsu (Sembiring, 2012:6). Iklan menggunakan realitas untuk membentuk realitas baru yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan keadaan sebenarnya, namun karena iklan ditayangkan secara berulang ulang, sehingga realitas yang tidak berkaitan tadi (yang hanya ada dalam media iklan) diterima sebagai realitas yang sesungguhnya. Sebagai contoh, iklan-iklan yang menawarkan perawatan tubuh seperti sabun, shampoo, parfum, kosmetik, dan lain-lain, sudah tidak asing lagi bahwa iklan-iklan tersebut menggunakan wanita-wanita cantik yang menampilkan kecantikan mereka sebagai model dalam iklan tersebut. Ciri-ciri wanita-wanita tersebut pasti berkulit putih, memiliki tubuh yang langsing, tinggi, dan berambut hitam panjang. Citraan-citraan seperti itulah yang menciptakan realitas-realitas baru bahwa seorang wanita akan dikatakan cantik dan sempurna jika dirinya memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan tadi. Contoh lainnya adalah ajang pemilihan yang juga mengikutsertakan wanita-wanita cantik dalam acara tersebut, seperti miss world, miss universe, miss Indonesia, putri Indonesia, dan lain-lain. Hal inilah yang menurut Baudrillard bahwa representasi citra menjadi cermin suatu realitas. Citra menyembunyikan dan memberikan gambaran yang salah, karena membuat kita tidak berpikir lagi bahwa sebenarnya citraan tersebut merupakan bagian dari realitas dan bukansebaliknya dimana iklan merupakan realitas. Dengan kata lain, iklan-iklan kecantikan yang ditampilkan dengan model-model yang terlihat sempurna merupakan realitas buatan yang tampil sebagai realitas baru, yang lebih real dari realitas yangsebenarnya. Sebagai konsekuensinya, realitas nyata menjadi kehilangan daya tarik dan dianggap bukan lagi sebagai realitas. Simulacra dan Simulacrum Baudrillard mendefinisikan simulasi sebagai proses penciptaan bentuk nyata melalui modelmodel yang tidak ada asal-usul atau referensi realitasnya, sehingga membuat manusia selalu merasa berada dalam dunia supernatural, ilusi, fantasi, dan khayalan yang menjadi tampak nyata. Baudrillard berpendapat bahwa dunia ini telah kehilangan keasliannya dan yang ada hanyalah simulasi. Simulasi merupakan dunia yang terbentuk dari hubungan berbagai tanda dan kode, tanpa ada referensi yang jelas. “Simulation is no longer that of a territory, a referential being, or a substance. It is the generation by models of a real without origin or reality: a hyperreal” (Baudrillard,1994:1). Simulacra tidak memiliki acuan, yang merupakan duplikasi dari duplikasi, sehingga perbedaan antara duplikasi dan yang asli menjadi kabur. Simulacra merupakan sebuah istilah untuk menunjukkan dimana sebuah tanda, simbol, dan citra yang ditampakkan bukan saja tidak memiliki referensi dalam realitas, justru tanda, simbol dan citra yang dibentuk dan dianggap sebagai representasi dari tanda, simbol dan tanda yang juga merupakan hasil dari simulasi. Citraan dalam simulacra yang tidak memiliki referensi secara bertahap menjadi simulacrum. Simulacrum merupakan proses perubahan citra yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan realitas. Baudrillard menyebutkan bahwa Disneyland menjadi contoh dari simulacra, “Disneyland is a perfect model of all the entangled orders of simulacra. It is first of all a play of illusions and phantasms: the pirates, the frontier, the future world. This imaginary world is supposed to ensure the success of the operation” (Baudrillard, 1994:12). Kesimpulan Menurut Baudrillard, yang dikonsumsi oleh masyarakat konsumeris (consumer society) bukanlah komoditas, melainkan konsumsi tanda dari suatu produk. Tanda itu berupa pesan dan citra yang dikomunikasikan melalui iklan. Peran mediaterutama iklan sangat mempengaruhi perubahan gaya hidup masyarakat, karena melalui iklan sebuah produk diperkenalkan kepada masyarakat, dengan bahasa yang sangat persuasif agar masyarakat membeli produk tersebut. Gaya hidup masyarakat pun mengarah pada gaya hidup yang hedonis, selalu ingin mengonsumsi, dan hidup bermewah-mewahan. Baudrillard memberi kesadaran bahwa kita memang tidak membeli barang, tetapi membeli tanda yang menyimbolkan diri kita, dalam kelompok mana kita berada. Untuk itu, kita sebagai manusia modern sebaiknya bersikap bijak dalam melakukan praktik konsumsi. Kita membeli sebuah barang bukan karena ada motivasi lain seperti meningkatkan prestise, terbujuk rayuan iklan, dan sebagainya, tetapi kita membeli barang tersebut karena kita memang sangat membutuhkannya. Kita harus bersikap kritis terhadap praktik konsumtif selama ini, memiliki komitmen untuk tidak hidup boros, melakukan skala prioritas kebutuhan, serta tidak hanyut oleh janji-janji yang diberikan iklan. PERTEMUAN 9 INOVASI SOSIAL Inovasi adalah istilah yang berasa dalam Bahasa Inggris “inovation” yang memiliki makna penemuan baru yang berbeda dari keadaan sebelumnya. Dalam inovasi diperlukan masyarakat yang siap untuk dikritik lantaran apa yang dijalankan dan dilakukannya tidak sesuai dengan sistem sosial yang ada sebelumnya (kebiasannya). Menurut etimologi,inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna ‘pembaharuan ; perubahan secara baru’. Inovasi adakalanya diartikan sebagai penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu sudah ada sebelumnya,tetapi belum diketahui orang; contohnya penemuan benua Amerika. Sebenarnya benuaAmerika sudah ada sejak dulu tetapi baru ditemukan pada tahun 1492 oleh orang Eropa yaitu Columbus. Invensi adalah penemuan yang benar – benar baru seabagi hasil kreasi manusia; contoh teori belajar, mode busana, dan sebagainya. Inovasi adalah suati ide, produk, meatode, seterusnya yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa hasil diskoveri atau invensi yang digunkan untuk tujuan tertentu. Pengertian inovasi adalah suatu proses pembaruan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru. Oleh karena itulah inovasi seringkali dihubungan antara pembaruan kebudayaan, teknologi dan juga pada perekonomian. Definsi lain, dalam sosiologi inovasi diartikan sebagai sikap yang dimiliki oleh seseorang untuk menerima cara baru dalam penempatan nilai budaya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam inovasi upaya pencapaian tujuan tidak dilakukan dengan cara yang konvensional dan dilarang, khususnya yang dapat merusak integrasi sosial dan keteraturan sosial. Beragam contoh yang dapat diberikan dalam inovasi ini. Baik dalam pendidikan, kebudayaan, masyarakat, ataupun di dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalankan selama ini. Contoh Inovasi dalam Pendidikan Contohnya mengenai inovasi dalam pendidikan misalnya saja adanya seorang guru mengajar dengan cara yang membuat kelas ribut. Meskipun tadinya dianggap mengganggu dari adat yang sebelumnya dijalankan akan tetapi pada faktanya dengan cara itulah keberhasilan yang di dapatkan adalah meningkatkan semangat siswa belajar. Contoh Inovasi dalam Budaya Contoh inovasi dalam kebudayaan, misalnya saja mengenai adanya pembaharuan dalam memanfaatkan teknologi. Banyak ditemukan aplikasi di adroid yang membuat musik angklung secara online, musik dan suaranya diciptkan sama persis akan tetapi untuk alat yang dipergunakan berbeda dengan keadaan sebelumnya, yang cederung dengan tradisional. Contoh Inovasi dalam Masyarakat Masyarakat yang bergerak secara dinamis menimbulkan banyak indovasi. Pengertian masyarakat ini adalah sekumpulan orang yang beriteraksi berintergrasi untuk mencapai tujuan. Adapun contoh inovasi dalam masyarakat, khususnya seringkali dipergunakan dalam pertanian menggunakan traktor padahal pada saat sebelumnya pertanian menggunakan bajak sawah yang memanfaatkan hewan kerbau. Adapun di dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung kita juga menjalakan inovasi, dalam hal ini misalnya saja untuk berinterkasi dengan orang lain. Yang dahulu dipergunakan melalui surat menyurat akan tetapi pada saat ini bisa memanfaatkan media sosial, menelphon, dan kegiatan lainnya. Inovasi berupa metode, dan prodak, yang dirasakan oleh masyarakat sesuatu yang baru. Bukan hanya dirasakan oleh satu orang saja tetapi dirasakan oleh berbagai macam kalangan. Konsep perubahan sosial terjadi ditengah-tengah kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi banyak hal Perkembangan sosiologi untuk sosial engineering dimulai dari kajian. Bagaimana mengetahui inovasi tidak muncul sendirinya. dia membutuhkan solidaritas , kepercayaan, dan kerjasama. Inovasi itu berkembang di era pembangunan. Teori-teori pembangunan dalam sosiologi selalu mengedepankan adanya upaya-upaya kegiatan yang mengubah halhal yang lama, bukan hanya prodak barang tetapi perubahan perilaku-perilaku masyarakat yang lama. Tujuan perubahan perilaku masyarakat dalam perspektif pembangunan adalah perbaikan mutu hidup. Inti dari setiap upaya pembangunan yang disampaikan kegiatan penyuluhan, pada dasarnya ditujukan untuk tercapainya perubahan-perubahan perilaku masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup yang mencakup banyak aspek, baik: ekonomi, sosial, budaya, ideologi, politik maupun pertahanan dan keamanan. Mutu hidup dilihat dari beberapa aspek yaitu : 1. Aspek ekonomi 2. Aspek sosial 3. Aspek budaya 4. Aspek idiologi Pesan-pesan pembangunan yang seperti itu mendorong atau mengakibatkan adanya perubahan-perubahan pembaruan. Sifat pembaruan disebut innovativeness. Pesan-pesan pembangunan yang seperti itu mendorong atau mengakibatkan adanya perubahan-perubahan pembaruan. Proses pembaruan tidak pernah lepas dari fakta sosial. Bahwa masyarakat mahkluk sosial yang selalu bergerak. Inovasi butuh masyarakat yang siap. Dalam inovasi dibutuhkan masyarakat yang siap untuk dikritik karena apa yang dijalankan dan dilakukannya tidak sesuai dengan system social yang ada sebelumnya (kebiasaan). Inovasi merupakan suatu proses dari hal yang tidak dikatakan sebagai pembaruan kemudian dikatakan sebagai pembaruan. Setelah merubah sebuah sistem produksi, inovasi tujuannya adalah membuat prodakprodak yang baru. Oleh karena itu inovasi sering dihubungkan dengan 3 hal :1. Pembaruan kebudayaan 2. Teknologi 3. Perekonomian Sosiologi juga mengartikan inovasi sebagai merubah sikap yang dimliki seseorang.Dalam inovasi ada upaya-upaya pencapaian tujuan. Pencapaian tujuan tidak dilakukan dengan cara yang konvensional atau yang dilarang, tetapi harus dengan cara yang disepakati bersama. INTERAKSI SOSIAL Bahkan master plan. Sampai sekarang, Indonesia ketergantungan dengan Amerika. Tetapi bukan hanya bergantung pada proses-proses modern tetapi juga pada kehidupan tatanan sampai ke taraf standar gizi yang kita pakai. Contohnya : 1. Orang itu harus makan makanan yang sesuai dengan standard nya orang bule. Padahal kita punya makanan-makanan yang diinovasi oleh nenek moyang atau pendahulupendahulu kita. 2. Teori fakta sosial (Teori Emilia Durkheim) Kalau menyikapi masalah fenomena COVID 19 pada saat ini, kita dalam istilah sosiologi itu ada yang dinamakan The Crisis Theory of (Thought) yaitu hanya berpikir ketika dia itu “kepepet”. Jadi seseorang bisa lancar berfikir ketika seseorang tersebut dalam keadaan “terjepit”. Kondisi ini lah yang sedang kita alami saat ini. 3. Master Plan, bagaimana dominasi Amerika terhadap inovasi yang saat ini kita nikmati atau yang saat ini terstigma bahwa produk-produk atau standard-standard yang harus kita miliki itu sesuai dengan standard mereka agar kehidupan kita sejahtera. Atau dalam kata lain, kehidupan kita akan sejahtera jika kita mengikuti standard mereka ( Amerika). Hal tersebut merupakan bagian dari Master Plan yang dulu waktu setelah kalah dana itu kan lahir atau yang dinamakan program pembangunan. Setelah perang dunia kedua, bantuan bantuan terhadap negara-negara yang kalah Perang Dunia II. REKAYASA SOSIAL Yaitu bagaimana inovasi itu akan beralih kepada rekayasa sosial atau pola pengembangan yang dilakukan oleh pemerintah atau swasta untuk menjadikan masyarakat itu jauh lebih baik dengan rekayasa rekayasa yang mereka buat. Ulrich Beck pada bukunya yang berjudul Masyarakat Resiko yang menceritakan bagaimana proses perubahan masyarakat klasik menuju modern, banyak hal hal yang beresiko terhadap dia. Contohnya adalah ketika kita deforestasi pada lahan hutan atau saat kita memakan binatang liar maka akan berdampak pada manusia. Contohnya adalah CO-VID 19 yang bukan merupakan virus yang berasal dari manusia, melainkan dari hewan kelalawar yang kemudian dimakan manusia. Hal ini dapat terjadi karena adanya kegiatan pemburuan yang dilakukan karena adanya defirestasi. Seperti penebangan liar atau perubahan alih fungsi lahan yang tentunya akan mengganggu ekosistem. Setelah adanya defirestasi tersebut, ada proses rekayasa yang dilakukan oleh engineer. Rekayasa Sosial dalam bahasa Inggris adalah Social Engineer. Inovasi yang dilakukan contohnya adalah defirestasi tersebut yang merupakan proyek yang dilakukan pemerintah maupun swasta untuk kepentingan masyarakat secara umum. Penemuan pemenuan tersebut bisa dikatakan sebagai inovasi. Pola inovasi sangat didorong oleh : 1. Modernisasi contohnya bagaimana kita bergantung pada marshal plan modern. 2. Kapitalis contohnya deforestasi yang mana mengubah kebutuhan ekologi menjadi kebutuhan masyarakat. 3. Pengetahuan contohnya adalah industri farmasi berlomba lomba menemukan vaksin COVID 19. Yang mana ketiga aspek tersebut saling berkaitan untuk mewujudkan. Antara kapital dengan pengetahuan saling berkaitan. Pendekatan sosiologis dalam studi-studi inovasi menjelaskan tentang struktur sosial yang kemudian mempengaruhi proses dan juga prodak. Proses dan prodak berasal dari aktivitas inovatif. Struktur sosial mempengaruhi perilaku yang dapat membantu kita sendiri. Banyak organisasi, kelompok-kelompok masyarakat dalam sebuah inovasi. Studi-studi inovasi menyediakan cara untuk menghubungkan riset-riset sosiologi pada inovasi proses organisasi yang berkaitan dengan teknologi inovasi. Inovasi ditingkat organisasi kemudian membentuk inovasi ditingkat rutinitas sosiologis. Inovasi organisasi tidak terlepas dari keputusan otoritas yang merupakan pemetaan dari perspektif sosiologi. Sosiologi berusaha menjelaskan inovasi dalam beberapa level dan beberapa tahap inovasi. Tipe-tipe inovasi didapatkan dari studi jadi harus ada penelitian-penelitian dibidang inovasi. Yang sebagian besar inovasi dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ekonomi karena inovasi itu mendorong aktivitas-aktivitas ekonomi. Konsep inovasi ini merupakan inovasi rekombinasi.Rekombinasi bersifat terbuka secara luas dalam bentuk usaha-usaha masyarakat serta memberikan penjelasan kepada kita bahwa inovasi sebagian besar pendekatannya melalui ekonomi dan juga manajemen untuk menjadikan sebuah fenomena sosial. Dalam buku, Raw mencoba menjelaskan tentang bagaimana sebuah organisasi baru menjadi sebuah media yang mencontohkan inovasi dalam level organisasi. Dalam arti ekonomi yang luas masing-masing inovasi itu jangan diartikan sebagai sesuatu yang luar biasa. Dalam arti yang sempit inovasi teknologi digunakan bagi peneliti inovasi. Inovasi klasik, inovasai proses sosial dalam tingkatan yang lebih tinggi yang kemudia berpengaruh melalui keterkaitan mereka di peneliti dengan teknologi. Inovasi prodak menunjukkan bahwa perbaikan proses tertentu yang ada pada gilirannya menginformasikan tentang rutinitas sebuah organisasi tertentu. Pengertian inovasi menjadi lebih luas yang menyebabkan menjadi akar-akar penelitian. Proses teknologi mengakibatkan adanya prodak-prodak teknologi. TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROSES INOVASI Ada tahapan-tahapan dalam proses-proses inovasi. Robert mendefinisikan bahwa peemuan itu eksploitasi pemahaman manusia, Kemudian mengeksploitasi rutinitas-rutinitas sosial masyarakat. Robert mendefinisikan bahwa peemuan itu eksploitasi pemahaman manusia Inovation = invantion + Eksploitation  Proses dipecah menjadi 2 arah sehingga menghasilkan 4 langkah.Menurut Robert ada rekombinasi dalam sains yang berdampak pada struktur penemuan. Eksplorasi itu adalah eksplorasi peran yang dimainkan oleh struktur jaringan tertentu yang merekombinasi. Di masa depan inovasi dimafaatkan untuk membantu pekerjaan atau unitunit kerja yang kemudian bisa mensupply. Kualitas struktural dalam sebuah lingkungan institut yang kemudian menciptakan prodakprodak.Rangkaian dari inovasi juga melibatkan proses. Inovasi tercipta atas teori The Crisis Theory of Thought. Hal dasarnya adalah : 1. Pendekatan sosiologis 2. Pemetaan (Struktur sosial), mempengaruhi proses dan produk dari aktivitas motivatif 3. Struktur sosial mempengaruhi perilaku . PERTEMUAN 10 REKAYASA SOSIAL Sosial merupaka spesies tertentu dari spesies baik hewan maupun manusia hidup bersama dalam koloni dalam kelompok yang terorganisir. Contohnya seperti semut dan banteng yang memilik koloni mereka terorganisir satu sama lain. Berkaitan peduli dengan tanggung jawab atas hubungan timbal balik atas kesejahteraan individu. Kehidupan sosial ada hubungan timbal balik. Dari hubungan antara manusia dengan manusia maupun individu dengan kelompok itu adanya hubungan timbal balik dan kesejahteraan individu. Karena adanya hubungan timbal balik maka terciptanya kesejahteraan individu. Misalnya seperti pekerja sosial yang dibayar tetapi juga mendapatkan sebuah keuntungan atau orang lain mendapatkan keuntungan dari apa yang dia kerjakan. Engineering atau rekayasa yaitu suatu upaya merekayasa suatu objek sosial denga segala perencana yang matang untuk mewujudkan transformasi sosial sesuai dengan target perekayasa. Contohnya saat ini yaitu isu Corona, pertama kali isu Corona muncul di Wuhan para pejabat Indonesia bukan merencanakan atau memprediksi apakah virus Corona ini bisa masuk di Indonesia tetapi mereka malah seakan-akan kita itu malah membuat kelakar. Tujuan engineer dalam rekayasa sosial dia memprediksi jangka panjang ketika dia sedang memprediksi ada yang dinamakan dengan sosial planning atau scenario plan. Ketika virus Corona masuk di Indonesia itu apa yang kita lakukan itu sudah ada scenario plannya. Selama isu Corona muncul itu sudah ada yang melakukan rekayasa. Contohnya membuat disinfektan, membatasi ruang masyarakat untuk bergerak ketika virus Corona muncul sudah tidak dibingungkan lagi oleh masyarakat. Ada beberapa tokoh yang berbicara tentang rekayasa social seperti Less dan Persley mengatakan bahwa upaya social engineering adalah upaya yang mengandung unsur perencanaan yang diimplementasikan hingga diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Rekayasa sosial ada unsur perencanaan untuk mengubah kehidupan nyata pada masyarakat. Contohnya ketika ada orang yang terbiasa makan nasi lalu di daerah nya sedang mengalami krisis maka rekayasa sosial itu merecanakan 1 atau 2 tahun kedepan masyarakat yang mengalami krisis mengonsumsi makanan-makanan yang lain dengan perilaku atau mediamedia yang ada didalam masyarakat tersebut. Rekayasa sosial muncul ketika rezim orde baru, pertama kali digunakan sebagai proses nilai nilai. Contohnya seperti P4. Sekarang tujuan rekayasa sosial merupakan muaranya pada trasformasi sosial itu merupakan perubahan sosial didukung dengan internalisasi nilai-nilai humanisasi yang tinggi. Jadi rekayasa sosial sendiri sosial itu merupakan konstruksi ulang yang telah kita konstruksi saat ini. Seringkali kita memahami rekayasa sosial yaitu suatu upaya negatif tetapi disisi lain rekayasa sosial tidak hanya berkonotasi negatif karena kita direkayasa sesuai dengan keinginan orang lain. Dalam buku Jalaludin Rakhmat dalam pemaknaan rekayasa sosial membawa perubahan yang positif transformasi yang positif yang pada akhirnya mengatasi masalah yang muncul di masyarakat. Bahwa suatu perubahan tidak akan muncul ketika kita masih terjebak didalam kesalahan berfikir contohnya ketika kita terbiasa atau konstruksi kita mengenai suatu masalah contohnya seperti ini “ kenapa kita harus takut dengan virus corona ? toh kita juga akan meninggal” maka dari itu engineer merubah konstruksi kita bahwa sebenarnya kita harus waspada pada virus corona. Engineer membuat rekayasa sosial itu sesuai dengan kebutuhan masalah sosial yang terjadi didalam masyarakat. Sehingga kesalahan berfikir mengenai suatu masalah didalam masyarakat dapat dirubah melalui kontruksi yang diulang. Sumber daya yang digerakkan dalam rekayasa sosial yang paling kuat dan inti merupakan sumber daya sosial manusia untuk melakukan perubahan karena perubahan sosial bisa jadi kearah yang tidak diinginkan transformasi sosial lebih menekankan pada perubahan menuju kualitas hidup yang lebih baik atau perubahan menuju masyarakat adil, demokratis, dan megaliter. Rekayasa sosial disisi positif merupakan konstruksi yang dulu salah berfikir atau kesalahan berfikir yang menimbulkan masalah-masalah sosial di dalam masyarakat. Rekayasa sosial mengacu pada upaya untuk mempengaruhi sikap populer dan prilaku sosial baik pemerintah atau kelompok swasta. Sebenarnya rekayasa sosial bukan atas dasar keinginan masyarakat itu sendiri tetapi ada yang mendorong sehingga masyarakat ingin melakukan atau ingin mengikuti arahan-arahan yang dilakukan baik pemerintah atau kelompok swasta. Walaupun istilahnya membawa konotasi yang kurang begitu bagus rekayasa sosial pada prinsipnya adalah membawa interelasi antara ilmu-ilmu kemasyarakatan, ilmu ekonomi, ilmu politik, dalam proses peningkatan kesejahteraan publik. Secara akademik rekayasa sosial merupakan meso dalam ilmu sosiologi karena bukan murni didalam sosiologi tetapi merupakan interdisiplin sosial. Karena adanya ilmu ekonomi, ilmu politik tetapi tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan publik. Mengapa disebut interdisiplin suatu ilmu pengetahuan bukan murni didalam sosiologi ? karena adanya proses interaksi antara individu dengan individu maupun individu dengan kelompok yang mampu merubah konstruksi masyarakat mengenai suatu hal dan masuk konstruksi baru terhadap suatu hal yang baru. Oleh sebab itu sosiologi menggunakan rekayasa sosial sebagai alat untuk mengubah perilaku masyarakat secara umum. Tetapi disesuaikan dengan kebutuhan keinginan dari engineer. Perencanaan sosial atau rekayasa sosial sering dikonotasikan dalam lingkup rekayasa kebijakan atas masyarakat atau bahkan kebijakan pemberian pelayanan publik. Sering dilakukan dengan pemerintah yaitu rekayasa kebijakan gunanya untuk meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan dan masyarakat yang hampir miskin. Perencanaan pelayanan publik bukan hanya infrastruktur jalan. Contohnya rekayasa lalu lintas. Ini sering dilakukan oleh pemerintah. Melainkan yang jauh lebih penting suprastrukturnya yaitu konstruksi masyarakat mengenai suatu hal yang sudah melekat didalam dirinya yang harus benar-benar secara matang direncanakan. Dengan adanya undang-undang desentralisasi maka pemerintah daerah melakukan bentukbentuk atau bentuk-bentuk rekayasa sosial sebagai alat untuk mensejahterakan masyarakat karena pemerintah daerah yang mengerti sosial history dan budaya pada daerah tersebut. Pemerintah daerah mempunyai kewenangan yang besar untuk merencanakan atau merumuskan melaksanakan kebijakan dan program pembangunan yang sesuai aspirasi masyarakat. Perencanaan partisipatif atau rekayasa yang dibuat dengan engineer bukan semata mata atas dasar tiba tida dilakukan tetapi ada proses partisipatif antar pemerintah daerah dengan masyarakat atas aspirasi yang mereka inginkan. Plan for people mendorong para perencana untuk lebih terfokus kepada masyarakat. Engineer terfokus pada individu yang ada didalam masyarakat. Contohnya perencanaan pemberantasan kemiskinan pada masyarakat tertinggal. Ini merupakan salah satu bentuk scenario plan atau perencanaan yaitu kepada individu. Jadi ada masyarakat dan individu. Media perantara untuk mecapai kesejahteraan masyarakat yaitu dengan media cetak maupun media elektroik pada alat engineer untuk melakukan rekayasa. Perencanaan harus lebih bekerjasama pada masyarakat dan turut serta mendorong kegiatan perencanaan tata ruang agar menjadi proses yang bagus dan inovatif. Dalam isu gerakan feminis atau isu gender rekayasa sosial sering kali dilakukan seperti xcidis, mcidis merupakan salah satu bentuk rekayasa sosial yang masuk ke dalam rana gender. Akibat pembagian kerja yang tidak seimbang melainkan ketimbangan peran laki-laki dengan perempuan ini salah satu bentuk dari ketimbangan gender bahwa sebenarnya perempuan juga berhak atau layak bekerja di sektor domistik. Laki-laki yang berada di daerah makin lama makin kuasa menghasilkan uang dan pengaruh, sedangkan perempuan tidak menghasilkan uang, pengaruh, ataupun kekuasaan. Di dalam pengaruh keutamaan gender yaitu strategi untuk mewujudkan setaraan dan keadilan dalam pembangunan gender. Contohnya didalam proses perumusan kebijakan biasanya aspek gender itu tidak muncul atau dilupakan karena yang membuat kebijakan belum mengerti atau mengenal apa itu gender. Oleh sebab itu rekayasa sosial sangat penting dilakukan untuk mewudkan kesetaraan dan keadilan dalam pembangunan dalam aspek gender terintegrasi dalam perumusan kebijakan program kegiatan melalui perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi. Pertanyaan : • Fadhia : Awal mula adanya rekayasa social harus ada perubahan social dahulu baru disebut sebagai rekayasa social? Dan kenapa adanya kesetaraan gender? Jawaban : Iya, contohnya ketika menjadi dokter maka memberi obat apa yang cocok untuk pasien tsb. Misalnya apabila panas tidak sertamerta sembuh karena minum paracetamol, harus ada alternative lainnya. Engineer membuat hal tersebut untuk membuat kesejahteraan dalam masyarakat. Karena engineer membuat rekayasa social kesetaraan gender untuk membuat laki laki tidak mendominasi perempua Engineer membuat rekayasa sosial didalam arus keutamaan gender untuk mensetarakan hubungan relasi antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki tidak mendominasi perempuan. Interakasi antara tingkah laku sosial dan lingkungan. Para engineer dan para sosiolog memiliki perbedaan sikap didalam menghadapi lingkungan yang cepat berubah. Ketika para sosiolog berfikir tidak ada tujuan tertentu dalam kajian tertentu dikaitkan dalam lingkungan dan pola perilaku, para engineer mempelajari berbagai perubahan yang harus dapat diantisipasi masyarakat dalam menghadapi bangunan-bangunan fisik lingkungan yang ada dihadapannya. Sosiolog hanya menganalisis sedangkan engineer mengubah perilaku masyarakat,contohnya seperti biasanya masyarakat membuang sampah sembangan lalu berubah menjadi membuang sampah di tempat, dari contoh yang seperti ini maka adanya perencanaan. Jadi engineer merencanakan sesuatu yang dapat diubah. Interaksi dengan lingkungan adalah sebuah proses yang sering dikenal dengan adaptasi manusia. Ekologi manusia merupakan hubungan interaksi antara manusia dengan alam bagaimana keseimbangan itu bisa terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungan. Contoh semakin besar jumlah penduduk maka akan mempengaruhi kualitas lingkungan yang ada di bumi, Karena adanya virus corona mempengaruhi lingkungan. Maksudnya itu karena adanya kebijakan dari pemerintah agar masyarakat tidak keluar rumah maka lingkungan menjadi tidak terlalu banyak polusi seperti biasanya. Sebelum muncul virus corona banyak orang yang bepergian menggunakan kendaraan sehinggan menyebabkan adanya polusi udara, masyarakat menjadi lebih memperhatikan kesetannya karena adanya virus corona. Bagaimana kerja social engineering di dalam sosial pola interaksi sosial dan pengembangan intervensi sistem thinking pada fenomena sosial: 1. Hubungan interaksi antar manusia semakin hari semakin menirukan pola ruang dan waktu yaitu, sekarang kita mungkin sudah merasakan bagaimana ruang atau public spare di dalam masyarakat itu semakin hari semakin tidak ada, yang ada yaitu room chatting. Terkadang orang berani berbicara di twitter ketika bertemu dia tidak bercakap. Jadi engineering itu membuat pola interaksi manusia, mengalami perubahan sistem. 2. (Bangsa) kita, pada satu titik nanti, gadget yang akan dilakukan secara implan pada tubuh kita sehingga manusia akan (berhubungan) membangun telepati padahal tetap berkomunikasi dengan implan gadget. Jadi ada perencanaan suatu saat nanti, tubuh kita akan di pasang implan gadget yang pada saat ini hal itu dilakukan kepada hewan liar untuk menanggulangi kepunahan hewan liar. 3. Evolusi teknologi akan terjadi di masyarakat. Contohnya adalah pada saat kekalahan Hilary Clinton, ada 300 juta memes yang disiapkan untuk menghajar Clinton. Hal tersebut merupakan rekayasa sosial melalui teknologi. Ada juga perang dagang antara China dan Amerika. China menghabisi produk Amerika dengan menduplikasi gadget atau teknologi Amerika untuk menghancurkan sistem ekonomi di China. Di China produksi gadget dengan menggunakan metode Home Industry, sebagai alat untuk mengurangi biaya produksi atau biaya pembangunan sebuah pabrik. Pilpres termasuk rekayasa sosial Gerakan Sosial Beberapa konsep gerakan sosial merupakan interdisiplin dari studi yang melibatkan ilmu sosial, ilmu politik yang secara umum mencari bentuk melalui proses mobilisasi dalam formatformat perubahan yang memiliki konsekuensi tertentu secara sosial, budaya dan politik. Jadi, seperti yang terjadi setiap bulan April, di Paris ada gerakan Paris Yellow, mereka melakukan demonstrasi menuntut gaji. Jadi, gerakan sosial sendiri itu merupakan bagian dari bentuk rekayasa sosial, karena dalam gerakan sosial itu ada aktor dan pemain, biaya dan keuntungan ketika gerakan sosial itu terus menerus terjadi, ada perubahan budaya atau sosial di dalam masyarakat. Contohnya seperti pertama kali revolusi Perancis tercetus, perubahan masyarakat baik masyarakat Perancis yang dulunya dia terkungkung oleh rajanya sehingga kaum kaum proletar itu naik ke pemerintahan mereka. Hal itu merupakan gambaran adanya perubahan sosial yang direncanakan atau digerakan melalui enjiner untuk merubah suatu struktur sosial. Rekayasa sosial : Adanya engineer yang merubah tatanan social Apakah teori konflik masuk ke dalam atau alat yang dapat digunakan sebagai rekayasa sosial? Teori konflik merubah tatanan yang sudah ada karena diangap tatanan yang sudah ada mendominasi atau jahat terhadap pihak pihak yang tidak diuntungkan. Contoh : Teori konflik Dahrendorf, yaitu dari kelompok semu menjadi kelompok kepentingan. Berarti dalam hal ini terdapan enjiner yang merekayasa bahwa ketika kita mengadakan konflik, itu pasti ada perubahan. Ketika ada seseorang yang dianggap tidak layak menjadi pemimpin, maka akan ada yang menyuarakan pendapatnya kepada orang lain tentang keadaan tersebut dan mengajak untuk mengadakan perubahan. Hal itu merupakan bagian dari social engineering atau rekayasa sosial. Ketika pemimpin tersebut berhasil diganti, maka si engineer ini berhasil dalam menyuarakan dan mengajak orang lain untuk melakukan suatu perubahan. Jadi, teori konflik dapat digunakan untuk menganalisis rekayasa social. Gerakan sosial merupakan kejadian acak perorangan yang secara emosional bereaksi terhadap situasi diluar kendali mereka. Ada perbedaan diteorinya (perthkur) itu bukunya (Wayman Raffle) itu menjelaskan antara termoil, keributan dengan kekacauan atau kekacauan dengan gerakan. Kalau kekacauan, mereka benar benar melakukan pergerakan bukan atas dasar direncanakan oleh suatu kelompok atau suatu aktor, contohnya seperti di konser dangdut. Gerakan sosial contohnya seperti demo mahasiswa atau Revolusi Perancis karena pada hal tersebut didorong dan direncanakan oleh seseorang yang dinamakan enjiner dan memiliki tujuan, yaitu perubahan sosial, sedangkan kericuhan atau kekacauan itu tidak punya tujuan. a) Orang yang melakukan gerakan sosial karena adanya ketimpangan (relative deprivation), khusus nya sehubungan dengan adanya orang lain yang berkuasa atau memiliki kuasa yang lebih tinggi yang dinamakan relasi kuasa . Yaitu keinginan seseorang tidak sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Contohnya : saat bekerja di perusahaan gajinya 1 juta, tetapi umr nya tidak mencukupi kredit yang dibayarkan setiap bulan, maka di dalam teori gerakan sosial, seseorang itu akan melakukan perlawanan, namun bukan perlawanan konstitusi. Contoh relasi kuasa : Mahasiswa dengan dosen, contoh kekerasan simbolik : dosen memberikan nilai yang jelek kepada mahasiswa. b) Sehubungan dengan harapan mereka yaitu keinginan untuk meruba struktur yang sudah ada, karena struktur yang sudah ada dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap masyarakat kelas bawah c) Pada kondisi selanjutnya gerakan sosial juga akan menjadikan para anggotanya untuk memberontak ketika ada benturan atas situasi ekonomi. Contoh : peristiwa ’98, di Meksiko, menentang pemerintahan resmi Meksiko karena dianggap antek dari Amerika. Pada titik ini orang akan bergabung dengan gerakan, karena harapan mereka akan melampaui situasi materi aktual mereka, disebut juga teori (Jaque Perfell) (Buku Michael Adas = suatu saat akan mendapat pemimpin yang adil) Ratu adil : sebuah gerakan, yang terutama dilakukan petani agar mendapat pencerahan karena dianggap tokohnya ini mampu membawa dia ke dalam situasi yang terang benderang. Contohnya adalah Nabi Isa. Rekayasa didalam bidang gizi sangat dirasakan betul, usaha yang dilakukan pemerintah, terutama kebijakan pemerintah yang juga merupakan hasil dari rekayasa yang kemudian outputnya berupa produk atau hanya produk yang sebagai proses. Indonesia sudah banyak mengalami peristiwa penting mengenai masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah yang kemudian tantangannya dalam bidang gizi sangat tinggi. Contoh : penurunan angka kematian anak bukan hal yang mudah begitu pula peningkatan penerimaan anak di sekolah dasar yang signifikan. 1. Stunting, dapat membatasi pertumbuhan dan sagat berpengaruh terhadap kondisi mereka di masa depan 2. Tubuh kurus, fasilitas olahraga menambahkan pojok gizi agar memperoleh nutrisi yang tepat. 3. Kegemukan dan obesitas pada orang dewasa, terutama di Amerika. Jika tidak problem dengan obesitas atau kegemukan maka mungkin tidak akan ada bullying yang melibatkan fisik. Solusi : UNICEF sudah mendukung pemerintah Indonesia untuk meningkatkan lingkungan yang mendukung gizi, memperkuat sistem dan pemberian layanan gizi. Aspek ini kemudian memberikan arahan terhadap kebijakan tentang bagaimana koordinasi dan dukungan mengenai stastu gizi di Indonesia, sehingga setiap individu atau kelompok yang ada didalam sistem sosial itu bisa memberikan layanan gizi atau informasi gizi. Jadi ilmu gizi yang anda pendam sendiri jangan hanya untuk anda tapi juga untuk orang lain, itu adalah bagian yang penting dalam menciptakan rekayasa social. Obesitas terjadi pertama di Amerika tahun 70. Pada waktu itu banyak orang Amerika menyangka bahwa makananya kentang yang menyebabkan mereka kegemukan. Tetapi kegemukan yang mereka alami bukan dari kentang itu sendiri, tapi dari gula yang mereka minum. Ketika kita mengkonsumsi gula, kita merasa addict. Saat kita tidak minum gula itu ada yang kurang dari tubuh kita. Dulu pertama kali Amerika mengalami obesitas awalnya seperti itu, mereka tidak bisa keluar dari cengkraman gula. Sebagian besar masyarakat Amerika itu obesitas. Di indonesia mengkonsumsi gula karena adanya kolonialisasi Belanda pada zaman penjajahan distribusi gula di Indonesia sangat besar. Sebagai ahli gizi harusnya memberikan edukasi atau rekayasa sosial tentang alternatif lain dari gula, contohnya gula jagung, atau rasanya yang sama seperti gula tapi rendah lemak yang tidak menyebabkan obesitas. Jadi budaya breakfast di Amerika selalu menyuguhkan pancake. Pancake itu membutuhkan maple syrup. Remaja di Amerika kecanduan maple syrup untuk semua makanan. Untuk makan fried chicken, waffle itu ditambahkan maple syrup. Inti awal permasalahan adalah sarapan yang menyuguhkan, bukan dari karbo yang dimakan terus menerus, tetapi dari pendamping karbohidrat itu sendiri Kalau di Jawa itu lebih sering kena maag ( asam lambung ) karena setiap pagi sebelum makan nasi pasti mengkonsumsi kopi dan setelah makan pasti mengkonsumsi makanan manis. Mcdonalisasi : pertama kali / salah satu makanan cepat saji di Amerika. Mcdonalisasi adalah konsep yang ada didalam produksi makanan cepat saji dengan realitas yang ada dimasyarakat Dengan mcdonalisasi sendiri adalah fenomena besar yang mempengaruhi konstruksi rakyat. 4 komponen yang ada di masyarakat : 1) Efisiensi Manusia selalu memikirkan proses yang instan dan menghindari hal yang rumit, hal ini terjadi pada masyarakat seperti orang yang lebih memilih gofood / grabfood dibanding masak sendiri. Bentuk efisiensi diambil dari proses produksi mcdonald. Mcdonald yang mempunyai sistem yang sama, maka pekerja harus mengikuti sistem tersebut agar pekerjaannya menjadi efisien. Jadi, ada proses yang dirancang. Mcdonald di Indonesia dan di Amerika itu sistemnya sama. 2) Kalkulasi Mcdonald berfokus pada kuantitas atau porsi dari layanan yang ditawarkan. Masyarakat melakukan perhitungan kuantitas dan kualitas untuk memilih makanannya, sehingga dapat menghemat waktu dan biaya Seseorang yang bekerja di kantor akan cenderung memilih makanan yang sudah ada untuk menghemat waktu dan biaya. 3) Prediktibilitas Restoran cepat saji akan menjamin bahwa hasil produksi disetiap kedai menghasilkan rasa yang sama. Hal inin sama dengan teori one dimension man. Jadi seperti pas manusia suka sm mcdonald maka akan berdampak rasa beda ketika makan bukan mcdonald yang buat. 4) Control Adanya control yang diatur oleh manajemen bukan atas dasar kita. Seperti kursi mcdonal yang dibuat tidak nyaman agar pembeli cepat2 pergi dan digantikan konsumen lainnya. 4 hal diatas ada di dalam produksi mcdonald Keterkaitan teori mcdonalisasi tentang rekayasa sosial : bagaimana konsep makanan di mcdonald digunakan baik swasta dan pemerintah untuk mengkontrol masyarakat. 1) Efisien : milih gojek dibanding dengan masak sendiri 2) Kalkulasi: ketika kita membeli sesuatu atas dasar rasionalitas atau atas dasar teknologi sehingga kita mampu melakukan atau membeli yang kita mau 3) Predikbilitas : sifat manusia yang dapat diprediksi 4) Control : data kita yang ada di google dapat digunakan untuk kepentingan capital Dinamika gizi Ada beberapa yang mempengaruhi kinerja gizi di Indonesia. Banyak yang mengalami gizi buruk karena adanya : 1) Demografi Dipengaruhi oleh urbanisasi dari daerah ke kota. Yang menyebabkan gaji yang dihasilkan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan Kesenjangan kelas juga bisa menyebabkan hal ini, yang kaya dapat memenuhi semua kebutuhan, sedangkan yang kekurangan akan terus kekurangan. 2) Pengetahuan Berubahnya makanan pokok pada masyarakat daerah karena adanya pembangunan pemerataan gizi Misalnya, di daerah garut yang banyak penanaman buah tp masyarakatnya ttp jarang makan buah 3) Berubahnya makanan pokok pada masyarakat daerah karena adanya pemerataan oleh pemerintah 4) Ekonomi, budaya, pola asuh balita, kesejahteraan keluarga 5) Lifestyle makanan pada remaja

Judul: Jurnal Hasil Perkuliahan

Oleh: Shellia Putri


Ikuti kami